A Letter To You

Main Cast(s): Lee Jin Ki a.k.a Onew SHINee, Choi Hyun Ki

Other Cast(s): Choi Min Ho SHINee, Choi Hye Wook

Description: diambil dari mimpi Tha-tha onni

Rating: PG+13

Notes: Akhirnya buat ficnya Onew. Yah, walaupun cuma drabble. Hope you (all) like this. Ditunggu komennya. Gomawo~

― ― ― ― ― ― ― ― ― ―

Apa aku tidak salah lihat? Atau memang mataku akhir-akhir ini kurang baik? Barusan ia… melirikku? Ia melirikku saat aku berhasil melakukan shoot tadi? Apa ini artinya ia sudah mau memaafkanku? Anio. Aku pasti salah lihat. Ia terlalu membenciku. Tidak mungkin semudah itu memaafkanku. Tapi bolehkah aku menaruh harapan padanya? Aku ingin ia memaafkanku dan bisa melupakan kebodohan yang kubuat beberapa minggu lalu.

― Flashback ―

“Hyun Ki, awas!”

Terlambat. Belum sempat ia menyingkir dari tempat itu, bola basket yang ingin kuoper pada Min Ho mengenai kepalanya. Ia jatuh di lapangan itu. Hampir semua murid kelas kami mengerubungiku dengan Hyun Ki. Kupanggil-panggil namanya, ia tidak juga sadarkan diri.

“Hyun Ki~a, jangan bercanda. Ya! Sadarlah!”

Entah apa yang mendorongku. Tiba-tiba terpikir olehku untuk melakukan itu. Kudekatkan wajahku dengan wajahnya, menciumnya―memberikan napas buatan padanya. Kudengar suara-suara orang tertawa. Ada juga yang meneriaki kami karena kaget apa yang kulakukan. Apa yang kulakukan? Kenapa aku menciumnya? Padahal jelas-jelas ini tidak membantu.

Hyun Ki membuka matanya perlahan. Ia tersentak kaget dan segera mendorongku. Semua yang melihat itu meneriaki kami. Babo! Hyun Ki berlari―dengan sangat lemas―meninggalkan kami di gedung olahraga. Sejak saat itu Hyun Ki tidak pernah mengajakku bicara. Bahkan tidak pernah mau melihatku. Tentu saja. Jelas-jelas karena aku sudah membuatnya malu didepan semua orang.

― End Flashback ―

Aku menyirami seluruh kepalaku dengan air mineral. Akhir-akhir ini aku benar-benar tidak punya niat latihan basket. Rasanya sepi kalau ia tidak memberiku semangat saat aku latihan.

“Sunbae,” panggil seseorang. Aku menoleh. “Dua minggu lagi ada latih tanding dengan sekolah lain. Sunbae bisa ikut.”

Aku berpikir sejenak kemudian mengangguk.

“Syukurlah. Aku takut karena sunbae dijauhi oleh gadis itu, sunbae tidak mau ikut.” ucap Min Ho asal-asalan.

Aku tertawa pahit. “Sudahlah, aku tidak ingin membicarakannya sekarang.”

― ― ― ― ― ― ― ― ― ―

Kenapa aku masih memikirkannya? Babo! Untuk apa memikirkan orang itu?! Menyebalkan! Sampai kapanpun aku tidak akan bicara dengannya lagi! Orang itu. Orang yang sudah mempermalukanku beberapa minggu lalu. Apa ia tidak berpikir kalau ia mempermalukan dirinya sendiri? Mencium orang yang sedang pingsan? Ha! Pemikiran apa itu?! Kalau saja, tidak ada yang melihatnya, aku bisa lebih cepat memaafkannya. Tapi semua murid kelasku melihatnya! Akh, bisa gila aku hanya dengan memikirkannya.

Aku keluar dari kelasku. Aish~ kenapa hari ini aku harus keluar kelas terakhir lagi? Mataku terpaku pada sesosok laki-laki yang bersandar disamping pintu kelasku. Pura-pura tidak lihat sajalah! Aku sedang tidak ingin mengungkit-ungkit masalah itu dengannya.

“Ya, Hyun Ki~a!”

Aigo! Kenapa ia tetap mengejarku? Kupercepat langkahku hingga terhenti karena tangannya menahanku.

“Ya, dengarkan aku dulu!” ucap Jin Ki.

“Mian, aku tidak ada waktu.” jawabku sinis.

“Hyun Ki~a, aku tidak ingin seperti ini terus. Karena itu, dengarkan aku!”

“Aku juga tidak ingin seperti ini! Tapi kau yang memulainya! Cepat lepaskan aku. Aku tidak ingin ada yang melihat kita.”

“Shiro!”

Kutarik tanganku paksa hingga lepas dari genggamannya. Aku berlari meninggalkannya. Aku ini kenapa? Kenapa aku menangis? Padahal tidak ada yang seharusnya kutangisi.

Kulepar tas sekolahku ke dinding kamarku. Perasaanku kacau sekarang. Kesal, marah, dan… ingin menangis. Wae? Kenapa air mataku keluar? Karena aku tidak juga memaafkannya? Ha! Alasan macam apa itu?! Aku sama sepertinya. Aku tidak ingin terus mendiaminya. Tapi semua berawal dengan apa yang dilakukannya. Kalau aku memaafkannya, entah gosip baru apa yang akan menyebar dikelas kami.

* * *

“Hyun Ki~a, lusa kau datang?”

“Lusa? Kemana?”

“Kau tidak tahu? Anak-anak klub basket putra akan bertanding dengan sekolah lain lusa. Kau tidak mau menyemangati Jin Ki?”

Aku menoleh. Hye Wook tersenyum jahil padaku. Aku kembali meneguk lemon tea-ku.

“Kenapa aku harus menyemangatinya?”

“Kau masih marah padanya?”

“Mungkin. Aku sendiri tidak mengerti,”

“Ya, kau tidak kasihan padanya. Dia menjadi agak pemurung saat kejadian itu,”

“Baguslah kalau dia menyesal,”

“Kau tidak mengerti? Dia benar-benar kehilanganmu! Ya! Aku tidak mau tahu lagi. Lusa kau harus ikut denganku!”

― ― ― ― ― ― ― ― ― ―

Aku menghela napas berat. Ia tidak datang. Sudah kuduga ia tidak akan datang. Untuk apa aku berharap banyak padanya? Harusnya aku sadar, kalau ia masih belum bisa memaafkanku.

Pertandingan dimulai. Aku sama sekali tidak merasakan kalau aku sedang bertanding. Rasanya hampa. Rasanya kosong kalau ia tidak datang untuk menyemangatiku.

Tak terasa pertandingan hampir selesai. 60-62. Kami berbeda satu bola. Mungkin tidak masalah untuk Min Ho, karena bisa saja ia melakukan three point untuk mengubah keadaan. Tapi kalau melihat keadaannya sekarang, aku tidak tega untuk memintanya melakukan three point. Min Ho benar-benar kelelahan. Babo! Padahal aku kapten, kenapa aku tidak berhasil mencetak satu angka pun?!

Kuteguk habis minumanku dan bersiap-siap untuk kembali bermain.

“Ya, Lee Jin Ki!” seseorang meneriaki namaku. Aku menoleh. “Permainan macam apa itu?! Apa kau benar-benar Lee Jin Ki yang selama ini kukenal?”

Aku tidak menjawab. Aku tidak tahu harus menjawab apa. Justru sekarang aku ingin balik bertanya. Apa yang sedang meneriakiku itu… Hyun Ki?

“Ya, jangan diam saja!” teriaknya lagi. “Cepat balikan keadaan demi timmu, Jin Ki!”

Aku menarik napas panjang. “Kalau itu maumu, akan kulakukan,”

Peluit kembali berbunyi. Aku segera berlari, mencari posisi yang bagus untuk mendapatkan bola. Min Ho mengoper bola padaku. Tanpa mengulur waktu, aku segera berlari kearah ring lawan sambil men-dribble bola yang sudah berada di tanganku.

Beberapa detik lagi. Aigo~ kenapa disaat seperti ini tetap saja ada yang menghalangiku. Aku berdiri tepat di garis three point. Aku memang tidak semahir Min Ho dalam three point. Tapi kalau terus didesak seperti ini, aku benar-benar tidak punya pilihan.

“Jin Ki~a, shoot!”

Hyun Ki meneriakiku lagi. Otakku seperti diperintah olehnya. Tanpa kusadari, bola yang kupegang sudah terlanjur kulempar kearah ring. Dan masuk!

Peluit berbunyi tanda permainan selesai. 63-60. Kami menang. Setelah saling memberi hormat kepada tim lawan, aku segera menyambar tasku, berlari kearah Hyun Ki di bangku penonton.

Kukeluarkan sehelai amplop berwarna cokelat muda―sulit menjelaskan detailnya―yang nyaris menyamai merah muda, lalu menyerahkannya.

Hyun Ki menatapku bingung. “Apa ini?”

“Bacalah,”

― ― ― ― ― ― ― ― ― ―

Kubuka amplop yang diberikan Jin Ki padaku. Secarik kertas tersimpan didalamnya. Surat?

Tolong jangan menatapku aneh. Tapi aku ingin mengungkapkan seluruh pikiran dan perasaanku padamu di kertas ini. Pernahkah kau berpikir, siapa orang terbodoh di dunia ini? Aku pernah. Orang itu adalah orang yang memberikan surat ini padamu. Lee Jin Ki.

Aku yakin, kau pasti tidak menduga kenapa aku menulis seperti ini. Tapi ini benar, Hyun Ki. Aku bodoh. Benar-benar bodoh. Kau tahu alasannya?

Kita sudah kelas dua SMU dan aku mengenalmu sudah sejak SMP. Tapi aku terus menerus memendam perasaanku padamu sampai sekarang. Bukankah itu konyol?

Aku berniat untuk menyatakan perasaanku padamu. Bagaimanapun caranya. Tapi cara yang kupilih malah mempermalukanmu dan membuatmu marah padaku. Bukankah itu bodoh?

Bukannya meminta maaf padamu dan melakukan apa saja agar kau memaafkanku, aku malah bersikeras untuk menjelaskan padamu tentang kelakuan bodohku saat itu. Padahal kalau aku berpikir lagi, untuk apa kujelaskan? Semua sudah jelas. Kau sendiri berpikir seperti itu ‘kan?

Kali ini, di surat ini aku akan memperjelas semuanya. Bukan tentang kejadian itu (karena aku yakin kau tidak mau kuingatkan kembali). Tapi tentang perasaanku yang sebenarnya. Aku tidak ingin memperpanjang suratku ini. Aku hanya ingin bilang,

Choi Hyun Ki, saranghamnida.

Lee Jin Ki.

Buru-buru kuusap mataku sebelum airmataku benar-benar mengalir. Jin Ki… menyukaiku? Apa ini mimpi? Seulas senyum mulai mengembang diwajahku.

“Hyun Ki~a,” panggil Jin Ki. Kuangkat wajahku, menatapnya. “Kau masih marah padaku?”

“Ne,” jawabku. “Kau pikir kenapa aku kesini?”

“Karena dipaksa Hye Wook?”

“Tepat!” Ia menghela napas panjang. “Dan kau tahu kenapa aku meneriakimu tadi?”

“Karena dipaksa Hye Wook… juga?”

“Ani! Tentu saja karena tadi kau benar-benar diujung tanduk,”

Jin Ki menatapku aneh, tidak mengerti apa yang ingin kukatakan. Akhirnya aku melanjutkan, “Kau tahu, sebenarnya tidak semua karena paksaan Hye Wook aku datang kesini. Aku berpikir, aku yang mendiamimu saja sudah mulai gila. Bagaimana denganmu yang terus kudiami?

Maaf membuatmu menunggu. Jin Ki~a, aku memaafkanmu,”

Ia tetap terdiam. Sepertinya sedang memikirkan sesuatu.

“Ya, jangan diam saja!”

“Mwo? Aku sedang menunggu jawabanmu, tahu!”

“Jawaban?”

“Aish~ haruskah kukatakan lagi? Saranghaeyo, Hyun Ki!”

Advertisements

11 responses to “A Letter To You

  1. hhu ,
    so romantic ,
    ih , hyuk ki payah ngediemin jinki lebih dari 3 hari . dosa lho . pi happy end , suka .
    *gaje bgd cmentny*
    thumbs up .

  2. gomawo udah mampir… *bows*
    aku balesin satu” ya,

    ms.kyuhyun a.k.a cho eun mi :

    hhu ,
    so romantic ,
    ih , hyuk ki payah ngediemin jinki lebih dari 3 hari . dosa lho . pi happy end , suka .
    *gaje bgd cmentny*
    thumbs up .

    ho-oh, tu!
    saking malunya jadi ga berani deket” onew lagi..
    tp ujung”nya malah jadi deket,
    haha… *gaje*

    onjiyoungnew :

    uwaa.. aku demen ma ffnya unie~ so sweet~
    onew nya psti kren dh maen basket… huhu. dh kpikiran terus pas prtama x bca ff ni.

    haha… gomawo,
    tadinya ga pengen buat kea gini,
    ni kan diambil dari mimpi temenku,
    jadi intinya ga aku ubah

    shineeisland :

    HYAAAA~ romantis bgt si nyunyuuu…
    nice ff ^^

    gomawoo…
    entah kenapa onew selalu romantis dikepalaku,
    *tp ini ga bisa ngebuat aku beralih ke onew*

  3. Nice ff….
    Mank kenyataannya suka yg bernuansa romantis kek gini,hehe^^

    Jgn mrh y?? ^^ ‘hyunki.. Pertama x m’dgr nama u, w kirain COWOK.lol’

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s