<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>FFindo</title>
	<atom:link href="http://ffindo.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ffindo.wordpress.com</link>
	<description>FanFic For Friends</description>
	<lastBuildDate>Sun, 29 Jan 2012 14:33:11 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='ffindo.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>FFindo</title>
		<link>http://ffindo.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://ffindo.wordpress.com/osd.xml" title="FFindo" />
	<atom:link rel='hub' href='http://ffindo.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Happily Ever After (Ch.2)</title>
		<link>http://ffindo.wordpress.com/2012/01/29/happily-ever-after-ch-2/</link>
		<comments>http://ffindo.wordpress.com/2012/01/29/happily-ever-after-ch-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Jan 2012 13:21:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ᴢᴣγα♥</dc:creator>
				<category><![CDATA[Zeya]]></category>
		<category><![CDATA[Jessica Jung]]></category>
		<category><![CDATA[kim jonghyun]]></category>
		<category><![CDATA[Lee Taemin]]></category>
		<category><![CDATA[Ocs]]></category>
		<category><![CDATA[SHINEE]]></category>
		<category><![CDATA[SNSD]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ffindo.wordpress.com/?p=49760</guid>
		<description><![CDATA[Happily Ever After Title : Happily Ever After Author : zeya Genre : angst, romance, hurt, friendship Rating : G &#124; PG-13 Length : Chaptered Cast (Main) : Kim Jonghyun &#124; Jonghyun (18) Jung Sooyeon &#124; Jessica (19) Lee Sunhye &#8230; <a href="http://ffindo.wordpress.com/2012/01/29/happily-ever-after-ch-2/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ffindo.wordpress.com&amp;blog=9871143&amp;post=49760&amp;subd=ffindo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><img class="aligncenter" src="http://ffindo.files.wordpress.com/2011/12/happilyeverafter.png?w=584&#038;h=601&#038;h=601" alt="" width="584" height="601" /></p>
<p style="text-align:center;"><strong>Happily Ever After</strong></p>
<p>Title : Happily Ever After</p>
<p>Author : zeya</p>
<p>Genre : angst, romance, hurt, friendship</p>
<p>Rating : G | PG-13</p>
<p>Length : Chaptered</p>
<p>Cast (Main) :</p>
<p>Kim Jonghyun | Jonghyun (18)</p>
<p>Jung Sooyeon | Jessica (19)</p>
<p>Lee Sunhye | Hye (18)</p>
<p>Yoon Jisun | Jisun (18)</p>
<p>Lee Taemin | Taemin (18)</p>
<p>Disclaimer : I do not own characters on this fanfic except Lee Sunhye. Do not plagiarize or copying without my permission.</p>
<p>A/N : Diharapkan maklum dengan cerita ini. Beberapa dari kejadian nyata, beberapa rekayasa dengan sempilan kisah nyata. Semoga suka ^^</p>
<p>Previous : <a href="http://ffindo.wordpress.com/2011/12/18/happily-ever-after-ch-1/">1</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center"><em> </em></p>
<p align="center"><em>The first thing that I would do is thank God because He made you, the one that I loved, and the one who hurted me&#8230; &#8211; zeya</em></p>
<p align="center"><span id="more-49760"></span></p>
<p align="center">CHAPTER II</p>
<p align="center"><em> </em></p>
<p align="center"><em>“Aku menyukaimu.. Tidak. Aku menyayangimu.” – Lee Sunhye, Happily Ever After</em></p>
<p align="center"><em> </em></p>
<p>Aku membuka mataku perlahan. Hari masih pagi, aku tau itu. Hari ini hari terakhir sekolah, sebelum minggu libur. Hari yang kutunggu-tunggu selama ini. Aku bisa bermain game sepuas hatiku! Tapi, aku akan jalan dengan Jonghyun&#8230;</p>
<p>“Sunhye! Temanmu sudah menunggu!” ujar otoosan dari bawah. Aku menggerutu perlahan, masih mengenakan piyamaku, aku mengintip dari jendela kamarku. Jonghyun sudah menungguku dimotornya. Menguap, aku membuka sedikit kaca jendelaku dan berteriak</p>
<p>“Ya! Kim Jonghyun! Pergi saja duluan!” ia menoleh keatas, tepat padaku. Duh, ada apa denganku? Jantungku berdetak tidak karuan.</p>
<p>“Aku akan menunggu! Siap-siap saja!” ujarnya. Keras kepala, pikirku. Menguap, aku melangkah masuk ke kamar mandi dan bersiap-siap. Setengah jam kemudian-setelah mandi dan makan-aku pamit dan melihat Jonghyun sibuk dengan handphone-nya.</p>
<p>“Kajja!” ujarku padanya. Ia tersenyum dan memberikan helm padaku. Kali ini berwarna biru. “Ganti warna?” tanyaku.</p>
<p>“Kemarin kau bilang tidak suka dengan helm hijau. Yasudah, kuganti saja dengan yang biru.” Aku tertegun. Kenapa ia begitu perhatian?</p>
<p>“Oh.” Jawabku singkat, aku naik kemotornya, dan memeluk pinggangnya. Tampaknya, hari ini akan lama berlalu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center">._._._.</p>
<p align="center">
<p>Jisun tampak kurang bersemangat hari ini saat aku tiba di sekolah. Sebagai sahabat, aku segera menghampirinya yang sedang terduduk lemas dibangku. Sempat kulirik Thunder-yang diam-diam melihatiku-dan mengusap bahu Jisun.</p>
<p>“Ada apa denganmu?” tanyaku penuh rasa khawatir. Ia mendesah keras. Aku mengangkat alisku, ada apa ini? Semua orang bersikap aneh.</p>
<p>“Taemin sakit.” Ujarnya, nada suaranya benar-benar terpuruk. Aku sendiri sampai ikut sedih karenanya. Aku merangkulnya hangat.</p>
<p>“Tenang saja. Dia pasti sembuh! Dia kan kuat!” ujarku, mencoba menenangkannya. Bel masuk berbunyi, membuat percakapan kami sedikit tertunda karena Mr.Kim-si guru killer-sudah masuk, dan siap untuk menjadikan kami mangsanya.</p>
<p>Pelajaran matematika memang kesukaanku, tapi, dengan guru seperti dia ini-Mr.Kim-aku benar-benar tidak berminat. Untung saja ia tidak pernah menyuruhku maju kedepan mengerjakan soalnya yang super duper sulit itu. Dan setelah 80 menit penuh penderitaan, pelajaran diganti dengan BAHASA INGGRIS!</p>
<p>Ms.Tiffany sangat dekat denganku. Aku memang salah seorang murid favoritnya, tetapi, aku juga memang sering cerita dengannya.</p>
<p>“Miss!” seruku saat ia berjalan masuk ke kelas kami. Thunder sempat tersenyum kecil melihatku dengan Ms.Jung, membuat pipiku sedikit bersemu.</p>
<p>“Aw! Sunhye! This is time to study, not chat.” Katanya. Aku memanyunkan bibirku sedikit, dan ia segera mencubit pipiku gemas. “We will talk later, okay?” aku tersenyum dan kembali ke bangkuku. Ketua kelas kami, Kikwang, memberi salam kepada Ms.Hwang.</p>
<p>“Guys, today I give you all free time&#8230;.” sebelum Ms.Hwang selesai berbicara, semua anak-anak telah berteriak girang. “Silent!” teriaknya, dan kelaspun hening.</p>
<p>“I’ll give you free time, but please, do not go out from class without my permission, and do not to noisy. Understand?” tanyanya.</p>
<p>“Understand, Miss!” ujar kami semua berbarengan. Jisun masih terlihat tidak bersemangat. Bosan, aku meminta izin ke toilet. Melepas ikat rambutku, aku berjalan dengan santai ke toilet, enggan buru-buru dan enggan masuk kelas terlalu cepat.</p>
<p>Sepasang tangan menutup mataku dari belakang, aku berteriak kecil, sebagai tanda kaget. Siapa orang ini? Aku berusaha menempelkan tanganku dimukanya, ingin tau rupanya. Tetapi aku tidak bisa menggapainya.</p>
<p>“Kau seharusnya tau siapa aku&#8230;” aku mengenal suara ini. Sangat kenal. Bisa kurasakan hembusan nafasnya ditelinga dan leherku. Kim Jonghyun!</p>
<p>“Jonghyun!” pekikku. Ia terkikik, masih sambil menutup mataku. Aku memukul tangannya beberapa kali, dan ia melepaskannya. Aku berbalik dan menatapnya kesal. “Kalau aku mati gara-gara kau, aku akan mengentayangimu sampai akhir hayatmu!” seruku.</p>
<p>Ia merangkulku. Hangat. Dan ia mengacak rambutku perlahan tetap merangkulku. Aku tidak bisa menolak rangkulan itu walaupun aku mau.</p>
<p>“Kenapa kau keluar kelas?” tanyaku akhirnya. Ia mengangkat bahu kanannya-yang kiri merangkulku-dan tertawa.</p>
<p>“Molla. Bosan.” Jawabnya singkat. “Kau sendiri?” tanyanya.</p>
<p>“Ke toilet. Kau benar-benar mengganggu, Kim Jonghyun. Kau tau itu?” tanyaku padanya, dengan maksud bercanda.</p>
<p>“Aku tau itu!” jawabnya. “Ohya, hari ini aku kerumahmu, ya? Main game!” senyumku mengembang. Aku dan Jonghyun selalu bermain game bersama dari dulu sampai sekarang. Aku mengangguk cepat.</p>
<p>“Tentu! Apasih  yang tidak untukmu?” candaku padanya. Ia menunduk. Ada apa?</p>
<p>“Yang tidak untukku? Hatimu.” Aku tertegun. Apa maksudnya. Ia pasti bercanda.</p>
<p>“Hahaha.. Lucu sekali Jonghyun.” Kataku, menyembunyikan rasa kaget yang berlebih itu.</p>
<p>“Bagaimana kalau ternyata aku sudah bisa melupakan Jessica, dan menyukai seorang gadis lain?” tanyanya padaku. Sedikit miris kurasa.</p>
<p>“Mungkin lebih baik. Kau tidak ingin terlalu lama sakit kan?” ujarku padanya. “Siapa gadis itu?” tanyaku akhirnya.</p>
<p>“Bagaimana, jika gadis yang kumaksud itu kau?” Aku?! Mataku membulat, jantungku berdetak tidak karuan, aku seperti tidak bernapas, aku mencoba mengambil napas, tetapi tidak bisa. Ada apa denganku?</p>
<p>“Aku? Lucu..” jawabku asal. “Lebih baik aku kembali ke kelas. Nanti istirahat ke kelasku saja.” Lanjutku, saat aku berbalik dan mulai berjalan ke kelasku, tetapi Jonghyun menahanku.</p>
<p>“Lee Sunhye. Aku serius.” Aku menepis tangannya, membalasnya dengan senyuman kecil, dan kembali kekelas. Jisun masih terlihat sedih, tidak ingin mengganggunya, aku duduk dan melihat Thunder perlahan. Entah mengapa, perasaan itu terasa hilang digantikan perasaan sebagai teman. Berbeda halnya dengan ke Jonghyun. Ini aneh.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center">._._._.</p>
<p align="center">
<p>Jonghyun benar-benar datang ke kelasku saat istirahat dengan membawa bekalnya. Jisun hanya tersenyum kecil melihat kedatangan Jonghyun dan berdiri.</p>
<p>“Kau mau kemana?” tanyaku padanya. Ia hanya membalasku dengan senyuman dan pergi meninggalkanku hanya dengan Jonghyun.</p>
<p>“Kenapa dia?” tanya Jonghyun polos. Ia duduk dibangku Jisun, dan membuka bekalnya. Sushi! Aku mencomot makanannya dan mengangkat bahu.</p>
<p>“Taemin sakit.” Jawabku cepat, lalu kembali mengunyah. Beberapa siswi menghampiri mejaku hanya untuk meminta tanda tangan Jonghyun yang sukses membuatku terbatuk-batuk saat mendengar pujian-pujian dari yeoja-yeoja yang aneh itu.</p>
<p>“Kenapa temanmu banyak yang menyukaiku?” tanyanya padaku. Aku memukul kepalanya sambil mengerucutkan bibir plum-ku yang sukses membuatnya mencubit pipiku dan hampir mengecupnya-sukses kuhadang dengan memukul tangannya-</p>
<p>“Sombong sekali kau. Entah.. Mana kutahu, lebih baik kau tanya saja mereka.” Ada sedikit nada sensi disuaraku, yang kuhapus dari pemikiranku bahwa suara itu maksudnya mengejek saja.</p>
<p>“Oh.. Aku jemput kau hari Minggu jam 1.” Katanya. Aku menatapnya.</p>
<p>“Jadi perginya?” tanyaku perlahan. Ia mengangguk. Tuhan, aku takut sekali!</p>
<p>“Yeah&#8230; Tidak masalah kan?” tanyanya. Aku hanya mengangguk sebagai jawaban dan memakan sushi-nya lagi. Ia meletakkan kepalanya dibahuku. Saat aku mencoba menyuruhnya bangkit, ia malah menutup kedua matanya.</p>
<p>“Biarkan.. Hanya sebentar saja..” aku tertegun. Kenapa namja ini menjadi manja sekali? Aku membiarkannya dan hanya menatap rambutnya.</p>
<p>“Kalau gadis yang kau sukai itu ternyata aku, aku akan berterima kasih padamu.” Jawabku. Ia hanya menggumam tidak jelas. Aku bisa merasakan hembusan napasnya dibahuku, dan aku hanya tersenyum kecil saat itu. Perasaan suka, sayang, itu memang datang secara tiba-tiba. Entah itu kepada teman, idola, atau bahkan&#8230; Sahabat.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center">._._._.</p>
<p align="center">
<p>Jonghyun datang kerumahku dan kami bermain game bersama. F1, tentu saja. Kami berdua adalah penggemar balap mobil dari dulu. Dan dia tetap raja dari permainan itu, walaupun terkadang aku sering mengalahkannya.</p>
<p>“Hye..” panggilnya. Aku menggumam sambil tetap menatap lurus ke layar game. “Aku serius.” Masalah yang tadi lagi, pikirku.</p>
<p>“Dan itu adalah jawabanku.” Aku mem-pause game dan bersandar ke kursi. Aku membuka toples kacang favoritku dan menguyahnya. Jonghyun tetap menatapku, membuatku sedikit risih. “Mwoyaa?” tanyaku. Ia hanya menggeleng pelan.</p>
<p>“Aku tau ini kedengarannya main-main, Hye. Tapi aku serius.” Ini kali ketiga ia mengucapkannya padaku.</p>
<p>“Aku tau kau serius.” Jawabku akhirnya. Ada sedikit rasa ingin menangis yang kutahan. “Dan jawabanku juga serius. Terima kasih.” Lanjutku. Terlihat ia memberikan senyumnya padaku.</p>
<p>‘Aku juga&#8230; Menyukaimu.’ Batinku. Entah mengapa, aku merasa rasa suka Jonghyun padaku.. Hanya sebagai pelampiasannya pada Jessica. Ini perasaanku, atau memang ini nyata? Ia benar-benar menyukaiku?</p>
<p>“Apa kau menyukaiku karna kita sudah lama bersahabat?” tanyaku akhirnya. Ia menggeleng. “Lalu?”</p>
<p>“Semua sifat yang kau tunjukkan padaku.” Aku memandangnya tidak mengerti. “Saat kita bercerita kita selalu seru, tertawa bersama, melucu bersama. Kau benar-benar mengerti aku saat aku banyak masalah, kau selalu bersedia menjadi tong curhatku, dan aku suka itu.”</p>
<p>“Hanya karna itu?”</p>
<p>“Dan juga&#8230; Karna kau selalu ada kapanpun aku membutuhkan teman. Bahkan Jessica tidak seperti itu.” Aku meringis kecil. Kalau kau memang menyukaiku, jangan samakan aku dengannya, batinku perih.</p>
<p>“Oh..” jawabku singkat. Sedikit miris tau bahwa ia masih memiliki perasaan pada Jessica. Apa benar aku benar-benar sudah menyukai namja yang menjadi sahabatku 3 tahun lalu ini? Aku hanya tersenyum padanya. “Terima kasih.”</p>
<p>Jonghyun pulang jam 11 malam, seperti biasanya dia pulang. Tapi, ia sempat memelukku sekali dan pergi dengan motornya. Pusing, aku memilih segera menjatuhkan badanku di tempat tidurku yang empuk dan terlelap. Berharap esok akan datang lebih lama.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center">._._._.</p>
<p align="center">
<p>Aku selalu berharap apa yang terjadi antara aku dan Jonghyun itu mimpi. Tapi, saat aku bangun, memori dikepalaku terus terngiang-ngiang tentang apa yang Jonghyun lakukan terhadapku. Apa aku sudah mulai gila?!</p>
<p>“Ohayou, otoosan, okaasan!” sapaku saat turun kebawah untuk sarapan. Eomma sudah menyiapkan pancake dengan madu, yang sukses membuatku segera duduk tanpa melakukan apa-apa.</p>
<p>“Sun-chan! Cuci tangan dan muka dulu!” titah eomma, aku menggerutu dan dengan cepat masuk ke kamar mandi.</p>
<p>“Otoosan! Okaasan! Aku akan pergi jalan dengan Jonghyun jam 1 nanti.” Kataku. Ibu dan Ayah hanya menggumamkan kata ‘ya’ seperti biasa. Aku hanya menggumamkan kata-kata menggerutu dan melanjutkan sarapanku.</p>
<p>Selesai sarapan, aku segera melangkahkan kakiku ke kamar mandi dan segera bersiap-siap, walaupun sekarang masih jam 9 pagi. Malas, aku bermain komputer hingga jam 11 dan baru mandi.</p>
<p align="center">._._._.</p>
<p align="center">
<p>Jonghyun datang 15 menit sebelum waktunya, dan saat aku aku sedang berselonjor di kursi, dia masuk kedalam rumahku dan melempariku dengan bantal yang ada di sofa.</p>
<p>“Ya! Datang-datang malah melempariku. Apa maumu, huh?” tanyaku jengkel sembari mengikat rambutku acak-acakan. Ia terkekeh.</p>
<p>“Kita mau kemana ini hari?” tanyanya. Ia yang mengajak tapi tidak tau mau kemana? Pria ini memang gila!</p>
<p>“Terserahmu sajalah..” ujarku.</p>
<p>“Yasudah, ayo!” ujarnya menarik tanganku. Aku-yang hanya bisa pasrah-hanya berteriak pamit pada otoosan dan okaasan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center">._._._.</p>
<p align="center">
<p>Jonghyun ternyata mengajakku ke cafe favoritku dengannya. Tempat nongkrong kami dengan Jisun-Taemin setiap 2 minggu sekali. Entah mengapa, kali ini hanya kami berdua yang datang. Pelayan yang selalu melayani kami pun-Nn.Lee-tersenyum mengerti. Aku hanya menatap mereka berdua bingung.</p>
<p>“Nn.Lee, Red Italian Soda-nya 1!” ujarku penuh semangat. Minuman kesukaanku disini adalah Red Italian Soda, mhhmm&#8230;</p>
<p>“Aku seperti biasa ya, Nn.Lee.” ujar Jonghyun. Nn.Lee mengangguk dan segera menuliskan pesanan kami lalu pergi kebelakang. Kami berdua duduk berhadapan dalam diam.</p>
<p>“Tadi malam aku menelepon Jessica.” Ia membuka pembicaraan dengan topik yang sudah 3 hari kami bicarakan terus menerus. Aku hanya mengangguk. “Dan&#8230; Kami secara resmi putus dan ia menerimanya walaupun ia menangis 10 menit karena aku.”</p>
<p>Aku tertegun. Ada sedikit rasa bersalah tersebit dihatiku. Apa ini semua karena aku? Aku hanya mengangguk dan menghela napas panjang.</p>
<p>“Kenapa kau tidak ingin balikan dengannya?” tanyaku akhirnya. Ia menatapku dengan tatapan&#8230; Kosong.</p>
<p>“Aku.. Aku tidak ingin membuatnya menderita. Jujur, aku sangaat menyayanginya. Selama 3 tahun hanya ia yang aku sayang&#8230;.” Dan kenapa kau menyatakan kau menyukaiku, batinku perih.</p>
<p>“&#8230; Tapi, aku tau ia terlalu sakit denganku. Dengan semua keegoisanku.” Akhirnya. Aku hanya tersenyum.</p>
<p>“Tidak seharusnya kalian putus kalau kalian masih saling menyayangi.” Jawabku, ada sedikit rasa sedih di suaraku, entah itu sedih untuknya, atau sedih pada diriku sendiri? “Kalian seharusnya masih bisa bersama&#8230;” minuman kami datang. Aku mengucapkan terima kasih dengan suara kecil, sedangkan Jonghyun masih menatapku, bingung.</p>
<p>“Aku menyukaimu, Lee Sunhye.” Mataku membulat. Kali ini, matanya benar-benar menatapku serius. Aku menghela napas berat. Ini tidak boleh&#8230;</p>
<p>“Jangan&#8230;” jawabku. “Aku.”</p>
<p>“Kenapa?” tanyanya, sedikit bingung.</p>
<p>“Jangan biarkan hatinya lebih sakit lagi karna kau berpacaran denganku.” Kataku. Aku bangkit berdiri, bersiap untuk pulang. Mataku perih, ingin menangis. Tapi kutahan. Ia tidak boleh melihat pertahananku runtuh.</p>
<p>“Aku menyukaimu, Hye!” ujarnya. Pura-pura tidak peduli, aku berjalan keluar. Jonghyun berlari mengikutiku, dan menggenggam tanganku kuat.</p>
<p>“Kumohon.. Dengarkan aku.” Ujarnya.</p>
<p>“Aku sudah mendengarnya tadi.” Ujarku sedikit dingin. Ia memegang pipiku dengan kedua tangannya.</p>
<p>“Aku menyukaimu, Hye. Kau mau menjadi pacarku?” kata-kata itu simpel, hanya membuat 2 kalimat, dan aku hanya bisa terpana saat mendengarnya. Dan aku hanya mengangguk. Saat itu, aku memang sudah resmi menjadi kekasih Kim Jonghyun, dan aku tidak menyesalinya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center">._._._.</p>
<p align="center">
<p>“Kau tau&#8230; Aku tidak menyesal bisa mengenalmu.” Ujar Jonghyun. Kami berdua sedang duduk di taman dan kali ini, aku mengangguk.</p>
<p>“Na do..” jawabku singkat. Ia menarikku kepelukannya, aku hanya tersenyum kecil. Ini semua sudah indah, aku tidak ingin ini semua berubah. Apa aku bisa?</p>
<p>“Pulang?” tanyanya padaku. Aku hanya mengangguk kecil. Hari itu, hari Minggu itu, hidupku berubah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center">._._._.</p>
<p align="center">
<p>Malamnya, Jisun meneleponku seperti biasa. Saat itu, aku tengah sibuk membereskan barang-barangku.</p>
<p>“Yeoboseyo?” sapaku. Aku bisa mendengar suara Jisun.</p>
<p>“Ya! Bagaimana kencanmu dengan si ganteng itu?” Aku tersenyum kecil. Tapi.. Apakah aku harus memberitahukan ini pada Jisun? Entah.. Pertanyaan itu terus berkecamuk dipikiranku. “Ya! Lee Sunhye!” ujarnya membuyarkan lamunanku.</p>
<p>“Eh.. N-Ne.. Baik-baik saja kok..” ujarku, sedikit berbohong pada sahabatku ini. Ia pasti akan tau esok, pikirku.</p>
<p>“Kalian kemana saja?” tanyanya lagi. Selama setengah jam, aku menceritakan kencanku dengan Jonghyun akhirnya. Jisun hanya mendengarkan, dan menutup telepon karena Taemin akan menghubunginya.</p>
<p>Aku menatap langit. Hari itu&#8230; Benar-benar paling indah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center">._._._.</p>
<p align="center">
<p>Jonghyun menjemputku kerumah keesokan harinya. Aku tersenyum padanya. “Tumben cantik?” candanya. Aku memukul lengannya.</p>
<p>“Itu pujian atau hinaan, huh? Sudah, ayo!” ujarku. Kali ini, aku tidak menggerutu ataupun marah padanya. Kami pasangan sekarang.</p>
<p>Hal yang aku kagetkan adalah, ia menggenggam tanganku sesampainya kami di sekolah. Seluruh murid menatap kami dengan tatapan penuh kejutan, terlebih lagi Jisun yang sampai-sampai menjitak kepalaku.</p>
<p>“Gila kau! Tadi malam kau tidak cerita tentang ini!” ujarnya. Jonghyun hanya terkikik geli tanpa melepaskan genggaman tangannya dariku. “Kau tidak bilang kau jadian dengan Jonghyun!!” aku tertawa.</p>
<p>“Sekarang kau tau kan?” tanyaku akhirnya. Aku tertawa kecil. “Mianhae, Jisun-ah&#8230; Aku tadi malam bingung bagaimana menjelaskannya padamu. Mianhae, Jisun-ah!” ujarku.</p>
<p>“Tak apa-apa. Aku tadi hanya bercanda..” ujar Jisun sambil tertawa bersama Jonghyun. Sialan kedua orang ini.</p>
<p>“Ohya, katanya ada murid baru?” tanyaku. Jonghyun menggeleng.</p>
<p>“Tidak kok. Dia hanya murid lama, pacar Jungshin. Kau ingat?” tanyanya. Aku berpikir sebentar.</p>
<p>“Choi Jineul?!” tebakku. Jonghyun tersenyum dan tertawa. Aku menatap Jisun. Ia hanya mengangkat bahu.</p>
<p>“Aku tidak mengenalnya. Kau kan tau aku pindah 2 tahun lalu.” Aku tertegun. Benar juga, saat Jisun pindah kesini, Jineul juga pindah.</p>
<p>“Aku kekelas dulu ya!” ujar Jonghyun membuyarkan lamunanku. Aku hanya tersenyum kecil. “Belajar yang baik..” ujarnya mencubit pipiku. Aku meringis pelan.</p>
<p>“Pipikuu~” ujarku sedikit dengan aegyo, ia tertawa. “Kau juga! Belajar yang rajin.” Ujarku padanya. Ia hanya mengangguk dan berlari menuju kelasnya.</p>
<p>“Tampaknya dugaanku benar&#8230;” goda Jisun padaku. Aku tertawa kecil.</p>
<p>“Ya. Dugaanmu selalu benar. Dan aku harus mempercayai semuanya.” Balasku padanya sambil tertawa. Ya Tuhan, biarkan aku bahagia dengannya&#8230;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>A.N : Wahh, mianhae agak pendek &gt;&lt; Aku gaada waktu untuk update soalnya. Jadinya segini aja yaa <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  Don&#8217;t forget RCL .__.v</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ffindo.wordpress.com/49760/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ffindo.wordpress.com/49760/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ffindo.wordpress.com/49760/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ffindo.wordpress.com/49760/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ffindo.wordpress.com/49760/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ffindo.wordpress.com/49760/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ffindo.wordpress.com/49760/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ffindo.wordpress.com/49760/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ffindo.wordpress.com/49760/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ffindo.wordpress.com/49760/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ffindo.wordpress.com/49760/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ffindo.wordpress.com/49760/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ffindo.wordpress.com/49760/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ffindo.wordpress.com/49760/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ffindo.wordpress.com&amp;blog=9871143&amp;post=49760&amp;subd=ffindo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ffindo.wordpress.com/2012/01/29/happily-ever-after-ch-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/50b2741fcd4c17b098150cd2104c8aa7?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">lolyloly97</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ffindo.files.wordpress.com/2011/12/happilyeverafter.png?w=584&#38;h=601" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>[FF_Haha! This Is Our Story_part 4(2)]</title>
		<link>http://ffindo.wordpress.com/2012/01/29/ff_haha-this-is-our-story_part-42/</link>
		<comments>http://ffindo.wordpress.com/2012/01/29/ff_haha-this-is-our-story_part-42/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Jan 2012 12:05:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Han Jeong Jin</dc:creator>
				<category><![CDATA[chiakihan]]></category>
		<category><![CDATA[FFindo]]></category>
		<category><![CDATA[Cho kyuhyun]]></category>
		<category><![CDATA[Choi Minho]]></category>
		<category><![CDATA[choi siwon]]></category>
		<category><![CDATA[Choi Sooyoung]]></category>
		<category><![CDATA[Im Yoona]]></category>
		<category><![CDATA[Jo Kwangmin]]></category>
		<category><![CDATA[Jo Twins]]></category>
		<category><![CDATA[Jo Youngmin]]></category>
		<category><![CDATA[Kim Jong Woon [Yesung SUJU]]]></category>
		<category><![CDATA[Kim Key Bum]]></category>
		<category><![CDATA[Kim Sang Bum]]></category>
		<category><![CDATA[Kim So Eun]]></category>
		<category><![CDATA[Lee Donghae]]></category>
		<category><![CDATA[Lee Gikwang]]></category>
		<category><![CDATA[Lee Jinki]]></category>
		<category><![CDATA[Leeteuk]]></category>
		<category><![CDATA[Moon Geun Young]]></category>
		<category><![CDATA[Noh Min Woo]]></category>
		<category><![CDATA[Shin Sekyung]]></category>
		<category><![CDATA[SHINee Jonghyun]]></category>
		<category><![CDATA[Taemin]]></category>
		<category><![CDATA[Taeyeon]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ffindo.wordpress.com/?p=48756</guid>
		<description><![CDATA[Buat yang belum baca part yang sebelumnya , bisa dilihat disini ^0^ OSIR :1 2 3 4 5(1) 5(2)–&#62;end Sequel :teaser , 1(1) , 1(2), 2 , 3 , 4(1) , Dimohon sekali untuk readers yang ingin menyimpan FF ini dalam note FB nya harap mencantumkan pemilik FF ini sebenarnya &#8230; <a href="http://ffindo.wordpress.com/2012/01/29/ff_haha-this-is-our-story_part-42/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ffindo.wordpress.com&amp;blog=9871143&amp;post=48756&amp;subd=ffindo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ffindo.files.wordpress.com/2012/01/ss1.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-48665" title="ss" src="http://ffindo.files.wordpress.com/2012/01/ss1.jpg?w=584&#038;h=615" alt="" width="584" height="615" /></a></p>
<p>Buat yang belum baca part yang sebelumnya , bisa dilihat disini ^0^</p>
<p>OSIR :<a href="http://ffindo.wordpress.com/2011/08/02/freelance-our-story-in-ramadhan-1/">1</a> <a href="http://ffindo.wordpress.com/2011/08/04/freelance-our-story-in-ramadhan-2/">2</a> <a href="http://ffindo.wordpress.com/2011/08/10/freelance-our-story-in-ramadhan-3/">3</a> <a href="http://ffindo.wordpress.com/2011/09/01/43274/">4</a> <a href="http://ffindo.wordpress.com/2011/09/03/freelance-our-story-in-ramadhan-5-1/">5(1</a>) <a href="http://ffindo.wordpress.com/2011/09/03/freelance-our-story-in-ramadhan-52-end/">5(2)–&gt;end</a></p>
<p>Sequel :<a title="sequel" href="http://ffindo.wordpress.com/2011/11/22/sequel-our-story-in-ramadhan/">teaser</a> <a href="http://ffindo.wordpress.com/2011/11/30/ff_haha-this-is-our-story-sequel-of-our-story-in-ramadhan_part-12/">, 1(1) , 1(2)</a>, <a href="http://ffindo.wordpress.com/2012/01/05/ff_haha-this-is-our-story-sequel-of-our-story-in-ramadhan_part-2/">2</a> , <a href="http://ffindo.wordpress.com/2012/01/17/ff_haha-this-is-our-story-sequel-of-our-story-in-ramadhan_part-3/">3</a> , <a href="http://ffindo.wordpress.com/2012/01/21/ff_haha-this-is-our-story_part-41/?preview=true">4(1)</a> ,</p>
<p>Dimohon sekali untuk readers yang ingin menyimpan FF ini dalam note FB nya harap mencantumkan pemilik FF ini sebenarnya dan sumber , gamsahamnida ^^</p>
<p><span id="more-48756"></span></p>
<p>Malam itu juga, Jinki memasuki sebuah ruangan yang terdapat dibelakang restoran bakso tersebut dengan sembunyi-sembunyi. Kemudian menjalankan instruksi dari Bang Kyuhyun yang berada diluar restoran.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>“ Ringtonenya juga jangan lupa disetel. Guling putih dari Yesung jangan sampe gak dipake. Jendela jangan lupa direnggangin biar bisa cepet kabur.”</em></p>
<p><em>“ Siap, laksanakan!”</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Sementara itu Gikwang yang berada disisi lain restoran tepatnya berada diruangan tempat pusat arus listrik yang berada di belakang restoran (bayangin sendiri aja ya readers ruangan apa yang dimaksud author).</p>
<p>Tugas Gikwang enteng, ia hanya ditugaskan untuk mematikan dan menyalakan lampu ruangan kerja Sekyung sampai ia puas. *Gikwang evil -_-*</p>
<p><em>&#8212;</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><strong>Kim So Eun bukannlah mi Soun </strong><em>“ Umma.. umma dimana skrg?”</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Nyonya Key yang saat itu sedang bermain dengan iPadnya di salon dan membuka facebooknya melihat kiriman dari So Eun didindingnya. Ia pun langsung membalas kiriman tersebut.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Key Kibum yangmasihmudasekarangdanselamanya </strong><em>“ Umma di salon. Ada apa syng?”</em></p>
<p><strong>Kim So Eun bukannlah mi Soun </strong><em>“ Kbtulan bgt ma. So Eun lg di cafe tmpt biasa kita skluarga makan dulu, tau kan?”</em></p>
<p><strong>Key Kibum yangmasihmudasekarangdanselamanya</strong> <em>“ Hem.. iya. Trus?”</em></p>
<p><strong>Kim So Eun bukannlah mi Soun</strong> <em>“ Umma ksini dong, So Eun pngen makan ditemenin umma.”</em></p>
<p><strong>Key Kibum yangmasihmudasekarangdanselamanya</strong> <em>“ Sejak kpan kamu disana?”</em></p>
<p><strong>Kim So Eun bukannlah mi Soun</strong> <em>“ Baru aja, aku kesini pke taksi, gk ada makanan sih dirumah.”</em></p>
<p><strong>Key Kibum yangmasihmudasekarangdanselamanya</strong> <em>“ Ya ampun. Yaudah, nnti umma nyusul. Nomor mejamu brapa?”</em></p>
<p><strong>Kim So Eun bukannlah mi Soun</strong> <em>“ Nomor 16, ma.”</em></p>
<p><strong>Key Kibum yangmasihmudasekarangdanselamanya</strong> <em>“ Oke <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> ”</em></p>
<p>-</p>
<p>“ Sip!” So Eun langsung kompakan dengan Yoona dan Sooyoung yang kini berada dikamarnya.</p>
<p>“&#8230;mama kalo lagi stres atau habis ribut pasti pelampiasannya ke salon.”kata So Eun sambil tertawa kecil.</p>
<p>“ Ya, kali ini gak apa-apalah. Bagus lagi, pas ke cafe nanti pasti cantik deh.”ujar Yoona.</p>
<p>“ Nah, geus kan? sekarang tinggal kakakmu yang bekerja!” kata Sooyoung.</p>
<p>“ Oke, kak Yesung udah siap.”</p>
<p>“ Dasar jahat kalian!” sungut seorang anak yang ada dipojok kamar So Eun dengan tangan dan kaki diikat oleh tali pramuka, dia adalah No Minwoo. Anak itu sengaja disekap oleh So Eun cs secara sembunyi-sembunyi agar tidak menghancurkan rencana mereka.</p>
<p>“ Emak lo lebih jahat!” balas So Eun sambil menjulurkan lidahnya.</p>
<p>“ Awas lo! Gue bilangin ke nyokap gue! Biar nyaho lo nanti!! Liatin aja lo!!”</p>
<p>“ Silahkan.” So Eun malah semakin semangat meledek adik tirinya itu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&#8212;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tuan Kim masih duduk dibalkon rumahnya, merenung memikirkan pertengkarannya dengan Nyonya Key siang tadi. Saat ini istri pertamanya itu kabur ke salon, sementara istri keduanya masih bekerja di restoran baksonya, lembur menghitung rincian keuangan.</p>
<p>Saat baru saja berniat hendak pergi ke restoran bakso untuk menemani Sekyung bekerja, tiba-tiba ponsel Tuan Kim berbunyi.</p>
<p>“ Halo Yesung? Ada apa?” tanyanya.</p>
<p>“ Appa dimana?” tanya anak laki-lakinya itu.</p>
<p>“ Di..rumah.”</p>
<p>“ Nah kebetulan. Yesung lagi di cafe tempat keluarga kita biasa makan. Tadinya Yesung ngajak Moon kesini, tapi dia pulang duluan karena ada urusan. Appa kesini dong, Yesung gak enak makan sendiri. Nomor meja aku 16.”</p>
<p>“ Hmm.. baiklah. Tunggu ya.” Tuan Kim pun mengurungkan niatnya untuk menemani Sekyung, ia memutuskan menuruti permintaan Yesung karena sudah lama ia tidak makan bersama putranya itu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“ So Eun, kak Yesung ngajak appa makan di cafe biasa. Apa kamu mau ikut??” tanya Tuan Kim didepan pintu kamar So Eun.</p>
<p>“ Kyaaa!! Appa!!! Tol&#8230;&#8230;” Minwoo nyaris saja berteriak memanggil Tuan Kim, akan tetapi dengan sigap Yoona menyumpal mulutnya dengan sebongkah (?) roti gandum yang ia temukan dari kulkas So Eun.</p>
<p>“ Nggak, Pa. So Eun udah kenyang.”jawab So Eun dari dalam kamar.</p>
<p>“ Oh, ya sudah. Eh, Minwoo mana? Siapa tau dia mau ikut.”</p>
<p>“ asdfghjklsdfghjkl&#8230;fhgfjh&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..” Minwoo sama sekali tak bisa bicara karena roti gandum itu masih menyumpal mulutnya.</p>
<p>“ Minwoo dari tadi sore ke rumah Youngmin dan Kwangmin. Sampe sekarang belom pulang..”</p>
<p>“ Oh, begitu.. ya sudah appa pergi yaa.”</p>
<p>“ Iya, hati-hati appa..”</p>
<p>Suara derap langkah kaki Tuan Kim pun terdengar menjauh meninggalkan pintu kamar So Eun.</p>
<p>“ Yes, kemungkinan besar rencana kita teh bakalan berhasil!!” kata Sooyoung senang.</p>
<p>“ Makasih ya teh. Ide teteh keren banget!” kata So Eun.</p>
<p>“ Iya sama-sama^^”</p>
<p>“ Dan anak ini dijamin gak akan mengganggu.” Yoona melirik Minwoo yang masih berusaha mengunyah roti gandum yang ia sumpal kemulutnya itu.</p>
<p>Minwoo terus menggerutu, dalam hati terus mengumpat dan berjanji akan balas dendam suatu saat nanti.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“ Haaaah.. menyebalkan sekali. Kenapa coba saya musti lembur ngitungin gini doang! Saya juga kan mau shopping, mau nyalon, mau jalan-jalan..” Sekyung terus mengomel sendiri sambil mengerjakan hitungannya.</p>
<p>“&#8230;liat aja, secepatnya saya akan bikin Mas Jonghyun cerai dengan si Key itu! Karena kalo mereka udah cerai, pasti Mas Jonghyun cuma sayang sama saya. Saya gak akan disuruh kerja begini lagi. Hahahaha!” lagi-lagi ia bicara sendiri.</p>
<p>“ Jahat amat sih jadi orang.”gerutu Jinki setengah berbisik.</p>
<p>Ia pun langsung keluar dari persembunyiannya, dengan tetap siaga ia mendekati sebuah pot yang terletak didepan pintu kamar mandi kemudian menaruh guling putih yang ia dapat dari Yesung yang pasalnya adalah guling milik Minwoo yang pernah digunakan untuk mengerjai Yesung, tapi untungnya nggak mempan karena ternyata Yesung gak takut dengan gulingnya *Yesung cuma takut sama author, nyahahaha <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  #plak!ampun-_-*</p>
<p>Tiba-tiba..</p>
<p>BLAM!</p>
<p>Lampu ruangan mati seketika.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“ Pasti si Gikwang nih. Haduh.. kenapa gak ngasih tau sih, kaget juga gue.”desis Jinki, ia langsung mengeluarkan ponselnya dan mencari-cari ringtone yang ia baru terima via bluetooth dari bang Kyuhyun.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“ Hah!! Apa pula ini! Belum setengah selesai udah mati listrik aja! Dasar bodoh.” Sekyung yang terkejut langsung berdiri dan berjalan pelan mencari lilin.</p>
<p>Namun,</p>
<p>TRING (?), lampu menyala lagi.</p>
<p>“&#8230;ck.” Sekyung pun kembali ke meja kerjanya.</p>
<p>BLAM! Lampu mati kembali.</p>
<p>“&#8230;ih! apa-apaan ini!!” omel Sekyung, ia pun kembali berbalik untuk mencari lilin.</p>
<p>Akan tetapi lampu menyala lagi, tak lama mati lagi, dan terus-terusan seperti itu.</p>
<p>“&#8230;dasar gila! Bodoh!! Sialaaaan!!” omel Sekyung tak karuan, ia pun menuju pintu, hendak keluar.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“ Aduh, gulingnya gak kliatan dong. Ck, gimana nih. Aha!” Jinki mengambil guling putihnya kemudian dengan hati-hati ia lemparkan kearah pintu.</p>
<p>Tepat!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“ AAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!” Sekyung berteriak ketakutan ketika melihat guling putih mengerikan yang tiba-tiba ada didepan matanya, ia langsung mundur dan menutup matanya bahkan saking paniknya ia melempar high heelsnya kearah guling tersebut *gak ngaruh juga toh cuma guling mbak -_-*.</p>
<p>Jinki mencoba menahan tawanya, ia langsung menyalakan ringtone yang ia dapat dari bang Kyuhyun dengan volume full. Ternyata ringtone tersebut adalah ringtone suara author lagi ketawa. *KUNTILANAK WOY BUKAN AUTHOR!! #ganyante #inisiapayangnulis-_-*</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“ HiHiHiHiHiHi&#8230;”</p>
<p>“ Aaaaaaa!! Siapa itu!! Siapaaaa!! Aaaaaaaaaaa!!!!” Sekyung menutup telinga dan matanya. Lampu ruang kerjanya masih terus menyala-mati, guling putih itu, dan suara itu membuatnya stres mendadak hingga terduduk dilantai ruangan sambil terus berteriak tak karuan.</p>
<p>Merasa puas, Jinki langsung melompat ke jendela dan kabur sembari berucap,</p>
<p>“ Alhamdulillah ya, sesuatu^^”</p>
<p>&#8212;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“ Mana Yesung?” Tuan Kim yang tiba duluan di cafe tidak melihat putranya berada di meja nomor 16, ia pun memutuskan menunggu sambil menatap bintang dilangit, karena kebetulan cafe tersebut outdoor. *ecie Tuan Kim.. #cubitcubitTuanKim #plak!!*</p>
<p>Yesung yang bersembunyi di tempat lain tersenyum ketika melihat Nyonya Key tak lama memasuki cafe dan nampaknya celingukan mencari So Eun.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“ Loh, So Eun mana ya?” Nyonya Key yang tiba di meja nomor 16 heran karena So Eun tidak ada disana.</p>
<p>Tuan Kim yang sedang menatap bintang langsung berbalik dan terkejut melihat istrinya datang. Begitu pula sebaliknya, Nyonya Key pun terkejut melihat ada Tuan Kim didepannya.</p>
<p>Saat masih dilanda rasa bingung, ponsel Tuan Kim bergetar, Yesung mengiriminya sms.</p>
<p><em>“ Maaf ya Appa. Yesung dan So Eun yang ngatur semua ini. Makan aja sama umma, kita udah bayar semuanya^^. Have a nice dinner <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> ”</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“ Aihh.. Yesung.” Tuan Kim langsung <strong>salah tingkah.</strong></p>
<p>“ Kenapa?” tanya Nyonya Key canggung.</p>
<p>Tuan Kim menunjukkan pesan dari Yesung, dan berhasil membuat Nyonya Key ikutan salah tingkah.</p>
<p>“ Dasar anak-anak itu.. pake ngatur kencan buta segala.”kata Nyonya Key pura-pura kesel, padahal dalam hatinya senang bukan main.</p>
<p>“ Y.. ya.. yaudah, ayo duduk. Ntar makanannya dingin.” Tuan Kim pun menarik kursi untuk Nyonya Key duduk.</p>
<p>Ditemani sinar lilin dan hiasan bintang dilangit, Tuan Kim pun makan berdua dengan Nyonya Key. Dinner malam itu berhasil membuat mereka berbaikan kembali.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>*JongKey moment^^! Author excited ngetik part ini, hohohoho <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> *</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Sabtu pagi, takol 06.00, rumah keluarga Lee.</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>“ Astaghfirullah.. mana mungkin ada setan di restorannya Tuan Kim.” Ustad Leeteuk masih tidak percaya dengan berita yang disampaikan Bu Taeyeon.</p>
<p>“ Yah, gak tau juga pa. Ibu denger beritanya dari tetangga komplek sebelah. Kemarin mbak Sekyung sampai pingsan, diantar kerumahnya juga pake ambulance. Beberapa jam sempet dilarikan ke rumah sakit karena syok.”</p>
<p>“ Everyday I shock, everynight I shock. hahaha!!” ledek Gikwang setengah berbisik sambil melirik Jinki *Gikwang promosi lagu B2ST #tepuktangan -_-*</p>
<p>“ Lebay banget sih dia, dijailin gitu doang sampe masuk rumkit.” bisik Jinki.</p>
<p>“ Iya, udah gitu cepet nyebar ke tetangga. Haduh..” timpal Gikwang.</p>
<p>“ Kalian kenapa bisik-bisik?” tanya ustad Leeteuk.</p>
<p>“ Eh, enggak kok pa.”</p>
<p>“ Kalian tau soal kejadian yang dialami tante Sekyung?”</p>
<p>Mereka langsung menggeleng cepat-cepat. *anak bandelll.. #jewerJinkiGikwang*</p>
<p>“ Gak mungkin ah ada setan di restoran bakso Tuan Kim. Waktu grand opening dan selametan disana aja kan papa yang pimpin doanya.”kata Bu Taeyeon sambil tetap sibuk dengan pemanggang rotinya.</p>
<p>“ Papa rasa ada tangan-tangan jahil aja yang begitu.”jawab ustad Leeteuk.</p>
<p>Jinki dan Gikwang nyaris tersedak roti dimulut mereka karena ingin tertawa.</p>
<p>“ Taemin mana nak?” tanya bu Taeyeon yang masih sibuk menyiapkan sarapan.</p>
<p>“ Belum keluar, ma..”</p>
<p>“ Panggil. Suruh sarapan.”</p>
<p>Gikwang yang mulai tau problem adiknya itu langsung bangkit dan berjalan menuju pintu kamar adiknya itu.</p>
<p>Klek..</p>
<p>Ia membuka pintu kamar Taemin, dan apa yang ia temukan?</p>
<p>Anak itu masih tiarap diatas tempat tidur, kamarnya berantakan tak karuan.</p>
<p>Cowok itu mengurungkan niatnya sejenak untuk membangunkan adiknya itu, ia mulai menggeledah isi kamar Taemin.</p>
<p>Ternyata ia menemukan banyak bungkus rokok dibawah tempat tidurnya, ia juga menemukan beberapa lembar foto seorang gadis yang disebut-sebut sebagai Suzy di laci meja belajar Taemin.</p>
<p>“ Heh Min, bangun!!” Gikwang mencipratkan air beberapa kali kearah Taemin.</p>
<p>“ Apaan sih! Ganggu aja lo.”</p>
<p>“ Mandi sana! Mumpung libur, lo kudu ceritain tentang si Suzy itu sama gue!”</p>
<p>“ Ck, ogah.”</p>
<p>“ Heh! Mau gue bilangin ini semua ke appa dan umma??”</p>
<p>“ Ck! Iya iya deh.” Taemin pun bangkit kemudian mengambil handuk dan berjalan lunglai kekamar mandi.</p>
<p>“ Dasar ngerepotin.”gerutu Gikwang, ia langsung berjongkok kemudian mengumpulkan kotak-kotak rokok yang berada dibawah tempat tidur adiknya itu untuk dibuang sebelum ketahuan orangtuanya.</p>
<p>*kakak yang baik^^ #ciumGikwang #plaaaaaaak!!!!!nyosor&#8211;‘*</p>
<p>&#8212;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><em>Lee Donghae si ikanpalinggantengsejagadraya</em></strong><em> Yang kemaren pas MOS udah milih ekskul dance, skrg jg k sekolah isi absen. Gak pake lama.</em></p>
<p><strong><em>Im Yoona pngen ngebakarKyuNet </em></strong><em>Siapa nih?</em></p>
<p><strong><em>Lee Donghae si ikanpalinggantengsejagadraya</em></strong><em> Gw Donghae. Gk liat nama fb gue apa -_-</em></p>
<p><strong><em>Im Yoona pngen ngebakarKyuNet</em></strong><em> Lo tau fb gw drmn???? o.O</em></p>
<p><strong><em>Lee Donghae si ikanpalinggantengsejagadraya</em></strong><em> Ada dh. Udh cptan ke skolah. Apa prlu gw jmput?</em></p>
<p><strong><em>Im Yoona pngen ngebakarKyuNet</em></strong><em> “Emg lo tw rumah gw?</em></p>
<p><strong><em>Lee Donghae si ikanpalinggantengsejagadraya</em></strong><em> Tau lah. Apa sih yg gw gk tau ttg elo. Lagian kt kn kmrn pulang bareng, masa lo ngga ingt, dasar bego.</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“ Cowok gila!” dengus Yoona sambil menghempaskan ponselnya ke tempat tidur, namun ia ambil kembali karena ia lupa logout dari akun facebooknya.</p>
<p><em> </em></p>
<p><em>“ Gw jmput??” </em>ternyata<em> </em>Donghae mengiriminya inbox lagi.</p>
<p><em>“ Ga usah. Gw sm Gikwang aja dianter.”</em></p>
<p><em>“ Tapi.. gw udh didepan rumah lo.”</em></p>
<p><em>“ HA!?”</em></p>
<p><em>“ Udh jgn kaget. Cpt mandi sana, gw tau lo baru bangun tidur.”</em></p>
<p><em>“ Tau darimana lo??”</em></p>
<p><em>“ Ada deh. lo jg blm beresin tmpat tidur kn?”</em></p>
<p><em>“ Astajim. Lo tau dr mn??”</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>“ DARI SINI!” Donghae tiba-tiba muncul dikaca jendela kamar Yoona dengan tampang watadosnya.</p>
<p>“ Kyaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!!!!!” Yoona berteriak keras, berhasil membuat Donghae tertawa terbahak-bahak.</p>
<p>“ Hahaha!! Gitu doang kaget!”</p>
<p>“ Lo! Ngapain disini hah!?”</p>
<p>“ Jemput elo lah. Lo kan ratu telat.”</p>
<p>“ Gue kan gak minta!”</p>
<p>“ Gue inisiatif!”</p>
<p>“ Ck, pegi aja deh lo! Sono sono!”</p>
<p>“ Gak sopan amat sih. Gue udah salim ke nyokap lo tadi. Mending lo cepetan siap-siap, kita berangkat bareng.”</p>
<p>“ Eh, emang gue percaya gitu sama sms lo? Gue tau hari sabtu ini MOS libur. Lo mau nipu gue kan?? haha.. sebego-begonya gue gak akan bisa lo tipu.”</p>
<p>“ Yee, ini perintah kak Hyukjae dengan kak Hyoyeon, kakak di ekskul dance kita. Mereka ngasih tau gue.”</p>
<p>“ Beneran?”</p>
<p>“ Iye! Ngisi absen doang.”</p>
<p>“ Yaudah. Gue mau mandi dulu, sana lo!”</p>
<p>“ Gak boleh ngintip?”</p>
<p>“ Sialan!” Yoona memukul kaca jendelanya sampai Donghae lari.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Setelah selesai bersiap-siap, Yoona keluar rumah dengan malas karena Donghae masih duduk diterasnya.</p>
<p>“ Ayo.”ajaknya dengan ramah, sepertinya ada indikasi terselubung (?).</p>
<p>Yoona hanya tersenyum kecut, ia tetap waspada karena ia tahu pasti cowok ini punya maksud tertentu.</p>
<p>Merekapun berangkat dengan sepeda dan beriringan.</p>
<p>“ Heh, mau lewat mana?” tanya Yoona yang melihat Donghae ingin belok.</p>
<p>“ Lewat komplek sebelah.”jawab cowok itu enteng.</p>
<p>“ Aish!! Lo gila ya!? Disitu ada rumah pacar gue, kalo dia ngeliat gue gimana??”</p>
<p>“ Gak mau tau~” Donghae sudah berbelok dan Yoona terpaksa mengikutinya dan berharap semoga Gikwang tak ada didepan rumah ketika ia melintasi rumah keluarga Lee.</p>
<p>Namun sayang sekali harapannya nggak dikabulin author :p</p>
<p>Ketika memasuki komplek sebelah, terlihat Gikwang baru saja keluar rumah dan nampaknya hendak membuang sampah.</p>
<p>“ Plis jangan liat gue jangan liat gue jangan liat gue jangaaaaannn..” Yoona terus menunduk ketika sepedanya mulai mendekati depan rumah keluarga Lee.</p>
<p>“ Yoona!! Cepetan dong! Ntar gue tinggalin nih!” sepertinya Donghae memang sengaja menyebut ‘Yoona’ ketika ia melihat ada Gikwang disana.</p>
<p>“ Kampret tu cowok! Haduuuh..” dengus Yoona kesal, ia pun memperlaju sepedanya sembari melirik kearah Gikwang yang ternyata sudah menangkap sosoknya sejak tadi.</p>
<p>“ Noonaaaaaaaaaaa~!!!!!!!!!!!!!” teriak Gikwang tak tahu malu, dengan geram ia langsung lari ke garasi mengambil sepedanya kemudian bermaksud mengejar noonanya yang bersepeda dengan cowok lain didepan matanya itu.</p>
<p>“ KYAAAA!!!!!! Mampus! Mampus!!” Yoona langsung mengayuh sepedanya secepat mungkin bahkan menyalip Donghae saking takutnya dilabrak oleh Gikwang yang saat itu juga mengejarnya dengan sepeda berkecepatan tinggi.</p>
<p>1..2..3.. *ngitung bareng readers*</p>
<p>BRAKKK!!!!</p>
<p>Karena terlalu ngebut, Yoona terjatuh dan terkapar di trotoar.</p>
<p>*ini jatohnya Yoona yang keberapa kali ya di ff ini -_-*</p>
<p>“ Astajim! Yoong, lo nggak apa-apa??” Donghae tiba duluan di TKP (?) dan langsung menolong Yoona.</p>
<p>“ A..a..aku..aku..” Yoona meringis karena sikutnya terluka.</p>
<p>“ Noona.. sorry.” Gikwang datang dan langsung ikut menolong Yoona.</p>
<p>Gadis itu hanya manyun, matanya berkaca-kaca menahan sakit.</p>
<p>“ Hahaha! Perasaan jatoh mulu ini cewek.”kata Donghae yang tak bisa menahan tawanya mengingat kemarin Yoona juga terjatuh saat lari.</p>
<p>“ Hahahaha! Iya bener!! Hahahaha!!” Gikwang malah ikutan tertawa karena ia juga sering melihat noonanya terjatuh *OSIR part 2 pas dikagetin petasan, OSIR part 3 saat dikejar pas mau tarawih xD #inget-_-*</p>
<p>“ HEH!! KENAPA MALAH NGETAWAIN GUE HAH!!??? AWAS LO BERDUA!!!” Yoona murka dan berusaha berdiri sendiri namun gagal karena ternyata kakinya keseleo.</p>
<p>“ Mau gue gendong?” tanya Donghae yang sepertinya siap menaruh tangannya dibawah lutut Yoona.</p>
<p>Gikwang terkejut, perasaan cemburu membuncah-buncah dalam benaknya. Yoona meliriknya seakan minta persetujuan.</p>
<p>“ Udah lah ya, gue gendong aja.kasian nih. Kita bawa kemana?” Donghae pun langsung menaruh tangannya dibawah lutut Yoona dan mengangkat gadis itu.</p>
<p>Tangan Gikwang sudah mengepal, namun ia berusaha menahan emosinya demi Yoona yang harus segera diobati.</p>
<p>“ Tuh, didepan sana rumah temen aku si Yoseob, bawa aja kesana.”kata Gikwang sambil menunjuk sebuah rumah minimalis berwarna abu-abu yang tak jauh dari TKP (?) tempat mereka berdiri.</p>
<p>Donghae pun berjalan kesana dengan Yoona dalam gendongannya, Gikwang mengikuti dari belakang dengan tatapan geram. Sementara Yoona hanya bisa pasrah jika sesuatu akan terjadi setelah insiden ini.</p>
<p>-</p>
<p>Gikwang  mengobati seluruh bagian tubuh Yoona yang terluka dirumah Yoseob *bahasanya gak enak ya hahaha -_-*, sementara Donghae menunggu diluar.</p>
<p>“ Idih, serem amat ya kak Donghae. Bener-bener brandalan.” Yoseob ketakutan melihat Donghae yang merokok diteras rumahnya.</p>
<p>Gikwang hanya tersenyum dingin, karena hatinya masih dongkol melihat Donghae menggendong Yoona.</p>
<p>“&#8230;kak Yoona apa nggak takut digendong sama dia?”tanya Yoseob.</p>
<p>Yoona menggeleng, “ Nggak kok. Dia baik..”</p>
<p>“ Maksudnya?” sela Gikwang jengkel.</p>
<p>“ Ehm, nggak kok.”</p>
<p>Yoseob melirik temannya kemudian menepuk bahu Gikwang pelan.</p>
<p>“ Sabar bro.. lain kali jangan bikin noona lo panik dong, jadi gini kan.”bisiknya.</p>
<p>Gikwang hanya mengangguk lemah. Selesai mengobati luka Yoona, ia langsung pulang karena disuruh beli galon oleh orangtuanya (?). Yoona pun melanjutkan keberangkatannya (?) ke sekolah bersama Donghae.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“ Naah.. hari ini maneh temenin majikan kerja ya. Daripada maneh dirumah wae.” Sooyoung berdiri dari jongkoknya (?) dengan tangan kanan menenteng sebuah akuarium kecil berisi seekor iguana yang pernah bikin Kyu.net rusuh.</p>
<p>“ Mau dibawa kemana?” tanya Bang Siwon yang menemukan adiknya bawa-bawa reptil keluar rumah.</p>
<p>“ Nemenin Soo kerja, karunya lamun dirumah wae.”</p>
<p>“ Hah?? Aduh.. jangan, bang Kyuhyun itu takut banget sama iguana.”</p>
<p>“ Halah, manehna mah emang over ekting doang, masa salaki sieun ka iguana. Udah lah, Soo berangkat dulu! Assalamualaikum!” Sooyoung pun memasang sendalnya kemudian menaruh akuarium iguana tersebut dikeranjang sepedanya, lalu ia pun ngacir ke Kyu.net.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“ Lalalala..dudududu..” bang Kyuhyun nampaknya hari itu semangat banget bekerja, pasalnya kemarin ia dilanda rasa bangga karena idenya ngerjain Sekyung dan Minwoo yang dipraktekkan (?) oleh Jinki cs berhasil sempurna, dan karena rasa senangnya yang berlebihan itu ia sekarang mau menyalakan komputer warnetnya yang biasanya dilakukan oleh Sooyoung.</p>
<p>“ Subhanallah.. rajin pisan euy, keajaiban dunia.” Sooyoung yang baru datang berdecak kagum melihat bosnya sibuk nyalain komputer.</p>
<p>“ Iya dong, hehe.. aaaaaaaaaa!!! Apa itu!!!!??? Bawa keluar woy!!!!” bang Kyuhyun terkejut melihat iguana yang ada dalam akuarium di genggaman Sooyoung.</p>
<p>“ Ih! Tenang atuh bang! Udah dikurung kok!”</p>
<p>“ Tetep! Tetep aja gue gak mau liat! Bawa keluar!!”</p>
<p>“ Nteu hayang!”</p>
<p>“ Bring the iguana (?) out!!!!” *loh kok jadi lagu SNSD sih -_- #udahgitutheboysnyadigantiiguana-_-*</p>
<p>“ Ngga mau ngga mau ngga maooooooo..!”</p>
<p>“ Bawa keluar ngga! Atau lo dipecat!?”</p>
<p>“ Hoo.. jadi ceritana teh ngancem? Sok weh pecat, abang oge yang rugi ngke warnetna sepi lamun nteu aya penjaga nu geulis siga abdi.. hahahaha!!!” Sooyoung ketawa evil.</p>
<p>Bang Kyuhyun mendengus kesal. Emang bener sih, rugi juga mecat pegawai seperti Sooyoung, yang emang selalu bikin Kyu.net rame karena kecantikannya yang bikin orang betah main sampe berjam-jam.</p>
<p>“ Pokoknya bawa keluaaarrrr!!!!” bang Kyuhyun tetep ngotot.</p>
<p>“ Gak mau! Ih.. ntong maksa kitu atuh!”</p>
<p>“ Gue gak mau tau, bawa keluar ngga!!??” Bang Kyuhyun mulai merebut paksa akuarium ditangan Sooyoung.</p>
<p>“ Heh! Ntong kitu atuh!! Heeeeh!!” Sooyoung menarik lagi akuariumnya hingga mereka rebutan hebat dan berhasil bikin si iguana yang ada didalam akuarium pusing tujuh keliling karena diombang-ambing.</p>
<p>Tak lama..</p>
<p>PRANG!!</p>
<p>Akuarium tersebut terlempar dan mengenai salah satu komputer warnet yang sudah menyala, sayang bukan kena monitornya, tapi kena CPUnya dan berhasil bikin komputer konslet dan&#8230; mengeluarkan api !</p>
<p>“ Kyaaa!! Api bang! Api!!” teriak Sooyoung panik karena api mulai membesar dan menjalar.</p>
<p>“ Aaaa!!!! Gimana ini!!!” Bang Kyuhyun depresi mendadak, ia langsung ngacir ke belakang hendak mengambil air disumur, tetapi ternyata sumurnya kering kerontang(?)</p>
<p>“ Bang!! Apinya makin gede bang!” Sooyoung malah menambah kepanikan, namun ia sigap mengambili barang-barang yang berharga untuk diselamatkan, termasuk beberapa perangkat komputer.</p>
<p>“ Aduh.. gue mesti lari kemana nih??” Bang Kyuhyun semakin ketakutan.</p>
<p>“ Ke rumah tetangga-tetangga bang! Burukeun!”</p>
<p>“ Kamu gimana??? Abang takut kamu sendirian nanti kejebak di api.!”</p>
<p>“ Udah gak usah mikirkeun abdi, abdi hayang nyelametkeun barang-barangna tah sebelum api makin gede deui! Geus weh cepetan kerumah tetanggaaaa!!!!” Sooyoung sedikit mendorong Bang Kyuhyun lalu ia melanjutkan kerja cepatnya mengambil barang-barang berharga diwarnet sebelum kebakaran semakin besar.</p>
<p>Bang Kyuhyun pun langsung lari tunggang langgang menuju rumah tetangga, semua rumah ia gedor cepat-cepat sambil berteriak meminta air.</p>
<p>Tetangga pun pada keluar dari rumah mereka dan bertanya-tanya.</p>
<p>“ WARNET SAYA KEBAKARAN!! TOLONGIN PAK, BU! MINTA AIR!! CEPETAN BU ADA PEREMPUAN DIDALAM SANAAAA~!!” kata bang Kyuhyun melas dan serasa hendak menangis. Entah mengapa ia sekarang lebih khawatir dengan nasib Sooyoung didalam sana dibandingkan warnetnya yang terbakar.</p>
<p>“ Hah?? Kebakaran????? Astaghfirullah!!” semua tetangga langsung ikut panik, mereka langsung cepat-cepat mengambil ember dan air kemudian mengikuti bang Kyuhyun menuju Kyu.net sambil berteriak kebakaran, agar tetangga yang lain yang belum keluar rumah ikut keluar. Bahkan ada yang lari memasuki komplek untuk minta pertolongan.</p>
<p>Sekembalinya didepan Kyu.net, ternyata warnet tersebut sudah benar-benar terbakar, namun dibawah pohon yang tak jauh dari situ terdapat banyak monitor, CPU, speaker, bahkan lembaran uang dan beberapa barang lainnya yang berhasil diselamatkan oleh Sooyoung.</p>
<p>Semua tetangga langsung berusaha memadamkan api dengan air yang mereka bawa. Sementara Bang Kyuhyun celingukan mencari Sooyoung yang ternyata masih didalam. Ia benar-benar khawatir dan tahu pasti Sooyoung terjebak dan tak bisa keluar karena api sudah benar-benar membesar.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ustad Leeteuk menengok kamar anaknya satu per satu.</p>
<p>“ Jinki, Gikwang, Taemin, tiga-tiganya lagi disuruh umma beli galon rupanya. Haa, aman.” Ustad Leeteuk tersenyum kecil, kemudian ia berjalan menuju dapur menemui Bu Taeyeon yang sedang masak. *cie.. jarang-jarang nih author nulis part TaeTeuk, kekeke~*</p>
<p>“&#8230;bu.”</p>
<p>“ Eh! Iya, ada apa pa?” tanya Bu Taeyeon.</p>
<p>“ Ehm.. anu, appa mau bilang sesuatu.”</p>
<p>“ Bilang apa?”</p>
<p>“ A.. aduh.. tapi janji jangan marah ya.”</p>
<p>“ Loh, gimana sih? Umma kan belum denger, gimana mau tau akan marah atau tidak..”</p>
<p>“ Duh, gimana ya..”</p>
<p>“ Udah, bilang ajaa..”</p>
<p>“ Gini.. apakah, umma keberatan kalau kita nambah anak&#8230;&#8230;&#8230;..”</p>
<p>Belum selesai ustad Leeteuk bicara, mata bu Taeyeon sudah memicing kearahnya.</p>
<p>“&#8230;t..tuh kan, pasti marah.” ustad Leeteuk ciut untuk mengutarakan isi hatinya (?)</p>
<p>“ Lanjutin.”jawab bu Taeyeon dengan wajah datar.</p>
<p>“ Tapi umma jangan gitu dong mukanya..”</p>
<p>“ Trus umma musti gimana?? Udah lanjutin.”</p>
<p>“ A.. anu ma, sejak Taemin jadi anak laki-laki yang bener, appa ngerasa kayaknya keluarga kita emang butuh anak perempuan. Iya kan? hehe..”</p>
<p>Bu Taeyeon menatap suaminya dengan tatapan lain.</p>
<p>“ Appa denger doa umma pas sholat kemarin ya? Kok appa tau kalo umma juga pengen anak perempuan?” kata bu Taeyeon sambil sedikit tersipu.</p>
<p>“ Hah? Eh, enggak loh. Bener. J.. jadi umma juga punya keinginan yang sama?”</p>
<p>Bu Taeyeon mengangguk malu, “ Kerasa banget sama umma, sejak Taemin jadi anak cowok sejati, dia kan gak bantu umma ngerjain pekerjaan rumah lagi. Umma keteteran kerja sendiri.”</p>
<p>“ Jadi, kita beneran udah mutusin punya anak perempuan kan?”</p>
<p>Bu Taeyeon hanya tersenyum kecil, malu.</p>
<p>“&#8230;kalau emang rezeki, pasti dapet kok. Kita usaha dulu.”kata ustad Leeteuk yang membuat bu Taeyeon gemes dan mencubitnya.</p>
<p>Ketika pasangan ustad tersebut sedang saling malu (?), tiba-tiba datanglah seorang tetangga dengan nafas ngos-ngosan dan agak panik berteriak didepan rumah.</p>
<p>“ PAK USTAD! BU USTAD! WARNET SI BANG KYU KEBAKARAN! TOLONGIIIIIIIIN !!” teriaknya.</p>
<p>“ MasyAllah!” ustad Leeteuk dan bu Taeyeon terkejut mendengarnya, mereka langsung mematikan kompor dan bersiap ke Kyu.net untuk ikut menolong.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sesampainya disana, ternyata sudah banyak orang, bahkan mobil Tuan Kim pun ada disana, Yesung ikut memadamkan api dengan ember yang mereka bawa, Tuan Kim dan Nyonya Key sibuk menelpon pemadam kebakaran, So Eun malah menangis karena teteh Sooyoung ada didalam, ia terlihat sibuk menelpon Yoona. Sementara Jinki, Gikwang, dan Taemin yang ternyata ada sudah disana sedang sibuk memadamkan api dengan galon yang mereka beli *galon buat dirumah akhirnya dipake madamin api, good job Lee siblings! #authorterharu #plak!*</p>
<p>“ MasyaAllah, kenapa bisa begini?” ustad Leeteuk dan bu Taeyeon terkejut melihat Kyu.net dilalap si jago merah *cie author pake peribahasa #plak!*</p>
<p>Bang Kyuhyun hanya diam dan menatap warnetnya pilu, ia masih takut masuk kesana namun ia benar-benar mengkhawatirkan nasib Sooyoung.</p>
<p>“ Sooyoung masih didalam sana????” bang Siwon yang baru datang langsung panik karena adiknya masih didalam sana.</p>
<p>Bang Kyuhyun mengangguk dengan tampang khawatir.</p>
<p>“ Bismillah..” bang Siwon tanpa pikir panjang langsung hendak memasuki Kyu.net, namun Bang Kyuhyun menahannya.</p>
<p>“ Jangan, biar aku saja. Aku yang salah membiarkannya didalam.”</p>
<p>“ Tapi.. apa kau..”</p>
<p>“ Biar aku saja! Bismillah..” Bang Kyuhyun langsung berjalan melewati kobaran api (?) dan mencari Sooyoung kedalam warnet.</p>
<p>“ Bang! Hati-hati!!” semua yang berada diluar berteriak panik dan khawatir.</p>
<p>*Bang Kyuhyun pasti bisa, masa’ evil takut api? Nyahahaha xD #plak!!!authorgila-_-*</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Cho Kyuhyun kehilanganwarnet tapiuntungnyaenggakbangkrut </strong>Hari yang melelahkan. Gak nyangka warnet yang udah saya bangun 3 tahun itu sekarang jadi abu T.T~~~. Untung barang-barang dan uangnya pada selamat. Makasih banyak ya <strong>@Choi Sooyoung si gadisgeulis </strong>udah nyelamatin barang-barang bosmu. Cepet sembuh dan sadar, saya merasa bersalah dan gak rela kehilangan pegawai seperti kamu :’(</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>34 Like      Comments</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Choi Minho khawatirdenganTaeminyangsekarang </strong>Ciee&#8230; bahasanya buat Sooyoung :p .<strong></strong>Udah dibawa kerumah sakit tuh si Sooyoung? Sorry bang gue ngga datang, ada urusan. Tp gw turut prihatin bang. Yang sabar ya :’)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Cho Kyuhyun kehilanganwarnet tapiuntungnyaenggakbangkrut </strong>Iye. Sooyoung lagi di UGD, dia sesek nafas. Khawatir gw. Iya gpp, tp kalo bsa jengukin Sooyoung yah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Choi Minho khawatirdenganTaeminyangsekarang </strong>Sip bang, ini mau on the way ke RS</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Yesung anakpalingbaikdikeluargaKim </strong>Sooyoung belom sadar? MasyaAllah.. mudah2an gk knp2. Lo sendiri gk knapa2 kan bang?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Cho Kyuhyun kehilanganwarnet tapiuntungnyaenggakbangkrut </strong>ngga gw mah gpp, cuma baju gue kebakar dikit. Sooyoung kyknya agk parah, jd takut ni. Lo dmn?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Yesung anakpalingbaikdikeluargaKim </strong>ini lagi OTW bareng Minho. Tunggu ya bang.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Lee Gikwang gantinamafbdemiYoonanoonatercinta </strong>ABANG KYUUUU~~~~ T.T, turut sedih warnetnya kebakaran, gak ada lagi deh tempat main aku yang dulu :’((</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Cho Kyuhyun kehilanganwarnet tapiuntungnyaenggakbangkrut </strong>Iya. Tengkyu ya Kwang. Doain abang moga2 bisa bangun warnet lg..</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Lee Gikwang gantinamafbdemiYoonanoonatercinta </strong>Iya bang. Trus jg mudah2an teteh Sooyoung cepet sadar.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Im Yoona pngen ngebakar KyuNet </strong>ABAAAAAAAAAAANNNNNGGG!!!!! Maafin Yoong, Yoong kagak datang pas kebakaran T.T~, Yoong ada ekskul. Tadi juga aku kecelakaan -_- . maaf banget bang, sekalipun Yoong pake nama fb begini, tapi Yoong sedih banget Kyu.net kebakaran. Maafin bang.. maafin T.T~ #gantinamafb</p>
<p>Trus..trus jg, TETEH SOOYOUNG !! hiks.. gmn?? Apa msh blm sadar?? Aku mau jenguk nih tp Gikwang gk ada motor T.T~ #nangis</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Cho Kyuhyun kehilanganwarnet tapiuntungnyaenggakbangkrut</strong><strong> </strong>Iye gak apa2^^</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Saat tengah mengomentari statusnya, dokter pun keluar dari ruangannya, nampaknya sudah selesai menangani Sooyoung.</p>
<p>“ Bagaimana keadaan dia dok?” tanya Bang Kyuhyun langsung.</p>
<p>“ Dia..sudah sadar.”</p>
<p>“ Alhamdulillah..”</p>
<p>“ Tapi, dia mengigau.”</p>
<p>“ Mengigau apa pak? Dia manggil nama saya?” *pede ama bang -_-*</p>
<p>“ A.. tidak. Dia bilang dimana iguanaku.. gitu katanya.”</p>
<p>“ -___-“</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“ Nah, parsel buahnya udah siap. Ayo berangkat.” Bu Taeyeon bersiap menjenguk Sooyoung bersama ustad Leeteuk.</p>
<p>“ Ayo. Eh, anak-anak ikut?”</p>
<p>“ Iya!!!” jawab Jinki yang langsung keluar dari kamarnya disusul Gikwang dan Taemin.</p>
<p>“ Ya sudah ayo cepat..”</p>
<p>Keluarga Lee pun keluar dari rumah mereka untuk pergi menjenguk Sooyoung dirumah sakit.</p>
<p>Namun ketika mereka baru saja hendak pergi, mereka kedatangan tamu sepasang suami istri yang tidak asing lagi bagi mereka.</p>
<p>Pak Nickhun dan Bu Victoria. Mereka adalah pemilik rumah kontrakan yang ditinggali oleh Keluarga Lee dulu!</p>
<p>“ Assalamualaikum. Maaf, apa kalian hendak pergi?” tanya mereka.</p>
<p>“ Waalaikum salam. Iya, mau jenguk kerabat kerumah sakit, tapi jika ada keperluan kita bisa duduk dulu.” Kata ustad Leeteuk dan Bu Taeyeon.</p>
<p>Keluarga Lee pun menunda keberangkatan mereka sejenak karena nampaknya Pak Nickhun dan Bu Victoria benar-benar ada kepentingan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“ Langsung saja ya. Jadi begini, saya dan istri saya mendapat kontrak pekerjaan di Australia selama satu tahun, kami senang sekali mendapat kontrak kerja disana karena gajinya cukup besar. Namun, ada satu hal yang kami pikirkan. Kami punya satu anak yang tak bisa kami bawa kesana karena anak kami sudah betah disekolahnya yang sekarang. Ia tidak mau ikut kami..” jelas Pak Nickhun.</p>
<p>“ Maka itu, jika tidak keberatan kami ingin menitipkan dia disini.. kami ingin dia tinggal disini karena mungkin dengan dia ada disini, dia bisa semakin rajin beribadah dan belajar.. jika kami titipkan ke saudara, mungkin dia tidak bisa seperti itu.”lanjut Bu Victoria.</p>
<p>Seluruh anggota keluarga Lee menganga lebar *aaa lucu xD #PLAK!*</p>
<p>“ Anak kami perempuan. Dia masih kelas satu SMP. Meskipun belum begitu dewasa ia sudah mandiri. Dia bisa mencuci pakaian dengan tangan, kalau nyapu juga bersih. Selain itu banyak pekerjaan rumah yang bisa ia lakukan. Kami jamin dia tak akan terlalu merepotkan.”kata Pak Nickhun.</p>
<p>“ Kami juga akan memberikan sejumlah uang kepada kalian untuk biaya hidup anak kami selama setahun. Bagaimana?” bu Victoria meminta keputusan.</p>
<p>“ Perempuan?? Bisa kerja??” ustad Leeteuk dan bu Taeyeon seakan bermimpi, mereka saling bertatapan seolah berkata, “ Tuhan menjawab doa kita <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> ”</p>
<p>“ Ya, jadi bagaimana?” tanya Pak Nickhun dan bu Victoria lagi, mereka juga menatap ketiga anak ustad Leeteuk yang nampaknya anteng-anteng aja jika kedatangan anak cewek dirumah mereka.</p>
<p>“ Baiklah, kami setuju. Tentu kami bersedia membantu..” jawab ustad Leeteuk mantap, Bu Taeyeon mengangguk diikuti anak-anaknya.</p>
<p>“ Alhamdulillah.. terimakasih banyak. Kalian baik sekali.” Pak Nickhun dan bu Victoria tersenyum lega.</p>
<p>“ Besok pagi kami akan mengantar anak kami kesini. Sebelum kemari, kami sudah bilang padanya untuk menitipkannya dirumah kalian, dan ia setuju.”kata Bu Victoria.</p>
<p>“ Oh ya, satu lagi. Kami juga ingin menitipkan ini kepada bapak Leeteuk.” Pak Nickhun menaruh sebuah map berisi beberapa lembar kertas diatas meja.</p>
<p>“ Apa ini?” tanya ustad Leeteuk bingung.</p>
<p>“ Itu adalah sertifikat rumah yang pernah kalian kontrak dari kami. Hanya untuk antisipasi, jika kami meninggal dunia disana, berarti rumah itu kami wasiatkan untuk anak kami.”jawab Bu Victoria.</p>
<p>“ Serem amat.”bisik Jinki, Gikwang dan Taemin mengangguk.</p>
<p>“ Ya sudah, kami rasa itu saja. Kita akan bertemu lagi besok dan membicarakan hal ini. Malam ini jenguk kerabatnya saja dulu.”kata Pak Nickhun.</p>
<p>Ustad Leeteuk dan Bu Taeyeon mengangguk diikuti anak-anaknya, mereka semuapun berdiri dan berjalan menuju pintu.</p>
<p>Ketika Pak Nickhun dan Bu Victoria sudah berpamitan dan hendak masuk mobil, Jinki memanggil mereka.</p>
<p>“ Maaf Om, Tante.. nama anaknya siapa?” tanya Jinki.</p>
<p>“ Oh ya, kami lupa memberitahu. Namanya Bae Suzy, panggilannya Suzy.”jawab Bu Victoria.</p>
<p>“ HA????!” Taemin terkejut setengah mati, Gikwang menatapnya reflek.</p>
<p>“ Kenapa?” tanya Bu Taeyeon heran melihat anaknya megap-megap (?)</p>
<p>“ Gak apa-apa bu. Ah, Taemin ngga enak badan. Taemin gak ikut ke rumkit ya.” Taemin langsung masuk kedalam rumah, dan Gikwang segera berlari menyusulnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>_BERSAMBUNG_</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ffindo.wordpress.com/48756/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ffindo.wordpress.com/48756/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ffindo.wordpress.com/48756/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ffindo.wordpress.com/48756/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ffindo.wordpress.com/48756/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ffindo.wordpress.com/48756/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ffindo.wordpress.com/48756/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ffindo.wordpress.com/48756/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ffindo.wordpress.com/48756/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ffindo.wordpress.com/48756/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ffindo.wordpress.com/48756/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ffindo.wordpress.com/48756/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ffindo.wordpress.com/48756/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ffindo.wordpress.com/48756/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ffindo.wordpress.com&amp;blog=9871143&amp;post=48756&amp;subd=ffindo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ffindo.wordpress.com/2012/01/29/ff_haha-this-is-our-story_part-42/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f61575f646edfce3fa8c9d81acead7cc?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">chiakihan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ffindo.files.wordpress.com/2012/01/ss1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">ss</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Too Young to Love Chapter 2</title>
		<link>http://ffindo.wordpress.com/2012/01/29/too-young-to-love-chapter-2/</link>
		<comments>http://ffindo.wordpress.com/2012/01/29/too-young-to-love-chapter-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Jan 2012 11:22:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>seorimLee</dc:creator>
				<category><![CDATA[seorimlee]]></category>
		<category><![CDATA[Choi Minho]]></category>
		<category><![CDATA[kyuhyun]]></category>
		<category><![CDATA[Minho]]></category>
		<category><![CDATA[SHINEE]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ffindo.wordpress.com/?p=49735</guid>
		<description><![CDATA[Title : Too Young to Love Part 2A Genre : Romance, Friendship, Angst (maybe) Length : Chaptered Rating : T-PG Cast : Choi Minho (SHINee), Shin Injung (OC), Key (SHINee) Other cast : Cho Kyuhyun Before : The worst new &#8230; <a href="http://ffindo.wordpress.com/2012/01/29/too-young-to-love-chapter-2/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ffindo.wordpress.com&amp;blog=9871143&amp;post=49735&amp;subd=ffindo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Title </strong>: Too Young to Love Part 2A</p>
<p><strong>Genre </strong>: Romance, Friendship, Angst (maybe)</p>
<p><strong>Length </strong>: Chaptered</p>
<p><strong>Rating </strong>: T-PG</p>
<p><strong>Cast </strong>: Choi Minho (SHINee), Shin Injung (OC), Key (SHINee)</p>
<p><strong>Other cast </strong>: Cho Kyuhyun</p>
<p><strong>Before</strong> : <a href="http://ffindo.wordpress.com/2012/01/20/too-young-to-love-chapter-one/">The worst new year</a> Bad Boy Good Boy 1</p>
<p><strong>Disclaimer </strong>: 99% fictional. The cast belong to theirsef.</p>
<p><a href="http://ffindo.files.wordpress.com/2012/01/too-youngtolove.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-49739" title="too youngtolove" src="http://ffindo.files.wordpress.com/2012/01/too-youngtolove.jpg?w=300&#038;h=214" alt="" width="300" height="214" /></a></p>
<p align="center"><strong>Bad Boy Good Boy</strong></p>
<p align="center"><span id="more-49735"></span></p>
<p>Aku menukar baju seragam cafe ini dengan baju yang kupakai ketika datang tadi. Jam kecil yang melingkar ditangan kiriku sudah menunjukkan pukul 9 malam. Karna ada acara ulang tahun makanya aku terpaksa lembur hari ini.</p>
<p>Aku berjalan keluar cafe, berniat untuk mencari kendaraan umum di depan sana. Pulang sendirian di jam segini memang pilihan. Bahkan dulu sekalipun Appa tidak pernah mengizinkanku keluar di jam segini.</p>
<p>&#8220;Hey.&#8221; Sapa seseorang. Aku melirik kesamping. Gelap. Seorang yang sedang berdiri didepan bangunan rumah tokoh. Ia melipat kedua tangannya didepan dada dan kaki kiri ditekuk ke dinding. Wajahnya tidak terlalu kelihatan. Paling hanya orang iseng yang suka mengerjai wanita. Untung keadaan disini cukup ramai. Jadi aku tinggal teriak jika ia macam-macam. &#8220;Tidak mendengar yah?&#8221; Lagi-lagi aku memaksakan untuk melihat ke orang itu. Aku menghentikan langkah-ku dan memperhatikan ia lebih seksama. Sialan! Lagi-lagi pria brengsek kurang ajar itu. Aku terlampaui muak untuk melihat wajahnya.</p>
<p>&#8220;Mau apa kau?&#8221; Tanyaku sinis. Dia mendekat kearah-ku lalu menarik tangan kanan ku untuk segera pergi dari tempat ini. &#8220;Yah! Lepaskan.&#8221; Bentakku. Tapi ia sama sekali tidak menghiraukannya. Langkahnya semakin cepat. Pandangan orang pasti kami merupakan sepasang kekasih yang sedang terburu-buru. Jika aku teriak juga pasti percuma. Wajah memang slalu menipu. Kelihatan saja baik-baik, sifat aslinya? Dfghjskjhdh.</p>
<p>&#8220;Berapa bulan kandungan-mu?&#8221; Tanyanya dingin ketika kami sudah berada ditempat yang lebih sepi. Beginikah cara bicaranya dengan seorang wanita? Tidak tahu sopan santun sekali dia. Ngomong-ngomong untuk apa menanyakan ini? Errr dia pasti juga termasuk orang yang akan memaksaku untuk menggugurkan anak ini. &#8220;Yah! Kau tuli ya?&#8221;</p>
<p>Aku berdecak. &#8220;Hampir 2 bulan.&#8221;</p>
<p>Terdengar helaan napas berat darinya. &#8220;Seberapa yakin kau bahwa itu anakku?&#8221;</p>
<p>&#8220;Sebelumnya aku tidak tahu apa-apa. Demi Tuhan, aku hanya melakukannya denganmu!&#8221; Tegasku. Sudah berapa kali ku bilang bahwa aku hanya melakukan itu dengan nya. Tapi sekalipun ia tak pernah menunjukkan raut percayanya. Apakah aku terlihat seperti pembohong?</p>
<p>&#8220;Tidak berpikir untuk menggugurkannya?.&#8221; Tanyanya enteng. Jujur, aku agak sensitif jika mendengar kata &#8216;menggugurkan&#8217;. Kenapa tidak ada yang mau mengerti aku? Cih, mereka hanya bisa berbicara tapi yang merasakan tidak enaknya kelak pasti aku.</p>
<p>&#8220;Mwo? Kau gila!&#8221;</p>
<p>&#8220;Kenapa tidak mau? Atau kau mencoba mengambil kesempatan dalam keadaan ini?&#8221;</p>
<p>&#8220;Maksudmu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku punya segalanya maka dari itu kau menggunakan cara kuno seperti ini untuk menjeratku.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kau pikir aku serendah itu, huh?&#8221; Kalau saja membunuh itu tidak dosa, dari tadi pasti telah kucari pisau untuk menembus hatinya, kalau dia punya hati. Untuk apa dia hidup jika hanya bisa menghina orang saja? Perkataannya keterlaluan.</p>
<p>&#8220;Kita bertemu di pub dan kau menggodaku.&#8221;</p>
<p>&#8220;Waktu itu aku mabuk. Kau tahu sendiri itu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Siapa suruh minum kalau nyatanya tidak bisa minum.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku juga tidak tahu apa-apa.&#8221; Bentakku lagi. Jika berbicara dengannya emosiku pasti menggebu-gebu, sumpah serapah dan kata kotor terus terucap-ucap dibenakku. Sedangkan dia? Kenapa santai sekali? Berbicara seperti tanpa beban dan menganggap remeh semua omonganku. Ini tidak adil.</p>
<p>&#8220;Tak usah sok polos. Tidak ada gadis baik-baik yang membiarkan dirinya mabuk berat sendirian. Dasar jalang.&#8221;</p>
<p>Aku menatap orang yang berdiri disampingku nanar, tidak peduli pandangannya malah melihat kearah lain. Kupercepat langkah-ku mendahuluinya. Kata-katanya barusan benar-benar keterlaluan. Iya aku tahu itu, semua orang menganggapku jalang dan rendahan. Tapi dia ayah dari bayi-ku, dia yang merenggut hidup indahku, dan kenapa dia juga bisa dengan santainya mengatakan aku seperti itu. Gadis mana yang tidak akan sakit hati jika berada di posisiku?</p>
<p>&#8220;Kau mau kemana?&#8221; Teriaknya dari belakang. Aku tidak menghiraukan dan semakin mempercepat langkahku. &#8220;Yasudah kuharap kau bisa selamat sampai ke rumah-mu.&#8221;</p>
<p>Jleb! Aku menyadari satu hal. Dia membawaku ke tempat sepi dan kumuh. Ini pasti banyak penjahatnya. Ku hentikan langkah-ku dan melirik sedikit ke belakang. Dia pergi.meninggalkanku.sendirian.ditempat.seperti.ini. Aku hanya bisa menatap punggungnya yang menjauh kearah berlawanan dengan mulut menganga. Tuhan, apa salahku sampai-sampai harus bertemu dengan manusia setidak berperasaan seperti dia? Apakah dia sengaja ingin membunuhku makanya membawaku ke tempat ini lalu meninggalkanku? Brengsek kau sialaaan!!!!</p>
<p>Aku bingung bukan main. Panggil dan ikuti saja dia atau tetap berjalan melewati tempat ini sendirian? Ahh kenapa harus peduli sama orang yang tidak peduli denganku? Semua akan baik-baik saja. Yah semua akan baik-baik saja!!</p>
<p>Aku kembali berjalan kearah awal tujuanku tadi dengan penuh keraguan. Tambah satu lagi daftar kesalahannya. Jika diingat-ingat dia-lah manusia yang memiliki dosa terbanyak terhadapku.</p>
<p>Kenapa jauh sekali. Lagian ini dimana? Aku baru beberapa bulan tinggal di Seoul dan mustahil jika aku bisa menghapal seluruh jalannya dengan cepat. Aku jadi seperti orang gila yang tidak tentu arah. Lagipula aku sudah lelah berjalan sejauh ini dan sendirian. Bodohnya lagi ini merupakan jalan kecil becek yang sempit. Kemungkinan paling enak aku akan tertidur ditengah jalan. Tuhan kumohon selamatkanlah aku malam ini.</p>
<p>Aku berbalik sekali lagi. Berharap pria itu ada dibelakangku atau ternyata mengikutiku sedari tadi. Ya, semoga saja pria itu memiliki jiwa peduli tapi pura-pura tak mau tahu. Tapi nihil. Tidak ada siapapun dibelakang-ku. Malah terasa hawa horror disekitar sini. Yasudahlah, dia memang pria brengsek yang tidak memikirkan nasib orang lain. Awas saja jika ketemu lagi. Aku yang akan membuat hidupnya tidak baik-baik saja.</p>
<p>&#8220;Hallo cantik.&#8221;</p>
<p>Shit! Inilah yang kubenci. Para lelaki hidung belang yang sebelas dua belas dengan Minho. Ntahlah mereka muncul darimana. Aku bergidik ngeri. Apakah hidupku akan lebih merana lagi? Aku lebih baik dibunuh dari pada meraka tiduri.</p>
<p>&#8220;Yah! Lepaskan aku.&#8221; Bentakku kasar karna salah satu dari mereka sudah berani menyentuhku.</p>
<p>&#8220;Kau sexi cantik.&#8221;</p>
<p>Mereka bertiga, pria, berbadan kekar, sedang mabuk. Sedangkan aku wanita, 18 tahun, sendirian, sedang hamil. Apa yang bisa kulakukan untuk terbebas dari mereka? Kuharap ini hanya mimpi buruk. Aku menyesal kenapa tadi tidak menurunkan harga diri__jika-aku-masih-punya-itu__ ku saja dihadapan Minho daripada harus bernasib seperti ini. Setidaknya membuat diri-ku malu didepan orang yang paling kubenci lebih baik daripada harus di apa-apakan oleh orang mabuk.</p>
<p>Salah satu dari mereka memegang tanganku dan memelintirnya ke belakang. Aku benar-benar ketakutan. Salju sudah mulai turun alhasil membuatku semakin merasa kedinginan dan seluruh tubuhku menjadi kaku.</p>
<p>&#8220;Kau pasti kedinginan? Kami akan menghangatkan-mu, cantik.&#8221;</p>
<p>&#8220;Menjauh dariku, brengsek.&#8221; Suaraku bergetar hebat. Sekali lagi aku hanya bisa menyalahkan Minho. Hhh seandainya menyalahkan orang dapat merubah sesuatu. Tapi tetap saja ini terjadi karna dua hal. Pertama, aku yang terlalu sok lari darinya. Kedua, dasar pria brengsek itu yang benar-benar kejam pada wanita!</p>
<p>Selanjutnya, salah satu dari mereka menarik tas sandangku dan pria yang menahan tangan-ku, dia mulai mengembuskan napasnya di cuping-ku. Aku bergidik. Ini sama menyeramkannya saat aku mengetahui bahwa aku hamil untuk yang pertama kalinya. Waktu itu rasanya dunia lebih baik kiamat. Dan sekarang aku harus merasakan ketakutan seperti itu lagi.</p>
<p>&#8220;Aku sedang hamil! Tolong jangan lakukan itu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Urusan-ku?&#8221; Ucap pria yang satunya. Dia menjambak rambutku lalu bibirnya ia dekatkan ke wajahku. Tidak ada pilihan lain, kakiku yang bebas kutendangkan saja ke bagian vitalnya.</p>
<p>&#8220;Arrrggghh.&#8221; Teriaknya kesakitan. Aku memang bebas tapi disisi lain aku semakin takut. Kupaksakan kakiku yang sudah kaku untuk berjalan mundur kebelakang. Terlihat raut marah dari wajah pria yang satu lagi. Dia menampar-ku kencang sekali. Dapat kurasakan cairan asin itu keluar dari sudut bibirku yang terasa keluh. Bahkan ayahku yang sudah sekecewa itu denganku saja tidak pernah berkelakuan seperti ini. Jadi apa hak bajingan ini menamparku?</p>
<p>&#8220;Kau benar-benar tidak tahu diuntung, bitch&#8221;</p>
<p>Tangannya sudah dilayangkan sekali lagi. Sedangkan pria yang dibelakang-ku sudah meraba-raba bagian tubuhku. Tuhan tolong, bagaimanapun caranya selamatkanlah aku dari mereka. Aku.takut. Ntahlah aku tidak tahu kenapa akhir-akhir ini aku jadi sok berani pada siapapun. Mungkin karna aku terlampau lelah untuk menjadi gadis yang diam saja jika diperlakukan seenaknya.</p>
<p>Aku memejamkan mata-ku. Rasanya pasti akan sakit. Mati itu slalu menyakitkan, bodoh. Tapi tangannya tak kunjung mengenaiku. Penasaran, kubuka perlahan mata-ku.</p>
<p>&#8220;Mau apa kau ikut campur?&#8221; Ucap lelaki itu marah. Minho tersenyum remeh. Setidaknya aku bisa sedikit tenang sekarang. Syukurlah dia masih punya rasa baik walau hanya sedikit. Tapi bagaimana jika pria ini sama sekali tidak bisa menolong?</p>
<p>&#8220;Aku hanya kebetulan lewat.&#8221;</p>
<p>Penjahat-yang-menamparku-tadi tersenyum licik. &#8220;Bagaimana kalau kau ikut menikmatinya saja bersama kami?&#8221; Deg! Aku kembali ketakutan. Bagaimana jika Minho mengatakan iya lalu menyuruh mereka membunuhku? Pria zaman sekarang kebanyakan habis manis sepah dibuang. Aku menatap Minho memohon, berharap dia mau menolongku dari para pria busuk ini.</p>
<p>&#8220;Baiklah&#8230;.&#8221; Jawabnya santai.</p>
<p>&#8220;Minho-ah&#8230;&#8230;.kau..&#8221;</p>
<p>&#8220;Lebih baik diam dulu, nona.&#8221; Pria yang dibelakangku mencium pipi-ku mesum. Tik. Airmataku turun seiring dengan jatuhnya salju. Menangis, menangis, menangis. Hanya inikah yang bisa kulakukan? Minho menatapku dengan pandangan dasar-cengeng-nya.</p>
<p>&#8220;Tapi maaf, aku tidak bisa berbagi dirinya denganmu. Buggh.&#8221; Tanpa kuduga, Minho memukul pria yang dihadapannya. Pria itu tersungkur jatuh ke tanah dan memandang Minho tak terima. Sedangkan pria yang menahanku, secara reflek melepaskan cengkramannya dan siap untuk memukul Minho. Semuanya terjadi begitu cepat seperti halnya detak jantung-ku. Hanya menunggu beberapa menit lalu ketiga pria itu sudah tergeletak di tanah. Dia-menolong-ku? Semoga saja dia tidak seburuk apa yang kupikirkan selama ini.</p>
<p>Tapi kepalaku tiba-tiba terasa berat, ini benar-benar pusing. Perlahan penglihatanku menjadi kabur dan setelahnya aku merasakan kegelapan itu lagi dibalik mataku.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p>&#8220;Dasar keras kepala. Akibatnya kau rasakan sendiri kan.&#8221;</p>
<p>Aku langsung mendapatkan semprotan seperti ini ketika membuka mata. Bukanlah kata &#8216;kau baik-baik saja?&#8217; &#8216;Mana yang sakit?&#8217; Atau &#8216;selamat pagi&#8217; tapi malah sindiran tidak enak seperti ini.</p>
<p>&#8220;Dimana aku?&#8221; Aku tak mau membahas yang tadi. Lagian dimana aku berada sekarang jauh lebih penting. Jarum impus di tangan kiri-ku dengan bau alcohol yang sangat menyengat diruangan ini.</p>
<p>&#8220;Rumah sakit.”</p>
<p>“Yah! Kau mau membuang anakku tanpa seizinku?” Tanyaku histeris. Aku memegang perut-ku, rasanya tetap sama seperti sebelumnya. Tapi kan memang perutku yang belum terlalu membuncit.</p>
<p>“Kau pikir aku sejahat itu?”</p>
<p>“Mungkin saja.” Kilahku. &#8220;Sekarang jam berapa?&#8221; Tanyaku lagi.</p>
<p>&#8220;8 pagi.&#8221;</p>
<p>&#8220;Hah? Aku harus kerja!&#8221; Aku langsung terduduk. Ahh apa-apaan ini, handuk kecil disudut bibirku. Oh dia mengompresku semalam? Sok perhatian sekali.</p>
<p>&#8220;Tidak usah.&#8221; Serunya pelan dengan tiba-tiba. Aku memandangnya bingung.</p>
<p>&#8220;Kenapa?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kau pasti tidak memberitahukan siapa-siapa bahwa kau hamil.&#8221;</p>
<p>&#8220;Jika aku jujur, aku bisa kerja apa?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi mereka pasti akan menyuruh-mu seenaknya. Memangnya kau sanggup?&#8221;</p>
<p>Dia benar juga. Orang-orang ditempatku berkerja sering menyuruh-ku lembur dan mengangkat benda-benda berat. Nasib anak-ku hampir mirip denganku sebenarnya.</p>
<p>&#8220;Aku tidak memiliki pilihan lain tuan Choi.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kalau begitu aku akan memberimu pilihan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Gugurkan anak ini lalu kau akan menanggung hidup-ku? Maaf saja.&#8221; Memang sudah banyak yang menyuruh-ku menggugurkannya. Termasuk appa-ku dan Minyoung. Mereka memang tak ingin hidup-ku hancur. Tapi siapa yang bisa menjamin jika anak ini hilang hidup-ku tak-kan hancur?</p>
<p>&#8220;Kenapa kau bersikeras mempertahankannya?&#8221;</p>
<p>Aku menggeleng lalu tersenyum sinis. &#8220;Karna aku mau bertanggung jawab. Dia tidak berdosa, ini dosaku. Jika disuruh memilih lebih baik aku saja yang mati.&#8221;</p>
<p>Dia terdiam dan terlihat memikirkan sesuatu. Kenapa? Kata-kataku sulit dilawan? Atau begitu mengharukan,kah? Peduli apa!</p>
<p>&#8220;Kenapa tidak sekalian kalian berdua saja yang mati.&#8221;</p>
<p>Aku tercengang mendengar perkataannya. &#8220;Choi Minho! Kau benar-benar kurang ajar&#8221; Aku bangkit dari tempat tidur ini memaksakan jarum impus itu tercopot dari tanganku.</p>
<p>&#8220;Kau akan tetap kembali kepadaku. Lihat saja nanti!&#8221; Ancamnya. Dia berbicara dengan nada yang benar-benar dingin. Berhasil membuat bulu kudukku bergidik. “Yah! Tapi kau harus tunggu dokter dulu.” Sambungnya lagi. Dasar aneh, terlihat perhatian tapi tetap menyuruhku yang tidak-tidak. Sebenarnya apa isi otak pria sinting itu?</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p>Jika berdekatan dengan Minho, emosiku memang slalu ada di tingkat teratas. Anggap saja dia adalah setan yang ditugaskan untuk membuatku marah, kesal dan sebagainya dalam bentuk lebih nyata.</p>
<p>Dan apa ancamannya tadi? Aku akan kembali kepadanya? Hebat sekali dia. Aku tidak membutuhkannya. Aku tidak takut. Kenapa tidak ada lembutnya sedikitpun? Ternyata dia tidak hanya egois dan tidak bertanggung jawab tetapi juga tega dan pemaksa. Coba saja jika aku mati dan gentayangan, orang pertama yang akan kucari dan kuganggu hidupnya adalah si brengsek Choi Minho itu.</p>
<p>Aku menaiki bus kota yang kira-kira menuju flat sederhanaku. Peduli setan aku belum mandi atau apa.</p>
<p>Kuhadapkan wajahku kearah jendela. Aku dapat melihat beberapa murid menggunakan seragam sekolah berkumpul di halte atau sekitar jalanan. Anak zaman sekarang emang tidak tahu diuntung. Diberi kesempatan sekolah malah membolos. Kalau saja mereka bernasib sama sepertiku, pasti akan menyesal sekali. Dan kenapa nasib seperti ini tidak terjadi pada mereka yang benar-benar nakal? Ini yang paling ku sesalkan, aku hanya menjadi korban dari kekejaman dunia remaja.</p>
<p>Ngomong-ngomong tentang sekolah, aku jadi kangen Minyoung, Key dan teman-teman yang lainnya, tidak termasuk clique mantan sekolah itu tentunya. Enak saja kangen dengan mereka.</p>
<p>Kira-kira apa kabar gadis itu? Sedang apa dia sekarang? Sudah dapat teman baru-kah? Bagaimana dengan Key? Semenjak aku kabur ke Seoul, seluruh kontak yang terhubung dengan masa lalu-ku, ku putuskan. Aku hanya lelah mendengar mereka mengejekku, mereka maksudnya terkecuali Minyoung dan mungkin juga Key.</p>
<p>&#8220;Kau tidak sekolah?&#8221; Reflek aku melihat ke samping.</p>
<p>&#8220;Tidak.&#8221; Jawabku canggung sambil tersenyum kaku. Pria disebelahku, aku tidak tahu pasti sejak kapan dia duduk disana. Haha, aku terlalu sibuk memperhatikan keadaan Seoul yang mulai sepi di jam segini. Akan semakin sepi kalau saja anak sekolah itu duduk manis dibangku kelasnya.</p>
<p>&#8220;Berapa umurmu?&#8221; Tanyanya lagi. Banyak tanya. Dari dulu aku tidak suka di tanya-tanya oleh orang asing. Bukan karna aku sombong, aku hanya malas terlihat bodoh didepan orang asing karna kegugupan-ku.</p>
<p>Aku sedikit berpikir. Haruskah aku jujur? &#8220;21 tahun.&#8221; Bohongku. Jujur itu memang wajib tapi aku pasti akan ditanya-tanya lebih banyak jika aku menjawab berapa umurku yang sebenarnya.</p>
<p>&#8220;Aku kira kau masih 17-an.&#8221; Ucapnya lagi. Errr yah kenapa tebakkan nya tepat? Apakah wajahku pas sekali sehingga pria ini bisa menebak berapa umur-ku dengan jelas? Jika di pandang, pria ini lumayan juga. Setidaknya dia pasti memiliki kelakuan yang lebih baik daripada Minho.</p>
<p>Aku hanya nyengir merespon pujian__karna-dia-pasti-menyimpulkan-wajahku-baby-face__atau apalah itu darinya. &#8220;Kalau begitu kenapa tidak ke kampus?&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku tidak kuliah. Biayanya terlalu mahal. Aku bukan orang kaya!&#8221; Ucapku dengan raut sedih. Boro-boro kuliah, sekolah menengah saja aku tidak mungkin lagi.</p>
<p>Dia mengangguk-anggukkan kepala mengerti. &#8220;Namaku Cho Kyuhyun, 23 tahun jadi kau bisa memanggilku oppa.&#8221;</p>
<p>Hah? Percaya diri sekali dia. Siapa juga yang mau memanggilnya oppa atau mengenalnya lebih jauh. Lagian dia lebih cocok dipanggil ajusshi daripada oppa -___-. sSekalian saja dia sebutkan dimana tempat tinggalnya, universitas mana, jurusan apa ataupun nomor hpnya.</p>
<p>&#8220;Kau ingin tahu berapa nomor hp-ku dan segala macamnya?&#8221;</p>
<p>Ya Tuhan, Kyuhyun oppa, err terdengan agak lucu memang atau siapalah namanya, kenapa bisa menebak pikiran-ku kelewat tepat? Jangan bilang dia adalah titisan Edward Cullen atau sejenisnya. Ku tatap dia dalam-dalam dan lebih dekat lagi. Dia berhasil membuatku penasaran!</p>
<p>&#8220;Jangan berpikir bahwa aku vampire!&#8221;</p>
<p>Nah kan! Lagi-lagi dia bisa menebak isi pikiranku. &#8220;Kau bisa membaca isi pikiran orang?&#8221; Tanyaku tanpa basa-basi lagi. Terlihat bodoh memang.</p>
<p>Dia tertawa terbahak. Apanya yang lucu? &#8220;Jadi yang kusebutkan dari tadi semuanya benar?&#8221;</p>
<p>AKu hanya mengangguk pasrah walau sebenarnya aku sangat tidak mau mengakuinya. &#8220;Termasuk soal umur-mu?&#8221;</p>
<p>Untuk yang kesekian kalinya aku merasa jantungku berdetak melewati normal. Lagi-lagi aku hanya mengangguk polos.</p>
<p>&#8220;Sudah bisa ku tebak.&#8221;</p>
<p>&#8220;Sebenarnya kau ini siapa?&#8221; Tanyaku frustasi.</p>
<p>&#8220;Aku Cho Kyuhyun.&#8221;</p>
<p>&#8220;Maksudku, kenapa kau bisa menebak semua pikiran-ku dengan tepat?&#8221;</p>
<p>Dia menggeleng sambil menahan tawa, sorot matanya memancarkan bahwa ia juga tidak menyangka tebakannya itu slalu tepat. &#8220;Mata-mu kelewat jujur. Mungkin bukan aku saja yang bisa menebak isi otakmu.&#8221; Aku menghela napas. Tidak tahu harus malu, kesal, atau lagi-lagi menyalahkan diri sendiri. Dari dulu aku memang slalu gagal dalam urusan berbohong dan ini menyusahkan. Jika ujian, aku sulit mencontek ataupun melihat buku. Gara-gara ini pula aku harus belajar mati-matian. Makanya aku sering iri dengan teman-temanku yang mengandalkan buku di kolong meja atau kertas-kertas kecil yang berisi tulisan indah jika sedang ujian. Yah! Aku ini memikirkan apa? Sadarlah Shin InJung kau bukanlah murid SMU lagi dan kau takkan pernah lagi merasakan duduk dibangku itu.</p>
<p>&#8220;Jadi kenapa tidak sekolah? Lalu kenapa bibirmu biru?&#8221; Aku tidak mungkin menceritakan hal ini pada orang asing. Orang yang dekat denganku saja__di Seoul__ belum kuberi tahu, apalagi dia. &#8220;Aniyo. Lebih tepatnya kenapa kau berbohong?&#8221;</p>
<p>Aku menggeleng. &#8220;Hanya berlatih saja.&#8221; Jawabku konyol.</p>
<p>&#8220;Anak kecil zaman sekarang pikirannya aneh yah.&#8221;</p>
<p>Mwo? Anak kecil? Maksudnya aku yang anak kecil? &#8220;Aku sudah dewasa!&#8221; Tegasku. Lagi-lagi dia tertawa. Aissh menyebalkan sekali.</p>
<p>&#8220;Kau terlihat seperti kebanyakan nonton film dan drama. Pengaruh TV memang wow sekali.&#8221; Katanya tak jelas. Kenapa semakin ngelantur. Bus berhenti di halte dekat apartemenku. Baguslah aku tidak perlu berbicara terlalu lama lagi dengan pria gila ini.</p>
<p>&#8220;Mianhe, aku duluan. Ini sudah sampai didekat rumahku.&#8221; Ucapku akhirnya. Aku berdiri melewatinya dan turun dari bus umum berukuran besar ini. Hari yang menyebalkan. Kenapa lagi aku harus bertemu orang aneh sepertinya? Tuhan apa salah-ku sampai-sampai harus bertemu dengan bermacam orang sinting dalam waktu kurang dari 24 jam?</p>
<p>Handphone di saku jaketku bergetar, membuatku reflek menyentuh benda persegi panjang berwarna silver itu, panggilan masuk dari nomer yang tidak dikenal. Oh shit! Aku baru sadar kalau ketinggalan tas-ku. dan demi apa ini pasti panggilan dari Minho. Dari dulu aku tidak pernah hapal nomor ponsel ku dan batre hp-ku sering habis sebelum waktunya, maka dari itu aku sering mencoret-coret nomor-nomor orang yang dirasa perlu, termasuk nomorku di kertas memo yang slalu ada didalam tas-ku. Lagian ini nomor baru. Jadi siapa lagi kalau bukan dia.</p>
<p>&#8220;Yoboseo. Jangan kau apa-apa kan tas-ku.&#8221; Serbuku langsung ketika dia sudah menjawab sapaanku. Nah kan tebakanku tak meleset kali ini.</p>
<p>&#8220;Kau masih SMA?&#8221;</p>
<p>Aku mengangguk. Errr dia tidak bisa melihatnya. &#8220;Nde, kenapa?&#8221; Balasku akhirnya. Terdengar ia seperti menghela napas, mungkin tak percaya. Dia diam untuk beberapa saat.</p>
<p>&#8220;Kalau begitu tinggallah bersamaku.&#8221; Ucapnya lirih. Tapi tetap saja itu terdengar seperti perintah mutlak. Aku ingin membalas perkataannya tapi sambungan telpon itu sudah lebih dulu terputus.</p>
<p>Hah? Tinggal dengannya? Aku tidak salah dengarkan?<br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;- tbc</p>
<p>tentang kehidupan nya Injung memang masih belum jelas disini. soalnya aku males ngeditnya/plak. Sebenernya dia ga diusir, lebih tepatnya dia kabur dan ortunya yang sempet ngunjungin. dia ga pernah balik ke daegu soalnya hamil muda(?)<br />
Kyuhyun cuma comeo, perannya ga begitu penting tapi penting juga. yang jelas dia ada hubungan sama Minho. part ini memang abstrak sih tapi tetap butuh komen kritik kalian.. kamsha ~~</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ffindo.wordpress.com/49735/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ffindo.wordpress.com/49735/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ffindo.wordpress.com/49735/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ffindo.wordpress.com/49735/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ffindo.wordpress.com/49735/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ffindo.wordpress.com/49735/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ffindo.wordpress.com/49735/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ffindo.wordpress.com/49735/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ffindo.wordpress.com/49735/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ffindo.wordpress.com/49735/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ffindo.wordpress.com/49735/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ffindo.wordpress.com/49735/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ffindo.wordpress.com/49735/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ffindo.wordpress.com/49735/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ffindo.wordpress.com&amp;blog=9871143&amp;post=49735&amp;subd=ffindo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ffindo.wordpress.com/2012/01/29/too-young-to-love-chapter-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>21</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/aa9049eabc0b5bf1c1db5b29853c3a8e?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">fymouse</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ffindo.files.wordpress.com/2012/01/too-youngtolove.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">too youngtolove</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>HELLO, MR! Part 1</title>
		<link>http://ffindo.wordpress.com/2012/01/29/one-shot-hello-mr/</link>
		<comments>http://ffindo.wordpress.com/2012/01/29/one-shot-hello-mr/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Jan 2012 10:33:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kimhyunna</dc:creator>
				<category><![CDATA[kimhyunna]]></category>
		<category><![CDATA[Boyfriend]]></category>
		<category><![CDATA[Jo Kwangmin]]></category>
		<category><![CDATA[KARA]]></category>
		<category><![CDATA[kim ki bum]]></category>
		<category><![CDATA[Kwangmin]]></category>
		<category><![CDATA[nichole]]></category>
		<category><![CDATA[SHINEE]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ffindo.wordpress.com/?p=49738</guid>
		<description><![CDATA[Tittle :  Hello, Mr! Author : Kimhyunna Length : Chapter Language : Indonesian and English Location : South Korean Main Cast : Jo Kwangmin (Boyfriend), Kim Ki Bum ( SHINee), and Kim Hyunna (OCs) Other Cast : Nichole (KARA) Genre:   &#8230; <a href="http://ffindo.wordpress.com/2012/01/29/one-shot-hello-mr/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ffindo.wordpress.com&amp;blog=9871143&amp;post=49738&amp;subd=ffindo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://kimhyunna.files.wordpress.com/2012/01/boyfriend-kwang-min-showing-his-new-hair.jpg" target="_parent"><img class="aligncenter" title="Boyfriend-Kwang-min-Showing-his-New-Hair" src="http://kimhyunna.files.wordpress.com/2012/01/boyfriend-kwang-min-showing-his-new-hair.jpg?w=300&#038;h=300&#038;h=300" alt="" width="300" height="300" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Tittle :  Hello, Mr!</p>
<p style="text-align:justify;">Author : Kimhyunna</p>
<p style="text-align:justify;">Length : Chapter</p>
<p style="text-align:justify;">Language : Indonesian and English</p>
<p style="text-align:justify;">Location : South Korean</p>
<p style="text-align:justify;">Main Cast : Jo Kwangmin (Boyfriend), Kim Ki Bum ( SHINee), and Kim Hyunna (OCs)</p>
<p style="text-align:justify;">Other Cast : Nichole (KARA)</p>
<p style="text-align:justify;">Genre:   Sad Romance</p>
<p style="text-align:justify;">Rated : PG</p>
<p style="text-align:justify;">Disclam : <em>I do not own Kwangmin, Ki Bum, nor Hyunna, They belong to SHINee and I belong to My Parents. And other cast belong to Her Parents. I do own this plot story, that belongs to my imagination and I just wanna share about my dream.</em></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ff0000;"><strong>Please don’t be silent reader, comment please!! and Please don’t copy all that is in this story without my permission.Thank you..</strong></span></p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p style="text-align:center;"><span id="more-49738"></span></p>
<p style="text-align:justify;">“ Pedih.. itu yang sekarang ku rasakan sekarang.. Mungkin, lebih tepatnya aku sangat menyesal telah mempertemukan mereka berdua.”</p>
<p style="text-align:justify;">Kim Hyunna merasa hatinya terluka setelah mengetahui apa yang terjadi dengan dirinya sekarang. Terlebih, dia mengetahui salah satu sahabatnya adalah seorang pengkhianat. Siapa yang akan menyangka pesahabatan mereka berujung petaka baginya yang sudah lama terkubur setelah dia menyelesaikan jenjang pendidikannya sewaktu di SMA dulu.</p>
<p style="text-align:justify;">“ Drrt.. drttt”</p>
<p style="text-align:justify;">Hyunna menatap handphonenya yang berada di atas meja dan berdecak kesal karena bunyi itu tidak berhenti berdering setelah 2 jam lamanya. Tanpa pikir panjang ia menerima panggilan tersebut dan menjawab dengan nada ketus.</p>
<p style="text-align:justify;">“ Ada perlu apa lagi?? Bukankah saya sudah bilang jauhi saya.. Bila perlu ambil semuanya dari saya,” kata Hyunna sambil terus memandang lurus kedepan. Dia baru menyadari orang yang sedang menelponnya sedang berada di depannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Hyunna menatap wanita itu dengan tajam dan langsung memalingkan muka ke arah berlawanan. Dia berpikir apakah wanita ini tidak punya malu memperlihatkan mukannya? Atau malah dia berpura-pura tidak mengetahui bahwa dirinya adalah kunci dari permasalahannya.</p>
<p style="text-align:justify;">“ Tidak ada yang ingin saya katakan pada anda,” kata wanita itu dengan tatapan yang menurut Hyunna menyebalkan.</p>
<p style="text-align:justify;">“ Terserah.. mulai sekarang kita sudah menjalani hidup masing-masing, Dan, menurut saya sebaiknya anda segera pergi dari hadapan saya.” Kata Hyunna dengan nada datar dan mimik muka yang dingin.</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah mengatakan itu Hyunna bangkit dari tempat duduknya dan langsung keluar dari restoran. Dia bosan dengan hidupnya yang selalu terlibat dengan masalah yang tidak kunjung selesai. Bahkan, masalah juga datang dari tempat kerjanya.</p>
<p style="text-align:justify;">“ Drr.. drttt “</p>
<p style="text-align:justify;">“ Halo, Miss Kim.. dimana anda sekarang? Bukankah saya sudah mengatakan anda harus datang tepat jam 10. Lihat, sekarang sudah jam 2”</p>
<p style="text-align:justify;">“ Maafkan saya.. tadi saya merasa tidak enak badan. Apakah sekarang masih bisa? Saya akan ketempat anda segera,” dalam hati Hyunna baru menyadari kalau hari ini ada meeting dengan kliennya.</p>
<p style="text-align:justify;">“ Saya sedang berada di Mocha caffe.. sebaiknya anda segera datang kesini, karena saya masih ada pekerjaan yang harus saya lakukan”</p>
<p style="text-align:justify;">“ Baiklah, saya akan segera kesana,” setelah menutup pembicaraan Hyunna langsung berlari ke stasiun kereta. Untung saja sekarang ia menggunakan sendal teplek dengan motif pita di atasnya, kalau tidak mungkin kakinya sudah membiru.</p>
<p style="text-align:justify;">Di dalam kereta ia membuka galeri yang ada di dalam handphonenya. Masih tampak jelas senyum di bibir mungilnya bersama orang yang dulu ia sebut dengan status sahabatnya dulu, dia berpikir “ Bodohnya aku, sudah tertipu dengan wanita ular itu”</p>
<p style="text-align:justify;">Delete..</p>
<p style="text-align:justify;">Itu yang ia lakukan sekarang. Ia menghapus semua foto yang ada di galeri tersebut dan dia mengatakan kepada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan lemah akibat kelakuan wanita itu. Tentu, itu yang akan ia lakukan dan berharap hari esok akan lebih indah.</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah turun dari kereta, ia langsung berlari keluar menuju Mocha cafe. Di lihatnya sosok lelaki berbadan tegak dan berwajah tampan sedang menatap ke arah luar jendela cafe. Dengan enggan Hyunna berjalan menuju meja lelaki tersebut. Tidak lama setelah Hyunna menuju meja itu, lelaki tersebut memandang ke arah Hyunna. Hyunna yang tampak gugup menyadari penampilannya sekarang sudah tidak layak untuk di lihat dan itu terpantul jelas di cermin cafe yang berada di belakang lelaki tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">“ Miss Kim?” lelaki itu menanyakan namanya untuk memastikan.</p>
<p style="text-align:justify;">Hyunna hanya tersenyum “ Benar, nama saya Kim Hyunna. Tapi, panggil saya Hyunna”  mendengar pernyataan tersebut lelaki tersebut mempersilahkan dia untuk duduk.</p>
<p style="text-align:justify;">“ Maaf membuat anda menunggu, saya berjanji tidak akan mengulangi” kata Hyunna memecah keheningan.</p>
<p style="text-align:justify;">Lelaki itu mengerutkan dahinya dan kemudian tersenyum sinis “ Ya, semoga anda tidak mengulanginya di kemudian hari.” Hyunna merasa dirinya sedang berada dengan masalah lagi, tapi, ia harus meminta maaf karena itu memang kesalahannya.</p>
<p style="text-align:justify;">“ Saya tahu kalau jadwal anda sibuk. Maka dari itu saya akan memulai pembicaraan ini” kata Hyunna sambil mengeluarkan berkas yang ada dalam tasnya.</p>
<p style="text-align:justify;">“ Tidak usah terburu-buru, hari ini saya di berikan waktu libur dua hari.”</p>
<p style="text-align:justify;">Hyunna terus mengeluarkan berkas-berkas yang ada di dalam tasnya tanpa menghiraukan apa yang dikatakan oleh lelaki tersebut dan membuat lelaki itu merasa kesal dengannya.</p>
<p style="text-align:justify;">“ Ini berkas-berkas dan contoh model bajunya,” Hyunna memberikan berkas-berkas tersebut kepada lelaki itu.</p>
<p style="text-align:justify;">“ Di acara nanti anda akan memakai jas hitam yang ada di sebelah kanan. Saya harap anda menyukai pakaian itu.” kata Hyunna sambil tersenyum ramah.</p>
<p style="text-align:justify;">“ Baiklah.. saya akan memakainya, apakah acara tersebut sudah terancang dengan benar? Karena, saya tidak mau tampil jika ada sesuatu yang tidak benar.” kata lelaki itu sambil terus fokus pada berkas itu.</p>
<p style="text-align:justify;">“ Tenang saja, semua sudah di atur.. anda bisa melihatnya nanti.”</p>
<p style="text-align:justify;">“ Baiklah… sepertinya saya harus pergi. Karena, ada urusan penting,” lelaki itu pamit dan bangkit dari tempat duduknya.</p>
<p style="text-align:justify;">Hyunna terkesima saat melihat punggung lelaki itu dari belakang. Bentuk tubuh dan wajah yang sempurna, pantas ia menjadi artis terkenal. Bahkan, ia tidak mempertanyakan tentang keterlambatan dirinya. Benar-benar lelaki yang sempurna !</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah merapikan berkas yang ada di meja, ia langsung keluar dari cafe dan berhenti di sebuah toko buku. Di sana ia melihat majalah tentang biodata dari lelaki yang baru bertemu di Mocha cafe. Karena penasaran ia membuka majalah itu dan membacanya.</p>
<p style="text-align:justify;">Jo Kwang Min itu namanya. Lelaki yang sempurna menurut Hyunna dan juga mempunyai otak yang cemerlang. Terbukti, pada sewaktu duduk di bangku sekolah ia selalu mendapatkan nilai mengaggumkan dan belum lagi dia sangat ahli di bidang olahraga dan seni. Menurut berita kakeknya adalah seorang pianis hebat era 80-an.  Aha ! pantas saja ia bisa memainkan piano. Tapi, menurut berita ia tidak pernah tersenyum sejak 5 tahun yang lalu dan penyebabnya masih belum diketahui.</p>
<p style="text-align:justify;">Hyunna menghela napas dan berpikir “ Pantas, ia terlihat dingin kalau dipikir sayang sekali ia tidak pernah tersenyum padahal dia pasti sangat tampan jika tersenyum.”</p>
<p style="text-align:justify;">“ Siapa yang tampan?” seru seorang lelaki di belakang Hyunna. Hyunna berbalik dan menatap lelaki yang sedang memegang tiga buah buku di tangannya.</p>
<p style="text-align:justify;">“ Mr. Jo … bukankah anda ada urusan,”  tiba-tiba tubuh Hyunna berubah jadi kaku seketika.</p>
<p style="text-align:justify;">“ Memang, saya harus membeli beberapa buku,” Kwangmin menatap ke arah majalah yang berada di tangan Hyunna.</p>
<p style="text-align:justify;">“ Oh” hanya kata itu yang bisa keluar dari mulutnya, ia baru menyadari majalah yang ada di tangannya.</p>
<p style="text-align:justify;">“ Majalah apa yang ada di tanganmu?”</p>
<p style="text-align:justify;">Pertanyaan itu membuat Hyunna ingin sekali mati di saat itu atau menjatuhkan diri dari gedung bertingkat. Hyunna harus mencari alasan yang tepat untuk menjawab pertanyaan tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">“ Saya sedang mempelajari resep yang ada di majalah ini.”</p>
<p style="text-align:justify;">Sepertinya lelaki itu masih kurang percaya dengan apa yang dikatakan oleh dirinya. Hal itu terlihat jelas dari tatapan lelaki itu.</p>
<p style="text-align:justify;">“ Oh, baiklah.. saya permisi dulu.” Kata Kwangmin pamit.</p>
<p style="text-align:justify;">“ Tunggu..”</p>
<p style="text-align:justify;">Kwangmin berhenti dan berbalik “ Apa anda memanggil saya?” Astaga! Hari ini Hyunna mengutuk dirinya karena perbuatannya. Ia harus mencari suatu alasan yang baik, supaya lelaki itu percaya.</p>
<p style="text-align:justify;">Hyunna menatap handphone yang jatuh di lantai dan memungutnya “ Apakah ini handphone anda?”. Lelaki itu melirik ke arah handphone yang ada di tangan Hyunna dan menaikan alisnya “ Bukankah itu handphone anda? Lihat, saya tidak mempunyai gantungan bermotif sapi seperti itu. Itu akan terlihat kekanakan,” perkataan yang keluar dari lelaki itu membuatnya malu seketika.</p>
<p style="text-align:justify;">“ Tapi..” perkataan Hyunna terhenti ketika ada seorang wanita cantik menghampiri dan memegang tangan Kwangmin dan mengajak lelaki itu pergi. Kwangmin hanya melihat ke arah belakang dan merasa bersalah meninggalkan Hyunna dalam posisi seperti itu.</p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p style="text-align:justify;">Hyunna menyadari kalau ia terlihat bodoh dengan posisinya sekarang. Ia berjalan keluar dengan perasaan yang gundah. Ia masih memikirkan kejadian yang membuat hidupnya berantakan, Andai ia bisa mengulang waktu.</p>
<p style="text-align:justify;">Salju turun mengiringi jalan Hyunna, ia berpikir “ Bahkan, salju tahu kalau hatinya sedang gundah.” Hyunna menghela napas panjang.</p>
<p style="text-align:justify;">“ Drr.. drttt”</p>
<p style="text-align:justify;">“ Yoboseyo?” terdengar suara rendah yang ia kenal.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan gugup Hyunna menjawab “ Ada yang bisa saya bantu, Mr. Jo?”</p>
<p style="text-align:justify;">“ Panggil saya Kwangmin, Jo itu sangat formal.” Kata Kwangmin</p>
<p style="text-align:justify;">“ Ya, apa ada yang bisa saya bantu?”</p>
<p style="text-align:justify;">“ Maaf, Jika saya tadi meninggalkan anda sendirian,” mendengar kata maaf dari Kwangmin membuat hati Hyunna senang. “ Hanya itu saja, maaf kalau saya menggangu anda.”</p>
<p style="text-align:justify;">“ Tuttt… tuttt”</p>
<p style="text-align:justify;">Hyunna menatap handphonenya sesaat dan memeluknya. Ia tidak menyangka seorang Kwangmin meminta maaf kepadanya walaupun melalui handphone. Dengan langkah senang ia menari-nari di jalanan, ia tidak memperdulikan orang-orang yang menatapnya dengan tatapan aneh.</p>
<p style="text-align:justify;">“ Kriiuuukkk,” Hyunna mendengar bunyi dari arah perutnya. Ia sangat lapar. Ia baru menyadari kalau dia belum makan sejak siang. Karena, melihat wanita ular itu. Ia berlari ke arah restoran tradisional yang ada di seberang jalan.</p>
<p style="text-align:justify;">“ Ajhuma, pesan Kimchi 1, Bulgogi 1 dan jangan lupa Soju 1” kata Hyunna tanpa melihat menu.</p>
<p style="text-align:justify;">“ Kau terlihat lelah sekali,” kata ajhuma dengan tatapan mengkhawatirkan. Hyunna hanya tersenyum untuk meyakinkan kalau dia baik-baik saja. Regina melihat sekeliling dan  memandang ajhuma dengan tatapan bingung “ Kemana yang lainnya, Biasanya banyak sekali orang-orang disini?” Ucapan itu membuat ajhuma itu tertawa “ Kau tahu restoran ini libur, karena besok adalah natal.”</p>
<p style="text-align:justify;">“ Natal?” ajhuma itu hanya mengangguk dan tersenyum.</p>
<p style="text-align:justify;">“ Kau tidak pulang ke indonesia? Kau pasti sudah libur, bukan?” tanya ajhuma itu menatap Hyunna.</p>
<p style="text-align:justify;">“ Aku tidak pulang. Karena, ada satu proyek yang harus saya selesaikan pada akhir tahun.”</p>
<p style="text-align:justify;">“ Baiklah, makananmu akan ajhuma buatkan dulu,” Hyunna memandang ajhuma itu dari belakang, tatapannya kosong. Ia memang ingin sekali bekumpul bersama dengan keluarganya di Indonesia. Tapi, tuntutan pekerjaan yang membuat dia harus tetap tinggal disini. Selain itu, ia sangat merindukan ayah dan ibunya. Ayah Hyunna adalah Manager perusahaan terkenal di Korea, sedangkan Ibu Hyunna adalah sekretaris di perusahaan Indonesia. Pertemuan ayah dan ibu Hyunna terbilang unik. Karena, perbedaan negara dan tentunya bahasa. Tapi, yang menyatukan mereka adalah Cinta. Ia masih ingat bagaimana ayahnya mengajarkannya bahasa Korea. Dan, bagaimana ibunya mengajarkannya bahasa Indonesia.</p>
<p style="text-align:justify;">“ Ini makanannya” Hyunna tersadar dari lamunannya dan memandang ke arah ajhuma. Ia langsung memakan makanan yang ia pesan. Ajhuma itu hanya tersenyum memandang Hyunna yang lahap memakan makanannya.</p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p style="text-align:justify;">Hyunna terbangun dari tidurnya, ia merasa hari ini lebih dingin daripada kemarin. Ia melihat ke jendela dan tersenyum. Ternyata, salju turun lagi menuruni kota seoul. Ia bergegas ke kamar mandi dan mengganti bajunya.</p>
<p style="text-align:justify;">-3 ˚ C, pantas saja Hyunna merasa kedinginan tadi. Ia melihat handphonenya yang menunjukkan 20 pesan masuk. Ia membuka dan merasa kesal dan langsung menghapus pesan itu. Dasar,Kim Ki Bum! Untuk apa ia masih mengirimi pesan yang membuatnya kesal. Ia benar-benar bodoh atau apa. Ini semua gara-gara wanita yang bernama Nichole. Kalau saja dia tidak datang dan mengganggu pesahabatan dia dengan Kim Ki Bum. Padahal Kim Ki Bum, dan dia sudah berteman sejak duduk di kuliah. Kenapa wanita itu tega menggambil sahabatnya itu!</p>
<p style="text-align:justify;">“ Wanita Ular”</p>
<p style="text-align:justify;">“ Ki Bum.. Kau bodoh!”</p>
<p style="text-align:justify;">“ Kenapa kau lebih mempercayai wanita itu. Padahal, kita sudah berteman sejak lama”</p>
<p style="text-align:justify;">Kata-kata itu keluar dan membuat air mata Hyunna tidak terbendung lagi. Andai saja Ki Bum mempercayai dirinya.. hanya itu harapan Hyunna. “ Tuhan, tolong aku! Lindungi sahabatku.. walau ku tahu kalau sahabat ku itu lelaki yang sudah tidak mempercayai ku.”</p>
<p style="text-align:justify;">“ Drr.. drttt” 1 pesan suara.</p>
<p style="text-align:justify;">“ Kim Hyunna, kau ada dimana? Jawab sms ku, Nichole dan aku mengkhawatikanmu.. kau jangan besikap kekanakan.. Aku tahu kalau selama ini kau menyukaiku.. aku.. aku sudah diberitahu olehnya.. Tapi, maaf aku tidak bisa menyukaimu.. Karena, aku menyukai Nichole.. Dan, aku minta jangan pernah memfitnah dirinya.. Aku mohon…”</p>
<p style="text-align:justify;">Hyunna menangis sekencang-kencangnya. Ia merasa bodoh! Aku memang menyukaimu.. tapi, aku tidak pernah memfitnahnya. Tapi, sebaliknya dia lah yang memfitnahku dan menghancurkan persahabatan kita. Kalau saja aku lebih cepat mengatakannya mungkin kau tidak membenciku. Tapi, aku ingat persahabatan kita. Dengan hati yang terluka Hyunna menghubungi Ki Bum dan ingin mengakhiri ini semua.</p>
<p style="text-align:justify;">“ Halo.. Ki Bum”</p>
<p style="text-align:justify;">“ Ya, Kim Hyunna..” terdengar suara yang ia rindukan selama ini.</p>
<p style="text-align:justify;">“ Aku tidak akan lagi menganggu kalian. Tapi, ingatlah aku akan selalu percaya padamu.. walau aku tahu selama ini kau tidak mempercayaiku. Aku akan mendoakanmu.. Selamat tinggal”</p>
<p style="text-align:justify;">“ Halo.. Halo.. Hyunna.. Kim Hyunna”</p>
<p style="text-align:justify;">Hyunna mematikan dan membanting handphonenya dengan keras. Inilah saatnya ia memulai hidup baru tanpa seorang sahabat. Ia bangun dari tempat duduknya dan mengganti pakaian kerja. Kali ini ia harus fokus dengan pekerjaannya. Ia berjalan keluar dari apartemennya dengan lunglai menuju kantornya. Saat menuju kantor ia melihat toko handphone, ia berpikir membeli handphone yang baru karena hanphonenya rusak. Setelah membeli handphone baru, ia bergegas ke kantornya.</p>
<p style="text-align:justify;">Baru saja menapakan kaki di kantor, Mr. Han memanggil untuk ke ruangannya. Hyunna mengikuti Mr. Han dari belakang dengan tenang.</p>
<p style="text-align:justify;">“ Miss Kim, kenapa handphone anda tidak bisa di hubungi?” tanya Mr. Han memulai pembicaraan.</p>
<p style="text-align:justify;">“ Maafkan saya, handphone saya rusak. Saya baru membeli yang baru” kata Hyunna sambil memperlihatkan kantong handphone.</p>
<p style="text-align:justify;">Mr. Han mengangkat alis matanya dan menghela napas “ Baiklah, tadi Mr. Jo Kwangmin menelpon anda.. Tinggalkan nomor anda.. saya akan memberitahukan nomor baru anda.. Jangan sampai karena kecerobohan seperti tadi menghancurkan event kita nanti.” Mendengar itu Hyunna hanya mengangguk dan menuliskan nomor barunya.</p>
<p style="text-align:justify;">“ Oke, anda sudah bisa kembali ke meja anda” seru Mr. Han sambil mengambil nomor yang sudah di tulis oleh Hyunna.  “ Saya akan mengirimkan nomor ini kepada Mr. Jo, dan saya akan mengirimkan nomor anda ke bagian karyawan untuk diganti pada profil anda” kata M. Han menambahkan.</p>
<p style="text-align:justify;">“ Terimakasih, Mr Han. Maaf merepotkan anda” kata Hyunna sambil membungkuk dan pamit untuk keluar. Baru saja keluar dari ruangan, Ada pesan masuk ke handphone Hyunna. Hyunna dengan cepat melihat isi pesan itu yang berisikan : “ Seperti biasa anda melakukan hal di luar pemikiran saya. Tertanda Kwangmin,” melihat isi pesan itu Hyunna bingung dan membalas sms itu. “ Bukan mau saya kalau handphone itu rusak karena perasaan saya yang sedang kesal.”</p>
<p style="text-align:justify;">“ Drr.. drttt”</p>
<p style="text-align:justify;">“ Kesal? Apa yang membuat anda kesal?”</p>
<p style="text-align:justify;">Hyunna hanya mengangkat alisnya dan segera membalas sms itu “ Ini masalah pribadi saya. Jadi, saya tidak bisa menceritakannya kepada anda.”</p>
<p style="text-align:justify;">“ Drr.. drttt”</p>
<p style="text-align:justify;">“ Maaf, tapi saya hanya mencoba membantu”</p>
<p style="text-align:justify;">Hyunna membaca pesan itu dan merasa bersalah karena ia sudah besikap tidak baik. Padahal, Kwangmin sudah bersikap baik padanya. “ Maaf, saya sudah menyakiti hati anda. Bisakah saya bertemu anda sekarang? Saya akan mentraktir anda untuk menebus kesalahan saya tadi,” Hyunna mengirimkan pesan itu dan berharap kalau Kwangmin memaafkannya.</p>
<p style="text-align:justify;">“ Drr.. drttt”</p>
<p style="text-align:justify;">“ Baiklah, temui saya di tempat pertama kita bertemu jam 7 malam,” melihat balasan dari Kwangmin, Hyunna merasa lega dan berharap nanti Kwangmin akan memaafkannya. Setelah itu Hyunna memasukan kembali Handphonenya ke dalam kantung celana.</p>
<p style="text-align:justify;">Hyunna berjalan ke arah mejanya dan memandang foto yang ada diatas mejanya. Ia menggerutu kesal dan membuang foto-foto itu ke tempat sampah di sebelah meja kerjanya.</p>
<p style="text-align:justify;">“ Drr.. drttt”</p>
<p style="text-align:justify;">Hyunna bergegas mengambil handphone yang ada di dalam kantung celananya. Melihat nomor yang tidak asing, Hyunna dengan malas mengangkat telepon itu.</p>
<p style="text-align:justify;">“ Yoboseyo..”</p>
<p style="text-align:justify;">“ Ya, dapat dari mana kau nomor baru ku?” kata Hyunna dengan nada sinis.</p>
<p style="text-align:justify;">“ Aku menelpon kantormu dan dia memberikan nomor barumu kepadaku” kata Ki Bum dengan suara serak.</p>
<p style="text-align:justify;">“ Lalu, ada masalah apalagi Ki Bum-ssi?” tanya Hyunna dengan singkat.</p>
<p style="text-align:justify;">“ Aku mau minta maaf kepadamu kalau aku tidak bisa mencintaimu. Tapi, apakah kita masih bisa berteman Hyunna?” tanya Ki Bum.</p>
<p style="text-align:justify;">“ Maaf, permintaan anda saat ini saya tolak,” kata Hyunna dengan wajah muram.</p>
<p style="text-align:justify;">“ Tidak bisakah kita seperti dulu, Hyunna? Bersahabat? Dan, aku mohon kau jangan memfitnah Nichole lagi. Dia adalah yeoja yang baik,” kata Ki Bum dengan perasaan berharap.</p>
<p style="text-align:justify;">“ Maaf, Mr. Ki Bum. Permintaan anda saya tolak. Saya tidak bisa lagi menjadi sahabat anda. Dan, asal anda tahu kalau bukan saya yang memfitnah Nona Nichole,” kata Hyunna yang sudah kesal.</p>
<p style="text-align:justify;">“ Tapi..”</p>
<p style="text-align:justify;">“ Dan, maaf Mr. Ki Bum. Tolong jangan hubungi saya lagi,” kata Hyunna sambil menutup telpon. Hyunna tidak bisa berpikir jernih ketika Ki Bum meminta untuk jangan memfinah Nichole. Padahal kenyataannya Nichole lah yang memfinahnya dan membuat persahabatan Hyunna dan Ki Bum berantakan. “ Apa yang harus aku lakukan untuk bisa bersama denganmu lagi Ki Bum? Tidak ada dan tidak akan pernah! Karena kau pasti akan membela Nichole” gumam Hyunna dalam hati. Perlahan air matanya turun membasahi wajahnya. Ia hanya bisa menangisi dirinya.</p>
<p style="text-align:justify;">“ Maaf, Miss Hyunna..” terdengar suara berat memanggil namanya, dengan cepat Hyunna menghapus air mata dan membalikan tubuh sambil menatap seseorang yang ia baru kenal.</p>
<p style="text-align:center;" align="center"><strong>TO BE CONTINUED</strong></p>
<p style="text-align:center;" align="center">Mian, Readers.. kalau ff ini terlalu pendek. Karena, author sedang UAS jadi hanya sempat membuat ini. Di part selanjutnya author berjanji akan panjang.. haha</p>
<p style="text-align:center;" align="center">Dan, author minta maaf kalau ff ini rada kaku soalnya cerita ini adalah kisah author sendiri.. haha *curcol*</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ffindo.wordpress.com/49738/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ffindo.wordpress.com/49738/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ffindo.wordpress.com/49738/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ffindo.wordpress.com/49738/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ffindo.wordpress.com/49738/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ffindo.wordpress.com/49738/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ffindo.wordpress.com/49738/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ffindo.wordpress.com/49738/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ffindo.wordpress.com/49738/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ffindo.wordpress.com/49738/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ffindo.wordpress.com/49738/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ffindo.wordpress.com/49738/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ffindo.wordpress.com/49738/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ffindo.wordpress.com/49738/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ffindo.wordpress.com&amp;blog=9871143&amp;post=49738&amp;subd=ffindo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ffindo.wordpress.com/2012/01/29/one-shot-hello-mr/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3daa6744e2204ac13813594cf9ed0e4b?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kimhyunna</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kimhyunna.files.wordpress.com/2012/01/boyfriend-kwang-min-showing-his-new-hair.jpg?w=300&#38;h=300" medium="image">
			<media:title type="html">Boyfriend-Kwang-min-Showing-his-New-Hair</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>My Lovely Fat Part 7a</title>
		<link>http://ffindo.wordpress.com/2012/01/29/my-lovely-fat-part-7a/</link>
		<comments>http://ffindo.wordpress.com/2012/01/29/my-lovely-fat-part-7a/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Jan 2012 09:53:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>luciferain</dc:creator>
				<category><![CDATA[LucifeRain]]></category>
		<category><![CDATA[Cho kyuhyun]]></category>
		<category><![CDATA[choi siwon]]></category>
		<category><![CDATA[eunhyuk]]></category>
		<category><![CDATA[Kim HeeChul]]></category>
		<category><![CDATA[Lee Donghae]]></category>
		<category><![CDATA[Shim Changmin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ffindo.wordpress.com/?p=49724</guid>
		<description><![CDATA[Author       : autumnsnowers Genre        : Romance, Friendship, brother live Rating       : PG 17 Length      : Chapter Main Cast : Shim Changmin Kim Heera Kim Heechul   , and youll find the other casts in this story ~Story Begin~ Author’s POV Tidak &#8230; <a href="http://ffindo.wordpress.com/2012/01/29/my-lovely-fat-part-7a/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ffindo.wordpress.com&amp;blog=9871143&amp;post=49724&amp;subd=ffindo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ffindo.files.wordpress.com/2012/01/mlf-6a.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-49726" title="mlf-6a" src="http://ffindo.files.wordpress.com/2012/01/mlf-6a.jpg?w=584&#038;h=584" alt="" width="584" height="584" /></a>Author       : autumnsnowers<br />
Genre        : Romance, Friendship, brother live<br />
Rating       : PG 17<br />
Length      : Chapter<br />
Main Cast :<br />
Shim Changmin<br />
Kim Heera<br />
Kim Heechul   , and youll find the other casts in this story</p>
<p><span id="more-49724"></span><br />
~Story Begin~<br />
Author’s POV<br />
Tidak ada seorang pun yang tahu tentang  pertemuan Miyoung dan Hyosun dengan Heera di Tokyo, ini hanya menjadi rahasia diantara mereka yang mungkin suatu saat akan ketahuan.<br />
Tak terasa sudah 1,5 tahun sejak pertemuan rahasia mereka diTokyo, dan genap 3 tahun 8 bulan akan kepergian Heera ke Jepang.<br />
~~~****~~~<br />
Changmin’s POV</p>
<p>Earphone menjutai dari kedua telingaku, ujungnya terhubung pada sebuah Ipod putih yang baru ku putarkan lagu kesukaanku. Kursi paling belakang di samping jendela menjadi pilihanku saat ini. pandanganku terarah ke bawah sana, memandang sekumpulan orang yang berhilir mudik menjalani aktivitas mereka.<br />
Meski volume music yang ku dengarkan lumayan keras, namun tetap saja ocehan teman sekelasku yang meributkan suatu hal tetap terdengar. Belakangan ini, mereka selalu meributkan sebuah majalah, setiap tanggal 4 mereka sibuk memperebutkan sebuah majalah yang tidak beredar di Korea. Entah dari mana Ma Hyunjong mendapatkan majalah itu.<br />
‘Yappeuda. Dia sangat cantik’ celetuk seseorang<br />
‘ Siapa sebenarnya yeoja ini? sangat sulit untuk mencari tahu identitas aslinya. Aldreda… kau benar-benar misterius.’<br />
‘ Yang aku dengar dia hanya mau di potret oleh anak pemilik bisnis ini, anak designer terkenal dan merupakan pemilik dari majalah ini. mereka sangat akrab, kita pasti patah hati karena yeoja ini. ’<br />
‘ Aaaa aku ingin menyentuh rambutnya, sepertinya sangat halus.’<br />
Mereka selalu mengucapkan kalimat yang sama setiap membaca majalah itu, membuatku bosan saja. Apakah yeoja yang mereka puji itu sangat cantik? Entahlah aku belum pernah melihhatnya dan aku sangat tidak berminat untuk itu. tak ada satupun yang menawariku membaca majalah itu bersama sama, mungkin mereka bosan karena aku selalu menolak ketika mereka menawarinya.<br />
Drrrtt…. Drtttt….<br />
Aku merogoh saku celanaku, mengeluarkan benda persegi empat yang sempat bergetar beberapa kali. Tanpa berfikir panjang langsung ku buka sebuah pesan masuk disana.<br />
From :: Soo~ya<br />
Max, jangan lupa acara nanti malam. Kau harus menepati janji mu.<br />
To :: Soo~ya<br />
Tentu saja. Seorang pria tidak akan mengingkari janjinya.<br />
~~~****~~~<br />
Sekarang aku di sini, di sebuah café yang menjadi tempat hang out teman-teman kampusku. Café yang baru buka sejak 3 bulan yang lalu, dan ku dengar café ini sudah memiliki cabang di beberapa tempat, hebat. Harus ku akui jika dekorasi dan interior café ini sangat menarik dan membuat nyaman. Ditambah sinar matahari sore yang menerobos masuk melalui kaca besar di sampingku.<br />
Tiba-tiba ada seseorang yang menyerukan nama ku, aku menoleh ke sumber suara dan mendapati Hyosun noona sedang melambai padaku bersama yang lainnya, Mereka duduk di sebrang meja ku. Aku tersenyum dan pamit pada teman-temanku sebelum menghampiri mereka.<br />
“ Ya,, kalian pergi tanpa mengajakku huh?.” Ucapku setelah sampai di meja mereka.<br />
“ Salahkan saja Heechul hyung, dia saja tidak mengajak Kyuhyun dan Miyoung.” Tutur Donghae hyung.<br />
“ Ah arraso. Acara untuk para orang tua rupanya.” Aku berkata dengan enteng yang langsung mendapatkan tatapan horror dari mereka.<br />
“ Kau tau Max, kita akan ditraktir oleh Heechul hyung.” Hyukjae hyung berkata sambil tersenyum lebar.<br />
“ Hyung, aku jamin dompetmu tak akan cukup membayar bill jika mentraktir monyet satu ini.”<br />
“ Biarlah, sesekali mengajaknya ke tempat bagus tak masalahkan. Aku khawatir jika dia tetap berkutat dengan pisang-pisang itu, dan kau tidak perlu khawatir aku tidak akan sanggup membayar bill. Aku tinggal menyuruhnya menjadi juru cuci piring dadakan di café ini.” jawab Heechul hyung panjang lebar. Aku dan yang lain hanya tertawa mendengar ucapan Heechul hyung sedangkan Hyukjae hyung hanya memberengutkan wajah sebal.<br />
“ Max, kau harus ikut berkumpul bersama kami di sini.” Titah Hyosun noona sambil tersenyum manis.<br />
“ Baiklah.”<br />
Aku menyetujui ajakan Hyosun noona, atau lebih tepatnya perintah Hyosun noona?. Aku terlarut dalam kebersamaa bersama mereka, terlarut dalam canda tawa yang terkadang aku rindukan tanpa sosoknya.<br />
~~~****~~~<br />
Pagi ini aku bangun tergesa-gesa dengan rasa panic yang berbaur dengan perasaan cemas, setelah menyambar handuk,  aku langsung bergegas ke kamar mandi membersihkan tubuhku. Aku berangkat dengan terburu-buru, berharap jika rasa khawatir yang sejak tadi menyelusup ke dalam hati ku tidak terjadi. Aku memacu mobilku menjauh dari rumahku dengan cepat.<br />
Tak lama kemudian aku sampai di depan pintu rumah Sooyoung, berniat menemui gadis itu. Selama aku menunggu kehadirannya, aku duduk dengan gelisah di ruang tamu di kediaman Choi yang megah ini. ku tolehkan wajahku saat ku dengar derap langkah kaki mulai mendekat, aku langsung berdiri dan menyongsong sosok itu. Matanya terlihat bengkak, menandakan bahwa dia menangis semalaman.<br />
“ Sooyoung-ah… mianhae, jeongmal mianhae.” Ucapku sungguh-sungguh.<br />
“ Cih. Dengan mudahnya kau meminta maaf, siapa yang berkata bahwa ‘ Seorang pria tidak akan mengingkari janjinya’ huh?.” Cibir Sooyoung sambil membuang muka.<br />
“ Aku benar-benar lupa. Aku tidak memiliki maksud sedikit pun untuk mengingkari janji padamu. Kemarin sore aku terlalu larut dalam obrolan dengan para hyung ku hingga malam.” Aku tetap memberi penjelasan padanya.<br />
“ Oh… jadi kau bersenang-senang tanpa tahu jika aku menunggu mu seperti orang bodoh?! Max, kau sangat tahu kalau tadi malam adalah malam yang selalu ku tunggu-tunggu!! Kau tahu jika selama beberapa hari terakhir ini aku bekerja keras dengan itu semua dan ketika sedikit lagi akan selesai kau malah menghancurkannya.!! Kau tahu jika sangat sulit untuk mengatur itu semua!!. Kau menghancurkan segalanya.” Paparnya panjang lebar.<br />
Aku hanya diam tak bersuara mendengar semua luapan kekesalannya atas sikap ku.<br />
“ Setidaknya beritahu aku jika kau tidak sanggup menepati janjimu. Kau membuatku kecewa Max, kau menghancurkan malam yang selama ini ku tunggu-tunggu. Aku minta kau keluar. “ Ucap Sooyoung sambil menunjuk ke arah luar rumahhnya<br />
“ Mianhae Sooyoung-ah, tolong maafkan aku.” aku berkata dengan gigih, meminta agar yeoja itu mau memaafkanku.<br />
“ Kau tidak mengerti perasaanku. Keluar. Keluar dari rumah ku sekarang juga. Saat ini aku tak ingin bertemu denganmu.” Usirnya dengan nada dingin.<br />
Aku berjalan dengan langkah gontai menuju mobilku yang terpakir di depan rumah Sooyoung. Argh!!! Shim Changmin bodoh!!!! Aku merutuki diriku sendiri sambil mengacak-ngacak rambutku dan menendang ban mobilku, berusaha melampiaskan rasa bersalah dan kebodohanku.<br />
Changmin’s POV End<br />
~~~****~~~<br />
Author’s POV<br />
Terlihat sekelompok orang-orang cantik dan rupawan berada di terminal kedatangan. Salah satu dari mereka, seorang pria tampan namun cantik terlihat gelisah. Sejak tadi dia tak henti-hentinya berjalan hilir mudik.<br />
“ Ya hyung, tidak bisa kah kau diam sebentar saja? Aku pusing melihat mu yang sejak tadi mondar mandir tak jelas.” Protes lelaki yang tampak seperti prince charming pada pria tampan nan cantik itu.<br />
“ Kau tahu, kau nampak seperti sedang menanti kelahiran seorang anak saja hyung.” Kali ini lelaki yang tingkahnya seperti monyet ikut menyeruakan pendapatnya.<br />
“ Hyung, berhentilah hilir mudik. Kau nampak seperti nenek-nenek tua yang lupa akan jalan pulang.” Ucap seorang pria yang kadar ketampanannya di luar batas normal tanpa mengalihkan perhatiannya dari PSP yang ada di genggamannya.<br />
Pria tampan nan cantik itu hanya bisa mendengus kesal setelah memberikan death glare kepada mereka yang telah berbicara secara bertubi-tubi memojokkan dirinya. Sedangkan ke dua gadis cantik yang ada di antara mereka hanya diam, terlarut dalam perasaan yang exited.<br />
-<br />
Karena orang yang mereka tunggu belum juga muncul, akhirnya pria yang bertingkah seperti monyet itu pergi untuk membeli cappuccino di café. Dia menatap sekeliling café sambil menunggu pesanannya di antarkan, sesaaat kemudian matanya bertemu tatap dengan gadis cantik yang sedang duduk di samping jendela besar.<br />
Gadis itu membelalakan mata saat melihatnya, membuat pria itu tertegun untuk beberapa saat. Merasa aneh jika ada seorang gadis cantik yang sampai-sampai membelalakan mata saat melihatnya lalu terlebih dahulu tersenyum ramah padanya, ‘apakah aku terlalu tampan?’ Pikir pria itu dalam hati. Selain itu dia merasa familier dengan orang itu.<br />
Tak lama kemudian ada seorang pelayan yang mengantarkan pesanan menghampiri dirinya, setelah menerima pesanannya pria ini pun membalikkan badan untuk melihat gadis itu.<br />
Bermaksud menggali ingatannya karena merasa familiar dengan tatapan gadis itu, tapi usahanya sia-sia karena ada sesosok laki-laki yang berdiri di hadapan gadis itu sehingga pria yang bertingkah seperti monyet ini tidak bisa melihat gadis itu lagi.<br />
Akhirnya pria itu pun melangkah pergi ke luar café, kembali menghampiri teman-temannya yang lain.<br />
~~~****~~~<br />
Pria tampan nan cantik itu tersenyum lebar saat melihat seorang yeoja yang mengenakan kacamata hitam berjalan semakin dekat ke arahnya, ke arah mereka. Yeoja itu tersenyum senang dan mempercepat langkahnya sambil menarik koper coklat.<br />
“  Oppaa!!!!.” Panggilnya senang seraya memeluk tubuh pria tampan nan cantik itu, Kim Heechul.<br />
“ Aaa yeoja gendutku.” Ucap Heechul sambil memeluk erat tubuh adik satu-satunya.<br />
Orang-orang yang di sekitar mereka hanya menatap tak percaya pada mereka berdua yang sedang berpelukan.<br />
“ Ya,, oppa… gantian, aku juga ingin memeluk Heera.” Pinta Miyoung sambil menarik-narik baju Heechul. Akhirnya Heechul melepaskan pelukannya pada adik kesayangnnya dengan berat hati.<br />
Sedangkan para yeoja sibuk berpelukan, pria yang tersisa hanya terdiam dengan apa yang mereka lihat. Dan ada 1 orang yang menganga tak percaya dengan apa yang dilihatnya sehingga cup cappuccino di tangannya tumpah.<br />
“ Ya!!! Kau Kim Heera?!!!.” Tanyanya dengan nada tinggi membuat gadis itu menoleh dan menghampiri para pria yang menunggu kedatanganya.<br />
Gadis itu berdiri di hadapan para pria itu, memperlihatkan senyum manisnya seraya mengedikkan bahu dan memutarkan tubuhnya.<br />
“ Jeongmal bogoshipoyo.” Ucap pria yang tampak seperti prince charming sambil memeluk gadis itu, Lee Donghae.<br />
“ Akhirnya kau kembali juga. Ingat rumah huh?.” Ledek pria yang ketampanannya di luar batas normal sambil mengacak-ngacak rambut gadis itu, Cho Kyuhyun.<br />
Kini gadis itu berdiri di hadapan pria yang bertingkah seperti monyet, Lee Hyukjae, yang masih melongo tak percaya. Penampilan Heera benar benar berubah, dia terlihat sangat cantik.<br />
“ Ya,, kau tak mau menyambut kedatanganku huh?.” Tanya gadis itu sambil cemberut.<br />
“ Aish… sini sini ku peluk.” Ucapnya sambil memeluk gadis itu singkat lalu menatapnya lekat.<br />
“ Kau berhasil menipuku, kau tahu. Aku kira memang benar ada gadis cantik yang terpesona olehku sampai membelalakan mata dan tersenyum terlebih dahulu padaku, tapi ternyata itu kau?.” cerocos panjang lebar dengan ekspresi tak percaya, bahagia, syok, dan kecawa menjadi satu.<br />
“ Chamkaman. Kami menunggumu lama di sini dan ternyata kau mampir ke café?!!.” Pekik Hyukjae tak percaya sambil menjitak kepala Heera sepenuh tenaga, sedangkan gadis itu hanya meringik dan mengusap-ngusap kepalanya.<br />
“ Ya!! Berani-beraninya kau menjitak kepala adikku.” Hardik Heechul sambil merangkul adiknya.<br />
“ Ne, arraso. Adik kesayanganmu yang kini telah berubah menjadi gadis cantik, maka pasti kau semakin sayang padanya.” Beber Hyukjae.<br />
Karena terlalu larut dalam pertemuan melepas rindu, mereka tak menyadari jika ada sesosok namja tampan yang sejak tadi berdiri tak jauh dari mereka. Menatap intens aktifitas orang-orang yang di hadapannya dengan penuh minat seakan-akan itu merupakan hal yang menyenangkan.<br />
Hyosun adalah orang yang pertama kali menyadari keberadaan namja tampan itu. Dia terpaku untuk beberapa saat, mengagumi ketampanan namja itu.<br />
“ Oh hai. Kau ikut menemani Heera ke sini?” tanya Hyosun seraya tersenyum manis, Miyoung yang berada di sebelahnya pun menoleh pada Hyosun dan akhirnya menyadari kehadiran namja itu.<br />
“ Wuaaah…. Senang bertemu denganmu untuk ke dua kalinya!!!.” Pekik Miyoung senang sedangkan Hyosun hanya memejamkan mata karena kebodohan gadis yang di sampingnya ini.<br />
“ Kalian sudah saling mengenal?.” Tanya Donghae yang sadar bahwa ke dua gadis ini sedang sibuk dengan namja yang berdiri di dekat mereka.<br />
“ Ne, kami pernah bertemu saat di Jepang.” Jawab Hyosun singkat.<br />
Heera berjalan menghampiri namja yang berdiri tak jauh dari mereka, ia mengamit lengan namja itu kemudian menuntunya agar berkumpul dengan  yang lain. Heera menatap namja itu kemudian tersenyum pada Heechul, Donghae, Kyuhyun dan Hyukjae yang melayangkan tatapan heran pada mereka.<br />
“ Dia sahabatku di selama diTokyo, Choi Jonghun.”<br />
“ Annyeonghaseyo… choneun Choi Jonghun imnida, bangabsapeunida.” Sapanya namja itu sambil membugkuk singkat pertanda sopan.<br />
‘ Sial… dia lebih tampan dariku. Semoga Hyosun tak terpikat olehnya.’ Gerutu Donghae dalam hati.<br />
‘ Hmm… ternyata ini namja yang selalu dekat dengan adikku?.’ Ucap Heechul dalam hati.<br />
‘ Aigo… hidungnya sangat bagus.’ Puji Hyukjae dalam hati<br />
‘ Tampan. Tapi tak ada yang bisa mengalahkan pesonaku.’ Ucap Kyuhyun narsis dalam hati.<br />
Itulah berbagai pendapat mereka saat pertama kali melihat namja tampan yang bernama Choi Jonghun ini.<br />
~~~****~~~<br />
Heera’s POV<br />
Akhirnya aku kembali ke sini, tempat ku di lahirkan hingga beranjak dewasa. Sejenak Aku memejamkan mata, mengisi penuh setiap rongga di paru paru dengan udara sejuk negeri gingseng ini.<br />
“ Kau selalu saja seperti ini.” suara namja membuatku membuka mata secara perlahan, aku menoleh dan melihat namja yang ini tengah berdiri di sampingku kemudian tersenyum kecil mananggapi ucapannya. Tak lama aku kembali  memejamkan mata.<br />
Namja ini, namja yang berdiri di sampingku adalah namja terbaik yang pernah ku temui, setelah oppa ku tentu saja. Dia selalu mendukungku, menemaniku, dan memahamiku.<br />
Sebelum menghampiri Heechul oppa dan yang lainnya, aku pergi ke café untuk membeli minuman. Ketika menunggu Jonghun yang sedang memesan, aku melihat Hyukjae oppa yang sedang duduk di meja dekat meja ku. Aku tersenyum padanya, tapi dia seolah-olah kaget, tak mengenaliku huh?. Tak lama Jonghun datang membawa pesanan kami dan berdiri di hadapanku, menghalangi pandanganku pada Hyukjae oppa. Saat aku akan menghampirinya dia malah sudah pergi meninggalkan café.<br />
Aku bertemu dengan mereka, orang-orang yang terpenting dalam hidup ku.  Aku melepas rindu pada mereka. Tapi sayang, orang itu tidak ada di sini untu menyambut kedatanganku, sama seperti saat dia tidak mengantar kepergianku.<br />
Tapi kali ini adalah karena kemauanku, aku tak ingin dia tahu bahwa aku telah kembali. Walaupun sebenarnya aku sangat merindukannya, tapi ini lah yang ku pilih. Tidak memberitahunya.<br />
~~~****~~~<br />
Malam ini semuanya berkumpul di rumahku, menikmati makan malam buatan chef paling hebat di Applephard yang malam ini di datangkan ke rumah kami, Han adjussi hahaha.<br />
Selama Han adjussi sibuk membuat hidangan makan malam untuk kami, selama itu pula aku terlarut bercengkrama bersama mereka. Tak terlalu butuh waktu lama agar Jonghyun akrab dengan yang lain, dia pandai membawa diri.<br />
Di tengah suasana hangat yang menyelimuti kami, Heechul oppa menerima telepon dari Siwon oppa. ia langsung menganggkatnya kemudian menekan tombol Loudspeaker.<br />
“ Hallo pengantin baru, ah ani pria yang sudah tak bebas, bagaimana kabar mu?.” Ku dengar Heechul oppa meledek Siwon oppa. Dasar, ternyata oppa ku ini masih tidak mau terlalu memikirkan pernikahan.<br />
“ Sialan kau hyung. Kau tahu, pernikahan itu bukan sesuatu yang buruk. You must try it, ah ani, you must do it. Oh ya, adikmu sudah sampai dengan selamat?.” Suara Siwon hyung terdengar oleh ku.<br />
“ Do it?” apa maksudmu Choi Siwon?.” Tanya Heechul oppa sambil memasang wajah mesum, aish ingin rasa ku hajar wajahnya.<br />
“ Ya ya ya, memangnya apa yang kau pikirkan?!! apa Heera sudah tiba dengan pengawal yang tampan?” Siwon oppa tidak menanggapi ucapan mesum Heechul oppa.<br />
Jonghyun hanya tersenyum mendengar itu semua dan ku rasakan pipiku memanas saat orang-orang itu sudah menjadikan ku bulan-bulanan mereka lagi.<br />
“ Ya!!  Bagaimana hasil kerja kerasku?!!.” Teriak seorang yeoja yang ku yakini itu adalah Maeri eonni.<br />
Heechul Oppa melirikku kemudian tersenyum tulus “ Sangat luar biasa. Terima kasih Maeri-ah.”<br />
“ Baguslah, memang seharusnya kau berterima kasih padaku. Kau tahu, aku mengerahkan seluruh kemampuanku untuk membimbing adik mu itu.” kali ini Maeri langsung menggantikan Siwon dalam percakapan kali ini.<br />
“ Wae?!! Apa yang dia lakukan?!!! Apa yang kau lakukan eonni?!!” teriak Miyoung yang duduk di samping Heechul oppa dengan kencang, dia pun langsung mendapatkan jitakan maut dari oppa ku karena hampir membuatnya tuli<br />
“ Aish…. Miyoung-ah suara mu, ah tanyakan saja pada nya. Aku malas menceritakan itu semua pada kalian. Aku malas mengingatnya.” Tolak Maeri mentah-mentah.<br />
“ Ssshh Siwon-ah, ddiaam ash.” Kami saling berpandangan heran saat mendengar suara aneh dari sebrangsana. Dengan seksama kami terdiam untuk mendengarnya lebih jelas.<br />
“ Mmmph.. oppaa, mmph diam, aku masih menelpon. Sssshh oppah.” Suara itu terdengar lagi, suara desahan.<br />
“ YA!!!! JIKA KALIAN AKAN MELAKUKANNYA JANGAN TELPON KAMI!!!.” Teriak Heechul oppa langsung mematikan sambungan telpon.<br />
“ Yaah hyung, kenapa kau matikan?.” Tanya Hyukjae oppa dengan raut wajah kecewa, memang sejak awal dia yang paling exited mendengar itu semua. Tak lama ada panggilan masuk dari Siwon oppa lagi pada ponsel Heechul oppa.<br />
“ADA APA LAGI?!!.” Semprot Heepa langsung.<br />
“ Ahahaha hyung, kami tadi hanya bercanda. Mencoba membuat kalian iri dan segera menikah hahaha.” Beber Siwon oppa lalu terdengar suara tawa nya dengan Maeri eonni. Aigo pasangan ini, entah kenapa Siwon oppa sekarang menjadi sedikit evil -___-<br />
“ Sialan kau Choi Siwon.” Geram oppa.<br />
~~~****~~~<br />
Heera’s POV<br />
Kali ini aku bisa merasakan lagi suasana malam diKorea. Aku duduk di bangku halaman rumahku, memandang langit malam ynag bertabur bintang. Ku usapkan kedua telapak tanganku, berharap menimbukan kehangatan yang dapat mengusir dinginya hembusan angin malam. Tiba tiba aku merasa ada seseorang yang menyampirkan selimut pada pundakku, aku menoleh dan tersenyum saat melihatnya.<br />
“ Kenapa kau di sini?.” Tanyanya setelah duduk di sampingku.<br />
“ Hanya ingin menikmati suasana. Tak ada salahnya bukan?.” Ucapku sambil memiringkan mata menatapnya. Terjadi keheningan di antara kami.<br />
“ Hmm oppa… apa aku sudah berhasil membuat mu bangga pada ku?.” Tanya ku sambil menunduk tak berani menatap wajahnya.<br />
“ Tentu saja pabbo. Sejak dulu aku selalu bangga padamu, apalagi sekarang… dengan semua yang telah kau lakukan.” Ucap Heechul oppa sambil mengacak rambutku, aku haya tersenyum mendengar ucapannya dan memeluk tubuhnya.<br />
“ Kapan kau akan bertemu dengan Max?.” tubuhku menegang dalam pelukan Heechul oppa saat mendengar nama orang itu, orang yang ku rindukan.<br />
“ Molla.” Jawabku sambil menghirup aroma perfume Heechul oppa dalam-dalam, berusaha mencari ketenangan.<br />
“ Sampai kapan kau akan menghindar dan berusaha hilang dari kehidupannya?.” Heechul oppa melepaskan pelukannya dan menatapku dalam. Aku hanya terdiam tidak dapat membalas tatapannya.<br />
“ Entah apa yang sebenarnya terjadi. Tapi jika ini kemauan mu, aku tidak akan mempertemukan kalian. Biarkan waktu yang menjawab dari tingkah bodoh kalian.” Aku hendak membalas ucapan Heechul oppa saat ku dengar ada suara seseorang.<br />
“ Hee-chan, aku pamit pulang.Adaurusan mendadak.” Ucap sesosok namja yang berdiri di belakangku.<br />
“ Oneesan?? Baiklah, tapi besok jangan lupa dengan rencana kita.” Ucapku mengingatkannya.<br />
“ Aku tidak akan melupakan janji ku. Hyung aku pamit pulang. Annyeong.” Pamit Jonghun pada Heechul oppa sambil membungkuk.<br />
“ Hati-hati di jalan. Sering seringlah berkunjung ke sini Jonghun-ah.” Ucap Heechul oppa, dan aku segera mengantarkan Jonghun sampai ke pintu depan. Aku melambai saat mobil nya semakin menjauh.<br />
Aku kembali masuk ke dalam rumah, menghampiri mereka dengan Heechul oppa yang telah berkumpul bersama mereka lagi. Aku duduk di karpet dengan menyenderkan punggung pada lutut kaki Heechul oppa, kebetulan Heechul oppa sedang duduk di sofa.<br />
Kenapa aku tidak duduk? Karena Lee Hyukjae dengan enaknya memakan cemilan sambil tidur-tiduran di sofa ku -___-<br />
“ Besok jangan lupa, kau harus meninjau lokasi.” Ucap Heechul oppa mengingatkan.<br />
“ Tenang saja, aku akan kesanajika urusanku telah selesai. Dan aku akan kesana bersama Jonghun.”<br />
“ Ra-ya, cepat ceritakan semuanya pada kami. Aku penasaran dengan ucapan Maeri eonni.” Miyoung meminta ku bercerita tentang program diet ku.<br />
“ Aish… itu panjang, memangnya kau dan yang lainnya bersedia mendengarnya? Ceritanya lumayan panjang. Dan juga sekarang aku sangat mengantuk.” Jawabku sambil menguap.<br />
“ Sudahsanacepat masuk kamar.” Perintah Heechul oppa sambil mendorong-dorong lututnya pada punggungku.<br />
“ Hoam… aku duluan ya. Beritahu aku jika kalian memang bersedia mendengarnya.” Pamitku lalu melenggang menuju kamarku.<br />
Heera’s POV End<br />
~~~*****~~~<br />
Hari ini kakak beradik Kim itu sudah terlarut dalam ke sibukan masing-masing. Sejak pagi Heera sudah pergi entah ke mana, sedangkan Heechul sekarang sedang membahas kerja sama dengan Donghae.<br />
Kalian merasa ini terasa janggal? Tentu saja. Heechul di bidang kuliner sedangkan Donghae di perusahaan yang tidak ada sangkut pautnya dengan masak-memasak. Kali ini mereka sedang membahas persiapaan untuk pesta Lee corporation dan Applephard-lah yang menyiapkan hidangan pesta kali ini.<br />
Ponsel heechul bordering sesaat, ia pun langsung mengeluarkan ponselnya dan hanya berdecak antara kesal dan senang saat melihat MMS masuk pada ponselnya. Donghae hanya memandang heran pada hyung yang kini duduk di hadapannya itu.<br />
“ Wae hyung?”<br />
“ Heera, bisa-bisa nya dia mengirimkan MMS seperti ini.” sungut Heecul. Penasaran, Donghae pun langsung merebut ponsel dalam genggaman Heecul itu. beberapa saat kemudian Tawa Donghae meledak ketika ia melihat MMS yang dimaksud Hecchul.</p>
<p>From :: Ra-ya^^ gendut</p>
<p><img class="alignnone" title="yrgd" src="http://obizienka.files.wordpress.com/2012/01/260245_122437547842745_115040495249117_188539_4219040_nn.jpg?w=247&#038;h=372" alt="" width="247" height="372" /></p>
<p>Oppaaaa~ FIGHTING!!!<br />
Aku sekarang sedang bersama Jonghun^^</p>
<p>“ Hahahaha hyung, dia sudah bukan yeoja gendut lagi, kenapa kau tidak mengganti nama kontaknya di ponselmu?? Dan Jonghun? Mereka terlihat sangat akrab.” Donghae mengakhiri ucapannya dengan raut wajah heran.<br />
Heechul kembali menyambar Ponselnya, ia terdiam dan terfokus pada jemarinya sibuk berkutat di atas layar sentuh untuk membalas MMS adiknya<br />
To :: Ra-ya^^ gendut<br />
Ya!!! Foto mu jelek. Lain kali kirimkan foto mu yang sedikit terlihat cantik.<br />
Heechul pun memperlihatkan pesan yang dikirimnya pada Donghae yang kini ikut didik di sebelahnya. Donghae hanya mengulum tawa  Memperhatikan pesan anatara adik kakak abstrak ini.</p>
<p>From :: Ra-ya^^ gendut</p>
<p><img class="alignnone" title="bbnbn" src="http://obizienka.files.wordpress.com/2012/01/260245_122437547842745_115040495249117_188539_4219040_nnn.jpg?w=255&#038;h=372" alt="" width="255" height="372" /></p>
<p>Bagaimana?? aku cantik kan??<br />
Hahaha kena kau kim heechul XD<br />
Karena kau, hari ini aku meminta Jonghun untuk memotret ku beberapa kali. Dasar kau oppa yang merepotkan.</p>
<p>Donghae dan Heechul sama-sama tertegun melihat foto yang di kirim Heera. Neomu Yappeuda. Manis. Dan ternyata Jonghun yang mengambilkan gambar ini?.<br />
Hmm menarik. Pikir Heechul sambil tersenyum misterius sedangkan Donghae hanya memandang Heechul dengan tatapan heran.</p>
<p>~ TBC ~<br />
Note :: Namja itu adalah CHOI JONGHUN Ft.Island!!!! anggep aja tinggi badannya sepantaran sama Changmin yaa u,u<br />
Dan part ini sebenernya masih setengah jalan. ide ada tapi males nuangin /duagh<br />
tunggu aja part B nya yaaa…</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ffindo.wordpress.com/49724/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ffindo.wordpress.com/49724/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ffindo.wordpress.com/49724/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ffindo.wordpress.com/49724/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ffindo.wordpress.com/49724/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ffindo.wordpress.com/49724/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ffindo.wordpress.com/49724/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ffindo.wordpress.com/49724/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ffindo.wordpress.com/49724/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ffindo.wordpress.com/49724/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ffindo.wordpress.com/49724/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ffindo.wordpress.com/49724/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ffindo.wordpress.com/49724/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ffindo.wordpress.com/49724/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ffindo.wordpress.com&amp;blog=9871143&amp;post=49724&amp;subd=ffindo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ffindo.wordpress.com/2012/01/29/my-lovely-fat-part-7a/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4a30c6b59b9c09a41a67d3a1cc66267e?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">luciferain</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ffindo.files.wordpress.com/2012/01/mlf-6a.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">mlf-6a</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://obizienka.files.wordpress.com/2012/01/260245_122437547842745_115040495249117_188539_4219040_nn.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">yrgd</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://obizienka.files.wordpress.com/2012/01/260245_122437547842745_115040495249117_188539_4219040_nnn.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">bbnbn</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Seven Wishes &#8211; 1st Wish</title>
		<link>http://ffindo.wordpress.com/2012/01/29/seven-wishes-1st-wish/</link>
		<comments>http://ffindo.wordpress.com/2012/01/29/seven-wishes-1st-wish/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Jan 2012 03:48:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>leeyaaaa</dc:creator>
				<category><![CDATA[leeya]]></category>
		<category><![CDATA[SNSD]]></category>
		<category><![CDATA[Cn Blue]]></category>
		<category><![CDATA[lee jonghyun]]></category>
		<category><![CDATA[Yoona]]></category>
		<category><![CDATA[Supernova]]></category>
		<category><![CDATA[Park Geonil]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ffindo.wordpress.com/?p=49710</guid>
		<description><![CDATA[Title: Seven Wishes – 1st Wish Author: @Leeyaaaa Length: chaptered (1/?) Main Cast: Yoona SNSD as Im/Kim Yoona Geonil Supernova as Maiden (angel) Jonghyun CN Blue as Lee Jonghyun Minor Cast: Nana After School as Im/Kim Jin Ah Kibum Super &#8230; <a href="http://ffindo.wordpress.com/2012/01/29/seven-wishes-1st-wish/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ffindo.wordpress.com&amp;blog=9871143&amp;post=49710&amp;subd=ffindo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img title="cover" src="http://ffindo.files.wordpress.com/2012/01/cover2.jpg?w=584&#038;h=469" alt="" width="584" height="469" /></p>
<p>Title: Seven Wishes – 1st Wish</p>
<p>Author: @Leeyaaaa</p>
<p>Length: chaptered (1/?)</p>
<p>Main Cast:</p>
<ul>
<li>Yoona SNSD as Im/Kim Yoona</li>
<li>Geonil Supernova as Maiden (angel)</li>
<li>Jonghyun CN Blue as Lee Jonghyun</li>
</ul>
<p>Minor Cast:</p>
<ul>
<li>Nana After School as Im/Kim Jin Ah</li>
<li>Kibum Super Junior as Kim Kibum</li>
<li>TOP BigBang as Choi Seung Hyun</li>
</ul>
<p>Genre: fantasy, romance, family</p>
<p>Rate: PG 13</p>
<p>Note: ff ini terinspirasi dari 49 days, sama dongeng Aladin dan Lampu Ajaib. Hanya terinspirasi, tokoh sama jalan ceritanya beda, mennn</p>
<p><span id="more-49710"></span></p>
<p><em>Namaku Im Yoona, atau sejak tujuh tahun lalu berganti menjadi Kim Yoona. Gadis 21 tahun dengan kehidupan yang menyedihkan. Kenapa? </em></p>
<p><em>Pertama, aku bukan termasuk gadis seksi dengan wajah cantik yang digilai semua laki-laki. Aku hanya gadis tinggi ceking seperti tiang listrik, rambut gelombang yang kusut sehingga harus kuikat, dan mata minus yang tertutupi kacamata yang sama sekali tidak membuatku seperti anak pandai. Aku memiliki saudara kembar bernama Im Jin Ah. Jin Ah yang cantik, feminin, punya attitude baik, dan seorang super model. Semua orang, terutama ibuku, selalu memabanding-bandingkan kami. Apapun yang kulakukan tidak ada artinya dibanding apa yang dilakukan Ji Ah. Mereka tidak tahu kalau nenek sihir itu beertingkah menyebalkan di depanku.</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Kedua, keluargaku bukan terbilang yang harmonis. Orang tuaku berpisah saat aku berusia 8 tahun. Aku tidak tahu kenapa mereka berpisah, seingatku, mereka bertengkar hebat suatu malam. Ibuku mengusir ayah dari rumah. Sejak saat itu aku tidak pernah melihat beliau lagi. Aku benar-benar kehilangannya karena hanya ayahkulah yang memperlakukanku dan Jin Ah secara adil. Seringkali beliau berada di pihakku, tidak seperti umma yang selalu menyalahkanku dan membanding-bandingkanku dengan Jin Ah. Dan karena kejadian malam  itu, aku membenci ibu karena telah mengusir ayah tanpa alasan yang jelas.</em></p>
<p><em>Ketiga, aku memiliki otak pas-pasan yang selalu menyulitkanku. Saat usiaku 14 tahun, ibuku menikah lagi dengan duda yang memiliki anak laki-laki. Namanya Kim Kibum, dua tahun lebih tua dariku. Sebenarnya ia tidak menyebalkan. Ia tampan, apalagi saat tersenyum. Tipe orang yang tidak banyak bicara, bisa kuingat berapa kata yang ia ucapkan dalam sehari. Ia juga tidak peduli dengan keadaan sekitarnya, seperti hidup di dunianya sendiri. Ini yang kusuka. Berapa kali ayah tiri dan ibuku memuji otaknya yang cemerlang, lalu membandingkannya denganku, Kibum tidak mempedulikannya. Setidaknya itu lebih baik daripada sikap Jin Ah yang sok.</em></p>
<p><em>Di dunia ini tidak ada yang memperlakukanku dengan baik. Hanya ayah kandungku yang menyayangiku. Tapi toh aku tidak pernah bertemu dengannya lagi. Ah sebenarnya masih ada satu orang lagi. Lee Jonghyun, sahabatku sejak kecil. Di saat semua anak memilih berteman dengan Jin Ah kecil yang seperti putri, hanya Jonghyun yang mau berteman denganku. Katanya aku tidak seperti anak perempuan lain yang gemar menangis. </em></p>
<p><em>Yah..hanya Jonghyun yang peduli padaku. Kalau tidak ada anak bodoh itu, mungkin aku sudah gantung diri atau menegak 30 butir pil tidur. Oh, aku hampir lupa. Ada satu lagi yang membuatku bertahan. Idolaku, seorang aktor tampan dan berkharisma yang memiliki nama Choi Seung Hyun.</em></p>
<p><em>Hmm..memuakkan?  Ya, hidupku memang memuakkan. Kuharap aku menemukan lampu ajaib yang berisi makhluk gendut berwarna biru yang akan mengabulkan tiga permintaanku. Tuhan, besok hari ulang tahunku. Bisakah kau mengirimiku jin lampu ajaib itu?</em></p>
<p>7  &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p>Berisik. Kudengar suara alarm berdering nyaring di dekat telingaku. Kukerjapkan mata perlahan, mataku silau karena sinar matahari yang masuk  dari jendela dan pintu ke arah balkon yang terbuka lebar.  Aku menggeliat malas, menggapai alarm di meja samping tempat tidurku dan kemudian mematikannya dengan kasar. Tunggu. Alarm? Seingatku aku tidak pernah memiliki barang hina itu lagi sejak lulus sekolah. Dan bukankah semalam aku sudah menutup jendela dan pintu balkon? Kenapa bisa..</p>
<p>“Hei, kau manusia.”</p>
<p>Oh? Kudengar suara berat yang terdengar asing di telingaku. Setelah menyambar kacamata di dekat tempat tidur, aku  mengitarkan pandanganku. Aku terlonjak kaget saat menemukan sosok laki-laki tampan yang duduk di atas lemari pakaian. Hah? Bagaimana ia bisa naik ke tempat yang tinggi itu? Dan..hei! Siapa orang ini berani masuk ke kamarku?</p>
<p>“Yah! Kau siapa? Apa yang kau lakukan disini?” Aku turun dari tempat tidur dan berkacak pinggang. Menunjukkan padanya kemarahanku.</p>
<p>Laki-laki itu tertawa kecil. Dengan mudahnya ia melompat turun dari lemari dan dalam sekejap mata ia sudah berdiri di hadapanku.</p>
<p>“K..kau..bagaimana bisa?” tanyaku terbata tanpa bisa menutupi keherananku.</p>
<p>“Apa?”</p>
<p>“Yang kau lakukan tadi. Kau berpindah begitu cepat bahkan nampak seperti mm..menghilang?”</p>
<p>Ia membungkukkan badannya, mendekatkan wajahnya ke wajahku dan memandangi wajahku dengan ekspresi geli. Hei..aku baru sadar orang ini sangat tinggi.</p>
<p>“Nampak seperti menghilang kau bilang?”</p>
<p>Aku mengangguk seadanya. Entah apa yang lucu sampai membuatnya kemudian tertawa keras. “Bukan nampak seperti menghilang. Aku memang bisa menghilang, cantik.”</p>
<p>Cantik? Apa ia buta? Atau ia sedang meledekku? Atau mungkin ini hanya tata krama saat bertemu orang yang baru kau kenal?</p>
<p>“Jawaban yang terakhir. Aku ini malaikat yang tahu sopan santun.”</p>
<p>Apa? Ia bisa mendengar pikiranku? Ia bilang dirinya malaikat? Dan tadi ia berkata ia bisa menghilang? Huh? Lelucon apa ini?</p>
<p>“Kau pikir aku komedian?” katanya dengan gusar. Nah, benar ia bisa mendengar pikiranku.</p>
<p>“Tentu saja aku bisa mendengar pikiranmu. Dan aku memang bisa menghilang. Aku bisa melakukan apapun karena aku ini bukan manusia sepertimu. Aku ini malaikat.”</p>
<p>Malaikat? Ah kurasa orang ini terlalu banyak mengkhayal.</p>
<p>“Tsk. Akan kutunjukkan padamu.” Ucapnya kemudian tiba-tiba..menghilang? Kemana orang itu? Apa ini hanya halusinasiku?</p>
<p>“Tidak. Aku ini nyata.”</p>
<p>Aku menoleh ke belakang. Laki-laki aneh itu kini berada di belakangku. Belum selesai aku terheran-heran, ia sudah menghilang lagi.</p>
<p>“Hei, Im Yoona!” Aku menoleh ke arah balkon. Kulihat laki-laki itu bersandar di tralis pembatas dan melambai padaku.</p>
<p>“Kenapa bisa..”</p>
<p>Belum sampai aku menyelesaikan ucapanku, ia sudah menghilang. Lalu dalam hitungan detik, ia muncul lagi. Ia berbaring di atas tempat tidurku dan memamerkan cengiran jahil.</p>
<p>“Sudah kubilang aku ini malaikat. Apa kau perlu bukti lagi untuk percaya padaku?”</p>
<p>Tanpa sadar aku menggelengkan kepalaku. Memang sulit diterima akal sehat, tapi apa yang kulihat tadi cukup membuktikan kalau ia memang bukan manusia.</p>
<p>“Kau tidak takut padaku?”</p>
<p>“Takut? Apa aku harus takut padamu?” aku balik bertanya karena tidak mengerti apa yang ia bicarakan. Ia malaikat dan aku manusia. Jadi apa seharusnya aku takut? Aku tidak pernah berada dalam situasi seperti ini, jadi aku tidak tahu.</p>
<p>“Tidak juga. Jarang-jarang aku  bertemu dengan manusia sepertimu. Biasanya mereka berteriak ketakutan dan berlari meninggalkanku begitu melihat kekuatanku. Tapi kau masih diam mematung disitu.”</p>
<p>“&#8230;..”</p>
<p>Laki-laki itu tertawa lagi, aku juga tidak tahu kenapa. “Perkenalkan, namaku Maiden. Malaikat yang akan mengabulkan tujuh permintaanmu.”</p>
<p>“Kau..apa?”</p>
<p>“Kau tidak pernah mendengarnya?”</p>
<p>“&#8230;..”</p>
<p>“Malaikat-malaikat yang dibuang dari dunia atas karena kesalahan yang kami lakukan. Kami dihukum di dunia manusia untuk mengabulkan tujuh permintaan mereka. Kami hanya bisa kembali jika ada manusia yang merelakan satu permintaan mereka untuk mencabut hukuman kami. Tapi kurasa manusia tidak akan melakukan itu. Mereka, termasuk kau mungkin, hanya makhluk-makhluk serakah dan mementingkan diri mereka sendiri.”</p>
<p>Apa sih yang ia katakan? Otakku tidak bisa menerima penjelasan yang terlalu berat seperti ini. Please, jangan paksa aku berpikir banyak.</p>
<p>“Intinya aku datang untuk mengabulkan tujuh permintaanmu.” Kesalnya.</p>
<p>7 permintaan? Ia datang untuk mengabulkan keinginanku? Jadi ia Jin dari lampu ajaib? Tapi kenapa tidak mirip dengan jin di dongeng Aladin? Tidak gendut, tidak berwarna biru, dan..dimana lampu ajaibnya? Aku bahkan belum menggosok lampu itu. Bagaimana ia bisa keluar?</p>
<p>“Yah! Yah! Yah! Aku ini bukan jin. Sudah kubilang aku ini malaikat.”</p>
<p>Malaikat? Oke..baiklah kalau ia memang malaikat, dimana sayapnya? Kenapa pakainnya seperti manusia biasa? Ia sama sekali tidak mirip malaikat, kan?</p>
<p>Aku mengamati..siapa tadi namanya? Maiden? Ya, itulah. Aku mengamatinya dengan seksama. Rambut cokelat gelap hampir sebahu. Kacamata hitam. Jaket kulit hitam dengan kaos putih. Jeans abu-abu gelap. Sneaker putih dengan garis merah tua.</p>
<p>Ada lagi. Ia bicara bahasa Korea dari tadi. Memangnya semua malaikat hanya mengurusi orang-orang Korea? Yah! Apa orang aneh ini sedang mengerjaiku??</p>
<p>Pletak! Maiden memukul kepalaku dengan buku manajemen milikku yang cukup berat. Sakit..aigoo..sembarangan saja orang ini.</p>
<p>“Aku ini benar-benar malaikat. Memangnya kau hidup di jaman apa? Kenapa di pikiranmu masih ter-setting pikiran kuno tentang malaikat seperti itu?”</p>
<p>“Hah?”</p>
<p>“Kami ini juga tahu perubahan zaman. Sudah dari angkatan kakeknya kakeknya kakeknya kakeknya kakekku, malaikat beradaptasi dengan kehidupan manusia. Kami tidak lagi mengenakan sayap atau apapun itu. Aku sendiri tidak tahu kenapa kau bisa tahu.”</p>
<p>“Oh..”</p>
<p>“Dan tentang bahasa yang kugunakan, semua malaikat mengerti bahasa manusia. Apa perlu hal seperti ini ditanyakan? Aish..”</p>
<p>Oke. Itu masuk akal juga. Lagipula tadi ia sudah menunjukkan padaku sedikit kemampuan yang tidak mungkin dilakukan manusia. Tapi kenapa ia tiba-tba ada disini? Bukan hal normal yang biasa kau lihat jika seseorang yang mengaku malaikat tiba-tiba mendatangimu saat kau bangun tidur, kan?</p>
<p>“Aku datang karena kau yang meminta.”</p>
<p>“Aku?”</p>
<p>“Ya, tadi malam. Satu permintaan pertama tepat ketika detik pertama pergantian hari. Hari dimana masa hidupmu berkurang satu tahun menurut perhitungan manusia.”</p>
<p>“Mm..maksudmu ulang tahun?”</p>
<p>“Ya apalah itu namanya. Jangan berharap aku mengucapkan selamat. Apa yang perlu di selamati dari berkurangnya masa hidup? Dasar kalian para manusia memang aneh.”</p>
<p>Aku terkekeh lagi. Benar juga. Apa istimewanya jika umur hidupmu semakin berkurang?</p>
<p>“Tapi..” Aku menggantung kalimatku. Jujur, sebenarnya ini masih aneh bagiku. Apa ini nyata terjadi? Apa benar makhluk di hadapanku ini..</p>
<p>“Kalau kau masih tidak percaya, lebih baik aku pergi sekarang juga. Tujuh permintaanmu akan hangus begitu aku pergi.”</p>
<p>“A..apa? Andwaeyo! Kau tidak boleh pergi dari sini! Kau harus mengabulkan permintaan-permintaanku dulu! Kenapa kau sensitif sekali sih?”</p>
<p>Maiden tertawa lagi. Mungkin ia senang karena melihat tingkah panikku. “Oke. Sekarang pergi mandi.”</p>
<p>“Apa?”</p>
<p>“Dari semua manusia yang pernah kutemui, kaulah yang paling berantakan dan bau. Cepat pergi!”</p>
<p>“Tidak mau. Nanti kau kabur. Setidaknya kau harus mengabulkan satu permintaanku dulu sebelum pergi.”</p>
<p>Brak! Aku merasa tubuhku terdorong dengan cepat ke toilet dan pintu di depanku tertutup tiba-tiba.</p>
<p>“Yah!” Aku hendak membuka pintu toilet tapi pintu itu terkunci sendiri dan aku tidak bisa membukanya dari dalam.</p>
<p>“Aku tidak akan kabur. Aku hanya tidak mau melayani manusia bau dan berantakan.”</p>
<p>Oke, kau menang. Dasar menyebalkan. Tapi..ia malaikat tampan! Ia akan mengabulkan 7 permintaanku! Oh ini bahkan lebih baik dari jin gendut milik Aladin yang tidak tampan dan hanya mengabulkan 3 permintaan. Haha..apa yang akan kuminta nanti ya? Apa aku harus menulis daftarnya? Yang pertama aku harus meminta apa? Bagaimana kalau..</p>
<p>“Kuhitung sampai tiga, kalau kau tidak mandi juga, aku yang akan memandikanmu!”</p>
<p>Apa?? Yah! Dasar otak mesum! Bagaimana bisa ada malaikat pervert seperti itu? Wajahnya boleh tampan tapi kalau..</p>
<p>“Satu.”</p>
<p>Kalau bukan karena kau akan mengabulkan permintaanku, sudah kutendang kau dari kamarku.</p>
<p>“Dua..”</p>
<p>“Oke, oke, aku mandi! Cih..dasar.”</p>
<p>7  &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p>Aku menggulung lengan kemejaku. Setelahnya, kupasang kacamata yang biasa membantu penglihatan kaburku. Saat melihat pantulan diriku di cermin, senyum kecut otomatis terbentuk. Aku ini sudah mandi tapi tetap saja berantakan. Coba kusisir rambutku dulu. Krek. Sisir bodoh itu terbelah menjadi dua bagian. Bagus. Ini adalah sisir ke-237 yang kupatahkan. Tidak perlu disisir. Langsung saja kuikat. Toh hasilnya sama saja. Nah, begini lebih baik sepertinya. Sudahlah, lebih baik aku segera keluar dan menemui tuan malaikat tadi. Ia harus mengabulkan satu permintaanku.</p>
<p>Aku keluar dari toilet sambil bersenandung kecil. Dimana Maiden? Mataku menelusuri seluruh sudut kamar, dan&#8230;Jonghyun? Kenapa anak ingusan ini yang ada di kamarku?</p>
<p>“HAPPY BIRTHDAY!” ucap Jonghyun dengan nada riang dan senyum mengembang lebar. Ia menunjukkan satu kotak kecil berwarna biru gelap di tangan kanannya.</p>
<p>“Aku punya hadiah istimewa untuk gadis istimewa.” Tambah Jonghyun.</p>
<p>Aku menatap sekilas kotak hadiah itu. Saat ini aku tidak berminat pada hadiah –yang menurut Jonghyun istimewa- itu.</p>
<p>“Yah! Ini hadiah mahal. Aku sudah susah payah menabung untuk hadiah ini.”</p>
<p>Aku tidak mempedulikan ucapan Jonghyun. Maiden dan 7 permintaanku lebih menarik daripada hari ulang tahunku, hadiahku, atau apapun itu. hm..kemana malaikatku tadi?</p>
<p>“Aku disini. Di atas lemari.”</p>
<p>Aku mendongak sedikit. Benar saja, Maiden duduk bersila di atas lemariku dengan memamerkan cengirannya. “Cepat turun. Kenapa kau senang berada disana, sih?”</p>
<p>“Apa?” sahut Jonghyun. Aku melihat ke arahnya, lupa kalau ia ada di tempat ini. Sempat aku melihatnya melempar dengan asal kotak biru tadi ke arah belakangnya. Katanya mahal? Kenapa membuang sembarangan begitu? Pasti isinya hanya barnag-barang tidak mutu seperti tutup botol atau sedotan bekas.</p>
<p>“Kau bicara dengan siapa tadi?” ulang Jonghyun</p>
<p>“Itu.” Aku menunjuk ke arah Maiden berada, bermaksud untuk memperkenalkan Maiden padanya. “Yang di atas itu. Ia Mai..”</p>
<p>“Tidak ada manusia lain yang bisa melihatku kecuali kau saat ini.” Maiden memotong pembicaraanku, membuatku mendadak diam.</p>
<p>“Di atas mana? Siapa?” bingung Jonghyun. Aku hanya menggeleng. Kalau ia tidak bisa melihat malaikat itu, tidak ada gunanya aku mengatakan padanya tentang Maiden. Bisa-bisa Jonghyun mengira aku ini sudah tidak waras.</p>
<p>“Memangnya kau waras?” canda Maiden membuatku mendadak melotot.</p>
<p>“Tapi kau terlihat tidak waras untukku.” Tambah Maiden lagi membuatku semakin melotot.</p>
<p>“Yah! Aku ini waras!”</p>
<p>“Mwo? Yah, Im Yoona! Kau sudah gila ya?” sekarang ganti Jonghyun yang mengataiku gila. Ini pasti karena ia mengira aku berbicara sendiri. Dasar malaikat itu.</p>
<p>“Kau yang gila. Bagaimana bisa laki-laki masuk ke kamar perempuan? Bawa-bawa kotak tidak jelas lagi. Sudah sana keluar!”</p>
<p>Jonghyun menatapku aneh. “Ini bukan yang pertama aku masuk ke kamarmu. Dari kecil aku juga sudah keluar masuk kamar berantakan ini, bodoh. Tentang kotak itu..aigoo..menyesal aku membuang uangku untuk anak sepertimu.”</p>
<p>Oh shit. Sepertinya memang benar aku yang tidak waras. Aku lupa hal itu. Tentu saja ia sudah terbiasa masuk kemari. Kami bukan baru kenal kemarin, kan? Kami sudah bersahabat dari kecil. Im Yoona kau ini payah sekali.</p>
<p>“Aish..sudahlah. Sana keluar. Aku tidak mau kau melakukan hal mesum padaku.”</p>
<p>“Mworago?” Jonghyun memasang ekspresi ingin muntah karena ucapan asalku. Ia melempar dua bantal tepat ke wajahku secara berurutan.</p>
<p>“Yah!”</p>
<p>“Jangan bermimpi. Motorku berkali-kali lipat lebih seksi dari tubuh kerempengmu.”</p>
<p>Jonghyun berjalan melewatiku dengan tampang tanpa dosa. Aku balas melempar bantal-bantal tadi ke arahnya, tapi ia lebih dulu menutup pintu. Tak lama, kepalanya menyembul lagi dari balik pintu.</p>
<p>“Tidak kena ya? Haha..”</p>
<p>Aku  berdecak sambil membenahi letak kacamataku yang miring gara-gara lemparan bantal Jonghyun tadi.</p>
<p>“Ayo turun.” Kata Jonghyun lagi.</p>
<p>“Kau duluan saja, ada yang harus kulakukan.” Aku ingin menagih satu permintaan pada Maiden. Aku sudah tidak sabar lagi ingin membuktikan omongan si malaikat.</p>
<p>“Apa sih yang mau kau lakukan? Berdandan lagi? Kau sudah cantik begitu. Jangan aneh-aneh seperti gadis genit kebanyakan. Hah..perempuan zaman sekarang. Suka sekali berlama-lama di depan kaca, mengacak—acak isi lemari, bolak-balik memilih sepatu, me.. ”</p>
<p>“Aku tidak mau berdandan. Kau cerewet sekali, sih. Persis seperti bebek kelaparan.”</p>
<p>“Cerewet katamu? Heh tiang listrik, aku ini hanya tidak mau kau dimarahi ibumu. Kenapa kau malah mengataiku bebek kelaparan?”</p>
<p>“Karena kau cerewet dan berisik seperti bebek tidak dapat makan. Sudah cepat pergi. Atau mau kulempar ini..” kulepas sepasang sandal rumah dari kakiku dan kuacungkan ke depan untuk mengancamnya.</p>
<p>“Oke, oke. Awas kalau kau kena marah jangan salahkan aku.”</p>
<p>“Iyaaaa..” kututup pintu dengan segera. Dasar Jonghyun itu. Ia laki-laki apa perempuan sih? Mulutnya itu bisa bicara sampai berbusa.</p>
<p>“Tapi hanya manusia itu yang mau bersahabat denganmu.”</p>
<p>Aku melirik sadis pada Maiden. Ya ya..benar. Hanya Jonghyun yang berlaku baik padaku. Meskipun terkadang ia membuatku pusing, tapi aku bersyukur memiliki sahabat sepertinya. Cukup dengan Jonghyun. Bukankah aku harus menagih janji pada Maiden?</p>
<p>“Aku sudah mandi. Jadi kau harus mengabulkan permintaan pertamaku.”</p>
<p>“Ehm.” Maiden yang semula berada di atas lemari, tiba-tiba berdiri di hadapanku. Wow, pemandangan seperti ini masih menakjubkan untukku.</p>
<p>“Tapi sebelumnya ada yang harus kuberitahu padamu. Seperti yang kubilang, kau punya 7 kesempatan. Cukup banyak sebenarnya, tapi bagi beberapa manusia yang kutemui, itu terlalu sedikit. Aku tidak tahu denganmu, tapi kusarankan pergunakan baik-baik setiap kesempatan yang kau miliki karena aku tidak akan memberi permintaan ekstra.”</p>
<p>Aku mengangguk-angguk tidak jelas. Sudah kubilang, otakku ini memiliki kapasitas terbatas.</p>
<p>“Intinya sebelum mengatakan permintaanmu kau harus berpikir dulu.” Maiden mendengus kesal. Ah ya, ia kan bisa membaca pikiranku. Aku tertawa polos, sedikit malu pada malaikat ini.</p>
<p>“Ada lagi. Aku akan mengabulkan semua permintaanmu kecuali yang menyangkut perubahan fisik dan perasaan seseorang. Aku juga tidak bisa membawamu kembali ke masa lalu atau bertemu dengan orang yang telah meninggal. Kesempatanmu akan hilang satu jika kau secara tidak sengaja meminta hal-hal itu. Jadi berhati-hatilah, karena mulai sekarang, apapun yang kau katakan padaku akan kuwujudkan tanpa pikir panjang. Karena biar bagaimanapun..mm..” Maiden tiba-tiba memainkan kacamatanya. “..malaikat tidak boleh mencampuri urusan manusia.”</p>
<p>Aku menggaruk tengkukku. Madiden ini bicara apa? Tidak ada yang bisa kutangkap dari pidato panjangnya tadi. Kenapa aku jadi merasa ia tidak ada bedanya dengan Jonghyun ya? Sama-sama cerewet.</p>
<p>“Aish..dasar, kau..” Maiden mengerucutkan bibirnya. Haha..kalau seperti ini ia jadi semakin mirip dengan Jonghyun.</p>
<p>“Aku lebih tampan dari manusia itu. Enak saja kau menyama-nyamankan kami.”</p>
<p>Aku memandangi Maiden dari bawah ke atas. Ya..benar juga. Dari 1 sampai 10, kuberi nilai maksimal untuk Maiden dan 8,98765 untuk Jonghyun. Maiden memang lebih keren, apalagi ia bisa mengabulkan permintaanku. Hihi..</p>
<p>“Nah, begitu baru benar. Jadi, apa yang kau inginkan untuk permintaan pertamamu?”</p>
<p>“Mm..apa ya..” Aku mengetuk-ketukkan jari-jariku ke dagu. Memikirkan satu hal yang menyenangkan. Ah kurasa aku menemukan satu. Blueberry cheese cake! Aku sudah lama ingin makan itu.</p>
<p>“Aku ingin blueberry che..hmphh..” Maiden menutup mulutku dengan telapak tangannya. Ia memutar bola matanya. Sepertinya ia kesal lagi padaku. Memangnya permintaanku ini terlalu sulit ya? Jangan-jangan ia tidak punya uang untuk membelinya.</p>
<p>“Mwoya..aish..” Maiden mendelik padaku. “Kau yakin hanya meminta itu?”</p>
<p>Aku mengangguk semangat. Aku ingin sekali memakan kue itu. Itu adalah kue yang sering dibelikan ayah untukku setiap pulang kantor. Kue yang hanya diberikan untukku, bukan untuk Jin Ah.</p>
<p>“Omong kosong. Manusia itu serakah dan tega berbuat kejahatan tapi kenapa sangat mudah tersentuh hal-hal kecil.” Oceh Maiden yang hanya kujawab dengan tatapan ‘Mana kutahu, jangan bertanya hal rumit padaku.’</p>
<p>“Oke. Ini permintaanmu yang pertama. Jangan protes setelah aku mengabulkannya.”</p>
<p>Aku mengangguk sekali lagi. Kali ini lebih semangat dari sebelumnya. Maiden yang semula memasang ekspresi garang, kini tertawa lagi.</p>
<p>“Hmmph hmpphh.” Ucapku tidak jelas sambil menunjuk setengah wajahku yang tertutup telapak Maiden yang lebar.</p>
<p>“Iuhh..”</p>
<p>Maiden menarik tangannya dengan cepat lalu mengibas-kibaskan. Memasang raut jijik seolah aku ini habis menjilati telapaknya. Cih..</p>
<p>“Yah! Kau ja..” ucapanku terpotong dering ponsel dari dalam tas ku. Kuraih tas di atas meja belajar lalu mengaduk-aduk isinya untuk mencari ponsel. Astaga dimana ponsel berisik ini.</p>
<p>“Itu dari Jonghyun. Ia menyuruhmu cepat turun karena ibumu sudah mengomel.”</p>
<p>“Sok tahu.” gumamku asal. Begitu menemukan ponselku, kubuka pesan masuk yang terpampang di layar. Benar yang diucapkan Maiden. Itu pesan singkat dari Jonghyun.</p>
<p>“Sok tahu atau memang tahu?” sombong Maiden diikuti kekehannya.</p>
<p>Aku berdecak. “Aku harus turun sebelum umma datang kemari dan memarahiku. Kau, ingat, aku sudah mengucapkan permintaanku. Kau harus mengabulkannya.”</p>
<p>“Ara. Sana turun.”</p>
<p>“Kapan kau akan mengabulkan permintaanku?”</p>
<p>“Aku sudah mengabulkan permintaanmu dari tadi.”</p>
<p>“Eh? Bercanda. Mana? Aku tidak melihatnya.”</p>
<p>“Kau akan melihatnya setelah turun ke ruang makan.”</p>
<p>“Yah! Jangan mencoba menipuku. Kau pasti..”</p>
<p>“Kau mau dimarahi ibumu atau kupukul lagi dengan buku tebal itu?”</p>
<p>“Oke, oke. Senang sekali sih mengancam.” Kukalungkan tas kemudian berlalu meninggalkan Maiden. Sampai di ambang pintu, aku memutar tubuhku lagi. “Kau yakin bluebe..”</p>
<p>Aku bergidik ngeri dan langsung berjalan keluar kamar. Maiden sudah mengangkat dua buku tebal di tangannya untuk dilempar ke arahku tadi. Hrr..mengerikan.</p>
<p>7  &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p>Aku menarik kursi lalu mendudukinya dengan hati-hati. Rasanya mengerikan dipandangi lima pasang mata begitu. Ralat, tiga pasang, Jonghyun dan Kibum tidak termasuk. Ayah tiri dan ibuku dengan tampang masam, serta Jin Ah dengan raut sok baik dan sok perhatian yang membuatku ingin memukulnya.</p>
<p>“Kalau sudah waktunya sarapan ya segera turun. Kau selalu turun ke ruang makan paling akhir. Apa kami harus selalu menunggumu terus baru bisa makan? Apalagi ini hari ulang tahunmu dan Jin Ah. Kasihan Jin Ah menunggumu lama padahal ini hari istimewanya.”</p>
<p>Yah! Ini juga hari istimewaku. Hrrggh menyebalkan. Kalau mau makan duluan ya sudah makan saja. Siapa suruh mempertahankan tradisi keluarga dari nenek moyang atau apalah. Tidak penting.</p>
<p>“Yoona..Yoona. Mau jadi apa kau nanti? Kasihan suamimu nanti kalau punya istri malas sepertimu. Sudah berantakan, tidak bisa berdandan, tidak bisa memasak, pemalas pula.”</p>
<p>“Lihat Jin Ah. Ia yang selalu turun lebih awal dan membantuku menyiapkan sarapan. Suaminya nanti pasti senang punya istri yang rajin dan cantik sepertinya. Kalian ini kembar tapi kelakuannya benar-benar berkebalikan.”</p>
<p>“Jangan begitu umma. Aku tidak mau Yoona sedih.”</p>
<p>Mwo? Dasar siluman rubah. Mulutnya sih manis tapi menyemburkan racun.</p>
<p>“Jin Ah sayang..hatimu lembut sekali. Kau memang putri umma yang paling cantik dan baik hati.”</p>
<p>Cuiihhh. Aku membalik piring dengan emosi. Lalu mengambil dua lembar roti lalu mengoleskan selai kacang dengan kasar. Sampai-sampai roti sobek dan tidak berbentuk lagi. Bahkan, karena kesal, aku tidak snegaja menjatuhkan pisau ke atas piring sehingga menimbulkan bunyi berisik.</p>
<p>“Itu. Itu yang umma maksud. Peringai Yoona kasar sekali. Anak gadis kelakuannya mengerikan begitu.”<br />
“Jangan didengarkan.” Bisik Jonghyun yang duduk di sampingku. Ia tersenyum lembut padaku. Tanpa berkata lagi, ia menukar roti dengan selai yang masih utuh di piringnya dengan piringku. Lalu mengambil roti di tanganku yang tidak karuan bentuknya.</p>
<p>“Makan.” Katanya lagi. Aku semula kesal pada umma, sekarang membalas senyum Jonghyun. Seharusnya aku tidak perlu mendengarkan omelam umma.</p>
<p>“Bagaimana kuliahmu, Yoona?” tanya ayah tiriku dengan tiba-tiba. Oh astaga. Aku tidak jadi makan kalau begini caranya.</p>
<p>“Appa bertemu salah satu dosenmu kemarin. Beliau bilang nilai kuismu paling buruk dari semua kelas yang diajarnya.”</p>
<p>Aku mengangguk lemas. Lagi-lagi seperti ini.</p>
<p>“Kim Yoona, aigoo.. “</p>
<p>Kim Yoona? Enak saja. Sampai kapanpun aku tetap Im Yoona. Dan lagi, siapa yang mau memanggilnya appa? Jangan bermimpi, Tuan Kim.</p>
<p>“Sebenarnya apa yang kau lakukan selama ini? Jangan banyak keluar, belajar di rumah. Contoh Kibum. Ia tidak perlu waktu lama untuk belajar tapi selalu bisa mendapat nilai tertinggi.”</p>
<p>Karena pada dasarnya Kibum sudah cerdas. Kalau aku bisa memilih, aku juga ingin dilahirkan dengan otak sepertinya. Aku melirik laki-laki berambut hitam gelap di seberangku yang ternyata juga sedang melihatku. Ia mendengus, mungkin tidak suka jika namanya dibawa-bawa dan disangkut pautkan denganku.</p>
<p>“Atau setidaknya seperti Jin Ah. Nilainya cukup baik. Kau seharusnya meniru mereka. Jangan meniru Jonghyun yang nilainya juga tidak karuan itu.”</p>
<p>Jonghyun tersedak begitu namanya disebut. Aku meliriknya, agak merasa tidak enak hati karena ia disalahkan ayah tiriku.</p>
<p>“Bertemanlah dengan anak-anak yang pandai atau berbakat. Ini malah berteman dengan anak berandalan dan..”</p>
<p>“Kita berangkat.” Kataku pada Jonghyun.</p>
<p>Tanpa mempedulikan omelan umma, aku menarik bagian belakang kerah Jonghyun. Aku tidak suka kalau ada yang menjelek-jelekkannya. Memang siapa ayah tiriku itu berani mengaturku?</p>
<p>“Hei..” Jonghyun melepaskan dirinya dari seretanku. Kemudian mengalungkan lengannya pada bahuku.</p>
<p>“Tidak perlu marah begitu. Aku tidak akan tersinggung hanya karena hal sepele begitu.”</p>
<p>“Jangan percaya diri. Aku hanya tidak tahan dengan ocehan tidak penting mereka. Sudah ayo berangkat.”</p>
<p>Aku berjalan mendahuluinya. Sampai di depan pintu, aku berhenti mendadak dan membuat Jonghyun menabrakku dari belakang.</p>
<p>“Apa itu?” tanya Jonghyun yangjuga melihat kotak yang kulihat. Sebuah kotak ukuran sedang yang tergeletak di lantai. Di sudut kotak putih itu terdapat pita merah muda serta surat di bagian tengah. Wow..apa ini hadiah untukku? Atau jangan-jangan untuk Jin Ah.</p>
<p>“Sini lihat.” Jonghyun merebut surat yang tadi kulepas dari perekatnya dan pita. Matanya membulat saat membaca surat itu lalu memandangku takjub.</p>
<p>“Untukmu! Kau dapat ucapan selamat ulang tahun dan hadiah selain dariku!”</p>
<p>Astaga..apa perlu ia bersikap berlebihan begitu? Membuatku terlihat menyedihkan saja.</p>
<p>“Cepat buka. Aku curiga ini hanya jebakan. Jangan-jangan isinya ular mainan atau barang-barang  tidak jelas.”</p>
<p>“Hanya kau yang memberiku barang-barang tidak bermutu begitu.” Ledekku membuat Jonghyun mengerucutkan bibirnya.</p>
<p>“Aku memberimu hadiah mahal tadi.”</p>
<p>“Mana mungkin.”</p>
<p>Aku membuka kotak itu. Mataku pasti berbinar seperti di kartun-kartun saat melihat isi kotak ini.</p>
<p>“Blueberry cheese cake!” kataku dan Jonghyun bersamaan.</p>
<p>“Daebak..yang memberimu hadiah tahu kalau kau suka kue ini.”</p>
<p>Oh ya? Ia tahu karena aku yang memberi tahu.</p>
<p>“Hmm..aku ingin mencicipi. Bolehkah?”</p>
<p>Aku menutup kotak itu lagi. Hanya menggoda Jonghyun, haha. Benar saja, ia menunjukkan raut masamnya lalu berlalu meninggalkanku.</p>
<p>“Dasar pelit. Sudah ayo cepat berangkat.”</p>
<p>Aku terkekeh. Dengan membawa kotak itu, aku menyusul Jonghyun. Sebelum naik ke atas motor sportnya, aku mendongak ke balkon kamarku. Maiden tersenyum padaku sambil melambai-lambaikan kacamatanya.</p>
<p>“Terima kasih.” Kataku tanpa suara.</p>
<p>“Kau melihat apa?” tanya Jonghyun yang kubalas dengan gelengan. Aku lalu naik ke motor dan melambai pada Maiden diam-diam.</p>
<p>7  &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p>Dalam perjalanan, ponselku bergetar. Dengan agak kesusahan aku mengeluarkan ponsel dari tasku. Aneh. Pesan masuk dari nomor +0000000000</p>
<p><em>Permintaan pertama sudah kukabulkan. Untuk permintaan kedua, tolong gunakan untuk hal yang lebih menarik. Jangan terlalu polos! <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </em></p>
<p>Ehm? Dari Maiden? Malaikat sekarang sangat canggih ternyata. Haha..</p>
<p>Hmm..apa yang harus kuminta nanti ya.. Sesuatu yang lebih menarik?</p>
<p>“Oh!” Spontan aku menunjuk billboard dengan foto Choi Seung Hyun oppa. Ah..aku tahu apa yang harus kuminta!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tbc -</p>
<p><em> </em></p>
<p>Nb:</p>
<p>Tadinya cerita ini mau aku jadiin oneshot terus dikirim buat ikutan lomba di salah satu blog. Tp karena ga mungkin jd oneshot, akhirnya aku posting disini dengan cast beda.</p>
<p>Btw, semua cast cowoknya itu fav sy di masing2 BB..haha.</p>
<p>Yg masih inget alexandrite, kira2 banyak ga sih yg nungguin? Kalo masih lmyn, rencananya mau aku lanjutin. Hehe..</p>
<p>Part 2 ff ini bakal lama, seperti biasa ._.v jadi tlg sabar ya kalo penasaran *pede *ditimpuk</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ffindo.wordpress.com/49710/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ffindo.wordpress.com/49710/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ffindo.wordpress.com/49710/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ffindo.wordpress.com/49710/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ffindo.wordpress.com/49710/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ffindo.wordpress.com/49710/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ffindo.wordpress.com/49710/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ffindo.wordpress.com/49710/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ffindo.wordpress.com/49710/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ffindo.wordpress.com/49710/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ffindo.wordpress.com/49710/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ffindo.wordpress.com/49710/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ffindo.wordpress.com/49710/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ffindo.wordpress.com/49710/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ffindo.wordpress.com&amp;blog=9871143&amp;post=49710&amp;subd=ffindo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ffindo.wordpress.com/2012/01/29/seven-wishes-1st-wish/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>26</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/70fa147df07fad97161a6b0e5415db97?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">leeyaaaa</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ffindo.files.wordpress.com/2012/01/cover2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">cover</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>The Baby is Mine (Chapter 3)</title>
		<link>http://ffindo.wordpress.com/2012/01/29/the-baby-is-mine-chapter-3-2/</link>
		<comments>http://ffindo.wordpress.com/2012/01/29/the-baby-is-mine-chapter-3-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Jan 2012 20:43:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kimraemi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kim_Raemi]]></category>
		<category><![CDATA[Cho Ahra]]></category>
		<category><![CDATA[Cho kyuhyun]]></category>
		<category><![CDATA[kyuhyun]]></category>
		<category><![CDATA[Park Mirae]]></category>
		<category><![CDATA[Super Junior]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ffindo.wordpress.com/?p=49706</guid>
		<description><![CDATA[Title             : The Baby is Mine Author         : Serra Song &#38; Park Mita Main Cast    : Park Mirae, Cho Kyuhyun Rating         : PG 15 Genre         : Romance &#160; &#160; London University, &#8230; <a href="http://ffindo.wordpress.com/2012/01/29/the-baby-is-mine-chapter-3-2/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ffindo.wordpress.com&amp;blog=9871143&amp;post=49706&amp;subd=ffindo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ffindo.files.wordpress.com/2012/01/the-baby-is-mine-3.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-49704" title="the baby is mine 3" src="http://ffindo.files.wordpress.com/2012/01/the-baby-is-mine-3.jpg?w=584&#038;h=438" alt="" width="584" height="438" /></a></p>
<p>Title             : The Baby is Mine</p>
<p>Author         : Serra Song &amp; Park Mita</p>
<p>Main Cast    : Park Mirae, Cho Kyuhyun</p>
<p>Rating         : PG 15</p>
<p>Genre         : Romance</p>
<p><span id="more-49706"></span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>London University, Islington London</strong></p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Kyuhyun pov</span></p>
<p><em>Time to choose&#8230;</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“<em>Hyung&#8230;</em> tenanglah! <em>Everything’s gonna be fine</em>,” ucap Lee Jinki, salah satu juniorku di kampus.</p>
<p>“<em>I hope so&#8230;</em>,” ucapku tidak yakin.</p>
<p>Saat ini aku akan menghadapi ujian sidang kelulusanku di <em>London University</em> dan sidang kali ini terbuka untuk umum. Aku benar-benar tegang menghadapi sidang  nanti, di tambah lagi aku belum melihat Mirae yang berjanji akan datang untuk menyaksikan sidang kelulusanku hari ini.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Flashback</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“<em>Mirae-ya</em> apa hari kamis depan kau sibuk?” tanyaku pelan saat dia sedang berkutat dengan artikel keuangannya.</p>
<p>Mirae sedikit mendongakkan wajahnya dari <em>notebook</em> kemudian menatapku.</p>
<p>“<em>Wae</em>?”</p>
<p>“<em>Aniyo&#8230;</em> kalau kau tidak sibuk, maukah kau datang untuk melihat ujian sidang kelulusanku?” tanyaku penuh harap padanya.</p>
<p>“Bukankah kau baru akan lulus awal tahun depan?” tanyanya sedikit bingung.</p>
<p>“Seharusnya begitu, tapi karena nilaiku selama ini bagus, aku bisa menyelesaikan kuliahku beberapa bulan lebih cepat,” ucapku sedikit bangga.</p>
<p>“<em>Jinjja</em>? Aku tidak menyangka ternyata kau pintar juga, kau benar-benar penuh kejutan Cho Kyuhyun!” ucapnya takjub padaku.</p>
<p>“Tapi&#8230; untuk apa aku datang ke ujian sidang kelulusanmu?” tanyanya lagi.</p>
<p>“Itu&#8230; itu agar kau tau bahwa kau tidak akan merasa rugi karena telah membiayaiku, setidaknya ini sebagai ucapan terima kasihku padamu,” ucapku gelagapan.</p>
<p>Sebenarnya itu hanya alasan saja agar dia bersedia datang ke ujian sidang kelulusanku. Alasan sebenarnya adalah aku ingin Mirae menjadi bagian dari saat-saat penting dalam hidupku.</p>
<p>Aku ingin dia melihatku melewati hal penting ini dan menyadari bahwa aku bisa menjadi laki-laki yang pantas untuknya.</p>
<p>Mirae terllihat sedang mempertimbangkan sesuatu dan aku hanya bisa memandanginya dengan cemas. Jika dia menolak untuk datang, kurasa sidangku akan langsung tamat saat itu juga.</p>
<p>“Ok! Aku akan datang.”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Flashback end</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“<em>Ya</em>! <em>Marcus Cho</em>!!” teriak seseorang menghampiriku dan Jinki.</p>
<p>“Kenapa kau datang terlambat?” ucapku lega melihat seseorang yang daritadi kutunggu telah tiba.</p>
<p>Mirae menjitak kepalaku.</p>
<p>‘<em>Aish! Kenapa dia suka sekali menjitakku? Kepalaku bisa botak nanti!</em>’</p>
<p>“Masih untung aku mau datang, apa kau tau di jalan macet sekali? Aku ini ibu hamil!” omelnya kencang padaku.</p>
<p>“<em>Arasseo&#8230;</em> maafkan aku, tapi aku senang sekali kau benar-benar datang,” ucapku tersenyum bahagia sambil mengelus rambutnya.</p>
<p>“<em>Hyung</em> sebaiknya kau masuk ke dalam, giliranmu sebentar lagi,” ucap Jinki.</p>
<p>“Baiklah kalau begitu aku masuk dulu, <em>Jinki-ya</em> tolong jaga Mirae sampai aku selesai ujian,” ucapku pada Jinki.</p>
<p>Dan saat aku akan berbicara pada Mirae, tiba-tiba saja dia memelukku.</p>
<p>“<em>Kyuhyun-ah</em> berusahalah! Aku yakin kau pasti berhasil!” ucapnya sambil melepaskan pelukannya.</p>
<p>“Dan jangan membuatku malu karena memiliki kekasih yang gagal ujian, <em>arasseo</em>?!” ucapnya lagi sambil tersenyum padaku.</p>
<p>Aku membalas senyumnya dan menatap Mirae dengan penuh keyakinan.</p>
<p>“Aku tidak akan mengecewakanmu, <em>mam</em>!”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..2 hours later&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“<em>Hyung</em>, kau tadi hebat sekali, aku yakin kau akan mendapatkan <em>GPA</em> tertinggi semester ini,” ucap Jinki sambil memelukku sesaat setelah aku menyelesaikan ujianku.</p>
<p>“Kau terlalu berlebihan <em>Jinki-ya</em>, nilaiku baru akan keluar besok,” jawabku menanggapi ucapannya sambil mencari-cari seseorang.</p>
<p>Sebenarnya aku berharap Mirae lah orang pertama yang kutemui setelah aku menyelesaikan ujianku. Dampak kehadirannya benar-benar mempengaruhi jalannya ujian sidang kelulusanku. Aku bahkan tidak pernah merasa setenang dan se-<em>confident</em> ini dalam menghadapi sesuatu.</p>
<p>“Dimana Mirae?” tanyaku pada Jinki.</p>
<p>“Ah&#8230; Mirae <em>noona</em> sedang membeli minuman, dia menyuruh kita untuk menunggu disini,”</p>
<p>“Lalu, apa rencanamu selanjutnya <em>hyung</em>? Apakah kau akan kembali ke Korea dan menerima tawaran itu?” tanya Jinki tiba-tiba.</p>
<p>“Entahlah&#8230; aku juga tidak tau. Kandungan Mirae sudah memasuki usia tujuh bulan, aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja. Lagipula aku juga tidak mau kembali ke Korea tanpa membawa Mirae bersamaku,” ucapku muram.</p>
<p>“Tapi bukankah perjanjian kalian akan berakhir saat <em>hyung</em> lulus kuliah dan saat Mirae <em>noona</em> melahirkan anaknya?”</p>
<p>Jinki merupakan satu-satunya orang yang mengetahui hubunganku yang sebenarnya dengan Mirae.</p>
<p>“Dan apakah hyung tidak merasa sayang menolak tawaran pekerjaan  di Korea itu? Bekerja di perusahaan itu adalah impian setiap arsitek muda seperti kita walaupun konsekuensinya kau harus meninggalkan London dan kembali ke Korea,” ujarnya panjang lebar.</p>
<p>“Aku tau Lee Jinki, tapi Mirae sedang mengandung anakku dan aku mencintainya. Walaupun dia menolakku dan tidak membutuhkanku tapi aku membutuhkan Mirae dan bayi kami, mereka sudah menjadi tanggung jawabku,” ucapku sedikit frustasi.</p>
<p>Jinki hanya menepuk-nepuk punggungku dengan raut wajah prihatin.</p>
<p>“Jadi, apakah <em>hyung</em> akan meminta hak sebagai ayah dari bayi yang di kandung Mirae <em>noona</em>?” tanyanya prihatin.</p>
<p>“Ya, aku akan melakukannya,” ucapku tidak yakin.</p>
<p>“Tapi bagaimana jika Mirae <em>noona</em> menolak?” tanya Jinki lagi.</p>
<p>“Aku akan melakukan segala cara.”</p>
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;">###</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Privet Drive Apartement, Fulham London</strong></p>
<p><em>A Disapprove&#8230;</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Aku berlari dengan terburu-buru dari halte bus Fulham menuju apartemen, setelah pergi membeli minuman Mirae tidak kembali lagi. Aku sudah berkali-kali menghubungi ponselnya tetapi tidak diangkat, aku mulai cemas terjadi sesuatu pada Mirae karena tidak biasanya dia pergi tanpa menghubungiku dulu.</p>
<p>Setelah sampai di depan pintu apartemen aku langsung memasukan <em>lock password</em> dengan tidak sabar, saat pintu terbuka aku segera masuk kedalam apartemen.</p>
<p>BUUGHH!!</p>
<p>Tiba-tiba ada seseorang yang melempar sebuah buku tebal tepat di depan wajahku.</p>
<p>“Aaww&#8230;,” ringisku kesakitan sambil memegang wajahku.</p>
<p>‘<em>Tunggu&#8230; ini kan buku kuliahku dan kenapa barang-barangku ada disini?</em>’ pikirku sambil melihat ke lantai.</p>
<p>“Pergi kau brengsek!!! Aku tidak sudi melihat wajahmu lagi!!!” teriak Mirae yang berdiri di depanku dengan wajah murka.</p>
<p>“<em>Mirae-ya&#8230;</em> ada apa??” ucapku kaget melihatnya.</p>
<p>“Jangan bertanya padaku brengsek!! Pergi dari sini!! Perjanjian kita selesai detik ini juga!!!” teriakknya marah sambil melempar koperku.</p>
<p>Ini keadaan darurat! Selama tinggal bersama Mirae aku tidak pernah melihatnya semarah ini apalagi sampai melempar barang-barang. Ada apa sebenarnya???</p>
<p>“<em>Mirae-ya&#8230;</em> kau tidak bisa memutuskan perjanjian kita seenaknya saja, sebernarnya apa yang terjadi?” ucapku berusaha menenangkannya.</p>
<p>“Aku tidak butuh izinmu untuk mengakhiri perjanjian kita dan aku juga tidak akan pernah menyerahkan diriku dan juga bayi ini padamu brengsek!!” teriaknya emosi.</p>
<p>“Kau&#8230; mendengar pembicaraanku dengan Jinki?” ucapku mulai takut.</p>
<p>“Dengan sangat jelas!!” teriak Mirae kencang.</p>
<p>“<em>Mirae-ya, please&#8230; listen to me</em>, kita bisa membicarakan ini baik-baik.”</p>
<p>“Aku tidak mau mendengar apapun lagi dari mu Cho Kyuhyun!! Aku membencimu!!!” ucapnya masih berteriak.</p>
<p>Emosi ku mulai tersulut saat mendengar kalimat terakhir Mirae, aku belum siap jika dia membenciku secepat ini.</p>
<p>“Park Mirae, bayi yang sedang kau kandung adalah anakku juga, aku juga punya hak terhadapnya!” ucapku sedikit keras pada Mirae.</p>
<p>“Ini bayiku!! Aku tidak pernah menganggap bahwa kau adalah ayah dari anakku. Pergi dari sini!!” ucapnya penuh emosi.</p>
<p>“Aku tidak bisa meninggalkanmu begitu saja, aku tidak mau!! Aku mohon biarkan aku hidup bersamamu,” ucapku melunak padanya.</p>
<p>“Aku membencimu Cho Kyuhyun! Pergi dari apartemenku!!!” ucapnya penuh penekanan.</p>
<p>“<em>Mirae-ya&#8230;</em> ku mohon, aku&#8230; aku mencintaimu,” ucapku pada akhirnya.</p>
<p>Mirae menatapku dengan tatapan penuh kebencian.</p>
<p>“<em>Don’t ever say that f**kin’ words to me!</em>” ucapnya sambil menatapku tajam.</p>
<p>“Mirae&#8230; <em>please&#8230;</em>,”</p>
<p>“Pergi dari sini Cho Kyuhyun, aku muak melihatmu!” ucapnya sambil membanting pintu kamarnya.</p>
<p>Aku langsung berlari ke depan pintu kamar Mirae dan menggedornya sekencang-kencangnya.</p>
<p>“Park Mirae! Kumohon dengarkan penjelasanku dulu, kau tidak bisa mengusirku begitu saja!” teriakku frustasi sambil tetap menggedor pintu kamarnya.</p>
<p>Mirae marah besar padaku dan yang lebih menakutkan lagi dia membenciku. Dia sama sekali tidak menjawab panggilanku.</p>
<p>“<em>Mirae-ya</em>! Buka pintunya!” teriakku lagi.</p>
<p>Tapi tiba-tiba saja aku mendengar Mirae berteriak seperti orang kesakitan.</p>
<p>“<em>Mirae-ya&#8230; gwaenchana?!</em>“ teriakku mulai panik.</p>
<p>Aku semakin panik saat mendengar teriakan Mirae yang semakin kencang. Seperti kerasukan setan aku mendobrak pintu kamarnya yang terkunci.</p>
<p>Aku melihat Mirae sedang terduduk di lantai sambil menahan sakit di perutnya dan aku juga melihat air ketubannya yang pecah sela-sela kakinya.</p>
<p>“<em>Mirae-ya&#8230;</em> bukankah kau baru akan melahirkan dua bulan lagi? Kenapa air ketubanmu sudah pecah sekarang?” ucapku panik sambil berusaha mengangkat tubuhnya.</p>
<p>“Aku&#8230; tidak tau&#8230;,” ucapnya sambil menahan sakit.</p>
<p>“Cho Kyuhyun&#8230; pergi dari hadapanku, tapi sebelum itu antarkan aku dulu ke rumah sakit!” rintihnya sambil memegang kuat-kuat kemejaku.</p>
<p>“Tenanglah&#8230; aku akan membawamu ke rumah sakit sekarang juga.”</p>
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;">###</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Charing Cross Hospital, Fulham London</strong></p>
<p><em>And the baby is coming&#8230;</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Aku menunggu dengan perasaan takut dan cemas di depan ruang persalinan. Dokter mengatakan bahwa alasan Mirae melahirkan lebih cepat karena kandungannya lemah sehingga mereka  harus melakukan operasi untuk mengeluarkan bayinya.</p>
<p>“<em>Aish</em>! Kenapa semua hal terjadi dengan lebih cepat,” umpatku frustasi.</p>
<p>Sudah lima jam berlalu tapi belum ada tanda-tanda  operasi akan segera berakhir. Aku benar-benar takut sekarang. Aku belum siap jika harus kehilangan Mirae atau anakku.</p>
<p>‘<em>Ya Tuhan&#8230; selamatkan Mirae dan juga anakku</em>,’ doaku dalam hati</p>
<p>Beberapa jam setelahnya  dokter Parker yang menangani Mirae keluar dari ruang persalinan. Aku segera menghampiri dokter Parker dan langsung menyakan keadaan Mirae.</p>
<p>“<em>Mrs. Madeliene</em> menjalani operasi dengan lancar, <em>and congratulation Mr. Cho your baby is a boy</em>.”</p>
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;">###<br />
<strong></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Mirae’s patient room, Charing Cross Hospital</strong></p>
<p><em>When we make a deal for a worth thing&#8230;</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Aku baru bisa menemui Mirae tiga hari setelah dia melahirkan karena keadaan Mirae yang masih butuh perawatan pasca operasi.  Selama tiga hari ini juga aku sibuk menyelesaikan urusanku di kampus.  Ya&#8230; aku berhasil lulus dan menjadi salah satu mahasiswa yang meraih <em>GPA</em> tertinggi.</p>
<p>Aku membuka pintu kamar rawat pasien dengan perlahan, dan aku bisa melihat Mirae sedang memandangi bayi kami yang  tertidur di <em>baby box</em> dengan raut wajah bahagia.</p>
<p>Walaupun bayi kami terlahir prematur tapi dia termasuk bayi yang  kuat sehingga tidak butuh waktu lama untuknya berada di dalam inkubator. Itulah yang dikatakan dokter Parker kemarin.</p>
<p>Mungkin karena terlalu terpaku pada bayi kami Mirae sampai tidak menyadari kedatanganku yang sudah berdiri di depan pintu.</p>
<p>“<em>So, who is your baby’s name?</em>” ucap seorang perawat bernama  Emma Grint yang memang sudah berada di kamar rawat Mirae sambil memegang papan nama bayi.</p>
<p>“Jayden Park.”</p>
<p>“Cho Jaehwan,” ucapku dan Mirae bersamaan.</p>
<p>Mirae sepertinya sudah menyadari keberadaanku karena dia langsung memelototiku dengan ganas.</p>
<p>“<em>Pardon</em>?” ucap perawat itu sekali lagi.</p>
<p>“Jayden Park, <em>that’s my baby’s name</em>,” ucap Mirae pada Miss Grint.</p>
<p>“<em>Miss Grint,  I’m his father and can you write down Cho Jaehwan as his name</em>?” ucapku memberanikan diri.</p>
<p>“Kau tidak berhak memberikan nama mu pada anakku!” teriak Mirae padaku dengan bahasa Korea yang cukup kasar.</p>
<p><em>Miss Grint</em>  hanya bisa memandangi kami berdua dengan tatapan bingung dan tidak mengerti.</p>
<p>“<em>I am apologize Miss Grint, I think my wife got baby blues syndrome. And could you give us some space to talk about this matter</em>?” ucapku mencari alasan.</p>
<p>“<em>Yes, of course, it’s a usual thing for a new mother</em>,” ujarnya memaklumi sambil beranjak pergi dari ruang perawatan.</p>
<p>“Mirae kumohon jangan marah padaku, karena ada yang ingin kubicarakan dan ini menyangkut anak kita” ucapku memelas padanya.</p>
<p>“Jangan pernah mengatakan bahwa Jayden adalah anakmu! Dan cepat katakan apa yang ingin kau bicarakan lalu pergi dari sini,” ucapnya tajam padaku.</p>
<p>“Tadi aku baru saja berbicara dengan dokter Parker dan dia bilang bahwa Jaehwan mengalami sedikit kelainan pada motoriknya,” ucapku pelan.</p>
<p>“Apa maksudmu? Kau pasti berbohong padaku!” ucap Mirae setengah berteriak.</p>
<p>“Aku tidak akan bebohong untuk masalah seperti ini,” ucapku jujur.</p>
<p>“Jaehwan mengalami kelainan pada otot moriknya, tapi kau tenang  saja itu bukanlah kelainan yang parah. Kelainan itu bisa sembuh jika Jaehwan menjalani terapi beberapa kali dan ada seorang dokter di rumah sakit ini bernama Kim Young Min yang melakukan penelitian tentang kelainan itu, tapi sayanganya dia sudah kembali ke Korea dan menetap disana.”</p>
<p>“Aku juga sudah menerima tawaran pekerjaan di Seoul, jadi&#8230; ikutlah bersamaku ke Korea,” ucapku berharap padanya.</p>
<p>“Aku tidak mau ikut bersamamu, aku hanya akan memberikan terapi untuk Jayden di London,” ucapnya tajam tapi aku bisa melihat raut kecemasan di wajahnya.</p>
<p>“Park Mirae, ini bukan saatnya untuk egois! Di Korea Jaehwan bisa menjalani terapi dengan intensif  dan dia akan lebih cepat sembuh,” ucapku sedikit keras pada Mirae.</p>
<p>“Itu bukan urusanmu Cho Kyuhyun!” ucapnya sinis padaku.</p>
<p>“Ini demi Jaehwan! Aku juga akan membantumu selama disana dan setelah Jaehwan sembuh nanti jika kau ingin kembali ke London, aku tidak akan mencegahmu,” ucapku setengah berbohong.</p>
<p>Mirae hanya menatapku dengan tatapan tidak rela.</p>
<p>“<em>Please&#8230;</em> ikutlah bersamaku kembali ke Korea,” ucapku memohon padanya.</p>
<p>“Baik, tapi setelah Jayden sembuh, aku akan langsung  kembali ke London.”</p>
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;">###</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Hannam Apartement, Yongsan-gu Seoul</strong></p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Mirae pov</span></p>
<p><em>Back to hometown&#8230;</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sudah seminggu ini aku berada di Seoul, ternyata kota ini sudah banyak berubah di banding 12 tahun yang lalu. Selama di Seoul aku dan Jayden tinggal di sebuah apartemen yang disewa oleh pria yang saat ini ku benci dan tentu saja dia juga ikut tinggal bersama kami.</p>
<p>Sepertinya dia mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang cukup besar di Seoul, karena dia mampu menyewa apartemen yang bagus bahkan sekarang dia memiliki mobil entah darimana.</p>
<p>Dan selama seminggu tinggal di Seoul aku belum sekalipun mengeluarkan uangku untuk membiayai terapi Jayden ataupun membeli kebutuhan sehari-hari. Semua itu berasal dari uang Kyuhyun,  tapi meskipun begitu tidak membuat kemarahanku mereda padanya.</p>
<p>Aku marah pada Kyuhyun. Tentu saja!  Aku merasa dibohongi olehnya, selama ini aku menganggapnya sebagai teman yang telah mewujudkan impianku untuk memiliki seorang anak.</p>
<p>Tapi dengan seenaknya saja, pria yang saat ini kubenci itu mengatakan bahwa dia juga memiliki hak sebagai ayah dari anakku. Dan yang lebih mengerikan lagi Kyuhyun mengatakan bahwa dia mencintaiku!</p>
<p>Atas dasar apa dia mengatakan hal konyol itu? Aku tidak akan mengajaknya melakukan perjanjian jika pada akhirnya kami akan menjadi keluarga kecil yang bahagia. Yang benar saja!!!</p>
<p>Aku sama sekali tidak membutuhkan siapapun untuk membesarkan Jayden.</p>
<p>“<em>Go to sleep honey&#8230; mommy’s here</em>,” ucapku pada Jayden sambil menidurkannya di <em>babybox</em>-nya setelah lebih dulu memberikannya susu.</p>
<p>Setelah memastikan Jayden sudah tidur aku keluar dari kamar untuk sarapan, saat aku berjalan menuju dapur aku melihat seseorang yang sedang berdiri membelakangiku di meja makan.</p>
<p>‘<em>Siapa dia? Apa dia temannya Kyuhyun?</em>’ ucap ku dalam hati.</p>
<p>Orang itu terlihat seperti Kyuhyun tapi kurasa bukan karena penampilannya lebih rapi dan rambutnya cepak.</p>
<p>Sepertinya orang itu menyadari kedatanganku dan segera berbalik.</p>
<p>“Cho Kyuhyun&#8230;?!” ucapku kaget.</p>
<p>“<em>Mirae-ya</em> kau sudah bangun? Ini aku sudah membuatkan sarapan untukmu, duduklah,” ujarnya sambil menarik kursi untukku.</p>
<p>Saking kagetnya melihat Kyuhyun new version, aku tanpa sadar menuruti perkataanya dan melupakan kebiasaanku untuk bersikap acuh pada Kyuhyun.</p>
<p>“Ini makanlah, aku sudah membuatkan roti untukmu,” ujarnya lagi padaku sambil duduk di depanku.</p>
<p>Aku mengamati  Kyuhyun dengan lebih jelas, dia benar-benar berbeda dengan Kyuhyun yang kulihat dua hari yang lalu. Entah bagaimana dia menjadi sangat tampan walaupun kesan lugunya masih terlihat.</p>
<p>‘<em>Jangan-jangan kemarin dia pergi ke rumah sakit dan melakukan operasi plastik</em>’ pikirku menduga-duga, karena seharian kemarin dia memang berpamitan untuk pergi dari apartemen.</p>
<p>Tapi sepertinya itu tidak mungkin, karena bentuk wajahnya masih sama hanya penampilan dan model rambutnya saja yang berbeda. Bocah ini benar-benar terlihat tampan! Bahkan si Spencer Lee itu kalah jauh dengan Kyuhyun yang sekarang.</p>
<p>“Ada apa?” tanya Kyuhyun tiba-tiba, sepertinya dia sadar sedang kuperhatikan.</p>
<p>“Tidak ada apa-apa,” ucapku acuh sambil meminum tehku.</p>
<p>“Hari ini, hari pertamaku resmi bekerja di kantor jadi kemarin aku memotong rambutku di <em>barber shop</em> dan membeli beberapa pakaian kerja,” ucapnya bercerita tanpa di perintah.</p>
<p>Aku menatap Kyuhyun sekilas lalu melanjutkan makanku tanpa berkata sepatah kata pun.</p>
<p>‘<em>Damn! Dia benar-benar tampan. Barber shop sialan! Apa yang mereka lakukan sampai bisa membuatnya menjadi setampan ini?!</em>’ umpatku dalam hati.</p>
<p>“Apa aku terlihat aneh?” tanyanya bodoh tiba-tiba.</p>
<p>“Penampilanmu benar-benar seperti orang idiot,” ucapku dingin dan berbohong besar padanya.</p>
<p>“Benarkah?? Pantas saja sejak kemarin para <em>yeoja</em> melihatku dengan tatapan aneh,” ucapnya dengan polos.</p>
<p>‘<em>Itu karena kau terlihat tampan babo!!</em>’ jika tidak ingat bahwa aku sedang marah padanya aku ingin sekali meneriakinya.</p>
<p>“Kalau begitu lain kali aku akan meminta pendapatmu sebelum pergi ke <em>barber shop</em>,”ucapnya sambil tersenyum lugu padaku.</p>
<p>Aku mendengus mendengar ucapan Kyuhyun.</p>
<p>‘<em>Jika kau minta pendapatku, aku akan menyuruh mereka memotong seluruh rambutmu sampai botak dan membuatmu menjadi lebih jelek!</em>’ dengusku dalam hati.</p>
<p>“Baiklah&#8230; aku pergi kerja dulu, nanti siang aku akan kembali lagi untuk mengantarmu dan Jaehwan terapi,” ucapnya lembut sambil bangkit dari kursi.</p>
<p>“Aku bisa pergi sendiri,” ucapku sinis padanya.</p>
<p>Kyuhyun menatapku dalam sambil menghela napas panjang.</p>
<p>“<em>Mirae-ya</em>, di London kau bisa berkuasa, tapi di Seoul aku tidak akan membiarkanmu pergi kemana pun sendirian. Aku mohon tunggu aku pulang, kita akan pergi bersama ke rumah sakit,” bujuk Kyuhyun padaku.</p>
<p>Aku menatap Kyuhyun dengan kesal. Aku tau dia tidak akan mengalah padaku, bocah ini sudah berani melawanku.</p>
<p>“Terserah kau sajalah!” ucapku membentak padanya.</p>
<p>“<em>Gomawo Mirae-ya</em>, kalau begitu aku pergi dulu.”</p>
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;">###</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>The pain and anger we felt inside&#8230;</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“<em>Mirae-ya&#8230;</em> bisa kita bicara sebentar?” tanya Kyuhyun pelan saat kami sampai di apartemen setelah pulang dari rumah sakit.</p>
<p>Aku menatap Kyuhyun sekilas dengan pandangan malas.</p>
<p>“Kita bicara di luar,” ucapku dingin sambil berjalan masuk ke kamar untuk menidurkan Jayden.</p>
<p>Setelah menidurkan Jayden di <em>baby box</em>-nya aku kembali berjalan ke luar kamar untuk menemui Kyuhyun di ruang tamu.</p>
<p>“Apa yang ingin kau bicarakan?” tanyaku acuh seperti biasa.</p>
<p>“Ini tentang hubungan kita,” ujarnya ragu-ragu.</p>
<p>“Bukankah saat di London aku sudah mengatakannya dengan sangat jelas padamu, <em>Kyuhyun-ssi</em>?”</p>
<p>“Dan jangan membuatku mengulangi perkataanku sendiri!” ucapku tajam padanya.</p>
<p>“<em>Mirae-ya</em> kau tidak bisa membesarkan Jaehwan seorang diri, mungkin saja kau tidak membutuhkanku tapi suatu saat Jaehwan pasti akan membutuhkan ayahnya,” ucapnya meyakinkanku.</p>
<p>Aku mulai gerah dengan arah pembicaraan ini, emosiku naik sehingga aku lupa untuk mengontrol ucapanku sendiri.</p>
<p>“Cho Kyuhyun! Kau tidak lebih hanya seorang ayah biologis dari Jayden, kau hanyalah pria brengsek yang kubayar untuk memberikan anak padaku!”</p>
<p>“Aku sekalipun tidak pernah menganggapmu sebagai ayah dari anakku dan Jayden tidak butuh ayahnya!” ucapku tajam dan meninggi padanya.</p>
<p>Kyuhyun menatapku tidak percaya dan sepertinya dia sangat marah mendengar ucapanku, karena saat itu juga dia langsung berteriak padaku.</p>
<p>“PARK MIRAE!!! Kau keterlaluan! Bagaimana bisa seorang ibu sepertimu mengatakan hal sekasar itu?!!!!” teriaknya membentak padaku.</p>
<p>“Tidak seharusnya kau melibatkan Jaehwan pada trauma yang kau alami di masalalu! Kau egois Park Mirae!!” ucapnya membentak keras padaku.</p>
<p>Tiba-tiba tangan dan kakiku bergetar hebat saat Kyuhyun membentakkku. Aku takut menatap matanya yang melihatku seolah-olah aku ini orang jahat. Selama ini aku tidak pernah melihatnya marah atau membentak pada orang lain.</p>
<p>“Jangan bersikap seolah-olah kau tau segalanya Cho Kyuhyun!!” teriakku kencang padanya untuk  menutupi ketakutanku.</p>
<p>“Aku tau apa yang terbaik untuk Jayden!” ucapku berusaha terlihat marah padanya.</p>
<p>“Ibu macam apa yang tidak ingin memberikan keluarga yang utuh pada anaknya, kau tidak pantas menjadi seorang ibu Park Mirae! Aku salah menilaimu!” ucap Kyuhyun tajam sambil membanting pintu apartemen tepat di depan wajahku.</p>
<p>Aku masih terdiam ditempat setelah Kyuhyun meninggalkan apartemen, tak lama tubuhku merosot kelantai. Aku masih bisa merasakan tangan dan kakiku bergetar hebat karena ketakutan.</p>
<p>Dia bukan Kyuhyun, aku sama sekali tidak mengenali sosok itu. Dia bukan <em>Cho Kyuhyun-ku</em>.</p>
<p>Pria yang polos dan lugu seperti Cho Kyuhyun saja bisa semarah itu padaku. Itu artinya ucapanku benar-benar fatal.</p>
<p>“Kau benar <em>Kyuhyun-ah</em> aku memang egois, tapi aku hanya tidak ingin Jayden mengalami hal yang serupa denganku. Kau tidak akan pernah tau bagaimana rasanya di tolak dan ditinggalkan oleh ayahmu sendiri. Aku tidak ingin Jayden seumur hidup menderita sepertiku. Apa aku salah jika melalukan hal itu pada anakku?” bisikku lirih dan mulai menangis.</p>
<p>Aku menatap pintu apartemen di depanku dengan sedih sambil mengingat sosok Kyuhyun yang telah berlalu.</p>
<p>“Katakan padaku Cho Kyuhyun, apa aku salah??”</p>
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;">###</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>The pain and anger we felt inside&#8230;</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sudah hampir lewat tengah malam tapi aku masih belum bisa menutup mataku. Bayangan pertengkaranku dengan Kyuhyun terus-terusan berputar di dalam otakku. Di tambah lagi Kyuhyun belum pulang ke apartemen sejak sore hari saat kami bertengkar.</p>
<p>Jujur saja aku masih marah padanya tapi di lain pihak aku merasa bersalah padanya. Kyuhyun benar, tidak seharusnya aku egois di saat-saat seperti ini. Semua ini terlalu mendadak, Kyuhyun yang mengatakan bahwa dia mencintaiku, kelahiran Jayden yang diluar prediksi, dan kepindahan  kami ke Korea.</p>
<p>Itu semua terjadi secara tiba-tiba dan berurutan membuat kami berdua bingung. Seharusnya aku dan Kyuhyun bisa membicarakan ini secara baik-baik tidak saling berteriak seperti anjing dan kucing.</p>
<p>Tapi tetap saja aku tidak mau berdamai lebih dulu pada Kyuhyun, karena bagaimana pun dialah pelaku utama yang menyulut perang dingin diantara kami.</p>
<p>Tiba-tiba saja Jayden yang sedang tertidur di sebelahku menangis dengan keras.</p>
<p>Aku mengelus kening Jayden  dan merasakan suhu tubuhnya tinggi. Dengan panik aku menggendongnya dan merasakan tangan dan kaki Jayden mengejang.</p>
<p>Aku semakin panik saat tangisan Jayden mulai kencang. Aku takut terjadi sesuatu padanya dengan terburu-buru aku menanggalkan semua gengsiku dan menghubungi Kyuhyun memintanya untuk segera pulang.</p>
<p>Beberapa saat kemudian Kyuhyun datang dan berlari ke arahku yang sudah menunggu di depan jalan apartemen.</p>
<p>“Apa yang terjadi pada Jaehwan?” tanyanya cemas padaku.</p>
<p>“Aku tidak tau&#8230; tiba-tiba saja Jayden demam dan kaki serta tangannya mengejang,” ucapku panik padanya.</p>
<p>Aku bahkan hampir menangis lagi saat melihat tangisan Jayden yang tidak mau berhenti dan merasakan suhu tubuh Jayden yang semakin panas.</p>
<p>“Baiklah&#8230; sebaiknya kita segera ke rumah sakit,” ucap Kyuhyun sambil menarikku  ke dalam mobil.</p>
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;">###</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Seoul University Hospital, Dongdaemun-gu Seoul</strong></p>
<p><em>An apology&#8230;</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Keheningan melanda diriku dan Kyuhyun yang terduduk di luar ruang perawatan pasien sambil menunggu pemeriksaan akhir yang dilakukan dokter Kim pada Jayden.</p>
<p>Jayden terkena step, baru saja dokter Kim menegurku yang kurang peka pada keadaan Jayden. Memang beberapa hari ini aku merasa suhu tubuh Jayden agak sedikit hangat, tapi aku tidak terlalu mempedulikannya karena memang biasanya suhu tubuh bayi cenderung hangat.</p>
<p>Aku tidak menyangka bahwa itu adalah gejala awal dari step. Sekali lagi aku membuktikan ucapan Kyuhyun bahwa aku lalai menjadi seorang ibu.</p>
<p>Aku terdiam dan menggigit  bibirku kuat-kuat menahan air mataku. Menatap tembok yang ada di depanku dengan tatapan kosong, seolah sedang merenungi kesalahanku yang telah lalai menjaga anakku sendiri.</p>
<p>Sampai aku merasakan seseorang menggenggam tangan kananku dengan hangat.</p>
<p>“Tenanglah&#8230; Jaehwan pasti akan baik-baik saja&#8230;,” ucap Kyuhyun dengan lembut sambil mengeratkan genggamannya padaku.</p>
<p>Kyuhyun menatapku dengan tatapannya yang lembut dan dia tersenyum padaku.</p>
<p>Dialah sosok yang aku kenal, <em>Cho Kyuhyun-ku</em> sudah kembali.</p>
<p>Tanpa bisa kucegah air mataku mengalir begitu saja meyalurkan kecemasan dan ketakutan yang sejak tadi kutahan.</p>
<p>Saat melihatku menangis Kyuhyun langsung merengkuh tubuhku dalam dekapannya.</p>
<p>Dia memelukku dengan hangat dan membelai punggunggku untuk memberiku ketenangan.</p>
<p>“<em>Mianhae Mirae-ya&#8230; jeongmal mianhae</em>,” ucapnya lembut sambil mengeratkan pelukannya padaku.</p>
<p>“Aku takut <em>Kyuhyun-ah&#8230;</em> aku takut&#8230;,” ucapku sesenggukan padanya.</p>
<p>Aku masih terisak pelan dalam dekapannya membanjiri dadanya dengan air mataku.</p>
<p>“<em>Mianhae Mirae-ya&#8230;</em> ini semua salahku, <em>mianhae&#8230;</em>”</p>
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;">###</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Patient room, Seoul University Hospital</strong></p>
<p><em>A trace between us&#8230;</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“<em>Kyuhyun-ah&#8230; ireona</em>,” ucapku sambil membangunkan Kyuhyun yang tertidur di sofa.</p>
<p>“<em>Ya ireona</em>! Kau mau terlambat ke kantor?!” ucapku lagi lebih keras.</p>
<p>Kyuhyun menggeliat sebentar lalu membuka matanya yang masih mengantuk.</p>
<p>“Jam berapa sekarang?” tanyanya serak sambil mengucak-ngucak matanya.</p>
<p>“Jam setengah 7, sebaiknya kau pulang ke apartemen dan mandi, kau harus pergi bekerja kan,” ucapku padanya.</p>
<p>“Tidak perlu pulang, aku membawa pakaian kerja di mobil. Aku akan mandi di rumah sakit lalu berangkat ke kantor,” ucapnya sambil bangkit dari sofa.</p>
<p>“Baiklah kalau begitu, aku akan keluar sebentar untuk membeli sarapan, sebaiknya kau mandi sekarang,” ucapku lagi pada Kyuhyun sambil berjalan keluar dari kamar rawatJayden.</p>
<p>Semalam aku dan Kyuhyun menginap di rumah sakit untuk menjaga Jayden. Awalnya aku menawarkan diri untuk menjaga Jayden dan membiarkan Kyuhyun pulang tapi dia menolak dan bersikeras untuk menemaniku.</p>
<p>Setelah kejadian semalam secara tersirat aku dan Kyuhyun sepakat untuk berdamai demi Jayden. Aku memang sudah tidak marah lagi padanya tapi bukan berarti aku menerima kehadiran Kyuhyun dan menyetujui tawarannya untuk hidup bersamanya.</p>
<p>TIDAK!!! Aku masih memegang teguh pendirianku, tentu saja!</p>
<p>Aku hanya memilih untuk tidak memikirkan masalah itu dulu. Prioritasku sekarang adalah Jayden, dan setelah Jayden sembuh nanti dan bebas dari terapi baru aku akan memikirkan masalahku dan Kyuhyun.</p>
<p>Aku kembali ke kamar rawat Jayden dengan membawa sarapan. Sepertinya Kyuhyun sudah selesai mandi karena dia sudah memakai pakaian kerjanya dan terlihat sedang berusaha mengikat dasinya.</p>
<p>“Kau sudah kembali,” ucapnya sambil tersenyum polos padaku seperti biasa dan aku membalasnya dengan menganggukan kepalaku.</p>
<p>Aku mengecek keadaan Jayden yang masih tertidur pulas dan kembali menatap Kyuhyun yang masih berkutat dengan dasinya. Karena gemas melihatnya yang tidak bisa memakai dasi, aku pun menarik tubuhnya untuk menghadap padaku.</p>
<p>“Berikan padaku!” ucapku gemas sambil menarik dasi Kyuhyun.</p>
<p>“Bagaimana bisa kau setiap hari pergi ke kantor jika memakai dasi saja tidak becus”ucapku mengomel sambil memasangkan dasi pada Kyuhyun.</p>
<p>Kyuhyun hanya diam mendengar omelanku.</p>
<p>“Biasanya aku meminta teman di kantor untuk mengikatkan dasiku sehingga aku tinggal memakainya, tapi tadi ikatan dasiku terlepas,” ucapnya pelan menjelaskan.</p>
<p>“Merepotkan! Lain kali aku harus mengajarkanmu memakai dasi Cho Kyuhyun!” ucapku sedikit sebal padanya sambil menyelesaikan pekerjaanku.</p>
<p>Dan seperti biasa pria lugu ini hanya tersenyum bodoh menanggapi ucapanku.</p>
<p>“<em>Igeo&#8230;</em> makan sarapanmu,” ucapku memberikan roti pada Kyuhyun setelah memasangkan dasinya.</p>
<p>“<em>Gomawo&#8230;</em>,” balasnya padaku.</p>
<p>Hening diantara kami sampai Kyuhyun memecahkan keheningan itu.</p>
<p>“<em>Mirae-ya&#8230;</em> aku  benar-benar minta maaf karena sudah membentakmu kemarin. Aku benar-benar menyesal telah melakukannya. Kemarin aku terbawa emosi dan tanpa sadar membentakmu,” ucapnya tiba-tiba.</p>
<p>“Kemarin aku juga tidak kembali ke apartemen karena aku takut kau akan mengusirku lagi dan kembali ke London. Sungguh, aku benar-benar menyesal telah melakukannya,” ucapnya meminta maaf padaku.</p>
<p>“<em>Kyuhyun-ah</em>, semalaman kau meminta maaf padaku, apa kau tidak bosan mengatakannya terus-terusan?” ucapku sambil menatapnya.</p>
<p>“Tapi aku&#8230;,” balasnya lagi tapi dengan cepat aku menyelanya.</p>
<p>“Sudahlah, kita lupakan saja kejadian kemarin. Kau benar, tidak seharusnya aku bersikap egois di saat seperti ini. Kita datang ke Seoul untuk kesembuhan Jayden bukan untuk bertengkar,” ucapku bijak padanya.</p>
<p>“Jadi&#8230; kau sudah tidak marah lagi padaku?” tanyanya penuh harap.</p>
<p>“Aku memang sudah tidak marah lagi padamu tapi bukan berarti aku menerimamu Cho Kyuhyun.”</p>
<p>“Untuk saat ini sebaiknya kau dan aku  melupakan dulu masalah buruk yang terjadi diantara kita. Dan setelah Jayden sembuh, mari kita bicarakan masalah ini secara baik-baik,” ucapku tegas pada Kyuhyun.</p>
<p>“Ya&#8230; kurasa itu lebih baik, tapi <em>Mirae-ya&#8230;</em> bisakah kau memberiku kesempatan?” tanya Kyuhyun sambil menatapku dalam.</p>
<p>“<em>Mwo</em>?” ucapku bingung padanya.</p>
<p>Kyuhyun kembali menatapku dengan dalam.</p>
<p>“Kau dan Jaehwan sangat berarti bagiku.”</p>
<p>“Setidaknya berikan aku kesempatan untuk membuktikan padamu bahwa aku pantas berada disisimu dan menjadi ayah bagi Jaehwan. Aku tidak akan mengecewakan kalian berdua,” ucap Kyuhyun meyakinkanku.</p>
<p>Aku menatap Kyuhyun dengan perasaan ragu, tapi aku tau Kyuhyun serius dengan ucapannya.</p>
<p>Sorot matanya seakan mengatakan bahwa itulah perasaan Kyuhyun yang sebenarnya.</p>
<p>Dia menyayangiku dan Jayden.</p>
<p>“Aku tidak mau berjanji padamu <em>Kyuhyun-ah</em>, dan jangan memaksaku,” ucapku pada akhirnya.</p>
<p>“Baiklah&#8230; tapi aku sangat berharap kau mau memikirkannya,” ucapnya pelan sambil tersenyum paksa padaku.</p>
<p>Setelah menyelesaikan sarapannya Kyuhyun berpamitan untuk pergi bekerja. Sebelum pergi dia mengecup pipi Jayden yang masih tertidur pulas dan kemudian mendatangiku yang berdiri di ujung tempat tidur.</p>
<p>Kyuhyun membelai kepalaku dengan lembut. Hal yang sudah lama tidak dilakukannya padaku akibat perang dingin yang terjadi diantara kami.</p>
<p>“Aku pergi dulu, setelah pulang kerja aku akan kembali lagi kesini,” ucapnya sambil tersenyum lembut padaku dan aku hanya menganggukan kepalaku untuk membalasnya.</p>
<p>Setelah berpamitan padaku Kyuhyun berjalan keluar dari ruang rawat Jayden, tapi saat sampai di depan pintu tiba-tiba saja dia membalikan tubuhnya dan menatapaku.</p>
<p>“Park Mirae&#8230; aku serius mengatakan bahwa aku mencintaimu.”</p>
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;">###</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Itaewon shopping street, Yongsan-gu Seoul</strong></p>
<p><em>Unexpected guests&#8230;</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sudah sebulan berlalu sejak kejadian dirumah sakit, hubunganku dengan Kyuhyun sudah kembali seperti dulu. Walaupun terasa ada jarak diantara kami tapi setidaknya hubungan kami yang sekarang masih jauh lebih baik dibandingkan beberapa waktu yang lalu.</p>
<p>Selama sebulan ini aku ataupun Kyuhyun tidak pernah lagi membahas masalah yang terjadi di antara kami. Kami berdua fokus untuk kesembuhan Jayden. Dan beruntung keadaan Jayden sudah mulai membaik, hanya tinggal menjalani beberapa terapi lagi sampai Jayden dinyatakan sembuh oleh dokter.</p>
<p>“<em>Aigoo-ya&#8230;</em> putramu benar-benar mirip ayahnya,” ujar seorang <em>ahjumma</em> pemilik kedai <em>ddeok-bokki</em> sambil menunjuk Kyuhyun yang sedang menggendong Jayden di sampingku.</p>
<p>Aku hanya menanggapi perkataan ahjumma itu dengan senyum kecut.</p>
<p>Saat ini kami bertiga memang sedang berjalan-jalan di daerah Itaewon dan sedang membeli <em>ddeok-bokki</em> di sebuah kedai.</p>
<p>Aku benci mengatakannya tapi Jayden memang mirip dengan Kyuhyun, hanya matanya saja yang mirip denganku. Dan pernyataan bahwa ‘<em>Jayden mirip Kyuhyun</em>’ tadi sudah sangat sering dilontarkan oleh orang-orang apabila melihat kami, membuat telingaku panas mendengarnya!</p>
<p>Jujur aku kesal dengan kenyataanya itu, aku tidak rela anakku di samakan dengan pria lugu seperti Cho Kyuhyun!</p>
<p>“Kau pasti benar-benar bahagia <em>agasshi</em>, memiliki suami yang tampan dan seorang putra yang lucu,” ucap <em>ahjumma</em> itu lagi.</p>
<p>Aku menatap <em>ahjumma</em> itu dengan tatapan sebal.</p>
<p>“<em>Ahjumma</em>, bayi yang digendongnya memang anakku, tapi dia bukan suamiku!” omelku sambil menunjuk Kyuhyun.</p>
<p>Kyuhyun meliriku dengan tatapan setengah sebal.</p>
<p>‘<em>Cih! Dia pasti senang mendengar ucapan ahjumma itu, tapi aku tidak tuan Cho!</em>’ dengusku dalam hati.</p>
<p>“<em>Aigoo&#8230; agasshi</em> jangan merendah begitu, kalian berdua ini suami-istri kan?” tanya <em>ahjumma</em> itu lagi sambil menunjukku dan Kyuhyun.</p>
<p>“<em>Ne&#8230;</em>,”</p>
<p>“<em>Ani&#8230;,</em>” jawabku bersamaan dengan Kyuhyun, dan ahjumma itu mulai menatap kami dengan bingung.</p>
<p>“Sudahlah, kita pergi saja,” ucapku mulai kesal sambil menarik Kyuhyun untuk pergi.</p>
<p>“Setelah ini, kita akan kemana lagi?” tanya Kyuhyun sambil membenarkan gendongannya pada Jayden.</p>
<p>“Pulang saja, aku sudah tidak <em>mood</em> lagi untuk berjalan-jalan,” jawabku sekenanya.</p>
<p>“<em>Mirae-ya&#8230;</em> kau marah karena semua orang menganggap kita suami-istri dan mengatakan bahwa Jaehwan mirip denganku?” tanyanya dengan polos.</p>
<p>“Apa aku harus menjawabnya?!” ucapku masih kesal padanya.</p>
<p>Jika sudah tau kenapa masih bertanya! Dasar <em>namja babo</em>!</p>
<p>“<em>Arasseo&#8230;</em> kau tidak menjawab pun, kenyataannya Jaehwan memang mirip denganku dan aku memang terlihat seperti suamimu,” ucapnya dengan polos dan enteng.</p>
<p>Aku memelototi Kyuhyun dengan kekesalan maksimum, bocah ini sudah berani menimpali ucapanku.</p>
<p>“Baiklah&#8230; aku tidak akan bicara lagi, ayo kita pulang saja&#8230;,” ucapnya kembali memelas.</p>
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;">###</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Hannam Apartement, Yongsan-gu Seoul</strong></p>
<p><em>Unexpected guests&#8230;</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Setelah berjalan kaki selama 15 menit akhirnya kami sampai di apartemen karena jarak dari Itaewon ke apartemen memang tidak jauh. Saat tiba di apatemen aku melihat seorang <em>ahjussi</em> dan seorang wanita muda sedang berdiri di depan pintu apartemen kami.</p>
<p>“Siapa mereka?” tanyaku pada Kyuhyun.</p>
<p>“<em>Molla</em>, mungkin tamu,” ucap Kyuhyun sambil menepuk-nepuk punggung Jayden yang tertidur.</p>
<p>Aku cukup heran dengan kehadiran dua orang tak dikenal itu kerena memang selama tinggal di Seoul kami tidak pernah kedatangan tamu.</p>
<p>Sepertinya dua orang itu menyadari kedatanganku dan Kyuhyun, kerena mereka berdua berbalik untuk melihat kami.</p>
<p>“<em>Appa&#8230;</em>,”</p>
<p>“Ahra <em>noona</em>!!” ucap Kyuhyun dengan kaget saat melihat mereka berdua dan tiba-tiba saja aku merasakan tubuh Kyuhyun membeku disebelahku.</p>
<p>Dua orang itupun berjalan mendekatiku dan Kyuhyun. Aku menatap pria tua yang merupakan ayah Kyuhyun dan dia balas menatapku dengan tatapan sengit yang sarat dengan perasaan tidak suka.</p>
<p>Aku menundukkan wajahku darinya tidak berani untuk menatapnya lebih jauh, tatapannya menakutkan, jauh lebih mengerikan saat Kyuhyun marah padaku beberapa waktu yang lalu.</p>
<p>Entah kenapa aku memiliki firasat sesuatu yang buruk akan terjadi.</p>
<p>Ayah Kyuhyun berdiri di depanku dan Kyuhyun, dia menatap kami bergantian dengan sengit seperti menatap dua orang penjahat yang baru saja terbukti bersalah.</p>
<p>Dan ucapannya pun terdengar seperti nyanyian kematian ditelingaku.</p>
<p>“Kalian berdua ikut aku ke Andong!”</p>
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;">TBC</p>
<p style="text-align:left;">
<p style="text-align:left;">
<p style="text-align:left;"><span style="color:#0000ff;">Serra Song&#8217;s note : karena kepanjangan, jadi bakal tamatnya di part 4 and thanks for reading this ff <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </span></p>
<p style="text-align:left;"><span style="color:#0000ff;">Park Mita&#8217;s note : jangan bash si Mirae ya, dia cuma tuntutan peran kok aslinya ga kayak gini sifatnya kekeke.</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ffindo.wordpress.com/49706/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ffindo.wordpress.com/49706/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ffindo.wordpress.com/49706/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ffindo.wordpress.com/49706/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ffindo.wordpress.com/49706/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ffindo.wordpress.com/49706/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ffindo.wordpress.com/49706/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ffindo.wordpress.com/49706/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ffindo.wordpress.com/49706/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ffindo.wordpress.com/49706/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ffindo.wordpress.com/49706/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ffindo.wordpress.com/49706/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ffindo.wordpress.com/49706/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ffindo.wordpress.com/49706/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ffindo.wordpress.com&amp;blog=9871143&amp;post=49706&amp;subd=ffindo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ffindo.wordpress.com/2012/01/29/the-baby-is-mine-chapter-3-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>75</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/35ea18df12491bcf2d4799ffecaeed82?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kimraemi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ffindo.files.wordpress.com/2012/01/the-baby-is-mine-3.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">the baby is mine 3</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>{FULL PART} Seasons of The Lucifer [CHAPTER 9]</title>
		<link>http://ffindo.wordpress.com/2012/01/28/seasons-of-the-lucifer-chapter-9/</link>
		<comments>http://ffindo.wordpress.com/2012/01/28/seasons-of-the-lucifer-chapter-9/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Jan 2012 13:30:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>luciferain</dc:creator>
				<category><![CDATA[LucifeRain]]></category>
		<category><![CDATA[Choi Minho]]></category>
		<category><![CDATA[key]]></category>
		<category><![CDATA[kim jonghyun]]></category>
		<category><![CDATA[Lee Taemin]]></category>
		<category><![CDATA[onew]]></category>
		<category><![CDATA[SHINEE]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ffindo.wordpress.com/?p=49725</guid>
		<description><![CDATA[Seasons of The Lucifer Title:Seasons of The Lucifer Author: LucifeRain / Aya Genre: romantic – comedy, Friendship, AU Leght: Chaptered Ratting: PG-15 Main Cast: Cho Minhye a.k.a Cho Minhyun Kim Kibum a.k.a Key Choi Minho a.k.a Minho Lee Taemin a.k.a &#8230; <a href="http://ffindo.wordpress.com/2012/01/28/seasons-of-the-lucifer-chapter-9/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ffindo.wordpress.com&amp;blog=9871143&amp;post=49725&amp;subd=ffindo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ffindo.files.wordpress.com/2012/01/a6.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-49728" title="a" src="http://ffindo.files.wordpress.com/2012/01/a6.jpg?w=584&#038;h=438" alt="" width="584" height="438" /></a>Seasons of The Lucifer<br />
Title:Seasons of The Lucifer<br />
Author: LucifeRain / Aya<br />
Genre: romantic – comedy, Friendship, AU<br />
Leght: Chaptered<br />
Ratting: PG-15<br />
Main Cast:<br />
Cho Minhye a.k.a Cho Minhyun<br />
Kim Kibum a.k.a Key<br />
Choi Minho a.k.a Minho<br />
Lee Taemin a.k.a Taemin<br />
Kim Jonghyun a.k.a Jonghyun<br />
Lee Jinki a.k.a Onew</p>
<blockquote>
<p class="MsoNormal"><strong><em><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">Mianhae, tadi ada beberapa Scene yang kepotong. Buat Readers tolong baca ulang ya. Kamsahamnida *bow</span></span></em></strong></p>
</blockquote>
<p>Awal awal banyak yang minta digabung tapi belakangan banyak yang minta dipisah, dan yang minta dipisah itu alasanya lebih real ._. karna aku butuh banget saran n masukan kayak gitu.<br />
<em><strong>Jadi aku putusin alurnya dipisah dengan catatatan, aku masih selipin problem Cast yang lain.</strong></em><strong> tapi mungkin part2 akhir akan digabung ._.</strong></p>
<p>Let’s begin, <strong><em>Spring Taemin.</em></strong><br />
Sekali lagi aku bilang, pertanyaan kalian udah kejawab di part part awal dan Ini latarnya nggak sesuai musim loh ya…<br />
Happy Reading ^_^</p>
<p><a href="http://ffindo.wordpress.com/2011/11/13/season-of-the-lucifer-teaser/" target="_blank">SOL [teaser] |</a><a href="http://ffindo.wordpress.com/2011/11/16/seasons-of-the-lucifer-chapter-1/" target="_blank"> SOL [chapter 1] |</a><a href="http://ffindo.wordpress.com/2011/11/24/seasons-of-the-lucifer-chapter-2-need-cast/" target="_blank"> SOL [chapter 2] | </a><a href="http://ffindo.wordpress.com/2011/12/01/seasons-of-the-lucifer-chapter-3/" target="_blank">SOL [Chapter 3] |</a><a href="http://ffindo.wordpress.com/2011/12/17/seasons-of-the-lucifer-chapter-4/" target="_blank"> SOL [Chapter 4] |</a><a href="http://ffindo.wordpress.com/2011/12/25/seasons-of-the-lucifer-chapter-5/" target="_blank">SOL [Chapter 5], </a><a href="http://ffindo.wordpress.com/2012/01/04/seasons-of-the-lucifer-chapter-6-part-a/" target="_blank">SOL [chapter 6] part.A, |</a> <a href="http://ffindo.wordpress.com/2012/01/04/seasons-of-the-lucifer-chapther-6-part-b/" target="_blank">SOL [chapter 6] part.B |</a><a href="http://ffindo.wordpress.com/2012/01/13/seasons-of-the-lucifer-chapter-7-part-a/" target="_blank">SOL [chapter 7] part.A </a><a href="http://ffindo.wordpress.com/2012/01/13/seasons-of-the-lucifer-chapter-7-part-b/" target="_blank">| </a><a href="http://ffindo.wordpress.com/2012/01/13/seasons-of-the-lucifer-chapter-7-part-b/" target="_blank">SOL [chapter 7] part.B </a><a href="http://ffindo.wordpress.com/2012/01/22/seasons-of-the-lucifer-chapter-8/" target="_blank"> | SOL [Chapter 8], | </a><a href="http://ffindo.wordpress.com/author/luciferain/" target="_blank">and others</a><span id="more-49725"></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:22pt;line-height:115%;font-family:Vivaldi;">______________</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:22pt;line-height:115%;font-family:Vivaldi;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:22pt;line-height:115%;font-family:Vivaldi;">Lucifer</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:22pt;line-height:115%;font-family:Vivaldi;">Seseorang berwajah malaikat namun seperti iblis</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:22pt;line-height:115%;font-family:Vivaldi;">Hati yang egois</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:22pt;line-height:115%;font-family:Vivaldi;">Cinta yang tulus</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:22pt;line-height:115%;font-family:Vivaldi;">Kesucian yang keliru</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:22pt;line-height:115%;font-family:Vivaldi;">Mengancam</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:22pt;line-height:115%;font-family:Vivaldi;">Berulang kali salah seperti malaikat dan iblis</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:22pt;line-height:115%;font-family:Vivaldi;">Mempunyai perasaan yang tidak jelas</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:22pt;line-height:115%;font-family:Vivaldi;">Lucifer adalah keberanian</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:22pt;line-height:115%;font-family:'Times New Roman',serif;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><span style="font-size:14pt;font-family:'Footlight MT Light',serif;">“jangan dekati dia”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><span style="font-size:14pt;font-family:'Footlight MT Light',serif;">Minhyun merasa seseorang menarik pergelangan tanganya. Refleks ia pun menengadah, Minhyun terkesiap mendapati Minho yang sudah berdiri diantara dirinya dan Key. Suasana hangat yang tercipta kini membeku seketika. Minhyun bergeming tak kuasa bergerak karena kobaran aurora dalam manik mata Minho menerjang liar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><span style="font-size:14pt;font-family:'Footlight MT Light',serif;">Syaraf motoriknya seakan terkunci, membuatnya hanya terfokus dalam mutiara hitam pekat yang mendiami mata Elips Minho. Alis tebal yang menaungi kedua matanya kini menyatu, Seperti ada amukan yang membara disana. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><span style="font-size:14pt;font-family:'Footlight MT Light',serif;">“kau milikku, Cho Minhyun. Milikku!”</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">Minhyun mengalihkan pandang, ia tidak peduli dengan ucapan Minho, tidak peduli dengan tangan kekar minho yang mencengkram lenganya. Pandanganya terfokus ke arah Key, sekejap Minhyun menyadari ada gemila langka dalam lekuk tajam mata Key yang kini teralih ke arah lain setelah mereka beradu tatap. lapisan sendu dalam mata sayu Key berbayang nanar.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">Key menyampirkan tas Sport biru ke pundaknya, tanpa kata dia berjalan keluar GOR meninggalkan Minho dan Minhyun yang masih mematung. Semburat ceria di wajah Key terhapus total, seperti di tulari musim dingin hingga memberi efek dahsyat pada kehangatan yang kini membatu.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">Minhyun menghujam Minho dengan tatapan jengkel, namun itu tak bertahan lama karena tatapan tajam Minho jauh lebih hebat. Minhyun mendengus kesal lalu menepis tangan Minho yang mencengkram lenganya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">“apa maksudmu hah? Kemarin kau mengaku pada jonghyun kalau aku pacarmu, sekarang kau bilang aku milikmu. Lalu besok besok apa kau akan mengaku pada Onew kalau aku istrimu dan tahun depan kau akan bilang pada Taemin kalau aku nenekmu HAH?” hardik Minhyun panjang lebar, nafasnya sedikit terengah pasca mengomel dalam sekali tarikan nafas.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">Melihat espresi datar Minho, Minhyun mendengus sebal. Tipis kemungkinan namja berbisa itu membalas ucapanya. Minhyun melangkah menjauhi Minho dengan tatapan dongkol.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">Setelah punggung Minhyun menghilang di balik pintu GOR, diam diam Minho meluapkan senyum yang susah payah ia bendung. Sungguh, Minho merindukan ekspresi konyol Cho Minhye kala mengomelinya dengan satu tarikan nafas seperti tadi. Entahlah sudah berapa tahun kejadian itu berlalu.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">Minho yakin, Cho Minhye pasti melupakan dirinya dalam peristiwa malam itu. karena saat itu mereka dalam keadaan tidak normal. Tetapi hingga kini Minho masih menyimpan ingatan itu dalam kotak transparan, tak membiarkan sekeping kenangan untuk terbang. First Love in the first sight.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">Lengkungan senyum yang terpeta di wajah Minho seketika mendatar kala mata tajamnya menangkap siluet seseorang. Orang pertama yang pergi dalam peristiwa tadi kini tampak sedang bersandar pada daun pintu yang terbuka.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">“aku butuh penjelasan, Choi Minho!”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">Minho membenamkan kedua tanganya ke dalam saku celana, dengan menarik salah satu sudut bibir dia membalas ucapan sinis Key.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">~*~*~*~</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">Masih dengan langkah Kesal Minhyun berjalan memasuki Evalator menuju English Class -kelas mereka memang tidak tetap karena SShal menerapkan sistem Moving Class. saat pintu terbuka di lantai 5 tiba tiba Minhyun berpapasan dengan Taemin dan Onew yang kebetulan hendak memasuki Elevator juga.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">“kalian mau kemana?”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">“ke SSedna, kau mau ikut?” tawar Onew, dirinya terlihat sibuk merapikan berkas berkas yang dikapitnya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">Pandangan Minhyun mengarah pada Taemin “kau juga ikut?”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">“nan? Tidak ikut kesana adalah keberuntungan, tapi…” Taemin menoleh ke arah onew kemudian bergidik ngeri. Sebenarnya Bukan tatapan tajam yang dilayangkan Onew, hanya sebuah tawa kecil namun menyeramkan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">“kau tau maksudku kan, Cho Minhyun?” tanya Taemin dengan tatapan yang mengandung arti He-is-Freak!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">Minhyun mangut mangut berusaha mengulum tawa. Lihatlah ‘mereka’ sangat pandai menyembunyikan rahasia. Wajah Taemin yang santai tak menyiratkan sedikit kehebohan pasca kejadian tadi pagi.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">Karena malas bertemu dua namja terkutuk –Minho dan Key- akhirnya Minhyun memutuskan ikut ke SSedna, barang untuk bertemu jinhya yang penting dia lepas dari jeratan dua namja setan itu.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">~*~*~*~</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">Taemin memisahkan diri dari Onew dan Minhyun di koridor SSedna, mendengar teriakan Yeoja yang mengelu elukan mereka membuatnya Trauma akan kejadian waktu itu. peristiwa naas –paling memalukan- di toilet SSedna, masih<span>  </span>lengket dalam ingatanya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">Biarkan sajalah Onew yang terus dicubiti yeoja yeoja sinting itu dan Minhyun yang tak henti hentinya dikatai imut, yang Jelas dia harus menjaga jarak dengan siswi SSedna –apalagi yang bernama Shin Sungrin.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">Taemin pun memutuskan untuk masuk ke perpustakaan. disini tidak mungkin ada yang bergosip karena tulisan “Keep Silent” dan “Be Quiet” terpampang besar. Lagi pula Taemin yakin penjaga perpus yang berkacamata tebal dengan model rambut lama itu sudah cukup sangar. Oke, kalau masih ada yang bergosip lagi, dia bisa bersembunyi dibalik rak buku menjulang tinggi yang berjumlah puluhan itu. well, tidak kah ini sangat Over Protective?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">Taemin menyusuri rak rak buku demi mencari buku yang menarik, karena mustahil Onew si pengurus Proposal itu hanya memerlukan waktu sedikit. Tak lama kemudian aktifitas taemin berhenti total.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">Oh hell, orang yang paling tak ingin ditemuinya, kini hanya berjarak lima langkah darinya. Ingin pergi namun dia tertarik menyaksikan tingkah Sungrin yang –berat diakuinya- sangat lucu.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">Gadis itu mencoba mengapai buku di rak paling atas, dengan tubuhnya yang tergolong mungil tentu saja hal itu mustahil.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">Taemin berjalan ke arah Sungrin, Tubuhnya yang tinggi membuatnya dengan mudah mengambil buku itu. Sungrin yang kaget langsung membalikkan badan, ia menengadah lalu tersentak pelan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">“Lee Taemin?” guman Sungrin. Taemin hanya tersenyum, ia merasa Euphoria kecil menjalari hatinya kala mengunci gadis itu diantara rak buku dan tubuhnya. Jarak mereka sangat dekat, sekali dorongan saja maka suatu hal akan terjadi.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">“buku mu”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">Sungrin terpaku saat Taemin menyodorkan sebuah buku padanya. Awalnya dia senang, namun ketika membaca tulisan pada cover buku itu dia malah ingin menendang Taemin</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">“Pabboya!” pekik Sungrin, Taemin melotot tajam.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">“yang mau ku ambil itu buku Biologi, bukan buku Sex Education, Pabbo! Dasar namja mesum sesat!!” gerutu Sungrin.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">Air muka Taemin sontak berubah, dia memutar bola matanya sembari <span> </span>mendecak kesal “mana ku tahu, tanganmu kan tidak sampai ke tempat buku itu, bodoh!”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">“kenapa kau tidak bertanya? Dasar Pervert!” maki Sungrin.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">Taemin mendengus kesal, kenapa suara yeoja dihadapanya ini cempreng sekali, jangan jangan Sound System Hyukjae si kepala yayasan itu sering rusak gara gara dimakanya lagi. oke, ini terlalu jauh.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">“Mwo? Kau bilang aku Pervert?”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">“dari awal kau memang Pervert kan, namja mesum?” Tantang Sungrin.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">Gemas, Taemin pun melepas tanganya pada buku –salah-ambil- yang ia pegang, buku itu menghantam lantai dengan posisi terbuka yang menapilkan gambar bertuliskan ‘hard sex’. Taemin mengumpat dalam hati, sebelum buku itu membuatnya lebih malu lagi buru buru ia tendang jauh sampai buku laknat itu menelungkup.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">Tatapan Taemin teralih ke arah Sungrin, melihat semburat merah yang berpendar di pipi Sungrin ia tak kuasa membuatnya menahan senyum, namun yang muncul di bibirnya adalah seringai miring meremehkan. Sebersit ide nakal tersirat, Taemin merentangkan kedua tangan hingga telapak tanganya menyentuh sisi rak buku di belakang Sungrin. Yeoja itu terkurung.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">“kau mau kutunjukan arti Pervert sebenarnya, Chagiya?”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">Detak jantung Sungrin tiba tiba meliar saat mendengar Taemin menyebutnya dengan kata sayang, apalagi ketika Taemin mendekatkan wajahnya ke arah Sungrin.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">“kau benar benar liar” desis Sungrin seraya memicingkan matanya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">Brakkk…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">Bibir mereka pasti bertemu kalau saja suara benda jatuh itu tidak terdengar. Taemin memutar bola matanya, ia mendecak kesal saat mendapati ternyata para Yeoja sudah berkumpul di ujung lorong rak rak buku. Bagaimana ia bisa tidak menyadarinya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">sontak Taemin melepaskan tanganya, berharap kalau gadis dengan rona merah dipipinya itu tak menyadari detak jantung Taemin yang menggila. Sial, kejadian memalukan ini terulang lagi, bahkan sekarang secara Live!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">“aigooo… calon suami istri ini berulah lagi”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">Diantara celetukan dan siulan nakal,Kalimat godaan yang satu itu tertangkap jelas oleh Taemin, karena dia sangat mengenal suara itu. Taemin menatap Tajam ke arah Jinhya lalu mendecak jengkel pada Minhyun dan Onew yang juga tertawa gila gilaan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">“Eonnie, aku benci sebutan itu” pekik Sungrin nyaring.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">Mendengar itu, Refleks tatapan Taemin beralih pada Sungrin. “Mwo? Kau memanggil Jinhya Eonnie?”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">Taemin menunduk, mencari name tag Sungrin yang ternyata dipasang pada blazer sebelah Kanan –sejajar dengan lambang SSedna di sebelah kiri. Dengan gerakan kilat Taemin membaca aksara hangul yang tertulis nama Shin Sungrin dan dibawahnya terpampang tulisan <span> </span>‘2-A ShineShall’</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">Sungrin yang menyadari gerak gerik Taemin dan seringai kecil namja itu, langsung menyilangkan tangan di depan dada. Ia menghujam Taemin dengan geram “APA YANG KAU LIHAT BODOH?!!”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">“rata begitu apa yang mau dilihat” guman Taemin asal, Sungrin melotot tajam kalau saja Taemin tidak mengelak pasti cap tanganya sudah terlukis di pipi namja itu</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">“jadi kau masih bocah, Shin Sungrin?” ejek Taemin sembari menjulurkan lidah, tawanya pecah kemudian.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">“siapa yang kau bilang bocah, Lee Taemin Pabbo!” tukas Sungrin</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">“Mwoya? Aku ini Sunbae mu bodoh!”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">“aish! Baiklah Taemin Sunbae berotak mesum”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">“Ya! Sunbae? Panggil aku Oppa bodoh!” Taemin tercenung mendengar ucapanya. Hey, itu diluar kendali.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">“andwae!”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">“harus!”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">“Andwaeyo!”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">“aigoo… Taemin jadi ini calon istrimu?” sela Minhyun iseng.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">“ANNIYO!!!” seru Taemin dan Sungrin bersamaan, teriakan mereka langsung membuat Minhyun bungkam. Melihat dua orang yang masih mengutuk satu sama lain itu, tawa murid yang berstatus penonton melambung keras.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">“SILAHKAN KELUAR KALAU INGIN MENGOBROL!!!” teriakan pedas penjaga perpustakaan berhasil mengunci mulut yang melambungkan tawa. Tak lama kemudian para penonton itu bubar diikuti dengan Onew yang masih ada urusan juga Jinhya dan Sungrin yang harus kembali ke kelas.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">Taemin menyandarkan punggungnya pada sisi penyanggah rak buku. Ia menengadahkan kepalanya menatap langit langit kemudian menghela nafas panjang. Taemin merasa perbuatannya kali ini adalah yang terburuk.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">Dengan bodohnya dia membiarkan perasaan girang meletup kuat seperti tanah tandus yang menyeruakan hawa gembira ketika menunggu mekarnya bunga musim semi. Hey, Taemin tahu tempat itu dan suatu saat ia harus mengajak orang yang sudah meracik Euphoria untuknya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">“Kau menyukainya?”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">Taemin terkesiap pelan, baru ia sadari ada seseorang yang tersisa dari gerombolan tadi. Taemin tersenyum dengan tatapan kosong, bukan senyum ceria seperti biasanya maupun senyum pedih seperti subuh tadi. Sebuah metafora kosong.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">~*~*~*~</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">Seorang pemuda melingkarkan dua jemarinya di gagang cangkir bewarna putih susu, ia menarik cangkir itu lalu di sentuhkan ke permukaan bibirnya. Merasa bahwa Ginger Tea yang berada di dalam cangkir masih sangat panas bila terseduh lidah, Ia pun meniup cairan kental itu dengan nafas panjang, uap yang tercipta langsung mengembul meninggalkan bercak di kacamata pemuda itu dan sejurus kemuan hilang tak berjejak.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">Setelah menyesap separuh dari isi cangkir, pemuda itu meletakkan cangkir putih dalam genggamanya ke meja kayu yang berdiri di atas lantai Gazebo belakang rumahnya. Meski sudah mengenakan Long Sweater putih dan dipadukan dengan Scarf berwarna Tan yang disampirkan asal secara Keffiyeh neck Wrap, tetap saja deruan angin senja masih menjamah kulitnya yang ikut terasa dingin.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">“Key!”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">Pemuda itu menoleh, ia membetulkan letak bingkai kacamatanya kemudian menatap heran pada seseorang yang sangat dikenalinya. Niat untuk tersenyum kontan memudar kala pening dikepalanya kembali menggila.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">Ketika sakit menghampirinya, Key lebih suka berdiam di Breath of Heaven dan mengkonsumsi obat seadanya –bahkan tak jarang ia mengabaikan semua obat. Baginya tempat ini adalah obat penenang yang kekal.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">“yo! Choi Minho” sapa Key parau.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">Minho berjalan cepat ke arah Gazebo kayu yang atapnya terbuat dari daun rumbia, dia menaiki anak tangga yang terbuat dari bambu lalu menghampiri Key yang duduk bersandar pada kayu berukiran antik yang merupakan penyanggah atap. Key memang sangat menggilai desain Natural-modern seperti ini.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">“kau sakit?” tanya Minho sembari menyentuhkan ujung telunjuk dan jari tengahnya ke pipi kanan Key “panas” gumannya kemudian.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">“baiklah, aku tahu menyuruhmu ke rumah sakit adalah sia sia” Minho menyambar Ipad yang tergeletak di atas meja “aku akan menyuruh dokter keluargaku datang kemari, akan kubunuh kau kalau menolak Kim Kibum!”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">Bukanya kesal, Key malah tertawa meski suara yang terdengar serak seperti orang menahan batuk. “kau ingat Seungri?” tanya Key pada Minho yang masih mengutak atik Ipad-nya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">“teman Gay mu itu?” jawab Minho sekenanya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">“kau tahu, membunuhmu adalah pilihan terakhirnya. Tapi kalau melihatmu seperti ini, dia pasti langsung menempatkan pilihan pertama untuk membunuhmu!”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">“well, Kau menyukainya?” tanya Minho yang sudah selesai berkutat dengan Ipad.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">“kalau Phobiaku tak kunjung sembuh, mungkin iya” jawab Key acuh tak acuh.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">“setidaknya, itu pilihan terakhir” mereka berdua pun tertawa. Entah apa yang lucu, yang jelas mereka menikmati kehangatan langka ini. Key tersenyum simpul, setidaknya hangat persahabatan masih melingkupinya ketika semua kehangatan sirna sejak 9 tahun lalu.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">“tadi aku bertemu Suster kepala di panti. Dia bilang tadi kau ke Gereja, benarkah?” Tanya Minho. mengingat tubuh yang terasa lemas, Key hanya mampu mengangguk pelan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">“ck… YA! Kim Kibum, kenapa kau seperti ini hah? kau yang menciptakan Phobia-mu sendiri! Padahal kau bertemu…”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">“diamlah” Key memotong ucapan Minho, pandanganya teralih ke arah pantai berombak tenang dihadapanya “aku sudah hafal kalimat yang mau kau bicarakan!”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">Tatapan Minho menerawang jauh ke arah pantai, deburan suara ombak seakan menjadi lagu latar yang memecah lingkupan atmosfir sunyi di sekeliling mereka. Minho menghela nafas panjang<span>  </span>“sejak ‘dia’ datang kau benar benar berubah!” Dalam hati ia membenarkan itu dengan tambahan bukan hanya Key yang berubah tetapi Onew, Jonghyun, Taemin dia rasa ada yang berbeda pada diri mereka dan terutama pada dirinya sendiri.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">“kenapa? Kau takut Minhye mu ku rebut?” goda Key dengan seringai usil “aku tahu kau menyukainya, Choi Minho!”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">Minho tersenyum samar, untuk kesimpulan terakhir yang Key buat sepertinya harus di timbang ribuan kali meskipun bagian otaknya sudah terjerumus dalam ke arah sana. Minho mengangkat salah satu sudut bibirnya, dengan mata yang bersinar jenaka dia menatap Key tajam.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">“lalu, apa Kau juga mencintainya?”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">Meski tak kentara, mata Key yang membulat lebar masih dapat tertangkap penglihatan Minho. Sesuai dugaanya, namja itu sama sekali tidak beraksi. Key menoleh ke arah Minho, menyuguhkan seringai iblis terbaiknya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">~*~*~*~</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">Minhyun menapakan kaki di sebuah lorong sunyi, derap langkah yang bergema memecah kebisuan. Sesekali beberapa pegawai melintas di sepanjang lorong itu dan meski samar namun hingar bingar tempo musik yang diredam masih terdengar.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">Sebenarnya Minhyun merasa asing dengan tingkat tengah sebuah hotel ini, penampilanya yang berbeda juga terasa aneh. Demi Taemin, dia melancarkan sebuah misi meski dirinya harus berpenampilan sebagai gadis nakal dan masuk ke lingkungan gelap sebuah diskotik</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">Minhyun mengeluarkan Iphone dalam Handbagnya, saat dia membuka kunci tiba tiba yang muncul di layar adalah foto dirinya saat berada di dalam ruang ganti sehabis merubah penampilan.</span></p>
<p style="text-align:left;"><a href="http://ffindo.files.wordpress.com/2012/01/1218183484771.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-49730" title="121818348477" src="http://ffindo.files.wordpress.com/2012/01/1218183484771.jpg?w=584" alt=""   /></a></p>
<p style="text-align:left;">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">Errr… entah kenapa Minhyun merasa rambutnya bulat seperti bakpao yang diberi pita, seperti memakai Helm saja -___- well, hanya itu rambut palsu pendek yang ditemuinya. Minhyun sedikit trauma memakai rambut panjang, takut gatal gatal seperti punya Jinhya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">Melihat foto aneh itu Minhyun kehilangan nafsu menggunakan ponselnya, Ia kembali memasukan benda itu. menyadari telah sampai di depan sebuah pintu, langkah Minhyun terhenti. Sesaat ia ragu membukanya, namun dari belakakang seseorang lebih dulu masuk membuat Minhyun mau tak mau mengintip sedikit.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">“semoga tidak terlalu buruk. Fighting!”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">Dan ini menjadi pengalaman yang cukup mengerikan bagi Minhyun, karena ketika pintu terbuka dirinya langsung disambut 2 pelayan Pria yang berpakaian kelewat terbuka. Beat musik yang keras membuat telinganya berdengung, Minhyun sempat menutup telinganya dengan telunjuk namun sesaat kemudian ia melepasnya, tak mau dikira aneh oleh para manusia sinting dihadapanya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">“mau pesan apa Nonna?”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">Minhyun terperanjat kala seorang pelayan menghampirinya. Buru buru ia memalingkan wajah ketika mendapati si pelayan hanya memakai baju jaring jaring (?) tanpa lengan dengan nametag yang tersangkut asal. Arghh! Rasanya ia ingin menyumpali bolong bolong di baju itu dengan bulu ayam Onew.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">“a.. anniyo!” tolak Minhyun, Pelayan itu mengangkat bahu sekilas kemudian pergi.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">Minhyun mengedarkan pandanganya ke ruangan remang yang diterangi lampu warna warni ini. dilantai panas terdapat beberapa penari yang kekurangan kain dan semakin gelap tempat semakin ramai pula lah disitu.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">“DJ TAEMIN JUNG IS BACK”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">Ini benar benar gila. Minhyun mematung menatap seseorang yang mengenakan Headset di balik peralatan DJ yang terletak di atas lantai. Orang itu terlihat serius mengatur irama musik sambil sesekali membuka Headsetnya supaya mendengar lebih jelas derap musik yang ia ciptakan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">Minhyun kenal betul siapa orang itu meski wajahnya hanya disinari gemerlap lampu disco yang redup. Tapi kenapa? Kenapa taemin mengganti marganya?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">Penampilan Taemin lebih liar ketimbang yang dilihatnya pagi tadi. Minhyun semakin terbelalak ketika ia melihat Taemin meninggalkan meja DJ dan terjun ke lantai panas yang dipenuhi orang orang yang sibuk menari.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">“hhuuuuu”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">“kyaaaaaaa”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">Teriakan heboh mewarnai lantai itu, mereka membentuk sebuah lingkaran dengan Taemin dan beberapa penari bayaran lain yang berada di tengah. Awalnya Taemin hanya menerapkan Moonwalk, namun seiring bergantinya Beat musik tarianya terjurus ke arah Breakdance.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">Dan hawa lantai itu semakin panas saja ketika sang DJ mengganti irama musik yang berderap sangat kencang. Para wanita bersorak heboh ketika Taemin membuka satu persatu kancing bajunya dengan diiringi Tarian yang menggairahkan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">Taemin mengedipkan sebelah mata setelah ia menanggalkan kemejanya secara asal, sorotan lampu disco membuat keringat yang membasahi tubuh Taemin terlihat mengkilap. Sangat Normal jika Minhyun merasa Taemin terlihat Sexy.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">“aigoo… jauhkan pikiran yadong itu Minhyun pabbo!” gerutu Minhyun pada dirinya sendiri.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">Ia menelan ludah saat sadar dibalik wajah cute Taemin ternyata ia mempunya tubuh atletis dengan abs yang hampir sempurna “glekkk… apa Taemin ikut judo, karate, Taekwondo atau semacamnya? Mustahil ia mendapatkan kotak kotak itu mengingat dirinya yang selalu di cap Imut” batin Minhyun.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">Tarian taemin semakin menjadi jadi, membuat seorang yeoja tak kuasa menahan diri hingga memeluknya dari belakang. Merasa seseorang menjeratnya, Taemin membalikkan badan. Ia merengkuh punggang Yeoja itu lalu mencium bibirnya dengan kilat setelah mengeluarkan senyum iblis yang memikat.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">“gila, Taemin gila!!! Sinting!!!”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">Minhyun mengutuk Taemin habis habisan saat dirinya keluar dari ruangan itu. ia terhuyung huyung berjalan menuju toilet, benar benar gerah berada di dalam sana.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">Saat Minhyun membuka toilet, semua mata tertuju padanya. Minhyun menyernyit, namun semua orang disana buru buru menutup relsleting celananya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">“YA! APA YANG KAU LAKUKAN?!!!”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">Buru buru Minhyun menutup pintu toilet itu. aigoo… gara gara kaseringan masuk toilet namja dia jadi keterusan padahal sekarangkan dia jadi Yeoja. Untung saja dirinya tak melihat apa yang seharusnya tidak dilihat. Yah, walaupun terkadang hampir sih, psttt…. Ini rahasia hehe.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">Bantingan pintu menandakan Minhyun telah masuk dengan selamat ke toilet yeoja. Setidaknya namja namja itu tidak bisa masuk kemari. Entah apa hubunganya, tapi Ini semua gara gara Taemin!!!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">Minyun membasuh wajahnya di westafel, persetan dengan make up yang susah payah ia buat. Yang jelas dirinya butuh ketenangan untuk menetralkan pikiran. Minhyun memercikkan air yang tersisa dari tanganya sambil menatap cermin di hadapanya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">Tiba tiba seseorang berjalan mendekati wastafel di sebelahnya. Minhyun tertegun, ia kenal betul sosok it. Uzuki Naomi, sedang apa dia disini?. Tak lama kemudian seseorang datang menggunakan Westafel paling ujung.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">“eh, Naomi-chan, kenapa kau tidak bilang kalau datang kemari” seru yeoja tadi sambil memeluk Naomi.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">Merasa Tertarik, Minhyun mengeluarkan sisir bulat dan Menyibukkan diri merapikan Rambut Bakpao yang sebenarnya sudah kaku karena ketumpahan Hairsprai -___-</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">“aw… pelan pelan” pekik Naomi. Refleks yeoja tadi melepas pelukanya, ia menatap miris pada Naomi.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">“kau dipukul Jonghyun lagi? kapan terakhir kali dia memukulmu?” tanya Yeoja itu seraya menatap cemas pada Naomi</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">Mendengar itu, Minhyun membeku seketika. apakah yang dimaksud Yeoja itu Kim Jonghyun Orang teramah yang pernah dikenalnya? Mustahil, pasti salah orang. MInhyun kembali melanjutkan aktifitasnya, tak mau kedua Yeoja itu curiga dengan posisi es batunya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">“kemarin aku terlambat pulang, dia malah besar dan mengiraku selingkuh dengan namja lain” tutur Naomi kemudian memeluk Yeoja dihadapanya. Sepertinya mereka sahabat dekat.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">“dia benar benar keterlaluan. Minho juga, dia Tau tapi tidak melakukan apa apa. Mereka brengsek!”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">“suatu saat aku pasti memberinya pelajaran” kecam Yeoja itu. ia menepuk nepuk punggung Naomi dengan pelan, mengeluarkan rentetan kalimat menenangkan yang lembut.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">Setelah mereka keluar, Minhyun tak mampu lagi melepaskan nafas yang ia tahan. Lagi lagi sebuah rahasia yang tak terduga, suatu saat dia harus menyelidiki Jonghyun. Terutama Minho sang maha tau namun memilih bisu, seperti orang luar dia membiarkan semua mencair. Begitukah ketidakpedulianya dengan teman sendiri?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">Minhyun bergegas keluar toilet, ia mengekori langkah Yeoja tadi dengan sedikit menyisakan jarak agar mereka tidak curiga. Sesampainya di dalam diskotik Naomi memilih duduk di sofa, sedangkan Yeoja tadi melangkah masuk ke dalam ruangan bertuliskan ‘staff room’</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">Minhyun mengendap endap, ia yakin Yeoja itu tau banyak tentang rahasia SHINee. Tapi siapa dia?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">“CL Noona…” </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">mendengar suara Familiar itu, Minhyun langsung bersembunyi di balik Locker. Ia menatap sekeliling dan kemudian tersadar bahwa dirinya berada di ruang ganti… pria? Untuk apa Yeoja itu kemari? Minhyun menajamkan penglihatanya, mengamati seorang namja yang mendekati yeoja tadi.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">“Lee Taemin, ku dapatkan kartumu!” batin Minhyun</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">~*~*~*~</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">“Noona…” sahut Taemin untuk kedua kalinya, dan sukses membuat Yeoja yang di panggilnya itu berbalik. Taemin tersenyum kecil menyambut senyuman yang lebih dulu dilambungkan yeoja itu, ia berjalan mendekat.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">“kemana saja kau?” sahut yeoja itu ketika Taemin sudah berada di hadapanya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">“hanya melayani para penggemarku” ucap taemin lalu mengecup singkat kening Yeoja itu. ia menelungkupkan kedua tanganya pada pipi yeoja cantik dihadapanya kemudian mengusap pelan pipi yeoja itu dengan ibu kajarinya. Gadis dihadapanya ini memang memiliki kecantikan di atas rata rata.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">“YA! Kemana bajumu?”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">“aigoo… apa kau tak bisa lembut dengan Calon suamimu ini hah?” Taemin merengkuh Yeoja di hadapanya secara Lembut. wangi tubuhnya yang berbaur dengan aroma Yeoja ini selalu berhasil mendamaikan intuisi yang terpendar pecah.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">“calon suami? Kalau begitu jangan panggil aku Noona dan nama samaranku! Kau pikir aku setua apa hah? kita hanya terpaut 4 tahun tau!” cerocos Yeoja itu membuat Taemin melayangkan tawa kecil.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">“ne. Lee Chaerin, Jeongmal Saranghae”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">“nado Saranghae Lee taemin, nappeun namja!”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">Yeoja bernama Chaerin itu tersenyum lebar, ia mengalungkan kedua tanganya di Leher Taemin. Dengan gerakan lembut ia menuntun Taemin agar sedikit menunduk, supaya dirinya lebih mudah mengapai bibir taemin yang sudah tak tahan ingin dilumatnya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">Taemin membalas ciuman itu, mereka sama sama melumat dalam waktu yang cukup lama. Nafas yang memburu terdengar jelas kala Chaerin melepas kontak pada bibir mereka. Yeoja itu menyeringai nakal “kau benar benar liar, Lee Taemin!”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">Taemin terpekur sejenak, ucapan itu serupa jaritan Sungrin di perpustakaan. Sejurus kemudian ia menggeleng pelan, tak ada gunanya memikirkan gadis itu. asanya tidak terjangkau.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">Taemin tersenyum Miring, dengan mata berkilat nakal dia menggendong Chaerin ke atas meja, membiarkan wajah mereka sejajar agar lebih mudah melanjutkan ciuman tadi. Taemin menekan tenguk Chaerin, mengisyaratkan agar Yeoja itu memperdalam gerakanya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">Ditengah aktifitas yang semakin memanas, tiba tiba Taemin melepas ciumanya. Chaerin tersentak pelan, ia menatap Taemin binggung namun namja di hadapanya itu tidak membalas tatapanya. Pandangan Taemin teralih ke arah samping, menatap tajam pada Locker tempat seseorang bersembunyi.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">“CK! Aku tahu kau disitu Choi Minhyun! Jangan lari karna sudah lama aku tahu kau adalah Yeoja!” seru Taemin seraya menyuguhkan senyum sinis penuh kemenangan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">__ TBC __</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">Annyeong hahaha <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">Adakah yang sudi membuat poster buat FF ini? tsahhh…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">Entah kenapa aku ngakak sendiri pas bikin adegan Taemin sama CL, padahal nggak lucu ye #authorgila -___- well, jangan ada yang protes kalau Yeoja itu CL gitu gitu dia kan 91lines hehe.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">Awalnya aku pengen masukin OC, tapi gara gara kebanyakan tokoh jadi aku masukin member GB deh –takut readers pada gak hafal namanya- dan yang kepikiran Cuma CL doang karna aku nggak tau banyak soal GB. Kan cocok tuh sama karakter gelap taemin di ff ini muahahhaha awas kalo protes *ngasah bambu runcing #digorok</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:'Footlight MT Light',serif;">Dan aku paling gondok kalo ada yang namya onew kemana, jjong dimana. Pokoknya tunggu aja di Chapter berikutnya. Makasih banyak loh buat Readers dan Siders yang udah tobat *peluk satu satu* jangan lupa RCL ya buat nyemangati aku kkkkkkk~</span></p>
<p>Cheers,</p>
<p style="text-align:left;"><a href="http://www.twitter.com/ayyamonica" target="_blank">LucifeRain ( Ayya )</a></p>
<p style="text-align:left;"><a href="http://ffindo.files.wordpress.com/2012/01/398576_334220783266797_100000366336819_1127609_505884216_n.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-49732" title="398576_334220783266797_100000366336819_1127609_505884216_n" src="http://ffindo.files.wordpress.com/2012/01/398576_334220783266797_100000366336819_1127609_505884216_n.jpg?w=584" alt=""   /></a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ffindo.wordpress.com/49725/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ffindo.wordpress.com/49725/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ffindo.wordpress.com/49725/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ffindo.wordpress.com/49725/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ffindo.wordpress.com/49725/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ffindo.wordpress.com/49725/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ffindo.wordpress.com/49725/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ffindo.wordpress.com/49725/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ffindo.wordpress.com/49725/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ffindo.wordpress.com/49725/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ffindo.wordpress.com/49725/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ffindo.wordpress.com/49725/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ffindo.wordpress.com/49725/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ffindo.wordpress.com/49725/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ffindo.wordpress.com&amp;blog=9871143&amp;post=49725&amp;subd=ffindo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ffindo.wordpress.com/2012/01/28/seasons-of-the-lucifer-chapter-9/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4a30c6b59b9c09a41a67d3a1cc66267e?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">luciferain</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ffindo.files.wordpress.com/2012/01/a6.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">a</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ffindo.files.wordpress.com/2012/01/1218183484771.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">121818348477</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ffindo.files.wordpress.com/2012/01/398576_334220783266797_100000366336819_1127609_505884216_n.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">398576_334220783266797_100000366336819_1127609_505884216_n</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Love Is Punishment Part 3</title>
		<link>http://ffindo.wordpress.com/2012/01/28/love-is-punishment-part-3/</link>
		<comments>http://ffindo.wordpress.com/2012/01/28/love-is-punishment-part-3/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Jan 2012 13:26:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bebskey</dc:creator>
				<category><![CDATA[bebskey]]></category>
		<category><![CDATA[f(x)]]></category>
		<category><![CDATA[kyuhyun]]></category>
		<category><![CDATA[SHINEE]]></category>
		<category><![CDATA[Sulli]]></category>
		<category><![CDATA[Super Junior]]></category>
		<category><![CDATA[Taemin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ffindo.wordpress.com/?p=49700</guid>
		<description><![CDATA[  Author : Nisa Ayu Thayalisha Hadi (Nam Hyen Hyo) Cast : Lee Taemin Choi Jinri Nam Hyen Hyo Cho Kyuhyun Title : Love Is Punishment (PART 3) Length : on going~ Genre : Romance, Angst Rating : PG-13 Disclaimer &#8230; <a href="http://ffindo.wordpress.com/2012/01/28/love-is-punishment-part-3/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ffindo.wordpress.com&amp;blog=9871143&amp;post=49700&amp;subd=ffindo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"> <a href="http://ffindo.files.wordpress.com/2012/01/love-is-punishment-12.png"><img class="aligncenter size-full wp-image-49701" title="Love Is Punishment 1" src="http://ffindo.files.wordpress.com/2012/01/love-is-punishment-12.png?w=584" alt=""   /></a></p>
<p align="center">Author : Nisa Ayu Thayalisha Hadi (Nam Hyen Hyo)</p>
<p align="center">Cast :</p>
<p align="center">Lee Taemin</p>
<p align="center">Choi Jinri</p>
<p align="center">Nam Hyen Hyo</p>
<p align="center">Cho Kyuhyun</p>
<p align="center">Title : Love Is Punishment (PART 3)</p>
<p align="center">Length : on going~</p>
<p align="center">Genre : Romance, Angst</p>
<p align="center">Rating : PG-13</p>
<p align="center">Disclaimer : The casts are belong to God, and this Fan Fiction is belong to me kekekeke~ i own this plot ok?</p>
<p align="center">Note : This is pure my imagination.</p>
<p align="center">Credit Poster : cutepixie@darkreflection.so-pink.org</p>
<p align="center">NB : FF ini aku buat karna aku terinspirasi oleh lagu ‘Love is Punishment’ yang dibawakan oleh K. Will di OST Brilliant Legacy. Setiap kalimat yang bergaris miring, itu adalah translate-an dari lagunya. Semoga ceritanya menyenangkan^^ happy reading heheh~</p>
<p align="center">===============================================================</p>
<p> <span id="more-49700"></span></p>
<p style="text-align:justify;">TAEMIN POV</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em><span style="text-decoration:underline;">Preview</span></em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><em>“mau kemana kau?” saat ku dapati Jinri sudah berpakaian rapih dan sedang menuju pintu rumah.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>“bertemu kyu oppa” jawabnya santai dan sambil tersenyum.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>“mengapa kau jadi sering sekali bertemu dengannya diluar jadwal kita huh?” tanyaku terpancing emosi. Kenapa dia jadi sering bertemu Kyuhyun? Kenapa hatiku semakin hari semakin tidak rela?</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>“sebelumnya aku ucapkan terimakasih padamu Lee Taemin yang sudah mempertemukanku dengan seorang Cho Kyuhyun. Terima kasih padamu karna kau mempertemukanku dengan Cho Kyuhyun, aku jadi bisa merubah hidupku. Terima kasih. Kau memang baik sekali” katanya sambil tersenyum sinis dan menghilang dari pandanganku. Dia pergi. Dia bilang apa tadi? Kyuhyun sudah bisa merubah hidupnya? Jadi selama ini dia mendiamkanku itu karna Kyuhyun?</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>“kau&#8230;” aku mengepalkan kedua tanganku karna geram. Kenapa Kyuhyun bisa mendapatkan semua orang yang spesial bagiku?!</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Hyenhyo. Sekarang Jinri.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Kenapa dia begitu sempurna?</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>PRANG! Aku memukul meja tamu yang sekarang berada di hadapanku.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Darah terus menetes dari tanganku tapi semuanya tidak sesakit yang ada dihatiku. Kehilangan Jinri yang dulu ternyata sangat menyakitkan. Kenapa aku baru menyadarinya sekarang?</em></p>
<p style="text-align:justify;">___________</p>
<p style="text-align:justify;">“itu kan mobilnya Kyuhyun” kataku saat mengintip dari jendela. Jadi benar apa yang baru saja Jinri katakan bahwa dia ingin pergi dengan Kyuhyun? Ternyata sekarang Kyuhyun sudah berani menjemput Jinri. Kenapa tidak dia urusi pacarnya itu? Kenapa dia sekarang malah lebih sering terlihat bersama Jinri dibandingkan Hyen Hyo?</p>
<p style="text-align:justify;">“bukan kah itu bagus untukmu Lee Taemin?” tanpa sadar senyum sinisku pun menghiasi wajah tampanku “satu langkah lagi untuk mendapatkan Hyen Hyo” lanjutku lagi yang masih saja berbicara pada diri sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;">“lebih baik aku ke rumah Hyen Hyo” kataku. “tapi aku penasaran, sebenarnya apa sih yang mereka bicarakan dan lakukan jika sedang diluar akting seperti ini? Jangan-jangan mereka sudah dekat satu sama lain? Apa Jinri benar-benar menyukai Kyuhyun? Kenapa dia bisa menyukai cowok bejat seperti dia? Aish. Sepertinya kau telah salah jatuh cinta saengie. Aku ga akan membiarkan kau mencintai seorang namja yang tidak cocok untukmu” aku berjalan menuju dapur dan mencari kotak p3k untuk menyembuhkan luka di tanganku baru setelah itu aku akan pergi menemui Hyen-noona. Ah Jinri, kau membantu sekali ternyata saengie-ah~</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;"> </span></strong></p>
<p style="text-align:justify;">HYEN HYO POV</p>
<p style="text-align:justify;">Sebenarnya aku sedang menunggu Kyuhyun, berharap dia datang dan mengajakku jalan-jalan atau hanya bersantai dirumahku. Tapi kenapa malah anak ini yang datang? Tapi apa boleh buat, daripada aku tidak ada kerjaan dirumah, lebih baik aku menerima tawarannya untuk jalan-jalan.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebenarnya kyuhyun kemana sih? apa dia marah karna kemarin aku sempat mencuekkannya? Atau dia sedang asik dengan yeoja baru-nya itu? Huh, apa aku se-membosankan itu sampai-sampai Kyuhyun berselingkuh? Apa kyuhyun sudah tidak mencintaiku lagi? Kenapa dia begitu tega?</p>
<p style="text-align:justify;">“noona, jangan melamun. Kau ingin kemana sekarang?” tanya anak kecil yang sekarang sedang menyetir di sebelahku.</p>
<p style="text-align:justify;">“ah, aku tidak melamun. Aku ingin kita ke daerah itaewon saja. Kau mau mengantarku? Aku ingin makan makanan yang banyak” jawabku asal. Jika lagi stress seperti ini pasti bawaanku inginnya makan terus. Jadi mungkin akan asik jika kita ke Itaewon, disana banyak yang berjualan, dan lagi sekarang sudah malam bukan? Pasti akan lebih asik.</p>
<p style="text-align:justify;">“ah ne noona” kata Taemin lalu memutar balikkan mobilnya karna sekarang kita sedang berlawanan arah menuju Itaewon.</p>
<p style="text-align:justify;">“tanganmu kenapa?” tanyaku saat melihat tangan kanannya yang terbungkus perban. “terluka” jawabnya singkat. Ya iya lah terluka, kau pikir aku sebodoh apa? Maksudku kan kau terluka kenapa! Dasar. Aku akan jadi orang bodoh jika terus berbicara dengan orang bodoh seperti dia. Aish!</p>
<p style="text-align:justify;">“hm mashita Taemin-ah, kita kesana yuk” kataku setelah habis melahap makananku dan mengajak taemin ke stan yang lainnya. Aku senang jika ke Itaewon, banyak sekali stan stan yang berdiri dan menyediakan makanan yang lezat. Mashita. Dulu aku sering kesini bersama Kyuhyun, dan ini baru pertama kalinya aku kesini bersama namja lain selain Kyuhyun. Lee Taemin. Ne, sekarang aku sedang bersama dengan Taemin. Ternyata dia anaknya menyenangkan sekali. Aku baru menyadarinya. Dia bisa membuatku melupakan Kyuhyun seketika.</p>
<p style="text-align:justify;">Gomawo.</p>
<p style="text-align:justify;">Setidaknya luka dihatiku sudah sedikit reda.</p>
<p style="text-align:justify;">Walaupun hanya berlaku pada saat ini.</p>
<p style="text-align:justify;">“kau mau mencobanya?” aku berusaha menawarkannya pada Taemin dan mengacungkan sumpit di depannya. Dia membuka mulutnya dan memakan makanan yang aku sodorkan tadi. “hm, mashita noona” kekehnya. Tuhan, kenapa senyumnya begitu tampan? Aigo aku baru tau kalau dia mempunyai senyum yang bisa menambah dosis ketampanannya ini.</p>
<p style="text-align:justify;">“ne, memang ini enak sekali. Kau mau lagi?” aku mengacungkan ddeokbokki dengan sumpitku di depan wajahnya lagi. Tapi dia sedang tidak melihat ke arahku. Dan senyumannya pun sudah tidak menghiasi wajahnya lagi. Dia melihat siapa? Ke arah siapa? Aku mengikuti arah pandangannya dan membalikkan tubuhku, mencoba melihat apa yang dia lihat juga. “kyuhyun?” aku sontak kaget melihat kyuhyun yang sedang bersama dengan yeoja itu. Yeoja itu lagi. Mereka bersama lagi. Wae? Kenapa aku harus bertemu dia?</p>
<p style="text-align:justify;">“taemin-ah, ayo kita pergi. Cari makanan lain” ajakku pada Taemin agar mengalihkan pikiranku darinya. Sekarang Kyuhyun sudah lebih berani. Dia mengumbar kemesraannya di depan umum dengan selingkuhannya itu tanpa memikirkan aku lagi. Apa aku ini sudah cukup sabar untuk menghadapi hal seperti ini? Tapi aku tidak ingin kehilangan Kyuhyun. Aku tidak mau dia meninggalkanku dan berpaling dengan yeoja itu. Lalu sekarang apa yang harus aku lakukan?</p>
<p style="text-align:justify;">“itu.. namja-mu noona. Mengapa kau tidak kesana? Dia dengan siapa?” tanya Taemin yang sepertinya terkejut juga melihat Kyuhyun yang sedang menyuapi yeoja di depannya itu. Mereka terlihat sangat bahagia. Masih pantaskah aku tertawa tulus setelah melihat semua ini? Pantaskah?</p>
<p style="text-align:justify;">“oppa&#8230; sini!” yeoja itu berjalan mendahului Kyuhyun dan dia membalikkan tubuhnya agar bisa melihat Kyuhyun dan menyuruhnya untuk menghampiri dia. Apakah ini yang dimanakan kutukan dari surga?</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">TAEMIN POV</p>
<p style="text-align:justify;">Bisa melihat Hyen Hyo tertawa bahagia adalah mimpiku. Dan bisa memilikinya adalah kebahagiaanku. Aku senang hari ini dia bisa dekat denganku. Aku pikir dia sudah mulai melupakan Kyuhyun-nya itu. Dia sama sekali tidak membicarakan Kyuhyun hari ini. Dan kau tau? Aku cukup senang menerima kenyataan ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku sudah bisa membuktikannya sedikit demi sedikit janjiku bukan?</p>
<p style="text-align:justify;">Aku sudah membuat Hyen Hyo lebih membutuhkanku daripada Kyuhyun-nya itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Berkali-kali Hyen Hyo mencoba untuk menyuapi ku, dan aku terima. Tidak mungkin kan jika aku menolaknya? Kau pikir aku itu sebodoh apa menolak kesempatan berharga seperti ini?</p>
<p style="text-align:justify;">“ne, memang ini enak sekali. Kau mau lagi?” tawarnya.</p>
<p style="text-align:justify;">“ne, noona” aku menyunggingkan senyum tulusku dan sedetik kemudian pandanganku beralih pada sepasang namja dan yeoja yang sedang bersuap-suapan juga. Jinri? Bersama Kyuhyun? Mengapa Jinri terlihat sangat bahagia? Apakah dia memang benar-benar menyukai Kyuhyun?</p>
<p style="text-align:justify;">“oppa&#8230; sini!” kata Jinri yang sudah berjalan mendahului kyuhyun.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Senyummu&#8230; kenapa kau menyunggingkan senyum tulusmu itu? Apakah kau sekarang begitu bahagia? Apakah kebahagiaanmu sekarang sama dengan kebahagiaan yang sedang aku rasakan? Apakah kau memang benar menyukai Kyuhyun saengie? Jika semuanya benar, aku hanya butuh kau jawab pertanyaanku yang satu ini. Mengapa aku tidak rela melihatmu sebahagia itu dengan Kyuhyun?</p>
<p style="text-align:justify;">Kau tau, aku tidak mau kau menunjukkan senyum manismu itu di depan orang lain. Senyummu itu hanya milikku. Kau adikku. Kau milikku. Tidak sepantasnya kau menunjukkan senyummu itu pada sembarang orang. Kau tau? Dengan senyummu itu saja, kau bisa meruntuhkan pertahanan para namja. Kau bisa membuat namja jatuh hati padamu dan aku tidak mau kau menjadi rebutan para namja itu. Kau sudah gila huh?</p>
<p style="text-align:justify;">“itu.. namja-mu noona. Mengapa kau tidak kesana? Dia dengan siapa?” tanyaku yang berpura-pura tidak tahu bahwa itu adalah Jinri.</p>
<p style="text-align:justify;">“kau ingin membuatku membencimu huh? Ayo pergi dari sini!” Hyen-noona menarik tanganku paksa dan bayangan Jinri pun segera hilang di dalam kerumunan orang.</p>
<p style="text-align:justify;">Saengie kau&#8230;.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku rasa kau terlalu indah.</p>
<p style="text-align:justify;">Maka dari itu aku masih tidak rela melepasmu dengan namja lain. Ini kah alasan sebenarnya?</p>
<p style="text-align:justify;">Kau kenal denganku sudah hampir 20 tahun, tapi kau jarang sekali menampakkan senyum tulusmu itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Kenapa kau begitu mudah menunjukkan senyummu itu di depan namja yang baru saja kau kenal?</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">KYUHYUN POV</p>
<p style="text-align:justify;">“oppa, kita ke Itaewo saja yuk! Aku lapar sekali, aku juga ingin masak makanan stan disana” rayu Jinri yang sekarang sudah tepat berada di sampingku.</p>
<p style="text-align:justify;">“ne Jinri yang manis” aku mencubit pipinya pelan dan dia tertawa kecil.</p>
<p style="text-align:justify;">“oppa&#8230; kalau aku ini jahat, kau masih mau menunjukkan senyummu itu di depanku?” tanyanya tiba-tiba yang membuatku bingung apa maksud dari perkataannya.</p>
<p style="text-align:justify;">“maksudmu?” tanyaku tidak mengerti yang masih fokus pada jalanan di depanku.</p>
<p style="text-align:justify;">“ah tidak, lupakan saja. Pertanyaannya tidak penting” oh ya sudah. Tapi apa ya maksud dari perkataannya itu? Kenapa aku merasa ini semua berhubungan dengan hubunganku dengan Hyen Hyo?</p>
<p style="text-align:justify;">Aish! Hyen Hyo! Aku belum berbicara dengannya hari ini! Dia masih belum mau mengangkat telfon dan membalas pesanku. Sebenarnya dia kenapa sih? sepertinya marah sekali. Apa dia melihatku bersama Jinri lalu dia salah paham? Tapi aku tidak pernah melihat ada Hyen Hyo di sekitar kita selama aku sedang bersama dengan Jinri. Ah, mungkin anak itu mood-nya sedang tidak baik atau saja sedang datang bulan. Wanita kan memang sering berubah-ubah tidak jelas seperti itu.</p>
<p style="text-align:justify;">“oppa&#8230; aku juga mau” rengek Jinri saat aku memakan makananku. “kau seperti adikku” kataku sambil menyuapinya lalu dia tersenyum padaku. Benar-benar senyuman yang manis. Lega sekali rasanya aku hari ini tidak melihatnya menangis. Dia sangat manis jika tidak ada air mata yang menyusuri wajahnya. Lugu sekali.</p>
<p style="text-align:justify;">“oppa&#8230; sini!” katanya yang sudah berlari dan berada jauh di depanku.</p>
<p style="text-align:justify;">Aish! Kau membuatku gila dengan senyumanmu itu Jinri-ah. kau semakin mengingatkanku dengan Kyu Ra. Ah, ngomong-ngomong apa yang sedang Kyu Ra lakukan di sana ya? Apa dia baik-baik saja disana?</p>
<p style="text-align:justify;">“kyu ra, bogoshippo” bisikku pada diri sendiri dan segera menyusul Jinri yang sudah berjalan didepanku.</p>
<p style="text-align:justify;">“kau mau kemana lagi anak kecil? Hahaha” aku merangkul pundaknya dan mengikuti kemanapun dia mau. Yang aku harus lakukan sekarang adalah meyakininya bahwa namja yang dia cintai itu sudah tidak bersamanya dan dia harus melupakannya. Dia harus kembali ke kehidupannya yang normal tanpa ada bayangan namja-nya itu. Aku juga harus membuatnya yakin bahwa namja itu memang bukanlah seseorang yang di takdirkan untuk bersamanya. Misiku untuk saat ini hanyalah membuatnya terus tersenyum dan mengikis sedikit demi sedikit kenangan yang telah dia buat bersama namjanya itu.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">JINRI POV</p>
<p style="text-align:justify;">Terimakasih Kyu-oppa. Kau membuatku bahagia dan sedikit melupakan Taemin malam ini.</p>
<p style="text-align:justify;">“oppa&#8230;. kamsha hamnida. Lain kali ajak aku pergi lagi ya^^” ucapku riang saat mobil Kyuhyun oppa sudah terparkir di depan rumahku. Ne, malam ini aku bisa pergi bersamanya karna Kyu-oppa mengajakku. Katanya dia sedang bosan. Tapi kenapa dia tidak mengajak Hyen-unnie? Apakah Hyen-unnie masih marah padanya? Aish! Kau terlalu jahat Jinri, kau sudah membuat orang yang baik dan berhati tulus seperti Kyu-oppa ini merasa sakit. Pasti sekarang Hyen-unnie sedang marah dengan Kyu-oppa. Memangnya tidak sakit apa ketika kita mengetahui bahwa orang yang kita cintai sedang marah dengan kita? Bukankah itu namanya sama saja seperti sedang dikutuk?</p>
<p style="text-align:justify;">“ne, saengie-ah, masuklah. Orang tuamu pasti khawatir” katanya. Orang tua? Hahaha lucu sekali. Jadi selama ini Kyu-oppa mengira aku tinggal dengan orang tuaku? Kau tau Kyu-oppa? Sebenarnya aku ini tinggal dengan seorang namja yang setiap hari berhasil menancapkan pedangnya dihatiku. Orang yang bisa membuatku menangis karna tidak kuat lagi menahan rasa sakit yang ada dihatiku. Orang yang aku cintai sekaligus aku benci untuk saat ini. Orang yang mempunyai senyum kedamaian. Orang yang sudah membuatku tergila-gila dengan senyumnya itu, bahkan diriku sendiri selalu mendesak untuk melihat senyumnya itu walaupun aku harus terbunuh ditangannya sekalipun.</p>
<p style="text-align:justify;">“pergilah oppa. Jangan sampai kau datang dirumahmu terlalu malam” kataku sambil tersenyum miris ke arah kyu oppa.</p>
<p style="text-align:justify;">“sudah puas kau pergi dengan Kyuhyun?” tanya Taemin sambil melipat tangannya di depan dadanya.</p>
<p style="text-align:justify;">“maksudmu?” tanyaku sambil mendongakkan wajahku.</p>
<p style="text-align:justify;">“tch! Kau suka dengan Cho Kyuhyun itu? Namja yang sudah berhasil merubah hidupmu menjadi lebih buruk ini?” hah? Merubah hidupku menjadi lebih buruk? Hey! Kau lah Lee Taemin yang selalu membuat hidupku semakin buruk setiap harinya. Bahkan Kyu-oppa lah yang sedikit demi sedikit menghilangkan sifat burukku itu. Kau iblis. Dan Kyu-oppa adalah penolongku. Penolongku dari siksaan iblis sepertimu Lee Taemin!</p>
<p style="text-align:justify;">“menjadi lebih buruk? Apa maksudmu? Tolong jaga ucapanmu itu Lee Taemin!” aku berbicara dengannya dengan nada yang lebih tinggi dari sebelumnya.</p>
<p style="text-align:justify;">“ah, arasseo. Kau memang akan selalu membela dia sepertinya” jawabnya enteng sambil terduduk di sofa ruang tv. Aku selalu membelamu taemin. Aku selalu memilihmu. Aku selalu mendukung keinginanmu apapun itu, dari yang membuatku senang sampai membuatku tersiksa sekalipun. Aku selalu mengutamakanmu. Aku selalu mencintaimu dan tidak akan pernah berhenti sekalipun kau berubah menjadi iblis sekalipun!</p>
<p style="text-align:justify;">“duduklah” suruhnya, lalu aku pun terduduk jauh dari tempat yang sekarang dia duduki. Entahlah, aku sedang tidak ingin dekat-dekat dengannya. Semakin aku dekat dengannya, semakin banyak pula pedang yang menancap di hatiku. Semuanya hanya akan membuatku semakin tersiksa.</p>
<p style="text-align:justify;">“ada apa?” tanyaku.</p>
<p style="text-align:justify;">“misi kita selanjutnya, besok kau&#8230;..” dia memberi tahu misi kita untuk selanjutnya. Hatiku semakin terbesit-besit saja rasanya.</p>
<p style="text-align:justify;">Semoga hatiku akan kuat untuk menghadapi semuanya.</p>
<p style="text-align:justify;">Semoga semuanya tidak akan berakhir seperti yang telah aku bayangkan.</p>
<p style="text-align:justify;">Semoga semuanya akan menjadi terbalik.</p>
<p style="text-align:justify;">Karna aku mencintaimu, melakukan hal paling menyakitkanpun aku mau.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku akan selalu mendukungmu, sekalipun itu akan membuatku mati hanya karna tersiksa.</p>
<p style="text-align:justify;">Kapanpun kau butuh aku, aku bertekad akan selalu membantumu walaupun kau memintaku untuk terjun ke dalam jurang sekalipun.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;"> </span></strong></p>
<p style="text-align:justify;">TAEMIN VERSION</p>
<p style="text-align:justify;">“i&#8230; itu.. itu kyuhyun kan noona?” kataku berpura-pura memergoki Kyuhyun dengan Jinri.</p>
<p style="text-align:justify;">“bukan. Ayo kita pulang saja taemin-ah, kepalaku pening sekali” katanya sambil memegang pergelangan tanganku “chakkaman noona, kau harus melihat dengan mata kepala mu sendiri. Kau harus menghadapi kenyataan ini dengan tegar, kau tidak boleh terus menghindar” ucapku meyakinkannya, dia menunduk.</p>
<p style="text-align:justify;">“baiklah jika itu maumu. Aku akan menguntit mereka. Melihat kenyataan bahwa Kyuhyun sedang selingkuh di depanku&#8230;.” air mata perlahan menetes dari matanya menyusuri pipinya yang halus “aku akan menghadapinya..” dia mengusap air mata dengan punggung tangannya dan berbicara lagi “walaupun ini menyakitkan. Kajja, kita dekati mereka biar kita bisa mendengar pembicaraan mereka” Hyen-noona menarik tanganku mendekati mereka berdua. Aku tau ini tarikan paksa, pasti hatinya sekarang sedang terpukul sekali. Lihatlah noona, kau hanya punya aku sekarang, bukan Kyuhyun. Kyuhyun telah menyakiti hatimu. Apakah kau masih akan memaafkannya? Kau terlalu baik noona jika melakukan itu.</p>
<p style="text-align:justify;">“hm, oppa&#8230;” panggil Jinri sambil menengok ke arah Kyu, dan karna Jinri memanggilnya, Kyu pun otomatis melihat ke arah Jinri dan terjadilah kecelakaan itu&#8230;.</p>
<p style="text-align:justify;">Chu~</p>
<p style="text-align:justify;">Jinri membelalakkan matanya begitupun dengan Kyuhyun. Mereka membuang muka satu sama lain dan jadi salah tingkah “ah mianhae” ucap Kyuhyun memecahkan atmosfir aneh diantara mereka berdua.</p>
<p style="text-align:justify;">Second kiss? Dengan Kyuhyun? Apakah semudah itu bagi Jinri mencium orang lain? Apakah karna dia sudah benar-benar mencintai Kyuhyun lalu dia dengan entengnya rela di apakan saja? Mengapa saengieku begitu bodoh?</p>
<p style="text-align:justify;">“aish!” kataku sambil berbisik “wae taemin-ah, aku lihat tadi tidak? Romantis sekali ya mereka sampai berciuman seperti itu. Bagaimana jika sekarang kita cari jajangmyeon? Pengincaran kali ini sepertinya sudah cukup” ucapnya lirih dan disusul dengan tetesan air matanya lagi “tch! Air mata bodoh, kenapa kau mengalir terus? Ah, maaf ya Taemin. Mereka memang selalu begini, jatuh menyusuri pipiku padahal aku sedang tidak bersedih ha ha ha hahaha” dia memaksakan tawanya itu dan sedetik kemudian tangisnya mulai pecah.</p>
<p style="text-align:justify;">“taemin-ah&#8230; susah sekali rasanya menyembunyikan rasa sakit yang ada dihatiku&#8230;” serunya ditengah-tengah tangisannya. Apa yang harus aku lakukan? Hatiku sakit. Bukan karna melihat Hyen Hyo menangis. Tapi karna kejadian barusan. Kenapa perasaanku semakin kacau saja setiap hari? Kenapa perasaanku meracau tidak jelas jika melihat Jinri berdekatan dengan Kyuhyun?</p>
<p style="text-align:justify;">Aish. Ini semua terlalu membingungkan.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;"> </span></strong></p>
<p style="text-align:justify;">HYEN HYO POV</p>
<p style="text-align:justify;">Chu~</p>
<p style="text-align:justify;">Kedua kalinya? Kyu, kenapa begitu mudah kau mencium yeoja lain? Apa kah kau sudah melupakanku?</p>
<p style="text-align:justify;">Tes. Air mataku terjatuh dan dengan segera ku elap dengan punggung tanganku.</p>
<p style="text-align:justify;">Apakah berhubungan denganku membuatmu muak sampai-sampai kau berpikiran untuk mencari yeoja lain?</p>
<p style="text-align:justify;">Tes. Lagi-lagi air mataku jatuh dan dengan sigap ku elap lagi dengan punggung tanganku.</p>
<p style="text-align:justify;">Bibirmu sekarang sudah tersentuh dengan bibir yeoja lain. Apakah kau pikir tidak menyakitkan bagiku disini yang masih berstatus sebagai pacarmu?</p>
<p style="text-align:justify;">Tes. Air mataku terjatuh lagi. Tes. Dan lagi. Terus terjatuh.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku tidak kuat lagi, sungguh. Taemin, bawa aku pergi dari sini. Ya Tuhan, kenapa kau membuat nasib-ku se-mengenaskan ini?</p>
<p style="text-align:justify;">“aish” aku mendengar taemin berdesis kesal, dia kesal? Dengan siapa? Kyuhyun? Kenapa dia kesal dengan Kyuhyun? Bukankah jika dia memang berniat untuk merusak hubunganku dengan Kyu ini adalah sebuah kesempatan yang bagus? Jika taemin memang kesal dengan Kyu, berarti tidak ada sedikitpun cara licik yang ada diotaknya dong? Apa dia sedang berakting? “wae taemin-ah, kau lihat tadi tidak? Romantis sekali ya mereka sampai berciuman seperti itu. Bagaimana jika sekarang kita cari jajangmyeon? Pengincaran kali ini sepertinya sudah cukup” aku tersenyum menatapnya dan lagi air mataku ini jatuh menyusuri pipiku.</p>
<p style="text-align:justify;">“tch! Air mata bodoh, kenapa kau mengalir terus? Ah, maaf ya Taemin. Mereka memang selalu begini, jatuh menyusuri pipiku padahal aku sedang tidak bersedih ha ha ha hahaha” aku memaksakan tertawa. Tapi ternyata aku tidak bisa. Aku tidak mampu. Hatiku terlalu sakit melihat namja yang kucintai sedang bermesraan dengan yeoja lain. Aku sudah tidak lagi ada di batas kesabaranku sekarang. Semuanya sudah cukup jelas untukku. Kyuhyun memang sudah tidak mencintaiku lagi. Apakah perlu aku melepaskannya sekarang juga. Yang akan menjadi pertanyaannya adalah, apakah aku sudah siap? Apakah aku mampu?</p>
<p style="text-align:justify;">Taemin menghapus air mataku dengan jempolnya dan mendorong kepalaku agar ada dalam pelukannya. Hangat. Tapi tidak sehangat pelukan Kyuhyun. Wae Kyuhyunnie, wae? Kenapa kau berani menyakitiku? Apa salahku sampai kau sebegini jahatnya padaku? Mengapa kau tega melakukan itu semua?</p>
<p style="text-align:justify;">“taemin-ah&#8230; susah sekali rasanya menyembunyikan rasa sakit yang ada dihatiku&#8230;” rintihku di sela tangisanku. Dia memelukku lebih erat ke dalam rengkuhannya dan dia menaruh dagunya di atas kepalaku “sudahlah noona, mungkin dia bukan orang yang baik untukmu” serunya. Bukan orang yang baik? Apakah ini masih masuk ke dalam aktingmu Lee Taemin? Atau Kyuhyun memang bukan orang yang baik untukku?</p>
<p style="text-align:justify;">“ingin sekali rasanya sekarang aku musnah dari bumi ini. Menerima kenyataan seperti ini ternyata lebih menyakitkan dari apapun&#8230; hiks” aku masih menangis, dan tentunya masih dalam pelukannya. Dia memelukku dengan erat. Seperti tidak ingin melepaskan. Tes. Aku merasa puncak kepalaku tertetesi air. Apakah hujan? Bukankah sekarang sedang musim panas? Dan lagi, sekarang cuaca sedang sangat cerah sekali. Air apa?</p>
<p style="text-align:justify;">“tenang noo..noona” sekarang aku dapat merasakan badan taemin juga bergetar, bukan hanya badanku. Menangiskah? Taemin menangis? Wae?</p>
<p style="text-align:justify;">Aku mencoba untuk melepaskan pelukannya dan menatapnya, dia menunduk lalu mengalihkan pandangannya dariku. “kau&#8230; menangis?” tanyaku pada akhirnya.</p>
<p style="text-align:justify;">“aniyo, wae?” tanyanya. Kau berbohong taemin-ah, ada bekas air mata di pipimu. Kau yakin tidak habis menangis?</p>
<p style="text-align:justify;">“kau yakin tidak habis menangis?” tanyaku lagi.</p>
<p style="text-align:justify;">“ne, sudahlah. Noona jangan menangis ya. Tadi kau ingin apa? Jajangmyeon? Yuk, kita cari jajangmyeon^^” dia memegang telapak tanganku erat dan membawaku kemobilnya. Telapak tangannya&#8230; lebar sekali. Membuatku nyaman dan meyakinkanku bahwa aku aman dalam genggamannya. Tapi&#8230; Kyuhyun lebih meyakinkanku walaupun dia sudah berhasil membuat dinding yang kita bangun mati-matian itu dirombak hanya dengan kelakuannya itu.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">TAEMIN POV</p>
<p style="text-align:justify;">Sungguh. Kenapa tiba-tiba hatiku rasanya seperti sedang di remas-remas. Sakit sekali.</p>
<p style="text-align:justify;">Tes. Air mataku jatuh mengenai puncak kepala Hyen Hyo. Jinri-ah, kau sudah berhasil membuatku mengeluarkan air mata. Aku hanya takut kehilangan seseorang yang berharga bagiku. Aku tidak mau kehilangan seseorang yang selama ini selalu membuatku tenang. Kemana semua sikapmu yang dulu? Kenapa kau berubah? Baru dekat dengan Kyuhyun beberapa hari saja kau sudah merubah sikapmu. Apa yang telah Kyuhyun lakukan sampai kau bisa berubah secepat ini? Bukankah kamu bukan tipe orang yang selalu percaya pada orang yang baru saja kau kenal? Atau kau sudah merubah sifatmu itu? Mengapa begitu gampangnya bagimu mencium seseorang yang baru beberapa hari ini saja kau kenal? WAE?</p>
<p style="text-align:justify;">Aku tau aku yang menyuruhmu. Tapi aku tidak pernah menyuruhmu untuk bertingkah melebihi ini. Kau menciumnya. Itu semua tidak ada dalam permainan kita. Kenapa kau melakukannya?</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;"> </span></strong></p>
<p style="text-align:justify;">JINRI POV</p>
<p style="text-align:justify;">“hm.. oppa” aku menengok ke arahnya dan chu~</p>
<p style="text-align:justify;">Aigo! First kiss-ku! Omona&#8230; eotteoke? First kiss-ku&#8230;. kenapa first kiss ku terjadi karna kecelakaan seperti ini? Aish! Aku kan sudah membayangkan first kiss-ku ini akan aku lakukan dengan Taemin. Kenapa bisa&#8230; Kyu-oppa&#8230; kau mencuri semuanya. Kau mencuri first kiss-ku walaupun aku tau ini murni kecelakaan. Kau mencuri mimpiku. Ini mimpiku untuk bisa melakukan first kiss dengan Taemin, kenapa kau malah mengambilnya? Aish!!</p>
<p style="text-align:justify;">“ah mianhae” kata Kyu oppa meminta maaf “aniyo oppa, ini salahku” kataku menyalahkan diriku sendiri. Seandainya tadi aku tidak memanggilnya, mungkin ini tidak akan terjadi.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku tau, sekarang Taemin dan Hyen Hyo unnie sedang melihati kita kan? Ini kan misi yang Taemin bicarakan semalam. Tapi kejadian ini, semuanya diluar dugaan. Kenapa bisa terjadi?</p>
<p style="text-align:justify;">Hyen-unnie, maafkan aku&#8230;. aku tidak bermaksud. Semuanya murni kecelakaan.</p>
<p style="text-align:justify;">Hyen-unnie, maafkan aku&#8230;. aku mencuri bibirnya Kyu-oppa sesaat.</p>
<p style="text-align:justify;">Hyen-unnie, maafkan aku&#8230;. karna aku telah lancang mencium Kyu-oppa, tapi aku bersumpah, semua ini diluar dugaanku.</p>
<p style="text-align:justify;">Taemin, bagaimana kau sekarang? Apakah kau sudah merasa menang huh?</p>
<p style="text-align:justify;">Aku sedih harus tahu bahwa sekarang kau sedang melihatku, memperhatikanku. Aku tidak mau kau melihatku berciuman dengan Kyu-oppa. Aku tidak mau! Aku tidak mau kau berpikiran bahwa aku ini yeoja gampangan yang bisa mencium namja siapa saja kapan saja dan dimana saja. Aku tidak mau! Taemin, maafkan aku.. mungkin hari ini aku tidak akan menjalankan misiku dulu. Aku terlalu shock.</p>
<p style="text-align:justify;">“hm, oppa. Mianhae. aku rasa aku harus pulang. Annyeong” aku beranjak dari kursi Taman dan segera pergi “biar aku antar” kata Kyu oppa yang menyusul dan menarik tanganku.</p>
<p style="text-align:justify;">Maaf&#8230; memang tidak sepantasnya aku berciuman dengannya. Maaf.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">KYUHYUN POV</p>
<p style="text-align:justify;">“ah.. mianhae” ucapku memecahkan keheningan di antara aku dan dia. Kau bodoh Kyuhyun. Bagaimana bisa kau mencium bibir yeoja polos tadi? Kau pasti membuatnya sedih lagi karna dia pasti akan teringat dengan namja-nya lagi. Baboya kau Kyuhyun! Tidak seharusnya kau menengok saat dipanggil namanya tadi. Apa yang tengah kau pikirkan Kyuhyun sampai-sampai kau bisa mencium bibir Jinri? Aish!</p>
<p style="text-align:justify;">“biar aku antar” aku memutuskan untuk mengantar Jinri sampai rumahnya agar aku bisa melihatnya baik-baik saja sampai dia masuk ke dalam rumahnya.</p>
<p style="text-align:justify;">“kenapa dari kemarin hyen hyo tidak mengangkat telfonku sih? bahkan aku mengiriminya pesan berpuluh-puluh kalipun tidak ada satupun yang dia balas. Kenapa sih dia? Dia juga tidak masuk kerja. Dan saat aku mengunjungi rumahnya, aku langsung di tolaknya mentah-mentah saat baru saja memasuki langkahku menuju halamannya. Memangnya kesalahan apa yang telah aku perbuat?” tanyaku pada diri sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;">Sungguh 4 hari sudah Hyen Hyo mendiamkanku. Aku tidak bisa. Aku tidak kuat jika harus tetap seperti ini. Ini menyiksaku. Tolonglah, jangan membuatku merasakan bagaimana rasanya sakit saat mencintai. Jangan membuatku merasakan sakitnya tekanan cinta. Ku mohon. Angkat telfonku. Bicara padaku. Aku rindu suaramu.</p>
<p style="text-align:justify;">Tut tut tut</p>
<p style="text-align:justify;">Lagi-lagi dia mereject-nya. apa yang harus aku lakukan sekarang?</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>To : HyenHyo</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Kau marah padaku, akhir-akhir ini aku selalu berpikir begitu. Apa salahku? Kenapa kau tidak mau berhubungan denganku? Apa yang kau inginkan? Kau muak menjadi pacarku? Apakah kau ingin hubungan kita berakhir? Itu maksudmu? </em></p>
<p style="text-align:justify;">Send</p>
<p style="text-align:justify;">Kuatkan mentalmu Cho Kyuhyun. Siapa tau kau akan mendapatkan kabar buruk setelah handphone-mu bergetar lagi.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>From : HyenHyo</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Semua pertanyaanmu hanya akan aku jawab dengan satu kata “aniyo”</em></p>
<p style="text-align:justify;">Hah? Maksudmu? Kenapa kau semakin membuatku bingung? Jika kau memang tidak marah padaku, kenapa kau tidak ingin mengangkat telfonku? Jangan membuatku tersiksa seperti ini Hyen Hyo-ah, ku mohon&#8230;. aku mencintaimu.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>To : HyenHyo</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Maksudmu?</em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>From : HyenHyo</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Aku rasa kau mengerti. Pikirkanlah apa saja yang telah kau perbuat belakangan ini.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Belakangan ini? Dengan jinri. Ya, aku dengan Jinri. Apa jangan-jangan&#8230;&#8230;..</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">HYEN HYO POV</p>
<p style="text-align:justify;">Kau tidak sadar dengan apa yang sudah kau perbuat selama ini Cho Kyuhyun-ssi? Hebat sekali.</p>
<p style="text-align:justify;">Prok prok prok.</p>
<p style="text-align:justify;">Bahkan sekarang kau sedang selingkuhpun kau tidak mengakuinya. Bahkan tidak menyadarinya. Apakah selingkuh itu memang perbuatan biasa sampai-sampai kau tidak merasa bersalah padaku? Hebat sekali.</p>
<p style="text-align:justify;">Apakah kau tidak sadar kalau kau telah menyakiti hatiku? Oh aku lupa, dipikiranmu sekarang kan hanya ada yeoja barumu itu. Mana mungkin aku akan dipikirkan lagi.</p>
<p style="text-align:justify;">Selamat berbahagialah.</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi maaf, aku masih akan mempertahankan Kyuhyun untuk menjadi namja-ku sekalipun Kyuhyun mengajakku untuk berpisah.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">TAEMIN POV</p>
<p style="text-align:justify;">Cklek. Jinri datang.</p>
<p style="text-align:justify;">“apakah semudah itu bagimu mencium orang yang baru kau kenal?” tanyaku sinis sambil menatapnya tajam yang baru saja menutup pintu rumah.</p>
<p style="text-align:justify;">“maksudmu?” tanyanya sambil memicingkan matanya.</p>
<p style="text-align:justify;">“jadi ini yang sudah namja itu ajarkan padamu? Berkata ketus dan dingin padaku? Iya? Jadi ini yang kau maksud kyuhyun bisa merubah hidupmu?” tanyaku lagi dengan nada menyindir.</p>
<p style="text-align:justify;">“tch!” aku menyunggingkan senyum licikku.</p>
<p style="text-align:justify;">“kau sedang berpikir apa sih? aku dekat dengan Kyu kan karna kau! karna kita sedang menjalankan misi kita! Karna aku ingin membantumu dekat dengan Hyen-unnie. Apa aku salah?” bentaknya.</p>
<p style="text-align:justify;">“ne, kau salah. Karna kau berhubungan dengan kyuhyun melebihi batas dari kata ‘menggoda’ kau kan hanya aku suruh untuk menggodanya saja, bukan untuk dekat dengannya. Lagipula sepertinya kalian memang sudah benar-benar dekat” sindirku lagi.</p>
<p style="text-align:justify;">“hah? Bukankah kau sempat bilang bahwa aku boleh dekat dengan kyuhyun? Itu kan akan memperlancar misimu” ucapnya lagi.</p>
<p style="text-align:justify;">“sudahlah. Aku tidak suka kau jadi cewe gampangan seperti ini” ucapku dingin dan tegas.</p>
<p style="text-align:justify;">“cewe gampangan? Maksudmu?” tanyanya sambil mengeluarkan air mata. Jangan tumpah kan air matamu bodoh. Itu jadi membuatku ingin memelukmu. Tapi aku tidak bisa. Memelukmu hanya akan membuat hatiku sakit. Sakit karna aku baru tahu bahwa kau tidak akan pernah memikirkanku lagi, sekarang yang kau pikirkan pasti hanyalah Kyuhyun-mu itu.</p>
<p style="text-align:justify;">“mencium namja yang baru saja di kenal. Dan menghamburkan first kiss-mu kepada orang yang baru dikenal. Bukankah itu namanya sama saja dengan cewe gampangan?” desakku terus. Air matanya semakin banyak mengalir. Dia masih berdiri terpaku di dekat pintu dan sekarang berjalan mendekatiku.</p>
<p style="text-align:justify;">“first kiss? APA PEDULIMU DENGAN FIRST KISS-KU LEE TAEMIN? HUH?” dia membentakku tepat di depan wajahku dan sambil menangis. Ku mohon Jinri, aku tidak sanggup melihatmu seperti ini. Bodoh! Kenapa mulut ini tidak bisa ditahan sekali?</p>
<p style="text-align:justify;">“mungkin ini gila, tapi kau harus tau. Aku hanya ingin kau melakukan first kiss-mu denganku! Puas kau?!” bentakku lalu jalan meninggalkannya dan memasuki kamarku.</p>
<p style="text-align:justify;">BRAK! Aku membanting pintunya dengan keras dan menyesali perbuatanku sejadi-jadinya di dalam kamar.</p>
<p style="text-align:justify;">PRANG! Lagi-lagi aku memecahkan kaca. Sekarang yang kupecahkan adalah kaca yang berada dilemariku. Dan lagi bukan tangan kananku yang melakukannya, tetapi tangan kiriku. Lengkap sudah luka ditanganku karna terlalu emosi kepadamu Choi Jinri. Kau membuatku gila. Apakah dengan melukai kedua tanganku seperti ini tidak cukup membuktikan bahwa aku cemburu?</p>
<p style="text-align:justify;">Apa?</p>
<p style="text-align:justify;">Cemburu?</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">JINRI POV</p>
<p style="text-align:justify;">“aku pulang” ucapku dengan malas lalu menutup pintu kembali.</p>
<p style="text-align:justify;">“apakah semudah itu bagimu mencium orang yang baru kau kenal?” hah? Maksudmu? Kau bicara denganku? Apa yang baru saja kau katakan?</p>
<p style="text-align:justify;">“jadi ini yang sudah namja itu ajarkan padamu? Berkata ketus dan dingin padaku? Iya? Jadi ini yang kau maksud kyuhyun bisa merubah hidupmu?” taemin.. kenapa kau bisa berbicara seperti ini padaku? Kenapa kau tega membuat hatiku sakit lagi? Kenapa kau tega meruntuhkan pertahananku yang baru saja kukumpulkan hari ini?</p>
<p style="text-align:justify;">Apakah kau sudah membenciku sekarang karna ciuman tadi?</p>
<p style="text-align:justify;">Aish. Jangan salah paham. Semuanya murni kecelakaan. Aku juga tidak mau ciuman itu terjadi. Kau pikir aku menyukainya? Aku malah tersiksa Lee Taemin. Tersiksa!</p>
<p style="text-align:justify;">“kau sedang berpikir apa sih? aku dekat dengan Kyu kan karna kau! karna kita sedang menjalankan misi kita! Karna aku ingin membantumu dekat dengan Hyen-unnie. Apa aku salah?” kenapa aku jadi serba salah seperti ini? Kenapa akhir-akhir ini aku tidak pernah melihat senyum damai-nya itu? Telah kau buang kemana senyumanmu itu Lee Taemin? Senyum yang benar-benar bisa membuatku bangkit kembali. Jika kau tidak kunjung juga menunjukkan senyummu itu, bagaimana denganku? Senyummu itu bagaikan narkoba dalam hidupku. Aku kecanduan. Dan aku tidak bisa jika tidak melihatnya. Semuanya menyakitkan bagiku. Karna otak dan hatiku memaksaku untuk melihat senyummu itu, tapi kau tidak kunjung juga memperlihatkan senyumanmu itu. Bagaimana?</p>
<p style="text-align:justify;">“ne, kau salah. Karna kau berhubungan dengan kyuhyun melebihi batas dari kata ‘menggoda’ kau kan hanya aku suruh untuk menggodanya saja, bukan untuk dekat dengannya. Lagipula sepertinya kalian memang sudah benar-benar dekat” ya! Menggoda Kyuhyun saja aku tidak mau! Apalagi berhubungan lebih dengannya! Yang aku inginkah hanyalah kau Taemin. Hanya kau. satu-satunya sesuatu yang aku inginkan dihidupku. Kenapa kau tidak bisa menyadarinya?</p>
<p style="text-align:justify;">“mencium namja yang baru saja di kenal. Dan menghamburkan first kiss-mu kepada orang yang baru dikenal. Bukankah itu namanya sama saja dengan cewe gampangan?”</p>
<p style="text-align:justify;">DEG! Kau membuat hatiku hancur Lee Taemin. Dengan mudah kau mengatakanku cewe gampangan. Apakah itu kata-kata yang memang kau siapkan untukku untuk membalas semua perbuatanku selama ini padamu? Setelah aku melakukan apapun yang kau pinta, kau hanya membalasnya dengan kata-kata ‘cewe gampangan’?</p>
<p style="text-align:justify;">Kenapa kau selalu mempeributkan tentang ciuman ini sih?! waktu itu, di restoran. Dan sekarang juga. Memangnya apa pedulimu Lee Taemin? Kau pikir aku mau melakukan itu huh? Aku saja tidak tau ini akan terjadi! Kau pikir aku mau melakukan itu kalau bukan kau yang meminta huh?</p>
<p style="text-align:justify;">“first kiss? APA PEDULIMU DENGAN FIRST KISS-KU LEE TAEMIN? HUH?” bentakku di depan wajahnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Tidak salah bukan jika aku menangis sekarang? Aku cukup dibuat sakit hati dengan perkataannya yang mengatakan aku cewe gampangan. Semudah itu kah bagi dia untuk mengatakan hal itu?</p>
<p style="text-align:justify;">“mungkin ini gila, tapi kau harus tau. Aku hanya ingin kau melakukan first kiss-mu denganku! Puas kau?!” apa? Dia sudah gila? Dia ingin aku melakukan first kiss-ku dengan dia? Pikiran bodoh macam apa itu?</p>
<p style="text-align:justify;">BRAK!</p>
<p style="text-align:justify;">Taemin membanting pintu kamarnya dengan keras dan berhasil membuatku terjatuh ke lantai. Kakiku lemas. Sudah tidak bisa menopang tubuhku. Hatiku sakit. Sudah tidak bisa menahan semuanya. Umma.. appa.. mengapa mencintai seseorang membutuhkan pengorbanan yang begitu sulit bagaikan di jebloskan kedalam neraka? Umma.. appa.. apakah dulu kau juga seperti ini? Merasakan sakitnya jadi aku? Huh?</p>
<p style="text-align:justify;">Aku menangis sejadi-jadinya di ruang tamu dengan keadaan terduduk di lantai. Tidak peduli lagi taemin bisa mendengar tangisanku atau tidak.</p>
<p style="text-align:justify;">“kau gila&#8230;” ucapku lirih di sela tangisanku.</p>
<p style="text-align:justify;">Apakah ini adalah kutukan karna aku tidak pernah bisa menyatakan perasaanku yang sebenarnya?</p>
<p style="text-align:justify;">Apakah ini yang dinamakan orang hukuman dari surga? Inikah? Mengapa begitu menyakitkan?</p>
<p style="text-align:justify;">Apakah mencintai Taemin adalah sesuatu yang salah?</p>
<p style="text-align:justify;">Apakah hidup di dunia ini juga merupakan sesuatu yang salah?</p>
<p style="text-align:justify;">Apakah bertemu dengannya hanya akan membuat hidupku hancur berantakan seperti ini?</p>
<p style="text-align:justify;">Apakah dia memang sudah di takdirkan untuk menjadi pengacau di hatiku?</p>
<p style="text-align:justify;">Atau dia memang seseorang yang sudah di tuntut sebagai pembunuhku?</p>
<p style="text-align:justify;">Kau membunuhku perlahan dengan sikapmu Lee Taemin.</p>
<p style="text-align:justify;">You’re a murderer!</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Tbc—</p>
<p style="text-align:justify;">Nb : Halo^^ kali ini aku ga telat kan ngepublishnya??? wkwkwkk. Silahkan dibaca^^</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ffindo.wordpress.com/49700/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ffindo.wordpress.com/49700/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ffindo.wordpress.com/49700/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ffindo.wordpress.com/49700/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ffindo.wordpress.com/49700/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ffindo.wordpress.com/49700/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ffindo.wordpress.com/49700/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ffindo.wordpress.com/49700/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ffindo.wordpress.com/49700/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ffindo.wordpress.com/49700/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ffindo.wordpress.com/49700/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ffindo.wordpress.com/49700/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ffindo.wordpress.com/49700/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ffindo.wordpress.com/49700/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ffindo.wordpress.com&amp;blog=9871143&amp;post=49700&amp;subd=ffindo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ffindo.wordpress.com/2012/01/28/love-is-punishment-part-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/be37e94c47270d95cc3feb4e0a349224?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bebskey</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ffindo.files.wordpress.com/2012/01/love-is-punishment-12.png" medium="image">
			<media:title type="html">Love Is Punishment 1</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>[FF/CHAPTERED/PG-13] Hope, Love, and Passion Chap 4</title>
		<link>http://ffindo.wordpress.com/2012/01/28/ffchapteredpg-13-hope-love-and-passion-chap-4/</link>
		<comments>http://ffindo.wordpress.com/2012/01/28/ffchapteredpg-13-hope-love-and-passion-chap-4/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Jan 2012 10:24:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>r13eonnie 강 하이에나</dc:creator>
				<category><![CDATA[FFindo]]></category>
		<category><![CDATA[Pinky_Girl]]></category>
		<category><![CDATA[Cho kyuhyun]]></category>
		<category><![CDATA[hangeng]]></category>
		<category><![CDATA[Lee Donghae]]></category>
		<category><![CDATA[Super Junior]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ffindo.wordpress.com/?p=49663</guid>
		<description><![CDATA[Title : Hope, Love, and Passion Author : Sarah Sucia Adler Rating : PG-13 Main Casts : Cho Kyuhyun, Hangeng, Lee Donghae, and  Oh Yang Guan Nan Other Casts : SM artist and other Genre : Romance Length : ? &#8230; <a href="http://ffindo.wordpress.com/2012/01/28/ffchapteredpg-13-hope-love-and-passion-chap-4/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ffindo.wordpress.com&amp;blog=9871143&amp;post=49663&amp;subd=ffindo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ffindo.files.wordpress.com/2012/01/469108910_large-copy2.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-49664" title="469108910_large copy" src="http://ffindo.files.wordpress.com/2012/01/469108910_large-copy2.jpg?w=584" alt=""   /></a></p>
<p>Title : Hope, Love, and Passion</p>
<p>Author : Sarah Sucia Adler</p>
<p>Rating : PG-13</p>
<p>Main Casts : Cho Kyuhyun, Hangeng, Lee Donghae, and  Oh Yang Guan Nan</p>
<p>Other Casts : SM artist and other</p>
<p>Genre : Romance</p>
<p>Length : ? shot</p>
<p>Part : 3 of ?</p>
<p>Previous Chap : <a title="Chap 1" href="../2012/01/14/2011/12/31/ffchapteredpg-13-hope-love-and-passion-chap-1/">Chap 1</a> | <a title="Chap 2" href="../2012/01/07/ffchapteredpg-13-hope-love-and-passion-chap-1-2/">Chap 2</a> | <a title="Chap 3" href="http://ffindo.wordpress.com/2012/01/14/ffchapteredpg-13-hope-love-and-passion-chap-3/">Chap 3</a></p>
<p>Disclamer : I don’t own the Super Junior characters here. They belong to SM Entertaiment and themselves.  Oh Yang Guan Nan is belong to me. This story is only a fiction. So please don’t sue me<strong>.</strong></p>
<p>A/N : ini semua cuma fiction, kalo ada kesamaan cerita itu semua maunya saya haha. Diksi disini sengaja saya turunin agak jauh dari psycho dan irrational (jujur emang experimen, mencoba biar diksinya gak terlalu berat dan mudah dipahami).</p>
<p>Summary : cerita tentang seorang gadis bernama Oh Yang Guan Nan, asli China, yang menjadi trainee di SM entertaiment,</p>
<p>Happy Reading</p>
<p><span id="more-49663"></span></p>
<p>***</p>
<p>“Guan Nan!” aku berhenti menari dan menoleh pada sumber suara –pelatih kami. “Apa yang sebenarnya kau pikirkan? Dari tadi gerakanmu kacau semua, tumben sekali, ada apa?”</p>
<p>“<em>A.. anni gwenchana..</em>” jawabku singkat.</p>
<p>Masa iya aku harus bilang bahwa aku sedang memikirkan Kyuhyun <em>oppa</em>? Sudah tiga kali dalam seminggu ini aku memergokinya sedang bersama Song Qian <em>jie jie</em> dan mereka terlalu dekat. Aku cemburu? Seharusnya aku tidak boleh cemburu, aku ‘kan bukan siapa-siapa Kyuhyun <em>oppa,</em> aku sama sekali tidak ada hak untuk cemburu padanya. Tapi aku juga tidak bisa bohong kalau selama seminggu ini pula aku memikirkannya. Dan aku terlalu pengecut untuk bertanya padanya, dengan alasan apa? Aku bukan pacarnya! Sudah tiga hari belakangan aku tidak mengangkat telepon darinya. Aku marah? Tentu saja! tapi mau bagaimana? Kami tidak berpacaran.</p>
<p>“Kau sedang ada masalah?” tanya Ha Young tiba-tiba.</p>
<p>“<em>Anni.</em>”</p>
<p>“Oke mulai lagi dari awal. <em>Five six seven eig</em><em>h</em><em>t,</em>” kami menari dan lagi-lagi aku salah. “Guan Nan…”</p>
<p>“A.. aku izin ke toilet ya, cuci muka,” aku tersenyum canggung dan langsung keluar.</p>
<p>Ah Tuhan apa yang harus aku lakukan? aku benar-benar bingung. Aku terlalu bergengsi tinggi untuk meneleponnya duluan, dan terlalu pengecut untuk mengangkat teleponnya. Jadi apa yang sebenarnya aku mau? Aaaah aku juga tidak tahu.</p>
<p>Aku berjalan gontai dari ruang latihan. Oh Tuhan! Anak-anak Super Junior baru saja keluar ruangan. Apa yang harus aku lakukan? aku sama sekali tidak mau ditanya-tanya. aku mengeluarkan <em>handphone</em>-ku. Lalu berjalan mendekati mereka.</p>
<p>“Ah.. iya, Ibu aku juga kangen kalian, aku ingin pulang ke China deh…” aku pura-pura sedang menelepon aku membungkukkan badan ke arah mereka dan langsung meneruskan berjalan. “Iya tapi aku belum bisa pulang sekarang,” aku kembali berpura-pura. Tadi sempat kulihat Kyuhyun <em>oppa</em> mau bicara tapi aku langsung kabur.</p>
<p>Aku masuk ke kamar mandi dan mulai membasuh wajahku di westafel. Ya ampun Guan Nan kenapa kau jadi melankolis begini sih? Menyebalkan sekali. Eh ponselku berbunyi. Sms dari Kyuhyun <em>oppa.</em></p>
<p>‘Kau menghindariku, hah?’</p>
<p><em>Pabo-ya!</em> Dia itu tidak sadar apa kalau punya salah? Kenapa sih pria tuh gak pernah peka? Ingin kubanting <em>handphone</em> ini, kalau gak inget belinya mahal pasti sudah kulakukan. Gimana nih bales gak ya? tidak usah deh biarkan saja. aku kembali membasuh wajahku. <em>He’s frustrating me.</em> Tingkahnya tidak bisa ditebak, aku sama sekali tidak bisa tahu apa yang dia pikir, apa yang dia rasa, apa yang dia mau, aku tidak mengerti.</p>
<p>Aku melihat jam tangan, harusnya latihan sudah selesai, aku gak usah balik lagi ke tempat latihan deh, pasti pada nanya ada apa denganku. Aku ke atap saja, sedikit <em>refreshing.</em> Aku keluar dari toilet seperti agen FBI yang ketakutan bertemu Super Junior –Cho Kuuhyun mungkin lebih tepatnya. Dengan takut-takut aku berjalan dan dengan cepat menaiki tangga. Aku membuka pintu dan jantungku seolah berhenti. Kakiku melemas sepertinya aku akan jatuh. Aku berpegangan pada pintu besi agar keseimbanganku tidak hilang.</p>
<p>Aku melihat <em>Gege</em> berciuman dengan Ji Hyun.</p>
<p>Tanpa aku sadari air mataku turun, aku kalah. Aku memang bisa menyaingi Ji Hyun untuk soal menari dan menyanyi tapi untuk urusan ini aku kalah. <em>Gege</em> mencintainya dan <em>gege</em> hanya menganggapku adik kecil yang manis. Sekali lagi aku kalah. Aku turun dengan perlahan meninggalkan mereka yang masih bercinta. Aku keluar dari gedung SM dan mulai berjalan, berjalan lebih cepat, kemudian berlari. Aku berlari tanpa tujuan, tanpa arah, aku tidak tahu yang aku butuhkan hanya berlari. Aku terus saja berlari aku tidak tahu sudah berapa lama aku berlari yang jelas kini tungkai bawahku sudah sangat sakit, kakiku melemas dan kemudian aku terduduk. Aku menangis tersedu, dadaku sesak. Kenapa aku harus marah? Dari dulu hingga sekarang <em>gege</em> hanyalah seorang kakak yang menjagaku. Kenapa aku harus marah? Kenapa ku tidak bisa bahagia melihat dia menemukan wanita yang dia cintai? Kenapa aku sangat takut kehilangan dia?</p>
<p>Aku melihat sepasang sepatu <em>converse</em> di hadapanku, aku menengadah dan orang itu mengulurkan tangan memintaku berdiri. Aku tidak menyambutnya, aku malah tambah menangis tersedu. Dia mengelus kepalaku merangkul bahuku dan mengajakku berdiri. Kami berjalan ke sekitar sungai Han. Dia menyuruhku duduk dan dia pergi, tidak lama dia kembali sambil menyodorkan sebotol air mineral.</p>
<p>“<em>Kamsa,</em>” ujarku dengan isakan.</p>
<p>“<em>Gw</em><em>e</em><em>nchana?</em>” tanyanya. Aku tergelak.</p>
<p>“Orang yang menangis tidak ada yang baik-baik saja,<em> oppa,</em>” dia tersenyum manis.</p>
<p>“Siapa?<em> Gege</em> atau Kyuhyun yang membuatmu begini?”</p>
<p>“Donghae <em>oppa…</em>” aku memukul lengannya.</p>
<p>“Aku serius nanyanya tau, <em>gege</em> atau Kyuhyun?”</p>
<p>“<em>Molla,</em>”</p>
<p>“Em?”</p>
<p>“Tadinya aku memang sedang kesal dengan Kyuhyun <em>oppa,</em> dia membuatku tidak konsen latihan gara-gara aku melihatnya bersama Song Qian <em>jie jie,</em> makanya tadi aku cabut latihan <em>dance.</em> Niatnya sih mau <em>refreshing</em> ke atap, taunya malah liat <em>gege</em> sama Ji Hyun,” ucapku panjang lebar.</p>
<p>“Mereka…”</p>
<p>“Berciuman.” Aku sempat melihat bibirnya membertuk O.</p>
<p>“Lalu Kyuhyun? Dia  tidak menjelaskan apa-apa?”</p>
<p>“Sepertinya dia ingin, tapi aku yang sedang tidak ingin bicara padanya.” Air mataku jatuh lagi, Donghae <em>oppa</em> melihatnya dan menghapusnya.</p>
<p>“Sini…” dia menuntun kepalaku agar bersandar di bahunya. “Sebenarnya apa yang kau tangisi?”</p>
<p>“Entahlah… aku menghla napas panjang. “Aku bingung,.”</p>
<p>“Apa kau mencintainya? Hankyung hyung,”</p>
<p>“Cinta? Yang aku tahu aku hanya takut kehilangannya, ia selalu ada saat ayah ibuku tidak ada, dia selalu menjagaku kalau aku takut, kok kedengarannya dia seperti <em>baby sitter</em>-ku ya?”</p>
<p>“Kau telah menjawabnya sendiri, kau hanya takut kehilangan semua perhatiannya. Kau takut dia tidak bisa menjagamu, tidak lagi membuatkanmu makanan, tidak lagi memanjakanmu,” aku terdiam.</p>
<p>“Mungkin kau benar,”</p>
<p>“Sudah jangan menangis,” dia lalu memelukku tapi itu malah membuatku makin menangis.</p>
<p>“Susah payah aku ke sini untuk bertemu dengannya, harusnya aku senang melihat dia bahagia, aku egois ya <em>oppa?</em>”</p>
<p>“Kau manja bukan egois,” aku makin menangis di bahu Donghae <em>oppa.</em> Nyaman sekali dipeluk begini olehnya. “Sudah jangan menangis, mau ku belikan apa? Yoghurt strawberry atau es krim strawberry?” aku menggeleng. Aku benar-benar tidak bernafsu. Aku melepaskan pelukannya dan menatap lurus ke depan.</p>
<p>“<em>Kamsa… </em>“</p>
<p>“<em>Ne,</em>” dia menaruh telapak tangannya di kepalaku. “Jadi, Kyuhyun?”</p>
<p>“Kenapa?”</p>
<p>“Kalau dia, apa kau mencintainya?”</p>
<p>POV end</p>
<p>***</p>
<p>Donghae POV</p>
<p>Aku menggigit lidahku setelah mengatakan pertanyaan itu. Aku tidak tahu apa yang aku pikirkan, padahal aku sudah tahu jawabannya. Ya, tentu saja Guan Nan mencintai Kyuhyun.</p>
<p>“Aku senang berada di dekatnya, aku senang membuatnya tertawa aku cemburu melihatnya bersama wanita lain, apa itu bisa dibilang cinta?” dia malah balik bertanya padaku.</p>
<p>“Lalu apa bedanya dengan <em>gege?</em> Bukankah kau juga merasakan hal yang sama?”</p>
<p>“Itu berbeda…” jantungku berdegup kencang. “Ketika aku tau <em>gege</em> dengan Ji Hyun hatiku bilang ‘aku kalah’ tapi ketika aku melihat Kyu <em>oppa</em> dengan Song Qian <em>jie jie</em> hatiku bilang ‘biarkan aku sendiri dulu, aku ingin menjernihkan pikiran agar aku dapat bicara tenang denganmu’ aku takut salah ucap, aku takut dia salah paham dan akhirnya pergi.”</p>
<p>“Apa yang kau suka dari <em>gege?</em>” pabo kenapa aku bertanya hal-hal yang membuatku sakit hati.</p>
<p>“Caranya menjagaku,” jawabnya cepat.</p>
<p>“Apa yang kau suka dariku?” dia menatapku dengan tatapan bertanya namun sejurus kemudian tersenyum.</p>
<p>“Caramu memperlakukanku,” jawabnya lagi.</p>
<p>“Dan, apa yang kau suka dari Cho Kyuhyun?” dia menatap lurus ke depan dan tersenyum.</p>
<p>“Aku tidak tahu,” jawaban itu yang tidak ingin aku dengar. “Dia memang tidak bisa menjagaku seperti <em>gege,</em> atau memperlakukanku seperti yang kau lakukan, terkadang kata-katanya agak tajam, atau malah banyak diam, aku juga terkadang tidak mengerti apa yang dia pikir, tapi aku menyukainya. Meskipun tanpa alasan.” Aku terdiam, dia kembali menatapku. “<em>Oppa? Gwenchana?</em>”</p>
<p>“<em>Naneun gwaencanajyeo neul geuraewasseo hangsang gwiemanisseodo ireohge haengbokhande (I’ll be okay.. I’ve been like this even being behind you. I’m still happy lie this),</em>” aku menyanyiak sebait lagu .</p>
<p>“Angela,” ujarnya singkat.</p>
<p>“<em>Nega wiroul ddae hokeun seulp’eul ddaedo jik’yeojul sui ttneun namja naramyeon, Jigeum idaero saranghal su isseo yeongweonhi cheongmal yeongweonhi  (when you’re lonely, or even when you’re sad, if that man who can protect you is me, I can love you right now as you are.. Forever, really forever),</em>”  dia tidak sadar dan malah menikmati tiap bait yang au lantunkan, padahal ini pengakuan. Tapi benarkah aku akan baik-baik saja? dia menyandarkan kepalanya di bahuku.</p>
<p>“Kau tahu <em>oppa?</em> Terasa sangat mudah untuk sekedar menyandarkan kepala di bahumu atau <em>gege.</em> Tapi pada Kyuhyun? Untuk melakukan ini saja aku harus berpikir tiga kali. Sekedar menyentuhnya saja aku harus putar otak, aku benar-benar takut salah sikap padanya.” Aku hanya tersenyum. Padahal kau tidak perlu menegaskan rasa cintamu padanya lagi di hadapanku, Guan Nan.</p>
<p>Aku melihat ke sekeliling, untung sedang tidak banyak orang atau besok pagi akan ada <em>Headline</em> ”Donghae Super Junior bermesraan di sungai Han bersama seorang gadis’ bisa-bisa aku kena omel manajer.</p>
<p>“<em>Yobseyo?</em>” Guan Nan tiba-tiba mengangkat telepon, “Oh <em>miana,</em> taruh saja di sana, aku akan kembali ke sana sebentar lagi… Aku tidak tau kapan pulang… iya tidak sampai larut malam… mau pada keluar semua?&#8230; ah ya sudah… <em>Annyeong.</em>” Ditutup dan dia kemudian menghela napas.</p>
<p>“Siapa?”</p>
<p>“Ha Neul.”</p>
<p>“Em… <em>Feel better?</em>”</p>
<p>“Sedikit,<em> kamsa oppa.</em> Setidaknya aku merasa punya teman,” yah hanya teman.</p>
<p>“<em>Choenma,</em> aku lapar sekali nih ayo makan! Aku yang traktir deh,”</p>
<p>“Gak nafsu ah.” Ponselku bergetar dan segera kubaca. Dari Kyuhyun.</p>
<p>‘Jawab dengan jujur, kau bersama Guan Nan?’</p>
<p>Kutekan tombol <em>replay</em> dan kutulis ‘benar, dia sedang sedih.’ Tak lama Guan Nan melihat ponselnya.</p>
<p>“<em>Ottoke?</em>” gumamnya sendiri.</p>
<p>“Ada apa?” tanyaku.</p>
<p>“Kyuhyun <em>oppa</em> menelepon, bagaimana ini?”</p>
<p>“Angkat saja,”</p>
<p>“<em>Andwae,</em> aku takut…” getarannya berhenti. Sebuah pesan masuk lagi, suruh dia angkat teleponku! Kubalas ‘dia takut padamu, nanti saja kau temui dia,’</p>
<p>“Ahh untung saja dia tidak menelepon lagi, tumben sekali dia menyerah. Biasanya dia meneleponku lebih dari sepuluh kali.” Gumamnya lagi.</p>
<p>“Aku harus kembali ke <em>company,</em> ada yang mau dibicarakan katanya, kau bagaimana?”</p>
<p>“Aku juga mau ke sana, mengambil barang-barang,”</p>
<p>“Ya sudah , ayo…”</p>
<p>Kami mulai beranjak dan pergi ke gedung SM.</p>
<p>***</p>
<p>Guan Nan POV</p>
<p>“Jam segini ruang latihan gak ada yang pakai ‘kan?” tanyaku</p>
<p>“Biasanya sih tidak, mau apa?”</p>
<p>“Menari,” aku tersenyum sok kuat. Kami menaiki lift tanpa bicara, apa aku salah omong lagi ya pada Donghae <em>oppa?</em> Kenapa dia jadi diam begini? Keluar lift kami bertemu Super Junior. Mati. Bagaimana ini? Kyuhyun oppa menatapku seakan aku ini tahanan yang harus dibunuh sebentar lagi. Aku menunduk dan menggigit bibir bawahku –takut.</p>
<p>“<em>Gwenchana</em><em>?</em>” ujar Donghae <em>oppa</em> aku menatapnya. Dan melihat ke arah Super Junior. Kyuhyun <em>oppa</em> hendak mendekat. Tapi ditahan oleh Eeteuk <em>oppa.</em></p>
<p>“Setelah <em>meeting,</em>” ujar Eeteuk <em>oppa.</em></p>
<p>“Tapi <em>hyung,</em>” Kyuhyun <em>oppa</em> sangat kecewa.</p>
<p>“ Profesionallah, Kyu.”</p>
<p>“Aku ke sana ya, kalau butuh aku sms saja,” Donghae <em>oppa</em> mengacak rambutku, di hadapan Kyuhyun <em>oppa!</em> Mati. Dia pasti marah-marah. Sudah seminggu kami tidak komunikasi dan dia melihatku dengan Donghae <em>oppa.</em> Ah tapi  dia juga biar saja, biar dia merasakan apa yang aku rasakan ketika melihatnya dengan Song Qian <em>jie jie.</em></p>
<p>Donghae berjalan ke arah Super Junior dan sempat kulihat <em>gege</em> menatapiku. Dia pasti tahu aku habis menangis. Aku segera masuk ke dalam ruang latihan.</p>
<p>Yah di sinilah aku sekarang. Sendirian ditemani cermin besar yang memantulkan bayanganku. Aku menatapinya. Mataku sangat sembab, aku menyalakan ipod-ku dan menari. Freestyle, itu cukup membuatku merasa lebih baik. Tidak terasa sudah sejam aku menggila. Aku duduk membelakangi cermin sambil memeluk kedua lututku.</p>
<p>Apa sebuah kesalahan aku datang ke Korea? Apa benar aku datang kemari untuk Super Junior? Bukan untuk <em>gege?</em> Apa benar mimpi terbesarku debut di SM? apa benar hubunganku yang tanpa status dengan Kyuhyun <em>oppa </em>selama ini membuatku bahagia? Apa keinginan terbesarku adalah mengalahkan Ji Hyun? Ah aku tidak tahu. Semua pertanyaan-pertanyaan bodoh itu terlontar begitu saja dalam otakku. Aku takut salah langkah, aku takut aku menyakiti diriku sendiri. Aku tahu aku pengecut, aku bodoh, aku manja, tapi sudah sejauh ini, haruskah aku berhenti? Menghentikan semuanya dan kembali ke China? Entahlah.</p>
<p>Aku membenamkan wajahku di antara kedua lututku. Aku menangis lagi, kukira air mataku sudah habis. Tapi kini aku menangis, sendirian, terisak tanpa nada. Sampai ada yang membuka pintu. Aku tidak mau melihatnya memikirkan kemungkinan-kemungkinan siapa dia. Dia masuk dan menutup pintu, mendekatiku kemudian memelukku.</p>
<p>“Ada apa, Tuan putri?” tanya <em>gege,</em> ya dia <em>gege.</em> Aku makin terisak dan menangis sejadi-jadinya di pelukan <em>g</em><em>e</em><em>ge,</em> pangeranku.</p>
<p>“Aku mau pulang ke China, <em>Gege…</em> aku mau pulang…” masih dengan terisak aku bicara.</p>
<p>“Kenapa? Kau bertengkar dengan Kyuhyun? Jangan dipikirkan, anak itu memang begitu sifatnya,” ingin sekali aku berteriak aku menangis juga gara-gara kau bodoh!.</p>
<p>“Aku tahu…”</p>
<p>“Kalau dia membuatmu menangis begini, aku bisa saja memukulnya,” bisakah kau memukul dirimu sendiri?</p>
<p>“Jangan…” ujarku.</p>
<p>“Makanya jangan menangis,” <em>gege</em> mengelus keplaku. Apakah nanti aku tidak akan bisa merasakan pelukan ini lagi? Aku benar-benar takut kehilangannya.</p>
<p>“<em>Gege…</em>” aku membasahi kemejanya dengan air mataku.</p>
<p>“Kenapa, Tuan putri?” masih saja dia memanggilku begitu, aku memukul lengannya. Dan dia tergelak. “Sudah Guan Nan-ku jadi jelek kalau menangis,” bolehkah aku memanggilmu Hangeng-ku?</p>
<p>“Jangan tinggalkan aku,”</p>
<p>“Mana mungkin? Nanti siapa yang menjagamu? Kyuhyun? Dia saja membuatmu menangsi begini,” aku mempererat pelukanku pada <em>gege.</em></p>
<p>“Aku takut,”</p>
<p>“Apa yang kau takutkan?”</p>
<p>“Kehilanganmu.”</p>
<p>“Ya ampun, kau tidak akan kehilanganku, Guan Nan.” Aku melepaskan pelukannya dan menyeka air mataku. “Janji?” aku menyerahkan kelingking dan dia menyambutnya.</p>
<p>“Janji,”  dan aku memeluknya lagi.</p>
<p>“Sudah, nanti Kyuhyun biar aku yang urus,”</p>
<p>“Ini bukan sepenuhnya salah Kyuhyun <em>oppa,</em> biar masalahku dengannya aku saja yang mengatasi.”</p>
<p>“Apa kau yakin bisa meng-<em>handle</em>-nya?” aku mengangguk “Baiklah… mau sampai kapan kau memelukku, hah?”</p>
<p>“Sampai besok,”</p>
<p>“Ih, genit…” aku memukul lengannya lagi, “Kau tahu? Heechul ada di bawah, kalau dia tahu kau menangis gara-gara Kyuhyun, bisa-bisa dia menghajar Kyuhyun,”</p>
<p>“Apa kalau kau membuatku menangis dia akan memukulmu juga?”</p>
<p>“Tapi aku tidak akan membuatmu menangis, Guan Nan,” sayangnya kau sudah <em>gege,</em> “Sudah petang, ayo pulang, aku antar,”</p>
<p>“Belikan aku es krim,”</p>
<p>“Es krim strawberry? Iya aku belikan, hapus air matamu, nanti dipikir aku lagi yang membuatmu menangis,” memang.</p>
<p>Aku mengambil tasku dan merapikan penampilanku. <em>G</em><em>e</em><em>ge</em> hanya tersenyum saja. aku mendekap lengan <em>gege</em> seolah tak mau melepaskannya. Kami bertemu Heechul <em>oppa.</em></p>
<p>“Sudah? Kau kenapa Guan Nan?” tanya Heechul <em>oppa.</em></p>
<p>“<em>Anniyo, gwenchanayo,</em>” jawabku sambil tersenyum. “<em>Oppa, gege</em> aku pinjam untuk hai ini ya?”</p>
<p>“Tidak boleh!”</p>
<p>“<em>Oppa… please…</em> ya ya ya…”</p>
<p>“Iya tapi jangan bersedih lagi, oke?” dia mencubit pipiku.</p>
<p>“<em>Kamsa oppa…</em>” aku memeluk Heechul <em>oppa.</em></p>
<p>“Heh, jangan genit,” <em>gege</em> menarikku. Aku hanya dapat mengerucutkan bibir. “Kalian masih lama di sini?” tanya <em>gege</em> pada Heechul <em>oppa.</em></p>
<p>“Kami sudah selesai, kalau Kyuhyun,” Heechul <em>oppa</em> melirikku, “Mungkin masih lama ada tawaran apa gitu, aku tidak mendengarkan,”</p>
<p>“Ah, kalau begitu aku mengantar dia dulu, nanti aku langsung ke <em>dorm,</em>” papar <em>gege.</em></p>
<p>“Oke, bersenang-senanglah,” aku mendekap lengan <em>gege</em> lagi.</p>
<p>Kami naik bus, dan duduk di kursi untuk dua orang. Aku menyandarkan kepala di bahu <em>gege.</em></p>
<p>“<em>Gege…</em>” panggilku.</p>
<p>“Em?”</p>
<p>“Kita sudah sama-sama dewasa,”</p>
<p>“Oh?  Kau sudah dewasa?”</p>
<p>“Ah<em> gege</em> aku sedang tidak bercanda,”</p>
<p>“Ah oke,”</p>
<p>“Kita sudah sama-sama dewasa, kita bukan lagi bocah kecil yang bisa mandi bersama,” dia tergelak. “Lambat laun kau akan menemukan seseorang yang menarik bagimu…” ah sial tenggorokanku tercekat “Begitu pula aku, mungkin nanti kita tidak akan bisa seperti ini lagi,” aku memeluk pinggang <em>gege.</em></p>
<p>“Walaupun aku nanti punya seseorang yang spesial, aku akan tetap menjagamu Guan Nan,”</p>
<p>“Tidak mungkin, nanti pacarmu marah, atau cemburu padaku.”</p>
<p>“Apa maksud perkataanmu sih?”</p>
<p>“Aku hanya…”</p>
<p>“Takut kehilanganku?”</p>
<p>“Iya,” air mataku turun lagi.</p>
<p>“Tidak akan Guan Nan, aku janji,” aku tidak bisa memegang janjimu <em>gege,</em> tapi aku selalu coba percaya. Sama seperti janji Eeteuk <em>oppa</em> waktu itu.</p>
<p>“Iya,”</p>
<p>“Jangan menangis, aku lelah melihatmu menangis,” aku mengangguk dan menyeka air mataku.</p>
<p>“<em>Gege…</em> Guan Nan mau es krim…” <em>gege</em> tersenyum.</p>
<p>“Iya sayang, kita beli setelah ini,”</p>
<p>Aku memeluknya lagi. Biarlah begini, untuk saat ini. Cukup begini, dan semua akan baik-baik saja.</p>
<p>Ponselku bergetar –sms dari Kyuhyun <em>oppa.</em></p>
<p>Jebal jangan siksa aku begini, Guan Nan.</p>
<p>Aku membalasnya</p>
<p>Maaf. .</p>
<p style="text-align:center;"> <strong>TBC</strong></p>
<p style="text-align:left;">well&#8230; saya minta maaf karena minggu kmaren ga post, lagi sibuk banget sama lomba maaf ya&#8230;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ffindo.wordpress.com/49663/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ffindo.wordpress.com/49663/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ffindo.wordpress.com/49663/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ffindo.wordpress.com/49663/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ffindo.wordpress.com/49663/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ffindo.wordpress.com/49663/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ffindo.wordpress.com/49663/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ffindo.wordpress.com/49663/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ffindo.wordpress.com/49663/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ffindo.wordpress.com/49663/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ffindo.wordpress.com/49663/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ffindo.wordpress.com/49663/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ffindo.wordpress.com/49663/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ffindo.wordpress.com/49663/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ffindo.wordpress.com&amp;blog=9871143&amp;post=49663&amp;subd=ffindo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ffindo.wordpress.com/2012/01/28/ffchapteredpg-13-hope-love-and-passion-chap-4/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		<georss:point>0.000000 0.000000</georss:point>
		<geo:lat>0.000000</geo:lat>
		<geo:long>0.000000</geo:long>
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/95a35ddde9bc310ef88702b63ce33481?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rieriedestiny</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ffindo.files.wordpress.com/2012/01/469108910_large-copy2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">469108910_large copy</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
