I’ll be the one

Aku harus bisa bertemu dengannya, dengan Soohee. Apapun yang terjadi, aku harus disampingnya, aku harus mengetahui setiap detik kehidupannya. Aku tak mungkin membiarkannya sendiri yang kini tengah berbaring dirumah sakit akibat kecerobohanku,

***

Malam itu, aku mengajaknya bertemu ditaman dekat rumahnya,

Annyeong jagiya.. ^^

Kita bertemu ditaman dekat rumahmu ya..

Kutunggu jam 7 disana..^^

Aku tau kalau Soohee memang mengidap penyakit asma yang sudah akut, ia tak boleh kedinginan. Dan aku berniat mengajaknya kesebuah kedai makan yang baru beroperasi dekat taman.

Saat itu masih jam 5, masih ada waktu untukku membereskan tugas kuliahku yang masih menumpuk. Supaya nanti aku bisa datang tepat waktu, dengan segera kuselesaikan tugas-tugasku. Berusaha membereskannya secepat mungkin.

Tak terasa Hampir 90 menit aku bergumul dengan tugas kuliahku, kurasakan lelah menerpa tubuhku.

“aiiishh,,cape sekali,..” ucapku merebahkan kedua lenganku, kutatap jam tangan  dilengan kiriku.

“masih jam 6.30, ada waktu setengah jam lagi. Istirahat sebentar saja, biar nanti tidak lemas..” ucapku berinisiatif, kurapikan bekas-bekas tugasku yang tercecer, dan merebahkan tubuhku diranjang berukuran kecil itu. Tak lama kemudian mataku sudah tertutup rapat.

juliette..oh..’ terdengar suara handphone-ku. Dengan malas aku meraihnya, dan melihat siapa yang menelfonku.

‘YA TUHAN!’ pekikku saat melihat jumlah miscall dan sms dilayar handphone-ku. 15 miscall dan 10 sms menantiku. Dan semuanya dari Soohee.

Dengan segera kubawa tubuhku berlari menuju taman, aku baru ingat punya janji dengan Soohee, dan sekarang sudah jam 9. 2 jam ia menungguku ditengah udara malam.

Dengan cepat aku berlari menuju taman, dengan pikiran yang kalut, takut terjadi sesuatu pada kekasihku. Dan benar saja, saat aku sampai ditaman, kulihat ia tengah bersandar lemas pada sebuah pohon besar.

“Soohee..” pekikku berlari menghampirinya, kulihat wajahnya pucat dan bibirnya kelu. Dengan segera kulepas jaketku dan menyelimutkannya pada soohee.

“Soohee, jeongmal mianhaeyo, bertahanlah..” ucapku sembari menggendongnya menuju rumah sakit.

***

Kini, aku hanya bisa terduduk ditaman, menanti-nanti keadaan Soohee yang masih koma dirumah sakit. Aku tak bisa menjenguknya, keluarganya sudah membenciku karna aku berkali-kali membuatnya masuk rumah sakit, dan itu semua karna kecerobohanku.

***

“KAU!, lagi-lagi kau yang membuat anakku masuk rumah sakit.!” Teriak ibu Soohee saat melihatku tengah terduduk diruang tunggu ICU

“mianhe ahjumma, jeongmal mianhaeyo, aku tak bermaksud..” ucapku terpotong, belum sempat aku menyelesaikan permohonan maafku, sebuah tamparan sudah mendarat dipipi kananku.

“tidak usah meminta maaf, karna itu tak bisa menyembuhkan anakku!” teriaknya dengan sorot mata penuh amarah,

“hyung, bukannya kau bilang kau sangat menyayangi Soohee noona?kenapa kau malah membuatnya masuk rumah sakit?” protes soojin dengan tatapan kecewanya

“aku sangat menyayanginya soojin, dan aku tak mau membuatnya masuk rumah sakit, aku tau aku salah, aku mohon maafkan aku..” ucapku dengan nada penuh harap. Aku tau aku sudah salah besar, aku selalu teledor, dan itu semua membuat Soohee harus masuk rumah sakit terus.

“sudahlah hyung, tak ada gunanya meminta maaf, sudah terlambat. Lebih baik hyung pergi saja! Keberadaan hyung hanya menambah keruh suasana..” jawab soojin datar, ia merangkul ibunya yang masih terisak menunggu keadaan anaknya yang berada diruang ICU.

“tidak, aku mau menunggunya disini hingga ia sadar..” ucapku sedikit keras

“PERGI KAU DARI SINI! AKU TAK MAU MELIHAT MUKAMU LAGI!” tiba-tiba ahjumma berteriak padaku dengan air mata yang membasahi pipinya, dengan terpaksa aku pergi dari sana.

***

Lembayung sore menjadi latar perasaanku yang tengah gusar, ingin rasanya aku berlari menerobos barikade keluarga Soohee dan memeluknya erat, tapi tak bisa. Aku tak ingin membuat ahjumma semakin membenciku.

Dasar bodoh! Kenapa kau begitu bodoh jinki!

Kau bilang kau menyayanginya, tapi kenapa kau terus menyusahkannya?!

Kau terlalu sering membuatnya hampir tiada,

Dasar bodoh! Kau memang tak berguna!

Ya! Jinki! Orang paling tak berguna yang ada didunia!

Lebih baik kau yang tiada daripada Soohee yang pergi

Kau tak berguna jinki! Sementara Soohee, ia punya keluarga yang amat menyayanginya!

“AAAAAAaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaarrrrrrggghhh!!!” aku berteriak memecah keheningan sore ditaman, kuacak-acak rambutku hingga tak karuan.

Kurasakan mataku memerah, dan kepalaku rasanya amat berat, hatiku amat sakit dan berdegup kencang tak biasanya. Tubuhku ambruk tepat dibawah pohon besar saat aku melihat Soohee yang terkulai lemas saat itu.

Aku sudah tak bisa menahan semua kemelut dalam pikiranku, rasanya terlalu sulit. Aku menangis sejadi-jadinya tanpa peduli sekelilingku. Biar orang berkata aku pengecut karna menangis, aku tak peduli, aku sudah tak tahan menahan semuanya.

***

Mentari pagi membangunkanku dari tidurku saat itu, kubuka mataku dan menatap sekeliling, aku masih ditaman. Dengan keadaan tak karuan, rambut yang berantakan, mata yang sembab, dan badan yang terlihat lusuh.

Kuangkat tubuhku dari posisi semula, berjalan gontai menuju rumah dengan perasaan tak karuan. Kurasakan setiap orang menatap aneh padaku.

“hyung, kenapa baru pulang?” terdengar suara taemin saat aku membuka pintu masuk, namun tak kupedulikan, aku hanya berjalan gontai kearah kamar.

Kuambil handuk dan kembali melangkah menuju kamar mandi, membersihkan tubuhku yang sudah tak karuan. Selang beberapa menit kemudian, aku sudah selesai dengan mandiku dan sudah berpakaian lebih baik.

Kurebahkan tubuhku diranjang, dan menatap langit-langit kamar yang sudah kusam. Memutar kembali seluruh kejadian kemarin,

Soohee, maafkan aku, aku tak bisa menjadi kekasihmu yang baik

Yang kulakukan hanyalah membuatmu kesusahan

Mungkin memang lebih baik bila kita tak bersama

Aku tak mau hanya menjadi benalu bagimu

Aku sangat mencintaimu Soohee

Mataku kembali tertutup, pikiranku kembali tenggelam dalam setumpuk cerita hidupku. Mengingat kejadian masa laluku yang campur aduk seperti jus lemon.

***

“Jagiya..” sahut Soohee dalam diamnya, ia menyandarkan kepalanya yang kecil dibahuku. Terduduk dipadang ilalang dengan lembayung senja sebagai latarnya.

“ne..” jawabku pelan, ku elus rambut poninya,

“kau mau berjanji sesuatu?” ucapnya menatapku

“apa?”  tanyaku tersenyum padanya

“apapun yang terjadi kau akan selalu ada disampingku, dan selalu mencintaiku apapun yang terjadi pada kita..” ucapnya pelan, aku termangu mendengar ucapannya

“kenapa diam?” tanyanya membuyarkan lamunanku.

“Aku tak bisa..” jawabku pelan

“mwo?” ia menggerakan kepalanya menghadap lurus padaku.

“aku tak bisa bila hanya terus berada disampingmu dan terus mencintaimu. Aku ingin menjadi seorang yang menghapus air matamu saat kau menangis, berada disampingmu saat kau membutuhkanku, melihat senyuman pertamamu saat kau terbangun dari tidurmu..” ucapku terpotong, ia menempelkan telunjuknya dibibirku.

“Cukup, tak kan usai kalau kau mengucapkan semuanya, aku senang mendengarnya, kau harus berjanji padaku jinki..” ucapnya tersenyum, kutarik tubuhnya hingga terjatuh dalam pelukanku.

“tak perlu meminta, akan kulakukan semuanya untukmu, jagiya..” bisikku padanya, kuelus lembut rambutnya yang hitam legam, semakin mempererat pelukanku.

***

“hyung,..” teriak taemin membangunkanku dari lamunanku yang sudah terlalu jauh, secara tiba-tiba kubuka mataku dan kembali menatap langit kamar yang kusam.

“waeyo taemin-ah?” teriakku merubah posisi menjadi terduduk.

“sarapan sudah siap..” teriaknya dari lantai bawah, kulihat jam yang tersimpan dimeja kecil, jam 10.30. Kupandangi cerminan diriku dicermin yang terpasang didinding kamar, memperhatikan setiap bagian tubuhku. Tanpa sengaja pandanganku terhenti pada bayangan sebuah kotak berwarna hitam dicermin.

Kuputar tubuhku, berjalan menghampiri kotak yang tersimpan disamping meja kecilku, mengangkatnya dan membuka isinya.

Aku tersenyum saat melihat isinya, fotoku bersama Soohee saat bermain ke kebun binatang, ia mengenakan bando kelinci berwarna putih, dan rambutnya ia kucir dua. Wajahnya sangat manis dan senyumnya amat lebar.

Dibawahnya tersimpan sebuah buku pemberian Soohee berjudul ‘keep fight, never give up!’ . Sebuah kado ulang tahun yang istimewa darinya, dan beberapa lembar kertas berisi coretan-coretan isi hatiku saat masih mengejarnya.

“Soohee, bogoshippo.. aku benar-benar merindukanmu..” ucapku lirih menatap fotoku dengannya.

“aku harus bertemu dengannya, aku harus berada disampingnya apapun yang terjadi!” ucapku menyimpan kotak hitam itu ditempat tidur. Dengan cepat aku berlari keluar rumah tanpa memperdulikan taemin yang memanggilku. Kukejar bus yang siap melaju, selama perjalanan aku terus memikirkan Soohee yang hingga kini masih terkapar dirumah sakit.

Soohee, tunggu aku, aku akan segera datang

Saat bus berhenti, dengan segera aku melompat turun dari bus, dan kembali berlari menuju rumah sakit. Kurasakan peluh yang mulai menetes dari sela-sela rambutku yang hitam, tapi aku tak perduli, aku tetap berlari menerjang orang-orang yang berlalu lalang dikoridor rumah sakit.

“Soojin..” teriakku saat melihat adik Soohee tengah terduduk diruang tunggu

“hyung, mau apa kau kesini?” tanyanya bangkit dari duduknya

“aku ingin bertemu dengan Soohee, biarkan aku masuk Soojin, jebal..” ucapku dengan nafas tersengal

“sudah kukatakan kau tak bisa menemuinya lagi hyung! Kau hanya akan dimarahi oleh umma!” ucapnya tegas,

“aku tak peduli, tak peduli ahjumma akan memarahiku, tapi aku mohon, biarkan aku menemui noona-mu..” ucapku dengan penuh harap, kulihat wajahnya yang kebingungan, akhirnya ia menghela nafas dan mengangguk pelan

“gamsahamnida soojin, kau memang lelaki yang baik..” ucapku mengacak-acak rambutnya sesaat dan segera memasuki ruang rawat.

Saat kubuka pintu ruangan itu, kulihat tubuh Soohee yang terkulai lemas diranjang rumah sakit, tak ada senyumannya, bahkan untuk bernafaspun ia menggunakan alat bantu. Kudekati dirinya perlahan, dan duduk dikursi yang terletak disamping kasurnya. Tak kulepaskan tatapanku dari wajahnya yang manis dan cantik yang kini terlihat pucat.

“Soohee..” kupegang lengannya yang dingin, menggenggamnya dengan kedua tanganku.

“Aku disini, disampingmu, bangunlah..” ucapku bergetar, kurasakan airmata yang mulai memuncak dikantung mataku. Segera kusapu air mata itu agar tak menetes, dan kukembangkan sebuah senyuman diwajahku untuknya.

“bangunlah.. aku disampingmu, aku ingin melihatmu kembali tersenyum soohee..” ucapku pelan.

“aku mohon Soohee, bangunlah, ijinkan aku menebus semua kesalahan yang telah kulakukan padamu.. jangan tinggalkan aku Soohee..”

Wajahnya tetap pucat, tak ada jawaban darinya, yang kudengar hanyalah bunyi alat pendeteksi jantung yang tersimpan disamping tempat tidurnya. Aku kembali merasakan air mataku menggunung, tapi kini tak bisa kubendung, air mataku jmulai menganak sungai. Kutundukkan kepalaku tak mampu menatap wajah kekasihku yang masih terkulai lemah.

“Soohee, bangunlah,aku mohon..” ucapku bergetar ditengah tangisanku.

***

“Jinki..” kudengar suara seseorang memanggilku, suara yang sangat kurindukan.

“Jinki…” suaranya semakin terdengar jelas, aku berusaha keluar dari kegelapan fikirku.

“Jagiya..” kubuka mataku perlahan, mencoba mengumpulkan penglihatanku yang masih kabur. Kurasakan belaian hangat seseorang dikepalaku.

“Soohee..” pekikku saat melihat Soohee yang tersenyum padaku.

“Kau.. kau sudah sadar..” ucapku setengah berteriak, kucium keningnya lembut. Dan terduduk disampingnya

“jagiya.. untunglah kau sudah sadar, aku sangat merindukanmu..” ucapku menggenggam lengannya lagi. Ia tersenyum dibalik alat bantu pernafasannya, aku sangat senang melihatnya kembali tersenyum, senyum yang sangat kurindukan.

“biar kupanggilkan dokter dulu..” ucapku beranjak, namun ia menahanku.

“waeyo?” tanyaku kembali terduduk

“jangan pergi, tetaplah disampingku..” ucapnya terbata. Aku tersenyum dan mengangguk pelan, kugenggam kembali tangannya dengan tangan kiriku dan mengusap keningnya dengan tangan kananku.

“sudah kukatakan, apapun yang terjadi, aku akan selalu disampingmu, jagiya, karna aku sangat mencintaimu..” ucapku berbisik padanya, ia kembali tersenyum.

“jinki..” ucapnya terbata

“ne?”

“maukah kau membawaku kesana ?” pintanya terbata, aku termenung, sedikit ragu dengan permintaannya.

“Jebal..” ucapnya lirih, aku menghela nafas,

“baiklah, tapi kau masih lemah, baru sadar..” ucapku mengingatkannya

“gwencahanyeo, aku kuat kok..” ucapnya tersenyum, aku mengangguk, membantunya melepas alat bantu pernafasan dan selang infusnya. Kulepas jaket yang kukenakan dan memakaikannya pada Soohee.

“bagaimana dengan umma dan soojin?” tanyaku sebelum membantunya turun dari ranjang.

“jangan khawatir, mereka akan mengerti, kita berangkat sekarang..” ucapnya sembari tersenyum, kubantu ia berjalan.

***

Angin sore dipadang itu terasa berbeda dari biasanya, lebih hangat dan menyegarkan. Entah karna aku yang selama ini merasa penat, atau memang karna kondisi suhu yang mulai berubah.

Kubopong Soohee berjalan menuju belakang padang. Terduduk di padang ilalang yang menghadap danau kecil.

“Sudah lama kita tak kemari..” ucapnya menatap langit sore

“ne..” jawabku pelan terduduk disampingnya

“jinki..” panggilnya, ia menyandarkan kepalanya dibahuku, sama seperti saat ia memintaku untuk berjanji

“ne..” jawabku pelan, aku merangkulnya, mendekapnya agar ia merasa lebih hangat.

“apa kau merasakan hal yang sama denganku?” sebuah pertanyaan yang membuatku mengerutkan alisku.

“apa?” tanyaku bingung

“aku merasa cinta kita semakin kuat, walaupun aku tau umma akan semakin melarang hubungan kita. Tapi semua itu tak berarti, yang kurasakan hanyalah rasa cinta kita yang semakin kuat..” jelasnya panjang lebar, aku terdiam mendengar ucapannya. Bahkan Soohee-pun merasakan cinta kami semakin kuat, sementara aku menginginkan agar hubungan kami berakhir. Babbo!

“jinki..” panggilnya membuyarkan lamunanku.

“ah, ne.. na do..” jawabku gugup.

“kau kenapa?” tanyanya dengan nada khawatir

“kenapa?aku sedang bingung, entah kenapa rasanya aku begitu mencintaimu, selamanya mencintaimu. Padahal aku sudah menyusahkanmu, tapi aku tetap saja mencintaimu. Aku merasa sangat egois. Selalu ingin menjadi satu-satunya orang yang mencintaimu, hanya aku!” ucapku menatap langit yang semakin senja

“haha.. gwenchanayeo, aku senang kau merasakan hal itu..” ucapnya tersenyum padaku, kubalas senyumannya dan mengecup keningnya lembut.

“aku ingin kau mendengarkanku..” ucapku tiba-tiba

“kalau kau membutuhkanku, saat itu juga aku akan berada disampingmu dan membuatmu tersenyum, selamanya. Dan saat pagi datang, aku akan menjadi orang pertama yang memberikan cintanya padamu, selamanya..” ucapku menatapnya lembut.

Ia tersenyum, dan mendekati diriku,

“araseo jagiya..” bisiknya tepat ditelingaku. Aku tersenyum mendengarnya, mengacak-acak pelan rambutnya dan mengecup ujung kepalanya.

Aku semakin mempererat dekapanku, memeluknya erat, kubiarkan ia merasakan detak jantungku yang kini berdetak dengan kecepatan tinggi. Menatap lembayung senja yang merona ditemani semilir angin sore yang terasa hangat.

And forever more I’ll be the one who love you

When you need me, I’ll be there to make you smile

And forever more I’ll be the one who come to

I’ll be the one who love you, when the morning comes


——the end—-

Advertisements

6 responses to “I’ll be the one

    • hehe.. *apaan sih ketawa sendiri?! dasar saraph!*
      hehe.. *jiaahh..*
      makasii eonni.. 😀
      onew oppa emg so romantis.. =)

      makasi udah baca ff’a eonni.. =)

  1. kachan untuk kdua kalinya anith bca ff ini + dnger lgu.y Onew oppa . . .wadhuuu (ni suasana lg ujan gde pula ,,mndukung skali hahahah)
    mrinding disko . . .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s