[FanFic] The Only Girl I Can’t Have -2 of 2-

Part 1

author : vethboom

CAST :
– 2 PM
* Hwang Chansung
* Ok Taeckyeon
* Jang Wooyoung
* Nichkun
– Super Junior
* Choi Siwon
* Kim Kibum
* Cho Kyuhyun
* Kangin
– Gwa Hyeon Myong

RATING : PG-15 for action and language
LENGTH : double shot
GENRE : Romance – Angst
Disclaimer : I do not own 2PM and Super Junior members. 2PM belongs to JYP Ent and Super Junior belongs to SM Ent. I do own the story.
If there is any similarities with other story, it just a coincidence.

::The Only Girl I Can’t Have::

Saat kubuka mataku, langit-langit putih memblokir pandanganku. Kusentuh dahiku, ada handuk basah yang menempel di sana. Kulirik lengan kananku, masih ada perban putih yang melingkar menutupi lukaku yang nyeri. Kucoba untuk mengumpulkan kesadaranku dan berusaha bangkit dari tidurku saat Hyeon Myong masuk ke kamar membawa baskom berisi air. Aku tersenyum lemah ke arahnya.

“Masih pusing?” tanya Hyeon Myong. Dia membantuku duduk di ranjang setelah meletakkan baskom airnya di atas meja kecil di sebelah ranjangku.

“Sedikit. Sudah berapa lama aku tidur?”

“Uuuhhmm… Sekitar 19 jam. Kau mau makan? Aku sudah mebuatkan bubur untukmu.”

“Aku ingin mandi. Badanku berkeringat,” kuangkat kakiku dari atas kasur. Baru selangkah kakiku bergerak, tubuhku sudah limbung.

Hyeon Myong memegang lengan kiriku untuk menghindari tubuhku yang akan terjatuh. “Kau yakin mau mandi? Sebaiknya kau makan dulu dan minum obat,” ucapnya dengan nada khawatir.

“Obat? Darimana kau mendapatkan obat?” Baru aku ingat kalau aku tak pernah menyimpan obat-obatan apapun di rumah.

“Tadi pagi aku keluar untuk membeli obat dan makanan,” jawab Hyeon Myong pelan.

“Mwo?!?! Sudah kubilang kan kalau kau tidak boleh keluar rumah sedetikpun!” kataku dengan nada suara meninggi. Gadis ini bodoh atau memang tolol? Bagaimana bisa dia keluar rumah tanpa memikirkan keselamatannya? Bisa saja ada anak buah Siwon hyung yang lain atau anak buah Kangin mengawasi rumahku dan menemukannya di sini.

Kutarik paksa tanganku yang ada dalam genggaman Hyeon Myong. Aku meninggalkannya yang berdiri terpaku menatap langkah olengku. Iya… Aku marah dengan apa yang baru saja dia lakukan. Aku tak akan bisa membayangkan bagaimana jadinya kalau dia tertangkap dan disekap lagi oleh Siwon hyung. Usahaku untuk menyembunyikannya akan sia-sia dan sepertinya aku mulai terbiasa dengan keberadaannya di sini.

Hyeon Myong masih mengikutiku hingga di depan pintu kamar mandi. Disini baru kusadari kalau lengan kananku masih terasa nyeri untuk digerakkan. Mau tidak mau aku membiarkan Hyeon Myong membantuku melepas kaus yang kupakai. Aku juga membiarkannya membantuku mencuci rambutku, aku tak mungkin bisa melakukannya sendiri.

“Mianhe soal kejadian tadi pagi. Tubuhmu demam dan sepertinya kau sangat kesakitan. Jujur aku ketakutan saat itu jadi aku hanya bisa berpikir kalau obat yang bisa menyembuhkanmu. Karena tidak menemukan sebutir obatpun di rumah makanya aku pergi untuk membelinya. Sekali lagi ma’afkan aku,” jelasnya. Aku hanya mengangguk pelan sambil berjalan memasuki kamar mandi.

+++++++++++++++++++++++++++++++++

“Sejak kapan kau menjadi mafia?” tanya Hyeon Myong sembari mengusapkan shampoo di atas kepalaku. Aku duduk dengan punggung menghadap kearahnya dan hanya dengan celana pendek yang menempel ditubuhku.

“Sejak aku berumur 13 tahun. Siwon hyung yang mengajariku menembak dan segala bentuk bela diri untuk melindungi nyawaku,” jawabku datar. Kurasakan sentuhan tangan lembut Hyeon Myong pada rambutku. Walaupun aku sedang marah padanya entah kenapa aku merasa nyaman karena sentuhannya.

“Kau suka dengan kehidupanmu yang seperti ini? Selalu dikejar-kejar orang dan terluka disemua bagian tubuhmu?”

“Mana ada orang yang suka melibatkan dirinya kedalam bahaya. Aku tak punya pilihan lain. Ini jalan hidupku.” Tiba-tiba gerakan tangan Hyeon Myong berhenti. Aku bisa merasakan pandangan sedihnya dari balik punggungku.

“Maukah kau berjanji padaku?”

“Hhhmmm… Apa maksudmu?”

“Berjanjilah kalau seandainya mereka sudah tidak mengejarku lagi dan aku kembali pada Appa dan Eommaku maka kau akan berhenti dari segala macam hal yang berhubungan dengan duniamu sekarang.”

“Hehehe… Tentu saja aku akan berhenti dari duniaku karena saat itu aku pasti sudah masuk penjara atau mungkin juga aku sudah mati,” kataku seolah mengajaknya bercanda namun tak mendapat respon positif dari gadis di belakangku itu. Kudengar desahan napas berat dari Hyeon Myong kemudian dia melanjutkan menggosok rambutku.

Hyeon Myong membantuku memakai kemeja setelah aku selesai mandi. Dengan telaten tangannya yang semalam membedah lukaku kini memasangkan kancing pada kemejaku satu persatu. Tak pernah kurasakan perasaan nyaman seperti ini sebelumnya. Apa aku jatuh cinta padanya? Tidak… Itu tidak mungkin. Aku tidak mungkin memilikinya, dia anak dari musuhku. Dan yang pasti aku tidak boleh membahayakan nyawanya dengan berada di sisiku.

Seluruh kancing bajuku sudah tertutup sempurna namun Hyeon Myong masih berdiri terpaku di depanku. Tangannya masih menggenggam erat bagian depan kemejaku. Seketika dia mendongak dan berjinjit hingga bibir mungilnya menyentuh pelan bibirku. Aku tersentak kaget dengan kejadian barusan. Hyeon Myong tersenyum dengan pipi bersemu merah dan menatap dalam ke mataku. Dia melepaskan cengkeramannya dari kemejaku kemudian melingkarkan lengannya di pinggangku.

“Chan Sung sshi… Sepertinya aku menyukaimu,” bisik Hyeon Myong di dadaku. Aku sempat meragukan perasaanku padanya namun akhirnya kubalas pelukan Hyeon Myong. Kudekap erat tubuhnya kedalam tubuhku. Aku tahu ini bodoh, tapi aku tak bisa menyangkal lagi. Sepertinya aku juga sudah jatuh cinta pada gadis ini.

+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Aku menelepon Siwon hyung untuk mengabarkan kalau aku sudah berhasil membunuh Nichkun. Aku juga mengatakan padanya kalau aku terluka hingga baru bisa memberikan laporan sekarang. Ternyata Siwon hyung sudah tahu semua kejadiannya. Dia juga sudah tahu kalau Kibum berhasil lari. Siwon hyung menjanjikan akan menyuruh Taeckyeon menemaniku walaupun sebenarnya dia tahu aku tak membutuhkan perlindungan sama sekali. Karena tak ingin ada seorangpun yang tahu keberadaan Hyeon Myong di rumahku maka sekali lagi aku menolak tawaran Siwon hyung yang berusaha mengirim orang ke rumahku.

“Tanganku sudah tidak nyeri lagi. Aku bisa melakukannya sendiri,” tolakku halus saat Hyeon Myong yang duduk di sampingku berusaha untuk menyuapiku. Aku memang menyukai perlakuan hangatnya padaku tapi aku kan bukan bayi yang harus disuapi saat makan. Kurebut sendok dari tangan Hyeon Myong dan menyuapkan nasi ke mulutku. “Lihat… Aku bisa melakukannya sendiri kan.”

Hyeon Myong memandangku sambil mengerucutkan bibirnya. Dia jadi terlihat lebih manis karenanya. Kuusap pelan puncak kepalanya, membuat rambutnya yang sebahu sedikit berantakan. Kuambil dadar gulung dengan sumpitku dan mengarahkannya di depan mulut Hyeon Myong yang masih mengerucut. Seulas senyuman tergambar di bibirnya. Dengan yakin dia membuka mulutnya dan melahap dadar gulung dari sumpitku.

Setelah pengakuan itu kami jadi semakin dekat. Kami sedang duduk di atas sofa di depan televisi sambil mendengarkan alunan music dari DVD player milikku. Hyeon Myong menarik tanganku saat sebuah musik classic mengalun pelan. Aku menggeleng, menolaknya secara halus, tapi Hyeon Myong terus menarik tanganku hingga akhirnya aku menyerah dan berdiri sesuai keinginannya. Hyeon Myong berdiri diatas telapak kakiku dan mendekap erat pinggangku. Kami bergerak mengikuti irama lembut musik itu.

Bolehkah kini aku mengatakan kalau cerita kami dimulai? Atau aku harus mengakhirinya sebelum klimaks cerita datang? Akankah aku bisa terus mendekapnya seperti ini tanpa harus membuatnya terluka? Salahkah bila gadis ini yang kucintai? Haruskah dia menjadi satu-satunya gadis yang tak akan pernah bisa kumiliki?

Pertanyaan-pertanyaan itu tiba-tiba muncul dikepalaku. Gelombang ketakutan menyergapi perasaanku. Tuhan, aku tahu ini salah tapi tolong biarkan aku seperti ini sebentar saja. Biarkan aku merasakan cintanya sebelum cerita kami berakhir.

Tanpa kusadari aku mendekap Hyeon Myong terlalu erat. Hal itu membuatnya memukul-mukul pelan punggungku. Aku baru tersadar setelah mendengar teriakan pelan Hyeon Myong di dekat telingaku.

“YAAA… Hwang Chan Sung!!! Kau mau membunuhku?!” bentak Hyeon Myong setelah terlepas dari dekapanku.

“Wooow… Ternyata kau bisa bersuara sekeras itu juga ya? Mianhe,” kataku sambil mencubit pelan ujung hidungnya.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Malam itu seakan-akan kami tak ingin terlelap untuk bermimpi. Mungkin kami sama-sama takut dengan apa yang akan terjadi esok hari, yang pasti aku mengkhawatirkan hal itu. Aku masih berpikir kalau mungkin saja besok aku harus mengembalikan Hyeon Myong kepada orang tuanya dan itu pasti membuatku tak akan bisa bertemu dengannya lagi. Kemungkinan kedua, Siwon hyung yang menemukan keberadaan Hyeon Myong di tempatku. Siwon hyung pasti akan menyekapnya lagi dan aku yang dianggap pengkhianat akan diburu untuk dibunuh. Aku benar-benar benci kalau harus memikirkan kemungkinan-kemungkinan itu terjadi.

Akhirnya kami berdua memutuskan untuk menonton DVD. Aku tak ingat kapan terakhir kalinya aku membeli DVD film dan aku yakin kalau Hyeon Myong sudah melihat semua film yang ada di dalam rak berdebu di sisi kanan televisi. Gadisku itu tertawa pelan saat melihat kaset-kaset DVD usang yang ada di sana tapi dia tak keberatan kalau harus menonton film yang sudah pernah dilihatnya.

“Ternyata kau juga suka dengan film cengeng seperti ini ya?” tanya Hyeon Myong saat dia memposisikan dirinya di dalam dekapanku di atas sofa. Kami sedang menonton My Sassy Girl. Aku sendiri heran, bagaimana bisa film itu ada di rak koleksi DVDku.

“Entahlah. Aku lupa kapan aku membelinya. Mungkin karena aku suka melihat gadis yang ada di film itu,” jawabku asal. Lenganku sudah melingkar dipinggangnya yang ramping.

“Huh, dasar laki-laki. Setiap melihat gadis cantik pasti tergoda.”

“Kau cemburu?”

“Siapa yang bilang kalau aku cemburu?” Hyeon Myong hampir menarik tubuhnya dariku namun dengan segera aku mempererat pelukanku pada pinggangnya.

“Kau lebih cantik dari gadis-gadis cantik yang pernah kutemui. Karena itu aku suka padamu.”

“Yyaaa…!!! Chan Sung sshi… Aku sedang menonton film dan kau merusak konsentrasiku.” Aku melihat semburat merah tergambar di pipi gadis dalam dekapanku ini. Dia terlihat sangat manis.

Saat film berakhir Hyeon Myong sudah terlelap di pundakku. Baru saja aku akan mengangkatnya masuk ke dalam kamar saat sebuah ketukan terdengar dari pintu. Siapa yang malam-malam datang ke rumahku? Kuletakkan kembali kepala Hyeon Myong di atas sofa yang membuatnya terbangun.

“Uuuhhmm… Ada yang datang?” tanyanya sanbil mengusap-usap matanya.

“Iya… Biar aku yang buka pintunya.”

Tanpa ragu kubuka pintu rumahku dan betapa kagetnya aku saat kulihat siapa yang berdiri di sana. Seringai tipis di sudut bibir laki-laki yang kini berdiri di depanku ini sudah sangat kukenal. Iya… Siwon hyung yang datang. Dia bersama Taeckyeon dan Wooyoung.

“Ada apa Chan Sung? Kenapa kau kaget melihatku? Apa aku tidak boleh berkunjung ke rumahmu? Atau… Kau menyembunyikan sesuatu di rumahmu?” tanya Siwon hyung beruntun. Tanpa meminta ijin dariku dia menyeruak masuk ke dalam rumah. Masih dengan tersenyum Siwon hyung menemukan Hyeon Myong yang tidak kalah kagetnya denganku.

“Waaah… Ternyata Chan Sung sedang menjamu tamu di sini. Apa kabar Gwa Hyeon Myong sshi?” Siwon hyung mendekati Hyeon Myong yang spontan berdiri dari duduknya.

Hyeon Myong menatap takut ke dalam mata Siwon hyung. Kemudian pandangannya berganti ke arahku. Kutelan ludahku pelan. Aku tahu aku harus melakukan sesuatu saat ini juga, namun sepertinya pikiranku kosong.

“Eehhmm… Hyung… Aku bisa menjelaskan ini padamu,” kataku pelan.

“Aku sudah tahu. Wooyoung melihatnya kemarin. Kau sedang belanja di mini market kan, Hyeon Myong sshi?”

Sudah kuduga. Apa yang kukhawatirkan ternyata menjadi kenyataan. Wooyoung mengawasi rumahku hari itu. Dia melihat Hyeon Myong yang sedang berjalan ke mini market untuk membeli obat dan akhirnya dia melaporkan apa yang dia temukan pada Siwon hyung. SIAL…!!!

“Chan Sung, kau sudah lama menemukan gadis ini? Kenapa kau menyimpannya di rumahmu? Apa kau ingin menikmati gadis ini sendiri?” Siwon hyung berjalan mendekati Hyeon Myong dan mengusap pelan pipi gadis itu, membuat Hyeon Myong bergidik.

Pandangan Hyeon Myong tak lepas dariku begitu pula denganku padanya. Setiap gerakan sepelan apapun yang dibuat Siwon hyung membuat jantung kami berdua seakan berhenti berdetak sementara. Sialnya, Siwon hyung tak henti-hentinya mencoba menyentuh setiap inci bagian tubuh Hyeon Myong. Ingin rasanya aku menghantam wajah Siwon hyung dengan tanganku yang sudah mengepal dari tadi tapi kuurungkan, aku tak mau kalau tiba-tiba Siwon hyung mengangkat pistol di pinggangnya ke arah gadisku.

Riiinng…. Riiinngg… Riinngg….

Suara handphone dari saku celana Siwon hyung menghentikan gerakan pelan jari-jari Siwon hyung yang akan menyentuh paha Hyeon Myong. Bisa kulihat dengan jelas gurat ketakutan dari mata gadis yang berdiri 3 meter dariku itu. Punggungnya yang mungil tak hentinya berguncang hebat. Siwon hyung menyunggingkan senyumnya sebelum berjalan agak menjauh dari Hyeon Myong.

Taeckyeon dan Wooyoung masih mengawasi setiap gerakan yang aku dan Hyeon Myong buat. Mata Hyeon Myong masih intens menatap mataku. Kulihat Wooyoung berjalan menuju dapur, sepertinya dia mencari sesuatu untuk dimakan atau diminum. Kesempatan ini kumanfaatkan. Aku berjalan mendekati Hyeon Myong dan menarik tangannya. Kami berlari meninggalkan rumah. Dari kejauhan aku mendengar suara Siwon hyung yang berteriak memerintahkan Taeckyeon dan Wooyoung untuk mengejarku.

Kami masih berlari memasuki setiap gang dan celah yang bisa kami raih. Dengan tangan Hyeon Myong yang ada dalam genggamanku aku terus berlari hingga kudengar suara batuk di belakangku. Kulihat gadisku mulai kehabisan nafas. Seketika kuhentikan langkahku dan Hyeon Myong menabrak punggungku.

Hyeon Myong mendongak menatapku, “Waekure?! Ada apa?? Mungkin saja mereka masih mengejar kita. Kita harus lari lagi!”

Hyeon Myong hendak melangkahkan kakinya untuk berlari lagi tapi kucegah. Kutarik lengannya yang kurus hinggawajah kami berhadapan. Dengan sekuat tenaga aku mencoba menahan air mataku yang hampir keluar karena melihat wajah gadisku.

“Hubungi orang tuamu!” Kurogoh saku celanaku dan mengeluarkan handphone dari sana. Hyeon Myong masih menatapku dengan wajah penuh pertanyaan mengapa. “Telpon Appa-mu. Suruh dia membawa anak buahnya kemari untuk menjemputmu.”

“Mwo…!!! Apa maksudmu?! Tidak… Aku tidak akan pergi tanpamu. Kita harus lari sekarang, sebelum orang-orang tadi menemukan kita!” Hyeon Myong bersikeras menarik tanganku. Pipinya telah basah dengan air mata.

“Tolong jangan membuat ini semua lebih sulit. Hubungi Appa-mu sekarang!”

“Kau yang membuat ini semua menjadi sulit Hwang Chansung! Akan lebih mudah kalau sekarang kita lari supaya teman-temanmu tidak menemukan kita.” Hyeon Myong kembali menarik tanganku untuk berlari namun langkah kami terhenti karena sebuah cahaya yang cukup menyilaukan dari jalan gelap di depan kami. Ku coba untuk membuka mataku, mencoba membiasakannya dengan cahaya asing di depanku. Setelah berhasil menyempurnakan pandanganku, kulihat tubuh tegap Siwon hyung berdiri di sebelah mobil yang dikendarainya.

“Bagus Chansung… Aku lupa kalau langkahmu selalu cepat. Kau memang tangan kanan terbaikku,” kata Siwon hyung sambil tersenyum masam menyindirku. Taeckyeon keluar dari kursi kemudi dengan pistol yang terangkat di tangannya. Tanganku sendiri sudah siap memegang pistol yang tersimpan di pinggangku, aku menyambar pistol itu sebelum berlari keluar dari rumah tadi.

“Kau tahu kan kalau aku tak suka dengan pengkhianat, Chansung? Kau lupa siapa yang membuatmu seperti sekarang? Yang memberimu hidup hingga kau tak harus mati terlantar di jalanan?”

Aku paling benci bagian Siwon hyung yang mulai bercerita tentang masa laluku dan bagaimana dia mengajariku hingga aku bisa tetap bertahan hidup. Aku memang harus berterimakasih padanya namun terkadang sikapnya membuatku muak dan ingin menjauh darinya.

“Hyung… Aku butuh kehidupanku sendiri sekarang!” seruku seraya mengacungkan pistolku ke arah Siwon hyung. Gerakanku barusan membuat Wooyoung dan Taeckyeon mempererat genggaman pada pistolnya.

“Wooo… wooo… wooo… Adik kecil kita ini sudah mulai berani rupanya. Baik, tapi yakinlah kau tidak akan menyesalinya!” Baru saja Siwon hyung akan mengangkat pistolnya saat sebuah suara datang mengagetkan kami semua.

“JATUHKAN SENJATA KALIAN!!!”

“Shim Changmin…” desis Hyeon Myong pelan saat melihat siapa yang berteriak dengan pistol yang juga terangkat di tangannya.

“Kuperingatkan sekali lagi. JATUHKAN SENJATA KALIAN!” teriak laki-laki yang bernama Changmin tadi. Di belakangnya berdiri beberapa orang dengan jas hitam. Barisan mereka sedikit terbuka saat seorang laki-laki setengah baya berjalan mendekati Changmin.

“Appa!” seru Hyeon Myong sebelum dia menutup mulutnya dengan telapak tangannya karena terkejut.

Mata laki-laki itu terlihat lembut saat memandang Hyeon Myong yang berdiri tak jauh darinya. Kemudian pandangan itu kembali mengeras saat menangkap kilatan mata Siwon hyung. Aku tahu kalau laki-laki yang dipanggil Appa oleh Hyeon Myong tadi adalah Inspektur Gwa, polisi yang mengancam keberadaan kami. Namun entah mengapa kali ini aku tidak merasa terancam dengan keberadaannya. Aku malah bersyukur dia datang dengan pasukannya di sini.

Hyeon Myong yang berdiri di belakangku mencoba melepaskan genggaman tanganku pada pergelangan tangannya. Senyum samar terlukis di bibirnya. Gadis itu mencoba berjalan melewatiku untuk mendekat pada ayahnya. Aku bisa merasakan kerinduan yang teramat dalam pada orang yang telah membesarkannya itu. Hyeon Myong hanya memusatkan perhatiannya pada Appa-nya, begitu pula denganku. Kami tak menyadari keadaan di sekitar kami yang sedikit menegang.

Seketika suara tembakan terdengar. Siwon hyung telah menarik pelatuknya dan mengarahkannya pada Hyeon Myong. Untung saja peluru itu meleset. Namun gerakan tadi membuat suasana semakin memanas. Setiap tangan yang memegang pistol kini terangkat dan mulai menembakkan peluru-peluru yang ada di dalamnya.

Kutarik tangan Hyeon Myong, mencoba menghindar dari serangan peluru yang membabi buta. Kami berdua bersembunyi di balik salah satu mobil yang ada di sana. Kurasakan genggaman erat tangan Hyeon Myong pada tanganku, gadis itu mencoba meredam ketakutannya.

“Chang Sung sshi… Berjanjilah satu hal padaku,” ucapnya pelan disela desahan napas yang memburu.

“Apa?” tanyaku khawatir.

“Berjanjilah kau tidak akan meninggalkanku.”

Mataku yang tadinya sibuk mengawasi setiap gerakan orang-orang yang ada di depanku kini teralih pada Hyeon Myong. Matanya yang bening menusuk mataku. Terlihat ketakutan dan kesedihan di sana. Aku hanya tersenyum sambil menggenggam tangannya lebih erat. Aku tak berani menjanjikannya apapun saat ini. Aku memang tak seharusnya menjanjikan apapun padanya. Karena setiap orang yang melihat kami akan tahu kalau aku bukanlah orang yang tepat untuknya.

Kuraih tubuh Hyeon Myong ke dalam dekapanku. Setidaknya inilah yang bisa aku lakukan saat ini. Meringankan ketakutannya dan merasakan kehadirannya di sisiku. Aku tak tahu berapa lama lagi waktu yang diberikan Tuhan untukku merasakan keindahan ini.

Sebuah pikiran buruk terlintas di benakku. Sepertinya aku tak ingin lagi membuatnya kembali kepada Appa-nya. Ingin rasanya aku membawa Hyeon Myong lari dari tempat ini dan menemukan tempat dimana tak seorangpun yang mengenali kami.

Aku bangkit berdiri masih dengan tanganku yang menggenggam tangan Hyeon Myong. Baru selangkah aku keluar dari persembunyianku, Siwon hyung sudah menangkap gerakan kami. Langkahnya terhuyung karena sepertinya kaki kirinya tertembak. Dengan usaha yang cukup berat Siwon hyung mengangkat pistolnya lurus menghadapku. Tanpa pikir panjang aku menembakkan sebuah peluru tepat ke jantungnya. Seketika Siwon hyung roboh dan hal lain yang aku sadari adalah teriakan Hyeon Myong dan rasa nyeri yang menyerang ulu hatiku.

“ANDWEEEEEE….!!!” teriak Hyeon Myong. Dia terduduk menangkap tubuhku yang terjatuh, meletakkan kepalaku di atas pangkuannya. Kusentuh bagian atas perutku dan melihat darah membasahi telapak tanganku.

“Chan Sung sshi… Bertahanlah! Hey…! Kau sudah berjanji padaku untuk tidak meninggalkanku, bukan?” ucap Hyeon Myong dengan air mata yang terus membasahi pipinya.

Tak lagi kudengar suara tembakan. Sepertinya perang kami sudah usai dan akulah musuh utama yang jatuh dalam perang ini. Aku hanya bisa tersenyum samar ke arah gadisku.

“Jangan menangis,” kataku lemah. “Uhuk… uhuk… Ma’afkan aku kare… na… sudah… mem… buat… mu… menangis…”

“Aniyo Chan Sung sshi… Jangan menutup matamu! Tetap di sini bersamaku, ok!” perintah Hyeon Myong saat melihat mataku yang mulai berat berangsur menutup.

“Aku… le… lah… Hyeon… Myong… ah… Siwon… hyung… sudah mati… Dia… tidak akan… mengganggu… ki… ta lagi… Jadi… tolong… ij… inkan… ak… u tidur… se… karang…” Napasku mulai tersengal-sengal. Aku hampir tak bisa lagi merasakan genggaman tangan Hyeon Myong pada tanganku.

“Andwe!!! Kau tidak boleh tidur! Tunggu sebentar lagi hingga ambulan datang menolongmu. Demi Tuhan…! Siapa saja tolong kami di sini!!!” teriak Hyeon Myong frustasi sambil terus menggosokkan kedua telapk tangannya pada telapak tangan kananku.

Aku tersenyum memandang wajahnya yang menghitam dengan hiasan air mata di pipinya. Persis seperti saat pertama kali aku menemukan gadis itu. Hari dimana semuanya berubah untukku. Hari terindah dalam hidupku.

“Sa… rang… h… ae…”

Seketika gambaran hari dimana aku pertama kali bertemu dengan Hyeon Myong terputar kembali di kepalaku. Saat dia merawat lukaku, saat aku menyuapinya, dan saat dia tertidur di pundakku, semua masih terasa jelas. Mungkin ini hukuman bagiku yang telah banyak membuat orang yang aku cintai menangis. Aku harus mengakhiri semuanya disaat semua itu baru dimulai.

Aku mencintaimu gadisku. Ma’afkan aku karena membuatmu terluka dan harus menangis. Hiduplah dengan lebih baik. Kau satu-satunya gadis yang aku cintai dan satu-satunya gadis yang tak akan pernah bisa aku miliki.

+.+.+.FIN.+.+.+


Finally………… Selesaiiiii………… ^^

Ma’af kalau ceritanya jadi aneh…. Terimakasih untuk para reader karena sudah membaca dan memberi komentar…. ^^

Ayooooooooooo komen lagiiiii….!!!!

Kritik, saran, masukan, hinaan, tumpengan saia terima semuaaaa…… Hehehehe……..

Sekali lagi….. Jongmal kamsahamnida…. *bow*

Advertisements

22 responses to “[FanFic] The Only Girl I Can’t Have -2 of 2-

  1. Speechless mau ngomong apa~
    keren bnget..^^
    sedih..T.T
    seru..o.O
    menyayat hati bnget..
    Mianh~ oenn vethboom speechlessnya terlalu geje..
    Pokokny 4 thumbs deh buat author..hehe *gak bisa ngash lebih soalny thumbsku cuma 4 biji:-) *

    pict terakhirnya kayaknya agak strange deh..^^
    yah yng penting pas disononya akang ku gak menjiwai perannya sebagai yeoja..hehe

    • Annyeonghaseyooo…….. ^^
      Hehehe… Panggil saia Veth eonni aja… ^^

      Wiiihhh…. Itu mah bukan speechless…
      Nyampur2 githu perasaannya… 😀

      Gomawo udah baca n komen….
      Jangan lupa mampir lagi yaaaaa….. ^______________^

  2. wow…w baru tw ad ff sekeren ini !! wlu ffny dah lama tp keren abis……..!!! kyu oppa cuman numpang lewat tuh ??? hahah….nice ff chingu ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s