Judul : Loving You? a Real Story?
Cast : – Bae Suzy (Miss A) – (JYP. Ent)
- Kim Soo Hyun – (KEYAST. Ent)
- Taemin (SHINee) – (SM. Ent)
Genre : Romance, Little Komedi (?)
Length : Oneshot
Abstrak cerita : Suzy adalah seorang yeoja yang terlanjur kaget dengan kehadiran seorang namja yang begitu penting baginya.
Soo Hyun adalah namja yang imut di dahulu kala, namun sekarang suka bertingkah konyol. Tapi jika kau mengenal Soo Hyun di sini, tingkah konyolnya itu yang justru membuat mata Suzy hanya terpaku padanya. Sampai-sampai beberapa kali Suzy benar-benar mengikuti apa yang dilakukan Soo Hyun di luar kemauannya.
Author Note : “Tidak perlu berusaha terlalu jauh memahami seperti apa dia. Waktu akan menunjukkannya padamu, tanpa kau memintanya sekalipun.”
***
Suzy POV
“Kim Soo Hyun, kenapa dia itu bodoh sekali?”
Ehem, oke kalimat pertama yang cukup terdengar tidak enak untuk kisah kali ini. Aku terlalu pusing dan perutku sedikit tergelitik untuk menuliskan rangkaian kalimat manis, mengingat ini adalah kisah antara aku dan Soo Hyun. Kisah yang membuat takdir kami ya memang benar adanya takdir. Takdir kami yang selalu berkaitan.
Kim Soo Hyun dan Bae Suzy, banyak teman mengatakan bahwa kehidupan kami adalah miniatur dari sebuah Drama papan atas. Emm… Kita sebut saja Dream High.
Tunggu! Ada yang salah dengan ini, kenapa justru kami yang mendapatkan predikat ‘miniatur’?
Miniatur itu bongkahan kecil dari apa yang nyata bukan? Aku nyata, Soo Hyun juga nyata. Kehidupan kami apalagi. Apa yang ada pada diri kami adalah nyata dan bukan bongkahan kecil. Coba kalian pikir, apa drama itu nyata. Dream High nyata? Tidak kan~
Baiklah, aku tidak mau membahas ini terlalu jauh. Biarkan Hyemi dan Sam Dong yang berpikir.
Pergi sebentar kurasa tidak masalah, kisahku akan tetap berjalan. Tanpa olesan sedikitpun di wajahku, dan hanya bermodal tas samping berisi earphone, dompet, serta lollipop kesukaan Soo Hyun, akhirnya aku berangkat. Memilih tempat yang baik dan cocok untuk mata, hati dan pikiranku. Dan rupanya lapangan basket menjadi pilihanku kali ini. Seleraku tidak terlalu buruk.
Di sekitarku, orang-orang tertawa dengan gemasnya. Begitu pula dengan aku. Tubuhku bergetar menahan bibirku yang hampir saja meledakkan tawa yang terbilang besar. Konyol sekali, padahal ini ‘kan lapangan basket. Tempat dimana kebanyakan pria keren bertanding kebolehannya. Aku juga tidak menyangka akan melihat hal yang seperti ini. Kupikir aku akan terpesona dan mendapatkan inspirasi dengan kisah-kisah romantis yang dapat disumbangkan pada kisah Soo Hyun dan aku. Hahaha. Naasnya, aku lupa bahwa hari ini adalah hari sabtu. Yang bermain di sini bukanlah pria keren, tapi bocah berumur 3-5 tahun. -_-“
Errr.. Bocah-bocah di kubu barat yang mengenakan kostum berwarna merah itu kenapa bisa isinya pelawak masa depan semua? Mereka bukannya memantulkan bola basket-khusus anak kecil-itu, tetapi justru menendang layaknya bola kaki. Anehnya lagi, salah satu di antara mereka menghampiri lawanya dan mengelus kepala lawannya yang licin itu, diiringi dengan gigi yang di gertak-gertakkan -akibat gigi yang gatal atas pertumbuhan, mungkin?
Aku jadi ingat, Soo Hyun pernah menyuruhku untuk menggertakkan gigiku seperti bocah itu. Dia bilang, dengan cara itu gigiku yang sakit akan sembuh dan bibirku akan mudah untuk tersenyum.
Ku lirik jam tanganku. Sudah pukul 17.30. Ingin kembali ke rumah? Ya. Ingin beberapa menit tetap di sini? Ya. Tapi sebaiknya aku memang harus segera pulang. Memangnnya siapa yang mau berlari ke sini hanya untuk menjemputku malam-malam? Aku yakin Soo Hyun lebih memilih bermain catur dengan appa dan melarang beliau pergi, dengan kalimat “Suzy sudah besar, memanjakan dia akan membuatnya bertingkah di luar kendalinya sendiri, Ahjussi.”
Cih, aku pernah memergokinya bicara seperti itu. Kalau saja aku tidak kelelahan karena berlatih vokal seharian, kupastikan suaraku yang indah ini akan keluar dengan bebas dan tinggi…
Tepat di telinganya!
***
Perjalanan menjadi lambat. Hujan salju tiba-tiba saja turun, untungnya aku sudah berada di dalam bus. Aku melihat keseliling jalan, salju sudah hampir menutupi jalan. Semoga saja penumpang tidak diturunkan akibat salju yang menghambat.
Aku mengusap-usap kedua telapak tanganku dan sesekali meniupnya agar hangat. Dingin sekali, andai saja aku membawa sarung tangan, pasti tidak akan sedingin ini. Kembali aku menatap jalan, kenapa bus ini berhenti lebih lama dari biasanya?
Jangan-jangan….
Yapp, benar saja.. tanpa mendengar supir bus meminta maaf dan segera meminta penumpang untuk keluar, langsung saja aku turun. Pasti terjebak salju. Dan ini sudah pukul 19.30. Syukurnya adalah, ini tidak terlalu jauh dari rumah, namun aku harus berlari dan itu berarti kakiku akan pegal dan juga membeku setelah ini.
Aku membuka tempurung jaketku, sepertinya salju sudah berhenti. Dingin, dingin sekali. Apa aku menaruh coklat di tas? Barangkali saja. Segera saja aku mengeceknya.
Tanganku tidak menyentuh hawa-hawa coklat di tas, tapi menyentuh sebuah batang. Yap batang permen. Permen lollipop.
Soo Hyun. Soo Hyun. Soo Hyun. Kenapa dia tidak suka coklat saja? Itu akan lebih menghangatkan daripada permen manis seperti ini. Dan kenapa aku tidak mengambil coklat saja di kulkas? Bukankah persediaan coklat masih banyak? Lalu kenapa aku tidak mengambil apa yang lebih aku suka? Aku malah memilih apa yang Soo Hyun suka. Aishh… Kim Soo Hyun, kau terlalu berpengaruh ya untukku?
Beberapa meter dari rumahku, aku menengok ke samping dan belakang. Jalanan sudah sepi, ini jam delapan malam. Lantai satu rumahku juga sudah gelap. Appa dan Taemin-adikku- pasti sudah tidur dengan hangatnya. Dan Soo Hyun apa dia juga sudah tidur ya? Keterlaluan sekali, membiarkan wanita terjebak di malam yang dingin tanpa menghubungiku walau hanya sekedar memberi pesan singkat. Ckckckc
Ku buka pintu dengan sangat pelan, ya biar bagaimanapun aku tidak mau mengusik ketenangan orang. Lebih baik mereka tetap tidur, dan aku juga bisa langsung mandi dan tergeletak di kasur kesayanganku.
Aku melangkah masuk dengan sangat pelan
Tap. Tap. Tap
CEKLEKKK
“AAAAAAAAAAAAAAAAAA…!!!”
Author POV
Suzy tak menunggu waktu lama, ia segera berjalan dengan hati-hati menuju kamarnya. Ketika ia hendak berbelok ke arah kamarnya, lampu yang semula mati tiba-tiba saja menyala dan ia sangat terkejut. Sebuah benda yang mirip kepala manusia bergelantungan tepat di depan wajahnya. Spontan ia berteriak, namun itu hanya bertahan sebentar begitu ia mendengar cekikikan suara yang sangat familiar.
Ia mendengus sebal dan memutar kedua bola matanya.
“Hahh, Keterlaluan! KIM SOO HYUN!”
Bodoh. Menyebalkan. Kekanak-kanakkan. Benar-benar..
Gadis itu mengumpat sedemikian berulang-ulang di dalam hatinya. Namja tampan dengan wajah sedikit konyol itu langsung muncul dari balik tembok dengan wajah meledek yang sangat puas.
Apa yang dilakukan Soo Hyun tadi itu membuat Suzy berpikir dua kali untuk membuat sebuah kisah romantis antara mereka pada tulisannya. Sepertinya memang akan sulit.
“Lain kali kau harus mencoba pulang tengah malam. Aku akan membuat kejutan lebih besar daripada ini. Kau pasti akan suka, Suzy-ah.”
Pria berambut sedikit ikal itu tertawa kembali, entah mengapa ia begitu suka ekspresi Suzy yang sebal seperti itu. Andaikan jarak mereka dekat, bisa dipastikan pipi imut gadis itu akan memerah. Bukan karena diberikan sebuah sentuhan atau ciuman di pipi, melainkan karena tangan kekar milik Soo Hyun yang mencubit pipi Suzy dengan gemas.
Bae Suzy terlihat malas untuk menyambut ‘hadiah spesial’ tersebut, ia berpikir bahwa Soo Hyun benar-benar bodoh. Tidak seharusnya dengan kondisi gadis yang tengah kedinginan, ia malah melawak tidak jelas. Pikir Suzy. Tapi tak dapat dipungkiri, tubuh Suzy terasa hangat akibat emosi yang telah dibuat oleh Soo Hyun. Emm, emosi atau gemuruh hati? ;p
Soo Hyun mendelik dan kepalanya berputar melihat Suzy yang dengan cepat akan masuk ke ruangan pribadinya. “Kau jangan terlalu lama mandi, kalau tidak coklat hangatnya akan dingin.”
Ganggang pintu yang ia genggam tersebut semakin kencang terkepal di telapak tangannya. Kalimat Soo Hyun barusan sedikit melemahkan kekesalan hati Suzy. Hawa dingin yang menusuk tubuh Suzy menuntut gadis itu untuk segera masuk ke dalam kamarnya. Suzy pun membanting pintu.
Sebelum berlalu untuk kembali ke kamar tamu, Soo Hyun memastikan gadis berambut panjang itu menghilang dari pandangannya. Dan ia memberikan senyum hangatnya yang tersembunyi untuk Suzy.
***
“Kau adalah gadis tercantik yang pernah aku temui..”
“Matamu yang jelek, hidungmu yang pesek. Aku suka. Asalkan itu semua ada pada dirimu, aku pasti akan menyukainya.”
“Kau jangan pernah pergi dari arah pandangku. Atau aku akan kehilangan kemudi di hidupku.”
Sreakkkk
Lembar demi lembar kertas terbuang percuma. Setiap kalimat romantis yang ia buat untuk tulisannya itu membuatnya berhenti untuk menulis dan berpikir dua kali, memandangi apa yang baru ia tulis dan kemudian ia menyobeknya serta melempar kertas tersebut ke dalam keranjang sampah mini.
“Haruskah sesulit ini menulis kata yang ‘cantik’? Aku memang bisa saja menulisnya, tapi ini membuat otakku buntu untuk melanjutkan kisah selanjutnya. Aish, tidak ku sangka sesulit ini menuliskan kisah Soo Hyun dan aku.” Ucap Suzy dalam hati.
“Kalimat romantis seperti itu mana mungkin keluar dari mulut namja gila itu? Kalau Taecyeon yang mengatakan pasti akan terdengar keren. Gadis mana yang tidak akan terpesona?” Suzy terus saja mengumpat. Ia menutup buku ‘calon naskah’-nya itu dengan malas. Mendenguskan nafas dan mengacak-acak rambutnya sendiri dengan waktu yang berdekatan.
Dengan menulis sebuah cerita, ia jadi lebih sering memikirkan Soo Hyun. Padahal Suzy baru dua kali menulis cerita sebelum ini. Yang pertama ia menulis fabel untuk lomba menulis tingkat SMP, dan yang kedua adalah cerpen tugas dari sekolahnya belum lama ini. Tekatnya untuk membuat sebuah kisah pada tulisannya yang baru ini begitu kuat, mengingat ia mendapatkan juara 1 pada lomba fabel, dan mendapat nilai kedua tertinggi di kelas.
Entah kenapa, Suzy berfikir untuk membuat sebuah kisah antara dirinya dengan namja teman kecilnya itu. Padahal Suzy tidak menganggap bahwa menulis adalah bakatnya, Tapi dengan munculnya Soo Hyun 3 bulan yang lalu, Suzy ingin menuangkan kisah manisnya bersama Soo Hyun sewaktu kecil. Kenyataan yang membuat Suzy enggan menulis kisah romantis pada ceritanya kali ini adalah Soo Hyun tidak pernah bersikap manis seperti namja normal kebanyakan. Bahkan tidak ada tampak-tampak bahwa pria itu menyukai gadis kecilnya.
Suzy benar-benar buntu bahkan untuk menuliskan satu halaman saja sangat sulit jika dikerjakan saat ini juga. Ia memutuskan untuk mengerjakan tugas kuliahnya. Beberapa puluh menit ia mengerjakan, namun tugasnya tersebut sekarang terhiasi dengan gambar coklat yang ia buat secara tidak sadar.
“Coklat.. coklat.. coklat.. Ommo! Coklat! Coklat hangat.. Aissh pasti sudah dingin.
***
Suzy POV
Babo babo babo. Pasti sudah dingin, kenapa aku menjadi pelupa? Kepalaku, berapa kali lagi aku harus memukulmu?
Aku berjalan menuju dapur, semoga saja tidak terlalu dingin, paling tidak aku bisa merasakan sensasi hangat dari coklat. Ya walaupun sudah tidak seutuhnya hangat. Kepalaku yang tadi ku pukul sendiri kini aku mengelus-elusnya. Tidak baik juga aku berbuat seperti itu, yang salah itu bukan kepalaku tapi pikiranku yang menyebalkan itu.
Ku lihat dari celah-celah, kenapa lampu dapur menyala ya? Apa ada orang? Kemudian ku lipat kedua tanganku di depan dadaku. Dan aku lihat ternyata namja tiga bulan itu tengah meminum seteguk gelas air putih. Meminum air putih? kenapa harus ke dapur? Dia itu benar-benar berlebihan, padahal di dekat kamarnya ada beberapa botol mineral. Yang seperti inikah ada di dalam cerita romantis? Aku berani taruhan, Taecyeon 2PM atau Lee Donghae Super Junior pasti tidak akan seperti Soo Hyun. Dia itu.. errr
Aku berjalan mendekat tanpa memperdulikannya yang sedang menguap dengan lebar itu. Ia belum menyadari kehadiranku sepertinya. Ku ambil gelas coklat hangat itu, eh? Masih hangat?
Bersamaan dengan itu, Soo Hyun menaruh gelasnya. Dan bersentuhan dengan gelasku. Ck, dadaku kenapa jadi berlebihan begini. Kenapa tidak bisa menahan detak jantungku, heey?
“Hooaam. Apa kau habis mengerjakan tugas kuliahmu? Malam-malam seperti ini belum tidur.”
Sok tahu sekali, “Tidak, tapi karena kau membuat kegaduhan di dapur.. Aku jadi terbangun. Hahhh, untung saja coklatnya masih hangat. Usahaku pergi ke dapur jadi tidak sia-sia. Bagus sekali.” Setidaknya kalimat ini yang bisa aku katakana. Entahlah, aku juga bingung harus mengatakan apa. Ia langsung duduk di depan tempat dudukku. Menatapku heran. Kenapa?
“Kau lupa ya? Segala yang berlebihan itu tidak baik. Kegaduhan? Tidak sia-sia? Ckck, kau ini sedang memikirkan apa?” Benar juga ya, padahal tadi dia yang berlebihan. Kenapa aku jadi suka sekali meniru apa yang ia lakukan? Suzy-ah sadarlah.. Kau jangan ikut-ikutan konyol.
“Setidaknya aku ingin mengambil apa yang tidak ada dalam jangkauan terdekatku. Coklat hangat ini tidak ada di kamarku, maupun di samping kamarku. Aku tahu, kau yang berlebihan.. minum air mineral kenapa harus ke dapur? Itu jauh lebih berlebihan,” ia mengerjapkan kedua matanya. Hahaha.. pasti dia tidak sadar atas kebodohan yang ia lakukan. Aku tersenyum kemenangan. Gyahahahaha.
“Karena kau ada di sini, aku akan membuatkan susu putih. Kau tidak perlu merengek lagi meminta susu putih pada ibumu seperti dulu. Jadi, kau juga tidak sia-sia datang kemari.”
Rasanya nyaman sekali. Ide dari mana aku ingin membuatkannya susu putih? Darimana lagi kalau bukan karena melihat wajahnya yang seperti itu. Aku bisa melihat sisi Soo Hyun yang menggemaskan seperti dulu, dan juga sisi konyol serta kedewasaan Soo Hyun yang baru saja bertemu 3 bulan. Aku mulai nyaman dengan penggabungan kedua sikapnya itu. Tidak adanya ‘kan aku berharap setelah ini dia bisa menjadi sedikit normal?
“Kau taruh saja di meja, aku lupa mematikan laptop.. Gigiku juga belum di gosok.”
Padahal aku baru saja akan mengajaknya berbincang lebih lama. Tanpa membalikkan tubuhku, aku mendengarkannya berbicara tadi. Tanpa melihatnya keluar dari dapur, aku langsung menaruh susu ini di meja. Semoga saja tidak kemanisan.
Eh? Susu putih ya?
Mataku melotot sambil melihat susu putih itu. Dulu, Soo Hyun tidak mau susunya itu terlalu manis. Dia selalu mengatakan sesuatu pada ibunya ketika hendak membuatkannya susu. Kalimat itu, bahkan tidak pernah aku dengar lagi. Jarakku dekat dengannya, tapi kenapa rasanya aku merindukan sekali namja itu? Aku ingin mendengar kalimat itu, andai saja ia mengatakannya padaku tadi. Ck, Kim Soo Hyun.. Semoga kau suka dengan susu ini.
“Eomma, susunya jangan manis – manis. Aku bisa muntah. Suzy itu sudah manis, aku tidak mau susu itu lebih manis darinya. Aku ingin hanya Suzy yang manis.”
***
Kukkuruyuuuuuk. Petok. Petokk..
Kukkuruyuuuuuk. Petok. Petokk..
Kukkuruyuuuuuk. Petok. Petokk..
Ayam berisik sekali, kalau ada di hdapanku sekarang.. aku akan memotongnya dan memakannya hidup-hidup..
Kukkuruyuuuuuk. Petok. Petokk..
Haaaaaaaaa siapa yang menaruh ayam. Appaaa.
A..Ayam?
Kukkuruyuuuuuk. Petok. Petokk..
Biasanya kalau ayam sudah berkokok seperti itu, itu tandanya pagi sudah datang. Ommo! Berarti ini sudah pagi, aku terlambat!!
BLAMM
Mataku terbuka, dan tubuhku berada di bawah. Aku langsung bangun dengan sekuat tenaga, dan membuka tirai dengan tidak sabar. Mengambil handuk dan ….
Haaaa Kenapa ini masih gelap? Ayam siapa itu pagi-pagi buta seperti ini sudah bersuara?!! Cari mati.
Kukkuruyuuuuuk. Petok. Petokk..
Ayam itu bersuara lagi, suaranya kenapa dekat sekali ya? Ommo, sejak kapan aku memakai alarm bersuara ayam begini??
“Noona, Noona! Matikan alarmmu, berisik sekali. Kau ‘kan tahu hari liburku hanya hari minggu, kenapa kau tidak membiarkanku istirahat sebentar, hah?”
Aku mendengar suara Taemin, bocah itu. Sebenarnya siapa yang berisik? Mengetuk pintu kamar orang berulang-ulang kali. Seenakknya sekali kau Taemiiin! Hahh, mana aku tahu kalau alarm ayam yang berbunyi.
“Cepat pergi Taemin, kau akan menambah keberisikan tahu? Mau berlomba cempreng-cemprengan dengan suara ayam? Sudah lupakan, aku tahu pasti kau yang menang. Cepat pergi! Vas bungaku akan melayang kalau kau tidak pergi!!”
Aku mendengar Taemin bersungut-sungut tak jelas. Biarlah, aku juga malas meladeninya. Dengan cepat aku mematikan alarm ayam itu. Ini benar – benar masih pagi. Baru pukul 04.00.
“Taemin aku tahu pasti ini ulahmu.uukkkhhh ukh.” Pasti karena meneriaki Taemin tadi suaraku langsung habis. Aku tidak mau berlama-lama, pergi ke dapur, mengambil minum, dan langsung kembali tidur. Baiklah Bae Suzy! Bangkitkan gerak cepatmu!
Berlari adalah pilihanku kali ini, aku masih mau tertidur sebentar di kasurku. Ayo cepat Suzy!! Tapi kecepatanku berkurang, bahkan menjadi berhenti. Sosok Soo Hyun tengah berdiri sambil membungkuk. Membetulkan tali sepatu. Pagi-pagi begini dia mau kemana?
“Memang apa yang kau lakukan selama di Amerika? Apa pagi-pagi buta seperti ini kau selalu keluar rumah tiap harinya?” Soo Hyun bangkit dan menatapku. Alisnya terangkat dan ia melemparkan sesuatu padaku.
“Suaramu jelek sekali, aku bisa mati mendengarnya. Kau lihatkan aku menggunakan pakaian olahraga? Aku ingin lari pagi. L-a-r-i P-a-g-i. 30 menit di pagi hari ku luangkan untuk olahraga jauh lebih baik daripada hanya bermalas-malasan di kamar. Aku pergi, temanku sudah menunggu.”
Ia kemudian berlalu, aku melirik sebuah tempat minum yang tadi ia lempar. Kalian tahu? Tempat minum ini membuat mulutku melebar bebrapa centi. Soo Hyun itu benar-benar konslet ku rasa. Usianya sudah tua, tapi kenapa menggunakan tempat minum bergambar seperti ini. Gambarnya juga tidak bagus. Aneh sekali, ku rasa dia menggambarnya sendiri. Gambar wajah seseorang, seperti badut. Dan dibawahnya terdapat tulisan “Semangat Muda” gyahahahaha aku mual, ingin muntah, juga mau terguling-guling. Ini tempat minum atau buku gambar anak tk? :p
***
Benar juga kata namja konyol itu, aku merasa tubuhku lebih hidup jika seperti ini. Hahhh, segar sekali ketika menghirup udara seperti ini. Sudah lama aku tidak olahraga di pagi hari. Ku uedarkan pandanganku. Benar-benar sepi, aku membentangkan kedua tanganku dan memutar-mutar tubuhku. Menikmati udara yang seperti milikku sendiri. Tidak ada orang lain, tidak ada asap kendaraan. Ini keren sekali!
Aku memberhentikan putaran tubuhku, kepalaku berdenyut memberikan peringatan bahwa jika aku meneruskan putaran ini, maka aku akan tergeletak di jalanan ini sekarang juga. Ku pegangi kepalaku dengan kedua tanganku. Mulutku rasanya ingin terus tertawa. Sensai udaranya menusuk rongga mulutku, dan itu juga terasa segar. Sekiranya kepalaku sudah tidak pusing, ku buka kedua kelopak mataku. Tapi aku merasa menyesal telah membukanya. Dan ingin segera menutup kembali.
Soo Hyun, jadi itukah teman yang ia bilang tadi? Teman yang menunggunya, seorang yeoja? Hanya seorang teman bagaimana bisa berpelukan semesra itu?
Aku tidak mau menyiksa mataku, bahkan hatiku dan juga jantungku yang tidak karuan lagi berdetaknya, menjadi sakit. Lebih baik aku berbalik, dan menyisakan pagi hari ini dengan berlari ke rumah.. Kini aku tahu kenapa sulit sekali membuat kisah romantis antara aku dan Soo Hyun. Itu karena.. kami memang tidak ditakdirkan bersama. Takdir yang ku kira selama ini selalu mengaitkan hidupku dengan Soo Hyun itu nyata, namun lenyap seketika rasa percayaku akan takdir itu. Takdir aku dan Soo Hyun. Hah, ternyata aku jauh lebih konyol dari pria itu.
Dan aku bukanlah Bae Suzy kalau harus memikirkan hal yang tadi aku lihat terus-menerus. Inilah sisi dimana aku terlihat mirip seperti Hyemi Dream High.
“Aku pulang.”
Suara itu terdengar, aku tidak tahu. Tapi aku benar-benar malas mendengar suaranya. Rasanya ingin mendengarkan musik sekeras-kerasnya saja.
“Orang rumah, apa belum bangun? Hahm sepertinya aku harus memasang alarm ayam di setiap kamar di rumah ini.” Apa dia bilang?!! Jadi alarm itu dia yang memasang. Baiklah dalam keadaan hati yang normal aku pasti akan menginjak-injak kakinya yang selalu melangkah seenakknya.
Aku meneruskan tanganku untuk membersihkan pohon dengan kemoceng. Soo Hyun-ah aku tahu kau menghampiriku, hawamu itu terlalu kuat untuk aku rasakan.
Ia menegapkan tubuhku, meraih kedua bahuku dan kemudian slaah satu telapak tangannya bertengger di dahiku. Mataku menatap apa saja yang bisa membuang mukaku. Menatap apa saja, asalkan tidak dengan wajah pria ini!!
“Hyung, kau benar akan kembali ke Amerika nanti sore?”
Apa? Taemin, kau bicara apa?
Aku membiarkan mataku menatap Soo Hyun kali ini, ia juga mnatapku tapi sedikit menunduk.
“Kau pucat sekali, Suzy-ah istirahatlah.”
***
“Aku suka sekali warna merah”
“Gertakkan gigimu, aku yakin rasa sakitnya akan hilang. Dan senyummu pasti jauh lebih manis lagi.”
“Lollipop itu manis, jika tidak ada kau, aku pasti memakan permen ini. Bintik-bintik di permukaanya seperti wajahmu yang suka memerah sendiri itu.”
“Bangunkan aku dengan suara ayam, aku pasti akan langsung bangun. Bagaimana denganmu? Kau mau aku membangunkanmu dengan apa?”
“Susu coklat dengan susu putih itu kalau digabungkan pasti enak. Suzy, kalau begitu jika kita digabungkan apa akan seenak susu putih dan coklat itu ya? Suatu saat nanti kau buatkan aku susu putih ya! Aku juga akan membuatakna susu coklat. Tapi tidak usah manis-manis ya, aku tidak suka.”
“Appa bilang, gambar orang yang kau sukai. Kemudian berikan kata-kata bagus. Lalu berikan pada orang itu. Aku juga akan melakukan itu. Kau akan melakukan apa jika kau menyukai seseorang?”
“Jangan pergi… kumohon. Jangan lagi.”
Soo Hyun POV
“Andwae!”
Suzy, aku baru pertama kali melihatnya seperti ini. Dia kenapa? Suzy bangunlah, demammu sudah turun. Sebentar lagi aku kan pergi, biarkan aku melihat wajah kesalmu seperti biasa. Kumohon, bangunlah.
“Suzy-ah, gwenchana?”
“Suzy-ah, Bae Suzy.. bangunlah. Kau tak apa ‘kan?”
Akhirnya ia mengerjap-ngerjapkan matanya. Syukurlah..
DEG
Tiba-tiba ia memelukku. Aku, aku.. Suzy, tubuhku menjadi kaku. Aku ingin pergi kau jangan seperti ini, aku mana bisa meninggalkan gadis manisku kalau begini caranya.
“Aku ingin ikut ke Amerika”
****
Aku menggandeng tangan Suzy sedari tadi, sampai kami tiba di bandara. Biarlah, aku memberi kesan yang tidak bisa ia lupakan dengan mudahnya. Aku merasa bersalah karena pagi tadi, ia harus melihatku berpelukan dengan sahabatku. Aku terlalu bingung harus seperti apa padamu Suzy-ah, tadinya aku lebih baik menjauh darimu. Aku takut justru aku tidak rela jika kau pergi dariku. Aku malas berurusan dengan perasaan khawatir yang menggantung perasaanku begitu saja karena jarak kita yang akan jauh. Tapi syukurlah, entah tadi ia bermimpi apa, Suzy jadi meninggalkan kalimat mani untukku. Kalian ingin tahu? Hahaha itu rahasia.
“Aboeji..”
“ABOEJI?” teriak Taemin begitu aku memanggil ayahnya dengan sebutan itu.
“Jangan terlalu memanjakan Suzy, dia itu sudah besar….”
“Memanjakan dia akan membuatnya bertingkah diluar kendalinya sendiri.. Hah, bahkan aku hafal kau terus mengatakan seperti itu pada appa. Kau pikir kau itu siapa memerintah appa seenaknya?”
Gadis ini… aku perlu memberinya kejutan. Aku mengait lengannya dan beranjak menjauh dari ayah dan juga adiknya.
“Aku tidak akan pernah berpacaran pada siapapun itu. Kau bisa menagih ucapanku nanti, setelah 5 tahun mulai dari hari ini.”
Suzy menaikkan kedua alisnya. Lucu sekali. Ku usap rambutnya pelan, ku kecup pipinya.
“Kau pandai menulis. Asah terus kemampuanmu itu. Saranghae”
THE END
ANNYEONG!
lama gak ngepost di FFINDO hehe. udah lama juga aku ga melayani request cover FF. tapi kalau ada yg mau bisa ke FB ku langsung, aku udah males buka wp ku yg chouseblue.wordpress.com . ini fb ku Fika Yulianti Fasha
apa kabar semuanya?
ini ff udah lumayan lama, waktu itu buat lomba tapi gak menang kekeke XD
oke deh dari pada kelamaan, yuk komentarnya ku tunggu



