[FF-Series-PG15] VIVID CHAPTER 7 (starring Lina & Jaejoong)

NO SILENT READING IN MY FANFIC!
AFTER YOU READ, LEAVE THE COMMENT.
thank you.

My Other Fanfic(s) :

[FF-Oneshot-PG] Midnight Note (starring Yoochun & BoA)
[FF-Oneshot-G] I Love My Brother (starring Chinen Yuuri)
[FF-Oneshot-PG] Unreadable Note

_______________________________________________

VIVID’s Previous Chapter(s) : 01 | 02 | 03 | 04 | 05 | 06

Title : VIVID
Author : Dila (di LA —SAFE, BoA-Indo, Sujunesia, TVXQ-Indo—)
Rating : PG-15
Pairing : Lina ♥ Jaejoong
Cast : CSJH The Grace, TVXQ, BoA
Location : Japan
Length : Chaptered
Genre : Romance, Comedy
Language : Indonesia
A/N :
– Fic ini ditulis dalam Bahasa Indonesia, dan sedikit bahasa dan istilah-istilah Jepang
– Jika ada Bahasa Jepang, langsung diterjemahkan di sampingnya
– Dalam fic ini, lokasi ada di Jepang, bukan di Korea
– Penulisan nama seperti Jaejoong dan Yoochun akan menyesuaikan dengan penulisan nama mereka di Jepang

CHAPTER 7

Aku membuka mataku perlahan. Berusaha melihat ke sekitar, tapi benar-benar buram. Ah, mari mencoba mengenali benda-benda di sekeliling! Yang di atas itu… lampu? Ah… benda kotak itu pasti lemari! Tapi itu bukan lemariku. Mmm, itu pasti meja belajar. Heh? Sejak kapan aku menata rapi mejaku? Dan di gantungan itu jelas-jelas bukan bajuku. Dan orang yang sedang memandangiku itu… Jaejung? Oooh, jadi aku di kamar Jaejung? Baka, kenapa tidak sadar dari tadi?
Aku memejamkan kembali mataku setelah mengetahui di mana aku. Heh? Tunggu! KAMAR JAEJUNG??? Aku membuka kembali mataku, dan langsung sadar 100%. Kemudian aku duduk. Aaargh, kepalaku sakit sekali.
“Sudah bangun?” tanya Jaejung yang sepertinya dari tadi mengamatiku seperti mengamati metamorfosis ulat menjadi kupu-kupu.
“T-tunggu… kenapa aku di sini?” gumamku.
“Coba ingat-ingat lagi kejadian tadi malam…” kata Jaejung sambil keluar dari kamar ini.
Well, aku pergi dengan papa dan mama ke pesta keluarga Kwon, yang ternyata adalah keluarga Boa. Kemudian Jaejung dan Boa ngobrol di dunia mereka sendiri, dan seakan tidak ingat kalau aku ada di sana. Lalu aku pura-pura ke toilet. Lalu… lalu… sial, aku tidak ingat apa-apa… apa yang kulakukan setelah le toilet?
Aku buru-buru turun dari ranjang dan berusaha berdiri tegak, walau kepala ini masih pusing. Tunggu… hanya perasaanku saja atau memang kakiku terasa… mmm… terbuka? Aku menatap diriku sendiri. HAAAH? Kenapa aku memakai kaos kebesaran? Masih tidak percaya, aku berdiri di depan cermin. Aku mendapati diriku hanya memakai kaos yang panjang lengannya melebihi siku, lebarnya dua kali lebar tubuhku, dan panjangnya se-pahaku. Tanpa bawahan. Tanpa… bawahan…?????
“JAEJUUUUUUNG!!!!” teriakku.
“Apa sih pagi-pagi teriak,” tanya Jaejung sambil menghampiriku.
“Ke… ke… kenapa aku hanya memakai kaos? Gaunku mana??? Jangan-jangan… jangan-jangan kau tadi malam… KYAAA!!! Padahal aku hanya ingin melakukannya dengan orang yang benar-benar kucintai! Berani sekali kau melakukannya padaku!!!” teriakku panik.
“Hei hei… tenang dulu dong!” kata Jaejung sambil memegang bahuku. Aku langsung menepisnya.
“JANGAN SENTUH AKUUU!!!” teriakku.
“Astagaaa… aku tadi malam tidak melakukan apa-apa padamu! Kau saja yang hentai , langsung berpikir ke arah ‘sana’!” kata Jaejung. (A/N : hentai = pervert/ngeres)
“Lalu…?”
“Kan kau sendiri yang minta ganti. Lalu aku berikan kaosku, dan kau ganti sendiri,” kata Jaejung.
Ha?
Aku merasa seperti terkena amnesia. Kenapa aku tidak ingat apa-apa?
“Jangan-jangan kau tidak ingat yang terjadi tadi malam?” tanya Jaejung. Aku melongo. Aku benar-benar tidak ingat apa yang terjadi tadi malam!
“T-tunggu, Jaejung-kun… tadi malam aku…”
“Tadi malam kau minum wine. Lalu kau mabuk. Tidak heran sih kalau kau tidak ingat,” kata Jaejung sambil melepas piamanya di depanku—tanpa malu-malu.
“Wine?” tanyaku sambil menutup mata dengan kedua telapak tangan.
“Kau kira itu sirup, lalu kau minum. Aku sendiri heran, kau bisa mabuk padahal kadar alkohol wine kan tidak begitu tinggi,” kata Jaejung. Aku mengintip di sela-sela telapak tanganku. Gyaaa, dia masih telanjang dada.
“Lalu kenapa aku ada di apartemenmu?” tanyaku.
“Habis aku tanya mana kuncinya kau bilang tidak tahu. Terpaksa aku bawa ke sini,” kata Jaejung. “Aku sudah selesai ganti baju kok,” lanjutnya.
Aku membuka mataku dan menyingkirkan telapak tanganku dari wajah, merasa sudah aman untuk melihat Jaejung. Tapi… Jaejung masih memakai boxer!
“GYAAA!!!” aku menutup mata lagi. “Kau bilang sudah ganti bajuuu!!!” teriakku.
“Memang iya. Kan aku tidak bilang sudah ganti celana. Hehehe,” kata Jaejung. “Oh iya. Kau tidak usah masuk sekolah dulu, ya.”
“Kenapa?”
“Jelas-jelas kau masih pusing,” kata Jaejung. “Istirahat saja dulu di sini sampai aku pulang. Ya?” kata Jaejung sambil mendorongku sampai aku terbaring di tempat tidurnya sekali lagi. Aku membuka mataku. Jaejung tersenyum, lalu menyelimutiku.
Saking bingungnya, aku hanya menurut. Beberapa menit kemudian, Jaejung pergi ke sekolah. Aku mencoba sekali lagi, mengingat kejadian tadi malam. Rasanya ada yang mengganjal. Aku hanya ingat sampai aku makan dan minum banyak sekali gara-gara dicuekin Jaejung dan Boa.
T-tunggu… jangan-jangan selama mabuk aku bicara yang aneh-aneh?! Gawaaat… apa orang tuaku tahu kalau aku mabuk? Oh iya orang tuaku!!! Aku buru-buru mencari cellphoneku, tapi aku tak perlu bangun dari tempat tidur. Cellphoneku tepat di meja sebelah tempat tidur. Aku langsung menelepon mama.
“Moshi-moshi, mama?”
“Lina? Ada apa?” tanya mama.
“Mama di mana?” tanyaku.
“Di Osaka. Kan mama kemarin sudah bilang kalau ada urusan mendadak,” jawab mama.
“Hah? Kapan?”
“Lho, kau ini bagaimana sih? Waktu itu kau kan ngobrol di depan air mancur bersama Jaejung. Kau sendiri yang bilang hati-hati di jalan. Eh sudah ya, mama sibuk sekali di sini. Jaa~” sambungan terputus, dan sekali lagi aku bengong.
SEBENARNYA APA YANG AKU LAKUKAN TADI MALAAAM?!!

Setelah berjam-jam berbaring di tempat tidur Jaejung, mengingat-ingat apa yang terjadi tadi malam, akhirnya aku menyerah dan menerima kalau aku tidak bisa mengingatnya. Bahkan apa yang diberitahu mama tidak bisa kuingat. Aaah, sudahlah! Aku menyerah!!!
Aku bangkit dari tempat tidur. Kemudian aku mengambil barang-barang dan gaunku. Untuk apa aku berlama-lama di sini. Aku kan punya kamar sendiri. Masih memakai kaos Jaejung, aku membuka pintu apartemen Jaejung, dan merasa Tuhan sangat senang mengejutkanku pagi ini. Di depan sudah ada seorang laki-laki dan wanita—yang sepertinya suami-istri.
“Maaf, ini apartemen Jaejung?” tanya wanita itu. Aku buru-buru menutupi pahaku dengan barang-barang yang aku bawa.
“Ah, hai, sou desu. Benar, ini apartemen Jaejung. Maaf, Anda siapa ya?” tanyaku tak nyaman—ini berkaitan dengan “kostum” yang aku pakai.
“Kami orang tua Jaejung,” jawab wanita itu. Eh? Jangan-jangan mereka orang tua kandung Jaejung?!
“Anooo, Jaejung masih ada di sekolah,” kataku.
“Iya, kami juga baru sadar kalau Jaejung pasti sekolah. Kamu pacar Jaejung?” tanya wanita itu.
“EEEH?! TENTU SAJA BUKAN!” teriakku. Lalu aku buru-buru menutup mulutku. Saking kerasnya suaraku, tetangga yang sedang di depan apartemen sampai menoleh. “Sumimasen. Maaf.”
“Ah, tidak apa-apa. Ah, onamae wa? Nama kamu?” tanya wanita yang mengaku ibu Jaejung itu.
“Lina tomoushimasu,” jawabku.
“Jaa, Lina-chan… kami permisi dulu. Lain kali kami datang lagi,” mereka membungkuk, dan aku membalasnya. Lelaki dan wanita itu berjalan menjauh.
Oke, saatnya aku kembali juga. Tetangga masih mengawasiku. Aku tetap nyengir dan tetap menutupi kakiku. Dan sayangnya bagian belakang tentu saja tidak tertutupi. Aku berjalan miring—dan menempel tembok—layaknya kepiting, menuju apartemenku yang untungnya tepat di sebelah apartemen Jaejung.

DING DONG…
Belku berbunyi. Aku baru saja mandi, dan hanya memakai baju mandi. Mana mungkin aku membukakan pintu dengan pakaian seperti ini?!
“SIAPAAA?” teriakku dari ruang tengah.
“Si cakep Jaejung,” jawab suara itu. Oh, Jaejung. Aku membukakan pintu, dan mata Jaejung langsung membulat melihat kostumku kali ini.
“Ada apa, pulang sekolah langsung kemari?” tanyaku sambil duduk di sofa dan mengeringkan rambutku dengan handuk.
“Hm, kau tidak ada di apartemenku, jadi aku bingung. Barangkali kau diculik atau apa,” kata Jaejung sambil duduk di sampingku.
Diculik?! Hiiih, masih mending diculik, daripada diapa-apakan olehnya. Uwaaa, aku jadi tidak yakin dia tidak melakukan apa-apa padaku tadi malam. Aku bego juga sih, tidak ingat apa-apa. Sebenarnya apa yang terjadi sih? Kenapa aku bisa mabuk? Mabuk… huh, membayangkan saja aku tidak pernah. AAAH!!! Jangan-jangan akulah yang melakukan atau mengatakan hal yang aneh-aneh pada Jaejung.
“Ne, Jaejung-kun… tadi malam aku bilang sesuatu yang aneh, tidak?” tanyaku takut-takut.
“Sesuatu yang aneh? Misalnya?”
“Sesuatu yang tidak biasa kuucapkan. Waktu itu aku mabuk, aku sama sekali tidak ingat apa yang aku lakukan dan aku ucapkan,” kataku. “Jadi?”
Jaejung mencoba mengingat-ingat. Tidak. Dia seperti sedang berpikir. Perlahan, dia menolehkan kepalanya ke arahku, memandangku lekat-lekat.
“Lina… kau sungguh tidak ingat apa-apa?” tanya Jaejung pelan. Eh? Kenapa jadi serius begini? Barusan dia tidak memanggilku ‘Lina-chan’. Itu tandanya Jaejung sedang serius. Glek. Apa yang sebenarnya aku lakukan tadi malam?
“Aku tidak ingat apa-apa,” jawabku jujur. “Nee! Apa aku melakukan sesuatu yang memalukan?!”
Jaejung tersenyum. “Iie. Tidak. Setelah minum kemarin, kau langsung pingsan. Lalu orang tuamu ada keperluan, jadi aku membawamu pulang. Sampai di sini, aku membangunkanmu untuk minta kunci dan ganti baju, lalu kau tidur lagi.”
“Eh? Benarkah?”
“Tentu saja. Ya sudahlah, aku tunggu makan malamnya ya. Daaagh,” kata Jaejung sambil berdiri dan kembali ke apartemennya.

Huff… untunglah aku pingsan. Bayangkan kalau aku bicara yang aneh-aneh. Bisa jadi bahan ledekan seumur hidup!

***

Keesokan harinya ketika masuk kelas, tanganku langsung ditarik Dana, Sunday, dan Stephanie ke pojok kelas.
“Ada apa sih pagi-pagi begini?” tanyaku.
“Kau tidak apa-apa???” tanya mereka bebarengan.
“Apanya?” tanyaku.
“Kau tidak baca majalah dinding?” tanya Sunday. Aku menggeleng. Mana pernah aku membaca majalah dinding?!
“Ada apa sih?” tanyaku. Tanpa bicara, Dana langsung menarikku dan membawaku ke depan majalah dinding. Aku pikir Tuhan sudah puas mengejutkanku kemarin. Ternyata Tuhan ingin lebih!!!

Di papan mading tertempel foto besar Jaejung sedang menggendong Boa. Mereka berdua memakai seragam olahraga, dan di belakang mereka terlihat ring basket. Mereka terlihat… mesra. Hatiku serasa ditusuk oleh benda yang lebih tajam dari pedang, lebih dingin dari es. Pandanganku langsung kosong.
“Kemarin saat kau tidak masuk, kami bermain basket, dan kaki Boa terkilir. Lalu Jaejung…” Dana berusaha menjelaskan, tapi aku tidak ingin mendengarnya.

Tanpa sepenuhnya sadar, aku berjalan kembali ke kelas. Hatiku sakit membayangkan Jaejung menawarkan diri untuk mengantar Boa ke Ruang Kesehatan. Hatiku sakit membayangkan tangan Boa bergelayut di leher Jaejung. Aku merasa semua yang dikatakan Jaejung selama ini adalah BOHONG. Atau aku yang terlalu berharap? Apakah aku bodoh menganggap akulah yang spesial di antara cewek-cewek yang biasa digoda Jaejung?

Aku duduk di bangkuku. Sunday, Stephanie, dan Dana mengelilingiku.
“Ne, jangan-jangan kau cemburu?” tanya Sunday.
“Iie. Tidak,” jawabku singkat.
“Ekspresimu parah sekali…” kata Stephanie.
“Kalau kau mau Boa menjauhi Jaejung, aku akan coba bicara dengan Boa,” kata Dana—yang belakangan ini memang selalu bersama Boa.
“Arigatou, Dana. Tidak perlu repot-repot. Lagipula Jaejung bukan siapa-siapaku. Mau dia menggendong Boa, mau dia menggendong Yunho, mau dia menggendong gajah, itu bukan urusanku kan?” kataku berusaha cuek.
“Hmm, baiklah. Kalau ada apa-apa, bilang saja pada kami. Ne?” tawar Stephanie sambil menepuk punggungku. Aku tersenyum dan mengangguk padanya.

Ah, semua cowok ramai. Pasti Boa datang. Aku melirik ke pintu. Tuh kan, Boa datang. Tanpa kusadari, aku mengawasi gerak-geriknya. Uwah, pagi-pagi begini dia sudah menghampiri Jaejung! Aku berusaha mendengarkan pembicaraan mereka. Aah, tidak dengar. Mereka membicarakan apa?
“Hyuu hyuuuu… suiit suiiit…” tiba-tiba anak laki-laki menggoda Jaejung. Aku makin penasaran. Boa terlihat malu-malu, dan akhirnya masuk kelas. Setelah meletakkan tas, dia menuju ke bangkuku.
“Lina-chan, daijoubu? Kau baik-baik saja? Kemarin kau tidak masuk, aku jadi khawatir,” tanya Boa ramah. Eh? Dia menanyakan keadaanku? Dia khawatir padaku? Aku… jadi merasa tidak enak sudah berpikir yang aneh-aneh. Padahal Boa sangat baik padaku.
“Lina-chan?” panggil Boa.
“Da-daijoubu…” jawabku pelan. “Kemarin hanya… sedikit pusing.”
“Ah, yokatta… syukurlah kalau begitu.”

Kemudian bel masuk berbunyi. Mereka berempat kembali ke tempat masing-masing. Selama pelajaran, aku malah melamun. Aaah, akhir-akhir ini aku sering melamun. Ini tidak seperti Lina yang biasa! Lina yang dulu sangat bersemangat mengikuti pelajaran. Sejak kedatangan Jaejung… Lina jadi berubah. Aku melirik ke sebelah. Kenapa dia bisa mengubahku sampai seperti ini?

TEEET. Bel makan siang berbunyi.
“Ne, Lina-chan… bolehkah aku makan siang bersama kalian?” tanya Boa saat aku, Sunday, dan Stephanie menggabungkan 4 bangku jadi satu. Aku memaksakan diri tersenyum.
“Tentu saja boleh.”
Boa dan Dana bergabung, lalu kami memakan bentou bersama.
“Lina-chan. Maafkan kami, menyediakan alkohol di pesta kami. Padahal aku kan mengundang kalian, dan kita masih di bawah umur. Aku tidak menyangka kau meminumnya,” kata Boa.
“Eh? Kenapa kau tahu?” tanyaku sambil menghentikan kegiatanku.
“Kemarin Jaejung cerita. Kau pusing dan tidak masuk sekolah gara-gara meminum wine di pesta kami,” kata Boa.
JAEJUNG?! Berani-beraninya dia menceritakan ini kepada orang lain! CLACK! Saking marahnya, aku mematahkan sumpit.
“Li-Lina… sabaaar…” kata Dana. Stephanie, Boa, dan Sunday hanya bengong memandangku. “Mau pinjam sumpitku?” tawar Dana.
“Tidak, terima kasih. Aku tidak nafsu makan,” kataku sambil menutup bentou. Kemudian aku ke kamar kecil untuk mencuci tangan. Tapi aku tidak langsung kembali ke kelas. Aku berdiri di depan cermin. Aaah, kenapa mukaku jelek sekali kalau marah?! Aku mencoba tersenyum. Sedetik kemudian aku cemberut lagi. Duuuh, kenapa sih tidak ada yang bisa membuatku tersenyum sejak kedatangan Jaejung?! Aaah, sudahlah! Kembali ke kelas saja!

Sampai di apartemen pun, saat makan malam, aku tetap cemberut pada Jaejung. Entah untuk alasan apa. Aku benar-benar tidak tahu mengapa aku marah. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, di sekolah aku tidak berbicara dengan Jaejung. Dan kini, kami duduk di apartemenku, masih dalam keadaan diam.
“Lina-chaaan… kau kenapa sih hari ini? Dari tadi cemberut. Kan jadi makin manis. Gawat kalau banyak cowok yang suka padamu…” kata Jaejung mulai menggodaku sambil memakan makanannya.
“Ne, bisakah kau berhenti menggodaku? Aku sudah capek, tau!” kataku tanpa memandangnya. Aku tidak berani memandang matanya. Aku takut amarahku hilang ketika aku memandang matanya.
“Jangan dingin begitu dooong… apa perlu kucium supaya kau tidak cemberut lagi?” tanya Jaejung.
BRAK!!! Aku menggebrak meja dan akhirnya aku memandang matanya.
“KETERLALUAN! Memangnya aku cewek apaan minta cium hanya untuk menghilangkah bad mood?! Dasar gombal! Apa kau berkata seperti itu juga pada Boa sampai-sampai dia kepincut denganmu?!” teriakku.
“T-tunggu, Lina…” Jaejung berusaha menyela, tapi aku meneruskan.
“Kau sadar tidak, sih, kata-katamu selalu saja menyakitiku! Kau kelihatan memandang rendah perempuan! Tidakkah kau tahu, ciuman itu sesuatu yang berharga bagi perempuan! Aku sampai heran bagaimana kau bisa merebut hati Boa,” ledakku. Akhirnya aku mengeluarkannya!
Jaejung terdiam sejenak, lalu memandangku lekat-lekat. Aku benci pandangan Jaejung yang seperti ini! Seakan dia bisa melihat menembus diriku, seakan dia bisa membaca pikiranku. Aku menghindari pandangannya.
“Lina… kau cemburu?” tanya Jaejung pelan.
“Ce-cemburu?! Te-tentu saja… tidak…” jawabku grogi.
“Satu kata darimu, dan aku akan menjauhi Boa,” kata Jaejung serius. Aku mengangkat mukaku. Apa maksudnya? “Aku kan sudah bilang, aku suka padamu. Kalau kau ingin aku menjauhi Boa, aku akan melakukannya.”

CHAPTER 7 おしまい

20 responses to “[FF-Series-PG15] VIVID CHAPTER 7 (starring Lina & Jaejoong)

  1. Pingback: [FF-Series-PG15] Boys & Girls Chapter 1 « FFindo·

  2. Pingback: [FF-Series-PG15] Boys & Girls Chapter 2 « FFindo·

  3. Pingback: [FF-Series-PG15] VIVID CHAPTER 14 (starring Lina & Jaejoong) « FFindo·

  4. Pingback: [FF-Series-PG15] VIVID CHAPTER 15 (starring Lina & Jaejoong) « FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s