OH!! A Baby!? (Part-3 : I Think I Fall For You)

Cast : Park Chunsoo (OC). Ryu Hanbi (Author) SHINee

Hanbi terbangun dalam keadaan kaget. Tanpa sadar ia berguling di kasurnya hingga ke tepi dan terjatuh dengan bagian belakang kepala membentur lantai. Saat itu juga ia sadar dari kantuknya dan duduk. Ia mengacak-acak rambutnya dan memikirkan mimpinya malam tadi. Wajahnya langsung bersemu merah mengingat apa yang terjadi dalam mimpinya.
Di dalam mimpinya, ia dan Kibum duduk mengapit Chunsoo yang sedang tertawa. Kemudian keduanya mencium pipi Chunsoo, masing-masing di kanan dan di kiri. Kemudian tangan keduanya bertemu, dan perlahan-lahan, wajah keduanya mendekat. Untungnya, Hanbi terbangun sebelum ia dan Kibum melakukan sesuatu di dalam mimpinya.
Hanbi memegangi wajahnya dan menggeleng keras-keras.
“Aniyo!!!!!!!!” teriak Hanbi, entah kenapa merasa kesal pada dirinya sendiri.

“Hanbi ah~~~”
Hanbi melirik tanpa semangat ke arah Nicole, yang berlari ke arahnya sambil menyeret Hara. Kedua mengapit Hanbi yang berjalan gontai menuju kelas mereka.
“Kau kelihatan kesal sekali… Gwenchanayo?” Tanya Hara. Ia menyibak beberapa helai rambut yang jatuh menutupi wajah Hanbi. Hanbi sendiri masih memikirkan mimpi tadi malam. Dan setiap ia mengingat adegan itu, wajahnya langsung terasa panas. Sialnya, ia tidak bisa melupakan mimpi tersebut. Akibatnya, sekarang ia jadi uring-uringan sendiri.
“Gwenchana…” jawab Hanbi pelan.
Ketiganya berjalan dalam diam menuju kelas. Tiba-tiba…
“Pagi, umma~~~”
Mata Hanbi nyaris saja meloncat keluar dari rongganya. Ia berbalik dan melihat Kibum berjalan ke arahnya sambil melambai. Minho menyusul di belakangnya. Hara dan Nicole, yang mendengar sapaan Kibum barusan, menatap Hanbi dengan tatapan terkejut.
“Umma? Aku tidak salah dengar, kan?” Tanya Nicole. Hara menggeleng.
“A-aa… mungkin kalian salah dengar… dia tidak mengatakan umma…” kata Hanbi, buru-buru.
“Tapi aku yakin dia mengatakan umma… siapa yang dipanggilnya umma?” Tanya Hara.
“Gyuri sudah menunggu di kelas!! Kalian masuk duluan, ya? Aku mau ke kamar mandi!” seru Hanbi, mendorong Hara dan Nicole masuk ke dalam kelas sebelum keduanya kembali melempar pertanyaan yang tidak mungkin Hanbi jawab. Minho mendahului Kibum dan menepuk bahu Hanbi.
“Pagi, Hanbi sshi…” sapanya sambil tersenyum, kemudian masuk ke kelas.
Hanbi sendiri menunggu Kibum-yang berjalan sambil bersenandung kecil-melewatinya dan menarik lengannya.
“Ya!! Kim Kibum!! Jangan memanggilku seperti itu di sekolah. Semuanya bisa salah paham!!!” gerutu Hanbi. Kibum hanya tersenyum sambil memasang wajah tidak berdosa. Ia mengerjap-kerjapkan matanya.
“Gunde, umma… Aku kan memanggilmu seperti itu supaya kita bisa lebih akrab…” kata Kibum.
Wajah Hanbi memerah. Kibum berada di sampingnya membuatnya kembali teringat mimpinya tadi malam. Ia membuang muka dan melepaskan lengan Kibum dari cengkeramannya.
“Loh… loh??” gumam Kibum, bingung pada sikap Hanbi yang tiba-tiba pergi.
Hanbi sendiri memukuli kepalanya.
“Ryu Hanbi! Sebaiknya kau mulai melupakan mimpi gila itu!” bentak Hanbi pada dirinya sendiri.

Hanbi berhenti di depan lift yang akan membawanya naik. Ia memandangi angka tiga yang tertera pada bagian atas pintu lift. Entah kenapa, tiba-tiba Hanbi merindukan Chunsoo. Tapi ia takut saat ia bertemu Kibum, mimpi itu kembali menari-nari di ingatannya.
Hanbi masih berdiri di depan pintu lift itu hingga beberapa menit kemudian. Pintu lift itu terbuka, dan Seunghyun berdiri di depannya.
“Ah, anyeong, Hanbi sshi…” sapa Seunghyun, melontarkan senyuman mautnya pada Hanbi.
“Anyeong… Kau mau pergi, ya?” Tanya Hanbi.
Seunghyun tidak langsung menjawab. Ia malah melirik jam tangannya dan menggeleng.
“Ne… Tapi sepertinya, aku meninggalkan sesuatu di kamar…” kata Seunghyun. Ia menatap Hanbi yang masih belum beranjak “Kau mau naik atau tidak?” Tanya Seunghyun bingung.
“A-ah… Ne…” jawab Hanbi. Jelas sekali saat itu ia tidak memperhatikan kata-kata Seunghyun barusan. Seunghyun tersenyum dan memberi tempat untuk Hanbi. Ia menekan tombol angka tiga dan pintu lift perlahan menutup. Tapi sebelum pintu itu tertutup rapat, sebuah tangan yang ramping menahannya dan membukanya kembali. Kibum masuk sambil mengatur nafasnya.
“Lho? Hanbi ah?”
“Anyeong…” sapa Hanbi, memaksa tersenyum meski mendadak dadanya terasa penuh.
“Wah… kau bersama teman rupanya…” ledek Kibum, melirik Seunghyun yang tersenyum salah tingkah.
“Aniyo… Dia ini tetangga baru kita.” Seru Hanbi. Kibum membentuk huruf o dengan mulutnya kemudian memperkenalkan diri pada Seunghyun.
“Aku Kim Kibum. Penghuni apartemen 308. Bangapsumnida…” kata Kibum sopan.
Seunghyun teringat sesuatu saat Kibum menyebut nomor apartemennya.
“Aku ingat… Hanbi sshi pernah mengatakan sesuatu tentang teman sekelas yang juga tetangganya… Jadi itu kau, ya, Kibum sshi? Ah, aku Song Seunghyun. Aku tinggal bersama sepupuku. Tapi saat ini ia sedang kuliah…” kata Seunghyun.
“Aku tinggal bersama sahabat-sahabatku. Dua di antaranya juga sudah kuliah…” kata Kibum, seraya mengambil posisi di samping Hanbi.
Hanbi sendiri hanya diam. Entah kenapa, rasa sesak di dadanya semakin menjadi. Semakin lama, rasanya semakin tidak enak. Dan betapa leganya Hanbi ketika pintu lift akhirnya terbuka.
“Aku duluan ya…” kata Hanbi tanpa menatap keduanya.
“Lho? Hanbi ah… Jangan lupa-“
“Ne! Aku akan langsung ke tempatmu begitu urusanku selesai…” jawab Hanbi, masih tanpa menoleh. Ia buru-buru berjalan menjauhi lift dan masuk ke dalam apartemennya. Kibum dan Seunghyun bertatapan dengan bingung.
“Apa terjadi sesuatu di sekolah?” Tanya Seunghyun.
“Molla…” jawab Kibum.

Hanbi mencelupkan wajahnya ke dalam bak mandi dan membuat gelembung-gelembung udara di permukaan air. Kemudian ia duduk di atas klosetnya yang tertutup dan menutupi kepalanya dengan handuk. Air yang dingin itu membuatnya bisa berpikir jernih. Ia menghela nafas.
“Gwenchanayo… Gwenchana gwenchana gwenchana… Aku tidak menyukainya dalam arti seperti itu…” kata Hanbi pada dirinya sendiri. Ia berulang kali mengatakan hal itu pada dirinya sendiri sampai hatinya tenang.
Setelah merasa tenang, ia buru-buru berganti pakaian. Ia memutuskan untuk mengenakan jumper biru kesayangannya. Setelah selesai bersiap-siap, ia berjalan ke arah pintu dan memegang gagangnya.
“Aku akan baik-baik saja!!” seru Hanbi optimis, dan membuka pintu apartemennya. Tapi tiba-tiba ada suara lain di dalam kepalanya yang bertanya…
“Bagaimana jika aku memang menyukainya?”
Hanbi menghela nafas.
“Terserahlah…” gumam Hanbi pada dirinya sendiri. Ia juga belum bisa menjawab pertanyaan itu.

“Chunsoo… Itu umma datang…”
Hanbi tersenyum melihat Taemin yang sedang asik bermain dengan Chunsoo. Ia memangku Chunsoo dan melambaikan tangan Chunsoo pada Hanbi. Ia langsung mendatangi bayi kecil itu dan menggendongnya.
“Dia sudah makan?” Tanya Hanbi.
“Sudah. Hari ini Jonghyun-hyung tidak ada kuliah. Jadi seharian ini dia yang mengurusi Chunsoo.” Jawab Taemin. Keduanya menatap Jonghyun yang tertidur di atas sofa sambil memeuk botol susu Chunsoo yang sudah kosong.
Hanbi mengangguk-angguk dan menggendong Chunsoo keliling ruangan. Rasanya ia kembali ke saat di mana ia masih tinggal bersama ibunya, membantunya mengurusi adik tirinya yang baru lahir. Mungkin karena itu ia tadi merasa sangat rindu pada Chunsoo. Chunsoo membuatnya teringat pada masa-masa di mana ia masih merasa memiliki orang tua.
Tiba-tiba Chunsoo menangis. Hanbi yang saat itu menggendongnya kaget. Begitu juga Taemin dan Jonghyun, yang langsung terbangun mendengar suara tangis Chunsoo.
“Chunsoo ah… Kau kenapa?” Tanya Hanbi, mengayun Chunsoo dengan lembut dalam pelukannya. Chunsoo sesenggukan. Wajahnya merah karena menangis.
Hanbi menurunkannya dan membaringkannya ke atas kasur yang disediakan untuk Chunsoo. Ia mengecek popoknya yang ternyata memang sudah basah.
“Kelihatannya harus diganti, noona…” kata Taemin. Jonghyun sudah kembali tidur. Ia kelihatan lelah sekali. Karena hari ini ia tidak ada kuliah, ia mengorbankan diri mengurusi Chunsoo sejak malam tadi. Tentu saja waktu tidurnya jadi berkurang.
Hanbi mengiyakan kata-kata Taemin dan mulai mengganti popok Chunsoo.
“Tadi aku mendengar Chunsoo menangis… Ada apa?” Tanya Kibum yang baru keluar dari kamar. Ia sudah berganti pakaian. Hanbi menarik nafas dan menghembuskannya untuk menenangkan hatinya yang kembali diserang perasaan tidak enak.
“Popok Chunsoo basah…” kata Taemin.
“Oh, iya… Aku rasa kita harus membelikan pakaian untuk Chunsoo…” kata Kibum, ikut berlutut di samping Hanbi yang sibuk mengurusi Chunsoo “Bagaimana kalau kita saja yang pergi?” ajak Kibum pada Hanbi.
Tangan Hanbi terhenti. Rasanya jantungnya seperti mau pecah.
“Hanbi-noona?” panggil Taemin yang bingung melihat Hanbi melamun.
“Umma~~~” panggil Kibum dengan suara manja.
“Ne ne ne~~!” jawab Hanbi buru-buru. Panggilan Kibum barusan sama sekali tidak membuat ia menjadi tenang. Tapi Hanbi berusaha tetap berpikir jernih “Lalu siapa yang menjaga Chunsoo? Taemin sendirian? Jonghyun sshi kelihatan lelah sekali…” sambung Hanbi.
“Minho-hyung sebentar lagi pulang, Jadi tidak apa-apa.” Kata Taemin, kembali menggendong Chunsoo yang sudah tertawa kembali.
“Ka ja!! Ka ja!!” seru Kibum, menarik tangan Hanbi hingga gadis itu berdiri.
“Ini gawat!! Gawat sekali!!” batin Hanbi gelisah. Tapi ia tidak berusaha melepas genggaman tangan Kibum di tangannya.

Keduanya berjalan menyusuri koridor yang di kanan dan kirinya dipenuhi oleh pakaian bayi dengan berbagai model. Segala macam warna pakaian ada di tempat itu. Hanbi yang awalnya tidak begitu antusias untuk pergi belanja, mendadak merasa sangat bersemangat. Ia sudah melihat banyak sekali pakaian-pakaian yang lucu untuk Chunsoo.
“Aigoo… Dia pasti lucu sekali kalau mengenakan ini…” seru Kibum, memegang sebuah piyama berkepala kelinci, lengkap dengan sepasang sarung tangan dan sepatu berbentuk kaki kelinci.
“Yang ini juga… Lucu sekali…” sambung Hanbi, mengangkat piyama katak hijau yang lucu. Kibum mencibir.
“Itu lebih cocok untuk Minho, pangeran Keroro itu…”
Hanbi tertawa lepas. Ia membayangkan Minho mengenakan piyama berbentuk katak hijau itu dan melompat-lompat sambil berseru ‘ribbit… rribbit…’. Ia tertawa semakin keras sambil menepuk-nepuk bahu Kibum.
“Mau tertawa sampai kapan, sih?? Ayo, cari lagi…” kata Kibum, menarik Hanbi yang oleng karena terlalu banyak tertawa. Keduanya berjalan ke bagian lain, dan kembali melakukan hal yang sama : mencoba membayangkan Jinki, Jonghyun, Minho atau Taemin mengenakan pakaian-pakaian yang mereka pilih.

“Jadi… kita sudah punya…” Kibum menghitung isi keranjang belanjaannya “… 20 pasang pakaian…”.
“Aku rasa itu sudah cukup.” Kata Hanbi, memegangi perutnya yang sakit akibat tertawa terlalu keras. Kibum mengangguk dan berjalan bersama Hanbi menuju kasir. Setelah itu keduanya memasuki lift menuju ke lantai dasar. Awalnya perjalanan mereka baik-baik saja. Tapi mendadak, lift itu berhenti disertai dengan bunyi ‘KLANG’ yang keras.
Hanbi dan Kibum merunduk karena daya dorong lift yang kuat. Hanbi hampir saja tersungkur kalau sja Kibum tidak menangkap lengannya. Setelah keduanya bisa berdiri tegak, Kibum menyerahkan tas belanjaan mereka pada Hanbi dan menekan-nekan tombol lift. Tapi lift itu sama sekali tidak bergerak.
Hanbi mengeluarkan ponselnya dan berdecak kesal saat melihat sinyal yang tertera di ponselnya. Di dalam lift memang sulit sekali menemukan sinyal. Kibum juga melakukan hal yang sama, dan hasilnya juga tetap sama.
“Aigoo… Ottokaeyo, Kibum ah????” Tanya Hanbi, merosot ke lantai lift. Ia menengadah menatap Kibum dengan tatapan khawatir.
“Tenang… Tidak lama lagi liftnya pasti berfungsi…” kata Kibum, berusaha terdengar setenang mungkin. Ia ikut duduk di samping Hanbi yang kini memainkan jari-jarinya dengan gelisah.
Kibum memperhatikan Hanbi yang duduk diam di sampingnya. Baru kali ini ia melihat gadis itu sepert itu. Biasanya, Hanbi yang sudah lama hidup sendirian selalu terlihat kuat dan ceria. Tapi kali ini, ia melihat Hanbi benar-benar hanya gadis SMU biasa, bukan super-woman seperti yang ia bayangkan. Dalam hati, Kibum merasa lebih lega. Hanbi yang seperti ini, entah kenapa terasa lebih normal.
“Baru kali ini aku melihatmu ketakutan.” Kata Kibum seraya menyilangkan kedua kakinya.
“Ha? Kau kan baru mengenalku beberapa hari ini…” sanggah Hanbi. Ia memeluk kedua lututnya dan mencoba terlihat tenang.
“Tidak… Aku sudah kenal kau sejak kelas junior. Kita kan selalu sekelas. Jadi aku lumayan tahu bagaimana kau di kelas… Padahal, selama ini aku selalu menganggapmu gadis super. Kau tinggal sendirian di apartemen, kau selalu terlihat cool di sekolah. Tapi ternyata, kau ini hanya murid SMU biasa…”
“Apa kau kecewa karena aku tidak sesuai dengan bayanganmu?” Tanya Hanbi pelan. Sebenarnya ia ragu melontarkan pertanyaan seperti itu. Tapi rasanya ia ingin sekali Kibum tahu bagaimana dia sebenarnya.
“Sama sekali tidak. Malah aku merasa lebih nyaman.” Kata Kibum sambil tertawa.
“Aku… tidak punya siapa-siapa sebagai tempatku bergantung… Jadi aku harus menguatkan diri… Jika tidak, aku tidak akan mampu menjalani kehidupanku yang sekarang…”
Hanbi berhenti sebentar sebelum melanjutkan.
“… Tapi sebenarnya… kadang-kadang aku masih ketakutan hidup sendiri…”
Kibum menepuk-nepuk kepala Hanbi.
“Ya… Kalau kau merasa kesepian, kau bisa datang kapan saja ke tempat kami… Kami tidak keberatan menambah satu lagi anggota keluarga…” kata Kibum dengan suarap pelan.
Hanbi tersenyum. Ia menggigit bibirnya agar tidak menangis. Rasanya senang sekali mengetahui ada orang yang masih peduli padanya. Dan di depan Kibum, rasanya Hanbi tidak perlu lagi berpura-pura sebagai gadis yang kuat. Ia bisa jadi dirinya sendiri di depan Kibum.
“Ya, Kibum… Bagaimana kalau liftnya tidak bisa diperbaiki? Apa kita akan terkurung terus di sini?” Tanya Hanbi.
“Tentu saja tidak. Akan ada yang memperbaikinya. Tidak lama lagi kita pasti bisa keluar…” kata Kibum.
“Sebaiknya mereka cepat… Disini panas sekali…”
“Coba bayangkan sesuatu yang dingin…” kata Kibum. “Sesuatu seperti salju… Bongkahan es…”
“Kutub Utara… Iglo…” sambung Hanbi.
“Nah, seperti itu…”
“Di dalam iglo, ada sebuah meja bulat besar… Di atasnya disuguhkan semangkuk sup hangat yang harum, serta susu hangat… Lalu ada sebuah perapian besar…”
“YA!!! Kau membuat keadaan semakin panas saja!!” teriak Kibum. Ia mendorong Hanbi yang duduk di sampingnya hingga gadis itu oleng. Hanbi sendiri tertawa gembira. Entah kenapa, ia merasa ringan sekali. Rasanya seperti ada beban yang pelan-pelan terangkat dari dalam hatinya.
Tiba-tiba pintu lift terbuka. Sekelompok pekerja yang mengurusi lift membantu mereka keluar. Keduanya disuguhi minuman dan makanan yang manis. Setelah merasa tenang, keduanya memutuskan untuk pulang.
“Haaa~h… Aku lebih suka berada di tempat terbuka…” seru Kibum, merentangkan kedua tangannya dan menghirup udara segar di luar dalam-dalam. Hanbi tersenyum melihat tingkahnya. Kemudian ia berhenti berjalan. Ada sesuatu yang ingin ia katakan pada Kibum.
“Ya! Kim Kibum…”
“Ne?” Tanya Kibum, berbalik dan menghadapnya.
“Gomawoyo…”
Kibum tersenyum dan berbalik.
“Kita pulang, umma~~!!!” serunya sambil tertawa. Hanbi kembali mengikuti Kibum. Sebenarnya ia belum selesai bicara. Tapi sudahlah. Ia merasa lebih baik tidak mengatakan hal itu pada Kibum. Ia cukup mengatakannya dalam hati.
“Kim Kibum… Aku rasa aku menyukaimu…”


“Mwo??? Terkurung di dalam lift???” seru Jinki, terkejut mendengar cerita Kibum.
Mereka sedang duduk di depan tv dan menyantap makan malam yang Jinki beli sepulangnya dari kampus. Hanbi sendiri sudah pulang ke apartemennya.
“Ne…” jawab Kibum, mengunyah daging panggang di dalam mulutnya perlahan-lahan.
“Kau tidak melakukan apa-apa, kan?” Tanya Jonghyun, meledek.
“Apa maksudmu, hyung?? Anak baik-baik seperti aku tidak mungkin berpikiran macam-macam. Jangan samakan aku denganmu, dong…” gerutu Kibum. Jonghyun terbahak.
“Aku hanya bercanda…”
“Aku tahu.”
“Tapi hyung, aku rasa beberapa hari ini pendapatku mengenai Hanbi sshi berubah…” kata Minho.
“Maksudnya?” Kibum bertanya.
“Dulu aku selalu mengira dia itu orang yang dingin. Dia hanya mengekspresikan diri pada teman-temannya di kelas, kan? Tapi aku lihat, beberapa hari ini dia bisa berbaur dengan kita tanpa ada masalah. Ternyata dia gadis yang baik.” kata Minho, member penjelasan.
“Hyung~~ Jangan bilang kalau kau menyukainya…” kali ini Taemin yang meledek.
“Aku rasa dia memang pantas disukai…” balas Minho tenang. Kibum memandang laki-laki itu dengan tatapan seperti menilai.
“Kau menyukainya, Choi Minho?” Tanya Kibum.
“Ne… Dia orang yang sangat baik. Tapi hanya sebatas itu.” Kata Minho, masih dengan suara yang amat sangat tenang “Memangnya kenapa, hyung?”
Kibum tersenyum penuh arti. Ia mengambil sepotong daging dan memasukkannya ke dalam mulut.
“Aniya…” jawab Kibum seraya bersenandung lirih.
Jinki, Jonghyun, Minho dan Taemin saling bertatapan dengan senyuman yang dikulum. Mereka semua sudah lama tinggal bersama. Mereka tahu bagaimana sifat masing-masing. Dan keempatnya setuju, kalau Kim Kibum saat itu tidak lagi menganggap Ryu Hanbi sebagai teman biasa.

18 responses to “OH!! A Baby!? (Part-3 : I Think I Fall For You)

  1. @ree onn: hoho aku bisa nolak dong kan ada taemin tersayang. ah udah ah ga enak sama yg punya ff, malah ngomen gajelas gini *kabuuur* XD

  2. Mian ru comment skarang..
    Buset, dah jarang ol q..
    Hhi*

    Hua, Hanbi suka ma Key..
    Hmmm…
    *megang” dagu*
    Bukan’a si senghyun juga suka ma Hanbi..?
    Kereennn onn.. 😀

  3. Karna smua ff yg Q baca pada nyuruh comment,, ya udah deh saia comment…
    GREAT JOB!! Hwaiting!! Bikin yg selanjut`a jgn lama2..*d jitak author krna bikin ribut*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s