[2SHOT / PG+13] Just Before the Rain Part 1

Title: Just Before the Rain
Author: azura-chan (chingzz)
Beta-reader: Akilina Amabelle
Rating : PG+13 / straight
Main Cast: Yoon Doo Joon (B2ST) and Han Sang Hee
Length : 2 Shots
Part : 1 of 2
Genre: Fluff, Drama, Tragedy
Disclaimer: I don’t own the character and this story is only a fiction.
A/N:
Hello, ene fan fic terbaru gue. Rada geje emang, tapi nikmatilah. Fan fic ene terinspirasi pas gue ngerjain tugas matematika di perpus. Tapi, dengan sedikit ramuan film MY GIRL & I yang gue tonton minggu lalu, akhirnya tertulislah fan fic ene hehe…
Fan fic ene gue dedikasikan buat temen gue Dea Maria. Hope u like it, coy haha…
Buat para readers, don’t forget to leave a comment for me.

credit by azura-chan (ezra @ artfratermyra)

Part One: “Under Her Umbrella”

Hari itu—hari di mana aku melihat seorang gadis berpayung di bawah derasnya hujan.
Pakaiannya lusuh dan tasnya pun basah terkena rintik hujan.
Sekilas kutatap jam tangan terlingkar di lengan kiriku.
Sepertinya aku tak memiliki waktu untuk membantunya.
Jun Hyung sudah menunggu lama dan aku pun tak bisa berleha-leha untuk menjemputnya.

Tanpa perintah hatiku, tiba-tiba saja gadis itu menghampiriku dengan payung yang dibawanya itu.
“YA! Apa yang kau lakukan di sana?!”
Mataku membulat.
Apa-apan gadis ini?!
Mengapa tiba-tiba saja ia membentakku? Kenal pun tidak.
Mw—”
Belum saja aku melontarkan kalimat protesku, tetapi tenggorokanku sudah terlebih dahulu tercekat.
Matanya yang menusuk itu seolah menorehkan niatku.

Sang Hee sunbaenim?!
Aigo! Aku benar-benar dalam masalah yang sulit sekarang.
Siapa yang tak kenal dengan Sang Hee sunbaenim?
Ia terkenal dengan kegalakannya di seantero sekolah dan sekarang ia benar-benar menghampiriku.

Ya! Cepat jalankan mesin motormu!”
Ye?
Pali!
Ye! Arasseo!”

Kuputar kunci motorku.
Suara mesin pun terdengar keras dan aku semakin menggebu untuk kabur darinya, tetapi sepertinya sudah terlambat. Sang Hee sunbaenim sudah terlebih dahulu mencengkram stang motorku dan kini aku tidak dapat lari darinya.

“Ye, Sunbaenim? Waeyo?” tanyaku.
“Antar aku pulang.”
“Ye?”
Apa aku tidak salah mendengarnya? Berbicara dengannya pun belum pernah. Ini pertama kalinya ia menganggap diriku.

Pali kajja!” Tanpa berbasa-basi ia sudah naik di boncenganku.
“Ah, ara!”
Entah apa yang berada di dalam otakku ini. Mengapa aku seperti robot sekarang?
Disuruh untuk melaju, aku melaju.
Diancam untuk mengantar pulang pun, aku malah menurutinya.

****

18 Maret 2010

Ini bukan hari pertama aku melihatnya melintasi lapangan parkir.
Sudah sebulan aku menunggunya di tempat itu.
Namun, hari ini Tuhan sepertinya memberikan suatu kesempatan lebih padaku.
Keberanian itu seolah datang dan aku malah bertingkah seakan tak tahu malu di hadapannya.

Ia mengantarku pulang.
Menurunkan diriku tepat di depan rumah dan tanpa canggung membiarkannya menyapa pamit diriku untuk perpisahan.
Orang terheran-heran saat melihatku bersamanya.
Mereka pikir aku hanyalah seorang yang sunyi dan tak dapat dipercaya, tetapi kali ini aku membuat mereka tercengang.

Doo Joon. Aku sudah lama menyembunyikan perasaanku darinya.
Kami bertetangga dulu, namun sepertinya ia sudah melupakan diriku.
Bahkan ia pun tak ingat bahwa kami duduk di kelas yang sama semenjak sekolah dasar dulu.
Perih hatiku saat mengingat semua itu.
Namun, saat ini aku tidak dapat membuang waktu hanya untuk mengagumi dirinya.

****

“Doo Joon~a, jinja? Kau pulang dengan Sang Hee sunbaenim kemarin?”
Sikutan Hyun Seung benar-benar menganggu acara makan siangku ini.

Ada apa dengan orang-orang?
Mereka begitu senang akan gosip palsu yang tak jelas asal-usulnya itu.
Padahal aku sama sekali tidak memiliki hubungan dengan sunbaenim, tetapi mengapa cerita bualan itu begitu digemari?

“Katakan saja jika kau menyukainya, benar ‘kan?”
Aish, Yo Seob masih saja menggodaku dengan tatapan sok imutnya itu.

“YA! Geumanhae! Aku tidak ada hubungan apa-apa dengannya, jadi sebaiknya kau hentikan rayuan gilamu itu!”

“Doo Joon~a, sudah jangan menutupinya. Awalnya mungkin ia hanya menyuruhmu mengantar pulang, tetapi lama-lama ia akan memperdayamu, lalu mencampakkanmu. Ingat! Ia itu wanita yang paling terkenal berandalan di sekolah.”

Sekarang ini adalah omongan paling konyol yang kudengar hari ini.
Jun Hyung sepertinya hanya memikirkan soal campak dan dicampakkan sekarang.
Mana mungkin itu terjadi!
Sunbaenim memperalatku? Kurasa itu hanya khayalannya saja.

“Terserah kalian mau berkata apa, tetapi yang jelas aku sama sekali tidak memiliki hubungan dengannya.”
Tanpa berlama-lama aku pun mengambil tas ranselku dan segera meninggalkan kelas dengan langkah cepat. Tak peduli yang lain berkata apa, namun yang terpenting adalah yang sebenarnya.

****

19 Maret 2010

Aku hampir saja menelan permen yang kukulum di mulut saat istirahat tadi siang.
Tak sengaja aku mendapati Doo Joon dipukuli oleh Ki Kwang. Wajahnya penuh lebam, tetapi aku cukup lega saat Jun Hyung dan Dong Woon datang untuk menolong kami.

Aku rasa mungkin semuanya dikarenakan oleh diriku.
Saat Ki Kwang menantangku untuk mengakui Doo Joon sebagai namja chingu-ku. Aku malah menjawab dengan santai pertanyaan itu.
Dengan wajah setengah tak peduli, aku menjawab bahwa Doo Joon adalah namja chingu-ku dan kami baru saja memulai hubungan kami kemarin—saat aku memaksanya untuk mengantar pulang.
Mungkin ini terdengar konyol. Apalagi saat mengetahui bahwa hari ini semua orang membicarakan kami. Aku merasa risih, tetapi setidaknya hatiku bahagia.
Aku berjanji untuk tidak menutupi perasaanku lagi.

Aku masih belum bercerita soal keadaan Doo Joon setelah ditinju kalah oleh Ki Kwang.
Doo Joon tentunya baik-baik saja.
Sebelum ia dipukul kembali oleh Ki Kwang, Jun Hyung dan Dong Woon sudah datang menjemput kami dengan kedua motor gagahnya itu.
Mereka menyuruhku untuk naik.
Aku pun langsung bergegas naik ke atas motor Jun Hyung, sedangkan Doo Joon naik ke atas motor Dong Woon.

Dengan kecepatan menggebu mereka memacu laju motor dan menerobos jajaran murid yang sedang bersantai di taman sekolah.
Aku merasa teramat bahagia untuk dapat merasakan pengalaman gila ini.
Memang ini berbahaya, tetapi aku bahagia dapat melihat wajah berseri Doo Joon yang menatapku.
Aku kira ia akan membenciku saat aku menjawab pertanyaan Ki Kwang dengan kalimat itu.

****

Ya! Belikan aku payung.”
Tanpa ada kata-kata pembuka atau pun lainnya sunbaenim memintaku.

“Untuk apa?” ujarku.
Alisku bertaut saat melihat ekspresinya itu.
Ia tetap saja berpura-pura lugu seperti biasanya.

“Hanya ingin saja. Belikan, arasseo?”
“Bukannya kau memiliki satu?”
“Rusak.”
“Rusak?”
Ia mengangguk mantap.
Aku heran akan sikapnya itu.
Ia suka hujan dan aku tahu itu, tetapi mengapa aku harus membelikannya payung?
Apa karena skandal konyol yang dibuatnya itu?
Sekarang seantero sekolah tahu akan hubungan kami. Mereka berpikir bahwa ia adalah yeoja chingu-ku. Akan tetapi, sampai sekarang pun aku tak pernah menggubris omongan itu.
Mengatakan ‘saranghae’ padanya saja aku tak berani.

Ya! Sekarang ayo kita pergi.”
“Ke mana?”
“Kita ada rapat, bukan? Rapat untuk acara pentas seni minggu depan.”
“Ah, aku lup—”
Kajja!”
Ini mungkin pertama kalinya aku mengenal orang seperti dirinya. Tak ada basa-basi, selalu saja bersikap apa adanya, dan kadang membuatku jengkel.

****

22 Maret 2010

Aku merasakan lelah hari ini dan kurasa aku harus berterima kasih pada Tuhan.
Doo Joon begitu bersemangat tadi siang. Ia membantuku dalam persiapan acara pentas seni itu.
Kami bersama-sama mengecat dekorasi dan mengepel lantai.
Keringat yang bercucuran tak sia-sia rasanya.
Aku begitu menikmati saat-saat bersamanya.

Ia mengajakku untuk pulang bersama hari ini. Akhirnya. Aku dapat merasakan ketulusan hatinya itu.
Aku berharap ia tidak merasa risih jika berada di dekatku.
Sekalipun jika aku memaksanya.

Aku mencoba untuk mengintip kembali catatanku di tanggal delapan belas. Membaca tiap katanya dan itu membuatku ingin terkikik sendiri.
Hari itu aku berani mengajaknya pulang.  Benar-benar lucu.
Akan tetapi, sekarang yang terpenting adalah ia yang mengajakku pulang dengan ketulusan hati.
Aku kegirangan bukan kepalang.

****

“Ijeo.”
Ia menyunggingkan senyum manisnya saat aku memberikan benda itu. Hanya payung, tak lebih dan tak kurang.
Aku tidak tahu ia akan berbuat apa dengan payung itu, tetapi setidaknya aku sudah membelikannya, bukan? Kurasa hutangku sudah lunas.

“Kau membelinya? Untukku? Jinja?
Tatapan mendelik itu. Aku tidak suka. Untuk apa ia bertanya-tanya soal itu?
Aku sudah membelinya dan itulah yang terpenting.
Ya! Jawab! Atau aku kembalikan saja payung ini?”
Dasar jahil! Ia mencoba untuk mengetesku rupanya?

Ye. Aku membelinya untukmu,” jawabku dengan nada sedikit ketus.
Gomapta.” Ia langsung melonjak dan memelukku dengan seketika.
Aku benar-benar merasa canggung sekarang. Terlebih lagi semua orang di kelasku menatap bingung ke arah kami.
Aku mencoba untuk menyilangkan senyum simpul dan menarik paksa tangannya untuk segera melepaskan dekapan itu.

“Lepaskan.” Aku menggeliat sambil berusaha melepas setiap tautan jarinya itu.
Andwe! Kecuali satu hal.” Ia menatapku penuh arti.
“Apa it—” Lagi-lagi pertanyaanku tidak dihiraukan.
Ia langsung menarik tanganku menuju lapangan parkir sekolah. Memasang tampang jahil, menaiki motorku tanpa perintah, lalu menepuk jok di depannya dengan bersemangat.
Aku tahu, pasti ia ingin pergi ke pantai itu.
Letaknya memang tak jauh dari sini, tetapi aku merasa malas untuk memacu motorku ke sana. Lagi pula, jalanan pastinya basah karena sisa-sisa air hujan yang baru saja reda.

“Aku malas, jadi turunlah sekarang.” Aku menatap sinis dirinya.
Akan tetapi, ia malah balas menatapku dengan harapan.
“Ayolah, jangan begitu. Aku hanya meminta itu padamu. Pantai itu ‘kan tak jauh dari sini.”

Aish, entah sejak kapan aku mulai merasakan perasaan bersalah ini.
Saat ia memohon kepadaku—untuk membelikannya payung, mengantarnya pulang, sampai hal tersulit sekalipun—aku selalu saja ingin mengabulkannya.
Memang terasa bodoh, tetapi apakah perasaan itu?
Kini tatapan matanya pun membuatku merasa canggung untuk menolak.

Arasseo, kajja.” Dengan lesu aku memberikan sebuah helm kepadanya.
“Ah! Gamsahae,” pekiknya bahagia.

Kurasakan kedua lengannya memeluk erat pinggangku. Aku merasa nyaman. Perasaan itu benar-benar tak dapat kupungkiri lagi.
Kadang aku sering bertanya pada diriku, apakah aku benar-benar menyukai dirinya? Mungkin saja. Kesempatan itu mungkin saja telah menghampiri diriku. Tetapi, terkadang juga aku sering bertanya, apakah ia menyukai diriku dengan sungguh-sungguh? Atau jangan-jangan selama ini ia hanya menggunakan topeng saja? Aku tak ingin itu terjadi. Aku menyukai dirinya yang seperti ini. Selalu bersikap lugu dan pura-pura tak peduli terhadap perasaanku.

****

25 Maret 2010

Apa yang kulakukan bersamanya hari ini memang sangat berarti.
Setiap derungan mesin yang dipamerkannya itu pun malah membuatku tertawa terpingkal-pingkal saat mengingatnya.
Ia tidak seperti yang kukenal sebelumnya. Ternyata ia adalah seorang yang tak tahu malu. Bisa-bisanya ia memamerkan kemampuan bermotornya yang dangkal itu.

Awalnya aku merasa lucu.
Namun, saat tiba-tiba ia terjerembap di hadapanku, aku pun sangat khawatir akan keadaannya itu. Ia mencoba untuk tetap tersenyum kepadaku.
Aku tahu ia menyembunyikan rasa sakit itu dariku. Babo!

Aku menyukai matanya yang menyipit itu. Ia meringis akibat menahan rasa perih dari obat yang kuusapkan di lukanya.
Ia menyuruhku untuk pelan-pelan melakukannya, tapi aku benar-benar menyukai ekspresinya itu.
Kuusapkan kapas dengan kasar ke arah lukanya.
Ia berteriak marah kepadaku. Aku tergelak. Wajahnya sangat lucu.
Ingin sekali mencubit pipinya itu, tetapi ia sudah hendak menerkamku.
Aku berlari, menghindar dari serangannya itu. Aku takut ia akan membalas perbuatan jahilku.

Aku terus belari sampai-sampai aku pun tidak menyadari bahawa sebuah batu sudah menghadang langkahku. Aku tersandung, kemudian terkapar tak berdaya di atas pasir.
Sialnya ia terkikik saat melihat kejadian itu. Menyebalkan. Bukannya membantu, tapi malah menertawakanku.

Sempat kuarahkan sorot mata kesalku kepadanya.
Ia terbahak semakin keras, lalu berjalan menghampiriku.
Terduduk di sampingku dan kemudian melihat keadaan lututku.
Oh tidak! Senyuman tulus itu lagi. Entah sampai kapan aku dapat bertahan, kurasa senyuman itu membuatku hampir pingsan di dekatnya.

Setelah memastikan bahwa lututku baik-baik saja, Doo Joon mengeluarkan secarik kertas kusam dari saku seragamnya. Ia memberikan benda itu kepadaku.
Dahiku sempat mengernyit heran.
Aku hendak membuka lipatan kertas itu, tetapi ia sudah terlebih dahulu menahan tanganku. Aku semakin bingung. Namun, tiba-tiba ia membuka suara dan bercerita tentang isi dari kertas yang diberikannya itu. Cerita tentang sepasang kekasih yang saling mencintai sampai akhir hayat mereka. Aku begitu menikmatinya sampai-sampai tak dapat mengedip. Cerita itu begitu sedih, tetapi sangat bermakna bagiku.
Aku akan selalu mengingatnya. Berharap aku dapat mencintai Doo Joon sampai akhir hayatku.
Tak peduli ia menerima perasaanku atau pun tidak, tetapi begitulah yang kurasakan dan aku ingin menunjukkan perasaan ini kepadanya.

****

“Sst..bagaimana kelanjutan kisah pemuda itu? Jika kupikir sekali lagi, pemuda itu sangat jahat. Ia menikahi isterinya yang sekarang, bukan? Tapi ia masih mencintai gadis cinta pertamanya itu—kalau begitu ia menikahi isterinya tanpa rasa cinta sedikit pun. Dasar penipu.” Bisikan Sang Hee begitu mengganggu acara praktikum biologiku.
Bisakah ia tidak membahasnya sekarang?
Aku takut guru akan mengetahui perbincangan ini, lalu menendang kami keluar kelas.

Ya! Nanti saja membahasnya, sekarang aku sedang mencoba berkonsentrasi,” balasku dengan suara pelan.
Ye? Andwe. Kau harus menjawabnya sekarang. Aku ingin mengetahui jawabanmu.”
“Sst..nanti saja.”
“Sekarang.”
Aish, ara. Jika aku menjadi pemuda itu, aku akan selalu mencintai cinta pertamaku.”
Matanya berbinar. Aku yakin, ia pasti kaget dengan jawabanku. Biarlah, aku sungguh berharap ia mengetahuinya. Walaupun itu tidak sengaja.

“YA! KALIAN BERDUA!”
Benar, kan tebakanku. Kami tertangkap basah sekarang. Lee sonsaengnim pastinya tidak akan melepaskan kami begitu saja. Ini kedua kalinya Sang Hee membuatku malu di hadapan teman-teman sekelas.

“Berdiri di belakang! Sekarang!” ucap Lee sonsaengim dengan tegas.
Ya! Puas dirimu sekarang? Kini kita harus berdiri di belakang.”
Aku menatap Sang Hee dengan tatapan penuh kebencian. Tetapi, yang menyebalkan, ia malah membalasnya dengan sebuah juluran lidah. Dasar nakal! Ia sengaja membuat diriku terjebak dalam keadaan memalukan seperti ini.

****

26 Maret 2010

Aku benar-benar tidak bermaksud untuk membuatnya malu.
Perbuatanku tadi siang memang benar-benar bodoh. Seharian ia marah kepadaku. Tetapi, untungnya saja karena acara pentas seni itu, maka aku dapat kembali berbaikan dengannya.

Sama seperti beberapa hari yang lalu, kami harus menyiapkan kostum-kostum yang akan digunakan dalam drama panggung kali ini. Begitu banyak peran sampai aku pun sedikit pusing dalam mengatur kostum-kostum mereka.

Aku dan Doo Joon tidak mendapat peran. Kami hanya berdiri di belakang panggung. Namun, jika ada seorang teman yang memiliki peran ganda, kami harus membantunya mengganti kostum dan riasan.
Cukup menyenangkan memang, tetapi aku sedikit iri kepada Ki Kwang dan Yeon Ri yang mendapatkan peran utama sebagai Romeo dan Juliet.
Kapan aku dapat merasakan peran itu? Terelebih lagi dengan Doo Joon sebagai Romeo-ku?

Semua orang—termasuk diriku—ikut tertegun saat adegan menghebohkan itu berlangsung. Ki Kwang mencium Yeon Ri dengan mesranya.
Mereka memang pasangan yang serasi dan aku pun merasa iri akan hal itu.

Sekilas kualihkan padangan kepada Doo Joon yang berdiri tepat di sampingku.
Ia sedang menyeruput minuman dari gelas ia beli itu. Matanya tetap terpaku ke arah panggung dan aku yakin, pasti ia iri dengan kedua orang yang sedang berperan di sana.

Kapan aku bisa merasakan adegan itu bersama Doo Joon?
Angan itu memang terlalu gila untuk dipikirkan.

****

“Doo Joon~a, bagaimana jika akhir minggu ini kita pergi ke Seoul? Kudengar di sana mereka membuka tempat wisata baru, bagaimana?”
Ye?
“Ajaklah Sang Hee sunbaenim, aku yakin pasti dia mau ikut.”

Sang Hee? Apakah benar ia akan menerima ajakanku ini?
Aku merasa ragu akan hal itu. Setahuku, Sang Hee tidak suka pergi ke tempat ramai.

“Ya! Kau terlalu lama berpikir! Itu dia datang.”
Seperti hari-hari sebelumnya, Sang Hee pasti akan pergi mencariku. Hanya sekedar mengobrol ataupun terkadang ia menjahiliku.
Tetapi, kali ini—apakah aku harus mengajaknya?
Aku takut ia akan marah kepadaku hanya karena alasan aku tidak mengerti kesukannya itu.

Hwaiting!” Jun Hyung berbisik semangat di belakangku.
Ia mendorongku agar cepat mendekati Sang Hee.

“Ada apa denganmu?”
Sang Hee pastinya bingung dengan ekspresi wajahku. Sulit untuk dikatakan, tetapi aku ingin berkata yang sebenarnya.

“Ah—jogiyo, aku ingin…”
“Kau ingin mengajakku ke pantai, bukan?!”
Kukira ia dapat menebak ajakanku, tetapi lagi-lagi di otaknya yang ada hanyalah pantai. Aku heran akan pantai itu, memang apa bagusnya?

Anio,” jawabku dengan sedikit terbata-bata.
“Lalu, kau ingin mengajakku ke mana?”
Wajah polosnya yang bertanya-tanya itu seolah mengusik diriku.

“Ke Seoul.”
“Seoul? Memang ada apa di sana?”
“Jun Hyung bilang di sana ada tempat wisata baru, dia mengajakku untuk berlibur ke sana. Sekarang aku juga ingin mengajakmu, kau mau ikut?”
Aku langsung mengalihkan pandangan setelah menanyakan pertanyaan itu kepadanya.
Terserah ia hendak menjawab iya atau pun tidak, yang terpenting aku sudah mengajak.

Beberapa detik rasanya sudah berlalu tanpa jawaban.
Kini jantungku semakin berdegup kencang. Aku merasa seperti pengecut. Hanya menanyakan pertanyaan itu saja aku merasa tegang.

“Um, boleh juga.”
Mataku tak percaya saat ia melontarkan jawaban santai itu dari mulutnya.
“Mwo? Jinja?”
Aku berteriak kegirangan dan refleks mendekap dirinya. Entah mengapa aku merasa bahagia akan jawabannya itu. Aku merasa sudah melaksanakan satu misi yang teramat sulit bagiku.

****

27 Maret 2010

KYA! Doo Joon memelukku hari ini!
Aku seakan terbang ke angkasa lepas.
Walaupun itu hanya terjadi sebentar saja, tetapi aku masih ingat akan wangi yang melekat di tubuhnya itu.

Sebenarnya aku tidak terlalu suka dengan Seoul.
Namun, jika Doo Joon yang mengajaknya. Aku pasti akan ikut. Kesempatan itu begitu langka. Betapa bodohnya diriku jika akan melewatkan itu.

Akan tetapi, masalahnya aku tidak yakin appa dan omma akan mengizinkanku.
Saat aku mengatakan semuanya akan baik-baik saja, omma tetap saja melarangku. Tetapi, sekarang aku sadar. Aku tidak dapat selamanya menuruti kehendaknya itu. Aku tak mau terbelenggu di dalam daerah ini sampai akhir hayatku.
Aku harus mempersiapkan segalanya untuk minggu ini.
Doo Joon tak boleh kecewa hanya karena masalah itu.

**TO BE CONTINUED**
Advertisements

6 responses to “[2SHOT / PG+13] Just Before the Rain Part 1

  1. wah, jarang2 castnya B2ST 😀
    aku suka karakternya doo joon disini, charming bangeeet >.<
    sanghee tuh lebih tua dari doo joon yaa??

    ayo ayo dipost part 2 nya 🙂
    btw, yg distance between us chapt 3 kapan dipost?? *ditabok gara2 ga sabaran* XD

    • jarang-jarang yeh.
      makanya saia buat inovasi terbaru.
      sebenernya sebelum ene juga saia pernah buat yang B2ST lagi, tapi castnya Ki Kwang sih hehe…
      dipost di mari juga kok, tapi emang ga pernah dijamah orang *halah*

      Oke, saia usahain hari ene part 2nya..
      sabar yeh, ceu.

      Buat yang Distance Between Us?
      Um, ternyata ada yang nungguin toh..kirain saia tenang” aja *disepak*
      Ntar chapter 3nya hari ene juga dah.

      Gomawo for your komen hehe

  2. Pingback: [2SHOT / PG+13] Just Before the Rain Part 2 « FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s