[FF-Series-PG15] VIVID CHAPTER 12 (starring Lina & Jaejoong)

Sebelumnya, saya ingatkan bahwa rating FF ini adalah PG-15. Jadi yang merasa belum 15, harap jangan protes akan isi dari FF ini ^.~

_______________________________________________________

NO SILENT READ IN MY FANFIC!

AFTER YOU READ, LEAVE THE COMMENT.

thank you.

My Other Fanfic(s) :

[FF-Oneshot-PG] Midnight Note (starring Yoochun & BoA)

[FF-Oneshot-G] I Love My Brother (starring Chinen Yuuri)

[FF-Oneshot-PG] Unreadable Note (sekuel of Midnight Note)

_______________________________________________

VIVID’s Previous Chapter(s) : 01 | 02 | 03 | 04 | 05 | 06 | 07 | 08 | 09 | 10 | 11

Title : VIVID

Author : Dila (di LA —SAFE, BoA-Indo, Sujunesia, TVXQ-Indo—)

Rating : PG-15

Pairing : Lina ♥ Jaejoong

Cast : CSJH The Grace, TVXQ, BoA

Location : Japan

Length : Chaptered

Genre : Romance, Comedy

Language : Indonesia

A/N :

– Fic ini ditulis dalam Bahasa Indonesia, dan sedikit bahasa dan istilah-istilah Jepang

– Jika ada Bahasa Jepang, langsung diterjemahkan di sampingnya

– Dalam fic ini, lokasi ada di Jepang, bukan di Korea

– Penulisan nama seperti Jaejoong dan Yoochun akan menyesuaikan dengan penulisan nama mereka di Jepang

CHAPTER 12

Kini aku, Jaejung, dan Changshik duduk di sebuah café dekat sekolah. Jaejung duduk di sampingku, sedangkan Changshik duduk di depan kami. Aku benar-benar merasa sangat aneh. Seperti melihat Jaejung sedang bercermin, tapi di sebelah Jaejung yang ada di cermin itu tidak ada sosok Lina. Dengan kata lain, mereka benar-benar kembar identik.

Untuk mengurangi ketegangan, aku menyedot jus alpukatku kuat-kuat. Aku tidak akan tahan melihat mereka berdua setegang ini. Rasanya seperti kembali saat duduk di ruang tengah apartemen Jaejung, bersama kedua orang tua kandung Jaejung.

“Jadi… siapa yang lebih tua? Aku?” tanya Jaejung pada saudara kembarnya.

“Ya. Kau yang lebih tua,” jawab Changshik sambil memasukkan gula, lalu mengaduk-aduk kopi di depannya.

“Lalu, ada urusan apa tiba-tiba datang ke Jepang?” tanya Jaejung.

“Lho, tidak ada yang memberitahumu? Aku kan mau kuliah di sini,” jawab Changshik.

“Kuliah?!” tanyaku. “Bukannya kau masih SMA?”

“Aku menyelesaikan SMP dan SMA hanya 4 tahun. Lalu aku mau kuliah di sini,” jawab Changshik tenang.

Aku dan Jaejung bengong. Aku tidak menyangka saudara kembar Jaejung adalah orang jenius.

“Orang tuaku juga sudah kembali ke Jepang?” tanya Jaejung.

“Ya. Mereka menjengukku di Korea sana. Aku pikir siapa. Ternyata mereka orang yang merawatmu,” kata Changshik.

“Mereka ‘orang tua’ku,” koreksi Jaejung dengan tatapan yang menandakan bahwa dia sedang serius.

“Tapi orang tua angkat kan?” tanya Changshik santai, tanpa rasa bersalah sama sekali.

“Tapi bagi Jaejung, mereka adalah orang tuanya karena mereka lah yang merawat Jaejung dari kecil,” kataku membela Jaejung.

Tiba-tiba Changshik memandangku, seakan-akan dia baru sadar kalau aku ada di situ dari tadi.

“Apa sih lihat-lihat?” tanyaku.

“Heee, jadi kau pacaran dengan Jaejung. Siapa tadi namamu?” tanya Changshik.

“Lina,” jawabku singkat.

“Heee, Lina-chan, kau sudah lama pacaran dengan Jaejung?” tanya Changshik.

“Barusan.”

“Apa sih yang kamu suka dari Jaejung?”

“Semua.”

“Siapa yang suka duluan?”

“Jaejung.”

Aku jadi makin sebal. Apa sih maksud orang ini mengintrogasiku? Jangan-jangan orang ini brother complex? Ah, mana mungkin. Ketemu Jaejung saja baru hari ini.

“Hmm… kalau misalnya kau bertemu aku lebih dulu, akankah kau suka padaku?” tanya Changshik. Aku tersentak kaget. Apa maksudnya itu?!

Tapi rupanya bukan hanya aku saja yang terkejut dengan pertanyaan Changshik. Jaejung langsung menggebrak meja, sampai orang-orang sekitar memandangi kami penasaran.

“Apa maksudnya itu?!” tanya Jaejung sambil memandang Changshik dengan tatapan ‘berbahaya’.

“Iie. Tidak. Aku hanya berpikir, Lina-chan itu manis sekali. Sekali lihat aku langsung suka. Jadi aku pikir apakah dia akan suka padaku kalau aku bertemu dia lebih dulu daripada kamu,” kata Changshik santai.

“Changshik-san. Asal kamu tahu, aku tidak akan suka padamu walau aku bertemu kamu duluan. Bereinkarnasi pun aku tidak akan berpaling dari Jaejung,” kataku pada Changshik. “Aku pulang. Aku tidak tahan bicara dengan orang ini.”

Aku mengambil tasku, dan sudah berdiri mau pulang, tapi tangan Changshik menahanku.

“Gomen, gomen… aku hanya bercanda. Mana mungkin aku memacari pacar saudaraku sendiri,” kata Changshik.

Dengan isyarat, Jaejung menyuruhku duduk. Dengan terpaksa, aku duduk lagi. Sejak awal aku merasakan aura tidak enak di sekeliling Changshik. Entah mengapa aku takut melihatnya, walaupun aku tidak pernah benar-benar memandangnya.

“Sekali lagi kau godai pacarku, aku tidak akan membiarkanmu, sekalipun kau saudara kembarku,” kata Jaejung.

“Heee, kau baik sekali pada pacarmu,” kata Changshik sambil tersenyum. Dan pembawaannya lebih santai dari yang tadi. Entah mengapa ‘aura jahat’ yang dari tadi aku rasakan tiba-tiba hilang.

“Tentu saja. Susah sekali mendapatkan hati Lina. Begitu aku dapat, tidak akan aku lepas,” kata Jaejung sambil merangkulku. “Ah, Lina-chan… omonganmu yang tadi itu benar?” tanya Jaejung padaku.

“Yang mana?” tanyaku.

“Yang bagian ‘reinkarnasipun aku tidak akan berpaling dari Jaejung’,” kata Jaejung.

Uwaaa. Pasti mukaku memerah. Tadi aku benar-benar terbawa suasana dan sedang panas-panasnya. Kalau dipikir lagi, yang tadi itu sungguh memalukan. Aku mengatakannya di depan Jaejung sendiri.

“Hehe, aku senang ternyata Lina ada perasaan padaku,” kata Jaejung.

“Kalau aku tidak ada perasaan padamu, mana mungkin aku mau jadi pacarmu,” kataku pelan.

Entah merasa dicuekin atau apa, Changshik memulai pembicaraan lagi.

“Jaejung…” panggil Changshik.

“Hm?”

“Bagaimana kehidupanmu 17 tahun ini?” tanya Changshik.

Wah, sudah mulai masuk ke pembicaraan keluarga. Aku jadi merasa tidak enak duduk di sini.

“Bagaimana apanya? Biasa saja. Kaget juga beberapa bulan yang lalu orang tuaku bilang kalau mereka bukan orang tua kandungku,” jawab Jaejung tenang.

Aku melirik tangan Jaejung. Walau hanya sekilas, tangannya mengepal. Aku tahu Jaejung tidak setenang itu. Jaejung masih marah karena orang tuanya tidak memberitahu hal ini lebih awal. Apalagi baru beberapa hari yang lalu Jaejung diberitahu tentang saudara kembarnya, dan orang yang dibicarakan kini ada di hadapannya. Aku jadi ikut sedih memikirkan kisah Jaejung.

“Kau sendiri? Tinggal bersama orang tua kita kan?” tanya Jaejung.

“Ya. Awalnya kami memang tidak mampu. Tapi berkat bantuan orang tua angkatmu, dan juga kerja kerasku, akhirnya kami hidup dengan layak sekarang.”

Sekilas aku melihat mata Changshik saat menceritakan tentang dirinya. Matanya kembali seperti mata yang kulihat saat tadi Changshik memandang Jaejung di lapangan. Aku bingung dengan dua orang yang ada di samping dan depanku ini. Seakan-akan mereka sedang berlomba untuk akting. Kadang mereka menunjukkan sifat asli mereka, kadang mereka berakting seakan tidak ada apa-apa. Ada apa sebenarnya dengan keluarga Jaejung?

Kami pulang ke tempat tinggal masing-masing setelah bicara sekitar 1 jam. Sebelum masuk ke apartemenku, aku memegang tangan Jaejung.

“Jaejung, berhati-hatilah dengan saudara kembarmu. Bukannya aku mau berburuk sangka, tapi… entah mengapa aku takut akan ada sesuatu yang terjadi padamu.”

“Tenang saja, aku akan berhati-hati. Sudahlah, jangan dipikir lagi,” kata Jaejung sambil mengelus rambutku.

***

Keesokan harinya, masih tidak ada pelajaran di sekolah. Hari ini kami membersihkan sekolah dan lapangan yang kotor bekas Festival Olahraga kemarin. Setelah kemarin bertemu dengan Changshik, hari ini aku jadi sedikit parno. Berkali-kali aku melihat ke arah Jaejung, takut ada apa-apa dengannya.

“Lina-chan, kau mengelap apa sih?!” tegur Dana.

“Eh?” aku melihat ke depan lagi, dan ternyata aku sedang mengelap dinding. “Aaaa, gomen gomen…”

Anak-anak di sekelilingku tertawa melihatku. Habis mau gimana, aku kan khawatir ada apa-apa dengan Jaejung. Siapa tahu Changshik bisa mengontrol dan mengguna-guna orang dari jauh. Matanya menyeramkan seperti itu sih. Duuuh, perasaanku tidak pernah tenang sejak kedatangan Changshik.

“Lina-chaaan! Cukup. Kau duduk saja, aku saja yang mengelap meja!” kata Stephanie sambil mengambil lap dari tanganku. Aku melihat lagi ke arah tanganku. Gawat! Aku baru saja mengelap buku absen, yang kini basah karena aku melamun.

Stephanie mendudukkanku di meja depan. Baru saja sadar, aku sudah melamun lagi.

“Lina-chan, daijoubu? Kau tidak apa-apa?” tanya jaejung sambil mengambil kursi dan duduk di sampingku.

“Eh?” aku menoleh. “Jaejung…”

“Daijoubu? Kau tidak apa-apa? Kau kelihatan pucat. Tidak demam kan?” tanya Jaejung sambil menempelkan telapak tangannya di dahiku. Aku menggeleng pelan.

“Jaejuuung! Sini bantu! Jangan duduk saja!” teriak Yunho dari luar kelas.

“Ah, HAAAI’!” balas Jaejung. “Aku ke sana dulu ya. Kalau ada apa-apa, panggil saja aku,” kata Jaejung. Aku mengangguk lagi.

Setelah Jaejung pergi, Boa mendatangiku sambil membawa kemoceng.

“Ne, Lina-chan. Bagaimana kabar kembaran Jaejung?” tanya Boa.

“Changshik?” tanyaku.

“Sou! Iya!”

“Biasa saja. Malah aku agak tidak suka padanya,” kataku.

“Hmmm, padahal dia cakep lho!” kata Boa.

“Ternyata benar kata Jaejung,” gumamku sambil tersenyum kecil.

“Jaejung bilang apa?” tanya Boa.

“Tidak apa-apa,” jawabku.

Hari ini kami pulang lebih awal karena acara bersih-bersih sudah selesai. Aku, Jaejung, dan Boa keluar sekolah bersama-sama. Kagetnya, saat kami sampai di gerbang, Changshik menyambut.

“Hai,” sapanya pada kami.

“Kyaaaaa!” Boa menjerit senang. Aku merangkul tangan Jaejung lebih erat. Changshik tersenyum padaku, lalu mendekat dan membungkukkan badan sampai mukanya sejajar dengan mukaku.

“Konnichiwa,” sapa Changshik tepat di depan mukaku.

“Mau apa hari ini?” tanya Jaejung sambil mendorong bahu Changshik agar menjauh dariku.

“Iie. Aku hanya ingin tahu kau tinggal di mana,” kata Changshik. “Dame? Tidak boleh?”

“Boleh! Aku tahu Jaejung tinggal di mana. Mau aku antar?” tawar Boa sambil merangkul tangan Changshik.

“Hoi, hoi, yang punya rumah kan aku,” kata Jaejung.

Singkat cerita, kami berempat sekarang di apartemen Jaejung. Changshik dan boa sedang duduk di sofa dan ngobrol dengan Bahasa Korea yang cepat. Aku dan Jaejung membuatkan teh di dapur.

“Hari ini kau kelihatan tidak enak badan,” kata Jaejung.

“Tidak, aku hanya sedang berpikir,” kataku.

Tiba-tiba Jaejung memelukku dari belakang, hal yang dulu kerap dia lakukan saat aku memasak di dapur. Aku merasakan hangat napasnya di bahuku.

“Kalau ada apa-apa, jangan ragu untuk cerita padaku,” bisik Jaejung.

“Mm,” jawabku sambil mengangguk pelan. “Sekarang lepaskan pelukanmu. Di sini masih ada Boa dan Changshik,” kataku sambil melihat Boa dan Changshik yang membelakangi kami.

Entah mengapa bulu kudukku merinding setiap melihat Changshik. Sekali lagi, seakan aku melihat sisi Jaejung yang lain. Aku takut dia berubah jadi Jaejung, lalu aku salah mengenalinya. Linaaa, sadarlah! Ini seperti bukan kamu! Mana Lina yang semangat dan enerjik? Kenapa Lina jadi lemah seperti ini?!

***

Keesokan harinya sepulang sekolah, aku dan Jaejung pulang seperti biasa. Kemarin saat Boa dan Changshik di apartemen Jaejung, aku pulang duluan dengan alasan tidak enak badan. Bahkan saat Jaejung memaksaku untuk makan malam, aku tidak mau. Saat itu aku langsung ke kamar dan memaksakan diri untuk tidur walau jam masih menunjukkan pukul 8.

“Ja, aku masuk dulu ya!” kataku pada Jaejung. Jaejung tersenyum, lalu mengecup dahiku. Setelah itu kami masuk ke apartemen masing-masing.

Setelah melempar tas ke dalam kamar, aku langsung duduk di sofa. Tanpa melepas seragam. Baru saja aku mau menyalakan TV, ada seseorang memencet bel.

DING DONG.

Duuh, baru saja aku duduk. Siapa sih sore-sore begini datang ke rumah? Nggak tau orang capek, apa?! Aku membuka pintu.

“Jaejung?” tanyaku heran.

“Bukan, kembarannya,” jawab lelaki di depanku. CHANGSHIK?! Aku tidak langsung mempersilakannya masuk.

“Ada apa?” tanyaku dingin.

“Aku mau bicara. Tentang Jaejung,” jawabnya serius. Beberapa detik aku masih dalam dilema. Kemudian aku mempersilakannya masuk karena aku benar-benar penasaran. Untuk apa dia datang ke sini untuk membicarakan Jaejung?

Setelah aku membuatkan teh, aku duduk di samping Changshik.

“Bagaimana kau tahu ini apartemenku?” tanyaku. Aku tidak yakin Jaejung yang memberitahu.

“Boa yang memberitahuku,” kata Changshik sambil meminum tehnya.

Aku memandangnya sekali lagi. Dia benar-benar mirip Jaejung. Bahkan suaranya pun mirip. Kalau bicaranya tidak berlogat Korea, pasti aku tidak percaya bahwa dia adalah orang yang berbeda dengan Jaejung.

“Lalu, kau mau bicara apa tentang Jaejung?” tanyaku.

“Sejauh mana kau tahu tentang keluarga Jaejung?” Changshik balik bertanya.

“Aku tahu semuanya,” jawabku singkat.

“Dari Jaejung?”

“Tidak. Dari orang tuanya. Jaejung bukan tipe orang yang suka curhat pada pacarnya,” kataku.

“Heee, kamu benar-benar mengenal kembaranku. Aku yang kembarannya saja tidak tahu sama sekali tentang dia, padahal aku sering mendengar namanya,” kata Changshik sambil memandang pigura besar berisi fotoku dan Jaejung yang baru saja aku tempel beberapa hari yang lalu.

“Apa?! Kau sering mendengar nama Jaejung?” tanyaku heran.

“Tentu saja. Orang tuaku menyebutnya tiap hari,” kata Changshik sambil mengarahkan kembali pandangannya padaku.

“Dan Jaejung baru tahu tentangmu beberapa hari yang lalu,” kataku dingin.

“Yah. Hidupnya memang enak. Tidak perlu mencemaskan banyak hal. Dia baru tahu kalau dia punya saudara, dan beberapa hari setelahnya saudara itu muncul di hadapannya tanpa dia harus mencari. Instan sekali kan hidupnya,” kata Changshik sambil tersenyum sinis.

PLAKKK!!!

Aku menampar orang yang berwajah identik dengan Jaejung itu.

“Jangan berani-beraninya bicara begitu! Jaejung juga memikirkan banyak hal, kau tahu?!” kataku sedikit memelankan suara, takut terdengar dari apartemen Jaejung.

“Memikirkan banyak hal? Hebat sekali memikirkan banyak hal sambil mencari pacar yang ‘susah didapatkan’ sepertimu,” kata Changshik.

Changshik memandangku lekat-lekat. Tanpa sadar aku juga memandanginya. Amarahku perlahan lenyap begitu memandang mata Changshik. Benar-benar mirip mata Jaejung. Cara Changshik memandangku benar-benar mirip pandangan Jaejung.

Dokidoki. Dokidoki.

Gawat. Jantungku berdetak kencang.

Tangan Changshik memegang bahuku. Mukanya mendekat.

“Kau pasti sangat berarti bagi Jaejung,” bisiknya.

“Apa maksudmu?”

Changshik mendorongku sampai aku tertidur di sofa. Tunggu! Mau apa dia?! Aku sudah berusaha mendorongnya, tapi dia lebih kuat. Dia tidak seperti Jaejung yang hanya setengah menggunakan kekuatannya. Aku baru sadar lelaki begini kuatnya.

Matanya kini ada di depan mataku. Tidaaak! Aku tidak ingin melihat matanya. Dia benar-benar mirip Jaejung. Tangan dan kakiku melemas. Padahal tangan kiri Changshik kini memegang pahaku yang memang terbuka karena rok sekolah yang pendek.

Berteriaklah, Lina! Panggil nama Jaejung!

“JAE—“ baru saja aku mau berteriak, Changshik menciumku. Aku mengumpulkan kekuatanku sambil terus berkata dalam hati : dia bukan Jaejung, dia bukan Jaejung, dia bukan Jaejung! Aku memukul-mukul bahunya, tapi dia tetap tidak berkutik. Changshik mengulum bibirku, seperti yang tak pernah dilakukan Jaejung padaku. Tangannya kini mencabut paksa dasiku, dan melemparnya asal. Kemudian dia menarik kerah kemejaku sampai beberapa kancing lepas.

Aku tidak tahan! Aku tidak mau dilecehkan seperti ini! Sekuat tenaga, aku menolehkan kepalaku ke samping. Bibirku terbebas dari Changshik.

“JAEJUUUNG!!! TOLONG AKUUU!!!” teriakku.

Changshik menciumi dan mengisap leherku, kemudian turun ke dadaku. Air mataku sudah keluar dan aku berkali-kali meneriakkan nama Jaejung.

BUG! BUG! BUG!!!

Aku menoleh ke arah pintu. Gawat, tadi aku mengunci pintu.

“Pacarmu sudah datang?” bisik Changshik. “Sayang sekali. Andai saja dia datang saat aku sudah merenggut keperawananmu.” Aku tidak mau mendengar lagi kata-kata Changshik.

“JAEJUUUNG!” raungku.

BRAKKK!!!

Jaejung mendobrak pintu. “LINA!” panggilnya. Jaejung langsung mendapati aku dan Changshik di ruang tengah dengan posisi tak dapat dijelaskan dengan kata-kata. Mata Jaejung langsung membulat.

“BANGSAT!!!” teriak Jaejung. Dia langsung menendang meja yang menghalanginya, dan mengangkat kerah Changshik.

BUGGGG!!!

“APA YANG KAU LAKUKAN PADA LINA, HAH?!” teriak Jaejung sambil memukul Changshik sampai terjatuh dan menabrak bufet kecil di belakangnya. Barang-barang berjatuhan dari bufet. Aku terduduk dan menangis, sambil memegangi kerahku yang kancingnya lepas.

“Apa yang kulakukan? Aku hanya menciumnya,” kata Changshik tenang.

Jaejung mengangkat Changshik lagi, lalu memukulnya lagi.

“KELUAR KAU DARI SINI, BANGSAT!!!” teriak Jaejung. Ini pertama kalinya aku melihat Jaejung begini murka.

CHAPTER 12 おしまい

20 responses to “[FF-Series-PG15] VIVID CHAPTER 12 (starring Lina & Jaejoong)

  1. hah, Lina unnie gak pa2 kan??? T_T
    changsik nyebelin, untung aja JJ cepet datang…
    toh bukan salah JJ kalo JJ yg diadopsi..

  2. Pingback: [FF-Series-PG15] VIVID CHAPTER 15 (starring Lina & Jaejoong) « FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s