Cappuccino (Part 12-B)

4 Apr

cappuccino-by-zola-kharisaTitle: Cappuccino

Author: Zola Kharisa

Cast: Han Hye-Na (OC), Cho Kyuhyun, Other Cast

Genre: Romance, AU, Family

Rating: PG+15

Length: Chapter

Disclaimer: This story and OC is mine. But the other cast is belong to God.

Credit Poster: Thanks to MissFishyJazz

Previous: 

 [Part 1] [Part 2] [Part 3] [Part 4-A] [Part 4-B]

 [Part 5] [Part 6] [Part 7] [Part 8] [Part 9] [Part 10]

[Part 11] [Part 12-A]

.

Destiny is something we’ve invented because we can’t stand the fact that everything that happens is accidental – Sleepless in Seattle

~oOo~

Banyak hal tak terlukis semenjak gadis itu tidak mengucapkan sepatah kata berujung penolakan pada lamaranku. Kendati ia tak menyuarakannya sedikit pun, aku tahu ia bahagia. Setidaknya ia mau tersenyum dan itu sudah lebih dari cukup.

Aku masih ingat wajah kesal gadis itu begitu aku memotong ucapannya tatkala Lee Donghae, pria yang pernah disukainya, berniat pergi meninggalkan negara ini. Tentu saja aku senang mendengarnya. Maka dari itu kuputuskan untuk bersikap ‘agak’ kasar padanya hingga membuat Hye-Na memberengut kesal. Oh Tuhan, wajahnya sangat lucu, begitu menggemaskan.

Aku terkesiap begitu suara Sora menyeruak, ia mengibas-ngibaskan tangannya di depanku dengan wajah heran. “Kau sedang apa? Tidak biasanya kau melamun.”

Sekilas pandanganku beralih pada papan pengumuman dengan jadwal penerbangan tertera di sana, “Satu jam lagi?” tanyaku, tak mengindahkan pertanyaan gadis itu sebelumnya.

Sora mengangguk, matanya beredar ke sekeliling tempat ini. “Kau tidak membawa Hye-Na bersamamu? Jahat sekali,”

“Ia sedang dalam perjalanan,” kulirik arloji di tangan kiriku, “Seharusnya dia sudah sampai di sini—“

“Nona Jung!”

Refleks kepalaku berputar ke arah kanan, tepat pada posisi seorang pria dengan rambut hitamnya melambai dari jauh. Langkah pria itu semakin mendekat hingga dahiku mengernyit dalam, sangat tidak asing terhadap wajah pria itu.

“Byun Baekhyun?” suaraku tanpa sadar terlontar meminta penjelasan, sementara Sora tampak tersenyum kikuk. Apa hubungan mereka berdua?

“Ponselmu tidak aktif, ya? Aku—ah, Kyuhyun-ssi?” Baekhyun langsung membungkuk seolah baru saja sadar bahwa aku berada di dekatnya, ia tersenyum tipis. “Kau masih ingat aku, ‘kan?”

Aku mengangguk sekilas, “Tidak mungkin aku lupa pada acaramu yang… teramat sukses itu,”

“Soal itu aku minta maaf,” ucapnya sambil lagi-lagi membungkukkan badan, tipikal pria yang sopan sekali. “Sepertinya keluargamu sudah menjelaskannya, bukan? Itu hanya bagian dari rencana yang ada dan keluargaku tanpa bisa menolak akhirnya menyutujuinya.”

“Setidaknya sejak saat itu kaumengerti dengan perasaanmu sendiri, ‘kan?” timpal Sora tenang sambil mengecek jam tangannya. “Di mana Hye-Na? Mengapa kalian tidak berangkat bersama saja, hah?”

“Ia harus menyiapkan barang-barang yang diperlukannya untuk menginap sementara di rumahku,” aku menghela napas tatkala alis kedua orang di depanku bertautan, “Eomma yang menyuruhnya dan aku tak bisa menolak.”

“Menguntungkanmu sekali sepertinya,” celetuknya lagi, kali ini aku benar-benar bingung dibuatnya. Baiklah, bukan berarti aku ingin mengobral diri, hanya saja bukankah gadis itu masih menyukaiku? Mengapa nada bicara dan raut wajahnya tenang sekali? Meski aku tidak terlalu yakin tapi rasanya sedikit aneh, justru membuatku yang terlihat canggung.

Aku terkesiap untuk kedua kalinya saat melihat Sora melambai, wajahnya begitu senang. Tanpa pikir panjang aku menolehkan kepala dan mendapati wajah Hye-Na, dengan senyuman lebarnya tengah berlari-lari kecil sembari menggenggam sebuah tas kertas.

Aku terpaku sejenak. Ingin merutuki gadis itu karena bisa-bisanya ia mengenakan dress berpadu blazer tipis berwarna krem yang justru tidak kontras sama sekali dengan kulit putihnya. Namun justru itu yang membuatku risih; dengan begitu ia terlihat lebih bersinar, bukan? Dan bagaimana bisa ia menguncir rambutnya tinggi-tinggi seperti itu? Ingin bermain-main denganku, rupanya.

Kurasakan Hye-Na melirikku sekilas sebelum akhirnya memeluk Sora. Tanpa memberi kesempatan sama sekali untukku agar mundur selangkah, alhasil membiarkan harum sampo yang digunakannya tercium jelas.

Sementara Baekhyun yang tiba-tiba sudah berada di sampingku tersenyum sebentar, “Kau beruntung sekali mendapatkan gadis secantik itu, Kyuhyun-ssi.”

Aku menoleh malas pada pria itu, meski sedikit tidak suka dengan nada suaranya yang terdengar menggoda. “Kau tertarik? Bukankah di matamu Jung Sora tampak lebih menarik?”

“Apa?” lekas-lekas ia menatapku, tubuhnya yang lebih pendek dariku beberapa senti membuatnya harus sedikit mendongak untuk mensejajarkan pandangannya.

“Aku melihatmu merangkul Sora kemarin, sesaat setelah aku keluar dari Kona Beans,” ujarku sambil memelankan suara, “Sebenarnya apa hubunganmu dengan Sora? Lalu tadi aku mendengar kau menyebut… Nona Jung?”

“Oh, itu…” Baekhyun tampak sedikit gelagapan, sementara kelopak matanya semakin sipit seolah ikut memperjelas pikirannya bagaimana harus menjawab. “A-aku memang tertarik dengan… Jung Sora. Tepatnya mungkin setelah acara itu.”

Aku mengangguk-anggukkan kepala, berniat membalas perkataannya saat ia sudah kembali berujar, “Soal Nona Jung, itu hanya sebagai formalitas, kami—“

“Kalian berpacaran?”

Baekhyun tersentak dan ia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala, “Haruskah aku menceritakannya padamu?”

“Ia sudah kuanggap sebagai adikku sendiri dan aku tidak mau ia memilih pria yang salah,” kataku santai, berhasil memancing emosinya. Kulihat rahangnya sedikit mengeras, mungkin merasa bahwa dirinya sudah cukup pantas bersanding dengan sepupuku itu.

Beberapa belas detik dalam keheningan dan Baekhyun masih memutar-mutar pandangannya, membuatku bosan. Baru saja aku ingin memprotesnya ketika suara itu, gadis itu, berhasil membuatku bungkam hanya dengan kalimat, “Kau itu sepertinya pemaksa sekali, Cho Kyuhyun? Biarkan dia merangkai jawaban yang tepat. Mungkin saja ia gugup atau semacamnya.”

Sekonyong-konyong Hye-Na sudah berdiri di depanku, sedikit berkacak pinggang. Lantas pikiranku sudah tak fokus lagi saat aromanya kian terhirup jelas, sangat menenangkan.

Ia membalikkan badan dan menghadap Sora, bahunya menegaskan bahwa ia perlu penjelasan—sama sepertiku. Mungkin kami sama-sama ingin mendengar apa yang sudah kami lewatkan beberapa waktu ini hingga tak menyangka putra bermarga Byun itu tertarik dengan Sora.

“Oh, itu… kami sebenarnya sudah pernah bertemu beberapa kali setelah acara itu,” ujar Sora memulai ceritanya, “Kami menjadi sedikit lebih akrab setelahnya dan… tidak ada lagi. Kami berteman dekat sekarang.”

“Hanya itu?” tanyaku sangsi, rasanya sangat aneh bila melihat reaksi Baekhyun yang agak salah tingkah. “Kupikir Baekhyun memintamu menjadi kekasihnya atau melamarmu, mungkin?”

“Tidak!” sergah Baekhyun cepat, “A-aku memang menyukai Sora dan sudah mengutarakannya tapi ia belum menjawabnya sama sekali.”

Astaga.

Dia pria pertama yang berani mengungkapkannya tanpa merasa malu dan begitu polos!

Aku melirik Hye-Na yang tak bergeming, wajahnya lucu sekali dengan matanya yang dibiarkan membulat lebar.

“Hyunie!” nyaris tawaku menyeruak keras saat melihat wajah Sora yang sudah memerah seperti apel. Dari rautnya saja aku sudah yakin bahwa ia sekarang panik seolah-olah rahasia terbesarnya baru saja terbongkar.

“Aku hanya menjawab apa adanya, Soie-a,” sahut Baekhyun santai, wajahnya lebih rileks meski aku harus tetap mati-matian menahan tawaku agar tak keluar. “Lalu apa jawabanmu? Aku tidak bisa menunggunya lebih lama jikalau penerbanganmu tinggal menghitung menit.”

Tanpa sadar aku menatap Sora yang tengah menggigit lapisan bawah bibirnya, matanya berpencar ke kanan dan kiri seolah berharap menemukan satu jawaban yang bisa menyelamatkannya di detik-detik sebelum ia berangkat. Aku menunggu dengan sabar. Ah, melankolis sekali. Maksudku, aku seperti sedang menonton sebuah drama dan segera ingin lekas-lekas menyelesaikan bagian akhirnya. Anggap saja sang tokoh utama sedang melakukan pergolakan batin demi menentukan pilihannya.

“Menurutmu apa jawaban Sora?” aku terhentak, tidak tahu sejak kapan Hye-Na sudah berdiri di sampingku sambil menatap lurus ke depan sementara ucapannya terlempar padaku, “Mereka cocok menurutku, bagaimana?”

“Cocok,” aku tidak tahu apa yang kulontarkan dan tak peduli gadis itu puas dengan jawaban singkatku atau tidak. Yang kulakukan saat ini hanyalah memandang gadis itu dari samping dan menikmati kebersamaan kami. Rasanya begitu menyenangkan dan aku cukup bahagia mengetahui gadis itu tampak baik-baik saja hari ini.

“Kau bisa menungguku?” saat tersadar, adegan di mana Sora menghampiri Baekhyun datang juga. Sejenak aku mengalihkan tatapanku pada kedua insan itu sembari menebak-nebak apa yang akan dikatakan Baekhyun setelahnya. Menunggu?

“Kau bisa menungguku? Aku butuh waktu,” Sora berpikir sebentar, tatapannya—meski aku tak paham benar—terlihat tulus dan aku sedikit terenyuh berharap bahwa ia tak menolak pernyataan Baekhyun. Kendati aku merasa itu cukup cepat, tapi di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin, bukan?

Aku bahkan bisa memutuskan menikahi Hye-Na secepat ini. Jadi tidak ada yang perlu dipermasalahkan, benar?

Untuk sesaat aku melihat kilatan bingung di mata Baekhyun, membuatku menambahkan kata-kata ‘benar-benar-polos’ pada daftar sikapnya yang tidak cepat tanggap. Namun begitu raut Baekhyun berubah, beberapa adegan seperti menggenggam tangan Sora dan mengangguk pelan membuatku yakin bahwa sepertinya ada kamera yang sedang mengambil gambar di sini. Aku seperti menonton drama secara langsung.

Agak menggelikan, tapi tidak terlalu risih.

Hye-Na memekik antusias saat melihat Baekhyun mengatakan bahwa ia akan menunggu Sora dan siap jika harus menyusul gadis itu ke Amerika. Kebetulan ada cabang baru yang cukup besar di sana sehingga mengharuskan Baekhyun sebagai penerus langsung untuk terjun sendiri ke lapangan. Ia berpikir jarak yang tidak terlalu jauh akan mengikis hambatan di antara mereka sehingga mungkin perasaan Sora padanya dapat tumbuh lambat-lambat.

Sementara tidak terasa suara panggilan penerbangan terdengar, menyerukan sebuah tempat yang sejak tadi didebatkan Hye-Na.

“Aku akan merindukanmu,” ujar Sora samar-samar sambil memeluk Hye-Na, “Aku mungkin akan datang ke pernikahanmu, Hye.”

Ah,” Hye-Na melepas pelukannya dan tersenyum, pipinya memunculkan semburat merah tipis. “Maaf untuk semuanya, ya. Aku juga akan merindukanmu.”

Setelah mengucapkan itu, Sora datang menghampiriku dan aku tak bisa melakukan apa pun selagi ia merangkulkan kedua tangannya di punggungku. “Maafkan aku, Kyu. Aku akan berusaha sekuat tenaga melupakan perasaanku padamu, doakan saja, ya?” ia tertawa pelan sebelum akhirnya melepas pelukannya dan berjalan mundur sedikit.

“Aku juga minta maaf karena tak bisa membalasnya,” sahutku sambil tersenyum. Sora mengangguk pelan sebelum akhirnya ia melangkah ke arah Baekhyun dan memeluk pria itu. Raut Baekhyun tampak terkejut sesaat kemudian akhirnya berusaha rileks dan membalas pelukan gadis itu.

“Sampai jumpa!” Sora melambaikan tangan sembari langkahnya menyeret kian menjauh. Kulirik Baekhyun yang kini sedikit berkaca-kaca—membuatku berpikir ulang bagaimana ia dapat terlihat cukup tegas saat di acara itu.

Hye-Na masih melambaikan tangannya dan membalas salam perpisahan Sora sampai gadis itu akhirnya menghilang di balik pintu penerbangan. Aku melirik gadis itu sebentar dan agar tertegun mendapati segurat sedih tergambar di sana.

“Kita pulang?” tanyaku sebelum memaksakan diri menggenggam tangan Hye-Na dan berlalu melewati Baekhyun, “Baekhyun-ssi, sepertinya kami harus pulang. Ada beberapa hal yang akan kami urus. Tidak apa-apa, bukan?”

Baekhyun tampak mengangguk dan seolah tak berniat mengucapkan sepatah kata lagi, maka aku pun melangkah keluar dari tempat ini.

Membiarkan Hye-Na meronta dan merengut karena jalanku yang terlalu panjang dan cepat, cukup tidak seimbang dengan langkah gadis itu, katanya. Dan aku tidak terlalu memedulikan rontaannya karena menurutku itu sangat menyenangkan.

“Kau bisa diam, Na-ya? Atau kauingin aku membopongmu di hadapan orang-orang ini?”

Aku nyaris tergelak melihat wajah Hye-Na yang menahan emosi karena berhasil menggodanya. Sementara ia akhirnya terdiam meski wajahnya tampak ingin melontarkan ratusan protes yang sepertinya sudah disimpannya di ubun-ubun.

Astaga, menggodanya ternyata menyenangkan sekali.

***

“Kau tidak membawa koper?”

Aku melirik arlojiku dan mendengus pelan begitu sadar ini tidak sesuai rencana.

“Aku bisa meminjam baju Ahra Eonni jika memang perlu,” sahutnya santai, mulai bermain dengan ponsel miliknya. “Lagi pula aku takkan sepenuhnya menghabiskan waktu untuk berganti baju, ‘kan? Jadi tidak masalah.”

Aku mencibir kecil dan kembali fokus pada jalanan di depanku. Sekali lagi perasaanku semakin tak menentu tatkala menatap gerak tubuh Hye-Na yang tenang sekali. Berbeda denganku sejak hari lalu, yang hanya bisa memikirkan bagaimana bisa aku sebodoh itu.

Mataku tak lantas memandang jemari Hye-Na kemudian merambat ke wajahnya. Aku masih ingin mendengarnya, sekali saja, dan berharap ini tidak akan gagal.

“Oh, Kyu,” ia tiba-tiba berujar sambil menoleh, “Kita jadi ke… panti asuhan? Kau mau melakukan apa di sana?”

Sekonyong-konyong sesuatu berdesir di dalam tubuhku, pun tanpa sadar mengeratkan genggamanku pada setir. Aku berusaha bersikap normal dan melirik ke arahnya sesaat sebelum membalas, “Ada yang ingin kusampaikan padamu, Na-ya. Namun tak bisa di sini.”

***

“Cho Kyuhyun bodoh! Mengapa kau tak bilang bahwa jalanannya berlumpur, hah?!”

Hye-Na masih saja berteriak sambil memperhatikan kakinya yang berbalut high heels setinggi delapan senti. Bibirnya terus menggumamkan kata ‘bodoh’ dan ‘sial’ sementara aku sudah menahan tawa yang ingin meledak keras ini. Sungguh, wajah merengutnya sangat lucu!

Ya! Mengapa kau senyum-senyum seperti itu, eoh? Ini semua gara-gara kau, Kyu! Kalau kau tidak memaksaku mengenakan ini, sepatu yang baru saja diberikan Eomma tempo lalu tidak akan kotor!”

“Kau bisa mencucinya, Na-ya,” aku mencoba merangkul bahunya yang langsung ditepisnya kasar.

“Tapi tetap saja, Kyu! Kalau aku jatuh bagaimana? Lagi pula semua orang pasti berpikiran sama bahwa menyebutmu bodoh sangat masuk akal! Aish, bagaimana bisa aku mengikuti kemauanmu tadi?” ia mendengus kesal, sementara kepalanya masih menunduk menilik ujung-ujung jemarinya yang kotor terkena cipratan lumpur.

“Sebentar lagi sampai, Na-ya, bersabarlah,” ujarku pelan, mencoba lembut kali ini. Alih-alih menjawab ia malah mengedarkan pandangannya, sementara tanpa kutanya pun ia pasti akan menyorak kagum setelah ini.

“Ini bagus sekali!” tunjuknya tiba-tiba pada sebuah padang bunga lavender di sebelah kirinya, “Mengapa aku baru sadar?”

“Tentu saja kau baru sadar, Sayang, kau bahkan terus mengumpat kesal pada lumpur-lumpur itu sejak tadi.”

“Sayang?” matanya menyipit ke arahku, “Jangan panggil aku seperti itu! Sangat menggelikan, kau tahu?”

“Tidak tahu,” aku menyeringai saat ia mendengus dan memilih tak menanggapiku, wajahnya berubah posisi ke kiri sembari memandang padang di sampingnya.

“Cantik sekali. Iya, ‘kan?”

“Cantik,” kataku tanpa sadar, berusaha menyembunyikan wajahku yang agak menghangat lantaran teringat bahwa aku mengatakan itu bukan untuk padang bunganya. Tapi…

“Apa itu panti asuhannya?”

Terkesiap, kepalaku berputar pelan dan menatap bangunan tua yang masih bagus di samping kananku. Bangunan berwarna putih itu masih berdiri tegak, dengan dua pilar di depannya sementara halamannya terlihat sangat terawat. Banyak pepohonan dan bunga-bunga yang tumbuh di sekitarnya. Pun, tak lupa air mancur di tengah halaman dengan bentuk patung seorang cupid.

“Kauingin masuk sekarang?”

“Tentu!” ia berseru terlewat senang, sementara aku berusaha meredam tawa yang ingin menyeruak keluar begitu ia berlari-lari kecil memasuki pagar.

Aku mensejajarkan langkahnya yang pendek. “Kau harus berkenalan dengan para penghuni di sini,”

Ah, apa mereka semua orang baik? Oh ya, kau bahkan belum mengatakan tujuan kita ke sini, Kyu!”

Aku baru saja hendak membuka mulut tatkala sebuah suara menyerukan namaku tinggi-tinggi, “CHO KYUHYUN?!”

Sontak langkah kami terhenti dan pandanganku terpusat pada seorang wanita paruh baya, yang kuyakini merupakan pemilik panti asuhan ini.

“Halo Bibi,” sapaku sambil menundukkan kepala, diikuti Hye-Na di sampingku.

Aigoo, apa ini kekasihmu, Kyuhyun? Cantik sekali,” ujar Bibi Jang setelah beberapa saat memperhatikan Hye-Na. Aku meraih bahu gadis itu dan merangkulnya erat, sementara kurasa ia ingin sekali protes karena kelakuanku yang tiba-tiba.

“Dia calon istriku, Bibi.”

Ya! Kaubilang apa?” Hye-Na menatapku sengit, wajahnya agak memerah.

Suara tawa Bibi Jang mengembalikan kami bahwa dunia bukan hanya milik berdua. Aku berdeham pelan kemudian mencondongkan sedikit tubuhku sembari berbisik, “Apa semuanya sudah siap, Bi?”

Bibi Jang mengangguk-angguk sambil tersenyum penuh arti, “Anak-anak juga sudah berada di dalam semua.”

“Baiklah,” aku tersenyum puas lalu mulai melangkah masuk.

Hye-Na mencoba melepas rangkulanku, “Tidak baik jika dilihat orang lain, Kyu,” ia menghela napas gusar, “Tadi apa yang kalian bicarakan? Tampaknya serius sekali.”

“Bukan masalah penting, Na-ya,” kataku sambil memandangnya sekilas, sementara tanganku yang tadi merangkulnya kini meraih jemari gadis itu dan menggenggamnya. “Kalau begini tidak apa-apa, ‘kan?”

Hye-Na tak bergeming, bibirnya tampak mengerucut sesaat. Aku kembali memfokuskan pandanganku ke depan dan tak berniat memandang Hye-Na dulu. Hanya sedikit takut kehilangan kendali jikalau menatapnya lebih lama.

“Waaa, Hyung sudah datang?”

Aku sedikit terkejut saat seorang bocah laki-laki menghampiriku sambil menunjukkan deretan gigi putihnya. Alisku saling bertaut sebelum akhirnya bersuara, “Hyun-Sik?”

Bocah itu mengangguk-angguk, setelah itu beberapa anak berumur tujuh tahun menghampiri kami dan tampak senang dengan kehadiranku dan Hye-Na.

“Nama Eonni siapa? Cantik sekali,” seorang anak perempuan berdiri tak jauh dari Hye-Na sembari menarik-narik ujung baju gadis itu, “Eonni mau main bersamaku? Mungkin memberi tips padaku bagaimana caranya menjadi cantik sepertimu?”

Aku terkekeh mendengarnya, “Dia calon istriku. Sangat cantik, bukan?”

Semua anak-anak di sekitar kami langsung berseru-seru mengiyakan. Aku memandang Hye-Na yang mungkin sedikit jengkel denganku, namun wajahnya langsung berubah cerah begitu beberapa anak menarik-narik tangannya untuk bermain bersama.

“Kyu, bagaimana?” Hye-Na tampak sedikit kewalahan.

“Nikmati saja harimu, Na-ya. Kau tidak lihat bagaimana wajah bahagia mereka?” aku balas berbisik, “Mereka sepertinya menyukaimu.”

Hye-Na mengedarkan pandangannya. Aku tahu ia belum pernah menghadapi situasi seperti ini jadi tak salah bila ia agak kewalahan. Aku mendorong bahunya dan bergumam, “Biarkan mereka bermain denganmu, anggap saja ini tantangan sebelum kau menjadi… Ibu.”

YA!” Hye-Na melirik tajam padaku dan perlahan menghentakkan kakinya bersama anak-anak itu. “Ayo yang mau main bersama Eonni angkat tangan! Kita tinggalkan saja Ahjussi itu…” ujar Hye-Na sambil menunjukku, serentak semua orang di dalam ruangan ini tertawa.

Aku mendengus, ingin sekali membalas ucapannya namun seketika urung lantaran melihat tawa gadis itu di antara anak-anak yang lain.

Hyung, ayo main bersama kami jangan melamun saja,”

Tersentak, aku mengamati bocah-bocah lelaki di sekitarku dan refleks menggaruk kepalaku yang tidak gatal. “Baiklah, ayo kita bermain!”

Dan aku benar-benar menemukan arti kebahagian pada pancaran mata anak-anak itu.

***

“Kyu, kita mau ke mana sebenarnya? Mengapa mataku harus ditutup seperti ini?”

“Lebih baik kau diam dan tenang, Na-ya. Aku tak mungkin mencelakakanmu, bukan?”

Hye-Na mencibir, “Kau itu ‘kan iblis Kyu… jadi aku harus berhati-hati denganmu.”

Aku menghela napas dan menyeringai, “Kaupilih mana, diam atau kucium di sini?”

Hye-Na menyikut pelan perutku, sementara bibirnya terkunci rapat. Kurasa gadis itu sudah benar-benar termakan godaanku.

Pandanganku beralih pada sebuah jendela di sampingku. Matahari nyaris terbenam, dan aku baru ingat bahwa kami sudah menghabiskan waktu berjam-jam di sini demi memberi kepuasan pada anak-anak panti.

Mulai dari bermain dengan mereka, memberi hadiah yang sebenarnya sudah kupersiapkan secara mendadak kemarin—sempat membuat Hye-Na tercengang sekaligus bingung, namun aku berhasil memberinya alasan—juga menyanyikan beberapa lagu untuk mereka semua. Agaknya berhasil membuat mereka bahagia, itu cukup.

Namun sebenarnya, maksudku mengajak Hye-Na datang ke tempat ini bukan semata-mata hanya ingin gadis itu mengenal tempat di mana dulu, aku sering menghabiskan waktu dengan Sora. Aku ingin membuat kenangan manis dengan gadis itu dan sedikit bingung awalnya harus kusampaikan bagaimana. Mengingat aku belum melakukan apa yang seharusnya kulakukan karena tindakan bodohku waktu itu.

“Sebentar,” bisikku sekilas sebelum mencoba mendorong pintu di ujung koridor ini. Wangi bunga lavender langsung menyeruak masuk ke dalam hidungku.

Hye-Na tampak menggeliat sejenak, “Kita di mana sebenarnya? Apa aku sudah boleh membuka penutup mata ini?”

“Biar aku yang bukakan,” ujarku setelah menuntun Hye-Na ke tengah ruangan ini. Tubuhku memutar dan kini berhadapan dengannya, “Sebelum aku membuka penutup matamu… boleh aku tahu apa yang ada di benakmu pertama kali saat aku melamarmu?”

Tubuh Hye-Na menegang dalam penglihatanku, namun tak berapa lama rileks kembali sembari membuka mulut dengan ragu, “Aku senang.”

Sudut-sudut bibirku perlahan terangkat. Aku menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya melepas kaitan kain hitam di mata gadis itu dan berbisik lirih, “Ini untukmu…”

Arus lingkar cokelat Hye-Na berpendar mengelilingi sekitar ruangan, bibirnya sedikit terbuka dan kelopak matanya melebar. “Kyu?”

“Aku tahu seharusnya tindakan bodohku waktu itu tak bisa ditebus dengan kata maaf sekalipun,” aku menumpukan kedua lututku di depannya, sembari tanganku bergerak meraih jemari Hye-Na. “Maaf, harusnya aku memasangkan ini padamu waktu itu…”

Hye-Na mendesah sesaat, sebelah tangannya menutup mulut melihatku menyematkan sebuah cincin perak di jari manisnya. “Aku harus mengulang kata-kata ini, Na-ya. Maukah kau menikah denganku? Selalu berada di sisiku selamanya?”

Aku kembali berdiri, meraih pinggang gadis itu dan berucap pelan, “Aku mencintaimu,”

Ada kilatan bening di matanya, namun seolah tertahan dan gadis itu tak ingin terlihat lemah di depanku. Aku tersenyum, mengecup singkat pelupuk matanya, “Aku ingin mendengarnya, Na-ya.”

“A-aku juga mencintaimu,” bisiknya lirih, ada seulas senyum terukir di sana.

Sekonyong-konyong perasaan lega menghinggapi tubuhku dan membuatnya teramat rileks. Tak ada lagi kata-kata seindah itu yang pernah kudengar, bahkan kalimat mutiara sekalipun takkan pernah bisa membuat perasaanku lebih dari kacau seperti ini. Kedua tanganku beralih memeluknya, amat erat.

Dan Hye-Na membalasnya.

Memoriku terbayang sekilas demi sekilas, pada hari di saat aku mengantarnya pulang kemarin. Tatapanku terpaku pada jemari di tangan kirinya, yang tak berhias apa pun padahal seharusnya cincin pertunangan yang sudah kusiapkan itu sudah bertengger manis di sana. Perasaanku mendadak kacau saat itu, menjadi sesosok pria bodoh karena berhasil melupakan kotak beludru yang tersimpan di kamarku sendiri dan lupa membawanya. Aku tahu, Hye-Na pasti kecewa kendati ia pun tertawa saat aku melakukan tindakan fatal itu. Ia masih mengulas senyum; namun wanita mana yang tidak kecewa ketika si pria melupakan begitu saja cincin pertunangan mereka?

Perlahan-lahan kulepas dekapanku dengan enggan, memandang wajah Hye-Na yang bersemburatkan warna merah muda. Aku menghirup napas sebisa apa yang dapat ditampung rongga paru-paruku, mencium aroma manis yang menyeruak dari tubuh gadis itu.

Aku menundukkan kepalaku, “Kau senang dengan kejutannya?”

Hye-Na memandang mataku yang terlampau dekat, hanya beberapa senti jarak yang terpisah di antara kami. Sementara mataku beralih ke bibirnya, mencoba menahannya, dan mengembuskan napas pelan. Momen itu tak boleh rusak begitu saja.

“Bagus sekali,” gumamnya senang, sambil mengalihkan pandangan pada dinding-dinding di sekeliling kami yang berhiaskan rangkaian bunga lavender. Aku mengulas senyum mengingat rangkaian-rangkaian itu bertuliskan ‘Han Hye-Na and Cho Kyuhyun’, lalu ada juga yang merangkai dengan kalimat, ‘Would You Be Mine? Yes!’. “Siapa yang membuatnya, Kyu?”

“Anak-anak di panti asuhan ini,” kataku pelan, mengeratkan rangkulanku di pinggangnya.

“Mereka hebat sekali,” gumamnya terkagum, “Ini pasti butuh persiapan yang cukup lama, ‘kan? Apa kau sudah mempersiapkan ini dari jauh-jauh hari?”

“Aku baru mengabari mereka kemarin, Na-ya, dan kebetulan aku cukup mengenal orang-orang di sini karena Appa merupakan salah satu penyumbang dana terbesar untuk panti asuhan ini,” aku mencoba menenangkan detak jantungku sendiri, “Mereka tampaknya sangat bersemangat, maka dari itu sepertinya melakukan permintaanku ini bukanlah perkara sulit.”

“Kau pasti menyuap mereka, bukan?”

“Bagaimana kautahu?” aku terkekeh saat ia mengerucutkan bibirnya, “Aku hanya akan menjanjikan anak-anak itu agar bisa datang ke pesta pernikahan kita, Na-ya. Cukup adil, bukan?”

Ya! Kau menyebalkan!” Hye-Na memukul lenganku dan bibirnya tak henti-hentinya menggerutu.

Aku melirik jam tanganku, kemudian dengan enggan beringsut melepas rangkulanku di pinggangnya. “Bagaimana kalau kita pulang sekarang? Butuh waktu lumayan lama untuk dapat sampai di rumah sebelum larut malam,”

Hye-Na mengangguk pelan, ia memperhatikan sekelilingnya saksama, “Sayang sekali jika ini harus dibuang, ‘kan? Bagaimana kalau kita foto terlebih dulu? Agar bisa memiliki kenangannya.”

Aku mengangguk setuju, meraih ponselku di dalam saku dan memotret diri kami berdua dengan latar rangkaian bunga lavender itu.

Senyum puas tersungging di bibirku, memperhatikan kami berdua yang tampak serasi di sana.

“Sekali lagi, ya?”

Dan aku hanya bisa mengiyakannya, sebelum satu ide jahil terlintas di kepalaku begitu saja. Lantas saat suara potret menggema, kuputar wajahku ke samping dan mencium pipinya.

Aish, apa yang kaulakukan, Cho Kyuhyun?!!”

See, bagaimana foto terakhir itu tampak sangat bagus dan memukau di antara yang lain.

***

Sudah tiga hari ini gadis itu tinggal di rumahku. Tidak terlalu banyak perubahan yang terjadi selain Ahra Noona yang sudah kembali ke negeri tempatnya menuntut ilmu, Appa yang sedang berurusan di Taiwan, dan Eomma yang setiap hari sibuk di butiknya. Jika itu terjadi di hari-hari biasa, pastilah sangat membosankan. Namun, aku tak perlu khawatir sekarang karena gadis itu ada di sini, di dalam jalur pandangku.

Aku beringsut ke arah Hye-Na yang tampak asyik membelakangiku di konter dapur. Sementara mataku menelusuri pakaiannya yang cukup membuat tubuh rampingnya tenggelam dalam balutan sweater kebesaran berwarna biru laut.

“Apa yang sedang kaulakukan, hmm?” aku meraih pinggangnya dan memeluknya senyaman mungkin, persetan dengan beberapa pelayan yang lewat sembari tersenyum-senyum maklum.

Hye-Na tak bergeming, asyik mengaduk-aduk sesuatu di dalam cangkir. Membuatku gemas dan beralih meraih jemarinya, yang terasa dingin.

Terkesiap, aku membalikkan tubuh Hye-Na dan mencoba menaruh telapak tanganku di dahinya. “K-kau kenapa, Na-ya? Dahimu panas,”

Hye-Na mencoba menyingkirkan tanganku di dahinya dan beralih memandangku. Astaga, matanya sayu sekali. “Aku tidak apa-apa, Kyu…”

“Tidak!” sergahku cepat, “Kita ke dokter. Sekarang.”

Batinku sudah berperang khawatir. Wajahnya tampak pucat dan aku baru menyadarinya. Sedari tadi, apa yang ia lakukan? Tidak. Bagaimana bisa ia sakit seperti ini? Bukankah tadi pagi ia terlihat baik-baik saja?

PRANGGG!

Tubuhku membeku. Butuh waktu tiga detik sebelum akhirnya aku membalikkan badan dan mendapati tubuh Hye-Na terbujur di samping meja dapur dengan pecahan cangkir di sampingnya.

Aku takut. Sangat takut.

“Hye-Na!!!”

Dan tanpa sadar setitik air jatuh di pelupuk mataku bersamaan dengan kedua lenganku yang sudah merengkuh tubuhnya dan bergegas membawa gadis itu keluar.

Kumohon bertahanlah, Na-ya.

***

To Be Continued.

Notes: Sebenarnya saya udah mau posting part ini hari minggu kemarin, cuma wordpress di nb error dan saya engga ngerti kenapa bisa gitu T^T. Ini pun harus usaha keras dengan bujuk ayah buat pinjam laptopnya dulu, dan… akhirnya kesampaian posting juga! ^^

Seperti yang kalian baca, ini bukan ending. Part 13 bakal jadi ending dari cerita ini *hiks* rasanya engga kerasa banget udah nyaris sembilan bulan ngerjain cerita yang berawal dari planning hanya sampai 6-7 part, malah ternyata belasan gini. Tapi bersyukur juga buat seluruh respon yang masuk, saya berterimakasih banget!

Part 13 bakal publish secepatnya, insyaAllah entah sebelum UN atau setelahnya. Tapi saya janji engga akan lama-lama. Doakan saya juga biar nilai UN saya memuaskan dan bisa masuk SMA yang diinginkan ya! Hihi *maunya*. Buat yang lagi masa-masa ujian juga semangat! Mari berjuang bersama!!

Oh ya, di part ini sedikit banget ya? Serius lho, sepertinya panjang cerita ini adalah yang paling sedikit dari seluruh part yang ada. Tapi semoga tetap berkenan ya; mungkin karena bagian-B jadi hanya lanjutan :3

Komentar dan sarannya diterima dengan senang hati! Saya hanya engga tau dapet ide darimana, tapi kalau ada kesempatan part 13-nya mungkin bakal saya proteksi. Itu juga masih nimbang-nimbang sih, tergantung respon readers di part ini. Kalau responnya sesuai harapan, sepertinya engga bakal saya protect. Mengingat notes yang saya utarakan di part sebelumnya; komentar itu sebenarnya penting banget. Pemicu buat nulis dan nulis! Hehe.

Oke deh sepertinya cukup segitu. Saya minta maaf kalau masih ada typo, karena buatnya ngebut selama UAS kemarin. Jangan lupa komentar, saran dan likes-nya ya! Terimakasih :D

PS: Vote please! http://fflovers.wordpress.com/2013/04/02/polling-sinopsis-termenarik/ (The Crescent Joker) Thankyou!

231 Responses to “Cappuccino (Part 12-B)”

  1. Nuri nda June 18, 2013 at 9:41 am #

    Kyu trnyata bsa rmantis jga,kn sora ma baekhyun,mnding hae ma hyo mi aja,kesian mreka gak pny psangan..

  2. yua January 8, 2014 at 11:00 pm #

    itu hyena kenapa?

  3. jung January 21, 2014 at 2:56 pm #

    good job… hyena knapa? kok tiba tiba pingsan…? gag sabar dh tunggu kelanjutannya…

  4. princessofevilmaknae February 28, 2014 at 3:40 pm #

    Akhirnya.. Eonni kembali kedunia per ff-an.. Udah lama banget nungguin kelanjutan ff ini yg tiba-tiba menggantung begitu saja..
    Hehehe

    Lanjut eon.. ^^ keep writing..

  5. shin myunghee July 31, 2014 at 8:44 pm #

    na-ya sakit apa ? moga gk parah deh
    proteck eonni plis jangan diproteck soalnya aku males klo dah proteck proteckan hehehe ^^
    next next
    oh ya part 13 B nya kapan dipublis eon?

  6. shin myunghee July 31, 2014 at 8:45 pm #

    na-ya sakit apa ? moga gk parah deh
    proteck. eonni plis jangan diproteck soalnya aku males klo dah proteck proteckan hehehe ^^
    next next
    oh ya part 13 B nya kapan dipublis eon?

Trackbacks/Pingbacks

  1. Cappuccino (Part 13-A) | FFindo - January 6, 2014

    […] [Part 11] [Part 12-A] [Part 12-B] […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 20,309 other followers

%d bloggers like this: