[FF-Series-PG15] VIVID CHAPTER 13 (starring Lina & Jaejoong)

ada yang tau kenapa biasanya update cepet?
soalnya sebenernya FF ini udah nyampe chapter 13, jadi tinggal ngopy
nah, mulai saat ini, updatenya bakal lama. soalnya author sibuk sama sekolah XD
_________________________________________________

NO SILENT READ IN MY FANFIC!
AFTER YOU READ, LEAVE THE COMMENT.
thank you.

_________________________________________________

My Other Fanfic(s) :

[FF-Oneshot-PG] Midnight Note (starring Yoochun & BoA)
[FF-Oneshot-G] I Love My Brother (starring Chinen Yuuri)
[FF-Oneshot-PG] Unreadable Note (sekuel of Midnight Note)

_______________________________________________

VIVID’s Previous Chapter(s) : 01 | 02 | 03 | 04 | 05 | 06 | 07 | 08 | 09 | 10 | 11 | 12

Title : VIVID
Author : Dila (di LA —SAFE, BoA-Indo, Sujunesia, TVXQ-Indo—)
Rating : PG-15
Pairing : Lina ♥ Jaejoong
Cast : CSJH The Grace, TVXQ, BoA
Location : Japan
Length : Chaptered
Genre : Romance, Comedy
Language : Indonesia
A/N :
– Fic ini ditulis dalam Bahasa Indonesia, dan sedikit bahasa dan istilah-istilah Jepang
– Jika ada Bahasa Jepang, langsung diterjemahkan di sampingnya
– Dalam fic ini, lokasi ada di Jepang, bukan di Korea
– Penulisan nama seperti Jaejoong dan Yoochun akan menyesuaikan dengan penulisan nama mereka di Jepang

CHAPTER 13

“KELUAR KAU DARI SINI, BANGSAT!!!” teriak Jaejung. Ini pertama kalinya aku melihat Jaejung begini murka.
Aku hanya menangis dan menangis. Aku takut melihat Changshik. Aku takut melihat Jaejung. Aku takut melihat keduanya. Changshik yang sangat menakutkan, dan Jaejung yang baru kali ini terlihat sangat garang.

Changshik hanya tersenyum. Entah apa maksud senyumnya. Yang aku tangkap, dia seperti tersenyum puas. Kemudian sambil mengelap bibir yang berdarah dengan punggung tangannya, Changshik berjalan menuju pintu.
“Ini masih pembukaan,” kata Changshik sambil membuka pintu dan keluar dari apartemenku.

Ruangan jadi sepi hanya ada suara isak tangisku dan desah napas Jaejung yang memburu. Aku mencengkeram kerahku lebih erat. Aku benar-benar syok dan takut akan kejadian beberapa menit yang lalu.

Jaejung akhirnya menoleh padaku. Kemudian dia mendekatiku dan hendak memegang bahuku.
“Jangan!” teriakku. Kenapa? Kenapa tanganku menepis tangan Jaejung?
“Go-gomen…” kata Jaejuung pelan. Jaejung tidak jadi menyentuhku, dan hanya duduk di sampingku. Aku tak bisa menghindarinya. Aku sendiri tidak tahu mengapa tanganku menolakmu. Maafkan aku, Jaejung. Kau pasti tersinggung.
“Maaf…” ucapku pelan. “Hanya saja… kau terlihat seperti dia…” bisikku.
“Tidak apa-apa. Kau pasti juga terkejut,” kata Jaejung. “Maafkan aku. Andai tadi aku selalu di sampingmu, hal ini tidak akan terjadi.”
Aku menggeleng.
“Jangan-jangan… kau takut padaku?” tanya Jaejung.
Aku mengangguk.
“Gomen… aku tidak akan berkata kasar lagi. Aku tadi benar-benar marah, lalu kelepasan. Maafkan aku ya,” kata Jaejung sambil memegang bahuku. Aku mau berkelit lagi, tapi Jaejung tiba-tiba menarik tanganku dan memelukku.
“Gomen…” kata Jaejung di telingaku.
“Aku malu…” itu kata yang aku ucapkan pertama kali sejak kejadian tadi.
“Tidak apa-apa. Tenanglah, semua akan baik-baik saja. Aku akan melindungimu,” kata Jaejung.
Beberapa saat kemudian aku hanya diam di pelukan Jaejung. Air mataku sudah mulai berhenti keluar. Setiap dipeluk Jaejung seperti ini, aku selalu merasa aman. Jaejung, aku tidak akan takut lagi padamu. Hanya saja tadi kamu benar-benar mirip seperti Changshik.

Setelah beberapa menit, Jaejung melepas pelukannya.
“Aaah, rasanya capek sekali. Bagaimana kalau kita makan?” kata Jaejung sambil tersenyum. Aku juga ikut tersenyum.
“Baiklah, akan aku masakkan,” kataku sambil berdiri.
Tiba-tiba Jaejung mengamatiku dengan kening berkerut.
“Apa ini?” tanya Jaejung sambil memegang lagi bahuku. Aku sendiri melirik ke daerah antara bahu dan leherku. Mataku langsung membulat begitu melihat kiss mark di leherku. Aku buru-buru mencengkeram kerahku dan menutupinya sebelum Jaejung menyadari bahwa itu adalah kiss mark.
“Apa itu tadi?” tanya Jaejung sekali lagi, tanpa nada kasar dalam ucapannya.
“Bu-bukan apa-apa,” jawabku gugup. Aku sendiri juga terkejut Changshik meninggalkan kiss mark di leherku.
Dengan lembut tapi kuat, Jaejung menarik tanganku. Dan Jaejung melihatnya. Napasnya langsung memburu lagi.
“Ini perbuatannya kan?” tanya Jaejung, sudah hampir meledak.
“Sudahlah, Jaejung…” kataku sambil menggenggam tangannya. “Aku tidak apa-apa kok.”
“Mana mungkin kamu tidak apa-apa! Aku pergi!” kata Jaejung sambil melepas genggamanku dan berjalan ke arah pintu.
“Kamu mau ke mana?” tanyaku.
“Membunuh dia!!!” jawab Jaejung kasar, sambil memukul dinding di sampingnya.
“Hentikan. Sudahlah, aku tidak mau melihat pertengkaran lagi,” kataku.
“OH, JADI KAU TERIMA DIAPA-APAKAN OLEHNYA?!” teriak Jaejung.
“BUKAN BEGITU!!! SUDAHLAH HENTIKAN! KAU TIDAK SEPERTI JAEJUNG YANG AKU KENAL!” teriakku. Jaejung berhenti, kemudian menatapku. “Bukankah beberapa menit yang lalu kau berjanji tidak akan bicara kasar lagi? Kenapa kau melakukan itu hanya karena melihat satu kiss mark di leherku?” tanyaku.
“Hanya???” tanya Jaejung lirih. Tapi aku melihat pandangan marah di matanya.
Aku mendekat ke Jaejung dan menggenggam kedua tangannya.
“Sudahlah, kumohon. Aku tidak mau mengungkit-ungkit ini lagi,” kataku.

Jaejung kembali ke sofa dan duduk. Lalu menghela napas panjang.
“Maaf. Aku terlalu sayang padamu, Lina. Aku terlalu cemburu… aku hanya tidak terima kau dilecehkan, walaupun oleh saudara kembarku sendiri,” kata Jaejung. Aku hanya bisa memandang Jaejung tanpa bisa berkata apa-apa lagi. Baru kali ini Jaejung mengatakan bahwa dia sayang padaku dengan pandangan mata gelisah, cemas, dan marah. Sebesar itukah aku di matanya?

***

“LINA-CHAAAN!!! OHAYOU!!!” teriak Jaejung sambil membuka gordenku.
Aku mengedip-ngedipkan mata, mencoba mengingat kejadian kemarin. Oh, sayangnya aku tidak lupa. Aku benar-benar ingin melupakannya. Setelah ‘kejadian itu’, Jaejung tidak mau meninggalkanku. Dia memaksa agar dia tidur di apartemenku. Akhirnya aku biarkan dia tidur di sofa.

Dan malam tadi aku benar-benar kenyang. Bukan kenyang karena dipaksa memakan kare buatan Jaejung banyak-banyak, melainkan kenyang karena terlalu sering mendetakkan jantung dengan cepat. Tadi malam aku hampir tidak bisa tidur. Jantungku tidak bisa berdetak dengan normal karena aku terus-terusan membayangkan sofa di ruang tengah. Jaejung tadi malam tidur di bawah atap yang sama denganku. Aku memang merasa aman, tapi di samping itu aku juga merasa tegang. Bayangkan orang yang kau sayangi tidur seatap denganmu! Dokidoki shiteru deshou? Pasti kau akan berdebar-debar.
“Lina-chaaan! Ini sudah siang! Kalau aku tidak bangun juga, aku gendong ke sekolah lho,” kata Jaejung.
Aku membuka mataku, dan wajah Jaejung tepat di depanku.
“Gyaaa!” aku menutup wajahku dengan bantal. “Jangan lihat aku! Aku jelek sekali kalau bangun tidur!”
“Bagiku Lina tetap cantik waktu bangun, tidur, maupun bangun tidur…” kata Jaejung.
“Aaa, kau keluar dulu!” suruhku.
“Iya, iya.”
Setelah mempersiapkan segala macam untuk sekolah, aku keluar kamar, dan melihat Jaejung memakai celemekku sambil menghidangkan makanan di meja. Pagi itu aku dan Jaejung sarapan seperti biasa, dan berangkat ke sekolah seperti biasa. Aku benar-benar berdoa semoga tidak akan pernah bertemu lagi dengan makhluk yang bernama Changshik. Untungnya kami sampai di sekolah dengan selamat, tanpa bertemu dengan apapun—kecuali kalau kucing dan anjing yang sedang bertengkar termasuk “apapun”.

Pelajaran olahraga adalah pelajaran paling efektif untuk menggosip. Pelajarannya kali ini dodge ball. Semua anak sudah masuk tim, sedangkan aku, Dana, Stephanie, Sunday, dan Boa duduk di pinggir lapangan sambil ngobrol. Tentu saja aku tidak membahas kejadian kemarin. Mana mungkin aku menceritakan kejadian memalukan itu pada mereka. Mau ditaruh mana mukaku nanti? Di belakang jelas nggak mungkin, aku nggak bisa lihat dong. Kalo di bawah, nanti keinjek. Kalo di atas, nanti kejeduk. Aaaa, pokoknya aku tidak akan menceritakan pada mereka. Titik!

PRIIIIT!!!
“Dana! Stephanie! Sunday! Kaliam masuk tim! Jangan nggosip aja. Boa, Lina… kalian siap-siap masuk tim selanjutnya!” teriak sensei. Mereka bertiga yang baru disebut namanya oleh sensei langsung menggerutu protes. Aku dan Boa masih duduk dan menunggu giliran dipanggil.
“Ne, ne, Boa-chan. Bagaimana kabar Changshik? Itu tuh, kembarannya Jaejung,” tanya Boa semangat. Aduh! Padahal ini topik yang paling kuhindari.
“Boa-chan… bukan apa-apa… tapi ini demi kebaikanmu juga…” kataku basa-basi.
“Ada apa?” tanya Boa.
Aku menghela napas.
“Lebih baik kamu jangan mendekati Changshik…” kataku tegas dan jelas.
“Aaa, masa’ dua-duanya mau kamu ambil siiih. Ayolah, biarkan Changshik untukku. Ya?” rayu Boa.
“Bukan itu masalahnya!!!” kataku sebal. Hampir saja aku berteriak.
“Lalu?” tanya Boa.
Bagaimana ini? Kalau aku tidak menceritakan soal kemarin, Boa tidak menganggap serius peringatanku. Tapi kalau aku menceritakannya, itu artinya aku membuka aib! Bagaimana ini?!

PRIIIIT
“Boa! Lina! Sana masuk tim B!” suruh sensei.
YOKATTAAAAA! Syukurlah! Sensei benar-benar mengerti kalau aku harus menghindari topik ini. Aku sudah berdiri, kemudian Boa mengikuti. Tapi bukannya masuk ke tim, Boa menggandengku dan berjalan menuju sensei.
“Senseeei, saya dan Lina tidak ikut yaaa…” kata Boa.
“Ha? Kenapa? Tidak usah banyak alasan. Sana masuk tim!” suruh sensei.
“Ettooo… kami sedang ‘bulanan’… jadi ya sensei kan tahu sendiriii…” kata Boa berakting. Aku terlalu terkejut dengan perubahan suasana, jadi aku diam saja.
“’Bu-bulanan’?” tanya sensei. “Ehm, baiklah, kalian boleh duduk di pinggir lapangan,” kata sensei, kemudian kembali ke tim.
Boa menghadap padaku dan mengedipkan mata kirinya.

Otakku masih me-loading apa yang terjadi barusan.

“Ayo kita lanjutkan!” ajak Boa.
GYAAA!!! Jadi aku tetap harus melanjutkan topik tadi?!

Aku kembali duduk di pinggir lapangan bersama Boa. Boa mendesakku untuk menceritakan tentang Changshik. Dan terpaksa, demi keselamatan Boa dan wanita sedunia, aku menceritakan yang terjadi kemarin. Boa mendengarkanku dengan seksama dan—tanpa disangka-sangka—dengan serius. Setelah aku selesai bercerita, Boa menopang dagunya dan berpikir—entah memikirkan apa.
“Sebenarnya aku tidak begitu heran dia bisa melakukan hal itu,” kata Boa.
“Maksudmu?”
“Pertama kali aku melihat Jaejung, aku berpikir bahwa dia adalah orang yang sangat kesepian. Tapi Jaejung berbeda saat dia bersama denganmu. Jaejung terlihat lebih hidup dan tidak lagi terlihat kesepian. Sedangkan Changshik… saat aku melihatnya, aku langsung ingat saat pertama kali aku melihat Jaejung. Changshik terlihat sangat kesepian. Tapi kesepiannya jauh melebihi kesepian Jaejung saat itu. Mata Changshik sangat dingin, seakan dia tidak punya hati,” cerita Boa.
Sepertinya benar, tiap orang memiliki satu sisi yang tidak disangka-sangka. Boa yang biasanya ceria dan sedikit menyebalkan, kini jadi terlihat serius.
“Lalu?” tanyaku. Aku sama sekali tidak mengerti apa yang ingin Boa sampaikan. Apakah loadingku memang selambat ini??? Atau aku kebingungan karena banyak kata “kesepian”? Kenapa bahasa Boa tiba-tiba jadi tinggi begini?
“Entahlah. Aku tidak mengerti ada masalah apa di antara mereka berdua. Tentu saja itu masalah keluarga. Kita tidak berhak masuk ke dalamnya. Mungkin Changshik hanya ingin melampiaskan sesuatu ke Jaejung,” kata Boa.
Aku terdiam dan berpikir. Mencerna baik-baik apa yang dikatakan Boa, dan mencoba menerka-nerka. Kenapa Changshik berbuat begitu? Aku terpaksa mengingat-ingat lagi kejadian itu. Mengingat tiap kata yang diucapkannya. Apakah… dia iri dengan Jaejung? Sepertinya begitu. Dia pasti berpikir kalau dia menyakitiku, yang paling marah adalah Jaejung. Dia sengaja ingin membuat marah Jaejung.

Sepulang sekolah, aku masih ngobrol dengan Boa. Di belakang kami, Jaejung mengikuti. Jaejung tahu apa yang kami bicarakan, tapi dia tidak mau mengikuti pembicaraan kami. Jaejung masih marah dengan Changshik. Baru saja kami sampai di depan gerbang, ada sepeda motor menghadang kami.
Kami berhenti, dan Jaejung langsung maju ke depan, melindungi kami.
“Siapa?” tanya Boa. Aku hanya mengangkat bahu.
Orang itu membuka helmnya. Dan bukan tak terduga lagi, orang itu adalah Changshik. Aku mencengkeram erat tangan Boa, dan kepalaku langsung menunduk.
“Mau apa lagi?” tanya Jaejung dingin.
“Iie. Tidak, hanya ingin tahu keadaan Lina-mu tersayang,” kata Changshik. “Hmmm, kancingmu sudah dijahit? Siapa yang menjahitnya?”tanya Changshik kurang ajar.
“Kisamaaa!” Jaejung sudah mau meledak lagi. (A/N : kisama = kamu. Panggilan yang amat sangat tidak disarankan kalau Anda ke Jepang untuk pertama kali. Karena ini sama aja ngajakin perang XD)
Tiba-tiba Boa melepas genggamanku. Ketika aku melihatnya, dia sudah ada di boncengan Changshik.
“Hoi. Apa-apaan kamu?” tanya Changshik sambil menoleh ke arah Boa.
“Ke studio, dong,” kata Boa.
“Ha???”
“Antar aku ke studio. Aku mau rekaman,” kata Boa lebih jelas.
“Hoi, aku ini bukan tukang ojekmu!” kata Changshik. “Turun!”
“Iie. Aku sudah mau telat niiih. Manajerku tidak bisa jemput hari ini. Jadi antarkan aku. Yo! Let’s go!!!” kata Boa sambil melingkarkan tangannya di pinggang Changshik. Mau tidak mau, Changshik menytater motornya dan meninggalkan kami berdua.
Aku dan Jaejung bengong di depan gerbang, tidak menyangka akan perubahan yang tiba-tiba ini. Dasar Boa. Aku langsung mengirim mail padanya yang berbunyi : arigatou =)

Aku dan Jaejung pulang ke apartemen. Tapi Jaejung tidak mau meninggalkanku sendirian. Dia bersikeras menyuruhku ke apartemennya.
“Ne, Lina-chaaan. Ayo ke apartemenku,” ajak Jaejung di depan pintu, ketika aku mau masuk.
“Hah? Buat apaaa? Nanti malam juga ketemu,” kataku.
“Aku ingin makan puding,” kata Jaejung.
“Beli saja di toko depan apartemen,” kataku sambil memasukkan kunci. Jaejung menggenggam tangan kananku, menahanku memutar kunci.
“Aku ingin puding buatanmuuu,” kata Jaejung.
“Aku nggak bisa bikin puding,” kataku.
“Nanti aku ajari deeeh,” paksanya.
“Kalau kamu bisa ya bikin sendiri dong. Repot banget sih jadi orang,” kataku.
“Pokoknya aku mau Lina ke apartemenku,” kata Jaejung sambil menarik kunciku dan mendorongku masuk ke apartemennya.
Setelah masuk, Jaejung malah bersiul dan mengeluarkan bahan-bahan membuat puding dari lemari es. Aku hanya duduk di sofa sambil membaca koran hari ini. Sebenarnya kenapa Jaejung memaksaku bersamanya terus? Toh tadi Changshik pergi bersama Boa. Well, aku senang Jaejung sangat perhatian padaku, tapi akhir-akhir ini Jaejung seperti bukan Jaejung. Entah kenapa ada yang berubah. Atau hanya perasaanku saja ya? Apa gara-gara aku melihatnya marah kemarin?

Beberapa menit kemudian, aku dan Jaejung bekerja di dapur. Sebenarnya sih ini Jaejung yang membuat puding, aku hanya membantu saja. Dia hanya ingin aku ada di sampingnya. Mungkin begitu. Eh? Apakah aku terlalu pede??? Tapi kan dia bilang sendiri kalau dia sayang sekali padaku.
“Lina,” panggil Jaejung.
“Hm?”
“Dari kemarin kamu diam saja. Masih syok ya?” tanya Jaejung.
“Tentu saja,” jawabku singkat.
“Kamu terasa berbeda di mataku,” kata Jaejung. Persis! Sama seperti yang aku pikirkan!
“Ada apa? Kau ilfil ya gara-gara Changshik hampir mengotoriku?” tanyaku takut.
“Tentu saja tidak!” kata Jaejung, langsung menoleh padaku dan menghentikan kegiatannya. “Aku hanya ingin Lina kembali ceria seperti dulu. Itu saja.”
“Aku… juga ingin Jaejung kembali seperti dulu. Aku tidak suka melihat Jaejung yang marah dan pemikir seperti ini. Seharian di kelas tadi kau sama sekali tidak konsentrasi pada pelajaran. Kau memikirkan kejadian kemarin?” tanyaku.
“Tentu saja. Aku tidak akan bisa memaafkannya,” kata Jaejung.
Aku juga. Aku juga tidak bisa memaafkannya tentu saja, tapi jujur itu bukan apa-apa. Bukankah Jaejung telah menyelamatkanku sebelum terlambat? Aku benar-benar senang Jaejung menyelamatkanku dan bahkan marah demi aku. Aku hanya tidak ingin ada yang berubah dalam kehidupanku dan Jaejung. Jadi aku ingin melupakan kejadian kemarin. Tapi itu sulit karena Jaejung masih memikirkannya.

Setelah memasukkan puding ke lemari es, kami tetap berdiri di dapur sambil berdiam diri. Inilah salah satu alasan kenapa aku sudah lama tidak mau pacaran. Aku benci saat-saat tegang seperti ini.
“Lina, kau sama sekali tidak memikirkan kejadian kemarin?” tanya Jaejung.
“Bukan begitu, aku hanya tidak ingin kita berubah hanya karena kejadian kemarin,” kataku.
“Mana mungkin tidak berubah,” kata Jaejung dingin.
“Jaejung, kamu kenapa sih?” tanyaku. “Kenapa hari ini kau sensi sekali?”
Jaejung menghindari pandanganku.
“Ne, Jaejung!” panggilku lebih keras, kali ini sambil memegang tangannya. Akhirnya Jaejung menatap mataku. Glek. Jantungku mulai berdebar-debar lagi. Tiap melihat matanya, aku selalu nervous. Aku baru sadar kalau ternyata aku salah. Kalau dilihat lebih dalam, mata Jaejung sangat berbeda dengan mata Changshik. Di mata Jaejung hanya ada aku. Mata Jaejung penuh dengan kasih sayang. Itulah yang aku lihat dan rasakan.

Jaejung menciumku. Ciumannya sangat lembut, tidak seperti ciuman Changshik yang kasar. Ya, Jaejung bukan Changshik dan Changshik bukanlah Jaejung. Mereka adalah dua manusia yang berbeda. Aku tidak boleh menyamakan keduanya. Maafkan aku, Jaejung. Aku sempat berpikir—walaupun sekilas—kalau Changshik itu adalah dirimu. Kalau saja waktu itu aku tidak mengukuhkan hatiku, pasti aku terbuai oleh Changshik. Hiiiy, membayangkannya saja bikin merinding!

DING DONG.
Jaejung menjauhkan bibirnya dari bibirku. Kemudian dia menuju ke pintu depan, dan membukakan pintu. Aku mengikuti di belakangnya.

Boa.
Dan CHANGSHIK?!

“Bukannya kalian tadi ke studio?” tanya Jaejung tanpa mempersilakan mereka masuk.
“Tidak. Aku berbohong. Lalu Changshik marah. Lalu dia memaksa kembali ke sekolah. Lalu karena kalian sudah pulang, kami ke sini,” kata Boa menjelaskan. “Ano, Lina-chan, aku sudah melarangnya ke sini, tapi…”
“Lalu kenapa kamu ikut ke sini?” tanya Jaejung pada Boa.
“Tentu saja untuk melarangnya bertemu dengan kalian!” kata Boa.
“Percuma. Bagaimanapun kami keluarga. Mau tidak mau, suatu saat pasti bertemu,” kata Jaejung.
“Sudah, sudah, bagaimana kalau kita semua masuk dan bicarakan baik-baik di dalam?” tawarku.

Akhirnya kami semua masuk dan duduk di sofa. Setelah aku membuatkan teh, aku dan Jaejung duduk berhadapan dengan Changshik dan Boa.

Changshik dan Jaejung dari tadi berpandangan dengan penuh amarah. Aduh, kalau Jaejung dan Changshik sampai bertengkar lagi, aku harus membawa helm untuk melindungi kepalaku. Siapa tau mereka melempar-lempar barang saat bertengkar. Ah, mungkin aku harus membawa dua helm. Satu untukku, dan satu untuk Boa.

Aku lihat dari tadi pandangan Boa tertuju ke arah Changshik. Kalau aku benar, Boa memandang Changshik dengan tatapan kasihan, bercampur sayang. Pandangannya mirip dengan cara Jaejung memandangku. Tapi benarkah? Apakah analisisku yang salah? Haruskah aku belajar teori “membaca pandangan mata” dari Boa?

“Lina, Boa… “ panggil Jaejung tanpa memandang kami berdua.
“Hai’?” sahutku dan Boa.
“Lebih baik kalian ke apartemen Lina saja. Ada yang perlu aku bicarakan berdua dengan Changshik,” kata Jaejung serius.

CHAPTER 13 おしまい

49 responses to “[FF-Series-PG15] VIVID CHAPTER 13 (starring Lina & Jaejoong)

  1. Aq bukan anti SNSD n bukan anti fans sapapun…….
    Aq bkan tipe org yg gara2 1 gax sukla sama 1 org, teruz merembet ke Group nya…
    Cuman…Gak tau kenapa aku gax bisa buat suka ma yg 1 itu…….

    ow yua, Dil…….
    FF Boa ma JJ di post dong disini………..!!!!!!!!

    • ahaha. ya udah ga usah dpikirin. dunia per-antifans-an emang kompleks banget.

      OKE!
      akhirnya ada yang minta FF jaebo!
      tunggu saja tanggal mainnya! ^.~

  2. @hyunvy
    enggak. aku skul di SMK Telkom.
    sekolah menengah kelainan =.=
    emang nyebelin banget sekolah di situ. bikin emosi.
    tiap hari adaaa aja tugas+presentasi.

  3. Pingback: [FF-Series-PG15] Boys & Girls Chapter 1 « FFindo·

  4. Pingback: [FF-Series-PG15] Boys & Girls Chapter 2 « FFindo·

  5. Pingback: [FF-Series-PG15] VIVID CHAPTER 14 (starring Lina & Jaejoong) « FFindo·

  6. jantungku beneran kayak Lina
    penasaran bgt, harusnya mereka jgn ditinggal berdua
    bener kata Lina, perlu bawa helm nih….

  7. Nice ff chingu ,,

    Aku suka banget sama ff chingu ..

    Kesannya kayak ff english yang sering aku baca …

    Btw lina emangnya siapa sih ?

  8. Pingback: [FF-Series-PG15] VIVID CHAPTER 15 (starring Lina & Jaejoong) « FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s