Lunch Time

Main Cast : Park Minhyo (Ree unnie), Choi Minho
Other Cast : Lee Taemin, Jessica Jung, Hwang Jiyeon (Author)

******

“Kau ini sama sekali tidak feminin, ya?” kata Jiyeon, sahabatku, pada suatu ketika.

Aku hanya melirik ke arahnya sebentar dan menggerutu.

“Lihat siapa yang bicara…” kataku.

Ia memperhatikan penampilannya sendiri : tatanan rambut seadanya, make up seadanya, dan sepatu kets. Sangat identik denganku. Jiyeon tersenyum.

“Setidaknya bukan aku yang naksir Choi Minho. Dia itu suka gadis yang feminin, kan?” balas Jiyeon, menatapku dengan tatapan penuh kemenangan.

Aku kembali menggerutu, tapi kali ini hanya di dalam hati. Kalau sudah bicara soal Choi Minho, aku jelas akan kalah. Karena semua yang dikatakan oleh Jiyeon biasanya memang fakta. Mana bisa aku bantah lagi.

“Jadi… apa yang akan kau lakukan, Minhyo? Kalau kau diam saja, kau akan kalah dari para barbie itu…” kata Jiyeon lagi. Kelihatannya ia berusaha memanas-manasi aku.

Tapi aku akui Jiyeon benar. Aku melihat ke arah sekelompok siswi yang Jiyeon maksud. Para Barbie, begitu kami menjuluki mereka. Itu karena mereka semua selalu tampil cantik dan feminin. Pandanganku ku arahkan kepada mereka, terutama ke satu orang. Namanya Jessica (aku tidak tahu nama aslinya, tapi yang lainnya memanggilnya dengan nama itu). Dan dia juga menyukai Minho, orang yang aku sukai saat ini.

Aku menghela nafas dan mencubit pipi Jiyeon dengan gemas.

“Jangan memanas-manasi aku, ah!” gerutuku.

Jiyeon cuma meringis sambil mengelus-elus pipinya, kesakitan.

Aku mencari-cari sosok Jiyeon di antara kerumunan orang-orang di kafetaria. Sudah hampir lima belas menit aku mencari anak itu, tapi tidak juga menemukannya. Jadi kuputuskan untuk menunggunya sambil duduk di salah satu meja. Aku kembali mencari-cari, kali ini bukan mencari Jiyeon tapi mencari meja kosong. Senyumku terkembang saat melihat satu meja kosong di sudut ruangan. Aku pun bergegas berjalan ke sana.

Tepat pada saat aku meletakkan nampan makan siangku, seseorang juga melakukan hal yang sama di sampingku. Aku menoleh dan bersiap memarahinya. Tapi aku berhenti. Amarahku mendadak lenyap, digantikan rasa gugup. Choi Minho sedang balas menatapku.

“A-anu…”

Ia tidak mengatakan apa-apa, bahkan tidak berhenti untuk mendengarkanku. Ia malah duduk dan dengan santainya menikmati makan siangnya.

“Maaf! Meja ini sudah ada yang menempati…” kataku agak keras, berusaha membuatnya mendengarkan aku.

“Kau hanya sendirian, kan? Jadi tidak masalah…” balas Minho, datar.

Aku menggigit bibirku. Bingung. Kalau Jiyeon ada di sini, mungkin dia bias menemukan kata-kata yang tepat untuk membalas Minho. Tapi dia sedang tidak ada. Jadi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Dengan kikuk aku ikut duduk disampingnya. Minho masih terus menyantap makan siangnya, sedangkan aku hanya bias memandangi makan siangku. Aku gugup sekali sampai perutku terasa bergolak. Aku jadi takut memakan sesuatu.

“Makan siangmu itu hanya untuk dipandangi, ya?” Tanya Minho. Aku menoleh padanya.

Ya, Tuhan… Ia bahkan terlihat lebih keren jika dilihat dari dekat. Ia berhenti menyuap makanannya dan balas menatapku.

“Kau ini…” Minho berhenti bicara. Dia malah tertawa dan kembali melanjutkan makan siangnya.

Dan jam makan siang kami habiskan dalam keadaan seperti itu : Minho asik menyantap makanannya, dan aku hanya bisa terdiam, nyaris mati karena gugup.

~~

“Minhyo ah!! Mianhae!! Tadi aku tidak bisa ikut makan siang! Partner tugas biologiku memintaku mengajarinya… Jadi kelihatannya, selama satu minggu ini aku-“

“Jiyeon ah!!!! Aku senang sekali!!!!” teriakku, memotong kata-katanya dan langsung memeluknya. Ia terdiam dan membatu, sama sekali tidak membalas pelukanku karena ia bingung. Ketika akhirnya aku melepaskan pelukanku, ia menarik wajahku agar berhadapan dengannya.

“Ada apa, sih?? Kok, kelihatannya kau bahagia sekali…”

“Tadi… kursi yang seharusnya kau duduki saat jam makan siang… diduduki oleh Minho~~!!” seruku.

“Yang benar?? Pantas saja wajahmu bahagia begitu… Berarti… kalau satu minggu ini aku tidak ikut makan siang bersamamu tidak apa-apa, dong…” kata Jiyeon.

“Iya!! Eh!! Apa?”

“Satu minggu ini partner biologiku memintaku mengajarinya… Jadi setiap jam makan siang aku akan bersama dia. Tidak apa-apa, kan?” jelas Jiyeon pelan-pelan.

“Aigoo… Tidak apa-apa bagaimana… Berarti aku sendirian terus, kan??” gerutuku. Jiyeon tersenyum dan mendadak aku punya firasat buruk mengenai senyumannya.

“Kau tidak tahu, ya, siapa partner biologiku?” Tanya Jiyeon. Aku menggeleng dan mengangkat bahu.

“Lee Taemin. Dia itu orang yang selalu bersama Minho pada jam makan siang, kan? Jadi, kalau selama satu minggu ini aku bersamanya, berarti selama satu minggu ini Minho akan terus sendirian pada jam makan siang. Itu kesempatanmu, Minhyo!”

Aku terdiam dan memikirkan omongan Jiyeon barusan. Memang benar, ini kesempatanku. Tapi bagaimana jika Minho menemukan teman lain untuk menemaninya makan siang? Bagaimana jika orang itu Jessica, bukan aku? Lalu apa yang akan aku lakukan?

Aku berhenti bertanya-tanya dalam hati ketika Jiyeon menyikutku. Ternyata bel masuk sudah berbunyi, dan hanya tinggal kami yang ada di luar kelas. Kami berdua pun buru-buru berlari menuju kelas masing-masing.

Aku kembali duduk sendirian di kafetaria pada jam makan siang itu. Para Barbie itu duduk di depanku, dan mereka semua tidak mempedulikan aku. Aku merasa lega, karena aku sama sekali tidak mau mereka mempedulikan aku. Berurusan dengan mereka berarti masalah.

Kelihatannya hari ini aku bisa menyantap makan siangku dengan tenang tanpa merasa gugup karena aku tidak melihat Minho di manapun. Jadi aku mulai menyuap makananku dan mencernanya perlahan-lahan. Rasanya aneh sekali melewati jam makan siang sendirian. Aku hanya diam dan menikmati makananku. Padahal biasanya aku dan Jiyeon membahas apa saja pada jam ini.

“Kelihatannya kau sudah bisa makan dengan lahap hari ini…”

Aku berhenti mengunyah dan melihat ke arah pemilik suara itu. Aku nyaris tersedak ketika melihat Minho meletakkan nampan makan siangnya dan duduk di sampingku, persis seperti kemarin. Bedanya, kali ini ada kelompok Barbie yang memandangi kami dengan sinis.

“Biasanya kau bersama temanmu itu…” kata Minho, kembali mengajakku bicara. Sejak kemarin, dia yang terus bicara sementara aku terdiam seperti orang bodoh. Kali ini aku bertekad untuk tidak jadi gadis bodoh seperti kemarin. Aku meneguk jus jeruk untuk sekedar membasahi kerongkonganku sebelum aku membalas omongan Minho.

“Dia membantu partner biologinya selama satu minggu ini. Bukannya kau juga biasa bersama temanmu?” tanyaku memancing.

“Dia dibantu oleh partner biologinya selama satu minggu ini.” Jawab Minho, membalikkan jawabanku tadi. Aku tertawa mendengar cara dia menjawab.

“Kau ada masalah, ya, dengan kelompok itu?” sambung Minho.

“Hah? Apa?” tanyaku bingung. Bukannya aku terlalu asik memandangi wajahnya-yang sekarang sedang aku lakukan-hingga aku tidak mendengar apa yang dia bicarakan. Tapi aku memang tidak tahu apa yang Minho bicarakan.

“Sekumpulan anak perempuan itu… Kenapa mereka memandangimu dengan tatapan seperti ingin membunuh begitu?” Tanya Minho polos. Aku melirik para Barbie itu dan sedikit bergidik saat melihat mereka memandang ke arahku. Mereka, terutama Jessica, kelihatan berang sekali.

“Terima kasih sudah memberi tahuku soal tatapan mereka. Tapi mereka jadi begitu karena kau.” Jawabku tanpa basa-basi.

“Maksudnya?”

“Mereka tidak suka kau duduk di sini. Mereka pasti lebih senang kalau kau duduk bersama mereka…” kataku sambil menunduk. Kemudian aku mendengar Minho terbahak.

“Memangnya aku bisa duduk kalau bersama mereka? Coba lihat, aku bisa duduk di mana? Semua kursi di sana sudah penuh…” kata Minho, masih terbahak. Dia tidak tertawa lepas, tapi tawanya terdengar manis sekali buatku.

Mereka rela berdiri demi menyediakan kursi buatmu, Minho… batinku. Tapi tentu saja aku tidak mengatakan itu. Aku tidak mau terdengar seperti gadis cemburuan yang putus asa.

Kami kembali terdiam, tenggelam dalam pikiran masing-masing. Kemudian bel masuk berbunyi, dan tanpa bicara apa-apa Minho langsung berdiri. Aku menghela nafas. Hanya seperti inikah pembicaraan kami? Benar-benar tidak bermutu…

“Minhyo ah… Makan siang besok, kita ketemu lagi di sini…” kata Minho, melirik sebentar padaku.

Aku terdiam, melongo. Apakah barusan dia menyebut namaku? Dia tahu namaku?? Aigoo… kalau Jiyeon ada di sini, aku akan memintanya untuk mencubit pipiku, sekedar membuatku yakin bahwa kejadian ini sama sekali bukan mimpi (tapi tidak, karena meminta dia mencubitku berarti memberikan dia kesempatan membalas cubitanku padanya selama ini).

Hari ini juga kami duduk bersama pada jam makan siang. Dia jadi lebih ramah padaku, dan kami mulai membicarakan banyak hal. Meskipun ia masih terlihat menjaga jarak denganku, tapi setidaknya kami tidak hanya diam dan tenggelam dalam pikiran masing-masing. Sekarang kami sedang membicarakan guru favorit kami di sekolah.

“Heechul sosaeng-nim memberiku banyak tugas hari ini… Kelihatannya dia jengkel sekali karena aku sering terlambat masuk ke kelasnya…” keluhku.

“Tapi dia guru yang baik…” sambung Minho.

“Ne… meskipun kadang-kadang dia bertingkah aneh. Dia pernah menceritakan hal yang lucu pada kami. Lalu dia tiba-tiba diam dan memasang wajah cemberut. Waktu kami bertanya dia kenapa, dia hanya menjawab ‘tiba-tiba mood-ku jelek. Aku tidak mau cerita lagi’. Padahal kami tidak melakukan apa-apa…”

Kami tertawa bersama. Kemudian terdiam lagi. Kelihatannya aku dan dia sama-sama kehabisan bahan pembicaraan. Kemudian aku teringat sesuatu.

“Minho sshi… Darimana kau tahu namaku?” tanyaku hati-hati.

“Kau sendiri, dari mana kau tahu namaku?” balas Minho tanpa memandangku.

“Cari saja siswi di sekolah ini yang tidak tahu siapa namamu… Kurasa tidak akan ada…” jawabku setengah bercanda. Minho melirikku.

“Memangnya aku sepopuler itu?”

Aku tidak menjawab, hanya tertawa.

“Aku tahu namamu dari Taemin… Kau tahu dia, kan? Temanmu itu membantunya di kelas biologi…” jawab Minho.

“Oh…”

Aku berpura-pura bersikap biasa. Tapi sebenarnya dalam hati aku senang sekali. Rasanya aku ingin melompat-lompat saking bahagianya. Tapi aku tidak mungkin melakukannya di depan Minho, kan?

“Aku duluan. Setelah ini Heechul sosaeng-nim yang akan mengajar…” kata Minho seraya berdiri.

“Jangan sampai terlambat… Kau bisa diberi banyak tugas…” kataku. Minho hanya tersenyum dan berjalan pergi. Aku sendiri masih duduk di tempat. Kakiku terasa meleleh melihat senyumnya tadi.

Aku melirik jam tanganku dan memutuskan untuk kembali ke kelas. Tapi sepasang tangan memaksaku duduk kembali. Ternyata salah satu dari kelompok Barbie itu yang menahanku berdiri. Aku melihat Jessica berjalan ke arahku sambil melipat tangannya di dada. Teman-temannya yang lain berdiri mengelilingi aku.

“Ya! Park Minhyo!”

“Ne… itu aku…” jawabku, mencoba menjawab dengan nada setenang mungkin.

“Apa hubunganmu dengan Choi Minho?? Kenapa dia mau duduk bersamamu??? Cara apa yang kau gunakan untuk menggodanya, hah???” bentak Jessica. Ia tidak terlihat cantik ketika sedang marah.

“Kami hanya makan siang bersama, tidak ada hubungan apa-apa. Aku juga tidak tahu kenapa dia mau duduk bersamaku. Kalau kalian mau, kalian Tanya saja langsung padanya…” balasku seraya berdiri. Tapi Jessica mencengkeram lenganku, keras sekali. Kuku-kukunya yang sudah di manicure terasa tajam di kulitku. Aku mengibas tangannya.

“Sakit! Lepaskan!”

“Aku belum selesai bicara! Kau mau ke mana?!” bentak Jessica. Ia melirik salah satu temannya, dan temannya itu langsung menyiramku dengan yogurt cair yang harusnya jadi menu makan siang mereka.

“Apa yang kau lakukan?” teriakku, mendorong orang yang sudah menyiramku. Jesica tertawa, tawanya kedengaran jahat sekali.

“Rasakan itu. Itu akibatnya kalau kau berani mendekati Minho…”

Baiklah… Sekarang aku benar-benar marah… Seragamku bau yogurt, dan aromanya membuatku muak. Melihat wajah Jessica dan teman-temannya semakin membuat darahku mendidih. Aku menarik tangan Jessica yang sudah berjalan menjauhiku dan memukul wajahnya. Ia berteriak dan jatuh terjengkang sambil memegangi wajahnya. Teman-temannya langsung mengerubuni Jessica dan membantunya berdiri.

“Ada apa ini?”

Kami semua menoleh dan melihat guru sekolah kami, Kangin sosaeng-nim, berdiri sambil berkacak pinggang. Wajahnya sama sekali tidak terlihat gembira.

“Kalian semua! Ikut aku ke ruang guru, sekarang!” bentaknya pada kami semua.

~~

“Minhyo ah!! Kau tidak apa-apa, kan?? Uugh…” Jiyeon langsung mundur selangkah begitu mengetahui aku berlumuran yogurt. Aku baru saja keluar dari ruang guru setelah Kangin sosaeng-nim memarahi kami habis-habisan. Aku dan Jessica dipaksa untuk bersalaman, dan malah berakhir berusaha meremukkan tangan masing-masing.

“Lihat apa yang mereka lakukan padaku…” seruku sambil berusaha memeluk Jiyeon, yang dengan sepenuh hati menolak pelukanku.

“Tapi kau berani juga… Aku dengar kau memukul Jessica?” Tanya Jiyeon. Aku mengangguk.

“Chotae!! Setelah ini mereka tidak akan berani macam-macam denganmu…”

Aku tersenyum. Dalam hati aku juga berharap seperti itu.

Minho tidak ada.

Sudah dua hari ini aku tidak melihatnya pada jam makan siang. Aku juga tidak melihatnya pada jam sebelum dan sesudah makan siang. Jangan-jangan dia sudah tahu insiden antara aku dan Jessica dan mulai menjauhi aku? Aku menggeleng sendiri, memaksa pikiran seperti itu pergi jauh-jauh. Tapi absennya Minho selama dua hari ini semakin membuat pikiran seperti itu Berjaya dalam otakku.

Aku melirik kelompok Barbie yang kelihatannya sudah tidak mau berurusan denganku (baguslah!). Mereka tidak lagi duduk di meja yang ada di depan mejaku. Mungkin mereka ingin menjaga jarak dariku, takut salah satu dari mereka jadi korban pukulanku lagi. Aku tertawa dalam hati ketika melihat bekas memar masih ada di pipi Jessica.

“Hei…”

Aku mendongak dan melihat Minho berdiri di sampingku. Ia meletakkan nampannya dan kali ini ia duduk di depanku, bukan di sampingku. Ia kelihatan serius sekali hari ini.

“Aku tidak melihatmu dua hari ini…” kataku pelan. Aku bisa melihat Jessica mencuri pandang ke arah kami.

“Basket. Sebentar lagi kami bertanding dan aku harus latihan. Aku dengar kau memukul Jessica…” kata Minho. Ia tidak memandangku saat mengatakan itu.

“Aku… tidak sengaja… dia menyiramku dengan yogurt…” jawabku.

“Aku tidak menyangka kau sekasar itu…”

Aku berhenti mengunyah dan menelan makanan yang ada di mulutku dengan susah payah. Dia bilang aku kasar?

“Kau itu kan, perempuan… Seharusnya tidak memukul siapa-siapa…” kata Minho.

“Lalu? Aku harus melakukan apa? Balas menyiramnya dengan yogurt? Aku kan, tidak minum benda itu…”

“Pasti masih ada cara lain untuk melindungi dirimu… tidak perlu sampai seperti itu…”

“Cara lain bagaimana? Membiarkan mereka mengerjai aku sampai puas?” tanyaku, nada suaraku mulai naik.

“Minhyo, kenapa kau marah?” Tanya Minho. Sekarang ia melihatku dengan matanya yang bulat.

“Aku tidak marah. Hanya kesal. Mereka begitu karena kau juga, tahu! Mungkin lebih baik kau tidak duduk bersamaku saat makan siang. Jadi mereka tidak akan menggangguku dan aku tidak perlu memukul siapa-siapa.” Seruku, memukul meja dan berdiri. Aku melirik pada Jessica yang sekarang tertawa senang dan langsung pergi meninggalkan Minho.
Aku kesal sekali.

Dia berkata seakan-akan akulah yang salah. Minho terdengar seperti sedang membela para Barbie itu. Padahal…

“Kan aku yang jadi korban…” gumamku, berjalan cepat menuju kelas, sebelum akhirnya berbalik dan berlari menuju ruang biologi. Aku butuh teman bicara, sekarang!

~~

Ruang Biologi sudah kosong. Tapi Jiyeon dan Taemin masih ada di situ. Keduanya kelihatan serius sekali saat aku masuk dan menyapa mereka.

“Minhyo~ Lho, kenapa wajahmu? Muram sekali…” Tanya Jiyeon, menarikku agar duduk di sampingnya.

“Aku kesal!!!” teriak Minhyo, membuat Taemin kaget dan memotong katak percobaannya terlalu keras hingga kaki si katak yang malang itu melompat keluar dari nampannya.

“Aigoo!! Taemin ah!!” seru Jiyeon, mengenakan sarung tangan dan mengambil kaki katak itu “Harusnya bukan bagian ini yang kau potong…”

Jiyeon mengambil nampan yang dipegang Taemin dan menyerahkannya padaku. Kemudian ia mengambil nampan berisi katak utuh yang baru dan menyerahkannya pada Taemin. Ia lupa bahwa nampan yang pertama masih ada padaku.

“Ini… coba potong lagi…” Lalu ia beralih padaku “Ada apa? Kau kesal pada siapa? Jessica lagi?”

Aku menggeleng, dan melirik Taemin. Aku tidak mungkin membicarakan Minho sementara teman baiknya ada di dekat kami. Tapi kelihatannya Jiyeon mengerti, karena ia membentuk huruf o dengan mulutnya dan mengangguk-angguk.

“Memangnya dia kenapa?” Tanya Jiyeon, setengah berbisik.

Aku belum sempat menjawab karena pintu ruang biologi menggeser terbuka. Minho berdiri di sana, membuatku terkejut. Nampan yang kupegang tanpa sengaja terlempar, dan aku menangkap katak percobaan itu dengan tangan kosong. Wajah Jiyeon dan Taemin sama-sama menampakkan ekspresi jijik saat katak itu mendarat di tanganku. Tapi aku hanya memandangi Minho.

“Minhyo, bisa ikut denganku sebentar?” Tanya Minho. Tapi sepertinya ia tidak menunggu jawaban karena setelah itu ia langsung keluar.

Aku menyerahkan katak itu pada Jiyeon (“Aish… Minhyo… ini menjijikkan…” gerutunya) dan langsung mengikuti Minho. Ia berjalan cukup jauh dari ruang biologi, dan berhenti. Aku ikut berhenti dan menunggunya bicara.

“A-ada apa?” tanyaku gugup. Habis wajah Minho terlihat serius sekali.

“Kau itu jahat sekali, ya?” kata Minho.

“Apa? Aku jahat?”

“Ne. Padahal aku sudah berusaha membujuk Taemin supaya dia mau meninggalkan aku setiap jam makan siang. Akhirnya dia setuju, karena kebetulan dia kesulitan pada tugas biologinya. Dan kebetulan juga partner biologinya adalah temanmu.” Katanya panjang lebar. Sejak kapan Minho jadi talk-active begini?

“Aku tidak mengerti…” gumamku.

“Padahal aku sudah memberanikan diri mendekatimu lebih dulu. Mengajakmu makan siang bersama lebih dulu…”

Tunggu dulu! Aku rasa aku tahu ke mana arah pembicaraannya. Tapi… apa iya? Lagipula, langsung duduk di sebelahku pada jam makan siang tidak bisa dianggap mengajakku makan siang bersama, kan?

“Tapi kau malah menyuruhku untuk tidak lagi duduk bersamamu.”

“M-Minho… aku benar-benar tidak mengerti…”

“Yang tadi aku katakan padamu, soal cara lain untuk melindungi dirimu, aku belum selesai bicara…”

Ia terdiam untuk beberapa saat sebelum akhirnya melanjutkan.

“Cara lainnya, adalah dengan meminta padaku untuk melindungimu. Dengan cara itu kau tidak perlu memukul siapapun, kan?” sambung Minho.

Aku menelan ludah. Apa ini pernyataan?

“Tentu saja aku tidak bisa melakukan itu… Kita kan baru saling kenal…”

Kemudian Minho tertawa. Begitu tiba-tiba sampai aku terkejut.

“Kita memang baru saling kenal. Tapi aku sudah lama memperhatikanmu.”

“Tidak mungkin… Aku tahu tipe gadis seperti apa yang kau sukai… Yang lembut, feminin, seperti Jessica…” kataku, meski di dalam hati aku menyambung “Tapi Jessica tidak selembut kelihatannya…”

“Aku memang menyukai yang seperti itu. Tapi kalau aku tidak merasa nyaman di dekatnya, sama sekali tidak berarti apa-apa. Lagipula, menurutku semua perempuan itu feminin, tentu saja dengan cara mereka masing-masing…” kata Minho, bersandar di dinding.

Aku menunduk. Bingung. Apa yang harus aku katakan? Aku benar-benar sangat senang sampai-sampai isi kepalaku jadi kosong, maksudku, aku benar-benar kehabisan kata-kata.

“Jadi… Minhyo ah… Kau tidak keberatan mulai besok kita makan siang bersama?” Tanya Minho. Aku menatapnya dengan tatapan gembira.

“Tentu saja… Aku… aku senang sekali…” jawabku.

Minho tersenyum, dan meraih kedua tanganku. Ia kelihatan ingin mengatakan sesuatu, tapi berhenti karena seseorang berseru di belakang kami.

“Kelihatannya aku sudah kehilangan partner makan siangku…” kata Jiyeon, memasang wajah memelas. Begitu juga dengan Taemin.

“Aku juga… Aku sangsi mereka akan membiarkan kita duduk di meja yang sama dengan mereka…” kata Taemin, menahan senyum.

“Kalian menguping?!” teriakku. Keduanya mengangguk serempak, kemudian berteriak.

“Ah!!”

“Kenapa?” tanyaku dan Minho, bersamaan. Keduanya menunjuk ke arah tangan kami dengan wajah jijik.

“Minhyo ah! Kau kan belum mencuci tanganmu! Tadi kau memegang katak mati, kan?” seru Jiyeon.

Aku dan Minho bertatapan, kemudian memandangi tangan kami yang saling menggenggam. Kami berdua bertatapan lagi, dan kali ini disertai dengan senyuman yang dipaksakan.

Selanjutnya, aku hanya bisa mendengar suara tawa keras dari Jiyeon dan Taemin.

Sudah lewat dari seminggu, aku dan Jiyeon kembali menjalani rutinitas makan siang bersama. Tapi kali ini ada orang lain yang ikut bersama kami. Minho dan Taemin bergabung dengan kami. Aku bisa melihat wajah Jessica yang marah itu berubah jadi merah padam dan teman-temannya sibuk mengipasi dan membawakan dia air minum. Aku membayangkan seperti apa wajahnya kalau dia tahu aku dan Minho sudah menjadi pasangan.

“Minhyo ah…” panggil Minho pelan saat Taemin dan Jiyeon sibuk memperebutkan kotak puding terakhir di kafetaria.

“Ne?”

“Saranghae…”

Aku tersenyum, dan berbisik.

“Na do…”

Ia menggenggam tanganku lembut, tapi buru-buru melepasnya lagi karena Taemin dan Jiyeon sudah kembali, masih memperebutkan kotak puding yang jadi masalah. Minho menatap mereka dengan bingung, dan aku hanya bisa tertawa.

NB. buat para soshi, mianhae… di sini jessica dapet peran ga enak… jgn dianggep serius ya T^T

Advertisements

33 responses to “Lunch Time

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s