Waiting (Oneshot)

***

Author : Jiyeonni

Cast : Kim Jonghyun, Kim Kibum, Kim Sora (OC)

***


“Oppa!!!!”

Aku berlari mengejar kakak sulungku, Jonghyun-oppa. Ia diseret oleh dua orang laki-laki bertubuh besar ke dalam sebuah ruangan. Jonghyun-oppa mengulurkan tangannya padaku, dan aku berusaha menggapainya. Tapi lariku tidak cukup cepat, dan ada tangan lain yang menahanku. Aku tidak berhasil menggapai tangannya. Jonghyun-oppa berteriak memanggil namaku.

“Aku mohon!! Jangan sakiti dia!!! Jangan sakiti kakakku!!!” teriakku, memohon. Aku memeluk kaki laki-laki yang tadi menahanku.Tapi dia menyepakku hingga jatuh terpental.

“Sora!!!”

Aku masih bisa mendengar Jonghyun-oppa meneriakkan namaku. Aku juga masih bisa melihat kakinya terseret memasuki ruangan di sudut lantai atas itu. Aku berdiri dan mengejarnya sebelum ia masuk sepenuhnya ke dalam ruangan itu.

“Mau ke mana kau, bocah?” kata laki-laki yang tadi menyepakku. Ia mencengkeram tanganku, keras sekali sampai aku takut tanganku akan remuk.

“Ajusshi… aku mohon… jangan lakukan ini pada kami… Chebal…” lagi-lagi aku memohon. Tapi laki-laki itu malah tersenyum sinis dan menampar wajahku. Rasa asin darah langsung menyebar di mulutku. Ia melemparku ke dinding dan aku merosot terduduk.

“Sora!!”

Aku melihat kakakku yang kedua, Kibum-oppa, berlari ke arahku. Ia berlari dengan terpincang-pincang karena satu kakinya terluka. Aku langsung memeluknya sambil memanggil nama kakak sulungku.

“Giliran kalian akan tiba. Sampai waktunya tiba, cobalah untuk bersikap manis, anak-anak…” kata laki-laki itu seraya berjalan menuruni tangga.

Sementara dari ruangan tertutup itu, aku bisa mendengar suara teriakan dan rintihan Jonghyun-oppa. Ia memanggil nama kami berdua, adik-adiknya. Aku dan Kibum-oppa saling membantu untuk berdiri, dan berjalan mendekati ruangan itu. Kami hanya bisa meratap di depan pintu, dan mendengarkan suara teriakannya yang menyayat hati.

Sambil memeluk Kibum-oppa, aku hanya bisa terisak dan memanggil-manggil namanya…

Aku tidak tahu sudah berapa lama aku tertidur. Mimpi buruk itu lagi-lagi mengganggu tidurku dan membuatku mengenang masa lalu. Aku masih bisa merasakan kerasnya cengkeraman laki-laki itu di tanganku.

Aku mengusap kedua mataku dan melihat ke arah  Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam dan kakakku belum juga datang menjemputku. Aku khawatir. Rasanya sudah lama sekali aku menunggu kedatangannya.

Apa dia lupa kalau kedua adiknya masih ada di sini?? Menunggu dan menunggu kedatangannya untuk membawa kami pergi…

Jonghyun-oppa tidak mungkin lupa…

Aku menyalakan lilin dan kemudian memeluk diriku di atas tempat tidur. Jam segini biasanya kakakku yang lain sudah tertidur nyenyak di kamarnya. Aku tidak mau menganggunya. Jadi aku memutuskan untuk berbaring saja di tempat tidurku dan menunggu sampai Jonghyun-oppa datang menjemput kami.

“Jangan khawatir…  Jjongie-hyung akan baik-baik saja… Setelah semua ini selesai, dia akan datang menyambut kita dengan senyuman lebarnya…” bisik Kibum-oppa padaku. Aku masih bergulung dalam pelukannya, gemetar sejadi-jadinya. Aku tidak mendengar lagi suara Jonghyun-oppa di dalam ruangan itu.

Tiba-tiba pintu itu menjeblak terbuka. Kibum-oppa menarikku mundur dan melindungiku sementara dua laki-laki bertubuh besar yang tadi menyeret kakakku keluar dari ruangan itu. Keduanya menatap jahat ke arah kami, tapi tidak melakukan apa-apa. Mereka pergi begitu saja, meninggalkan ruangan itu dalam keadaan terbuka.

Kibum-oppa melepas pegangannya dariku dan berjalan masuk ke dalam ruangan di depan kami. Aku menunggu di luar dalam keadaan takut dan gelisah. Kemudian aku mendengar suaranya memanggil nama kakak sulung kami. Aku berlari masuk dan ikut berlutut di samping Kibum-oppa.

“Hyung!!! Hyung! Bertahanlah!!” teriaknya sambil mengguncang tubuh Jonghyun-oppa.

“Oppa… Buka matamu…” isakku, menggenggam tangannya yang terasa dingin. AKu menyibak rambutnya yang berantakan menutupi wajahnya dan menemukan luka-luka pukulan di wajahnya. Bibirnya sobek, sudut mulutnya terluka, dan pipinya  memar-memar. Dan yang paling menyakitkan adalah sebilah pisau yang menancap di perutnya.  Air mataku jatuh semakin deras melihat keadaannya.

“Oppa…”

“Sora…” Jonghyun-oppa membuka mulutnya dan memanggil namaku. Aku mendekat padanya. Tanganku masih menggenggam tangannya yang kini membalas genggamanku, meski lemah.

“Kibum…”

Kibum-oppa juga mendekat ke arahnya. Wajahnya terlihat tegang dan sedih, dan dia berusaha keras menahan tangisnya.

“Kibum… cepat pergi dari sini… bawa Sora… pergi dan jauh-jauhlah dari tempat ini…” kata Jonghyun-oppa.

“Hyung… kami tidak mungkin meninggalkanmu…” seru Kibum-oppa.

“Aku akan baik-baik saja… Aku akan mencari kalian nanti… Pergilah… Cepat!!!”

“Oppa… berjanjilah akan mencari kami… Berjanjilah akan menjemput kami nanti…” kataku, masih menggenggam tangannya yang mulai kehilangan kekuatan. Meski kesakitan, Jonghyun-oppa berusaha mengangguk sambil tersenyum.

Kibum-oppa menarikku dan kami berdua keluar dari ruangan itu. AKu mengikutinya berlari menuruni tangga dan menyusuri koridor menuju pintu keluar. Tapi kami dihadang beberapa penjaga. Jadi kami berbalik dan berlari ke arah lain.

Rupanya kami tidak beruntung.

Kami salah mengambil jalan dan malah berakhir di sebuah kamar tidur. Kamar milik Kibum-oppa. Karena panik, kami tidak menyadari bahwa kami berlari ke arah yang salah. Kami terjebak di sana. Dan saat kami berbalik, laki-laki itu sudah berdiri di belakang kami dengan tangan memegang sebuah pistol mungil.

“Kalian pikir kalian akan ke mana, hah?”

Ia menarik pelatuknya dan timah panas meluncur menembus tubuh kakakku. Kibum-oppa berteriak kesakitan dan tubuhnya jatuh tepat di atas tempat tidur. Aku berteriak dan berlari ke arahnya. Tapi lagi-lagi, mereka menahanku.

“Jangan!!” teriakku, ketika melihat laki-laki itu mendekati Kibum-oppa dan menempelkan ujung pistolnya tepat ke jantung Kibum-oppa.

Aku meronta-ronta, berusaha melepaskan diri. Tapi aku tidak memiliki kekuatan. Aku hanya bisa menatap ngeri ke arah kakakku, yang terbaring tak berdaya dengan pistol terarah ke jantungnya. Ia melirikku dan tersenyum.

“Sora, tutup matamu… Jangan lihat… Jjongie-hyung sudah berjanji akan menjemput kita, kan? Jadi jangan takut…” katanya pelan.

Aku menangis, dan mengangguk.

Aku menutup mataku, dan mendengar suara letusan pistol…

Aku membuka mataku. Lagi-lagi mimpi seperti itu. Aku menghela nafas. Rasa khawatir kembali menyerangku.

Kenapa ia belum datang menjemputku??

Tiba-tiba aku mendengar suara. Datangnya dari pintu depan. Aku mendegar suara laki-laki berbicara.

Mungkin itu dia??

Aku bergegas keluar dari kamar itu dengan niat untuk menyambut mereka. Tapi aku lupa kalau dandananku masih berantakan.

Aku harus berganti pakaian, dan merapikan rambutku! Ah, tapi aku harus membangunkan Kibum-oppa dulu! AKu berlari menuju kamarnya dan mendorong pintunya hingga membuka. Dia masih terbaring di atas tempat tidur. Jadi aku mengguncang tubuhnya dengan buru-buru, kemudian keluar.

Aku harus berganti pakaian!

Aku berlari menaiki tangga, menuju ke kamarku sambil bersenandung lirih. Aku mencari pakaian yang pantas aku kenakan. Tapi ada yang aneh…

Aku baru menyadarinya saat bercermin. Ternyata pakaian yang aku kenakan saat itu kotor sekali. Warna putihnya ternodai oleh cairan merah pekat yang lengket. Dan di beberapa bagian pakaianku sobek. Aku juga menyadari adanya memar-memar keunguan di wajahku.

Aduh! Aku ini kenapa, ya?

Aku masih begini berantakan, padahal suaranya sudah semakin dekat. Apa pendapat kakak-kakakku kalau mereka melihatku berpenampilan seperti ini? Mereka pasti akan mengejekku. AKu tidak mau. Aku harus sembunyi!

Jadi aku berlari ke tempat tidurku dan berniat menutupi tubuhku dengan selimut. Tapi aku tidak bisa. Sudah ada orang lain yang menempati tempat tidurku. Dan ia mengenakan pakaian yang sama denganku. Malah, wajah orang itu sama denganku. Bedanya, ia terbaring di sana, tenang, dengan kedua tangan terkulai ke samping.

Mati.

AKu menutup mulutku, dan berbalik. Pemilik suara yang tadi berbicara itu sudah masuk dan melihat sosok di atas tempat tidurku. Dia bukan Jonghyun-oppa, tapi orang asing berwajah ramah. Beberapa orang lain menyusul di belakangnya. Dia menatap sosok di atas tempat tidurku dengan sedih, dan bergumam.

“Ini yang terakhir… Kasihan… Mereka dibunuh karena paman mereka mengincar harta warisan dari orang tua mereka…” kata pria yang berdiri paling depan.

“Tubuh kedua kakak laki-lakinya sudah ditemukan, satu di kamar bawah, dan satu lagi di dekat kamar ini… Keduanya sudah tewas…” kata yang lainnya.

Tunggu! Mereka bicara apa? Siapa yang tewas? Di kamar bawah? Itu kan kamar Kibum-oppa…

“Kita harus makamkan ketiganya dengan layak. Untungnya paman anak-anak ini tertangkap.” Kata laki-laki itu lagi.

Pemakaman siapa? Ketiganya? Apa sih, yang mereka bicarakan??

Aku menatap sosok itu lagi dengan tatapan bingung. Tubuhnya, pakaiannya, wajahnya. Dan aku sadar. Sosok itu bukan orang lain. Sosok itu adalah aku.

Aku yang sudah mati…

“Tidak!!! Kenapa kau lakukan ini, Ajusshi?? Kita ini, kan keluarga!!!” aku berteriak, masih meronta-ronta berusaha melepaskan diri dari orang-orang yang menahanku.

“Keluarga?? Orang tua kalian tidak pernah menganggapku keluarga. Mereka memandang rendah aku. Mereka menganggapku sampah!!”

“Ajusshi!!! Kami tidak pernah menganggapmu seperti itu!!!” bantahku.

“CIh! Sudah terlambat untuk membela diri, Sora. Aku sudah terlanjur membenci keluarga kalian. Kalau kalian bertiga mati, maka harta itu akan jatuh ke tanganku!!” kata laki-laki yang adalah pamanku. Ia kelihatan bahagia, dan jahat.

“Ajusshi… kau bukan manusia!!” teriakku.

Aku menggigit tangan pemegangku dan berlari menuju kamarku di lantai dua. Aku berusaha menutup pintu kamarku, tapi paman berhasil mendobrak masuk. Ia mendorongku ke kasur dan mencekik leherku.

Aku tidak bisa bernafas. Rasanya sesak. Sakit.

Jadi aku mencakar wajahnya, dan ia menamparku.

Ia berdiri sambil memegangi wajahnya yang terluka, lalu mengarakan pistolnya ke jantungku.

“Dengan ini… semuanya berakhir…” gumamnya dengan wajah mengerikan.

Aku tidak bisa lari lagi…

AKu memejamkan mataku, menunggu benda itu menembus tubuhku dan bersarang di jantungku…

Mungkin dengan begitu, aku bisa tidur dengan tenang…

Dan aku tinggal menunggu…

Aku menunggu, menunggu janji kakakku yang akan datang menjemputku…

Advertisements

20 responses to “Waiting (Oneshot)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s