[2shot] Eclipse part 02 #1

author  : Dubuesty

cast : Lee Jin Ki (Onew SHINee), Park Shin Ri (author), Kwon Hye Ra (OC), Kwon Ji Yong (G-Dragon Bigbang), Kim Ki Bum (Key SHINee)

genre : Romance

Length : 2shot

(Shin Ri’s POV)

apa memang aku hanya akan menjadi bulan untuknya..?

Apa aku hanya akan menjadi bayangannya saja..?

Apa aku tak akan bisa berada di sisinya..?

Kenapa terlalu banyak pertanyaan dalam kepalaku..?

Dan kenapa aku tak mencoba berbicara padanya bahwa aku menyukainya..?

Aku melihat Jin Ki baru saja turun dari mobilnya. Tanpa banyak berpikir panjang, aku berlari menghampirinya.

“Jin Ki..”

ia menoleh padaku. Wajahnya terlihat begitu letih sekali.

“Shin Ri. Mweyo..?”

“ah.. A…” aku berpikir ulang. Ku rasa ini bukan saatnya yang baik untuk mengatakan padanya, “Mengapa kau tak datang melihat pementasanku tadi, hah..?”

“oh itu, mianhae. Jeongmal mianhae. Tadi Hye Ra masuk rumah sakit..”

“mwo..? Hye Ra..? Kenapa..? Apa penyakitnya kambuh lagi..?”

Jin Ki hanya mengangguk lemah, “Shin Ri, kurasa kita tak bisa bersama-sama seperti dulu lagi. Aku.. Aku harus menjaga Hye Ra.. Mianhae..”

ucapan Jin Ki barusan benar-benar menohok hatiku, aku tak tahu aku harus berkata apa. yang bisa ku lakukan hanya menggigit bibirku untuk menahan laju air mataku. Aku yakin tubuhku bergetar saking hebatnya karena menahan air mata yang ku tahan..

“Aku tahu, akan tiba saat seperti ini. Saat di mana kau harus menjaga Hye Ra. Sedangkan aku..? Aku..? Bagaimana Jin Ki..?” aku meremas jari-jariku dengan kuat, dan berusaha sekuat mungkin agar air mataku tak turun di hadapannya.

“Mianhae..” ucap Jin Ki pelan.

aku mengambil nafas panjang, berusaha mengatur detakan jantungku senormal mungkin, “Aku akan menjenguk Hye Ra besok. Annyeong..”

* * *

aku membanting diriku di kasur. Menutup wajahku dengan bantal dan berusaha teriak sekencang mungkin untuk menghilangkan kesedihan yang ku rasa. Tapi mengapa beban ini tak bisa hilang juga..? Mengapa air mataku malah mengalir terus..?

Keesokan harinya..

Aku berjalan gontai menuju kamar Hye Ra. Dengan sedikit ragu-ragu aku membuka kenop pintu kamar itu dan langsung memasang ‘senyum’ pada Jin Ki dan Hye Ra yang ada di dalam..

“annyeong..” sapaku seramah mungkin.

“annyeong..” balas Hye Ra lemah.

“wah kelihatannya kau tambah baik Hye Ra, ku rasa aku tak perlu membawakanmu buah ini…?” godaku.

“yah ini semua berkat Jin Ki juga..”

senyuman yang terkembang dibibirku langsung mengelu mendegar Hye Ra berkata begitu. Hatiku seperti di tusuk seribu, bukan mungkin banyak sekali pedang yang menghujam jantungku. Dan rasanya bukan sakit lagi, tapi mungkin lukaku sudah bernanah sekarang. Luka yang terluka begitu dalam.

“hwa, aku harus latihan..” ucapku mengalihkan perhatian.

“hwaiting Shin Ri..” Hye Ra menyemangatiku. Aku tersenyum kecut ke arah mereka berdua dan meninggalkan kamar Hye Ra. namun baru beberapa langkah aku berjalan, sebuah suara menahanku.

“Shin Ri-ah..”

“oppa..”

“apa kabar” tanya Ji Yong oppa basa-basi.

“baik. Oppa sendiri..?”

“yah bisa kau lihat sendiri.. Aku juga ikut-ikutan sakit bila Hye Ra sakit..”

‘oops, salah bertanya aku ini..’ batinku.

aku tertunduk lemah, ku rasa aku tahu arah pembicaraan ini.

“Shin Ri, bisakah kau membiarkan Jin Ki bersama Hye Ra..?”

“…” aku tetap tak bergeming. Aku hanya bisa menggigit bibirku menahan laju air mataku yang sudah menggunung.

“Hye Ra butuh Jin Ki. Kau tahu masalah penyakitnya, bukan..? Hanya Jin Ki penyemangatnya. Sedangkan kau..? Kau bisa mencari namja lain bukan dengan kondisimu yang sehat..?”

‘apa kalau aku sakit, Jin Ki akan jadi milikku..? Kenapa..? Kenapa hanya Hye Ra dan Hye Ra terus yang dipermasalahkan dalam hal ini..?’ teriakku dalam hati.

“oppa mohon Shin Ri.. Mengertilah keadaannya..” pintanya padaku.

“ne.. Ne oppa. Arraseo. Aku mengerti. Amat sangat mengerti malah..” ucapku sembari berjalan menjauh dari rumah sakit terkutuk ini.

Aku tak tahu aku harus kemana, tapi ternyata langkah kakiku malah menuntunku ke ruangan theater di sekolah. Aku langsung merosot di tembok ruangan itu dan menangis sejadi-jadinya.

Mungkin aku memang diciptakan hanya untuk menjadi bulan bagi Jin Ki. Aku tak akan pernah bisa berada disisinya karena diriku yang ‘biasa-biasa’ ini dan juga karena Hye Ra. Aku tersenyum kecut menyebut nama Hye Ra dalam otakku. Hye Ra.. Hye Ra.. Hye Ra.. Haruskah karenanya..?

“Shin Ri-ah..”

aku mengangkat kepalaku dan menemukan Ki Bum tengah berjongkok di hadapanku dan memberikanku sehelai sapu tangan miliknya.

“waeyo..? Mengapa kau berada di sini..?”

“aku… Aku.. Kau sendiri sedang apa di sini..?” ucapku balik bertanya.

“aku sedang rapat dengan dewan sekolah membicarakan masalah beasiswa murid berprestasi di kelas theater kita ini..” jelasnya.

“…”

“Kau berminat..?”

“ha..?”

“ne, kau bersedia..? Aku sudah mendaftarkanmu.. Ottokhae..?”

aku berfikir sejenak, “ne, aku mau..”

* * *

(Hye Ra P.O.V)

berhari-hari aku di rawat di rumah sakit. Dan berhari-hari ini pulalah Jin Ki selalu ada menemaniku. Awalnya aku senang sekali. Ternyata ia tak melupakan janjinya dulu. Tapi.., tapi mengapa rasanya hanya aku yang berasa hidup di sini. Kenapa Jin Ki terlihat begitu kuyu sekarang..?

“Jin Ki..” panggilku kala melihatnya sedang melihat ke luar jendela.

“hmm..”

“kau lelah. Istirahatlah…”

“anni”

“bagaimana sekolah hari ini..?” tanyaku basa basi.

“tak ada yang menarik. Aku sudah meminta pelatih mengganti posisi kaptenku dengan pemain lagi, agar aku bisa menjagamu lebih intens lagi..” ucapnya tanpa membalikkan wajahnya padaku.

Jin Ki, apa kau terpaksa menjagaku karena janjimu itu..? Apa aku memang tak pernah ada di hatimu..?

* * *

(Shin Ri P.O.V)

“hua, jeongmal pigonhae..”

“kau lelah..? Ini..” Ki Bum menyerahkan sebotol air mineral padaku.

“gomawo..”

“kau latihan cukup baik Shin Ri. Ku rasa kau bisa mendapatkan beasiswa ke Italia itu..”

“oh ya..?” tanyaku tak percaya, “kau berlebihan Ki Bum..”

“annio, aku sungguh-sungguh.. Padahal dulu kau tak pernah berminat mengikuti beasiswa seperti ini..”

“haha.. Mungkin cuma perasaanmu saja Ki Bum, aku mulai mencintai theater seperti mencintai diriku sendiri sekarang..”

“baguslah. Tingkatkan itu. Aku yakin kau akan mendapatkannya..” ucap Ki Bum yang akhirnya ku balas dengan senyuman.

Aku tak tahu cara lain agar aku bisa merelakan satu-satunya orang yang ku cintai bersama yeoja lain, jadilah aku semakin intens belajar seni theater, agar aku bisa mendapatkan beasiswa itu. Dan pastinya agar aku cepat pergi dari Korea. Mungkin aku memang tak pintar dalam bidang akademik, tapi setidaknya aku punya kelebihan lain di bagian non-akademik. Tapi sekarang, itu tak akan berguna, karena ujung-ujungnya Jin Ki pasti akan bersama Hye Ra.

Sudah berminggu-minggu ini aku tak pernah mengunjungi Hye Ra di rumah sakit. Aku hanya mengiriminya pesan untuk menanyakan kabarnya saja, karena aku harus fokus pada keinginanku sendiri.

Dan pada hari ini, latihanku kemarin akan di uji. Setelah pulang sekolah, akan diadakan penilaian pada setiap siswa yang ingin mendaftarkan diri mengikuti beasiswa itu. Dan itu termasuk diriku juga.

“jangan tegang begitu. Rileks saja..” ucap Ki Bum.

“ne. Semoga latihan kemarin berguna..”

“hwaiting..” Ki Bum mengepalkan tangannya ke udara.

Baiklah, kini giliranku. Aku mendapat peran sebagai sleeping beauty. Mungkin sebagian orang berpikir peran ini mudah, namun bagiku tidak..! Setiap ekspresi, setiap mimik wajah yang digambarkan sosok dari sleeping beauty itu harus benar-benar menyatu dengan jalan cerita yang begitu tragis menurutku.

Ya, mungkin kini aku hanya bisa menunggu keajaiban. Apakah aku bisa bersama dengan pangeranku atau tidak..? Apa aku bisa bagun dari mimpiku dengan pangeran yang ku cintai..? Sama dengan kisah sleeping beauty ini..

Setelah selesai memerankan tugasku itu, aku malah terpaku kala melihat sosok seseorang namja yang menggunakan t-shirt kuning dan celana jeans biru menatapku dari dekat pintu ruang theater ini.

“Jin Ki..” suara yang keluar dari bibirku begitu lemah.

* * *

“kau hebat tadi..” ucap Jin Ki mengawali pembicaraan. Rasanya jadi canggung sekarang. Apa mungkin karena kami sudah jarang mengobrol lagi..?

“gomawo..” aku menyeruput minumanku, “kau sedang apa di sekolah..? Kau tidak menjaga Hye Ra..?”

“ia menyuruhku untuk beristirahat. Daripada aku bosan, lebih baik aku melihatmu kan..?”

“kau pikir aku badut yang bisa membuatmu tertawa hingga tak membuatmu bosan, hah..?” aku mengerucutkan bibirku.

“sikapmu ini yang membuatku tak akan bosan..” ledeknya lagi.

“Jin Ki..” panggilku.

“hmm..”

“doakan aku semoga aku bisa mendapatkan beasiswa ke Italia ya..”

* * *

(Jin Ki P.O.V)

“doakan aku semoga aku bisa mendapatkan beasiswa ke Italia ya..” ucap Shin Ri. Aku menatapnya lekat-lekat. Apa dia sedang bermain-main sekarang..?

“aku ingin sekali mendalami seni theater.” sambungnya lagi.

“kau ingin meninggalkan Hye Ra dan aku..?” tanyaku dengan suara tercekat. Aku menekankan kata ‘aku’ agar shinri mengerti. Semoga..

Ia membalikkan wajahnya dan tersenyum padaku, “kau sendiri kan yang bilang bahwa kita tak bisa bersama-sama lagi sekarang..? Kau sudah menentukan jalan hidupmu bahwa kau harus menjaga Hye Ra. dan aku..? Apa aku tak bisa menentukan jalan hidupku sendiri, Jin Ki..?”

aku menggeleng..

“lagipula kau dan Hye Ra akan lebih baik tanpa aku yang merepotkan ini kan..?”

“Siapa bilang kalau kau..”

“Jin Ki, aku harus pulang. Umma sudah menungguku.. Annyeong..” sela Shin Ri.

“siapa yang bilang kalau kau merepotkan Shin Ri..? Aku tak pernah merasa seperti itu. Malah aku akan kehilangan dirimu nanti…” sambungku sambil melihatnya yang semakin menjauh dari pandanganku.

* * *

(Hye Ra P.O.V)

“kau kenapa Hye Ra..?” tanya oppaku.

“Gwencana oppa..” elakku.

“kau tak bisa berbohong padaku, Hye Ra..” kata oppaku seraya menarik ujung hidungku, “Kau bahagia..?”

apa yang harus ku jawab padanya..? Berbohong..? Tak mungkin, ia sudah tahu semua sifatku, tak mungkin bila aku berbohong padanya.

“molla..”

“loh..?”

“aku tak tahu oppa. Aku memang bahagia Jin Ki selalu bersamaku, menjagaku. Tapi kenapa aku merasa seolah jiwa Jin Ki tak ikut bersama raganya di sini. Menjagaku..? Sepertinya jiwanya pergi entah kemana saat ia berada di sini..? Aku.. Aku bingung, oppa..”

“kau tahu sayang..” oppa mengelus pelan rambutku, “ada seseorang yang membuat Oppa kagum padanya. Dia benar-benar bisa merealisasikan ungkapan bahwa cinta tak selamanya harus memiliki..”

“huh..?”

“maksud oppa, dia bisa merelakan orang yang ia cintai bersama orang lain. Walaupun ia sendiri harus berjuang keras mengekang perasaanya. Asalkan orang yang ia cintai juga bahagia. Hebat bukan..?” jelas Oppaku.

Aku memandangnya lekat-lekat,

“kenapa ia tak memperjuangkan cintanya..? Bukannya itu berarti ia tak bersungguh-sungguh mencintai orang itu..?”

oppa tersenyum mendengar pertanyaanku, “kau salah Hye Ra.. Malahan ia benar-benar menunjukkan bahwa ia mencintai orang itu. jarang sekali orang yang bisa dengan ikhlas melepaskan orang yang ia cintai. Karena sebagian orang selalu mementingkan perasaannya sendiri..” ia terdiam sebentar dan memutar arah duduknya menghadap jendela, “kalau kau menjadi orang itu, apa yang akan kau lakukan Hye Ra..?”

“aku..” aku terdiam sebentar berpikir jawaban apa yang seharusnya ku jawab, “aku akan tetap memperjuangkan cintaku..”

“haha.. Sayang, itu namanya bukan cinta. Itu hanya obsesitas semata..”

“ha..?”

“kau tahu, obsesi dan cinta hanya berbeda tipis. Banyak orang yang berkata bahwa ia mencintai pasangannya tanpa memperdulikan perasaan pasangannya itu. Apakah pasangannya memang juga mencintainya,,? Karena yang ada dalam pikirannya hanya bagaimana caranya agar orang itu menjadi miliknya seutuhnya. Itu yang di sebut obsesi. Sedangkan cinta..” ia terdiam kembali dan menatapku penuh arti, “kau akan melakukan apapun untuk membuat orang yang kau cintai tersenyum walau bukan karenamu. Kau akan jadi orang pertama yang memberinya selamat saat ia menemukan cintanya yang baru walau itu bukan dirimu..” jelasnya.

Aku terdiam menatap pantulan bayanganku di cermin besar yang terpasang di lemari kamarku,

“sekarang apa keputusanmu..?”

* * *

(Shin Ri P.O.V)

aku memandang pantulan bayanganku di cermin. Siapkah aku mendengar keputusannya hari ini..?

“Shin Ri, Ki Bum sudah menunggumu..” panggil Ummaku dari bawah.

“Ne, tunggu sebentar..” aku mengambil tas sampingku dan langsung turun menemui Ki Bum.

Ia tersenyum simpul melihatku, “Umma, aku berangkat dulu..” pamitku.

“ne, hati-hati di jalan..”

“sudah siap..?” tanyanya.

Aku menghembuskan nafasku dalam-dalam, “apapun keputusannya, aku siap..”

“kau pasti lulus..”

“semoga..” jawabku.

saat kami keluar dari pekarangan rumahku, aku melihat Jin Ki dan Hye Ra yang terlihat akan berangkat sekolah bersama-sama. Ku rasa,semua memang akan berubah sekarang…

“annyeong..” aku melambaikan tanganku ke arah mereka berdua.

* * *

“tanganmu dingin..” ucap Ki Bum sembari menggengam tanganku.

“ha..? Efek gerogi mungkin..”

kami berdua melangkahkan kaki kami menuju mading yang sudah dipenuhi murid-murid lain.

“semoga…semoga…” aku bercuap-cuap tak jelas.

“kau ini, yeoja aneh..” ledek Ki Bum. Ia menggenggam erat tanganku dan menuntunku menerobos murid-murid lain, “permisi..permisi..” ucapnya.

“buka matamu. Apa yang bisa kau lihat dengan mata tertutup seperti itu..?” perintah Ki Bum.

“aku takut babo..!!”

“sudah buka matamu..”perintahnya.

Dengan perlahan aku membuka kedua mataku, menelusuri nama-nama yang berhasil lolos. Urutan pertama bukan namaku, urutan kedua juga bukan. Apa aku memang tak lolos..? Dengan perlahan aku melihat urutan ketiga, ada nama Ki Bum di sana. Semakin tipis rasanya harapanku.

“lihat lagi..”perintahnya.

Aku menghela nafas dan melihat nama yang berada dalam urutan keempat, “ada nama Park Shin Ri”.  Ucapku, “tunggu. Itu kan aku. Aku Park Shin Ri. Aku lolos… Kyaaa….” teriakku seraya menghamburkan diriku dalam pelukan Ki Bum.

* * *

“Tinggal menunggu hari kelulusan kan..?” Ki Bum membuyarkan lamunanku.

“ah, ne.. Jadi tak sabar..”

“Shin Ri. Kau kenapa tak pernah bersama Jin Ki dan Hye Ra lagi..?”

“ha..?”

“anni. Lupakan saja..”

aku dan 4 orang lainnya yang berhasil lolos seleksi beasiswa itu tinggal menunggu hari kelulusan yang tinggal menunggu hari lagi, dan setelah itu kami akan berangkat ke Italia. Cepat sekali rasanya.. belum lagi masalahku, Jin Ki, dan Hye Ra. Padahal sepertinya baru kemarin kami selalu bersama-sama, tapi sekarang….

Beberapa hari kemudian…

Semua wajah di aula terlihat begitu bahagia. Tak jarang ada yang menangis bahagia karena akhirnya kami lulus. Dan aku..? Tak pernah ku sangka, nilai akademikku naik signifikan dari nilai-nilaiku sebelumnya. Mungkin jika sekarang tak serumit ini, aku pasti akan melonjak kegirangan dan langsung menyatakan perasaanku pada Jin Ki, yah walaupun belum tentu juga sich Jin Ki akan menerimaku. Tapi yang penting akhirnya aku bisa benar-benar merasa pantas berjalan beriringan dengannya.

Dan soal Jin Ki dan Hye Ra. Yap, Jin Ki lagi-lagi meraih juara umum pertama, namun entah dengan Hye Ra. Mungkin karena belakangan ini dia sakit, makanya prestasinya menurun. Tapi tetap, bagiku mereka berdua tetap pasangan yang terbaik.

Dan besok. Besok semuanya akan di mulai dari awal lagi. Aku akan segera meninggalkan Korea dan mengejar mimpiku sendiri. Mimpi yang berbeda dengan sahabat-sahabatku itu.

* * *

setelah selesai mengepak semua barang-barangku, aku berjalan di sekitar pekarangan rumahku untuk mencari udara bebas. Dan saat aku keluar dari rumahku, Jin Ki juga melakukan hal yang sama denganku.

“annyeong..” sapaku seramah mungkin.

Ia tersenyum ke arahku dan langsung melompati pagar rumahku yang memang pendek.

“yah kau, apa yang kau lakukan hah..? Tak bisa melewati pintu ya..?” teriakku.

“ah sudahlah. kan sama saja..”

“babo kau..!!” aku mendorong pelan kepalanya dengan telunjukku.

Kami berdua duduk di bangku di pekarangan rumahku dalam diam.

“bulannya..” kami serempak memulai pembicaraan yang sama.

“ada apa dengan bulannya..?” tanyanya.

“mmmm, lebih bagus. ku rasa ia lebih bersinar sekarang di banding malam-malam sebelumnya. Lihat bahkan tak ada awan yang menutupi cahayanya..” ucapku sambil menunjuk ke arah bulan itu.

“benar juga ya.. Ku rasa kau juga sama dengan bulan itu sekarang..” ucap Jin Ki tanpa membalikkan wajahnya padaku.

Aku terdiam..

Aku memang akan terus bersinar, tapi apa artinya semua itu tanpa cahaya asliku..? Penyemangatku..? Dan tanpa matahariku..? Aku hanya akan sia-sia saja..

“Jin Ki, chukkaeyo..”

“untuk apa..?”

“aish, untuk peringkat pertamamu jadi juara umum lagi, babo..!!!”

“oh itu..” ia menggaruk kepalanya, “Kau juga, chukkaeyo. Aku tahu kau pasti bisa mendapatkan beasiswa itu..”

aku terdiam. Rasanya aku ingin menangis karena ternyata aku masih tak bisa meninggalkannya. Ia penyemangatku, cahayaku, dan matahariku. Aku..

“besok.. aku..” aku menghela nafasku, “aku akan berangkat. Jaga Hye Ra juga untukku ya. Jangan sampai dia sakit lagi… Kau mengerti..” ucapku seraya berdiri dari bangku taman itu.

Namun belum beberapa langkah aku berjalan, sebuah tangan menahanku dan menarikku ke dalam pelukannya.

“kau tak perlu pura-pura ceria seperti ini, Shin Ri..”

aku menggigit bibir bawahku, aku memang ingin menangis sekarang..

“menangislah. Aku tak pernah melihatmu menangis lagi setelah Ajjushi meninggal. Sekarang saatnya kau menumpahkan air matamu semua, Shin Ri.. Jangan menyiksa dirimu seperti ini..”

“Jin Ki.. Aku.. Aku…Jin Ki..” tangisku semakin hebat, Aku melingkarkan lenganku di lehernya lebih erat, dan menangis di atas pundak Jin Ki.

Ia mengelus pelan punggungku dan mencoba menenangkan tangisanku yang tak mau berhenti ini.

“jaga dirimu Shin Ri. Jangan terlalu ceroboh lagi. Tak ada aku di sana, jadi cobalah bersikap mandiri. Dan kalau kau mau menangis, menangislah.. Jangan simpan-simpan tangisan itu sendiri..”

“haha.. Aku tahu, dulu kau selalu menangis di kamarmu kan..? tapi untuk menutupi tangismu, kau malah memutar tape keras-keras bukan..?”

aku mengangguk..

Rasanya aku tak ingin melepaskan pelukan ini. Rasanya aku ingin terus seperti ini. Aku tak ingin pergi..

“Shin Ri..” ia terdiam sebentar dan menarik nafasnya yang berat, “jangan lupakan aku, mataharimu..”

* * *

(Hye Ra P.O.V)

seseorang menepuk pundakku. Aku membalikkan wajahku dan menemukan Ji Yong Oppa sedang tersenyum ke arahku dan mengangguk penuh arti ke arah rumah di depanku.

Keesokan harinya..

Aku mengerjapkan mataku dan melihat Ji Young Oppa sedang membuka jendela kamarku.

“selamat pagi..”

“Oppa..”

Aku memandang mobil milik Shin Ri yang sudah melaju meninggalkan rumahnya. Sementara di belakangnya, aku melihat Jin Ki yang sedang menatap ke arah mobil itu. Setelah mobil itu menghilang di persimpangan jalan, Jin Ki baru melangkahkan kakinya menuju rumahku. Aku menghela nafas panjangku.

Setelah selesai membersihkan diri, aku menemui Jin Ki yang sudah menungguku di ruang tamu bersama Ji Yong Oppa. Hari ini, aku mengajaknya berjalan-jalan ke luar rumah

“bagaimana semalam tidurmu..?” tanya Jin Ki membuka percakapan.

“nyenyak. Kau sendiri..?”

ia menggaruk kepalanya, “terkadang terbangun tengah malam, ku rasa semalam aku tak bisa tidur dengan nyenyak..” paparnya. “kita mau kemana hari ini..?”

“ke taman bermain yang dulu itu. Kau ingat kan..?”

ia menatapku kaget, “untuk apa kita kesana..?”

“aku rindu tempat itu. Tak keberatan bukan..?”

“anni..” jawabnya singkat.

Aku mengajaknya bermain di atas ayunan. Sementara ia lebih memilih mendorongku.

“kau ingat, dulu kita bertiga sering sekali bermain disini. Ingat kan..?”

“hmm..”

“Kau dan Shin Ri selalu bermain perosotan. Dan aku hanya bisa menunggumu bermain dengannya di sini. Iya kan…?” tanyaku kembali. tak ada tanggapan dari Jin Ki karena ternyata ia lebih memilih berkutat dengan jam tangannya.

Aku menghela nafasku, “Jin Ki..”

“hmmm…

“bagaimana sebenarnya perasaanmu..?” ia menghentikan dorongan ayunanya.

“jujurlah padaku Jin Ki..”

ia tetap terdiam..

“apa kau menyukai Shin Ri..?”

tetap tak ada respon darinya.

“Hei, kau kenapa..?”

“gwencana..aku..”

“kau memikirkan Shin Ri, bukan..?” selaku.

“anni..”

aku tersenyum kecut, “kau mau tetap berbohong padaku..? Kenapa kau tak jujur saja..? Apa kau mau kita terus berada dalam kebohongan seperti ini, Jin Ki..?”

“Hye Ra..”

“jujurlah. Sebelum semuanya benar-benar terlambat. Dan tak akan ada lagi kesempatan untuk memperbaikinya, Jin Ki..”

“aku.. ne, aku memang menyukai Shin Ri dari dulu. Tapi aku..”

“kau takut melukai perasaanku kan..? Tapi tak tahukah kau, aku semakin terluka sekarang.. Aku akan terluka bila kau tak bahagia, Jin Ki..” jelasku. Aku tak tahu mengapa air mataku tak mau turun juga, padahal rasanya hatiku sudah teriris-iris sembilu melepaskan namja yang ku cintai.

“Hye Ra..”

“pergilah..” pintaku. “pergilah..”

* * *

(Jin Ki P.O.V)

“pergilah.. Pergilah..” pintanya.

“tapi janjiku..?” tanyaku tak percaya.

“kau sudah menepati janjimu. Kau selalu menjagaku dari kecil. Membuatku bahagia. Dan sekarang biarkan aku mengganti kebahagiaanku dengan kebahagiaanmu Jin Ki.” pintanya..

“tapi Hye Ra..”

ia menggenggam tanganku, “pergilah.. Sebelum semuanya terlambat Jin Ki. Aku.. Aku akan baik-baik saja..” ia memandangku dengan yakin. Aku langsung memeluknya, “Hye Ra, gomawo..”

ia tersenyum simpul padaku. Dan akhirnya aku langsung berlari menuju bandara. “Shin Ri. Ku mohon tunggu aku..”

* * *

(Hye Ra P.O.V)

aku memandang punggung Jin Ki yang kian menjauh dengan perasaan yang ku sendiri tak bisa menjelaskan. Dan entah mengapa setelah punggung Jin Ki benar-benar menghilang dari pandanganku, air mataku baru tumpah.

“Kau hebat..” seseorang yang aku yakini adalah Ji Yong Oppa memelukku dari belakang.

Aku tersenyum lemah ke arahnya, “Oppa, kau tahu.. Rasanya sakitku mulai berkurang sekarang..” ucapku seraya menunjuk dadaku.

Ia mengelus pelan kepalaku, “dan untuk seterusnya, biarkan Oppa yang melanjutkan janji Jin Ki padamu..”

“Gomawo Oppa..”

* * *

(Shin Ri P.O.V)

“siapa yang sedang kau tunggu..?” tanya Ki Bum.

“Ha..? Ah, entahlah. Aku juga tak tahu siapa yang ku tunggu..” jawabku.

Ia memandangku heran dan langsung menarikku, “ayo, sebentar lagi pesawat kita Take-off, Shin Ri..”

“ne. Tunggu sebentar..” aku melepaskan tangannya.

entah mengapa, kakiku seperti tak mau ku gerakkan. kakiku terus memaksaku untuk berdiri menunggu sesuatu atau seseorang. Apa Jin Ki akan kemari..?

“Shin Ri, Palli…” Ki Bum mengipas-ngipaskan tangannya ke arahku. Untuk terakhir kalinya aku memandang ke samping kananku dan akhirnya memaksa kakiku untuk bergerak maju.

“Yah Shin Ri..” panggil seseorang. Aku begitu kenal suara nyaring orang ini. Suara orang yang begitu ku nantikan.

“Kau mau pergi tanpa berpamitan denganku, hah..?”

air mataku saling menyusul turun dengan hebatnya, dan aku langsung memeluk Jin Ki.

“Jin Ki….”

“ku pikir aku terlambat..” ia masih sempat-sempatnya menyunggingkan senyum pepsodentnya yang khas itu.

“aku.. Aku..”

“sssttt…” Jin Ki menempelkan telunjuknya di bibirku. “sekarang biarkan aku yang bicara, dasar kau cerewet..”

“kau tahu, aku menyukai seorang yeoja yang biasa-biasa saja. Yeoja yang selalu bersikap ceria tapi di dalamnya ia begitu rapuh. Yeoja yang selalu menganggap dirinya bulan. Padahal ia tak pernah menyadari kehebatan dalam dirinya. Ia tak pernah terlihat biasa-biasa bagiku..”

aku terdiam… Apa aku salah dengar ya..?

“Jin Ki..”

“ah, diam dulu.. Aku belum selesai bicara, Shin Ri..”

“kau tahu, yeoja itu selalu berpikiran bahwa bila kami bersama hanya akan menciptakan gerhana dan membuat semuanya menjadi gelap. Tapi apa ia tak tahu, gerhana bukan sebuah fenomena yang merugikan bukan..? Malahan gerhana selalu dijadikan hal yang paling menarik karena itu jarang terjadi..”

“kau ini banyak bicara..” ucapku seraya menyeka bulir-bulir air mata yang masih bersisa di pipiku.

“yah kau ini..” ia mengacak pelan puncak kepalaku. “berjanjilah padaku satu hal..” pintanya.

“mwo..?”

“saat kau kembali lagi ke sini, bersinarlah lebih terang dari sekarang. Agar kita bisa bersama-sama. dan mungkin kita bisa menciptakan gerhana. Mau..?” ia menyodorkan kelingkingnya padaku yang akhirnya ku sambut.

* * *

‘ even though i knew..’

‘ i can’t do anything..’

‘ i can only think of you..’

‘ if i close my two eyes or open them again..’

‘ i can only think of one person..’

‘the memory i can’t erase for one second (even today)..

‘ i just think of you..’

* * *

THE END..

PLEASE DON’T BE SILENT READERS..

KAMSAHAMNIDA.. 🙂

n rencana’a ff ini bakal dibikin sekuel’a berdasarkan saran ike onnie.. 🙂

semoga bisa dibuat secepatnya..

Advertisements

17 responses to “[2shot] Eclipse part 02 #1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s