1SHOT :: Charari Ddaeryeo

Title : Charari Ddaeryeo (Hit Me)

Author : shineeisland

*****

~Hara’s P.O.V~

Aku berjalan menyusuri koridor sekolah. Mana sih anak itu? Keluhku dalam hati. Sudah capek aku mencarinya dari tadi.
“Kim Hara!”
Aku menoleh, sepertinya ada yang memanggilku. Ternyata memang benar. Itu teman sekelasku, Sunhee.
“Ada apa, Sunhee?”
Dia terlihat capek sekali. “K-kau…” Dia berbicara terputus-putus karena ngos-ngosan.
“Sunhee-ah, tenangkan dulu dirimu, baru kau mulai bicara…” kataku menasihatinya. Dia menarik nafas, lalu mengeluarkannya lagi.
“Nah, sudah kan?” katanya setelah menenangkan diri. “Aku hanya ingin bertanya, tadi kau lihat Jinki?”
“Jinki? Tidak…” jawabku singkat.
“Kau yakin kau tidak melihatnya?” tanya Sunhee lagi.
“Aku tidak melihatnya dari tadi. Aku pun sekarang juga sedang mencarinya… Dia kan selalu bersama Minho, jika ada dia, pasti ada Minho di sana…”
Sunhee tersenyum, lalu menggodaku. “Cari Minho muluk nih, tau deh yang baru jadian itu…” godanya.
“Apaan sih…” Aku tersenyum, namun aku tak bisa menyembunyikan rasa maluku . Tanpa sadar wajahku bersemu merah.
“Ya sudah kalau begitu kita cari Jinki dan Minho bersama-sama saja… Kkaja!” katanya. Aku mengangguk lalu mengikutinya dari belakang.
“Kira-kira Minho dan Jinki ada di mana?” tanyaku. Maklum, aku baru saja jadian dengan Minho, jadi aku belum tahu betul di mana biasanya mereka saat waktu istirahat.
“Biasanya sih, di perpustakaan…” jawab Sunhee.
“Kau sudah cari mereka ke perpustakaan?”
“Belum sih…”
“Ya sudah kalau begitu kita cari ke sana saja, siapa tahu mereka ada di sana.” Aku berlari ke perpustakaan, diikuti oleh Sunhee di belakangku.
Sesampainya di perpustakaan, aku segera menuju bagian komik. Setahuku Minho suka sekali dengan komik. Tapi ternyata dia tidak ada di sana. Tumben.
Sementara itu Sunhee mencari Jinki di bagian novel. Dia sudah tahu pasti Jinki pasti membaca novel, kerjaannya setiap hari kan memang itu. Aku yang tidak menemukan Minho di bagian komik akhirnya menyusul Sunhee di tempat buku-buku novel.
Saat aku tiba di sana, ternyata Sunhee sudah bertemu dengan Jinki. Mereka sedang berbincang-bincang. Tapi ada seseorang di sebelah Jinki. Ia terlihat serius kali membaca novel. Dan ternyata orang itu adalah Minho.
“Minho-ah…” panggilku sambil menepuk punggungnya. “Kau kenapa serius sekali membacanya? Tidak biasanya…”
Minho berbalik dan melihatku. “Ah, Hara-sshi… kukira siapa…” Setelah itu Minho melanjutkan membaca novelnya. Aku kesal karena tidak dipedulikan oleh Minho.
“Hara-sshi… kau jangan marah kalau Minho belakangan ini tidak memperdulikanmu… dia itu kan mau ikut lomba menulis novel…” Tiba-tiba Jinki angkat bicara.
“Hah?” Aku memasang wajah kaget. Tidak mungkin Minho yang suka olahraga dan komik ini mau menulis novel.
“Jadi kau tidak tahu, Hara?” Kali ini Sunhee yang berbicara.
Aku terdiam. Aku memang belum tahu tentang hal ini. Aku segera duduk di samping Minho untuk meminta keterangan lebih lanjut.
“Minho-ah, benarkah kau mau ikut lomba menulis novel?” Aku bertanya dengan nada penasaran. Akhirnya Minho menutup bukunya dan melihat ke arahku.
“Iya…” jawabnya singkat padat. Kedengarannya sinis sekali. Namun aku sudah terbiasa dengan hal ini, karena saat kami masih bersahabat pun Minho juga seperti ini.
“Kau yakin?” Nada bicaraku seperti orang yang meragukan.
“Aku yakin kok,” katanya lagi. “Lagian sebentar lagi aku kan ulang tahun, aku ingin membuat novel tentang kita…”
“Tentang kita?” Aku jadi semakin merasa aneh. Sungguh tidak biasa.
“Lagian kalau menang kan lumayan, novelnya akan diterbitkan…” sambungnya.
“Apakah kau sudah memikirkan nama samaranmu?” tanyaku.
“Nama samaran?”
“Ya, nama samaran. Kau tahu kan biasanya penulis-penulis menggunakan nama samara jika mereka ingin menerbitkan novel…”
“Hmm… kalau begitu nama samaranku… Choi Minhwan…”
“Hey, jangan nama itu! Itu kan nama drummernya FT Island… kau harus mencari nama yang lain…” kataku lagi. “Bagaimana kalau Choi Min Ra?”
“Choi Min Ra? Tidak, aku tidak mau! Itu seperti nama cewek!” tolaknya mentah-mentah.
“Tapi katanya kau mau membuat novel tentang kita… Jadinya kan Choi Minho digabung dengan Kim Hara jadinya Choi Minra…”
“Ah, tidak, aku tidak mau. Yang ada aku akan malu nantinya…” Minho tetap berkeras.
“Ah, ya sudahlah…” Akhirnya aku menyerah dari membujuknya.
Minho melanjutkan membaca buku. Sementara Jinki dan Sunhee masih asyik berbincang-bincang.
“Eh, hari Minggu nanti kan ulang tahunnya Minho…” kata Jinki. “Bagaimana kalau kita pergi jalan-jalan bersama?”
“Ya! Ide bagus tuh!” Sunhee langsung mengiyakan.
“Minho, Hara, bagaimana? Kalian mau tidak kalau hari Minggu nanti kita jalan-jalan?” tawar Jinki kepada aku dan Minho.
“Ah, tidak ah, aku malas.” Minho langsung menolak. Sebenarnya aku mau. Tapi kalau Minho tidak ikut aku juga tidak akan ikut.
“Ah, ayolah… hari Minggu kan hari ulang tahunnya Minho… sesekali kan tak apa.” Sunhee terus membujuk aku dan Minho.
“Ya sudahlah, aku ikut…” kataku. Jinki dan Sunhee tersenyum gembira.
“Nah, Minho… Hara saja sudah mengiyakan. Masak kau masih tidak mau ikut sih?” Jinki kembali menawarkan rencananya itu kepada Minho.
“Ah, ya sudahlah, ya sudahlah, aku ikut… tapi tidak ada acara traktir-traktiran ya… pakai uang sendiri-sendiri!” Minho akhirnya mengiyakan. Jinki dan Sunhee melakukan hi-five. Sementara aku hanya tersenyum saja.

*****
Akhirnya hari ulang tahun Minho tiba juga. Pagi ini aku sudah bersiap-siap dengan sangat rapi untuk pergi jalan-jalan dengan Minho, Sunhee, dan Jinki. Apa baju yang ini sudah bagus ya? Aku kembali memandang diriku di cermin. Ah, tidak, yang ini saja deh!
Aku mencoba berbagai jenis pakaian, mulai dari kaus, jeans, rok, sampai dress. Namun akhirnya aku memilih memakai kemeja lengan pendek biru muda dengan rok sebetis.
“Hara-ah! Ppali!” Sunhee memanggilku dari luar kamar. Aku dan Sunhee berniat berangkat ke taman bermain bersama, lalu Minho akan pergi dengan Jinki. Setelah itu kami akan bertemu di taman bermain.
“Ne, ne… sabar…” Aku mengambil hadiah ulang tahun untuk Minho di atas meja kaca yang sudah kubungkus dari semalam dengan kertas kado warna biru. Warna kesukaan Minho.
Aku dan Sunhee akhirnya berangkat. Dalam perjalanan, Jinki terus saja memantau kami sudah sampai di mana. Alhasil Sunhee jadi sibuk sekali menerima telepon.
“Hara-ah, mereka sudah sampai di sana duluan, sebaiknya kita cepat. Kasihan mereka menunggu…” Sunhee menarik tanganku agara aku bisa berjalan lebih cepat. “Lama sekali jalan kau ini, makan apa sih kau tadi pagi?”
“Tadi pagi aku makan…” Belum selesai aku menjawab, Sunhee langsung menarikku dengan lebih kencang lagi.
“Jinki-ah, Minho-ah!” teriak Sunhee sambil melambaikan tangan.
“Kalian ini lama sekali,” keluh Jinki.
“Tau nih, si Hara, dandannya lama banget. Biasa… kencan pertama…” goda Sunhee. Jinki dan Sunhee tertawa cekikikan. Sementara mukaku dan Minho berubah menjadi merah.
“Nah, sekarang kita semua sudah berkumpul. Mau naik wahana apa dulu nih?” tanya Jinki.
“Bagaimana kalau kita naik roller coaster?” tawarku.
“Ide bagus!” kata Minho dan Sunhee berbarengan.
“Ahh, tapi aku takut naik roller coaster…” kata Jinki tiba-tiba.
“Dasar kau Jinki, masak naik roller coaster saja takut… sudahlah, ayo kita naik wahana itu sekarang…” Sunhee menarik tangan Jinki dan mengisyaratkan aku dan Minho untuk mengikutinya. Sunhee berjalan cepat sekali, sehingga kami tertinggal di belakang.
“Hara-sshi…” Tiba-tiba Minho berbicara.
“Ada apa, Minho?” jawabku.
“Hari ini kau cantik sekali… terima kasih sudah mau datang,” katanya. Mukaku tersipu malu.
“Hey, kalian, jalannya cepat sedikit, nanti antriannya keburu panjang!” Sunhee yang berada di depan meneriaki kami. Aku segera lari menuju Sunhee sebelum mukaku menjadi lebih merah lagi.
Akhirnya kami sampai di roller coaster itu. Minho dan Jinki segera membeli tiket untuk empat orang. Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya tiba giliran kami untuk naik ke roller coaster.
Aku duduk di sebelah Minho. Sementara Sunhee yang malang harus duduk dengan Jinki. Kami sudah tahu Jinki itu orangnya penakut. Bisa-bisa Jinki malah bikin malu Sunhee di depan umum.
Saat di roller coaster, Minho terus memegang tanganku. Sebenarnya aku suka, namun Sunhee dan Jinki terus saja memperhatikan kami. Jadi aku bilang ke Minho kalau aku bukan anak kecil, jadi tidak perlu dipegang seperti itu. Akhirnya Minho melepaskan genggamannnya.
Setelah naik roller coaster, kami berencana naik bianglala. Namun nasib kami saat itu kurang beruntung.
“Yahh… tiketnya hanya tinggal dua… bagaimana ini?” kata Sunhee. “Kau sih Jinki, gara-gara kau kita telat mengantri tiket bianglala…” Sunhee menjitak kepala Jinki
“Kau ini menyalahkanku saja…” Jinki mengusap-usap kepalanya. Aku dan Minho tersenyum melihat tingkah mereka yang kekanak-kanakan.
“Ya sudahlah, dua tiket ini untuk kalian saja…” kata Sunhee sambil menyodorkan tiket tersebut.
“Untuk kami? Tak usahlah, untuk kalian saja. Lagian kan kalian yang mau naik bianglala…” tolakku.
“Ahm, sudahlah ambil saja. Kami bisa naik wahana lain,” kata Sunhee sambil meletakkan kedua tiket itu di tanganku, setelah itu dia dan Jinki langsung berlari meninggalkan kami. “Dadaaah Minho, Hara, selamat bersenang-senang yaa!” Jinki dan Sunhee melambai dari kejauhan. Sementara aku dan Minho hanya mematung di sana.
“Hey…” Minho melambaikan tangannya di depan wajahku. “Mengapa kau mematung begitu?”
“Ah, ani… tidak apa-apa…”
“Kalau begitu…” Minho menghentikan kata-katanya. “Ayo kita naik!” Minho menarik tanganku. Saat tanganku digenggam Minho, aku merasa kehangatan itu. Aku nyaman berada di dekatnya.
Kami memilih bianglala untuk ukuran dua orang. Minho membimbingku masuk. Aku terlihat sangat gugup.
“Hara-sshi… kau kenapa? Kau takut dengan tempat tinggi?”
“Ani… aku malah suka tempat-tempat tinggi,” jawabku. Sejujurnya, aku memang suka tempat-tempat tinggi. Dari tempat-tempat tinggi, kita bisa melihat pemandangan yang menakjubkan.
Selama berada di bianglala, kami hanya duduk dalam hening. Ini sudah wajar bagiku, karena kau tahu Minho memang orangnya pendiam.
“Aku tak akan lupa…” Suara seseorang memecah keheningan. Suara Minho.
“Lupa apa?” tanyaku.
“Aku tak akan lupa untuk memasukkan momen ini di dalam novelku…” Minho menjawab sambil menatap mataku. Aku jadi salah tingkah.
Aku terus menunduk sejak Minho mengatakan hal itu. Tiba-tiba Minho berkata lagi, “Lihat itu, matahari tenggelam… indah sekali jika dilihat dari sini…”
Aku mengangkat wajahku. Dan memang benar kata Minho. Pemandangan ini sungguh indah. Aku dan Minho terus menikmati pemandangan ini. Aku berharap hari ini takkan pernah berakhir…
Setelah kami turun dari bianglala, Minho menawariku sesuatu.
“Hara-sshi, apa kau tak merasa lapar?” tanya Minho.
“Ah, tidak… aku tidak lapar.” Perutku berbunyi. Ternyata keadaan sedang tidak mendukungku untuk berbohong.
“Ah, tak apa, ayo kita makan dulu, biar aku yang traktir…” Minho menarikku.
“Kau bilang kau tak mau traktir siapa pun?”
“Terkecuali kau.” Jawab Minho singkat. Aku tersipu. “Tapi jangan bilang tentang hal ini kepada Jinki maupun Sunhee ya…”
“Ya, ya… aku janji…”
Minho mengajakku makan di sebuah kafe kecil. Di sana kami hanya makan ddukbogi saja. Tiba-tiba Jinki dan Sunhee datang.
“Hey… kalian makan tidak bilang-bilang ya…” kata Jinki. “Bagaimana naik bianglalanya tadi?”
“Cukup mengasyikkan,” jawab Minho. “Jadi tadi kalian naik wahana apa?”
“Tadi kami tidak naik wahana, kami hanya menonton sirkus yang ada di sana…” kata Sunhee. “Dan Jinki sepertinya tertarik sekali dengan sirkus. Mungkin cita-citanya ingin jadi badut.”
Sontak kami semua tertawa.
“Hey, kita tidak pulang nih? Sudah hampir malam…” kata Sunhee.
“Iya, nanti oemmaku marah.” Aku menimpali.
“Kalau begitu kita pulang sekarang saja…” Minho beranjak dari kursi, diikuti oleh aku, Jinki, dan Sunhee.
Aku pulang diantar dengan mobilnya Minho. Jinki dan Sunhee sudah pulang duluan. Saat kami sampai di depan gerbang rumahku, Minho berkata, “Gomawo untuk hari ini, Hara-sshi…”
“Ne, gomawo juga Minho…” Setelah itu aku langsung turun dari mobil dan menuju rumahku. Minho melambai dari mobil, dan aku pun melangkah masuk rumah dengan hati yang berbunga-bunga.
Begitu aku sampai di kamar, HP-ku langsung berdering. Ternyata telepon dari Sunhee.
“Yobosaeyeo?” kata Sunhee dari seberang telepon.
“Yobosaeyeo, Sunhee-ah. Ada apa?” tanyaku.
“Kau tadi, dengan Minho, apa saja yang kalia lakukan?”
“Ah, tidak ada…”
“Bohong. Kalian pasti berpegangan tangan.”
Aku tersipu tidak bisa menjawab.
“Ahh, iya kan?” kata Sunhee lagi. “Baguslah, berarti hubungan kalian mengalami kemajuan,”
Aku masih diam.
“Ya sudahlah, sudah malam. Sudah dulu ya Hara, sampai ketemu di sekolah besok…”
“Ne…” jawabku. Aku menutup telepon. Kurasa malam ini aku tidak akan bisa tidur.

*****

Hari ini aku sangat senang. Di sekolah aku berbincang banyak dengan Sunhee dan pulang sekolah nanti aku akan diantar oleh Minho. Senangnya…
Teng… Teng… Teng…
Akhirnya bel pulang berbunyi. Aku segera membereskan buku-bukuku dan berlari menuju gerbang depan sekolah. Ternyata Minho sudah menunggu di sana.
“Sudah lama?” tanyaku.
“Ah, tidak, baru saja,” jawab Minho. “Kkaja!” Minho menarik tanganku menuju mobilnya.
Selama di mobil, tidak ada di antara kami yang berbicara. Sesampainya di depan rumahku, barulah Minho memulai pembicaraan.
“Hara-sshi… aku… aku tidak menyukaimu lagi…”
Aku tersentak. Aku kaget. Namun aku yakin Minho hanya bercanda.
“A-apa?”
“Ya, Hara, aku tidak menyukaimu lagi. Aku menyukai orang lain.” Minho segera berlari menuju mobilnya dan pergi meninggalkanku. Sementara aku mematung di situ.
“M-minho…”

*****

Sejak kejadian itu, aku tak pernah melihat Minho lagi. Baik di sekolah, di mall, di jalanan, di mana saja. Aku tahu, Minho sudah tidak menyukaiku lagi. Makanya dia menghindariku. Aku tahu itu. Aku sadar betul.
“Hara-ah…” Seseorang mengagetkanku dari belakang. Sunhee.
“Kau boleh bersedih, tapi jangan lama-lama…” katanya. Aku tak mempedulikannya.
“Hara-sshi…” Sunhee kembali mengulang kata-katanya. “Jangan berada dalam kesedihan terlalu lama sepeti ini. Aku yakin Minho pasti sedih jika ia tahu kau seperti ini.”
“Minho tidak akan merasa sedih! Minho tidak akan! Dia kan tidak menyukaiku lagi! Dia meninggalkanku untuk perempuan lain!” Aku berteriak sambil menangis.
“Hara-sshi…”
“Sudahlah!” Aku berlari dari tempat itu. Aku sudah tidak tahan. Rasanya aku mau mati saja.

*****

Hari ini aku akan ke toko buku. Jonghyun songsaengnim meminta kami untuk membawa sebuah buku yang paling kalian suka untuk dibahas nantinya di sekolah. Aku tidak suka baca buku, makanya aku akan mencari buku di sini. Buku apa pun jadi. Sebaiknya aku mencari buku yang tipis saja.
Aku berjalan mengitari rak novel-novel. Tiba-tiba mataku tersentak melihat sebuah buku dengan sampul mencolok. Sepertinya buku ini menarik. Aku membaca synopsis belakangnya.
Sepertinya… ini… sepertinya ini adalah kisah cintaku dengan…
Aku membalik buku itu untuk melihat siapa pengarangnya.
Choi Min Ra, Pemenang Lomba Menulis Novel Tingkat SMA.
Aku tersentak melihatnya. Rasanya aku ingin menangis. Ternyata Minho benar-benar memakai nama yang kusarankan . Padahal waktu itu dia menolak. Minho… Minho… mengapa kau tak juga hilang dari otakku?
Tiba-tiba badanku tergerak untuk menuju ke kasir. Tanpa sadar aku telah membeli buku ini.
Dasar babo, kalau kau membaca buku ini, kau akan semakin ingat dengannya!
Aku berjalan kaki menuju rumah. Sesampainya di rumah, aku segera meletakkan novel itu di atas meja. Awalnya aku tak berniat membacanya, namun entah kenapa tanganku tergerak untuk membacanya. Tanpa sadar halaman demi halaman telah kubaca. Akhirnya aku selesai menamatkan buku ini. Aku sangat terharu begitu selesai membaca buku ini. Saat kami naik roller coaster, saat kami naik bianglala, bahkan saat Minho berkata ia ingin memasukkan momen itu di dalam novelnya pun ada… Namun akhirnya berbeda sama sekali. Di novel ini, aku dan Minho hidup bahagia tanpa gangguan. Sementara kenyataannya…
Kuletakkan novel itu di atas meja belajar. Aku jadi bersemangat untuk mencarinya. Aku harus menemukannya, harus… tekadku. Aku menelepon Jinki dan menanyakan tentang Minho. Aku yakin Jinki pasti tahu sesuatu. Ternyata memang iya. Setahu Jinki, Minho pindah ke Incheon dan sekolah di sana. Pindah? Mengapa dia tak pernah bilang padaku?

*****

Hari ini aku bertekad untuk mencari Minho. Begitu pulang sekolah aku langsung menuju stasiun untuk pergi ke Incheon.
Begitu sampai, aku langsung menuju ke sekolah yang dibilang Jinki. Aku menunggu di depannya, mana tahu tiba-tiba Minho lewat. Dan ternyata memang benar. Aku melihat seseorang seperti Minho lewat di depanku.

*****

~Minho’s P.O.V~

Hey, tunggu… Aku menoleh ke arah tiang listrik di mana seorang perempuan sedang bersandar di situ. Perempuan itu… bukannya itu Hara?
Ahh… tak mungkin. Semalam aku juga melihat Hara. Dan semalam juga. Semalam juga. Sejak aku mengatakan hal itu kepada Hara, aku merasa seperti dikutuk. Setiap wanita yang kulihat seperti Hara. Maka kali ini aku takkan percaya lagi. Sudah sering aku salah orang, gara-gara kutukan aneh ini.
Perempuan yang bersandar di tiang itu melihatku dengan tatapan sinis campur sedih. Aku jadi semakin bingung. Cewek ini mirip sekali dengan Hara. Ah, tak mungkin, tak mungkin. Aku segera lari dari tempat itu sebelum aku tertipu lagi. Aku lari sekencang kencangnya.

*****

~Hara’s P.O.V~

Minho lari. Aku tahu dia sudah tidak menyukaiku lagi. Makanya ia lari. Mungkin ia muak melihat wajahku. Tapi aku takkan menyerah. Aku akan meminta pertanggungjawabannya.
“Hey, Choi Minho!” Aku menepuk pundaknya. Minho pun berbalik.
“Siapa kau? Aku tidak kenal?” kata Minho. Aku menjadi semakin terpukul.
“Ini aku, Minho. Ini aku, Hara…” Aku mengatakannya dengan sedikit menangis. Setelah melihatku menangis, Minho terlihat bingung.
“Eh, sudahlah, jangan menangis…” kata Minho membujukku. “Tapi… apa benar kau itu Hara?”
“Iya… ini aku, Hara… mungkin kau sudah lupa…” kataku lagi. Aku berniat melangkah berbalik untuk meninggalkannya tapi dia menarik tanganku.
“Hara… maafkan aku…” katanya. “Maafkan aku karena pura-pura tidak mengenalimu…”
“Pura-pura?” Aku jadi semakin bingung.
“Sebenarnya aku bohong waktu aku bilang aku tidak menyukaimu lagi. Aku masih menyukaimu sampai sekarang. Namun sekarang aku seperti dikutuk. Setiap wanita yang kulihat terlihat seperti dirimu…”
Aku yang tadinya sangat marah pada Minho berubah terharu.
“Hara-sshi… charari ddaeryeo…”
“Ne?” aku tidak terlalu mendengar kata-katanya.
“Hara, pukul aku…”
“Pukul?”
“Ya… pukul aku sebanyak aku telah membuat hatimu sakit…”
Aku jadi semakin tidak tega. Ternyata Minho masih menyukaiku. Ia tidak sejahat yang aku kira.
“Ayo, cepat… pukul saja aku sesukamu…”
Setelah mendengar itu, aku langsung memeluk Minho.
“Gomawo, Minho-ah, gomawo…”

*****

“Kau, jangan pernah pergi dariku lagi ya?” kataku saat aku sudah mau kembali ke Seoul.
“Tapi, bagaimana? Sekarang aku tinggal jauh darimu…” kata Minho.
“Dasar babo, kau kan bisa naik kereta. Naik kereta kan cuma satu jam dari Incheon ke Seoul…”
“Ya sudahlah, kalau begitu aku janji tidak akan meninggalkanmu lagi…”
Aku dan Minho tersenyum bersamaan.

—THE END—
Ni FF terinspirasi dari sebuah komik. Tapi aku lupa judul tu komik apaan hehehe.
Advertisements

17 responses to “1SHOT :: Charari Ddaeryeo

  1. Hara-sshi, kau membuatku cemburu… >.<

    Haaa.. Minho babo!! Kenapa mesti putus sih klo hanya karena pindah aja? Belum kenal sama yg namanya telpon & internet?babo.. babo.. babo.. jadinya kena kutuk kan karena udah nyia2in hara..

    Nice ff..^^

  2. minho pabo , masa LDR cuma 1 jam perjalanan ajj putus .
    pi romance abis real story ny di buat novel . mau mau .
    thumbs up .

  3. Jd inget g7..
    Minho bilang tipe ce goo ara..
    Hahay..
    *ara kan cakep oplas sana-sini *peace!

    Yaaa..
    Saia sudah seneng bacax minho awalx brengsek,main putus aja!
    Ga taux dy baik jg akhirx..
    Haha..
    *obsesi minho jd antagonis!

    • g7? yg di invicible youth itukah? hehe

      hahahah obsesi minho jd antagonis?
      wuekekek mgkin karna muka minho ‘terlalu’ protagonis kali ya hahah
      nggak kebayang minho jd org jahat o.0

    • wah sygnya judul komiknya bkan lovely days tuh haha
      kan udh aku blg ceritanya diadaptasi dr komik lepas judulnya chocolate mint atau mint chocolate atau apaa gitu hahah
      bukan lovely days

  4. aduh !! minho oppa babo amat sieh ,……….kant kacian hara nya.,..Babo !! (untung d sbelah ku gk da flames,…,huuh)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s