[FF-Series-PG15] VIVID CHAPTER 11 (starring Lina & Jaejoong)

NO SILENT READ IN MY FANFIC!
AFTER YOU READ, LEAVE THE COMMENT.
thank you.

My Other Fanfic(s) :

[FF-Oneshot-PG] Midnight Note (starring Yoochun & BoA)
[FF-Oneshot-G] I Love My Brother (starring Chinen Yuuri)
[FF-Oneshot-PG] Unreadable Note (sekuel of Midnight Note)

_______________________________________________

VIVID’s Previous Chapter(s) : 01 | 02 | 03 | 04 | 05 | 06 | 07 | 08 | 09

Title : VIVID
Author : Dila (di LA —SAFE, BoA-Indo, Sujunesia, TVXQ-Indo—)
Rating : PG-15
Pairing : Lina ♥ Jaejoong
Cast : CSJH The Grace, TVXQ, BoA
Location : Japan
Length : Chaptered
Genre : Romance, Comedy
Language : Indonesia
A/N :
– Fic ini ditulis dalam Bahasa Indonesia, dan sedikit bahasa dan istilah-istilah Jepang
– Jika ada Bahasa Jepang, langsung diterjemahkan di sampingnya
– Dalam fic ini, lokasi ada di Jepang, bukan di Korea
– Penulisan nama seperti Jaejoong dan Yoochun akan menyesuaikan dengan penulisan nama mereka di Jepang

CHAPTER 11

Ibu Jaejung menghela napas. Jeda beberapa detik, beliau bertanya lagi.
“Dan apakah kau tahu bahwa kau adalah anak kembar?” tanya ibu Jaejung. Kali ini Jaejung terdiam.

Aku melebarkan mataku lagi, tak percaya. Bergantian, aku melihat Jaejung, lalu kedua orang tuanya. Suasana jadi hening begini. Aduh, aku harus melakukan sesuatu.
“A-aku akan membuatkan teh dulu…” kataku canggung. Kemudian aku ke dapur kecil di belakang mereka, membuatkan teh. Fuh, bisa-bisa aku mati tegang kalau terus di sana.
Tapi beberapa detik setelah aku ke dapur, Jaejung menjawab pertanyaan ibunya.
“Heee… jadi aku punya saudara kembar? Aku tidak tahu sebelumnya. Seperti apa dia?” tanya Jaejung dengan nada biasa, dan aku menduga dia tersenyum—aku tidak tahu karena dia membelakangiku.
“Namanya Kim Changshik. Dia kembar identik denganmu,” kata ibu Jaejung sambil tersenyum. Sepertinya dia sedikit lega Jaejung tidak marah.
“Kimu… Chanshiku?” tanya Jaejung polos.
“Kim-Chang-sik,” koreksi ibu Jaejung dengan jelas. Jaejung hanya mengangguk tapi tidak mengulangnya lagi. Takut salah.
“Lalu? Dia sekarang ada di mana?” tanya Jaejung.
“Dia sekarang di Korea Selatan. Orang tua angkatmu ke sana karena urusan kerja, sekaligus menjenguk Changshik,” cerita ibu Jaejung.

Aku kembali sambil menghidangkan teh di meja. Kemudian aku duduk lagi di samping Jaejung. Aaargh, lagi-lagi aku merasa tegang. Kenapa sih ada keluarga seperti ini?
“Kim Changshik ini… tahu mengenai aku?” tanya Jaejung memecah keheningan.
“Dia tahu. Dia ingin sekali bertemu denganmu. Sayang sekali aku tidak bisa membawanya ikut kami ke Jepang. Dia masih banyak tugas dan ibu juga sibuk mengatur urusan di sini,” kata ibu Jaejung.
“Jangan bekerja terlalu keras, nanti okaasan kelelahan,” kata Jaejung dengan wajah cemas.
“Hmh,” ibu Jaejung mengangguk.
Uwaaah, Jaejung baik sekali. Padahal biasanya omongannya sangat gombal. Tapi ketika berbicara dengan orang tuanya, dia terlihat dewasa. Aku sampai tidak bisa membayangkan Jaejung marah dan kabur dari rumah empat bulan yang lalu. Walau aku sudah menjadi pacarnya, bagiku Jaejung masih tetap misteri.

“Lina-chan?” panggil ibu Jaejung.
“Hai’?”
“Terima kasih sudah menemani Jaejung,” kata ibu Jaejung sambil tersenyum padaku.
“Aaah, tidak… Jaejung juga selalu saya repotkan,” kataku sambil membungkuk sedikit. Kemudian ibu Jaejung kembali menatap Jaejung serius.
“Jaejung… mungkin kami belum bisa langsung memaparkan semuanya. Kami belum siap untuk menceritakan semuanya—“
“Tidak apa-apa. Aku akan menunggu,” kata Jaejung sambil tersenyum. “Lagipula otakku tidak akan mampu menampung semuanya dalam waktu bersamaan.”

Setelah berbasa-basi dan meminum teh buatanku, orang tua Jaejung berpamitan. Kunjungan singkat dan menegangkan ini akhirnya berakhir juga.

Aku menunggu Jaejung—yang mengantar orang tuanya ke depan—di dalam apartemennya. Entah mengapa aku merasa Jaejung sangat aneh. Atau lebih tepatnya, seperti yang tadi aku katakan… misterius. Sifatnya terlalu drastis berubah. Dulu dia sangat marah saat tahu bahwa dia anak angkat. Bahkan sampai keluar rumah dan pindah sekolah. Tapi Jaejung yang ini benar-benar pasrah dan… tenang. Tapi benarkah Jaejung setenang itu? Ah, andai aku bisa membaca pikiran orang, pasti aku tidak akan sepenasaran ini.
“Tadaima…” kata Jaejung sambil masuk ke apartemennya. Tidak seperti sebelum orang tuanya datang, Jaejung kini terlihat… mmm, aku tidak bisa mendeskripsikan wajah itu. Apakah itu sedih? Kecewa? Marah?

Jaejung duduk di sampingku tanpa berkata apa-apa.
“Daijoubu? Kau tidak apa-apa?” tanyaku.
Jaejung hanya diam, tidak menjawab pertanyaanku. Aku menunggu. Beberapa detik kemudian dia baru mengucapkan sesuatu dari mulutnya.
“Entah apa lagi berita yang akan mereka ceritakan,” kata Jaejung tanpa senyum, dan tanpa menjawab pertanyaanku. Aku diam saja, bersiap mendengar curahan hatinya. “Dulu mereka bilang aku anak angkat. Kemudian mereka bilang aku punya kembaran di Korea sana. Lalu apa lagi? Mereka mau cerita bahwa ternyata aku bukan anak dari kedua keluarga itu? Bahwa semua ini kesalahan? Atau mereka mau cerita kalau kembaranku itu punya penyakit mematikan? Joudan janai yo. Jangan bercanda. Ini kan bukan drama. Mou… kekko da yo. Sudah cukup aku mendengar semua ini,” cerita Jaejung. Tangannya sudah meremas sofa saking marahnya. Aku menggenggam tangan itu. Tak terasa, air mata mengalir di pipiku.

Aku tidak akan pernah bisa merasakan apa yang dirasakan Jaejung. Tapi hatiku benar-benar sakit melihat Jaejung seperti ini. Dadaku sesak melihat Jaejung seperti ini. Jaejung menoleh ke arahku, lalu tersenyum. Jaejung mengusap air mataku dengan ibu jari tangan kanannya.
“Nakanai de. Jangan menangis. Aku akan sangat sedih kalau kau mengucurkan air mata seindah ini demi aku,” kata Jaejung. “Harusnya… aku yang menangis.”
“Menangislah. Kalau kau ingin menangis, menangislah,” kataku. Jaejung tertawa kecil.
“Mana mungkin aku menangis di depan gadisku,” kata Jaejung sambil mengelus rambutku. Aku menepis pelan tangannya.
“Jangan belagak sok keren di depanku! Nih, aku pinjamkan pundakku,” kataku sambil mencondongkan pundak kiriku ke depan.
Jaejung bukannya menangis, malah tertawa.
“Kau sadar tidak sih kalau kau lebih pendek dari aku?” tanya Jaejung.
“Iya, tapi kan aku hanya mau memban—” Jaejung memelukku tiba-tiba. Beberapa detik, dia tidak berkata apa-apa. Hanya merengkuhku dalam-dalam, sampai seakan detak jantungnya bergabung dengan dengan detak jantungku.
“Arigatou,” kata Jaejung dengan suara bergetar. Apakah Jaejung menangis? Aku tidak tahu. Aku hanya bisa memeluk punggungnya, dan aku merasakan Jaejung meletakkan kepalanya di pundakku. Aku memeluk punggungnya lebih erat. Beberapa menit kemudian, kami hanya diam dan saling dekap. Aku tidak berani memecah keheningan.
“Lina-chan…” akhirnya Jaejunglah yang bicara duluan.
“Hm?”
Jaejung melepas pelukannya, kemudian mematah-matahkan lehernya ke kanan dan ke kiri seperti orang senam.
“Kau pendek sekali sih. Leherku sampai sakit begini,” kata Jaejung sambil memegangi lehernya.
“APAAA?!!! ENAK SAJA!!! BUKANNYA KAU YANG TERLALU MENJULANG?!” teriakku sebal.
“Iya deh, iya…”
“Aku pulang!” kataku ketus.
“Lina-chaaan, jangan gitu dooong~” kata Jaejung sambil mengikutiku ke pintu apartemennya.
“Huh!” aku memalingkan muka. “Pokoknya minta maaf udah ngatain aku pendek!” suruhku. Enak saja dia bilang aku pendek. Padahal di antara teman-temanku—terutama Boa—aku paling tinggi.
“Gomennasai, Lina-chan,” kata Jaejung langsung minta maaf, tapi dengan tampang tak berdosa.
“Mou ikkai! Sekali lagi!” suruhku.
“Gomen ne, Lina-chan,” ulang Jaejung dengan maaf yang lebih singkat dan pandangan yang lebih tak berdosa lagi.
“Duuuh, kamu niat minta maaf nggak siiih?! Sekali lagiii!!!” suruhku. Jaejung kemudian berlutut lalu meraih dan mencium punggung tangan kananku.
“I’m sorry,” ucap Jaejung lembut.
. . . . . .

Kyaaaa, Jaejuuung, jangan membuatku pingsan di tempat dong. Kenapa pandangan matanya yang seperti ini selalu membuatku meleleh???

***

Festival Olahraga dimulai hari ini. Aku dan Jaejung kelabakan sendiri karena belum sempat latihan sama sekali. Yunho sekarang sudah ada di depan kami dan memarahi kami.
“Lalu bagaimana kalian mau bertanding kalau belum pernah latihan?!” tanya Yunho.
“Tenang sajaaa… kita akan menang dengan kekuatan cinta kami yang tiada duanya,” kata Jaejung sambil merangkulku.
“Oh terserah lah!” Yunho menyerah, kemudian me-lecture anak lain. Boa sudah melakukan pemanasan. Dan dengan bloomer-nya yang seksi, Boa berhasil membuat mata semua cowok melirik, bahkan menontonnya. (A/N : bloomer = celana yang sangat pendek—saking pendeknya sampai kurang tepat kalau dibilang celana XD, beberapa seragam olahraga cewek di sekolah di Jepang memakai bloomer)

“Jaejung, kau lihat ke manaaa?!” aku memergoki Jaejung yang ikut melihat Boa melakukan pemanasan.
“Eh? Nggak…”
“Alaaa, kamu lihat Boa kan tadi?” tuduhku.
“Hehehe…” Jaejung nyengir.
“Dasar cowok gak guna!” kataku.
“Tenang aja~ bloomer Lina-chan masih lebih seksi kok,” kata Jaejung sambil merangkulku.
Gaaah!!! Dasar cowok! Hobinya lihat yang seksi-seksi.

“PESERTA LOMBA LARI TIGA KAKI HARAP BERKUMPUL DI LAPANGAN. SEKALI LAGI—”
Speaker menggema di seluruh antero sekolah. Aku dan Jaejung langsung bersiap-siap menuju lapangan. Di sana, sudah banyak pasangan yang bersiap-siap, bahkan melatih suara “satu-dua, satu-dua”-nya.
“Peraturannya…” wasit mulai menjelaskan aturannya. “Pokoknya sampai finish! Kalau terjatuh, masih boleh melanjutkan. Yak! Silakan siap-siap!”
Heh? Peraturannya kok nggak jelas gini? Aku dan Jaejung pun tanpa kata-kata lagi, langsung menempati ruas pada lapangan yang bertuliskan kelas kami. Beberapa menit kemudian, sebelah kaki kami sudah terikat, dan Jaejung merangkulkan tangannya ke pundakku.

“Bersedia!!! Siaaap!!!” wasit memberi aba-aba. Jaejung berkali-kali mengatakan teori ‘kaki yang tidak diikatlah yang maju duluan’.

DORRR!!!
Pistol ditembakkan. Aku melangkahkan kaki kananku, dan Jaejung melangkahkan kaki kirinya.

Kanan! Kiri! Kanan! Kiri! Kanan! Kiri! Kanan! Kiri!
Beberapa langkah, masih terasa mudah. Bahkan kami berada di urutan kedua.

Kiri! Kanan! Kiri! Kanan! Kiri! Kanan! Kiri! Kanan! Kiri!
Huwah, gawat! Langkah kami mulai tidak sama. Ini benar-benar pengaruh perbedaan tinggi badan dan jenis kelamin.
“Jaejuuung. Pelan-pelan dong,” suruhku.
“Gomen. Udah nggak bisa direm nih!” kata Jaejung.
Terpaksa aku harus mengikuti langkah Jaejung yang panjang-panjang. Namun kemudian ada insiden yang amat sangat tidak diinginkan.

“Miaaaw…”
Ada kucing putih berbulu lebat lewat di depan kami!!!
HUWAAA. REM KAKIMU, LINA! Aku mengerem kakiku mendadak, tanpa memberitahu Jaejung. Dan hasilnya, kami sukses terjatuh di lapangan. Melihat kami mau menimpanya, kucing itu langsung lari. Baru saja kami mau berdiri, Boa lewat di depan kami sambil memanggil-manggil seseorang–atau sesuatu.
“Saraaa!!! Saraaa!!!” Boa mengejar-ngejar kucing yang tadi lewat di depan kami. Aku dan Jaejung cuma bisa melongo melihat kejadian aneh ini. (A/N : bayangkan kalo di komik-komik tuh, di kepala mereka ada burung gagak lewat XDD)

Dan tanpa kami sadari…
WUZZZ!!! WUZZZ!!!
Kelas lain sudah mendahui kami! Jaejung mengajakku berdiri, tapi sepertinya kakiku terkilir.
“Kita menyerah saja deh,” kataku.
“Dame! Jangan! Kita tidak boleh menyerah!” kata Jaejung sambil memikirkan sesuatu.
Kemudian tanpa pikir panjang lagi, Jaejung melepas tali yang mengikat kaki kami, lalu Jaejung menggendongku. Dan… WUZZZ!!! Jaejung berlari—sambil menggendongku—mendahului peserta lain.

Aku, seorang Lina yang berpikir lemot, tentu saja bingung dengan keadaan yang aneh ini. Beberapa detik kemudian Jaejung sudah melewati garis finish.
“YATTAAAA!!!’ Jaejung berteriak senang.

PRIIIIIT!!!
“DISKUALIFIKASI!” teriak wasit sambil menunjuk kami.
“HAAAAAAH??? KOK BISA???” teriak Jaejung memprotes.
“Tentu saja, baka!” kataku sambil menjitak kepala Jaejung. “Ini kan lomba lari tiga kaki, bukan lomba lari sambil menggendong!”
“Tapi tadi wasitnya nggak bilang gituuu!” kata Jaejung—masih tetap menggendongku. “Lagipula tadi ada kucing, tentu saja kami langsung jatuh.”
“Jaejuuung! Sudahlah terima sajaaa!!!” kataku. “Dan turunkan aku!”
Jaejung baru sadar kalu dia masih menggendongku, kemudian dia menurunkan aku. Tapi karena kakiku terkilir, Jaejung memapahku. Akhirnya setelah aku bersusah payah membujuknya agar menerima kekalahan, Jaejung meninggalkan wasit walaupun sambil mengumpat-umpat. Hihihi. Padahal kan dia yang salah.

Setelah lukaku diobati di Ruang Kesehatan, kami berjalan-jalan melihat pertandingan. Dan di tengah jalan, kami berpapasan dengan Boa.
“Jaejuuung~” panggil Boa sambil berlari ke arah kami, dan sambil menggendong berbulu putih lebat yang menjadi pelaku dalam insiden tadi.
“Hai. Bagaimana lomba larinya?” tanya Jaejung setelah Boa mendekat.
“Juara duaaa. Juara satu-nya tentu saja anak Klub Atletik,” kata Boa sambil mengelus-elus kucing yang dibawanya.
“Itu kucingmu???” tanyaku.
“Iya, namanya Sara. Karena aku ingin membawanya keluar, jadi aku bawa saja dia ke sekolah. Tapi saat aku bertanding tadi, dia kabur,” kata Boa.
“Dan mengganggu pertandingan kami,” lanjutku.
“Gomen ne, Lina-chaaan,” kata Boa sambil mengatupkan kedua telapak tangan kucingnya.
“Aaah, sebenarnya tadi aku sudah menang lho,” kata Jaejung ngotot.

Tiba-tiba ada yang memanggil suara Jaejung.
“JAEJUNG!” itu bukan suaraku, yang jelas. Suara siapa itu? Aku, Boa, dan Jaejung melihat ke sekeliling.
“JAEJUNG!” suara itu lagi. Siapa sih yang memanggil Jaejung?
Aku dan Jaejung memandang Boa, tapi Boa menggeleng, menandakan bahwa bukan dia yang memanggil Jaejung. Kemudian Jaejung dan Boa melihatku dengan tatapan curiga.
“Tentu saja bukan aku!” sangkalku.
Lalu aku, Boa, dan Jaejung bersamaan memandang Sara. Tidak mungkin kucing ini kan, yang memanggil Jaejung?
“MIAAAW!!!” kucing Boa marah karena dicurigai dan hampir mencakarku.

Tiba-tiba ada seseorang yang menepuk punggung Jaejung. Jaejung menoleh ke belakang.
“Jaejung,” panggil orang itu.

. . . . . . HAH???

Kami kaget bukan main, karena dia mirip sekali dengan Jaejung! Oh My Gawk! Benar-benar mirip!!! Matanya mirip. Tingginya tak berbeda satu sentipun. Model rambutnya sama persis. Bahkan suaranya juga mirip! Kalau aku tidak tahu Jaejung punya kembaran, mungkin sekarang juga aku langsung ke dokter untuk periksa penglihatan. Boa, yang tidak pernah tahu bahwa Jaejung punya saudara kembar, langsung menjatuhkan Sara saking kagetnya. Kucingnya mengeong marah, dan meninggalkan Boa yang terbengong-bengong.
“Halo, oniichan,” sapa orang itu dengan logat Korea.
“Changshik?” tebak Jaejung. Saudara kembarnya mengiyakan.
“Ya, aku Changshik.”
“Adikmu???” tanya Boa pada Jaejung, sambil menunjuk Changshik.
“Saudara kembarku. Tapi aku tidak tahu siapa yang lahir duluan,” jawab Jaejung.

Boa makin bengong mendengar jawaban Jaejung. Aku sendiri dari tadi tak bisa berkata apa-apa, saking kagetnya. Aku hanya memandang Changshik dari atas sampai bawah. Kesimpulan yang dapat aku ambil, orang ini adalah orang yang terpelajar. Dia terlihat pintar—lebih pintar dari Jaejung. Anehnya, aku tidak bisa memprediksi sifatnya.
“Chooo hansamu… cakeeeep banget…” bisik Boa padaku.
“Tentu saja. Dia kan kembar identik dengan Jaejung. Kalau kau suka Jaejung, tentu saja kau suka kembarannya,” balasku dengan berbisik pula. Boa nyengir.
“Pacarmu yang mana?” tanya Changshik tetap dengan logat Korea yang terdengar aneh di telingaku.
“Yang lebih tinggi,” jawab Jaejung singkat. Aku membungkuk sedikit padanya, tanpa bicara. Takutnya kalau aku bicara, dia tidak mengerti. Boa maju selangkah dan mengamati saudara kembar Jaejung.
“Hangukeoro malhal su isseoyo?” (A/N : “Do you speak Korean?”)
“Ne.”
Aku dan Jaejung berpandangan karena sama sekali tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Kemudian setelah cukup lama mereka ngobrol dengan menggunakan—sepertinya sih—Bahasa Korea, Changshik kembali memandang kami.
“Gomen ne. Aku tidak begitu pandai berbahasa Jepang,” kata Changshik.
“Iie. Tidak apa-apa.”
“Tapi tenang saja, aku bisa mengerti pembicaraan kalian, kok,” lanjutnya.
Suasana kembali canggung. Boa menghilang entah kemana. Perkiraanku, dia sedang mencari-cari Sara yang tadi marah karena dijatuhkan.
“Tidak enak bicara sambil berdiri begini. Bagaimana kalau kita ke cafe?” usul Jaejung.
“Eh? Kita kan masih ada acara di sekolah,” kataku.
“Kita kan bisa kabur,” kata Jaejung sambil nyengir. Aku hanya geleng-geleng kepala.
“Bagaimana, Changshik-san?” tanyaku.
“Boleh,” jawabnya sambil tersenyum.
“Baiklah, aku ganti baju dulu. Kau tetap di sini ya,” kata Jaejung.
Changshik mengangguk dan tersenyum. Aku dan Jaejung jalan duluan di depan, sedangkan Changshik tetap di tempatnya. Diam-diam, aku melirik ke belakang. Dan sekujur tubuhku langsung merinding begitu melihat mata Changshik saat menatap Jaejung. Changshik menatap Jaejung dengan tatapan tajam dan… apakah itu… benci? Aku benar-benar merinding. Dadaku menjadi sesak dan entah mengapa aku merasa tertekan. Aku takut menatap matanya. Seakan menatap sisi Jaejung yang lain.

CHAPTER 11 おしまい

25 responses to “[FF-Series-PG15] VIVID CHAPTER 11 (starring Lina & Jaejoong)

  1. Pingback: [FF-Series-PG15] Boys & Girls Chapter 1 « FFindo·

  2. Pingback: [FF-Series-PG15] Boys & Girls Chapter 2 « FFindo·

  3. Pingback: [FF-Series-PG15] VIVID CHAPTER 14 (starring Lina & Jaejoong) « FFindo·

  4. changsik datang tanpa aba2?
    BoA jadian ma Changsik aja, jadi sainganku tinggal lina unnie
    wkwkwk ^^

  5. Pingback: [FF-Series-PG15] VIVID CHAPTER 15 (starring Lina & Jaejoong) « FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s