[Chapter 4] The Second of Telepathy

22 Jul

Untitled-1-Recovered

[4th] The Second of Telepathy

AUTHOR: Ifaloyshee // MAIN CAST :  Kim Sumin (OC), Oh Sehun,  Kim Jongin (Kai), Im JinAh (Nana), Choi Junhoong (Zelo), Kim Hyelim (Lime) // GENRE : Fantasy, Romance, Supranatural, Drama // DISC         : The casts are not belong to me. The story-line, plot, ideas are come from my mind. Dont copy  this story without my permission. And dont copy my idea, be creative pls. // RATING: PG. [ bakal sering naik seiring bertambahnya part] , Profanity, bloody and the other things.

Chapter 1 / Chapter 2 / Chapter 3

The Second of Telepathy; Chapter Four

Copyright ©2013 Ifaloyshee

All rights reserved

 hhhhhh

Because there must be reason behind transition..

Siang itu di kedai kecil yang terletak dipinggiran Seoul; tidak jauh dari Cheongnam High School, Zelo sedang mengarahkan sumpit kearah mulutnya kemudian mengunyah tteokboki yang baru ia pesan beberapa menit lalu. Wajahnya sedikit memerah karena gochujang yang begitu pedas, sengaja zelo memesan makan – makanan pedas karena cuaca sedang dingin.

Seperti hari – hari sebelumnya, dihadapannya duduk seorang pria yang masih terus – terusan menginterogasinya tanpa mengenal rasa puas. Pria itu, Oh Sehun, kini duduk sambil menyilangkan kakinya dengan sebatang rokok yang sedang ia hisap.ia tampak duduk dengan kurang nyaman karena kedai kecil ini tidak pernah ia pijaki sebelumnya, atau lebih tepatnya.. Sehun tidak pernah pergi ke kedai. Ia biasa makan di restoran mewah atau beberapa café berkelas yang ada di pusat kota. Dan ini adalah kali pertamanya—Zelo yang memaksanya kesini karena katanya tteokboki  disini adalah yang paling enak. Tetap saja, Sehun hanya memesan segelas air lemon. Tidak berminat untuk makan.

“kuberitahu padamu Sehun-ah, walaupun kau tidak terbiasa ditempat seperti ini, mulai sekarang kau harus terbiasa. Karena Sumin bukanlah tipikal gadis yang suka kemewahan, dia senang duduk disini walaupun hanya memperhatikan aku makan. Dia sendiri hanya meminum bubble tea-nya.”

Sehun hanya mengangguk saja. “Ya. Aku rasa begitu.”

“Jadi…” Sehun menopang dagu sambil menghisap rokoknya. “Bagaimana Kai dan Sumin bisa berpacaran? Dan, apa hubungannya dengan Nana?” tanyanya mengalihkan topik karena ia mulai sebal dengan Zelo yang terus mencibirnya sebagai A high maintenance guy.

Butuh beberapa detik bagi Zelo untuk mengingat – ingat semuanya, tentang masa lalu Sumin. Ia berdeham sebentar kemudian mulai bercerita.

***

1st Flashback

At School. 11AM.

Im Jinah duduk dibangkunya dengan hati berbunga – bunga; ia akhirnya berhasil mendapatkan foto dari tangannya sendiri. Hasil foto yang sangat bagus yang ia ambil secara diam – diam saat sepulang sekolah kemarin. Selembar foto itu kini ada ditangannya dan sedang ia pandangi dengan senyuman yang nyaris tidak pernah sirna sejak tadi pagi.

Adalah Kim Jongin—pria dalam foto tersebut—yang menjadi alasan Nana terus mengukir senyum diwajahnya dan rela berpanas – panasan di tepi lapangan basket demi mendapatkan foto yang sempurna dari kapten basket Cheongnam High School itu. Tentunya dengan trik yang cerdik sehingga tidak ada satupun siswa yang menyadari aksinya. Ia hebat, bukankah begitu?

Nana bukanlah tipikal gadis yang akan mencintai dari jauh saja, yang hanya bisa mengagumi tanpa menghampiri. Apa yang ia mau, harus ia dapatkan. Kau hanya belum tau seberapa obsesi-nya gadis ini.

Segala cara sedang berusaha ia tempuh demi mendapatkan Kai. Dan hal itu bukanlah sesuatu yang gampang saja, tidak segampang membalikkan telapak tangan. Nana butuh mengeluarkan banyak won untuk membayar teman – teman Kai agar mereka mau membujuk Kai untuk berkencan dengan Nana. Dan dengan sekali jentikan, Kai sudah hampir setengah jalan berada ditelapak tangan Nana. Pria itu sudah berkencan dengan nana sekitar dua minggu yang lalu—walaupun Kai hanya makan, pulang, dan lupa dengan kencan itu setelahnya.

“Ya! Im Jinah! Foto siapa itu?”

Reflek, nana langsung menyembunyikan fotonya dibawah meja begitu Kang Jiyoung dan Bae Suzy—teman sekelasnya—secara tiba – tiba duduk dihadapannya dengan cengiran lebar. Nana tersenyum canggung dan hanya mampu menggelengkan kepalanya pelan. “bukan siapa – siapa.”

Jiyoung dan Suzy saling bertatapan selama beberapa detik lalu keduanya memandang Nana curiga. “Marhaebwa, nana-ya!” rengek Jiyoung, si gadis ketua cheerleader. Nana hanya mengangkat sebelah alisnya kemudian menggeleng lagi.

Suzy menengadahkan tangannya dengan tatapan yang seolah – olah mengatakan ‘ayo-berikan-foto-itu-padaku’ membuat Nana menghela nafasnya sebal. “Aish! Kalian ini. Nanti juga kalian akan tau.” Tanpa menunggu jawaban dari Suzy dan Jiyoung, Nana bangkit dari bangkunya dan berjalan cepat keluar dari kelas kemudian berlari setelahnya, sesekali menengok kebelakang untuk mengantisipasi kalau kedua gadis tukang gossip itu tidak mengikutinya.

Bruk!

“Ouch!”

Buku – buku serta sebuah handphone berwarna silver jatuh berserakan tepat dihadapan Nana, milik seorang gadis yang kini sedang terdiam sejenak kemudian berjongkok untuk membereskan barang – barangnya. Dan saat itu juga Nana baru sadar kalau ia baru saja menubruk seseorang tanpa sengaja. Nana ikut berjongkok dan membantu gadis itu yang kini mendongak perlahan kearahnya.

“Sumin?” ucap Nana secara reflek. Tangannya masih sibuk menumpuk buku Sumin menjadi satu.

“Mianhae..” Nana bangkit berdiri dengan setumpuk buku ditangannya kemudian memberikan tumpukan buku itu pada Sumin. “aku tidak sengaja.”

Sumin hanya tersenyum dengan kedua lesung pipi-nya yang tampak kentara sekali kemudian ia menepuk bahu Nana pelan. “Its okay. Kau terlihat terburu – buru?”

“y-ya, ada sesuatu yang harus aku lakukan…”

“Begitu? Padahal aku baru saja akan mengajakmu makan bersama di kantin.”

“Ah, nanti aku akan menyusulmu. Tunggu saja disana.”

“Okay.” Respon Sumin singkat kemudian tersenyum.

“aku duluan.” Nana membalas senyumannya kemudian berlalu begitu saja membuat Sumin hanya bisa menatapnya heran. Dan ketika Sumin akan melangkah, ia tidak sengaja melihat selembar foto tergeletak dibawahnya. Persis disebelah kaki kanannya.

Sumin mengambil foto tersebut kemudian mengerut bingung.

“Kai?”

***

2nd Flashback

At Canteen. 11AM.

Lime langsung melambaikan tangannya begitu melihat Sumin yang berdiri diujung kantin; sedang mencari tempat kosong namun disana terlalu padat penuh oleh siswa. Setelah mendapat isyarat dari Lime, gadis itu langsung berjalan menghampiri meja Lime dan duduk tepat dihadapannya, bersebelahan dengan Zelo yang sedang sibuk dengan PSP.

“Sumin! Selamat atas keberhasilanmu, kau naik ke peringkat keempat. Daebak!” seorang pria jangkung tiba –tiba berseru kearahnya, pria itu berada dimeja sebelah Sumin. Chunji, adalah ketua osis dari Cheongnam High School dengan tingkat kewibawaan dan keramahan pria itu yang begitu besar. Bahkan ia sudah mengucapkan hal yang sama kepada ke sembilan murid lainnya yang terdaftar sebagai murid terpintar disekolah. Betapa melelahkan, bukan?

Thanks..” Sumin tersenyum kearahnya begitu pula Chunji, si pria ketua Osis itu beranjak dari tempatnya bersamaan dengan kelima temannya setelah menghabiskan satu porsi spaghetti.

“jadi ini alasanmu duduk disini, Kim Hyelim..” Ledek Sumin lengkap dengan kerlingan nakalnya, Lime hanya bisa tersenyum malu – malu.

“ia tidak berkedip sama sekali dari tadi, padahal Chunji hanya menyapanya sekali.” Celetuk Zelo yang masih sibuk dengan PSP-nya. Sumin tertawa geli dan Lime ingin sekali menjejalkan gelas es krimnya ke mulut Zelo sekarang juga.

“Aish! Tidak seperti itu!”

“memang seperti itu. Jangan sok mengelak.”

“Yah! Kalian, jangan mulai lagi. Berdamailah barang satu hari saja, apa sulitnya sih?”

Zelo dan Lime membuang muka tidak peduli. Selalu seperti ini, tapi beberapa menit kemudian mereka akan lupa dan tertawa lagi seolah tidak terjadi apapun. Sumin hanya bisa menghela nafasnya kemudian meminum cola milik Zelo tanpa izin pada sang pemilik.

“nah! Foto siapa ini?” Lime mengambil foto ditangan Sumin dengan cepat, memperhatikan pria dalam foto tersebut dengan dahi berkerut. Pria yang sedang melakukan lay up ditengah lapangan basket dengan wajah serius yang terpampang disana. Pria yang pernah ia tampar karena suatu kesalah pahaman. “Kai?!” seru Lime setengah berbisik agar tidak orang lain yang mendengarnya; namun cukup jelas ditelinga Sumin dan Zelo.

“untuk apa kau…. Memiliki foto ini?” Lime memicingkan matanya curiga yang langsung membuat Sumin mengibaskan tangan kearahnya. “ini tidak seperti yang kau pikirkan.”

“benar?”

Sumin mengangguk mantap.

“tapi, ini milikmu?”

“Aniyo. Itu milik nana, tadi ia menjatuhkannya secara tidak sengaja.”

“Nana?”

“Yeah, I think she admires Kai.”

Lime mengangguk mengerti, ekspresinya tampak melunak sekarang. “Ya, mungkin saja.”

“entahlah..”

“Tapi.. bisa saja kan kalau foto ini dia miliki untuk keperluan lainnya? Maksudku, Nana kan tim kreatif dari majalah sekolah. Mungkin dia habis meliput tim basket, berhubung Kai adalah kapten tim. Menurutmu bagaimana Zelo?”

Agree with you.” Zelo mengambil kembali cola-nya dan meneguknya sampai habis. PSP-nya sudah tergeletak manis diatas meja dengan baterai kosong.

Ketiganya, tidak ada yang tau kalau Nana memang menyuKai Kai. Termasuk Sumin yang saat ini sedang terdiam dengan pikirannya sendiri, memikirkan tentang kejadian malam itu dimana ia menginap diapartemen Kai selama dua malam dan Kai sama sekali tidak keberatan. Tepatnya baru tadi malam, adalah malam yang kedua. Bahkan pagi ini ia berangkat bersama Kai walaupun Sumin sudah meminta untuk naik taksi saja namun Kai menentangnya. Sumin sendiri tidak tau kenapa Kai begitu baik dimatanya. Atau memang Kai terbiasa melakukan hal yang sama pada semua gadis?

Mungkin saja, Kim Jongin terkenal dengan image bad boy-nya. Sumin yakin kalau ia bukan satu – satunya wanita yang diperlakukan sebaik itu.

“Sumin-ah..”

“Ne?”

“Aku merasa ada yang aneh dengan parfummu.”

“Aneh?”

Lime mencondongkan tubuhnya kearah Sumin dan mengamati seragam gadis itu kemudian mengendusnya perlahan membuat Sumin menatapnya dengan dahi berkerut, begitupun dengan Zelo. Lime kembali duduk lalu menopang dagu. “Sejak kapan kau paKai parfum pria?”

Mendengar itu, Sumin terkesiap. Ia menyentuh lehernya dan  mengalihkan pandangannya; mencoba mencari alasan yang masuk akal. “ini… aku paKai parfum milik Myungsoo oppa.” Kemudian Sumin tersenyum canggung, namun Lime tau kalau sahabatnya ini sedang berbohong. Lime bukanlah teman Sumin kemarin sore, ia sudah mengenalnya bertahun – tahun.

Dengan gerakan tidak terduga, Lime menyibakkan blazer Sumin dan langsung terkesiap kaget. “Kim Jongin?!” jeritnya tertahan begitu mendapati name tag diseragam putih Sumin. Sumin hanya bisa menggigit bibir bawahnya kemudian mendorong Lime pelan. “Hah. Aku benci kau yang terlalu mengerti aku, Lime.” Ia menghela nafas.

“dia meminjamkan seragamnya padamu?” tanya Zelo to-the-point.

Sumin mengangguk, matanya menatap ngeri kearah Lime yang memicing kearahnya penuh tuntutan. Gadis berambut biru itu mendekatkan wajahnya kemudian berbisik ngeri, “jelaskan padaku…”

“sungguh tidak ada apapun diantara kami, maksudku.. dia hanya meminjamkan seragamnya padaku. Sudah itu saja.”

“Alasannya?”

“Alasannya….” Sumin menggantungkan kalimatnya, terlihat ragu—lime menatapnya lebih tajam lagi sedangkan Zelo hanya memandang Sumin inosen.

“Alasannya?”

“Ah…uhm….”

“Alasannya?!!” Lime menggebrak meja.

“Ne! Ne! aku menginap di apartemennya. Singkat cerita.”

Seperti dugaan Sumin, saat ini Zelo dan Lime jaw-dropped dengan mata tidak berkedip sama sekali. Terlalu shock? Pastinya. Mereka berdua tidak pernah mengira kalau Sumin bisa menginap diapartemen pria yang notabene-nya adalah totally stranger bagi Sumin sebelumnya dan… sungguh, sekarang pikiran mereka sudah melancong kemana –mana.

“Apa yang kau lakukan disana?” Zelo menarik bahu Sumin untuk sedikit menghadap kearahnya.

“aku—“

Kali ini mata Zelo berkilat marah, “Beritahu aku apa yang dia lakukan padamu!”

“Hei, ini tidak seburuk yang kau kira. Dia menolongku. Kai.. menolongku. Kai yang memberiku tumpangan selama aku melarikan diri dari rumah dua hari ini, dan dia sama sekali tidak melakukan sesuatu yang buruk padaku.” Sumin mengangguk, ia memandang tulus kedua mata Zelo untuk meyakinkan pria itu.

Zelo hanya mengehela nafasnya, “Aku tidak habis pikir.”

“Aku juga.” Sahut Lime.

“Kalian percaya padaku, kan?”

Keduanya memicingkan mata kearah Sumin kemudian menyaut bersamaan. “Mungkin.” Jawab Zelo dan Lime berbarengan.

“Ayolah…”

“Okay.” Akhirnya Zelo memutuskan untuk percaya sedangkan Lime masih melipat kedua tangannya didepan perutnya dan menatap Sumin tajam.

“berhenti menatapku seolah kau mau mengulitiku hidup – hidup, Kim Hyelim.” Pinta Sumin, Lime menghela nafasnya. “Tapi… kenapa harus Kim Jongin!” seru Lime, masih menyimpan perasaan sebal pada Kai karena kejadian obat – obatan terlarang sewaktu itu.

“Psh! Yang memiliki nama mendengar suaramu!” bisik Zelo secara tiba – tiba sambil mengedikkan kepalanya kearah samping, Lime dan Sumin reflek langsung menolehkan wajahnya.

Tepat ketika Sumin menoleh, ia mendapati Kai duduk di kursi yang berjarak tidak jauh darinya dan sedang menatap kearahnya. Pria itu menyeringai dan Sumin langsung mengalihkan pandangannya, tampak gugup.

“mereka baru saja datang.” Papar Lime. Sumin mengangguk menyetujui, “aku tau.”

“dan dia sedang menatap kearah meja kita.”

“Aku tau….” Sumin menunduk sambil memainkan jarinya diatas layar iPhone, mencoba acuh.

“dan dia sedang menatapmu.”

“Aku…aku tidak berpikir begitu.”

“Pffft..” Zelo menahan tawanya sedangkan Lime sudah tertawa lepas. Ada apa dengan mereka?

“Apakah menurut kalian ini lucu?”

Keduanya malah tertawa lagi, membuat Sumin sebal dan nyaris menjitak kepala Zelo yang secara telak sedang menertawainya. “Kau blushing.”

“A-apa?” Sumin langsung memegang kedua pipinya entah dengan maksud apa, ia sama sekali tidak bisa merasakan semburat merah yang menyelimuti wajahnya saat ini. Tapi sahabatnya, melihat itu dengan jelas. Sialan!

“gugup, eh?” Lime menopang dagu dan menaikkan sebelah alisnya meledek Sumin.

Nope!”

“Jinjja?”

“Aish!” Sumin menenggelamkan wajahnya dibalik kedua lengannya diatas meja, luar biasa malu. Sedangkan Lime dan Zelo terlihat sangat menikmati suasana ini, mereka masih saja tertawa dan berkali – kali melakukan high-five. Kapan lagi bisa melihat Sumin seperti ini?

“Ngomong – ngomong, Nana katanya mau menyusul ke kantin. Dimana dia?”

***

3rd Flashback

“Dude, are you okay?

Chen memandang teman yang sedang duduk dihadapannya ini dengan gelisah. Sedari tadi pria dihadapannya ini terus – terusan menyunggingkan senyum dan sesekali menyeringai, tampak tidak masuk akal. Kedua matanya melirik kearah meja lain yang Chen sendiri tidak tau ada apa gerangan disana sampai membuat Kim Jongin nyaris tampak tidak waras seperti ini?

Chen menyenggol lengan Daehyun—pria yang duduk disebelahnya, hendak memasukkan segulung mie kedalam mulutnya namun jatuh karena ulah Chen—dan pria itu mendelik. Chen mengedikkan kepalanya kearah Kai kemudian Daehyun menoleh.

“dia tampak…”

Daehyun memandang Kai datar, lalu mengalihkan kembali tatapannya kearah semangkuk jajangmyun didepannya. “Biarkan saja, mungkin sedang bahagia..”

“mungkin. Tapi, bahagia karena apa?”

“Kenapa kau tidak tanya sendiri?” daehyun melahap jajangmyunnya kemudian mengelap sudut bibirnya dengan tisu—sebuah gesture yang tampak sedikit seksi—membuat gadis – gadis yang berada disekitarnya menjerit ala fangirl. Tidak heran, Kingkas gang memang selalu menjadi pusat perhatian. Terlebih Kai dan Daehyun yang memiliki wajah tertampan diantara yang lainnya—Chen, Minho, Ljoe dan Baekhyun.

“aku sudah bertanya tapi ia tidak menjawab. Ia seperti… berada didunianya sendiri.”

Kai menyeringai lagi entah dengan maksud apa, pandangannya juga menatap-entah-apa.

“Aku rasa dia butuh obat.” Chen menghela nafas.

“Kkamjong sakit jiwa, mungkin.” Tambah Ljoe dan tertawa sendiri dengan ucapannya.

“Menyedihkan.” Sahut Minho.

Daehyun tidak peduli, ia masih memakan jajangmyun dengan damai seolah tidak ada manusia lain didekatnya.

Baekhyun mengikuti arah pandang Kai dengan penasaran, mencoba mencari objek yang sedang diperhatikan oleh si idola sekolah itu. “Ah!” serunya setelah beberapa detik berlalu, semua pria yang ada dimeja itu menoleh antusias kearah Baekhyun—kecuali daehyun tentunya.

“Kim Sumin, huh?”

Kai tidak menjawab, ia hanya menyeringai penuh arti kemudian bangkit dari duduknya.

***

4th Flashback

Bicara soal nana, ternyata gadis itu tidak jadi menyusul Sumin dikantin dengan alasan ia harus mencari barang berharganya yang hilang—atau terselip entah dimana, dan Sumin benar –benar clueless untuk mengetahui bahwa yang dimaksud ‘barang berharga’ bagi Nana adalah selembar foto Kai yang dipegangnya saat ini. Ia memang tidak tau, lagipula… Sumin berpikir bagaimana bisa hanya selembar foto disebut barang berharga?

Tapi toh Sumin tidak bertanya lebih lanjut lagi soal barang berharga apa yang sedang dicari oleh nana. Ia kini sibuk mengetuk pelan sebuah mesin otomatis minuman kaleng yang berada tidak jauh didekat kantin—Zelo dan Lime sudah kembali ke kelas lebih dahulu.

Ia menggigit bibir bawahnya geram karena sudah lima buah koin ia masukkan kedalam mesin ini tapi dimana minuman kalengnya?

Sumin menghela nafas sambil melipat kedua tangannya didepan dada, matanya memandang sebal mesin otomatis dihadapannya ini.

“Minggir..”

Belum sedikitpun kekesalannya memudar, seseorang mendorongnya kesamping membuat Sumin hampir terjatuh tapi ia segera memposisikan tubuhnya kembali. Dan betapa terkejutnya ia ketika Kai berdiri didepannya. Dengan satu tarikan nafas Kai menendang mesin otomatis tersebut dengan lututnya dan..gotcha!

Terdengar bunyi yang berasal dari mesin tersebut dan sebuah minuman kaleng jatuh kedalam kotak pengambilan yang ada dibagian bawah. Sumin menatap takjub; Bagaimana bisa? Pikirnya. Kai menghiraukannya, ia mengambil sekaleng Narangdeu Cider—cola kesukaannya—kemudian menyeringai penuh kemenangan.

Pria itu melirik Sumin yang masih tampak takjub dan Kai hanya bisa tertawa pelan melihatnya.

Begitu Sumin menoleh, Kai menyodorkan Narangdeu Cider tersebut padanya. Sumin mengerjapkan matanya beberapa kali. “Untukku?”

Kai mengangguk.

Sumin hampir menerima namun Kai menarik tangannya kembali, seringaian khasnya tampak lagi diwajah Kai. Sumin menaikkan sebelah alisnya kemudian mendengus sebal. Mencoba tidak peduli, gadis itu kembali pada mesin otomatis dihadapannya dan memasukkan sebuah koin lagi kedalam.

Namun reaksi yang sama lagi – lagi diberikan oleh mesin bodoh tersebut. Sumin hampir saja memecahkan kaca mesin tersebut karena terlampau kesal dan… Kai lagi – lagi menyeringai. Parah. Kai menendang mesin itu lagi dan satu kaleng pepsi jatuh dari tempatnya.

Apakah mesin ini hanya menurut pada tendangan Kai?

“Oke, ini untukku.” Tanpa permisi, Sumin mengambil pepsi tersebut dan sedikit melirik kearah Kai.

“Thanks..” Ucapnya, Final, Sebelum akhirnya ia berbalik untuk menghindari tatapan Kai yang kelewat menyebalkan itu—dan seringaiannya juga.

“Kau pikir ini gratis?”

Sumin menghela nafas, ia mengambil selembar won dari dalam sakunya kemudian berbalik dan menyodorkan tangannya tanpa suara. Kai hanya menatap tangannya sebentar kemudian mengalihkan pandangannya kembali kewajah Sumin. “pepsi itu gratis, untukmu.”

“Okay.” Sumin memasukkan kembali uangnya. “Lalu maksudmu?”

“Maksudku, Kim Sumin… tidakkah kau pikir aku sebaik itu? Mengizinkanmu menginap diapartemenku selama dua hari dua malam lengkap dengan fasilitas delivery makanan, seragam milikku, blazer dan rok baru, dan hari ini kau mau menghindar saja dariku?”

“Aku tidak menghindar.”

“Tapi kau tetap saja dingin padaku, Nona. Aku pikir setelah dua hari kita menginap bersama, kau mau beramah – ramah sedikit denganku.”

“Okay, lalu kau mau bayaran berapa? Beritahu rekeningmu dan akan aku kirim siang nanti.”

Kai tertawa sarkatis. “Tidak gratis itu tidak selalu berarti dengan uang.”

“Aku akan datang menjemputmu sore nanti, kau hanya cukup berdandan sedikit dan gunakan paKaian yang bagus. Tapi jangan terlalu berlebihan, yah—aku tahu kau pasti ingin tampil secantik mungkin didepan seorang Kim Jongin tapi, cukup make-up sederhana saja. Aku serius.” Tambahnya, Sumin mendelik kearahnya.

Dalam hati Sumin merutuk, siapa juga yang mau berdandan maksimal untuk Kai?! Maksdunya, Sumin tidak pernah berpikir begitu. Dan.. apakah ini semacam undangan kencan?

“Bayaran macam apa itu?” Sumin memicingkan matanya.

“Cukup berdandan dengan cantik, itu saja.”

“Aku akan memakai kostum halloowen saja kalau begitu.” Ucapnya bercanda, namun sepertinya Kai tidak meresponnya baik.

“Aku serius.” Kali ini Kai merendahkan suaranya; kedua matanya menatap intens bola mata Sumin. Pria ini serius.

Selama beberapa detik Sumin hanya bisa terdiam, Hei.. kau harus menolaknya Kim Sumin! Pria seperti Kim Jongin ini bisa melakukan hal macam – macam padamu! Kau tidak mau kan menjadi gadis yang entah keberapa yang menjadi korban mainan Kai?! Tapi…

“Diam, aku anggap kau setuju.” Kai menyeringai kemudian berbalik meninggalkan Sumin.

“Hei—aku belum selesai bicara—Hei Jongin!”

***

Zelo menyandarkan punggungnya ke sebuah etalase putih dengan Sehun yang sedang memasukkan uang kembalian kedalam dompetnya. Ia tersenyum singkat pada ahjumma pemilik kedai kemudian berjalan mendahuli Zelo untuk menuju mobilnya. Zelo mengekor.

“Lalu?”

“Ya, itu adalah hari dimana Kai dan Sumin pertama kali berkencan. Sore itu Kai benar – benar datang menjemputnya dan mereka pergi makan sampai malam, begitu Sumin pulang dan baru saja keluar dari mobil Kai, secara kebetulan sekali aku sedang ada disana, sengaja menemui Sumin untuk menanyakan tugas – tugas bahasa inggris. Mereka kepergok olehku, mau tidak mau Sumin menceritakan semuanya.”

Sehun mengangguk mengerti kemudian membuka pintu Aston Martin hitam-nya, begitu mereka berdua ada didalam mobil, Zelo melanjutkan kembali cerita panjangnya.

“tapi mereka belum jadian saat itu. Man, Kim Sumin is not an easy girl.”

“That’s her. I understand.”

“Tapi setelah kencan itu, aku mengerti kalau Sumin memang jatuh cinta pada Kai tapi dia tidak pernah mau mengakuinya walaupun aku dan Lime sudah mendesaknya untuk mengaku. Oh Man, padahal jelas sekali kalau gadis itu jatuh cinta.”

“Lalu, apakah sejak saat itu Nana jadi membencinya?”

“Belum. Ia belum tau apapun dan selama Kai masih belum terikat hubungan dengan Sumin, gadis itu oke saja.”

“Lalu, bagaimana Sumin dan Kai bisa jadian?”

Zelo menghela nafasnya, lelah. “Oh, man. Kau benar – benar mau tau ceritanya?”

“kenapa tidak?”

“Aku pikir ini cukup membosankan.” Papar Zelo jujur namun Sehun tidak mau tau.

“Ayolah. Ah, We gonna heading to my apartement and how about playing Playstastion?”

Kali ini Zelo nyengir, ia nyaris melompat girang. “Man, itu yang aku maksud!” serunya bersemangat.

“Tapi tetap saja, kau masih harus bercerita panjang nanti.”

Lagi – lagi Zelo menghela nafasnya, ia menyandarkan punggunnya pada seat mobil. “Okay, dude. Whatever.”

***

5th Flasback

At Basketball yard. 5PM.

“Lihat kan? Dia bossy sekali.”

Bukan Lime namanya kalau ia tidak mengomentari setiap siswa yang ada disekolah, dan sejak tadi ia terus – terusan berbicara tentang Kai berhubung pria itu sedang beraksi dihadapannya dan Sumin. Mereka berdua duduk disebuah bangku panjang yang memang dikhususkan untuk penonton basket, sayangnya langit sudah hampir gelap dan murid yang tersisa disekolah hanyalah anak klub basket dan dua orang gadis yang lengket layaknya amplop dan perangko ini.

Sumin tidak membawa mobilnya, jadi ia berniat menumpang mobil Zelo dan karena hari ini Zelo mempunyai jadwal basket, Sumin harus menunggunya sampai selesai—Lime ia paksa untuk menemaninya. Dan, menonton Kai secara tidak langsung juga.

Sumin sibuk bermain game di iPhone-nya, sama sekali tidak melihat permainan basket yang sedang berlangsung didepannya dan dengan seenaknya ia berkomentar. “Wajar kalau Kai bossy. Dia kapten basket, dia yang memimpin.”

“Kau benar juga..”

Saat ini Kai masih mengenakan seragamnya yang berwarna abu – abu tanpa dasi dan dua kancing terbuka dibagian atas. Rambutnya tampak mengkilap karena gell namun berantakan dan kentara sekali image seorang bad boy-nya. Kedua tangannya ia masukkan kedalam saku sambil sibuk berjalan mondar – mandir, menyerukan anggota yang lain untuk melakukan lay up dengan benar.

Ia benar – benar kurang ajar. Sendiri saja memakai seragam padahal yang lain mengenakan paKaian olahraga. Ia sama sekali tidak berkeringat dan hanya mengatur teman –temannya padahal teman – temannya penuh dengan peluh mereka. Tapi apa boleh buat, Kim Jongin memang bossy.

Dan tidak ada yang bisa menentangnya. Karena ia yang paling hebat.

“Hei, Kim Jungkook!”

Kai menghampiri Jungkook—seorang junior kelas satu; anggota baru klub—yang masih tampak kesusahan dengan bola ditangannya, Kai mengambil alih bola tersebut kemudian men-dribble nya beberapa kali.

“tanding denganku. Satu lawan satu. Aku ingin tau kemampuanmu.” Kai menunjuk kearah Jungkook dan menyuruh yang lainnya menepi. Jungkook mengangguk menyetujui.

Pertandingan satu lawan satu itu terbilang cukup membosankan karena sebagian besar bola dikuasai oleh Kai—tentu saja!—padahal Kai sudah beberapa kali memberikan peluang cuma – cuma untuk jungkook. Membuatnya kesal saja. “Ayo rebut bolanya, jangan seperti banci!”

Akhirnya Jungkook tampak lebih liar sekarang. Dan tepat saat Kai melompat untuk memasukkan bola kedalam ring, Jungkook mencoba menghalanginya namun ia malah menubruk keras tubuh Kai secara tidak sengaja. Kai hilang kendali dan terhempaskan kebawah, punggungnya membentur lapangan dengan keras.

“Hyung!!”

“Kai terjatuh!”

Jari – jari Sumin yang sibuk dipermukaan touchscreen terhenti ketika Lime berseru. Ia mendongak dan mendapati Kai terlentang dilapangan, segera Sumin meletakkan iPhone-nya ketelapak tangan Lime kemudian berlari menghampiri Kai.

“hyung, Gwenchana? Mianhae—aku tidak bermasksud—“

Kai hanya menganggukkan kepalanya, mengisyaratkan kalau dia baik – baik saja. Begitu mendapati Sumin berlutut disamping Kai dengan waut wajah cemas, Jungkook berangsur mundur dan berbaur dengan yang lainnya. Sumin sama sekali tidak memperdulikan Jungkook, ia hanya menatap Kai dengan pandangan khawatir bahkan tidak menyadari kalau Kai sama sekali tidak merintih kesakitan; ia menyeringai malah.

“You okay?”

Kai tersenyum samar. Sejak kapan Sumin menjadi se-perhatian ini padanya?

Perlahan ia bangkit untuk duduk kemudian menggapai telapak tangan Sumin. Bibirnya menyunggingkan senyuman yang bisa menghipnotis gadis manapun untuk mengemis cintanya tetapi tidak pada gadis yang satu ini. Yang malah menatap tatapan Kai dengan sebelah alis terangkat.

Sumin mencondongkan tubuhnya—Kai sudah berasumsi berlebihan kalau gadis itu akan menciumnya!—dan menyejajarkan wajah mereka, tangannya yang bebas terangkat untuk menyentuh kepala Kai, tepat diatas telinga.

“Kau berdarah..” Ucapnya tercekat, seperti baru saja melihat hantu. Sumin berangsur bangkit dari lututnya kemudian menyodorkan tangannya. “Ayo, berdiri. Kau harus ke ruang kesehatan.”

Kai menerima uluran tangannya kemudian berdiri dengan sekali gerakan—sungguh ia tampak sangat sehat, tapi Sumin mengkhawatirkannya seolah hal itu fatal sekali. Kai memeluk gadis itu secara tiba – tiba membuat Sumin melebarkan matanya kaget tapi toh ia diam saja. Tidak menolak, tidak menerima. Satu tangannya masih berpegangan dengan Kai.

“H-Hei..”

“I Love you.”

“apa…”

“I love you, Kim Sumin.”

***

6th Flashback

“Wah jinjja! Tidak heran kalau wajah mereka terpampang secara jelas di majalah dinding sekolah, bukankah hebat sekali seorang Kim Jongin bisa berpacaran dengan Kim Sumin. Mereka seperti langit dan bumi! Kai yang seorang kingka itu bisa berpacaran dengan gadis dingin seperti Sumin!”

“kau benar! Apakah menurutmu kisah cinta mereka akan berlangsung sebentar saja? Kita semua tau kalau Kai senang mempermainkan wanita, kan.”

Sumin rasanya ingin  menyumpal mulut mereka satu persatu, ia benci menjadi bahan omongan seantero sekolah saat ini. Ia yang tadinya bukan apa – apa kini menjadi seorang gadis yang dibicarakan hampir semua murid disekolah ini, semenjak berpacaran dengan Kai tentunya.

Tapi banyak juga yang tiba –tiba menyapanya dan memekik girang kearahnya dengan embel – embel “unnie” padahal… who the hell they are?  Sumin saja tidak mengenalnya.

Dan kini ia sedang berjalan cepat dikoridor menuju ke mading sekolah yang berada tidak jauh didepannya; ramai dipadati oleh murid – murid. Dan sesampainya disana ia langsung menerobos paksa dan berhenti tepat didepan sebuah poster besar berukuran 50 kali 30 centi yang terpampang jelas. Jelas kalau wajahnya yang dipajang disana… dan tentu saja, Kai.

#1 Hottest Couple this Generation

Norak sekali. Pikir Sumin. Bagaimana bisa ada yang membuat poster memalukan semacam ini?

Sumin menghela nafasnya kemudian menarik poster tersebut dari atas sampai bawah hingga terlepas seluruhnya. Ia meremas poster tersebut, membuat murid – murid terkesiap namun ia memilih untuk tidak peduli dan meninggalkan mereka semua dalam kebingungan.

Sumin segera melangkahkan kakinya ke kelas Kai, kemudian berdiri diambang pintu sesampainya disana.

“Lihat, gadismu mencarimu.” Ujar Chen sambil mengedikkan kepalanya. Kai langsung menoleh kebelakang kemudian tersenyum lebar, ia melompat dari atas meja dan menghampiri Sumin.

Belum sempat Kai mengucapkan apapun, Sumin sudah menjejalkan poster kedadanya membuat Kai menaikkan sebelah alisnya bingung. “apa ini?”

“Norak sekali.”

Kai mengangguk mengerti, sejurus kemudian ia sudah melemparkan poster tersebut entah kemana lalu jari telunjuknya mengelus pipi Sumin pelan. Gadis itu menahan napas ketika Kai mendekatkan wajahnya namun ternyata ia hanya main – main saja. “Jangan kesal, atau aku akan menciummu.” Ucapnya kemudian memundurkan lagi wajahnya.

Sumin memutar kedua bola matanya. “Huh. Tapi aku kesal.”

Kai hanya tertawa singkat kemudian merengkuh pinggang Sumin, sedetik kemudian ia mencium pipi gadis itu. Sumin tidak kaget dengan perlakuan tiba – tiba semacam ini karena ia sudah biasa mendapatkannya dari Kai—mungkin itulah kenapa mereka menjadi #1 Top Hottest Couple.

“Berhenti atau aku cekik kau, Kim Jongin.” Desis Sumin yang kini pipinya dihujani oleh kecupan dari Kai, pinggangnya juga masih berada dilingkaran lengan pria itu. Kai gila.

Setelah dua kecupan terakhir, Kai menghentikan aksinya kemudian memeluk Sumin dari belakang sambil menghirup pelan aroma rambut Sumin yang menjadi favoritnya itu. “masih kesal? Bahkan setelah aku menciummu?”

“Aku tidak minta ciuman darimu.” Sumin berusaha melepaskan diri dari pelukan Kai dengan mendorong tangan pria itu pelan tetapi Kai terus menekannya untuk tetap berada dipelukan. Bukan berarti Sumin tidak menyuKainya, ia hanya tidak suka kalau mereka bermesraan ditempat terbuka seperti ini. Ia pasti akan digunjingkan macam – macam lagi oleh murid – murid.  Screw that!

“Baiklah, princess. HEI KWANGMIN!” pria bernama Kwangmin itu menoleh kearah Kai yang memanggilnya. Ia berangsur menghampiri Kai dan sedikit tidak enak melihat posisi Kai yang masih memeluk Sumin dari belakang.

“Ne, hyung?”

“lepas semua poster yang terpajang disekolah. Kau tau kan poster apa yang kumaksud?”

Kwangmin mengangguk.

“Nah, lakukan sekarang.”

Nada bicara Kai terdengar rendah namun terkesan menuntut dan Kwangmin hanya mampu menganggukkan kepalanya kemudian melesat pergi. Kai menyeringai.

“kau harus belajar menyuruh seseorang dengan cara yang lebih sopan.”

Kai memutar bola matanya, “Dia hanya murid kelas satu.”

“Oke. Terserah.”

Kai tertawa pelan kemudian memutar tubuh Sumin agar menghadap kearahnya, kedua tangannya ia alihkan untuk memegang pundak gadis itu. “Seharusnya kau senang. Kau tidak akan melihat poster norak itu lagi.”paparnya, Kai menyelipkan beberapa helai rambut Sumin kebelakang telinga. “Nah. sekarang, tersenyum princess..”

Sumin masih menatapnya datar namun ia perlahan menarik ujung bibirnya membentuk seulas senyuman tepat didepan wajah Kai. Sungguh, gadis ini cantik sekali kalau tersenyum sayangnya saja ia jarang melakukannya.

Dari ujung mata Sumin, ia bias melihat kalau Nana baru saja melihat mereka berdua dan ia tetap berjalan tanpa menyapa Sumin. Bahkan raut wajahnya tampak merengut dan Sumin benar – benar tidak mengerti apa yang terjadi pada nana. Ia berubah sejak dua bulan yang lalu, sejak dirinya menjalin hubungan dengan Kai. Tapi Sumin tidak langsung berasumsi kalau Nana cemburu pada mereka berdua.

“Aku harus bicara dengan Nana..” Sumin melepaskan genggaman Kai dan lengan Kai yang merengkuhnya, pandangannya masih tidak lepas dari Nana yang berjalan sendiri di koridor.

“hei—“ Kai menahan lengan Sumin dalam genggamannya.

“sebentar saja, Jongin. Aku harus memastikan apa kesalahanku sampai dia tidak mau bicara padaku.” Namun Kai tidak melepaskan genggamannya, ia justru menariknya, membuat Sumin kembali menghadap kearahnya. “Sebentar saja—“

“Psh!” Kai meletakkan jari telunjuknya didepan bibir Sumin.

“Dia tidak akan memaafkanmu.”

Sumin tampak gusar mendengarnya. “How dare you said such a thing like that!”

“I’m serious. She wont forgive you unless we both break up, so.. keep it like this. She’s not a good girl though.” Ucap Kai dengan intonasi pelan, agar Sumin mau mengerti. Sumin selalu mendengarkannya. Selalu.

“Okay.” Final. Sumin menuruti ucapan Kai, ia hanya menghela nafasnya kemudian menggenggam tangan Kai lebih erat. “Kalau begitu, ayo makan siang.”

Kai memeluk bahu Sumin kemudian mencium puncak kepala gadis itu. “Come on.”

***

Sehun meletakkan stick PS-nya setelah mengalahkan pertarungan satu awan satu dengan Zelo. Ia melirik Zelo dengan sedikit gusar. “Kau tidak perlu menceritakan padaku bagian ciumannya juga kan?”

Zelo tertawa mendengarnya, kentara sekali kalau Sehun cemburu. “Oh Man, kau harus tau betapa manisnya mereka berdua. Pasangan yang membuat siapa saja iri melihatnya. Just sayin”

Sehun menyandarkan punggungnya ke sofa, ia mengganti game-nya kemudian bermain sendiri sedangkan Zelo meninggalkan sticknya dan memakan snack ditangannya. Keduanya masih mengenakan seragam, tanpa blazer. Hanya seragam putih dengan celana panjang berwarna abu – abu. Blazer abu – abu mereka tergeletak tidak rapi diatas sofa.

“terserah apa yang kau katakan. Lalu, bagaimana dengan kematian Kai?”

“itu akan menjadi cerita terakhir yang akan kuberitahu padamu, Man.”

“Ceritakan saja.”

“Jangan terburu – buru, kau harus tau cerita sebelum ini. Ketika Sumin terlahir kembali menjadi demon.”

“Kau benar, bukankah usianya saat itu sudah tujuh belas tahun? Ia masih menjadi manusia?”

“Ya, ia masih menjadi manusia. Dan tepat satu setengah bulan setelah hari itu, Sumin mengalami kecelakaan.”

Sehun terdiam sambil tetap memainkan game, ia bersiap untuk mendengar cerita selanjutnya dari mulut Zelo.

***

7th Flasback

Malam itu adalah hari yang tidak pernah Sumin lupakan seumur hidupnya. Tidak akan. Satu dari memori buruk yang terus terpatri dipikirannya dan membuat Sumin bisa menjambak rambutnya sendiri setiap kali ia meningatnya. Adalah Friday night, dimana biasanya Kai mengajak Sumin pergi keluar untuk sekedar dinner di restoran mahal atau sekedar mengobrol panjang di McDonalds.

Sudah sangat sering Kai mengatakan kalau dirinya bias menjadi pria yang sangat sibuk dan Sumin harus menerima kenyataan itu. Kai mengatakan kalau dirinya ikut andil dalam perusaahan Kim jadi terkadang Kai menghabiskan waktunya dikantor ayahnya. Sekiranya begitulah yang Kai katakan pada Sumin walaupun gadis itu nyaris tidak percaya.

Kenapa? Karena secara logika, pria seperti Kai bukanlah tipikal yang mau berlama –lama dikantor dengan berkas – berkas yang menumpuk diatas meja. Bukannya Sumin meragukan kalau Kai tidak bias bekerja di suatu perusahaan tapi…. Rasanya ada kejanggalan pada dirinya, entah kenapa Sumin merasa kalau kesibukan Kai bukan sebatas tentang perusahaan saja.

Belakangan ini Sumin baru tau kalau ayah Kai adalah pemilik Kei Corp. adalah sebuah perusahaan yang memproduksi berbagai senjata api.

Ya setidaknya sedikit cocok dengan image Kai. Ujar Sumin dalam hati.

Dan saat ini ia sedang berada didepan sebuah garasi dengan dua pintu besar yang tertutup rapat, Sumin bias memperkirakan kalau didalam garasi ini pastilah sangat luas namun ia juga tidak tau apa yang ada didalamnya.

Ia tadi sempat mengikuti Kai dan begitu pula beberapa hari belakangan ini, Kai sering mampir ke tempat ini bersama teman – teman satu gang nya dan bahkan saat ini Skyline biru milik Kai terparkir didepan garasi ini, berjejer dengan mobil million dollar lainnya. Mobil milik teman – temannya.

Sumin tidak peduli. Ia merasa memiliki hak untuk mengetahui apa yang terjadi didalam sini karena keingin tahuannya sudah meletup – letup. Sumin benar –benar tidak peduli, tanpa permisi ia membuka pintu garasi itu dengan kedua tangannya. Cukup melelahkan karena pintunya berat sekali namun beruntung tidak dikunci.

Ia melangkahkan kakinya masuk kedalam garasi tersebut dan…

What the hell is this. Rutuk Sumin dalam hati.

Memang benar perkiraannya, garasi ini dalamnya luas sekali. Ia bias melihat mobil berjejeran didepan matanya dan beberapa diantaranya sedang dibongkar—mungkin akan dimodifikasi?—namun yang membuatnya merutuk bukanlah mobil – mobil itu…

Ruangan didalam sini terdapat satu tingkat yang terlihat dari bawah, diatas sana terlihat beberapa wanita dengan paKaian minim—katakanlah setengah telanjang—duduk di kursi dengan segelas wine ditangan mereka. Beberapa diantaranya duduk dipangkuan seorang pria yang memiliki wajah tampan, namun Sumin bisa memperkirakan kalau usia mereka sekitar dua puluh-an.

Apa ini?! Apakah semacam tempat… prostitusi?

Dan tidak jauh ditempat Sumin berdiri saat ini, ia bisa melihat kerumunan orang yang sedang berseru keras seperti sekelompok supoter sepak bola. Ditempat itu penerangan tampak jelas sekali, berbeda dengan tempatnya berdiri sekarang yang tampang remang – remang dengan lampu seadanya.

“hei siapa kau!”

Sumin berjengit kaget. Seorang pria dengan rambut panjang dan perawakan tinggi kurus menghampirinya. Pria itu tidak tampak mengerikan, tapi cukup manly juga. Matanya menatap awas kearah Sumin.

“Siapa kau?” Tanya pria itu lagi Karena Sumin tidak kunjung meresponnya. Gadis itu masih membisu dengan macam – macam kemungkinan buruk yang berkecamuk didalam pikirannya.

“Pukul dia lagi Jongin! Smack that ribs and get the shit out of him!”

Suara seruan itu terdengar terlampau jelas ditelinga Sumin. Ia terkesiap, suara itu berasal dari kerumunan yang berada tidak jauh didepannya dan bisa dipastikan kalau Kai memang ada disana. Sumin segera berlari kearah kerumunan tersebut namun pinggangnya ditahan oleh pria berambut panjang tadi.

Sumin meronta, namum pria itu memegangnya kuat – kuat. “Tidak boleh sembarangan orang masuk kedalam sini, Kau sepertinya tersasar Nona.”

“Aku—tidak tersasar, ugh—lepaskan!”

Dengan satu dorongan kuat, Sumin berhasil melepaskan diri dari pria itu lalu menatapnya sangar seolah mengatakan ‘jangan-sentuh-aku’ dan pria itu berganti menggenggam lengan Sumin kuat – kuat.

“hei aku katakana lepaskan! Aku harus menemuinya!”

“Siapa yang akan kau temui?”

“Kai!”

“Siapa kau? Apakah kau sudah ada janji dengannya?”

Sumin menghela nafasnya, kesal dengan penahanan dari pria ini. “Aku Kim Sumin, kekasihnya. Biarkan aku bertemu dengannya.” Ujar Sumin penuh penekanan, lebih dari sekedar perintah.

Pria itu berangsur melonggarkan genggamannya pada lengan Sumin kemudian ia terdiam dan membiarkan Sumi berlari untuk masuk lebih dalam. Setelah memastikan Sumin sudah cukup jauh darinya, pria itu mengambil handphonenya dan menelepon seseorang.

“Halo, Chen? Ini aku Jungshin. Kekasih Jongin baru saja datang.”

***

8th Flasback

Sosok Kai bisa terlihat jelas diantara kerumunan itu, posisinya ada ditengah dengan space yang cukup luas baginya untuk bertarung dengan pria berotot dihadapannya yang diketahui bernama Bang Yongguk—seorang gangster yang menjadi musuh keluarga Kai.

Selama ini, Sumin selalu dibohongi Kai soal identitas asli keluarganya. Memang benar kalau ayah Kai memilki sebuah perusahaan senjata api, namun disamping itu tuan besar Kim—begitulah ayah Kai disebut—adalah seorang mafia yakuza. Kai adalah anak satu – satunya dari keluarganya yang menjadi incaran banyak kelompok gangster.

Hidupnya bisa dibilang tidak tenang, setiap beberapa minggu sekali Kai terancam nyawanya karena beberapa orang yang tak dikenal berusaha membunuhnya. Dan dengan maka itu Kai memiliki skill hebat dalam hal menyetir mobil juga memainkan senjata—dan pertarungan tentunya.

Kai memang sering mengajak Sumin ke apartemen-nya, namun Sumin tidak bisa menemukan hal mencurigakan sedikitpun disana karena itu hanyalah sebuah apartemen biasa. Dan tidak pernah sekalipun Kai mengajak Sumin kerumahnya—itu akan sangat berbahaya.

Dan sekarang, Kai sedang mengadakan battle dengan Yongguk disebuah ruangan yang lebih mirip seperti bar. Dapat terlihat berbagai macam wine terpajang disebuah rak besar yang ada dibalik meja panjang bar—Chen, Minho, Ljoe dan Daehyun duduk disana; menonton Kai.

Kai mengelap darah diujung bibirnya kemudian menarik kerah kemeja Yongguk, melayangkan sebuah pukulan keras diwajah Yongguk. Keringat dingin mengalir dari pelipisnya, dan nafas Kai terdengar memburu. Sudah beberapa jam ia menghabiskan waktunya disini, melawan Yongguk yang bisa dibilang cukup tangguh.

Yongguk menggeram, ia melayangkan pukulan kuat kearah Kai namun Kai memiringkan tubuhnya. Mengelak. Ia menyeringai kemudian melompat dan menggantungkan kedua tangannya di lampu hias yang menggantung diatasnya, kaki kanannya menendang dada Yongguk dengan keras. Yongguk terlempar keras kelantai.

Kai melompat turun, tersenyum puas. Ia berbalik dan baru saja akan menganggat kedua tangannya untuk mengikrarkan kemenangannya ketika tiba – tiba saja Yongguk bangkit dengan merintih kecil kemudian menendang punggung Kai dari belakang dengan tak terduga.

Kai yang tidak siap itu terdorong keras dan jatuh terlungkup diatas lantai.

“Ah..” Kai bisa merasakan dahinya perih dan darah mengucur dari permukaan dahi serta hidungnya. Belum sempat ia bangkit, Yongguk sudah menginjak lehernya dengan kuat, menekannya. Kai merasa tulang lehernya hamper saja patah.

Dengan bergetar menahan sakit, Kai berusaha mengangkat tangannya dan ia berhasil menggenggam kaki Yongguk. Dengan satu tarikan nafas panjang, Kai menarik kaki Yongguk ke samping dan membanting tubuh gangster  itu.

Kai berbalik dari posisinya. Ia bangkit berdiri dan menatap sengit Yongguk yang meronta – ronta dibawah kakiknya. Segera Kai mengambil sebuah pisau lipat dari balik blazer nya, pisau itu tampak mengkilat dibawah cahaya lampu. Kai menyeringai.

Dengan sekali sentakan, Kai menancapkan pisau tersebut tepat ke jantung Yongguk. Membuat percikan darah memuncrat ke permukaan blazer dan kausnya. Kai terdiam di posisinya selama beberapa saat, mencoba mengatur nafasnya yang tidak karuan. Ini melelahkan.

Yongguk adalah seorang gangster brengsek yang mencoba mencuri senjata – senjata baru yang baru diproduksi oleh perusahaan Kai dengan alasan ayah Yongguk menyimpan dendam pada ayah Kai. Kemudian Kai menawarkan sebuah battle dengan jaminan jika Yongguk menang maka pria itu boleh mengambil senjatanya.

Katakanlah Kai begitu berani, namun kenyataannya memang seperti itu. Karena ia tahu, pada akhirnya ia selalu menjadi pemenang.

“Kai! Sumin datang!”

Jantung Kai hamper saja copot begitu mendengarnya, tangannya masih memegang pisau yang menancap di jantung yongguk.

“Kai…”

Suara lembut itu berhasil memunculkan kembali keringat dingin dari pelipis Kai, kali ini bukan karena tepacu adrenalin namun lebih kerasa khawatir dan gugup. Dan yang paling dominan, cemas. Tangan Kai bergetar, ia berbalik cepat dan benar saja…

Sumin berdiri sedikit lebih didepan diantara kerumunan orang yang sibuk berbisik satu sama lain. Suasana menjadi berbeda saat ini, terlihat juga Chen yang berdiri dibelakang Sumin dengan raut wajah khawatir. Chen menggelengkan kepalanya.

“K…Kai..i..” bibir Sumin bergetar. Matanya beralih dari pisau berdarah itu ke mayat Yongguk yang tergeletak mengenaskan kemudian kembali menatap Kai. Tangannya terangkat untuk menutup mulutnya sendiri, ia terlampau shock. Kedua mata Sumin tampak—terlalu jelas malah—berkaca – kaca.

Kai, kau tidak bisa tinggal diam.

Chen berusaha menenangkannya dengan menepuk pelan punggung Sumin. Ia berangsur menyingkir ketika Kai dengan khawatir menghampiri Sumin. Kai berniat menyentuh wajah Sumin untuk menghapus air mata gadis itu tapi Sumin langsung menyingkirkan tangannya.

“kau.. seorang pembunuh…”

Kai menghela nafasnya. “ini tidak seperti yang kau pikirkan..”

Namun Sumin menggelengkan kepalanya. “Tidak… tidak… ini tidak masuk akal.”

Chen mengerti situasi ini, ia memberi intruksi kepada yang lainnya untuk member privasi pada urusan pribadi Kai. Dan dengan tidak butuh waktu lama, mereka semua menyingkir dan meninggalkan tempat ini. Termasuk mayat Yongguk yang dibawa oleh salah satu bawahan Kai.

Kini hanya ada Kai dan Sumin. Dan segala rahasia yang harus diungkap dan perasaan yang tak mampu dideskripsikan.

“kau berbohong padaku..”

Kai menggelengkan kepalanya, “Aku tidak berbohong ketika mengatakan aku ikut andil dalam perusahaan ayahku. Aku hanya menyembunyikan beberapa hal yang sepatutnya tidak kau ketahui.”

“Apa yang kau sembunyikan dariku?” tuntut Sumin.

Kai maju beberapa langkah untuk berbicara lebih dekat dengannya tetapi Sumin malah mundur teratur. Respon seperti ini menyayat hati Kai, sejujurnya. Namun ia sudah bisa memperkirakan kalau Sumin pasti akan bertingkah seperti ini jika ia mengetahui identitas aslinya.

“Ayahku seorang mafia. Dan aku adalah anak satu – satunya dalam keluargaku, aku ikut bertanggung jawab dalam melindungi perusaahaan Kei corp dari tangan – tangan pihak yang tidak bertanggung jawab. Dan pria tadi, Bang Yongguk. Dia adalah salah satu dari gangster  yang mencoba mencuri asset senjata perusaan appa. Maka dari itu aku membunuhnya.”

“anak satu – satunya? Kau pernah mengatakan padaku kalau kau memiliki seorang Noona. Lalu..”

“itu.. aku berbohong padamu.”

Sumin menggelengkan kepalanya, “kau berbohong padaku…”

“Ya, aku berbohong padamu.”

“kau…”

“Aku minta maaf. Aku benar – benar minta maaf.”

“lalu siapa waniat – wanita yang ada disini? Apakah mereka semua simpananmu?”

Kai menggelengkan kepalanya cepat. “tidak! Tentu saja tidak. Mereka hanya wanita murahan yang disewa untuk sekedar bersenang – senang dan.. pemuas nafsu belaka. Derajat mereka tidak lebih dari itu.”

“Lagipula aku jarang ‘memakai’ mereka. Kebanyakan teman – temanku dan beberapa rekanku.”

“Tapi mereka pernah menyentuhmu?”

“ya.”

“Sex?”

Kai menarik nafas kemudian mengeluarkannya perlahan, “Tidak mau berbohong lebih lanjut lagi, aku mengatakan jujur… ya. Aku pernah sex dengan mereka semua.”

Cukup. Batin Sumin. Ia tidak bisa menahan air matanya yang jatuh begitu saja mnenuruni wajahnya yang kini pucat pasi. Kai hendak mengatakan suatu hal lagi namun Sumin mengangkat tangannya, mengisyaratkan Kai untuk diam.

“Cukup, Kim Jongin.”

Sumin berbalik dan melangkahkan kakinya menjauh, meninggalkan Kai yang menatapnya dengan perasaan tidak menentu. Campur aduk. Menyesal. Takut kehilangan. Cinta. Semuanya menjadi satu.

“Kim Sumin, kau tau aku mencintaimu.” Ucap Kai lirih, namun cukup keras untuk terdengar ditelinga Sumin. Dan gadis itu mengabaikannya, ia berjalan keluar dari garasi dan segera masuk kedalam mobilnya.

“Aku juga sangat mencintaimu, Kai.” Ucapnya pelan, Sumin memutar kuncinya kemudian melajukan Nissan Veilside-nya dengan kecepatan semaksmimum mungkin.

Tanpa ia ketahui suatu perubahan besar sedang menunggunya saat ini.

***

9th Flasback

Seoul Global’s Hospital. 11AM.

Rumah sakit sudah terlalu sepi pada jam – jam malam seperti ini. Kim Jongin mengusik suasana sepi itu dengan langkah kakinya yang terdengar terlampau jelas, berlari disepanjang koridor rumah sakit dengan membaca setiap nama yang tertera dipapan kecil yang berada di pintu masing – masing ruangan.

Ia mendengar dari salah satu bawahannya kalau Sumin mengalami kecelakaan di Sowon-gil tepat setelah gadis itu bertengkar hebat dengan Kai. Yang Kai tau, Sumin mengemudikan mobil dengan kecepatan gila – gilaan. Dan gadis itu secara illegal masuk kedalam turnamen yang sedang diadakan disana, dimana belasan mobil sedang memacu kehebatan mereka.

Sumin yang diluar kendali dan dengan emosi yang tidak terkontrol itu akhirnya berakhir dengan menabrak hebat sebuah Ferrari hitam, dan Nissan veilside-nya terlempar ber meter – meter jauhnya setelah berkali – kali berputar diudara.

Dan ketika Kai menghampiri lokasi kejadian, ia terkejut sekali mendapati Nissan veilside itu sudah hancur tak berbentuk. Bahkan sudah tidak bisa disebut sebagai mobil lagi. Pikiran Kai sudah melancong kemana – mana, tidak mungkin kalau ia tidak diliputi kemungkinan buruk dari kejadian ini.

Kai bersumpah akan menyesal seumur hidup kalau Sumin paling tidak, koma.

Begitu melihat nama ‘Kim Sumin’ tertera salah satu pintu, Kai segera masuk kedalam tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Dadanya naik turun dengan nafas memburu, Kai benar – benar berlari tanpa henti dari parkiran sampai ditempat ini.

Yang dikhawatirkannya setengah mati ternyata tampak jauh dan jauh lebih baik dari apa yang Kai perkirakan. Kai bersyukur sebesar – besarnya pada Tuhan bahwa Sumin saat ini sedang duduk diatas ranjang rumah sakit dengan pajama dan perban didahinya. Tampak sangat sehat.

Namun gadis itu belum menyadari kehadiran Kai sama sekali. Sumin masih terpaku melihat pantulan wajahnya didepan cermin yang ia pegang. Tanpa reaksi. Hanya tertegun dan heran. Dan Kai dibuat penasaran olehnya.

“Sumin, Kai datang.” Ucap seorang pria dengan nada bicaranya yang dingin—nada yang hampir mirip dengan Sumin ketika berbicara–Kim Myungsoo.

Kai beberapa kali bertemu dengan Myungsoo namun sepertinya hubungan keduanya tidak begitu baik, karena Myungsoo sendiri juga tidak memiliki hubungan yang cukup baik dengan Sumin. Kai mengerling kearah Myungsoo dan membungkukkan kepalanya sedikit.

“Kau jaga dia.”

Myungsoo bangkit dari duduknya dan menepuk bahu Kai pelan sebelum hilang dibalik pintu. Tampak kentara sekali kalau Myungsoo terlihat sangat cemas dan lingkaran hitam tergambar jelas dibawah mata pria itu

“Kai?”

Suara lembut itu membuyarkan lamunan Kai dalam sekejap. Kai langsung menghampiri Sumin dan memegang pipi gadis itu dengan kedua tangannya. Kedua mata Kai menatap intens bola mata Sumin.

“for God’s sake, woman. You scared me.”

Sumin membuat seulas senyuman untuk sekedar menenangkan Kai. “I’m okay.”

“Ini semua salahku. aku benar – benar minta maaf. Kau bisa usir aku kalau kau mau.”

Sumin menggelengkan kepalanya. “Tidak. Kau tidak salah. Ya… mungkin, kau memang sedikit tidak tepat dibeberapa bagian. Aku hanya terlalu shock waktu itu. Dan… aku harap kau benar – benar mencintaiku.” Ia menunduk menatap jarinya yang saling bertautan. Kai mengangkat dagunya dengan satu jari, kemudian menatap Sumin tulus.

I love you and I always do.” Ucapnya dengan satu tarikan nafas. Sumin langsung memeluknya dengan erat. “Kai, bagaimana kalau aku berubah?”

“Berubah?”

“Bagaimana kalau mataku tidak selalu berwarna cokelat almond lagi, dan aku tidak sebaik dulu—katakanlah, jahat, apakah kau masih mau menerimaku?”

Kai melepas pelukan mereka berdua kemudian menatap Sumin dengan dahi mengerut.”Aku akan selalu menerimamu. Dan.. maksudmu?”

Entah apa yang terjadi pada Sumin, dirinya sendiri juga tidak mengerti. Yang pasti, ketika tadi ia bercermin.. kedua bola matanya berwarna merah pekat dan beberapa menit setelahnya berubah menjadi cokelat almond lagi—warna asli matanya. Ia merasakan ada suatu hal berbeda pada dirinya, tapi entah apa.

“Entahlah.. aku merasa ada yang aneh dengan diriku.”

“Aneh?”

“Ya… aneh.”

“apa.. kau merasa sakit? Perlu aku panggil dokter sekarang?”

Sumin menggelengkan kepalanya. “Justru itu. Aku tidak perlu dokter karena tidak ada rasa sakit sedikitpun disekujur tubuhku. Aku tidak merasakan sakit dalam bentuk apapun. Tidakkah ini aneh? Seminimal mungkin, seharusnya aku koma atau malah mati.”

“Hei, apa yang kau bicarakan. Kau harusnya bersyukur.” Kai mengelus rambut panjang Sumin dengan pelan, gadis itu hanya mengangguk saja. “tapi Kai… aku menemukan sebuah tato, sebelum hari ini.. aku merasa tidak memiliki tato apapun ditubuhku.” Sumin menarik kemeja tidurnya dan memperlihatkan sebuah tato bergambar huruf ‘D’ di bahunya.

Kai menyentuh tato itu dan mengusapnya pelan, membuat sebuah rasa desiran tersendiri bagi Sumin.  “D? Apa artinya?”

***

“Secara tidak langsung, aku telah memberitahumu kalau Kai adalah orang pertama yang mengetahui tentang keganjalan yang dimiliki Sumin ketika ia sudah menjadi demon.”

Sehun menganggukan kepalanya, namun ia terdiam dan tampak sedang berpikir serius. Rahanganya menegas dan alisnya hampir bertaut satu sama lain. Zelo bahkan takut mengusiknya. Apa yang sedang pria ini pikirkan?

“Kai pasti sangat penting untuknya. Dan saat Kai meninggal, aku tidak bisa membayangkan bagaimana terguncangnya Sumin.”

Zelo mengangguk menyetujui. “Sangat… parah. Apalagi dia…”

“Dia apa?”

Zelo hanya menyeringai kemudian mengerling kearah Sehun. “Sehun-ah, kau mau tau penyebab Kai meninggal?”

“ya. Tentu saja. Kau sudah berjanji mau memberitahu hal itu padaku.”

“dengan satu syarat.” Zelo mengemasi barang – barangnya dan memakai blazer nya kembali. Ia bangkit berdiri membuat Sehun memandangnya dengan tatapan bertanya.

“hei..”

“Katakan padaku, apa yang membuatmu ingin mengetahui segala hal tentang Sumin. Apa yang terjadi antara kalian berdua, antara kau dan Sumin atau kau dengan Kai atau dengan siapapun. Katakan apa motifmu yang sebenarnya, dan aku baru akan memberitahumu penyebab Kai meninggal.”

Kali ini Sehun tampak kaget, ia tidak menyangka kalau Zelo bisa sekritis itu dan secerdik itu. Sehun kira, Zelo terlalu innocent untuk memaparkan segalanya tanpa mencurigai siapa Sehun sebenarnya. Dan kali ini, Sehun yakin kalau Zelo serius dengan perkataan dia barusan. Tapi.. apakah ini saat yang tepat?

“Kau bisa memberitahuku kapan saja. Dan sebaliknya, aku juga akan memberitahumu tentang kematian Kai setelah kau mengatakan jujur terlebih dahulu.” Zelo berbalik dan berjalan menuju pintu apartemen Sehun. “Aku ada urusan, aku harus pulang.” Lanjutnya kemudian memegang kenop pintu. Zelo baru akan melangkahkan kakinya keluar namun perkataan Sehun mengentikan aksinya secara relfek.

“Kim Sumin, adalah cinta pertamaku. Nama panggilannya sewaktu kecil adalah Yuko dan aku kembali ke seoul untuk mendapatkan dia. Aku mencintainya sejak kecil. Dan… Kai. Kai adalah sahabatku sewaktu aku masih kecil. Kai, Kim Jongin, kami mencintai gadis yang sama.”

***

TBC

 

Thanks for take your time to read this and put some comments below :) -ifa

Promote:

- Vote for Main Cast of Vampire Rascal! {Kris, Luhan, Minho, Kyuhyun, Kai}

 

 

 

 

188 Responses to “[Chapter 4] The Second of Telepathy”

  1. Winwinwin July 3, 2014 at 1:49 pm #

    Ya ampun, OMG hello! Ini namax Love 3angle:

    Kai-Sumin-Sehun. Ckckck

  2. bela July 24, 2014 at 10:24 pm #

    nah loh makin ribet aja kan ya.__.
    lanjut ke chapter 5~~

Trackbacks/Pingbacks

  1. [Chapter 5] The Second of Telepathy | FFindo - August 1, 2013

    […] Chapter 4 […]

  2. [Chapter 6] The Second of Telepathy | FFindo - September 29, 2013

    […] Chapter 4 / Chapter 5 […]

  3. [Chapter 7] The Second of Telepathy | FFindo - November 29, 2013

    […] Chapter 4 / Chapter 5 / Chapter 6 […]

  4. Bloody Camp [Act 1] | FFindo - December 3, 2013

    […] Chapter 4 / Chapter 5 / Chapter 6 […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 20,303 other followers

%d bloggers like this: