Girl… What’s Your Name? (FF/ONESHOOT/PG13)

Girl… What’s Your Name?

Image and video hosting by TinyPic

Cast :
-Choi Minho
-Song Hye Sang
-Another SHINee members

Length : Oneshoot

Rating : PG13

Genre : Romance, Hurt/Comfort, Angst

Disclaimer : SHINee’s member is belong to SME, Song Hye Sang is belong to me also the plot is mine!

Inspired by : From movie called “Millionaire First Love”

Enjoy ^^


XxXxXxX

Entah sudah berapa aku berdiri di depan jendela rendah yang dipasang oleh rumah ini. Sesekali aku melongokkan kepalaku, lalu menghela nafas. Entah sudah berapa kali juga aku menghela nafas sambil memandangi seorang gadis yang sedang terbaring lemah di atas ranjang dibalik jendala rumah itu.
Gadis itu dikelilingi beberapa mesin penompang hidupnya. Hampir seluruh wajahnya tertutupi oleh masker untuk membantunya bernafas. Tapi satu yang aku ketahui dari beberapa mesin itu, mesin detak jantung gadis itu. Gelombang yang ditunjukkan mesin itu seperti tidak teratur, tapi gadis itu tidur dengan tenangnya dengan wajah damainya. Seperti sudah siap menyambut ajalnya kapan saja.
Aku meringis. Meringis melihat kejadian yang kulihat di depanku itu.

Entah kenapa aku bisa berdiri dibalik jendalanya kamar gadis itu. Kejadian ini sudah kulakukan tidak hanya satu-dua kali saja. Tapi sudah puluhan kali? Mungkin…
Setiap sebelum aku berangkat kuliah atau bekerja bersama member-member lain. Aku menyempatkan diri untuk datang ke rumah ini.
Mengapa? Entahlah, aku juga tidak sengaja melihat gadis itu. Bahkan aku sama sekali tidak pernah melihat gadis itu terbangun. Aku terus menerus melihat gadis itu dengan posisi yang sama ditempat tidurnya sambil bernafas dengan teratur. Tapi wajahnya semakin pucat. Rambutnya yang hitam pekat sebahu itu terlihat bersinar ketika sinar matahari menembus kaca jendelanya.

Aku tersenyum lembut pada kejadian itu. Gadis itu seperti diterpa oleh sinar cinta yang masih diberikan pada Tuhan. Ia seperti tetap diberikan restu untuk bernafas, meskipun ia sama sekali tidak bisa bergerak, jangankan bergerak membuka matanya saja tidak mungkin. Tapi, ia seperti masih bisa diberikan keajaiban.

Aku bermaksud menaikki pinggiran jendala ini lalu diam-diam masuk ke dalam kamar gadis itu. Oh, apa itu tidak sopan? Yah, tentu saja. Aku menyelinap masuk ke rumah seseorang, seorang gadis pula, apa kata orang-orang nantinya? Belum lagi statusku yang sebagai seorang bintang terkenal. Mungkin image-ku akan rendah dimata orang-orang. Niatku untuk memasuki ruangan itu pun ciut.

Tapi aku mendengar bunyi gelombang tidak teratur dari mesin detak jantungnya. Gadis itu terlihat tidak bernafas dengan teratur lagi, ia seperti terengah-engah. Hati dan pikiranku mulai saling berontak satu sama lain. Masuk atau tidak? Kalau aku masuk tiba-tiba, apa kata orang-orang yang melihat tindakanku ini? Kalau tidak, sama saja aku mengacuhkan seorang gadis lemah yang walaupun tidak bisa bergerak atau membuka matanya, tapi aku bisa merasakan kalau ia butuh bantuan.
Sial! Dimana orangtuanya? Tidak adakah peduli selain diriku?! Tidak adakah orang dirumah itu selain gadis itu? Bagaimana bisa mereka meninggalkan seorang gadis yang tengah berjuang melawan penyakitnya tanpa ada yang memperhatikan. Kalaupun ada, itu hanya aku. Yang berdiri di balik jendalanya ini.

Aku pun memutuskan untuk memasuki ruangannya, meskipun aku tidak tahu-menahu ilmu tentang kedokteran, aku akan mencoba menenangkan gadis itu meskipun rasanya terdengar mustahil. Sebelum aku memasuki ruangan itu, aku menoleh ke kanan-kiri, memastikan tidak ada yang memperhatikan tindakan nekatku ini. Dan akhirnya, setelah aman. Aku pun menaikki pinggiran jendala itu lalu masuk ke dalam ruangan gadis itu.

Dengan sigap aku menggenggam tangan gadis itu, bisa kurasakan dinginnya tangan itu bergabung dengan tangan gemetarku. Aku melihat kearah wajahnya, dadanya turun-naik seperti berusaha mencari oksigen meskipun hanya sedikit.
Aku menggigit bagian bawah bibirku. Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan?
Bunyi gelombang mesin detak jantungnya seperti menganggu konsentrasi doaku saja. Tapi aku tidak mungkin melakukan sesuatu pada mesin itu. Salah-salah, justru aku yang akan membuat nyawa gadis itu melayang. Sial! Sama sekali tidak ada yang bisa kulakukan! Apa aku harus memanggil seseorang? Tidak mungkin, itu akan berakibat buruk pada diriku sendiri.

Tapi tak berapa lama kemudian aku melihat dada gadis itu berhenti turun-naik. Sial, apakah detak jantungnya sudah berhenti?
Ketika aku melihat kearah layar mesin itu, sepertinya tidak terjadi apa-apa, hanya detak jantung yang kembali normal. Dan akhirnya aku bisa menghela nafas dengan lega hingga aku terduduk lemas di samping ranjang gadis itu. Masih dengan menggenggam erat tangan gadis itu.

“Sial, aku kira akan terjadi sesuatu…” gerutuku pelan dan mengambil nafas dalam-dalam lalu mengeluarkannya dengan nafas lebih lega.

XxXxXxX

Masih menggenggam tangan gadis itu sekaligus mengumpulkan tenagaku kembali akibat ketegangan tadi, akhirnya aku menghadapkan badanku tepat di depan ranjang gadis itu. Sambil berlutut, aku mengelus-elus bagian permukaan tangannya itu.
Menyadari tingkahku itu, aku segera melepaskannya. Seketika aku merasakan panas di sekitar pipiku. Ah, kenapa aku bisa melakukan hal seperti ini? Siapa diriku baginya? Aku bahkan tidak mengenali gadis ini. Jangankan mengenalinya, namanya saja aku tidak tahu.

Tapi anehnya, mengapa jantungku mesti berdetak cepat lebih dari normal ketika aku menggenggam tangannya tadi. Bahkan saat ini, saat mataku menelusuri wajahnya dengan seksama, jantungku tidak berdetak normal lagi. Oh, Tuhan… Mengapa ku haru merasakan seperti ini? Perasaan ini benar-benar aneh, hanya melihatnya seperti ini saja sudah bisa membuat senyum lebar menghiasi wajahku. Mengapa dia? Aku tahu keindahan yang dikeluarkan gadis ini, tapi kenapa aku justru tidak seperti lainnya yang jsutru menyukai saat seorang wanita tersenyum, matanya yang melebar, atau gadis itu sedang berbicara. Tapi, mengapa aku justru menyukainya saat gadis ini terdiam, dengan wajahnya yang damai, pucat, tidak menunjukkan ekspresi apapun. Ya, mengapa aku justru menyukainya?

Dengan ia terbaring seperti itu saja sudah membuat jantungku tidak karuan, apalagi disaat aku melihat bola matanya, senyumnya, atau apalah! Yang pastinya bisa membuat aku terpana. Mungkin saat ia melakukannya, aku mungkin tidak akan mengatakan kalau aku menyukainnya lagi, tapi mencintai dan menyayanginya…

Disaat aku sedang asyik-asyiknya membayangkan wajah gadis itu tersenyum, ponselku berdering sangat nyaring. Aku sedikit terkejut dan mengambil ponsel yang ada di dalam jaketku. Aku menggerutu kesal, beberapa umpatan keluar dari mulutku. Tapi umpatan itu berhenti ketika aku harus menjawab telepon itu.

“Ya, hyung?” ujarku dengan suara dipelankan.

“Eh? Jadwal dadakan lagi? …. Bukannya kau bilang hari ini aku tidak ada jadwal?… Ugh, kenapa tidak member lain saja? Aku sedang sibuk, hyung!… Aish, iya, iya. Aku akan segera pulang. Ya, aku hanya berjalan-jalan saja, tidak terlalu jauh. …. Ya, aku akan segera kesana secepatnya.” Aku pun mematikan ponselku lalu berdiri dari tempat dudukku tadi.

“Hei, aku sudah harus pulang. Tapi setidaknya hari ini aku lebih lama dari biasanya bukan?” Sambil berjalan berbalik kearah jendela yang ku naikki tadi, tiba-tiba aku berhenti. Dan berbalik lagi menuju ranjang gadis itu sambil menggenggam tangannya.

“Errr, aku tidak tahu saat ini kau mendengarku atau tidak. Tapi setidaknya kali ini aku akan memperkenalkan diri,” kataku mantap sambil menarik nafas. “Namaku Minho. Choi Minho. Kau?”

Aku mengomeli diriku sendiri, tidak mungkin aku memberikan pertanyaan pada seorang gadis yang sedang koma. Rasanya aku hanya bertanya pada diriku sendiri. Sial! Bagaimana caranya aku bisa mengenal gadis ini selain dari hanya memandanginya saja?

Kulirik jam tanganku, dan sepertinya jadwal kerjaku semakin mengejarku. Aku memutuskan untuk pergi dan sebelumnya, entah memang aku sadar atau tidak, aku mencium kening gadis itu. Bisa kurasakan dinginnya wajah gadis itu. Hingga aku mencoba membuka tirai jendelanya lebih lebar hingga sinar matahari semakin memasuki ruangan itu dan cahayanya sedikit mengarah pada gadis itu lebih dari sebelumnya.

“Segeralah bangun, aku ingin mengenalmu. Tidak mungkin aku menyukaimu dari bagian wajahmu saja, aku juga ingin mengenali namamu. Itu saja,” ujarku sambil berlalu dari ruangan itu dan kembali ke asramaku.

XxXxXxX

Berawal dari aku berkeliling-keliling sekitar gedung apartemenku, hingga sampai di sebuah perumahan. Blok demi blok aku lewati sambil terus menatapi rumah yang ada di sana. Rasa kebebasan meliputiku, walau saat itu menunjukkan jam 4 pagi, tapi rasanya semakin pagi aku melewati perumahan ini, aku semakin bisa menghirup udara segar yang jarang-jarang aku hirup.
Berkelut terus-menerus dengan pekerjaan, yang memaksaku untuk terus menampakkan senyuman terbaik, termanis, bahkan terimut sekalipun, menunjukkan bakat, memberikan kedipan pada setiap gadis yang meneriakkan namaku di bangku penonton, dan lain-lain. Aku mungkin kadang-kadang harus melakukannya dengan setengah-setengah, hingga semua yang kulakukan itu kadang-kadang palsu. Mungkin semuanya mengatakan kalau aku tidak apa-apa, selalu ceria. Ya, memang. Tapi terkadang mereka termakan mentah-mentah oleh aktingku. Mungkin, tidak hanya aku yang melakukan seperti ini, terkadang para member yang satu team denganku juga seperti itu, atau mungkin artis-artis lain pasti pernah melakukannya, hanya saja penggemar-penggemar itu tidak menyadarinya. Oh, mungkin tidak untuk para stalker yang selalu membuntuti kami.

Tapi, rasa segar dan relax yang daritadi menghinggapi diriku, semakin hinggap ketika aku tidak sengaja melihat sebuah rumah sederhana dengan tingkat dua. Rumah itu hiasi pintu depan yang berwarna putih, beberapa jendela masih terbuka. Tapi ada 2 buah jendela yang sudah terbuka terlebih dahulu. Dari kejauhan aku bisa melihat seorang gadis sedang terbaring lemah diatas ranjang, wajahnya yang pucat itu hampir tidak terlihat karena ditutupi oleh masker oksigen, beberapa mesin penompang hidupnya bernyala. Samar-samar aku bisa mendengar salah satu mesin berbunyi dengan teratur, tetapi saat aku dekati, yang ternyata mesin itu adalah detak jantung gadis itu, gelombang yang tertampak dari layar mesin itu tidak teratur.

Aku meringis.

Kutatapi sosok yang dibalik jendela itu, seorang gadis dengan wajah putih pucatnya. Selimut hangat menyelimutinya dari ujung kakinya hingga dadanya. Rambut selehernya yang hitam pekat. Bibirnya yang berwarna merah muda dan sedikit kering. Badannya yang terlihat kurus, kedua tangannya yang tergeletak lemas di samping tubuhnya, terlihat beberapa urat-urat yang menampakkan seberapa kurusnya dia.

Tiba-tiba aku merasakan ada perasaan aneh di dalam dadaku. Aku menaruh sebelah tanganku tepat diatas jantungku berdetak. Bisa kurasakan, jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Aku berpikir kalau ini adalah efek kelelahan karena telah mengelilingi sekitar perumahan ini. Tapi, nafasku baik-baik saja. Tidak terengah-engah. Bahkan ketika aku kembali menatap gadis itu, jantungku berdegup dengan kerasnya.

Mungkinkah?

Kuulurkan tanganku yang agak panjang ini hingga bisa menggapai rambut gadis itu. Kurapikan poni gadis itu hingga, yang awalnya poninya sedikit menutupi kelopak matanya, sekarang sudah rapi. Dan sekali lagi, aku bisa melihat keindahan gadis itu. Senyuman lembut menghiasi bibirku.

“Semoga cepat sembuh,”kataku sambil berlalu dari hadapan gadis itu dan kembali ke apartemenku. Rasanya tidak sabar aku menceritakan hal ini pada member-member lain.

XxXxXxX

“Taemin! Dimana PSP-ku?!” teriakku dari dalam kamar sambil mengacak-acak ranjangku sendiri. Tidak, bahkan ranjang Onew-hyung dan Taemin juga terkena korban acak-acakkan.

“Heh? Aku tidak tau hyung! Tanya saja pada Umma! Bukannya dia yang biasanya merapikan tempat tidurmu?” balas Taemin dari ruang tengah.

Aku pun keluar dari kamar dan menuju ruang tengah, “Lalu dimana sekarang, Kibum itu?”
Taemin hanya mengendikkan bahunya lalu dengan matanya yang penuh dengan kepolosan itu menatapku. Aish, dia mengeluarkan jurus terampuhnya untuk merayu seseorang. Pasti ada yang ia inginkan.

“Hyung, kau bisa belikan aku susu pisang?”

Sudah kuduga!

Aku mengambil bantal di sofa yang Taemin duduki lalu melempar kearahnya. Ia mengerang kesakitan, tapi aku hanya berlalu menjauhinya lalu melanjutkan pencarian benda kesayanganku itu.

“Hei, Minho. Aku tidak menemukan PSP-mu, tapi aku menemukan kamera digitalmu di meja komputer,” ujar seorang laki-laki dengan rambut coklat kemerahannya dan memberikannya padaku.

“Ah, iya! Benda ini juga menghilang beberapa hari yang lalu. Thanks, Jjong-hyung!” ujarku sambil mengambil darinya lalu menghempaskan tubuhku ke sofa yang sempat Taemin duduki tadi. Aku duduk di samping Taemin lalu mulai mengutak-atik kamera digital itu.

Entah diriku sendiri atau memang ada, sebuah foto yang selalu aku sayangi. Makanya, ketika kamera ini menghilang, aku panik setengah mati. Tidak seperti PSP-ku kali ini, aku masih bisa mencarinya nanti. Pikiranku justru terfokus pada kamera ini.
Beberapa fotoku bersama member-member lain, beberapa sunbeu-ku, beberapa fotoku sendiri, dan satu yang membuatku tersenyum. Seorang gadis lemah terbaring diatas ranjang, matanya tertutup rapat, wajahnya putih pucat dan terlihat damai, meskipun tidak bisa melihat dengan benar wajah gadis itu karena masker yang menutupinya, tapi aku masih bisa melihat aura kecantikan yang dimiliki gadis itu.

“Kau sudah tau namanya, hyung?” tanya Taemin yang ternyata melihat foto yang tertampak dari layar kamera digitalku itu.
Karena aku sudah menceritakan tentang gadis ini pada semua member, aku tidak sungkan-sungkan menunjukkan foto ini pada member lain. Dengan sedikit perasaan kecewa didalam hatiku, aku hanya menjawab dengan gelengan pelan.

“Kau aneh, hyung. Menyukai seorang gadis yang sedang terbaring lemah. Tidak tau namanya, hanya bisa melihat gadis itu terbaring lemah. Tapi, kau masih tidak menyerah menyukainya,” ujar Taemin.

Jujur, aku merasa tersinggung dengan perkataan Taemin tadi. “Ya, tapi setidaknya aku tidak pernah menyerah mencari namanya, meskipun aku tidak tahu kapan ia bisa bangun, tidak tahu kapan aku bisa menemuinya lagi, aku merasa bersalah padanya. Oh, interupsi sedikit. Aku tidak menyukainya, tapi mencintainya.”

Aku tersenyum pahit melihat foto itu. Disaat aku hendak mengalih halaman foto itu, aku justru menekan tombol yang salah. Aku menekan tombol “delete”. Aku berteriak histeris. “Arrghhh!!!”

“Ada apa, hyung?” tanya Taemin yang terkejut dengan teriakanku.
“Hei, ada apa?” Bahkan Jonghyun yang ada diruang komputer segera keluar dan menemuiku dengan wajah pucat.

“Fotonya… Foto gadis itu…” ujarku dengan suara gemetar dan terbata-bata. “Foto gadis itu tidak sengaja terhapus…”

“Gadis itu?” tanya Jonghyun dengan wajah bingung. “Gadis yang sedang koma itu? Gadis yang sedang kau sukai itu bukan?”

XxXxXxX

Aku masih dalam keadaan panik, daritadi aku hanya mondar-mandir di ruang tengah itu. Taemin dan Jonghyun-hyung yang melihatku seperti ini, mereka mulai pusing.

“Hei, Minho. Hentikan, aku sudah pusing melihatmu mondar-mandir,” ujar Jonghyun-hyung. Tapi aku masih mondar-mandir sambil menggigit ujung kuku jempolku.

Ucapan untuk menenangkan diriku dari mereka rasanya percuma saja. Aku panik, belum lagi perasaan buruk menghampiriku. Seolah saat foto itu terhapus, perasaan buruk menghampiriku begitu saja. Seolah ada terjadi seseuatu pada gadis itu. Tapi, aku berusaha se-positif mungkin kalau gadis itu baik-baik saja. Ya, aku yakin gadis itu baik-baik saja. Tapi… Perasaan buruk ini semakin jadi! Ada apa ini? Apa dia baik-baik saja? Mestikah aku mengecek keadaannya?

“Hei, hyung! Kau mau kemana?” pekik Taemin saat aku menuju pintu luar. Tapi disaat aku memasang sepatuku dengan tergesa-gesa. Pintu luar terbuka, terlihat disana seorang laki-laki muda dengan t-shirt berwarna merah muda sambil menaruh payung di samping pintu.

“Hei, mau kemana kau? Diluar sedang hujan,” peringatnya padaku. Aku tidak mempedulikannya aku terus memasang sepatuku lalu keluar dari apartemen.

Tapi disaat aku menunggu lift, dan pintu lift itu terbuka. Terlihatlah seorang wanita, wajahnya terlihat sembab dan kantung matanya sangat bisa terlihat. Ia terlihat kurang sehat. Aku mencoba mengalihkan pandanganku, tapi saat hendak melangkahkan kakiku ke dalam lift, wanita itu memanggilku.

“Hei, sebentar. Aku ingin bertanya,” ujarnya. Aku yang sempat ingin menolak itu, merasa tidak enak. Sepertinya wanita ini hanya bertanya sebentar denganku.

“Ya?”

“Nak, kau tahu orang yang bernama Choi Minho?” tanyanya dengan suara gemetar, seperti menahan tangis.
Saat aku mendengar namaku disebut oleh wanita itu, perasaan buruk kembali menggerogoti hatiku. Ada apa ini sebenarnya?

“Errr, Ajumma, sebenarnya Choi Minho itu adalah saya sendiri. Ada… apa mencari saya?” Semakin buruk! Semakin buruk! Ya Tuhan, kumohon, jangan sampai ada berita tidak mengenakkan dari wanita ini.

“Ini… Anakku menulis surat ini untukmu,” ujarnya sambil menyerahkan sepucuk surat dengan amplop putih bersih. Aku sempat terheran-heran dengan surat itu. Apakah surat itu dari fans-ku? Tapi amplop itu terlihat tidak seperti surat dari fans.

“Apa ini?” tanyaku. Pertanyaan bodoh! Omelku dalam hatiku.

“Bacalah, aku sebagai Ibunya hanya melaksanakan pesan terakhir darinya,” jawabnya.

Alis kananku terangkat sedikit, “Baiklah.”

Aku mulai membaca satu demi satu kata yang ada di dalam surat itu. Saat aku membaca surat itu, perasaanku luluh, hancur, rapuh, sakit sekali. Airmata mulai mengelilingi bagian kelopak mataku, sekuat mungkin aku menahannya agar tidak turun begitu saja. Aku tidak mungkin terlihat lemah didepan wanita ini. Aku bisa merasakan lututku lemas begitu saja, beruntungnya aku berdiri di samping tembok. Badanku terhempas pelan pada tembok itu, aku terus menyangga tubuhku agar tidak terjatuh begitu saja.

“Nak, kau baik-baik saja?” tanya wanita itu lagi. Tapi kali ini wanita itu menangis, ia seperti bisa merasakan sakit di dalam hatiku.

Dengan suara pelan bahkan mendekati bisikan aku bertanya pada wanita itu, “Ajumma… Bagaimana bisa? Dia…”

Wanita itu terisak-isak saat mendengar pertanyaan simpelku itu. Aku merasa tidak tega padanya. Aku hanya mengingatkan luka wanita itu. Bodoh!

Dengan masih terisak-isak, ia menjelaskan semuanya padaku. “ Anakku mengidap penyakit Hipertrofi Kardiomiopati. Penyakit jantung yang jarang dialami oleh orang-orang. Ia sudah mengidap penyakit ini sejak kecil, tapi ia bisa bertahan hingga ia berumur 19 tahun, tepatnya kemarin ia berulang tahun dan bertepatan juga dengan kematiannya.”
“Ia tidak bisa menerima kebahagian berlebihan, ia tidak bisa menerima kesedihan berlebihan. Sejak kecil ia memang bisa tersenyum, tapi ia lebih banyak berdiam diri. Seolah menghindar dari dunia, ia tidak ingin merasakan kebahagian atau kesedihan.” Wanita itu kembali menangis, aku bahkan tidak bisa membendungi airmataku lagi, perlahan pipiki basah dengan airmataku sendiri. Aku mencoba menahan tubuh wanita itu yang sepertinya hampir terjatuh, ia tidak kuat dengan penjelasannya kepadaku.

“Penyakit itu bisa membunuhnya kapan saja, kami sejak awal memang sudah mempersiapkan diri untuk melepaskannya, tapi pribadiku sendiri, aku tidak bisa. Ia satu-satunya putriku. Sebelum ia meninggal, satu hari sebelumnya ia bangun dari komanya. Saat bangun, terlihat segar, sehat, kamipun memberikan apapun untuknya. Tapi saat itu ia hanya meminta selembar kertas, bulpoin dan menyuruhku mengantarkan surat ini padamu.” Wanita itu berhenti menjelaskan, dan bagiku penjelasan itu sudah sangat jelas. Sangat jelas! Hingga membuat hatiku semakin sakit.

“Dan sekarang dia?” tanyaku dengan suara gemetar.

“Ia sudah meninggalkan kita… selamanya,” wanita itu mengerang-erang didalam tangisannya.

Setelah wanita itu berhenti menangis, ia menggenggam tanganku dengan erat. “Terima kasih, telah memberikan kebahagian terbaik baginya. Gadis itu sempat berkata padaku sebelum akhirnya ia kritis. Ia merasakan kebahagian luar biasa saat kau menjenguknya. Ia tahu kebahagian akan membunuhnya juga, tapi ia merasakan itu adalah anugerah yang diberikan padanya sebelum ia akan pergi selamanya. Kau bukan pembunuh baginya, nak. Kau adalah anugerah baginya. Kami tidak menuduh siapapun, kau memberikan terbaik baginya. Kau memberikan efek tawa lebar padanya. Kau tahu, ia tersenyum lebar dan lembut sebelum ia kritis. Terima kasih, nak. Terima kasih.”

Ia pun melepaskan genggamannya dan meninggalkanku sendirian di lorong gedung apartemenku ini. Sepi, tapi suara hujan diluar sangat terdengar di telingaku. Tapi aku sama sekali mengacuhkannya, aku terlalu syok. Aku terlalu sakit. Aku terlalu lemah saat ini. Sangat lemah…
Tangisanku tak bisa dibendungi lagi, aku menangis hingga bahuku bergetar. Aku terisak-isak dengan kerasnya. Hingga aku harus menutupi mulutku.

XxXxXxX

Annyeong…
Kau laki-laki yang bernama Choi Minho bukan?
Apakah aku harus memanggilmu Minho-ssi? Atau Minho Oppa? Atau hanya Minho?
Ah, sepertinya aku harus memanggilmu Minho saja.

Hei, Minho. Aku menulis surat ini hanya untuk berterima kasih padamu.
Terima kasih telah menjengukku setiap hari. Tapi, maaf juga telah merepotkanmu.

Hei, Minho. Kau tahu? Aku tidak bisa merasakan bahagia itu seperti apa. Aku tidak bisa merasakan kesedihan itu seperti apa. Oh, mungkin aku pernah merasakannya. Tapi aku berusaha mengacuhkannya, aku berusaha agar hatiku terus mati. Mungkin, siapapun yang melihatku, aku seperti mayat hidup karena aku tidak mau merasakan kedua perasaan itu.

Hei, Minho. Kau memang bukanlah orang pertama bisa membuatku bisa merasakan kedua perasaaan. Tapi, ketika kau datang menjengukku. Aku bisa merasakan kalau kedua perasaan ini bukanlah pembunuh bagi tubuhku, tapi ini adalah anugerah.

Hei,Minho. Aku selalu memohon agar aku bisa bangun dan membalas perkenalan dirimu. Tapi, yang ada aku hanya bisa memperkenalkan diriku lewat surat ini. Dan mungkin, ketika kau membaca surat ini, aku sudah tidak ada lagi. Maaf, kita tidak bisa berkenalan secara resmi.

Hei, Minho. Terima kasih atas semuanya. Aku bisa merasakan anugerah ini. Terima kasih, terima kasih…

Oh, aku hampir lupa memperkenalkan diri. Namaku Hye Sang. Song Hye Sang.
Salam kenal, Choi Minho. Dan juga selamat tinggal.
Terima kasih…

‘Song Hye Sang’

XxXxXxX

FINAL

Advertisements

25 responses to “Girl… What’s Your Name? (FF/ONESHOOT/PG13)

  1. hebat.. pendeskripsian nya bagus .. aku bisa membayangkan ff ini dengan jelas.. dari mulai kondisi, situasi sampai karakter..
    menunggu ff yg selnjutnya >< smangat dongsaeng..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s