one chance for me, please..

Author : Keychand

Cast : Lee Jinki, Park Shinri

OC : Lee taemin, Song Yumin

Rating : PG-13

Genre : Romance, Friendship

Length : Oneshot (Sekuel of I love u both)

Sudah 1 bulan aku meratapi rasa sakit hatiku, dan sudah 1 bulan juga taemin dan yumin berpacaran. Sejak mereka berpacaran, yumin terlihat lebih ceria dan bahagia. Ia selalu tersenyum dan tertawa setiap hari. Jarang sekali ia terlihat sesenang itu. Tapi entah kenapa rasanya keadaan kami terbalik sekarang.

Biasanya dulu aku yang bersikap seperti yumin, ceria, bahagia dan selalu tersenyum. Dan yumin yang lebih banyak diam dan menjadi pendengar setia, walau terkadang tersenyum mendengar ceritaku atau tertawa saat aku menunjukkan wajah kesalku.

Tapi sekarang, yumin ada diposisiku dan aku ada diposisi yumin. Beginikah rasanya berada diposisi yumin? Selalu tersenyum walau sebenarnya hati ini merasa amat sakit. Aku baru tau bagaimana sulitnya yumin menahan perasaan cintanya pada taemin selama ini karna tau aku menyukainya juga.

Tapi jujur, aku juga masih menyukai taemin, bukan hanya menyukai, tapi benar-benar mencintainya. Rasanya sangat sakit melihat orang yang kucintai tertawa bahagia dengan sahabatku sendiri. Kenapa bukan aku yang ada disamping taemin? Kenapa bukan aku yang berjalan disamping taemin? Kenapa harus orang lain?!

Tapi aku harus sadar, yumin sahabatku. Aku sudah terlalu sering membuatnya mengalah demi aku, sekarang saatnya yumin merasakan bahagia. Ia sudah bahagia sekarang dengan namjachingu-nya, dan aku harus merelakannya. Aku sudah menyuruhnya untuk bahagia, dan sekarang ia sudah bahagia, aku tak boleh menyesal sudah melakukan semua ini.

“shinri-ah..” seseorang menepuk pundakku pelan dan segera mengambil posisi duduk disampingku. Aku menoleh kearahnya dan memasang senyum seperti biasanya.

“kau sedang apa?” aku hanya menggeleng pelan sembari tetap tersenyum menjawab pertanyaannya.

“ada apa denganmu shinri-ah?” ia mulai memandang penuh selidik padaku,

“memangnya aku kenapa?” tanyaku pura-pura tak mengerti

“akhir-akhir ini kau jadi pendiam dan sering menyendiri ditaman, kau ada masalah?”

“anniyo, nan gwenchana, kau ini berlebihan sekali…” ia diam menelisik ucapanku, aku terus memasang senyum andalanku supaya ia percaya.

“baiklah, aku percaya padamu, kau pasti takkan berbohong padaku. Kita kan sahabat..” ia merangkul pundakku mendekatkanku padanya.

“ah, aku baru ingat..”

“mwo?”

“pulang sekolah nanti kau ikut kami ke toko buku ya..” aku tau yang ia maksud dengan kami –yumin dan taemin- dan ia sudah sering mengajakku untuk pergi dengan mereka. Tapi lebih sering aku menolaknya, mungkin karna aku masih belum terima kenyataan ini.

“mianhae, tapi..”

“jangan mencari alasan terus, kau sudah sering menolak ajakan kami..”

“tapi aku benar-benar tak bisa. Aku sudah ada janji bertemu dengan dongsaeng-ku, kau tau kan aku sulit sekali bertemu dengan dongsaengku. Jadi mana mungkin aku menyia-nyiakan kesempatan ini..” lagi-lagi aku berbohong pada sahabatku sendiri. Ah sial, sudah berapa kali aku berbohong, makin bertumpuk saja dosaku.

“ah, geurae..” bisa kulihat wajah kecewa yumin begitu jelas terpasang, aku meraih tangannya dan menggenggamnya dengan dua tanganku.

“mianhae yumin-ah, jeongmal mianhae..” ia sedikit tersontak kaget saat kuperlakukan seperti itu, tapi ia langsung mengumbar senyum manisnya.

“gwenchana, sampaikan salamku pada yeodongsaeng-mu..” jawabnya manis, aku tersenyum lantas mengangguk mengiyakan sesuatu yang sepertinya sama sekali tak akan terjadi.

“kalau begitu aku kembali dulu ya, taemin sudah menungguku..” ia memegang pundakku, aku kembali mengangguk mengiyakan dan masih memasang senyum padanya. Ia tersenyum dan berlari meninggalkanku sendiri, sampai akhirnya ia tak terlihat lagi senyum manisku berubah menjadi senyuman pahit.

“aku senang kau bahagia yumin-ah..” aku bergumam pelan sekali menatap kosong kedepan.

*

Bel pulang sekolah berbunyi, aku membereskan barang-barangku dengan malas, sama sekali tak ada semangat hidup.

“shinri-ah, aku duluan ya, jangan lupa sampaikan salamku pada yeodongsaeng-mu..” yumin menepuk pundakku pelan, aku mengangguk mengerti

“sampaikan maafku pada taemin tak bisa ikut kalian, bersenang-senanglah..” balasku sekenanya.

“ne, annyeong..” ia melambaikan tangannya padaku dan berjalan keluar kelas. Untuk beberapa saat aku terus memandangi pintu kelas yang banyak dilalui murid sekelasku. Tapi aku kembali meneruskan membereskan barangku dan segera pulang kerumah.

Entah kenapa rasanya hari ini aku sedang malas naik bis, padahal dulu aku paling malas jalan kaki. Capek dan pegal. Itu alasan utamaku. Tapi hari ini aku benar-benar lupa alasan utamaku itu, aku Cuma ingin jalan kaki pulang kerumahku. Itu saja.

Aku berjalan ditrotoar, banyak sekali deretan toko yang kulalui, tapi entah kenapa tak ada satupun yang menarik minat belanjaku keluar. Biarlah, penghematan, aku sudah terlalu sering menghamburkan uang. Aku terus berjalan hingga akhirnya aku duduk sebentar disebuah kursi dipinggir jalan, tepatnya didepan sebuah kedai es krim. Tapi aku bukan mau beli es krim, aku Cuma mau duduk disana saja, lagipula tak ada siapapun kecuali aku yang duduk dikursi itu. Aku duduk disana, menatapi jalanan yang padat dengan kendaraan pribadi dan jalur khusus bus.

“silyehada..” tiba-tiba saja sebuah suara menggema ditelingaku, aku langsung menoleh pada asal suara itu, seorang namja.

“mau es krim tidak?” namja itu menyodorkan satu cup berisi es krim rasa strawberry -kalau boleh kutebak-. Aku menatapnya heran, tapi ia malah tersenyum padaku. Aneh,

“kulihat daritadi kau melamun terus, daripada melamun lebih baik kau makan es krim saja..” aku masih menatapnya heran, ada dua eskrim dikedua tangannya. Ada apa sih dengan namja ini?

“sekalian temani aku makan es krim, aku paling tidak suka makan es krim sendirian. Mau kan?” ia kembali menyodorkan cup es krim itu. Akhirnya dengan ragu-ragu aku menerimanya dan meihat isinya, benar kan es krim rasa strawberry. Tapi apa jangan-jangan namja ini mau meracuniku?!

“aku benar-benar Cuma mau makan es krim, memangnya tampangku seperti tampang orang jahat ya?” seperti bisa membaca pikiranku, namja itu berceloteh dengan polosnya dan memamerkan mata yang penuh kejujuran, -itu menurutku-

“anniyo, gomawo” jawabku singkat lantas kembali memperhatikan es krim itu.

“ayo dimakan, es krimnya enak lho..” suruhnya dengan ceria, aku menatapnya sekilas dan mengangguk kecil lantas mulai menyendok es krim itu dan melahapnya. Lumayan, sudah lama aku tak makan es krim.

“ottokhaeyo? Enak kan?” tanyanya sedikit melirikku masih sambil melahap es krimnya. Aku mengangguk mengiyakan dan tersenyum padanya, sudah lama pula aku tak tersenyum manja seperti ini.

“gomawo, sudah lama aku tak makan es krim,,” tiba-tiba kalimat itu meluncur dari mulutku.

“jinjja? Aneh sekali, biasanya anak sekolahan sepertimu senang sekali makan es krim..” ucapnya tak percaya, aku mengangguk mengiyakan.

“memang, dulu aku senang sekali makan es krim, bahkan dengan chingu-ku. Tapi sudah lama aku tak makan es krim dengannya..”

“wae?”

“karna dia sudah punya namjachingu..” uh, shit! Aku kelepasan, gara-gara ucapanku sendiri aku jadi kembali teringat pada taemin. Sedang apa mereka sekarang, pasti sedang tertawa bahagia dan sesekali taemin menggodai yumin. Ah tidak-tidak! Panas aku membayangkannya.

“lalu? Dia melupakanmu?” aku menggeleng cepat, aku harus pergi darisini sebelum ia mulai berkoar-koar kembali menggali masalahku.

“mianhae, aku harus pulang. Gomawo atas traktiran es krimnya..” aku berdiri dan menyampirkan tasku lantas membungkuk.

“annyeong..” belum sempat ia berbicara aku sudah berlalu pergi meninggalkannya dengan cepat. Masa bodohlah dengan namja itu, hanya orang yang numpang lewat dicerita hidupku saja.

“ya! chankamayyo!” aku mendengar teriakan seorang namja dari jauh. Perasaanku mengatakan kalau itu namja yang tadi. Aku mempercepat langkahku, sedikit berlari sekarang. Mau apa sih dia sampai mengejarku begitu?!

“Ya!” ia berhasil menahan tanganku, dan membuatku berbalik menghadapnya. Cepat sekali larinya, wajahnya saja sampai merah begitu, jelas sekali gara-gara kulitnya yang putih itu.

“kau ini main pergi saja, aku Cuma mau mengucapkan terimakasih. Ini..” ia menyodorkan sebuah kartu padaku,

“kapan-kapan main keapartemenku ya, akan kubuatkan coklat terenak untukmu..” ia tersenyum manis padaku, aku menatapnya heran. Masih bernafas dengan tak teratur pula,

“lee jinki imnida..” sekarang ia menyodorkan tangannya, menunggu jabatan tangan dariku. Aku kembali menatapnya dengan pandangan menyelidik, ia membalas tatapanku dengan mengangkat sebelah alisnya.

“park shinri imnida..” balasku akhirnya menerima jabatan tangannya, senyumnya semakin merekah setelah menungguku cukup lama.

“baiklah, shinri-ah, kapan-kapan datang keapartemenku atau hubungi aku ya..” ia mengatakannya sambil mengacak rambutku lembut, wajahnya tak pernah surut dari senyuman, dan setelah kuperhatikan ia punya gigi seperti kelinci. Lucu, hihi..^^

“kalau begitu, terimakasih atas pertemuan hari ini..” sekarang giliran ia yang membungkukkan badannya dihadapanku, masih sambil tersenyum pula.

“annyeong shinri-ah..” Ia melambaikan tangannya dan berjalan meninggalkanku. Aku masih terpaku ditempatku, memandang punggungnya berjalan menjauh. Kemudian, kupandangi kartu yang ada ditanganku itu. Ada nama namja itu, Lee jinki. Juga alamat apartemen dan nomer ponselnya. Terlalu polos, apa ia tak takut kalau aku ini bisa saja orang jahat dan mengganggunya. Ia juga terlalu baik dan ramah. Ah, sudahlah, bukan urusanku. Cepat pulang dan kerjakan tugas.

*

Pagi ini seperti biasanya aku datang kesekolah, dan tumben sekali aku datang pagi, jadi sekolah masih sepi. Aku berjalan menuju kelasku dan menyimpan tasku. Sepi, tak ada yang bisa diajak ngobrol. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi keruang olahraga. Aneh juga, tapi aku Cuma ingin kesana.

Aku masuk keruangan itu dan berdiri menghadap jendela yang memperlihatkan lapangan sekolah. Masih sepi, baru ada beberapa murid yang memasuki gerbang sekolah. Aku terus menatap kebawah,sampai tak sadar bahwa penghuni favorit tempat ini datang.

“shinri-ah..” panggil seseorang dibelakangku. Aku merasa familiar dengan suara itu, perlahan aku memutar tubuhku dan mendapati seorang namja berdiri didepanku dengan seragam yang sama denganku dan menenteng tas sekolahnya. Ia tampak kaget sekaligus heran melihatku ada disini, aku juga, aku baru ingat kalau ini tempat favoritnya.

“taemin-ah..”

“tumben sekali kau ada disini pagi-pagi, apa yang kau lakukan?” ia berjalan mendekati dan melepas tasnya kelantai.

“anniyo, aku Cuma ingin kesini saja..” jawabku sekenanya, aku masih memperhatikannya yang sudah berdiri disampingku dan menatap kearah lapangan.

Tiba-tiba suasana mendadak sepi, aku tak tau harus bicara apa, dan sepertinya taemin juga begitu. Lagipula kenapa aku tak pergi dari sini saja sih.

“bagaimana keadaanmu?” tiba-tiba taemin bertanya dengan nada ragu-ragu.

“eh?”

“apa kau sudah baikan dengan yumin?”

“memangnya aku marahan dengannya? Tidak..”

“apa kau masih menyukaiku?” ‘degg’ wuhuuw! Angin apa yang membuatnya bisa bertanya hal se-sensitif itu?! Aku termangu mendengarnya, harus kujawab apa. Kalau boleh jujur, tentu saja aku masih menyukaimu, sangat.

“aku-“

“tolong lupakan aku shinri-ah..” aku belum selesai menjawab, tapi ia sudah memotong ucapanku. Aku menatapnya bingung,

“aku sudah bahagia dengan yumin, bukankah itu yang kau mau? Melihat sahabatmu bahagia, walaupun harus merelakan seseorang..” aku semakin terdiam, tapi aku merasa sakit taemin-ah! Tidakkah kau merasakan itu?!

“maaf membuatmu merasa sakit, tapi ada kalanya manusia merasakan apa itu sakit, perih, sedih, bahagia, senang, dan yang lainnya..” mataku memanas, cukup untuk celotehanmu itu lee taemin. Aku muak.

“aku mohon lepaskan aku..” ia kembali berucap, sekarang air mataku menetes cepat meluncur dipipiku.

“akan kulakukan lee taemin, apapun untukmu, karna aku mencintaimu, karna aku menyukaimu. Juga untuk sahabatku yumin, aku akan merelakan perasaanku ini, apapun akan kulakukan untuk orang yang kucintai!” aku menatapnya tajam, sesekali kuusap airmata yang menetes dari mataku.

“gomawo..” ia menoleh padaku dan melempar senyum manisnya padaku. Dan tanpa diduga ia menarikku dalam dekapannya, aku terhenyak diposisiku, tak bisa melawan juga tak bisa menerima.

“gomawo, akan kupastikan yumin bahagia denganku. Aku takkan pernah menyakitinya, nan yaksokhae..” ia mengusap kepalaku lembut, aku runtuh, aku amat ingin selalu mendapatkan perlakuan seperti ini darinya. Tangisku pecah, tak dapat lagi dibendung.

Ia melepas pelukannya, dan menghapus air mataku dengan jarinya yang besar itu. Ia menatap mataku dalam dan tersenyum,

“kau akan mendapatkan namja yang lebih baik dan mencintaimu apa adanya..” ujarnya lembut, lantas mengacak rambutku lembut.

“Kembalilah kekelas, sebentar lagi bel berbunyi..” perintahnya lantas mengambil tasnya meninggalkanku sendiri. Aku menatap punggungnya menjauh meninggalkanku, mataku kembali tergenang air mata. Dan setetes sudah jatuh lagi kepipiku. Aku menunduk, menutupi wajahku yang mulai kembali menangis, bodoh, sangat bodoh!

Aku berlari meninggalkan ruangan olahraga, bahkan aku pergi dari sekolah, tindakan bodoh yang pertama kalinya kulakukan. Aku berjalan setengah berlari dengan sesekali mengusap air mataku yang terus mengalir. Hingga akhirnya aku menabrak seseorang karna aku tak menatap kedepan.

“ah, mianhae..” suara seorang namja, ia menangkap tubuhku yang hampir terjatuh. Aku mengangguk cepat dan hendak pergi, tapi namja itu menahanku dan menyibakkan rambutku yang menghalangi wajahku.

“shinri-ah..” panggilnya mengenalku, sepertinya aku juga kenal orang ini. Aku mendongakkan kepalaku,

“jinki..” aku menghambur memeluknya dan menangis sekerasnya dalam pelukannya. Masa bodoh aku baru bertemu dengannya kemarin, aku butuh seseorang sekarang.

Ia balas memelukku, ia tampak sedikit kaget saat aku memeluknya dan menangis keras, tapi dengan cepat ia mempererat pelukannya dan mengusap-usap kepalaku.

“tenanglah, ayo kita duduk disana, jangan ditengah jalan seperti ini..” ia menarikku kepinggir jalan dan membawa kami duduk disalah satu kursi. Aku masih tersedu disana, mataku sembab, ia kembali memelukku, lama.

Hingga akhirnya tangisanku surut setelah entah berapa lama menangis, ia mulai melepas pelukannya dan menatap wajahku yang sudah kacau.

“mau ikut kepartemenku? Tak baik seorang murid berkeliaran diluar sekolah dijam belajar seperti ini..” tawarnya, aku hanya mengangguk mengiyakan. Ia menggenggam tanganku mengajakku pergi menuju apartemennya.

20 menit perjalanan, akhirnya kami sampai diapartemennya. Tak terlalu besar, juga tak terlalu kecil. Cukup untuk orang yang tinggal sendiri seperti jinki. Ia membawaku duduk disofa ruang tengah dan membawakan segelas air putih untukku. Aku menerimanya dan meminumnya sampai setengahnya dan menyimpan gelasnya diatas meja.

“mau berbagi denganku?”

“aku sakit..”

“ceritakan saja…”

Jinki P.O.V

Aku terus memperhatikan setiap kata yang keluar dari mulut yeoja yang ada dihadapaku. Yeoja yang selama setahun ini terus kuperhatikan, yeoja yang selama ini menjadi pelanggan setia kedai es krim milik ahjusshi-ku.

Wajahnya kacau, tampak lelah, matanya sembab, bibirnya kering. Ia terus bercerita bagaimana sakitnya ia tiap melihat chingu-nya bermesraan dengan seseorang yang disukainya. Tapi ia merelakannya, walau berat. Karna ia ingin sahabatnya bahagia. Sesekali air matanya kembali menetes, dan dengan cepat ia menghapusnya. Terus seperti itu sampai ia menunduk dalam dan tak berucap lagi, mungkin ceritanya sudah selesai. Aku mengelus kepalanya lembut, dan menariknya supaya bersandar dibahuku.

Ia kembali menangis, kali ini tanpa suara atau isakan tangis, air matanya merembes membasahi bajuku. Tapi aku terus mengusap kepalanya dan memeluknya hangat, membuatnya lebih tenang. Kuhapus air mata yang terus mengalir itu, dan mengecup puncak kepalanya lembut. Dan ia tak menolak.

Ini kesempatan untukku, membuktikan padanya –walau sebenarnya ia sendiri belum tau kalau aku menyukainya- bahwa aku menyayanginya, aku mencintainya. Aku ingin selalu ada disampingnya, menghapus setiap air mata yang menetes membasahi pipinya, menjaganya setiap saat. Aku tak ingin hanya menjadi temannya, aku ingin menjadi seorang lelaki, lelaki yang mencintainya apa adanya.

“kau tak bisa terus larut dalam kesedihan shinri-ah..” sekarang giliran aku yang berbicara, aku harus mengatakan ini padanya.

“sudah cukup aku melihatmu selalu murung seperti itu, dan ini adalah puncak bagiku, kau menangis terisak, terasa pedih bagiku. Kau tak bisa terus melihat kebelakang, masih ada yang menunggumu didepanmu. Masa depanmu.”

“Kau bisa menemukan seseorang yang lebih baik untukmu, tak harus ia yang kau sukai, tak juga ia yang sudah menyakitimu. Kau bisa mendapatkannya. Kau akan menemukan seseorang yang hanya melihatmu, hanya ada kau dihatinya. Kau akan menemukannya.”

“Kau tau, ini pertama kalinya aku melihatmu menangis tersedu seperti itu setelah sekian lama aku melihat wajahmu yang selalu ceria. Tapi melihatmu sekarang menangis, membuatku merasa sakit juga..”

“wae?” aku terdiam, ia juga, menunggu jawaban yang keluar dari mulutku.

“sudah lama aku memperhatikanmu, melihatmu tertawa bersama sahabatmu. Menikmati satu cup besar es krim strawberry kesukaanmu. Hampir satu tahun..”

“1 tahun?” aku mengangguk mengiyakan,

“aku pegawai dikedai es krim yang selalu kau datangi tiap pulang sekolah dengan sahabatmu. Aku yakin kau pasti takkan mengenaliku. Tak masalah, yang pasti melihatmu bisa tertawa bahagia saja aku senang. Tapi sekarang melihatmu menangis seperti ini, rasanya aku sakit sekali..”

“mianhae..”

“gwenchana, kau terlihat lebih manis saat menangis,haha..” aku tertawa pelan menjawabnya. Ia hendak melepas pelukanku, tapi aku menahannya tetap diposisi seperti itu.

“boleh aku bernyanyi?” ini saatnya, meskipun terlihat egois, tapi aku yakin ini saat yang tepat. Sudah lama aku menanti saat ini, dan sekarang saatnya sudah datang.

“hm..”

“Nan eenareul gidaryussuh nae uggaereul billyujoomyun

oonmooreul daggajoogoh

Geunyuyeh yupeh, yungwonhee gyuteh, nae jaril mandeuluh nohgosuh,

chingoo annin namjaro byunhae,

seulpeumeun ubdorog jikyuhjool gurago anajoomyuh malhalguya”
Aku terdiam, menunggu respon darinya, tapi sepertinya ia agak bingung dengan maksudku bernanyi tadi.

“give me one chance please..” ucapku berbisik ditelinganya.

“ne?”

“nan neomu saranghaeyo..” aku kembali berbisik, ia tersentak kaget. Sekarang ia benar-benar lepas dari pelukanku dan duduk dihadapanku dengan pandangan tak percaya.

“kau tau, ingin rasanya aku menjadi tempat yang nyaman untukmu bersandar, aku ingin jadi pelindungmu, aku ingin menjadi namja yang bisa kau percaya dan membuatmu lupa akan segala hal yang membuat hatimu sedih. Kau adalah satu-satunya untukku” you’re the one for me!

Ia masih terdiam kaku menatapku tak percaya, aku tersenyum padanya, mengusap kepalanya lembut. Melemparkan tatapan –kau-bisa-percaya-padaku- padanya. Sekarang aku memegang pundaknya, membuatnya lebih yakin.

“kau bisa percaya padaku. Aku akan membuat sebuah rumah dihatimu, rumah yang tak ada seorangpun bisa merusaknya. Bahkan walaupun air mata membanjiri, rumah itu takkan tenggelam, aku akan membuatkan rumah yang kuat dihatimu. Aku takkan pernah meninggalkanmu, sama sekali tak akan.”

“jinki-ah, aku-“

“lupakan semua kesedihanmu, biarkan mereka bahagia, dan kau akan mendapatkan kebahagiaan dariku shinri-ah. Percayalah..” ia menunduk, tak tau harus berkata apa mungkin.

Ia mengangguk kecil, pelan sekali. Aku mengerjap, apa maksudnya..

“aku percaya padamu jinki-ah..” ia mengangkat kepalanya dan menyunggingkan senyuman manis dibibirnya. Senyumku kembali merekah, lebih lebar mungkin sekarang. Aku menariknya kedalam pelukanku, mendekapnya erat dan mengecup puncak kepalanya. Dan ia membalas pelukanku!

“jeongmal saranghaeyo, shinri-ah..”

“na do..” balasnya lembut. Aku melepas pelukanku dan memegang wajahnya dengan kedua tanganku, kudekatkan wajahnya dengan wajahku. Membuat mata kami saling berpandangan cukup lama,

“now, just look at me standing beside you, ok!” aku tersenyum padanya, ia balas tersenyum padaku dan mengangguk kecil tanda mengerti. Aku melepaskan tanganku dari wajahnya dan mengusap puncak kepalanya lembut dan kembali merengkuhnya dalam dekapanku.

The time has come,

Even though she’s in my arms, crying

It’s the time I can become a comfortable for her

I’ll become a man she can trust and forget everything else

You are the one for me.!

The love that he left in your heart is a scar.

Crazy, erase these unforgettable memories

Only love can erase the past love

Let go

Now just look at me standing beside you.


-fin-

N.B : Ottokhaeyo onnie? suka indak?mian kalo jelek.. -_-‘ . Ah, buat yang waktu itu req minta dbkinin ff yg cast’a key tapi watak’a baik siapa ya? kasi tau nama korea’a ke chand yah..

mau digarap sama chand,,hehe..

gomawo yeorobun.. 😀

Advertisements

30 responses to “one chance for me, please..

  1. Waaa~ Tadinya Shinri onnie di telantarkan *halah bahasanya* jd bareng nyu-nyu deh..^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s