[Oneshot] Warm’s Winter

author : Dubuesty

cast : Choi Min Ho SHINee, Thallo (Dewi Musim Semi), Auxo (Dewi musim panas), Karpo (Dewi musim gugur),  Auxesia (Dewi musim dingin), Minerva (Dewi Kebijaksanaan)

Genre : Romance

Disclaim : Fanfic ini di buat atas ide penasehat FF saya, Tartil D. Yow.. Fanfic ini diadaptasi dari mitologi Yunani. Tapi plot ceritanya adalah milikku.

Enjoy it..

And don’t be silent readers..

Kamsahamnida.. 🙂

* * *

(Min Ho P.O.V)

aku menendang kerikil bebatuan yang ku temukan di jalan. Menendangnya sembarangan untuk menghilangkan kepenatan hatiku.

‘sial, kenapa tim basketku bisa kalah..? Padahal aku sudah berlatih dengan keras..!’ umpatku dalam hati.

“aku pulang..” ujarku.

“Kau sudah pulang Min Ho.. Bagaimana pertandingannya tadi..?” tanya Ummaku dari arah dapur.

“aku.. Aku kalah..” jawabku pelan.

“jangan bersedih Min Ho. Menang kalah itu biasa..” pesan Ummaku. ‘biasa..? Itu tak biasa. Aku KALAH..!!” batinku dalam hati. Ya, kurasa aku benar-benar harus mencetak tulisan KALAH dalam otakku dengan huruf kapital. Aku KALAH..

aku membuang tasku secara sembarangan. Setelah itu langsung membenamkan diriku sendiri di atas kasurku. Yang ku butuhkan sekarang adalah tidur. Agar otakku bisa beres kembali.

* * *

aku mengerjapkan mataku saat aku mulai terbangun dari alam mimpiku. Aku melirik jam di meja kecilku. Jam 8 malam. Aigoo~, aku tidur selama 5 Jam..? Hebat..!!

“Min Ho, kau sudah bagun..? Makanannya ada di microwave, kau panaskan saja nanti. Umma ada urusan.. Umma pergi dulu..” teriak Ummaku dari arah bawah.

Setelah benar-benar yakin bahwa aku sudah beradaptasi dari dunia mimpi ke dunia nyata, aku memutuskan untuk bergegas mandi.

Selang beberapa menit kemudian, aku sudah mulai bebenah. Sudah mandi dan sudah berpakaian. Tapi, pada saat aku membuka pintu kamarku, mataku membulat saking kagetnya karena tepat di hadapanku, terdapat sebuah lubang hitam besar yang baru ku lihat tentu saja. Aku berjalan perlahan menuju lubang hitam itu. Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling ruangan kamarku yang tak terlalu besar, mencoba mencari sesuatu atau seseorang yang bisa menjelaskan kenapa bisa ada lubang hitam di kamarku..?

setelah terdiam beberapa saat, aku memutuskan untuk masuk ke dalam lubang itu. Terdengar aneh memang.. Aku sendiri tak tahu mengapa aku tiba-tiba ingin masuk ke dalam lubang itu. Penasaran..? Mungkin.. Atau mungkin juga bosan dengan hidupku. Siapa tahu saja, ini adalah lubang waktu yang bisa membawaku kembali pada waktu pertandingan tadi..

Baru beberapa detik aku berada dalam lubang itu, perutku sudah seperti ditindih dengan batu yang begitu berat. Perutku mual, kepalaku pusing. Argh..!! Rasanya seperti berputar-putar. Dan kenapa perjalanan ini lama betul..? Aku seperti merasa sudah berhari-hari berada dalam lubang hitam ini. Argh..!!

* * *

aku mengerjapkan mataku. Rasanya kepalaku masih pusing akibat perjalanan waktu yang baru saja ku lakukan. Aku mencoba beradaptasi dengan pemandangan yang tersaji di hadapanku. Kini, aku sedang berbaring di sebuah hamparan padang rumput yang luas. Banyak sekali burung-burung yang berkicauan, awan putih yang terlihat begitu lembut, juga langit yang begitu biru.

“siapa kau..?” aku membalikkan badanku dan menemukan seorang yeoja.

Yeoja yang begitu cantik berdiri di hadapanku. Ia mengenakan baju terusan selutut berwarna hijau yang dihiasi oleh bunga-bunga yang tak pernah ku lihat sebelumnya. Begitu pula mahkota yang terselip di antara rambutnya yang terdiri dari rumput-rumput hijau dan beberapa tangkai bunga.

“kau siapa..?” tanyaku balik.

“aku Thallo. Kau manusia bukan..? Mengapa kau bisa berada di sini..?” tanyanya. Suaranya seperti suara kicauan burung yang begitu indah di dengar.

“aku Min Ho. Choi Min Ho. Ya, aku manusia. Aku melewati sebuah lubang hitam yang nyasar ke kamarku..” jelasku apa adanya. Yeoja itu menatapku dari ujung kepala ke ujung kaki. Setelah itu ia mengembangkan senyumannya yang bersinar bagai matahari pagi.

“ikut aku..” ajaknya. Aku mengikutinya dari belakang. Entah hanya perasaanku atau bukan. Rasanya langkah yeoja itu seperti orang yang menari. Begitu indah dan mempesona. Dan tanpa sadar, aku sudah di bawanya menuju ruangan putih bersih yang begitu besar.

“kau membawanya Thallo..?” tanya sebuah suara. Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling ruangan itu, untuk mencari asal suara itu.

“ya. Ini dia..” jawab Thallo seraya melihatku kembali.

Seketika itu juga aku melihat seorang yeoja lain yang entah muncul dari arah mana menilaiku dari ujung kepala hingga ujung kaki.

“tunggu. Akan ku jelaskan. Aku tak tahu ini dunia apa. Karena yang terjadi hanyalah aku memasuki sebuah lubang hitam besar yang berada di kamarku. Dan kemudian aku sampai di sini. Jadi, sebaiknya, jika kalian bisa, pulangkan saja aku ke bumi. Tak masalah bagiku..” belaku.

“lubang hitam besar..? Portal dimensi..?? Kenapa bisa portal itu terbuka di bumi..?” ujar yeoja itu seraya berjalan melewatiku. Aku melihat Thallo yang mengisyaratkanku untuk mengikuti yeoja itu. Dan dengan patuhnya, aku berjalan beriringan dengan Thallo di belakang yeoja itu. Dan ternyata yeoja itu membawa kami menuju tempat pertama aku terbangun tadi.

“portalnya rusak.. Bisa bahaya bila dibiarkan terus seperti ini..” ujarnya berbicara sendiri.

“apa yang harus kita lakukan Minerva..??” akhirnya Thallo buka suara juga.

“aku akan pergi ke Ollympus. Bertemu dengan zeus..” ujarnya perlahan. “anak manusia. Kau belum bisa kembali ke duniamu, jadi aku mohon bersabarlah disini. Kami akan menyelesaikan masalah portal dimensi secepat mungkin. Thallo, ajak dia berkeliling..” pesan yeoja itu-yeoja yang ku tahu bernama Minerva.

* * *

“Min Ho. Benar bukan namamu itu..?” tanyanya memecah keheninganku. “aku tak pernah bertemu langsung dengan manusia sebelumnya. Jadi…, kau tahu betapa bahagianya itu..?” ujarnya bersemangat. Aku mengangguk-angguk saja mendengar penjelasannya. “mau berkeliling..?” dan lagi-lagi aku hanya mengangguk dan mengikutinya.

“ini dunia apa..?” tanyaku memecah keheningan.

“ooh, dunia musim. Ini di bawah pengawasan langsung Dewa zeus. Dunia ini hanya dihuni oleh 4 Dewi musim. Dan tadi yang kau temui adalah Dewi Minerva. Dewi kebijaksanaan. aku adalah Thallo, dewi musim semi..” ujarnya bersemangat.

“aku akan membawamu berkeliling dunia ini.” aku mengangguk kembali, “ini bagian musim panas. Dewi pengaturnya adalah Auxo..” ujarnya.

Aku menatap pemandangan di hadapanku. Bunga-bunga masih bermekaran, namun kini di langit dunia ini tidak ada awan sedikitpun yang menutupi sinar matahari. Sehingga membuat suhu di sekitarnya mulai naik.

“Thallo, jadi ini orangnya..?” tanya seorang yeoja yang aku yakin adalah Dewi Auxo seperti yang dikatakan Thallo tadi.

Aku membungkukan badanku dihadapannya, “aku MinHo. Choi Min Ho..” ujarku.

“apa menurutmu panasku terlalu berlebihan di bumimu..?”

“mm, bisa di bilang seperti itu.. Belakangan ini rasanya panas sekali..” jawabku apa adanya.

“padahal aku sudah mengecilkan intensitas cahaya matahari yang masuk. Sepertinya bumimu memang sudah bermasalah karena ulah kalian..” jelasnya.

“kau mau mengajaknya berkeliling lagi Thallo..?” sambungnya.

“ya..”

“baiklah Min Ho, masih mau berkeliling..?” tanyanya padaku.

Aku mengangguk kembali dan mengikutinya dari belakang. Kini, ia membawaku ke sebuah belahan dunia lain. Dunia yang berisi dedaunan coklat. tiap dedaunan yang jatuh ke tanah bagai tarian alam yang begitu indah.

“Karpo.. Mau melihat pengunjung baru di dunia ini..? Tanya Thallo hati-hati.

“kenapa bisa ada manusia di sini..? Kau sudah melapor pada Minerva..?” tanyanya masih sambil menari dengan anggunnya mengikuti hembusan angin yang turut menggugurkan helai demi helai daun coklat.

“sudah.. Portalnya mengalami sedikit masalah. Minerva sudah melapor pada Dewa Zeus..” jelasnya.

Kini yeoja, eh maksudku dewi Karpo berjalan ke arahku mensejajarkan dirinya denganku, “aku pantas kan dengannya..?” ujarnya yang hanya berupa gumaman, “Thallo, jangan lupa membawanya ke perpustakaan kita kalau kau sudah mengajaknya berkeliling. Dia harus tahu peraturan di sini..” ujar Dewi Karpo seraya meninggalkanku dan melanjutkan kembali aktifitasnya.

“kalian punya perpustakaan..?” akhirnya aku mulai membuka mulutku saat kami sudah jauh dari tempat Dewi Karpo.

“kami termasuk Horai baru di sini. Jadi, kami masih harus sering membaca buku peraturan tentang pembagian musim di bumimu..” jelasnya.

Aku membentuk huruf ‘o’ dengan bibirku, “wah, dingin sekali disini..” ujarku seraya menelungkupkan kedua tanganku memeluk diriku sendiri.

“ini dunia musim dingin. Dewi pengaturnya adalah Dewi Auxesia. Dia sedikit pendiam dibanding yang lain..” bisik Thallo padaku.

“Auxesia, kau mau melihat pengunjung baru di sini..?” tanya Thallo bersemangat. Dewi Auxesia itu membalikkan badannya. Aku terkesima melihat kesempurnaan dirinya. Ia memakai gaun putih salju juga mahkota yang rasanya terbuat dari salju dingin ini. Rambut panjangnya yang hanya diikat dengan sebuah pita berwarna sepadan. Putih salju. Dan Semua yang ada dalam dirinya membuatku terpukau, jauh melebihi keterpukauanku melihat 3 Dewi musim sebelumnya.

“maaf mengganggu..” ujarku padanya. Ia menatapku dengan seksama, namun kemudian berlalu pergi tanpa berbicara sepatah katapun.

* * *

hari kedua di dunia baruku…

Kakiku menuntunku ke tempat Dewi Auxesia. Entahlah, apa yang membuatku ingin kembali ke sana lagi. Padahal aku bisa saja kembali ke tempat dewi Thallo yang jelas-jelas bisa menerimaku dibanding dewi-dewi lainnya.

Ya, aku melihatnya..

Aku melihatnya sedang terduduk di salah satu bangku di dunianya. Dunia musim dinginnya.

“apakah aku mengganggu..?” tanyaku memecah lamunannya.

Ia membalikkan wajahnya dan menatapku, “sedang apa kau disini..?”

“menikmati musim dingin yang lebih cepat dari yang seharusnya terjadi.. Aku Min Ho..”

“kau pasti sudah tahu namaku dari Thallo..” ujarnya. Ia melanjutkan kembali lamunannya.

“dewi Auxesia..”

“cukup panggil Auxesia saja. Aku tak pantas memakai embel-embel Dewi didepan namaku..” selanya.

“wae..?”

“karena aku merasa seperti itu. Apa kau suka dengan musim dingin..?”

“tentu saja. Aku menyukainya..”

dan akhirnya, kami terlibat pembicaraan yang sangat hangat. dan walaupun aku berada dalam dunia musim dingin, aku tak pernah merasa menggigil kedinginan karena sepertinya ada reaksi kimia yang hebat terjadi di dalam diriku hingga membuatku tak kedinginan.

sejak hari itu, aku selalu menghabiskan waktuku bersama Auxesia. Melihatnya menari menurunkan butir-butir salju putih yang begitu dingin, atau hanya sekedar melihatnya melamun. Walaupun terkadang, ia mengacuhkanku tapi entah mengapa itu malah membuatku ingin selalu berada di sampingnya.

satu hal lagi, Melihatnya menari menurunkan salju membuat hatiku begitu tenang. Sebuah tarian alam yang begitu indah. tak pernah sedetikpun terfikir di benakku untuk meninggalkannya. Meninggalkan sentuhan keindahan ini. Meninggalkan butiran salju yang kini terasa hangat untukku. Atau mungkin, aku takut kehilangan waktu sedetikpun tanpanya.. Tanpa Auxesia.

* * *

“Min Ho, maaf.. Portal dimensinya belum bisa beroperasi dengan baik kembali. Dimensi ruang dan waktu antara bumimu dan dunia ini sering tak terkontrol. Bisakah kau bersabar menunggu..?” tanya Thallo saat aku baru saja keluar dari pondok kecil yang dibuat Dewi Karpo.

“tak masalah.. Tapi, aku sudah berminggu-minggu disini..? Apa orang tuaku tak mencariku..?” tanyaku kalut.

“tenanglah. Di dunia ini dan bumimu memiliki perbedaan waktu yang jauh.  Kalau dihitung-hitung, bila di sini seminggu, maka di duniamu hanya sejam.. Jadi, kau tak perlu khawatir..” ujarnya tenang. “pergilah ke perpustakaan, kau harus membaca sesuatu di sana..” saran Thallo padaku.

Dan akhirnya, setelah ku fikir-fikir, tak buruk juga membaca buku di perpustakaan dewi-dewi musim ini..

Aku melangkahkan kakiku menju koridor panjang di perpustakaan yang lumayan besar ini. Tak ada satu penjagapun di sana. Setelah menimbang sejenak, aku memilih mengambil buku peraturan Dewi Musim dan mendudukkan diriku di salah satu bangku yang langsung menghadap ke arah dunia Dewi Auxesia. Menatapnya yang sedang menari kembali dalam dunianya.

Sambil melihatnya, aku membuka lembar demi lembar buku besar dan tebal yang berada di depanku. Tak ada yang menarik di sana. Tapi kemudian, mataku tertarik pada beberapa kalimat yang digaris bawahi dengan cukup tebal. Seolah-olah, siapapun yang membuka lembar ini, mau tak mau harus membaca kalimat itu. Aku membaca kalimat itu dengan perlahan, dan mataku membulat saking kagetnya saat membaca kalimat itu. Bahkan aku perlu mengeja kalimat itu dalam otakku untuk meyakinkan hatiku bahwa aku tak salah lihat. Aku tahu sekarang, mengapa Thallo menyuruhku membaca buku di sini.. Aku tahu..

“rupanya kau disini Min Ho..” aku membalikkan badanku dan menemukan Karpo sedang berdiri di belakangku dengan tenang. “kau sudah membaca buku itu rupanya..” ujarnya seraya memandang buku besar yang tadi berhasil membuatku stress mendadak.

Aku hanya mengangguk menjawab pertanyaan Karpo padaku. Entahlah, kurasa aku sudah kehabisan kata sekarang.

* * *

membiarkan dunia indah ini binasa..? Dunia seindah ini harus di pertaruhkan..? Apa yang harus ku pilih..? Perasaankukah..? Atau..?

“kau kenapa..? Mulai kedinginan di sini..?” ledek Auxesia saat aku mengunjungi dirinya untuk yang kesekian kalinya.

“tidak. Aku tak pernah kedinginan di sini karena ada..” aku menghentikan ucapanku sebelum aku menghancurkan semuanya.

Dan akhirnya.. Diam..

Tak ada yang saling berbicara.. Hanya terdengar hembusan angin dingin yang baru berhasil membuatku kedinginan.

“mengapa kau menyukai musim dingin..? Bukankah musim dingin sangat menjengkelkan karena tak ada sinar matahari yang bisa membuatmu hangat..?” tanya Auxesia pelan.

“siapa bilang musim dingin begitu dingin..? Malah, aku baru menyadari sekarang bahwa musim dingin bisa menjadi hangat bila kita berada di samping orang yang kita cintai..” jawabku seraya mencuri pandang ke arahnya yang sedang melamun. “Auxesia, pernahkah kau turun ke bumi..?” sambungku.

“he..? Apa..? Aku..? Turun ke bumi..? A..tak pernah..” aku memandangnya terheran, baru kali ini aku melihatnya begitu gugup menjawab pertanyaanku. Padahal biasanya ia menjawab pertanyaanku dengan mudah dan cenderung dingin.

Hening kembali..

Tak ada yang berbicara satupun..

Kami terlalu sibuk dengan pikiran kami masing-masing.

“Min Ho, Auxesia.. Bisakah kalian datang ke aula..? Minerva ingin membicarakan masalah Min Ho..” panggil Auxo. Kami berdua saling berpandangan dan akhirnya mengikuti Auxo dari belakang.

* * *

“kemungkinan portal dimensi menuju duniamu akan terbuka esok saat tengah hari…” ujar Dewi Minerva pada semua yang berkumpul-khusunya aku.

“apa aku bisa kembali ke mari suatu hari nanti..?” tanyaku dengan hati-hati. Seluruh mata kini memandangku dengan heran. Tapi, biarlah.. Aku memang ingin kembali kemari, suatu hari nanti..

“hanya jika portal dimensi itu rusak kembali. Tapi kemungkinan rusaknya, sangat kecil sekarang. Jadi, lupakan impianmu untuk berkunjung ke mari lagi. Beberapa minggu ini sangat menyenangkan bukan..? Kau sudah banyak belajar. Namun, saat kau melewati portal dimensi itu, ku rasa kau akan kehilangan ingatanmu tentang dunia ini…” jelas Minerva datar. Aku shock, entah harus berbuat apa sekarang..? Kehilangan ingatan yang begitu indah ini..? Shirro..!!! Bagaimana mungkin ini akan terjadi padaku..?

“senang melihatmu di sini..” ujar Thallo.

“ya, walaupun aku tak terlalu dekat denganmu, tapi setidaknya kau sudah memberitahuku masalah bumimu itu..” ujar Auxo seraya menjabat tanganku.

“aku masih pantas bersanding dengannya bukan..?” tanya Karpo yang dijawab tawa oleh yang lainnya, “kau bisa membatalkan perjalananmu kembali ke Bumi, dan tetap di sini..” goda Karpo. Tapi, bisakah aku..? Bagaimana nasib teman-temanku..? Keluargaku..? Tim basketku bila aku tak kembali..???

“mana Auxesia..?” tanya Auxo setelah celingukan mencari Auxesia.

“entahlah. Mungkin sedang menyendiri. Itu kan kesukaannya..setelah ia turun ke Bumi, ia lebih sering menyendiri seperti itu..” jawab Thallo.

“turun ke bumi..? Maksudmu, ia pernah ke Bumi..? Untuk apa..?” tanyaku penasaran.

“entahlah..” jawab mereka serempak.

* * *

malam ini, aku terduduk menyepi dalam pondokku. Rasanya baru kemarin, aku kemari.. Rasanya baru kemarin aku menyadari perasaan baruku. Perasaan yang melebihi kata kagum, ataupun suka. Perasaan baru yang begitu sukar untuk dijelaskan, apalagi bila itu untuk orang yang tak akan mungkin dan takkan pernah kau miliki.

“Min Ho, kau sudah tidur..?” tanya seseorang yang ku yakini adalah Thallo. Ia menyibakkan tirai dari dedaunan coklat yang menjadi pintu pondokku, dan mendapatiku sedang merana memikirkan perasaanku. Haruskah aku mementingkan egoku sendiri..? Haruskah aku membiarkan semua ini berlalu seperti angin lalu yang akan menerbangkan semua ingatan, kenangan, dan perasaanku padanya..??

“kau harus ikut aku..” ajak Thallo. Ia menarik tanganku dan membawaku ke sebuah hamparan padang rumput yang luas. Di sana sudah ada Auxo dan Karpo yang menungguku.

“kita mau apa..?”

“merayakan perpisahanmu..” ujar Thallo bersemangat. “duduk dan perhatikan saja..”

aku mengikuti perintah Thallo dan duduk di sebuah dahan pohon yang lumayan besar. Melihat Thallo, Auxo, dan Karpo yang berlari ke arah tengah padang rumput yang luas ini. Setelah itu, Thallo dan Auxo mulai menari di sana. Seperti ada ribuan bintang di kakinya yang menari dengan lincah di antara rumput-rumput ilalang dan diikuti oleh berkembangnya satu demi satu bunga yang indah. Setelah itu, Karpo mulai ikut menari.. Dedaunan di dahan pohon mulai menguning dan gugur satu persatu ditiup angin.

Sangat indah..

Hanya itu yang bisa ku ungkapkan..

Aku tak pernah merasakan indahnya menjalani musim secara bersamaan dalam waktu yang dekat. Melihat bunga-bunga tumbuh secara ajaib dan langsung gugur tertiup angin. Semacam rotasi yang terus berlanjut. Dan andai saja, dia ada di sini.. Semuanya akan sangat sempurna. Melihatnya menari untuk yang terakhir kalinya, dan mencoba menyimpan kenangan akan dirinya dengan baik dalam hatiku.

“terima kasih.. Aku tak akan pernah melupakan hari ini. Melewati portal dimensi dan sampai kesini adalah anugerah terindah yang ku dapatkan..” ujarku. Mereka bertiga mengangguk-angguk senang.

* * *

hari ini hari terakhir..

Rasanya aku tak ingin menyebutnya hari terakhir. Aku masih ingin disini. Menikmati semua keindahan. Banyak pelajaran yang ku dapat dari sini. Tak seharusnya aku menjadi orang yang memiliki rasa kompetitif yang tinggi, tak seharusnya aku menjadi orang yang terlalu dingin. Seharusnya semua seimbang. Aku harus menjadi orang yang ceria seceria Thallo dan Auxo seperti musim semi dan panas yang memberikan banyak keindahan dan kebahagiaan bagi orang lain. Seharusnya aku menjadi orang yang lebih tenang seperti Karpo dan musim gugurnya, juga seharusnya aku mengikuti arah takdir seperti dedaunan yang tertiup angin. dan tentunya, semua tak akan seimbang tanpa sifat asliku. Dingin dan selalu mencoba stay cool. Tapi baru ku sadari sekarang, seharusnya di balik sifatku itu aku bisa menjadi tempat yang hangat untuk orang yang ku cintai. Sama sepertinya.

“sudah siap..?” tanya Minerva memecah pikiran-pikiranku. Aku mengangguk ragu.

“sebelum kau pergi, datanglah ke tempat Auxesia untuk terakhir kalinya..” pesan Karpo padaku. Aku menatapnya bingung, dan tanpa berpikir panjang, aku langsung berlari ke dunianya. Dunia musim dinginnya.

“Auxesia.. Kau mendengarku bukan..?” teriakku. Tak ku sangka, ia mengubah cuaca di dunianya. Ia membuat dunianya tertutup badai salju yang hebat. “auxesia..” panggilku kembali.

Masih tak ada jawaban…

“auxesia.. Aku tahu kau mendengarku, tunjukkan dirimu sekali saja padaku. Aku akan pergi..” teriakku kembali.

Masih tak ada jawaban.

Namun sedetik kemudian, aku melihat siluet sosok Auxesia di balik badai salju yang hebat. Siluetnya yang sedang mematung menatap ke arahku. “auxesia..” panggilku dengan suara tercekat, “terima kasih untuk semuanya..aku takkan melupakanmu..” ujarku seraya berjalan mundur dari dunianya.

Namun, Baru beberapa langkah aku berjalan, angin dingin menyergapku dan menerbangkan seutas tali pita putih padaku. tali pita yang ku ingat adalah milik Auxesia. Aku menatap siluetnya kembali untuk yang terakhir kalinya..

Ya, aku akan selalu seperti ini. Aku akan selalu kalah. dan kali ini, aku kalah dalam mengatasi perasaanku sendiri.

“selamat tinggal Min Ho..” ujar Thallo, Auxo, dan Karpo. Sementara Minerva hanya tersenyum ramah padaku.

Aku menghela nafasku dan mencoba tersenyum ke arah mereka, “cobalah buat bunga bermekaran dengan indah di pekarangan rumahku nanti Thallo. Kau Auxo, sebisa mungkin, jangan buat bumi terlalu panas..” mereka berdua membentuk OK dengan telunjuk dan ibu jari mereka.

“kau Karpo, jangan buat daun berguguran dan terbawa angin ke depan rumahku. Aku lelah membersihkannya..” ujarku diselingi tawa garingku. “selamat tinggal..” pamitku.

“terimakasih untuk tak membinasakan dunia ini Min Ho.. Terimakasih atas penggadaian perasaanmu. Kami berhutang padamu..” sela Karpo saat aku ingin masuk ke dalam portal itu.

Aku memandangnya dengan senyuman seikhlas mungkin, “apapun akan ku lakukan asal dunia ini tak binasa karena perasaanku yang salah.. Selamat tinggal..” ujarku seraya masuk kembali ke dalam portal dimensi hitam seperti dulu.

* * *

aku mengerjapkan mataku saat aku baru bangun dari mimpi konyolku. Aku memandang ke arah luar jendelaku. mimpikah aku barusan..?

Beberapa bulan kemudian~…

Aku berjalan dengan terseok-seok karena salju yang menghambat kakiku. Bayangkan saja, Setiap aku membuka mulutku, selalu saja ada uap yang berhembus. Sebegini dinginnyakah musim dingin..?

Aku mengistirahatkan diriku di bangku besar yang berada di taman. Menatap langit di atasku yang menumpahkan butir-butir salju yang indah. Butir-butir salju yang saling menyusul turun seperti sebuah tarian yang indah..

Aku menghela nafasku..

‘Apa yang sedang ia lakukan di sana..?

Adakah ia melihatku di sini..?’ tanyaku dalam hati.

Sebuah butiran salju jatuh ke tanganku. Aku tersenyum miris menatap butiran salju itu. Salju itu membuatku mengingatnya. Salju itu membawa ingatanku kembali. Salju itu menandakan bahwa ia sedang melihatku. Ya.., Auxesia-ku..

Aku merogoh saku jaketku dan mengambil seutas tali pita berwarna putih. Memandangnya sambil sesekali tersenyum sendiri..

Aku tahu, mengapa aku tak bisa menghilangkan ingatan tentang Auxesia.. Itu karena aku bukan hanya menyimpan semua kenangan tentang dirinya dalam pikiranku, tapi aku juga menyimpannya dengan rapi didalam hatiku. Satu kenangan yang takkan lekang oleh apapun juga, karena aku mencintainya dengan hatiku seutuhnya sehingga takkan kubiarkan kenangannya mati begitu saja.

Dan kini, aku menyadari satu hal lagi.. Musim dinginku tahun ini adalah musim dingin terhangat karena aku memiliki orang yang ku cintai dengan sepenuh hatiku. Walau aku tak akan pernah memilikinya selamanya…

* * *

THE END…

FF Fantasy teraneh.. -.-’

Jangan lupa comment ya..

Kamsahamnida….

Advertisements

22 responses to “[Oneshot] Warm’s Winter

  1. Ne sai.. 🙂
    Hbis’a mitologi yunani paling keren lw d’jadikan nama” cast..
    Hhi.. 😀
    Kamsahmnida ya chand udah baca.. 🙂

  2. Onn, jd itu tuh mimpi ya?? Kan kata Minho dia bangun dr mimpinya yg konyol

  3. Huhu..
    Annio..
    Gini, gini..
    Jadi, pas minho masuk kembali dalam portal itu, dia bakal kembali ke masanya dia sebelom masuk ke dunia musim itu. Jadi, secara gak langsung, dy kembali ke saat dia masih tidur..
    Gitu.. ^^
    Semoga bsa d’terima..

  4. Yg d’baca minho itw adalah catatan sejarah..
    Yg jelas inti catatan itu adalah barang siapa yg tinggal d’dunia itu dan memiliki perasaan baru berupa cinta, dia sendirilah yang akan memusnahkan dunia musim itw.. 🙂

    Kamsahamnida dah baca+comment.. 🙂

  5. aku bingung.. auxesia pernah ke bumi sebelumnya, terus dia berubah.
    apa dia ketemu minho waktu dia ke bumi itu?
    ato minho sama auxesia jatuh cinta di negeri musim itu?
    aku bingung sm ceritanya -______-

  6. Keren ceritanya. Penggambaran dunia musim kayanya sangat indah, yaaahh walaupun menurut logika sih ini semua kan fantasy.. tapi bila harus mengorbankan cinta, ini berat yah buat minho. Aku bener2 suka, ide ceritanya bagus. Penyampaian ceritanya jg gak seperti alur yg cepat, semuanya pas. ^^9

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s