Vampire’s Lonely Heart (oneshoot)

(Yeorubun, annyeong haseyo, ini ff kedua yang aku bikin. Lagi-lagi tokoh utamanya dari SHINee… Lagi seneng sama SHINee sih^^. Mian kalo rada geje en banyak kata-kata yang salah… Kritik, saran dan komentar sangat membantu… Hope u enjoy this!)

Vampire’s Lonely Heart
Genre : Mystery, Adventure, Family
Rating : G
Cast : Choi Minho (SHINee) as himself, Lee Jinki (SHINee) as himself, Author (myrra) as Lee Jin Hyeo,Lee Dong Hae (Super Junior) as himself, Fanny Seonbae (kakak kelas di SMP) as Park Seul Ri, Gwiboon as Lee Ji Eun, Cho Kyu Hyun (Super Junior) as himself, Choi Si Won (Super Junior) as himself and Yesung (Super Junior) as President of the Vampires.

***

Aku, Minho. Aku seorang vampire yang kesepian. Setiap hari merenung. Mencari darah hanya seminggu sekali, karena aku tak tega mengambil darah orang lain. Jika vampire lain mengambil darah dengan raut muka bengis atau semacam itu, aku tidak. Aku hanya mencari orang yang putus asa saja. Sama seperti teman dekatku, Jinki. Ia hampir senasib denganku. Hanya selang beberapa tahun. Aku dan Jinki setiap mencari darah selalu meneteskan air mata setelah mengambil darah orang tersebut. Entah mengapa… kami selalu merasa bersalah dan ingin kembali menjadi orang biasa, hanya saja takdir membuat kami jadi seperti ini.

Banyak orang yang kusayangi di luar sana… Di luar Mount Karroul yang sunyi dan suram ini.

|Minho Flashback|

Musim dingin 17 tahun lalu, 9 Desember 1993
Lee Ji Eun sonsaengnim mengelus lembut rambutku yang hitam agak diacak. Ji Eun sonsaengnim adalah guru wali kelasku. Aku selalu berjanji setiap hari takkan melupakannya seumur hidupku, meski terpisah jarak dan waktu. Aku bangkit dan sandaranku padanya dan berkata, “Sonsaengnim, Kyuhyun hyung menyukaimu,” kataku polos sambil tersenyum simpul. “Ah, Minho…. Kau ini… Memang kau sudah mengerti tentang cinta?” tanya Ji Eun sonsaengnim sambil tersenyum malu. Kulihat pipinya merona. Memang sih, saat awal bertemu, Ji Eun sonsaengnim dan Kyuhyun hyung sudah terlihat canggung. Cinta pada pandangan pertama. Ji Eun sonsaengnim memang cantik. Apalagi jika terlihat malu-malu seperti sekarang.

“Ehe, aku ‘kan sudah besar, mana mungkin aku tak mengerti, lagipula aku sudah punya Park Seul Ri di kelas XII-C ‘kan, bu….” Ji Eun sonsaengnim yang selama ini sudah kuanggap sebagai ibuku sendiri – semenjak umma dan oppa meninggal dalam kecelakaan lalu lintas beberapa bulan lalu – kembali mengacak rambutku. “Ne… sashil… nan geudega maeil saenggakhina. Aku… mencintainya juga…” “Waaa…benar dugaanku, sonsaengnim juga suka pada hyung… Sudaah, cepatlah menikah! Nanti keburu tua dan hyung dapat pasangan lain, bagaimana?” Ji Eun sonsaengnim terlihat agak mengerucutkan bibirnya. Hihi… sonsaengnim kekanak-kanakan sekali… Inilah yang membuatku selalu rindu padanya, selain kelembutan sifatnya dan rasa keibu-ibuannya yang menandingi kekanak-kanakannya yang seringkali muncul.

“Kau ini…!” Sonsaengnim tiba-tiba pergi. “Sonsaengnim…mianhae… aku…” “Diamlah dulu disini!” Kudengar dari suaranya, dia seperti pura-pura marah. Saat dia kembali, kulihat tas kulitnya sudah menggelembung. “Wae, sonsaengnim?” Ji Eun menahan tawa. “Mukamu seperti tegang, sudahlah!” Ia mengeluarkan sesuatu. Waaah… novel baru yang kudambakan! “Saengil Chukhamnida, Minho! Ini ulang tahunmu yang ke-17, ‘kaan?” “Yeee! Kamsahamnida, sonsaengnim!”

Sepulang dari sekolah, aku berjalan sambil menimang-nimang hadiah dari Ji Eun sonsaengnim. Bagus sekali…aku akan menjaganya tetap utuh sampai kapanpun. Sonsaengnim memang baik. Tanpanya di sekolah, hatiku akan selalu hampa.
Tanpa kusadari, sebuah mobil berkecepatan tinggi menabrakku. Tubuhku terpelanting ke taman di pinggir jalan. Setelah itu, aku merasa tubuhku lebih ringan. Buku yang tadi tetap terpegang erat di tanganku. Tunggu, tanganku? Kenapa sekarang tanganku terlihat tembus pandang? Kulihat orang yang tadi menabrakku.

Dia membawa tubuhku. Dan juga buku bersimbah darah dari kepalaku yang mengucur deras. Tepat saat itu Ji Eun sonsaengnim meneleponku. Yoja itu menjawabnya. “Maaf, ini dengan Lee Young Hae, saya tak sengaja menabrak murid anda… Saya akan membawanya ke rumah sakit secepat mungkin!” Kudengar suara kaget sonsaengnim yang membuatku merasa ingin memeluk dan menenangkannya. Namun, pasti, saat ini ku
tak bisa menyentuhnya…

Yoja itu kembali mengendarai mobilnya dan berkata kepada anaknya yang kelihatannnya seusia denganku. “Lee Dong Hae, awasi keadaannya!” “Ne, umma!” ucapnya tegang. Aku mengikuti mobil itu. Saat tiba di rumah sakit, aku melihat tubuhku dibawa ke ruang UGD. Ji Eun sudah datang bersama dengan Kyuhyun hyung. Ji Eun menyandarkan kepalanya di atas bahu Kyuhyun hyung. Hyung sedikit kaget, namun dengan canggung ia menyentuh kepala Ji Eun sonsaengnim. Nyonya Lee dan namja bernama Dong Hae yang tadi mengawasi tubuhku saat di mobil juga ikut duduk di ruang tunggu.

Beberapa saat kemudian, Park Seul Ri, yoja chingu-ku, datang sambil menyeka air matanya yang terus mengalir. “Son…sonsaengnim… Minho…” Ia terus menangis. Kulihat Dong Hae kaget dan melihat Seul Ri terus menerus. Ia menatap dengan tatapan bersalah. “Ma…maafkan aku… Akulah yang menabrak namja chingumu… Mianhae…” ucap Lee Dong Hae pada Seul Ri. Namun, Seul Ri memberontak. “Kau yang membuat Minho jadi seperti ini!” Seul Ri terus menangis di dekat Ji Eun sonsaengnim. Aku berkata, “Sudahlah, Seul Ri…kwenchanna…” Namun, nihil. Suaraku tak terdengar. Berteriak sekalipun aku takkan terdengar.

Saat kudengar dokter memastikan jiwaku tak tertolong, Seul Ri pingsan dan dibopong oleh Dong Hae. Aku sedikit cemburu. Saat kulihat Ji Eun dan Kyuhyun hyung saling berpelukkan, itu membuatku lebih baik. Mereka cocok sekali. Namun, aku masih tetap disini. Biasanya,jika di televisi, jiwaku akan melayang entah kemana. Sekarang, tidak. Aku seperti tersesat di dunia ini. Tak ada yang mendengarku.

Namun, tiba-tiba sesosok namja menarik perhatianku. Matanya yang emas kekuning-kuningan membuatku mendekati sosok itu. Saat aku berada dekat dengannya, dia berkata, “Kau tak bisa keluar dari dunia ini, ya?” Aku menjawab lemah,”Ne. Aku pun tak bisa kembali ke tubuhku.” Aku menyesali sikapku tadi, mengapa aku sampai sebegitu cerobohnya? Lalu, namja bermata aneh itu menjawab, “Ini akan sedikit sakit pada akhirnya.” Taringnya memanjang. Dia… vampire?

Lalu dengan satu gerakan cepat, dia menggigit leherku dan mengubahku menjadi sosok yang sama seperti dirinya. Awalnya tak terasa apa-apa, namun setelah lama digigitnya, aku merasa sedikit tersiksa. “Akh,” keluhku. “Bagus, sekarang kau sudah menjadi vampire seutuhnya. Oh ya, annyeong… namaku Choi Si Won. Aku akan mentransfermu ke Mount Karroul. Kau akan diberikan kemampuan sesuai dengan jubah yang ditakdirkan untuk kau pakai nanti. Setelah 10 tahun kau tinggal di sana, kau bisa menggunakan kemampuanmu kapanpun. Sekarang, tatap mukaku,” perintahnya. Aku beralih dari kulit pucatku ke arah pandangan matanya. Aku seperti terhipnotis oleh pandangannya. Sebelum mentransferku, dia berkata, “Sesampainya di sana, cari Jinki. Lee Jinki. Dia akan menjadi temanmu.” Dia menatapku lagi dan berkata, kali ini matanya berkilau-kilau. “Mount Karroul.”

Sedetik kemudian, aku berada di tempat yang asing. Kastil tua yang dikelilingi pohon redwood yang rindang. Aku masuk ke dalam kastil itu. Salah seorang vampire menyapaku. “Kau, orang baru?” “Ya.” Sesaat, ia terdiam. Saat ia terdiam, aku melihat seorang vampire lain yang kelihatannya lesu sekali. Ia terduduk di jendela nomor 3 dari ujung sayap kanan kastil ini. “Aku Yesung. Bergegaslah ke sayap kanan. Disanalah tempat vampire-vampire baru berada. Sekarang, kau temani Jinki.” Ia menunjuk vampire yang terduduk di jendela nomor 3 tadi. Oh… itu yang namanya Jinki. “Geurae,” jawabku. Yesung sshi pun berlalu.

Walau banyak vampire disini, suasananya senyap sekali. Mereka melakukan semuanya dengan diam. Mungkin ada pembicaraan, namun itu jarang sekali terjadi. Aku menyapa Jinki. “An… Annyeong.” Jinki menoleh. Lalu, ia tersenyum dan mengajakku berbincang sampai dengan penyerahan jubah. Aku diberi jubah bertatahkan permata biru safir dan perak, sementara Jinki permata emas kekuning-kuningan dan cokelat tua.

|Minho Flashback off|

Aku tersadar dari lamunanku. Jinki membuyarkan semua. “Ya chinguu, kau ini dari kemarin selalu saja termenung.” Kupikir, dari semua vampire yang ada, Jinki-lah yang paling ceria. “Umm… begitulah… aku rindu mereka semua…” “Hei, sekarang aku tahu caranya.” “Ottokhae?” “Begini, aku akan mentransfermu ke rumah Ji Eun dan kau akan bertelepati dulu dengan Taemin, keponakkanmu, disini. Kau beritahu rencanamu pada Taemin dan biarkan ia mengerti. Aku tahu dia pasti mengerti karena dia addict pada hal yang berbau vampire. Tempat kita saja pasti dia
tahu bagaimana tata letaknya.”

Aish, pabbo ya, Minho! Benar juga apa kata Jinki. “Ah, ne… Benar! Kenapa kau tak bilang padaku?” “Hehehe… baru terpikir sekarang.” Kalian pasti bertanya-tanya, kenapa kami tiba-tiba membicarakan Taemin, keponakkanku? Ya, dari cermin timeline-ku, setelah aku tak ada, Ji Eun dan Kyuhyun hyung menikah dan mempunyai anak bernama Taemin. Mereka selalu memanjatkan do’a agar aku bahagia dimanapun aku berada, meskipun mereka tak tahu aku disini. Park Seul Ri masih sedih karena kepergianku, namun lama-kelamaan dia dekat dengan Lee Dong Hae dan menikah setelah lulus kuliah. Yah… aku bersyukur sekarang ada yang menjaga Seul Ri lebih baik dari aku.

“Baik. Aku akan bertelepati dengan Taemin.” Aku menutup mataku sebentar dan mengubah warna mataku menjadi biru safir. Gelombangnya…ah, dapat! Dia baru pulang sekolah. Disini tak terlihat perbedaan siang dan malam. Selalu gelap. Aku bertelepati dengannya.

“Taemin… Taemin, ini Minho ajusshi.” Terdengar dari gelombangnya, dia kaget. Lalu mengatakan padaku,
“Apa kau bertelepati denganku lewat alam kubur?”
Aku menjawab lagi. “Bukan, ini masih di dunia, hanya saja aku berbeda wujud.”
“Kau, hantu?”
“Bukan, Taeminni… vampire.”
Taemin terdengar riang. “Hebaat,ajusshiku seorang vampire! Kau sedang di Mount Karroul, ya?”
“Ne. Ya, aku ingin mengatakan sesuatu padamu.”
“Apa itu?”
“Aku akan ditransfer oleh temanku, Jinki, ke rumahmu. Aku dan kau akan bertukar tubuh. Nanti setelah aku dan kau bertukar tubuh. Setelah kita bertukar tubuh selama 1 jam, kau dan aku akan kembali ke bentuk semula. Ara?”
“Arasseo, ajusshi!”
“Ahh…komawo, Taeminni.”
“Cheonmaneyo. Eh, tunggu sebentar.”
“Mwo?”
“Disini masih cerah, apa kau tidak takut musnah? Lebih baik tunggu satu jam lagi, ara?”
“Arasseo, Taeminni. Ingat rencana kita, jangan sampai kau lupa..”
“Ne, ajusshi! Annyeongi kashipshio! Sampai jumpa nanti!”

Semua beres… Untunglah Taemin anak yang baik dan benar-benar addict soal vampire. “Bisa, Jinki! Dia menyanggupinya!” aku berbisik senang, karena berteriak disini hanya akan menimbulkan masalah. “Tapi katanya, tunggu satu jam lagi, karena disana masih cerah.” “Oke, kita tunggu satu jam.”

Satu jam kemudian…

“Sudah satu jam… kau siap, Minho?” tanya Jinki. “Ne…aku siap.” Dia memejamkan matanya sejenak dan membuka matanya yang sudah berubah menjadi emas kekuning-kuningan. “Kediaman Cho Kyu Hyun dan Lee Ji Eun.” Jinki hilang dari pandanganku. Berganti menjadi sebuah rumah yang kukenal. Rumahku…

Anehnya, Taemin bisa melihatku dari jendela. Jadi, ia bertelepati denganku. “Ajusshi, aku di atas!” Aku menoleh kepadanya. Mata telepatiku masih aktif. “Ne, sebentar, aku akan melayang ke atas.” Aku pun melayang ke jendela Taemin dan Taemin membukanya. Aku masuk ke dalam kamarnya.

“Huuh… akhirnya ajusshi… Kau sampai juga. Aku menunggu dari tadi sambil main rubiks. Ini…rubiksmu dulu, ya?” Aku terhenyak sebentar. Memang punyaku… “Ne. Ajusshi suka memainkan ini saat ajusshi masih SMU.” “Aku bisa 8 detik, tapi kata aboji, kau bisa memecahkan ini selama 5 detik. Kau hebat!” “Hehe… siapa duluu, Minho ajusshi. Aku juga bangga padamu. Jigeum, kita jalankan rencananya.” Aku mengganti mataku menjadi perak.
Taemin melihatku takjub. Aku berkata padanya, “Ulurkan tanganmu.” Taemin menurut. Ia mengarahkan pandangannya pada pupil mataku. “Aku tahu kok. Sudah tahu ‘kan aku ini addict pada hal yang berbau vampire.” Tapi herannya, kamarnya bagus dan bergaya modern sekali. “Ayo, kita percepat,” katanya. “Nanti keburu omma dan oppa naik dan melihatku ngomong sendiri, mereka akan curiga.” Ah, ya! Aku lupa rencananya. “Geurae… Tatap mataku.” Sebuah sinar perak keluar dan kami berganti tubuh.

“Uaah, aku tak percaya ini! Aku jadi keren! (AUTHOR: Taeminnie, tanpa jadi vampire pun kau selalu kereen >m< ) Jin Hyeo pun pasti senang kalau aku begini…” “Sekarang, aku minta Jinki mendatangkanmu ke Mount Karroul. Dia sudah menunggumu di jendela nomor 3 sayap…” “Kanan. Aku tahu… Kalian ‘kan belum 50 tahun disana.” “Huu… baik.. Lebih bagus kalau kau sudah tahu.” Aku mengirim telepati ke Jinki. Semua vampire punya itu, hanya saja ada beberapa yang memiliki keahlian telepati yang lebih dalam, seperti aku. Akhirnya, Taemin yang berwujud aku pun hilang dari pandangan. Aku memainkan rubiks yang tadi diselesaikan Taemin.

“Taemin, coba aboji lihat, kau sudah selesai belum?” Ah, suara Kyuhyun hyung! Akhirnya… Aku menjawab dengan gaya khas Taemin, “Tentu saja sudaah!” Akhirnya, Kyu hyung masuk dan menepukki hasil karya Taemin tadi. “Uahh… kemampuanmu sudah meningkat rupanya. Dari dulu aboji mencobanya, namun sampai sekarang aboji hanya bisa satu layer…Coba kau lihat kemampuan Minho ajusshi, kau pasti ingin diajari olehnya…” Aku ingin berteriak, ini aku, namun itu hanya akan merusak suasana.

|Mount Karroul|

Taemin dengan wujud Minho berjalan ke arah jendela nomor 3 di sayap kanan. Mungkinkah itu Jinki ajusshi? “Annyeong,” sapa Taemin. “Ah, Taeminni, sini duduk denganku! Jendelanya lumayan besar, tenang, kau masih bisa muat.” “Mwo? Kau tahu namaku dari mana?” tanya Taemin polos. “Buat apa ajusshimu punya kekuatan telepati jika tak dipakai?” Taemin tertawa. Jinki juga tertawa kecil. Sejenak kemudian, Taemin mengerinyit. Dia seperti
seseorang…

“Apa kau… kakaknya Jin Hyeo? Lee Jin Hyeo?” tanya Taemin. Jinki terhenyak. “Itu…nama adik perempuanku?” Taemin ikut terhenyak. “Ne, kau tak tahu?” Jinki merasa matanya panas.

“Dia… akh, aku meninggal saat dia masih di dalam kandungan ibuku.” Taemin ikut terdiam. “Umm, coba aku lihat cermin timeline-mu.” Jinki terkejut. Anak ini bahkan tahu setiap vampire mempunyai cermin timeline? “Ah… geurae, omong-omong kau tahu dari mana?” “Hyung tahu sendiri ‘kan aku punya kekuatan telepati? Aku membaca gelombang pikiran pimpinan vampire yang ada disini, tapi dia ‘kan tak punya kekuatan khusus untuk telepati seperti Minho ajusshi. Dia hanya punya mata perak dan merah.” “Ne, Yesung sshi hanya punya kekuatan berpindah badan dan melambatkan waktu, jadi dia punya jatah waktu untuk menerkam mangsanya sebelum kabur.” Taemin takjub dan ternganga. “Eh, tapi dimana cerminnya?” tanya Taemin. “Ah… maaf, aku lupa… ini,” kata Jinki seraya memberikan cermin itu pada Taemin.

|Kediaman Cho Kyu Hyun|

Aku yang berada dalam tubuh Taemin sekarang merasakan hangatnya keluarga lengkap. Aku ingin menangis, namun aku tahan. Sampai akhirnya mereka membicarakanku.

“Taemin, tahukah kau, Minho ajusshi sering membaca novel, sama sepertimu.” Ji Eun menimpali, “Ne…hanya saja kau sering membeli novel misteri, dan dia… sering membeli novel yang berbau detektif… Saat eomma masih menjadi gurunya, eomma pernah membelikannya buku Alfred Hitchcock yang membuatnya sangat senang… Bahkan saat dia meninggal, dia masih memeluk erat buku itu…” Air mata Ji Eun sonsaengnim membuatku ingin menangis. Akhirnya… “Sashil…aku…”

|Mount Karroul|

Cermin timeline Jinki sudah berada di tangan Taemin. Di cermin itu menunjukkan dua hari kemarin, saat mereka jalan-jalan berdua di taman. “Ini… Lee Jin Hyeo. Dia yoja chinguku.” Jinki melihatnya dengan mata yang kabur akibat air mata yang menggenang. “Kalian…kalian sama-sama manis..” Jinki tak kuasa. Ia meneteskan air matanya. “Karena itulah aku suka padanya. Dia lebih manis daripada permen kesukaanku.” Taemin ikut bersedih. “Hyung… dia juga suka membawa fotomu kemana-mana. Saat kau tersenyum tadi… mirip sekali dengan foto yang selalu dia bawa. Senyummu… mirip dengan senyumnya…” ucap Taemin.

|Kediaman Cho Kyu Hyun|

“Sashil…aku Minho! Aku ini Minho!” Aku menghambur ke arah mereka dan menangis sejadi-jadinya. “Keadaan di Mount Karroul sangat sunyi… Aku tak bisa bertemu kalian… Aku rindu kaliaan…” Ji Eun dan Kyuhyun terhenyak sampai mereka lupa mengambil nafas. “Kau…kau Minho?” Ji Eun masih heran. “Ne! Ini aku! Aku bertukar badan dengan Taemin! Nanti tanyalah padanya! Jinjja, ini aku!” Aku masih menangis. Mereka bertukar pandang dan memelukku erat. “Minho… kami juga rindu padamu…” Ji Eun sonsaengnim memelukku erat. “Aku percaya selama ini kau belum sepenuhnya mati…” Pelukannya hangat… Aku terus menangis. “Maafkan aku…” Lalu, aku melirik jam. 15 menit lagi… Aku ingin ini untuk selamanya… Namun, aku tak bisa mengambil hak Taemin sebagai anak mereka berdua. “Kau… kau vampire?” “Ne, hyung. Tanyalah pada Taemin. Dia tahu segalanya.” Kyuhyun hyung manggut-manggut sambil terus menitikkan air mata. “Geurae… Yang penting kami bisa memelukmu…” “sampai batas waktu yang telah kutentukan.” “Mwo?”

|Mount Karroul|

“Umm… apa disini ada penunjuk waktu?” tanya Taemin pada Jinki. Setengah menangis, Jinki melirik jam pasir raksasa yang ada di ruang tengah. “Waktumu, 15 menit lagi…” Taemin mengeluh. “Padahal disini keren sekali…Aku ingin membawa Jin Hyeo kesini. Rasanya, aku tak ingin berubah.”

|Kediaman Cho Kyu Hyun|

“Batas waktu yang kau tentukan? Kenapa?” “Aku vampire, sonsaengnim… aku harus tinggal di Mount Karroul… batas maksimal seseorang untuk berubah bentuk atau bertukar badan hanya 1 jam… Karena itu… aku ingin kalian memelukku erat sampai 15 menit lagi…” Aku menangis lagi… Ayolah… Aku mencakar karpet sampai jari-jari Taemin berdarah. “Apa…apa yang lau lakukan?” “Meninggalkan jejak agar aku dapat terus kembali ke hati kalian…” Darah Taemin itu lalu dibasahi dengan air mataku yang terus menerus mengalir.

15 menit kemudian…

Cahaya perak muncul dari tubuh asliku dan Taemin. Setelah itu, aku tahu Taemin sedang berusaha menenangkan mereka dan menjelaskan apa yang terjadi, sedangkan aku masih sesenggukkan di depan Jinki. Tak lama kemudian, kami berdua menangis karena Jinki juga menceritakan tentang adiknya yang lahir dua hari setelah dia meninggal. “Adikku, Lee Jin Hyeo… tumbuh menjadi seorang gadis yang manis.” “Kalau begitu… mengapa kau tidak bertransformasi menjadi seorang namja tampan, merubah kulitmu yang pucat, menjadi dirimu seutuhnya, dan mengaku kalau kau adalah Lee Jin Ki, kakaknya?” “Apa dia percaya?” “Pasti kalau Taemin ikut menjelaskan itu padanya. Nanti aku akan menghubungi dia lagi. Bertransformasilah sekarang!” perintahku padanya.

Ia memejamkan matanya, lalu mengubah pupilnya menjadi cokelat tua agar dapat bertransformasi. Ia pun mengubah kulitnya menjadi lebih segar dan menyembunyikan taringnya. Yah, vampire mana pun dapat menyembunyikan taringnya tapi tak ada yang dapat membuat kulitnya sendiri lebih segar. Lalu, dia pergi ke apartemen Lee Jin Hyeo. Aku sendiri termenung sambil terus menitikkan air mata dan menyandarkan kepalaku di kaca jendela.

|Apartemen Lee Jin Hyeo|

|JINKI’S P.O.V.|

Tok…tok…tok….Aku mengetuk kamar apartemennya perlahan. “Yoboseyo?” Tak lama kemudian, seorang gadis manis membukakan pintu. “Nuguse… hyung?” Ia menatap tak percaya padaku. Aku mengalihkan pembicaraan. “Aniyo… aku hanya ingin bertamu. Aku tersesat dan kata pegawai apartemen hanya kau yang sendirian. Mmm… boleh aku masuk?” “Ah, ne…”

Setelah beberapa lama aku dan Jin Hyeo terdiam, aku memutuskan memulai pembicaraan. “Kau…kenapa kau tinggal di apartemen?” Dia terdiam lama sekali. Lalu, dia berkata sambil menangis. “Aku…aku tak tahan di rumah… banyak foto-foto hyungku yang senyumnya entah mengapa selalu membuatku menangis saking rindunya… “ Ia pun tersedu. Tak tega melihat pipi adikku basah oleh air mata, aku memeluknya dari belakang. Bukannya menolak, dia malah menariknya. “Hangat… hyung, jangan lepaskan pelukanmu sampai 45 menit ke depan…” Aku terhenyak, dan kemudian mengetahui mengapa dia bisa tahu itu.

“Dari Taemin, ya.” Dia terkejut. “Ne, darimana oppa bisa tahu?” “Tanyakan saja padanya. Kau pasti tahu bagaimana.” Aku kembali memeluk Jin Hyeo sambil menangis. “Dongsaeng-ah… kau tahu tidak betapa aku amat merindukanmu, setiap hari di tempat yang tak kau ketahui?” “Jinjja?” Lalu kesunyian menyelimuti kami. Aku tak kuasa menahan tangis. Air mataku jatuh bersamaan dengan air matanya di celana tidur panjang yang ia kenakan.

“Hyung… aku ingin terus bersamamu…”
Namun, aku tahu Jin Hyeo tahu bahwa aku tak bisa tinggal selamanya. Di menit-menit terakhir, dia menginginkan sesuatu. “Mwo?” Kami masih terisak. “Hyung… tersenyumlah padaku. Senyum yang paling manis dan tulus yang pernah kau guratkan di wajahmu.” Aku mencoba tersenyum. Senyum yang tulus dari dalam hatiku. Lalu, raut mukanya menjadi lebih cerah meskipun air matanya terus mengalir. Aku turut senang. Dongsaeng-ah, maafkan aku… “Dashi hanbon, hyung…” Aku tersenyum lebih manis dan kembali menangis. Akhirnya, sebuah cahaya cokelat tua muncul, membuat Jin Hyeo kaget untuk sementara waktu. Aku kembali berwujud vampire. Jin Hyeo mulai menangis dan bilang padaku untuk segera pergi. “Hyung… pergilah.” “Geurae..” Dengan meninggalkan tetesan air mata pilu di karpet apartemennya, aku pergi meninggalkan Jin Hyeo, yang mencoba tersenyum kembali. Selamat tinggal, dongsaeng… do’akan hyungmu ini agar bisa lebih sering mengunjungimu, menghabiskan waktu bersama…

|JINKI’S P.O.V. END|

|Mount Karroul|

Jinki sudah kembali. Aku lega sekaligus sedih karena ia terpaksa meninggalkan adiknya. “Akhirnya, Minho… aku bisa melihat adikku dan mendengar suaranya langsung, tanpa lewat cermin timeline…” Aku ikut lega. Akhirnya kami berdua dapat melihat orang yang kami rindukan meskipun kami sudah berbeda bentuk…
Sejak hari itu, kami terus bisa menemani mereka kembali… sampai akhir waktu mereka.

{Epilogue}
“Ahh… tenangnya kita sudah bisa menjenguk orang yang kita sayang dengan cara kita! Tak ada yang perlu ditangisi…”
“Dan air mata kita tak akan jatuh lagi.”
Minho dan Jinki bersantai di jendela nomor 3 itu. Lalu kemudian, dua vampire baru mengejutkan mereka.
“Ajusshi! Hyung!” Minho dan Jinki menoleh ke arah suara. Mereka berdua terkejut setengah mati.
“Taemin? Jin Hyeo?”
“Ne!”
Mereka melepas haru. Berpelukan satu sama lain. Minho pun berkata lembut,
“Mulai kali ini sampai akhir zaman, kita akan selalu bersama berkeliaran di malam yang gelap namun dengan membawa hati yang tenang dan tak lagi kesepian.”

{VAMPIRE’S LONELY HEART|FINE}

Advertisements

12 responses to “Vampire’s Lonely Heart (oneshoot)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s