FF 2SHOTS :: She’s My Girl :: 1

Title : She’s My Girl

Author : shineeisland

Casts : Kim Sun Hee [Rana Rafidah Giani]

Lee Jinki [Onew SHINee]

*****

Kim Sunhee dan Lee Jinki, dua nama ini tak lagi asing di telinga seantero sekolah karena kenakalan mereka. Sunhee memang anak perempuan yang sedikit bandel, namun Jinki… ia adalah anak laki-laki yang sangat disiplin dan teratur. Namun sejak Sunhee dipindahkan duduk ke belakang Jinki, Jinki menjadi ribut, karena terus saja memarahi Sunhee yang senang sekali mengganggunya. Eits, jangan salah tebak dulu… Sunhee tentu saja tidak menyukai Jinki. Tapi Jinki… sebenarnya ia menyimpan sebagian kecil perasaannya untuk Sunhee.

Hari ini lagi-lagi mereka dimarahi oleh guru karena ribut di kelas.

“Lee Jinki! Sudah berapa kali songsaengnim peringatkan, jangan berteriak-teriak di kelas!”

“Dia yang mulai duluan, songsaengnim…” Jinki menunjuk ke arah Sunhee yang duduk tenang di belakangnya.

“Jangan menyalahkan orang lain, Mr. Lee… Kau selalu saja memarahi Sunhee, padahal Sunhee tak berbuat apa-apa…”

“Tapi…”

“Tidak ada tapi-tapian, sekarang kau harus minta maaf pada Sunhee. Sekarang juga!”

Jinki bangkit dari bangkunya dengan ragu-ragu.

“Ayo, tunggu apalagi!”

Jinki berjalan menuju bangku Sunhee dengan muka masam, sementara Sunhee hanya cekikikan. Jinki melotot padanya seakan ingin berkata ‘ini semua terpaksa!’.

“Maafkan aku, Kim Sunhee…” kata Jinki, tentu saja tidak tulus. Sementara Sunhee tetap cekikan. Sebenarnya yang memulai duluan adalah Sunhee. Ia hobi sekali mengganggui Jinki, entah itu menendang sandaran kursi Jinki hingga Jinki terantuk meja yang berada di depannya, mengambil kertas dari buku Jinki secara diam-diam saat ulangan tiba, atau mengobrol dengan teman yang duduk di depan Jinki—posisi Jinki di tengah mereka berdua, sehingga Jinki menjadi sangat terganggu dan tidak konsentrasi. Saat Jinki ingin mengingatkan Sunhee untuk diam, malah guru-guru yang mengira ia selalu mengganggu Sunhee. Memang sulit duduk di dekat Sunhee.

Namun, bagaimana pun juga, Jinki menyukai Sunhee. Namun kadang Jinki kelewat kesal padanya, sampai-sampai mengeluarkan kata-kata kasar dan melakukan hal-hal di luar batas. Bahkan ia juga pernah membanting handphone-nya sendiri ke lantai—dan semua itu karena kekesalannya pada Sunhee. Ia tak mungkin melempar handphonenya ke Sunhee kan? Alhasil, handphonenya dilempar ke lantai, dan semuanya hancur berantakan dalam sekejap.

Kadang Jinki juga merasa bingung, mengapa ia bisa menyukai gadis serampangan seperti Sunhee. Ia selalu bertanya-tanya dalam hatinya, kenapa hal ini bisa terjadi? Setiap saat ia berada di dekat Sunhee, ia sangat gugup, sementara Sunhee terlihat santai dan biasa-biasa saja. Hal itu membuat Jinki kesal dan selalu saja ingin memarahi Sunhee. Sunhee memang tidak pernah marah besar pada Jinki, malah ia merasa bersalah jika ia membuat Jinki marah, namun entah mengapa Jinki tetap saja marah dan membencinya, namun juga menyukainya. Aneh bukan?

Sunhee, gadis yang telah membuat Jinki stress itu sendiri, tak pernah menyadari perasaan Jinki terhadapnya. Ia memang tak peka. Namun wajar saja, Jinki tidak pernah menunjukkan tanda-tanda bahwa ia menyukai Sunhee, namun ia selalu menunjukkan bahwa ia benar-benar benci sekali pada Sunhee. Setiap kali Sunhee mengejek ataupun mengganggunya, Jinki selalu memarahi Sunhee, kadang Jinki bisa sangat marah, sehingga Sunhee kalang kabut. Sunhee paling benci dibenci oleh orang lain. Oleh karena itu ia akan segera minta maaf pada Jinki jika dilihatnya Jinki mulai mengepal tangannya dengan keras, atau menggebrak meja—itu tandanya Jinki sedang marah. Jinki bukannya marah karena Sunhee mengejek-ejeknya, namun ia hanya tak bisa mengontrol perasaannya. Ia sendiri bingung dengan perasaannya.

Setelah pulang sekolah ini, Jinki berjalan kaki sendirian. Padahal biasanya ia akan pulang dengan Sunhee, yang arah rumahnya sama dengan dia. Namun kebetulan hari ini Sunhee kerja kelompok di rumah teman yang lain, jadi Jinki terpaksa pulang sendiri.

Jinki selalu mengatakan pada Sunhee kalau ia ingin pulang sendiri, ia tak mau pulang dengan Sunhee. Namun Sunhee selalu saja mengikutinya kemana-mana, karena Sunhee selalu merasa bersalah. Sunhee merasa bersalah, namun ia juga tetap menjalankan aksinya mengganggu Jinki. Yeoja yang aneh.

Jinki menendang kerikil-kerikil di sepanjang jalan dengan keras, saking kerasnya mungkin saja kerikil itu bisa mengempeskan ban mobil. Sepanjang jalan Jinki hanya mengutuk dirinya sendiri, entah mengutuk karena ia membenci Sunhee, atau karena menyukai Sunhee.

“Aish… kenapa sih aku?” Jinki mulai menendang-nendang lagi, namun bukan kerikil, melainkan kaleng bekas minuman bersoda.

“Kenapa si Sunhee itu sungguh… argh…” Jinki menggaruk-garuk kepalanya sendiri. Ia merasa sangat kebingungan, kenapa bisa terjadi hal yang seperti ini padanya?

“Kurasa aku sudah gila…”

Jinki terus menendang kaleng sambil berjalan, sementara emosi bergejolak dalam batinnya.

*****

“Jinki-yah!” Sunhee melonjak-lonjak pelan dari kejauhan, menghampiri meja Jinki.

“Apa lagi?” Jinki menjawab dengan ketus, dengan tampang tidak peduli, padahal sesungguhnya saat ini ia sangat gugup. Untuk menutupi kegugupan, ia akan bertindak kasar seperti ini.

“Aku… pinjam bukumu ya!” kata Sunhee sambil mengangkat buku fisika yang ada di meja.

“Tidak mau…”

“Ayolah, Jinki-yah… Aku lupa membawa buku…”

“Tidak…”

“Ayolah…” Sunhee meraih tangan Jinki dan menarik-nariknya. Jinki yang kaget dengan perlakuan Sunhee, segera menundukkan mukanya, ia tak mau Sunhee tau kalau mukanya memerah saat ini. Tapi kenapa sih Sunhee biasa-biasa saja? Bukannya mestinya ia malu melakukan hal semacam ini kepada laki-laki?

“Ah, ya sudahlah…” Jinki segera mengiyakan daripada Sunhee terus saja menarik-narik tangannya, yang akan membuatnya semakin gugup. Sunhee tersenyum bahagia.

“Kau baik sekali, Jinki-yah!” kata Sunhee sambil berlari ke pintu kelas, sekilas ia melambaikan tangannya pada Jinki.

Apa yang terjadi padaku? Batin Jinki. Ia meraba mukanya yang semakin lama semakin memerah.

*****

“Buka buku fisika kalian halaman 48…” perintah songsaengnim. Jinki meraih buku fisika di atas meja, lalu segera membuka halaman yang diperintahkan oleh guru. Sesaat kemudian ia merasakan bangkunya bergetar.

“Jinki-yah… Jinki-yah…” bisik Sunhee dari belakang. Kakinya terus saja menendang-nendang kursi Jinki.

“Apa?”

“Kau lupa ya… tadi kan aku mau meminjam buku fisikamu…” Sunhee berkata dengan wajah memelas.

“Aku juga mau pakai, babo!”

“Tapi kan…”

“Ya sudahlah…” Jinki akhirnya menyerah. Ia memberikan bukunya kepada Sunhee. “Pakai saja bukuku…”

“Betul aku boleh meminjamnya?”

“Ambil saja, jangan banyak bicara…” Jinki menyodorkan buku itu kepada Sunhee. Sunhee tersenyum. Dalam hatinya ia berpikir, sejahat apa pun Jinki, ia juga memiliki sisi baik. Seperti sekarang ini.

“Lee Jinki!” Tiba-tiba songsaengnim menggebrak meja dengan keras, membuat seisi kelas terlonjak dari bangku masing-masing.

“Mana bukumu, hah?” Songsaengnim berjalan perlahan menuju bangku Jinki, untuk melihat apakah Jinki membawa buku atau tidak. Tentu saja meja Jinki kosong saat itu, karena bukunya dipinjam oleh Sunhee.

“Kau tak membawa buku, hah?” Songsaengnim menggebrak meja Jinki, lagi-lagi Jinki terlonjak dari bangku. Tiba-tiba Sunhee langsung memotong.

“Tidak, songsaengnim… aku yang tidak membawa buku… ini buku Jinki…” Sunhee mengangkat sebuah buku di tangannya, songsaengnim menatapnya galak.

“Ah, tidak, tidak!” Jinki langsung menyanggah kata-kata Sunhee, ia tak mau Sunhee ikut terjebak dalam masalah. “Itu memang bukunya, songsaengnim!”

Jinki langsung berbalik untuk melihat Sunhee, lalu berkata, “Kau mau mengasihani aku ya? Aku tak perlu bantuanmu!” Jinki langsung mendorong buku yang tadinya disodorkan Sunhee. Sunhee merasa heran, namun dalam hatinya ia tersenyum.

“Ya sudah kalau begitu. Kim Sunhee, sekarang kau duduk di samping Jinki, bawa bukumu ke sini agar Lee Jinki bisa ikut belajar,” perintah songsaengnim. Dengan sigap Sunhee langsung mengangkat bangkunya ke sebelah Jinki dan duduk di sana. Songsaengnim berjalan kembali ke meja guru dan memulai pelajaran.

Selama guru menjelaskan, Sunhee terus saja mengajak Jinki bicara. Ia berkata terima kasih terus menerus padanya atas kebaikan Jinki padanya. Namun guru mereka terus saja memelototi mereka, membuat Sunhee harus mengunci mulutnya rapat-rapat. Ia melipat tangannya di meja, lalu bertopang dagu di sana. Jujur saja ia merasa sedikit bosan dengan pelajaran fisika yang memang paling tidak dimahirinya. Tiba-tiba ia mendengar suara, yang ternyata keluar dari mulut yang tak diduga-duga. Jinkilah yang berbicara. Seorang Jinki? Mengobrol saat pelajaran?

Sunhee menolehkan kepalanya ke arah Jinki yang berada di samping kanannya, masih tetap dalam posisinya bertopang dagu di lipatan tangannya. Ternyata Jinki tidak mengobrol dengan siapa-siapa, ia hanya berbicara sendiri.

“Gadis yang kusukai itu… serampangan sekali…” kata Jinki sambil tersenyum. “Ia suka berteriak dalam kelas, mengobrol saat pelajaran, makan saat pelajaran, mengambil kertas secara diam-diam saat ulangan tiba, meloncat dari meja ke meja, menghilangkan alat tulis yang dipinjamnya…” Jinki berhenti sejenak, lalu melanjutkan kata-katanya. “Namun, bagaimanapun, ia juga seorang perempuan…” Jinki menerawang lurus ke depan, sementara Sunhee hanya menatapnya heran, Jinki yang merasa dipandangi segera menegur Sunhee.

“Mengapa kau memandangiku terus?”

“Tidak ada…” Sunhee langsung merubah posisi kepalanya ke bentuk semula. Sementara di balik punggung Sunhee, Jinki sedang tersenyum lebar sekali.

Apa yang tadi itu, bisa dikatakan menyatakan perasaan? Batinnya.

*****

Sejak Jinki berkata seperti itu pada Sunhee, Jinki jadi semakin menjauhi Sunhee. Setiap kali ia melihat Sunhee, ia mengingat perkataannya saat itu—yang keluar dari mulutnya entah bagaimana caranya, dan hal itu membuatnya malu.

Namun, Sunhee masih sama seperti biasa, tidak merasa sedikit pun. Ia tak mengubah sikapnya pada Jinki, tetap sama seperti yang dulu. Sunhee masih sering mengganggu Jinki tanpa malu.

Suatu hari guru kesenian mereka memberikan tugas kelompok kepada kelas mereka, yaitu mencari foto pemandangan—yang harus difoto sendiri, sebagai model untuk melukis di atas kanvas. Satu kelompok terdiri dari dua orang, dan pemilihan anggota kelompok ditentukan berdasarkan posisi duduk. Dan, sudah diduga, Jinki sekelompok dengan Sunhee.

Awalnya Jinki langsung marah dan tidak terima harus berada di kelompok yang sama dengan Sunhee, namun guru keseniannya tetap saja pada pendiriannya, dan Jinki terpaksa sekelompok dengan Sunhee. Hati Jinki agak lega juga, setidaknya ia tetap sekelompok dengan Sunhee dan ia bisa pura-pura menolak sekelompok dengannya tanpa kehilangan Sunhee sebagai rekan kerjanya.

Hari ini Jinki dan Sunhee memulai kerja kelompok mereka di rumah Jinki. Rumah Jinki yang berada di kawasan elit, tentu saja memiliki taman yang indah. Dan taman itulah yang nantinya akan dijadikan sebagai objek pemotretan mereka.

Jinki dan Sunhee sudah bersiap dengan kamera poket masing-masing,mereka mulai memotret apa saja yang ada di hadapan mereka. Mulai dari kupu-kupu yang sedang hinggap di dedaunan, anak-anak yang sedang bermain ayunan, atau pemandangan taman dari kejauhan. Tanpa sadar sudah tiga jam mereka berada di taman ini, mereka pun mulai merasa letih. Jinki mengajak Sunhee untuk duduk sebentar sambil melihat-lihat hasil kerja keras mereka sambil makan es krim. Kebetulan ada penjual es krim yang lewat di depan mereka.

“Sunhee-yah, kau mau es krim rasa apa?”

“Aku tidak usah…”

“Tenang saja, kau kutraktir kok,” kata Jinki dengan sedikit canggung. Senyum lebar tersungging di wajah Sunhee.

“Kalau begitu, aku mau rasa stroberi saja…” kata Sunhee seraya menunjuk es krim rasa stroberi. Jinki yang juga tidak tahu ingin membeli rasa apa, akhirnya ikut saja dengan keputusan Sunhee, es krim rasa stroberi.

Jinki dan Sunhee berjalan perlahan menuju taman yang tadi mereka singgahi, namun Sunhee tidak mau kembali lagi ke sana, ia ingin melihat danau yang ada di seberang taman. Jinki akhirnya mau juga setelah dibujuk. Mereka pun pergi ke sana, dan duduk di tepi danau yang jernih itu.

“Jinki-yah… kau tau?” Sunhee membuka topik pembicaraan sambil terus menjilat es krim di genggamannya.

“Tau apa?”

“Kau tau kalau es krim rasa stroberi itu, melambangkan rasa cinta yang manis…” kata Sunhee sambil menerawang danau. Jinki segera menoleh ke arah Sunhee dengan mata terbelalak. Namun Sunhee tak menyadarinya, dan melanjutkan kata-katanya.

“Kapan ya aku bisa bertemu belahan jiwaku…” Sunhee masih saja menerawang ke danau. Jinki yang sedang makan es krim langsung tersedak, suasana saat ini menjadi semakin canggung.

“Jinki…” Sunhee langsung memutar badannya kea rah Jinki. “Tak pernahkah kau berpikir mengenai orang yang kau sukai? Adakah orang yang berhasil menarik hatimu?”

Jinki langsung tersedak untuk yang kedua kalinya. “Tentu saja ada…” jawabnya jujur. Sunhee langsung terlihat gembira dan penasaran.

“Benarkah? Wah, gadis itu pastilah gadis yang sangat memikat… ia berhasil meluluhkan hati seorang Lee Jinki yang keras seperti batu…”

Jinki menerawang lurus ke depan, entah apa yang dilihatnya. “Ya, dia gadis yang luar biasa…” Tiba-tiba Sunhee beranjak dari duduknya, dan langsung menarik tangan Jinki.

“Ayo kita pulang sekarang…”

“Es krimnya?” Jinki mengangkat es krim di tangannya.

“Makan saja selama perjalanan…” Sunhee segera berlari mendahului Jinki, sementara Jinki hanya bisa berdecak karena melihat tingkah Sunhee yang kekanak-kanakan.

Tiba-tiba dilihatnya Sunhee merunduk ke bawah, tangannya mengambil sesuatu dari tanah.

“Apa yang kau ambil, hah? Jangan asal ambil barang-barang di sini…” kata Jinki ketus.

“Aku hanya mengambil kerikil kecil kok.” Sunhee mengangkat kerikil itu lalu melemparkannya ke dalam sebuah rumah. Setelah itu terdengar erangan kecil dari sana.

“Hey, kalian!” Pemilik rumah itu ternyata terkena batu yang dilempar Sunhee. Langsung saja Sunhee menarik tangan Jinki dan mengajaknya lari.

“Cepat lari, Jinki-yah!” Sunhee terus saja berlari dengan kencang, Sunhee memang termasuk anak dengan lari tercepat di kelasnya, namun Jinki, termasuk ke dalam anak dengan lari terlambat di kelasnya. Oleh karena itu, tentu saja Jinki tak bisa mengimbangi langkah kaki Sunhee yang jauh lebih cepat daripadanya.

“Hey, kalian anak-anak nakal!” Pemilik rumah di belakang itu terus saja mengejar mereka sambil memegangi kepalanya yang sakit karena terkena lemparan batu. Namun karena si pemilik rumah sudah cukup berumur, ia tak sanggup mengejar anak-anak kecil yang masih bugar seperti Sunhee dan Jinki. Ia pun segera kembali ke rumahnya, namun ia tau salah satu dari mereka, yaitu Jinki, yang merupakan tetangga si pemilik rumah.

Untuk kali ini, Jinki dan Sunhee berhasil kabur dari amukan pemilik rumah. Namun begitu Sunhee pulang dari rumah Jinki, ayah Jinki yang sudah diberitahu mengenai kejadian tadi langsung memarahi Jinki habis-habisan. Jinki dihukum tidak boleh keluar rumah selama sebulan.

“Kau bikin malu keluarga saja…” oceh ayah Jinki, sementara Jinki hanya menunduk, tenggelam di balik pundaknya.

“Kamu appa hukum tidak boleh keluar rumah selama sebulan, kecuali untuk pergi ke sekolah…” Jinki segera menaikkan kepalanya, memandang ayahnya yang menatapnya dengan marah. Ia ingin menyanggah hukuman ayahnya, namun apa yang bisa dilakukannya terhadap ayahnya yang super disiplin itu?

Dengan hati yang berat, ia mengangguk dan mengiyakan hukuman ayahnya. Setelah itu ia langsung masuk ke kamar, dan lagi-lagi menyesali, kenapa ia bisa bertemu dengan gadis seperti Sunhee, yang menjerumuskannya dalam konflik fisik dan konflik batin.

Advertisements

10 responses to “FF 2SHOTS :: She’s My Girl :: 1

  1. Kasian sih jinki, stp mslh kena nya k dia. Huakkk…prsaan nih ank juga dikit2 oon jdny… ‘sunhee dsni tomboy y??
    Btw, sunhee,sptnya w d srg liat r nem nih?? ‘di FF mana d lupa, yg pntg byk deh…
    Se kali2 hyun jin napa?? ‘author : enak aza! Huakkk^^

    • setuju eonni..
      peran terbaik onew itu yang begituan..
      hhe.. 😛

      mirip ama cast yang di ff aku eonni..
      tapi nama’a bukan sunhee,, tapi soohee..
      hehe.. 🙂

    • heheh iyaa.. kekeke
      sun hee? namanya emang psaran kali hehehe (sbnernya itu namkor aku)

      hahah hyun jin oen? enak aja! huakkk *make kata-kata yang disaranin oenni*
      kkekeekeke just kidding :p

  2. ckckck p0o0r Jinki, malangnya nasib mu nak#plakk# sunhee nya jga ya ampunn ? next part ah. 0h ya annye0ng salam kenal *lambai2 tangan* bru nmu bl0g ni,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s