OUR BABY – Chapter 1 (FF/SERIES/PG 13)

Our Baby

Image and video hosting by TinyPic

Cast :
-Choi Hae Rin
-Lee Jinki a.k.a Onew
-Kim Kibum a.k.a Key
-Another SHINee’s member
Length : Series (chaptered)
Rating : PG 13
Genre : General, Romance
Disclaimer : The cast is not mine, but this fanfic is MINE!!!

Inspired by : from fanfic with title “Mommy, Baby, and Daddy” and the sequel, “The Only Reason”
Summary :
“Siapa ayahnya? Bukannya kau belum menikah? Sejak kapan kau tau kalau kau hamil? Lalu bagaimana dengan kariermu?” tanya dengan beruntun tapi aku bisa menebak dibalik suaranya itu ada suara kepanikan meskipun ia mencoba tenang.

Enjoy ^^

xXxXxX

Chapter 1 – I’m Pregnant, Oppa…

“Oppa, bisakah kita bicara sebentar?” tanyaku pada seseorang yang sekarang sedang berkutik dengan tas ranselnya, seperti mencari sesuatu.
“Hm? Kau mau bicara apa? Bicara saja,” jawabnya dengan enteng dan masih dengan tas ranselnya.
Aku menghela nafas sebentar, mencari kata yang pas untuk mengatakan hal yang penting ini. Aku takut ia akan emosi saat aku mengatakan ini. Tapi, ku harap ia akan baik-baik saja, lagipula sepertinya ia sedang good mood.
Aku memandangi wajahnya itu lalu turun kearah bibirnya yang sesekali menggumamkan sebuah nada lagu, lagu kesukaanku, lagu yang selalu kami nyanyikan bila kami bersama. Ia lalu menatapku sambil tersenyum lalu ia mulai mengumandangkan lagu dihadapanku.

“That forever more I’ll be the one to love you, to love you…
When you need me, I’ll be there to make you smile…
That forever more I’ll be the one you come to, oh honey…
I’ll be the one to love you when the morning comes…”

Aku tersenyum lembut saat ia berhenti bernyanyi sekarang ia tersenyum lebar padaku seperti meminta komentar untuk suaranya yang lembut tadi. Aku tertawa kecil melihat tingkahnya itu.
“Suaramu selalu saja membuatku meleleh oppa… Suaramu mulus, oppa!” ungkapku padanya sambil mengancungkan jempolku padanya. Ia kembali tersenyum lebar lalu segera memelukku dengan erat.
“Terima kasih… Aku takkan pernah berhenti memberikan sebuah nyanyian padamu, kapanpun itu.”
Aku mengangguk dalam pelukannya itu sambil menaruh kepalaku dibahunya yang kekar itu. Aku melingkarkan tanganku di lehernya sambil mengeratkan pelukanku padanya. Aku bisa merasakan nafasnya yang hangat berhembus di leherku, ia tampak menikmati pelukan ini. Dan aku rasa ini adalah saat yang pas untuk mengatakannya. Aku yakin semuanya akan baik-baik saja.

“Oppa?” panggilku padanya.
“Ya?”

Aku menarik nafas pelan tanpa melepaskan pelukan itu.

XxXxXx

“Oppa… aku… hamil…”

Akhirnya aku katakan juga. Susah sekali rasanya mengeluarkan kata-kata sederhana seperti ini. Lega rasanya, tapi kenapa jantungku malah berdetak dengan keras. Pelukannya juga terasa melonggar ditubuhku, apa ia syok dengan kata-kataku ini? Oh, Tuhan… Semoga ia menerima kenyataan ini.

Aku bisa merasakan ia mulai melepaskan pelukan kami. Lalu ia menatapku lurus-lurus. Cahaya matanya yang berwarna hitam gelap itu mencoba menembus cahaya mataku. Aku perhatikan dengan benar, aku bisa melihat bayangan wajahku di matanya itu. Tak lama kemudian tatapan matanya berubah menjadi tatapan tak menyenangkan padaku.

“Siapa ayahnya? Bukannya kau belum menikah? Sejak kapan kau tau kalau kau hamil? Lalu bagaimana dengan kariermu?” tanya dengan beruntun tapi aku bisa menebak dibalik suaranya itu ada suara kepanikan meskipun ia mencoba tenang.

“Oppa, kau adalah ayahnya. Aku memang belum menikah, tapi… bukannya kita pernah melakukan hal hubungan ‘itu’? Aku mengetahuinya sejak tadi pagi, aku sudah merasakan tanda-tanda bagaimana orang hamil itu sebelumnya. Dan… untuk karierku sebagai model… aku belum memikirkannya, tapi mungkin aku akan mengambil cuti?” jawabku.

PLAK!

Sebuah tamparan mendarat dengan sukses di pipiku kananku. Pipiku yang awalnya memang berwarna merah muda karena blush on yang aku pakai, sekarang malah menjadi merah menyala.
Mataku membelalak besar. Tak percaya dengan apa yang telah ia lakukan padaku. Ia menamparku! Bayangkan, ia tak pernah melakukan seperti ini selama kami bersama! Jangankan menamparku, memarahiku saja ia tak pernah!
Aku memegangi pipiku yang tadi ia tampar. “Oppa?” Dengan berani aku menatap matanya. Dengan terkejutnya aku melihatnya, matanya sudah berubah menjadi kebencian dan seperti menatapku dengan… jijik?!
Ia lalu membereskan isi ranselnya , setelah selesai ia menggendong ranselnya itu dan sekali lagi ia menatapku dengan kebencian dan masih dengan tatapan menjijikkan padaku…
“Tch!” Aku bisa mendengar dengan jelas ia mendecak kesal lalu berjalan menjauhi sambil menabrak bahuku dengan kasar hingga aku terhuyung ke samping.

Aku mencoba menghentikan langkahnya karena pembicaraan kami belum selesai dengan menahan lengannya. Aku butuh pertanggung jawaban darinya. Karena ia satu-satunya penyebab aku menjadi seperti ini, aku sangat butuh pertanggung jawaban dan perlindungan darinya.

Ku mohon, Lee Jinki…

Aku menatapnya dengan sedikit mata berkaca-kaca, sejak ia menamparku tadi aku sudah ingin meneteskan airmata. Ia sudah hampir keterlaluan! Ia kekasihku, kami melakukan hubungan itu karena kami sudah sepakat sebelumnya. Dan sekarang ia malah mau meninggalkanku begitu saja?! Oh, Tuhan… Ini seperti bukan dirinya saja…

“Apa?” tanyanya dengan dingin, tak ada lagi suara lembutnya padaku.

“Aku butuh pertanggung jawaban, oppa…”

Aku mencoba mengeraskan genggamanku padanya, tapi sepertinya kekuatan seorang perempuan memang lemah. Ia dengan mudahnya melepaskan genggamanku bahkan ia melepaskannya dengan kasar.

“Kalau kau ketauan hamil, bilang saja kau diperkosa oleh orang tidak dikenal. Jangan pernah sekali-sekali menaruh namaku dalam masalah ini. Kita putus!” katanya dengan dinginnya padaku.

Hah? Putus? Aku tidak salah dengar kan?

“Hah? Oppa tidak bercanda kan? Oppa minta putus? Oppa mau meninggalkanku? Oppa tidak bertanggung jawab atas apa yang telah kita lakukan?!” kataku yang diakhir kalimat meninggikan nada suaraku.

“Kau cari saja orang yang mau bertanggung jawab dengan keadaanmu itu! Jangan aku! Jangan bawa-bawa namaku! Kau kan punya fans yang mampu mengucapkan ‘aku adalah ayah dari bayi yang dikandung oleh model yang bernama Choi Hae Rin’. Ya kan?!” teriaknya padaku tepat di depan wajahku.
Aku memejamkan mataku saking takutnya. Mata itu tidak lagi menunjukkan kelembutan dan polosnya padaku. Suaranya tidak lagi menyuarakan nyanyian lembut dan kata-kata manis lagi padaku. Ia sekarang berteriak dengan nyaringnya hingga tak terasa aku sudah menitikkan airmata.
Sebelumnya aku tidak pernah menitikkan airmata tepat di hadapannya. Aku selalu dikenal gadis yang tegar oleh siapapun, sekalipun aku mempunyai masalah aku takkan pernah mengeluarkan tetesan airmataku dihadapan orang-orang ataupun dihadapannya. Tapi sekarang… Aku sudah tidak kuat lagi menahannya. Ketegaranku selama ini sudah hancur, lebur, hanya karena teriakan dan tatapan kebenciannya padaku.

Aku membukakan mataku sedikit sambil membekap mulutku, berusaha agar tidak berteriak meskipun lorong di gedung agensiku itu sunyi. Saat aku perlahan menurunkan tanganku dari mulut, Onew dengan segera menggantikan tanganku tadi. Ia mungkin takut isakanku yang keras itu terdengar.

“Hey, jangan menangis, bodoh!” teriaknya pelan.
Aku mematuhi perkataanya dan Onew melepaskan tangannya dari mulutku. Tapi aku masih melanjutkan tangisan, meskipun berusaha untuk tidak menangis lagi. Mencoba menghapus tiap aliran airmataku rasanya susah sekali, airmataku tidak henti-hentinya mengalir. Oh, Tuhan…

“Tch!”

Onew lagi-lagi berdecak. Rasanya kepribadiannya saat ini sangat berbeda dari yang kukenal selama ini. Ia sangat berbeda… Sangat berbeda malah…
Onew mulai berjalan menjauhiku, pandanganku yang agak kabur akibat airmataku, hanya bisa menatap punggungnya yang semakin lama semakin menjauh.

Tak lama kemudian aku mendengar teriakan frustasi Onew dari kejauhan. “ARRGGHHHH!!!”

XxXxXx

Aku menyandarkan tubuhku di tembok gedung itu, lalu merosotkan tubuhku sambil terus menangis tentunya. Menangisi kepergiannya, menangisi karena tak ada yang mau bertanggung jawab dengan keadaanku, menangisi semua masa laluku, menangisi semuanya!
Dress summer-ku yang berwarna putih ini sekarang basah akibat tangisanku. Aku sudah tidak peduli lagi, aku menangis sambil terisak-isak. Tak peduli lagi kalau dress yang basah ini adalah milik agensi dimana aku akan melakukan pemotretan majalah terkenal yang tentu saja partnernya adalah Onew dan member SHINee yang lain.

Yah… Onew dan aku adalah sepasang kekasih. Hubungan kami sebenarnya hanya diketahui oleh agensi hiburan kami masing-masing, bisa di bilang, hubungan kami tidak pernah diketahui oleh fans-fans kami masing. Tapi, aku juga tak tahu, mungkin beberapa netizen dan paparazzi atau stalker kami ada yang mengetahui hubungan kami tapi mereka berjanji takkan mengubarkannya karena mulut mereka sudah ditutup dengan uang yang diberikan oleh agensi kami. Yah, kehidupan di dunia hiburan memang selalu seperti itu juga sih…
Sekarang masalahnya adalah, bagaimana aku menutupi kehamilanku ini? Aku tidak mungkin selamanya menutupi kehamilanku ini. Aku bekerja sebagai model dan tidak lama lagi aku akan debut sebagai aktris di sebuah drama yang di kelola oleh sutradara terkenal. Lagipula, aku tidak mungkin mengasingkan diriku selama aku hamil, aku harus memenuhi kebutuhan hidupku sehari-hari. Yang menjaga diriku juga tidak ada, aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Kalau aku mengadu ke Ayah atau Ibu, yang ada aku tidak akan diakui sebagai anak mereka lagi. Dengan sahabat? Aku tidak ingin merepotkan mereka, aku sudah terlalu capek untuk merepotkan orang untuk menutupi hubunganku dengan Onew, masa mereka sekarang bertanggung jawab menutupi kehamilanku yang di luar nikah?
Oh, Tuhan… Aku harus bagaimana?

Aku masih terisak-isak di lantai gedung yang dingin itu. Tapi samar-samar aku mendengar langkah sepatu yang mendekat kearahku. Aku tidak bisa melihat sosoknya saat itu karena saat itu aku sedang membenamkan kepalaku diantara kedua lututku.
Tak lama kemudian suara langkah itu tepat berhenti di depanku. Aku sedikit mengangkat kepalaku, lalu menyibakkan poniku ke samping, tapi rasanya itu tidak cukup untuk merapikan rambutku yang sekarang acak-acakan karena frustasi.

“Hei…” sapa si pemilik langkah yang sekarang berada di depanku. Suaranya tampak familiar di telingaku.
Aku kembali mengangkat kepalaku dan akhirnya dengan posisi sempurna untuk menatap seseorang yang sudah berjongkok di hadapanku. Aku lihat seorang laki-laki dengan t-shirt putih dengan gambar-gambar abstrak di tengahnya. Poninya yang berwarna ungu-kemerahan itu hampir menutupi mata sebelah kanannya, tapi aku masih bisa melihat bola matanya yang dihiasi dengan kontak lensa berwarna abu-abu. Ia awalnya tersenyum ramah padaku tapi ketika aku menampakkan wajahku yang sembab, guratan senyum itu menghilang seketika.
“Hae Rin-ssi?” tanyanya heran.
Aku menggigit bibir bawahku supaya tidak menampakkan mataku yang bersiap-siap akan mengeluarkan airmata lagi.
“Annyeong haseo, Key-ssi…” kataku pelan tapi lebih tepatnya itu berbisik padanya.

“Kau baik-baik saja?”

Tidak, aku tidak baik… Aku hancur, aku lebur, aku pasrah, aku kesepian, aku frustasi, aku stres, aku butuh perlindungan…

“Yeah, aku baik-baik saja.” Aku mencoba berdiri tapi Key yang berada di depanku sudah terlebih dahulu berdiri dan mengulurkan tangannya untukku. Tapi, aku menghiraukannya…
Tapi tubuhku malah terhuyung ke belakang, aku merasakan pandanganku sedikit kabur dan kepalaku sakit sekali. Aku bisa merasakan tangan Key yang menaruh tangannya di pinggulku, berusaha menahan beban badanku hingga aku tidak terhempas kearah tembok.
“Hhh… Sepertinya kau merasa tidak baikan ya? Aku panggilkan Onew hyung ya!”

Onew? Si brengsek itu? Hah! Jangan pernah menyebut nama si brengsek itu di hadapanku atau terdengar oleh telingaku. Aku sudah muak!

“Ugh! Tidak usah, Key-ssi… Kau cukup panggilkan manajerku saja,” ujarku sambil melepaskan tangan Key dari pinggulku. Aku mengalihkan pandanganku, tersipu malu. Tapi sekilas aku juga melihat Key tersipu malu, kedua pipinya sedikit menyiratkan warna merah muda, seperti memakai blush on tetapi sedikit lebih merah.

Melihat tingkahnya, aku sedikit terhibur. Ia mulai salah tingkah di hadapanku bahkan cara berbicaranya tergagap-gagap.

“O-oh… O-o-kay! Aku akan panggilkan manajermu. K-kau tunggu di sofa itu saja ya!”
Aku menoleh kearah Key yang sekarang berusaha menghindar dari tatapan mataku. Aku tertawa kecil melihatnya. Lalu mengarahkan langkahku ke arah sofa, tapi Key malah menuntunku kearah sofa itu seolah aku sewaktu-waktu akan jatuh lagi.

Tingkah lakunya mirip dengan Onew saat pertama kali aku mengenalnya. Ia begitu hangat dan begitu terbuka. Bisakah aku melihat senyum dan tingkah lakunya itu lagi? Baru setengah jam yang lalu aku melihat senyum itu, tapi aku sudah merindukannya. Ack! Apa-apaan aku ini? Bukannya aku sudah membenci si brengsek itu?! Ia sudah membuat hidupku hancur, tidak belum juga sebenarnya, asalkan ia sekarang di hadapanku dan mengatakan kalau ia akan bertanggung jawab, setidaknya hidupku lebih terjamin.

Saat tangan Key dan aku berpegangan, tiba-tiba seseorang dari belakang melepaskan genggaman diantara kami dengan kasar. Reflex terkejut, aku dan Key bersamaan membalikkan tubuh kami untuk melihat kearah belakang.
Mataku membelalak tak percaya sosok yang sekarang aku lihat. Seseorang yang sedaritadi aku harapkan ada dihadapanku untuk meminta pertanggung jawaban sekarang malah berdiri tepat di hadapanku dan Key.
Matanya masih menunjukkan kebencian padaku. Bahkan saat ia menatap Key, ia seperti bukan lagi seorang leader atau hyung yang hangat, ia menatap Key dengan berapi-api seperti ingin membunuh.

Onew dengan segera menarik tanganku dan berjalan menjauhi Key dengan langkah yang cepat. Ia menggenggam tanganku dengan keras hingga aku meringis kesakitan.
“Ugh! Onew, sakit! Lepaskan!” protesku padanya tapi ia malah terus berjalan dengan cepatnya hingga aku tidak bisa menyeimbangkan langkahku dengannya, ia terus menarikku entah kemana.
Aku menoleh ke belakang, menatapa Key dengan kejauhan dan memasang wajah untuk meminta pertolongan. Tapi sepertinya Key juga tidak bisa apa-apa, aku yakin ia takkan bisa mengalahkan mulut hyung-nya itu bila sedang emosi. Ia hanya bisa tersenyum pahit dari kejauhan.

Sekarang tatapanku menuju wajah Onew. Ku lihat matanya hanya bisa menatap jalan di depan dengan lurus, tetapi dengan berapi-api. Rahangnya mulai mengeras, bisa ku tebak ia sekarang sedang menggertakan giginya saking kesalnya dan frustasi. Tapi wajahnya yang tampan itu masih tidak bisa hilang, meskipun dalam hati aku menyumpah serapah pada si brengsek ini, tapi aku masih bisa terhipnotis oleh wajah dan matanya itu.

“Oppa! Lepaskan!” Ia masih saja tidak mendengarkanku. Kami terus berjalan cepat hingga sampai di parkiran gedung agensiku.

“LEE JINKI!!! LEPASKAN, BRENGSEK!!!”

Akhirnya, aku bisa berteriak kepadanya. Emosiku yang sedaritadi belum aku keluarkan baik itu dikepalaku atau dihatiku, sekarang lega rasanya. Oh, tidak, sepertinya belum. Sebelum si brengsek ini berlutut dan mempertanggung jawabkan semuanya.

Ia lagi-lagi menatapku dengan tatapan jijik kearahku. Aku masih minder dengan tatapan itu, tapi harus aku hadapi. Aku lawan dengan tatapanku dengan tatapan emosi untuk si brengsek itu.
“Lepaskan tanganku,” kataku dengan dinginnya. Ia melepaskannya.

Ia diam sambil mengarahkan pandangannya ke lain. Ia berkecak pinggang lalu tak lama kemudian ponselnya berdering. Ia lalu mengambil ponselnya itu dari kantong skinny jeans berwarna merahnya itu. Lalu menatap sebentar kearah layar ponsel itu, bisa kudengar decakannya saat ia melihat layar itu. Tanpa ragu-ragu ia menekan tombol berwarna merah alias menolak panggilan dari ponselnya itu. Setelah itu kembali menaru ponsel itu di kantongnya.
Ia masih saja diam dan mengarahkan pandangannya ke mana-mana. Ia seperti panik dan bingung. Aku menatapnya heran, aku yakin laki-laki dihadapannya itu ingin berbicara sesuatu tetapi tak ada satu katapun yang bisa ia ungkapkan. Apa kata yang akan ia ucapkan itu terlalu rumit?
Ia lalu memutar bola matanya kearahku.

“Apa mau-mu sekarang?” tanyanya dengan dingin.

“Heh, apa mau-ku sekarang?” Aku menghela nafasku dengan kesal. “Lee Jinki, aku hamil! Aku sekarang membawa seorang makhluk mungil di perutku! Ia hidup! Ia bernafas! Ia mungkin belum bisa menendang dinding perutku tapi aku bisa merasakan ada nyawa di sini! Ia hasil hubungan kita! Ia anakmu! Ia anak KITA!!!” teriakku padanya sambil terus memegangi perutku sendiri.
Ia dengan segera menutup mulutku dengan tangannya. “Jangan berteriak, bodoh! Apa jadinya kalau stalker atau paparazzi atau siapalah yang di sekitar sini, mereka akan melihat kita dan mendengar pembicaraan sesuatu yang mustahil bagi mereka.”
Dengan kasarnya aku melepaskan tangannya dari mulutku. “HAH! Aku tidak peduli! Biar semua tahu kalau seorang leader SHINee yang bernama Onew alias Lee Jinki telah menghamili kekasihnya tetapi ia tidak mengakuinya! Heh, aku bisa membayangkan kalau fans-mu nanti—“
“STOP, CHOI HAE RIN!!!” teriaknya padaku. Aku sedikit memundurkan posisiku tadi semula.
“Dengar, aku takkan pernah yang namanya bertanggung jawab atas makhluk itu. Siapa tau bayi itu adalah hasil hubunganmu dengan laki-laki lain?! Kau kan seorang model, kau kan mempunyai banyak fans, kau kan sering dikejar oleh orang-orang asing?! Kau juga sering pergi ke club malam kan?!” sambungnya.
Aku melotot padanya. “Dengar, Lee Jinki, aku tidak pernah yang namanya berhubungan dengan orang lain. Hanya kau! KAU!!!”

Brengsek! Kali ini dia menuduhku selingkuh? Dan berhubungan ‘itu’ dengan orang lain?! JERK!!!

“Okay, kalau kau tidak mau bertanggung jawab. Lihat saja besok, semua aibmu akan ku keluarkan! Tak ada lagi yang namanya Onew SHINee yang bertampang imut dan hangat. Semua fans-mu akan kecewa, leader Onew!” bahasku lagi.
Aku pun berjalan menjauhinya. Tapi ia malah menahan lengan tanganku.
“J-ja-jangan…” katanya pelan.

“Hoo… Kau menyerah dengan debat tadi?!”

Sial! Kenapa sekarang aku yang memberikan tatapan benci padanya.

“Jadi kau mau bertanggung jawab?” kataku pelan yang setelah itu diiringi helaan nafas panjang.

Ia menunduk, terlihat bingung tapinya. Tak lama kemudian ia menatapku dengan tatapan yakin dan kali ini aku mempunyai firasat buruk. Tatapan itu tidak biasa, ia pasti akan melakukan sesuatu yang tidak-tidak. Aku lalu mendengarnya menarik nafas.

“Aborsikan bayi itu…”

XxXxXxX

TBC

73 responses to “OUR BABY – Chapter 1 (FF/SERIES/PG 13)

  1. Omona Jinki ahh kik km gtu seh gg gentle bangett ahh -_-
    gg kayak bikin nya bareng” ehh uda hamil suruh digugurin :/
    jinki sunggguh tega nya diri mu , kkk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s