love agreement

Author : Keychand

Cast : Key SHINee,  Lee Hyu Rin

other cast : onew SHINee, minho SHINee

Genre : romance

Length : oneshot

———————————————————————————–

“oppa, apa aku terlihat cantik?” tanyaku sambil terus bercermin pada sebuah cermin besar yang ada dikamarku. Gaun putih yang membalut tubuhku memang sangat cantik,, sederhana tapi tetap manis, aku suka.

“sudah kukatakan berkali-kali, kau terlihat amat cantik, sangat..” jawab jinki oppa tersenyum, aku membalas senyumnya dan berjalan menghampirinya.

“gomawo oppa..” ucapku memeluknya, bisa kulihat semburat bahagia dari wajahnya, ia benar-benar terlihat tampan dengan jas hitam dan kemeja putih yang membalut tubuhnya, benar-benar gagah.

“sudah, nanti riasanmu rusak..” ia melepaskan pelukanku dan tersenyum manis padaku.

“oppa, apa-”

“gwenchanayeo, oppa senang kau akhirnya bisa menikah..” belum sempat aku meneruskan ucapanku, oppa sudah menyelanya terlebih dulu. Dan itu membuatku kembali tersenyum miris dihadapannya.

“jangan tersenyum dan melihatku seperti itu, aku tidak suka. Sudah, kau bersiap saja, sebentar lagi acara akan dimulai..” ucapnya memegang pipiku lembut, aku mengangguk sembari tersenyum. Ia beranjak hendak pergi, tapi aku menahan tangannya dan membuatnya berbalik menghadapku.

“saranghaeyo oppa..” ucapku lembut padanya, ia terkekeh melihat tingkahku, ditutupnya mulutnya dengan punggung tangannya yang lain.

“dasar dongsaeng genit!” pekiknya masih terkekeh. Aku memajukan bibirku dan menatap punggung oppa yang semakin hilang meninggalkan kamarku.

Hari ini aku akan menikah,dengan seseorang yang sudah menolongku keluar dari masa sulitku. seseorang yang membuatku sadar bahwa aku amat menyukainya, walau sifatnya selalu dingin padaku.

-flashback-

Hari ini aku akan check up kesehatan. Sejak umur 9 tahun aku mengidap kanker tulang, dan karna ‘dia’ aku harus rutin check up kerumah sakit. Kulangkahkan kakiku menuju ruangan dokter choi yang ada dilantai 2, tapi saat aku hendak menaiki anak tangga ‘dia’ kembali datang tanpa diundang. Tiba-tiba saja aku terjatuh dan kakiku terasa lemah sekali, jangankan untuk berjalan, berdiri saja aku tak bisa. Seiring dengan berjalannya waktu ‘dia’ semakin jelas menampakkan dirinya, badanku mulai melemah dan aku berharap jinki oppa segera datang.

“ya! kau sedang apa duduk disana?! Mengahalangi jalan saja, cepat minggir!” ternyata suara itu bukan suara jinki oppa, tapi suara seorang namja yang berperawakan jangkung dengan mata tajam dan potongan rambut yang aneh.

“ya! cepat kepinggir, aku mau lewat!” bentaknya lagi saat aku tak menggubris ucapannya, aku hanya menatapnya lemah, dan bisa kulihat raut wajahnya yang berubah jadi sedikit ketakutan. Ia berjongkok disampingku, ditempelkannya punggung tangannya kekeningku,

“ya! lepas!” aku mengilah tangannya dengan lemah. Tapi ia malah memegang betisku yang telanjang karna hari ini aku memakai dress terusan selutut.

“ya! lepas!kau mau apa?!” ucapku lagi, tapi kali ini aku tidak mengilah tangannya karna aku semakin lemas. Tiba-tiba saja ia sedikit menekan betisku dengan jarinya, tapi rasanya benar-benar sakit dan ngilu, aku menjerit lemah.

“aaaaaw!” jeritku lemah, ia segera melepas pegangannya dan beranjak membopongku. Aku yang semakin lemah tidak bisa melakukan apa-apa dan hanya pasrah ia akan membawaku kemana.

Dan saat aku terbangun, aku sudah ada diruang rawat rumah sakit dengan namja yang menggendongku kemarin terduduk dikursi yang ada disamping ranjangku.

“kau sudah bangun, bagaimana keadaanmu? Sudah baikan.?.” tanyanya dingin tanpa berekspresi, wajahnya benar-benar dingin dan tatapan matanya tajam.

“ne.. lumayan..” jawabku terbata, aku memperhatikannya dari atas sampai bawah dan sebaliknya. Namja ini lumayan juga, style-nya aku suka, celana jeans, kaos coklat yang didouble dengan jaket gaya barat berwarna kuning, rambut coklatnya ia potong asimetris dengan tambahan beberapa warna berbeda disebagian helaian rambutnya. Street style!

“ya! kau tidak terkena penyakit melamun juga kan?” tanyanya memecah lamunanku,

“ne?” tanyaku terperangah.

“apa penyakit kanker tulang menyebabkan penderitanya sering melamun juga?” tanyanya dingin.

“eh?da-dari mana kau tau a-aku sakit kanker?” tanyaku terkaget, ia menaikkan sebelah alisnya.

“dasar pabbo yeoja! Sudah tau tak boleh telat check up, kau malah melakukannya..!” bukannya menjawab pertanyaanku dia malah memarahiku, tapi kenapa dia juga tau kalau aku tak boleh telat check up?sebenarnya siapa namja yang ada didepanku ini.

“ya! enak saja kau bilang aku bodoh! Kau sendiri tidak sopan memarahiku seenaknya! Kita kan belum saling kenal!” timpalku emosi, tapi ia malah terkekeh pelan menanggapinya.

“aiiish! Dasar orang aneh!” gerutuku padanya.

“ternyata ada disini! Selalu saja begitu..” tiba-tiba sebuah suara masuk dalam ruangan, aku menoleh pada sumber suara, ternyata dokter choi dan jinki oppa.

“ja-jadi dia orangnya?” Tanya jinki oppa dengan mata terbelalak,

“ne,” jawab dokter choi santai dan tersenyum.

“wae geuraeyo oppa?” tanyaku yang bingung dengan percakapan mereka.

“di-dia..”

“minho-ah, jadi dia orangnya?” namja aneh itu memotong ucapan jinki oppa.

‘Apa tadi dia bilang?minho? itu kan nama lengkap dokter choi, choi minho. Kenapa namja itu bisa tau dokter choi? siapa sih dia?’ tanyaku dalam hati.

“hyurin-ah, kenalkan dia kim kibum, dia yang akan menggantikan tugasku menjagamu dan merawatmu..” ucap dokter choi seolah menjawab sekaligus menimbulkan pertanyaan baru dalam benakku.

“pengganti?masuk dokter?” tanyaku bingung.

“mulai besok, aku akan dipindah tugaskan ke jepang. Dan sebagai penggantinya, kibum yang akan mengganti posisiku..” jelas dokter choi dengan santainya, aku terperangah tak percaya pada ucapannya.

“maksud dokter dia?” tanyaku dengan menunjuk namja yang ada disampingku, dokter choi mengangguk pasti yang berhasil membuatku semakin tidak percaya.

“wae?kau tidak suka aku menggantikan minho?” Tanya kibum angkat bicara.

“anniyo, tapi, tampangmu tidak meyakinkan sebagai seorang dokter..” jawabku datar.

“mwo?! Aiiish! Dasar yeoja tengil! Enak saja kau bilang seperti itu tentangku! Awas saja kau!” gerutu kibum penuh emosi.

-end flashback-

Begitulah awal pertemuanku dengannya, saat itu aku benar-benar tak percaya ia menjadi dokter yang menangani penyakitku. Kalau dilihat dari cara berpakaiannya saja jauh sekali dari bayangan seorang dokter. Setiap kutanya kenapa ia tak pernah memakai pakaian selayaknya seorang dokter, ia malah mengalihkan pembicaraan dengan mengajakku membeli es krim atau gulali yang notabene dilarang oleh jinki oppa untuk kumakan. Makanya aku memanggilnya dengan sebutan dokter gadungan.

Hingga akhirnya sampailah pada saat terakhir aku menikmati es krim kesukaanku dengannya, karna penyakitku yang sudah menyebar dan membuat tubuhku lemah terutama kakiku yang sudah lumpuh.

Dan karena keadaanku itulah, jinki oppa sempat murka pada kibum. Dia berfikir karna kibum lah aku jadi pingsan dan keadaanku semakin parah. Aku masih ingat bagaimana jinki oppa begitu murka pada kibum, walaupun aku tak tau bagaimana kejadiannya tapi aku bisa tau dari raut muka jinki oppa yang kusut dan matanya yang merah karna saking marahnya.

-flashback-

Jinki terus berjalan menghampiri kibum yang menunggu diujung lorong, ia sangat resah dengan apa yang akan dikatakan kibum.

“waeyo kibum-ah?” Tanya jinki hyung memecah lamunan kibum, ia berbalik hingga menghadap jinki.

“ada kabar buruk untukmu..” ucap kibum datar,

“wae?”

“hyurin.. kankernya sudah menyebar keseluruh tubuh dan sudah menggerogoti tulang kaki hyurin, hingga mungkin hyurin tidak bisa berjalan lagi..” jelas kibum berat, terlihat perubahan dari wajah jinki. Ia terlihat sangat terpukul dan tak percaya dengan yang kibum katakan barusan.

“andwae.. kau sendiri yang bilang hyejin akan sembuh, bahkan kau yang memintaku untuk tetap tenang karna kau yakin hyurin akan sembuh. Tapi kenapa sekarang kau bilang hyurin semakin parah?!..” suara jinki membahana ditelinga kibum dan lorong gelap itu, matanya memerah dan berkaca-kaca.

“mianhae hyung, aku juga benar-benar menyesal. Aku tak tau ternyata akan seperti ini jadinya..” ucap kibum parau.

“dasar gadungan!” teriak jinki diiringi sebuah pukulan keras yang menghujam pipi kanan kibum hingga ia tersungkur kelantai dan darah segar mengalir dibibirnya.

“mulai sekarang kau tak perlu merawat dan menjaga hyurin lagi!” bentaknya kemudian. Dengan cepat kibum beranjak bangun dan menahan langkah jinki.

“hyung, ijinkan aku membayar semua kesalahanku. Aku akan menyembuhkan hyurin secepatnya. Aku sedang berusaha mencari obat yang cocok untuknya, aku mohon hyung, percayalah padaku. Ijinkan aku menjaga dan merawatnya..” ucap kibum menjelaskan.

“lepas!” perintahnya menarik genggaman kibum,

“kau hampir membuat mati adikku! Dan aku takkan percaya padamu lagi!” ucapnya tajam, ia berbalik dan kembali melangkah.

“aku mencintainya hyung!” teriak kibum lantang, jinki menghentikan langkahnya

“aku mencintai adikmu, aku mencintai lee hyurin, aku menyayanginya..” sambung kibum tetap berteriak, jinki membalikan badannya menghadap kearah kibum.

“cinta kau bilang?cinta yang hampir membuat adikku meninggal hah?!” bentaknya lagi, kibum kembali berjalan mendekatinya.

“karna itu, ijinkan aku merawat dan menjaganya hyung.. aku janji akan membuatnya sembuh dan kembali seperti sedia kala. Aku janji hyung, jebal..” ucap kibum penuh dengan nada serius, ditatapnya mata jinki yang menyiratkan keraguan. Tapi tiba-tiba saja jinki menarik kasar kerah baju kibum.

“kalau sampai kau hampir membuatnya mati lagi, aku takkan membiarkanmu hidup dengan tenang dan selamanya aku takkan memaafkanmu!” gertaknya penuh penekanan, kibum sedikit terkejut dengan perlakuan mendadak jinki, namun sedetik kemudian kibum mengembangkan sebuah senyuman dan beralih memeluk jinki erat.

“gomawo hyung, jeongmal gomawo.. aku janji aku akan merawat dan menjaganya..” ujar kibum sambil memeluk jinki erat.

“sudah lepas, aku harus kembali…” ucap jinki datar melepas pelukan kibum, dan berjalan meninggalkan kibum sendirian dilorong.

-end flashback-

Tapi karna kejadian saat itu, aku merasa semakin nyaman didekat kibum. Karena ia selalu ada saat aku membuka mataku dipagi hari, dan saat aku bersiap untuk tertidur, dia selalu ada disampingku.

Bahkan ia pernah mengatakan sesuatu yang benar-benar membuatku merasa semakin menyayanginya dan mulai mengakui bahwa aku memang mencintainya.

-flashback-

Pagi ini aku kembali terbangun diruang rawatku yang sudah kutinggali selama sebulan lebih, aku menatap langit pagi yang cerah dari kamarku. Tapi tiba-tiba saja dokter gadungan itu masuk dan berjalan mendekat keranjang ku sambil membawa stetoskop.

Ia berjalan kearahku dan tangannya bergerak untuk membuka kancing bagian atas bajuku.

“ya! mau apa kau!” bentakku ketakutan, tapi ia malah memukulku dengan stetoskopnya.

“berisik bodoh! Aku mau memeriksamu!” ucapnya dengan dingin, aku memajukan bibirku dan kurasakan mukaku memerah karna malu. Ia melanjutkan tugasnya, dipasangkannya stetoskopnya, ia memeriksa detak jantungku, ‘ya tuhan.. semoga ia tak mendengar detakkan jantungku yang cepat ini’ pekikku dalam hati.

“ya! kau tidak apa-apakan?” tanyanya tetap serius memeriksaku.

“ne?”

“jantungmu berdetak cepat, tidak seperti biasanya, apa kau merasa sakit atau linu dibadanmu..?” tanyanya persis seperti dokter yang ahli.

“a-anniyo, gwenchana..” jawabku terbata, ‘aku hanya deg-degan melihat wajah seriusmu dari dekat dokter gadungan!’ tambahku dalam hati.

“keadaanmu sudah mulai membaik..” ucapnya kemudian melepas stetoskopnya dan kembali mengancingkan baju bagian atasku *Cuma satu kancing yang dbuka reader! Jangan ngeres!*

Tapi tiba-tiba saja kibum menyibakkan selimut yang membalut tubuhku dan menggendongku,

“eh,yayaya! Kau mau membawaku kemana dokter gadungan!” teriakku padanya, tapi ia hanya diam dan mendudukanku dikursi roda. Ia mengambil kantung infusku dan mulai mendorong kursi rodaku keluar kamar.

“pagi dokter..” setiap ada suster yang melewat mereka pasti menyapa kibum, tapi ia sama sekali tidak menjawab atau menanggapinya, ia terus melangkah sambil mendorong kursi rodaku hingga akhirnya kami sampai ditaman rumah sakit yang cukup besar.

“hei kau dokter gadungan! Kau tidak bisa tersenyum sedikit saja hah?!” bentakku padanya saat ia menghentikan langkahnya, ia tak menjawab ucapanku dan malah terduduk disalah satu kursi taman.

“senyumku terbatas..” jawabnya singkat, ia memejamkan matanya dan menengadahkan kepalanya menghadap langit.

“mwo?terbatas?dasar pelit! Pantas saja tak ada yang mau menjadi yeojachingumu..” ejekku sinis.

“benarkah?ok kalau begitu..” jawabnya santai. Dan suasanapun menjadi sepi, tak ada yang kembali berbicara, aku hanya menikmati semilir angin yang menerpa wajahku dan menatap langit pagi yang indah.

“hyurin-ah..” panggil kibum lembut, tumben sekali,

“hm?”

“ada yang ingin kukatakan padamu..” ucapnya pelan

“katakan saja..” jawabku santai, ia merubah posisinya dan menggerakan kursi rodaku hingga aku berhadapan dengannya. Kulihat matanya yang menampakkan keseriusan, begitu juga dengan wajahnya yang amat dingin.

“aku janji, aku akan berusaha sekuat tenaga untuk menyembuhkanmu, aku janji..” ucapnya mendongakkan kepala dan kini memegang kedua pundakku, aku tersenyum pahit.

“kau fikir bisa semudah itu menyembuhkan penyakitku ini dokter gadungan?!” ucapku pahit, mataku mulai memanas dan kurasakan air mata menggenang dipelupuk mataku..

“aku tak peduli kau menyebutku apa, tapi aku sudah berjanji pada oppa-mu dan diriku sendiri, aku akan berusaha semaksimal mungkin agar bisa menyembuhkanmu, kau tenang saja..” ucapnya meyakinkanku, diusapnya air mata yang membasahi pipiku dengan jemarinya.

“begini saja, karna tadi kau bilang kalau aku ini tidak laku karna aku pelit. Bagaimana kalau kita buat kesepakatan? Kalau aku berhasil mengoperasimu dan kau bisa sehat kembali kau harus mau jadi yeojachinguku..” tawarnya penuh percaya diri. Aku terhenyak mendengar tawarannya, apa dia sudah gila mengatakan hal tadi?!

“kalau tidak berhasil?” tanyaku parau, ia terlihat terkejut dengan pertanyaanku. Ia terdiam sesaat dan kudengar ia tertawa kecil dibalik wajahnya.

“aku akan menyusulmu kesana..” jawabnya lembut, sekarang giliranku yang tersentak dengan jawabannya.

“jangan khawatir, sudah kubilang aku akan berusaha sampai kau bisa sembuh. Jadi kau akan tetap hidup dan akan menjadi yeojachingu-ku, ara..” ucapnya lembut tepat didepan wajahku, dan ia beranjak mencium keningku lembut.

Air mata kembali menetes membasahi pipiku saat kupejamkan mataku merasakan ciuman lembut kibum, dan kini ia memelukku erat.

-end flashback-

Itulah kata-kata yang paling kuingat sampai saat ini, kata-kata yang membuatku merasa senang, sedih, dan galau dalam satu hatiku. Saat itu aku merasakan bahwa kibum juga menyayangiku, perasaanku padanya terbalas. Tapi disatu sisi aku juga merasa sedih, karna aku tak mau mati dan meninggalkan kibum, atau aku harus membuat kibum mengakhiri hidupnya hanya karna aku.

Tapi ia benar-benar serius dengan ucapannya, sejak ia mengatakan hal itu, ia terus bergelut dengan buku-buku kedokteran yang membahas mengenai penyakitku, ia terus menghubungi laboratorium luar negeri untuk mengkonfirmasi obat yang cocok untuk penyakitku. Ia juga terus mencari informasi lewat internet tentang penyakitku, hingga suatu saat aku benar-benar jatuh cinta dibuatnya.

-flashback-

“hei dokter gadungan, kau tidak lelah terus-terusan membaca buku?” tanyaku padanya yang tengah menekuni buku yang dibacanya. Ia tak menggubris ucapanku hingga akhirnya aku melempar botol kosong padanya.

“aiish! Kau ini tidak lihat aku sedang apa?!” marahnya dengan wajah dingin, aku menjulurkan lidahku berniat mengejeknya.

“tidak perlu seperti itupun kau sudah jelek bodoh! Sudah cepat tidur, ini sudah malam!” balasnya mengejekku, aku mengerutkan bibirku kesal. Ia menutup buku tebalnya dan berjalan kearahku.

“sudah malam, kau harus istirahat cukup supaya keadaanmu tidak drop..” ucapnya lembut, ia membenarkan posisi tidurku sampai aku merasa nyaman dengan posisi bantalnya dan ia merapatkan selimut ketubuhku.

“kenapa kau begitu ingin aku sembuh?” tanyaku menatap matanya lembut.

“aku kan sudah bilang, kalau kau sembuh kau harus menjadi yeojachingu-ku..” jawabnya dingin dan duduk dikursi yang ada disampingmu.

“lalu?memangnya kau ingin aku menjadi yeojachingu-mu?” tanyaku masih melihatnya.

“aku sudah bilang, aku akan menjadikanmu yeojachingu-mu,kau ini sedang sakit masih bisa cerewet ya..”protesnya masih dingin.

“ya! kau jujur saja! Kau menyukaiku kan?” godaku padanya,

“aku ingin kau sembuh dan jadi yeojachingu-ku! Sekarang tidurlah, secepatnya aku akan melaksanakan operasi untukmu..” ucapnya tetap dingin, tapi tiba-tiba saja ia mencium keningku lembut dan mengusap keningku lembut. Dan setelah itu ia mematikan lampu ruang inapku dan pergi meninggalkanku sendirian.

Dan akhirnya setelah 2 bulan menunggu hingga aku hampir benar-benar lumpuh, obat yang dicari ternyata ada, dan operasi untukku dilaksanakan juga. Saat itu aku benar-benar takut kalau-kalau operasiku gagal, tapi ternyata Tuhan masih menyayangiku, operasiku berjalan lancar.

Selang beberapa minggu setelah operasiku lancar dan aku melakukan terapi, akhirnya aku diijinkan pulang oleh dokter gadungan itu. Dan hari ini ia mengajakku untuk pergi kekedai es krim yang sering kami datangi waktu dulu.

Tepat jam 7 lewat 15 menit aku sudah tiba dikedai itu, dan kulihat kibum sudah menungguku dimeja yang biasa kita tempati.

“lama sekali!” protesnya seperti anak kecil, ia kembali berdandan saat aku pertama kali melihatnya, street style.

“mianhaeyo, tapi aku kan tidak terlalu telat..” belaku duduk dihadapannya.

“yasudah, es krimnya sudah kupesankan, sebentar lagi datang..” jawabnya tetap dingin, dari dulu ia tak pernah berubah, sampai-sampai aku merasa terbiasa dengan tatapan tajamnya.

“permisi, ini pesanannya..” seorang pelayan menghampiri kami dengan membawa nampan berisi 2 gelas besar strawberry ice cream dan chocochip ice cream.

“whaa,, rasanya sudah lama sekali tidak makan es krim..” gumamku berbinar melihat segelas besar es krim yang ada dihadapanku.

“cepat makan, nanti es krimnya meleleh..” ucap kibum dingin yang sudah terlebih dulu memakan es krimnya. Aku mengangguk semangat dan segera melahap es krim kesukaanku itu. Tapi saat kami tengah asik menyantap es krim, aku kembali teringat dengan perjanjian yang kami –tepatnya ia- buat saat aku masih sakit.

“emm,, kibum-ah..” panggilku ragu, ia menoleh menatapku dengan tatapan yang belum pernah kulihat sebelumnya, tatapannya amat lembut.

“emm.. soal itu..” aku menggantungkan ucapanku, tak tau harus bagaimana memulainya.

“soal apa?” tanyanya dengan wajah polos, rasanya semua sifat dinginnya luntur setelah ia memakan es krim.

“soal perjanjian waktu itu..” jawabku malu-malu, ia mengangguk tanda mengerti.

“soal kau menjadi yeojachingu-ku kan? Wae?” tanyanya datar,

“anuu.. itu… aku.. ” aku benar-benar tak tau harus berkata apa, benar-benar bingung.

“sejak kapan kau terserang penyakit linglung seperti itu?kau mau membuatku hampir putus asa lagi setelah penyakitmu sebelumnya?” tanyanya sedikit menaikkan nada bicaranya, aku melongo saat mendengar kata-kata ‘putus asa’ dikalimatnya.

“wae? kau tak percaya?” tanyanya membulatkan matanya yang tajam.

“a-anniyo, kau jangan menatapku seperti itu, membuatku takut saja!” jawabku tergugup, nyaliku menciut dan akhirnya aku hanya bisa menggigit sendok es krim itu.

“dengar ya! kau itu sudah jadi yeojachingu-ku! Dan aku melarangmu untuk sakit lagi! Kalau sampai kau sakit lagi, aku akan memaksamu untuk menjadi istriku sebelum menyembuhkanmu! Ara?!” tegasnya menunjuk-nunjuk wajahku dengan sendoknya, aku berkali-kali menelan ludah dan merasa ketakutan sampai tubuhku mandeg mengenai punggung kursi. Aku mengangguk ketakutan dan Ia kembali keposisinya semula dan kembali menikmati es krimnya dengan wajah seolah tak terjadi apa-apa.

‘dasar dokter gadungan! Kau selalu saja membuatku berdebar-debar dengan sikap dinginmu itu! Aiiish! Kau ini!’ aku mendumel dalam hatiku dan mengerucutkan bibirku melihat wajah datarnya.

-end flashback-

Begitulah perjalanan cintaku hingga akhirnya, inilah puncaknya. Aku akan dipinang olehnya, oleh dokter gadungan yang sudah membuatku masuk perangkapnya dan membuatku menerima takdir sebagai wanitanya.

“hyurin-ah, ayo cepat keluar..” teriakan jinki oppa membuyarkan lamunanku tentang perjalanan cintaku.

“ne oppa..” jawabku segera bangkit dan kembali merapikan diri dicermin.

“hari ini aku akan menjadi istrinya.. Tuhan, semoga semuanya berjalan lancar, dan jangan biarkan hal buruk merusak kehidupan kami..” doaku sebelum meninggalkan kamar tersayangku dengan mata terpejam. Setelah itu aku membuka mataku dan tersenyum menatap cerminanku sendiri.

“hwaiting hyurin!” seruku pada diri sendiri dan berjalan keluar kamar.

-fin-


Advertisements

21 responses to “love agreement

  1. hilang kata-kata..keren banget..oneshot tapi berasa ber part2 ak bacanya..
    aku nahan nafas mulu nih bacanya..KEY…co cwitt nya dirimuuuuuu ❤ ❤

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s