When They Come… (part 3)

Title: When They Come

Author: hyunvy

Main Cast: SHINee Member, Jeany

Rating: PG-13

Genre: Comedy, Romance, Friendship, Mystery

***

preview:

‘mwo? Pulang? Bagaimana ini? Aku harus pulang ke mana?’ batin ku berkelut saat itu. ‘apa aku harus jujur pada mereka? Waaaa, aku bingung… Tuhan, tolong aku…’ gumamku dalam hati sambil memejamkan mataku dan berdoa

***

“kau kenapa noona?”tanya Taemin membangunkan lamunanku

“anni. Bolehkah aku berbicara pada kalian sebentar?”tanyaku dengan isyarat agar mereka duduk di sofa yang sedang kau duduki

“waeyo noona? Aku mengantuk sekali…”ujar Minho dengan wajah malasnya

“aku… aku…”ujarku terbata

“kau? Memangnya kau kenapa?”ujar Jonghyun oppa

“aku tidak mungkin pulang ke rumah, dan parahnya bos ku tidak menyewakan kamar untuk ku, bolehkah aku tinggal di sini?”ujarku sambil memejamkan mataku karena takut

“mwo? Kau tinggal di sini? Dan akan selalu tinggal bersama kami?”tanya Key kaget

“aku tidak tahu harus tidur dimana, tidak mungkin aku tidur di koridor depan, ijinkan aku tinggal bersama kalian walau hanya tidur di sofa ini… jebal…”ujarku yang sekarang sudah berdiri dan membungkukan badanku pada mereka

“kalau sofa ini di pakai?”tanya Jonghyun oppa sinis. Ya ampun, tak ku kira ia begitu kejam

“terserah dimana saja asalkan aku tetap berada di dalam ruangan ini…”ujarku dengan nada yang semakin merendah

“hmmh, aku sih kasihan padanya…”ujar Minho memecah keheningan yang sempat terjadi untuk beberapa saat

“aku juga…”ujar Taemin

“hmmh, bagaimana ya, dia perempuan sih, ya mau bagaimana lagi?”ujar Key ketus. Omona aku tidak menyangka sika mereka menjadi seperti iblis begini. Kata-kata yang keluar dari mulut mereka bagaikan pedang yang tepat mengenai hatiku.

“tidak masalah, selama tidak mengganggu kita…”ujar Jonghyun oppa

“baiklah kalau begitu, kau boleh tinggal di sini…”ujar Onew oppa datar. Sungguh aku merasa aneh dengan sikap mereka itu. Apakah karena sindrom kekenyangan?

“sudah selesai kan?”ujar Minho sambil berdiri dan beranjak pergi ke kamar

“jeongmal gamsahamnida!!!”ujarku agak keras sambil membungkukan badanku lagi. Keempat namja yang lainnya mengikuti Minho berjalan ke dalam kamar tanpa memperdulikanku yang sedari tadi masih membungkukan badanku

“tidurlah noona, aku yakin kau lelah… besok akan lebih melelahkan…”ujar seseorang dengan suaranya yang lembut dan kekanak-kanakan

***

Jonghyun P.O.V

Sepertinya sikap kami keterlaluan. Aku dapat melihat raut kesedihan di wajahnya. Entah mengapa sikap kami tiba-tiba berubah drastis tadi. Mungkin karena kami kelelahan, ya mungkin saja. Aku merebahkan tubuhku yang lemah ke tempat tidurku. Aku menyimpan kedua telapan tanganku sebagai alas kepalaku dan kembali merenungkan kekejaman kami tadi. Aku bangun dari tidurku, mengintip ke ruang tengah. Terlihat seorang wanita terkulai lemas di sofa tanpa beralaskan bantal atau tertutup sehelai kain selimut pun. Dengan refleks aku mengambil bantal dan selimutku. Mengalaskan bantal itu ke kepalanya dan menyelimutinya dengan selimut yang terasa sangat hangat. Tidurnya terus terjaga sampai aku kembali lagi ke kamarku.

“dari mana kau hyung?”ujar Key tiba-tiba

“kau belum tidur? Aku memberikan Jeany-ah bantal dan selimut. Kasihan dia, sepertinya sikap kita keterlaluan tadi..”ujarku panjang lebar sambil kembali merebahkan tubuhku tanpa bantal ataupun selimut

“aku pun merasa seperti itu…”ujar Minho

“apa lagi ia banyak membantu kita…”ujar Onew hyung yang terduduk dari posisi tidurnya

“ya sudahlah kalau begitu, besok kita minta maaf saja padanya…”ujarku sambil memebenarkan posisi ku dan tertidur pulas

***

Jeany P.O.V

“noona, cepat bangun…”ujar seseorang menyadarkanku dari mimpi ku

“emmmhhh…”gumamku sambil mencoba membuka mataku dan mengumpulkan nyawaku

“mwo?!”mataku terbelaj melihat kelima namja itu mengelilingiku dan menatapku dengan pandangan aneh

“kalian ini, mengapa memandangku seperti itu?”tanyaku kikuk

“ternyata ada yoja yang aneh sepertimu..”ujar Jonghyun oppa sambil menggelengkan kepalanya

“kau lupa? Hari ini adalah hari fan meet kami dan sekarang sudah jam 11… setengah jam sebelum acaranya di mulai!!!”ujar Key sedikit berteriak

“omo! Jam 11? Ya sudah, aku mandi dulu..”ujarku menerobos mereka dan segera ke kamar mandi

***

Aku dengan baju terbaikku membawa tas dan agenda berserta pulpen di tanganku berjalan dengan agak cepat ke ballroom hotel diikuti kelima namja yang sudah rapi dengan pakaian dan penampilan terbaik mereka.

“kau Jeany?”tanya seseorang padaku

“ne.. waeyo?”tanyaku balik

“aku yakin kau akan menjadi translator yang baik… bekerjalah dengan baik…”ujarnya sambil membungkukan badannya. Aku masih mematung di posisi ku, sedangkan kelima namja itu sudah duduk siap di tempat yang telah di sediakan. Tunggu, aku? Translator? Apa?!

“Jeany-shi, cepatlah, acara sudah mau di mulai…”ujar orang tadi

Aku menghampiri kelima namja tersebut. Berdiri di dekat mereka. Acara fan meet pun berlangsung. Dan sialnya aku harus mentranslate semua yang mereka katakana tanpa terkecuali dengan bahasa Koreaku yang masih terbatas ini. Omona!!!

Maut menjemputku ketika aku dengan kelima namja itu kembali ke kemar, segerombol shawol menyerbu kami. Kelima namja itu tujuan mereka, kenapa jadi aku kena imbasnya juga? Tubuhku terombang-ambing diantara lautan wanita itu. Aku sudah tak bisa membayangkan apakah kaki ku masih menapaki tanah atau tidak. aku merasakan sakit di sekujur tubuhku. Tubuhku terasa melayang, mataku hampir tertutup, hanya saja tertunda oleh seseorang yang menarik tanganku dan membawaku berlari secepatnya.

“kau tidak apa-apa Jeany-ah?”tanyanya padaku

“anni, aku hanya lemas saja……..”ujarku pelan dan semenjak itu aku tidak ingat apa-apa lagi

***

Jonghyun P.O.V

“Jeany-ah…”ujarku sambil mengguncangkan tubuhnya yang terkulai lemas.

Kakinya sudah tak mempu menopang berat badannya. Aku segera menggendongnya, berlari membawanya kedalam lift, segera menuju ruang 1701, membuka pintunya dan segera aku menuju kamar dan menidurkannya di atas tempat tidurnya. Kuatur posisi bantal dan selimutnya. Aku dapat melihat beberapa luka goresan –yang aku yakin adalah luka cakaran- di lengan dan sedikit diwajahnya. Rambutnya berantakan seperti bajunya.

“maafkan kami telah membuatmu seperti ini… maaf aku tidak bisa melindungi mu…”bisik ku padanya. Wajahku memanas. Omona! Apa yang terjadi padaku? mengapa perasaanku kacau begini? Ia hanya kelelahan, mengapa aku begitu khawatir padanya?

“hyung, Jeany noona tidak apa-apa?” teriak Key dari balik pintu kamar yang terbuka sedikit

“ssssttt… jangan berisik… ia hanya kelelahan… dan beberapa luka di lengan dan wajahnya”ujarku menenangkan Key

“mereka jahat sekali membuat Jeany noona seperti ini…”ujar Taemin polos

“kita yang membuatnya terlibat…”ujarku datar

“iya juga sih…”ujar Onew hyung

“kasihan sekali dia…”ujar Minho dengan nada rendah

“Taemin, ambilkan air hangat dan handuk kecil… Key dan Minho, belanjalah dan buatkan makanan untuknya… Onew hyung, pastikan keadaan kita aman dari para shawol…”ujarku cepat

“siap…” ujar keempatnya serentak dan segera pergi menjalankan tugas mereka

“ini hyung…”ujar Taemin sambil memeberikan semangkuk air hangat dan handuk kecil

Aku membasahi handuk itu dengan air hangat, sedikit memerasnya dan membersihkan luka yang ada di lengan dan wajah Jeany dengan sangat hati-hati. Ia mengigau kesakitan. Oh Tuhan aku tak kuasa melihat penderitaannya.

“Jeany-ah, cepatlah sembuh…”ujarku sambil mengecup punggung tangannya. Aku merasakan wajahku memanas lagi. Dan aku menyadari bahwa Taemin memberikan pandangan bingungnya akan tingkahku. Aku tidak peduli. Aku terus memegangi tangan Jeany, duduk di sampingnya dan terus mendoakannya.

“ini makanannnya…” ujar Key yang cukup lama akhirnya membawakan semangkuk bubur diikuti dengan Minho dan Onew hyung

“ia belum sadar juga…”ujarku dengan air mata yang sudah ada di ujung mataku

“noona jangan mati…”ujar Taemin mengagetkan kami semua

“kau gila apa?! Jangan berkata seperti itu!!!”ujarku dengan nada tinggi

***

Jeany P.O.V

Aku tidak merasakan apa pun. Tak ada yang dapat ku lihat. Hitam, hanya itu yang aku lihat dan sakit, hanya itu yang aku rasakan.

“noona jangan mati…”ujar seseorang remang-remang

“kau gila apa?! Jangan berkata seperti itu!!!”ujar seseorang lainnya semakin jelas menyadarkan ku

“emmhhh, ada apa ini ribut-ribut?”ujarku pelan hampir tidak terdengar

“kau sudah sadar?”aku yakin itu adalah suara Jonghyun oppa

“aku dimana?”ujarku lagi

“di kamar… sudahlah kau istirahat saja dulu…”ujarnya lagi

“aku tidak apa-apa… terima kasih untuk semuanya…”ujarku sambil memberikan senyuman terbaik ku

“aku sudah membuatkan bubur untukmu… makanlah…”ujar Key sambil menyodorkan semangkuk bubur

“ne, kau tahu saja kalau aku lapar…hehe” aku hendak meraih mangkuk itu dengan tangan kananku, namun seperti ada yang menahan tanganku. Aku meliriknya dan…. Omona!!! Jonghyun oppa memegang tanganku dan aku yakin wajahku memerah sekarang.

“hyung, tidak sadar juga kau?”ujar Key memecahkan lamunanku

“wae?”tanyanya bingung

“itu!!!”ujar Key lagi sambil menunjuk tangan kanan ku yang di genggam oleh tangan Jonghyun oppa

“ups, mian…”ujar Jonghyun oppa melepaskan gengamannya dan wajahnya kini mulai memerah

“gwenchana…”ujarku sambil meraih mangkuk bubur dengan tangan kanan ku yang terasa sangat hangat.

Belum sempat aku menyuapkan sesendok penuh bubur ke dalam mulutku, Jonghyun oppa menghentikan tanganku.

“kau yakin bisa makan sendiri?”tanya nya

“ne! tentu saja.. aku sudah sebesar ini…”ujarku menenangkannya

“kau yakin tak mau aku suapi?”ujarnya lagi

“jangan mengambil kesemparan dalam kesempitan kau!!!”ujar Onew oppa sambil memukul kepala Jonghyun oppa pelan

“tidak usah, sungguh aku bisa sendiri… terima kasih atas tawaranmu oppa…”ujarku dengan lebih yakin sekarang. Aku segera menyuapkan bubur itu. Dengan lahapnya aku makan, seperti orang yang sudah 2 hari tidak makan. Dan masakan Key sungguh sangat enak.

***

“aaaaawwww…”aku memegangi pipiku dengan luka cakar memanjang di sebelah kiri. Melintang dari bawah mata sampai dekat dagu

“muacchhh…”seseorang mengecup pipiku, tepat di luka cakar itu. Dan aku pastikan ia adalah Jonghyun oppa

“semoga pengobatan itu manjur…”ujarnya mengerlingkan matanya dan kemudian meninggalkan aku dengan wajah yang pastilah memerah.

Aku semakin keras memegangi pipiku yang sakit tetapi perlalahan-lahan menghilang rasa sakitnya. Entah hanya sugesti atau memang benar, ciumannya itu manjur.

“noona, cepatlah makan… aku sudah buatkan ramyun special…”teriak Key dari dapur. Aku segera menghampiri mereka di meja makan. Ternyata mereka sudah siap di meja makan. Tanpa ba-bi-bu lagi kami menyantap ramyun udang itu dengan lahapnya.

“waktunya tidur…”ujar Key sambil membereskan bekas makan kami

“kau boleh tidur di tempat tidur ku lagi!!!”ujar Jonghyun oppa semangat. Aku melihat perubahan drastis darinya. Ia terlihat lebih perhatian dan aku menjadi lebih jatuh cinta padanya.

“terima kasih, oppa. Sepertinya aku akan dengan senang hati menerima tawaran mu itu…hehe”ujarku sedikit manja

“istirahatlah yang cukup, noona. Besok aku pastikan kau akan lebih lelah dari hari ini…”ujar Minho

“aku baru ingat… besok hari kalian konser ya?! Hwaiting!!! Aku akan selalu mendukungmu…”ujarku sambil memberikan senyuman dan raut wajah terbaik ku

“tapii…. Kalau begitu, kau harus tidur di tempat tidurmu agar kau bisa istirahat cukup…”ujarku dengan nada yang merendah

“tidak, kau harus tetap tidur di tempat tidurku! Ayo cepat, sudah malam ini…”ujarnya yang sekarang membangunkanku dari duduk ku dan mendorongku hingga aku terduduk di tempat tidurnya.

“tidurlah… selamat malam…”ujarnya lembut sekali. Senyumnnya membuatku meleleh.

“iya… iya…”ujarku yang sekarang sudah dalam posisi tidur. Ia membenarkan posisi bantal dan selimutku.

“aku berjanji akan menjagamu…”ujarnya berbisik di telingku. Aku hanya tersenyum mendengar perkataannya itu. Dan apa yang terjadi, ia mengecup keningku dan meninggalkanku ke luar kamar.

***

Aku tersadar dari tidurku oleh seberkas cahaya yang masuk melalui celah jendela kamar. Aku mengusap mataku, mengumpulkan nyawaku dan akhirnya aku terduduk di samping tempat tidurku. Menatap sekelilingku, kosong! Kemana mereka semua? Aku keluar kamar, memutuskan untuk mencari mereka

“Omona!!!” teriak ku

“ada apa sih noona teriak-teriak? Eh, sudah pagi yah?”ujar Taemin dan bergegas bangun

“sudah pagi ya? Ayo bangun!!!”ujar Jonghyun oppa membangunkan yang lainnya

“apa yang kalian semua lakukan di sini? Kenapa kalian semua tidur di sofa sampai bertumpuk-tumpuk seperti itu?”tanya ku yang masih terpaku melihat fenomena di depanku

“Jonghyun yang menyuruh kami. Katanya kalau kami tidur di dalam, kami hanya mengganggu tidurmu…”ujar Onew oppa malas

“omona, oppa… kau ini keterlaluan sekali… kau tidak kasihan apa pada mereka? ‘pletakkk”ujarku dengan nada sedikit meninggi dan memukul kepala Jonghyun oppa.

“appoyo… aku hanya ingin kau cepat sembuh…”ujarnya sambil mengusap-usap kepalanya

“kami juga tidak apa-apa koq tidur disini… masih tetap nyenyak…”bela Minho

“sudahlah, mari bersiap, kita tidak boleh terlambat…”ujar Onew oppa sambil berdiri dari duduknya

“tapi noona, sebenarnya bukan karena ia takut kami mengganggu mu, tetapi kerena ia cemburu…”ujar Key sambil berlari menghindari pukulan Jonghyun oppa. Kami semua hanya tertawa melihat tingkah mereka dan wajah malu Jonghyun oppa.

***

“Noona, pegang tanganku…”ujar Taemin sesampainya kami di Jakarta Convention Hall. Aku sudah tau maksudnya. Tapi belum sampai aku menggapai tangannya,

“aaaahhh,, sudahlah, ayo cepat masuk!!!”ujar Jonghyun oppa yang langsung menggandeng tanganku berjalan duluan di depanku.

“Taemin, kau cari masalah ya dengan Jonghyun hyung?”tanya Key sayup-sayup. Taemin hanya menampakan wajah bingungnya. Memang polos sekali anak itu

Keempat namja yang lainnya mengikuti kami di belakang.

“pertempuran akan di mulai. Pastikan kau selalu memegang tanganku ini apapun yang terjadi. Aku sudah berjanji akan menjagamu…”ujar Jonghyun oppa sedikit berbisik. Kami ber-enam dengan pengawalan yang cukup ketat memasuki gedung JCC. Walau pun lewat pintu belakang, banyakk sekali fans yang sudah datang dan menunggu senyuman kelima namja idola mereka itu.

Seperti apa yang sudah aku duga. “siapa wanita itu?” “beruntung sekali dia!” “berani sekali kau memegang tangan Jonghyun oppa ku!”. Berisik aku mendengar kalimat-kalimat dengan bahasa Indonesia itu dan aku yakin kelima namja itu tidak aka nada yang mengerti.

“akhirnya, selamat juga…”ujar Minho sambil mengelus dadanya

“kalau begitu cepatlah kalian ke ruang rias, aku ingin melihat keadaan dulu…”ujarku

“kau tak apa-apa?!”ujar Jonghyun dan yang lainnya masih menatapku ragu

“tenang saja, aku yakin aku akan aman di sini… sudahlah, jangan terlambat… kajja!!!”ujarku sambil mendorong tubuh mereka pergi dan aku pun berjalan menuju pintu samping panggung.

Terlihat keramaian dan kebisingan yang mulai terjadi ketika satu persaatu fans memasuki gedung. Dengan poster, balon dan segala macam perlengkapan, mereka siap menyambut idola mereka itu.

Baby,, Negae banhae beorin naegae wae irae
Dureopdago mulleoseoji malgo
Geunyang naegae matgyeobwala eoddae
My lady’
bunyi ringtone handphone ku, aku segera mengangkat telepon itu

—–tbc—–

whoooaaa…

mian yah, udah mulai ngayalnya makin autis…hehe

romance”nya udah mulai kerasa…haha

tapi moga-moga ajah suka…

gomawo yah udah baca…

jngan lupa commentnya…hehe 😀

16 responses to “When They Come… (part 3)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s