8 o’clock [season one/part 2]

8 o’clock [season one/part one]

Title : 8 o’clock [season one]

Author : Keychand

Rating : PG- 15

Cast : SHINee, Song Je Sang, Song Hyun Won, Shin Soo Hee

Genre : Thriller, romance

———————————————————————————————–

Je sang P.O.V

Aku terus menangis di bus selama perjalanan, aku benar-benar merasa ketakutan. Aku takut terlalu jauh berurusan dengan kejadian tadi, aku tidak mau. Bisa kurasakan tubuhku bergetar semua, keringat dingin terus bercucuran membasahi pelipisku.

‘Ya Tuhan bagaimana ini..aku takut..’

Akhirnya bus yang kutumpangi berhenti didepan halte dekat apartemenku dan aku pun turun dari bus itu. Tanpa ba-bi-bu lagi aku terus berjalan menuju apartemenku tanpa berani melihat sekeliling ataupun menengadahkan kepalaku. Aku terus berjalan cepat sambil menundukan kepalaku berharap cepat sampai didalam apartemenku. Aku sudah tidak perduli lagi dengan amukan nona shin, aku benar-benar ketakutan dan ingin sendirian saat ini.

Akhirnya aku sampai juga didepan pintu apartemenku, aku langsung membuka kuncinya dan memutar knop pintu apartemenku yang berwarna kuning emas dan segera menguncinya kembali.

Aku menghambur kedapur dan meneguk sebotol air mineral dingin dari dalam kulkas, nafasku masih tidak teratur, begitupun dengan debaran jantungku, ini benar-benar kacau, aku merasa dibayang-bayangi terus.

“aiish!” aku berjalan kekamarku dan membantingkan diriku kekasur kecilku, tidur sebentar mungkin akan membantu fikirku.

Tapi sayangnya itu tidak berhasil, walaupun mataku sudah tertutup aku tetap bisa merasakan kehadiran bayangan kejadian tadi, tidurku benar-benar tidak tenang, yang ada malah kasurku basah karna keringat dinginku yang terus keluar. Akhirnya aku kembali membuka mataku dan terduduk dikasurku,

“tenang jesang, tenang, kau aman,kau aman..” ujarku menenangkan diriku sendiri, tapi aku akui itu tak berhasil, perasaanku masih campur aduk.

*

Hari ini aku kembali kekantor pusat, setelah semalaman tidak bisa tidur gara-gara dibayangi oleh kejadian kemarin. Selama diperjalanan aku terus memikirkan hal apa yang harus kukatakan pada nona shin. Mana mungkin aku menceritakan semua kejadian kemarin pada nona shin, bagaimana kalau dia tidak percaya, tapi aku juga bingung harus berkata apa.

20 menit perjalanan akhirnya aku sampai juga dihalte dan segera berjalan kekantor pusat, dari kejauhan bisa kulihat ada ramai-ramai disana.

“ada konfrensi pers ya?” tanyaku pada diri sendiri. Tapi semakin aku berjalan mendekat semakin jelas  yang berkumpul itu dan berhasil membuat jantungku kembali berdegup kencang dan seluruh tubuhku bergetar.Polisi!

Dengan langkah berat aku berjalan memasuki kantor dan berusaha mencari nona shin, tapi parahnya ternyata dia sedang berbicara dengan 2 orang polisi. Dan sepertinya nona shin menyadari kedatanganku, dia seperti mengatakan pada 2 orang polisi itu kalau aku sudah datang dan dia menunjuk kepada diriku. ‘aiiish!apa ini!’ gumamku dalam hati.

Mereka ber-3 berjalan mendekatiku,

“jesang, polisi ini mencarimu, mereka ingin menanyakan sesuatu padamu..” ujar nona shin sambil menunjuk ke-2 polisi pria itu, aku menelan ludahku perlahan dan menatap ke-2 polisi itu dengan ketakutan.

“tak usah menatap kami seperti itu nona, kami kan bukan pembunuh..” kalimat pertama yang keluar dari salah satu polisi yang bergaya ‘so cool’  -mungkin- berhasil membuatku semakin teringat kembali pada kejadian kemarin. Aku melangkah mundur ketakutan, sekarang bisa kurasakan keringat dingin mulai mengalir lagi.

“eh, nona aku salah bicara ya?mian, aku tak bermaksud, mianhaeyo..” ucapnya lagi dengan rasa bersalah,

“ka..kalian mau apa?” tanyaku tergagap, polisi itu memperhatikan aku dari atas sampai bawah kemudian tersenyum.

“bagaimana kalau kutraktir minum secangkir coklat hangat?baru kita bicara..” tawar polisi itu dengan ramahnya, jujur sebenarnya aku takut berurusan dengan polisi, tapi apa boleh buat, terlanjur sudah.

“ba.. baiklah..” jawabku pelan, ia tersenyum dan menggamit tanganku menuju café disebrang jalan.

“Ini..” ia menyodorkan segelas coklat hangat padaku dan duduk berhadapan denganku.

“kim jonghyun imnida..” ucapnya sambil tersenyum, kalau kuperhatikan gaya polisi ini tak seperti polisi yang lainnya, rambutnya berpotongan aneh, belum lagi rambutnya ia cat warna coklat digradasi dengan  warna keemasan dibagian poninya yang panjang sehingga menutupi sebagian matanya. Memang boleh polisi bergaya seperti itu?

“song jesang imnida..” balasku pelan, kuseruput coklat hangat itu, cukup menenangkan.

“sudah merasa lebih tenang? Maaf tadi membuatmu ketakutan, sepertinya aku salah bicara,hehe”  ucapnya lagi dengan terkekeh, aku mengangguk pelan.

“begini, aku dan minho, polisi tadi, hanya ingin menanyakan benarkah kemarin kau berniat bertemu dengan model bernama park kyunghee?” tanyanya tanpa basa-basi, sialan! Wajahnya bertampang innocent tapi bertanya langsung pada pokoknya.

“i..ia..” jawabku terbata, aiish, haruskah kuceritakan semua?

“mencari berita tentangnya ya?lalu kau berhasil menemuinya?” tanyanya lagi, aku menggeleng pelan, sepertinya aku memang harus menceritakan semua.

“aku terus menunggu disana hingga malam, tapi tak ada yang berubah, tak ada yang masuk ataupun keluar” jelasku mulai memberanikan diri.

“kau menunggu disana sampai jam berapa?”

“jam 8 malam..” jawabku singkat, sontak polisi bernama jonghyun itu menaikkan sebelah alisnya dan seolah mengetahui sesuatu.

“baiklah, kita sudahi saja pembicaraan tidak bermutu ini, ayo kembali, mereka pasti sudah menunggu..” ujarnya kemudian, aku hanya mengangguk mengiyakan dan beranjak dari kursiku.

Kami kembali menyebrang menuju kantor, tapi sesaat kemudian entah kenapa aku merasa ada yang memperhatikanku dan rasanya atmosfir disekelilingku berubah. Bukan karna banyak orang atau apa, ini berbeda, aku merasa ada sesuatu yang mengawasiku?!

Aku menghentikan langkahku dan melihat kesekelilingku, tapi tak ada yang memperhatikanku. Apa mungkin perasaanku saja?

“jesang-ah!” panggil nona shin yang membangunkan lamunanku,kuarahkan pandanganku padanya,

“ikut aku” perintahnya singkat, aku mengangguk pelan dan mengikuti jalannya, kulihat jonghyun tengah berbicara dengan partnernya, sepertinya membicarakan apa yang kukatakan tadi.

“duduk!” perintahnya saat memasuki ruang kerjanya, aku langsung duduk disofa.

“apa saja yang kau katakan barusan?jangan sampai jawabanmu mencoreng nama ‘Glamour’!” ancamnya dengan nada ketus,

“anniyo, polisi itu hanya bertanya sampai jam berapa aku menunggu disana, itu saja..” jawabku pelan tanpa menatap matanya.

“lalu kau jawab apa?”

“aku hanya menjawab aku menunggu sampai jam 8..” jawabku singkat, aku bisa merasakan perubahan raut wajah nona shin, raut wajahnya sama dengan raut wajah polisi tadi saat mendengar jawabanku. Sebenarnya ada apa ini?

“dengar jesang, kau dalam bahaya sekarang, jangan sampai kau terjerumus lubang yang kau buat sendiri!” ucapnya dengan nada ditekankan dan pergi meninggalkanku begitu saja.

Aku yang tak mengerti ucapannya hanya bisa duduk terdiam mencoba mencerna ucapannya.

*

“bagaimana? apa sudah selesai?” Tanya nona shin pada ke-2 polisi itu,

“ah begini nona, apa boleh kami mengundang nona jesang untuk datang kekantor kami, hanya untuk mengajukan beberapa pertanyaan, untuk bahan penyelidikan kami..” pinta polisi yang bernama minho itu sesopan mungkin. Sesaat nona shin terdiam seperti tengah memikirkannya,

“baiklah, terserah kalian saja..” jawabnya akhirnya.

“gomawo nona, kami benar-benar berterimakasih atas kerjasamanya..” jawabnya sambil membungkukkan badan yang langsung dibalas oleh nona shin. Kemudian dua polisi itu langsung menghampiriku yang memperhatikan mereka dari jauh.

“nona jesang, bisa ikut kami?” Tanya polisi yang bernama minho itu dengan sopannya.

“kemana?kantor polisi?” tanyaku sedikit ketus

“gadis pintar, jadi mau ikut kan?” jawab jonghyun dengan semangat, aku menghela nafas panjang dan mengangguk kecil.

*

“ayo masuk, jangan sungkan..” ujar jonghyun saat kami sampai dikantor polisi. Apa-apaan dia, memangnya kantor polisi ini rumahnya apa, pakai bicara seperti itu segala.

“bisa lebih cepat nona jesang?kita dikejar waktu..” pinta minho sedikit tegas, aku menoleh padanya dan mengangguk kecil.  Kami terus berjalan melewati deretan meja polisi yang sepertinya sedang melayani keluhan warga seoul. Dan ini pertama kalinya aku memasuki kantor polisi.

“silakan masuk..” ujar minho saat kami sampai disebuah ruangan. Tunggu! Ruangan apa ini?kenapa suasananya berubah drastis begini?suhunya juga semakin dingin.

“te-tempat apa ini?” tanyaku tergugup.

“ini ruang forensik..” jawab minho singkat dan datar, aku terbelalak mendengar jawabannya,

“fo-forensik?” ulangku tergagap, jonghyun yang sepertinya menyadari bahwa aku ketakutan lantas menghampiriku dan merangkulku.

“tenanglah, tak apa..” ujarnya menenangkanku, aku menelan ludah, dan mengangguk kecil.

Saat aku memasuki ruangan itu bau busuk dari mayat yang sudah lama langsung tercium dan sangat menyengat, aku langsung menutup hidungku karna tak bisa menahan baunya.

“pakai ini..” jonghyun menyodorkan sebuah masker dan aku langsung mengenakannya.

“sudah datang rupanya..” tiba-tiba seorang wanita keluar dari ruangan yang ditutupi tirai plastik berwarna biru. Sepertinya dia ahli forensik disini, tapi seorang perempuan?

“ini orangnya ya, annyeong, song hyun won imnida..”ucapnya dengan ramah, aku mengangguk kecil dan memperkenalkan diriku singkat.

“song je sang imnida..” balasku sedikit tergugup.

“ayo ikut aku..” ajaknya kemudian, ia berjalan meninggalkan ruangan forensik dan berjalan menuju ruangan disebelahnya, aku dan 2 polisi tadi mengikutinya.

“sebaiknya kau lihat fotonya saja dulu, aku takut kau takkan kuat..” ucapnya sambil mengambil sebuah berkas dari dalam laci kerjanya. Aku menaikkan sebelah alisku tanda tak mengerti, tapi perempuan bernama hyunwon itu malah langsung memberikan sebuah foto padaku.

Kemudian kuambil foto itu dengan ragu-ragu, sepersekian detik kemudian betapa tersentaknya seluruh tubuhku saat melihat foto itu. Foto yang mengerikan.

“I..ini..” jawabku terbata, kututup mulutku dengan tangan kananku yang masih tercengang melihat foto yang kupegang. Ingin rasanya aku berteriak dan mengangis tapi itu tidak mungkin.

“Ya, perempuan itu park kyunghee. Dia adalah model kesekian yang menjadi korban pembunuhan dengan sisa lambang yang tertinggal dijasadnya..” jelas hyunwon dengan serius.

“La-lambang?” tanyaku terbelalak dan tak mengerti.

“ya,lambang, kau bisa lihat dari foto itu. Diatas jantungnya yang tercabik ada sebuah luka bakar yang membentuk sebuah lambang..”jelas hyunwon lagi.

‘ja-jadi, laki-laki itu bukan hanya mengoyak jantungnya?tapi juga membakarnya?tapi untuk apa?kenapa ia melakukan hal itu?lagipula jasadnya benar-benar mengerikan, lebih mengerikan dari yang aku bayangkan..’ fikirku dalam benak.

“jesang-sshi, gwenchanayeo?” sebuah suara membangunkanku dari lamunanku, aku menoleh padanya, ternyata jonghyun, aku mengangguk pelan dan kembali mengamati foto itu. Foto sebuah jasad yang mengenaskan, jantungnya sudah hancur terkoyak hingga organ tubuh lainnya yang berdekatan dengan bagian jantung dan dagingnya terlihat, diatas jantungnya yang sudah hancur ada sebuah luka bakar yang membentuk suatu lambang –mungkin-, matanya terbuka lebar tanpa ada pupil yang terlihat, mulutnya menganga dengan darah yang sudah membuat mulutnya penuh dengan warna merah darah. Tubuhnya dipenuhi dengan goresan-goresan benda tajam menyebabkan gaun putihnya sobek tidak karuan.

“jesang-sshi, ada yang ingin kau katakan?” Tanya hyunwon tiba-tiba, aku menoleh padanya dengan tatapan ragu.

“tadi, kau bilang dia korban yang kesekian?” tanyaku ragu, ia mengangguk yakin.

“sudah ada 18 korban sebelumnya yang mati mengenaskan seperti ini, dengan keadaan yang sama. Setiap jasadnya selalu meninggalkan luka yang sama persis seperti pada foto itu..” jelasnya lantas bangkit dari kursinya.

“maaf aku terlambat..” tiba-tiba seseorang datang dengan berlari, masih terdengar nafasnya yang tersengal. Kami semua langsung menoleh kearahnya, seorang pria. Mengenakan jas putih yang sudah lusuh sambil membawa sebuah berkas ditangan kirinya.

“gwenchana..” jawab hyunwon datar.

“ah, ini orang yang kau maksud?ternyata dia masih muda ya..” gumam pria itu tersenyum manis padaku, apa semua ahli forensik seperti itu?

“annyeong, song jesang imnida..” sapaku sambil membungkukan badan,

“annyeong, lee jinki imnida..” balasnya ikut membungkukan badan dan mendekatiku lalu melihat foto yang kupegang.

“sudah melihatnya ya, berarti kau sudah tau semuanya kan?” tanyanya sambil tersenyum misterius,

“eh, ma-maksudmu?” tanyaku terbata, ia langsung mendorongku hingga terduduk kembali dan memegang pundakku keras.

“ceritakan semuanya pada kami, dan kau akan selamat..” ucapnya tepat didepan wajahku, aku mengerutkan keningku tapi ia malah mempererat pegangannya hingga membuatku merasa kesakitan.

“sa-sakit, lepaskan..” pintaku memegangi tangannya yang meremas pundakku.

“ya! jinki-ah! Tenanglah, jangan paksa dia” teriak jonghyun menarik tangan jinki hingga akhirnya terlepas.

“ah, a-araseo.. a-aku..” aku berucap dengan terbata, rasanya sulit sekali mengatakan sepatah kata saja.

“ne?” Tanya minho dengan wajah penasarannya, aku menelan ludah dan memperhatikan mereka semua secara bergantian.

“sebenarnya aku tau sesuatu..” ucapku akhirnya, kulihat jonghyun menarik sebuah kursi dan duduk disampingku.

“ceritakan semuanya..” perintah jinki dengan dinginnya, akhirnya aku menceritakan semua yang aku lihat, aku alami, dan aku dengar kemarin. Semuanya mendengarkanku dalam diam, tak ada yang menyelaku, hanya wajah serius dan berfikir yang kulihat dari mereka semua.

30 menit sudah aku menghabiskan waktuku untuk menceritakan semuanya, semua yang aku tahu.

“penjelasan yang bagus jesang-sshi, aku rasa kita bisa menjadi partner..” puji hyunwon kemudian, aku tersenyum kecil padanya.

“gomawo hyunwon-sshi, apa aku bisa pulang sekarang?” tanyaku kemudian, kulihat mereka semua saling bertatapan.

“baiklah, aku akan mengantarmu pulang, ayo..” ajak minho lantas bangkit dari duduknya, aku hanya mengangguk kecil dan mengikutinya.

“jesang-sshi..” panggil jonghyun sebelum aku keluar dari ruangan itu.

“ne?” aku berbalik menghadapnya,

“kalau satu saat nanti kami membutuhkanmu lagi kami harap kau mau bekerja sama..” harapnya dengan tersenyum manis, aku hanya mengangguk pelan dan membalas senyumannya lantas berbalik pergi meninggalkan ruangan itu.

Aku mengikuti langkah minho keluar dari kantor polisi dan menaiki mobil dinasnya,

“sebaiknya kau langsung pulang ke apartemenmu..” gumamnya saat aku duduk didalam mobil,

“wae?” tanyaku sambil mengenakan safety belt.

“sudah malam, tak baik seorang perempuan sepertimu berada diluar malam-malam begini..” jelasnya dengan wajah dingin. Ia menyalakan mesin mobil dan menginjak pedal gas hingga mobil yang kami tumpangi meluncur meninggalkan kantor polisi.

Selama perjalanan tak ada yang berbicara, aku tenggelam dalam fikiranku mengenai foto yang barusan kulihat dan kejadian kemarin, begitupun dengan polisi yang ada disebelahku. Dari raut wajahnya yang serius bisa kutebak kalau dia sedang memikirkan sesuatu dalam fikirnya.

“Apartemenku didepan sana..” ucapku akhirnya sambil menunjuk sebuah gedung tinggi didepan kami. minho hanya mengangguk kecil tanpa menjawab ucapanku. Beberapa saat kemudian mobil kami sudah sampai didepan apartemenku, aku langsung melepas safety belt dan bersiap membuka pintu, tapi tiba-tiba saja minho menahan tanganku.

“berhati-hatilah, jaga dirimu, kalau ada apa-apa telfon aku saja, ini kartu namaku. Ingat! Kau harus menjaga dirimu sendiri agar terus hidup!” ucapnya dengan serius dan menyodorkan sebuah kartu nama. Aku menerimanya dan tersenyum kecil,

“gomawo, aku pulang dulu, annyeong..” jawabku mencoba ramah,

“annyeong, selamat tidur, mimpi yang indah ya..” ucapnya saat aku keluar dari mobil, ia melambaikan tangannya dan langsung menancap gas lagi. Aku menghela nafas panjang dan masuk kedalam apartemen.

*

Author P.O.V

“Aku yakin kalau perempuan tadi adalah saksi kunci kita. Kita harus melindunginya, pembunuh itu pasti tengah mengincarnya..” ucap jonghyun dengan nada serius, ditatapnya langit malam yang gelap dari jendela ruang kerja hyunwon dan jinki.

“dari caranya menjelaskan aku rasa semuanya sudah semakin jelas, ceritanya mengenai runtutan kejadiannya. Benar-benar terperinci walaupun ia hanya melihat dari lubang kunci..” tambah hyunwon yang sama-sama serius.

“sepertinya mulai dari sekarang kita harus bekerja keras, kita harus berlomba dengan pembunuh sialan itu!” gumam jinki sambil menatap selembar foto tadi.

Soohee P.O.V

Aku terus menatapi semua foto model-model yang kini sudah menjadi jasad. Semuanya wanita papan atas yang karirnya memang sudah dipuncak, sepertinya pembunuhan yang terjadi itu membentuk suatu.. pola?!

‘totktoktok..’ tiba-tiba sebuah ketukan membuatku sedikit terlonjak dan segera membereskan foto-foto itu kedalam laci dengan tergesa.

“masuk..” jawabku mencoba senormal mungkin, saat pintunya terbuka kulihat jesang masuk.

“duduk..” perintahku dengan dingin, ia menurutinya dan duduk dikursi yang ada didepanku.

“ottokhe?kau tidak mengatakan apapun yang mungkin membuat majalah kita jatuh kan?” tanyaku waspada, ia menggelengkan kepalanya dan menatap dengan pandangan serius padaku.

“wae?” tanyaku yang merasa risih dengan tatapannya.

“kemarin pihak forensik mengatakan bahwa masih ada 18 jasad lainnya yang sama-sama model, apa nona mengetahui tentang itu?” tanyanya yang hampir saja membuat mataku meloncat keluar, kenapa ia bisa menanyakan hal itu?

“memangnya kenapa?” tanyaku dengan nada sedingin mungkin.

“aku ingin mencari berita tentang model itu, kenapa berita kematiannya tidak diusut sampai tuntas?padahalkan itu berita yang menyangkut model papan atas..” jelasnya penuh keseriusan.

“itu berita tentang kriminal jesang-ah, majalah kita tidak memprioritaskan pada hal semacam itu. Kita hanya harus mencari soal kehidupan metropolis mereka..” jelasku kemudian, tapi sepertinya penjelasanku tidak memuaskan.

“tapi bukankah berita mengenai kematiannya bisa menjadi berita yang menjual? Apalagi kalau kenyataannya mengatakan bahwa kematian mereka ada sangkut pautnya dengan kehidupan metropolis mereka, bukankah benar-benar menjual?” gertaknya semakin menjurus. Apa-apaan anak ini, kenapa dia bisa berfikir seperti itu, aku  harus menjawab apa?!

‘tiririring..’ tiba-tiba saja suara telfon kantor berdering, untunglah, membantuku.

“yoboseo..” jawabku sesopan mungkin.

“ne? araseo, akan kukatakan padanya..” kututup kembali telfon itu dan memandang tajam pada jesang.

“wae?” tanyanya seolah mengerti tatapanku.

“polisi kembali menelfon, mereka menyuruhmu untuk datang kesana..” jelasku dengan ketus.

“lagi?” tanyanya tak percaya, aku menghembuskan nafas cepat.

“pergilah sekarang sebelum kau mendapatkan masalah..” perintahku bangkit dari kursi dan mengambil sebuah berkas dari lemari.

“araseo, aku pergi dulu, annyeong..” jawabnya lantas membungkukan badan dan keluar dari ruanganku.

Setelah kurasakan jesang pergi aku mendengus kesal dan menutup berkas itu penuh emosi.

“Kenapa jadi rumit begini! Aiiish! Selalu saja! Sudah berapa banyak berita yang hilang gara-gara pembunuh sialan itu!” geramku melemparkan berkas itu sembarangan.

*

Author P.O.V

Saat jesang sampai dikantor polisi ia langsung disambut oleh hyunwon yang kini berpenampilan lebih feminin dibandingkan kemarin yang mengenakan kemeja lengan pendek dan celana hitam panjang. Hari ini ia mengenakan kemeja warna krem dan rok span selutut berwarna kuning pucat ditambah high heels setinggi 7 cm keluaran Prada dan rambutnya yang sebahu ia biarkan tergerai. Ia menghampiri jesang dan langsung mengajaknya masuk.

“gomawo kau mau datang jesang-sshi..” ujarnya sambil mengajak jesang masuk.

“gwenchana, kalau boleh tau, ada apa lagi?” Tanya jesang yang sepertinya mulai tertarik pada kasus yang menyeret dirinya ini.

“kita bicarakan didalam saja..” jawab hyunwon pendek dan meneruskan langkahnya. Hyunwon  mengajak jesang kembali memasuki ruang forensik, tapi sebelumnya ia memberikan masker pada jesang dan pakaian khusus petugas forensik.

“ayo masuk..” ajaknya dengan menyibakan tirai plastik itu, jesang mengangguk kecil dan mengikuti lengkah hyunwon dari belakang. Ternyata disana sudah ada minho, jonghyun, jinki, dan satu orang lagi, seorang lelaki bertubuh kecil yang sibuk membantu jinki melakukan penyelidikan.

“ah, kau sudah datang..” sapa jonghyun saat hyunwon dan jesang menghampiri mereka semua.

“selesai..” gumam jinki tiba-tiba sambil mengelap keringat didahinya dengan punggung lengannya.

“baiklah kalau begitu, jesang ayo kemari, mendekatlah..” perintah hyunwon pada jesang yang memang berdiri agak jauh dari mereka. Dengan ragu jesang melangkah mendekati hingga berdiri disamping minho.

“kami minta kau memperhatikannya dengan sungguh-sungguh..” jelas jinki penuh keseriusan.

“eh?” jesang yang kebingungan hanya bisa terdiam menunggu apa yang akan ditunjukan oleh mereka semua.

-tbc-

15 responses to “8 o’clock [season one/part 2]

  1. Asyik lnjutanx muncul lg…
    Ceritax seruu bgt..
    Bikin jantung berdebar2..
    Yg begini ni yg seru bacany..
    Minho,jong,onew dah keluar..
    Yg bantu onew td pasti tae *sok tau, ditabok author..
    Pasti pembunuhx key.. *sok tau lg! Ditabok bolak balik..

    • gomawo udah setia nunggu, baca, n comment.. 🙂
      kyaa, makasii ya.. 😀
      whahaha,,tunggu dulu chingu,, jgan nuduh *spa yg nuduh?! author pabbo.!

      tunggu kelanjutan’a di 8 o’clock part 3 *gaya ngmong di cinta pitri* 😛

  2. *komen saya yg lewat hp ga masuk ya?*

    kok di chapter ini si pembunuh ga muncul..pdhal kan pengen liat pembunuhnya yg keren itu..

    kemungkinan emg sih Key pembunuhnya..cz yg laen dah pada muncul,,tapi siapa tahu aja kan sipembunuh nyamar jd polisi atau ahli forensik*ga mungkin*

    ternyata jantungnya bukan hanya dibacuk melainkan jg dibakar*tambah sadis* dan diberi lambang..
    kok kayak kolor ijo ya..orang2 nyari ilmu gitu..

    akan setia menunggu lanjutannya..

    • whahaha,,gomawo key&won.. 🙂
      whahaha,,kamu ngfans ya am pembunuh’a,,mau saya telponin dia buat datengin kamu?? 😛

      waaahh,,bisa jadi tuhh, tunggu lanjutan’a aja yaa..
      gomawo udah comment n baca.. 🙂

  3. Pingback: 8 o’clock [season one/part 3] « FFindo·

  4. Parah.. parah.. onn ngebayangin foto gadis yg di bunuh itu, jangtung terkoyak, bekasnya dibakar, trus ada lambangnya juga, mulutnya penuh darah, matanya terbelalak ->> sukses bikin onn pengen muntah, apalagi bacanya tengah malam..

    Makin penasaran nih sm pembunuhnya, pengen nanya itu lambang apa ya yg dia tinggalin d jasad gadis yg d bunuhnya? trus alasan dia membunuh itu apa?

  5. Pingback: 8 o’clock [season one/part 4] « FFindo·

  6. Pingback: 8 o’clock [season one/part 7] « FFindo·

  7. Pingback: 8 o’clock [season one/part 8] « FFindo·

  8. Pingback: 8 o’clock [season two/prolog] « FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s