Midnight Grim

Title : Midnight Grim
Author: Lunarcherry
Genre : Fantasy, Mistery
Rating : PG-15
Length: Two shots
Casts : Karam, Lee Hyun Ri, Kim Jaejoong

A/N : Anneyong readers, Lunarcherry kembali *halah, apa sich?*.
Setelah totally fluffing di Crazy Love dan ber-angst ria di Deep In My Heart, sekarang saya mencoba nulis ff dengan genre fantasy-mistery di sini. Sebenernya, authornya sendiri penakut*bisik2*, tapi karena sudah bilang pingin nyoba macem2 genre, jadilah saya nulis ff ini. Hopefully you like it.

MIDNIGHT GRIM


Aku selalu tertawa setiap kali mendengar mereka membicarakan hal itu, berbicara mengenai makhluk yang selama ini tak pernah sekali pun ada dalam logikaku. Aku sama sekali tidak percaya pada hal-hal menggelikan seperti itu. Orang-orang itu, mereka yang mempercayai keberadaannya, adalah orang-orang gila yang terlalu tinggi berimajinasi. Mereka gila. Mereka konyol. Mereka menggelikan. Makhluk semacam itu tidak pernah ada dimanapun di dunia ini!!!!

***

UNBELIEVABLE STORY

Karam merebahkan tubuhnya di sofa ruang tamuku. Ia menghela nafas berat karena kelelahan. Aku mengambilkannya sekaleng jus jeruk dingin yang langsung diteguknya dengan nikmat..

“ Bagaimana latihan hari ini?”, tanyaku sembari ikut duduk di sampingnya.
“ Cukup bagus. Besok akan ada gladi bersih, jadi nanti malam aku harus latihan lagi”.
“ Di sekolah?”, tanyaku. Karam tersenyum kecil, senyum yang lebih terlihat seperti menertawai pertanyaanku.
“ Kau ini bodoh ya? Apa aku mau cari mati dengan keluar rumah malam-malam, hah?”, sahutnya.

Spontan, kutatap mata Karam yang besar, yang juga tengah menatapku. Aku mencoba menerawang jauh ke otaknya, mencoba menebak apa yang ada dalam pikirannya.

“ Karena mitos itu lagi?” tanyaku setengah menebak. Ia kembali menghela nafas berat, lalu menyandarkan punggungnya di sandaran sofa.

“ Sudah berapa kali kubilang, itu bukan mitos…”, ucapnya dengan penekanan pada kata terakhir, “kenapa kau masih juga tidak percaya?”.

Kata-katanya itu…

…tiba-tiba saja aku menjadi kesal. Aku kesal dengan pertanyaan yang baru saja ia lontarkan. Jujur saja, aku benci dengan cerita aneh itu, cerita yang menurutku hanya membodohi para penduduk kota. Karena cerita aneh itulah, orang-orang di kota ini dihantui ketakutan, enggan beraktifitas di malam hari, hingga menyebabkan kehidupan malam di kota ini mati.

Ya, aku benar-benar membenci cerita itu, sama seperti aku membenci orang-orang yang mempercayainya. Aku selalu tertawa setiap kali mendengar mereka membicarakannya, berbicara mengenai makhluk yang selama ini tak pernah sekali pun ada dalam logikaku. Aku sama sekali tidak percaya pada hal-hal menggelikan seperti itu. Orang-orang itu, mereka yang mempercayai keberadaannya, adalah orang-orang gila yang terlalu tinggi berimajinasi. Mereka gila. Mereka konyol. Mereka menggelikan. Makhluk semacam itu tidak pernah ada dimanapun di dunia ini!!!

Darah terasa menggumpal di kepalaku setiap kali hal ini terpikir olehku, membuatnya hampir-hampir mau pecah. Rasa muak pada cerita itu lah penyebabnya. Meskipun baru 4 bulan tinggal di kota ini, namun cerita konyol itu rasanya sudah sangat melekat di telingaku karena hampir dimana pun aku berada, orang-orang tidak pernah lepas dari membicarakannya. Aku muak. Muak sekali. Aku ingin menutup telinga dari cerita yang sangat mengganggu ini!

“ Itu hanya mitos…”.
Pernyataan itu begitu saja meluncur dari mulutku, mengundang keterkejutan Karam. Dengan cepat ia menoleh ke arahku.

“ Kalau itu benar-benar mitos, kenapa seluruh penduduk kota ini mau percaya? Apa kau pikir seluruh penduduk di sini sebodoh itu?”, cecarnya.

Aku terdiam. Andai aku sedang ingin bertengkar dengan namjachinguku ini, tentu aku sudah menjawab ‘iya!’. Andai aku tega melukai hatinya, tentu aku sudah dengan mantap menganggukan kepala, pertanda setuju bahwa penduduk di memang sangat bodoh karena percaya pada cerita itu. Namun sayangnya tidak. Aku sedang tidak ingin bertengkar dengannya maupun melukai hatinya. Lebih baik aku mengalah untuk kesekian kali, mencoba menyurutkan emosi yang hampir saja membuat kami terlibat dalam pertengkaran karena cerita itu…hanya karena cerita itu.

Aku masih terdiam, membiarkannya menunggu kata-kata yang sudah menggantung di ujung lidahku dan memaksa keluar. Untuk beberapa saat, keheningan pun menyelimuti kami.

Seakan tahu apa yang mengganjal di hatiku, Karam pun menggeser duduknya hingga jarak kami sekarang hanya beberapa centi. Ia mendekatkan wajahnya pada wajahku yang tertunduk, kemudian mengusap-usap kepalaku.

“ Hyun Ri-ah, dengarkan aku. Manusia itu hanya hidup satu kali di dunia ini. Dan sekali manusia itu menyia-nyiakannya, bermain-main dengan hidupnya hingga tangan kematian merengkuh, maka manusia itu tidak akan bisa mengecap yang namanya kehidupan lagi. Itulah kenapa kami, para penduduk kota, selalu berhati-hati akan kedatangannya. Kau tidak ingin banyak orang direngkuh kematian lebih cepat dari yang seharusnya, bukan”, ucapnya, mencoba meyakinkanku.
“ Toh tidak mungkin kami semua mempercayai sesuatu yang tidak pernah terbukti terjadi. Satu penduduk yang hilang tanpa bekas setiap tahun sejak ratusan tahun silam, apakah itu kurang membuktikan bahwa makhluk itu ada?”.

Sejenak, aku luluh pada kata-kata Karam yang berhasil membuat logikaku percaya pada keberadaan’nya’, meski tidak sepenuhnya. Aku mengangguk pelan, meskipun hanya setengah hati aku melakukannya.

Kulihat Karam tersenyum lega. Dengan lembut, ia mengecup keningku.

****

Kulirik jam berwarna biru yang tertempel di salah satu sisi dinding kamarku. Pukul 11 malam tepat. Kutarik selimut tebalku agar menutupi leherku juga, kemudian memejamkan mata, berharap dengan rasa kantuk yang sedikit ini, aku bisa dengan cepat mencicipi indahnya bunga tidur.

Namun 2 menit…

3 menit…

4 menit…

Aku belum juga bisa tertidur. Pikiranku melayang kemana-mana begitu teringat percakapanku dengan Karam tadi siang.

Sudah berapa kali kubilang, itu bukan mitos. kenapa kau masih juga tidak percaya?

Kalimat itu tiba-tiba saja terngiang di telingaku bagai sebuah bisikan halus yang datang entah dari mana, membuatku terhenyak dari usaha untuk tertidur.

Karam bodoh! Tidak seharusnya kau percaya pada mitos menggelikan seperti itu. Bagaimana kau bisa percaya pada keberadaan makhluk yang bahkan tidak seorang pun pernah melihatnya? Bagaimana kau bisa percaya pada sesuatu yang kau sendiri tidak tahu bagaimana harus mendeskripsikan wujudnya???

Tidak, Karam. Kau tidak boleh percaya pada hal itu. Kau tidak boleh dibodohi oleh cerita macam itu, juga oleh orang-orang yang berkoar-koar dalam menyebarkannya. Aku benci mereka yang telah membodohimu, mereka yang kuno, yang masih percaya pada mitos seperti itu di zaman modern ini. Akan kubuktikan bahwa makhluk itu tidak ada. Makhluk itu hanya hasil khayalan mereka yang terlalu banyak menonton film fantasi, makhluk itu hanya hasil khayalan mereka yang berimajinasi terlalu tinggi. Ya, akan kubuktikan kalau aku benar. Bahwa…

…makhluk itu tidak ada dimana pun di dunia ini!


Menyingkirkan selimut yang tadinya sempat menghangatkanku, aku pun bangkit dari tempat tidur. Kutarik jaket putih di gantungan pakaian, kemudian membuka salah satu laci meja belajar, dimana di dalamnya tersimpan handycam kesayanganku dan sebuah senter.

Dengan hati-hati, aku berjalan mengendap-endap di ruangan-ruangan yang lampunya telah dimatikan, berusaha agar tak seorang pun di rumah ini memergokiku sebelum aku berhasil mencapai jendela depan, yaitu satu-satunya jalan keluar yang tidak perlu kunci untuk membukanya.

Dan…

Berhasil!!!

Hatiku bersorak kegirangan ketika dengan satu lompatan, aku berhasil turun dari bingkai jendela. Kubentangkan tanganku untuk sesaat menikmati kekuatan angin malam berhembus menerpa tubuhku. Malam begitu gelap. Dan kegelapan yang pekat ini pastinya akan memuncak tepat tengah malam nanti, dimana dunia aka benar-benar menjadi hening. Kupandang langit hitam yang menggantung di angkasa. Di sana, di langit yang tak berbintang itu, bulan purnama tengah bersinar dengan indahnya, siap menjadi satu-satunya penerang malam ini.

~~~~ To be Continued ~~~~
Please leave ur comment after reading this fanfic. I will be more than happy to receive ur critics, guys ^^v

Advertisements

20 responses to “Midnight Grim

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s