Show Me Your Love [OneShot]

Show Me Your Love

Author : shineeisland

Genre : Romance

Rating : PG-13

Length : One Shot

Casts : Lee Heagi, Lee Taemin

Author’s notes : Kalimat yang dicetak miring berarti Flashback.


*****

(Heagi’s P.O.V)

Sepuluh tahun lalu…

“Taemin-ah! Kau jangan main-main seperti itu! Berbahaya!” teriakku dari kejauhan. “Sekarang cepat letakkan pisau itu, gunting itu bisa melukaimu maupun orang lain!” kataku lagi.

“Kau tenang saja, Heagi-ah, tak bakal terjadi apa-apa!” Taemin mengayun-ngayunkan gunting di tangannya. “Memangnya kenapa? Kau takut dengan gunting ini ya?”

“Aku tidak takut! Aku hanya…” Aku terdiam. Sebenarnya aku memang sedikit takut dengan benda-benda tajam.

“Kau memang takut kan? Hahahaha.” Taemin mengayun-ngayunkan guntingnya lagi. Ia beranjak dari bangkunya sambil memutar-mutar gunting di tangannya. Tiba-tiba kakinya tersandung sesuatu.

“Aduh!” jeritnya. Gunting di tangannya terlepas dan melayang ke arahku.

“ARGHHHH!!!”

Kini sudah genap tujuh tahun setelah kejadian mengerikan itu. Aku beranjak dari ranjangku sambil mengambil tongkat yang kusandarkan di dinding.

Taemin, seumur hidup aku takkan memaafkanmu…

Dan beginilah aku sekarang. Buta. Bahasa halusnya, tuna netra. Dan semua ini gara-gara dia, gara-gara Taemin.

“Heagi-ah! Kau tidak apa-apa?” Aku merasakan langkah Taemin yang menuju ke arahku.

“Mataku… sakit sekali…” jeritku.

“Apa perlu kau dibawa ke dokter?” tanya Taemin.

“Ti-“ Aku baru saja ingin menjawab tidak ketika tiba-tiba seseorang membopongku. Mungkin itu Taemin. Setelah itu aku mendengar deru kendaraan, kurasa aku sedang berada di dalam mobil.

Aku berjalan perlahan menuju pintu kamarku. Aku meraba-raba.

“Oemma…” panggilku. Namun tak ada respon sedikit pun.

Aku berjalan perlahan menuju dapur, lalu memanggil lagi.

“Oemma…” sahutku. Masih tak ada jawaban. Mungkin oemma pergi.

Aku segera pergi dari dapur. Sejak kejadian itu, aku jadi takut dengan dapur. Di dapur tersimpan banyak benda-benda tajam seperti pisau, cutter, dan gunt- Ah, aku tak mau mendengar kata-kata itu lagi.

Taemin membawaku ke rumah sakit. Aku bisa merasakan bau obat-obatan di sepanjang jalan. Bagaimana bisa anak umur 8 tahun membawa seseorang ke rumah sakit?

“Heagi tidak apa-apa?” Sebuah suara berat menyahut dari belakang.

“Aku harap sih tidak apa-apa, Junsu songsaengnim…” kata Taemin. Berarti Taemin tidak sendirian. Dia ke sini bersama Junsu songsaengnim.

Setelah itu aku tak mendengar suara Taemin maupun Junsu songsaengnim lagi. Yang ada hanya hening.

Beberapa menit aku menunggu. Tiba-tiba terdengar suara Taemin lagi.

“Bagaimana keadaannya, dokter?” tanya Taemin. Aku bisa mendengar gerak langkahnya.

“Gadis ini… mengalami kebutaan…” kata dokter. Aku yang ikut mendengar terpaku. Buta? Aku tidak mau jadi buta!

Tanpa sadar aku menangis. Junsu songsaengnim datang menghampiriku.

“Yang sabar ya… suatu saat pasti kau bisa melihat lagi…” katanya. Aku masih menangis.

“Semua ini gara-gara kau, Taemin-ah! Penyebabnya adalah kau!” teriakku. Aku bisa merasakan aura Taemin. Kurasa dia pun sedang menangis sekarang.

“He-heagi… jeongmal mi-“

“Kau tak perlu minta maaf! Aku takkan memaafkanmu!” teriakku.


Dan itulah percakapan terakhirku dengan Taemin.

*****


Aku berjalan ke luar rumah untuk mencari udara segar. Suntuk di rumah. Aku berjalan ke tempat yang sering sekali kudatangi, sebuah danau yang terletak tak jauh dari rumahku.

Aku berjalan dengan mantap. Aku sudah hafal sekali jalan menuju danau ini, jadi aku tak mungkin tersesat. Lagipula, aku tak tau jalan lain, jadi setiap hari aku hanya ke danau ini saja.

Saat dalam perjalanan, aku menabrak seseorang.

“Ah,” kataku. “Mianhamnida…”

“Ah, tidak apa-apa…” kata orang yang kutabrak itu.

Setelah itu aku langsung melanjutkan berjalan. Tiba-tiba seseorang menggenggam tanganku.

“Tunggu…” kata orang itu. “Kau… Lee Heagi?” tanyanya. Aku tersentak.

“Darimana kau tahu namaku?” tanyaku penasaran.

“Ah, ah, tidak… sepertinya aku salah orang…” balasnya. Orang itu melepaskan genggaman tangannya dan berlalu. Aku masih bisa merasakan langkah kakinya sampai ia berbelok di tikungan.

*****

(Taemin’s P.O.V)

Anak di jalan tadi, mirip sekali dengan Heagi! Batinku sambil berjalan di tengah keramaian. Tadi aku sudah ingin memberitahunya bahwa aku adalah Lee Taemin, temannya waktu SD, namun aku teringat kata-kata terakhir yang keluar dari mulutnya pada hari pertemuan terakhir kita.

“Kau tak perlu minta maaf! Aku takkan memaafkanmu!”


Setelah mengingat kata-kata itu, aku segera mengurungkan niatku untuk menyapanya. Padahal aku sudah rindu sekali padanya. Sudah sepuluh tahun kita tidak bertemu. Tak sampai seminggu setelah insiden gunting dengan Heagi itu, aku pindah ke Jepang. Dan aku baru saja kembali ke Korea Selatan dua hari yang lalu.

Aku berpikir lagi, seandainya waktu itu aku tidak tersandung hari itu, apa aku dan Heagi sekarang sudah menjadi… pasangan? Batinku dalam hati.

Sejak dulu aku memang menyukai Heagi. Dan kurasa dia juga menyukaiku. Namun tak ada satu pun di antara kami yang berani mengatakan hal itu. Hingga aku pindah, kata-kata itu masih belum juga terucap.

Apartemenku sudah dekat, tinggal beberapa meter lagi. Namun, mengapa hati ini seperti menarikku ke belakang ya? Apa ini berarti… aku harus kembali menemui Heagi?

Ah, tidak, tidak. Heagi pun takkan sudi bertemu denganku.

*****

Hari ini sungguh melelahkan, keluhku. Aku baru pulang dari sekolah. Aku harus cepat sampai di rumah, aku sudah haus.

Aku sedang berlari-lari menuju apartemenku ketika seseorang menubrukku.

“Mianhamnida… mianhamnida…” kata orang yang menubrukku itu.

“L-lee H-heagi?” Aku kaget saat melihat siapa yang menubrukku itu. Heagi lagi. Sudah dua kali terjadi kejadian seperti ini.

Heagi hanya diam. Mungkin dia tidak mendengar kata-kataku tadi. Ia segera berlalu.

“Lee He-“ kata-kataku terputus ketika aku berpikir mengenai resiko memanggilnya. Dia bisa sangat marah. Bagaimana kalau aku membuntutinya saja? Pikirku. Lagipula aku juga bingung, kenapa Heagi pergi menuju tempat yang sama setiap hari?

Aku berjalan perlahan di belakang Heagi. Heagi tidak akan menyadarinya, karena aku tahu… yah… dia buta.

Akhirnya kami sampai di suatu tempat, sebuah danau. Heagi berjalan ke sebuah pohon besar dan duduk di bawahnya. Aku menghampirinya.

“Indah ya…” kataku sambil mengambil posisi duduk di sebelahnya. Heagi menoleh tiba-tiba.

“Indah? Aku tak tahu apa itu indah…” katanya. Aku tertawa garing, karena tak tahu harus berkata apa saat itu.

Heagi menatap danau dengan tatapan kosong. Aku tahu dia tidak sedang menikmati indahnya danau ini… pasti dia hanya sedang memandang kegelapan sekarang.

“Siapa kau?” Tiba-tiba Heagi berbicara. Kata-katanya ketus sekali.

“A-aku?”

“Iya, kau. Memangnya ada orang lain lagi di sini?” katanya lagi. Aku berubah gugup. Kalau Heagi mengetahui kalau aku adalah Taemin, dia bisa marah sekali.

“A-aku… a-aku…” Aku terdiam sejenak. “A-aku Lee Tae… Lee Tae… cyeon! Ya! Lee Taecyeon!”

Heagi menatapku dengan dahi berkerut. Sepertinya dia tidak percaya. Namun setelah itu dia berbicara lagi.

“Lee Taecyeon? Namamu seperti anggota 2PM. Tapi yang itu Ok Taecyeon,” katanya sambil sedikit tertawa. Hebat, setelah sepuluh tahun hidup dalam kegelapan, dia masih bisa tertawa. Walaupun tawanya seperti sedikit dipaksakan.

Aku terkekeh kecil. Setelah itu aku langsung beranjak dari sana.

“Aku pulang dulu ya, Heagi…” kataku.

“Tunggu!” Tiba-tiba dia memanggilku.

“Ada apa?”

Heagi pun beranjak dari duduknya. “Kau kok tahu namaku?”

“Ah-eh… aku… aku mengenalmu dari temanmu! Ya, temanmu!” jawabku gagap. “Sudah ya, aku pulang dulu!” Aku segera berlari menjauh, sementara Heagi masih berdiri di sana dengan tatapan kosongnya.

*****

(Heagi’s P.O.V)

Aku mendengar langkah kaki Taecyeon dari kejauhan. Sebenarnya dia itu siapa sih? Tapi, aura yang dikeluarkannya mirip sekali dengan aura Taemin. Saat bersamanya, aku merasakan kehangatan yang sama dengan saat aku bersama Taemin.

Dia bilang dia mengetahui namaku dari temanku. Teman? Aku tidak punya teman. Aku kan tidak sekolah, dan aku juga tidak bisa bermain internet maupun bergabung di perkumpulan-perkumpulan tertentu.

Beruntung sekali Taecyeon, dia bisa merasakan keindahan itu. Aku juga ingin, aku rindu melihat danau ini. Sebenarnya aku sudah tahu bagaimana bentuk danau ini. Aku sering ke sini bersama Taemin waktu kami masih kecil. Taemin sering sekali mengajakku ke sini sepulang sekolah.

Namun, sejak insiden hari itu, aku tak pernah bertemu Taemin lagi. Ia seperti menghilang ditelan bumi, tak ada kabar, tak ada jejak. Padahal, aku sangat menyukai Taemin sejak kecil. Aku ingat dulu dia pernah mengajariku cara melempar batu agar bisa melompat di permukaan danau.

“Heagi… masak kau seperti itu saja tidak bisa? Sekarang lihat aku ya!” Taemin melempar salah satu batu yang telah kami kumpulkan sebelumnya. Batu yang dilemparnya meloncat-loncat sampai akhirnya tenggelam di kejauhan.

“Kau hebat, kau bisa melempar batu jauh sekali…” pujiku. Taemin tersenyum.

“Tentu saja…” katanya. “Kau tahu, Heagi-ah? Biar pun batu ini kecil sekali, tapi dia bisa bertahan sangat lama di dalam air…”

“Berapa lama?” tanyaku.

“Seratus tahun.”

Aku tertawa keras sekali. “Hahaha, tak mungkin ada batu yang tahan selama seratus hari di dalam air, batu itu pasti akan terkikis…”

“Kau tidak percaya?”

“Tidak.” Jawabku singkat. Taemin terlihat kesal.

“Kalau begitu, mari kita buktikan. Aku akan menandai kerikil yang satu ini dengan inisial kita. T-H. Lalu batu ini akan kuceburkan ke dalam sungai. Setelah kita besar, kita akan mengeceknya lagi!”

“Kita akan mengeceknya seratus tahun lagi? Hahahah. Kau gila. Belum tentu kita masih hidup seratus tahun lagi.”

“Ya sudah, tidak usah seratus tahun…” kata Taemin. “Bagaimana kalau sepuluh tahun?”

“Hem…” Aku berpikir sejenak. “Baiklah, sepuluh tahun lagi. Sekarang umur kita tujuh tahun. Sepuluh tahun lagi berarti 17 tahun. Wah, aku sudah SMA nanti!”

“Aku juga,” katanya. “Kau harus janji ya, sepuluh tahun lagi kita akan mengecek kerikil itu di sini, di danau ini! Janji?”

“Janji,” kataku. Setelah itu kami saling mengaitkan kelingking kami tanda kami sudah berjanji.


*****

Esok harinya…

Aku termenung di bawah pohon di pinggir danau. Sepuluh tahun. Sekarang sudah sepuluh tahun. Waktu bagi aku dan Taemin untuk mengecek kerikil itu. Tapi… aku tak bisa berenang bersamanya lagi. Aku kan buta. Lagipula, Taemin pasti sudah lupa padaku.

Aku meraba-raba tanah, mencoba mencari sebuah kerikil. Akhirnya aku mendapatkan satu.

PLUNG !!

Aku melempar sebuah kerikil ke danau. Namun, belum sampai 2 detik, sudah terdengar suara percikan air. Tandanya kerikil sudah jatuh ke dalam air. Dari dulu hingga sekarang, aku tidak pernah bisa melempar kerikil dengan baik dan benar.

“Kau payah, masak melempar kerikil seperti itu saja tidak bisa.” Sebuah suara mengagetkanku.

“Siapa itu?”

“Ini aku, Taecyeon…”

Taecyeon segera mengambil posisi duduk di sebelahku.

“Kau mau kuajari cara melempar kerikil? Seperti ini…” Taecyeon melempar sebuah kerikil. Sekitar 10 detik kemudian, barulah terdengar suara percikan air.

“Kau hebat sekali…” pujiku.

“Aku sudah belajar cara melempar kerikil sejak aku kecil. Dulu aku sering ke danau ini dengan temanku dan melempar kerikil di sini…” kata Taecyeon.

Aku tersentak. Kisahnya mirip sekali dengan kisahku. Apa jangan-jangan dia… Taemin? Ah, tak mungkin, tak mungkin dia Taemin.

Aku meraba-raba rerumputan tempat aku duduk. Tiba-tiba aku menyentuh sesuatu.

“Apa ini?” tanyaku pada Taecyeon.

“Oh, kau sedang memegang tas sekolahku…” jawab Taecyeon.

“Kau pergi ke sekolah?” tanyaku lagi.

“Tentu saja, memangnya kau tidak?”

Aku terdiam. Agak lama aku menjawab. “Tidak. Aku kan tidak bisa melihat, bagaimana aku mau sekolah? Aku tak mau masuk di Sekolah Luar Biasa. Lebih baik aku belajar sendiri di rumah.”

Terdengar ‘oh’ panjang dari Taecyeon. Disusul suara percikan air. Pasti ia melempar banyak kerikil.

“Heagi-ah… kau tahu? Biar pun batu ini kecil sekali, tapi dia bisa bertahan sangat lama di dalam air…” kata Taecyeon tiba-tiba.

Aku tersentak. Kata-kata ini adalah kata-kata yang sama yang pernah dikatakan Taemin sepuluh tahun yang lalu. Aku terdiam.

“Tapi dia tidak bisa bertahan selama seratus tahun. Sepuluh tahun saja tidak bisa. Apalagi seratus tahun. Persahabatan saja umurnya tak sampai sepuluh tahun…”

Aku terdiam. Lalu berkata, “Persahabatan?”

“Ya. Persahabatan sangat rapuh. Dulu aku punya sahabat, namun sekarang dia sudah tak menganggapku sebagai sahabat lagi. Padahal kami sudah berteman dari kecil…” kata Taecyeon.

“Tak mungkin…” kataku tiba-tiba. “Tak mungkin sahabatmu itu melupakanmu. Sebesar apa pun kesalahanmu, dia pasti tetap akan memaafkanmu. Walaupun seandainya dulu dia pernah bilang dia tidak akan memaafkanmu, tapi sebenarnya dia mau. Dia mau memaafkanmu…”

Hening sejenak. Mungkin Taecyeon sedang merenungi kata-kataku.

Tiba-tiba badanku tergerak untuk mendekati danau. Entah hasrat apa yang mendorongku. Aku berdiri di tepi danau, lalu meloncat ke dalamnya.

*****

“Heagi-ah! Heagi-ah! Bangun!” kata seseorang sambil mengguncang tubuhku. Aku membuka mata perlahan, kukira akan ada keajaiban jika aku melakukan hal nekat seperti tadi. Bisa saja secara tiba-tiba aku bisa melihat lagi. Tapi ternyata tidak.

“Si-siapa itu?” tanyaku.

“Ini aku, Taecyeon…”

“Oh, Taecyeon…” kataku.

“Di mana ini?”

“Di rumah sakit…”

“Sudah berapa lama aku di sini?”

“Sudah tiga hari…”

Aku terdiam. Setelah itu Taecyeon berbicara.

“Mengapa kau meloncat ke danau waktu itu?” tanyanya. “Kau ingin mati?”

“Ah, tidak… aku bukan ingin mati… aku sengaja melompat ke danau untuk mencari… kerikil. Kukira aku masih bisa berenang, tapi ternyata tidak… Hahaha. Aku bodoh  ya?”

Tidak ada respon dari Taecyeon. Tiba-tiba dia berkata, “Tunggu sebentar…” Lalu terdengar suara dentuman pintu. Ia telah pergi.

*****

(Taemin’s P.O.V)

Aku berlari sekencang-kencangnya menuju danau itu… secepat mungkin…

Taemin, kau harus menemukan kerikil itu, harus…

Aku tak menyangka ketika tahu alasan mengapa Heagi melompat ke dalam danau itu. Ternyata ia masih ingat. Ia masih ingat tentang kerikil yang kita tenggelamkan di danau sepuluh tahun lalu. Kukira dia sudah lupa.

Akhirnya aku sampai di tepi danau. Aku segera meloncat ke dalam danau.

Aku menyelam ke dasar danau, namun tak juga kutemukan kerikil itu. Mana sih dia? Aku segera menuju ke permukaan sebelum nafasku habis.

“Hosh, hosh, hosh…” Aku mengambil nafas, setelah itu segera melanjutkan mencari kerikil lagi. Namun hampir setengah jam aku menyelam-nyelam di danau ini, tak juga kutemukan kerikil spesial itu.

Mungkin Heagi benar. Kerikil takkan bertahan selama itu.

Akhirnya aku menyerah dan naik ke permukaan danau. Aku termenung di pinggir danau sambil merenungkan masa laluku.

*****

(Heagi’s P.O.V)

Kemana perginya Taecyeon? Dia menghilang begitu saja.

Sekarang sudah jam sembilan malam. Oemmaku sudah menjemputku di rumah sakit, dan aku sudah boleh pulang sekarang.

Kami naik mobil menuju rumahku. Ketika melewati danau itu, aku merasakan aura berbeda. Firasatku mengatakan orang yang kutunggu-tunggu berada di sana.

“Oemma… bolehkan aku ke danau sebentar?” tanyaku pada oemma.

“Ke danau? Untuk apa? Kau kan baru saja sembuh…”

“Izinkan aku oemma… aku ingin sekali ke sana…”

“Memangnya kau bisa sendiri ke sana?”

“Bisa. Oemma tenang saja.”

Akhirnya oemma mengizinkanku. Aku segera turun dari mobil bersama tongkatku, lalu melangkah perlahan menuju tepi danau.

“Hey…” kataku ketika aku sampai di tepi danau. Tiba-tiba aku mendengar suara gesekan rumput, diikuti suara langkah kaki seseorang.

“Heagi-ah, jeongmal mianhae… Ini aku, Lee Taemin. Akulah Lee Taecyeon itu. Aku tak berani bilang padamu kalau aku adalah Taemin, teman masa kecilmu, karena waktu itu aku yang menyebabkan kebutaanmu…”

Aku terdiam. Taemin? Dia sudah kembali?

“Kau tidak percaya?” Nada suara Taemin terdengar menyesal. “Maaf, aku tak bisa membawa bukti kalau aku adalah Lee Taemin. Awalnya aku ingin mencari kerikil yang kita tenggelamkan sepuluh tahun lalu, namun aku tak menemukannya… Tapi tolong, percayalah bahwa aku adalah Taemin…”

“Kerikil? Maksudmu ini?” Aku mengeluarkan sebutir kerikil dari sakuku.

Taemin segera mengambil kerikil di tanganku. Mungkin sekarang dia sedang mengaguminya.

“B-bagaimana bisa kau mendapatkannya?”

“Kau tahu, saat aku melompat ke danau, aku berhasil menemukan kerikil yang kita buang sepuluh tahun lalu. Biarpun aku buta, aku bisa merasakan kerikil berinisial T-H ini, karena inisialnya diukir…”

Tiba-tiba aku merasa dipeluk seseorang.

“Mianhae dan gomawo, Heagi-ah…” kata Taemin.

“Seharusnya aku yang berterima kasih…” kataku.

“Kenapa?”

“Karena akhirnya aku percaya, bahwa keajaiban itu ada…”

“Maksudmu?”

“Kerikil yang semestinya tak bisa bertahan selama sepuluh tahun, ternyata bisa bertahan. Gomawo, Taemin-ah, atas keajaiban-keajaiban yang kau berikan padaku…”

“Cheonmaneyo, Heagi-ah…”

Taemin melepaskan pelukkannya dan mengajakku duduk di pinggir danau itu. Tangannya mencengkram erat tanganku. Tiba-tiba ia bicara.

“Tenang saja, Heagi-ah… Suatu hari nanti, kita pasti bisa melempar kerikil bersama lagi…”

Dan aku pun tersenyum.

*****

Advertisements

19 responses to “Show Me Your Love [OneShot]

  1. kyaaa kereeen >.<
    tapi knapa endingnya dibikin nggantung gitu? *ditabok author*
    tapi overall udah bagus koo 🙂

    • hahahah jeongmal mianhaeyoo kalo endingnya kurang memuaskan hehehe
      soalnya author udah ‘blank’ mau narok apa lagi di akhirannya wakakak

      gomawo chingu udah dibaca dan dilike 😀

  2. persahabatan yg luar biasa…

    klo aku jadi haegi, maybe tak akan sebaik itu. wkwwww
    sanggup memaafkan taemin…

    nama lee taemin jadi lee taecyeon, lucu!! haha.. mank ampir mirip m taecyeon, tp personil 2pm ok taecyeon. haha..ada2 az!!

    aku suka jalan ceritanya, simple n tenang2 aza… good~~~

  3. halo rana~
    gomawo baru baca… =,=
    ehm, kukira kau ini udah sma ato kuliah… ternyata cuma beda sebulan denganku… XD
    soalnya ff buatanmu puitis n romantis banget, kayak org yg sudah hidup lama & merasakan asam garam (lho??) bagus lho~~! *ngacungin jempol*
    terutama yang ini,, bagus banget. aku suka alurnya, gak keburu-buru. terakhirnya sih aku ngira taem bakal nyumbangin mata ke si heagi, hahaha… tapi yah, yang namanya reader hanya bisa menerka-nerka tapi authorlah yang menentukan… T__T
    eh itu judulnya kayak iklan es krim yang ada RAN-nya tuh,,, kau agen wall’s ya? *lirik-lirik curiga*

    • annyeong chingu hehehe
      wkwk asam garam? -__-” wkwk kiasan macam apa itu wkwkwk
      hehehe iyaaa akhirnya sengaja aku buat sdkt beda (pdhl aslinya author udh mumet gak tau lg mau ngetikin apa hahaha)
      kamu ’96 juga toooohh?? domilisinya dimana? kkk~ ^___^

      agen wall’s?? *lirik kanan kiri* maksudnya aku? (GUBRAK!)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s