Somebody to Love [8#: A 'Good' Bye]

Somebody to love 8

Author: Vddid

Tittle: Somebody to Love

Casts: Oh Sehoon (sehun), Cho Minhwa (OC), Lee Taemin, Kim Jongin (Kai)

Length: Chaptered

Rating: PG 15+

Genre: Romance & Friendship

Disclaimer: It’s my plot! My imagination like my own world! Its just a fiction okay?!

DANGER: Typo ._.

Previous Part -> 8#: A ‘Good’ Bye

Summary: Selamat tinggal. Kalimat itu seharusnya tidak diucapkan olehmu. Tidak! Aku tidak ingin meninggalkanmu! Aku ingin kau menemaniku sampai jantungku berhenti berdetak. Tapi, aku ingin kau bahagia… walaupun bahagia tanpaku. Karena ku yakin, kau akan kembali padaku suatu hari nanti.

Vd’s note: ANNYEONG!!!!!!!!!!!!! Adakah yang menunggu lanjutan ff ini???? Sebelumnya, mianhae. Ada kesalahan kecil mengenai ff ini .-. soal poster ff ini >~< Poster Prologue – Part1 dari ff ini ada kesalahan pengeditan .-. Jujur, vd gak tau kalo yang megang bunga mawar itu tem-tem .-. Gini ceritanya, vd lagi nyari foto kai yang pas untuk dimasukkan didalam poster STL. Jadi, Vd googling lewat google image (bukan thumblr). Muncul foto itu ternyata! Yah, karena wajahnya ditutupi mawar, vd juga gak tau kalo itu tem-tem .-. Memang stylenya kai sama tem-tem itu satu banding dua ya?! Beda-beda tipis sampai aku juga gak bisa membedakan mereka .-.

‘Enjoy :D

“Kalau masih ada yang belum dimengerti, kau bisa bertanya,”

“PASTI!” ia menunjukkan kedua jempolnya. Ujian sebentar lagi mulai, tapi ia masih tidak mengerti dengan rumus-rumus matematika yang berhubungan dengan cos, cosec, sec, dan tangen. Yang ia andalkan sekarang adalah sehun, karena sehun amat sangat mengerti dengan rumus-rumus itu. Selama ‘les khusus’ bersama sehun ia tidak bisa fokus, karena jantungnya selalu saja berdetak tak karuan jika terlalu dekat dengan sehun.

KRIIIINNNGGGG…..!!!

“Aigo aigo aigo…. SEHUN!!!”

***

                Akhirnya, ia menyelesaikan ujian terakhirnya dengan lumayan lancar. Is she cheating? NO! absolutely not! “Minhwa-ya, kita akan berpisah,” hyeri membuka pembicaraannya dengan minhwa didalam kelas. “Nde, kuharap, kau bisa ke jepang dan menjadi pembuat komik yang handal,” mereka berpelukan cukup erat. “Aigo~ belum ada pengumuman kelulusan sudah berpelukan seperti itu. Bagamana jika kalian tidak lulus?” komentar hwayoung melihatnya dan hyeri berpelukan. “Aish! Kami sudah optimis! Kami belajar mati-matian dengan ujian ini!” kata mereka berdua lalu hyeri melipat tangannya didepan dada.

Prom Night Perpisahan diadakan kapan?” Sehun bertanya dengan tatapan datarnya. Hwayoung, hyeri dan minhwa menautkan alisnya heran. “Aigo-ya, kau ingin cepat-cepat berpisah?” hwayoung mendesah kesal lalu ia melipat tangannya didepan dada. “Aniyo,” jawab sehun singkat lalu menatap minhwa. Minhwa hanya mengalihkan pandangannya karena jika ia melihat sehun, jantungnya akan berdetak lebih cepat dari yang biasanya. “Aniyo? Ekspresimu yang seperti itu, pantasnya menjawab Nde dibandingkan Aniyo,” sambung hyeri dengan meniru intonasi sehun yang mengatakan ‘aniyo’. “Entahlah. Kau Tanya saja pada pengurus kesiswaan (*semacam Osis),” kata minhwa tanpa menatap mereka bertiga. Ia lebih memilih membuka buku dan membacanya asal daripada menatap tatapan-tatapan mereka yang beragam dan aneh.

“Nde, tanyakan saja kepada ketua kesiswaan sekolah,”

“Nde, kalau sudah tahu kabarkan kepada kami, sehun-ah. Arraseo?”

See u there,” minhwa tidak sadar bahwa sehun mengatakannya tepat disaat sehun menatapnya. Hwayoung dan hyeri juga tidak tahu karena mereka berkomentar tanpa menatap sehun sama sekali. Salah tingkah mungkin?

***

                “Aish, sunbae sudah tidak hilang kontak denganku? Eotteokhae?” minhwa menggumam didepan televisi yang sedang menayangkan sebuah infotaiment. Ia tidak fokus dengan menonton, lebih fokus mengutak atik handphone-nya dan menunggu pesan dari taemin. Biasanya, taemin sudah mengirim pesan padanya. Tapi, hampir seminggu ini tidak mendapat pesan dari taemin. Mungkin taemin tidak ingin mengganggu-nya yang ujian? Itu hanya kemungkinan. Ia akhirnya kesal menunggu dan mengalihkan pandangannya didepan televisi.

“Dancer terkenal, taemin kini akan berhenti dari dunia entertainment dengan alasan ingin fokus pada kuliah-nya.”  mata minhwa langsung melihat TV setelah mendengar nama taemin yang dikatakan oleh presenter. Ia menyimak dengan saksama berita itu. Dan, benar saja, taemin membuat jumpa pers akan hal ini. “Kenapa anda ingin berhenti dari dunia entertainment disaat anda sedang sangat tenar?”

“Sudah kujelaskan tadi, bahwa aku akan fokus pada studiku,”

“Ada alasan lain selain itu?”

“Tidak,”

“Seorang yeoja mungkin?”

“Mungkin juga,”

“Siapa dia?”

“Maaf, ini privasiku,”

Minhwa sedikit kaget mendengar berita yang baru saja ia lihat dan dengar dari TV. Haruskah ia menelpon taemin untuk mengonfirmasi hal ini? ia memberanikan diri untuk melepon taemin sekarang. Taemin tidak mengangkat telponnya. Ia heran, dan berpikir bagaimana jika ia mengirim pesan suara saja. Mungkin sekarang taemin sedang istirahat dan tidak ingin diganggu setelah jumpa pers situ. Minhwa akhirnya mengurungkan niatnya untuk mengirim pesan suara untuk taemin. Tiba-tiba handphone-nya berbunyi, ia melihat sejenak layar handphonenya. Ternyata ada pesan suara yang masuk. Ditekannya tobol handphone-nya lalu ia tempelkan ditelinganya.

“Jangan khawatir. Aku baik-baik saja disini. Mian, tidak bisa menelpon atau mengirim pesan. Kutahu kau sangat sibuk dengan ujianmu dan aku sama sekali tidak ingin mengganggu.” Apakah taemin bisa membaca pikirannya dari jauh?

***

[Minhwa’s POV]

Pesta sudah berlangsung dari beberapa jam yang lalu. Akhirnya, acara perpisahan ini diakhiri dengan bersalaman dan berpelukan lalu mengatakan, ‘selamat tinggal’. “Minhwa-ya, aku akan pergi ke jepang. Aku pasti merindukanmu disana. Kapan-kapan kau kesana juga oke?” hyeri langsung saja memelukku dari belakang dan membuat jantungku sepertinya berhenti seketika. Aku membalas pelukannya dengan erat. “Nde, pasti. Kita jangan lepas kontak. Jangan jangan jangan,” kataku lalu melepas pelukanku pada hyeri secara perlahan. “Minhwa, selamat tinggal,” kini chanyeol bersalaman denganku. “Nde. Jadilah pebisnis yang hebat, chanyeol-ssi,”

“Aigo-ya, kita sudah dua tahun berteman masih memanggilku seformal itu?”

“Persiapan lima tahun kemudian bertemu denganmu dengan memakai setelan jas formal dan terlihat berkarisma,”

“hahaha…” kami berdua tertawa bersama-sama. Yah, kata-ku barusan itu memang langsung saja keluar dari mulutku. Aku dan chanyeol sudah seperti kakak beradik saling curhat satu sama lain. Aku tahu rahasianya begitu juga sebaliknya. Semoga aku bisa mendapatkan undangan pernikahannya dan ternyata yang menjadi pasangan hidupnya itu adalah hwayoung, yeoja yang selalu didambakannya baik didalam maupun diluar sekolah. “Aigo~ Minhwa-ya. See you soon,” aku membalas pelukan hwayoung yang begitu erat. “Kutahu, kau juga menyukainya. Tapi, aku merasa tidak cocok dengannya, minhwa-ya. Kaulah yang cocok” hwayoung mengatakannya dan mulai mengeluarkan airmata. “Kau menyesal menyukainya?” aku bertanya dengan heran. Jujur, jika aku melihat temanku seperti ini, rasa sukaku pada sehun entah kenapa langsung hilang bergitu saja. Mungkin rasa iba yang membuatku menjadi seperti itu? Entahlah. “Aniyo. Aku hanya tidak ingin melepaskanmu saja, minhwa-ya. Makanya aku menangis,” ia menjawabnya sembari mengelap airmatanya. Tiba-tiba hwayoung dan hyeri menyikutku dan membuatku kaget.

“Sehun sedang berjalan kemari,” kata chanyeol yang sedang melihat sehun berjalan. Hyeri dan hwayoung mulai menjauh denganku dan lebih memilih berdekatan dengan chanyeol. “Get ready, cho minhwa,” sambungnya lagi. Aku memperhatikan sehun yang sudah berada didepanku dan terang-terangan menatapku dengan senyum tipisnya. Ya, Tuhan, apakah aku bermimpi sekarang? Dia memakai jas hitam, celana hitam dan kemeja putih ditambah dasi hitam. Ia berdiri dengan tegap dan ia terlihat seperti seorang model sekarang. Ia tampan, TIDAK! Sangat tampan. Tiba-tiba ia langsung memelukku. DEG! Apakah aku bermimpi sekarang? Aku mencoba mengigit bibirku dan terasa amat sakit. Ini bukan mimpi!

Dia memelukku dengan erat. Detak jantungnya bisa kurasakan. Apakah dia juga bisa merasakan detak jantungku yang bertdetak sama sepertinya, Lebih cepat dari yang biasanya? Ia memelukku dalam diam dan lama. Serasa waktu berhenti saat ini. Aku ingin pelukannya lebih lama. “Selamat tinggal, Minhwa-ya.”

“Kenapa ini harus diikat?”

“Karena jika tidak diikat, origaminya tidak bisa menjadi teratai. Kertas-kertas ini harus disatukan.”

“Kau ingin tahu bagaimana cara menggambarnya?”

“hal pertama yang harus dibuat untuk membuat manga adalah sketsa. Tapi, aku tidak terbiasa memakai sketsa. Jadi, aku memulainya dengan menggambar rambut,”

“Kau.. pucat,”

“Aku… tidak… kuat…”

..

“Terima kasih karena kau menolongku, Minhwa-ya.”

..

“Ini adalah tanda terima kasihku.”

“Wah, sayang ya, Dia mimisan Minhwa. Darahnya mengalir tanpa henti.”

“Gomapta,”

“WOI!!!”

“Tidak mendengarnya? Kau ini. Berteriak seperti gorila yang lapar masakkan aku tidak bisa mendengarnya?”

“Wow, bunga ini sangat cantik sehun-ah,”

“Kau bisa menyimpannya atau memberikannya pada orang lain. Tapi kuharap, simpan baik-baik bunga teratai itu dirumahmu. Karena itu pemberian pertamaku,”

“Jikalau Tuhan berkenan, kita akan bertemu lagi,” dan airmataku kali ini tidak bisa ditahan. Aku memeluk sehun lebih erat dan mulai berandai-andai bagaimana jika sehun akan meninggal keesokan harinya.

***

[Author’s POV]

Hari-hari dijalani minhwa dengan lancar. Sudah dua bulan lamanya ia seperti ini. tidak lagi sekolah, melainkan kuliah. Tidak bisa hilang kontak dengan teman-teman sekolahnya. Chanyeol sering menyapanya di jejaring social, hyeri siang malam menelpon atau mengirim pesan padanya, sedangkan hwayoung seminggu sekali datang dirumahnya. Dulu berbeda dengan sekarang. Ia sudah mempunyai teman baru yang notabene teman sebangkunya di fakultas. “Minhwa-ya, ini formulir pendaftarannya. Kau bisa membawa sendiri formulir itu. Mianhae, les-ku sebentar lagi dimulai. Aku ingin lebih dulu,” kata yeoji, teman sebangkunya. “Nde, yeonji-ya. Annyeong,” dan yeonji pergi meninggalkannya yang sedang merapikan perpustakaan yang ada didalam universitasnya. Buku yang dibacanya lumayan banyak itu untuk sekedar bejalar, karena ada beberapa mata kuliah yang belum dimengertinya. Setelah ia merapikan buku-buku itu dan menyimpannya dirak seperti semula, ia akhirnya keluar dari perpustakaan itu lalu menuju ke tempat khursus yeonji. Ia ingin khursus bahasa inggris karena bahasa itu menyangkut karirnya dimasa depan. Ia takut, jika ia selesai kuliah dan bekerja diluar negeri, ia tidak mendapat pembekalan sama sekali tentang bahasa inggris. Makanya ia ingin belajar dari sekarang, walaupun pengetahuannya tentang bahasa inggris sudah lumayan

Sesampainya ia ditempat khursus, ia langsung memberikan formulir pendaftaran yang diberikan yeonji padanya dan ia langsung dites, seberapa bisa ia berbahasa inggris. “Jadwal les-mu adalah setiap hari rabu dan sabtu. Jadi, besok adalah hari pertamamu ikut les,” kata seorang pegawai. Ia sedikit kecewa karena ia tidak bisa bersama-sama dengan yeonji.

Akhirnya minhwa memutuskan untuk tidak berlama-lama disana dan ingin cepat pergi. Ia keluar dari tempat les itu dengan santai. Tiba-tiba ia tidak fokus pada jalannya dan hanya terfokus pada mobil Lamborghini hijau yang baru berhenti tidak jauh dari-nya. Seseorang namja keluar dari dalam mobil yang setahu-nya bagian kemudi. Namja itu memakai celana jeans ketat dan kaus merah ‘V’ neck. Badannya begitu tinggi dan berambut blonde. Terlihat sangat tampan dan berkarisma. Tidak disangka namja itu menatapnya lalu dengan cepat ia langsung menghadap ke arah yang berlawanan, tapi sebelum ia berbalik,

“Arrgggghhh!” ia tidak sengaja menabrak tiang listrik. Kepalanya pusing, lalu ia terduduk diterotoar tepat disamping tiang listrik. Menutup matanya, mencoba menahan sakit yang ia rasakan saat ini. “Gwenchana?” samar-samar ia membuka matanya dan melihat siapa orang yang terang-terangan menatapnya. Namja itu. “Pusing…” minhwa menggumam pelan dan masih memegang kepalanya. “Cho minhwa?” matanya langsung terbuka lebar-lebar mendengar namanya dipanggil. “Sudah kuduga,”

“Aish, apakah potongan rambutku bisa membuatmu tidak mengenalku?”

“Atau.. apakah dengan potongan rambutku yang baru ini aku lebih tampan sehingga kau tidak mengenalku?”

“Lee…” kepala minhwa semakin sakit karena berpikir. “Tae-taemin?” taemin langsung berdiri dan berkacak pinggang. “Aigo~ Minhwa-ya, kau sudah pikun atau?” minhwa tidak mengindahkan pertanyaan itu dan langsung berdiri lalu pergi meninggalkan taemin. Ia sangat kesal. Taemin sepertinya tidak berusaha untuk mengejar minhwa, ia hanya diam mematung ditempatnya. Jujur, ia masih syok dengan kejadian ini. bagaimana minhwa tidak mengenalnya padahal rambut barunya itu terang-terangan memperlihatkan wajahnya. Atau mungkin ia terlalu banyak berubah? Atau mungkin karena minhwa tidak mengenal parasnya karena sudah lama ia tidak bertemu dengannya?

Tapi, satu hal yang membuatnya bingung saat ini. Kenapa ia dengan santai tahu bahwa yeoja yang tertabrak tiang itu adalah minhwa? Taemin tidak memperhatikan dia karena setahunya, itu adalah penggemarnya yang sedang men-stalking-nya. entah kenapa taemin mau menolongnya lalu pertanyaan setelah ‘gwenchana’ yang ia lontarkan yaitu ‘cho minhwa’. Taemin juga bingung kenapa ia bertingkah over pede. Tidak seperti biasanya.

“Cho Minhwa, long time no see…”

***

[Minhwa’s POV]

“Selamat berjuang, minhwa-ya! Fighting!” kata yeonji padaku sebelum ia meninggalkanku didepan zebra cross menuju tempat les-ku. Tingkah berlebihan yeonji hanya dibalasku dengan senyuman. Setelah dia pergi bersama bis, aku pun mulai berjalan menuju gedung yang mempunyai tiga tingkat, ya, tempat les-ku.

Setelah sampai didepan kelas, aku berhenti sejenak. Mungkin aku terlambat lima menit. bisa ku dengar dari luar, suara seorang sedang berbahasa inggris, sedang menerangkan mungkin. Aku mengetuk pintu selama tiga kali lalu masuk. Dengan ramah, guru itu menyuruhku untuk duduk. Sebelum duduk, aku memperhatikan semua murid. DEG! Namja kemarin yang menolongku ada duduk sendirian! Tersisa satu tempat duduk, yaitu disamping namja yang kunamai ‘Lee Taemin’. Aku juga masih bingung kenapa aku menyebutnya lee taemin. Padahal, dia tidak terlihat seperti sunbae. Taemin jadi-jadian itu lebih tinggi, lebih tampan, dewasa, dan over pede. Dengan berat hati, aku duduk disampingnya dalam diam. Dia banyak kali mengajakku bicara, baik dalam bahasa inggris maupun bahasa korea. Aku hanya cuek dan lebih memilih fokus pada pelajaran. Jujur, aku masih kesal dengan kejadian kemarin yang begitu memalukan itu.

***

Aish! Aku tidak bisa pulang cepat dihari pertamaku mengikuti kursus. Sial! Sekarang Hujan disertai angin dan petir. Aku tidak membawa paying sama sekali. Bisa kuperhatikan semua sudah pulang dengan mobil pribadi mereka atau dengan paying. Damn! Lambat laun, tinggal aku dan seorang satpam digedung ini. perut-ku mulai berbunyi karena belum makan, sekarang sudah jam delapan lewat. Aku harus bagaimana? Membiarkanku basah dengan sketchbook dan tas berisi tugas kuliah? Tidak!

“Kau belum juga pulang?” seseorang berdiri didepanku dengan tangan berada didalam saku celana jeans-nya. aku mendongak untuk melihat siapa orang yang ada didepanku ini. Aku langsung mendengus kesal dan langsung mengalihkan pandanganku pada satpam lalu tersenyum padanya. Lebih baik senyumku diberikan kepada satpam daripada memberikannya pada namja over pede yang ada didepanku ini. “Kau masih marah dengan kejadian kemarin? Mianhae, Minhwa-ya.”

“Atas dasar apa kau memanggilku se-akrab itu?”

“Karena aku adalah temanmu,”

“Temanmu? Sejak kapan?”

“Sejak SMA. Kau adalah juniorku,”

“Oh ya? Namamu siapa?”

“Lee Taemin,”

Good. Kau sekarang membawa nama seorang artis. Kumohon, jawab dengan jujur, siapa namamu,”

“Lee Taemin,”

“Lagi-lagi. Taemin sunbae tidak sepertimu! Dia cukup pendiam dan tidak over pede sepertimu!”

“Kau ingin kuantar pulang?” Cih, sekarang dia mulai mengalihkan topic pembicaraan. Dasar! “Hey! Aku sedang serius! Tolong jangan mengalihkan pembicaraan,” kataku ketus padanya. Jujur, aku tidak mau pembicaraan ini dialihkan. Karena aku sedang serius sekarang. “Di press conference, rambutmu tidak seperti sekarang. Padahal press conference itu diadakan belum lama.” Terlihat dari wajahnya, ia kaget. Skak mat! “Baiklah, kau sepertinya tidak menerima tawaran-ku. Kutahu kau masih kesal denganku sekarang,” dia berjalan menjauhiku lalu mengeluarkan kunci mobil di saku belakang celananya. Pertuku berbunyi lagi, dan hujan sepertinya tidak mau berhenti. Jam sudah menunjukkan pukul Sembilan, dan..

“Annyeong,”

“Jamkanman!” dia berhenti dan tidak membalikkan badan lalu menatapku. “Aku menerima tawaranmu.” akhirnya aku menyerah dan rela diantar pulang olehnya. Dia tersenyum evil kepadaku dan membuatku semakin kesal padanya. Aish!

***

[Author’s POV]

“Aigo-ya, kau ternyata Lee Taemin sunbae?” Tanya minhwa entah sudah yang keberapa kalinya. Untuk yang pertama kalinya ditahun ini, ia mengunjungi rumah kecil taemin. Rumah yang pernah menyimpan kenangan tentangnya. “Kau… Kenapa baru sekarang kau pempercayaiku hah?” taemin menyilangkan tangannya didepan dada dengan mimic wajah kesal. “Kau tahu, berapa lama aku meyakinkanmu?”

“Dua minggu?”

“Sebulan, bodoh.”

“MWO? Su-sunbae memanggilku bodoh?” Tanya minhwa tolol dengan wajah polos. “Kau tahu, rumah ini akan dibongkar,” minhwa diam hampir satu menit, tidak membalas perkataan taemin. Ia mungkin kecewa taemin mengatainya bodoh dan dengan bodohnya dia menanyakan lagi apakah dia bodoh pada taemin. “Cho Minhwa,” taemin memanggil minhwa dengan keras, sehingga minhwa  kembali dari alam bawah sadarnya. “Mwo?” dengan polos minhwa bertanya pada taemin. “Aigo-ya, cho Minhwa, sudahlah, jangan dipikirkan.” Taemin mengacak rambut minhwa, dan minhwa dengan tololnya hanya diam, ia syok. Baru sekarang seseorang dengan terang-terangan mengatainya bodoh.

“Rumah ini akan dibongkar, minhwa-ya,” minhwa langsung menatap taemin dengan heran. “Waeyo sunbae?” minhwa menanyakannya dengan nada heran. “Bukankah rumah ini sangat berharga?” lanjutnya lagi. “Aku ingin memperbesar rumah ini. Kelak, aku akan tinggal disini bersama istriku dan anakku.” Jelas taemin lalu menyilangkan tangannya didepan dada. “Sunbae sudah memiliki pacar?” Tanya minhwa dengan antusias. “Namanya Siapa?” lanjut minhwa lagi. “siapa tahu aku mengenalnya,” tambahnya lagi lalu mendekatkan wajahnya dengan wajah taemin. Taemin juga semakin mendekatkan wajahnya. “Nanti kau akan tahu dengan sendirinya,”

***

                Lambat laun, taemin dan minhwa semakin dekat. Taemin selalu menjemput minhwa dari universitasnya dan mengantar minhwa pulang dari tempat kursusnya. Mereka selalu bersama. Jalan-jalan bersama seperti sepasang kekasih. Minhwa juga selalu memegang tangan taemin ketika mereka berjalan bersama, karena ia tahu taemin adalah namja yang tampan jadi ia memanfaatkannya dan berlagak bak seorang pacar. Padahal, mereka hubungan mereka hanyalah teman semata. Minhwa sempat berpikir, mustahil untuk dia mendapatkan taemin karena ia tahu, taemin mungkin tidak cocok dengannya yang notabene hanya yeoja biasa.

Taemin dan minhwa sekarang berada disebuah toko buku langganan minhwa. Minhwa sedang mencari buku yang berhubungan dengan arsitek, dan taeminlah yang menemaninya. Sementara minhwa sedang membaca sebuah novel, taemin membayar buku yang dibelinya.

“Untukmu,” taemin memberikan buku yang baru saja dibelinya kepada minhwa. “Ige mwo-ya?” minhwa mengambil buku itu dari dalam plastic. Buku itu adalah buku import tentang dunia arsitek dan lumayan tebal. “Mwo? Aigo~ Taemin-ah, aku baru saja ingin membeli buku ini. Aku tidak memberitahumu buku apa yang kumaksud. Tapi kenapa kau membelinya?” minhwa tersenyum melihat buku yang ada ditangannya itu. “Aku bisa membelinya dengan uangku. Ini cukup mahal taemin-ah. Kenapa kau membelinya untukku? Aku sudah mengambil uang tabunganku untuk membeli buku ini. ah, biar kuganti uangmu,”

“Aniyo, itu hadiahku untukmu,”

“Tapi ini mahal, taemin-ah,”

“Daripada uangku menumpuk didompetku, mending ku membaginya denganmu,”

“Kenapa uangmu tidak ditabung? Setahuku kau akan membangun rumah dan memintaku untuk mendesainnya”

“Uangku sudah menumpuk dibank. Sayang jika selalu disumbangkan untuk pajak,”

“Itu ‘kan hal yang bagus,”

“Tapi semakin banyak uang yang kita tabung, semakin besar juga pajak-nya. lebih baik uang-nya dipakai untuk membeli sesuatu,”

“Boros sekali kau ini,” minhwa mengembungkan pipinya kesal melihat taemin tersenyum tipis padanya. Mungkin karena dia adalah mantan artis jadi ia terbiasa hidup boros. Tiba-tiba taemin melingkarkan tangannya dipinggang minhwa. “Yak! Apa-apaan kau ini?” minhwa dengan cepat menyikut taemin, taemin sedikit mengerang karena minhwa melakukannya dengan cukup keras. “Kau juga selalu memanfaatkanku dengan menggandeng atau memegang tanganku sambil berjalan,” kata taemin sembari memegang pinggangnya yang sakit. “Kajja! Kita ke toko kue!” taemin langsung menarik minhwa keluar dari toko buku. Minhwa melihat disekitarnya. Ternyata, orang-orang memperhatikan mereka sedari tadi. Aigo~ Matilah aku, Kenapa aku baru sadar sekarang bahwa taemin adalah artis tenar?, Batin minhwa.

“Hwa-ya, hari ini aku akan meyatakan cinta kepada seseorang. Tapi, sebelumnya aku ingin minta tolong padamu,” taemin membuka pembicaraan dengan minhwa didalam mobilnya. Tidak lama kemudian, mereka sudah sampai ditoko kue yang dimaksud. “Minta tolong apa?” minhwa bertanya tepat taemin menghentikan mobilnya. “Aku ingin kau mengambil kue yang ku pesan ditoko kue itu,” taemin mengatakannya sambil menujuk toko kue. “Yak! Kenapa harus aku?”

“Tangan yeoja itu sangat hati-hati. Kalau aku yang mengambilnya, bisa-bisa kue itu rusak. Kau tahu bukan, kalau tangan namja itu kasar?!” kata taemin tanpa menatap minhwa. “Hitung-hitung, untuk tanda terima kasihmu padaku karena sudah mengantar jemputmu.” Lanjut taemin lalu menatap minhwa. Minhwa sempat berpikir sejenak sebelum menjawab. “Nde,” jawabnya lalu keluar dari mobil taemin.

Dia masuk kedalam toko itu. Dan… Itu adalah toko kue yang sangat terkenal di seoul. Karena kualitasnya dan rasanya yang high class, juga harganya yang terbilang mahal. “Dasar namja boros,” gumam minhwa sambil berjalan menuju seorang pelayan. “Annyeong,” sapa minhwa ramah kepada seorang pelayan yang bisa diperkirakan umurnya diatas empat puluh tahun. “Nona ingin mengambil pesanan tuan Lee Taemin? Tunggu sebentar,” minhwa langsung menganga tidak percaya mendengar apa yang dikatakan pelayan itu. Bigaimana bisa ibu itu tahu bahwa ia ingin mengambil pesanan taemin? “Ini dia,” ibu itu memberikan kue yang sudah dikemas didalam kotak. “Kau sangat beruntung, nona.” Minhwa menatap pelayan itu dengan tatapan heran, tapi pelayan itu hanya membalasnya dengan senyumnya. Dengan tanda Tanya besar yang ada dikepalanya, ia keluar dari toko sembari memperhatikan kotak yang berisi kue yang sedang dipegangnya.

Ia masuk kedalam mobil dengan heran. “Taemin-ah, kenapa pelayan itu tahu kalau aku ingin mengambil pesananmu?” Tanya langsung minhwa dengan mimic muka heran yang sangat kentara. “Aku tak tahu,” jawab taemin lalu mengangkat bahunya. “Kau ikut denganku pergi ke rumahku. Ada banyak hal yang kau harus lakukan untuk membantuku,” lanjut taemin lagi lalu menstart mobilnya. “Aigo! Masih ada banyak hal yang harus kubantu? Aish!” gerutu minhwa sambil menggelengkan kelapanya. “Tenang saja, ini tidak seburuk yang kau bayangkan,”

***

                “Minhwa-ya, baju apa yang bagus untuk dipakai malam ini?” Tanya taemin pada minhwa. “Mwo? Bukannya kau dulu seorang artis? Kau tahu fashion ‘kan? Kenapa harus Tanya kepada orang awam sepertiku?” Tanya minhwa tidak percaya. Jujur, kelakuan taemin padanya hari ini sedikit aneh. “Kau adalah seorang yeoja. Sedangkanku adalah namja. Agar aku terlihat tampan dimata yeoja, aku harus meninta pendapatmu ‘kan? Apa itu salah?” taemin hanya berbalik Tanya pada minhwa. “Oh, apakah.. hari ini kau akan bertemu dengan yeojachingumu? Dan.. kue itu akan diberikan padanya?” Tanya minhwa antusias. Taemin tersenyum sebelum menjawab. “Akhirnya kau bisa menebaknya,” jawab taemin. “Baiklah..” minhwa memperhatikan satu per satu baju taemin yang ada dilemari. “Mungkin kaus hijau ‘V’ neck dan celana jeans hitam cocok denganmu. Terlihat santai,”

“Gomapta,” Taemin langsung mengambil baju dan celana yang dimaksud. Minhwa langsung keluar dari kamar taemin. Tak lama kemudian taemin keluar dengan baju santai yang dipilih minhwa dan memegang jas berwarna hitam disalah satu tangannya. “Diluar dingin, jadi aku membawa jas ini,”

“Pakai saja, apa salahnya?” Tanya minhwa heran dengan taemin. Dia hanya mencoba berpikir positif lalu mengikuti taemin keluar rumah menuju taman yang berada disamping rumah. Ia duduk tepat didepan taemin lalu menempatkan kue yang sedari tadi dibawanya diatas meja bulat kecil yang berada didepannya. Meja itu berada diantara kursi taemin dan minhwa. “Apakah ini cocok?” Tanya taemin ketika ia baru saja selesai memakai jas hitamnya. Minhwa diam dan sedikit menganga seperti orang bodoh. “Mwo? Ani?”

“A-aniyo! K-kau terlihat tampan taemin-ah,” minhwa menjawabnya dengan sedikit kaku, karena taemin memakai baju dengan warna kesukaannya, sehingga taemin terlihat seperti namja idamannya. Entah kenapa ia mengingat sehun saat ini. Andai saja sehun memakai baju seperti taemin, batinnya. “Silahkan buka kotak kuenya,” pinta taemin dan membuatnya sadar. Sadar dari lamuan singkatnya. “Mwo? Naega? Bukannya yeojachin-“

“Aku hanya memintamu untuk membukannya,” akhirnya minhwa membuka kotak yang berisi kue itu. “Wow! Brownies keju! Mmm…” komentar minhwa melihat kue yang dilapisi krim susu. “Er, syukurlah, ini bukan milikku.” Tambahnya lagi lalu taemin menyerngit heran. “Waeyo? Kau tidak suka?” Tanya taemin memastikan. “Hehehe… aku tidak suka krim. Kandungan lemaknya tinggi. Aku bisa gendut,” jawab minhwa lalu menyengir lalu taemin tersenyum tipis. “Kau bisa menyingkirkannya. Ada coklat batang didalam krim,”

“Jadi, kue ini untukku?”

“Sebenarnya ia,”

“Bukannya kue ini untuk –”

“Sudahlah, singkirkan saja dulu krim-nya,”

“Gomawo, Taemin-ah.” Minhwa dengan cepat menyingkirkan krim yang berwarna putih itu. Sementara ia menyisihkannya memakai pisau, tiba-tiba ia menemukan coklat batang bertuliskan ‘I’. dengan cepat ia membongkat semua krim dan tinggal coklat batang yang memenuhi seluruh permukaan kue. Coklat itu bertuliskan,

‘I Love You, Cho Minhwa. Would You be my Girlfriend?’

Ia syok dan menatap taemin dengan tatapan tidak percaya yang sangat kentara. Berbanding terbalik dengan taemin yang terlihat sangat serius dengan apa yang dikatakannya.

|To be Continue|

Kurang panjang lagi???????????????………..

Oke, silahkan komen kalo masih kurang -,- jangan lupa komen juga kalo posternya bagus apa gak. Silahkan di like juga ^^

Sebelumnya, saya sudah share ff ini ke blog pribadiku :) jadi, yang ingin cepat update ff ini silahkan sering mampir di blog saya ya ^^

13 thoughts on “Somebody to Love [8#: A 'Good' Bye]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s