Title : Just You | Side Story of On Rainy Days Fanfiction
Author : Dara Daroen (@dara_daroen)
Main Cast :
- Yang Yoseob (B2ST)
- Bae Min Ra (OC)
- Lee Gikwang (B2ST)
- Bae Suzy (Miss A)
Support Cast : Find By Yourself
Genre : Romance, Friendship, AU, Drama
Rating : Teenager/PG-13
Length : Oneshoot
Disclaimer : Imagination and story is mine, but the cast belong to God.
Please NO PLAGIATOR!
The Story © 2012 DaraDaroen
On Rainy Days Fanfiction :
| Teaser | Part 1 | Part 2 | Part 3 | Part 4 | Part 5 | Part 6 | Part 7 | Part 8 |
Annyeong haseyooo! Adakah yang masih ingat aku? Author Dara yang sudah menghilang bak ditelan bumi selama berbulan-bulan. Ok, sudah berbulan-bulan aku ninggalin dunia FF karena kesibukanku yang super duper-_- Aku kepengeeen banget lanjutin FF-FF aku yang terbengkalai. Aku janji aku bakalan terusin FF ku terutama yang chapter dan yang pastinya ngebuat readers merasa penasaran dan kecewa sekian lama-_- Aku akan mulai aktif dalam dunia perfanfict-an lagi. Semangat! Hehe
Nah dan FF yang satu ini sebenernya sih cuma intermezzo aja buat FF chapterku yang berjudul On Rainy Days yang baru aku publish sampai part 8. Hmm part 9 nya masih dalam masa pengumpulan inspirasi jadi sebagai gantinya aku kasih FF selingan ini ya hehe. Moga aja kalian engga pada kecewa dan maafkan aku yang menghilang sekian lama ya. Ok lanjut aja. Happy reading readers! ^^
-oOOo-
(All POV is Yang Yoseob)
9 May 2012 04.00 p.m
Aku menatap langit di atas sana. Menatap awan putih yang kemudian berubah menjadi agak kehitaman. Saat aku menengadahkan telapak tanganku, kurasakan tetes demi tetes air membasahi permukaan telapak tanganku. Aku bergumam kecil, ”Hmmm hujan..”
Pikiranku melayang kemana-mana. Wajah cantik itu, senyuman indah itu, dan tawanya yang menghiasi hariku. Manik matanya yang berwarna hitam kecoklatan, yang selalu membuatku lumpuh seketika menatap mata itu. Saat bersamanya membuatku nyaman dan tenang. Hati ini semakin bergejolak, gelora asmara makin memburu dan cintaku padanya bagaikan paku yang menempel di dinding.
Bertahun-tahun sudah hati ini merindunya dan rindu itu terobati. Bahkan aku dapat menemuinya setiap hari, aku dapat melihat wajahnya sepuasku tanpa terbesit rasa rindu yang pernah kurasakan dulu.
Hari-hariku kini terhiasi olehnya. Aku tak menyangka bisa bertemu dengannya lagi. Setalah 5 tahun aku tak melihat sosoknya, aku bisa melihatnya lagi ketika hujan saat itu, ketika aku pulang dari toko buku. Aku menyesal karena pertemuan saat itu aku menabraknya saat aku mengendarai motor. Kakinya terluka dan aku belum sempat bertanggung jawab mengobatinya. Aku juga belum sempat menanyakan namanya, padahal aku sangat ingin tau siapakah dirinya.
Namun, pada akhirnya aku tau siapa dirinya. Saat itu aku sedang di rumah Suzy, aku ingin meminta maaf karena kesalahanku padanya. Tapi Suzy sepertinya tidak mau bertemu denganku saat itu, akhirnya aku hanya berbincang dengan ibunya. Aku terkejut ketika ada seseorang masuk ke rumah itu. Bukan terkejut karena kehadirannya tapi karena sosok familiar itu. Dia adalah wanita hujan itu. Betapa kagetnya aku mengetahui dia tinggal di rumah Suzy. Tapi aku lebih kaget lagi saat dia memanggil ibunya Suzy dengan sebutan ’eomma’. Lalu saat itu ia memperkenalkan dirinya kepadaku, hingga akhirnya aku tahu siapa namanya.
Saat itu aku penasaran, apakah dia anak kandung ibunya Suzy? Jika iya berarti dia adalah kakaknya Suzy. Betapa terkejutnya aku ketika aku menanyakan hal ini pada ibu Suzy dan jawabnya adalah gadis hujan itu anak angkatnya. Aku lebih terkejut ketika tahu kalau gadis itu ditemukan oleh ibu Suzy saat malam yang sama ketika aku bertemu gadis itu. Gadis itu menolak saat aku ajak dia ikut bersamaku, tetapi dengan ibu Suzy ia mau. Dan akhirnya kuketahui lagi kalau ternyata gadis itu trauma dengan lelaki. Akibatnya adalah karena dia pernah disakiti oleh mantan namjachingunya.
Mulai saat itu aku senang sekali bisa bertemu dirinya, bahkan kini aku telah mengetahui identitasnya. Aku lebih senang lagi ketika keesokan harinya aku bertemu gadis itu di kampusku. Ternyata dia kuliah di universitas yang sama denganku. Tak ada yang tahu betapa bahagianya aku saat itu. Aku ingat itu saat pertama kalinya ia menertawaiku. Ia mengatakan, ’Wajahmu terlalu cantik untuk menjadi namja’.
Aku hanya mendengus kesal saat itu, tapi dia tertawa. Aku senang melihat tawanya. Ia merasa tidak risih saat dekat denganku, padahal dia phobia dengan lelaki. Aku menghiraukan hal itu. Lalu saat itu aku menawarinya pulang bersamaku. Saat di perjalanan, hujan turun deras sekali. Aku meneduh bersamanya di pinggiran toko. Saat itu kami bercakap-cakap hingga akhirnya ia bertanya, ’Apa kita pernah bertemu sebelumnya?’. Aku menjawab, ’Ya, kau benar. Saat hujan.’ Dia sedikit bingung, ’Kapan?’ tanyanya. Aku menjawab lagi, ’Tepatnya pada tanggal yang sama dengan hari ini.’ Hari itu tanggal 1 May. Tanggal itu adalah hari dimana aku pertama kali bertemu dirinya yang sedang menangis, ketakutan dan kedinginan.
Kedekatan kami makin timbul dari hari ke hari. Aku senang saat aku dan dia sama-sama menjadi panitia pentas seni kampus. Dan terlebih, dia akan menyanyi duet bersamaku.
Saat itu setelah kami rapat kepanitiaan, aku mengajaknya ke cube entertaiment. Aku perkenalkan dia kepada rekan-rekan kerjaku di B2ST. Namun, saat Gikwang muncul dan dia melihatnya, dia segera berlari kencang. Aku berusaha mengejarnya hingga dapat. Tapi dia menepis tanganku dan berteriak padaku untuk jangan dekat-dekat dengannya. Saat itu aku bingung bukan main. Aku kembali ke gedung cube, langsung kutanyakan pada Gikwang ada apa dengan gadis itu dan dirinya. Hingga akhirnya aku tahu kalau Gikwang yang membuat gadis itu sakit di masa lalu.
Semua hal itu semakin jelas terungkap saat aku menanyakan itu pada Suzy. Suzy pernah diceritakan oleh kakaknya itu langsung kalau lelaki yang menyakitinya itu adalah Gikwang. Aku benar-benar tak percaya.
Aku ingat saat aku dan gadis itu berlatih menyanyi di studio musik. Aku memperkenalkan laguku tentang hujan padanya, dan lagu itu yang akan dinyanyikan duet oleh kami. Judulnya ’On Rainy Days’. Lagu ini yang tepat untuk dinyanyikan dan lagu ini pas untuk keadaanku terutama ketika mengingat hujan.
Saat pentas seni kampus sedang berlangsung, saat itu kami tampil bernyanyi. Kami melakukannya dengan sukses. Aku terhanyut saat dia bernyanyi, suaranya merdu dan indah seindah parasnya itu. Dia membuatku jatuh lebih dalam ke dalam jurang cinta, hingga membuatku tak mampu keluar dari jurang itu.
Hari demi hari kulalui. Aku selalu bertemu dengannya. Tak tersirat rasa bosan untuk melihatnya, menatap wajah teduhnya itu. Aku senang dan bahagia jika bersamanya.
-oOOo-
Hujan turun rintik-rintik. Kukira akan hujan deras, padahal awan sudah mendung sekali. Aku berlari-lari kecil menuju cafe di dekat toko buku. Aku menduduki salah satu bangku di dalam cafe dan memesan satu cangkir kopi hangat. Udara cukup dingin dan sialnya aku tidak membawa jaket.
Kopi hangatku sudah datang, dengan segera aku meneguk perlahan kopi itu. Terasa hangat di tenggorokan. Tapi udara dingin menusukku dan membuatku bergidik kedinginan. Aku memeluk diriku sendiri, menyilangkan kedua tanganku di depan dada.
Pandanganku tertuju pada jalanan yang basah akibat hujan. Ya, meski hanya hujan gerimis namun mampu membuat jalanan itu basah. Sedikit demi sedikit bertumpuk menjadi gunung. Sama halnya dengan perasaanku saat ini. Perasaan cinta pada seorang yeoja yang kutemui di waktu hujan itu. Awalnya rasa ini hanya sedikit saja menempel di hatiku. Namun karena aku selalu mengingatnya, sedikit demi sedikit perasaan itu bertambah hingga perasaan itu menetap selalu di hatiku sampai saat ini. Saat hujan aku tak kuasa menghapus bayangannya dari pikiranku. Bahkan aku sampai merindunya selama bertahun-tahun.
Kukira untuk bertemu dirinya lagi hanyalah sebuah harapan yang tak akan terwujud. Hanyalah fatamorgana seperti di gurun pasir. Namun aku bahagia ketika kenyataannya aku dapat melihat dirinya lagi. Rasa rinduku terobati dan rasa ini tak sia-sia menetap di hatiku.
Harapan bertemu dirinya telah terwujud. Kini aku beranjak ke harapan berikutnya. Yaitu mengharapkan dirinya memiliki perasaan yang sama denganku. Mungkin saat ini cintaku masih bertepuk sebelah tangan. Tapi dapat kupastikan cintaku akan terbalas olehnya jika aku berusaha.
Dia harus tau isi hatiku ini. Dia harus tau kalau hanya ada satu nama dan satu cinta di dalam hati ini. Hati ini selalu menyerukan namanya, Bae Min Ra. Just her.
-oOOo-
Jam yang melilit di tanganku menunjukan pukul 07.00 p.m. Aku sudah cukup lama di cafe ini, dan dari tadipun aku hanya termenung saja. Cukup menyenangkan mengingat kenangan-kenangan manis yang pernah kulalui, terutama bersama dia.
Aku beranjak dari kursiku. Namun seorang lelaki yang amat kukenal baru saja masuk cafe ini. Aku memanggil namanya dan kembali duduk di kursiku.
”Gikwang-ah!” panggilku.
Lelaki bernama Gikwang itu menoleh ke arahku, lalu menghampiri meja yang kutempati.
”Hei, kau rupanya Yoseob. Sedang apa kau di sini?”
”Hanya sedang santai saja. Kau sendiri ingin apa ke sini?”
”Oh, sama hal nya denganmu Yoseob-ah. Aku baru saja pulang dari rumah Min Ra.”
”Benarkah? Untuk apa kau ke sana? Kau mengobrol dengan Min Ra? Lalu?”
Aku membenarkan posisi dudukku. Antusiasnya pertanyaanku membuat Gikwang mengkerutkan dahinya dan menatapku aneh. Aku hanya menggaruk-garuk kepalaku dan sedikit menyeringai.
“Kurasa kau ada sesuatu dengannya. Benarkah begitu Yoseob-ah?”
“Apa maksudmu?”
“Sudahlah. Katakan saja padaku.”
Aku menyeruput kopi susu yang masih tersisa di cangkir. Rasanya sudah tidak hangat, menjadikan rasa kopi itu sedikit hambar. Aku mengernyitkan dahi saat menelan kopi itu. Aku menatap Gikwang yang menunggu aku berbicara. Alis matanya mengangkat satu, menandakan dia masih bingung.
Aku menghela nafas panjang. Apa aku harus memberitahunya kalau aku mencintai Min Ra? Aku takut kalau Gikwang masih ada perasaan dengan gadis itu. Walau bagaimana pun Gikwang adalah temanku, bahkan teman dekatku.
“Aku..” ucapku.
“Kau?”
“Hmm, aku mempunyai rasa padanya, Gikwang-ah.”
Gikwang sedikit terkejut namun ia melontarkan pertanyaan antusiasnya padaku.
”Perasaan apa? Jatuh cinta? Oh, kau jatuh cinta dengannya Yoseob-ah?”
“Yaa, mungkin seperti itu.”
Aku melihat ada senyuman dari bibirnya. Senyuman tulus, sepertinya.
”Kau mencintai orang yang tepat, Yoseob-ah.”
“Dan kau beruntung bisa mencintai dirinya,” lanjutnya.
Aku menatap keluar jendela cafe. Menatap jalanan yang masih basah, dan orang-orang yang berlalu lalang di pinggiran jalanan itu. Aku menghela nafas panjang, lagi.
”Tapi lebih beruntung jika aku bisa mendapat cintanya,” ucapku tanpa menatap Gikwang.
Gikwang terdengar menertawaiku. Spontan aku menoleh ke arahnya dan memasang tampang bingung. Lalu dia berhenti tertawa dan membuka mulutnya.
”Yang kau katakan benar sekali, Yoseob-ah. Mendapatkan cintanya itu hal yang membahagiakan dan kehilangan cintanya itu adalah hal yang menyakitkan,” ujarnya. Gikwang tertawa kecil, namun pada tawanya tersebut seperti tersirat kekecewaan.
”Aku pernah berhasil mendapatkannya, mendapatkan cintanya. Aku bahagia sekali. Sama hal nya seorang anak kecil senang mendapatkan permen.”
”Tapi aku terlalu bodoh meninggalkannya saat itu. Aku bodoh menyia-nyiakan cinta sucinya itu padaku. Aku memang lelaki yang tak pantas untuknya. Menyiksa hatinya lah yang hanya bisa ku lakukan, aku kecewa pada diriku sendiri,” lanjutnya dengan wajah muram.
”Aku iri padamu, Gikwang-ah,” ucapku kemudian sambil mengalihkan pandangan kembali ke jalanan.
”Cintaku seperti hujan rintik-rintik yang membasahi bumi, namun hujan itu tetap awet dan bahkan lama kelamaan menjadi deras. Hujan yang mampu membuat jalanan itu basah. Namun aku tak tau apakah air hujan itu menyerap ke dalam tanah atau tidak.”
”Aku tak tau cintaku diserap ke dalam hatinya atau tidak, Gikwang-ah,” lanjutku.
”Hei, tak ada yang tak mungkin di dunia ini, kawan. Aku percaya padamu. Aku percaya cintamu dapat kau perjuangkan. Aku merestui cintamu itu, sobat. Berjuanglah,” ujar Gikwang.
Aku menatapnya aneh. Aku hanya terdiam, tak membalas kata-kata semangatnya tadi.
Gikwang tersenyum, ”Aku sudah mengubur rasa cintaku padanya, aku hanya menganggapnya teman sekarang. Kau tak perlu khawatir merasa berkhianat padaku,” ujarnya kemudian. Ia seakan mengerti apa maksudku.
”Lagipula aku sepertinya menemukan cinta yang baru. Cinta yang akan kutanam dan kujaga dengan baik,” ujarnya lagi.
”Jeongmal? Kau jatuh cinta lagi pada yeoja yang lain? Cepat sekali kau move on.”
“Hmm, aku tak tau perasaan ini cinta atau bukan. Yang pasti saat pertama bertemu dirinya, hatiku bergejolak sekali. Seperti rasanya jatuh cinta. Ah, kau tau pasti rasanya.”
Aku tersenyum lebar. Senang mendapatkan teman dekatku itu bisa melupakan cinta lamanya. Ku harap dia bisa lebih baik di kisah cinta barunya.
”Sukses terus untukmu, Gikwang-ah,” ucapku.
”You too, sob. Semoga kisah cintamu bahagia dan happy ending, hahahaha.”
Malam itu aku bahagia bisa tertawa bersama sahabat karibku.
-oOOo-
08.00 p.m
Aku mengendarai mobilku menuju rumah Min Ra. Aku hendak mengajaknya pergi, meskipun aku tak tau ingin pergi kemana. Kuparkirkan mobilku di depan rumahnya.
Aku mengetuk pintu kayu milik rumah Min Ra tersebut. Beberapa lama kemudian seseorang membukakan pintu. Dan ternyata itu Suzy. Aku tersenyum padanya.
”Annyeong, oppa!”
”Annyeong, Suzy!”
”Ayo silahkan masuk, aku tahu kau ingin mencari siapa.”
Aku terperangah. Dia tahu aku ingin mencari siapa?
”Oh, tak usah Suzy. Aku menunggu di luar saja.”
”Benarkah? Tapi di luar dingin oppa.”
”Gwaenchana.”
”Baiklah, tunggu sebentar ya, oppa. Akan kupanggilkan Min Ra eonni dulu,” ujar Suzy. Lalu ia berlari-lari kecil menelusuri tangga ke lantai dua sambil meneriakkan nama kakaknya.
Aku masih keheranan mengapa dia bisa tahu aku ingin mencari Min Ra? Sudahlah.
Beberapa saat kemudian muncul sesosok wanita yang sudah kutunggu-tunggu dari tadi. Dengan wajah sumringah aku menghampirinya.
“Yoseob? Mengapa kau menunggu di luar? Suzy tidak menawarimu untuk masuk?” tanya Min Ra sambil mengenakan sweater putihnya.
“Tidak. Suzy tadi sudah menawarkannya padaku, tapi ku pikir aku tunggu di luar saja,” sahutku.
Suzy tiba-tiba datang dan merangkul pundak kakaknya. Senyumnya mengembang sama seperti senyumannya tadi.
“Oppa ingin mengajak kakakku pergi kan? Ah, silahkan. Eonni juga sudah menunggumu dari tadi oppa,” ujar Suzy padaku dengan kedipan matanya pada Min Ra.
“Hei, kau bilang apa Suzy-ah? Berhentilah,” tegur Min Ra pada adiknya itu. Suzy hanya menyeringai. Sedangkan aku hanya menggaruk-garuk kepalaku gugup.
-oOOo-
Malam itu aku mengajaknya pergi, dan dia ingin pergi ke restoran khas Korea. Aku siap mengantarkannya. Siap kemanapun ia ingin pergi. Ia ingin pergi ke hatiku juga aku persilahkan, sangat sangat aku persilahkan.
Saat itu aku khawatir dengannya karena dia memesan makanan yang super duper pedas. Aku takut, demi apapun aku sangat takut. Dia pasti akan sakit jika makan makanan pedas itu. Aku berusaha mencegahnya agar ia tak memakan itu. Tapi ternyata ia sangat ingin menyantap makanan-makanan itu. Aku hampir mati kebingungan di sana. Namun pada akhirnya aku hanya memperhatikannya menyuapkan makanan ke mulutnya, dengan perasaan gundah dan sesekali aku menelan ludahku setiap kali ia menyantap makanannya.
Seandainya ia tahu aku sangat mengkhawatirkannya, aku takut terjadi apapun padanya. Dan juga seandainya dia tahu. Aku akan menjadi lelaki yang selalu siap menjaganya, melindunginya setiap waktu selama nafasku ini masih dapat berhembus.
-oOOo-
Bae Min Ra, aku mencintaimu. Setiap detik waktuku hampir ku habiskan dengan memikirkan sosok dirimu. Cinta ini terlalu dalam untukmu, aku sudah menggalinya dengan susah payah.
Akulah hujan rintik-rintik yang selalu membasahi hatimu. Itulah cintaku. Cinta yang sedikit-sedikit aku turunkan dan lama kelamaan semakin banyak dan semakin deras menaburi ruang hati. Namun aku tak pernah tahu bagaimana hatimu. Apakah hatimu meresap rintik-rintik hujan itu?
I can get out from the thoughts of you..
I always thinking about you. Love you..
-oOOo-
ANNYEONG HASEYOOO READERS!
Miss you so much {}
Fanfict ini ku persembahkan untuk readers yang udah nunggu-nunggu banget FF ORD-ku. Big sorry for you all. Aku gabisa jadi author yang baik T_T aku selalu membuat kalian menunggu hiks.
Ok, FF intermezzo kali ini cuma FF yang iseng2 aku buat untuk merangkum cerita dari ORD part 1 sampai 8 yang udah aku publish. Nah karena udh lama ga aku terusin, jadinya bikin FF ini buat kalian mengingat kisah sebelumnya, soalnya kan pasti banyak yang lupa kaan, dan ternyata authornya sendiri ini lupa juga loh cerita sebelumnya gimana._.
Okedeh, sebenernya ini mau aku bikin ficlet aja, etapi kepanjangan yaudah deh jd oneshot yang gaterlalu panjang._. Sudahlah yang penting aku udah buat FFnya hahaha. Ohya gomawo buat readers yang selalu nunggu FF ORD ini, maaf bgt kalo bikin kalian kecewa.
Langsung aja RCL nya yaa. Don’t Be Silent Readers!
Gomawo!^^

^_^
ahh, tnyata ini kaya kesimpulan smua part ya~~~ *angguk2*
lumayan membantu mengingat part2 sblumnya dan menantikan klanjutannya lhoo ^^
Hehehe. Ne
Keep waiting ya! ^^
eon tau gak? aku teriak loh liat ff ini muncul lagi! bilang wow pliss *plakk
kangen banget sama cerita ini T.T kalo diinget-inget… udah berapa bulan nggak muncul ya? nungguin part 9 dari bulan apa ya? aku lupa ==”
rangkuman ceritanya keren lohh… 8 part yang panjang itu bisa jadi sependek ini
ditunggu next part-nya!!!! *tebar idung yoseob
WOOOWWW
hahahah
Hehe iyaa nih udah lama banget ya. Mian ya membuat kamu menunggu lama, semoga ga jenuh menunggu hehe.
Ok keep waiting! *tangkep idung yoseob(?)._.
Thor kapan lanjut?
Nungguin nih suer deh >< ToT