My Protector…

Title: My Protector

Author: hyunvy

Main Cast: Park Shin Ri, Onew a.k.a Lee Jinki (SHINee)

Other Cast: Leeteuk a.k.a Park Jung Soo (Super Junior), Hankyung (Super Junior), Shin Yoon Ra

Rating: PG 15

Length: Oneshot

Genre: Romance, Mistery

***

Shin Ri P.O.V

Hidupku sama saja dengan yoja yang lainnya, bahkan terkadang aku merasa sangat istimewa. Namaku Park Shin Ri, mempunyai satu oppa, Park Jung Soo oppa atau aku sering memanggilnya Leeteuk oppa. Appa bekerja sebagai kepala polisi bagian tidak pidana sedangkan umma hanyalah seorang ibu rumah tangga yang setia mendampingi suami dan anak-anaknya. Aku sangat mencintai mereka semua.

Aku sudah duduk di bangku SMA sekarang. Tetapi sejak aku duduk dibangku kelas 2 SMP, appa dipindahtugaskan ke Jepang, sejak saat itu pula aku hanya tinggal berdua dengan Leeteuk oppa. Hidupku sangat bahagia, sesekali umma dan appa mengunjungi ku dan oppa ke Korea. Di masa SMA sekarang pun aku benar-benar merasakan persahabatan yang utuh dengan Shin Yoon Ra, sahabat terbaik ayng pernah aku miliki. Dan satu lagi… Hankyung oppa, orang yang telah menggoreskan pena cintanya di kertas putih masa cinta SMA ku. Oh, rasanya sempurna sekali hidupku sampai suatu saat…………

“annyong, benar dengan Park Shin Ri agasshi?”ujar seorang namja di ujung sana

“ne, ini aku… nugu?”tanyaku

“kami dari pihak kepolisian ingin memberitahukan bahwa Tuan dan Nyonya Park mendapat kecelakaan pesawat di perjalanan dari Jepang menuju ke sini…”ujarnya bergetar.

Aku terpaku mendengarnya, jantungku membatu seakan tidak berdetak lagi. Aku rasakan kaku sekujur tubuhku, keringat dingin mulai membasahi kepala sampai kakiku dan mataku memulai aksinya mengeluarkan tetes demi tetes air mata.

“Shin Ri agasshi?”panggil namja itu lagi

“ne?”jawabku bergetar

“maaf, nyawa keduanya tidak dapat di selamatkan…”ujar namja itu membuat tangisku pecah, rasanya aku benar-benar seperti mau mati. Aku melepaskan genggamanku dari gagang telepon, aku tidak bisa menerima kenyataan pahit ini. Aku bersandar di tembok, emegangi kepalaku yang mulai terasa sakit dan tubuhku lemas terjatuh ke lantai. Aku masih sepenuhnya sadarkan diri, tetapi rasanya tubuhku ini tidak bisa diajak kerja sama, mereka tidak bergeming, hanya terkulai lemas. Aku hanya mengerang, menangisi kepergian mereka, aku harap ini semua hanya mimpi, tetapi tidak, ini kehidupan nyata, kau harus bisa menerimanya, Shin Ri, kau harus bisa!!!

***

Seminggu sudah aku terpuruk karena kepergian appa dan umma. Aku tak bisa menahan amarahku saat mengetahui bahwa pesawat yang di tumpangi appa dan umma bukannya mengalami kecelakaan tetapi memang sengaja di lakukan oleh teroris kelas kakap yang tak ingin keberadaan appa di dunia ini. Appa belakangan ini memang bekerja untuk mengusut para teroris kelas teri maupun kelas kakap dan kinerjanya sangat baik sampa-sampai ia hampir menjangkau ¾ dari jaringan teroris di Asia. Tapi karena pekerjaan mulianya itu lah ia terbunuh naas.

***

“Shin Ri-ah, maafkan oppa tak bisa menjagamu lagi…”ujarnya dengan napas yang tersengal

“oppa, kau ini kenapa? Oppa?! Oppa?! Jagan tinggalkan aku, jangan!!! Oppa!!! ANDWEEEEE!!!!!” aku berteriak sekencang mungkin sampai suaraku menggema keras di gedung tua ini

Mengapa semua ni harus terjadi padaku? mengapa? Mengapa aku harus kehilangan orang yang aku sayangi lagi? Kau telah mengambil appa dan umma, mengapa kau mengambil oppa juga di saat aku benar-benar membutuhkannya. Sekarang ia telah pergi, lalu aku bersama siapa di sini? Apa aku harus menjalani hidupku sendiri? Satu pertanyaan yang terus terngiang di kepalaku. Orang itu, para teroris itu, mengapa dia suka sekali menghancurkan keluargaku dan menyiksa diriku seperti ini? Aku bersumpah akan membalas semuanya, suatu saat nanti!!!

***

“oppa, Hankyung oppa, mengapa kau tidak mengangkat teleponku? Apa kau tidak tahu kalau aku sedang membutuhkan mu sekarang? Oppa, kau dimana?”gumamku masih mencoba menghubunginya, entah sudah berapa puluh kali aku menghubunginya, tetapi tidak di gubrisnya. Mengpa aku tidak menelepon Yoon Ra saja? Aku segera mencari contactnya dan segera menekan tombol call.

“maaf, nomor yang anda tuju… sial!!! Mengapa nomornya tidak aktif juga?”umpatku. aaku benar-benar kalut, aku membutuhkan seseorang, tolonglah!!! Tanpa pikir panjang aku segera pergi ke apartemen Hankyung oppa, berniat untuk bercerita padanya.

Sial!!! Aku benar-benar sial!!! Ketika aku membuka pintu apartemennya yang tidak terkunci, ia sedang mencumbu seorang wanita, kau bisa bayangkan? Dia sedang M-E-N-C-U-M-B-U seorang wanita lain, yang jelas-jelas bukan aku, kekasihnya. Aku tak dapat lagi membendung semuanya, dengan sengaja aku membanting pintu apartemennya dan menunggu di ujung pintu, menunggu reaksinya, wajahku basah tak karuan. Aku berhasil membuat mereka terhenyak dan mendongakkan kepala mereka yang sedari tadi beradu.

“Shin Ri-ah?”ujar keduanya bersamaan sedetik setelah melihatku

“hahahahahahaha, hebat sekali, ketika aku kehilangan semua anggota keluargaku,sahabatku dan kekasihku enak-enaknya bercumbu!!!”ujarku dengan nada tinggi sambil menahan tangis. Tetapi usahaku sia-sia, sepertinya kran air mataku sudah tidak dapat di tutup lagi. Dengan segera aku berlari, meninggalkan ruangan itu secepat mungkin. Aku tidak memperdulikan suara-suara yang menahanku dari belakang. Tujuanku sekarang adalah pergi dari tempat ini.

Dengan tiba-tiba handphoneku bordering, seseorang yang nomornya tidak aku kenal meneleponku. Aku ragu-ragu mengangkat telepon itu, aku tidak berbicara sedikit pun, hanya mendengarkan,

“Shin Ri, Park Shin Ri, sebental lagi kau akan menyusul appa, umma dan oppa mu ke surga, atau mungkin ke neraka?hahahahaha. yang penting kau akan mati ditanganku, seperti appa mu yang sudah membunuh para anak buahku, kau akan merasakannya sembentar lagi, ya, sebentar lagi!!!”nada bicaranya, kata-katanya, setiap penekanannya, aku hafal benar. Terus terngiang-ngiang di telinga dan pikiranku. Arrrgggghhhh, lama-lama aku bisa gila!!! Dari pada aku mati di tangan orang bejad itu, lebih baik aku mati bunuh diri!!!

Aku segera menuruni lift, menuju keluar apartemen dan segera berdiri di tengah jalan. Jalanan sepi karena ini sudah malam, tapi aku sudah membulatkan tekadku.

“Selamat tinggal dunia, kau bagaikan neraka bagiku!!!”ujarku agak keras sambil menyeringai setelah aku lihat cahaya lampu mobil yang sangat menyilaukanku, lampu sebuah truk penuh barang. Aku merentangkan tanganku berharap aku akan cepat mati jika aku ditabrak dengan posisi seperti ini. Aku memejamkan mataku, kudengar bunyik klakson yang terus menerus dari truk itu, aku menghiraukannya sampai seuatu yang hangat mulai menyentuh tubuhku dan membuatku berguling di jalanan beraspal, sakit.

“hey, gwenchanayo?”

“apa kau bilang? Siapa kau ini? Kau menggagalkan rencanaku, kau menghancurkannya!!!”

“tapi kau hampir mati!!!”

“mati! Itu yang ku cari! Jangan sok jadi pahlawan kau!!!”aku berteriak tepat di depan wajah namja itu

“mianhaeyo… Jinki imnida!!!”ujarnya dari air muka cemas berubah menjadi ramah. Apa? Namja ini masih sempat mengajak ku berkenalan? Yang benar saja?

“Shin Ri imnida…”ujarku sambil berjalan mengacuhkannya, tentu saja aku berjalan menuju apartemenku. Aku merebahkan tubuhku ke tempat tidurku, aku tidak peduli lagi dengan semuanya. Aku hanya tertidur pulas dengan mimpi buruk sebagai pelengkapnya.

***

Aku terbangun di pagi hari, padahal aku berharap tertidur selamanya, tetapi tetap saja tidak bisa selama apapun aku memejamkan mataku. Aku berjalan gontai menuju dapur, aku mengambil segelas air putih dan segera meminumnya.

‘prang..’ tak sengaja aku menjatuhkan sebuah pisau. Pisau, ya pisau! Aku segera mengambil pisau besar dan tajam itu. Sambil menyeringai kecil aku membawanya ke kamar mandi, aku nyalakan air memenuhi bathtub ku. Sesekali ku mainkan pisau itu sambil menunggu air penuh.

“ternyata airnya sudah penuh…”gumamku sambil mematikan kran. Menuangkan bathfoam agar airnya berbusa. Setelah cukup aku memasukinya dan bermain-main dengan air sebentar.

“sebentar lagi aku tidak akan merasakan sakit seperti ini lagi!!!”gumamku bergetar, tetes demi tetes air mataku jatuh, aku bersiap memotong urat nadiku

“umma, appa, oppa, saranghaaeyo!!!”teriak ku sambil mulai membenamkan pisau itu di pergelangan tangan kiriku. Ku rasakan cairan kental hangat berwarna merah mulai menetes, kubiarkan tanganku tenggelam dalam air hingga kulihat perlahan air itu berubah warna.

***

“ups, dimana aku? Di surga kah?”gumamku saat aku mencoba membuka mataku perlahan. Semuanya putih, tiba-tiba seseorang datang, entah malaikat ata Tuhan, yang pasti ia bercahaya.

“apakah ini surga?”ujarku perlahan

“mana ada orang yang bunuh diri masuk surga? Kau sedang di rumah sakit!”ujar seseorang tadi. Aku mulai mengerjap-ngerjapkan mataku, dan orang itu, Jinki-shi???

“aigo, Jinki-shi!!! Mengapa kau ada di sini? Kau menyelamatkanku lagi?”ujarku ketus memalingkan wajahku. Ia tidak menjawab sampai aku mendengar pintu kamar terbuka,

‘ceklek’

“anda sudah sadar, Park agasshi?”ujar seorang lelaki paruh baya yang aku yakini adalah dokter yang menanganiku

“dokter, kenapa aku bisa ada di sini? Kenapa aku bisa selamat?”ujarku bertubi-tubi

“temanmu yang membawamu ke sini. Kalau soal kau selamat aku pun tak mengerti, sepertinya Tuhan masih belum mau kau mati. Padahal kau sudah kehabisan darah dan lukamu mengalami infeksi oleh air sabun, bersyukurlah Tuhan masih berbaik hati padamu tak seperti pasienku yang satu itu…”jelasnya panjang lebar sambil menunjuk ke arah luar, sebuah mayat sepertinya yang sedang di dorong menuju ruang jenazah sepertinya

“memang dia kenapa?”ujarku penasaran

“dia kepleset di kamar mandi, kepalanya terbentur parah, seharusnya dia masih bisa hidup, tetapi Tuhan berkata lain, mau dikata apa? Walaupun orang tuanya menangis sampai rumah sakit ini banjir pun tidak bisa melawan takdir…”ujar dokter itu lagi

“ooo…”ujarku sambil membulatkan bibirku

“ya sudah, banyak-banyaklah istirahat, jangan mencoba bunuh diri lagi!!!”ujarnya seraya meninggalkanku sendirian. Sendiri? Bukannya ada Jinki tadi di sini? Dia menghilang begitu saja.

“bersyukurlah Tuhan masih berbaik hati padamu, Walaupun orang tuanya menangis sampai rumah sakit ini banjir pun tidak bisa melawan takdir ” kata-kata dokter tadi masih terngiang-ngiang di telingaku.

“orang tuamu pasti menangis melihatmu seperti ini, oppa mu juga…”ujar seseorang membangunkan lamunanku

“apa maksudmu?”ujarku menanggapinya

“hah, kau ini bodoh apa? Mana ada orang tua yang senang melihat anaknya bunuh diri? Sia-sialah semua usaha keluargamu untuk melindungimu selama ini…”ujarnya lagi yang sekarang sedang menatap ke jendela. Aku terhenyak mendengar kata-katanya, benar juga…

“renungkanlah semua itu, Shin Ri-shi…”ujarnya lagi

“hhmmhh, Jinki-shi…”panggilku dengan pandanganku tak beralih dari langit-langit kamar

“Jinki-shi!!!”panggilku lagi, sekarang aku mengedarkan padanganku ke seluruh sudut ruangan, tapi tak kunjung aku menemukannya

“kau ini senang sekali menghilang, Jinki-shi…”gumamku dan kembali melamun

Aku mulai merenungkan semua yang dikatakannya, apa benar umma, appa dan oppa menangis di sana melihat perbuatanku ini? Memangnya dia siapa? Malaikat? Bisa melihat mereka sedang menangis? Pasti itu bualannya saja!!!

‘Shin Ri-ah, ingat kau harus jadi wanita yang tegar!’ ujar seorang wanita yang sangat familiar

‘hey, kau lupa dengan janjimu akan selalu kuat seperti appa mu ini?’ujar seorang lelaki

‘aigo, kau ini lemah sekali! Kalau kau sudah besar kau tidak boleh selembek ini!’ujar seorang lelaki satunya lagi

“umma, appa, oppa…”lirihku. Tak terasa aku menjatuhkan air mataku untuk kesekian kalinya

‘jangan menangis! Kau ini lembek sekali!!’terngiang suata Leeteuk oppa. Bukannya berhenti menangis, aku makim menangis sejadi-jadinya

‘putri kecilku, kalau kau sudah besar kau akan menjadi putrid yang paling cantik sedunia, menggantikan umma mu’

‘kalau umma dan appa sudah tidak ada kau harus bisa hidup mandiri ya, Shin Ri-ah!!!’ suara mereka terus menggema, mengembalikan memoriku bersama nmereka waktu aku masih kecil.

“umma, appa… bogoshipo!!!”lirih ku lagi. Kali ini dengan erangan yang lebih kuat

“sudah cukup menangisnya, kau sudah sadar sekarang?”ujar seorang namja seraya menyodorkan tisu kearahku

“kau ini, selalu saja mengagetkanku…”ujarku sambil mengambil tisu itu dan mulai menyeka muka ku yang basah karena air mata

***

“Jinki-ah, jeongmal gomawo…”ujarku seraya membereskan barang-barangku, hari ini kau sudah bisa keluar dari rumah sakit. Untung saja masih ada uang asuransi yang di tinggalkan umma dan appa untuk membayar rumah sakit. Namun sepertinya semua uang itu juga cukup untuk menghidupiku sampai aku menikah nanti…hehe

“cheonmaneyo, Shin Ri-ah…”ujarnya sambil mengacak rambutku lembut, jantungku berdetak tidak normal

“Shin Ri-ah, gwenchanayo?”ujarnya seakan ia mendengar detak jantungku yang tak normal ini

“gwenchana…”ujarku buru-buru dan segera keluar kamar, sebelum ia melihat mukaku yang sudah berubah menjadi merah

“chankaman!!!”ujarnya sambil mensejajarkan posisi tubuhnya dengan tubuhku

“mau aku traktir makan es krim?”ujarku sambil tetap menatap lurus ke jalanan

“tentu…”ujarnya semangat

“ayo kalau begitu…”ujarku. refleks aku menggandeng tanggannya.

“tanganmu dingin sekali…”ujarku sambil menatapnya. Ia tidak menjawab, hanya tersenyum dan pandangannya tetap ke depan. Tak sengaja aku melihat beberapa orang yang memandangku aneh. Aku melihat penampilan diriku, sepertinya tidak ada yang aneh. Ah, mungkin mereka sirik saja melihatku berjalan bersama seorang namja ganteng.

“kau mau pesan apa?”ujarku pada Jinki setelah kami duduk

“rhum raisin ice cream saja…”ujarnya dengan wajah berseri

“ahjuma, strawberry ice cream untuk ku dan rhum raisin ice cream untuknya…”ujarku sambil menunjuk ke arah Jinki duduk. ia sempat mengerutkan keningnya dan memandang aneh kearah ku dan Jinki sambil kemudian mencatat pesanan dan kemudian berlalu.

Aku mengalihkan pandanganku ke arah Jinki. Ia tersenyum. Omona, senyumnya manis sekali. Aku dapat melihat ketulusan dibalik senyumnya itu. Lagi-lagi jantungku berdetak tidak normal.

“jantungmu kenapa? Sakit?”ujarnya tiba-tiba, mengapa ia bisa tahu?

“a….”belum sempat aku menjawab ia sudah memotong

“kau suka padaku ya?”ujarnya sambil terkekeh

“hhmmhh…”aku bergumam

“ayo katakan…”ujarnya bersemangat

“ne…”ujarku sambil menunduk

“sebaiknya kau segera menghilangkannya…”ujarnya sambil tetap tersenyum

“mwo? Memangnnya kenapa? Kau tidak suka padaku ya?”ujarku kecewa

“anni, aku menyukaimu, sangat menyukaimu…”ujarnya sambl mengacak rambutku lembut

“lalu?”

“ini dilarang…”ujarnya lagi

“dilarang? Mengapa?”tanyaku bingung

“seorang malaikat tidak boleh jatuh cinta pada manusia…”ujarnya berbisik

“ma, malaikat?”ujarku terbata

“ne…”ujarnya mengangguk

“jadi kau ini malaikat?”tanyaku tak percaya

“jangan terlalu ekspresif, sudah cukup banyak orang yang mengiramu orang gila…”ujarnya sambil tertawa lepas

“jadi?”ujarku tak megerti

“kau manusia satu-satunya yang dapat melihat wujud tampanku ini…hehe”ujarnya

“aku malaikat pelindungmu…”ujarnya lagi

“malaikat pelindung?”ujarku, sekarang dengan volume suara yang diperkecil

“kau tidak mengingatku? Teman kecilmu, nyunyu!!!”ujarnya berbisik

“nyunyu?!”gumamku

Flashback:

“nama asli mu siapa sih, nyunyu?” tanyaku pada tetanggaku itu

“ada aja, kalau kau sudah menjadi pacarku baru kau boleh mengetahuinya…”ujarnya santai sambil mengayuh ayunannya lebih cepat

“ah, kau ini, pelit sekali!!!”ujarku menuruni ayunan yang sedari tadi aku naiki

“hei, kau mau ke mana?”tanyanya sambil mengejarku. Aku menghiraukannya dan berlari sekencang-kencangnya

“Shin Ri-ah, awas!!!”ujar seseorang, sepertinya ia appa ku

“mwo?!”ujarku berbalik

‘dorrrrrr’

“kkkkkyyyyyyyyyaaaaaaaaaaaaa”aku berteriak sekencang-kencangnya melihat banyak darah. Appa sibuk mengejar orang berbaju serba hitam itu

“bunny, kau tidak apa-apa?”ujarku melihatnya terkulai lemah terkena tembakan tepat di punggungnya

“Shin Ri-ah, saranghaeyo…”ujarnya lirih. Perlahan ia menutup matanya dan tidak membuka matanya lagi.

Flashback End

“aha, nyunyu, aku ingat sekarang…”ujarku semangat

“haha, aku menepati janji ku kan?”ujarnya tak kalah semangat

“janji apa?”tanyaku bingung

“akan selalu melindungimu…”ujarnya sambil tersenyum manis

“hahaha, kau menganggapnya serius…”ujarku sambil mencubit kedua pipinya itu

Jinki-ah, ah tidak, tidak… nyunyu, jeongmal gomowoyo kau sudah menjagaku dan menyelamatkanku. Tidak sia-sia aku punya sahabat kecil seperti mu ini. Tapi sayangnya kita tidak bisa menjadi sepasang kekasih, padahal dulu aku menyukaimu loh, sekarang juga…. Tapi tak apalah, yang penting kau akan tetap bersamaku, selamanya.

(^^)The End(^^)

NB: niy ff di dedikasikan buat esty onn… mian kalo ffnya geje, tapi comment yah, kritik sarannya, biar lain kali bisa bikin yang bagus…hehe. moga suka yah… *bowing*

Advertisements

21 responses to “My Protector…

  1. annyeong, sepertinya komen yg sangat telat sekali tapi ff ini kerennn~
    walau dalam wujud lain, jinki tetep nepatin janjinya bwt selalu ngelindungin shinri dan mereka tetap bisa bersama ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s