[FF-Series-PG15] VIVID CHAPTER 8 (starring Lina & Jaejoong)

NO SILENT READ IN MY FANFIC!
AFTER YOU READ, LEAVE THE COMMENT.
thank you.

My Other Fanfic(s) :

[FF-Oneshot-PG] Midnight Note (starring Yoochun & BoA)
[FF-Oneshot-G] I Love My Brother (starring Chinen Yuuri)
[FF-Oneshot-PG] Unreadable Note

_______________________________________________

VIVID’s Previous Chapter(s) : 01 | 02 | 03 | 04 | 05 | 06 | 07

Title : VIVID
Author : Dila (di LA —SAFE, BoA-Indo, Sujunesia, TVXQ-Indo—)
Rating : PG-15
Pairing : Lina ♥ Jaejoong
Cast : CSJH The Grace, TVXQ, BoA
Location : Japan
Length : Chaptered
Genre : Romance, Comedy
Language : Indonesia
A/N :
– Fic ini ditulis dalam Bahasa Indonesia, dan sedikit bahasa dan istilah-istilah Jepang
– Jika ada Bahasa Jepang, langsung diterjemahkan di sampingnya
– Dalam fic ini, lokasi ada di Jepang, bukan di Korea
– Penulisan nama seperti Jaejoong dan Yoochun akan menyesuaikan dengan penulisan nama mereka di Jepang

CHAPTER 8

Jantungku langsung berolahraga mendengar kata-katanya barusan. Bibirku tergoda untuk mengucapkan “Kalau begitu jauhi Boa…”, dengan begitu Jaejung tidak akan mendekati Boa lagi. Tapi apa hubungannya denganku? Itu sama saja aku mengatakan pada Jaejung bahwa aku menyukainya. Tidaaak! Di mana harga diriku?!

“Ka-kau tidak dengar ya apa yang aku teriakan tadi?! Kau… kau selalu saja menyakitiku! Tidak peka!” bibirku mengucapkan kata-kata yang tidak ingin aku ucapkan. Baka! Sudah, Lina! Tutup mulutmu sekarang!!! “A-aku kasihan dengan Boa… dia pasti sakit hati terus jalan denganmu.” MULUUUT, BERHENTILAH BICARA! Duuh bagaimana ini? Kenapa sih semua anggota tubuhku tidak mau menuruti apa yang aku perintahkan? Apakah kabel antara otak dan bagian tubuhku yang lain tidak tersambung dengan baik?!

Aku menunggu reaksi Jaejung. Aduh, pasti dia marah. Apa yang harus aku lakukan?
Detik-detik berlalu dengan sunyi. Sudah kuduga, aku harus minta maaf dan menarik kembali kata-kataku.
“Anooo—“
Jaejung memotongku. “Apakah… apakah di hatimu ada tempat untukku?”
“Eh?”
“Adakah aku di dalam hatimu? Tidakkah kau merasakan sesuatu ketika sedang bersamaku?” tanya Jaejung. Saking grogi dan bingungnya, aku hanya diam saja. Perasaan? Haruskah aku menanyakan pada guru bahasaku, berdebar-debar itu termasuk perasaan atau bukan? Mungkin beliau akan menjawab bahwa itu kata kerja, dan itu artinya aku kehabisan kata-kata untuk mengungkapkan perasaan ini.

Jaejung menunggu jawabanku, tapi aku tidak kunjung membuka mulut. Kemudian entah sejak kapan Jaejung duduk di sebelahku.
“Kau tidak merasakan apa-apa?” bisiknya. Jantungku makin berdetak kencang menyadari bahwa dia duduk tak kurang dari 10 senti dariku. Aku langsung berdiri menghindarinya.
“Tolong jangan dekati aku lagi…” kataku. “Kumohon…” pintaku. Jaejung tersenyum sedih.
“Jadi… itu jawabanmu?” tanya Jaejung. Aku hampir menitikkan air mata. “Baiklah… asal bisa membuatmu bahagia, apapun akan aku lakukan. Bahkan menjauhimu… jadi jangan menangis,” kata Jaejung, mengetahui aku hampir menangis. “Gochisousama” (A/N : gochisousama diucapkan setelah makan, sebagai bentuk terima kasih ^^. Kalau itadakimasu itu kan sebelum makan, nah, yang ini setelah makan)

Jaejung berdiri, kemudian menuju ke pintu. Aku mengikutinya. Ayo, sebelum dia keluar, bilang padanya kalau tadi hanya bercanda!
“Jae-Jaejung…” panggilku. Jaejung berhenti. Ayo, Lina! Katakan sekarang!
“Ada apa?” tanya Jaejung sambil tetap tersenyum seperti biasa.
“Ta-tadi orang tua kandungmu datang…” kataku. Baka! Kenapa malah bilang itu?! Bukannya kau mau bilang bahwa yang tadi itu hanya bercanda?!
“Oh, begitu. Thanks ya. Ja, oyasumi. Selamat tidur,” ucap Jaejung sambil membuka pintu dan keluar dari apartemenku.

Aku terduduk lemas di sofa.
Tolong jangan dekati aku lagi…
Karena dengan begitu dadaku tidak akan berhenti berdebar kencang…

Sebenarnya itu yang mau aku katakan padanya. Tapi aku tidak bisa mengatakannya. Lina no baka!!! Tanpa membereskan piring dan mangkuk bekas makan malam, aku langsung merebahkan diri di tempat tidur. Berharap besok akan berjalan seperti biasa.

***

Deg-degan, aku membuka pintu apartemen. Berharap di depan sudah ada Jaejung yang menyambut seperti pagi-pagi sebelumnya.
Cklek….
Sayangnya tidak ada. Dia menganggap serius omonganku kemariiin??? Huwaaa… bagaimana ini? Aku sudah mengatakan hal yang jahat!

Di sekolah pun, walau dia masih duduk di sebelahku, tapi sama sekali tidak berbicara denganku. Padahal biasanya sedikit-sedikit dia mengirim lipatan kertas bertuliskan “I LOVE U”, atau memandangiku lamaaaa sekali sampai aku sebal dan menoleh padanya. Tapi hari ini tidak. Dia benar-benar menghindariku.
“Kau bertengkar dengan Jaejung?” tanya Sunday saat makan siang.
“Tidak juga,” jawabku pelan.
“Tapi kenapa hari ini kalian diem-dieman?” tanya Dana.
“Yah…” aku malas menjawab pertanyaan ini. Aku malas membahas masalah ini, yang sebenarnya tidak akan jadi masalah kalau aku jujur pada perasaanku sendiri. Aku hanya melamun sambil memegang sumpit, dan memandang Stephanie yang katanya sedang diet dan sekarang berlatih balet di pinggir kelas.
“Lina-chan, kau sudah lama kenal Jaejung?” tanya Boa yang hari ini juga makan bersama kami.
“Tidak. Aku kenal sejak dia datang ke sekolah ini,” jawabku.
“Eh, memangnya dia anak pindahan?” tanya Boa kaget.
“Iya, dia anak pindahan. Kelas ini kan memang siswanya paling sedikit, jadi anak pindahan selalu dimasukkan ke kelas ini,” kata Sunday.
“Oh ya? Kalau aku memang sengaja ingin ditempatkan di kelas ini, karena ini kelas Dana,” kata Boa.
Aku tidak mengikuti pembicaraan mereka sampai mereka kembali ke topik Jaejung.
“Lina-chan, Jaejung itu di rumah seperti apa sih?” tanya Boa. Aku tersentak kaget dari lamunanku.
“Eh? Di rumah?” tanyaku.
“Kan kamu tetangganya,” kata Boa sambil menyuapkan ebi ke mulutnya. (A/N : ebi itu udang)
“Biasa saja… kadang merepotkan sih, karena dia selalu minta macam-macam untuk makan malam,” ceritaku. Oh iya, makan malam… nanti malam dia datang tidak ya?
“Wuah, kalian makan bersama? Asyik dong. Kau yang memasakkan ya? Senangnyaaa…” kata Boa semangat. Matanya bersinar-sinar ketika membicarakan Jaejung.
“Kau… suka Jaejung?” tanyaku pelan.
“Eh, tidak kok! Aku hanya tertarik padanya, setelah ngobrol di pesta itu. Jaejung itu orang yang menarik, ya. Dia sangat santai, tapi omongannya sangat berwibawa. Hihihi… tenang saja, aku tidak akan merebut Jaejung darimu!” kata Boa sambil menepuk punggungku.
“Eeeh, “dariku”??? Dia bukan milikku!” kataku. Mereka malah menertawakan aku.

Aku tidak akan merebut Jaejung darimu.
Kata-kata Boa masih terngiang di telingaku. Rasanya sedikit lebih lega.
Satu kata darimu, dan aku akan menjauhi Boa.
Jantungku meloncat-loncat senang. Boa tidak akan merebut Jaejung dariku, dan Jaejung juga tidak akan mendekati Boa. Tapi…
Asal bisa membuatmu bahagia, apapun akan aku lakukan. Bahkan menjauhimu…
Urgh, percuma aku bersenang-senang… gara-gara mulutku yang bodoh ini, aku jadi dalam masalah.

Aku sedang berjalan sendirian menuju ke apartemen. Fuh, kenapa jadi sepi sekali? Jangan-jangan… aku rindu padanya? Aku rindu Jaejung? Aku melewati apartemen Jaejung. Apa orang tua Jaejung sudah datang lagi ya? Bagaimana reaksi Jaejung? Apakah Jaejung akan marah?

Aku masuk ke apartemenku, lalu berdiam diri di beranda, memandang langit sambil melamun. Aku melirik ke beranda sebelah kananku. Jaejung sedang apa ya? Dari tadi aku terus saja bertanya-tanya apa yang dilakukan Jaejung.
Aaaah… kenapa aku tidak bisa jujur pada perasaanku sendiri? Tiba-tiba aku ingin berteriak menghilangkan stres yang tersangkut di tenggorokanku.
“BAKAAA!!!!” teriakku.
“Lina-chan?” panggil suara yang kukenal. Aku menoleh ke kanan. BOA???
“Siapa yang bodoh?” tanya Boa sambil tersenyum geli. Aku bengong saking kagetnya. Kenapa Boa ada di apartemen Jaejung? Glek. Aku menelan ludah. Di samping Boa, Jaejung tersenyum juga padaku.
“Ah… tidak… aku hanya berteriak untuk menghilangkan stress. Omong-omong, ada apa tiba-tiba main ke apartemen Jaejung?” tanyaku. Sebenarnya aku mau bertanya ‘Ngapain kau di sini?’ tapi tentu saja tidak sopan.
“Iya, kebetulan seminggu ini tidak ada latihan dance karena kakiku cedera. Jadi aku punya banyak waktu untuk bermain-main,” jawab Boa. “Oh iya, Jaejung-kun! Aku belum memberimu tanda terima kasih saat kau menggendongku ke Ruang Kesehatan waktu itu.”
“Kan aku sudah bilang tidak usah,” kata Jaejung.
“Tapi kan aku ingin berterima kasih. Ah iya! Bagaimana kalau malam ini aku memasakkanmu???” tawar Boa.
Entah mengapa udara di sekitarku jadi panas sekali. Boa memasakkan untuk Jaejung? Ah tentu saja. Aku kan sudah menyuruh Jaejung menjauhiku. Mana mungkin dia memintaku untuk memasakkannya lagi.
Jaejung rupanya juga terkejut akan jawaban tawaran Boa. Dia melirikku sejenak, kemudian menjawab, “Boleh. Sekali-kali aku ingin merasakan masakan selebritis.”
Tanpa bicara apa-apa, aku kembali ke kamarku dan menutup pintu beranda. Sekarang aku benar-benar mengerti mengapa aku seperti ini. Ya, aku mengaku kalau aku cemburu, tapi aku belum mau mengaku kalau aku suka Jaejung. Dipikir berulang kalipun tetap saja mustahil kalau aku menyukainya. Jaejung sama sekali bukan tipeku. Tipeku itu ya, yang cool, calm, mature, manly, ah pokoknya bukan yang kayak Jaejung! Kalo dari segi tampang sih oke lah, Jaejung lulus kriteriaku. Tapi aku tidak akan tahan punya cowok yang juga memuji cewek lain selain pacarnya.

Tak terasa aku tertidur dan begitu aku membuka mata, langit sudah gelap dan perutku keruyukan. Gawat! Aku belum memasak untuk makan malam. Aaah, mana sempat! Aku lapar sekali. Terpaksa makan mie instan deh.

Baru saja aku mengeluarkan mie dari lemari dapur, seseorang memencet bel.
DING DONG…
Aku membuka pintu. Boa? Malam-malam dia masih di sini? Ah iya. Tentu saja. Dia kan memasakkan makan malam untuk Jaejung.
“Lina-chan, ayo makan bersama,” ajak Boa sambil tersenyum manis seperti biasa.
“Eh? A, aku baru saja makan,” dustaku.
“Bohooong… kau pasti belum makan. Jaejung khawatir sekali kau belum makan. Lampu berandamu belum kau nyalakan, jadi Jaejung pikir kau belum masak sesuatu,” cerita Boa.
“…..” aku tak sanggup bicara apa-apa.
“Ya? Ayo makan bersama. Aku memasak banyak sekali lho!” ajak Boa.
Akhirnya aku menyerah dan ikut ke apartemen Jaejung. Sebenarnya aku sedikit senang karena ternyata Jaejung masih memperhatikan aku.
“Ojamashimasu…” kataku. (A/N : diucapkan saat masuk ke rumah orang)

Dan ternyata pilihanku untuk makan bersama Boa dan Jaejung salah besar. Aku jadi makin cemburu pada Boa!!!
“Bagaimana?” tanya Boa saat Jaejung mencicipi masakannya.
“Enak sekali! Ini katsu paling enak yang pernah aku makan!” puji Jaejung. Aku mendelik.
“Bagaimana, Lina-chan?” tanya Boa.
“Benar, enak sekali. Kau jago sekali memasak,” lagi-lagi aku berbohong. Sebenarnya saking cemburunya aku sampai tidak begitu merasakan apa yang aku makan.
Beberapa menit kemudian berjalan dengan sangat panas akibat pujian-pujian Jaejung yang menurutku berlebihan. AKU BISA MEMASAK LEBIH ENAK DARI INI!!!

***

Keesokan harinya, kebetulan pelajaran memasak. Yosh! Dari tadi malam aku sudah menunggu-nunggu pelajaran ini. Tadi malam aku sudah bersemedi menunggu wangsit, mandi kembang tujuh rupa, menunggu bintang jatuh, dan akhirnya aku memutuskan untuk mengakhiri aktingku. Ini saatnya untuk jujur! Aku akan membuatkan cake permintaan maaf. Aku harus minta maaf padanya, tapi tentu saja aku tidak akan mengatakan kalau aku menyukainya. Aku masih belum mengakui itu, ingat?! Lalu aku akan memberikan cake buatanku, dan dia akan memuji-muji kemampuan memasakku. Hohoho!!! Kanpeki! Perfect!

Dan begitulah, kini kami sekelas ada di Ruang Memasak yang sangat besar dan bersih. Sensei membagi kami menjadi beberapa kelompok, dan sambil mengerjakan tugas kelompok, aku membuat kueku sendiri. Yosh! Strawberry Short Cake tidak akan pernah gagal meluluhkan hati!
Aku selesai membuat adonan hanya dalam beberapa menit. Tidak sulit, karena cake ini kan kecil sekali. Mana mau aku membuat besar-besar hanya untuk Jaejung?!

Sambil menunggu cake-ku keluar dari oven, aku mengerjakan tugas kelompok. Untungnya aku tidak sekelompok dengan Boa maupun Jaejung. Hanya sesekali Sunday memarahiku karena aku kurang memperhatikan tugas kelompok.
“Eh? Kau mau baikan dengan Jaejung?” tanya Sunday.
“SSST! Suaramu keras sekali sih! Yah, begitulah… makanya aku membuat cake untuknya,” kataku.
“Heee, baguslah kalau begitu. Steph, sini adonannya!” kata Sunday sambil mengambil adonan dan mengaduknya menggantikan Stephanie yang menerapkan teori balet pada pengocokan adonan, sehingga dari tadi adonan tidak juga mengental.
“Berarti kau sudah mengaku kalau kau suka padanya?” tanya Stephanie.
“TIDAK! Aku kan sudah bilang aku masih belum mau mengakui kalau aku suka padanya,” sampai bosan aku mengatakannya.
“Eh, cake-mu sepertinya sudah matang tuh!” kata Sunday. Aku menoleh ke arah oven. Ah, benar juga. Horeee! Jadiii! Tinggal mengoleskan krim, lalu memotong strawberry.
Aku mencuci strawberry kecil yang masih segar, kemudian memotongnya menjadi dua. Karena cake ini kecil, strawberrynya juga harus kecil. Jadi susah sekali memotongnya. Yippi!!! Aku berhasil memotongnya dengan sempurna! Setelah meletakkan potongan strawberry di atas cake, aku bertepuk tangan pelan.

Aduh, kok rasanya jariku perih ya? Aku mengintip jariku dan aku melihat… DARAH!!!
“KYAAAA!!! DARAAAH!!!!!” teriakku. Aku memang tidak tahan melihat darah. Apalagi ini darahku sendiri. Soalnya begitu melihat darah, aku langsung terbayang-bayang film horror yang waktu kecil dulu pernah aku tonton. Ya, cowok itu mengiriskan pisau ke muka si cewek… dan… dan… dan semuanya menjadi gelap.

Uwaaah, nyaman sekali. Seperti melayang-layang di langit. Tadi apa yang kulakukan? Aku di Ruang Memasak dan membuatkan cake untuk Jaejung. Kemudian jariku teriris, dan aku berteriak seperti kesetanan. Pasti Jaejung menertawakan aku.Oh iya, bagaimana dengan cake-nya?
Tiba-tiba cake itu ada di depanku. Huf, Jaejung tidak akan memakannya. Dia tidak akan tahu kalau aku yang membuatkan untuknya. Aku makan saja deh. Mmm, manis sekali. Aku mengambil potongan strawberry dan menciumnya dengan bibirku.

Kemudian aku membuka mata, dan… OH MY GACKT!!! Ada seseorang yang mencium bibirku! Orang itu juga sepertinya terkejut karena aku tiba-tiba membuka mata. Dia langsung menjauh sehingga aku bisa melihat mukanya.
Jaejung.
Aku menyentuh bibirku dengan jari-jariku. Jaejung menunduk dan berkata, “Maaf.”
Manis strawberry masih terasa di bibirku. Jadi mimpi tadi… bukan strawberry yang menyentuh bibirku, tapi ternyata bibir Jaejung.
“A… aku memakan strawberry cake di mejamu,” kata Jaejung. “Gomen, kata Sunday itu buat aku, jadi…”
Itulah sebabnya bibirku merasakan manis strawberry.
“Ti-tidak apa-apa, itu memang untukmu,” kataku. “Di mana aku?” aku melihat ke sekeliling.
“Di Ruang Kesehatan. Maaf. Aku sudah berjanji akan menjauhimu. Aku tadi hanya heran mengapa kau membuatkan cake untukku. Aku pergi dulu ya,” kata Jaejung seraya berbalik.
Aku menarik pelan tangannya. Jaejung menoleh.
“Jangan pergi dulu…” bisikku. Entah kesetanan apa aku mengatakannya.
“Lina… tolong… tolong jangan permainkan perasaanku,” kata Jaejung serius. Aku benar-benar terkejut Jaejung mengatakan kalimat itu. Aku langsung duduk dan bersandar pada bantal.
“Apa maksudmu?” tanyaku sambil melepaskan tanganku dari tangannya.
“Dulu kau sangat sebal kalau aku goda. Kapanpun aku mengatakan ‘suka’ atau ketika aku mecoba menciummu, kau selalu menamparku. Tapi tiba-tiba kau mengatakan suka padaku. Jujur saat itu hatiku melonjak senang. Aku tidak akan pernah menyangka kau akan mengatakan itu, lepas dari mabukmu saat itu. Paginya aku benar-benar kecewa kau tidak mengingatnya. Lalu kemarin kau menyuruhku untuk menjauhimu. Sekarang… kau membuatkan cake untukku dan menyuruhku jangan pergi dulu. Aku benar-benar tidak mengerti apa yang dipirkan perempuan,” cerita Jaejung.
“T-tunggu… kau bilang waktu aku mabuk, aku tidak mengatakan apa-apa?” tanyaku.
“Mana mungkin aku bilang ‘kau bilang kalau kau suka aku’. Aku takut kau bilang itu kesalahan. Aku ingin menyimpannya saja. Nah, sekarang kau tahu kan,” kata Jaejung.

Pandanganku langsung kosong. Ini bohong kan? Tanggal berapa ini? Aku berharap ini adalah April Mop dan satu detik kemudian Jaejung akan menertawakanku karena mempercayai ceritanya. Tapi tentu saja tidak mungkin.

Bagaimana bisa aku mengatakan hal sesensitif itu selagi mabuk? Jaejung… pasti dia kecewa sekali padaku. Mendengar ceritanya, aku menyadari aku sangat keterlaluan. Aku mempermainkan perasaannya tanpa aku sadari.

Jaejung duduk di pinggir tempat tidur, kemudian membelai pipiku.
“Aku suka kamu. Apakah tidak ada tempat di hatimu untukku?” tanya Jaejung. “Ini terakhir kali aku menyatakan perasaanku padamu. Kalau kali ini kau menolakku, aku akan menyerah.”
Doki doki… doki doki… doki doki…
Jantungku berdetak kencang lagi. Bagaimana ini? Aku masih mencerna apa yang baru diceritakan Jaejung, tapi Jaejung menyelanya dan menyatakan perasaannya dengan serius. Kali ini… untuk terakhir kalinya dia menyatakan perasaannya. Bagaimana ini? Kuterima atau tidak? Kalau aku bilang tidak ada perasaan apapun, itu bohong besar. Tapi untuk mengatakan “suka” juga berat sekali.
“Jaejung… aku…”

“Lina-chan! Bagaimana? Kau sudah baikan?” tiba-tiba Boa menyeruak masuk.

CHAPTER 8 おしまい

25 responses to “[FF-Series-PG15] VIVID CHAPTER 8 (starring Lina & Jaejoong)

  1. Pingback: [FF-Series-PG15] VIVID CHAPTER 11 (starring Lina & Jaejoong) « FFindo·

  2. Pingback: [FF-Series-PG15] VIVID CHAPTER 12 (starring Lina & Jaejoong) « FFindo·

  3. Pingback: [FF-Series-PG15] VIVID CHAPTER 13 (starring Lina & Jaejoong) « FFindo·

  4. Pingback: [FF-Series-PG15] Boys & Girls Chapter 1 « FFindo·

  5. Pingback: [FF-Series-PG15] Boys & Girls Chapter 2 « FFindo·

  6. Pingback: [FF-Series-PG15] VIVID CHAPTER 14 (starring Lina & Jaejoong) « FFindo·

  7. Pingback: [FF-Series-PG15] VIVID CHAPTER 15 (starring Lina & Jaejoong) « FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s