OUR BABY – Chapter 2 (FF/SERIES/PG13)

Our Baby

Image and video hosting by TinyPic

Previous Chapter : 1

Cast :
-Choi Hae Rin (neesa unnie)
-Lee Jinki a.k.a Onew
-Kim Kibum a.k.a Key
-Another SHINee’s member

Length : Series (chaptered)

Rating : PG13

Genre : General, Romance, Family, Friendship

Disclaimer : The cast is not mine, but this fanfic is MINE!!!

Inspired by : from fanfic with title “Mommy, Baby, and Daddy” and the sequel, the other fanfic with tittle “The Only Reason”

Summary :
Aku semakin lemah saat reporter itu memutar rekaman perbincangan antara aku dan Onew. Tentu saja rekaman itu membuka semua aib kami, mulai dari hubungan kami sebagai kekasih dan yang paling parah adalah aku mengandung anak dari Onew.

Enjoy ^^

xXxXxX

Sebelumnya :

“Jadi kau mau bertanggung jawab?” kataku pelan yang setelah itu diiringi helaan nafas panjang.

Ia menunduk, terlihat bingung tapinya. Tak lama kemudian ia menatapku dengan tatapan yakin dan kali ini aku mempunyai firasat buruk. Tatapan itu tidak biasa, ia pasti akan melakukan sesuatu yang tidak-tidak. Aku lalu mendengarnya menarik nafas.

“Aborsikan bayi itu…”

XxXxXxX

Chapter 2 : The News

Mataku terbelalak , bola mataku seperti ingin keluar saking besarnya aku terbelalak, jantungku berdetak tidak karuan akibat tiga detik tidak berdebar tadi, nafasku mulai sesak seperti tertahan di tenggorokan, mulutku sedikit terbuka. Ya, aku sangat terkejut. SANGAT! Sangat terkejut mendengar permintaan itu langsung dari bibir si pemilik suara halus seperti tahu itu.
Ia bahkan memintanya dengan tenang dan dinginnya. Tunggu, aku tidak salah dengar kan? Ia hanya bercanda kan? Ia mencintaiku atau tidak sih kalau ia sempat mengeluarkan permintaan itu dengan gampangnya.

“A-apa?!” tanyaku memastikan dengan tergagap-gagap.
“Tch! A-b-o-r-s-i! ABORSI-kan bayi itu!” kali ini dengan nada merendahkanku.

“Hah?! YA!!! Onew, kau… Kau tidak bercanda kan? Aku tidak—“
Perkataanku dengan segera di potong olehnya. “Apa?! Kau tidak bisa mengaborsikan bayi itu? Tidak ada kata ‘tidak bisa’, kau HARUS melakukannya!”
Ia mulai memerintah dengan seenaknya. Ada apa dengannya? Dimana Onew yang selama ini aku kenal? Ia sudah menggantikan kepribadiannya dengan secepat ini? Ayolah, aku baru melihat dirinya yang dulu setengah jam yang lalu dan sekarang ia… berubah!

“Hae Rin! Kau dengar tidak?!” bentaknya kali ini sambil mengguncang kedua bahuku.
Aku menundukkan kepalaku dan pandanganku kembali mengabur. Airmataku mulai menggenang di sekitar kelopak mataku. Aku menggigit bibir bawahku berharap airmata itu takkan jatuh, aku tak boleh menangis dihadapannya lagi, cukup satu kali saja aku menangis dihadapannya. Aku hanya akan dicap sebagai wanita lemah dan rapuh. Tidak, tidak, tidak boleh!

“HAE RIN!!!” teriaknya lagi hingga suaranya menggema di tempat parkiran itu.

Aku dengan berani mengangkat kepalaku, berusaha menatap matanya yang berwarna hitam, berusaha mencari apakah bayangan tubuhku ada di pupilnya itu. Tidak, tak ada bayangan tubuhku di sana, ia sudah sempurna menutup matanya dari bayanganku.

“Oppa, k-kau… Tidak mencintaiku lagi?”
Ia seperti tersentak saat mendengar pertanyaanku tadi, lalu mengalihkan pandangannya ke lain. Ia tampak seperti berpikir dan bingung. Apa yang kau bingungkan , Lee Jinki? Cukup katakana ‘ya’ atau ‘tidak’. Gampang kan?

“Lee Jinki…” panggilku kali ini dengan nama aslinya.
“A-a-aku…” putusnya.

-JPRET-

Samar-samar aku mendengar suara jepretan kamera dari balik batang pohon yang sekitar 4 meter tempat kami berdiri. Aku menoleh ke samping, karena letak pohon itu di sebelah kananku. Aku melirik sebentar kearah Onew yang ternyata mengarahkan kepalanya sama sepertiku.
Ia menatap tajam kearah batang pohon itu. Ku lihat ia mengepalkan tangannya dan menggertakan giginya.

“SIAPA DI SANA?!!!” teriaknya dari kejauhan.

Tiba-tiba sesosok manusia dengan membawa sebuah kamera yang dikalungkan di lehernya. Gayanya yang khas kalau ia adalah wartawan atau paparazzi, sudah bisa kutebak. Ia menyeringai kearah kami, sontak aku terkejut dan segera mengarahkan kepalaku kearah Onew.

“Sial, paparazzi!” kata Onew pelan. Ia dengen segera berlari cepat meninggalkanku yang sekarang berdiri membeku. Aku yakin paparazzi atau wartawan itu mendengar semua apa yang telah kami perbingcangkan tadi. Kalau Onew berhasil menangkap wartawan itu dan menghasutnya, mungkin perbincangan kami tadi bisa diselamatkan. Tapi kalau ia tidak bisa… tamatlah riwayat kami berdua…

XxXxXxX

Aku merebahkan dirku di apartemen mewah khusus para artis ini. Aku beberapa kali menghela nafas dan mungkin sudah tidak terhitung aku beberapa kali aku melakukannya. Aku terlalu lelah hari ini. Baik dari segi otak, badan, dan juga hatiku…

Perasaanku bercampur aduk. Sedih, kesal, stress, sakit, dan lain-lain, yang jelas tak ada perasaan bahagia di dalam hidupku hari ini. Kalau pun terhibur, aku hanya terhibur saat melihat tampang tersipu malunya Key itu. Hanya itu yang bisa membuatku tersenyum, selain dari itu… hanya hatiku yang tersakiti.
Aku juga hari ini terlalu banyak mengeluarkan airmataku. Aku bahkan tidak bisa lagi mengeluarkan airmataku karena ku yakin, mataku juga terlalu lelah untuk mengeluarkan airmata.
Masalah hari ini terlalu membuatku rapuh. Onew sudah berhasil membuatku menangis dihadapan orang, ia juga berhasil membuat diriku setengah membencinya, belum lagi masalah dengan wartawan yang mendengar perbincangan kami tadi. Tidak hanya hubungan kami sebagai pasangan kekasih yang diketahuinya tapi masalah aku sekarang sudah hamil, sudah di ketahuinya.

Ya Tuhan… Kalau ini mimpi, bangunkan aku secepatnya. Aku ingin ini segera berakhir, bukannya ingin mengistirahatkan diri aku malah melelahkan diriku dalam dunia mimpi. Tapi aku rasa percuma karena ini semua adalah KENYATAAN…

Bisa kurasakan kepalaku berdenyut sakit. Mungkin efek dari stres seharian ini. Aku bangkit dari tempat tidurku lalu menuju dapur dimana aku menyimpan kotak obatku. Aku mengambil satu butir pereda sakit kepala dan satu butir vitamin untuk tubuhku. Satu hari saja aku tidak meminum vitaminku ini, aku yakin besoknya aku akan masuk rumah sakit, ya aku sudah kecandungan dengan vitamin itu. Padahal dokter kandunganku sudah melarangku, ini terlalu bahaya untuk kandunganku. Aku memang mendengarkannya tapi aku justru teringat dengan perkataan Onew kalau ia ingin aku mengaborsikan bayi ini, mungkin cara membunuh bayi ini dengan terus kecanduan, bisa berhasil.
Aku menelan sebutir obat pereda sakit kepala itu diiringi dengan meneguk segelas air putih, tapi saat aku hendak memasukkan sebutir vitamin ke dalam mulutku, aku terhenti sebentar. Aku menatap vitamin itu sambil menyeringitkan kepalaku dan memegangi bagian perutku.
“Tidak, tidak… Aku tidak boleh membahayakan jabang bayi ini. Bagaimanapun juga ia anakku sekalipun Onew memintaku untuk mengaborsikannya. Tidak, tidak, tidak boleh…”

Aku lalu membuang vitamin itu di bak sampah yang terletak di sebelah kakiku. Aku menghela nafas. Bisa kuperkirakan, besok, saat pemotretan di studio aku akan jatuh pingsan dan semua aibku akan terbongkar besok.

Hhh… Selamat tinggal dunia karierku…

XxXxXx

Aku berjalan menuju ruang tengah sambil membawa segelas air putih, mencoba menghibur diri dengan menonton beberapa acara komedi. Aku baru menyadari kalau televisi itu tidak dinyalakan selama 1 minggu. Aku sama sekali tidak ada waktu untuk menonton televisi, justru sosokku yang selalu masuk dalam acara-acara televisi.
Aku mengambil remote yang ada di meja samping sofa ruang tengah itu. Tanpa duduk sama sekali aku menyalakan televisiku dan sesekali meneguk air putih yang aku bawa. Aku beberapa kali mengganti channel televisi, tapi sepertinya tidak ada yang menarik hatiku, aku lalu melihat kearah jam dinding yang terpasang di ruang itu. Hhhh… Pantas, jam seperti ini hanya ada drama-drama diputar.
Aku tetap saja beberapa kali mengganti channel dengan wajah bosan dan lelah. Saat aku hendak menaruh diriku ke sofa, aku tidak sengaja melihat sebuah acara yang membahas segala entertainment. Mataku sepertinya sudah nyaman dengan acara itu, aku pun memutuskan untuk menonton acara itu. Tapi, di saat aku sudah mulai nyaman dengan menonton acara itu, aku justru membuat diriku sendiri menyesal menonton acara itu.
Layar televisi itu menayangkan foto aku dan Onew saat kami berbincang di lapangan parkir tadi. Dan aku mendengar setiap kata yang dikeluarkan oleh reporter yang membacakan berita tentang aku dan Onew itu. Aku sedikit membukakan mulutku dan mataku membelalak tidak percaya. Gelas yang kupegang sedaritadi, tanpa kusadari lepas dari peganganku.
Aku semakin lemah saat reporter itu memutar rekaman perbincangan antara aku dan Onew. Tentu saja rekaman itu membuka semua aib kami, mulai dari hubungan kami sebagai kekasih dan yang paling parah adalah aku mengandung anak dari Onew.

Tidak… Apa yang harus aku lakukan…?

Bisa kurasakan kakiku mulai melemas dan aku jatuh terduduk di lantai apartemenku yang dingin itu. Pikiranku melayang entah kemana. Aku masih ingat diriku tadi meminum pereda sakit kepalaku tapi entah mengapa sakit di kepalaku ini bertambah. Aku berusaha menahan tubuhku agar selalu tersadar, meskipun pandanganku sekarang seperti berputar-putar.

Hancur sudah semunya…

Tamat riwayatku…

Hilanglah harga diriku sekarang…

Tak ku sangka mimpi burukku ini terjadi lebih awal dari yang kuperkirakan…

Semua orang akan tau semua rahasia hanya dalam satu hari saja…

Aku merasakan ada ponselku berdering dengan nyaringnya. Aku yakin yang menghubungi aku itu adalah Onew. Tapi sepertinya Tuhan masih menyayangiku, di layar ponselku itu tidak tertampang nama Onew melainkan manajerku. Aku bisa bernafas lega sedikit, ya sedikit saja. Karena aku yakin tak lama lagi Onew pasti akan menghubungiku dan menyuruhku yang tidak-tidak.

Aku menekan tombol warna hijau untuk mengangkat telepon dari manajerku itu. Dengan yang gemetar aku menekannya.

“Ha-halo?” angkatku dengan suara bergetar juga. Mungkin efek dari syok tadi.

“CHOI HAE RIN!!!” teriak manajer di seberang sana. Aku sudah mengira kalau manajer akan berteriak padaku kalau ia mengetahui berita ini. “Kamu sudah melihat dirimu di televisi? Tentang rumor itu—tidak, tentang kenyataan itu?!”

Aku diam sebentar, menahan nafasku. Aku tidak berani berbicara satu katapun, manajer kalau sedang emosi tidak tanggung-tanggung. Ia bahkan bisa memecahkan batu bata sekalipun. Ugh, tidak lucu!
Hanya satu yang bisa kulakukan saat ini.

“Maaf, unnie…”

Ya, hanya maaf yang bisa ku katakan saat ini. Aku tau, manajer tak mungkin menerima berita ini dengan begitu saja, ia mungkin setelah ini akan super sibuk. Berusaha melindungiku dari wartawan yang mungkin semakin membuatku down, berusaha membuat berita itu hanya pekerjaan netizen yang kurang kerjaan, atau sebagainya lah.

Aku mendengar manajer menghela nafas, suaranya bergetar. “Hae Rin, aku juga tidak tau harus berbuat apa sekarang. Daritadi suara telepon di rumahku berdering terus-menerus. Wartawan-wartawan itu terus menerus menerorku.”
Manajer mulai melembutkan suaranya, aku sedikit lega. Tapi aku meringis saat ia berkata kalau ia mulai di terror oleh wartawan, mungkin karena aku tidak memasang telepon kabel di apartemenku, aku bisa sedikit bernafas lega. Yeah, hanya sedikit…

“Maaf, unnie,” maafku sekali lagi padanya. Ya, tak ada kata lain selain dari maaf yang keluar dari bibirku. Aku terlalu syok saat ini, bahkan sakit di kepalaku semakin bertambah.
“Hae Rin, tolong jangan hanya berkata ‘maaf’. Kau hanya membuatku semakin stress. Maaf kali ini aku tidak bisa membantumu lagi, aku sudah terlalu capek dengan mengurusi masalah pekerjaanmu dan belum lagi menutupi hubunganmu dengan Onew-ssi selama ini. Seharusnya aku yang meminta maaf, dan kali ini kau harus berjuang sendiri, Hae Rin…”
“Unnie… A-aku, tidak tau harus berbuat apa sekarang. Maaf, maaf, maaf…”

Aku tidak tau kalau manajer sangat lelah mengurusku, hatiku luluh saat mendengar pernyataannya. Maaf, unnie…
“Hae Rin, aku masih bisa membantu pekerjaanmu, tapi aku juga seorang manusia, aku juga bisa merasakan lelah. Jadi, mulai besok kamu harus mengurus urusan pribadimu sendiri dan tentu saja dengan bantuan kekasihmu itu,” jelas manajer padaku.

Tanpa kusadari pipiku mulai basah oleh air yang mengalir turun dari mataku. Aku juga tidak tau sejak kapan aku menangis hingga sesegukan begini, padahal saat mengangkat telepon dari manajer tadi aku sudah berusaha menahan semua airmataku. Apa efek dari syok sudah habis dan sekarang berganti dengan air mata?

“Hae Rin, kau masih di sana?”
“Ya… Aku masih ada di sini…” jawabku lemah bahkan hampir berbisik. Aku menutup mulutku supaya tidak terdengar sesegukan.
Tapi sepertinya percuma. “Hae Rin, kau menangis?”

Suara manajer tampak terdengar lembut sekali, rasanya aku ingin memeluknya sekarang juga. Kalau semua sahabatku sudah sibuk dan mulai melupakanku, aku hanya bisa menaruh kepalaku pada manajer atau Onew. Tapi tampaknya saat ini yang bisa aku andalkan hanya manajer, ia selama ini tidak pernah aku anggap sebagai manajer saja. Sejak pertama kali bertemu aku sudah merasakan kalau ia bisa menjagaku sama seperti kakak perempuan yang menjaga atau melindungi adik perempuannya yang begitu troublesome.

“Unnie…. Huhuhu… Aku tidak tau harus apa… Aku juga dicampakkan, unnie… A-a-aku… Huhuhu…” Akhirnya, tangisanku pecah di sambungan telepon itu, aku bisa merasakan sedikit lega karena sudah meluapkan emosiku, stresku, kesakitanku. Aku ingin berbagi, dan aku yakin manajer bisa menenangkanku. Aku takkan bisa lagi menyerahkan semua diriku dan stresku pada Onew, ia takkan bisa lagi memberikan senandung yang bisa membuatku tertidur sambil terus memegangi ponselku, ia takkan bisa lagi menenangkan diriku dengan suara lembutnya, ia takkan bisa lagi memberikan senyuman hangatnya padaku. Sudah tidak ada…
Sedang asyiknya aku menumpahkan tangisanku, aku mendengar suara ketukan di pintu depan kamar apartemenku. Ketukan itu terdengar kasar, menurutku. Aku meminta izin pada manajer untuk memutuskan sambungan sementara, dan ia pun setuju.
Aku perlahan berdiri, berpegangan pada tembok apartemenku, menahan kakiku yang masih lemas akibat syok tadi. Aku menghela nafas sambil menghapus airmataku dengan jari-jari jenjangku. Lalu berjalan mengambil tisu yang berada di ruang tamu, tisu itu aku gunakan untuk menghapus airmataku yang aku rasa tidak akan berhenti untuk sementara. Sial, padahal aku ingin bertemu dengan tamu saat ini. Dan ku harap tamu itu bukan wartawan yang berhasil mendapatkan nomor kamar apartemenku.
Mungkin karena kebodohanku, aku membukakan pintu depan tanpa mengintip siapa yang akan bertamu denganku. Aku membukakan pintu dengan begitu saja sambil terus menghapus airmataku. Saat pintu terbuka, aku melihat sosok laki-laki bertubuh tegap dan agak kurus, tapi pipinya rada gemuk, sedikit meninggalkan rasa untuk mencubit pipinya itu. Tapi, ia takkan bisa diajak bercanda kalau sekarang rahangnya mengeras, ia menggertakan giginya, dan tangannya dengan reflex melayang kearah pipi kananku.

PLAK!

Ia menamparku lagi. LAGI!

Dengan seketika, rumahku rasanya di banjiri oleh tangisanku sendiri. Aku berteriak dan menangis sekeras-kerasnya. Aku bukan merasakan sakit dari tamparan itu hingga membuatku jatuh terduduk, melainkan sakitnya hatiku saat ia kembali melakukan hal yang mustahil itu. Ia menatapku dengan geram, apapun usahanya aku harus menghindarkan mataku dari tatapannya yang mengerikan itu.

Aku kembali berteriak saat tangannya menarik tanganku dengan kasar dan menyeretku keluar dari kamar apartemenku.

“HYUNG!!! HYUNG!!! HENTIKAN!!!”

Dari kejauhan aku mendengar suara teriakan beberapa orang. Oh, Tuhan… Apakah aku diselamatkan sekarang?

Aku membuka mataku sedikit walau rasanya pemandangan didepanku telah dikaburkan oleh airmataku sendiri. Samar-samar ku melihat 4 orang laki-laki yang tergesa-gesa berlari kearah kami berdua.

“DIAM KALIAN!!! INI URUSAN KAMI!!!

Onew membalas teriakan mereka dan berjalan dengan cepat hingga melewati mereka berempat. Sepertinya saat leader mereka marah, tidak akan ada satu orangpun yang berkutik. Atau mereka syok dengan gelegarnya teriakan Onew tadi?

“Tolong aku…” kataku pelan sambil lewat di hadapannya. Aku hendak berhenti sebentar tapi Onew malah memaksaku pergi dari tempatku berdiri.

“Tolong… Oppa, lepaskan… Sakit… Ku mohon Lee Jinki… Sakit…” isakku terus menerus sambil meringis.

XxXxXxX

Author POV

Saat mereka berempat turun dari mobil Porsche mereka masing-masing, mereka berlari sekuat mereka bahkan mereka tidak sempat mengucapkan kata maaf saat mereka menabrak orang yang sedang lewat. Yang mereka pikirkan sekarang adalah menghentikan kemarahan leader mereka itu. Leader grup mereka itu sepertinya sudah menyimpan emosinya hingga naik ke ubun-ubunnya.

Dengan nafas terengah-engah akhirnya mereka mencapai lantai dimana sang leader akan menumpahkan emosinya. Saat mereka sampai di lantai yang mereka capai, sang leader ternyata sudah menumpahkan emosinya berupa menampar sang gadis yang selama ini mereka ketahui adalah pasangan yang tak pernah membuat masalah.

Semua wajah member tampak tak ada yang tenang. Mereka semua dalam keadaan panik dan bingung. Percuma mereka berteriak untuk memberhentikan sang leader itu, mereka hanya bisa diam tak berkutik mendengar gelegarnya suara teriakan itu. Saat mereka berdua melewati mereka bereempat, semua member hanya bisa meringis dan menampakkan wajah minta maaf.

Tapi satu yang memberanikan diri untuk melawan sang leader itu. Seorang laki-laki dengan bertubuh tinggi juga menunjukkan kalau rahangnya keras saking marahnya. Tapi saat ia hendak melangkah, niatnya justru di tahan oleh salah satu member lainnya.

“Minho, jangan. Ia terlalu bahaya untuk didekati saat ini. Biarkan mereka menyelesaikan permasalah mereka sendiri. Tidak ada urusannya dengan kita.” Kata Jonghyun bijak.

“Tapi, hyung! Kau lihat kan kalau Hae Rin—“

“Biar aku yang membelanya,” ujar Key sambil melangkah menjauhi mereka bertiga yang sekarang tidak mungkin berkata apa-apa lagi. Kalau Key yang berbicara saat ini, mungkin takkan habisnya ia dan Onew berdebat. Atau mungkin Onew yang akan kalah?

Key dengan berhasil merebut tangan Hae Rin dari genggaman kasarnya Onew. Lalu dengan segera membawa Hae Rin menjauh dari Onew, tanpa memberikan satu patah katapun pada Onew. Sedangkan Hae Rin hanya bisa terus menangis dan menangis hingga ia sendiri sudah tidak tahu berapa liter ia mengeluarkan airmatanya hari itu.

“Key!” teriak Onew dari kejauhan. Key berbalik dan berhenti sebentar, ia lalu merangkul Hae Rin supaya gadis itu bisa tenang meskipun nihil usahanya saat itu.

Key menunjukkan wajahnya ke Onew dan matanya menyiratkan mata yang dingin.
“Apa?”

Onew mundur selangkah lalu mengalihkan pandangannya. Key pun berlalu sambil masuk ke dalam lift hingga meninggalkan semua member termasuk leader mereka di apartemen itu yang penghuninya mulai terusik dengan perkelahian mereka.

XxXxXx

Key memarkirkan Porsche birunya di pinggir jalan yang sepi. Mungkin saat ini kami berdua sudah berada di pinggir batas kota Seoul. Kami berdua pun keluar dari mobil dan saat aku keluar dari mobil aku masih bisa merasakan kepalaku yang berputar-putar. Sepertinya aku terlalu banyak menangis hingga efeknya seperti ini.

Aku menyerosotkan tubuhku di dinding mobil Key dengan sesekali meringis kesakitan di bagian kepalaku.

“Kau tidak apa?” tanya Key dengan lembut lalu menyodorkan sebotol air putih kepadaku. Aku pun mengambilnya tanpa menjawab pertanyaannya.

“Key-ssi, a-aku…”

Lagi, mataku buram akibat airmataku sendiri yang turun dengan derasnya. Key mulai menenangkanku. Tangan kirinya mulai merangkul kedua bahuku, dan aku semakin menangis saat ia melakukannya. Tangan kanannya mengusap-usap bagian puncak kepalaku.

Ya Tuhan, ini pertama kalinya kau menjadi seorang yang sangat cengeng seperti ini…

“Menangislah. Menangislah di pundakku. Aku tak peduli kalau bajuku basah akibat airmatamu itu…” katanya dengan penuh perhatian dan tersenyum lembut padaku.

Akhirnya aku menangis hingga aku lelah dan tertidur di pundaknya dengan pipinya yang semakin memerah akibat tangisan yang tiada henti.

XxXxXx

Esok paginya aku terbangun dan ternyata kutemukan diriku di atas ranjangku sendiri. Karena meskipun kepalaku masih berputar-putar, aku bisa mengenali langit-langit apartemenku yang berwarna coklat cream.

Aku bangkit dari tempat tidur sambil memijat-mijat bagian keningku. Lalu berjalan menuju cermin yang mana seluruh badanku terlihat. Aku melihat bayangan di seberang cermin itu. Ku lihat di sana ada bayangan seorang gadis dengan mata yang bengkak dan merah, rambutnya acak-acakan, pipinya semerah ceri, yang mana menandakan kalau ia telah menangis semalaman di pundak seorang laki-laki yang hanya dikenalnya begitu-begitu saja.

Sial! Padahal hari ini ada pemotretan di sebuah iklan yang mana harus menampilkan kedua mataku dengan indahnya. Tapi aku tak mungkin tampil dengan keadaan seperti ini. Bengkak dimataku ini tak bisa dipredeksikan kapan akan hilangnya.

Hhhh… Semoga tim make up pemotretan kali ini bisa menutupi kekuranganku.

Aku menjauh dari cermin dan memasuki kamar mandi, aku ingin bersiap-siap menjalani hari ini dengan wajah yang segar tentunya. Yah, ku harap begitu. Karena aku masih tidak yakin aku bisa menjalani hari terberat dalam hidupku ini dengan senyuman. Aku yakin, para antifans-ku sudah berkeliaran dimana-mana, dan sewaktu-waktu mereka menyerangku dengan apapun.

Setelah 20 menit membersihkan diri dan ternyata mataku masih saja berwarna merah setelah beberapa kali aku cuci mataku agar menghilang.
Aku keluar dari kamar mandi lalu membuka lemari khusus dimana aku menyimpan dress-dress kesayanganku. Aku ambil dress berwarna kuning lime yang di bagian bawahnya ada kupu-kupu yang di border kecil-kecil. Aku membiarkan rambutku yang panjang sepunggung ini tergerai dan poniku terjurai ke depan, aku pun menambahkan aksesoris di bagia pinggir poniku dengan motif bunga matahari kecil. Aku mulai mempoles wajahku dengan make up tipis namun terlihat elegan, lalu menambahkan gelang berlian di tangan kananku, sedangkan tangan kiriku di hiasi jam tangan Chanel.

Aku kembali menatap cermin tapi sebelumnya aku mendengar ketokan dari luar kamar tidur apartemenku yang aku yakini adalah manajer.

“Hae Rin, kau sudah siap? Kita harus berangkat cepat-cepat!” teriaknya dari luar.

“Ya! Sebentar!” sahutku.

Karena merasa prihatin dengan mataku sendiri, akhirnya aku memakaikan kacamata Oakley-ku. Dan akhirnya aku siap berangkat dan berharap semua orang hanya menganggap berita itu sebagai angin saja. Yah, aku harap…

Selama di van aku hanya bisa berdiam diri sambil menatap ke luar jendela. Manajer juga sepertinya sibuk mengutak-atik notebook-nya dan sesekali mengigit bibir bagian bawahnya. Aku yakin ia meringis seperti itu karena melihat beritaku yang sekarang tersebar dimana-mana. Hhhh…

Setelah 15 menit kami menuju lokasi pemotretan, akhirnya sampai juga di sebuah gedung atau lebih tepatnya sebuah studio pemotretan. Aku turun dari van dan berjalan masuk menuju gedung itu. Tapi seseuatu yang keras menghantam bagian kiri kepalaku.
Aku mengerang pelan, sakit sekali rasanya. Aku semakin merasakan duniaku berputar lebih cepat, aku menunduk sebentar dan sedikit membukakan mataku untuk melihat apa yang telah menghantamku tadi. Ternyata sebuah kamera digital yang sekarang lensanya sudah agak retak karena terjatuh ke tanah atau menghatamku tadi.
Aku meraba kepala bagian kiriku, dan tiba-tiba sebuah cairan hangat merah gelap turun perlahan dari dahiku kearah pipiku, begitu juga di bagian kelopak mataku tiba-tiba jatuh cairan kental yang berwarna meraj itu. Mataku membesar terkejut.

“Darah…?”

“Hae Rin!! Kau tidak apa?” panik manajer yang sekarang sedang berusaha menutupi luka di kepalaku itu. Aku mengangguk pelan sambil meringis.

“HEI, KAU!!! JANGAN PERNAH SEKALI-SEKALI DEKAT DENGAN ONEW OPPA!!! BRENGSEK!!!” teriak seorang gadis yang berdiri tidak jauh dariku. Seorang gadis dengan mata yang memanas dan penuh benci, menatap kearahku. Aku yakin, ia adalah fans SHINee dan tentu saja antifans-ku.

Sebelum aku mendengar caci makian yang kembali keluar dari mulutnya lagi, aku sudah merasakan seluruh dunia menjadi gelap. Dan setelah itu… Aku tidak tau lagi…

XxXxXxX

TBC

48 responses to “OUR BABY – Chapter 2 (FF/SERIES/PG13)

  1. Berat bgt ky’a beban hae rin
    key oppa keren
    tp aku masih serem klo ngebayangin fans or antif korea,ngeriii
    nekad semua…

  2. Haerin bnrr” kasian aq sampe nanggis 😥
    jinki tega banget -_-
    udda lah am key aja lebih baik ^^
    walau gg mau tanggung jawab gpp asal jangan sampe nampar segala , trus di bully jga am fans nya onew :/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s