[CHAPTERED] Will You Be Mine? #1

wybm33

Tittle : Will You Be Mine

Author : Chondahwoon / Keira Kireina

Length : Chaptered

Shoot : 1 of ?

Rate : T

Cast : Park Hye Rin (OC), Cho Kyu Hyun, Kim Jong Woon, Park Hyura, and so on.

Genre : Romance, angst (?)

Ps : Ini FF pernah di buat pas jaman jadul, pas akunya masih SMA :D mau nyoba bikin ulang dan merapikan sedikit (?) saja ;) Sorry, kayaknya part ini NO FEEL -_- ha ha ha~ maafkan derita yang telah kubuat teman untuk membaca cerita tak seberapa ini~ /mati/

 

Pria jangkung itu mencoba bangkit dari kursi rodanya, mencengkram pegangan yang ada di sisi kanan dan kirinya lalu mengangkat bokongnya dengan susah payah, mencoba menumpukan semua bobot tubuhnya pada sepasang kaki miliknya. Kaki yang tampak kokoh namun tak bisa berfungsi sebagaimana mestinya. Lumpuh.

 

“Cho Kyu Hyun, kau pasti bisa! Jika kau berpikir bisa, maka kau akan bisa!” Pria itu memotivasi dirinya sendiri, mencoba mengembalikan semangatnya yang sempat pudar, menguatkan sebuah tekad yang tertanam bertahun lamanya di hati, yaitu… terlepas dari kelumpuhan yang sudah menjeratnya selama lima tahun belakang ini.

 

Kyu Hyun menapakan kaki kanannya pada lantai kemudian memantapkan posisi kakinya di sana. Dengan sekuat tenaganya, Kyu Hyun beringsut bangkit lebih tinggi, mencoba menjejakkan satu kakinya yang lain untuk ikut berpijak pada lantai. Senyuman tipis terukir di bibir Kyu Hyun tatkala bagian depan kakinya menyentuh kayu usang tersebut.

 

“Ayo… Cho Kyu Hyun, kau pasti bisa berdiri tegak di sana, ayo…” lagi, Kyuhyun bergumam tanpa sedikitpun mengindahkan peluh yang mulai menetes dari keningnya. Akhirnya, dengan lutut yang gemetar, sepasang kaki itu pun berdiri tegak. Kyuhyun mengukir senyum di bibirnya menyaksikan pemandangan luar biasa hasil jerih payahnya selama dua jam bergelut dengan dirinya sendiri. Namun begitu, Kyuhyun tak langsung puas, ia malah kembali mengayunkan satu kakinya ke depan, memaksakan kekuatan kakinya yang tak seberapa untuk berjalan.

 

BRUUUKKK!!!

 

“Arrgghhh!!!” Jeritan itu menggema di setiap sudut ruang. Jeritan menahan rasa nyeri yang tak tertahankan dari kaki yang lemah, jeritan sarat emosi yang begitu menggebu. Kyu Hyun mengepalkan tanganya lalu meninju kuat lantai kayu usang yang menjadi alas untuk kediamannya. Geram, itu yang Kyu Hyun rasakan.

 

Ya!!! Cho Kyu Hyun pabo! Apa yang kau lakukan pada dirimu!?” pekik seorang gadis yang tiba-tiba muncul dari balik pintu kamar Kyu Hyun. Gadis manis itu berjalan cepat menghampiri Kyu Hyun lalu berlutut di sampingnya, meraih tangan Kyu Hyun yang terkepal dengan lembut dan memperhatikan tangan kokoh itu lekat-lekat. Buku-buku jari Kyu Hyun merah dan hampir berdarah, gadis itu pun mengalihkan pandangannya pada wajah Kyu Hyun yang merah padam lengkap dengan sorot penuh emosi. Gadis itu menyibak sedikit rambut yang menutupi wajah Kyu Hyun guna lebih leluasa menatapi wajah tegang itu.

 

“Kyu Hyun-ah, nan gwaenchana? Sudah kukatakan padamu bukan, jangan sakiti dirimu seperti ini… Percayalah, suatu hari nanti kau pasti—“

 

“Aku benci, Hye Rin-ah! Aku benci! Aku membenci diriku yang seperti ini! Aku benci pecundang seperti diriku, pecundang yang hanya bisa berjanji tanpa menepati, pecundang yang hanya bisa menonton penderitaan orang yang kusayangi dan bahkan yang lebih parah… aku menjadi beban hidupmu!!!” Kyu Hyun menyambar nada penuh kelembutan dari bibir gadis bernama Hye Rin itu dengan nada lantang.

 

Park Hye Rin –begitulah nama lengkap gadis itu—tersenyum simpul menanggapi amukan dari pria yang ada di sampingnya. Nada lantang yang terlontar dari bibir Kyu Hyun sudah menjadi makanannya sehari-hari. Jika Kyu Hyun bersikeras pada tekadnya agar sembuh seperti sedia kala, lalu mencoba melatih dirinya sendiri untuk berjalan seperti tadi, maka saat itu pulalah Hye Rin harus menyiapkan telinganya untuk mendengar amukan Kyu Hyun yang tiada henti memaki dirinya sendiri.

 

Hye Rin menjangkau pundak Kyu Hyun dan merangkulnya, menyalurkan kekuatan pada pria itu untuk kesekian kalinya.

 

“Jika kau membenci dirimu, maka aku akan lebih membenci dirimu yang tidak pernah bisa sedikit bersabar untuk mendapatkan apa yang kau impikan selama ini, kau tahu? Aku pun sakit melihat dirimu yang seperti ini. Menyalahkan dirimu, menyakiti dirimu dan jiwamu,” tutur Hye Rin.

 

Mianhae… Jeongmal mianhae… Hye Rin-ah, aku tidak tahu harus bagaimana lagi, aku muak… aku muak dengan semua ini, aku hanya ingin… melunaskan janjiku, tidak lebih,” balas Kyu Hyun dengan suara bergetar. Hye Rin yang mendengar itu tersenyum hambar.

 

“Kyu Hyun-ah, kau belum memiliki ijin dari Tuhan untuk menggerakkan kakimu, dan percayalah padaku jika Tuhan belum memberi ijin padamu sebesar apapun kau berusaha, kau tak akan bisa mendapatkan apa yang kau mau,”

 

“Seandainya bukan aku yang menyetir waktu itu…”

 

“Kyu Hyun-ah, aku mohon jangan menyalahkan dirimu lagi,”

 

Mendengar penegasan Hye Rin itu, Kyu Hyun semakin menenggelamkan kepalanya, menyembunyikan semburat merah yang mulai muncul di bola matanya.

 

“Baiklah, Oppa… sebaiknya kau kembali duduk di kursi roda dan menungguku kembali ke sini lagi, ayo bangun!” ajak Hye Rin sembari memapah Kyu Hyun untuk kembali ke kursi rodanya. Kyu Hyun menurut dan duduk di atas kursi rodanya dengan tenang beberapa saat kemudian Hye Rin pun berlalu dari hadapannya.

 

 

*

 

 

Kegelapan merayap ke angkasa menjadi pertanda bahwa senja hadir untuk membawa malam menyelimuti semesta, menutup kepenatan hari ini bagi jiwa-jiwa yang lelah. Tapi lain halnya dengan Hye Rin, disaat semua orang mulai rehat sejenak dari aktifitas-aktifitasnya, gadis itu justru masih asyik berkutat dengan beberapa loyang kue yang bertumpuk di washtafel, mencucinya hingga bersih dan mengkilap lalu beralih pada cupcake-cupcake manis yang berjajar rapi di atas meja yang tak jauh dari jangkauannya. Ia menghiasi kue-kue itu dengan sisa-sisa whipcream warna-warni dan taburan chocolate chips bekas pesta tahun baru kemarin hingga tampak lebih lezat dan menarik tentunya. Tak lupa, Hye Rin juga menyiapkan dua cangkir coklat hangat sebagai pelengkap.

 

Hye Rin membawa hidangan itu dengan nampah menuju kamar Kyu Hyun, bermaksud menikmatinya berdua bersama pria itu. Hye Rin memutar knop pintu kamar Kyu Hyun pelan-pelan, sebisa mungkin ia tak membuat bunyi sedikit pun agar Kyu Hyun tak tahu bahwa ia masuk ke kamarnya tanpa mengetuk pintu. Hye Rin melongokkan kepalanya ke dalam, dan senyuman pun melengkung di bibirnya saat matanya melihat Kyu Hyun tengah duduk membalakanginya sambil menatap langit bertabur bintang yang terhampar di balik jendela kamarnya.

 

Hye Rin berjalan mengendap hingga tak ada sedikit pun suara yang tercipta dari tiap geraknya. Sukses, Kyu Hyun sama sekali tak menyadari keberadaan Hye Rin di kamarnya. Kini posisi Hye Rin semakin dekat dengan Kyu Hyun, membuat gadis itu semakin mudah untuk mengagetkan pria yang tengah termenung itu.

 

“Tadaaa… maaf terlambat mengantar pesananmu Kyu Hyun-ssi, cupcake manis dan hot chocolate untuk Anda!” Seru Hye Rin sembari menyodorkan nampah yang dibawanya, gadis itu tersenyum manis pada Kyu Hyun seolah apa yang dilakukannya bukan masalah untuk Kyu Hyun.

 

“Aku tidak memesan apapun, apalagi mempersilahkan kau masuk ke kamarku,” tanggap Kyu Hyun dingin, wajah pria itu masih muram.

 

“Oh, ayolah Oppa bisakah kita bersenang-senang sebentar saja? Kau tidak bosan apa menekuk wajahmu seperti itu?” bujuk Hye Rin seraya menatap wajah Kyu Hyun penuh harap. Kyu Hyun diam dan mendesah, ia mulai tak betah ditatapi seperti itu oleh Hye Rin.

 

“Ck! Baiklah… Baiklah… Bisakah kau menerima pernyataanku, kalau aku ingin sendiri tanpa siapapun dan tanpa apapun,” mendengar itu, Hye Rin langsung mengerucutkan bibirnya lalu mencibir Kyu Hyun yang baginya tampak sok dingin malam itu.

 

“Ya, ya, ya… setidaknya aku sudah berusaha untuk menghibur mu,  tapi tampaknya Tuan Muda ini tidak tertarik, jadi ya sudah lebih baik aku nikmati saja ini sendirian,” ucap Hye Rin sembari menjulurkan sedikit lidahnya, Kyu Hyun menggelengkan kepalanya pelan, selalu saja seperti ini. Kyu Hyun selalu tak bisa mengelak dari bujukan seorang Park Hye Rin, Kyu Hyun lemah saat Hye Rin merayunya, mengejeknya dan membujuknya dengan lontaran kata-kata lembut serta kue-kue manis dan coklat panas yang dibuatnya. Gadis itu seperti pemompa semangatnya, pemberi asupan suplemen untuk kehidupannya yang menyedihkan, pemberi warna ditiap hari-hari yang dilaluinya.

 

Kyu Hyun mendorong sendiri kursi rodanya untuk mengejar Hye Rin yang telah berlalu dari sisinya. Kemudian setelah dekat, ia menjangkau sebuah cupcake yang ada di atas nampah. Hye Rin melirik tajam pada Kyu Hyun yang kini mulai sibuk melahap cupcake buatannya. Sejatinya, Hye Rin sangat senang Kyu Hyun sudi memakan cupcake-nya, tapi tetap saja, ia harus mengomeli dulu pria itu karna sudah menolak kue andalannya mentah-mentah tadi.

 

Ya! Apa yang kaulakukan!?” seru Hye Rin.

“Memakan kue mu, kenapa?” sahut Kyu Hyun tanpa dosa.

 

“Errr… menyebalkan! Katamu kau tidak memesan ini? Katamu kau tidak menginginkan apapun dari ku? Hah!?”

 

“Tapi aku ‘kan tidak bilang kalau aku tidak mau memakannya,”

 

“Ck! Cho Kyu Hyun… kau menyebalkan!”

 

“Hahaha, Cho Kyu Hyun? Berapa umurmu gadis bodoh? Panggil aku Oppa!”

 

“Sungguh menjengkelkan!”

 

“Hahaha, sudahlah lebih baik kita duduk di teras ruang tengah dan… bersenang-senang!”

 

 

*

-Flashback—

Seoul 15 years ago…

 

Anak lelaki itu menyeka darah yang mulai mengering di sudut bibir seorang gadis kecil yang usianya lebih muda darinya itu. Si gadis yang menerima perlakuan seperti itu hanya bisa meringis menahan perih. Perkelahian yang terjadi saat jam sekolah tadi membuat keadaan gadis kecil itu berantakan, ini memang bukan kali pertamanya berkelahi dengan teman sekolahnya, tapi baru kali inilah ia ditolong oleh seorang yang entah sejak kapan memperhatikan kebiasaannya yang selalu menjadi bulan-bulanan anak-anak nakal yang sekelas dengannya.

 

“Hm, setidaknya ini lebih mendingan daripada yang tadi, jadi kita bisa pulang, kau mau pulang bersamaku?” tawar anak lelaki itu pada si gadis kecil yang masih duduk lemas di bangku taman. Gadis kecil itu terdiam, bingung hendak menjawab seperti apa, baru kali ini ia menemukan orang yang begitu baik pada dirinya.

 

“Hey, mengapa kau diam? Jangan pandangi aku seperti itu, aku bukan orang jahat kok!” ucap anak lelaki itu berusaha meyakinkan si gadis kecil.

 

“Ngg, tapi… mengapa kau begitu baik padaku? Kau bukan orang jahat ‘kan?” tanya si gadis kecil itu ragu membuat bocah lelaki yang tingginya lebih dua jengkal darinya itu terkikik geli.

 

“Apa anak lelaki yang tampan seperti ku tampak seperti orang jahat?” bocah lelaki itu balas bertanya, dan beberapa detik kemudian si gadis kecil menggeleng lemah menanggapi pertanyaannya. “Kalau begitu ayo kita pulang bersama!”

 

*

 

Sore kali ini tak seperti biasanya, angin bertiup lebih kencang hingga membuat dedaunan berterbangan. Dua bocah kecil itu berjalan berdampingan menembus dedaunan yang terbang, entah kenapa mata bocah lelaki tiba-tiba saja ingin melirik pada gadis kecil yang ada di sebelahnya, ia melihat gadis kecil itu tengah memeluk dirinya sendiri berusaha memberikan kehangatan untuk tubuhnya.

 

Bocah lelaki itu lalu melepaskan jaketnya, dan mengenakannya pada tubuh mungil yang ada di sampingnya. Gadis kecil itu menoleh dan menatapi bocah lelaki itu dengan bingung sementara yang ditatapi hanya tersenyum lebar.

 

“Kau…” lirih si gadis kecil tanpa melepaskan pandangan matanya pada anak lelaki itu.

 

“Hm? Bukankah seharusnya kau memanggilku Oppa?” tanggap anak lelaki itu.

 

Mwoya?” kening gadis kecil itu berkerut, kebingungannya pun semakin menjadi saat itu.

 

Bocah lelaki itu memperlebar senyumannya sambil menjulurkan tangan kanannya seolah meminta gadis kecil yang ada di sampingnya itu untuk menjabatnya.

 

“Kenalkan namaku Cho Kyu Hyun, murid kelas 4-1, senang bertemu denganmu,” gadis kecil itu membelalakkan matanya, ia tak menyangka bahwa yang menolongnya adalah sunbae-nya di sekolah. Dengan ragu, gadis kecil itu pun menjabat tangan bocah bernama Kyu Hyun itu.

 

“Namaku Park Hye Rin, murid kelas 1-2, terimakasih sudah menolongku… sunbae,” Kyu Hyun langsung terbahak begitu mendengar kalimat itu meluncur dari mulut Hye Rin, sebenarnya tidak ada masalah dengan kalimat gadis itu, tapi kata ‘sunbae’ yang menjadi penutup kalimat itu terdengar sangat aneh di telinganya.

 

“Kenapa tertawa? Apa ada yang salah?” tanya Hye Rin, polos.

 

Anniya, tidak ada yang salah, tapi sunbae itu benar-benar aneh di telingaku,” jawab Kyu Hyun sembari menahan gelak tawanya.

 

Hye Rin tak berkomentar dan melanjutkan kembali langkahnya yang sempat terhenti, walau Kyu Hyun tampak menyebalkan tetap saja anak lelaki itulah pahlawannya, pahlawan yang membebaskannya dari anak-anak nakal yang tiada henti mem-bully-nya.

 

“Eh, anak kecil, rumahmu di mana?” tanya Kyu Hyun, Hye Rin sontak menoleh ada sedikit rasa tidak terima di hatinya saat bocah yang usianya tak terlalu jauh darinya memanggilnya dengan sebutan ‘anak kecil’.

 

“Sebentar lagi sampai,” jawab Hye Rin singkat,

 

“Wah! Kita sama, rumahku juga tidak jauh lagi dari sini! Hm, kau lihat di sana ada rumah yang pagarnya warna hitam, itu rumahku! Kalau mau bermain atau belajar denganku, kau datang saja, ne?” jelas Kyu Hyun sembari menunjuk letak rumahnya yang memang tidak jauh lagi dari posisi mereka sekarang.

 

Hye Rin yang ikut memperhatikan arah telunjuk Kyu Hyun melongo. Perasaan kaget dan bingung berbaur di hati gadis kecil itu.

 

“Itu rumahmu? Yang pagarnya hitam itu rumahmu?” tanya Hye Rin tak percaya.

 

Ne, itu rumahku, waeyo? Kalau rumahmu yang mana?” balas Kyu Hyun.

 

“Rumahku… adalah rumah yang ada di samping kanan… rumahmu.”

 

 

-Flashback End—

 

Angin malam berhembus pelan, menerbangkan sedikit rambut Hye Rin dan Kyu Hyun yang sekarang sedang duduk di teras ruang tengah sambil menikmati coklat panas dan cupcake. Mereka banyak bercengkrama malam itu, mengenang masalalu yang begitu indah saat pertama kali mereka bertemu. Canda tawa mengiringi obrolan mereka.

 

Hingga akhirnya, suasana seketika menjadi sunyi. Entah kenapa tiba-tiba saja obrolan dan gelak tawa mereka terhenti. Mereka lebih senang memandangi taburan bintang yang berserak di langit malam ketimbang melanjutkan obrolan, menerawang langit indah tersebut seolah bisa melihat apa yang tersembunyi di baliknya.

 

“Betapa waktu begitu cepat berlalu, padahal… aku merasa bahwa baru kemarin sore menemukanmu berkelahi di sudut ruang kelas dengan keadaan berantakan, dengan wajah memar dan seragam nyaris robek,” Kyu Hyun membuka suara, memecah keheningan yang menyelimuti beberapa menit lamanya. Hye Rin bergeming, meski telinganya begitu jelas menangkap suara tegas itu melontarkan kembali memori lampau yang sungguh tak akan pernah ingin ia lupakan. Kyu Hyun menarik nafas dalam, dan semakin mendongakkan kepalanya untuk menatap lebih jelas langit yang bernaung di atasnya. “Aku juga tak menyangka kalau gadis ceroboh yang suka berkelahi itu kini telah tumbuh menjadi seorang gadis dewasa yang… cantik dan begitu dewasa, dia sangat berbeda sekarang begitu pula aku, aku bukanlah seorang Cho Kyu Hyun pria idaman gadis-gadis satu SMA, bukanlah seorang anak lelaki pintar yang menjadi idola satu sekolah, aku juga bukan lagi seorang pahlawan yang selalu tepat waktu untuk menolong si gadis lemah yang selalu menjadi bulan-bulanan teman-temannya, tapi… aku… aku…”

 

Oppa… sudahlah,” sergah Hye Rin yang memang sejak tadi menyimak semua kata demi kata yang diucapkan Kyu Hyun. Gadis itu seakan tahu kemana arah bicara Kyu Hyun dan ia pun cukup lelah mendengarnya, mendengar pria itu menyesali semuanya yang sudah terjadi.

 

Kyu Hyun mengerjapkan beberapa kali matanya, sekedar menyamarkan air mata yang sudah mulai menutupi lensa matanya. Seperti biasa, Kyu Hyun memang selalu ingin menangis jika membandingkan kondisi dirinya saat ia masih menyandang status sebagai seorang pelajar dan dirinya pada masa kini yang lumpuh, tak bisa berbuat banyak untuk Hye Rin.

 

“Jika kau menangis, berarti kau juga membuat mereka yang ada di sana menangis,” ujar Hye Rin tanpa melirik sedikit pun pada Kyu Hyun. “Kau lihat? Di sana, bintang yang paling terang, itu adalah mereka, mereka sedang melihat kita, bukankah kau yang pernah bilang padaku bahwa mereka telah menjadi bintang yang setiap malam akan muncul dan bersinar terang? Mereka melihat kita, jadi apakah kau masih ingin menangis? Sadarlah, dengan kau menangis itu sama saja memberi beban pada mereka yang sudah bahagia di sana,” imbuh Hye Rin.

 

“Cho Kyu Hyun, bertahanlah apapun keadaanmu, temani aku dan biarkan kali ini aku yang menjadi pahlawan untukmu yang selalu setia menjagamu…”

 

*

 

Hye Rin mengerjapkan beberapa kali matanya sambil menjulurkan tangannya ke samping untuk meraih weker yang tiada lelahnya berdering untuk membangunkannya. Namun dalam satu kali gerakan, tangan gadis itu malah membuat weker tersebut jatuh terhempas ke lantai. Hye Rin berdecak kesal, matanya masih mengantuk tapi tumben-tumbennya weker kesayangannya itu tega membangunkannya. Hye Rin bangkit dari tidurnya kemudian merenggangkan semua persendian yang kaku, semalaman ia memang mengobrol panjang dengan Kyu Hyun, memberi pria itu motivasi lebih agar tak melulu menyalahkan dirinya sendiri.

 

Hye Rin melirik pada wekernya yang tergeletak di lantai, ia penasaran sudah jam berapa sekarang. Hye Rin pun memungut weker itu dan menatapnya dengan seksama dengan matanya yang masih berkabut. Hingga beberapa saat kemudian, gadis itu meloncat dari atas tempat tidurnya dan melemparkan weker itu ke sembarang arah.

 

“Kyaaa!!! Aku terlambat!!!”

 

*

 

Kyu Hyun yang pagi itu sedang menyiapkan sarapan di dapur sontak menolehkan kepalanya saat ia mendengar suara gaduh dari arah kamar Hye Rin. Benar saja, gadis itu sekarang tengah tergopoh-gopoh berjalan menuju dapur dengan raut wajah yang masih kusut, tampak sekali bahwa ia masih sangat mengantuk.

 

“Kau mau kemana? Buru-buru sekali,” tanya Kyu Hyun sambil mengamati gerak-gerik Hye Rin yang memang tampak kikuk pagi itu.

 

“Aku lupa mengatakan padamu bahwa pagi ini aku bekerja di sebuah Café, sialnya semalaman aku begadang dan pagi ini aku jadi telat bangun,” jawab Hye Rin kemudian mengunyah sepotong roti yang baru saja dibuat Kyu Hyun. Kyu Hyun mendecakan lidahnya lalu menggeleng-gelengkan kepalanya tak habis pikir.

 

“Gadis ceroboh…”

 

“Ah, ya… tumben sekali kau membuat sarapan? Kurasa ada yang salah dengan hari ini,”

 

“Aku kelaparan, dan kau sudah menghabiskan roti isiku yang kubuat,” ujar Kyu Hyun sembari menatap roti isi yang terselip di tangan Hye Rin. Hye Rin pun menujukan pandangannya pada roti yang ada di tangannya, gadis itu menyengir kaku dan menyambar segelas susu segar yang ada di atas meja kemudian tersenyum kembali kepada Kyu Hyun.

 

“Hehehe, kau kan bisa membuatnya lagi Oppa, anggap saja ini hadiah untukku yang sudah mendapatkan pekerjaan baru, eotte?”

 

“Dasar gadis bodoh…”

 

“Aduh, tolong jangan menceramahi ku dulu! Aku sudah sangat terlambat! Jaga dirimu ya, Kyu Hyun-ah!”

 

Kyu Hyun mengatupkan mulutnya yang ingin kembali mengomeli Hye Rin ketika gadis itu berlari kencang menuju pintu utama. Hye Rin memang gadis yang menyebalkan terkadang, namun entah mengapa Kyu Hyun merasa tidak akan pernah sanggup jika gadis itu tidak ada di sampingnya walau hanya sehari. Gadis itu adalah semangat hidupnya yang tersisa, yang membuatnya bertahan hingga saat ini.

 

*

 

BRUK!

 

Pintu yang dibuka Hye Rin tanpa sengaja mengenai kening seorang anak lelaki yang tengah berdiri tepat di depannya. Anak lelaki berseragam SMA itu pun mengelus keningnya yang terasa sakit akibat benturan yang tercipta tadi antara keningnya dan pintu rumah Hye Rin.

 

Aigoo, Nunna… kau menyakiti ku!” Ringis anak lelaki itu.

 

“Aah, Taemin-ah, mianhae…ya ampun aku benar-benar tidak sengaja, aku buru-buru sekali dan kau…” Hye Rin memperhatikan penampilan anak lelaki bernama Taemin itu dengan seksama sebelum melanjutkan kalimatnya, “Kau mau membolos lagi, eoh!? Dasar bocah nakal!” lanjut Hye Rin galak.

 

“Ssstt! Nunna, kau berisik sekali!” desis Taemin seraya mencoba membungkam mulut Hye Rin dengan tanganya, raut anak lelaki itu kontan pucat pasi, ia melirik ke kiri dan ke kanan, memastikan bahwa tidak ada orang yang lewat dan mendengar percakapan mereka lalu melapor pada orang tuanya kalau ia suka bolos sekolah.

 

Buru-buru Hye Rin menepis tangan Taemin yang membungkam mulutnya, dan menatap wajah Taemin dengan sangar. “Ya! Apa yang kau lakukan padaku! Aku sedang buru-buru!” ucap Hye Rin setengah berteriak.

 

Nunna sendiri yang berisik, aku takut ketahuan orang tahu! Bisa mati aku kalau ada tetangga kita yang lain mendengar kalau aku bolos dan mereka melaporkannya pada orang tuaku!” balas Taemin tak kalah sengit.

 

Aigo… kau sama berisiknya dengan Kyu Hyun rupanya, aku sedang tidak punya banyak waktu untuk mendengar ceramahmu! Aku minta maaf atas kejadian tadi, dan kau obati keningmu itu, aku pergi dulu! Bye, Taeminie!”

Taemin tertegun beberapa saat menyaksikan Hye Rin yang berlalu dari hadapannya, Taemin masih tak habis pikir tentang tingkah Nunna-nya yang aneh pagi ini.

 

*

 

Hye Rin menyambar skuter matic-nya yang terparkir di garasi kecil di samping rumahnya, kemudian ia memacu kendaraan roda dua itu dengan kecepatan tinggi. Pagi ini, Hye Rin benar-benar tampak buruk dalam mengendarai skuternya, ia tak mengindahkan peraturan lalu lintas dan membuat beberapa pengendara mobil ataupun motor yang lain ikut kesal atas kelakuannya. Hingga pada akhirnya, traffic light merah itu menyala dan membuat Hye Rin sedikit gelagapan, masih dengan kecepatan yang sama tepat di samping kiri sedan berwarna hitam, Hye Rin spontan mengerem agar bagian depan skuternya tak menabrak sebuah mobil lain yang ada di depannya.

 

Ya!” Hye Rin mendengar suara berat seorang pria dari arah belakangnya. Hye Rin diam, tak menggubris suara itu.

 

Ya! Agasshi!” kali ini suaranya terdengar lebih jelas, Hye Rin masih diam dan menatap tidak sabar pada traffic light yang tak kunjung berubah warna menjadi hijau.

 

Agasshi berskuter putih!!!” Hye Rin melongo sebentar, ia cukup tersinggung dengan kata ‘skuter putih’ yang diucapkan lelaki yang ada di belakangnya itu. Siapa lagi kalau bukan dirinya yang memakai skuter putih di jalanan ini?

 

Hye Rin menoleh takut-takut pada sumber suara, kemudian mendapati seorang pria berkacamata yang tengah melongokan kepalanya dari kaca jendela mobilnya. Pria itu menunjuk-nunjuk bagian pintu mobilnya yang lecet. Raut Hye Rin kontan pucat pasi, gadis itu melirik spionnya yang juga lecet. Oh, Hye Rin rupanya telah membuat kesalahan fatal, pria yang ada di dalam sedan hitam itu sekarang sedang bersungut-sungut, antara kesal dan tidak sabar ingin mengeksekusi gadis yang baginya saat itu tampak tak acuh pada ulahnya. Hye Rin menarik nafas dan berdoa semoga traffic light hijau itu menyala dan mempersilahkannya pergi dari cengkraman pria bersedan hitam yang ada di belakangnya itu. Hye Rin sungguh tidak punya banyak waktu untuk berurusan dengan hal seperti itu, belum lagi ia tak memiliki sepeser uang pun untuk mengganti rugi atas kesalahannya. Kabur, adalah ide gila yang muncul di otaknya saat itu.

 

Agasshi! Kau mendengarkanku!? Kau harus ganti rugi!” Tegas pria itu sambil kembali melongokkan kepalanya dari jendela mobilnya.

 

Hye Rin memejamkan matanya rapat-rapat, berusaha meredam suara pria itu dari telinganya meski ia tahu bahwa hal itu akan percuma. Ketika Hye Rin membuka matanya, di depannya traffic light hijau sudah menyala. Ia menarik nafas kemudian menekan gas dan kembali memacu skuternya dengan kecepatan penuh.

 

AGASSHI!!!” Hye Rin masih mendengar lengkingan pria itu saat skuternya telah melaju jauh melewati traffic light. Meski begitu, Hye Rin tetap tak peduli, ia terus mengendarai skuternya dengan kecepatan yang semakin tinggi.

 

Di belakangnya, pria bersedan hitam itu pun tak mau mengalah begitu saja dari Hye Rin. Ia juga memacu mobilnya dengan kecepatan menggila untuk mengejar gadis asing yang sudah membuat cacat badan mobilnya. Pria itu berdecak kesal saat ponsel yang ada di dashboard mobilnya berdering, sejatinya ia sangat malas untuk mengangkat telepon yang entah dari siapa itu. Namun dalam beberapa saat kemudian, hatinya pun tergugah juga untuk sekedar melirik pada LCD ponselnya, pria itu mendengus dan mau tak mau ia meraih ponselnya dengan mata tetap lurus menatap jalanan yang ada di depannya.

 

Yeoboseyo? Apa? Hyura-ya, aku sedang sibuk sekarang nanti saja… Nde, lain kali saja, iya… aku mengerti tapi masalahnya sekarang—“

 

BRAAAAKKK!!!

 

“Oh, tidak Kim Jong Woon…”

 

*

 

Kim Jong Woon, pria itu kini pucat pasi begitu mendapati gadis asing yang baru saja menyerempet mobilnya tersungkur di atas aspal jalan raya. Ya, itu semua akibat keteledorannya yang kehilangan konsentrasi saat menyetir dan mengangkat telpon dalam waktu yang bersamaan. Jong Woon melepas safety belt-nya dengan kasar kemudian membuka pintu mobil dan keluar menghampiri gadis yang tengah meringis kesakitan, menahan sakit di kakinya.

 

Agasshi, gwaenchanayo? Maafkan keteledoranku, aku benar-benar minta maaf… A-aku akan bertanggung jawab, kau tenang saja…” ucap Jong Woon tulus seraya mencoba membantu membopong Hye Rin.

 

Hye Rin melirik tajam pada Jong Woon kemudian menepis tangan Jong Woon yang terjulur ke arah bahunya dengan kasar.

 

“Kau ini bodoh atau apa? Jelas-jelas aku hampir cacat karena mu, kau malah bertanya apakah aku baik-baik saja!? Dasar namja dungu!” Cerca Hye Rin pada Jong Woon, membuat pria itu mengernyitkan dahi.

 

“T-tapi kan aku ingin membantu, aku ingin membantumu!” Jong Woon memberi penegasan kembali.

 

Ya! Jangan dekati aku! Aku bisa menyelamatkan diriku sendiri namja pabo!” ujar Hye Rin.

 

Mata Jong Woon membola, tak disangkanya gadis yang ada di depannya ini begitu lancang mencacinya dengan kata dungu dan bodoh, satu kali Jong Woon masih bisa bersabar dan menahan diri, tapi sekarang? Jong Woon jadi emosi, niat baiknya pada gadis asing yang di tabraknya itu lenyap entah pergi kemana, yang ada hanyalah perasaan jengkel yang ada di hatinya sekarang.

 

“Oke! Baiklah! Buktikan sendiri apakah kau bisa mengendarai skuter bututmu itu dengan kaki seperti itu!” Geram Jong Woon.

 

Hye Rin mendesis, perasaan jengkel juga merayapi hatinya saat ini. Meski kakinya terasa perih dan sakit, Hye Rin tetap memaksakan dirinya untuk bangkit dan menuntun skuternya supaya berdiri kembali. Dengan tertatih, Hye Rin akhirnya kembali duduk di atas jok skuternya.

 

“Kau perlu bukti kan? Lihat! Sebentar lagi aku akan mengendarai skuter butut ini seperti seorang Valentino Rossi di jalan raya!” ucap Hye Rin penuh rasa percaya diri.

 

“Oh, bagus! Lakukanlah! Semakin cepat kau pergi dari hadapanku, semakin baik. Kita lihat saja gadis sok kuat ini, apakah dia akan sampai ditujuannya dengan selamat?” tanggap Jong Woon sinis.

 

Hye Rin men-starter kemudian men-gas skuternya, dan tak lama ia pun berlalu dari hadapan Jong Woon dengan meninggalkan senyum penuh kemenangan kepada pria itu.

 

Jong Woon melongo, dan pada sepersekian detik kemudian, ia baru menyadari bahwa gadis menyebalkan yang baru saja pergi adalah gadis yang membuat lecet badan mobilnya. Jong Woon kemudian berlari kencang mengejar skuter putih yang sudah melaju beberapa meter di depannya.

 

“GADIS IDIOT! KAU HARUS MEMPERTANGGUNG JAWABKAN ULAHMU!!!” Teriak Jong Woon penuh emosi, dadanya naik turun mengatur nafasnya yang berantakan karena berlari mengejar skuter Hye Rin yang sudah jauh di depannya. Ia tau, gadis itu pasti tidak akan berbalik arah dan mempertanggung jawabkan kesalahannya, tapi toh setidaknya Jong Woon sudah mewanti-wanti gadis itu.

 

*

 

Hye Rin berjalan tertatih setelah memarkir skuternya di depan sebuah café yang terletak dekat dengan Konkuk University, kaki gadis itu tampak sedikit pincang akibat luka yang ada kaki kirinya. Hye Rin mendongak untuk menatap papan yang terpampang di sudut kiri gedung yang di dominasi warna putih dan coklat itu, “Mouse and Rabbit” itulah nama café yang akan menjadi tempat kerjanya. Hye Rin menarik nafas panjang, mencoba tenang dan rileks untuk menghadapi semua kemungkinan terburuk yang akan menimpanya pagi ini. Ia yakin betul, seniornya yang tengah bekerja di dalam sangat marah atas keterlambatannya.

 

Pelan-pelan Hye Rin berjalan kemudian membuka pintu utama café dengan jantung berdegup, matanya menelisik pada seluruh penjuru café yang saat itu masih sepi. Baru saja ia menghembuskan nafas lega, seorang wanita berperawakan tinggi dan gemuk berdiri sambil berkacak pinggang di depannya. Mata wanita itu menatap tajam pada Hye Rin yang masih belum menyadari kehadirannya di sana.

 

“Park Hye Rin!” Panggil wanita itu dengan lantang. Hye Rin langsung menoleh pada sumber suara dan tergagap sendiri karenanya.

 

N-nde? Sunbaenim, jeongmal mianhae… aku terlambat, maafkan aku…” ucap Hye Rin tersendat sambil menundukkan sedikit tubuhnya.

 

“Kau pikir ini café milik keluargamu,eoh? Dasar gadis pemalas! Hari pertama saja kau sudah meninggalkan kesan buruk! Payah!” Tukas wanita itu tanpa membuang tatapan sengitnya.

 

Mianhae… tapi aku tadi baru saja kecelakaan sunbaenim, aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi…”

 

“Kau pikir aku tidak tahu kalau kau kecelakaan karena kau terlambat bangun?”

 

Hye Rin mengerjapkan beberapa kali matanya, kenapa sunbae yang ada di depannya ini tahu bahwa ia terlambat bangun?

 

“Ba-bagaimana bisa kau tahu?” tanya Hye Rin ragu.

 

“Matamu! Matamu sembab begitu, seperti orang yang belum mandi!” jawab wanita itu, menegaskan.

 

“Ah… tapi—“

 

“Tidak ada tapi-tapian! Sekarang ganti bajumu dan mulailah bekerja, untuk kali ini kau kumaafkan, jika kau mengulanginya lagi, aku tidak akan sungkan-sungkan melaporkanmu pada bos!” potong wanita itu cepat tanpa memberi jeda untuk Hye Rin membela diri. Hye Rin kembali menghela nafas lega, ternyata tidak semua perkiraan buruk yang ada di benaknya tidak semuanya menjadi kenyataan.

 

 

*

 

Semburat oranye itu mewarnai angkasa, lukisan Tuhan Yang Maha Esa yang terhampar saat petang tiba untuk dinikmati pesonanya bagi seluruh insan yang hidup di bumi. Begitu pula Hye Rin, petang ini ia sengaja mengendarai skuternya dengan kecepatan pelan agar tidak melewatkan keindahan alam yang begitu menakjubkan itu. Tak dihiraukannya rasa perih di kakinya akibat kecelakaan tadi pagi, ia berusaha menghilangkan sejenak penat di pikiran serta di tubuhnya dengan menikmati pemandangan sore ini bersama skuternya.

 

Setelah cukup puas menikmati pemandangan petang itu, akhirnya Hye Rin pun tiba di halaman rumahnya, ia memarkirkan skuternya ke dalam garasi lalu beralih masuk ke dalam rumahnya. Di ruang tengah, ia menemukan Kyu Hyun dan Taemin yang sedang asyik bercengkrama. Seolah menyadari kehadiran orang lain di tengah-tengah mereka, Kyu Hyun dan Taemin pun menoleh pada Hye Rin yang berjalan lunglai ke arah mereka.

 

“Hye Rin-ah? Kau sudah pulang? Bagaimana peker—“ sapaan Kyu Hyun itu terhenti saat matanya tak sengaja menangkap luka yang cukup besar yang ada di kaki Hye Rin. “Apa yang terjadi padamu?” tanya Kyu Hyun cemas.

 

Hye Rin tak langsung menjawab dan ikut bergabung duduk bersama Taemin dan Kyuhyun, ia menatap intens pada wajah Kyu Hyun dengan tatapan memelas.

 

“Kyu Hyun Oppa… aku tidak sengaja menyerempet mobil orang itu,” ucap Hye Rin dengan suara bergetar.

 

Mwoya!? Kau menyerempet mobil orang? Dan… coba jelaskan kenapa kau bisa terluka!” cecar Kyu Hyun yang diliputi rasa penasaran sekaligus khawatir.

 

“Aku menyerempet mobil orang kemudian aku lari dan tidak meminta maaf padanya, lalu orang itu mengejarku dari belakang dan tiba-tiba dia menabrak ku. Dia menawarkan bantuan, tapi karena aku buru-buru jadinya aku memarahinya dan… aku kabur lagi, tapi orang itu masih meminta pertanggung jawabanku,” Kyu Hyun dan Taemin yang juga menyimak penuturan Hye Rin itu langsung menggeleng-gelengkan kepalanya tak habis pikir.

 

“Apa Nunna tidak sempat bertanya pada orang itu di mana ia tinggal atau bekerja?” kali ini Taemin ikut membuka suara.

 

Hye Rin menggeleng lemah kemudian menghela nafas panjang untuk kesekian kalinya.

 

“Aku benar-benar takut, aku benar-benar takut kalau orang itu mengingat nomor plat skuterku dan melaporkanku ke polisi, aku takut…” lirih Hye Rin sembari menggelamkan wajahnya. Kyu Hyun memutar kursi rodanya, dan mempertipis jaraknya dan Hye Rin, kemudian mengelus pelan pundak gadis itu seolah memberi sedikit keberaniannya melalu sebuah sentuhan.

 

“Semuanya akan baik-baik saja, kau tenanglah…” kata Kyu Hyun.

 

“Bagaimana aku bisa tenang kalau selama ini kita kelaparan? Kadang hanya bisa sarapan saja tanpa makan siang atau malam, dan saat aku mendapatkan pekerjaan… haruskah aku membaginya untuk hal seperti itu? Aku juga harus membiayai terapimu Oppa…” ucap Hye Rin dengan suara parau, ia menjadi begitu emosional setelah menahan begitu banyak beban pikirannya hari ini. Tak ada toleransi, semuanya pecah begitu saja, Hye Rin sudah tak mampu menahan semuanya sendiri, bagaimana pun juga Hye Rin juga mahkluk sosial yang perlu membagi cerita atau beban hidupnya untuk sedikit meringankan bebannya.

 

Aigo…” lirih Kyu Hyun sambil menundukkan kepalanya, tiba-tiba perasaan bersalah itu kembali menyusup ke relung hatinya.

 

“Ehm, Nunna, Hyung… aku ada sedikit simpanan, bagaimana kalau simpananku kalian saja yang memakainya dulu?” tawar Taemin berusaha mencairkan suasana yang beku.

 

Kyu Hyun dan Hye Rin serentak menoleh dan menatap Taemin, “Tapi aku tidak yakin bisa mengembalikannya… Eottokhae?” tanya Hye Rin disambut senyuman tipis di bibir Taemin.

 

Nunna tidak usah khawatir, anggap saja itu bantuan dariku, aku tidak menuntut untuk dikembalikan, ambil dan pakailah jika kalian perlu,” jelas Taemin sembari memperlebar senyuman di bibirnya, senyuman penuh ketulusan.

 

Kyu Hyun dan Hye Rin saling bertatap, seakan meminta pendapat dan persetujuan satu sama lain. Hingga akhirnya Taemin berdehem pelan dan membuyarkan pikiran mereka berdua.

 

“Santai saja, bukankah kita keluarga?”

 

*

 

Langit kini mulai gelap, tidak ada lagi sunset indah terpapar di sana. Warna air di Sungai Han yang tadinya bewarna keemasan kini berubah menjadi hitam legam dan mengkilat dengan hiasan warna-warni lampu kota yang sudah menyala. Tampak Jong Woon duduk di atas kap depan mobilnya dengan seorang gadis manis dengan rambut coklat dan bergelombang di sampingnya. Mereka tercenung, sibuk dengan pikiran masing-masing sejak beberapa menit yang lalu.

 

“Bisakah kebohongan ini kita hentikan? Aku terlalu lelah berakting di depan mereka, aku ingin hidupku berjalan sesuai dengan kehendakku, bukan kehendak mereka…” lirih gadis itu tanpa melepaskan pandangannya pada permukaan air yang terpampang jelas di hadapannya.

 

“Itu bukan sikap yang tepat untuk saat seperti ini, kau terlalu memikirkan dirimu sendiri,” tanggap Jong Woon.

 

Gadis bernama Hyura itu menoleh dan menatap Jong Woon lekat seolah tidak terima atas pernyataan pria itu barusan.

 

“Kenapa kau selalu beranggapan bahwa aku yang egois? Apakah kau tidak pernah berpikir tentang masa depan kita ke depannya jika kita tetap bersama? Mungkin kau yang akan terluka, atau bahkan… semuanya juga terluka!” tukas Hyura, rautnya yang semula pucat kini sedikit memerah menandakan bahwa emosinya sudah membuncah.

 

Jong Woon mendengus kesal kemudian balas menatap Hyura dengan mata tajamnya. Sedetik kemudian, Jong Woon meraih kedua pundak ringkih itu kuat-kuat.

 

“Kau harus percaya padaku bahwa tidak akan ada yang terluka! Kau harus percaya, kau, aku dan kita semua tidak ada yang terluka! Aku jamin itu!” ucap Jong Woon penuh penekanan.

 

“Apa yang membuatmu begitu yakin, Oppa? Kita bahkan tidak saling mencintai, kenapa kau begitu gegabah dan keras kepala mempertahankan sesuatu yang bahkan tak kau inginkan?” Hyura menurunkan nada bicaranya, namun kalimat yang dilontarkannya sukses menusuk hati Jong Woon, merusak keyakinan pria itu sehingga hatinya pun membenarkan apa yang diucapkan Hyura barusan. Benar, tidak ada cinta sama sekali dalam pertunangan ini, yang ada hanyalah kasih sayang antara kakak kepada adik dan sebaliknya, atau rasa sayang terhadap sahabat karib yang selalu setia berada di sisi.

 

Cengkraman tangan Jong Woon di pundak Hyura melemah, tangan kekar itu pun kini jatuh lunglai ke pangkuan sang pemiliknya. Jong Woon diam, ia belum memiliki jawaban tepat untuk pertanyaan Hyura tadi, atau lebih tepatnya ia sedang berpikir jawaban atas pertanyaan Hyura itu.

 

“Karena aku ingin menjagamu dan karena aku juga menyayangi Ahboji beserta keluargamu, aku tidak ingin terjadi sesuatu terhadap kesehatan beliau, kau tahu kan bagaimana keadaan Ahboji sekarang?” akhirnya kalimat itu meluncur tanpa keraguan sedikit pun dari mulut Jong Woon, Hyura yang mendengarnya pun langsung mencelos, rasa sayang dan peduli Jong Woon kepada Ayahnya bahkan lebih besar daripada dirinya sendiri, kalimat Jong Woon itu juga membuatnya merasa menjadi anak paling egois dan durhaka di dunia ini.

 

“Yah… aku tahu itu.”

 

*

 

Sudah hampir seminggu Hye Rin bekerja di Mouse and Rabbit Café, gadis itu tampak bahagia menggeluti pekerjaan barunya. Ia menjadi pegawai yang rajin dan selalu on time.

 

“Hye Rin-ah… Hye Rin-ah!” Seorang pria bertubuh kurus dan jangkung berlari histeris ke arah Hye Rin yang tengah membersihkan meja pengunjung. Hye Rin langsung menoleh dan meninggalkan sejenak aktifitasnya.

 

Waeyo, Jihoo- ya?” tanya Hye Rin pada pria itu.

Eomma-ku sakit! Bisakah kau gantikan aku sebentar? Aku sudah bilang pada Soo Ae sunbae supaya kau yang menjaga kasir untuk sementara? Kau mau kan?” pinta pria itu dengan wajah memelas.

 

“Kasir? Ehm, baiklah, tidak masalah… sudah seharusnya kita saling membantu kan?” kata Hye Rin menyetujui permintaan pemuda bernama Jihoo itu.

 

“Aaah! Hye Rin-ah! Jeongmal gomawo! Kalau begitu aku pergi dulu, ya? Annyeong!”

 

“Iya, hati-hati di jalan! Semoga Ibumu cepat sembuh ya!”

 

 

*

 

Hye Rin mengusap keningnya yang sudah dipenuhi peluh, mondar mandir melayani pengunjung dan membersihkan banyak meja di café seluas Mouse and Rabbit cukup membuatnya lelah hari ini, apalagi tidak seperti biasanya café itu penuh akan pengunjung yang di dominasi oleh kaum hawa. Setelah rehat sejenak dari aktifitasnya, Hye Rin pun kembali bekerja. Tidak, kali ini ia tidak mengantarkan pesanan pengunjung atau membereskan meja seperti biasanya. Ia sekarang berada di balik meja kasir untuk melayani pembayaran. Untungnya, Hye Rin sering memperhatikan cara kerja Jihoo sebagai seorang kasir, jadinya ia tidak begitu kaku sekarang.

 

Saat Hye Rin sedang asyik melayani pengunjung yang hendak membayar, pundaknya tiba-tiba saja dipukul oleh seseorang dari arah belakang.

 

“Rapikah bajumu, tadi bos menelponku, katanya dia akan datang sebentar lagi tunjukkan padanya bahwa kau adalah pegawai baru yang teladan padanya!” bisik orang yang sama dengan orang yang memukul pundaknya tadi. Hye Rin tahu persis bahwa itu adalah seniornya yang sudah menjadi orang kepercayaan bos besar pemilik Mouse and Rabbit.

 

Hye Rin mengangguk mengerti, dan ketika kasir sepi akan pengunjung yang ingin melakukan pembayaran, Hye Rin pun merapikan dirinya sendiri, mengelap wajahnya dengan tissue agar tidak tampak begitu kusam kemudian mengikat rambutnya yang tergerai. Namun karena terburu-buru, kancing kemeja bagian pergelangan tangannya tersangkut di rambut dan membuat Hye Rin harus memaksakan rambut panjangnya terlepas dari kancing tersebut. Sial, Hye Rin harus merutuk kesal saat kancing baju itu terjatuh ke lantai, mau tidak mau ia pun akhirnya berjongkok dan mencari keberadaan kancingnya yang jatuh.

 

Namun, ketika kancing itu ditemukan olehnya, di saat itu pula ia melihat sepasang sepatu pantofel mengkilat dari kolong meja kasirnya. Perasaan gugup menjalar di hati Hye Rin, saat dirinya meyakini bahwa pemilik sepatu itu adalah bos-nya yang datang berkunjung ke Mouse and Rabbit.

 

Hye Rin buru-buru menegakkan posisinya dan bersikap seramah mungkin kepada orang yang disangkanya sebagai bos-nya itu.

 

“Annyeonghaseyo… mau pesan apa… Tu-an???” ekspressi Hye Rin yang tadinya tampak ceria dan ramah kontan berubah menjadi pucat pasi saat melihat wajah orang yang ada di depannya itu.

 

“K-kau!?” Hye Rin tergagap dan kini telunjuknya mulai teracung ke depan menunjuk pria yang mempertontonkan ekspressi yang serupa. Mereka berdua sama-sama shock dan tak percaya dengan apa yang mereka lihat sekarang.

 

“K-kau… gadis idiot itu? Gadis berskuter butut yang sok hebat itu? Kau… kenapa…” pria itu ikut menunjuk-nunjuk Hye Rin lengkap dengan mata melotot tidak percaya.

 

“Kenapa? Kenapa kau di sini, pabo!!!” geram Hye Rin berusaha menekan nada bicaranya agar pandangan para pengunjung café tidak tertuju pada dirinya dan pria yang ada di depannya ini.

 

“Bukankah seharusnya aku yang bertanya kepadamu? Apa yang kau lakukan di café-ku, eoh!?” balas Jong Woon tak kalah sengit sembari memajukan sedikit tubuhnya ke depan.

 

Mwoya!? Apa katamu barusan? I-ini… ini café-mu?” Hye Rin semakin pusing karena pernyataan Jong Woon tadi.

 

“Iya, ini café milikku, aku adalah pemilik café ini, arraseo!?”

 

>>>TBC

 

PS : Ini adalah hasil revisi dari Will You Be Mine xD astaga makin aneh yaa?? Kayaknya bakalan ada yang berbeda dari WYBM yang ini sama yang dulu ==” ada ganti tokoh juga MUNGKIN :D ini belom di baca ulang jadinya ya masi berantakkan :p kemajuannya Cuma satu, dialognya agak banyakan :D ya ampun kasih komen yaaa… boleh juga bandingin sama yang dulu, yang mana yang lebih asik dan berasa feel-nya, udah BACAWAJIB KOMEN :p Ha Ha Ha Ha~

 

Ps lagi : Kemungkinan PART 2 bakal di lanjut ke blog pribadiku dan karyaku tergantung seberapa banyak apresiasi, waktu dan niatku menulis :)

maaf kalo banyak yang gaje di FF-ini :) #bow

16 thoughts on “[CHAPTERED] Will You Be Mine? #1

  1. Mengenang kembali will you be mine,, aq dulu suka bgt ma ff ini…
    Kali ini bikin yg lebih romantis Ÿªa㪠thor,, :) (ง’̀▿’́)ง

  2. ksihn skli kyuhyun hrs lumph

    nnti xlo.kyu dh smbhvdr lmpuh ny
    tlngvd bwt seromantz mungkn antra kyu n hye rin
    ok

    janji y d lnjutkn ff ny
    qu tnggu part slanjtny

    -cho utsu-
    ^^v

  3. Pingback: [CHAPTERED] Will You Be Mine #2 | FFindo

  4. Thor, knp ini d buat ulang lg? yg kmrin kn uda bgus. knp ga bwt sequel lg aja? tp ga apa2lah ngobatin kangen ma ney ff.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s