OH!! A Baby!? (Part 4 : Sangtae-Sangtae-Sangtae)


Cast : SHINee, Park Chunsoo (OC), Ryu Hanbi (Author)

***

“Hyuuuuuung~~!!!!!”
Jinki berdiri dan merapat ke dinding. Ia menelan ludah, ketakutan melihat tatapan murka yang diarahkan oleh Kibum padanya. Meskipun Kibum lebih muda darinya, tapi Jinki tidak berani menghadapinya saat sedang marah. Ia sudah pasti kalah telak.
Kibum menggendong Chunsoo yang sedang menangis dan member isyarat pada Jinki untuk menyingkir dari hadapannya. Jinki buru-buru keluar dari kamar itu, ruangan yang dulunya adalah gudang dan kini sudah disulap menjadi surge kecil bagi Chunsoo. Ia masuk ke dalam kamar mandi dan mengunci diri di sana.
Entah kenapa, Jinki selalu gugup jika berada di dekat Chunsoo. Anak itu masih begitu kecil sehingga Jinki takut sentuhan selembut apapun bisa membuatnya terluka. Karena itu ia berusaha menghindari mengurus Chunsoo. Tapi pagi tadi, Chunsoo mendadak menangis keras. Jonghyun sudah berangkat lebih awal. Minho dan Taemin sedang keluar untuk membeli sarapan. Hanya ada dia dan Kibum, yang saat itu masih berada di kamar mandi. Mau tidak mau Jinki-lah yang harus menghampiri Chunsoo.
Saat Jinki menggendongnya, tangisan Chunsoo mulai reda. Jinki menghela nafas, dan kembali meletakkan Chunsoo di kasurnya. Tapi Chunsoo kembali menangis. Jinki berpikir bahwa ia lapar, jadi ia mengambilkan susu untuk Chunsoo. Sayangnya, saat masuk ke kamar ia terpeleset, dan tutup botol susu itu terbuka saat Jinki jatuh. Susu di dalam botol itu tumpah dan membasahi Chunsoo. Akibatnya, bukannya diam, Chunsoo malah menjerit lebih keras.
“Kenapa aku ini ceroboh sekali…” gerutu Jinki, menghentak-hentakkan kakinya sementara hatinya merasa bersalah saat mendengar suara Chunsoo yang melengking.
Beberapa menit kemudian, Jinki keluar. Suara tangisan Chunsoo sudah tidak terdengar. Ternyata ia tidur di pelukan Kibum yang masih mengayun-ayun tubuhnya sambil bersenandung pelan. Ia melirik Jinki yang mengatupkan kedua tangannya, memohon maaf. Kibum menghela nafas.
“Aish… hyung… Lain kali kau harus lebih hati-hati. Untung susu yang kau tumpahkan sudah dingin…” kata Kibum. Ia meletakkan Chunsoo di kasurnya dan memeriksa popok anak itu. Ternyata sudah basah. Jadi ia mengambil popok baru dan mulai menggantinya. Ia memberikan yang lama pada Jinki dan menyuruh laki-laki itu membuangnya. Merasa ini kesempatan baginya untuk membuat Kibum memaafkannya, Jinki meraih popok itu dengan hati-hati dan berjalan ke dapur untuk mencari plastic pembungkus. Sayangnya, ia tidak melihat sisa-sisa susu yang membasahi lantai dan menginjaknya.
Ia terpeleset. Popok itu melayang, dan jatuh tepat di atas kepala Kibum.
“K-k-k-kibum ah~~~”
“HYUNG!!!!”

Hanbi baru saja keluar dari apartemennya ketika ia melihat Kibum keluar sambil menggerutu. Di belakangnya, Minho dan Taemin mengikuti sambil menahan tawa. Wajah keduanya merah sekali.
“Anyeong.” Sapa Hanbi, melambai pada ketiganya.
Kibum hanya melengos dan berjalan pergi, sementara Minho dan Taemin membalas sapaannya.
“Kenapa dia?” Tanya Hanbi pelan, seraya berharap Kibum tidak mendengarnya.
“Bad mood. Super bad mood.” Jawab Taemin.
“Hah? Kenapa?”
“Tadi pagi, Kibum meminta Jinki-hyung membuang popok bekas Chunsoo yang sudah basah. Tapi saat membawa popok itu, Jinki-hyung terpeleset dan popok itu terlempar. Jatuhnya tepat di kepala Kibum. Dia marah sekali… Sebelumnya juga Jinki-hyung menumpahkan susu pada Chunsoo. Padahal tadi malam Kibum kurang tidur karena mengurusi Chunsoo… Paginya malah mengalami kejadian seperti itu…” kata Minho.
“Jadi sekarang Kibum-hyung menyuruh Jinki-hyung mengurusi Chunsoo seharian. Kasihan Jinki-hyung… dia kan tidak bisa berada di dekat anak kecil…” sambung Taemin.
“Kenapa memangnya?” Tanya Hanbi lagi.
“Dia takut anak-anak itu terluka kalau berada di dekatnya. Dia kan, ceroboh…”
“Lebih baik aku mengejar Kibum. Tidak baik membiarkan dia bad mood seharian. Kita bisa susah…” kata Minho, mengejar Kibum yang sudah jauh di depan.
“Jinki-hyung itu memang ceroboh. Tapi dia hyung yang sangat baik.” Sambung Taemin, memperhatikan Minho yang sedang berusaha membujuk Kibum.
Hanbi diam. Ia memikirkan hal lain. Bagaimana nasib Chunsoo di tangan Jinki yang seperti itu? Mendadak Hanbi merasa khawatir. Ia mengeluarkan ponselnya.
“Taemin sshi…. Boleh aku minta nomor ponselnya Jinki?”

Jinki duduk sambil memandangi Chunsoo yang sedang tertidur. Ia menghela nafas ketika mengingat betapa murkanya Kibum karena kejadian pagi tadi. Sebagai hukuman, Jinki harus merawat Chunsoo seharian ini. Kebetulan dia memang tidak ada kuliah satu harian ini.
“Aigoo… ottokae…” gumam Jinki, ikut berbaring di samping Chunsoo dan memejamkan matanya. Tiba-tiba ponselnya bergetar. Ia sengaja mengubah ponselnya ke silent-mode supaya tidak mengganggu Chunsoo.
Jinki meraih ponselnya dan mengerenyit ketika melihat nomor yang menghubunginya. Ia tidak mengenali nomor itu. Jinki berdiri dan berjalan keluar ruangan sebelum menerima panggilan tersebut.
“Yoboseyo?”
“Jinki sshi? Oppa? Ini aku, Hanbi.”
Wajah Jinki langsung berubah sumringah.
“Hanbi sshi… ada apa?”
“Aku dengar Kibum menyuruhmu merawat Chunsoo seharian.”
“Ne…”
“Begini… apa… kau baik-baik saja, oppa?”
Jinki bisa mendengar nada khawatir pada suara Hanbi. Dan ia yakin ia tahu alasan kekhawatiran Hanbi.
“Gwenchanna… Aku tidak akan melukai Chunsoo, kok…” jawab Jinki, memaksakan senyuman meski ia tahu Hanbi tidak bisa melihatnya. Tapi ia bisa mendengar Hanbi bernafas lega di seberang sana.
“Oppa… Aku bukannya tidak percaya padamu… Aku tahu kalian akan baik-baik saja… Tapi kalau ada apa-apa, kau bisa menghubungi aku, arasso?”
“Ne. Arasso… Jangan khawatir. Kau sudah di kelas?” Tanya Jinki, mengalihkan pembicaraan.
“Ne. Sebentar lagi pelajaran pertama di mulai.”
“Baiklah… Eh, Hanbi sshi?? Apa Kibum ada di dekatmu?”
“Aniyo. Dia di mejanya. Kenapa?”
“Sampaikan maafku padanya, ya?”
Jinki mendengar Hanbi tertawa dan mengiyakan. Setelah itu ia mendengar suara bel berdering, dan Hanbi mengakhiri pembicaraan mereka. Jinki melempar dirinya ke sofa. Wajar saja jika Hanbi khawatir. Dia memang ceroboh. Dan suatu saat kecerobohannya itu bisa melukai Chunsoo. Jangankan Hanbi, Jinki sendiri juga merasa khawatir pada dirinya.

Entah berapa lama Jinki tertidur di sofa. Yang jelas, saat ia terbangun, ia mendengar suara Chunsoo di kamarnya. Ia buru-buru bangkit dan mendatangi Chunsoo.
“Chunsoo ah… Kau sudah bangun??” Tanya Jinki, duduk di samping Chunsoo yang tangannya terulur ke arahnya.
Jinki meraih tangan Chunsoo dan menggoyangnya pelan. Ia memainkan jari-jari Chunsoo yang mungil dengan hati-hati. Tiba-tiba perutnya berbunyi. Jinki ingat ia belum makan apa-apa sejak pagi. Ia berdiri dan berjalan ke dapur. Masih ada sarapan yang tadi pagi dibeli oleh Minho dan Taemin. Jadi ia menghangatkan makanan itu dan makan seraya duduk di depan tv. Tapi baru saja ia makan sesuap, Chunsoo mulai menangis lagi. Jinki buru-buru kembali ke kamar anak itu.
“Aigoo… Aigoo… Chunsoo… Jangan menangis…” kata Jinki, menggendong Chunsoo dan mengusap-usap punggung anak itu dengan lembut. Ia mengayun-ayun Chunsoo seperti yang biasa Kibum lakukan. Tapi Chunsoo tetap menangis.
Jinki mengambil botol susu dan mencoba meminumkannya pada Chunsoo. Tapi Chunsoo malah mengalihkan kepalanya ke arah lain. Ia menolak meminumnya dan tetap menangis.
Jinki mulai panik.
Sambil menggendong Chunsoo, ia berlari ke sofa dan mengambil ponselnya. Ia sedang dalam situasi darurat!

Hanbi merasa sangat mengantuk. Ia bertopang dagu dan menatap kosong ke arah papan tulis. Guru mereka sedang membahas sejarah Negara mereka. Tapi tidak ada satupun kata-kata si guru yang menyangkut di otak Hanbi. Ia benar-benar merasa bosan.
Tiba-tiba sebuah bola kertas membentur kepalanya. Ia menoleh ke arah si pelempar yang mengacungkan dua jari ke arahnya (^^v).

Aku khawatir pada Jinki-hyung…
Appa

Hanbi memutar bola matanya. Kadang-kadang ia bingung pada Kibum. Laki-laki itu seperti terlihat memiliki dua sisi wajah. Yang satu adalah Kibum versi jahat, yang mudah sekali marah, senang menghukum, sedikit seenaknya dan tidak begitu peduli pada perasaan orang lain. Yang satu lagi adalah Kibum versi baik, yang akhir-akhir ini sering Hanbi lihat. Perhatian, penyayang, lembut layaknya seorang ibu. Tadi pagi ia melihat si jahat, dan sekarang Kibum berubah menjadi si baik.
Hanbi baru saja akan membalas pesan tersebut ketika ponselnya bergetar. Ia melihat siapa yang menghubunginya. Ternyata Jinki!
Apa terjadi sesuatu, ya? Batin Hanbi seraya mengangkat tangannya.
“Sosaeng-nim… Izin ke toilet…” kata Hanbi. Si Guru mengangguk dan Hanbi buru-buru keluar kelas sambil menyembunyikan ponselnya. Kibum memperhatikannya hingga gadis itu keluar kelas.
“Yoboseo?”
“Hanbi sshi!!! Chunsoo menangis dan tidak mau diam… Ottokae???”
Hanbi mendengar suara khawatir Jinki dan suara tangisan Chunsoo. Kelihatannya Jinki menelpon sambil menggendong anak itu.
“Oppa… Kau sudah berikan dia susu?”
“Sudah. Tapi dia tidak mau…”
“Coba periksa popoknya.”
Telpon di seberang sana hening untuk beberapa saat.
“Tidak basah…”
“Apa udara di situ panas? Atau dingin?”
“Memang sedikit dingin… Tapi Chunsoo sudah mengenakan pakaian tebal…”
Hanbi berpikir keras. Dulu ibunya memberinya daftar hal-hal yang bisa membuat bayi menangis, dan Hanbi merasa sedikit menyesal tidak menghapalnya dengan baik. Kemudian dia teringat sesuatu.
“Oppa… Jangan-jangan tadi kau meninggalkannya sendirian saat terbangun?”
Tidak ada jawaban untuk beberapa saat. Kemudian…
“N-ne… Tadi aku menghangatkan sarapanku…”
Hanbi tertawa lega. Sepertinya ia tahu kenapa Chunsoo menangis.
“Coba terus menggendongnya. Atau pegang tangannya. Atau temani dia… Bayi juga bisa merasa kesepian, oppa. Apalagi jika saat tidur ia bersama seseorang, dan ketika bangun ternyata ia sendirian.”
“Baiklah… Akan aku coba… Hanbi sshi, gomawo…”
Hanbi memasukkan ponselnya ke saku dan berbalik. Betapa terkejutnya ia ketika melihat Kibum berdiri di belakangnya dan menatapnya dengan tatapan curiga.
“Waa!!! Kibum ah!!! Kau membuatku kaget!!” seru Hanbi.
“Siapa yang menelponmu barusan?” Tanya Kibum.
“Bukan siapa-siapa…” jawab Hanbi buru-buru. Ia membalik tubuh Kibum dan mendorongnya masuk ke kelas “Ayo, masuk-masuk…”
“Masuk?? Sekarang waktunya istirahat, pabo!” kata Kibum, berbalik dan mengetuk kepala Hanbi pelan.
“Ah? Sudah istirahat, ya?”
“Ya, umma, kau tidak sedang menelpon laki-laki lain, kan??” Tanya Kibum dengan wajah nakal.
Hanbi melongo mendengar kata-kata Kibum barusan. Ditambah lagi, ketiga sahabatnya berdiri di belakang Kibum, dan ketiganya memasang wajah terkejut.
“Dasar, si jahat ini!” batin Hanbi, mulai memikirkan alasan yang harus ia sampaikan pada ketiga temannya.

Jinki berhasil. Sesuai dengan yang Hanbi katakan, Chunsoo mungkin memang kesepian. Ia duduk sambil memangku Chunsoo, dan setelah anak itu tertidur, ia melanjutkan sarapannya. Setelah selesai makan, ia menghabiskan waktu di depan tv, sambil menemani Chunsoo yang masih tertidur.
Entah berapa lama ia duduk sambil menonton tv dan memangku Chunsoo, yang jelas, kedua kakinya terasa kram sekarang. Pelan-pelan, Jinki meletakkan Chunsoo di atas bantal besar milik Taemin sementara ia sendiri berdiri dan meregangkan tubuhnya. Ia melihat ke luar jendela apartemennya dan tersenyum. Cuaca di luar cerah sekali. Sepertinya nyaman sekali berjalan-jalan di bawah sinar matahari yang masih jarang terlihat di bulan-bulan ini. Jinki melirik Chunsoo yang tertidur dan berpikir untuk meninggalkan anak itu sebentar selama ia berjalan keluar. Tapi ia teringat wajah murka Kibum dan mengurungkan niatnya.
“Kibum pasti akan membunuhku kalau aku meninggalkan Chunsoo sendirian…” gumam Jinki sambil memandang Chunsoo. Kemudian ia memandang ke luar jendela lagi “… tapi aku ingin sekali jalan-jalan…” Ia kembali memandang Chunsoo “… tapi aku akan dimarahi Kibum jika meninggalkan Chunsoo… Bisa-bisa dia tidak memasak ayam kesukaanku selama satu bulan…”
Ia menghela nafas, lelah dengan pemikirannya sendiri. Kemudian sebuah pemikiran terlintas di kepalanya.
“Kenapa aku tidak bawa Chunsoo jalan-jalan saja???” serunya sambil tersenyum lebar.

Persiapannya sudah beres!
Jinki kembali mengecek barang bawaannya di dalam tas. Sudah ada popok, sebotol susu, salah satu mainan favorit Chunsoo, tisu, pakaian ganti untuk Chunsoo, dan sebotol air putih. Jinki merasa puas dengan persiapannya dan memanggul tasnya. Kemudian ia mengangkat tubuh Chunsoo pelan-pelan dan tersenyum pada anak itu.
“Chunsoo ah… Hyung akan mengajakmu jalan-jalan~~”
Jinki keluar dari apartemen dan mengunci pintu, kemudian berjalan menuju lift. Selama di lift, Jinki terus mengayun tubuh Chunsoo supaya anak itu tidak menangis. Chunsoo sendiri masih tidur dengan pulas.
Jinki sudah berada di luar apartemen dan sekarang melihat ke sana kemari untuk menentukan ke arah mana ia akan pergi. Karena sejak awal ia tidak memiliki tujuan, jadi tidak masalah kea rah mana ia akan pergi. Jadi ia menutup matanya, berputar di tempat dua kali, dan menunjuk salah satu arah. Ia membuka matanya dan tersenyum puas.
“Baiklah! Kita jalan ke arah sini…” serunya, berjalan ke arah yang ia pilih. Arah yang tidak ia tunjuk saat berputar tadi (nah lho…).

Ia suka sekali udara luar yang segar. Ia juga senang menyapa orang-orang yang ia temui di jalan, meskipun ia tidak mengenal orang tersebut. Ia menikmati acara jalan-jalannya bersama Chunsoo siang itu, meskipun Chunsoo hanya tidur sepanjang perjalanan. Tidak terasa sudah hampir satu jam Jinki berjalan-jalan. Dan karena selama satu jam itu ia terus berjalan, kakinya mulai terasa capek. Jadi ia memutuskan untuk duduk di bangku yang ada di tepi jalan itu dan mengistirahatkan kakinya.
“Aigoo… pilgonhaeyo…” gumam Jinki, memijat-mijat kakiknya pelan.
Chunsoo, yang ia baringkan di sampingnya, terbangun dan menendang-nendang pinggang Jinki sambil menggerak-gerakkan kedua tangannya.
“Chunsoo ah… Kau mau minum susu?” Tanya Jinki, menggelitik perut Chunsoo dengan lembut.
Jinki mengambil tasnya dan menaruh benda itu di pangkuannya. Ia bersenandung sambil mengaduk-aduk isi tasnya untuk mencari botol susu milik Chunsoo. Dan ketika ujung jarinya menyentuh botol plastik yang sedikit terasa hangat itu, ia menariknya keluar sambil berseru ‘Tada~~’.
“Chunsoo~~ Ini minumanmu~~~”
Jinki mendekatkan botol itu ke arah Chunsoo, dan tepat pada saat itu, seorang laki-laki merampas tas yang maish ia letakkan di pangkuannya. Jinki terdiam, memandangi punggung laki-laki itu yang mulai menjauh, sebelum akhirnya berdiri dan berteriak.
“Ya!!! Kembalikan tas itu!!!!”
Tanpa pikir panjang, Jinki mengejar laki-laki itu. Laki-laki itu berlari cukup cepat. Jinki sendiri mengejarnya dengan kecepatan yang hampir sama.
“Berhenti!!!!” teriak Jinki keras, berusaha berlari lebih cepat.
Keduanya sudah berada cukup jauh dari tempat Jinki duduk tadi. Dan Jinki mulai merasa lelah. Nafasnya mulai terengah dan dadanya terasa sesak. Ia belum pernah berlari seperti kesetanan begitu.
“Yaa!!!! Tidak ada apa-apa di tas itu selain popok dan pakaian bayi, ee pabo!!!!!!!” teriak Jinki, frustasi.
Kelihatannya si pencuri itu mendengar teriakan Jinki karena kemudian ia seperti memeriksa isi tas itu. Ia berdecak marah dan melempar tas itu ke jalan sebelum melompati pagar gang sempit tempat mereka berlari. Jinki berhenti tepat di depan tas itu dan memungutnya. Ia memeriksa isinya, dan dalam hati merasa beruntung ia tidak membawa dompet. Setelah yakin isi tas itu lengkap (pakaian ganti Chunsoo, popok, dan lain-lain ^^) ia berbalik, dan berhenti.
“Lee Jinki!!! Kau dalam masalah besar!!!!” teriaknya sambil menepuk dahinya. Ia benar-benar lupa! Ia telah meninggalkan Chunsoo sendirian di bangku tadi!!
Sekuat tenaga, Jinki berlari kembali ke tempat Chunsoo berada. Dan saat melihat bangku itu kosong, Jinki merasa seakan kehilangan kekuatannya. Kakinya terasa lemas. Ia melihat ke sekelilingnya dengan wajah panik. Tapi ia tidak melihat Chunsoo di manapun.
“Dia tidak mungkin jalan sendiri, kan… Pasti ada orang yang membawanya…” gumam Jinki, panik. Ia berputar mengitari tempat itu dan bertanya pada setiap orang yang ada di sana. Tapi tidak ada yang melihat Chunsoo. Pada akhirnya, ia bertanya pada penjual makanan kecil yang ada di sana. Penjual itu melihat seorang wanita bersepeda membawa Chunsoo. Penjual itu menunjukkan arah yang dtilalui wanita itu dan tanpa membuang waktu, Jinki langsung mengejar wanita itu.
Setelah hampir 15 menit berlari, Jinki berhasil mengejar wanita itu. Tapi ia sudah berada di seberang jalan.
“Chamkaman~~!!! Ajumoni!!!!” teriak Jinki.
Wanita itu sama sekali tidak mendengar teriakan Jinki. Ia terus mengayuh sepedanya. Jinki melihat traffic light yang masih menunjukkan warna merah. Ia langsung menyebrangi jalan. Tapi tepat di tengah jalan, lampu merah mati dan digantikan dengan lampu hijau. Jinki yang tidak menyadari itu masih berlari menyebrangi jalan. Ia tidak melihat sebuah truk besar melaju ke arahnya.
“Ya!! Awas!!!!” teriak orang-orang yang melihat kejadian itu.

DEG!
Kibum memegangi dadanya yang tiba-tiba terasa sesak. Ia memandangi Minho dan Taemin yang duduk di depannya. Saat itu ia berada di kantin sekolah, sedang menikmat jatah makan siang mereka.
“Hyung? Ada apa? Kau terlihat pucat…” Tanya Taemin. Ia dan Minho memperhatikan Kibum yang masih memegangi dadanya.
Kibum tidak menjawab. Ia merogoh saku celananya, mencari ponselnya. Perasaannya benar-benar terasa tidak enak. Entah kenapa, ia takut terjadi apa-apa pada Jinki, atau Chunsoo. Ia buru-buru menekan tombol yes saat melihat nama Jinki tertera di phone-book-nya.

“Kau tidak apa-apa??”
Jinki membuka matanya yang tadi ia tutup saking paniknya dan melihat banyak orang mengerumuninya. Ia masih berada di tepi jalan. Tadi ada sebuah truk yang melaju ke arahnya, dan ia beruntung masih sempat melompat menghindar meskipun pada akhirnya ia terguling di tepi jalan dan punggungnya menubruk trotoar.
“N-Ne… G-gwenchanna…” kata Jinki, berusaha berdiri. Tapi tubuhnya terasa berat, dan kakinya limbung. Ternyata celana jeansnya sobek dan lututnya terluka. Salah seorang laki-laki membantunya berdiri, dan seorang wanita paruh baya memberinya tisu dan air untuk membersihkan lukanya. Jinki mengucapkan terima kasih dan pergi setelah meyakinkan orang-orang itu bahwa ia baik-baik saja.
Bagaimanapun juga, ia harus mencari Chunsoo. Tapi wanita bersepeda itu sudah tidak terlihat lagi. Jinki mengernyitkan dahinya. Ia bingung. Ia takut sekali. Ia benar-benar merasa menyesal karena sudah ceroboh meninggalkan Chunsoo sendirian.
“Chunsoo ah… Mianhae…” gumam Jinki, berjalan ke arah pos polisi untuk melaporkan kehilangan, meski ia tidak yakin mengapa ia melakukan itu. Chunsoo kan bukan bagian dari mereka. Ia hanya anak yang dititipkan sementara pada mereka hingga orangtuanya ditemukan. Tapi Jinki merasa ia harus melaporkan hal ini pada polisi.
Jinki masuk sambil menahan rasa sakit di kakinya. Polisi yang berjaga di pos itu menyambutnya dengan senyum dan bertanya mengenai maksud kedatangannya. Saat Jinki membuka mulutnya untuk bicara, ia mendengar suara yang rasanya tidak asing di telinganya.
Jinki buru-buru berdiri, dan melihat anak kecil berbaring di atas kursi panjang yang ada di pos polisi itu. Anak itu tertawa-tawa sambil mengulurkan tangannya pada Jinki.
“Chunsoo!!!!!!”
“Anak ini… anakmu?” Tanya polisi itu.
Jinki buru-buru mengangguk sambil tersenyum. Polisi itu ikut tersenyum dan menggendong Chunsoo, kemudian menyerahkan anak itu pada Jinki.
“Seorang wanita menemukan dia sendirian di bangku dan memutuskan untuk membawanya kemari… Untunglah ada yang menjemputnya… Kami sudah berniat membawanya ke tempat pengasuhan anak sampai ada yang melaporkan kehilangan bayi…” kata polisi itu.
Jinki memeluk Chunsoo erat-erat. Ia membiarkan tangan Chunsoo meraba wajahnya.
“Chunsoo ah… Mianhae… Jongmal mianhaeyo… Aku ini… aku ini hyung yang buruk ya…. Mianhaeyo…” kata Jinki. Ia merasa lega sekali. Saking leganya, air matanya sampai tidak bisa berhenti mengalir…

“Kenapa kakimu, hyung???” Tanya Minho, ketika ia, Taemin, dan Kibum pulang. Mereka melihat Jonghyun sedang membalut lutut Jinki dengan perban.
“Mianhae… Tadi aku terjatuh…” kata Jinki, menggaruk-garuk kepalanya.
“Jatuh??? Apa sih, yang kau kerjakan, hyung????” teriak Kibum. Ia kelihatan gusar sekali “Aku menelponmu sejak tadi siang. Tapi tidak kau angkat. Kau ke mana saja hyung???!! Jangan-jangan kau meninggalkan Chunsoo sendirian!!!” bentak Kibum lagi.
“Hyung… jangan begitu…” kata Taemin, pelan. Ia ngeri jika sudah melihat Kibum marah.
Jinki tidak berani menatap Kibum yang kelihatan sangat murka itu. Dalam hatinya, terbersit rasa bersalah, terutama pada Chunsoo.
“Kau ini… selalu saja begitu!!! Kita semua jadi repot setiap kali kau sangtae begitu!! Ya!! Lee Jinki! Kenapa kau selalu membahayakan dirimu sendiri???”
Jinki tidak bisa menjawab.
“Kibum ah…” panggil Jonghyun, berusaha menenangkan Kibum.
Kibum menepis tangan Jonghyun yang tadi menepuk bahunya dan pergi ke kamarnya. Ia membanting pintu, membuat Jinki semakin merasa bersalah.
“Hyung, jangan terlalu dipikirkan. Kau tahu kan Kibum itu seperti apa…” kata Jonghyun. Jinki mengangguk, dan pergi ke kamarnya. Ia melirik Chunsoo yang saat itu sudah digendong oleh Minho, dan tersenyum sedih.
“Setidaknya, Chunsoo baik-baik saja…” batin Jinki.

Jinki terbangun karena lututnya nyeri sekali. Ia menatap jam dinding dan menyadari bahwa ia ketiduran. Saat itu masih terlalu awal. Taemin saja mungkin belum tidur.
Dengan satu kaki, Jinki berusaha berjalan keluar dari kamarnya. Ia melompat-lompat menuju dapur dan mengambil segelas air. Saat ia minum, ia mendengar seseorang datang. Ia langsung mencelos begitu melihat ternyata Kibum yang datang.
Keduanya bertatapan sebelum akhirnya Kibum mengalihkan pandangannya. Ia berjalan ke arah kulkas dan mengeluarkan sebotol air. Keduanya berdiri dalam diam, dengan posisi saling membelakangi. Situasi yang benar-benar membuat Jinki salah tingkah. Ia masih merasa tidak enak pada Kibum (terutama karena ia tidak mengatakan apa-apa soal menghilangnya Chunsoo tadi siang). Jadi ia memutuskan untuk kabur dari situasi itu.
“A-aku tidur dulu, ya, Kibum…” kata Jinki.
“Kakimu masih sakit, hyung?” Tanya Kibum tiba-tiba.
Jinki berbalik dan melihat Kibum memperhatikannya dengan iba. Ia mengangguk, dan Kibum menghela nafas. Ia menarik lengan Jinki ke ruang tv-masih ada Jonghyun di sana, dan ia terkekeh melihat Kibum dan Jinki yang kelihatan seperti sudah berbaikan.
“Duduk. Biar aku ganti perbannya.” Kata Kibum. Jinki menurut.
Ia memperhatikan Kibum yang sekarang sibuk membersihkan lukanya dan mengganti perbannya. Rasanya, ia ingin meminta maaf karena selalu membuat Kibum khawatir, juga karena ia sempat meninggalkan Chunsoo sendirian. Tapi ia terlalu takut untuk mulai bicara. Ia takut Kibum masih marah padanya.
“Aku sudah tidak marah padamu, hyung.” Kata Kibum tanpa melihat ke arahnya.
“M-mworago?”
“Aku sudah tidak marah. Soal yang tadi pagi, maupun soal luka ini, aku sudah tidak marah lagi. Soalnya aku sudah terbiasa dibuat khawatir seperti ini…” kata Kibum. Ia tersenyum saat mengatakan itu. Perlahan-lahan, beban di hati Jinki terasa menghilang. Jika Kibum sudah tersenyum, itu berarti sudah tidak ada yang perlu ia khawatirkan.
“Mianhae… aku beruntung punya dongsaeng sepertimu… tapi sepertinya kau sial sekali punya hyung sepertiku…” kata Jinki. Kibum tertawa.
“Sepertinya iya…”
Keduanya kembali terdiam. Kemudian Kibum bertanya.
“Sebenarnya, darimana kau dapat luka ini, hyung?” Tanya Kibum. Melihat ekspresi Kibum yang sudah melunak, Jinki merasa siap menceritakan petualangannya tadi siang. Jonghyun menggeser duduknya agar lebih dekat. Ia juga penasaran darimana Jinki mendapat luka seperti itu. Jinki pun menceritakan kejadian tadi siang, selengkap-lengkapnya, hingga ke bagian di mana ia menemukan Chunsoo di pos polisi.
“Jadi begitulah, wanita itu menyerahkan Chunsoo ke pos polisi dan aku menemukan dia di sana…” kata Jinki, mengangkat wajahnya dan menatap Kibum, kemudian ia menelan ludan. Jonghyun sudah bergerak menjauh. Jinki sendiri tidak bisa ke mana-mana, karena Kibum memegangi kakinya.
Di depannya, Kibum menatapnya dengan kedua mata memicing tajam, dan ekspresi wajah yang amat-sangat murka. Jinki kembali menelan ludah.
“LEE JINKI!!!! KAU INI!!!!!!!!” teriak Kibum, menekankan kapas antiseptik ke luka Jinki dengan amarah memuncak.
“AAAAAAAA!!!!!!”
Minho dan Taemin yang sedang menyusun menara kartu di kamar mereka kaget dan tanpa sengaja menumbangkan menara 10 tingkat itu.
Sementara di sebelah apartemen mereka, Hanbi yang saat itu sedang meminum coklat hangatnya tersedak. Ia kaget mendengar teriakan Jinki.
“A-apa-apaan sih mereka itu?” gerutu gadis itu, mengelap mulutnya yang belepotan coklat.

14 responses to “OH!! A Baby!? (Part 4 : Sangtae-Sangtae-Sangtae)

  1. Ya ampun onew.. sangtaenya tuh ga bisa lepas dari dia..^^
    Tapi kerenan onew d sini daripada d HB.. d sini dia masih mau gendong chunsoo, d HB ga..*ike: ya iyalah, namanya juga ff..==”*

  2. waduuh… reader smua…
    maap… lanjutannya masih diketik ulang gara2 foldernya ilang…
    jadi agak lama T^T

    nomu nomu mianhae…
    *kerja rodi nyelesein lanjutannya*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s