<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>FFindo</title>
	<atom:link href="http://ffindo.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ffindo.wordpress.com</link>
	<description>FanFic For Friends</description>
	<lastBuildDate>Fri, 27 Jan 2012 18:49:45 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='ffindo.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>FFindo</title>
		<link>http://ffindo.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://ffindo.wordpress.com/osd.xml" title="FFindo" />
	<atom:link rel='hub' href='http://ffindo.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>The Conspiracy &#8211; Chapter 2: Infelicity</title>
		<link>http://ffindo.wordpress.com/2012/01/27/the-conspiracy-chapter-2-infelicity/</link>
		<comments>http://ffindo.wordpress.com/2012/01/27/the-conspiracy-chapter-2-infelicity/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Jan 2012 16:13:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mmmpeb</dc:creator>
				<category><![CDATA[mmmpeb]]></category>
		<category><![CDATA[Choi Minho]]></category>
		<category><![CDATA[Cn Blue]]></category>
		<category><![CDATA[Jung Yonghwa]]></category>
		<category><![CDATA[key]]></category>
		<category><![CDATA[kim jonghyun]]></category>
		<category><![CDATA[Lee Jinki]]></category>
		<category><![CDATA[lee jungshin]]></category>
		<category><![CDATA[Lee Taemin]]></category>
		<category><![CDATA[onew]]></category>
		<category><![CDATA[Park Jiyeon]]></category>
		<category><![CDATA[Shim Changmin]]></category>
		<category><![CDATA[SHINEE]]></category>
		<category><![CDATA[T-ARA]]></category>
		<category><![CDATA[TVXQ]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ffindo.wordpress.com/?p=49671</guid>
		<description><![CDATA[Author: mmmpeb Rating: PG16 Genre: complicated Length: chaptered Cast: Lee Jinki SHINee Kim Jonghyun SHINee Shim Changmin TVXQ Park Jiyeon T-Ara Choi Minho SHINee Other cast: Jung Yonghwa CNBLUE Kim Kibum / Key SHINee Lee Taemin SHINee Lee Jungshin CNBLUE &#8230; <a href="http://ffindo.wordpress.com/2012/01/27/the-conspiracy-chapter-2-infelicity/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ffindo.wordpress.com&amp;blog=9871143&amp;post=49671&amp;subd=ffindo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ffindo.files.wordpress.com/2011/12/62.jpg"><img class="aligncenter" title="62" src="http://ffindo.files.wordpress.com/2011/12/62.jpg?w=584" alt="" /></a></p>
<p>Author: mmmpeb</p>
<p>Rating: PG16</p>
<p>Genre: complicated</p>
<p>Length: chaptered</p>
<p>Cast:</p>
<ul>
<li>Lee Jinki SHINee</li>
<li>Kim Jonghyun SHINee</li>
<li>Shim Changmin TVXQ</li>
<li>Park Jiyeon T-Ara</li>
<li>Choi Minho SHINee</li>
</ul>
<div>Other cast:</div>
<div>
<ul>
<li>Jung Yonghwa CNBLUE</li>
<li>Kim Kibum / Key SHINee</li>
<li>Lee Taemin SHINee</li>
<li>Lee Jungshin CNBLUE</li>
</ul>
</div>
<p>Disclaimer: Murder At 1600 with many editings</p>
<p>Summary:</p>
<p><em>Seorang detektif muda dari kepolisian pusat Korea Selatan dengan kemampuannya tidak bisa dipandang sebelah mata, Lee Jinki (25 tahun), mencium kejanggalan atas kematian salah seorang sekretaris presiden bernama Han Hyunah (24 tahun) yang terjadi satu minggu yang lalu. Kecurigaannya bermula pada saat ia menemukan sebuah foto yang menampakkan anak semata wayang presiden sekaligus sahabatnya sendiri, Choi Minho (23 tahun), bersama dengan sang korban di hari yang sama, detik-detik menjelang kematian Hyunah. Kecurigaannya bertambah saat ia mendapati Minho sedang berinteraksi diam-diam dengan seorang pembunuh bayaran</em></p>
<p>Prev: <a href="http://ffindo.wordpress.com/2011/12/03/the-conspiracy-teaser/" target="_blank">teaser</a> | <a href="http://ffindo.wordpress.com/2012/01/12/the-conspiracy-chapter-1-minho/" target="_blank">Minho?</a></p>
<p>*******************************************************</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Author pov</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Hingga pagi menjelang, Jinki belum bisa memejamkan matanya. Pikirannya kembali dibayang-bayangi oleh kasus yang sedang ditanganinya. Banyak kejanggalan yang ia rasakan. Dan anehnya selalu ada bukti yang bisa mematahkan rasa janggalnya itu.</p>
<p>Jinki menyingkirkan kaki Taemin yang bersarang di atas perutnya. Kemudian ia bangkit dari tidur bergegas ke dapur. Hanya sekedar membasahi tenggorokan.<span id="more-49671"></span></p>
<p>Ia berhenti sebentar di depan kamar Taemin. Menerka-nerka sedang apa orang asing itu di dalam sana. Tidur kah atau mungkin sedang merencanakan sesuatu? Namun tenggorokannya sungguh terasa kering, karena itulah ia segera pergi menuju dapur.</p>
<p>Setelah membasahi tenggorokannya dengan segalas air dingin, Jinki kembali ke kamar. Tepat saat ia membuka pintu kamarnya, telepon berdering. Mau tidak mau ia kembali menutup pintu dan bergegas menuju telepon yang terletak di dekat sofa.</p>
<p>“Yobosseyo?” katanya dengan suara pelan. Ia sengaja menyenderkan kepalanya begitu ia duduk di sofa.</p>
<p>“<em>Jinki-ya! Nyalakan televisimu. Channel B!”</em></p>
<p>“Mwo?”</p>
<p>“<em>Cepat!”</em></p>
<p>Jinki bahkan belum sempat bertanya siapa walaupun samar-samar ia mengenal suara itu. Diraihnya remot televisi di atas meja dan dinyalakannya televisi. Dengan segera ia menekan tombol nomor 3, acara hiburan pagipun terganti dengan sebuah acara berita pagi.</p>
<p>&#8230; <em>sudah terkumpulnya bukti-bukti yang kuat. Han Baekim ditangkap di kediamannya yang terletak di wilayah Seocho sekitar pukul dua pagi tadi dan ia ditangkap tanpa adanya perlawanan. Selanjutnya ia akan menjalani sidang&#8230;</em></p>
<p>Mulut Jinki melebar di saat telinganya masih menempel pada telepon sedangkan matanya tidak lepas memandangi televisi.</p>
<p>“<em>YA, PABO!”</em></p>
<p>Lamunannya buyar saat seseorang di seberang telepon sana berteriak.</p>
<p>“Kau tahu ini, Yong?”</p>
<p>“<em>Aku justru mengetahuinya gara-gara melihat berita itu. Cepat ke markas.”</em></p>
<p>“Aku akan ada di sana satu jam lagi!”</p>
<p>Jinki kembali meletakkan gagang telepon dengan asal ke tempat semula. Tanpa mematikan televisi, ia bangkit berdiri dan dengan langkah cepat ia berjalan ke kamarnya. Namun, ia dikejutkan oleh sosok Jonghyun yang sudah berdiri di ambang pintu kamar Taemin.</p>
<p>“<em>Something wrong?”</em></p>
<p>“Akan aku jelaskan nanti.”</p>
<p>Jinki berusaha menghiraukan orang asing itu. Ia sudah harus berada di tempat kerjanya dalam satu jam.</p>
<p>“Tidakkah kau merasa ada yang aneh dalam kasusmu?”</p>
<p>Langkah Jinki terhenti di ambang pintu kamarnya. Ia menoleh pada Jonghyun yang menyeringai padanya.</p>
<p>“Kau bukannya ikut menangani kasus itu? Kenapa kau tidak tahu apa-apa? <em>At least, </em>kau tahu kapan pihak kepolisian akan mengumumkan si pelaku melalui media. Aku tebak, kau tidak tahu itu, kan? Yah, kecuali kalau teman-teman polisimu itu tidak ingin memberitahumu. Hoamm! Aku masih mengantuk!”</p>
<p>BLAM!</p>
<p>Pintu kamar Taemin tertutup dan Jonghyunpun lenyap dari pandangannya. Jinki hanya berdiri mematung seraya memikirkan perkataan Jonghyun barusan.</p>
<p>Ia ikut menangani kasus itu tapi mengapa berita itu disiarkan tanpa sepengetahuannya?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>-</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>BRAK!</p>
<p>Jinki menggebrak meja di depannya dengan kasar. Jiyeon yang berdiri di belakang Changmin sontak terkejut. Tidak ada bedanya dengan Yonghwa dan salah seorang petugas ahli forensik bernama Lee Jungshin. Hanya Changmin yang berdiri dengan tenangnya, tetap dengan posisi tegak.</p>
<p>“Kenapa membuat keputusan seenaknya? Bukti belum cukup kuat! Ah, oke! Kancing itu bisa jadi alibi yang tepat. Tapi kenapa hanya dengan kancing seragam <em>cleaning service </em>bisa membuat berita bohong itu?”</p>
<p>“Berita itu tidak bohong. Masih ada pisau. Polisi menemukan pisau yang digunakan untuk membunuh Hyunah di laci nakas kamar Baekim. Masih ada noda darah di pisau itu. Sudah diselidiki dan hasilnya positif darah milih Hyunah. Sidik jari di gagang pisaupun pas dengan sidik jari milik Baekim. Kau bilang belum cukup kuat?”</p>
<p>“Mwo?”</p>
<p>Jinki dibuat terkejut oleh penjelasan Changmin. Pasalnya, ia sama sekali tidak tahu-menahu mengenai pisau itu karena anak buahnya sama sekali belum memberinya kabar mengenai kelanjutan kasus. Ia sungguh baru mendengarnya dari mulut Changmin sendiri.</p>
<p>“Kau bilang pisau?” tanya Jinki sekali lagi dan Changminpun mengangguk dengan angkuh. “Kenapa aku tidak diberitahu?”</p>
<p>“Aku sengaja memerintahkan anak buahmu untuk tidak memberitahumu. Kau tahu? Kau itu hanya akan memperlambat jalannya kasus ini. Dan aku jauh-jauh ke sini ingin mengatakan kasus sudah ditutup. Kau tidak perlu bersusah payah menyelidikinya lagi.”</p>
<p>Changmin hendak meninggalkan ruangan milik Jinki. Namun langkahnya terhenti dan berkata sesuatu saat melewatinya. “Aku heran! Kenapa Pak Sanghyun memilih amatiran sepertimu?” Dan setelah mengatakan itu, Changmin kembali berjalan meninggalkan ruangan itu, diikuti Jiyeon yang berjalan mengekornya.</p>
<p>Jinki tidak bisa menerima mendapat perlakuan remeh dari Changmin. Tapi mau bagaimanapun, ia harus bisa menahan diri. Ia bukan tipe orang yang mudah kelepasan begitu saja.</p>
<p>Jungshin yang sejak tadi diam menyaksikan kini membungkuk pada Jinki dan Yonghwa. Raut wajahnya sedikit bimbang dan itulah yang membuat Jinki mencegahnya pergi. Jungshin tidak berani menatap mata Jinki saat tubuhnya terhalangi.</p>
<p>“Aku belum mempersilahkanmu pergi!” kata Jinki.</p>
<p>“Kalau begitu tolong persilahkan aku untuk pergi. Masih ada yang harus kuperiksa.”</p>
<p>Jungshin masih tidak berani menatap wajah Jinki dan justru membuat Jinki berspekulasi ada yang disembunyikan oleh Jungshin.</p>
<p>“Katakan padaku yang sebenarnya!”</p>
<p>“Tidak ada!”</p>
<p>“Ada! Mulutmu bilang tidak, matamu bilang ada. Tatap mataku!”</p>
<p>Mau tidak mau Jungshin menatap Jinki. Tertangkap sorotan tegas dari mata sipit namja itu. Jungshin menyerah. Ia memang tidak begitu mengenal Lee Jinki, tapi ia pernah mendengar jika Jinki adalah orang yang paling tidak bisa dibohongi. Karena itulah ia memilih menyerah.</p>
<p>Jungshin menghela nafasnya sebelum ia bercerita tentang sesungguhnya.</p>
<p>“Yang dikatakan Shim Changmin 75% benar.”</p>
<p>“Lalu ke mana 25% lagi?” kali ini Yonghwa membuka suara. Ia jadi ikut penasaran.</p>
<p>“Aku menemukan cairan sperma pada pakaian dalam korban dan&#8230;”</p>
<p>Jinki dan Yonghwa menahan nafas mereka menunggu Jungshin yang menggantungkan pembicaraannya.</p>
<p>“&#8230;dan diduga pada hari di mana korban ditemukan, sang korban sehabis berhubungan badan dengan putra presiden.”</p>
<p>“MINHO?” pekik Yonghwa dan Jinki. Jungshinpun mengangguk membenarkan jawaban keduanya.</p>
<p>“Aku tidak tahu ini benar apa tidak. Aku mendengarnya samar-samar saat Changmin sedang berbicara di telepon dan mengungkit keberadaan korban dengan Choi Minho. Tapi ada kecocokan antara cairan sperma itu dengan data urine milik Minho yang aku minta dari pihak rumah sakit. Terus terang, aku belum mengatakan ini pada siapapun, makanya aku baru menduga.”</p>
<p>“<em>Oh-my-God!” </em>seru Jinki tanpa bersuara.</p>
<p>Telepon tiba-tiba berdering. Yonghwa yang mengerti situasipun mengangkat telepon tersebut tanpa dipinta Jinki.</p>
<p>“Ya?”</p>
<p>“<em>Who’s this?”</em></p>
<p>“Jung Yonghwa.”</p>
<p>“<em>Oh, hyungnim! Annyeong! Aku ada perlu pada Jinki hyung, bisa berikan teleponnya padanya? Ini penting?”</em></p>
<p>Yonghwa menatap sekilas pada Jinki yang sejak tadi juga menatapnya. Diberikannya gagang telepon itu pada Jinki.</p>
<p>“Halo?”</p>
<p>“<em>Hyung! I’ve got it!”</em></p>
<p>“Jeongmal? Ke ruanganku sekarang.”</p>
<p>TOK TOK TOK</p>
<p>“<em>May i come in?”</em></p>
<p>“Kau sudah di depan? Tunggulah sebentar!”</p>
<p>Jinki meletakkan kembali teleponnya ke tempat semula.</p>
<p>“Jungshin-ssi, apa ada lagi yang ingin kau katakan?”</p>
<p>“Tidak ada!”</p>
<p>Lama Jinki terdiam dan akhirnya ia kembali bicara.</p>
<p>“Baiklah! Kau boleh pergi!”</p>
<p>Jungshin membungkuk sekilas pada Jinki dan Yonghwa, kemudian pergi meninggalkan ruangan Jinki. Tepat saat Jungshin menghilang, Key datang.</p>
<p>“Apa yang kau temukan?” tanya Jinki begitu Key sudah mendudukkan dirinya di kursi.</p>
<p>“Setelah aku cek, pemilik tangan itu benar Minho. Guratan dan tekstur kulit tangan antara kedua foto itu cocok. Yang artinya si pemilik tangan itu adalah orang yang sama.”</p>
<p>Astaga! Pikiran Jinki kali ini benar-benar jengah. Sejak kemarin ia berusaha menangkis asumsi negatif itu, tapi justru semua informasi yang ia dapatkan mengarah pada sahabatnya itu.</p>
<p>Ia kembali teringat percakapannya kemarin dengan seseorang yang bekerja di dalam kediaman presiden. Orang itu mengatakan Hyunah ikut ke Jeju bersama Minho, ia melihat sendiri Hyunah masuk ke dalam mobil Minho dan kemudian kembali ke kediaman presiden pada malam hari seorang diri. Sangat berbeda dengan yang Changmin katakan padanya kalau Hyunah berada di rumahnya sendiri saat keluarga presiden pergi ke Jeju dan kembali ke kediaman presiden pada sore hari.</p>
<p>Benarkah Minho pelakunya?</p>
<p>Hanya pertanyaan itu yang berputar diotaknya kini.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Jinki pov</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Hari ini Taemin memutuskan untuk sementara tinggal bersama umma dan appa walaupun mulai besok otomatis ia harus bangun lebih pagi agar tidak terlambat ke sekolah. Itulah alasan kenapa ia tinggal di apartemenku. Baru saja ia pergi lima belas menit yang lalu dengan kopernya. Ia membuat keputusan mendadak. Selain karena risih ada orang asing di rumahku, ia rindu sekali dengan orang tua kami. Ah, aku juga merindukan mereka.</p>
<p>Sebenarnya sifatku dan Taemin tidak jauh berbeda. Aku juga risih kalau ada orang asing tinggal di rumahku. Tapi entahlah, naluriku mengatakan Kim Jonghyun ini akan berguna. Yah, naluri yang kumiliki 99% tidak mudah untuk diragukan.</p>
<p>Manusia bernama Kim Jonghyun itu kini duduk di dekatku. Diam merenung setelah mendengarkan penjelasan panjang lebarku tadi seputar kasusku. Semua kuceritakan padanya, termasuk kejanggalan yang aku rasakan.</p>
<p>“Yang jelas, ada tiga fokus yang harus kita perhatikan. Minho, Changmin dan Jiyeon.”</p>
<p>“Jiyeon?” tanyaku. Kenapa wanita angkuh itu dibawa-bawa?</p>
<p>“Dia menutupi sesuatu darimu.”</p>
<p>“Kau yakin?”</p>
<p>“Aku tidak bilang Jiyeon itu terlibat. Hanya saja kita harus memperhatikan dia juga. <em>Well, he tried to hide something from you. And guess what? </em>Aku merasa ini ada hubungannya dengan Changmin.”</p>
<p>Kalau masalah Changmin, aku sudah merasa janggal dengan dirinya. Aku paling pandai membaca gerak-gerik orang. Jelas sekali ada yang aneh dengan si Changmin itu.</p>
<p>Tapi Jiyeon? Entahlah! Dia wanita yang cantik. Tipe idelku memang selalu berubah-ubah. Kadang aku suka wanita yang lembut, tahu-tahu berubah jadi suka yang agak tegas. Tapi begitu bertemu dengan Park Jiyeon, seperti ada yang menghipnotis diriku begitu aku melihatnya. Rambut pendek kehitamannya, raut wajahnya yang angkuh, dan&#8230;</p>
<p>YA!! Kenapa aku jadi memikirkannya?</p>
<p>“Jinki, sebaiknya kau menghadiri pesta ini.”</p>
<p>Dia melemparku dengan sebuah kertas undangan. Tsk! Selain hanya memanggilku dengan namaku saja, dia juga menganggapku layaknya orang yang pantas dilempari sesuatu. Apa semua orang Amerika seenak dia begini? Aku jadi ingat kenapa appa melarangku kuliah di Chicago. Beliau takut <em>manner</em>-ku bakal sejongkok si Jonghyun ini.</p>
<p>“Jamuan makan malam?” tanyaku seraya membaca satu persatu kata di undangan tersebut. Ini undangan khusus kepresidenan. Bagaimana bisa ia mendapatkannya?</p>
<p>“<em>Open house </em>kepresidenan<em>! </em>Hanya orang-orang yang mendapat undangan itu yang bisa masuk. Kau saja yang ke sana nanti malam. Jiyeon dan Changmin pasti ada di sana.”</p>
<p>“Dari mana kau mendapatkannya?”</p>
<p>“Tidak sulit untuk seorang agen FBI seperti! Koneksiku banyak.”</p>
<p>Cih! Dia juga sombong!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>-</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Di sinilah aku sekarang. Di sebuah <em>ballroom </em>yang megah. Sungguh terlihat ekslusif, apalagi setelan resmi yang dikenakan para hadirin. Untungnya aku memiliki satu setelan <em>tuxedo.</em></p>
<p>Petugas di pintu depan sama sekali tidak mencurigaiku. Hanya meng-<em>scanning-</em>ku sebentar dari atas hingga bawah –yeah, aturan protokol- dan saat kuberikan kertas undangan dari Jonghyun, pria-pria kekar itu mengizinkanku masuk.</p>
<p>Banyak orang-orang penting yang hadir di sini. Tentu saja, ini kan jamuan kepresidenan.</p>
<p>Di antara ratusan orang yang hadir, mataku terus mencari sosok Jiyeon. Yeah, aku harus mengorek informasi darinya. Menurut penerkaan si Jonghyun, Jiyeon adalah tipe orang yang sulit untuk memendam rahasia yang tidak ingin ia jaga. Tebakan Jonghyun, Changmin memerintahkan Jiyeon untuk bungkam. Dan tugasku di sini adalah membuka mulutnya itu.</p>
<p>Aku melihat Minho di dekat podium. Sedang bercanda gurau <em>a la </em>kelas atas dengan beberapa anak pejabat pemerintahan. Ia tertawa tanpa beban. Aku semakin bingung, benarkah Minho yang kukenal membunuh Hyunah? Kalau iya, apa motifnya? Atau jangan-jangan Hyunah mengancam Minho akan membeberkan hubungan intim mereka?</p>
<p>Arrrg! Sekalipun aku sahabat Minho, aku tidak bisa terlalu masuk ke dalam kehidupannya lagi sejak ayahnya diangkat menjadi presiden tiga tahun yang lalu. Bahkan ia tidak tahu aku ada di sini. Kami jarang berkomunikasi. Terus terang, kemarin itu adalah hari pertamaku mengunjungi rumah presiden. Bukan untuk bermain <em>playstation </em>dengan Minho, melainkan menangani kasus pembunuhan. Miris.</p>
<p>Untuk kali ini mari lupakan Minho! Fokusku ke sini adalah mencari nona Park yang&#8230;</p>
<p>Ah, itu dia!</p>
<p>“Jiyeon-ssi?”</p>
<p>Wanita berambut pendek itu menengok ke belakang dan mata kamipun bertemu. Ia terkejut. Tapi sepertinya aku yang lebih terkejut. Melihatnya seanggun ini membuatku takjub. Wanita cantik memang tidak harus memiliki rambut yang panjang.</p>
<p>“Sedang apa kau di sini?” tanyanya dengan pandangan tajam terarah padaku. Dia masih saja ketus padaku. Apa semua pegawai kepresidenan didoktrin untuk sinis pada orang asing? “Bagaimana kau bisa masuk ke sini?”</p>
<p>“Aku punya undangan.”</p>
<p>“Kau mencurinya dari mana?”</p>
<p>“Hahaha! Aku bisa mendapatkannya dari Minho sebanyak yang aku mau.”</p>
<p>Dengan predikatku sebagai  sahabat Minho, aku sebenarnya bisa saja masuk tanpa undangan. Aku tinggal menelpon Minho untuk menjemputku di pintu dan penjaga di depan pasti hanya diam melihatku masuk tanpa undangan. Tapi yeah, untuk saat ini tidak mungkin dilakukan. Untung saja aku cepat menemukan alasan ini. Sepertinya Jiyeon tidak tahu kalau aku mendapatkan undangan itu bukan dari Minho.</p>
<p>“Jiyeon-ssi?”</p>
<p>Dia diam.</p>
<p>“Apa aku harus memanggilmu Agen Park? Kasusnya sudah selesai, bukan? Tidak ada alasan lagi aku memanggilmu Agen Park lagi. Ingat kata-katamu wak-”</p>
<p>“Pergi dari sini, Jinki-ssi! Kau tidak bisa mengorek informasi apapun dariku lagi!” katanya pelan tanpa menatap mataku barang sedikitpun. Kau tahu, dia bicara seperti itu justru membuatku makin curiga. Aku yakin sekali ada yang ditutupi dari dia.</p>
<p>“Yakin?” kataku menyeringai padanya. Ia kembali memandangiku. Pandangannya ragu.</p>
<p>Jiyeon terdiam. Ia seperti ingin berbicara tapi sesuatu menginterupsinya. Matanya beralih ke arah yang lain dan akupun mengikuti ke mana matanya memandang.</p>
<p>Ah, si Changmin! Tidak jauh dari posisi kami. Dia berdiri bersenderkan penyangga gedung sambil mengamati kami berdua dengan mata sipitnya.</p>
<p>“Pergi sekarang Lee Jinki! Atau jangan salahkan aku kalau kau mendapat malu di sini!”</p>
<p>“Oke, oke!” kataku menyerah. Aku melangkah mundur dengan perlahan dan tersenyum padanya. “Kita akan bicara lain waktu. Berdua!”</p>
<p>Ia membuang muka begitu aku mengedipkan sebelah mataku padanya.</p>
<p>Manis sekali.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>-</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>BLAM!</p>
<p>Aku langsung membuka jas hitamku dan meletakkannya di senderan sofa. Sudah ada Jonghyun duduk di sana sambil menyaksikan acara kartun dengan sebuah laptop di pangkuannya. Akupun mengambil posisi di sampingnya.</p>
<p>Segera kulepas dasi kupu-kupu pemberian Jonghyun dan kusembunyikan ke dalam kantung jas. Tahu-tahu layar laptop di pangkuan Jonghyun berubah gelap. Eh?</p>
<p>Tadi mataku menangkap siluet rumahku di layar laptopnya dan tiba-tiba menghilang. Atau&#8230;</p>
<p>Dengan cepat kuambil kembali dasi dari dalam saku.</p>
<p>“<em>Oh, shit! </em>Kau tidak bilang padaku kalau ada kamera di dasiku?” umpatku padanya. Dia hanya tersenyum padaku.</p>
<p>“Aku takut kau mengacaukannya. Makanya aku tidak bilang-bilang!”</p>
<p>“Sial!”</p>
<p>Si Kim Jonghyun ini hanya tertawa di saat aku menahan kekesalanku.</p>
<p>“Tapi melihat gerak-gerik Jiyeon, aku yakin sebenarnya ada sesuatu yang berusaha ia ingin katakan padamu tapi seperti ada yang menekannya untuk bungkam.”</p>
<p>“Changmin!” tebakku.</p>
<p>“Tepat! Lihat dia tadi begitu ia melihat Changmin?”</p>
<p>“Maksudmu Changmin menekan Jiyeon?”</p>
<p>“Begitulah!”</p>
<p>Ternyata si Jonghyun ini satu pemikiran denganku. Aku juga merasa aneh dengan Jiyeon. Dan ternyata bukan aku saja yang merasa begitu.</p>
<p>“Ngomong-ngomong sudah berapa wanita yang berhasil kau taklukan sejauh ini?”</p>
<p>Aku mendelik padanya.</p>
<p>“Kau bicara kaku sekali pada seorang wanita. Santai saja! Atau perlu aku gantikan posisi temanmu untuk mencarikanmu seorang jodoh? Siapa nama temanmu itu? Yonghwa? Tadi dia ke sini sebentar dan akhirnya kami ngobrol.”</p>
<p>YONGHWA SIALAN!!!!</p>
<p>Beraninya dia menceritakan masalah pribadiku pada orang asing ini!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center">***</p>
<p align="center">
<p align="center">
<p>Aku mendengar suara grasak-grusuk dari luar kamar. Jonghyunkah? Mwolla! Tapi apa yang dia lakukan di pagi-pagi buta begini? Suaranya seperti debaman kursi.</p>
<p>Dengan perlahan aku bangkit dari tempat tidur. Kubuka pintu kamarku tanpa menimbulkan suara decitan dan dari celah pintu aku melihat orang asing sedang mengotak-atik isi vas kaca yang umma belikan untukku dua tahun yang lalu.</p>
<p>“YA!”</p>
<p>Orang itu spontan pergi begitu aku berteriak. Tapi untunglah Jonghyun yang tiba-tiba muncul segera menangkapnya. Sempat terjadi baku hantam diantara mereka. Namun, belum sempat aku membantu, orang asing itu berhasil menjatuhkan Jonghyun dan iapun berhasil kabur.</p>
<p>“<em>DAMMIT!” </em>umpat Jonghyun.</p>
<p>Aku membantunya berdiri. Ia tampak kesakitan dengan wajahnya. Lebam.</p>
<p>“Aku akan mengambil es batu,” kataku.</p>
<p>“Tidak, tidak! Kau angkat saja telepon itu!”</p>
<p>Telepon? Tidak ada suara telepon berdering.</p>
<p>“Itu!” katanya seraya mengendikkan dagunya ke arah vas. Ada ponsel yang terjatuh di dekat sana, sepertinya milik orang asing tadi. Layarnya berkedap-kedip. Aku mengambilnya dan melihat sebuah nama yang muncul di layar ponsel asing tersebut. Baru saja aku mau mengangkatnya, tiba-tiba sudah mati.</p>
<p>Shim Changmin? Kenapa nama itu yang muncul?</p>
<p>Begitu menyadari sesuatu, aku langsung mengangkat vas kaca itu. Kubalikkan vas itu dan sebuah benda berbentuk kotak kecil keluar dari dalam sana.</p>
<p>“Sepertinya selama ini ada yang mendengar percakapan kita diam-diam,” kata Jonghyun.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>-</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“PANGGILKAN SHIM CHANGMIN SEKARANG JUGA!” teriakku.</p>
<p>Para petugas berseragam safari tetap mencegahku masuk ke dalam kediaman presiden. Oke, aku memang terlihat seperti orang gila. Masuk menerobos tanpa mau diperiksa dan tahu-tahu aku teriak-teriak di depan gerbang kediaman presiden seperti orang demo.</p>
<p>“Ada apa ribut-ribut?”</p>
<p>Orang itu akhirnya datang. Dengan langkah angkuh dia mendatangiku. Para penjagapun melepas pegangan mereka.</p>
<p>“Biarkan aku bicara berdua dengannya!”</p>
<p>Mereka semua menurut. Membungkuk sekilas pada Changmin dan pergi meninggalkan kami berdua di depan gerbang.</p>
<p>“Ada yang bisa aku bantu lagi? Aku sudah mengatakan kasus sudah selesai!” kata Changmin dingin. Ia berdiri tegak dengan sebelah tangan masuk ke dalam kantung celana.</p>
<p>“Untuk apa kau menaruh perekam di rumahku?”</p>
<p>“Ah, kau sudah menyadarinya rupanya? <em>Well, </em>aku hanya penasaran apa kau masih saja rewel. Dan dugaanku terbukti. Kau bahkan mendatangi seseorang dari FBI. Kenapa kau sebegitu penasarannya dengan kasus ini?”</p>
<p>“Justru aku yang harusnya bertanya kenapa! Kenapa kau menutupi kenyataan yang seharusnya terungkap. Kenapa kau menjadikan Baekim yang tidak bersalah sebagai kambing hitam?”</p>
<p>“Kau memiliki bukti Baekim tidak bersalah?”</p>
<p>“Aku-“</p>
<p>“Tidak, kan? Aku memiliki bukti yang memberatkannya. Untuk itu lebih baik kau berhenti bertingkah sebelum kau mendapatkan masalah!”</p>
<p>Changmin memandangku tajam. Seolah melalui matanya ia berkata ‘<em>Kau akan mati ditanganku nanti!’</em> Sial! Belum selesai aku bicara, dia pergi meninggalkanku. Aku ingin mengejarnya tapi para penjaga itu kembali menghadangku.</p>
<p>Aku memang belum memiliki bukti yang sebenarnya. Tapi aku akan memilikinya. Tunggu saja, Shim Changmin!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>-</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sehabis menemui Changmin –sialan- itu, aku bergegas menuju tahanan di kantor pusat. Aku ingin mendengar sendiri Baekim yang bicara.</p>
<p>Dan sekarang dia ada di depanku. Seorang polisi yang baru saja mengawalnyapun pergi meninggalkan kami berdua di ruangan interogasi. <em>Well, </em>jabatanku yang cukup menjanjikan membuatku bisa mendapatkan privasi.</p>
<p>“Anda siapa?” tanyanya dengan memandangku sarkastik.</p>
<p>“Aku Lee Jinki! Aku yang menangani kasus pembunuhan nona Han Hyunah.”</p>
<p>“Oh! Untuk apa lagi kau bicara padaku? Aku bersalah dan aku mengakuinya.”</p>
<p>“Tidak! Tolong katakan padaku yang sejujurnya!”</p>
<p>“Aku sudah berkata yang sejujurnya! Aku yang membunuhnya.”</p>
<p>“Tidak! Dan kau menutupi sesuatu!”</p>
<p>“TOLONG JANGAN MEMPERSULITKU, TUAN! KELUARGAKU TERANCAM!”</p>
<p>Terancam?</p>
<p>“Maksudmu?”</p>
<p>“ARRRRRRRG!”</p>
<p>Baekim tiba-tiba mengamuk. Ia mengakat meja dan menimbulkan suara yang keras. Seorang polisipun masuk dan kembali memborgol tangan Baekim.</p>
<p>“JANGAN PERNAH MENEMUIKU LAGI!” teriaknya sebelum menghilang dari hadapanku.</p>
<p>Dia seperti orang gila. Tidak! Ia sengaja menghindar dariku. Ia sengaja membuat kegaduhan agar polisi kembali menyeretnya ke sel.</p>
<p>Baekim menyembunyikan sesuatu.</p>
<p>Keluarganya yang terancam?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>-</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Matahari berangsur bergerak ke arah barat. Langit sore berubah menjadi <em>orange </em>begitu cepat. Haaah! Aku merasa beberapa hari ini berjalan dengan cepat. Baru kali ini perhatianku benar-benar teralih pada satu pusat.</p>
<p>Jalanan sore ini tidak begitu ramai, tapi tidak sepi juga. Oleh karena itu kukendarai mobilku dengan kecepatan standar.</p>
<p>Ponselku berdering. Kupasang <em>headset </em>ke telinga kananku dan menekan tombol penjawab.</p>
<p>“Yobosseyo?”</p>
<p>“<em>Lee Jinki? Sudah kau ambil berkas-berkas yang kupinta tadi?”</em></p>
<p>Oh, dari Kim Sanghyun, atasanku.</p>
<p>“Sudah, Pak! Sekarang aku sedang dalam perjalanan kembali ke kantor. Dua puluh menit lagi.”</p>
<p>“<em>Cepat!”</em></p>
<p>“Baik!”</p>
<p>Saat aku masih berada ke tahanan pusat, Kim Sanghyun memintaku mengambil berkas-berkas di bagian administrasi tahanan pusat. Kebetulan sekali aku ada di sana tadi.</p>
<p>Terus terang, aku merasa ada orang dalam yang terlibat dalam kasus ini. Semua terasa janggal. Seperti merasa ada konspirasi di dalamnya.</p>
<p>Haaaah!</p>
<p>Biasanya kalau banyak pikiran seperti ini, aku akan membuka jendela mobilku, mematikan pendingin dan merokok. Tapi sejak Yonghwa menikah empat bulan yang lalu, ia melarangku untuk merokok. Haha, guru merokokku menyuruhku berhenti merokok. Itu karena istrinya tidak ingin Yonghwa menjadi perokok sampai mati dan akupun ikut keseret-seret.</p>
<p>Dulu, aku memang seorang perokok. Tidak terlalu aktif sih, setidaknya sehari satu batang. Aku masih cinta kesehatan. Aku mulai biasa merokok sejak mengenal Jung Yonghwa itu, semenjak kami menjadi teman sekelas sewaktu masuk universitas. Ayahnya perokok yang sangat aktif, tidak salah kalau menurun ke anaknya dan ikut menurun pula ke teman anaknya.</p>
<p>Tapi sungguh, sekarang ini aku ingin sekali merokok, tidak tahu kenapa. Karena itulah aku menepikan mobilku di depan mini market. Baru saja aku mengeluarkan kakiku dari mobil, aku dikejutkan oleh sosok namja bertubuh tinggi yang berlari menghindari kejaran tiga orang pria.</p>
<p>Minho? Kenapa dia dikejar-kejar begitu? Ke mana pengawal yang selalu mengikutinya? Atau yang tadi itu pengawal-pengawalnya?</p>
<p>Akhirnya kuurungkan niatku ke mini market. Minho lebih menarik perhatianku ketimbang sebatang rokok.</p>
<p>Mereka berbelok, akupun ikut berbelok. Tapi nyatanya Minho salah mengambil jalan. Ia tidak bisa ke mana-mana lagi karena jalanan buntu.</p>
<p>Aku bersembunyi di balik bilik. Mengintip mereka yang berjarak sekitar lima puluh meter dariku. Sial! Aku tidak bisa mendengar percakapan mereka sama sekali. Hanya kata ‘bunuh’ ‘Hyunah’ dan ‘bayar’ saja yang dapat aku tangkap dari teriakan mereka.</p>
<p>Tunggu!</p>
<p><em>Oh my God!</em></p>
<p>Minho tidak menyuruh orang-orang itu untuk membunuh Hyunah, kan?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>-TBC-</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Ada yang bilang bahasanya keberatan. Maaf ya, kalo genrenya begini, susah buatku untuk bikin kata-kata yang mudah dimengerti #authorgagal.</strong></p>
<p><strong>Dianjurkan untuk membaca fanfiction ini dengan sebenar-benarnya (?). Maklumin lah, genre begini butuh mikir #sotoy. Inilah kenapa aku males baca conan xD</strong></p>
<p><strong>Menerima segala masukan ^^</strong></p>
<p><strong>Ngomong-ngomong Jiyeon di sini pas era  Cry Cry. Aku suka banget sama rambut pendeknya. sayang cuma wig.</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ffindo.wordpress.com/49671/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ffindo.wordpress.com/49671/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ffindo.wordpress.com/49671/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ffindo.wordpress.com/49671/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ffindo.wordpress.com/49671/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ffindo.wordpress.com/49671/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ffindo.wordpress.com/49671/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ffindo.wordpress.com/49671/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ffindo.wordpress.com/49671/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ffindo.wordpress.com/49671/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ffindo.wordpress.com/49671/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ffindo.wordpress.com/49671/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ffindo.wordpress.com/49671/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ffindo.wordpress.com/49671/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ffindo.wordpress.com&amp;blog=9871143&amp;post=49671&amp;subd=ffindo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ffindo.wordpress.com/2012/01/27/the-conspiracy-chapter-2-infelicity/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1c50ec71035cf8245b8ae2c9caee1f26?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ffcnblue</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ffindo.files.wordpress.com/2011/12/62.jpg?w=584" medium="image">
			<media:title type="html">62</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>HARD &#8211; Part 2</title>
		<link>http://ffindo.wordpress.com/2012/01/27/hard-part-2/</link>
		<comments>http://ffindo.wordpress.com/2012/01/27/hard-part-2/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Jan 2012 14:11:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Joonisa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Joonisa]]></category>
		<category><![CDATA[CNBLUE]]></category>
		<category><![CDATA[f(x)]]></category>
		<category><![CDATA[Krystal]]></category>
		<category><![CDATA[Miss A Suzy]]></category>
		<category><![CDATA[onew]]></category>
		<category><![CDATA[SHINEE]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ffindo.wordpress.com/?p=49651</guid>
		<description><![CDATA[ PROLOG &#8211; 1 Title :  HARD  [PART 2] Author : Joonisa Rating : PG 15 Genre             : Thriller, Action, Friendship,Romance, Angst,AU Length : Chaptered (Maybe 4 or 5 chapters) Cast    :           Kim Hye Ri (OC) / YOU Lee &#8230; <a href="http://ffindo.wordpress.com/2012/01/27/hard-part-2/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ffindo.wordpress.com&amp;blog=9871143&amp;post=49651&amp;subd=ffindo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><a href="http://ffindo.files.wordpress.com/2012/01/cnblue-1-copy2.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-49667" title="cnblue-1 copy" src="http://ffindo.files.wordpress.com/2012/01/cnblue-1-copy2.jpg?w=584&#038;h=454" alt="" width="584" height="454" /></a> <a href="http://ffindo.wordpress.com/2012/01/09/hard-prolog/comment-page-2/#comment-251353" target="_blank">PROLOG</a> &#8211; <a href="http://ffindo.wordpress.com/2012/01/11/hard-part-1/" target="_blank">1</a></p>
<p><strong>Title </strong>:  HARD  [PART 2]</p>
<p><strong>Author </strong>: Joonisa</p>
<p><strong>Rating </strong>: PG 15<strong></strong></p>
<p><strong>Genre             </strong>:<strong> </strong>Thriller, Action, Friendship,Romance, Angst,AU</p>
<p><strong>Length </strong>:<strong> </strong>Chaptered (Maybe 4 or 5 chapters)<strong></strong></p>
<p><strong>Cast    </strong>:<strong>           </strong></p>
<ul>
<li>Kim Hye Ri (OC) / YOU</li>
<li>Lee Jong Hyun (CN BLUE)</li>
<li>Kang Min Hyuk  (CN BLUE)</li>
<li>Jung Yong Hwa (CN BLUE)</li>
<li>Lee Jung Shin (CN BLUE)</li>
<li>Bae Su Ji / Suzy (Miss A)</li>
<li>Lee Jin Ki / Onew (SHINEE)</li>
<li>Jung Soo Jung / Krystal (Fx) &#8211; Cameo</li>
</ul>
<p><strong>Disclaimer  : The plot and the idea is mine. The cast is mine too *kidding* ^^. Got much influenced by JIU</strong></p>
<p><strong>Note    </strong>: Siapkan mental untuk membaca, karena penuh dengan adegan kekerasan .__.<span id="more-49651"></span></p>
<p>“Jung Shin, hentikan mobilnya..”</p>
<p>[CIIT!]</p>
<p>Jung Shin langsung menginjak rem setelah mendapat titah dari pria ber-hoodie hitam yang duduk di belakangnya. Jung Shin menatap ke jalan tanpa berkedip.</p>
<p>“Aku yang akan menjalankan rencana kedua dan membereskan semuanya. Kau langsung pulang ke rumah. Arasseo?”</p>
<p>Jung Shin mengangguk.</p>
<p>“Baik. Aku turun sekarang.”</p>
<p>Pria ber-hoodie hitam itu pun turun dari mobil dan mulai memicingkan matanya, menyesuaikan diri dengan cahaya temaram dari lampu jalan sambil melanjutkan langkahnya menuju ke arah mobil Suzy yang berasap.</p>
<p>Tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai ke tempat yang ia tuju, karena mobil Suzy hanya berjarak 50 meter dari tempat di mana ia turun dari mobil yang disupiri Jung Shin. Pria itu membuka pintu mobil di bagian kemudi, tempat di mana Suzy tergeletak tak sadarkan diri dengan darah yang mengucur dari dahinya. Ia terdiam sejenak menatap wajah Suzy, kemudian mengeluarkan sebilah pisau lipat berukuran cukup panjang dari saku jaketnya.</p>
<p>“Kau hanya akan menjadi penghalang bagiku untuk mendapatkan temanmu yang brilian itu, Bae Suzy.”</p>
<p>[ZREEKKKKK!]</p>
<p>Satu sayatan pisau lipat itu membelah perut Suzy. Darah segar mengucur deras tanpa bisa dicegah.</p>
<p>“Pergilah ke tempat yang lebih tenang. Aku akan membantumu menyusul Krystal.”</p>
<p>[ZREEEKKKK!!!!]</p>
<p>Satu sayatan lagi dari pria itu, kali ini membelah leher Suzy. Senyum tipis terukir di bibirnya begitu melihat semakin banyak darah yang keluar dari tubuh Suzy.</p>
<p>“Annyeong, Bae Suzy.”</p>
<p>[ZEKKKK!!!]</p>
<p>[ZEEEKKKKK!!]</p>
<p><em>=============== </em></p>
<p><strong>@Seoul Hospital</strong></p>
<p><strong>Jong Hyun’s POV</strong></p>
<p>Aku berlari secepat mungkin di lorong rumah sakit ini sambil membetulkan jaketku. Saat dini hari seperti ini rumah sakit masih sepi, hampir tidak ada orang yang berlalu lalang. Hanya ada satu atau dua orang suster, karena itu aku bisa berlari dengan cepat.</p>
<p>Aku segera berbelok ketika melihat tulisan ‘kamar jenazah’ menunjukkan panah ke arah kanan. Dari kejauhan aku bisa melihat Min Hyuk yang berdiri tepat di samping pintu kamar jenazah dan sedang memegangi ponselnya. Aku semakin mempercepat lariku untuk menghampiri Min Hyuk.</p>
<p>“Min Hyuk-ah&#8230;”</p>
<p>Min Hyuk menoleh dan menatap sendu ke arahku. “Hyung..”</p>
<p>“Bagaimana keadaannya?”</p>
<p>Min Hyuk menunduk, kemudian menggeleng pelan. “Mengerikan, Hyung.”</p>
<p>“Mengerikan?” aku mengernyitkan alis.</p>
<p>“Terdapat sayatan yang panjang di tangan dan di leher. Selain itu, kedua bola mata Suzy juga ditusuk.”</p>
<p>Aku menelan ludah mendengar apa yang dikatakan Min Hyuk. Meskipun aku baru saja bertemu Suzy tadi siang dan tidak berkenalan secara langsung, tapi mendengar kematiannya yang begitu mengenaskan sedikit banyaknya membuat bulu kudukku berdiri.</p>
<p>“Kau sudah mengabari Yong Hwa?”</p>
<p>“Sudah. Sebentar lagi dia akan sampai ke sini.”</p>
<p>“Polisi?”</p>
<p>“Aku sudah menghubungi polisi sebelum menghubungi Yong Hwa Hyung dan kau. Sekarang polisi sedang melakukan olah TKP.”</p>
<p>“Lalu Hye Ri?”</p>
<p>Min Hyuk menatap ke arahku dengan raut wajah yang lebih sendu dari sebelumnya. “Sudah. Mungkin sebentar lagi dia juga sampai ke sini. Tapi aku tidak menceritakan keadaan Suzy secara detail.”</p>
<p>“Kenapa?” tanyaku, sedikit penasaran. Tidak biasanya Min Hyuk sendu seperti ini.</p>
<p>“Aku tidak sampai hati mengatakannya. Entahlah.. aku rasa lebih baik Hye Ri melihatnya sendiri.”</p>
<p>Aku mengangguk. Benar juga apa yang dikatakan Min Hyuk, Hye Ri pasti akan sangat sedih karena kudengar ia dan Suzy adalah sahabat yang sangat dekat. Mungkin lebih dekat daripada aku dan Min Hyuk. Apalagi Suzy meninggal dengan cara yang mengenaskan seperti ini, aku rasanya tidak sanggup membayangkan bagaimana perasaan Hye Ri. Semoga ia tabah dan kuat&#8230;</p>
<p>“Min Hyuk-ah, bagaimana kau bisa menemukan Suzy?”</p>
<p>Min Hyuk terlihat terkejut dengan pertanyaanku. Terlihat dari matanya yang sedikit membesar dan alisnya yang terangkat. Kenapa anak ini?</p>
<p>“Oh itu.. aku.. mengikuti Suzy dan Hye Ri seharian ini.”</p>
<p>Aku membelalakkan mata ke arah Min Hyuk. “Mwo? Kenapa tidak mengajakku?”</p>
<p>“Maaf Hyung. Tadinya aku mau mengajakmu, tapi kau sudah keburu pulang. Kalau menjemput atau menunggumu, aku bisa kehilangan jejak mereka.” Min Hyuk menggaruk-garuk kepalanya.</p>
<p>“Ck!”</p>
<p>Aku melipat tanganku di dada, aku tahu kepalamu itu tidak gatal, Min Hyuk-ah..</p>
<p>“Lalu, apa yang terjadi?”</p>
<p>“Aku berdiam sebentar di depan rumah Hye Ri sampai Suzy pulang, lalu 10 menit setelah itu aku pulang. Saat di perjalanan, aku melihat mobil dengan asap yang mengepul, ternyata itu adalah mobil Suzy. Aku segera menghampirinya dan menemukan Suzy dalam keadaan yang.. mengerikan.”</p>
<p>Aku terdiam setelah mendengar penjelasan panjang dari Min Hyuk. Ada satu pertanyaan yang hinggap di otakku&#8230;</p>
<p>“Apa di tempat kejadian tidak ada orang?”</p>
<p>“Tidak ada, Hyung. Saat itu tidak ada siapapun yang lewat karena sudah sangat malam.”</p>
<p>Aku mengusap daguku. “Cukup sulit menemukan pembunuhnya karena tidak ada saksi mata. Belum lagi di jalan itu tidak ada CCTV.”</p>
<p>“Benar.” Min Hyuk menimpali. “Pembunuh itu juga tidak meninggalkan jejak apapun.”</p>
<p>“Ya!”</p>
<p>Aku menoleh ke belakang dan mendapat Yong Hwa sedang berlari kecil ke arahku dan Min Hyuk. Aku sedikit tercengang dengan penampilan Yong Hwa yang menurutku sangat.. rapi. Mengenakan jas dan celana kain lengkap dengan sepatu kulit plus rambut yang tertata rapi. Ck! Kenapa orang ini sempat-sempatnya berdandan sebelum ke rumah sakit? Apa karena ingin bertemu dengan gadis pujaannya?</p>
<p>“Bagaimana keadaannya?” tanya Yong Hwa terburu-buru.</p>
<p>“Seperti yang kuceritakan di telepon, Hyung.” jawab Min Hyuk.</p>
<p>“Kalau begitu aku mau lihat dulu ke dalam.”</p>
<p>“Tunggu!” aku menahan tangan Yong Hwa. Ia terlihat bingung.</p>
<p>“Wae?”</p>
<p>“Kenapa kau berdandan rapi sekali pagi-pagi buta seperti ini? Apa karena ingin bertemu dengan Hye Ri?” tanyaku langsung pada intinya. Ekspresi Yong Hwa berubah menjadi suram.</p>
<p>“Itu salah satunya.”</p>
<p>“Salah satu?”</p>
<p>“Hari ini tepat satu tahun meninggalnya adikku, Jung Soo Jung. Aku ingin mengunjungi makamnya setelah dari sini. Dan karena Hye Ri juga akan ke sini, jadi aku berdandan rapi meskipun masih terlalu pagi.”</p>
<p>“Oh..” aku hanya bisa ber-oh setelah rasa penasaranku terjawab. Aku bingung harus mengatakan apa karena sepertinya aku sudah salah bertanya.</p>
<p>“Baiklah aku masuk dulu.”</p>
<p>Yong Hwa pun masuk ke kamar jenazah untuk melakukan beberapa pemeriksaan. Sementara aku duduk bersama dengan Min Hyuk di ruang tunggu.</p>
<p>“Min Hyuk-ah..”</p>
<p>“Hmm?” Min Hyuk menoleh ke arahku.</p>
<p>“Kira-kira bagaimana ya reaksi Yong Hwa ketika bertemu dengan gadis yang dicintainya secara langsung untuk pertama kali?”</p>
<p>Min Hyuk diam menatapku tanpa berkedip, kemudian ia mengangkat bahunya.</p>
<p>“Mungkin Yong Hwa hyung hanya bisa berdiri mematung tanpa berkata apa-apa.”</p>
<p>Aku mengangguk-angguk setuju. Pasti akan begitu. Aku pun mungkin juga akan begitu.</p>
<p>“Aku jadi penasaran. Kau penasaran tidak?” tanyaku pada Min Hyuk. Ia hanya tersenyum tipis, kemudian mengangguk. Anak ini.. kenapa begitu lemas?</p>
<p>“Min Hyuk-ssi!”</p>
<p>Aku dan Min Hyuk serempak menoleh ke kiri dan menemukan Hye Ri sedang berlari ke arah kami berdua. Wajahnya pucat dan rambutnya tampak sedikit berantakan karena tertiup angin. Ia mengerutkan alis ketika matanya melihat ke arahku.</p>
<p>“Jong Hyun-ssi? Kenapa kau bisa ada di sini?”</p>
<p>“Dia teman baikku.”</p>
<p>Baru saja aku ingin membuka mulut untuk menjawab, Min Hyuk sudah mendahuluiku. Aku mengangguk, membenarkan apa yang dikatakan Min Hyuk.</p>
<p>“Kalian berteman?”</p>
<p>Aku dan Min Hyuk serempak mengangguk. Hye Ri kemudian mengaduk-aduk isi tasnya, kemudian menyerahkan sebuah bungkusan padaku.</p>
<p>“Apa ini?” tanyaku heran.</p>
<p>“Kemejamu. Entah kenapa tadi aku ingin membawanya, rupanya kita akan bertemu di sini. Tapi maafkan aku, Jong Hyun-ssi, noda kopi di bajumu tidak bisa hilang karena tidak langsung dicuci, jadi aku membelikanmu kemeja baru yang sama persis dengan kemeja milikmu. Joesonghamnida.”</p>
<p>Hye Ri membungkuk 90 derajat ke arahku, membuatku tidak enak hati karena sikapnya yang terlalu formal. Gadis ini sungguh bertanggung jawab. Ah.. seandainya aku lebih dulu bertemu denganmu daripada Yong Hwa, mungkin aku akan&#8230;</p>
<p>Ya! Jong Hyun! Apa yang kau pikirkan! Ah aniya aniya aniya! Aku tidak boleh suka pada gadis ini.. andwae..!</p>
<p>“Jong Hyun-ssi?”</p>
<p>Aku tersentak ketika Hye Ri mengibaskan tangannya di depan wajahku. “N..ne?”</p>
<p>“Kau marah padaku?” tanyanya dengan wajah cemas.</p>
<p>“Oh aniya.. aku tidak marah. Ya sudah tidak apa-apa. Terima kasih sudah membelikan yang baru. Seharusnya kau tidak perlu repot seperti ini.”</p>
<p>“Tidak, sama sekali tidak repot. Aku yang salah. Maafkan aku.” Hye Ri masih meminta maaf padaku, tapi kemudian tatapannya beralih pada Min Hyuk. “Oh iya, Min Hyuk-ssi, di mana Suzy sekarang? Apakah di dalam kamar jenazah?”</p>
<p>Aku menoleh ke arah Min Hyuk. Ia terlihat ragu ketika menganggukkan kepalanya.</p>
<p>“Ne. Dia di dalam sana.” Min Hyuk menunjuk kamar jenazah. Hye Ri menutup mulutnya dan air matanya langsung mengalir dengan deras. Ia bersandar di dinding, berusaha menahan tubuhnya agar tidak merosot ke lantai. Kakinya pasti sangat lemas sekarang mendengar kalau sahabat baiknya sekarang sudah tiada.</p>
<p>“Suzyy.. Huuuu.. Suzyyy&#8230;”</p>
<p>Hye Ri menangis semakin keras. Aku ingin sekali menghampiri dan memeluk untuk menenangkannya. Tapi itu tidak mungkin&#8230;</p>
<p>Jong Hyun! Apa yang kau pikirkan! Ya! Babo! Bukan saatnya berpikir seperti itu!</p>
<p>Hye Ri mengangkat wajah dan menyapu air mata yang membasahi pipinya. Ia menatapku dan Min Hyuk bergantian.</p>
<p>“Bolehkan aku melihat jenazah Suzy?”</p>
<p>“Tentu saja.” jawabku.</p>
<p>“Kami berdua akan menemanimu.” Timpal Min Hyuk. Hye Ri mengangguk dan kami pun melangkah masuk ke dalam kamar jenazah.</p>
<p>Di dalam kamar jenazah terlihat Yong Hwa yang sedang mengamati jenazah Suzy. Bisa kutebak dia sedang melakukan pengecekan akhir seperti yang biasa dilakukannya. Ia terlihat sedikit terkejut melihat kedatangan kami bertiga yang melangkah mendekat ke arahnya. Begitu pula Hye Ri yang sama terkejutnya ketika melihat Yong Hwa berada di sebelah jenazah Suzy. Tapi Hye Ri lebih terkejut lagi ketika melihat jenazah Suzy dengan luka tusukan yang dalam di bagian mata dan beberapa sayatan panjang dan dalam di sekujur tubuhnya.</p>
<p>Jujur.. aku merinding melihat jenazah Suzy.. Gadis cantik itu benar-benar terlihat mengenaskan..</p>
<p>“Suzyy!!” Hye Ri memekik tertahan. Ia menutup mulutnya dan kembali menangis. Sebelah tangannya meraba rambut, kemudian wajah Suzy.</p>
<p>“Suzyyyy.. mengapa ini bisa terjadi padamu juga&#8230; huuuuu&#8230;”</p>
<p>Tubuh Hye Ri kembali akan merosot, tapi secepat kilat Yong Hwa menahan bahu Hye Ri agar ia tidak terjatuh ke lantai. Aku bisa melihat wajah Hye Ri yang berada sangat dekat dengan wajah Yong Hwa ketika Yong Hwa menangkap bahunya.</p>
<p>“Gwaenchana, Hye Ri-ssi?”</p>
<p>“Maaf, anda siapa?” tanya Hye Ri dengan suara pelan. Aku dan Min Hyuk saling berpandangan, kemudian pandangan kami beralih pada Yong Hwa. Wajah Yong Hwa terlihat kaku. Ia langsung melepaskan tangannya yang berada di bahu Hye Ri.</p>
<p>Oh.. begitukah reaksimu ketika berhadapan sedekat dengan wanita yang kau cintai tapi tidak pernah bertemu pandang secara langsung, Jung Yong Hwa? Aku.. iri&#8230;</p>
<p>“Jung Yong Hwa imnida. Aku ketua organisasi intel.”</p>
<p>Hye Ri melebarkan matanya ketika mendengar Yong Hwa menyebutkan namanya. “Jung.. Jung Yong Hwa?”</p>
<p>“Ne. Aku Jung Yong Hwa.”</p>
<p>Hye Ri diam. Ia menatap mata Yong Hwa begitu lekat dan tanpa berkedip. Begitu pula dengan Yong Hwa yang menatapnya tanpa bergerak. Kenapa mereka berdua sama-sama membeku seperti ini?</p>
<p>“Aku baru saja selesai melakukan pemeriksaan terhadap jenazah Suzy. Kudengar kau adalah sahabat terdekat Suzy, benar begitu, Hye Ri-ssi?” tanya Yong Hwa formal.</p>
<p>“N.. ne. Aku sahabat terdekat Suzy.” Jawab Hye Ri sedikit terbata-bata. Matanya tidak lepas menatap mata Yong Hwa.</p>
<p>“Kau sudah menghubungi keluarga Suzy?” tanya Yong Hwa lagi. Ia pun tidak lepas menatap mata Hye Ri. Tatapannya begitu lekat. Ada apa sih dengan dua orang ini? Kenapa mereka aneh sekali? Seperti ada magnet yang melekat di dalam mata mereka..</p>
<p>“Mmmm..” Hye Ri mengangguk. “Keluarga Suzy sedang berada di Rusia. Mungkin siang nanti mereka baru sampai di Korea.”</p>
<p>“Baiklah. Kalau begitu aku permisi, Hye Ri-ssi.”</p>
<p>Yong Hwa membungkuk ke arah Hye Ri, kemudian melangkah meninggalkan Hye Ri di belakangnya. Yong Hwa menatapku dan Min Hyuk sekilas sambil melanjutkan langkahnya.</p>
<p>“Tunggu..”</p>
<p>Hye Ri menahan lengan Yong Hwa dengan tangannya. Aku, Min Hyuk, dan pastinya Yong Hwa sangat syok melihatnya.</p>
<p>“Ne? Ada apa, Hye Ri-ssi?”</p>
<p>Hye Ri menggigit bibirnya, seolah ada yang sangat ingin dikatakannya tapi sulit untuk diucapkan. Ia menatap Yong Hwa dalam. Sepertinya hari ini hari keberuntungan Yong Hwa.. sigh..</p>
<p>“Apa.. kau punya adik perempuan?”</p>
<p><em>============== </em></p>
<p><strong>Hye Ri’s POV</strong></p>
<p>Aku menatap dalam-dalam pria yang ada di depanku ini. Seorang pria yang menyebut dirinya Jung Yong Hwa. Bukan apa-apa, aku hanya merasa kalau dialah orangnya. Aku merasa yakin karena dua hal.</p>
<p>Pertama, marganya. Dia bermarga Jung, sama seperti Soo Jung.</p>
<p>Kedua, mata dan raut wajahnya. Aku tidak bisa memungkiri kalau dia mirip dengan Soo Jung meskipun dia adalah seorang pria.</p>
<p>Aku tahu, ini terdengar konyol kalau aku merasa yakin dia adalah orang yang kucari selama ini karena aku hanya mengandalkan <em>feeling</em> dan marganya saja. Ada ribuan bahkan mungkin jutaan orang Korea bermarga Jung bahkan beberapa ratus bernama asli Jung Yong Hwa. Tapi aku harus memberanikan diri untuk bertanya. Mungkin benar dia adalah orangnya.</p>
<p>“Apa.. kau punya adik perempuan?” tanyaku tanpa melepas peganganku pada lengannya. Ia terlihat agak terkejut mendengar pertanyaanku.</p>
<p>“Ne. Tapi dia sudah meninggal setahun yang lalu.”</p>
<p>DEG!</p>
<p>Meninggal setahun yang lalu? Kalau meninggalnya tepat hari ini.. berarti.. mungkinkah&#8230;</p>
<p>“Adikmu.. bernama.. Jung Soo Jung?”</p>
<p>Matanya semakin membulat mendengar pertanyaanku. Melihat reaksinya seperti ini, aku semakin yakin kalau ia akan menjawab ‘iya’.</p>
<p>“Iya benar, dia adikku.”</p>
<p>BINGO! Akhirnya aku bertemu dengannya..</p>
<p>“Memangnya ada apa, Hye Ri-ssi? Apa kau mengenal adikku?”</p>
<p>Aku menunduk, kemudian mengangguk lemah. Rasanya tenagaku terkuras habis karena menahan pahit melihat mayat Suzy yang begitu mengenaskan dan mengingat mendiang Soo Jung.</p>
<p>“Yong Hwa-ssi, apa kau punya waktu? Ada yang ingin kubicarakan.”</p>
<p>Ia menatapku diam, kemudian mengangguk.</p>
<p>“Tentu saja. Tapi apa kedua sahabatku boleh ikut?” tunjuknya pada Jong Hyun dan Min Hyuk. Aku mengerutkan alis.</p>
<p>“Sahabatmu? Mereka?”</p>
<p>“Mereka sahabat sekaligus anak buahku. Bolehkah mereka ikut? Atau kau ingin membicarakan hal ini berdua saja denganku?”</p>
<p>Aku menatap ke arah Jong Hyun dan Min Hyuk. “Sebenarnya aku ingin membicarakannya berdua saja, tapi karena mereka sahabatmu&#8230;Baiklah.”</p>
<p>Aku melepaskan pegangan tanganku pada tangan Yong Hwa. Aku baru sadar kalau aku memegang tangannya lama sekali. Apa-apaan aku ini? -___-</p>
<p>Aku melangkah keluar dari kamar jenazah setelah sebelumnya aku menutup jenazah Suzy dengan kain putih. Aku menahan tangisku agar tidak pecah ketika menatap wajah Suzy untuk terakhir kalinya.</p>
<p>Suzy-ah&#8230; selamat jalan.. semoga kau tenang di alam sana&#8230; terima kasih atas semuanya, dan terima kasih atas hadiah terakhirmu yang kau berikan tadi malam.</p>
<p>Sekali lagi..</p>
<p>Selamat jalan..</p>
<p>Suzy.. Soo Jung..</p>
<p><em>=============== </em></p>
<p>“Apa yang ingin kau bicarakan, Hye Ri-ssi?”</p>
<p>Aku duduk di sebelah Yong Hwa di kursi ruang tunggu rumah sakit. Di sebelah Yong Hwa ada Jong Hyun dan Min Hyuk. Aku menatap Yong Hwa takut-takut.</p>
<p>“Tentang.. Soo Jung..”</p>
<p>Yong Hwa tersenyum padaku. “Iya.. aku tahu ini menyangkut mendiang adikku. Lalu?”</p>
<p>Aku menelan ludah. Rasanya aku tidak sanggup melanjutkan kata-kataku sendiri, dan aku juga bingung harus memulai dari mana. Tapi bagaimana pun dia adalah kakaknya, keluarga yang paling dekat dengan sahabatku Soo Jung. Dia harus tahu kenyataan yang sebenarnya&#8230;</p>
<p>“Kau tahu.. Aku, Soo Jung, dan Suzy adalah sahabat yang sangat dekat. Dan Soo Jung selalu membanggakanmu di hadapanku dan Suzy. Dia bilang.. kakaknya memiliki pekerjaan yang sangat hebat.”</p>
<p>Aku bisa melihat mata Yong Hwa yang mulai berkaca-kaca. Ia membuang pandangannya ke arah lain, seolah tidak ingin aku melihat air matanya. Aku tidak tega melihatnya sedih seperti ini.. tapi bagaimana pun aku harus mengatakannya sekarang juga.</p>
<p>“Kurasa Soo Jung tidak berlebihan. Kakaknya memang memiliki pekerjaan yang hebat. Dia bilang dia sayang sekali padamu, Yong Hwa-ssi.”</p>
<p>Yong Hwa kembali menatapku, kali ini dengan matanya yang basah. “Gomawoyo. Soo Jung tidak pernah cerita padaku kalau ia memiliki dua orang sahabat seperti kau dan Suzy.”</p>
<p>“Dia juga bilang.. karena pekerjaanmu yang hebat, kesibukanmu juga hebat.”</p>
<p>Yong Hwa terkekeh pelan sambil mengusap air matanya. “Benar. Aku terlalu sibuk.”</p>
<p>Aku menunduk menatap lantai. Alur pembicaraan yang kubuat benar-benar terlalu berbelit-belit.</p>
<p>“Yong Hwa-ssi&#8230; mungkin apa yang akan kukatakan selanjutnya akan sangat mengejutkanmu. Dan kuharap kau mau memaafkanku.” Ucapku dengan suara bergetar. Perlahan aku mengangkat wajahku, memberanikan diri untuk menatap Yong Hwa.</p>
<p>“Katakan saja, Hye Ri-ssi.”</p>
<p>“Kau tau penyebab adikmu meninggal?”</p>
<p>Yong Hwa mengangguk. “Dia&#8230; dibunuh.”</p>
<p>“Be.. benar..” ucapku dengan suara yang lebih bergetar. Aku berusaha menahan tangisku agar tidak pecah lagi. “Tapi apa kau tahu.. bagaimana keadaan jenazah adikmu?”</p>
<p>“Aku tidak melihat mayatnya secara langsung karena saat adikku meninggal aku berada di Jepang untuk menyelesaikan suatu kasus, dan aku baru kembali ke Korea sore hari saat pemakaman adikku selesai. Tapi polisi bilang adikku ditusuk di pinggang dan di perut sebanyak 6 tusukan.”</p>
<p>“Tidak.. sebenarnya.. tidak begitu.”</p>
<p>Yong Hwa mengerutkan alisnya, “Tidak.. begitu? Maksudmu apa, Hye Ri-ssi? Aku tidak mengerti&#8230;”</p>
<p>Aku menarik nafasku dalam-dalam. Bersiap untuk mengatakan yang sebenarnya&#8230;</p>
<p>“Sebenarnya adikmu tidak ditusuk. Lebih tepatnya.. tidak hanya ditusuk.”</p>
<p>Yong Hwa diam, menunggu kata-kataku yang selanjutnya. Dari sorot matanya, kelihatannya dia akan marah padaku. Biar saja&#8230;</p>
<p>“Soo Jung.. dia&#8230; keadaannya hampir sama seperti Suzy, tapi Soo Jung lebih parah. Tubuhnya penuh luka sayatan, jari-jarinya terpotong, dan bola matanya juga ..ditusuk&#8230;”</p>
<p>“M..wo..?”</p>
<p>“Soo Jung menyuruhku untuk menginap di rumahnya malam itu. Dia ingin mengenalkanku padamu dan bilang esok harinya kau akan kembali dari Jepang.”</p>
<p>Lagi-lagi aku kehabisan nafas. Aku dua kali menarik nafas yang dalam sebelum melanjutkan kata-kataku.</p>
<p>“Saat aku sampai di rumahmu, aku menemukan mayat Soo Jung di tempat pembuangan sampah yang ada di depan rumahmu.. Aku yang menyuruh polisi untuk berbohong padamu&#8230; aku yang menyuruh polisi untuk mengatakan kalau adikmu ditusuk di bagian perut! Aku yang menutupi identitas jenazah adikmu! Aku&#8230; Aku&#8230; Maafkan aku&#8230; Maaf&#8230;”</p>
<p>Aku menutup wajahku dengan telapak tangan dan menangis sejadi-jadinya. Aku sudah menyapkan diri kalau seandainya Yong Hwa marah besar padakku, menamparku, atau membenturkan kepalaku ke dinding. Aku siap.. benar-benar siap&#8230;</p>
<p>“Kenapa kau.. melakukannya, Hye Ri-ssi?” tanya Yong Hwa dengan suara parau. Aku masih menutup wajahku. Aku takut menatapnya&#8230;</p>
<p>“Keadaan Soo Jung terlalu mengenaskan.. aku takut membuatmu sedih.. bahkan Suzy pun tidak kuberitahu.. Tapi aku sadar aku sudah melakukan kesalahan.. aku tidak berhak menyembunyikan hal ini darimu..a.. aku.. aku..”</p>
<p>Kalimatku terhenti ketika Yong Hwa merengkuh bahuku dan membawaku ke dalam pelukannya. Ke.. kenapa dia malah memelukku? Atau jangan-jangan sebentar lagi ia akan membantingku ke lantai?</p>
<p>“Yong Hwa-ssi..”</p>
<p>“Apa selama ini kau mencariku untuk mengatakan hal ini?” potongnya sambil terus memelukku dengan erat. Aku bisa melihat Jong Hyun dan Min Hyuk yang berada di belakang Yong Hwa sedang menatap kami dengan mulut menganga.</p>
<p>“Ne.. tapi aku tidak pernah bisa bertemu denganmu. Kau selalu tidak ada di rumah.” Jawabku pelan sambil terisak. Entah kenapa aku pasrah ketika dipeluk Yong Hwa seperti ini, padahal aku baru saja bertemu dengannya tadi. Biasanya aku tidak akan semudah ini..</p>
<p>“Benarkah kau melakukan ini karena takut membuatku sedih?” tanyanya dengan nada yang sangat lembut. Aku mengangguk pelan. Sekarang aku bisa merasakan jantungnya yang berdegup kencang.</p>
<p>“Terima kasih&#8230;”</p>
<p>“Mwo? Kau.. berterima kasih padaku? Kau tidak marah?”</p>
<p>Yong Hwa menggeleng, kemudian mengusap rambutku. Orang ini.. kenapa malah berterima kasih? Kenapa ia tidak marah? Kenapa malah memelukku?</p>
<p>“Aku sama sekali tidak marah. Aku berterima kasih karena kau sudah menyadari kesalahanmu, meminta maaf padaku, dan mengatakan yang sejujurnya padaku. Aku sangat menghargai itu, Hye Ri-ssi.”</p>
<p>Keheningan menyelimuti kami. Yang terdengar hanya suara isak tangisku. Jong Hyun dan Min Hyuk menatap kami berdua dengan tatapan iba. Aku ingin melepaskan diri dari pelukan Yong Hwa, tapi Yong Hwa malah mempererat pelukannya.</p>
<p>“Biarkan aku memelukmu&#8230; 10 detik lagi.”</p>
<p>Aku diam, bingung harus mengatakan apa. Yong Hwa masih terus memelukku, dan entah dorongan apa yang membuat tanganku menyentuh pundaknya untuk membalas pelukannya.</p>
<p>“Terima kasih, kau tidak marah padaku.”</p>
<p>Yong Hwa melepas pelukannya, menyisakan tangannya di atas bahuku. Ia tersenyum menatapku dengan matanya yang basah.</p>
<p>“Aku harus pergi. Aku masih ada urusan lain. Sekali lagi terima kasih atas kejujuranmu, Hye Ri-ssi.”</p>
<p>Aku mengangguk pelan. Yong Hwa menangkup wajahku dengan kedua telapak tangannya dan menghapus air mataku dengan ibu jarinya.</p>
<p>“Saranghae.. Hye Ri-ssi..”</p>
<p>Chu~</p>
<p>Yong Hwa mengecup keningku sekilas, lalu ia beranjak dari tempat duduknya dan pergi. Pergi meninggalkanku yang membeku dan mematung karena ulahnya&#8230;</p>
<p>Apa yang dia bilang barusan? Saranghae?</p>
<p><em>=============== </em></p>
<p><strong>Author’s POV</strong></p>
<p>Yong Hwa melenggang keluar dari rumah sakit itu dengan kedua tangan terkepal di sisi tubuhnya. Wajahnya memerah dan urat-urat kepalanya menegang. Semua itu ia lakukan untuk menahan amarahnya yang sudah sampai ke ubun-ubun.</p>
<p>“Bangs*t kau, Lee Jung Shin!”</p>
<p><em>To Be Continue&#8230;</em></p>
<p><strong>Buat @mpebriar .. maaf kalo ff-nya kelarnya telat banget dari hari itu.. mianhaeyo T__T .. dan maaf jg kalo jelek -,-</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ffindo.wordpress.com/49651/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ffindo.wordpress.com/49651/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ffindo.wordpress.com/49651/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ffindo.wordpress.com/49651/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ffindo.wordpress.com/49651/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ffindo.wordpress.com/49651/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ffindo.wordpress.com/49651/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ffindo.wordpress.com/49651/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ffindo.wordpress.com/49651/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ffindo.wordpress.com/49651/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ffindo.wordpress.com/49651/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ffindo.wordpress.com/49651/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ffindo.wordpress.com/49651/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ffindo.wordpress.com/49651/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ffindo.wordpress.com&amp;blog=9871143&amp;post=49651&amp;subd=ffindo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ffindo.wordpress.com/2012/01/27/hard-part-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/140ca6f15c11772d87d8d44b101fae6b?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">joonisa</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ffindo.files.wordpress.com/2012/01/cnblue-1-copy2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">cnblue-1 copy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>The Girl I Never Met 2 : Love Diary (Sequel)</title>
		<link>http://ffindo.wordpress.com/2012/01/27/the-girl-i-never-met-2-love-diary-sequel/</link>
		<comments>http://ffindo.wordpress.com/2012/01/27/the-girl-i-never-met-2-love-diary-sequel/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Jan 2012 13:09:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Chi-yo~</dc:creator>
				<category><![CDATA[karenagatha]]></category>
		<category><![CDATA[Lee Donghae]]></category>
		<category><![CDATA[lee hyun woo]]></category>
		<category><![CDATA[Lee Ji Eun (IU)]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ffindo.wordpress.com/?p=47928</guid>
		<description><![CDATA[Tittle : The Girl I Never Met 2 / Love Diary Author : Chi-yo~ (@karenagatha) Rating : G Genre : Romance, Fantasy, Life, Sadness Cast : Lee Ji Eun (IU), Lee Hyun Woo, Lee Donghae Prequel : The Girl I &#8230; <a href="http://ffindo.wordpress.com/2012/01/27/the-girl-i-never-met-2-love-diary-sequel/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ffindo.wordpress.com&amp;blog=9871143&amp;post=47928&amp;subd=ffindo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ffindo.files.wordpress.com/2011/12/thegirlinevermet2.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-47933" title="TheGirlINeverMet2" src="http://ffindo.files.wordpress.com/2011/12/thegirlinevermet2.jpg?w=584" alt=""   /></a></p>
<p><strong>Tittle :</strong> The Girl I Never Met 2 / Love Diary</p>
<p><strong>Author :</strong> Chi-yo~ (<a href="http://twitter.com/karenagatha">@karenagatha</a>)</p>
<p><strong>Rating :</strong> G</p>
<p><strong>Genre :</strong> Romance, Fantasy, Life, Sadness</p>
<p><strong>Cast :</strong> Lee Ji Eun (IU), Lee Hyun Woo, Lee Donghae</p>
<p><strong>Prequel :</strong> <a href="http://ffindo.wordpress.com/2011/12/16/the-girl-i-never-met/">The Girl I Never Met</a></p>
<p><strong>Disclaimer :</strong> Segala artis dalam cerita ini bukan milik saya, tapi milik manajemen mereka, lalu milik Tuhan, dan tentu milik kalian dong.. <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' />  dan juga tentu milik saya.. *plakk!!* Hmm, ini cerita terinspirasi dari MV nya IU &#8211; You and I, meski teinspirasi tapi dijamin ide nya ada yang berbeda.. Yang pertama kan udah the end, tapi dongsaeng almahonggi99 + Rachmalia Ramadhani nyuruh untuk lanjutin.. (= =&#8221;) Ini lebih cocok dikatakan drabble.. (_ _&#8221;)V Kalau begitu, Happy Reading ya yeorebun!!~ ^^<br />
<span id="more-47928"></span></p>
<h2 style="text-align:center;">The Girl I Never Met 2</h2>
<h2 style="text-align:center;"><strong>Love Diary</strong></h2>
<p>Memandang begitu lamanya, hingga air mata pria itu menetes terus menerus, hingga kedua pipinya terbasah oleh air matanya. Meski pipinya telah dibasahi, namun air matanya terus mengalir tanpa henti. Matanya kini penuh dengan linangan air mata dan berubah menjadi mata kemerah-merahan.</p>
<p>Dalam hatinya, ia sesungguhnya sangatlah bingung dengan apa yang ia lakukan sekarang. Akan tetapi, hatinya terasa sangatlah sakit. Dalam pikirannya, terdapat bayangan wanita seperti di foto itu. Tersenyum padanya. Melihat ekspresi wanita itu, membuatnya bertambah tak dapat bertahan air mata yang sudah bertumpahan kemana-mana.</p>
<p><em>Mengapa aku bisa begini? Mengapa?</em> batinnya terbingung dengan perilakunya yang tidak biasa ini. Ia mencoba menahan air matanya, namun pencobaan itu sia-sia. Hatinya terasa sakit dan perih. Hingga membuat dirinya terjatuh duduk dalam keadaan yang sangat terpuruk.</p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p>Selama sejam penuh, ia  tak mampu menahan emosi nya. Ia terus menerus terduduk. Baru kali ini dia seperti ini. <em>Kenapa bayangan Lee Ji Eun selalu melekat di pikiranku? Apa aku jatuh cinta padanya? Atau aku..</em>, semakin lama semakin ia bicara dalam hati, semakin membuat pikirannya tak karuan.</p>
<p>Ia pun memandang segera ke arah ruang mesin waktu ajaib yang terpampang dengan gagah di depannya. Ia menghela nafas sedalam-dalamnya seraya berpikir, <em>Apa benar alat ini benar-benar membawanya untuk menyelamatkanku?</em></p>
<p>Dia mendekati ruang mesin waktu ajaib itu. Lalu menyentuhnya. Merasakan rasa kehangatan memasuki ke dalam tubuhnya. Yang tentu membuat dia merasa nyaman. <em>Bagaimana cara kerja alat ini? </em>pikirnya.</p>
<p>Tanpa pikir panjang, ia segera mencari segala cara agar dia dapat menggunakan ruang mesin waktu ajaib itu.</p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p>- Lee Hyun Woo&#8217;s P.O.V -</p>
<p>Di buku harian Lee Ji Eun itu, mengatakan bahwa mesin waktu ajaib itu bisa membawa seseorang ke masa lalu juga bisa memperbaiki masa lalu. Jika kita memperbaiki masa lalu, maka itu berakibat fatal untuk kita.</p>
<p>Aku menjelajahi seluruh isi ruangan di rumah ini. Kebanyakan semuanya berisikan alat-alat berat. Petunjuk cara menggunakan ruang mesin waktu ajaib ini tak dapat kutemukan.</p>
<p>Apakah ini ruang waktu ajaib sangat rahasia, dan dibuatnya ini hanya untuk mengobatiku saja?</p>
<p>Benar-benar keluarga yang sangat baik. Sama sekali tak mengenaliku, tapi mau menolongku sedemikian rupa hingga nyawanya pun hilang juga rela.</p>
<p>Debu. Semuanya penuh dengan debu. Mungkin karena, ini rumah mirip seperti gudang alat-alat berat. Meski aku alergi terhadap debu yang menyakitiku, tapi ini tak seberapa dengan sikap rela berkorbannya Lee Ji Eun dan kakeknya. Aku tak memedulikan bertebaran debu yang membuat alergiku kambuh. Yang kupedulikan sekarang adalah menemukan cara menggunakan ruang mesin waktu ajaib.</p>
<p>Berjam-jam ku mencari apa yang wajib kucari, akan tetapi tetap tak dapat ditemukan.</p>
<p>Rasa pasrah dan sakit karena dampak alergi debu ini menyelimutiku. Aku berbaring di tempat tidur yang biasanya adalah tempat tidur dari seorang pangeran tidur.</p>
<p>Kututup mataku. Kubayang-bayangkan diriku yang dahulu meski aku sama sekali tak mengetahui masa lalu ku dengannya.</p>
<p>Seorang gadis bernama Lee Ji Eun bersandaran saat ku sedang tidur, memandangku dengan penuh harapan dan cinta. Jika saat itu, aku dapat bangun dari tidur panjangku, mungkin aku akan sangat bahagia sekali.</p>
<p>Aku sangat benci masa depan. Bagaimana bisa aku melewati masa lalu dan sekarang menghadapi masa depan?</p>
<p>Aku menatap seekor angsa putih berdasi kupu-kupu kuning dengan prihatin. Dia memang tak dapat berbicara seperti manusia, tapi dia telah mengetahui masa lalunya dan masa depannya.</p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p>Dengan rasa penuh tekad dan nekad, aku akan berusaha mencoba menyalakan ruang mesin waktu ajaib itu, meski sama sekali tak mengetahui cara menggunakannya. Lebih baik mencoba daripada sama sekali tak mencoba.</p>
<p>Kubuka pintu ruang mesin waktu ajaib. Aku menatap terakhir kali pada angsa putih berdasi kupu-kupu kuning di luar ruang mesin waktu ajaib dengan penuh yakin. Aku yakin, aku pasti dapat seperti angsa putih berdasi kupu-kupu kuning itu, melewati masa lalu dengan kesadaranku.</p>
<p>Ku mencoba menyalakan mesin waktu ajaib ini dengan hati-hati, karena mesin waktu ajaib ini bisa saja rusak. Sesaat kemudian, akhirnya aku berhasil. Secara perlahan, ruang mesin waktu ajaib ini berputar-putar agar bisa pindah ke lorong waktu masa lalu.</p>
<p>Detik-detik terakhir ku di masa depan adalah, tersenyum pada angsa putih berdasi kupu-kupu kuning dan membayangkan gadis itu bersandaran di saat aku sedang tidur.</p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p>Semuanya hitam pekat. Tapi aku sangat dapat merasakan mataku sedang tertutup. Aku berusaha menggerakan tubuhku. Tapi, tubuhku terasa sangat kaku. Mataku kubuka perlahan-lahan. Pandanganku terlihat buram sementara, hingga pada akhirnya menjadi jelas.</p>
<p>Aku mencoba membangunkan diriku dengan sekuat tenaga. Hingga akhirnya aku terbangun. Aku melihat ke arah samping. Terlihat seseorang berdiri diam di ruang mesin waktu ajaib.</p>
<p>Mataku terbuka lebar-lebar, dan segera berdiri dengan susah payah karena kaku. Akan tetapi, aku terjatuh. Orang itu membalikkan badannya, dan terkejut melihatku.</p>
<p>&#8220;Pa..pa..ngeran ti..dur,&#8221; ucap orang itu yang ternyata adalah Lee Ji Eun, dengan terbata-bata.</p>
<p>&#8220;Lee Ji Eun,&#8221; balasku dengan tersenyum terharu. Aku segera memaksakan diriku berlari kecil ke ruang mesin waktu ajaib itu. Lee Ji Eun ternganga melihatku, ia pun sedikit sadar dan membuka pintu ruang mesin waktu ajaib itu.</p>
<p>Kini kami berdua berada di ruang mesin waktu ajaib yang bentar lagi akan berputar-putar mengelilingi lorong waktu masa lalu.</p>
<p>&#8220;Benarkah ini nyata?&#8221; tanyanya ragu-ragu. &#8220;Apakah ini nyata?!&#8221;</p>
<p>Aku mengangguk, &#8220;Iya. Ini nyata, Ji Eun. Aku, Hyun Woo bukan pangeran tidur. Tapi, waktuku tinggal sedikit, Ji Eun.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa maksudmu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku dari masa depan setelah kau menolongku karena ruang mesin waktu ajaib ini. Aku ingin kau selalu ada di sisiku. Aku tak kenal denganmu, tapi hatiku sangat mengenalimu. Kuakui aku takut kehilanganmu. Mungkin kita memang tak ditakdirkan bersama, tapi biarlah aku membuat kisah cinta kita dengan kita sendiri,&#8221; jelasku dengan cepat.</p>
<p>Ruang mesin waktu ajaib pun berputar-putar. &#8220;Aku.. Hyun Woo, mencintaimu, Ji Eun!!&#8221; teriakku dengan kencang sambil berlinang air mata. Perlahan-lahan, aku terlihat transparan, aku sangat menyadari bahwa aku akan hilang untuk selama-lamanya.</p>
<p>&#8220;Aku juga mencintaimu, pangeran tidurku,&#8221; balasnya dengan linangan air mata dan tersenyum.</p>
<p>Secara bersamaan, dia menghilang menuju masa lalu, dan aku menghilang untuk selama-lamanya bersama dengan dirinya yang sesungguhnya.</p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p>Beberapa ratus tahun kemudian..</p>
<p>Seorang mahasiswa jurusan arkeologi, Lee Donghae, tidak sengaja melihat sebuah rumah kuno. Dia mendatangi rumah kuno itu, gunanya untuk melihat apakah ada sesuatu yang dapat ia amati untuk tugas kuliahnya.</p>
<p>Donghae terkejut melihat begitu banyak alat-alat berat berserakkan dimana-mana dan berdebu. Kemudian ia mencoba mengambil beberapa alat-alat berat yang terbilang kuno tersebut untuk dijadikan sampel. Dia tak sengaja, melihat ruang mesin waktu ajaib. Karena bentuknya yang tampak unik, ia pun memfoto tersebut.</p>
<p>Sesudah itu, ia berkeliling dari ruang ke ruang lain, hingga tanpa sengaja melihat sebuah buku harian. Dibukakan buku harian tersebut.</p>
<p>Terlihat dari halaman pertama hingga halaman ketiga terdapat tulisan Ji Eun. Mulai di halaman keempat, terdapat tulisan Hyun Woo.</p>
<p>&#8220;Aku hanya ingin tulisan ini membuktikan cintaku padanya untuk selamanya. Aku tak kenal dengannya. Tapi, aku sangat merasa dekat padanya, bahkan hatiku selalu tertuju padanya.</p>
<p>Aku beralasan pergi ke dataran tinggi, karena untuk berkabung ayahku yang meninggal karena hipoksia, saat menyelamatkan aku yang nyaris jatuh dari dataran tinggi, saat aku hendak mengikuti ayahku.</p>
<p>Akan tetapi, tak diduga-duga aku menderita hipoksia. Pada akhirnya aku bertemu dengannya tanpa kusadari. Karena ruang mesin waktu ajaib, dia menyelamatkan aku. Aku sungguh berterima kasih padanya. Sangat ingin berterima kasih padanya dan mengatakan padanya bahwa aku mencintainya selamanya.</p>
<p>Meski aku tak dijodohkan dengannya, aku rela kehilangan nyawaku sendiri demi dia seperti apa yang dia lakukan padaku. Karena, aku cinta padanya setulus hatiku.&#8221;</p>
<p style="text-align:center;"><strong>The End</strong></p>
<p><strong>Soundtrack :</strong> IU &#8211; Mia</p>
<object height="81" width="100%"><param name="wmode" value="transparent"><param name="movie" value="http://player.soundcloud.com/player.swf?url=http%3A%2F%2Fapi.soundcloud.com%2Ftracks%2F15226986&amp;g=1&amp;show_comments=false&amp;auto_play=true&amp;color=fdbc4a"></param><embed height="81" src="http://player.soundcloud.com/player.swf?url=http%3A%2F%2Fapi.soundcloud.com%2Ftracks%2F15226986&amp;g=1&amp;show_comments=false&amp;auto_play=true&amp;color=fdbc4a" type="application/x-shockwave-flash" width="100%"> </embed> </object>
<p><em><strong>Note :</strong></em> akhirnya kelar juga ini sequel The Girl I Never Met nya, btw jeongmal mianhamnida kalo gaje juga gak masuk diakal ya, aku hanya menulis apa yang ada di pikiranku, hehe.. <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  jeongmal gamsahamnida uda mau baca ampe habis, monggo di komen dan tolong bantu share ya, gomawo.. <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  *bow*</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ffindo.wordpress.com/47928/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ffindo.wordpress.com/47928/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ffindo.wordpress.com/47928/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ffindo.wordpress.com/47928/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ffindo.wordpress.com/47928/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ffindo.wordpress.com/47928/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ffindo.wordpress.com/47928/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ffindo.wordpress.com/47928/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ffindo.wordpress.com/47928/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ffindo.wordpress.com/47928/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ffindo.wordpress.com/47928/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ffindo.wordpress.com/47928/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ffindo.wordpress.com/47928/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ffindo.wordpress.com/47928/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ffindo.wordpress.com&amp;blog=9871143&amp;post=47928&amp;subd=ffindo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ffindo.wordpress.com/2012/01/27/the-girl-i-never-met-2-love-diary-sequel/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0a49e17023c3df5d6ea5fb5774a9e68c?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">karenagatha</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ffindo.files.wordpress.com/2011/12/thegirlinevermet2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">TheGirlINeverMet2</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>[PROLOG] MY SILENT DOLL</title>
		<link>http://ffindo.wordpress.com/2012/01/27/prolog-my-silent-doll/</link>
		<comments>http://ffindo.wordpress.com/2012/01/27/prolog-my-silent-doll/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Jan 2012 10:44:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jymyuyumi</dc:creator>
				<category><![CDATA[jymyuyumi]]></category>
		<category><![CDATA[Cho kyuhyun]]></category>
		<category><![CDATA[Prolog]]></category>
		<category><![CDATA[Super Junior]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ffindo.wordpress.com/?p=49649</guid>
		<description><![CDATA[Title: [PROLOG] MY SILENT DOLL author: jymyuyumi cast: cho kyuhyun , and other hidden cast pg: 16 genre: romance disclaimer: owning the plot kyuhyun menatap keluar jendela sambil mengerutkan dahinya saat mendengar suara aneh di luar rumahnya. suara? di tengah &#8230; <a href="http://ffindo.wordpress.com/2012/01/27/prolog-my-silent-doll/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ffindo.wordpress.com&amp;blog=9871143&amp;post=49649&amp;subd=ffindo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Title: [PROLOG] MY SILENT DOLL</p>
<p>author: jymyuyumi</p>
<p style="text-align:left;">cast: cho kyuhyun , and other hidden cast</p>
<p>pg: 16</p>
<p>genre: romance</p>
<p>disclaimer: owning the plot</p>
<p><span id="more-49649"></span></p>
<p>kyuhyun menatap keluar jendela sambil mengerutkan dahinya saat mendengar suara aneh di luar rumahnya.</p>
<p>suara? di tengah malam begini?</p>
<p>kyuhyun berjalan keluar rumah dan berjalan mengikuti suara aneh tersebut.</p>
<p>suara aneh itu berasal dari sebuah kardus besar, yang memungkinkan seorang manusia masuk ke dalam kardus tersebut.</p>
<p>kardus itu bergerak, dengan sendirinya, menyebabkan suara aneh.</p>
<p>kyuhyun membuka kardus itu pelan, sedikit takut, takut kalau bisa saja di dalam kardus tersebut berisi makhluk atau binatang yang dapat menyerangnya kapan saja.</p>
<p>namun semua imajinasi aneh kyuhyun tentang binatang atau makhluk-makhluk menyeramkan itu hilang, saat melihat isi kotak tersebut</p>
<p>seorang perempuan, badannya mungil. wajahnya manis bagaikan boneka. boneka porselen. rambutnya berantakan, wajahnya terdapat lebam dan sedikit kotoran, namun semuanya tidak mengurangi manisnya gadis tersebut.</p>
<p>kyuhyun diam, terpaku disana untuk beberapa saat.</p>
<p>gadis itu juga menatap kyuhyun, dengan wajah takut.</p>
<p>kyuhyun yang menyadari ketakutan gadis itu tersenyum pelan, dan mengulurkan tangannya untuk gadis itu.</p>
<p>gadis itu meraih tangan kyuhyun, dan berdiri dengan kaki yang tidak sigap, membuat kyuhyun merasa kalau dia perlu menggendong gadis itu untuk masuk ke rumahnya.</p>
<p>gadis itu diam dalam gendongan kyuhyun, dia menatap kyuhyun dalam, matanya merekam semua lekuk wajah kyuhyun, detak jantungnya tidak beraturan, wangi tubuh laki-laki ini membuatnya tenang, semuanya seolah olah menandakan kalau dia sudah jatuh cinta pada laki-laki ini. pada pandangan pertama.</p>
<p>**</p>
<p>HUEHEHEHEU.</p>
<p>FF baru nih. karena aku ngerasa ff yang lama udah rada ngebosenin ya, takutnya gimana gitu. jadi nyoba bikin ff baru. um, tenang aja yang itu bakal tetep dilanjutin. kkkk</p>
<p>kenapa judulnya MY SILENT DOLL? ya, bakal dijelasin di part part yang akan datang.</p>
<p>jadi, bilang dulu ya. gini um, FF ini terinspirasi dari MV &#8220;Davichi &#8211; Don&#8217;t Say Goodbye&#8221; tau? ya kalau gatau coba search di youtube. kkkk nah, ceritanya bakal kaya begitu kira-kira, tapi dikembangin dan ada yang dibedain dari aku.</p>
<p>untuk masalah berapa part dll, aku belom tau, yang jelas ini sequel. aku gapernah nargetin aku harus nyelesaiin ff dalem berapa chapter. kenapa? soalnya itu bikin berantakan ceritanya entar. jadi ikutin aja ya kkkk.</p>
<p>terus um, ya kalo kalian punya ide, atau masukan buat ff ini, coba aja email-in ke aku, bisa jadi aku masukin ke ff ini. hohoho.</p>
<p>udah deh, segitu aja. lanjut atau engga nya tergantung RCL dari kalian ya. kkkkkkk RCLnya ditunggu!</p>
<p>ohiya, emailnya: veeonna@hotmail.com</p>
<p>[PS: tolong konfirmasi ke twitter aku ya, kalo kalian udah ngirim email etc, soalnya aku jarang banget ngecek email, kecuali kalo perlu kkk. @paradied]</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ffindo.wordpress.com/49649/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ffindo.wordpress.com/49649/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ffindo.wordpress.com/49649/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ffindo.wordpress.com/49649/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ffindo.wordpress.com/49649/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ffindo.wordpress.com/49649/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ffindo.wordpress.com/49649/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ffindo.wordpress.com/49649/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ffindo.wordpress.com/49649/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ffindo.wordpress.com/49649/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ffindo.wordpress.com/49649/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ffindo.wordpress.com/49649/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ffindo.wordpress.com/49649/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ffindo.wordpress.com/49649/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ffindo.wordpress.com&amp;blog=9871143&amp;post=49649&amp;subd=ffindo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ffindo.wordpress.com/2012/01/27/prolog-my-silent-doll/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/925dd9f27c60be05a8121e667d6afd52?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">jymyuyumi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>[Part 10 of ?] No! Name: Remake</title>
		<link>http://ffindo.wordpress.com/2012/01/27/part-10-of-no-name-remake/</link>
		<comments>http://ffindo.wordpress.com/2012/01/27/part-10-of-no-name-remake/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Jan 2012 07:14:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>v3aprilia</dc:creator>
				<category><![CDATA[dwiananing]]></category>
		<category><![CDATA[FFindo]]></category>
		<category><![CDATA[v3aprilia]]></category>
		<category><![CDATA[DBSK]]></category>
		<category><![CDATA[f(x)]]></category>
		<category><![CDATA[jyj]]></category>
		<category><![CDATA[Kyuhyun Super Junior]]></category>
		<category><![CDATA[No! Name]]></category>
		<category><![CDATA[SM Entertainment]]></category>
		<category><![CDATA[TVXQ]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ffindo.wordpress.com/?p=49640</guid>
		<description><![CDATA[1 &#124; 2 &#124; 3 &#124; 4 &#124; 5 &#124; 6 &#124; 7 &#124; 8 9 Author: v3aprilia, dwiananing, Fiensa_F Length: chaptered Genre: drama, family, friendship, romance Rating: PG Main Cast: No! Name&#8217;s member: - Choi Eunhoon (Orchid Choi) &#8212;&#62; dwiananing - Jung Iseul (Kiara Jung) &#8212;&#62; v3aprilia - Park Jiyoo (Jane Park) &#8212;&#62; Fiensa_F - Byeon Ji Young (Jill Byeon) &#8212;&#62; LiaaML - Kim &#8230; <a href="http://ffindo.wordpress.com/2012/01/27/part-10-of-no-name-remake/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ffindo.wordpress.com&amp;blog=9871143&amp;post=49640&amp;subd=ffindo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ffindo.files.wordpress.com/2011/09/ff.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-43951" title="FF" src="http://ffindo.files.wordpress.com/2011/09/ff.jpg?w=584" alt=""   /></a></p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://ffindo.wordpress.com/2011/09/19/part-1-of-no-name-remake/">1</a> | <a href="http://ffindo.wordpress.com/2011/09/26/part-2-of-no-name-remake/">2</a> | <a href="http://ffindo.wordpress.com/2011/10/03/part-3-of-no-name-remake/">3</a> | <a href="http://ffindo.wordpress.com/2011/10/13/part-4-of-no-name-remake/">4</a> | <a href="http://ffindo.wordpress.com/2011/10/20/part-5-of-no-name-remake/">5</a> | <a href="http://ffindo.wordpress.com/2011/10/29/part-6-of-no-name-remake/">6</a> | <a href="http://ffindo.wordpress.com/2011/11/08/part-7-0f-no-name-remake/">7</a> | <a href="http://ffindo.wordpress.com/2011/11/15/part-8-of-no-name-remake/">8</a></p>
<p style="text-align:center;"><a title="9" href="http://ffindo.wordpress.com/2011/11/29/part-9-of-no-name-remake/">9</a></p>
<p><strong>Author: </strong><a href="http://www.v3aprilia.wordpress.com">v3aprilia</a>, <a href="http://www.twitter.com/yeolzy">dwiananing</a>, <a href="http://www.twitter.com/Fiensa_F">Fiensa_F</a></p>
<p><strong>Length: </strong>chaptered</p>
<p><strong>Genre: </strong>drama, family, friendship, romance</p>
<p><strong>Rating: </strong>PG</p>
<p><strong>Main Cast:</strong></p>
<p><strong>No! Name&#8217;s member:</strong></p>
<p>- <a href="http://ffindo.files.wordpress.com/2011/09/kang-su-ra-42.jpg">Choi Eunhoon</a> (Orchid Choi) &#8212;&gt; <a href="http://www.twitter.com/yeolzy">dwiananing</a></p>
<p>- <a href="http://ffindo.files.wordpress.com/2011/09/tumblr_lkl1i1w8i61qglp8ko1_500.jpg">Jung Iseul</a> (Kiara Jung) &#8212;&gt; <a href="http://www.twitter.com/V3aprilia">v3aprilia</a></p>
<p>- <a href="http://ffindo.files.wordpress.com/2011/09/do-hwae-ji-18.jpg">Park Jiyoo</a> (Jane Park) &#8212;&gt; <a href="http://www.twitter.com/Fiensa_F">Fiensa_F</a></p>
<p>- <a href="http://ffindo.files.wordpress.com/2011/09/tumblr_lhuf6zadbq1qaw13zo1_500.jpg">Byeon Ji Young</a> (Jill Byeon) &#8212;&gt; <a href="http://www.twitter.com/LiaaML">LiaaML</a></p>
<p>- <a href="http://ffindo.files.wordpress.com/2011/09/tumblr_lik5ydgwmt1qbu1tso1_400.jpg">Kim Hye Ran</a> (Rainy Kim) &#8212;&gt; <a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1420358946">Rani Dwi</a></p>
<p><strong>JYJ</strong></p>
<p>- Kim Jaejoong</p>
<p>- Park Yoochun</p>
<p>- Kim Junsu</p>
<p><strong>Note: </strong>Fiuuuuh, akhirnya bisa publish juga! *ngelap keringet seember*. Maaf FF ini baru bisa publish sekarang, soalnya triothor (?) kemaren2 sibuk UAS, dan pasca UAS malah kena &#8216;masalah&#8217; baru, yaitu <em>block writer </em>alias mentok ide. Semoga ini cukup memuaskan para Anonymous (:p) yg udah setia menunggu FF, hehehe. Happy reading! ^^<br />
<span id="more-49640"></span></p>
<p><strong><em>Flashback…</em></strong></p>
<p>Jung Bo Ra, adalah saudara tiri Byeon Ji Young, tapi sepertinya Bo Ra sama sekali tidak mau mengakui kenyataan itu. Dia tidak menyukai keputusan ayahnya untuk menikah lagi, apalagi dengan wanita yang sudah mempunyai anak yang sebaya dengannya. Bo Ra bersikap sangat dingin dengan Ji Young, dan seberapa pun banyak usaha Ji Young untuk mendekatinya, semakin sering pula dia menghindari Ji Young.</p>
<p>Ji Young tahu semua tentang Bo Ra, dia tahu tentang band indie yang dibentuk saudara tirinya itu, No! Name. Ji Young menonton hampir setiap pertunjukan mereka di Hongdae, tapi hanya dari jauh. Bo Ra sudah mewanti-wanti Ji Young untuk tidak membocorkan pada orang-orang kalau mereka adalah saudara tiri, bahkan pada No! Name. Meskipun sedih, tapi Ji Young menurutinya. Menurutnya, mungkin ini adalah akibat dari kesalahannya dan ibunya yang masuk dalam kehidupan Bo Ra, dan dia mencoba untuk menolak apapun yang berhubungan dengan Ji Young. Ji Young ingin sekali menunjukkan pada Bo Ra, betapa dia mengagumi yeoja itu, betapa dia melihat Bo Ra begitu bersinar di atas panggung, tapi percuma. Bo Ra sudah terlanjur tidak menyukai Ji Young, bahkan saat pertemuan pertama mereka.</p>
<p>Bahkan saat akhirnya Ji Young dan Bo Ra sama-sama lolos audisi SM, Bo Ra tidak mengubah sikapnya. Dia justru semakin menjaga jarak dari Ji Young. Ji Young paham, itu karena Bo Ra harus keluar dari bandnya dan menjadi trainee SM. Ji Young tidak tahu kenapa Bo Ra tetap mengambil kesempatan itu meskipun dia juga tidak rela untuk keluar dari bandnya. Tapi seperti biasa, Bo Ra tidak mau menjawab.</p>
<p>Suatu hari, selepas menjalani latihan yang berat, Ji Young mendekati Bo Ra yang sedang berkutat di depan laptopnya.</p>
<p>“Hei, istirahatlah… Kau menjalani latihan yang berat tadi…” tegur Ji Young.</p>
<p>“Sebentar lagi,” kata Bo Ra. Setelah setahun menjalani training di SM, Ji Young bersyukur Bo Ra sedikit demi sedikit mulai membuka diri, meskipun dia masih tidak ingin orang-orang mengetahui hubungannya dan Ji Young sebagai saudara tiri.</p>
<p>Ji Young tertarik dengan apa yang dilihat Bo Ra. Dia melongokkan kepalanya dan melihat kalau Bo Ra sedang melihat video-video latihan No! Name, serta video yang direkam dari seorang temannya tiap kali No! Name perform di Hongdae dulu. Ketika melihat video itu, Ji Young seperti melihat Bo Ra yang berbeda. Bo Ra yang bersinar, dan sangat ceria. Sementara Bo Ra yang duduk di dekatnya sekarang tak lebih dari Bo Ra yang pemurung dan selalu kelelahan.</p>
<p>Sinar mata Bo Ra menyiratkan kerinduan, rindu memegang gitar, rindu menyanyi bersama No! Name di Hongdae. Meskipun hanya panggung yang tak seberapa besar dan hanya penggemar band indie saja yang menyukai mereka, tapi nyatanya itu hal yang lebih membahagiakan Bo Ra lebih dari apapun.</p>
<p>“Kau suka main gitar kan?” tanya Bo Ra, memecah keheningan. Ji Young menatapnya bingung.</p>
<p>“Ya, aku suka,” kata Ji Young bingung. “Darimana kau tahu…?”</p>
<p>“Aku pernah melihatnya sekali,” kata Bo Ra. “Saat itu aku lalu berpikir, seandainya kau keluar dari tempat ini dan menggantikanku di No! Name…”</p>
<p>“Bicara apa kau?” kata Ji Young, nada suaranya meninggi. “Siapa yang berniat menggantikan posisimu disana? Siapapun tak boleh melakukannya, termasuk aku!”</p>
<p>“Aku hanya berpikir, bukan berarti aku menginginkannya,” kata Bo Ra datar, dia menganggap reaksi Ji Young itu terlalu berlebihan. Dia kemudian mematikan laptopnya lalu naik ke tempat tidur, dan sebentar saja, dia sudah tertidur pulas. Ji Young masih termangu di kursinya, bertanya-tanya kenapa Bo Ra mengatakan hal semacam itu.</p>
<p>Beberapa hari kemudian…</p>
<p>Ji Young mengusap peluhnya sehabis berlatih dan mengangkat teleponnya yang berbunyi nyaring di balik jaketnya yang terlipat sembarangan di sudut studio latihan. Telepon itu berasal dari nomor yang tidak diketahuinya.</p>
<p>“Yobosaeyo, Ji Young-ssi…” kata suara di seberang telepon, terdengar panik.</p>
<p>“Yobosaeyo, dengan siapa…”</p>
<p>“Bo Ra, Bo Ra tiba-tiba pingsan setelah mengeluh sakit di dadanya!” kata orang itu, yang seketika membuat jantung Ji Young serasa mau berhenti. Sakit? Bo Ra sama sekali tidak pernah mengeluh sakit apapun selama ini.</p>
<p><em>Kenapa pada saat seperti ini justru aku tidak ada didekatnya? </em>batin Ji Young. Dengan panik dia menanyakan rumah sakit tempat Bo Ra dirawat, dan segera menuju kesana.</p>
<p>Sampai didepan ruang ICU, Ji Young melihat ibunya menangis sementara ayah tirinya berusaha untuk menenangkannya, dan… Kyuhyun? Kenapa dia bisa ada disini?</p>
<p>Kyuhyun menatap Ji Young, yang masih bertanya-tanya, tapi Ji Young memilih mendekati ibunya.</p>
<p>“Ji Young-ah, Bo Ra… dia…” isak ibunya. “Kenapa dia bisa…”</p>
<p>Ji Young menggeleng, air matanya mulai mengalir. Dia tidak tahu kenapa mendadak Bo Ra bisa seperti ini. Bo Ra bukan gadis penyakitan, dan Ji Young tidak pernah melihatnya mengeluh sakit. Ayah tiri Ji Young tidak berkata apa-apa, tapi terlihat jelas kalau dia sangat mengkhawatirkan putri kandung satu-satunya itu.</p>
<p>Setelah hampir satu jam, dokter akhirnya keluar dari ruang ICU. Dia melepas penutup kepala hijaunya dan menatap empat orang yang menunggu dengan cemas di luar ruangan. Hati Ji Young nyeri melihat wajah murung dokter itu, dan tangis pun seketika meledak di tempat itu ketika dokter mengatakan kalau Bo Ra sudah tidak tertolong.</p>
<p>“Kenapa kau bisa sama sekali tidak mengetahuinya…” kata ayah tiri Ji Young tajam, dengan mata yang memerah dia menatap Ji Young dengan marah.</p>
<p>“Appa, aku…”</p>
<p>Tapi ayahnya tidak mau dengar. Laki-laki paruh baya itu bersandar di tembok, menangis sejadi-jadinya melihat kenyataan kalau Bo Ra-nya sudah pergi. Ji Young merasa sakit di hatinya, dan yang bisa dia lakukan hanyalah memeluk ibunya untuk menenangkan wanita itu.</p>
<p>Di rumah duka, anehnya tak banyak yang datang, hanya ada Amber, Luna, Krystal, Sulli, dan Victoria yang saat itu masih menjadi trainee, Kyuhyun, dan satu staff SM. Tak ada petinggi SM yang datang mengucapkan bela sungkawa kesana. Ji Young memilih menghindar ke samping rumah duka ketika melihat teman-teman Bo Ra di No! Name datang. Ji Young takut saat melihat mereka, takut mereka menyalahkannya atas kematian Bo Ra.</p>
<p>“Kenapa kau menghindari teman-temannya?” tanya Kyuhyun. Ji Young menoleh dengan kaget. Tapi alih-alih menjawab, Ji Young balik bertanya pada Kyuhyun.</p>
<p>“Kenapa kau bisa ada disana?” tanya gadis itu. “Kenapa kau ada di rumah sakit saat itu?”</p>
<p>“Karena aku mengenalnya dengan baik,” jawab Kyuhyun cepat. “Dan aku juga tahu kalau kalian saudara tiri.”</p>
<p>Ji Young sangat terkejut mendengar semua itu.</p>
<p>“Ibumu dan ibuku berteman baik, dan sebelumnya aku hanya tahu kalau ibumu hanya punya satu orang anak. Tapi dulu saat aku bertemu dengannya, dia mengatakan padaku kalau “Ji Young dan Bo Ra satu manajemen dengan Kyuhyun”, dan sejak itulah aku tahu kalau kalian saudara tiri.”</p>
<p>Ji Young takjub dengan Kyuhyun yang bisa tahu banyak tentang dia dan Bo Ra, tapi itu tidak cukup menghapus kesedihan dan kekecewaannya.</p>
<p>“Apa manajemenmu itu tidak tahu kalau satu trainee-nya meninggal?” tanya Ji Young geram.</p>
<p>Kyuhyun menoleh ke belakang, melihat staff SM yang sedang bicara pada keluarga Ji Young. “Entahlah,” jawabnya singkat. “Ji Young-ssi, itu manajemenmu juga…”</p>
<p><em>Tidak setelah apa yang mereka lakukan pada saudaraku, </em>batin Ji Young. Tak ada yang peduli pada Bo Ra, tak ada yang terlihat menyesal karena kehilangan satu trainee-nya. Dan alih-alih berbela sungkawa, SM mengajukan tawaran untuk tidak membesar-besarkan kasus ini ke media supaya keluarga tidak tertekan. Keluarga Ji Young yang sedang dirundung kesedihan menyetujui hal itu.</p>
<p>Setelah upacara kematian Bo Ra, Ji Young heran karena tak ada satupun media yang mengangkat berita tentang Bo Ra. Yang muncul tak lebih dari sekadar desas desus tentang seorang trainee dari manajemen besar yang meninggal karena serangan jantung, dan berakhir sebagai bahan perdebatan simpang siur yang dalam sekejap mata langsung lenyap begitu saja. Ji Young mencoba mencari tahu kebenarannya, kenapa bisa terjadi hal seperti ini.</p>
<p>“Kenapa kau harus mempertanyakannya lagi?” tanya Kim Young Min, saat Ji Young menanyakan tentang masalah Bo Ra langsung pada CEO SM ini. “Kau merasa kematian Bo Ra harus menyebar luas dan melihat manajemenmu ini dihujani kritik dimana-mana? Dia meninggal karena serangan jantung mendadak dan tak ada satupun yang bisa mencegah.”</p>
<p>“Aku tidak memintamu untuk mencegah!” kata Ji Young. “Tapi aku heran kenapa tak ada satupun orang disini yang peduli dengan Bo Ra, seolah-olah dia tidak pernah ada, seolah-olah dia bukan bagian dari SM!”</p>
<p>“Lalu menurutmu apa yang harusnya kami lakukan? Menabur bunga di makamnya setiap hari atau menyantuni keluarganya?” tanya Young Min. “Kau dengar ini, Byeon Ji Young, bahkan keluarga dari Jung Bo Ra sudah setuju dengan kami untuk tidak menyebarluaskan berita tentang kematian Bo Ra, itu semua demi kebaikan dan ketenangan mereka. Apa kau bisa bayangkan apa yang terjadi kalau berita ini bocor?” tanya Young Min retoris.</p>
<p>“Tapi…”</p>
<p>“Lalu memangnya apa yang ingin kau ungkapkan tentang kematian Bo Ra ini? Apa kau pikir kematian Bo Ra itu kesalahan manajemen?” tanya Young Min. “Sekali lagi kuberitahu, gadis itu meninggal karena serangan jantung mendadak. Kau ada disana, kau melihat hasil otopsinya. Dimana letak kesalahan kami?”</p>
<p>Ji Young ingin sekali mengatakan kalau kesalahan manajemen adalah tidak adanya klarifikasi tentang berita yang beredar simpang siur. Dia hanya butuh pengakuan dari pihak manajemen kalau berita trainee yang meninggal itu adalah trainee SM, dan dia meninggal karena serangan jantung. Itu saja. Tapi manajemen sama sekali tidak melakukan apapun, hanya membiarkan berita yang beredar menjadi kacau tanpa ada klarifikasi sama sekali.</p>
<p>“Aku tidak ingin mendengar hal seperti ini diungkit-ungkit lagi. Kau kesini untuk kami latih menjadi seorang entertainer, bukan menyelidiki kasus kematian,” kata Young Min.</p>
<p>Ji Young mengepalkan tangannya, dia merasa sangat marah.</p>
<p style="text-align:center;" align="center">***</p>
<p>Setelah kematian Bo Ra, hari-hari selama training dilalui Ji Young dengan penuh kesedihan. Latihan-latihan yang dia jalani terasa sangat berat, dan menurutnya, lebih berat daripada trainee lain. Sekeras apapun Ji Young berusaha untuk memperbaiki kesalahannya, selalu saja tutornya bisa menemukan kesalahannya, dan tutornya sering mengatakan kalau Ji Young tidak akan pernah bisa jadi artis karena dia sama sekali tidak menunjukkan perkembangan. Ji Young merasa sangat letih baik mental maupun fisik, apalagi keadaan di rumahnya pun sama buruknya. Ayah tirinya menganggap Ji Young tidak bisa menjaga Bo Ra di SM, yang akhirnya mengakibatkan meninggalnya Bo Ra. Berbulan-bulan pria paruh baya itu tidak bicara dengan Ji Young, dan mengurung diri di kamarnya tiap kali Ji Young pulang ke rumah.</p>
<p>“Ji Young-ah, kau kelihatannya lelah sekali,” kata ibu Ji Young. “Apa jadwal latihanmu semakin padat? Akhir-akhir ini bahkan sebulan sekalipun belum tentu kau bisa datang ke rumah.”</p>
<p>“Ya, sebentar lagi aku akan debut,” kata Ji Young lalu mengatakan kalau dia akan debut sebagai salah satu member f(x). Ibunya gembira dengan berita itu, tapi Ji Young hanya bisa tersenyum hambar. Bagaimana tidak, itu semua bohong. Ji Young sendiri tidak tahu kapan dia bisa debut, dan dia bahkan tidak tahu apakah dia memang akan bergabung di f(x) atau tidak.</p>
<p>Beberapa hari kemudian, sebuah surat dikirimkan ke dorm tempat Ji Young tinggal, dimasukkan dalam amplop coklat berukuran sedang. Ji Young membawanya masuk ke kamar dan saat dia membuka amplop coklat tersebut, sebuah buku berwarna kecoklatan meluncur keluar dari dalam amplop beserta secarik kertas.</p>
<p><em>Maaf, aku tidak bermaksud menyembunyikan ini darimu. Sebenarnya aku berniat ingin memberikan ini padamu saat di rumah duka, tapi aku tidak mau orang lain melihatnya dan kemudian curiga. Jadi aku mengirimkannya. Bo Ra membuat ini untukmu, dan dia berpesan padamu untuk membaca tulisannya di halaman terakhir. </em></p>
<p><em>Ji Young, apapun keputusanmu setelah membaca itu, kuharap itu membuatmu bahagia. </em></p>
<p><em>-Kyuhyun-</em></p>
<p>Ji Young tidak habis pikir, kenapa Bo Ra bisa sedekat itu dengan Kyuhyun tanpa dia ketahui sama sekali, sampai Bo Ra bisa mempercayakan buku ini pada Kyuhyun. Ji Young membuka buku itu. Ternyata buku itu berisi foto-foto Bo Ra bersama teman-temannya di No! Name, foto-foto mereka saat manggung di Hongdae dan festival-festival musik lainnya. Tidak ada banyak tulisan disana, lebih banyak foto. Ji Young langsung mencari halaman terakhir seperti yang dikatakan Kyuhyun dalam suratnya. Barulah disana Ji Young melihat beberapa halaman yang penuh dengan tulisan.</p>
<p><em>Ji Young-ah, </em></p>
<p><em>Aku menulis ini tepat sehari setelah aku mulai membuka diri padamu untuk pertama kalinya. Aku menyesal kenapa butuh waktu bertahun-tahun untuk menyadari kalau sebenarnya kau sudah bersikap sangat baik padaku, dan aku membencimu hanya karena satu alasan: karena kau saudara tiri. Aku mohon maafkan aku, aku sangat menyesal. </em></p>
<p><em>Ji Young-ah, </em></p>
<p><em>Kau tentu tahu apa yang paling kuimpikan seumur hidupku. Sebelum akhirnya kau membaca tulisan ini, kau tentunya sudah melihat halaman-halaman sebelumnya. Itulah impianku yang sebenarnya. Di No! Name, aku bisa mewujudkan mimpiku sebagai seorang musisi, dan meskipun jalan yang kami tempuh sangat sulit, aku bahagia dengan itu. Ini hal lain yang kusesali, kenapa aku keluar dari No! Name demi menjadi trainee di SM, yang belum tentu dalam waktu cepat bisa debut. </em></p>
<p><em>Ji Young-ah, </em></p>
<p><em>Aku merindukan saat-saat bersama No! Name. Saat-saat kami tidur bersama di apartemen yang sempit setelah kelelahan manggung atau setelah menciptakan lagu. Aku merindukan lampu-lampu yang berpijar indah di festival musik Myeong Dong, merindukan penonton band indie yang menyukai lagu-lagu kami. Aku merindukan panggung sempit di Music Underground, karena disitulah aku menemukan hidupku, lewat ekspresi penonton kami yang mengikuti musik-musik kami. Entah kenapa aku merasa, aku tidak akan bisa kembali ke saat-saat seperti itu lagi. Aku tidak ingin firasat burukku itu terjadi Ji Young-ah, aku ingin sekali kembali pada mereka, ingin menyanyi bersama mereka lagi. </em></p>
<p><em>Ji Young-ah, </em></p>
<p><em>Aku tak sengaja melihat kemampuanmu saat bermain gitar di studio dulu. Aku merasa kemampuanmu jauh lebih baik daripada aku. Dan entah kenapa, aku seperti melihat bayanganku sendiri saat melihatmu bermain gitar. Aku seperti melihat bayanganmu yang menjadi bagian dari No! Name. Aku tahu, ini sangat delusional, tapi entah kenapa, hal itu selalu terbayang dalam pikiranku. </em></p>
<p><em>Ji Young-ah, </em></p>
<p><em>Semakin lama aku memikirkannya, semakin besar keinginanku untuk keluar dari tempat ini. SM bukan tempat yang membanggakan untukku, karena di No! Name-lah kebanggaanku yang sebenarnya. Aku ingin keluar… aku ingin keluar dari tempat ini… </em></p>
<p><em>Tapi, Ji Young-ah, kalau seandainya tidak memungkinkan bagiku untuk keluar, kau yang keluar. Temui mereka, temui No! Name, gantikan posisiku, jadilah aku… Aku yakin kau bisa… </em></p>
<p><em>Ji Young-ah, aku menyayangimu. </em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Halaman-halaman buku itu sedikit basah terkena tetesan air mata Ji Young saat membaca tulisan terakhir Bo Ra. Bo Ra seperti bisa membaca pikiran Ji Young kalau sebenarnya dia sendiri juga mulai tidak betah di manajemen ini.</p>
<p>Akhirnya, mulai malam itu Ji Young sudah mengambil keputusan untuk keluar dari SM, keluar dari tempat penuh tekanan ini.</p>
<p style="text-align:center;" align="center">***</p>
<p>“Kau sadar apa yang kau lakukan?!” bentak ayah tiri Ji Young, saat gadis itu mengatakan dengan tegas kalau dia keluar dari SM. “Dan apa alasanmu tadi? Tidak betah?”</p>
<p>“Ya, Appa, aku sudah tidak betah disana,” jawab Ji Young singkat.</p>
<p>“Tapi Ji Young-ah, sebentar lagi kau debut…” kata ibunya.</p>
<p>“Mau jadi apa kau? Sudah berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk melatihmu, tapi menjelang debut kau keluar begitu saja? Kau kira SM itu taman bermain?!” bentak ayahnya lagi.</p>
<p>“Aku tidak mau tertekan disana, Appa. Aku ingin menjalani hidupku sendiri,” kata Ji Young.</p>
<p>“Menjalani hidupmu sendiri? Baiklah. Silakan kau jalani hidupmu sendiri, aku tidak sudi ikut campur!” kata ayahnya lalu masuk ke kamarnya.</p>
<p>“Yeobo!” panggil ibu Ji Young. “Ji Young-ah…”</p>
<p>“Tidak apa-apa, Omma. Kalian tidak perlau mencemaskanku lagi, aku akan hidup mandiri mulai sekarang,” kata Ji Young.</p>
<p>Sejak itulah Ji Young terpisah dari keluarganya, menyewa apartemen sempit dengan harga termurah sambil bekerja serabutan untuk membiayai hidupnya dan latihan gitarnya. Sesekali dia mendatangi makam Bo Ra, dan jika punya cukup uang, dia membeli beberapa batang anggrek putih, bunga kesukaan Bo Ra. Hidup sulit seperti ini dijalani Ji Young dengan sabar, hingga akhirnya dia mendengar berita tentang manajemen baru milik JYJ dan No! Name yang mengikuti audisi disana.</p>
<p><strong><em>End of flashbask…</em></strong></p>
<p style="text-align:center;" align="center">***</p>
<p>Kesenyapan merayapi seluruh ruangan di dorm kecil itu tepat setelah Ji Young menyelesaikan ceritanya. Iseul, Jiyoo, dan Hye Ran sangat terkejut dengan kenyataan yang diceritakan Ji Young, dan seakan belum cukup, Ji Young menunjukkan pada mereka buku yang dulu diberikan Bo Ra lewat Kyuhyun, dan mereka membaca tulisan Bo Ra di halaman-halaman terakhir.</p>
<p>“Jadi… kaukah yeoja yang kulihat di pemakaman saat itu?” tanya Iseul pelan. “Yang menaruh anggrek putih di makam Bo Ra onnie?”</p>
<p>Ji Young mengangguk.</p>
<p>Pintu dorm terbuka dan Eunhoon melangkah masuk. Wajahnya penuh dengan kesedihan dan lelah. Tapi ketika melihat teman-temannya juga berwajah murung, bahkan Hye Ran pun bersimbah air mata, Eunhoon segera menghampiri mereka.</p>
<p>“Ada apa?” tanya Eunhoon.</p>
<p>“Darimana saja kau?” tanya Hye Ran dengan suara parau. Eunhoon tertegun. Dia tahu kalau Hye Ran sedang sangat marah, dia tidak akan memanggil teman-temannya dengan sebutan ‘onnie’.</p>
<p>“Maaf, aku baru dari…”</p>
<p>Hye Ran bangkit dari kursi dan masuk ke kamar.</p>
<p>“Hye Ran,” panggil Iseul.</p>
<p>“Biarkan dia,” cegah Ji Young. Dia lalu menoleh kearah Eunhoon, berusaha mengalihkan topik. “Kau darimana? Ini sudah jam duabelas malam.”</p>
<p>“Maaf onnie, ada sedikit masalah di jalan,” kata Eunhoon tanpa menjelaskan masalah apa yang dia maksud. Eunhoon tidak menyangka kalau Jaejoong bisa memendam perasaan seperti itu padanya, dan terlebih lagi, namja itu menciumnya… Tidak mungkin Eunhoon menceritakannya, apalagi dengan kondisi tidak mengenakkan seperti ini.</p>
<p>“Ada apa? Kenapa Hye Ran marah? Apa karena aku?” tanya Eunhoon khawatir.</p>
<p>“Tidak, ini karena aku,” kata Ji Young, dan Eunhoon bertambah heran karena belum pernah dia mendengar Ji Young berkata sepelan itu. Ji Young kemudian bangkit dari kursi dan berusaha tersenyum menenangkan diri. “Ayo, kita tidur. Besok jadwal kita padat,” katanya lalu berjalan masuk ke kamar.</p>
<p>“Apa yang terjadi?” tanya Eunhoon. “Kenapa aku jadi satu-satunya orang yang tidak tahu?”</p>
<p>“Aku yang jelaskan, Eunhoon, aku yang jelaskan,” Jiyoo menenangkan sahabatnya, lalu menaruh buku milik Bo Ra ke atas meja.</p>
<p>“Aku akan bicara pada Hye Ran,” kata Iseul lalu masuk ke kamar. Tinggal Jiyoo berdua dengan Eunhoon. Eunhoon menatap sahabatnya. Kemudian Jiyoo menceritakan sedetailnya apa yang diceritakan Ji Young tadi, termasuk menunjukkan isi tulisan terakhir Bo Ra pada Ji Young. Eunhoon membaca tulisan Bo Ra itu, dan lagi-lagi, halaman buku itu kembali ditetesi air mata.</p>
<p>“Kenapa aku bisa tidak menyadarinya…” kata Eunhoon pelan.</p>
<p>“Bukan hanya kau, kami semua juga tidak tahu,” kata Jiyoo. “Ji Young onnie sudah menjaga rahasia ini selama bertahun-tahun dengan rapi, siapa yang menyangka?”</p>
<p>“Tapi Jiyoo, kau lihat apa yang terjadi setelah itu? Onnie menderita,” kata Eunhoon. “Dan aku merasa sangat bersalah karena tidak mengetahui apapun… aku… merasa sangat bodoh…”</p>
<p>“Eun-ah, bukan salahmu. Ini bukan salah siapa-siapa. Mungkin keadaan yang memaksa Ji Young onnie untuk merahasiakannya, karena kalau tidak, justru dia yang akan disalahkan dan dia tidak mau hal itu terjadi.”</p>
<p>“Tapi aku masih merasa bersalah… aku menjadi leader yang buruk bagi mereka…”</p>
<p>“Lalu apa yang ingin kau lakukan?” tanya Jiyoo. “Mengganti leader? Itu yang kau mau? Memangnya menurutmu siapa yang cocok? Ji Young onnie? Aku? Iseul?”</p>
<p>“Aku tahu, Eunhoon, menjadi leader pastilah berat, melelahkan, dan kau merasa kesepian. Tapi itu tidak benar. Kalau kau merasa lelah, kami siap membantumu. Bagiku, kau tidak pernah gagal sebagai seorang leader,” kata Jiyoo lagi, merangkul pundak Eunhoon.</p>
<p>“Ji Young onnie sudah mencoba berkali-kali untuk tegar meskipun banyak masalah berat yang menimpa dirinya, dan dia selalu berhasil. Kau juga sebaiknya melakukan itu, jangan pernah kau menganggap dirimu lagi sebagai leader gagal, karena kalau kau kuat, kami juga akan kuat. Lakukanlah, Eunhoon, demi kami… demi Bo Ra onnie…” kata Jiyoo lagi.</p>
<p>Dia lalu meraih buku milik Bo Ra, lalu menutupnya. “Dan jangan meneteskan air mata lagi diatas buku ini. Jangan buat pemilik buku ini bersedih.”</p>
<p>Eunhoon menghapus air matanya, sementara Jiyoo tersenyum meskipun air matanya juga masih mengalir.</p>
<p>“Sepertinya bukan hanya ini saja masalahmu,” kata Jiyoo. “Apa kau punya masalah lain?”</p>
<p>Eunhoon menghela napas, dan dia kemudian bercerita tentang apa yang dia alami tadi dengan Jaejoong, serta alasannya kenapa dia tidak bisa menelepon ke dorm. Itu karena ponselnya hilang, lebih tepatnya, dihilangkan Jaejoong. Jiyoo tampak terkejut mendengarnya.</p>
<p>“Lalu apa keputusanmu? Kau menerimanya?” tanya Jiyoo pelan.</p>
<p>Eunhoon terdiam sejenak. Pertanyaan Jiyoo mengingatkannya tentang keputusan yang harus dia ambil setelah Jaejoong menyatakan perasaannya padanya.</p>
<p>“Aku tidak tahu,” jawab Eunhoon.</p>
<p style="text-align:center;" align="center">***</p>
<p>Ji Young tiba-tiba saja terjaga pukul lima lagi. Dilihatnya Eunhoon masih tertidur pulas di sebelahnya, padahal biasanya Eunhoon selalu yang bangun paling pagi. Merasa tidak bisa tidur lagi, Ji Young beranjak dari tempat tidurnya, hendak mengambil air minum dan sekadar mencuci muka. Namun saat melewati ruang tamu, dia melihat ada seseorang sedang meringkuk di sofa, memeluk kedua kakinya. Ji Young bergerak meraih saklar lampu, tapi seseorang di sofa itu mencegah.</p>
<p>“Jangan nyalakan lampunya,” katanya.</p>
<p>Ternyata Hye Ran. Ji Young melupakan niatnya untuk mengambil minum dan duduk di sebelah Hye Ran.</p>
<p>“Kenapa kau menutupinya?” tanya Hye Ran.</p>
<p>Lama tak terdengar jawaban dari Ji Young. Dia tahu Hye Ran pasti menanyakan kenapa Ji young merahasiakan tentang Bo Ra darinya. Entah kenapa Ji Young merasa sulit menjawab pertanyaan gadis itu.</p>
<p>“Kenapa kau membiarkanku membencimu?” tanya Hye Ran lagi.</p>
<p>Lagi-lagi Ji Young tidak bisa menjawab. Dia juga tidak tahu kenapa dia membiarkan Hye Ran membencinya.</p>
<p>“Tidak tahu,” jawab Ji Young.</p>
<p>Terdengar isak tangis dari Hye Ran. Ji Young merangkul gadis itu mengelus kepalanya.</p>
<p>“Jangan menangis,” kata Ji Young. “Nanti matamu bengkak dan itu sulit ditutupi make-up…”</p>
<p>“Maafkan aku…” kata Hye Ran parau. “Onnie, maafkan aku…”</p>
<p>Ji Young tersentuh, ini pertama kalinya dia mendengar Hye Ran memanggilnya ‘onnie’. Ji Young memeluk gadis yang berusia dua tahun lebih muda darinya itu dan mengelus rambutnya pelan, dia membiarkan Hye Ran menangis dan air matanya membasahi bahunya.</p>
<p>“Tidak apa-apa,” hibur Ji Young sambil menepuk-nepuk pelan punggung Hye Ran. Setiap tepukan di punggungnya membuat tangis Hye Ran semakin menjadi, dia menyesal betapa dia selama ini sudah sering mengecewakan Ji Young dan tidak menghormatinya sebagai seorang ‘kakak’.</p>
<p style="text-align:center;" align="center">***</p>
<p><strong><em>10.00 am, JYJEnt</em></strong></p>
<p>Jaejoong baru saja tiba di ruangannya, dan ketika dia menghampiri mejanya, dia melihat ada jas yang terlipat rapi di atas meja. Jaejoong ingat, ini jas yang dulu dipinjam Eunhoon darinya, dan baru sekarang gadis itu sempat mengembalikan. Saat mengingat Eunhoon, Jaejoong teringat lagi dengan kejadian semalam, ketika Jaejoong bertindak seperti kehilangan akal sehat dengan melempar ponsel Eunhoon, menyatakan perasaannya bahkan mencium gadis itu. Alih-alih menerima, Jaejoong lebih yakin kalau saat ini Eunhoon justru tambah membencinya. Jaejoong merasa tidak nyaman berada di ruangannya, jadi dia memilih keluar.</p>
<p>Baru beberapa langkah dia berjalan dari ruangannya, manajer No! Name, Kang Seung Hun, datang menghampirinya dari arah yang berlawanan. Pria yang kira-kira seumuran dengan Jaejoong ini agak terkejut melihat Jaejoong yang keluar dari ruangannya, karena dia sebenarnya ingin menemui Jaejoong di ruangannya.</p>
<p>“Presdir Kim,” Seung Hun membungkuk. “Sebenarnya ada yang ingin saya bicarakan… tentang No! Name…”</p>
<p>“Ada masalah?” tanya Jaejoong. “Apa ada jadwal yang berbenturan?”</p>
<p>“Tidak, tentang jadwal tidak ada masalah. Setelah promo No! Name selesai, masing-masing member disibukkan dengan kegiatan individu, seperti yang sudah saya paparkan kemarin,” kata Seung Hun. “Tapi… ada sedikit masalah pribadi.”</p>
<p>Jaejoong terbelalak, apakah tentang Eunhoon? Dia berbalik dan mengisyaratkan Seung Hun untuk mengikutinya menuju ruangannya.</p>
<p>“Kau seharusnya tidak perlu ikut campur masalah pribadi mereka, biar mereka sendiri yang menyelesaikannya,” kata Jaejoong.</p>
<p>“Kalau ini tidak menyangkut manajemen, saya tidak akan ikut campur dengan masalah pribadi mereka,” jawab Seung Hun.</p>
<p>Jaejoong berhenti tepat di depan pintu ruangannya. “Manajemen?”</p>
<p>Seung Hun mengangguk. “Ya. Ini juga ada kaitannya dengan masa lalu Byeon Ji Young-ssi sebagai mantan trainee SM.”</p>
<p>“Hyung,” sapa Junsu, yang pagi itu juga ingin bertemu dengan Jaejoong. Tapi dia langsung heran melihat raut wajah Jaejoong dan Seung Hun yang serius.</p>
<p>“Ada apa?” tanyanya.</p>
<p>“Byeon Ji Young,” jawab Jaejoong singkat. Junsu mengerutkan keningnya, bingung. Tanpa disuruh, dia mengikuti Seung Hun dan Jaejoong masuk ke ruangan. Di dalam ruangan, Seung Hun menceritakan tentang masalah yang Ji Young hadapi selama dia menjadi trainee di SM, tekanan-tekanan yang dia alami disana tepatnya semenjak dia kehilangan Jung Bo Ra. Baik Junsu maupun Jaejoong terbelalak mendengar cerita dari Seung Hun.</p>
<p>“Yang aku khawatirkan, kalau sampai berita ini bocor ke publik, banyak orang akan ikut terseret,” kata Seung Hun.</p>
<p>“Tentu saja, dan publik akan menganggap kalau dua manajemen seperti sedang terlibat perang besar,” kata Jaejoong. “Kau sudah memastikan kalau Ji Young memang keluar atas keinginannya sendiri, bukan karena paksaan?”</p>
<p>Seung Hun mengangguk. “Dia keluar murni karena keinginannya sendiri, meskipun alasannya adalah karena dia tertekan berada di SM. Tapi ada hal lain yang ingin saya sampaikan, PresDir…”</p>
<p>“Apa itu?” tanya Jaejoong.</p>
<p>“Sebenarnya saya memiliki kenalan baik yang bekerja di SM, staff administrasi. Tentunya bukan mata-mata, saya dan dia hanya berteman baik, tak lebih dari itu. Saya meminta tolong padanya untuk mengecek data-data mengenai para trainee yang terdaftar di SM, dan saya menemukan hal yang mengejutkan… Dia sama sekali tidak menemukan data apapun tentang Jung Bo Ra dan Byeon Ji Young,” kata Seung Hun.</p>
<p>“Data mereka dimusnahkan?” kata Junsu kaget.</p>
<p>“Saya tidak bisa menyimpulkan seperti itu, dan staff administrasi ini pun tidak tahu banyak,” kata Seung Hun. “Tapi saya penasaran, untuk apa manajemen memusnahkan data trainee yang keluar? Kalaupun trainee keluar dari manajemen, tentunya data-data mereka masih disimpan sebagai arsip.”</p>
<p>“Pemusnahan data-data itu…” kata Junsu. “Aku melihatnya sebagai tindakan untuk menyembunyikan sesuatu…”</p>
<p>“Sesuatu apa?” tanya Seung Hun retoris. “Jung Bo Ra murni meninggal karena sakit, bukan karena dibunuh atau apapun yang berhubungan dengan itu. Kenapa data mereka sampai harus dimusnahkan segala?”</p>
<p>“Karena belum pernah ada kasus seorang trainee meninggal,” Jaejoong mencoba menerka. “Terlebih SM adalah perusahaan besar, kalau sampai berita tentang Jung Bo Ra bocor, citra SM di mata publik akan menurun. Apalagi gadis itu meninggal karena serangan jantung mendadak, itu akan semakin menimbulkan tanda tanya, kenapa mereka membiarkan seorang trainee yang sakit untuk tetap berlatih berat.”</p>
<p>“Lalu Ji Young? Apa salahnya?” tanya Junsu.</p>
<p>“Dia mendesak petinggi SMEnt untuk menjelaskan padanya kenapa kematian Jung Bo Ra ditutupi, dan menurut keterangan Ji Young pada saya, justru karena Bo Ra murni meninggal karena sakit, manajemen beranggapan kalau berita itu tidak perlu dibesar-besarkan. Itu demi kebaikan keluarga Jung Bo Ra, yang merupakan keluarga Byeon Ji Young juga,” kata Seung Hun. “Saya menduga, mungkin pemusnahan data-data Ji Young itu ada hubungannya dengan penghilangan bukti. Pihak manajemen mungkin khawatir kalau setelah Byeon Ji Young keluar, dia akan mengungkapkan berita kematian Bo Ra ke publik. Jadi manajemen memusnahkan data-data mereka supaya Ji Young tidak punya cukup bukti untuk menuntut SM. SM jadi punya alibi untuk menyangkal tuduhan Ji Young, karena Ji Young tidak terbukti pernah menjadi trainee SM.”</p>
<p>“Jadi itu sebabnya SM sama sekali tidak pernah memberikan klarifikasi tentang Ji Young…” kata Jaejoong. Sementara Junsu diam-diam merasa bersalah. Selama ini dia selalu curiga dan bersikap antipati pada Ji Young, ternyata di balik sikap misterius Ji Young, gadis itu menyimpan segudang masalah.</p>
<p>“Apa yang sebaiknya kita lakukan?” tanya Seung Hun.</p>
<p>“Kau hubungi lagi kenalanmu di SM, untuk memastikan apakah mereka memang benar-benar menghapus semua data tentang Jung Bo Ra dan Byeon Ji Young. Meskipun kita harus merahasiakan hal ini, kita juga harus tahu kebenaran tentang data-data mereka di SM.”</p>
<p>“Merahasiakan?” tanya Seung Hun lagi.</p>
<p>“Kita tidak mungkin menyulut api permusuhan, manajer Kang,” kata Junsu. “Benar apa yang diucapkan PresDir Kim, untuk sementara kita harus merahasiakan ini dari publik. Kita tidak mungkin kembali menyeret Byeon Ji Young ke dalam masalah yang sama. Gadis itu pasti masih merasa tertekan setelah menceritakan masalahnya padamu, manajer Kang.”</p>
<p>Seung Hun mengangguk. “Baiklah, saya akan mencoba menghubungi staff administrasi SM lagi.”</p>
<p>Jaejoong menghela napas. “Manajer Kang… pastikan jangan sampai ketahuan.”</p>
<p style="text-align:center;" align="center">***</p>
<p>Changmin duduk berhadapan dengan Lee Soo Man di sebuah restoran siang itu. jadwal Changmin yang tidak terlalu padat hari ini memungkinkannya untuk menyanggupi undangan Soo Man makan siang dengannya. Meskipun selama makan siang itu diselingi dengan obrolan santai, tapi Changmin tahu kalau Soo Man sebenarnya ingin menanyakan sesuatu padanya. Soo Man mungkin akan mengatakan itu setelah mereka selesai makan.</p>
<p>“Changmin-ssi,” kata Soo Man, sambil meletakkan garpunya selesai makan. “Kudengar kau sering berusaha mencari tahu tentang mantan trainee yang bernama Byeon Ji Young.”</p>
<p>Dugaan Changmin benar. Dia mencoba tersenyum tenang. “Apa itu sebabnya anda mengajak saya makan siang di ruangan yang dipesan khusus ini?”</p>
<p>Soo Man menatap suasana di sekitarnya sebentar. Di ruangan itu memang ada satu meja bagi pengunjung yang ingin menikmati makan siang dan malam secara eksklusif. Soo Man tertawa pelan. “Dan untuk itu juga aku sengaja tidak mengajak sekretaris pribadiku.”</p>
<p>Changmin tersenyum mendengar kelakar pria paruh baya di depannya. “Hanya sekadar ingin tahu saja.”</p>
<p>Soo Man menggeser posisi duduknya dan meneguk sedikit anggur di gelasnya. “Lalu apakah CEO Kim Young Min mengetahui hal itu?”</p>
<p>“Ya,” jawab Changmin. Dia merasa tidak perlu merahasiakan apa-apa dari pria di depannya ini. Berkat Kyuhyun, dia kini tahu banyak hal tentang Ji Young dan Bo Ra yang ternyata bersaudara tiri itu, bahkan alasan kenapa Ji Young keluar dari SM, sehingga dia tidak perlu susah payah lagi mencari kemana-mana.</p>
<p>“CEO menyuruh saya untuk tidak melanjutkannya,” kata Changmin lagi.</p>
<p>Soo Man mengangguk mengerti. Dia meneguk lagi anggurnya. “Aku pun akan menyarankan hal itu padamu, Changmin-ssi.”</p>
<p>Senyum Changmin sedikit memudar. <em>Dia memihak pada CEO?</em></p>
<p>“Aku juga tidak mau artis yang kubina melakukan hal-hal diluar bidangnya,” kata Soo Man. “Kau entertainer, Changmin-ssi, maka lakukan apa yang memang harus kau lakukan sebagai entertainer.”</p>
<p>“Anda seperti sedang mencoba mengatakan hal yang sama dengan yang anda katakan pada Byeon Ji Young di gedung SBS beberapa hari yang lalu,” kata Changmin.</p>
<p>Soo Man sedikit terkejut karena ternyata Changmin mengetahui hal itu, tapi raut wajahnya tetap tenang. “Kau tahu itu?”</p>
<p>“Ada staff SBS yang tak sengaja melihat anda berdua dengan Ji Young. Saya sudah melobinya untuk tidak membocorkan hal itu ke publik,” kata Changmin.</p>
<p>“Oh, terima kasih, kalau begitu,” kata Soo Man lalu tersenyum. “Ya, kau benar, Changmin-ssi. Aku memang mengatakan hal yang serupa pada Ji Young. Intinya, tidak perlu ikut campur dengan urusan internal SM.”</p>
<p>Changmin mulai tersulut emosi tapi dia sebisa mungkin meredamnya. Dia kesal karena sepertinya semua orang selalu ingin menutup-nutupi kebenaran tentang Bo Ra dan Ji Young.</p>
<p>“Apa anda takut kalau saya mencari tahu tentang Ji Young dan Bo Ra, juga bisa membawa saya menemui JYJ?” tanya Changmin, menohok. Dia tahu Soo Man terkejut mendengar pertanyaan Changmin, meskipun ekspresi wajah Soo Man tetap tenang.</p>
<p>“Anda tidak usah khawatir, saya sudah tidak terlalu berminat lagi mencari tahu tentang mereka. Seperti yang CEO pernah katakan pada saya, saya ini entertainer, bukan detektif bayaran,” kata Changmin. Padahal sebenarnya dia memang sudah mengumpulkan banyak informasi dari Kyuhyun, sehingga dia berani mengatakan itu. Changmin kemudian berdiri sambil mengancingkan jasnya dengan satu tangannya.</p>
<p>“Saya mohon maaf, Presiden Lee, tapi saya masih ada jadwal kegiatan selepas makan siang ini,” kata Changmin lalu memohon diri untuk pergi.</p>
<p>“Changmin-ssi,” panggil Soo Man, saat Changmin baru dua langkah meninggalkan meja. “Ada alasan kenapa aku melarangmu dan Ji Young untuk ikut campur masalah ini.”</p>
<p>Changmin membalikkan badannya menghadap Soo Man.</p>
<p>“Itu karena aku memiliki urusan pribadiku sendiri, yang terkait dengan dua gadis itu dan keadaan internal SM,” jawab Soo Man. Seakan tak cukup membuat Changmin terkejut, Soo Man menambahkan,</p>
<p>“Aku ingin melakukan caraku sendiri untuk melengserkan Kim Young Min dari jabatannya saat ini.”</p>
<p style="text-align:center;" align="center">***</p>
<p>Eunhoon yang paling pertama datang ke studio latihan setelah menyelesaikan semua jadwal kegiatannya. Sambil menunggu member lain datang, dia iseng mencoba memainkan gitar akustik yang memang tersedia di studio itu. Terkadang Eunhoon berhasil menciptakan nada lagu yang bagus, dan dia segera mencatatnya di kertas partitur yang ada di dekatnya.</p>
<p>Tiba-tiba seseorang membuka pintu studio, dan Eunhoon mendengar suara langkah kaki. Awalnya dia mengira itu salah satu temannya, mungkin saja Iseul. Tapi saat Eunhoon mendongak untuk melihat siapa yang datang dengan wajah antusias, senyum di wajahnya memudar dan berubah menjadi canggung. Orang itu ternyata Jaejoong.</p>
<p>Jaejoong sendiri tampaknya juga tidak tahu kalau ada Eunhoon di studio itu. Dia segera menyembunyikan kotak yang dibawanya ke balik punggungnya. Eunhoon berdiri lalu membungkuk pada Jaejoong.</p>
<p>“Kau sendiri?” tanya Jaejoong basa basi, padahal kenyataannya memang sudah jelas, tak ada siapa-siapa lagi kecuali mereka berdua.</p>
<p>“Sebentar lagi member lain akan datang,” kata Eunhoon. “Kami sebentar lagi akan latihan untuk persiapan Hallyu Wave Concert di Jepang.”</p>
<p>“Ah, ya, seminggu lagi,” kata Jaejoong. Pria itu lalu menghela napas, untuk menghilangkan perasaan canggungnya. “Eunhoon-ssi, aku tak tahu darimana harus memulainya, tapi aku… aku benar-benar menyesal dengan apa yang aku lakukan kemarin…”</p>
<p>Raut wajah Eunhoon berubah, dan Jaejoong tidak bisa menebak apakah gadis ini sedang menahan marah atau tangis. “Aku… seharusnya tidak bersikap seperti itu…”</p>
<p>Eunhoon masih diam, dan itu semakin membuat Jaejoong salah tingkah. Selama beberapa saat mereka hanya diam.</p>
<p>“Saya minta maaf…” kata Eunhoon, buka suara. Jaejoong tertegun karena Eunhoon berbicara padanya dengan bahasa yang sangat formal, benar-benar seperti atasan dan bawahan.</p>
<p>“Seharusnya saya tidak bersikap kasar pada anda. Sekali lagi saya minta maaf,” kata Eunhoon lagi, lalu membungkuk meminta maaf. Jaejoong tidak suka Eunhoon bersikap begini, dia yakin setelah ini hubungan mereka benar-benar menjadi seperti atasan dan bawahan, padahal Jaejoong sudah berniat menjadikan semua artis dan trainee-nya seperti keluarganya sendiri. Kali ini Jaejoong benar-benar yakin kalau Eunhoon masih tersinggung dengannya.</p>
<p>“Itu hakmu untuk marah,” kata Jaejoong. Tangannya tergerak hendak mengeluarkan kotak yang dia sembunyikan di balik punggungnya.</p>
<p>“Apakah anda sungguh-sungguh?” tanya Eunhoon tiba-tiba. Tangan Jaejoong terhenti.</p>
<p>“Apakah yang anda katakan kemarin itu sungguh-sungguh?” tanya Eunhoon lagi.</p>
<p>Jaejoong menghela napas. “Apa itu penting? Toh kau tersinggung setelah melihat kenyataannya. Kau mungkin akan lebih memilih orang yang sudah lebih dulu dekat denganmu, dengan Cho Kyuhyun.” Jaejoong menaruh kotak yang dari tadi dibawanya keatas meja di sampingnya.</p>
<p>“Kuharap itu cukup untuk menebus kesalahanku,” kata Jaejoong sambil menunjuk kotak itu. “Dan, Eunhoon-ssi… apa yang kukatakan kemarin itu memang sungguh-sungguh. Kalau kau berpikir aku hanya mempermainkanmu, itu tidak benar. Aku memang sungguh…”</p>
<p>Rasanya berat bagi Jaejoong untuk mengatakan ‘mencintaimu’, dan dia akhirnya memilih pergi dari studio sebelum situasinya menjadi lebih canggung lagi.</p>
<p>“Saya tidak memilih siapapun,” kata Eunhoon. Jaejoong berbalik dan menatap gadis itu.</p>
<p>“Saya akui saya menyukai salah satunya, tapi saya tidak bisa memilih untuk bersama dengannya. Baik saya maupun member No! Name tengah mengalami masalah yang sulit, dan akan sangat egois kalau saya bersenang-senang dengan memiliki seorang namjachingu. Saya… harus terus berada di samping teman-teman saya dalam kondisi mereka yang sedang sulit, jadi…”</p>
<p>“Aku paham. Apapun pilihanmu, aku tidak bisa memaksa,” kata Jaejoong. Dia berbalik, berjalan menuju pintu studio. “Tampilkan yang terbaik saat Hallyu Wave nanti,” katanya lalu berjalan keluar.</p>
<p>Eunhoon meraih kotak putih yang diberikan Jaejoong. Dia membukanya dan ternyata isinya adalah ponsel baru, sama persis dengan yang dimiliki Eunhoon sebelum dilempar keluar mobil oleh Jaejoong. Eunhoon tanpa sadar meneteskan air mata, dia tahu keputusannya sangat membuat dia kecewa tapi dia juga sadar dengan posisinya saat ini. Dia leader, dan dia harus berada di sisi teman-temannya. Dia harus mengesampingkan egonya demi teman-temannya, demi band-nya.</p>
<p>“Maafkan aku…”</p>
<p style="text-align:center;" align="center">***</p>
<p>“Yobosaeyo? Da Eun-ssi?”</p>
<p>“Seung Hun-ssi?”</p>
<p>“Kau sudah dapat informasinya?”</p>
<p>“Hanya sedikit,” sosok wanita di seberang telepon itu menghela napas. “Aku sudah mendapat kepastian kalau data-data yang kau minta itu, tentang mantan trainee Jung Bo Ra dan Byeon Ji Young memang sudah dimusnahkan.”</p>
<p>“Apa kau tahu kapan mereka memusnahkan data kedua trainee? Apa tujuannya?”</p>
<p>“Tidak tahu,” kata Da Eun. “Maaf, Seung Hun-ssi, mengenai pemusnahan data-data itu bukan bidangku, lebih tepatnya, bukan pekerjaanku. Manajemen pasti akan menyuruh staff yang benar-benar mereka percaya untuk melakukan itu. Aku baru setahun bekerja disini, dan perlu usaha keras hanya untuk mengorek keterangan yang sedikit ini.”</p>
<p>“Tidak apa-apa. Aku hanya memerlukan informasi itu saja. Terima kasih banyak, Da Eun-ssi,” kata Seung Hun lalu menyudahi pembicaraan via telepon itu. Ternyata memang benar, data-data Jung Bo Ra dan Byeon Ji Young memang sudah dimusnahkan, dengan tujuan yang masih simpang siur dan hanya berupa hipotesis.</p>
<p style="text-align:center;" align="center">***</p>
<p>Akhirnya, untuk pertama kalinya No! Name mendapat kesempatan menjadi salah satu artis yang memeriahkan Hallyu Wave Concert di Jepang. Tak ada yang benar-benar menghebohkan dari perhelatan Hallyu Wave tersebut, kecuali kepastian tentang TVXQ! yang untuk pertama kalinya akan satu panggung dengan No! Name. Itupun tidak diikuti dengan pemberitaan yang heboh, seperti yang biasanya ditunjukkan publik terhadap dua manajemen TVXQ! dan No! Name yang bersaing sengit ini. Semua berjalan dengan lancar, berita-berita muncul dengan sewajarnya tanpa ada sesuatu yang menimbulkan kontroversi.</p>
<p>Beberapa jam sebelum konser dimulai, para artis Hallyu berkumpul di sebuah hall untuk mengadakan konferensi pers. No! Name duduk bersebelahan dengan TVXQ!, dan Iseul duduk tepat disamping Yunho. Sesaat sebelum duduk, Iseul mencoba bersikap selayaknya hoobae pada sunbae, menundukkan kepalanya dengan sopan kearah Yunho. Yunho membalasnya dengan senyuman, dan hanya itu saja. Selebihnya Yunho bersikap tenang, seolah tidak pernah mengenal Iseul dengan akrab. Melihat sikap Yunho, Iseul akhirnya berusaha membuat dirinya tenang, dan selama konfrensi pers, Yunho pun sama sekali tidak menoleh ke arah Iseul.</p>
<p>Sekitar duapuluh menit kemudian, konferensi pers selesai. Yunho merapikan jasnya dan berdiri dari kursi, bersamaan dengan para artis Hallyu lain yang beranjak meninggalkan hall. Tapi tepat saat CNU B1A4 yang duduk di depan Iseul berdiri dan menghalangi sorotan kamera kearah gadis itu, Yunho memanfaatkan kesempatan itu dengan menyelipkan selembar kertas kecil ke tangan Iseul. Iseul terkejut, tapi dia tidak mungkin menoleh. Dia menggenggam kertas yang diberikan Yunho, berusaha bersikap tenang.</p>
<p>Ketika para artis sudah benar-benar meninggalkan hall, Iseul memanfaatkan kesempatan itu untuk pergi ke kamar mandi. Disana Iseul membuka kertas kecil itu, yang sudah basah karena keringatnya.</p>
<p><em>Dagashiya café, 9.30 PM</em></p>
<p>Setelah konser selesai, Yunho ingin bertemu? Untuk apa? Iseul tidak tahu apa yang sedang direncanakan Yunho, tapi dia memutuskan untuk datang. Iseul lalu menghanyutkan kertas itu ke kloset.</p>
<p style="text-align:center;" align="center"><strong>***To Be Continue***</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ffindo.wordpress.com/49640/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ffindo.wordpress.com/49640/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ffindo.wordpress.com/49640/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ffindo.wordpress.com/49640/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ffindo.wordpress.com/49640/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ffindo.wordpress.com/49640/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ffindo.wordpress.com/49640/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ffindo.wordpress.com/49640/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ffindo.wordpress.com/49640/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ffindo.wordpress.com/49640/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ffindo.wordpress.com/49640/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ffindo.wordpress.com/49640/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ffindo.wordpress.com/49640/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ffindo.wordpress.com/49640/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ffindo.wordpress.com&amp;blog=9871143&amp;post=49640&amp;subd=ffindo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ffindo.wordpress.com/2012/01/27/part-10-of-no-name-remake/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/817a1bd89ad87c19fa883eacb5a96dc1?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">v3aprilia</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ffindo.files.wordpress.com/2011/09/ff.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">FF</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Protect The Noona [3 of ?]</title>
		<link>http://ffindo.wordpress.com/2012/01/27/protect-the-noona-3-of/</link>
		<comments>http://ffindo.wordpress.com/2012/01/27/protect-the-noona-3-of/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Jan 2012 02:48:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dwiananing</dc:creator>
				<category><![CDATA[dwiananing]]></category>
		<category><![CDATA[FFindo]]></category>
		<category><![CDATA[B2ST]]></category>
		<category><![CDATA[EXO]]></category>
		<category><![CDATA[Hyunseung]]></category>
		<category><![CDATA[Infinite]]></category>
		<category><![CDATA[kim myungsoo]]></category>
		<category><![CDATA[L]]></category>
		<category><![CDATA[Myungsoo]]></category>
		<category><![CDATA[Oh Se Hun]]></category>
		<category><![CDATA[Oh Sehun]]></category>
		<category><![CDATA[Se Hun]]></category>
		<category><![CDATA[Sehun]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ffindo.wordpress.com/?p=49631</guid>
		<description><![CDATA[Title: Protect The Noona Author: dwiananing (@yeolzy) Length: Series Main Cast: - Choi Eunhoon (@yeolzy) - Kim Myungsoo (L) INFINITE Minor Cast: - Oh Sehun EXO - Hyunseung B2ST Genre: Romance, Friendship Rating: PG Soundtrack:  PART 1 &#124;&#124; PART 2 Myungsoo’s POV Saat &#8230; <a href="http://ffindo.wordpress.com/2012/01/27/protect-the-noona-3-of/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ffindo.wordpress.com&amp;blog=9871143&amp;post=49631&amp;subd=ffindo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ffindo.files.wordpress.com/2012/01/page5.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-49632" title="page" src="http://ffindo.files.wordpress.com/2012/01/page5.jpg?w=584" alt=""   /></a></p>
<p>Title: Protect The Noona</p>
<p>Author: <a href="http://dwiananing.wordpress.com/">dwiananing</a> (<a href="https://twitter.com/#!/yeolzy">@yeolzy</a>)</p>
<p>Length: Series</p>
<p>Main Cast:</p>
<p>- Choi Eunhoon (<a href="https://twitter.com/#!/yeolzy">@yeolzy</a>)</p>
<p>- Kim Myungsoo (L) INFINITE</p>
<p>Minor Cast:</p>
<p>- Oh Sehun EXO</p>
<p>- Hyunseung B2ST</p>
<p>Genre: Romance, Friendship</p>
<p>Rating: PG</p>
<p>Soundtrack: <span style="text-align:center; display: block;"><a href="http://ffindo.wordpress.com/2012/01/27/protect-the-noona-3-of/"><img src="http://img.youtube.com/vi/dmYQDPs2HE4/2.jpg" alt="" /></a></span></p>
<p><a href="http://ffindo.wordpress.com/2012/01/15/protect-the-noona-1-of/">PART 1</a> || <a href="http://ffindo.wordpress.com/2012/01/21/protect-the-noona-2-of/">PART 2</a></p>
<p><span id="more-49631"></span></p>
<p><strong>Myungsoo’s POV</strong></p>
<p>Saat aku hendak pergi dari kelas Eunhoon, aku mendengarnya memanggilku dengan suara lantangnya.</p>
<p>“Myungsoo-ah, kau mau kemana?” tanyanya. Semua orang, tidak terkecuali, semuanya menoleh ke arahku.</p>
<p>Aku menoleh dan tersenyum ke arahnya, “Tadinya aku ingin memberikanmu ini noona. Tapi aku lihat kau sedang bersama temanmu. Jadi aku tidak ingin mengganggumu.”</p>
<p>Aku menyerahkan sebungkus kado spesial berpita biru padanya dan tersenyum padanya.</p>
<p>“Ah Se Hun? Kenalkan, dia sahabatku,” katanya tersenyum. Se Hun yang berada di sebelahnya membungkuk ke arahku dan tersenyum padaku.</p>
<p>“Annyeong, Se Hun imnida.”</p>
<p>“Annyeong sunbae, Myungsoo imnida,” kataku tersenyum lalu membungkuk. Aku merasa kalau Se Hun adalah namja yang baik.</p>
<p>“Ah, panggil saja aku hyung,” kata Se Hun sambil menepuk pundakku. Aku lalu mengangguk pelan.</p>
<p>“Ah iya, aku kan belum ulang tahun. Kenapa kau memberikan kado untukku?” tanya Eunhoon sambil menatapku heran.</p>
<p>“Aku hanya ingin memberikannya untukmu noona. Bukan dalam rangka apa-apa,” jawabku gugup. Aku bisa merasa keringat dingin mengucur di keningku.</p>
<p>“Baiklah. Gomawo Myungsoo-ah,” katanya tersenyum manis. “Apa aku boleh membukanya sekarang?”</p>
<p>“Jangan noona. Kau buka saja nanti di rumah,” cegahku dengan cepat.</p>
<p>“Hmm baiklah. Sekali lagi terima kasih ya. Aku dan Se Hun kembali ke kelas dulu. Dah,” katanya melambaikan tangannya lalu berbalik dengan Se Hun di sampingnya.</p>
<p>Hatiku lega, karena Eunhoon mau menerima kadoku dan tentu saja, karena namja yang bersama Eunhoon tadi ternyata sahabatnya, bukan lebih dari yang aku bayangkan.</p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p><strong>Eunhoon’s POV</strong></p>
<p>“Hmm, kira-kira apa ya isi kado ini?” tanyaku tersenyum sendiri lalu perlahan membuka pita biru yang cantik itu. Aku sendiri bingung, darimana dia tahu kalau warna biru adalah warna kesukaanku ya?</p>
<p>Aku perlahan membuka bungkus kado itu dan melihat sepasang kaos kaki dan sepasang sarung tangan angry birds yang selama ini aku cari di dalamnya. Ya, aku memang suka sekali dengan angry birds dan mengumpulkan segala pernak-pernik yang berbau angry birds. Kelihatan seperti anak kecil bukan? Tapi aku memang benar-benar menyukainya karena dari kecil aku memang suka mengumpulkan boneka. Dan kebiasaan itu tidak bisa hilang sampai sekarang.</p>
<p>Tiba-tiba saja segala pertanyaan muncul di kepalaku. Tadi aku berpikir bagaimana dia bisa tahu kalau ya aku menyukai warna biru. Dan sekarang, bagaimana dia bisa tahu kalau aku suka sekali angry birds dan sedang mencari sepasang kaos kaki dan sepasang sarung tangan itu? Walaupun aku sangat senang, tapi tentu saja aku jadi penasaran darimana dia mengetahui hal ini. Aku bahkan belum lama berkenalan dengannya dan belum pernah menceritakan tentang apa saja yang aku suka.</p>
<p>Aku lalu memakai sepasang kaos kaki dan sepasang sarung tangan dan tersenyum, “Myungsoo-ah, terima kasih banyak.”</p>
<p>Aku berbaring di kasur empukku dan mematikan lampu kamar. Aku yakin malam ini aku akan tidur nyenyak.</p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p>“Myungsoo-ah,” panggilku padanya. Aku sudah merasa datang paling pagi, tapi saat aku tidak sengaja melewati kelas Myungsoo, aku sudah melihatnya sedang sendirian di kelas dan menelungkupkan wajahnya ke meja dan menutupnya dengan kedua tangannya. Entah mengapa, aku tersenyum melihatnya.</p>
<p>Dan karena aku merasa dia tidak mendengarku, aku perlahan masuk ke kelasnya dan mencoba membangunkannya.</p>
<p>“Myungsoo-ah,” panggilku pelan tepat di telinganya dan sedikit membungkuk.</p>
<p>“Myungsoo-ah,” panggilku lagi. Namun dia tetap tidak bergerak sedikit pun.</p>
<p>“Myung&#8211;“</p>
<p>Belum sempat aku memanggil namanya dan menepuk pundaknya berniat untuk membangunkannya lagi, tiba-tiba saja wajahnya sudah menghadap ke arahku dan jarak wajah kami sangat dekat. Atau bahkan terlalu dekat.</p>
<p>Entah mengapa aku tidak bisa bergerak sama sekali, seolah terbius oleh ketampanan Myungsoo yang mungkin selama ini belum aku rasakan. Apalagi dengan jarak sedekat ini.<br />
Wajahnya benar-benar sempurna. Dan yang benar-benar membuatku tertegun adalah matanya. Ya, matanya memancarkan sesuatu yang seolah-olah menghipnotisku. Matanya benar-benar indah</p>
<p>“Noona, sedang apa kau disini?” tanyanya tersenyum manis padaku dan masih tetap dengan posisi yang sama. Hembusan nafasnya sangat terasa di wajahku.</p>
<p>Aku perlahan tersadar dan dengan cepat berdiri dan duduk di kursi yang berada di depan Myungsoo. Aku bisa mendengar Myungsoo bangun dari duduknya dan duduk di depanku, dengan wajahnya berada tepat di depan wajahku. Nafasku benar-benar tidak beraturan, keringat dingin mengucur di keningku dan aku yakin sekali kalau mukaku merah padam. Aku benar-benar ingin cepat pergi dari tempat ini.</p>
<p>“Aku.. kesini.. karena.. aku.. ingin.. berterima.. kasih.. padamu. Soal kado yang.. kamu berikan padaku.. kemarin,” jawabku terbata-bata. Aku benar-benar tidak berani menatap wajahnya.</p>
<p>“Ah soal itu. Tidak apa-apa noona. Aku malah senang karena kau menyukai kado yang kuberikan, “ katanya. “Oh ya noona, apa aku boleh tahu nomor handphonemu?”</p>
<p>“Eh?” tanyanya bingung. Akhirnya aku berani menatap wajahnya, walaupun sepintas saja. Dadaku masih berdegup kencang</p>
<p>“Boleh kan noona? Aku mohon. Kau sudah menganggapku temanmu kan? Karena aku sendiri sudah menganggap noona seperti temanku. Ya, walaupun kita baru beberapa hari ini berkenalan,” katanya sambil mengeluarkan senyum manis andalannya.</p>
<p>“Baiklah.”</p>
<p>Aku menyebutkan nomorku dengan cepat lalu berlari meninggalkan kelas Myungsoo dengan cepat, tanpa berani menatapnya lagi.</p>
<p>Entah mengapa, tiba-tiba aku merasakan hal yang sudah lama tidak pernah kurasakan. Entah, aku sendiri juga tidak tahu rasa apa yang kurasakan saat ini.</p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p><strong>Myungsoo’s POV</strong></p>
<p>Aku mendengar Eunhoon memanggilku. Aku mendengar derap langkah kakinya saat berjalan ke arahku. Aku mendengarnya saat dia memanggilku tepat di telingaku. Karena sebenarnya, aku tidak tidur. Aku hanya menelungkupkan wajahku ke meja dan menutupnya dengan kedua tanganku. Dan aku secara tiba-tiba bangun dan entah mengapa, tepat sekali saat dia juga sedang menatapku.</p>
<p>Aku menatapnya lama, sangat lama dan itu benar-benar terasa sangat indah. Aku bisa menatap wajahnya dari jarak yang sangat dekat. Melihat wajahnya yang sempurna dan sangat cantik. Keningnya, alisnya, matanya, hidungnya, pipinya dan bibirnya. Bibirnya yang mungil dan berwarna pink cerah. Entah mengapa saat itu juga sebenarnya aku ingin sekali menciumnya. Namun untungnya aku masih bisa mengontrol diriku dan tidak melakukannya.</p>
<p>Dan soal kado yang aku berikan padanya, itu bukan hal yang mudah tentu saja. Dan untuk memberikan kado yang benar-benar spesial ini, aku menanyakannya langsung pada sahabatnya, Hyunseung. Ya, aku benar-benar bertanya padanya, saat aku tidak sengaja bertemu dengannya di perpustakaan kampus.</p>
<p><strong><em>-Flashback-</em></strong></p>
<p>“Hyung, warna kesukaan Eunhoon noona apa?” tanyaku langsung dan tentu saja membuat Hyunseung kaget.</p>
<p>“Mwo? Memangnya kenapa?” tanyanya bingung.</p>
<p>“Aku hanya ingin tahu hyung,” jawabku pelan.</p>
<p>“Dia suka warna biru dan yang paling penting, dia itu suka angry birds. Kalau kau ingin memberikan sesuatu untuknya, carilah sepasang kaos kaki dan sarung tangan angry birds. Aku yakin dia akan sangat senang karena dia sedang mencari benda itu dan sampai sekarang belum menemukannya. Apa sudah cukup jelas?”</p>
<p>Aku menatap Hyunseung dengan tatapan tidak percaya. Bagaimana mungkin dia bisa membaca pikiranku sedetail itu?</p>
<p>“Kau menyukai Eunhoon kan?” tanyanya tepat pada sasaran. Aku benar-benar tidak tahu harus jujur atau tidak tentang perasaanku ini. “Kalau kau diam, berarti jawabannya iya.”</p>
<p>Aku terdiam, lama.</p>
<p>“Ya sudah, aku sudah tahu tentang hal ini sejak pertama kali aku melihatmu sedang menatap Eunhoon di taman. Dan ya, dugaanku benar. Tapi apa kau tahu kalau Eunhoon tidak suka namja yang lebih muda darinya?”</p>
<p>Hatiku mencelos, “Aku sudah tahu hyung.”</p>
<p>“Jinjja? Ya, kalau begitu kau seharusnya sudah mengetahui apa yang akan kau lakukan sebelum kau bertindak terlalu jauh nanti. Kau boleh saja menyukainya. Tapi untuk berharap kau bisa berpacaran dengannya, jangan dulu berpikiran sejauh itu. Eunhoon punya masa lalu yang buruk soal itu, dan jangan harap aku mau menceritakan tentang hal itu.”</p>
<p>“Hyung, kumohon ceritakan padaku,” kataku memaksanya.</p>
<p>“Tidak akan,” jawab Hyunseung. “Aku harus segera kembali ke kelas karena jam kedua akan segera dimulai. Oh ya, good luck ya. Semoga kau mendapatkan apa yang aku katakan tadi.”</p>
<p>Hyunseung meninggalkanku sendirian di perpustakaan yang memang sedang sepi saat itu. Seburuk apakah masa lalu yang pernah dialami Eunhoon?</p>
<p><em><strong>-Flashback end-</strong></em></p>
<p>Perlahan ingatanku tentang apa yang dikatakan Hyunseung muncul lagi. Pengalaman buruk apa yang pernah dialami Eunhoon?</p>
<p style="text-align:center;"><strong>***TO BE CONTINUE***</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ffindo.wordpress.com/49631/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ffindo.wordpress.com/49631/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ffindo.wordpress.com/49631/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ffindo.wordpress.com/49631/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ffindo.wordpress.com/49631/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ffindo.wordpress.com/49631/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ffindo.wordpress.com/49631/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ffindo.wordpress.com/49631/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ffindo.wordpress.com/49631/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ffindo.wordpress.com/49631/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ffindo.wordpress.com/49631/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ffindo.wordpress.com/49631/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ffindo.wordpress.com/49631/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ffindo.wordpress.com/49631/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ffindo.wordpress.com&amp;blog=9871143&amp;post=49631&amp;subd=ffindo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ffindo.wordpress.com/2012/01/27/protect-the-noona-3-of/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/70ca3233f5201ada06fed18418ab7db3?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dwiananing</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ffindo.files.wordpress.com/2012/01/page5.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">page</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hottest Club End</title>
		<link>http://ffindo.wordpress.com/2012/01/27/hottest-club-end/</link>
		<comments>http://ffindo.wordpress.com/2012/01/27/hottest-club-end/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Jan 2012 02:40:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>@Jo_twins</dc:creator>
				<category><![CDATA[Enny_xie♥]]></category>
		<category><![CDATA[2PM]]></category>

		<guid isPermaLink="false">https://ffindo.wordpress.com/?p=49633</guid>
		<description><![CDATA[Title : HOTTEST CLUB Author : Enny_xie Main Cast : 2PM , Yeonni , Hyerim , Hyunah , Jinah Lenght : [Series] 3,230 words Rating : [PG-13] + STRAIGHT A.N : GAK SUKA , JANGAN BACA – KLO UDAH BACA &#8230; <a href="http://ffindo.wordpress.com/2012/01/27/hottest-club-end/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ffindo.wordpress.com&amp;blog=9871143&amp;post=49633&amp;subd=ffindo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ennys.files.wordpress.com/2011/11/hottestclub.jpg"><img class="alignnone size-full" src="http://ennys.files.wordpress.com/2011/11/hottestclub.jpg?w=584" alt="" title="/home/wpcom/public_html/wp-content/blogs.dir/d8b/11335143/files/2011/11/hottestclub.jpg"   /></a></p>
<p><b>Title : HOTTEST CLUB </p>
<p>Author : Enny_xie </p>
<p>Main Cast : 2PM , Yeonni , Hyerim , Hyunah , Jinah</p>
<p>Lenght : [Series] 3,230 words</p>
<p>Rating : [PG-13] + STRAIGHT</p>
<p>A.N : GAK SUKA , JANGAN BACA – KLO UDAH BACA , JANGAN LUPA UNTUK RCL [Read,Like &amp; Comen]</b></p>
<p>| <a href="http://ennys.wordpress.com/2011/11/24/hottest-club/" />Prolog</a> | <a href="http://ennys.wordpress.com/2012/01/19/hottest-club-06/" />Previous</a> |</p>
<p>^<span id="more-49633"></span>^ </p>
<p><b>2 Tahun kemudian</b></p>
<p>“AKHIRNYA AKU KEMBALIIIII…….!!!!” Teriak seorang namja ditengah-tengah bandara , semua orang melihatnya </p>
<p>“ngapain tuh! Ngapain tuh!!” sirik mereka<br />
“gila ya….” Ucap satunya lagi </p>
<p>Junsu-pun segera kabur darisana sebelum difoto dan dimasukkan kedalam Facebook (?) . awalnya namja ini ingin segera menghubungi seseorang , tapi setelah dipikir-pikir akhirnya ia membatalkan niat tsb ‘lebih baik mencarinya langsung’ ucapnya seperti itu , karna itulah Junsu-pun segera bergegas menuju keJYP High School . sampai disana , ia langsung mengunjungi Hottest Club , tapi suasana tempat tsb yg kini telah berubah drastis itu membuatnya hampir tersesat </p>
<p>‘apakah betul ini HOTTEST CLUB?? Tidak mirip!?’ </p>
<p>Seseorang mengenalinya , sepertinya yeoja tsb adalah fansnya 2 tahun lalu dimana waktu itu ia seharusnya masih duduk dibangku 1 SMA “Junsu- oppa??” panggilnya </p>
<p>Junsu menoleh kearahnya dan merasa sangat terharu ‘ternyata masih ada yg mengingatku, huhu…’ </p>
<p>“ne” jawabnya malu-malu<br />
“tapi… apakah aku boleh menanyakan sesuatu padamu?” sambungnya kemudian </p>
<p>“ne” jawab yeoja itu </p>
<p>“apakah betul- ini… Hottest club-ku??” menunjuk ruangan yg berada tepat didepan mereka , yeoja tsb tersenyum kecil kemudian mengangguk ‘ya’<br />
‘tidak mungkin kan!!! Kenapa bisa menjadi seperti ini??’</p>
<p>“Jinah dan Hyunah mengubahnya 2 tahun yg lalu , menurutku… lumayan. Hehe”<br />
Ketika yeoja ini ingin berjalan memasuki ruangan tsb “ah! Apakah kamu ingin ikut denganku?” penasaran , Junsu-pun ikut dengannya </p>
<p>Setelah mereka membuka ruangan tsb , sebuah sinar warna-warni langsung menyambut keduanya . ruangan ini terasa sedikit terang dan para namjanya ini terlihat lebih mirip seorang pelayan yg tampan daripada seorang host , semuanya mengunakan celemek berwarna-warni sesuai kegemaran mereka , mereka terlihat manis sekali . tapi suasana tsb bener-bener sangat berbeda dengan Hottest club yg dulu , membuat Junsu tidak tahan melihatnya . namja ini ingin segera mencari Jinah , lalu keluar dari tempat tsb</p>
<p>“mana Jinah?” tanyanya pada seorang namja yg kelihatan agak jangkung itu . sepertinya namja inilah yg paling populer diantara semuanya , karna banyak yeoja yg sedang mengelilinginya . dia adalah Choi Minho , namja terpopuler tahun ini<br />
Tanpa banyak berbicara , Minho menunjuk kesuatu ruangan yg terlihat mirip dengan dapur itu “oh oh… gomawo” charisma Minho terlalu kuat , sampai-sampai Junsu juga hampir jatuh cinta kepadanya (wkwkw)</p>
<p>Junsu-pun langsung menuju ketempat tsb dan dengan perasaan gembira ia membuka pintu tsb , dilihatnya sebuah adegan pelukan dari seorang namja ke-seorang yeoja . yg dapat Junsu pastikan adalah , yeoja itu bernama Lee Jinah ‘tapi siapa namja itu??’<br />
‘tidak mungkin bukan…. DIA TIDAK MENUNGGUKU?? DIA TELAH MEMILIKI PACAR BARU??’ teriak Junsu dalam hati </p>
<p>“LEE JINAH!!” teriak namja ini , Jinah sangat terkejut mendengar seseorang meneriaki namanya seperti itu . tapi rasa terkejutnya itu tidak bisa memenangi rasa senangnya melihat kehadiran Junsu </p>
<p>“KAMU-“ kejutnya , ketika Jinah ingin menghampiri Junsu . namja ini malah menyambutnya dengan muka masem </p>
<p>“SIAPA NAMJA ITU?? ah~ kamu sudah memiliki pacar ternyata… huh! Percuma aku masih percaya kamu akan menungguku” renggeknya , namja yg ditunjuk sebagai pacar baru Jinah itu menolol ditempat ‘apa salahku??’ pikirnya , padahal namja ini hanya ingin membantu Jinah mempersiapkan makanannya . tadinya itu ia tidak sengaja memeluk Jinah dari belakang karna yeoja ini hampir menjatuhkan tempat kue adonannya sendiri , dia bukanlah sengaja </p>
<p>Junsu yg tidak tau apapun itu memilih langsung meninggalkan tempat tsb dan Jinah-pun mengejarnya “ada apa Key umma?? Jinah noona keluar dengan siapa?” tanya Taemin sang magnae </p>
<p>Namja yg tadinya satu ruangan dengan Jinah itu-pun mengangkat kedua bahunya ‘molla’<br />
“tapi…bila aku tidak salah menebak , sepertinya itulah namja yg sedari dulu ditunggu-tunggu oleh Jinah noona . hehe” betul sekali tebakanmu Key , cepek buatmu!!</p>
<p>“JUNSU CHAKAMAN-YO!!!” teriak Jinah pada akhirnya , Junsu berhenti juga </p>
<p>“wae??” namja ini masih rada kesal </p>
<p>Begitu Jinah berdiri didepan Junsu , ia langsung menamparnya PLAK/ “Namja sialan!! Kamu telah membuatku menunggu selama itu dan sekarang kamu ingin pergi begitu saja?? ANDWE!!!” Jinah langsung memeluknya<br />
“andwe…. Aku tidak bisa melepaskanmu lagi , huhu” dan akhirnya menangis juga </p>
<p>Junsu keheranan sambil memegang pipinya yg sudah memerah itu “jadi- apa maksudmu dengan namja itu- (maksudnya Key)”</p>
<p>“jangan salah paham , dia bukanlah siapa-siapaku . aku hanya mengangapnya seorang dongsaeng , percayalah….” Pinta Jinah dan akhirnya Junsu-pun tersenyum setelah mendengar penjelasannya itu<br />
‘baguslah…’ pekiknya dalam hati lalu kembali memeluk Jinah ‘akhirnya….. hihi’</p>
<p>“saranghae , Lee Jinah”</p>
<p>^^</p>
<p>Dua orang namja terlihat memandangi iri magnae mereka yg sedang berpacaran , justru karna pacarnya itulah dulu ia memilih untuk keluar dari Hottest club </p>
<p>“dimalam natal ini , apa yg kamu harapkan dari Santa , Junho?” tanya Wooyoung , namja ini ber’ehem…’ sangat lama </p>
<p>“mungkin- akan lebih baik bila ia bisa mempertemukanku dengan seseorang yg ingin aku temui” lanjutnya yg mendapatkan anggukkan dari Wooyoung ‘me too’<br />
“tapi- fiuh~ aku rasa hal itu hanya bisa kita lakukan dimimpi saja” ucpanya kemudian </p>
<p>“klo begitu ayo kita tidur sekarang ini , hoho” usil si Wooyoung , keduanya-pun tertawa “Hahaha” tapi tawa mereka itu langsung menghilang ketika Chansung nampak terburu-buru mengetok jendela kaca mobil mereka<br />
“waeyo?” tanya Wooyoung </p>
<p>Tanpa menjawabnya , Chansung langsung menunjuk kearah seorang yeoja yg sedang berdiri disana dengan baju tebalnya . sambil tersenyum manis ia melambaikan tangannya kekiri dan kekanan kepada kedua namja ini , melihat hal itu , Junho maupun Wooyoung bergegas keluar dari mobil mereka untuk menyambutnya </p>
<p>“Yeonni a!!! aku tidak sedang bermimpi bukan??” peluk mereka secara bergantian dan yeoja ini masih tetap tersenyum dengan indahnya </p>
<p>“ini nyata , babo!” ucapnya kemudian </p>
<p>“wae-wae- kenapa kamu- bisa berada disini? bukankah- kamu –telah bertunangan?? Dengan- Siapa namanya … kang-hyuk??” ucap Junho terbata-bata </p>
<p>“Kang Minhyuk!” Teriak Wooyoung meralatnya </p>
<p>“ne ne ne… Kang Minhyuk , bukankah kamu…”</p>
<p>“ne! aku memang telah bertunangan dengannya” ucap Yeonni , kedua namja ini kembali merajuk “tapi juga telah memutuskan untuk membatalkannya” lanjutnya kemudian<br />
“bagaimanapun aku mencoba , aku tetap tidak bisa menyukainya . dia tidak dapat memberiku sebuah rasa nyaman , karna itu- aku kembali. Hehe” mengandeng kedua namja ini “menurutku- disini tetap yg terbaik” Wooyoung dan Junho-pun tidak bisa menyembunyikan rasa gembira mereka dan ikut tersenyum “hehehehe…”<br />
“ditambah , sebagai teman sejak kecilnya Jinah . dia menikah , tidak mungkin aku tidak hadir bukan?? (walaupun kerjaan mereka dulunya hanyalah berkelahi dan berkelahi)” Junho dan Wooyoung mengangguk sok mengerti<br />
“Jinah dan Junsu menikah , berarti namja itu juga akan hadir bukan?” tanyanya tiba-tiba </p>
<p>“namja?? Dugu?”</p>
<p>“Taecyeon” mendengar nama namja ini membuat muka Junho dan Wooyoung kembali cemberut ‘ternyata pulangnya yeoja ini untuk melihatnya’</p>
<p>“mungkin… karna sepertinya Junsu telah memberitahu semua orang akan hari baiknya ini” jelas Junho kemudian </p>
<p>“mungkin semua orang akan hadir hari itu” tambah Wooyoung lagi “termasuk namja itu” dikata Namja lebih ditekan </p>
<p>Yeonni mengerti apa maksud mereka dan hanya tersenyum ‘babo! Apakah tidak kelihatan bila aku balik lagi kesini karena kalian berdua , ck’</p>
<p>“jangan salah paham! Aku hanya- penasaran … bukankah katamu semua orang akan hadir hari itu , berarti Hyunah juga dong?? Aku hanya takut , bila bertemu dengan Taecyeon . Hyunah akan sedih melihatnya” jelas Yeonni kemudian </p>
<p>Kedua namja ini menolol ‘maksudnya?’</p>
<p>“bukankah Hyunah-??” ucap mereka barengan , Yeonni menatap mereka dengan serius </p>
<p><em>Yup! Diantara ke4 yeoja ini , ketiganya telah menemukan kekasih mereka . lalu bagaimana dengan Hyunah , sang pemeran utama dalam Fanfic ini?? Check this out!! </em></p>
<p>Hyerim dan Taecyeon telah kembali keKorea setelah mendengar kabar pernikahan Junsu dan Jinah , keduanya-pun kini sedang menuju keapartemen mereka yg dulunya ditinggali oleh Hyunah dan Hyerim . sesampainya disana , tanpa meneriaki nama Hyunah , Hyerim memencet bel apartemennya tsb . tak seberapa lama kemudian , seseorang terdengar berlarian membuka pintu ini . begitu pintu tsb terbuka , kedua mata pemilik apartemen ini tidak bisa berkedip sedikitpun </p>
<p>“ONNI!!!!” teriaknya terlihat begitu gembira<br />
Selesai berpelukan , kini Hyunah heran melihat anak kecil yg sedang digendong oleh Taecyeon itu “ke-po-nakanku??” tanyanya tidak yakin </p>
<p>Taecyeon tidak mengangguk ataupun bergeleng , tapi mulai bicara dengan anak kecil ini “cepat panggil bibi” pintanya , dengan penurut anak yg belum genap 2 tahun ini menurutinya juga </p>
<p>“a-juh-ma” panggilnya , Hyunah sulit mempercayai apa yg sedang ia lihat sekarang ini </p>
<p>“jadi- kalian telah menikah? kenapa tidak memberitahuku!!!” rengeknya </p>
<p>Namja ini bergeleng tidak “kami belum menikah” jelasnya</p>
<p>“….”<br />
“belum menikah tapi sudah punya anak?” heran Hyunah<br />
‘dasar namja tak bertanggung jawab!’ pikirnya juga</p>
<p>“bukan aku tidak mau , tapi – onni-mu . dia belum siap , jadi aku tidak ingin memaksanya” Taecyeon yg berada didepannya ini terlihat sangat berbeda , lebih kebapak-an</p>
<p>Dengan tatapan melemah , Hyunah melirik kearah kamar Hyerim . dimana yeoja ini sedang menidurkan anaknya “jangan katakan padaku , sampai sekarang .. onni masih- me-nyukai Nickhun?” ucapnya terbata-bata </p>
<p>Lagi-lagi Taecyeon bergeleng “seharusnya tidak” ucapnya , Hyunah menatapnya dengan mata menyipit<br />
“jangan menatapku seperti itu , aku yakin dengan jawabanku sendiri”<br />
“seharusnya sedari dulu Hyerim telah melupakan Nickhun , hanya saja sekarang ini masalahnya adalah … bagaimana ia bisa menghadapi adiknya sendiri dengan mantan kekasihnya yg dulunya itu pernah menyakiti perasaannya . apakah kamu mengerti?”<br />
Taecyeon mengengam erat tangan Hyunah “beri dia waktu , hem?” Hyunah mengganguk ‘ya’ </p>
<p>^^</p>
<p>Dimalam pernikahan Jinah dan Junsu . Nickhun yg baru saja pulang Ke-Korea setelah mendapatkan informasi mengenai pernikahan mereka itu , langsung bergegas menuju kelokasi tsb . selama 2 tahun terakhir ini , ia terus mengejar-ngejar Hyerim dan Taecyeon di-Jepang , tapi namja ini sama sekali tidak tau bila yeoja yg ia cari-cari itu berada diKorea menunggunya . Begitu Nickhun sampai dilokasi tsb , acara itu telah lama dimulai dan telah berakhir . tapi untunglah Nickhun mendapatkan kabar bila kedua orang yg berbahagia dimalam ini masih berada disana , Nickhun-pun mencari mereka diruang hias pengantin wanita . sesampainya disana , ia-pun mendapati Junsu yg sedang berbincang-bincang dengan seseorang . ketika Nickhun ingin mendekatinya , seseorang muncul dari belakang namja tsb dan Nickhun sangat terkejut melihatnya </p>
<p>“dia mirip sekali denganmu!!” Junsu mencubiti pelan pipi anak Taecyeon dan Hyerim </p>
<p>“tentu saja! namanya juga sedarah…” ucap Hyunah </p>
<p>Hyunah sedang mengendong anaknya Hyerim dan Taecyeon berdiri disampingnya , pemandangan tsb mau tidak mau tetap akan membuat Nickhun yg melihatnya itu menjadi salah paham . ditambah , sedaritadi keduanya terus menatapi satu sama lain sambil tersenyum manis . sebenarnya Hyerim juga berada disana saat itu , hanya saja sekarang ini ia sedang kebelakang untuk membantu Jinah menukar pakaiannya , yeoja ini menitipkan anaknya ke-Hyunah . Nickhun sama sekali tidak tau akan hal ini dan akhirnya memilih untuk keluar dari tempat tsb dengan keadaan marah , karna terburu-buru ia tidak sengaja menabrak tata rias Jinah didepan pintu BRACCKK/// semua make-up yg ada ditangannya berjatuhan semua , Nickhun ingin membantunya mengutip barang tsb . tapi setelah mendapati ke-3 orang tadi telah melihatnya , namja ini-pun mengurungi niatnya dan segera pergi</p>
<p>“NICKHUN A!!!” teriak Hyunah , yeoja ini sangat terkejut melihatnya disini , tapi juga senang . malam itu ia telah mendengar dari Taecyeon bila namja ini memang pernah mencari Hyerim , tapi Hyerim tidak ingin menemuinya sehinga mereka terus berlarian sana-sini menghindari Nickhun . Taecyeon dan Hyerim juga sama sekali tidak tau bila Nickhun hanya ingin menemui Hyunah </p>
<p>Bagaimanapun Hyunah meneriakinya , Nickhun tetap tidak ingin berhenti </p>
<p>“WAE?? KENAPA MENGHINDARIKU??” tanyanya kemudian , namja ini tepat berdiri dipertengahan jalan . rambu merah sedang menyala</p>
<p>“kalian- sudah menikah?” tanyanya kemudian </p>
<p>Hyunah keheranan “du-gu??” </p>
<p>“kamu- dan- Taecyeon” jelasnya </p>
<p>Yeoja ini mengelengkan kepalanya secara cepat “ani! Siapa juga yg menikah dengannya!!” tolaknya mentah-mentah </p>
<p>“….”</p>
<p>“aku- justru sedang menunggumu disini” sambungnya kemudian</p>
<p>“mwo?? Apa maksudmu?? Bukunkah justru aku yg sedang mengejarmu selama 2 tahun ini , kenapa malah… dan- siapa anak yg kamu gendong tadi? Bukankah itu.. anakmu dan Taecyeon?”</p>
<p>Akhirnya Hyunah tersenyum juga setelah menyadari kesalahpahaman Nickhun “jangan salah paham , dia adalah –“ Hyunah belum sempat menjelaskan apapun kepada namja ini , tapi lampu pada rambu-rambu lalu lintas ini tiba-tiba berubah hijau dan awalnya mobil yg ada didepan Nickhun ini tidak bergerak sama sekali dikarenakan ia melihat Nickhun masih berdiri disana . tapi mobil yg dibelakangnya itu tidak melihatnya dan akhirnya memilih untuk memotong mobil yg ada didepannya . namja ini tidak menyadari hal ini dan mobil tsb juga tidak sempat mengelakkan setirannya . alhasil kecelakaan tsb pun terjadi SSSSSSSRRRRREEEEETTTTTT BHAM BHAM BHAM BHAM BHAM </p>
<p>,,,</p>
<p>Chansung , Yeonni , Wooyoung , Junho , Hyerim , Taecyeon , Junsu dan Jinah nampak terburu-buru mendatangi Nickhun yg sedang terduduk lemas didepan ruangan operasi </p>
<p>“apa-apa yg terjadi??” belum apa-apa Hyerim sudah terisak duluan<br />
“karna itu-karna itu aku melarangnya untuk berhubungan denganmu , kamu hanya akan mencelakai orang lain . nappun nam!!” Hyerim memukul-mukul tubuh Nickhun dan namja ini hanya diam saja , Taecyeon-pun menariknya dan membawanya menjauh darisana </p>
<p>Junsu duduk disamping Nickhun dan mencoba untuk menghiburnya “kamu juga telah terluka , istirahatlah dulu…” pintanya , tapi namja ini menolak , Junsu-pun tidak dapat berkata apa-apa</p>
<p>Tak seberapa lama kemudian , seorang perawatpun keluar dari ruangan tsb dengan membawa beberapa kantong darah yg telah habis dipakai . melihat hal tsb , Nickhun sangat terkejut dan langsung berdiri mendatangi perawat tsb . tapi sayang sebelum ia sempat mengatakan apapun , namja ini telah jatuh pingsan karna luka yg ia dapatkan dari tabrakan yg sama . hanya saja lukanya tidaklah separah Hyunah </p>
<p>“NICKHUN A!! NICKHUN!!!” semua temannya ini langsung membawanya keruangan pasien untuk diobati lebih lanjut </p>
<p>^^</p>
<p><em>Hyunah yg berdiri disamping rambu-rambu lalu lintas itu dapat melihat dengan jelas apa yg sedang terjadi , sebuah mobil tiba-tiba memotong mobil didepannya dan melaju cepat kearah Nickhun . namja ini tidak dapat melihat mobil tsb karna sedang menatapnya bicara , terpaksa Hyunah-pun berlari kearah Nickhun dan mendorongnya kuat . walaupun sudah terdorong cukup jauh , tapi Nickhun tetap terseret oleh mobil tsb , sedangkan Hyunah melambung cukup jauh akibat tabrakan yg terjadi kepadanya</em></p>
<p>“jangan mendekat!! JANGAN!!!” teriak Nickhun frustasi , masih tertera dengan jelas dalam otaknya ketika dirinya ditolong oleh Hyunah . wajah yeoja itu ketika sedang berlari kearahnya , sungguh menakutkan! (maksudnya adegan tsb , bukannya wajah Hyunah . hahaha)</p>
<p>Nickhun tersadar dari mimpi buruknya , akhirnya namja ini siuman juga setelah dibangunkan oleh Wooyoung dan lainnya . melihatnya berteriak-teriak tidak jelas , tentu saja membuat mereka khawatir </p>
<p>“gwencana?” tanya mereka , namja ini mengangguk lemas sambil berkeringatan </p>
<p>Sampai ia tiba-tiba teringat akan sesuatu “Hyunah? Odi??” tanyanya cukup tegang </p>
<p>Ekspresi semua orang yg berada diruangannya ini cukup kelam , pada menundukkan kepala mereka . Nickhun-pun sudah bisa menebak apa maksudnya dan segera keluar dari ruangannya untuk mencari Hyunah , walaupun para temannya ini tidak mengatakan apapun mengenai kondisi Hyunah , tapi mereka tetap membawanya untuk pergi melihatnya secara langsung </p>
<p>“ini” tunjuk Junho </p>
<p>Nickhun-pun membuka pintu tsb dan tiba-tiba saja beberapa perawat keluar dari ruangan itu dengan mendorong sebuah kasur yg penghuninya telah dinyatakan meninggal dunia . Nickhun tidak sanggup mengucapkan sepatah katapun selain menunda kepergian para perawat ini , namja ini hanya bisa bersujud disamping kasur tsb sambil menangis </p>
<p>“wae?? WAE?? Kenapa kamu tidak menungguku , WAE????” teriaknya </p>
<p>Para perawat tsb menyuruhnya untuk minggir , tapi ia sama sekali tidak ingin mendengarnya . sampai akhirnya Hyerim yg kesal itu menjitak kepalanya kuat “YACH! NICKHUN!! KAMU SALAH ORANG , BABO!!!” setelah membuka kain putih orang tsb , Nickhun beneran tidak tau , seharusnya ia senang ataukah sedih<br />
“Hyunah belum pergi!! Ia masih berada disini!!” membawa Nickhun masuk keruangan tsb , dimana seorang yeoja masih terbaring lemas disana </p>
<p>Awalnya semua orang menertawakan tindak tanduk Nickhun yg lucu itu , tapi setelah melihat keadaan Hyunah . semuanya kembali diam </p>
<p>“kata dokter… bila malam ini dia tidak juga sadar , kemungkinan… dia tidak akan pernah bangun lagi untuk selamanya” jelas Hyerim </p>
<p>Nickhun lagi-lagi tidak bisa mengucapkan apapun , hanya menatap kedua mata Hyunah yg masih tertutup rapat itu dan mengengam erat tangannya ‘kamu akan bangun bukan?’<br />
‘kalau kamu beneran ingin melihatku , maka bangunlah~ arra??’ ucapnya dalam hati </p>
<p>Jam dinding terus berdetak , arah jarum jam terus berputar . yg tadinya pagi , kini telah berganti malam , tapi Hyunah tetap tidak memperlihatkan reaksi apapun . Nickhun sangat takut dan akhirnya memilih untuk keluar dari rumah sakit itu kesuatu tempat . semua temannya yg berada diluar ruangan ini mmembiarkannya , karna mungkin ia memerlukan ketenangan . pikir mereka </p>
<p>Tak sampai 1 jam ia pergi , Nickhun-pun kembali dengan sesuatu yg munggil ditangannya . begitu melihatnya , Hyerim langsung mengajaknya untuk bicara “masuklah… ada yg ingin kubicarakan denganmu” Nickhun-pun mengikutinya<br />
Hyerim menyatukan tangan Hyunah dan tangan namja ini “aku merasa , aku sangat egois” ucapnya tiba-tiba<br />
“dulunya aku sama sekali tidak ingin merestui kalian , karna- kamu seharusnya tau .. aku pernah terluka olehmu , jadi.. aku tidak ingin Hyunah mengalami hal yg sama denganku . tapi setelah melihat hal ini , aku sadar , aku telah salah . Hyunah sangat menyukaimu , begitu juga denganmu”<br />
“miane Nickhun a~” namja ini diam seribu bahasa “dan, kudoakan kalian bisa bahagia . Hyunah pasti akan bangun malam ini , percayalah~ jangan putus asa”</p>
<p>Setelah Hyerim pergi , Nickhun-pun mengeluarkan cincin yg baru ia beli itu dan memakaikannya kejari manis Hyunah , sambil berucap “Will u marry me?” mengecup kening Hyunah . airmatanya yg sedang mengalir itu , jatuh tepat kemata Hyunah . membuatnya terlihat seperti , kalau yeoja inilah yg sedang menangis </p>
<p>Waktu telah menandakan pukul 11.45PM malam , apakah yeoja ini akan siuman?? </p>
<p><em>seorang yeoja pelan-pelan membuka kedua matanya yg terasa sudah tertutup sangat lama itu . setelah ia sadar , yeoja ini telah berdiri tepat didepan sebuah ruangan . ruangannya Hottest Club . tapi masalahnya adalah , bukankah ruangan tsb sudah ia renovasi ‘kenapa bentuknya berubah seperti ini lagi?’ herannya </p>
<p>Penasaran , yeoja itu-pun membuka pintu ruangan tsb dan melihat kekanan kiri . pemandangan disini masih terlihat mirip seperti dulu dimana ia pertama kalinya menginjakkan kakinya ketempat ini . melihat semua member 2pm ini membuatnya mengingat akan banyak hal , hal-hal yg pernah terjadi dan yg telah ia lalui disini . dimana pertama kalinya itu ia datang ketempat ini hanya untuk mencari penolongnya , tapi siapa juga yg bisa menyangka bila nama yg ada dikartu nama tsb bukanlah nama asli dari penolongnya . ia pernah salah mengenali seseorang dan juga pernah salah menampar seseorang , tapi setidaknya ia tidak pernah salah mencintai seseorang . walaupun awalnya ia mengira bahwa dia telah menyukai Taecyeon , tapi pada akhirnya ia sadar kalau yg ia cintai itu adalah Nickhun , bahkan sebelum ia mengetahui identitas Nickhun sebagai penolong aslinya . kini Junsu juga telah menikah dengan Jinah , Taecyeon memiliki seorang anak dengan Hyerim , Chansung akhirnya bisa memiliki cinta sejati dirinya sendiri dengan pacar barunya dan Yeonni yg masih kebingungan , tapi telah berkeputusan untuk hidup bersama dengan Wooyoung dan Junho itu . diantara ke6 member 2pm ini , kini hanya satu oranglah yg masih duduk sendirian disana menunggu seseorang , dia adalah Nickhun , namja yg Hyunah sukai . </p>
<p>Hyunah sangat senang setelah melihat Nickhun disana dan yeoja ini-pun langsung berlari mendekatinya , namja tsb hanya berdiri ditempat dan memperlihatkan senyum manisnya . sesampainya Hyunah disana , namja ini langsung mengangkat tangan kanan Hyunah dan memasukkan sebuah cincin kejari manisnya </p>
<p>Yeoja ini terlihat kebinggungan “Will u marry me?” ucap Nickhun kemudian dan tentu saja jawaban Hyunah adalah “Yes , I do” Nickhun mencium kening yeoja ini membuatnya meneteskan airmata karna terharu , Nickhun menyapu airmatanya dan keduanya-pun kembali berciuman</em></p>
<p>==== The End ====</p>
<p>@My1213<br />
Mian klo diakhir cerita ini malah terjadi kesalah pahaman yg berbelit-belit , author sengaja #pletak hoho<br />
Soalnya author pengen mencoba sebuah cerita dimana kedua pemain utamanya susah u/ bersatu,alias sad ending . Hoho karna author kebiasaan buat Happy end , jadi bosen </p>
<p>Jangan kecewa sama akhir ceritanya ya , hoho bila kepingin happy end,anggap aza Hyunah akhirnya siuman. Hoho annyeong &#8230;. </p>
<p>Nantikan FF ku yg lainnya &#8220;the reture soul&#8221; gomawo</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ffindo.wordpress.com/49633/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ffindo.wordpress.com/49633/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ffindo.wordpress.com/49633/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ffindo.wordpress.com/49633/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ffindo.wordpress.com/49633/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ffindo.wordpress.com/49633/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ffindo.wordpress.com/49633/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ffindo.wordpress.com/49633/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ffindo.wordpress.com/49633/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ffindo.wordpress.com/49633/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ffindo.wordpress.com/49633/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ffindo.wordpress.com/49633/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ffindo.wordpress.com/49633/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ffindo.wordpress.com/49633/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ffindo.wordpress.com&amp;blog=9871143&amp;post=49633&amp;subd=ffindo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ffindo.wordpress.com/2012/01/27/hottest-club-end/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9ef1957d4aa4e3fc613f68723e1e19ca?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">jaenn</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ennys.files.wordpress.com/2011/11/hottestclub.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">/home/wpcom/public_html/wp-content/blogs.dir/d8b/11335143/files/2011/11/hottestclub.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>I Wanna Meet you, My Special fangirl (special Jaejoong’s birthday)</title>
		<link>http://ffindo.wordpress.com/2012/01/27/i-wanna-meet-you-my-special-fangirl-special-jaejoongs-birthday/</link>
		<comments>http://ffindo.wordpress.com/2012/01/27/i-wanna-meet-you-my-special-fangirl-special-jaejoongs-birthday/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Jan 2012 18:37:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kyurielfsone88</dc:creator>
				<category><![CDATA[FFindo]]></category>
		<category><![CDATA[kyurielfsone88]]></category>
		<category><![CDATA[Jung Yuuri]]></category>
		<category><![CDATA[Kim Jaejoong]]></category>
		<category><![CDATA[Kim Junsu]]></category>
		<category><![CDATA[Ocs]]></category>
		<category><![CDATA[Park Yoochun]]></category>
		<category><![CDATA[TVXQ]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ffindo.wordpress.com/?p=49628</guid>
		<description><![CDATA[Tittle: I Wanna Meet you, My Special fangirl (special Jaejoong’s birthday) Author: IdeaFina a.k.a Jung Yuuri (@ideaFina) Genre: Romance (mudah-mudahan) Rate: PG Main Cast: Kim Jaejoong DBSK/JYJ, Jung Yuuri (author nampang lagi, hehe~ ) Support Cast: Park Yoochun &#38; Kim &#8230; <a href="http://ffindo.wordpress.com/2012/01/27/i-wanna-meet-you-my-special-fangirl-special-jaejoongs-birthday/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ffindo.wordpress.com&amp;blog=9871143&amp;post=49628&amp;subd=ffindo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ffindo.files.wordpress.com/2012/01/birthdayhero.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-49629" title="birthdayhero" src="http://ffindo.files.wordpress.com/2012/01/birthdayhero.jpg?w=584&#038;h=486" alt="" width="584" height="486" /></a></p>
<p><strong>Tittle: </strong>I Wanna Meet you, My Special fangirl (special Jaejoong’s birthday)<strong></strong></p>
<p><strong>Author: </strong>IdeaFina a.k.a Jung Yuuri (@ideaFina)<strong></strong></p>
<p><strong>Genre: </strong>Romance (mudah-mudahan)<strong></strong></p>
<p><strong>Rate: </strong>PG</p>
<p><strong>Main Cast: </strong>Kim Jaejoong DBSK/JYJ, Jung Yuuri (author nampang lagi, hehe~ )<strong></strong></p>
<p><strong>Support Cast: </strong>Park Yoochun &amp; Kim Junsu DBSK/JYJ<strong></strong></p>
<p><strong>Disclaimer: </strong>Thanks to anin (@aaaanins) yang udah ngasih ide ceritanya. Tapi isi cerita secara keseluruhan adalah hasil pemikiranku sendiri. So, everybody, don’t be plagiator ok?^^</p>
<p><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong>Annyeong, readers-nim~</strong></p>
<p align="center"><strong>Dalam rangka merayakan ultahnya Jaejoong Oppa tercinta, kupersembahkan FF edisi ultah penuh cinta dariku. Genrenya seperti biasa: Romance. Mudah-mudahan beneran romantis deh ya.</strong></p>
<p align="center"><strong>Oke, met baca yeoreobeun~</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong>~STORY BEGIN~</strong></p>
<p align="center"><span id="more-49628"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Jaejoong’s POV</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Aku melihat tanggal yang tertera di ponsel androidku.Ternyata dua minggu lagi ulang tahunku.Bagi hampir kebanyakan orang hari ulang tahun adalah hari yang special.Begitu juga denganku. Pada hari itu aku akan mendapatkan banyak perhatian dan doa. Dari keluarga, teman-teman, fans-fansku, juga dari member-memberku.</p>
<p style="text-align:justify;">Member?Mengingat itu membuatku merasa sedih.Sudah semenjak dua tahun yang lalu aku tidak merayakan ulang tahunku bersama mereka, Yunho dan Changmin.Gugatan yang aku, Junsu dan Yoochun ajukan kepada mantan managemen kami, SM, memang membuat kami harus kehilangan banyak hal.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku sangat mengerti jika semua keputusan yang kuambil pasti akan memiliki resiko. Dan sekarang kurasakan resiko itu sangat besar.Bukan sulitnya mempromosikan album-album JYJ atau tampil di stasiun TV, tapi lebih dari itu.Perpisahan antara kami bertiga dengan Yunho dan Changmin. Berada di dua stage terpisah dari mereka berdua sangat membuat hatiku sakit. Apalagi adanya perpecahan di antara Cassiopeia, yang memihak JYJ dan yang memihak Homin, membuat diriku terkadang menyesali keputusan yang kubuat ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Walaupun aku mengerti apa alasan Yunho untuk tetap bertahan disana bersama Changmin, tapi sampai sekarang aku masih sering menyalahkan diriku sendiri. Kenapa saat itu aku malah meninggalkan mereka berdua disana?Seharusnya aku tetap berada di sisi mereka.Seharusnya aku menemani mereka untuk bangkit dari keterpurukan.Rasanya aku ingin sekali berteriak marah pada orang-orang yang menyalahkan Yunho atas berpisahnya kami. Yunho disalahkan karena ia dianggap sebagai leader yang tidak bisa mempertahankan member-membernya.</p>
<p style="text-align:justify;">Tidak! Jangan salahkan dia!Biar bagaimanapun, akulah yang tertua di antara mereka, aku hyung mereka.Seharusnya semua kesalahan itu ditimpakan padaku, bukan pada Yunho.Ingin sekali aku meminta maaf pada Yunho atas semua ini.Tapi perpisahan kami yang tidak baik membuat kami sulit untuk menghubungi satu sama lain.</p>
<p style="text-align:justify;">Hah… kepalaku pusing. Mengingat semua itu membuat perasaanku memburuk.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku membuka akun twitterku dan membaca mention-mention yang masuk.Kebanyakan dari fans.Walaupun aku tidak meng-tweet tapi mereka masih tetap setia me-mentionku.Itulah salah satu hal yang berhasil menghiburku, mention perhatian dari para fans setiaku.</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi sebenarnya ada mention dari satu fans yang sangat kutunggu-tunggu.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Ada seorang fans yang selalu mengaku berhasil memotretku setiap hari semenjak tiga tahun yang lalu. Dan ia bilang di twitter ia akan memberikan foto-foto itu sebagai kado ulang tahunku. Awalnya aku tidak percaya, tapi ternyata ia memang benar-benar memotretku. Sudah dua tahun ini aku menerima hadiah ulang tahun berisi album fotoku selama satu tahun. Di bawah foto itu ia menuliskan setiap perasaannya mengenaiku setiap harinya.</p>
<p style="text-align:justify;">Yoochun dan Junsu menganggap hal itu sangat mengerikan, karena jika fans itu bisa mendapatkan foto-fotoku, bahkan sampai saat kami di luar negeri, itu berarti ia benar-benar menguntit kami. Pernah manager kami ingin mengusut fans itu, karena menurutnya ini benar-benar membahayakan. Tapi aku melarangnya. Menurutku fans itu bukanlah orang jahat. Karena foto-foto yang dikirimkannya padaku hanya foto-foto biasa, dan tidak sampai tersebar di internet.Aku juga tidak pernah mendapat telpon ancaman atau apapun yang mengganggu.</p>
<p style="text-align:justify;">Ia juga sering me-mentionku.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>JY</strong> @nature_Yuu</p>
<p style="text-align:justify;">@mjjeje Hari ini aku berhasil memotretmu lagi, oppa.Rasanya bahagia sekali bisa melihatmu dari dekat. Keep ur health ok?</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Setiap hari ia selalu me-mention seperti itu disertai mention-mention perhatian lainnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Karena penasaran aku pun membuka akun twitternya.Aku terkejut karena statusnya kebanyakan me-mentionku, hanya sedikit yang me-mention orang lain. Tapi ada yang aneh. Sejak setengah tahun yang lalu aku tidak mendapat mention darinya sama sekali. Padahal sebelumnya ia selalu mementionku setiap hari. Malahan twitternya sama sekali tidak menunjukkan aktivitas apapun selama setengah tahun ini. Tidak ada update status ataupun mention darinya ke twitter orang lain.</p>
<p style="text-align:justify;">Timbul berbagai pertanyaan di benakku.Apa ia sudah berhenti menjadi fansku? Tapi kalau iya kenapa akun twitternya tidak beraktivitas lagi?apa terjadi sesuatu dengannya?</p>
<p style="text-align:justify;">Aku bangkit dari dudukku dan mengambil album foto berukuran sedang, hadiah ulang tahun fans itu di rak buku. Kubuka satu persatu halaman itu dan membaca tulisan-tulisannya di bawah foto tersebut.Aku tersenyum kecil membaca tulisan-tulisan itu.Bisa kurasakan perasaannya yang sangat tulus padaku.</p>
<p style="text-align:justify;">“Hyung, kau sedang apa?”</p>
<p style="text-align:justify;">Aku menoleh dan melihat Junsu dan Yoochunyang baru datang memandangku penuh tanya.</p>
<p style="text-align:justify;">Mereka menghampiriku dan melihat apa yang kau pegang.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ah, si nature Yuu itu ya?”kata Yoochun. “Kira-kira ia bisa dapat foto-foto hyung lagi tidak ya buat kado ulang tahun?”</p>
<p style="text-align:justify;">“Kurasa tidak. Kita kan konser keliling beberapa negara tahun lalu. Mana mungkin ia mengikuti kita terus.”timpal Junsu.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku menatap mereka berdua suram.“Kurasa tidak akan ada hadiah darinya tahun ini.Sudah setengah tahun ini ia tidak me-mentionku.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Mwo?Jinjja?”ucap Junsu kaget.</p>
<p style="text-align:justify;">“Mungkin dia sudah berhenti jadi fans hyung.”tebak Yoochun.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku menggeleng pelan.“Karena penasaran aku pernah membuka akun twitternya, ternyata selama setengah tahun ini tidak ada aktivitas apapun di twitternya.Aneh sekali kalau berhenti jadi fansku dia juga berhenti menggunakan twitternya.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Hmm… mungkin saja ia mengganti akun twitternya.”tebak Junsu.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ya, mungkin saja hyung. Trus karena dia udah nggak ngefans sama hyung lagi jadi dia nggak ada mention hyung lagi.”kata Yoochun.</p>
<p style="text-align:justify;">“Mungkin saja.”gumamku perlahan sambil terus menatap album dari fans itu.</p>
<p style="text-align:justify;">***</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Author’s POV</strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Jaejoong sangat mengkhawatirkan fans berinisial JY itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah selama lebih dari dua tahun ia mendapatkan perhatian dari fans itu berupa foto-foto dan pesan, juga mention di twitter, Jaejoong jadi merasakan perasaan lain pada yeoja itu. Iamenyayangi yeoja itu karena besarnya perasaan sayangnya pada Jaejoong. Memang banyak fans lain yang memperhatikan Jaejoong. Tapi caranya yang berbeda itu membuat Jaejoong tahu betapa iasangat special di mata yeoja itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Jaejoong menyesap air jeruk hangat sambil melihat-lihat album foto itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Ia membuka halaman selanjutnya dan melihat fotonya yang sedang menguap menaiki mobil di parkir basement apartemen. Ada tulisan berwarna merah di bawahnya:</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em> </em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Hey, ada apa denganmu oppa? Kau terlihat lelah sekali. Minumlah air jeruk hangat, itu akan menyegarkanmu kembali. </em></strong>^^</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Jaejoong tersenyum membacanya. Karena nasehat itulah ia sekarang sering sekali meminum air jeruk hangat tiap ia lelah.Ternyata cukup manjur untuk menghilangkan penatnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Jaejoong membuka akun twitternya dan membaca kembali mention-mention dari fans. Tiba-tiba ada satu mention yang tidak disangka-sangka.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>JY</strong> @nature_Yuu</p>
<p style="text-align:justify;">@mjjeje Setelah sekian lama akhirnya aku bisa menyapa oppa lagi.Apa kabar? Apakah oppa merindukanku?Kurasa tidak. Tenang saja, sebentar lagi oppa pasti tidak akan kuganggu lagi.^^</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Alis Jaejoong mengernyit membaca mention itu. Setelah sekian lama yeoja itu tidak me-mentionnya, kenapa mentionnya malah seperti ini? Sebenarnya ada apa dengannya?</p>
<p style="text-align:justify;">Sekarang hati Jaejoong diliputi kecemasan.Ia ingin mencari tahu ada apa dengan yeoja fansnya itu.</p>
<p style="text-align:justify;">***</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">TING TONG.</p>
<p style="text-align:justify;">Jaejoong berjalan malas-malasan ke pintu apartemennya sambil sesekali menguap.Ia menggerutu kecil karena adanya gangguan pagi-pagi begini. Padahal tadi malam tidurnya kurang nyenyak karena memikirkan mention fans itu.Fans spesial yang perhatiannya begitu dirindukan oleh seorang Kim Jaejoong.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan masih sesekali menguap Jaejoong membuka pintunya dan mendapati seorang gadis cantik dengan rambut panjang dikepang dan memakai topi rajut putih tersenyum padanya. Sejenak ia terpaku pada gadis itu.Mata coklatnya terlihat indah.</p>
<p style="text-align:justify;">“Apa Anda Kim Jaejoong-ssi?”tanya gadis itu membuat Jaejoong tersadar dari keterpesonaannya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ne. aku Kim Jaejoong.Nuguseyo?”tanya Jaejoong dengan pandangan menyidik kepada gadis itu. ia heran kenapa ada orang yang tidak mengenal penyanyi terkenal sepertinya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Jweseonghamnida saya mengganggu anda pagi-pagi begini.Saya cleaning service baru di gedung apartemen ini.”</p>
<p style="text-align:justify;">Jaejoong mengangkat alisnya bingung.Ia sungguh tidak percaya ada gadis cantik yang menjadi cleaning service, padahal ia yakin sekali jika gadis itu pasti akan laku sebagai seorang model. Kemudian Jaejoong memperhatikan gadis itu dari atas ke bawah.Memang benar gadis itu memakai seragam cleaning service, dan sepatu kets yang dikenakannya pun sangat lusuh.</p>
<p style="text-align:justify;">Hmm…. Dunia tidak selalu sama dengan yang kita pikirkan kan?</p>
<p style="text-align:justify;">“Mm… kenapa melihatku seperti itu?”tanya gadis itu risih.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ah, mianhada.”jawab Jaejoong lalu tersenyum membuat gadis itu menundukkan wajahnya malu. “Ada apa?”</p>
<p style="text-align:justify;">Gadis itu menyerahkan sebuah bungkusan dengan kertas kado berwarna merah.“Saya dititipkan ini oleh seseorang.”</p>
<p style="text-align:justify;">Jaejoong mengamati bungkusan itu seksama.“Dari siapa?”</p>
<p style="text-align:justify;">“Saya tidak mengenalnya.Gadis itu hanya mengatakan ini untuk anda.”jelas gadis itu sambil terus menunduk. “Kalau begitu saya permisi dulu.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Chankaman….” Jaejoong ingin menahan gadis itu, tapi gadis itu sudah berjalan cepat meninggalkannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Jaejoong menutup pintu apartemennya dan berjalan ke sofa di depan TV, lalu duduk. Dengan penasaran Jaejoong membuka bungkusan itu.Sebuah syal putih lembut kemudian sebuah buku agenda.</p>
<p style="text-align:justify;">Jaejoong membuka buku tersebut dan tekejut melihat fotonya yang berada di halaman awal. Kemudian ia membuka halaman selanjutnya.Ada sekitar sepuluh halaman yang berisi fotonya.Di halaman ke sebelas tidak ada foto, hanya ada pesan yang tertulis disana.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em> </em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Annyeong hasseyo Jae oppa.</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Apa kau masih mengingatku? Aku fans-mu dengan id twitter @nature_Yuu.</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Dia?Kenapa hadiahnya berbeda?</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em> </em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Ah, tentu saja tidak. Aku kan hanya satu dari sekian banyak fans yang sering me-mentionmu dan mengirimkan hadiah untukmu. Tapi walaupun aku tahu kemungkinan untuk kau mengenalku kecil sekali, aku tetap saja ingin mengirimu hadiah.</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Saengilchuka hamnida, uri Jaejoong oppa. Maaf aku mengucapkannya terlalu cepat, setidaknya aku jadi orang pertama yang mengucapkannya kan?hehe~</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Aku ingin bercerita sedikit.Tenang saja, hanya sedikit kok.Kuharap kau mau membaca ceritaku dan tidak segera bosan.</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em> </em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Apa yang ingin diceritakannya? Pikir Jaejoong penasaran.Ia kembali membaca.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em> </em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Tiga setengah tahun yang lalu aku bertemu dengan seorang namja di suatu taman kecil di sudut kota Seoul. Saat itu aku yang baru saja datang dari tempat yang jauh ke Seoul, berjalan-jalan sendirian kemudian tersesat dan tidak tahu jalan pulang.Selain itu dompetku terjatuh entah dimana dan ponselku low batt, sehingga aku tidak bisa menghubungi siapapun untuk menolongku.Di tengah kemalanganku itu tiba-tiba saja ada seorang namja menghampiriku. Awalnya aku ketakutan karena ia berpenampilan aneh. Ia menutup wajahnya dengan syal, memakai kacamata hitam, dan topi. Apalagi itu sudah menjelang malam, aku takut jika namja itu akan berbuat hal buruk padaku di taman sepi itu.Tapi melihatku yang ketakutan, ia melepas atribut anehnya itu dan memperlihatkan wajah tampannya.</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Namja itu adalah kau, Jaejoong oppa.</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Jaejoong mengernyitkan keningnya.Berusaha mengingat.Benarkah ia pernah menolong gadis itu?</p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian Jaejoong membalik agenda itu ke halaman selanjutnya.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em> </em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Saat itu kau mengajakku yang ketakutan berbicara dan berusaha meyakinkanku kalau kau akan menolongku. Memang benar.Kau memanggilkan taksi untukku dan membayarkan ongkos taksi itu agar aku bisa pulang.</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Karena kebaikanmu itulah aku jatuh cinta padamu, oppa.Kau adalah cinta pertamaku.</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Jaejoong tersenyum membaca kalimat itu.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Saat itu aku tidak tahu jika kau adalah seorang penyanyi terkenal.Tapi sejak aku tahu kalau kau adalah seorang Hero Jaejoong DBSK, aku mulai menjadi fangirl-mu. Maafkan aku karena selama dua tahun sebelumnya aku selalu menguntitmu kemana-mana dan memotretmu diam-diam. Jangan bertanya bagaimana aku bisa mengikutimu, karena aku tidak akan memberitahu <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> . Tapi aku tidak bermaksud jahat kok. Aku hanya ingin memotret namja yang kucintai. Setidaknya jika aku tidak bisa bertatap muka langsung denganmu, aku bisa melihat wajah tampanmu di balik lensa kameraku.^^</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Foto-foto hasil potretanku itu kususun rapi di sebuah album foto dan setiap harinya kutulis semua perasaanku mengenai dirimu di bawah foto-foto itu.tadinya aku hanya ingin menjadikannya koleksi, tapi tiba-tiba saja aku kepikiran untuk menjadikan itu hadiah ulang tahun untukmu. </em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Kuharap kau terkesan dengan hadiahku yang kubuat dengan penuh perjuangan itu, dan menyimpannya dengan baik. ^^</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Maafkan aku karena tahun ini aku tidak bisa memberikan hadiah yang sama. Sebagai gantinya aku merajutkan sebuah syal untukmu.Kuharap perasaan tulusku bisa tersampaikan kepadamu.</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em> </em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Ada bercak-bercak basah berbentuk bulat, seperti tetesan air mata, yang mengenai tulisan itu sehingga tulisannya agak luntur, tetapi Jaejoong masih bisa membacanya.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em> </em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Maafkan aku juga karena setelah ini aku tidak akan me-mentionmu lagi. Tahun depan pun aku tidak akanbisa memberikan hadiah ulang tahun lagi padamu. Ada hal yang membuatku sadar untuk tidak lagi melakukannya.Aku akan menyerah pada cinta pertama yang tidak akan mungkin terbalaskan ini. Seorang fangirl tidak mungkin mendapatkan idola yang dimiliki semua orang kan?</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Doakan aku agar aku bisa menjalani kehidupan baruku dengan baik.</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Selamat tinggal oppa.Semoga kau menjalani hidupmu dengan baik.</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;" align="right"><strong><em>With love,</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;" align="right"><strong><em>JY</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Jaejoong tertegun membaca tulisan itu. Banyak hal yang membuatnya bingung akan gadis berinisial JY itu. Pertama, ia tidak mengingat seperti apa dulu ia menolong gadis itu sehingga gadis itu menyukainya. Kedua, ia penasaran dengan cara seperti apa gadis itu selalu mengikutinya selama dua tahun bahkan sampai keluar negeri. Ketiga, jika gadis itu mencintainya, kenapa ia ingin menyerah begitu saja? Padahal jika gadis itu bisa mengikutinya kemanapun, seharusnya gadis itu bisa langsung datang menemuinya dan memberikan hadiahnya langsung. Tidak dengan cara diam-diam seperti ini. Keempat, apa maksudnya dengan kehidupan barunya?</p>
<p style="text-align:justify;">Jaejoong mengacak-acak rambutnya frustasi. Padahal ia ingin sekali bertemu dengan gadis berinisal JY itu. Fangirl yang selalu memperhatikannya dengan cara yang berbeda.</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi kenapa gadis itu tidak pernah mau muncul di hadapannya?</p>
<p style="text-align:justify;">***</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">“Hyung mencemaskannya?”tanya Junsu saat Jaejoong menceritakan mengenai hadiah dari fans itu kepada Junsu dan Yoochun.</p>
<p style="text-align:justify;">“Kau tahu, Su, selama lebih dari dua tahun ini aku mendapatkan dukungan dan perhatian darinya. Aku merasa sangat bersemangat setiap membaca mention darinya atau membuka album foto darinya. Apalagi tahun kemarin ia memberikan video berisi ucapan selamat ulang tahun dari Yunho dan Changmin. Entah bagaimana caranya bertemu mereka berdua.Tapi dari usahanya itu, membuatku merasakan perhatian yang besar darinya.Dan sekarang rasanya aneh sekali tidak mendapatkan semua itu darinya.”Jaejoong mengungkapkan dengan jujur.</p>
<p style="text-align:justify;">Yoochun menyipitkan mata memandang hyungnya. “Jangan-jangan hyung  menyukainya?”tebak Yoochun.</p>
<p style="text-align:justify;">Jaejoong tersentak kaget mendengar tuduhan Yoochun itu.“Bagaimana mungkin aku menyukainya!Melihatnya saja tidak pernah!”</p>
<p style="text-align:justify;">“Lho?Memangnya di twitternya tidak ada fotonya sama sekali?”Yoochun terkejut.</p>
<p style="text-align:justify;">“Hanya ada fotoku saja.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Kalau begitu bagaimana cara hyung mencarinya?”tanya Junsu.</p>
<p style="text-align:justify;">Jaejoong menghela napas.“Entahlah.Aku juga bingung.”katanya sambil membuka-buka buku agenda itu.Kemudian Jaejoong menyadari sesuatu saat melihat-lihat foto-fotonya itu.</p>
<p style="text-align:justify;">“Kenapa foto-fotonya kebanyakan diambil di basement apartemen ya?”</p>
<p style="text-align:justify;">Junsu dan Yoochun pun mengambil buku agenda itu dan memperhatikan foto-foto Jaejoong disana.Kemudian mereka menyadari sesuatu.</p>
<p style="text-align:justify;">“Hyung, lihat foto pertama ini.”kata Junsu. “Ini bukannya baju barumu yang baru kau pakai sebulan lalu ya?”Jaejoong melihat foto tersebut. Memang benar itu baju yang baru saja ia beli sebulan yang lalu, dan belum pernah dipakainya lagi. Junsu mengingatnya karena saat ituiatidak sengaja menumpahkan minumannya di baju Jaejoong sehingga Jaejoong langsung saja memakai baju yang baru saja dibelinya.</p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian Jaejoong memperhatikan foto-foto yang lain. Semuanya adalah fotonya sebulan terakhir ini dan dibidik dari tempat yang sama, karena yang terlihat hampir semua fotonya mempunyai angle yang sama.Jaejoong memperhatikan dengan seksama foto-foto tersebut. Jika mobilnya biasa diparkir disini, arah dimana foto itu diambil adalah…</p>
<p style="text-align:justify;">Ruang petugas cleaning service!</p>
<p style="text-align:justify;">***</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Jaejoong’s POV</strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Setelah menyadari darimana foto itu diambil, aku langsung mencurigai satu orang. Gadis yang saat itu memberikan hadiah itu padaku, ia pasti mengenal siapa gadis JY itu. Pagi-pagi sekali aku sengaja keluar apartemen untuk mencari gadis petugas cleaning service itu. Benar sekali.Ia terlihat sedang mengepel lantai koridor apartemen.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku menghampirinya yang sedang berdiri membelakangiku.“Annyeonghasseyo.”sapaku. Gadis itu terlihat terkejut karena sapaanku, kemudian ia berbalik. Iamelihatku dengan ekspresi… entahlah, aku bingung mengartikan pandangan itu,tapi aku menyukai mata coklatnya itu. Kemudian iamenundukkan wajahnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku sendiri terpana melihat wajah cantiknya itu. Walaupun wajahnya terlihat begitu lelah dengan kantung mata di wajah pucatnya itu, serta keringat yang mengalir di sepanjang wajah ovalnya, entah kenapa ia masih tetap terlihat cantik di mataku. Aish! Apa sih yang kupikirkan! Tujuanku untuk menemuinya kan bukan itu!</p>
<p style="text-align:justify;">“Annyeong… hasseyo…”jawabnya. “Ada perlu apa?”Ia bertanya masih sambil menundukkan wajahnya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Mm… mengenai hadiah yang kemarin…”Aku ragu-ragu ketika akan menanyakannya, tapi tiba-tiba gerakan tubuh gadis itu terlihat tidak tenang.</p>
<p style="text-align:justify;">“Jweseonghamnida, Kim Jaejoong-ssi! Aku harus segera pergi. Aku masih harus bekerja di tempat lain.”katanya lalu membungkukkan tubuhnya dalam-dalam dan membawa troli yang berisi berbagai alat kebersihan itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Hei! Aku kan belum sempat bertanya!</p>
<p style="text-align:justify;">Akhirnya aku memutuskan untuk mengikutinya. Aku menarik troli yang susah payah ia dorong dan kubantu ia mendorongnya.“Kubantu.”ucapku.</p>
<p style="text-align:justify;">Ia berusaha melepaskan tanganku dari troli. “Andwaeyo, Kim Jaejoong-ssi. ini pekerjaanku, tidak pantas jika anda yang mengerjakannya.”katanya lalu mengambil pegangan troli itu lagi. Dengan terburu-buru ia mendorong trolinya ke dalam lift dan meninggalkanku yang masih menatapnya kesal.</p>
<p style="text-align:justify;">***</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Aku bukanlah tipe orang yang gampang menyerah, apalagi dengan hal yang sangat membuatku penasaran seperti ini. Saat akan keluar dari lobi apartemen aku memutuskan untuk bertanya pada petugas security mengenai gadis petugas cleaning service itu.</p>
<p style="text-align:justify;">“Petugas cleaning service yang mana?”tanyaLee ahjusshi, petugas security berusia 40 tahunan.</p>
<p style="text-align:justify;">“Yang cantik, masih muda, rambut panjangnya biasa dikepang dan… ah ya!dia selalu pakai topi rajut putih!”</p>
<p style="text-align:justify;">“Ah dia… Dia petugas cleaning service baru. Baru sebulan ia bekerja disini.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Sebulan?”tanyaku tidak percaya. Apa petugas cleaning service itu gadis bernama JY itu?</p>
<p style="text-align:justify;">“Namanya siapa?”</p>
<p style="text-align:justify;">Lee ahjusshitersenyum menggoda padaku.“Kenapa menanyakannya?Kau menyukainya ya?”</p>
<p style="text-align:justify;">Aku langsung menggeleng kuat.“Anhiyo, ahjusshi! Aku hanya bertanya! Aku memang ada perlu dengannya.”</p>
<p style="text-align:justify;">Lee ahjusshi tersenyum.“Suka juga tidak apa-apa.Dia gadis yang cantik, sopan, dan baik.Namanya Jung Yuuri.”</p>
<p style="text-align:justify;">***</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Author’s PoV</strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Jaejoong merasa sangat bersemangat sekali saat Lee ahjusshi mengatakan padanya jika gadis cleaning service itu bernama Jung Yuuri. Inisialnya JY, sama seperti fans rahasianya selama tiga tahun ini.</p>
<p style="text-align:justify;">“Hyung, kurasa gadis itu bukan fans hyung itu.”kata Yoochun saat mendengar cerita Jaejoong.</p>
<p style="text-align:justify;">“Kurasa juga bukan.”timpal Junsu.</p>
<p style="text-align:justify;">“Kenapa bukan?Ia yang memberikanku hadiah itu, dan inisialnya JY, sama seperti si pengirim hadiah. Id twitternya saja nature_Yuu.Sudah pasti Yuu itu kependekan dari Yuuri.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Hyung, di Korea ini banyak gadis yang berinisial JY, dan bernama kecil Yuu.Jung Yuuri, Jang Yuuri, Jung Yurin, Jang Yurin, Jung Yumi, Jang Yumi, Jang Yura, Jung Yura, atau bisa saja JY itu kependekan dari namanya, Park Jungyuu, Lee Jungyuu atau bahkan Kim Jungyuu seperti nama sepupu hyung itu.”jelas Yoochun.</p>
<p style="text-align:justify;">“Dan lagi kalau dia memang si nature_yuu itu, kenapa ia bekerja sebagai petugas cleaning service? Bukankah selama dua tahun kemarin ia selalu mengikuti hyung kemana-mana, bahkan sampai kita keluar negeri segala? Apalagi ia bisa dengan mudah mendapatkan akses untuk bertemu Yunho hyung dan Changmin. Seharusnya itu sudah cukup membuktikan kalau gadis itu pastilah dari keluarga berkecukupan.Dan gadis petugas cleaning service itu sudah pasti bukan dia.”tambah Junsu.</p>
<p style="text-align:justify;">Jaejoong terdiam mendengar penjelasan kedua dongsaengnya yang dianggap masuk akal. Tapi kenapa ia masih saja merasa jika keyakinannya itu benar? Jaejoong hanya merasa, pandangan mata Jung Yuuri padanya itu terlihat sangat berbeda, dan pandangan mata gadis itulah yang membuat Jaejoong merasa yakin.</p>
<p style="text-align:justify;">Mengingat pandangan mata itu membuat Jaejoong semakin ingin bertemu dengannya lagi. Tanpa ia sadari, ia mulai merindukan pandangan mata itu.</p>
<p style="text-align:justify;">***</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Yuuri’s PoV</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Aku merasakan kelelahan yang sangat di tubuhku.Karena hari ini hari minggu, dan aku tidak ada kuliah, jadi waktuku kuhabiskan untuk bekerja. Pagi hari aku harus mengantarkan susu, setelah itu bekerja di gedung apartemen termewah di Seoul sebagai petugas cleaning service, siangnya aku bekerja sebagai kasir di swalayan kecil dekat rumahku sampai sore hari. Benar-benar melelahkan, tapi aku harus tetap bersemangat melakukannya, karena ini adalah kewajibanku sekarang.</p>
<p style="text-align:justify;">Tubuhku memang sudah sangat lelah, tapi aku harus tetap belajar untuk kuis besok, makanya hari ini aku tidak bekerja sampai malam.Tapi bodohnya, aku malah meninggalkan diktat kuliahku di ruang petugas cleaning service apartemen.Jadi mau tidak mau aku harus mengambilnya kesana.Setelah mengambilnya di ruangan itu yang terletak di basement, aku bertemu dengan Lee ahjusshi, petugas security yang ramah, tetanggaku sekaligus teman mengobrolku selama sebulan aku bekerja di gedung apartemen ini.</p>
<p style="text-align:justify;">“Yuuri-ya, kenapa kembali lagi? Bukankah shift kerjamu hari ini pagi?”tanya Lee ahjusshi.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku mengangkat diktat kuliahku dan tersenyum. “Diktat kesayanganku tertinggal, jadi aku harus kembali lagi untuk mengambil….” Tiba-tiba perutku dengan kurang ajarnya berbunyi.Aku langsung memegang perutku dan menatap malu Lee ahjusshi yang sekarang sudah tertawa.</p>
<p style="text-align:justify;">“Kau pasti belum makan Yuuri-ya, ayo makan bersama ahjusshi.Istri ahjusshi membawakan bekal cukup banyak.”tawar Lee ahjusshi sambil mengacungkan kotak bekal yang sebelumnya tidak kulihat.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku menatap ragu Lee ahjusshi.Sebenarnya aku lapar, tapi rasanya tidak enak harus meminta makanan yang dibuatkan Lee ahjumma.“Anhiyo ahjusshi.Tidak usah.”tolakku akhirnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Lee ahjusshi terus memaksa, begitu juga cacing-cacing di perutku, yang membuatku akhirnya menyerah juga untuk mengikuti tawaran Lee ahjusshi.Kami berdua pun makan di pos security.</p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian aku melihat Lamborghini putih masuk ke basement dan parkir tidak jauh dari pos security tempatku berada.Aku menahan napas saat melihatnya keluar dari mobil mewah itu.Reaksi yang selalu saja muncul setiap aku melihatnya, secara langsung ataupun di televisi.</p>
<p style="text-align:justify;">“Siapa yang kau lihat?”tanya Lee ahjusshi. Aku langsung gugup ditanya seperti itu.segera saja aku kembali sibuk dengan makananku (?)</p>
<p style="text-align:justify;">“Ah, Kim Jaejoong-ssi.”kata Lee ahjusshi, lalu tersenyum. “Dia pemuda yang baik.Walaupun dia seorang penyanyi terkenal, tapi dia ramah pada orang-orang.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Oh ya?”</p>
<p style="text-align:justify;">“Dia sering mengajak ahjusshi mengobrol.Sesekali memberikan oleh-oleh jika dia pulang bepergian.”</p>
<p style="text-align:justify;">Aku tersenyum mendengar cerita Lee ahjusshi.Aku tahu dia orang yang sangat baik.Itulah yang membuatku jatuh cinta padanya.</p>
<p style="text-align:justify;">Kuperhatikan ia yang terus berjalan ke arah lift sambil mengotak-atik ponselnya. Wajahnya terlihat pucat dan sangat kelelahan.Ia pasti sibuk sekali.</p>
<p style="text-align:justify;">Aduh… bagaimana ini?Aku sangat mencemaskan kesehatannya.</p>
<p style="text-align:justify;">***</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Entah darimana datangnya keberanianku sampai-sampai aku bisa berada di depan pintu apartemennya. Yang aku ingat jika tadi aku sangat mengkhawatirkannya yang terlihat sangat kelelahan.Wajahnya pun pucat.Lalu tiba-tiba saja aku sudah berada disini.</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu apa yang selanjutnya kulakukan? Aku kan tidak mungkin memencet bel apartemennya lalu bertanya ‘apakah kau baik-baik saja?’, padahal aku bukan siapa-siapanya.Lagipula saat bertemu pertama kali aku juga bersikap seolah-olah tidak mengenalnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian sebuah ide muncul di kepalaku. Kuambil bolpoin dan notes milikku, lalu menuliskan sesuatu disana. Kertas notes itu kutempelkan di depankamera bel, kemudian kupencet bel itu dua kali.</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah yakin ia mendengarnya, aku langsung berlari dan bersembunyi di sudut dekat lift. Jantungku berdegup kencang saat melihatnya keluar dari dalam apartemennya.</p>
<p style="text-align:justify;">***</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Jaejoong’s PoV</strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Hari ini aku merasa tidak enak badan, makanya walaupun hari masih sore aku meminta ijin kepada managerku untuk pulang lebih dulu.Sesampainya di apartemen aku ingin sekali langsung tidur. Baru saja aku akan memejamkan mataku, bel apartemenku berbunyi.</p>
<p style="text-align:justify;">“Siapa sih?”gumamku kesal, lalu berjalan ke pintu apartemenku. Kutekan lock apartemenku untuk melihat siapa yang datang. Tapi kenapa tidak terlihat siapapun di luar. Yang terlihat di layar lock pintu hanya…. Apa itu? Seperti tulisan.Apa ada yang menempel kertas di kameranya?</p>
<p style="text-align:justify;">Aku pun langsung membuka pintu apartemen dan melihat bel apartemenku yang sudah ditempeli kertas di bagian kameranya. Kucabut kertas notes itu dan kubaca tulisan yang ada disana.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em> </em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Oppa, apakah kau sakit?Atau hanya kelelahan biasa?Minumlah air jeruk hangat.Bisa sedikit membantumu untuk rileks. ^^</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Aku tercengang saat membacanya. Tulisan ini sangat kukenal! Ini kan tulisan gadis JY itu! Dan pesannya saat aku lelah juga sama! Berarti ia sebelumnya ada disini?</p>
<p style="text-align:justify;">Aku langsung menatap ke sekeliling koridor. Aku pun berlari ke arah lift untuk mencarinya. Kemudian kudengar suara derap langkah kaki yang berlari di dekat tangga. Aku pun langsung berlari ke tangga yang memang tidak jauh jaraknya dari lift.</p>
<p style="text-align:justify;">Entah seberapa jauh aku menuruni tangga, tapi aku masih tidak juga menemukan orang yang derap langkahnya kudengar tadi.Akhirnya karena lelah aku memutuskan untuk kembali ke lantai apartemenku lewat lift. Aku menghampiri lift lalu mataku menangkap kain kecil berwarna biru muda yang terjatuh di depan pintu lift. Kupungut kain yang ternyata saputangan itu.aku terkejut membaca inisial yang tertulis disana. JY.</p>
<p style="text-align:justify;">Berarti ia baru saja menaiki lift ini?</p>
<p style="text-align:justify;">Aku melihat angka yang tertera di lift. Kira-kira ia akan turun di lantai mana?</p>
<p style="text-align:justify;">Angkanya berhenti di… Basement?</p>
<p style="text-align:justify;">***</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Author’s PoV</strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Yuuri menarik napasnya yang sesak karena berlari dari kejaran Jaejoong tadi.  Beruntung tadi saat Jaejoong mengejarnya ia berhasil masuk lift. Kalau tidak pasti Yuuri akan tertangkap dan Jaejoong pasti akan tahu dari siapa hadiah yang diberikannya kemarin.</p>
<p style="text-align:justify;">Tentu saja hadiah itu dari Yuuri.Selama dua tahun sebelumnya setiap Jaejoong ulang tahun Yuuri lah yang selalu mengiriminya foto-foto hasil jepretannya beserta pesan-pesan di setiap foto itu. Yuuri memang tidak yakin jika hadiah itu akan langsung diterima oleh Jaejoong, mengingat banyaknya hadiah yang pasti akan diterima Jaejoong. Tapi hadiah ketiga yang beberapa hari yang lalu diberikannya langsung pada Jaejoong itu sudah pasti akan dibuka dan pesannya pun pasti akan dibaca Jaejoong kan? Itulah yang membuat Yuuri cemas.Ia tidak ingin Jaejoong tahu mengenai dirinya.Ia tidak ingin berkenalan dengan Jaejoong. Karena ia tidak ingin semakin mengharapkan cinta dari seorang idola seperti Kim Jaejoong.</p>
<p style="text-align:justify;">Yuuri mengelap peluh yang menetes di wajahnya karena berlari tadi. Kemudian ia merogoh kantung jaketnya untuk mengambil sapu tangannya. Tapi mana?Kenapa tidak ada?</p>
<p style="text-align:justify;">***</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Jaejoong memandangi sapu tangan biru muda itu dengan penasaran.Inisial yang tertulis disana adalah JY. Dan tadi lantai tempat lift itu berhenti adalah lantai basement. Membuat Jaejoong yakin sekali jika gadis fans berinisial JY itu adalah Jung Yuuri, gadis petugas cleaning service itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi yang Jaejoong heran adalah kenapa gadis itu tidak mau muncul di hadapannya? Lalu kenapa ia bekerja sebagai petugas cleaning service, padahal menurut analisa Yoochun dan Junsu seharusnya gadis itu berasal dari kalangan berada makanya bisa mengikuti kegiatan mereka sampai keluar negeri. Ada apa dengan gadis itu sebenarnya?</p>
<p style="text-align:justify;">Karena rasa penasaran itulah Jaejoong jadi melupakan rasa lelahnya dan ikut turun ke basement lewat tangga.Sesampainya di basement Jaejoong langsung berlari ke ruang petugas cleaning service, tapi tidak ada siapapun disana.</p>
<p style="text-align:justify;">“Cari siapa nak?”</p>
<p style="text-align:justify;">Jaejoong berbalik dan melihat Lee ahjusshi memandangnya penuh tanya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ah, ahjusshi!Apa ahjusshi lihat Jung Yuuri-ssi?”tanya Jaejoong langsung.</p>
<p style="text-align:justify;">“Jung Yuuri?”</p>
<p style="text-align:justify;">“Ne. tadi aku menemukan sapu tangan ini. Inisialnya JY. Ini punyanya kan?”tanya Jaejoong sambil mengacungkan sapu tangan yang tadi ditemukannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Lee ahjusshi memperhatikan sapu tangan itu. “Ah ne. Tadi aku memang melihatnya menggunakan sapu tangan itu.”</p>
<p style="text-align:justify;">Hati Jaejoong berdegup kencang mendengar jawaban Lee ahjusshi.Jadi benar fangirl berinisial JY itu adalah Jung Yuuri?</p>
<p style="text-align:justify;">“Sekarang dimana dia?”tanya Jaejoong bersemangat.</p>
<p style="text-align:justify;">“Oh, tadi dia buru-buru pulang.Katanya ia harus belajar untuk kuis besok di kuliahnya.”</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi ia mahasiswa? Pikir Jaejoong.</p>
<p style="text-align:justify;">“Tapi aku tidak yakin ia bisa belajar dengan baik.”gumam Lee ahjusshi.</p>
<p style="text-align:justify;">“Maksud ahjusshi?”</p>
<p style="text-align:justify;">Lee ahjusshi tersenyum muram.“Sepertinya ia kelelahan karena terlalu banyak bekerja.Dia masih terlalu muda untuk bekerja keras sendirian. Dia terlihat cantik dan terawat kan? Itu karena sebelumnya ia berasal dari keluarga berada. Tapi setengah tahun lalu perusahaan ayahnya bangkrut dan ayahnya meninggal karena serangan jantung, jadi sekarang ia kuliah sambil bekerja untuk membiayai ibu juga adiknya yang masih kecil.”</p>
<p style="text-align:justify;">Jaejoong tercengang mendengar cerita Lee ahjusshi.“Ahjusshi tahu darimana?”tanyanya pelan.</p>
<p style="text-align:justify;">“Sekitar lima bulan yang lalu ia datang kemari membawa sebuah bungkusan.Ia terus menatap gedung apartemen ini, ragu-ragu untuk masuk. Aku menanyakan apa keperluannya, tapi ia hanya diam. Kemudian ia mengatakan ingin bekerja disini. Saat itu aku ragu dengan kata-katanya, karena bajunya terlihat bagus. Tidak mungkin gadis dengan penampilan yang bagus mengatakan ingin bekerja sebagai petugas cleaning service disini. Lagipula saat itu sudah tidak ada lowongan.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Lalu aku bertemu dengannya lagi saat di swalayan 24 jam di dekat rumah.Wajahnya itu tidak mudah dilupakan, sehingga aku masih mengingatnya.Iapun ternyata masih mengingatku.Ternyata jarak rumah kami tidak begitu jauh. Dari situlah kami sering bertemu dan ia menceritakan masalahnya. Kemudian sekitar sebulan yang lalu aku menawarinya untuk bekerja sebagai petugas cleaning service disini.”</p>
<p style="text-align:justify;">Jaejoong terdiam mendengar cerita Lee ahjusshi.Apa itu penyebab gadis itu tidak lagi me-mentionnya ataupun memotretnya lagi? Karena iaharus bekerja untuk keluarganya?</p>
<p style="text-align:justify;">Jaejoong tidak bisa berpikir lagi.Terlalu banyak pertanyaan di kepalanya. Dan ia terlalu merindukan perhatian gadis itu. Entahlah. Satu-satunya yang ia pikirkan sekarang adalah ia ingin bertemu dengan Jung Yuuri.Dengan gadis yang akhir-akhir ini selalu memenuhi pikirannya.</p>
<p style="text-align:justify;">***</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Jaejoong’s PoV</strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Cerita Lee ahjusshi tadi membuat pertanyaan-pertanyaanku mengenai gadis itu sedikit terjawabkan.Sekarang aku mengerti kenapa Yuuri tidak lagi mengikutiku kemana-mana dan memotretku.Tapi ada satu hal yang paling penting yang belum terjawabkan. Kenapa ia tidak mau menemuiku secara langsung?Padahal selama ini aku selalu ingin bertemu dengannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Paginya aku menemui Yuuri yang seperti biasa sedang mengepel koridor di lantai apartemenku.</p>
<p style="text-align:justify;">“Annyeong.”sapaku. Kemudian aku merutuki kebodohanku yang tadi memanggilnya dengan bahasa banmal.Ia pasti merasa aku sok akrab. Benar saja, ia menatapku aneh.</p>
<p style="text-align:justify;">Iamelihat ke belakangnya, kemudian berbalik dan menatapku ragu. “Apa kau berbicara padaku?”tanyanya.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku tersenyum yang langsung membuatnya menundukkan wajahnya. Sepertinya ia malu. “Ne. Aku berbicara denganmu, Jung Yuuri-ssi.”</p>
<p style="text-align:justify;">Ia mengangkat wajahnya dan menatapku terpana. “Bagaimana kau tahu namaku?”tanyanya pelan.</p>
<p style="text-align:justify;">“Aku menanyakannya pada Lee ahjusshi.”jawabku sambil terus memperhatikan mata coklatnya yang indah itu. Sejak pertama melihatnya aku langsung menjadi sangat menyukai pandangan matanya padaku.</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi kenapa hari ini wajahnya terlihat pucat sekali?apa ia sakit?</p>
<p style="text-align:justify;">“A… ada apa?”tanyanya. Ia menundukkan wajahnya lagi dan meremas-remas ujung bajunya dengan kedua tangannya. Sepertinya ia sangat gugup.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku memberikan sapu tangan biru itu ke depan wajahnya. “Ini sapu tanganmu kan?”tanyaku. Ia terbelalak melihat sapu tangan itu. “Ada inisialmu disana.”</p>
<p style="text-align:justify;">“A… anhi…”</p>
<p style="text-align:justify;">“Lee ahjusshi yang bilang ini punyamu.”kataku cepat sebelum ia membantah.</p>
<p style="text-align:justify;">Ia terdiam lama lalu mengambil sapu tangan itu dengan tangan gemetar. “Gamsa… ham… nida&#8230;”ucapnya dengan suara bergetar.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku tersenyum padanya lalu kugenggam tangannya yang memegang sapu tangan itu.Ia terkejut. Hampir saja ia menarik tangannya, tapi aku menggenggamnya kuat.Ia menatapku bingung.</p>
<p style="text-align:justify;">“Gomawo untuk hadiah-hadiah spesialmu setiap aku berulang tahun.Dan juga perhatian-perhatianmu di setiap mention-mentionmu.”ucapku tulus.</p>
<p style="text-align:justify;">Ia langsung menarik tangannya dan memandangku takut dengan wajah yang sangat pucat.</p>
<p style="text-align:justify;">“Hadiah apa?Mention apa?”tanyanya tanpa memandangku. Ia memandang ke lantai. “Aku tidak mengerti.Kurasa anda salah orang, Kim Jaejoong-ssi.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Jangan mengelak.Aku sudah tahu jika kau adalah fangirl yang sering memention twitterku dan mengikutiku kemana-mana untuk mendapatkan fotoku.”</p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian ia memandangku tajam. “Kurasa kau benar-benar salah orang, Kim Jaejoong-ssi. Aku bahkan tidak punya twitter, bagaimana mungkin aku mementionmu?” Setelah berkata begitu iaberbalik untuk mengambil troli yang berisi alat-alat kebersihan. Tapi aku mengejarnya dan menarik tangannya.Aku membalikkan tubuhnya menghadapku.</p>
<p style="text-align:justify;">“Bisakah kau jujur?Aku sudah berusaha mencari tahu siapa dirimu selama dua tahun ini.Aku ingin tahu seperti apa fans yang begitu mencintaiku.”ucapku lirih dan memandang dalam-dalam matanya yang sudah berair itu.Kemudian matanya perlahan menutup dan tubuhnya lemas.</p>
<p style="text-align:justify;">Ia pingsan! Refleks aku memegang lengannya lebih kuat agar ia tidak terjatuh.</p>
<p style="text-align:justify;">“Jung Yuuri-ssi?”panggilku. Ia tidak menyahut.</p>
<p style="text-align:justify;">Akhirnya aku menggendongnya bridal style ke dalam apartemenku.Aku meletakkannya di tempat tidurku.Kusentuh dahinya dengan telapak tanganku.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ya Tuhan, panas sekali!” Ternyata benar ia sakit!</p>
<p style="text-align:justify;">Aku pun mengambil air es dan mengompres dahinya dengan handuk kecil.Kupandangi wajah cantiknya yang pucat itu.Wajah yang selama ini selalu ingin kulihat.Wajah fangirl yang sangat mencintaiku dan memperhatikanku.Wajah gadis yang kucintai.</p>
<p style="text-align:justify;">***</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Author’s PoV</strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Yuuri membuka matanya perlahan.Ia masih merasakan pusing di kepalanya. Kemudian setelah berusaha membiasakan matanya yang cukup lama terpejam, akhirnya ia bisa melihat dengan jelas. Ia langsung duduk saat menyadari dirinya berada di tempat yang tidak dikenalnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Saat itulah ia merasakan genggaman di tangannya terlepas. Ia menengok ke sebelah kirinya dan terkejut melihat Jaejoong sedang menggeliat-geliat kecil. Ternyata saat Yuuri tertidur Jaejoong terus memegang tangan kiri Yuuri sampai ia tertidur dengan posisi duduk di bawah.</p>
<p style="text-align:justify;">Jaejoong menguap kecil lalu menatap Yuuri dengan tersenyum, membuat jantung Yuuri berdetak kencang.“K            au sudah bangun?”tanya Jaejoong.</p>
<p style="text-align:justify;">Yuuri menggeser duduknya di kasur, menjauh dari Jaejoong.“Kenapa aku ada disini?”tanya Yuuri dengan suara yang sangat pelan seperti berbisik.Tapi Jaejoong masih bisa membaca gerak bibir gadis itu.</p>
<p style="text-align:justify;">“Kau pingsan tadi pagi.Demam tinggi.Sepertinya karena terlalu kelelahan.”jelas Jaejoong.Kemudian Yuuri turun dari tempat tidur, dari sisi yang berlawanan dengan Jaejoong.Ia berjalan menghampiri Jaejoong.</p>
<p style="text-align:justify;">“Gamsahamnida sudah menolongku.”ucapnya lalu membungkuk kecil.“Aku harus pulang sekarang.”Kemudian ia terburu-buru keluar dari kamar Jaejoong.</p>
<p style="text-align:justify;">“Kajima!”kata Jaejoong lalu menyusulnya keluar kamar.</p>
<p style="text-align:justify;">Jaejoong menarik tangan Yuuri sebelum Yuuri mencapai pintu apartemen.Ia membalikkan tubuh gadis itu agar menghadapnya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Kumohon jangan menghindar…”ucap Jaejoong lirih.Ia memandang wajah pucat Yuuri yang terlihat sangat ketakutan.Tapi walaupun takut, Yuuri tidak bisa memalingkan matanya dari tatapan lembut Jaejoong.</p>
<p style="text-align:justify;">“Apa yang kau takutkan dariku sehingga membuatmu selalu bersembunyi dariku?”tanya Jaejoong. Yuuri tidak menjawab, ia hanya diam sambil terus menatap mata Jaejoong yang memandangnya lembut. Mata namja yang sangat ia cintai.</p>
<p style="text-align:justify;">“Kenapa kau selalu mengikutiku tapi tidak pernah muncul di hadapanku?Kenapa kau selalu memberiku perhatian lebih tanpa membiarkanku mengetahui siapa dirimu?”</p>
<p style="text-align:justify;">Mata Yuuri mulai berair sekarang.Ia menggigit bibirnya untuk mencegah isak tangisnya yang akan keluar.</p>
<p style="text-align:justify;">“Apa kau tidak tahu bahwa aku ingin sekali bertemu denganmu?”</p>
<p style="text-align:justify;">“Benarkah?”kali ini Yuuri mengeluarkan suaranya walaupun hanya berupa suara yang lirih.Airmata Yuuri menetes.</p>
<p style="text-align:justify;">Jaejoong tersenyum lalu menghapus airmata yang mengalir di pipi Yuuri dengan lembut.“Kau selalu bisa menghiburku dengan mention-mention darimu dan tulisan-tulisanmu di album itu.Seolah-olah kau sangat mengerti diriku. Seolah-olah kau selalu berada di sisiku…”</p>
<p style="text-align:justify;">“Apa kau tidak sadar jika semua yang kau lakukan itu sudah membuatku jatuh cinta padamu?”</p>
<p style="text-align:justify;">Mata basah Yuuri membelalak lebar.Ia menatap Jaejoong tak percaya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Anhiyo…”ucapnya lirih.Ia menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya. “Tidak mungkin&#8230;. Mana mungkin kau mencintai aku yang hanya seorang fangirl…?”</p>
<p style="text-align:justify;">“Itulah yang terjadi Jung Yuuri…”kata Jaejoong lalu menangkupkan kedua tangannya di wajah Yuuri. Ia menatap mata Yuuri dalam-dalam.“Saranghaeyo, Jung Yuuri…”</p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian Jaejoong mendekatkan wajahnya ke wajah Yuuri lalu mencium lembut bibir gadis itu.Ciuman yang singkat tapi penuh dengan seluruh perasaan Jaejoong yang selama ini terpendam.Airmata Yuuri semakin banyak menetes.</p>
<p style="text-align:justify;">Jaejoong melepaskan ciumannya lalu menatap lembut Yuuri.“Uljima…”ucapnya, lalu menghapus airmata di pipi Yuuri.</p>
<p style="text-align:justify;">“Apa aku bermimpi…?”ucap Yuuri lirih. Ia memandang mata Jaejoong dalam-dalam dan hanya bisa melihat ketulusan di dalamnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Jaejoong menggeleng dan tersenyum lembut.“Apa aku harus menciummu lagi agar kau sadar ini bukan mimpi?”goda Jaejoong.</p>
<p style="text-align:justify;">Perasaan lega yang didapatnya, serta rasa bahagia yang menjalari tubuhnya saat melihat mata Jaejoong membuat bibir Yuuri otomatis tersenyum.</p>
<p style="text-align:justify;">“Saranghaeyo…”ucap Yuuri pelan.Jaejoong tersenyum semakin lebar, kemudian mengecup kening Yuuri lalu memeluk gadis itu erat.Yuuri membalas pelukannya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Saranghae, neomu saranghaeyo, Jung Yuuri…”ucap Jaejoong.</p>
<p style="text-align:justify;">“Saengilchukae.”</p>
<p style="text-align:justify;">Jaejoong melepas pelukannya lalu memandang Yuuri bingung.“Selamat ulang tahun ke-27!”ucap Yuuri dengan senyum lebar.</p>
<p style="text-align:justify;">“Memang sekarang tanggal berapa?”tanya Jaejoong bingung.</p>
<p style="text-align:justify;">“Tanggal 26 Januari.Apa kau tidak ingat?”</p>
<p style="text-align:justify;">Jaejoong mengelus lembut pipi Yuuri.“Karena memikirkanmu aku jadi lupa sekarang tanggal berapa.”</p>
<p style="text-align:justify;">Yuuri tersenyum lalu balas mengelus lembut wajah Jaejoong dengan kedua tangannya. “Mianhada aku tidak bisa memberimu hadiah lagi…”</p>
<p style="text-align:justify;">“Bertemu denganmu adalah hadiah terindah untukku.”ucap Jaejoong lalu mengecup lembut bibir Yuuri. “Gomawo, Jung Yuuri. Tetaplah di sisiku…”</p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong>END</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align:center;">KYAAAAA~ JAEPPA NYIUM AKUUU!!! *histeris-author gila*</p>
<p style="text-align:center;">Haha~ mianhe buat para readers yang bosen ngeliat author narsis ini nampang di FF-FFnya sendiri. Abis gimana dong, gak rela kalo bias gak jadi milikku. #PLAAKK.</p>
<p style="text-align:center;">Pernah dipublish di wpku  <a href="http://myideamylife.wordpress.com/2012/01/26/i-wanna-meet-you-my-special-fangirl-special-jaejoongs-birthday/">FF jae’s birthday</a> pas hari ultahnya Jaeppa. Gomawo Icha onnie (@<a href="https://twitter.com/#!/IcHa_KYURI88"><strong>IcHa_KYURI88</strong></a>) yang udah mau posting FFku. ^^</p>
<p style="text-align:center;">SAENGILCHUKA HAMNIDA, KIM JAEJOONG OPPA! SEMOGA MAKIN LANGGENG SAMA JUNG YUURI YAAA~ :-* #dikejar pake sapu sama Cassiopeia.</p>
<p style="text-align:center;">Moga-moga DB5K comeback berlima! *AMINNN</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>`</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ffindo.wordpress.com/49628/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ffindo.wordpress.com/49628/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ffindo.wordpress.com/49628/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ffindo.wordpress.com/49628/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ffindo.wordpress.com/49628/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ffindo.wordpress.com/49628/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ffindo.wordpress.com/49628/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ffindo.wordpress.com/49628/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ffindo.wordpress.com/49628/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ffindo.wordpress.com/49628/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ffindo.wordpress.com/49628/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ffindo.wordpress.com/49628/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ffindo.wordpress.com/49628/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ffindo.wordpress.com/49628/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ffindo.wordpress.com&amp;blog=9871143&amp;post=49628&amp;subd=ffindo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ffindo.wordpress.com/2012/01/27/i-wanna-meet-you-my-special-fangirl-special-jaejoongs-birthday/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/98679e914a7bbfaf946d3707ab975824?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kyurielfsone88</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ffindo.files.wordpress.com/2012/01/birthdayhero.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">birthdayhero</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>I Wanna Love You &#8211; Part 1</title>
		<link>http://ffindo.wordpress.com/2012/01/26/i-wanna-love-you-part-1/</link>
		<comments>http://ffindo.wordpress.com/2012/01/26/i-wanna-love-you-part-1/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Jan 2012 12:20:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>r13eonnie 강 하이에나</dc:creator>
				<category><![CDATA[FFindo]]></category>
		<category><![CDATA[Pinky_Girl]]></category>
		<category><![CDATA[Choi Minho]]></category>
		<category><![CDATA[donghae]]></category>
		<category><![CDATA[Jessica Jung]]></category>
		<category><![CDATA[Jonghyun]]></category>
		<category><![CDATA[key]]></category>
		<category><![CDATA[Lee Taemin]]></category>
		<category><![CDATA[Sulli]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ffindo.wordpress.com/?p=49619</guid>
		<description><![CDATA[Title:I Wanna Love You Cast: Choi Minho Lee Insa Lee Hana Kim Jonghyun Kim Kibum Key Lee Donghae Lee Jinki Onew Lee Taemin Cha Raeyeon Oh Nana Jessica Jung Choi Sully Other cast: Kangin&#38;Tiffany(Minho parents) Siwon&#38;Yuri(Onew&#38;Insa parents) Shindong&#38;Sunny(Donghae&#38;Hana parents) Genre:Romance,friendship,family,little &#8230; <a href="http://ffindo.wordpress.com/2012/01/26/i-wanna-love-you-part-1/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ffindo.wordpress.com&amp;blog=9871143&amp;post=49619&amp;subd=ffindo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ffindo.files.wordpress.com/2012/01/sweet-minho-shinee.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-49620" title="sweet-minho-shinee" src="http://ffindo.files.wordpress.com/2012/01/sweet-minho-shinee.jpg?w=584" alt=""   /></a>Title:I Wanna Love You</p>
<div>Cast:</div>
<div>Choi Minho</div>
<div>Lee Insa</div>
<div>Lee Hana</div>
<div>Kim Jonghyun</div>
<div>Kim Kibum Key</div>
<div>Lee Donghae</div>
<div>Lee Jinki Onew</div>
<div>Lee Taemin</div>
<div>Cha Raeyeon</div>
<div>Oh Nana</div>
<div>Jessica Jung</div>
<div>Choi Sully</div>
<div>Other cast:</div>
<div>Kangin&amp;Tiffany(Minho parents)</div>
<div>Siwon&amp;Yuri(Onew&amp;Insa parents)</div>
<div>Shindong&amp;Sunny(Donghae&amp;Hana parents)</div>
<div>Genre:Romance,friendship,family,little sad</div>
<div>Rating:PG-15</div>
<div>Backsound:Eunhyuk-Donghae_I Wanna Love You</div>
<div></div>
<p><span id="more-49619"></span></p>
<div>Story:</div>
<div></div>
<div>@Bandung,Indonesia. Hana dan Donghae lagi ada di kamarnya Hana</div>
<div>“Aigo….cape banget!”kata Hana sambil tiduran di ranjangnya</div>
<div>“iya,tapi akhirnya semuanya beres”Donghae menatap beberapa dus yang ada di hadapannya</div>
<div>“Yess….akhirnya kita bisa balik lagi ke Seoul”Hana terlihat sangat senang</div>
<div>“Iya. Hm…aku bisa kecengin yeoja-yeoja Seoul lagi”Donghae tiduran di sebelah Hana</div>
<div>“Ah…pikiran oppa tuh slalu yeoja”ucap Hana sambil melirik Donghae</div>
<div>“Ye..ga apa-apa donk! Itu tandanya aku masih normal”</div>
<div>“Huh,udah sana balik lagi ke kamar oppa. Aku mau tidur”kata Hana</div>
<div>“Kalau aku pengen tidur di sini gimana?ucap Donghae sambil duduk di ranjang</div>
<div>“Ya,oppa!” Hana pun dorong-dorong Donghae sampai pintu kamarnya. Setelah Donghae di luar Hana langsung mengunci pintu kamarnya</div>
<div>“Ya,Hana! Hp aku ketinggalan di kasur”teriak Donghae dari luar</div>
<div>“Besok pagi aku balikin. Udah ya,oppa! Good night…”balas Hana dari dalam kamarnya</div>
<div>“Hana…! Aish…”Donghae sedikit kesal dengan kelakuan dongsaengnya itu. Akhirnya dia balik lagi ke kamarnya</div>
<div>Sementara itu di Seoul,di sebuah rumah mewah. Sepasang suami istri datang dan langsung di sambut oleh para pelayan di rumahnya</div>
<div>“Selamat malam tuan,selamat malam nyonya”sapa pelayan itu</div>
<div>“Ne”jawab mereka bersamaan</div>
<div>“Mana Minho?”tanya suami itu yang ternyata bernama Kangin</div>
<div>“Tuan muda Minho sedang berada di taman belakang”jawab pelayan itu</div>
<div>Kangin dan istrinya Tiffany langsung menghampiri Minho yang ada di taman belakang. Di sana mereka melihat Minho sedang duduk di dekat air mancur yang sangat besar</div>
<div>“Sekarang aku ga bisa liat bintang lagi. Aku ga bisa liat bintang mana yang paling terang. Cuma bintang-bintang itu yang tahu betapa kesepian nya aku selama ini”gumam Minho dalam hati</div>
<div>“Minho! Kamu ini ga ada kerjaan banget sih??”bentak Kangin tiba-tiba. Minho sedikit terkejut mendengarnya</div>
<div>“Memangnya aku bisa apa? Appa sendiri kan yang bilang kalau aku ini sekarang udah cacat,udah ga berguna”kata Minho</div>
<div>“Iya. Tapi se enggaknya kamu ngapain kek…”ucap Tiffany</div>
<div>“Aku masih bisa main piano. Tapi appa sama eomma ga mau kan kalau aku main musik…Appa sama eomma ini mau nya apa sih? Selalu mencari kesalahan aku,seolah-olah semua kesalahan aku yang bikin”emosi Minho meledak</div>
<div>“Kamu berani kurang ajar sama appa!”Kangin membentak Minho</div>
<div>Kangin sudah mengangangkat tangan sebelah kanan nya. Dia akan menampar Minho</div>
<div>“Tampar aku,appa! Tampar raja! Jangan pikir karena aku buta,aku ga tau apa yang bakal appa buat sama aku. Sekalian aja appa bunuh aku. Aku udah sangat menderita hidup di sini”kata Minho</div>
<div>Semua terdiam. Kangin tidak jadi menampar Minho. Tak lama kemudian Minho pergi ke kamarnya.</div>
<div>Keesokanya harinya. Keluarga Hana pergi ke Jakarta karena besok mereka akan berangkat ke Seoul.</div>
<div>“Donghae,Hana isukan teh jam 7 isuk erek indit ka Seoul,ulah telat nya!”ucap Shindong memakai bahasa Sunda,karena mereka sudah 2 tahun berada di Bandung.</div>
<div>“Appa,berenti deh ngomong bahasa sunda. Aku ga ngerti ni,..”protes Donghae</div>
<div>“Ah…kamu ini. Besok jam 7 pagi mau ke Seoul,bangun nya jangan telat”Shindong menjelaskan perkataan nya barusan</div>
<div>“Appa kaya ga tau aku sama Donghae oppa aja deh! Appa pernah bilang kan kalau aku sama Donghae oppa itu kaya pangeran sama putrid tidur. Hm~”kata Hana sambil melihat pemandangan kota Jakarta</div>
<div>“Udah,besok biar eomma yang bangunin kalian. Ara?”ucap Sunny sambil tersenyum</div>
<div>“Ne,ara eomma”jawab Donghae dan Hana bersamaan</div>
<div>Hana pun menelepon chingu nya yaitu Insa. Hp Insa pun berbunyi melantunkan lagu “My Everthing”. Tertera nama dan foto Hana di layar hp nya. Insa pun mengangkatnya</div>
<div>“Yobseyo…”kata Insa di seberang sana</div>
<div>“Yobseyo,Insa”jawab Hana</div>
<div>“Hana?Hana! Ottoke janiseo??”Insa sangat senang karena Hana meneleponnya</div>
<div>“Ne,aku baik-baik aja. Kamu?”</div>
<div>“Sama. Aku kangen banget lho sama kamu”Insa tersenyum sendiri”</div>
<div>“Aku juga. Ternyata kita udah pisah selama 2 tahun.O,iya aku mau ngasih tau kalau besok aku mau balik lagi ke Seoul”Hana memberitahu kabar baik itu</div>
<div>“Jinjja?? Waaa…aku seneng banget!”Insa loncat-loncat kecil</div>
<div>“Hahahaha….eh,nomor hp nya Taem ganti yah? Soalnya beberapa hari yang lalu aku sms ga terkirim”tanya Hana</div>
<div>“Ooo…iya dia ganti nomor hp. Tapi soal Taem,aku aj yang ngasih tau. Kamu kan dari Indonesia nelepon ke sini mahal”</div>
<div>“Iya sih!”</div>
<div>“Kamu sampai sini jam berapa?”tanya Insa</div>
<div>“Jam 1 waktu Korea. Besok sore aku bakal ke rumah kamu”kata Hana</div>
<div>“Ya udah,besok aku tunggu yah!”</div>
<div>“Ne. Annyeong…”Hana mengakhiri pembicaraan nya dengan Insa</div>
<div>“Annyeong…”Insa pun menutup telepon nya</div>
<div>Keesokan harinya keluarga Shindong pergi ke Seoul. Jam 1 siang,di Seoul</div>
<div>“Welome,Seoul! Wua,seneng banget akhirnya sampain juga”Hana menghirup udara Seoul</div>
<div>“Iya,setelah kita nyasar di Bandung(?)”ucap Donghae sambil liat-liat</div>
<div>“Nyasar?”ulang Hana</div>
<div>“Iya,nyasar. Aku kan ga tau Bandung. Yang aku tau Cuma Jakarta sama Bali”Donghae menatap Hana</div>
<div>“Hmph&#8230;”Hana menghembusan nafas panjang</div>
<div>Tiba-tiba Shindong berteriak</div>
<div>“Hae,Hana! Gancang naek ka mobil”Shindong berbicara dalam bahasa sunda lagi</div>
<div>“Hana,appa ngomong apaan?Aku ga ngerti”tanya Donghae</div>
<div>“Oppa! Oppa ini dodol banget sih! Udah 2 tahun tinggal di Bandung tetep aja ga ngerti bahasa sunda”kata Hana sambil memonyongkan bibir nya sedikit</div>
<div>“Ih,dasar! Jadi dongsaeng ga sopan banget sih? Masa bilang dodol ke oppa nya sendiri”protes Donghae</div>
<div>“Hae,Hana! Cepet naik ke mobil”ucap Sunny setengah berteriak</div>
<div>“Ne,eomma”jawab Donghae dan Hana bersamaan</div>
<div>“Nah,tadi maksud appa itu yang barusan yang di omongin sama eomma”jelas Hana</div>
<div>“Ooo…”Donghae membulatkan mulutnya</div>
<div id="yui_3_2_0_1_10136558483085098">Mereka pun segera naik ke mobil dan mobil itu pun melesat pergi. 10 menit kemudian,mereka sampai di sebuah rumah yang cukup mewah.</div>
<div>“Wuah,gede banget rumahnya!”Donghae takjub melihat rumah barunya</div>
<div>“Iya. Lebih gede dari yang dulu”Hana menyetujui perkataan Donghae</div>
<div>“Jadi ga rugi kan dulu kita pindah ke Bandung?”Sunny menatap kedua anakya itu sambil tersenyum</div>
<div>“Iya,eomma”jawab Donghae sambil tersenyum</div>
<div>“Hayu,asup. Urang beberes”Shindong masih berbicara bahasa sunda</div>
<div>“Translate! Ayo,masuk kita beres-beres”Hana tersenyum kepada Donghae</div>
<div>“Kamu jadi penerjemah ya???”</div>
<div>“Iya”</div>
<div>‘Hahahahahahaha…”mereka tertawa bersama</div>
<div></div>
<div><strong>TBC</strong></div>
<div></div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ffindo.wordpress.com/49619/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ffindo.wordpress.com/49619/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ffindo.wordpress.com/49619/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ffindo.wordpress.com/49619/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ffindo.wordpress.com/49619/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ffindo.wordpress.com/49619/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ffindo.wordpress.com/49619/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ffindo.wordpress.com/49619/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ffindo.wordpress.com/49619/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ffindo.wordpress.com/49619/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ffindo.wordpress.com/49619/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ffindo.wordpress.com/49619/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ffindo.wordpress.com/49619/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ffindo.wordpress.com/49619/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ffindo.wordpress.com&amp;blog=9871143&amp;post=49619&amp;subd=ffindo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ffindo.wordpress.com/2012/01/26/i-wanna-love-you-part-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		<georss:point>0.000000 0.000000</georss:point>
		<geo:lat>0.000000</geo:lat>
		<geo:long>0.000000</geo:long>
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/95a35ddde9bc310ef88702b63ce33481?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rieriedestiny</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ffindo.files.wordpress.com/2012/01/sweet-minho-shinee.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">sweet-minho-shinee</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Protected: FFINDO Rapat Besar 3 (pw masih sama, yang lupa tanya @vyivyivy)</title>
		<link>http://ffindo.wordpress.com/2012/01/26/ffindo-rapat-besar-3-pw-masih-sama-yang-lupa-tanya-vyivyivy-or-keychand/</link>
		<comments>http://ffindo.wordpress.com/2012/01/26/ffindo-rapat-besar-3-pw-masih-sama-yang-lupa-tanya-vyivyivy-or-keychand/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Jan 2012 10:59:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hyunvy</dc:creator>
				<category><![CDATA[FFindo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ffindo.wordpress.com/?p=49612</guid>
		<description><![CDATA[There is no excerpt because this is a protected post.<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ffindo.wordpress.com&amp;blog=9871143&amp;post=49612&amp;subd=ffindo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>This post is password protected. You must visit the website and enter the password to continue reading.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ffindo.wordpress.com/49612/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ffindo.wordpress.com/49612/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ffindo.wordpress.com/49612/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ffindo.wordpress.com/49612/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ffindo.wordpress.com/49612/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ffindo.wordpress.com/49612/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ffindo.wordpress.com/49612/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ffindo.wordpress.com/49612/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ffindo.wordpress.com/49612/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ffindo.wordpress.com/49612/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ffindo.wordpress.com/49612/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ffindo.wordpress.com/49612/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ffindo.wordpress.com/49612/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ffindo.wordpress.com/49612/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ffindo.wordpress.com&amp;blog=9871143&amp;post=49612&amp;subd=ffindo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ffindo.wordpress.com/2012/01/26/ffindo-rapat-besar-3-pw-masih-sama-yang-lupa-tanya-vyivyivy-or-keychand/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f8b58646290e35983235ab622247f90a?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hyunvy</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
