Like A Snow (1S) [Special B’day]

Author : Yuni Rahma
Title : Like A Snow
Genre : AU
Rating : PG13
Cast : Micky Yoochun, Kang Minkyung
Fandom : TVXQ, DAVICHI
Language : Indonesia
Disclaimer : I don’t own them. The characters belong to themselves. Just for fun^^

DON’T BE SILENT READERS!!!!

Yoochun on Sadness

“Dia, seseorang yang kuamati tengah terbujur, tertidur pulas di sebuah peti. Dan sekarang yang ku nanti telah pergi. Dia, Minki…”

Empat musim yang berjalan tiap satu kali berevolusi meninggalkan berbagai jejak siapapun yang memulai dan mengakhiri suatu kehidupan serta kisah yang terpaut di dalamnya. Tiap-tiap daripadanya menggambarkan arti dari sebuah asmara. Panas, sejuk dan dingin. Kini aku hanya berdiam diri, melamun sulit tiada arti di tengah salju yang berhamburan bagai kapas di udara. Melayang, hinggap di ranting-ranting, dedaunan, atap, dan lainnya. Aku hanya termenung, tak mengeluarkan sepatah katapun.

Hanya kedua tangan yang ku regangkan, mencoba meraih butiran-butiran kristal yang jatuh tepat di telapak tanganku yang memucat tanpa sebuah penutup yang dapat menghangatkan epidermisku.
Hanya bermodal kaos lengan pendek dan celana jeans yang nekat ku kenakan, tanpa sepasang alas kaki dan sebuah syal serta sarung tangan, aku memberanikan diri menjejaki tiap-tiap centi dari tebalnya salju yang menutupi permukaan tanah. Mungkin saat ini bibirku mulai membiru, tapi aku biarkan. Mungkin wajahku telah memucat, tapi aku tanggalkan. Mungkin aku sekarang terlihat seperti mayat hidup, zombie yang selalu merasa kesepian.

Aku mencoba menoleh pada sebuah bangunan kecil yang terdapat banyak tanaman di sekitarnya. Bougainvillea, Rose, Lily, Filicium, Amaryllis, Azalea, Begonia serta cemara mengisi tiap-tiap sisi dari teras maupun sekitarnya yang memang terdapat banyak tanaman. Kenangan itu tidak akan pernah aku lupakan. Kapanpun.

Bayangku kini melihatnya tersenyum. Melihatnya tengah berjalan menjejakkan kakinya sehingga tapak demi tapak tercetak dan memperlihatkan jejak pada putihnya salju.

“Oppa,“ aku melihatnya bicara padaku di rumah itu.. Dia mengenakan mantel tebal yang melapisi tubuhnya guna menghindari cuaca dingin dengan suhu minus. “Pakailah syal ini dan gunakan sepatumu.”

Aku tersenyum lugu diantara keperihan yang kurasa. Bayangan yang kulihat dengan cepat menghilang seperti tersapu badai. Senyumnya bersamaan pudar, sepudar dirinya yang menghilang bersamaan dengan sekali tatap.

Aku kembali memfokuskan ingatanku tiga tahun yang lalu, mencoba mengeksplos seluruh kenangan yang telah mengisi hati dan jiwaku.

~.~.~.~.~.~.~.~.~.~

LIKE A SNOW

Salju saat itu turun ke bumi, menghujani orang-orang yang tengah beraktifitas di pagi hari. Aku berdiri di antara kerumunan orang di kawasan Shibuya kota Tokyo. Saat itu aku tengah menghubungi sahabatku untuk memastikan sesuatu. Ya, rutin setiap hari aku lakukan hal itu.

Aku melihatnya berlari terburu-buru, gadis itu berlari menyebrangi deretan garis putih yang berjajar rapih. Sesekali dia menatap arloji yang melingkar dengan setia di pergelangan tangannya. Sesekali pula ia hampir terjatuh akibat sepatu hak tinggi yang dikenakannya. Dia melewati toko bunga yang terletak di dekat sebuah minimarket. Dengan kecepatan yang dia bisa, gadis itu memasuki sebuah kantor besar yang cukup ramai dengan para karyawan serta beberapa orang terkenal yang bekerja di dunia entertainment.

“Minki,” seseorang berseru meneriakkan nama gadis bermantel krem yang tengah aku perhatikan.

“Apa?

“Lagi, lagi, lagi dan lagi. Locker-mu,” ucap orang berkacamata yang tengah melipat kedua tangannya di depan dada.

“Ha? Present?” gadis manis itu mencoba memastikan kepada sahabatnya. Aku tahu apa yang harus aku lakukan, berlari ke lift, menunggunya di lift yang sama. Lift yang biasa ia naiki untuk menuju ruangan penuh dengan locker penyimpanan.

Saat itu adalah saat yang paling membuat jantungku berdetak. Seakan menanti sebuah keputusan untuk hidup atau mati. Saat itu pula aku yang selalu bersembunyi secara semu memulai untuk menampakkan diriku di hadapannya secara langsung.

Aku tersenyum karena dugaanku benar. Dia mendekati lift dan berdiri di sampingku. Kulihat dia membungkuk, memberi salam kepadaku. Sebagai sesama karyawan diharuskan menyapa walau tidak saling mengenal satu sama lain. Begitupun denganku, apalgi aku adalah karyawan baru di stasiun televisi ini.

“Minki-san, kau bekerja di bagian penyunting video?” pertanyaan itu aku ajukan sebagai permulaan berbicara tatap muka dengannya.

“Ya. Bagaimana kau tahu? Aku saja tidak pernah melihatmu sebelumnya.”

“Aku akan bekerja di bagian penyuntingan juga. Namaku Park Yoochun, orang Korea yang menjadi karyawan baru di bagian penyuntingan video. Sebelumnya aku diberitahu oleh GM tentangmu,” ucapku sambil tersenyum ramah kepada gadis itu.

“Korea? Sama denganku. Kang Minkyung, itu nama asliku. Lama tinggal di Jepang, jadi tidak terlalu lancar bahasa Korea. Bahasa Jepangmu boleh juga. Baiklah selamat datang dan kita bekerja sama dengan baik,” katanya sambil menyodorkan tangan kanannya bermaksud untuk berjabat tangan denganku. Lalu aku membalasnya dengan senang hati.

Mataku tak pernah luput dari gerak-geriknya yang menawan. Sosok wanita yang membuatku kagum. Ketika itu kami berdua saling terdiam di dalam lift sampai akhirnya Minkyung memutuskan untuk berpisah arah.

Dia berlari sesaat setelah pamit untuk menuju ruang penyimpanan. Aku tahu dia akan mengambil sebuah kotak yang di dalamnya terdapat sebuah strawberry cake kesukaannya. Kenapa? Karena hari ini adalah ulang tahunnya. Minkyung, seorang gadis yang membuatku jatuh hati. Tapi cintaku tidak akan mungkin tersampaikan karena aku adalah kakak tirinya.

(***)

Sore hari yang kelabu, jalanan terlihat buram akibat kabut serta hujan salju yang turun di akhir pekan. Kristal-kristal es yang menumpuk menjadikan permukaan jalan terlihat penuh dan terkesan licin.

Aku berjalan di belakang Minkyung ketika gadis itu menelusuri tiap-tiap ruas jalan, menembus tebalnya kabut putih dengan rasa dingin menyelimutinya walau dia mengenakan mantel, syal dan sarung tangan favoritnya. Dia berjalan menjejaki putihnya salju dengan tersenyum, sampai pada akhirnya dia memasuki kediaman berjenis rumah klasik dengan dasar kayu oak.

“Tada ima!” sahut Minkyung ketika memasuki rumah tersebut. Buru-buru dia kenakan sandal rumah sebagai alas kaki yang cukup membuat kakinya terlindung dari cuaca dingin. Sedangkan aku, aku diam-daim mengikutinya dari belakang.

“Minkyung-ah, ibumu datang,” ucap sorang wanita setengah baya yang mengenakan hakama penghangat. Menurut ibu dia adalah kakaknya. Bibiku.

“Benarkah?” wajah Minkyung merekah. Mungkin dia senang. Ya, dua tahun dirinya pisah dengan sang ibu. Dia hanya dikabari oleh ibu seminggu dua kali secara rutin, termasuk memberi tahu bahwa ibu telah menikah dengan ayah. Tapi ibu tidak pernah menyebut namaku, hanya menyebut seorang kakak yang akan kau temui. Mungkin beliau bermaksud untuk memberi kejutan di hari ulang tahunnya saat ini. Dan aku selalu melihat ketika mendengar ibu berbicara dengannya di telepon. Dari situlah aku penasaran dengan mimik wajah adik tiriku.

Saat itu aku memutuskan untuk pergi ke Jepang terlebih dulu. Seminggu sebelum kedua orangtuaku pindah ke Jepang. Aku menginap di hotel. Dan mencari sosok Minkyung berdasarkan foto yang ibu beri kepadaku. Setiap harinya, aku selalu memberi Minkyung hadiah tanpa mengetahui siapa aku sebenarnya. Tapi suatu kesalahan telah aku lakukan. Aku jatuh cinta kepada adikku sendiri.

“Minki, anakku. Apa kabar sayang?” seorang wanita dengan kerut-kerut kecil di wajahnya yang masih terlihat cantik memeluk Minkyung dengan kehangatan kasih sayang seorang ibu. Aku yang berdiri di ambang pintu hanya dapat tersenyum melihat ibu bertemu kembali dengan anak gadisnya setelah sekian lama berpisah.

“Baik ibu,” jawab Minkyung. Kedua matanya teralih kepada seorang pria yang duduk di samping ibu.

“Minki, kenalkan. Dia ayahmu.”

“Hontou ni? Hajimemashite, Minkyung desu.” Minkyung mengenalkan diri dengan bahasa Jepang. Ayah yang sedikit mengerti membalasnya dengan bahasa Jepang yang kagok. Mereka bertiga tertawa. Aku bahagia melihatnya. Ya, selama ini Minkyung tidak pernah bertemu dengan ayah karena tidak menghadiri pernikahan ibunya dengan ayahku. Saat itu Minkyung berada di Kanada karena tugas dari atasan yang tidak bisa diganggu gugat.

Tiba-tiba pandangan ibu beralih kepadaku. Dia melihatku tersenyum di mulut pintu. Ibu mengayunkan tangan padaku, menyuruhku masuk. Dan entah kenapa jantungku mulai berdetak tak teratur. Padahal aku tahu ini tidak boleh. Tapi kalau di dekatnya aku merasa sedikit gugup.

“Annyeonghaseyo,” sapaku sembari membungkuk memberi hormat kepada orang yang lebih tua dariku. Suaraku membuyarkan senyum Minkyung yang indah di pandang. Aku perhatikan dirinya mengernyit saat melihatku. “Minki, halo.”

“Kau? Bukankah kau…”

“Dia adalah kakak tirimu, namanya Yoochun. Kau harus akrab dengannya ya,” ucap ibu mencela perkataan Minkyung.

Sedangkan Minki hanya mengangkat sebelah alisnya seperti orang bodoh yang baru saja mendapat pencerahan.

Ketika itu aku hanya tersenyum, tersipu malu pada Minkyung. Hari-hari kami dimulai sebagai kakak dan adik. Aku selalu berangkat ke kantor bersama Minkyung. Kami pula selalu bercanda saat waktu libur kerja dengan bermain salju bersama. Entah kenapa perasaanku menjadi lebih kuat padanya. Ya, suatu kesalahan yang pernah aku buat. Suatu kesalahan yang membuat semuanya berakhir tragis. Sebuah kesalahan yang menjeratnya terhadap—

“Oppa, katakan apa harapanmu!”

Aku kini duduk di sebuah bangunan kecil yang di sekelilingnya terdapat banyak tanaman. Tanaman ini merupakan tanaman favorit Minkyung. Bahkan dia sendiri yang menanamnya di waktu luang.

“Aku ingin menjadi Yoochun. Haha,” kataku sedikit bercanda.

“Tidak lucu. Yoochun ingin menjadi Yoochun? Kera saja ingin seperti manusia.”

“Mwo? Jadi kau samakan aku dengan kera? Tak akan aku maafkan! Terima ini, terima ini.” Aku menggelitiknya sampai membuatnya geli dan akhirnya aku dilempar dengan sekepal salju.

Aku senang Minkyung. Aku berharap menjadi orang yang satu-satunya kau pikirkan. Orang yang selalu ada di hatimu sampai maut menjemputku. Tapi itu tidak akan mungkin terjadi. Itu semua mustahil terjadi. Kadang aku geram kenapa diriku ditakdirkan menjadi seorang kakak untuknya.

“Bagaimana denganmu?” tanyaku.

“Aku ingin menjadi salju. Salju itu putih, suci. Indah dipandang mata. Entah kenapa aku menyukai subliman gas itu. Menyukai sesuatu tidak memerlukan alasan bukan? Jika kita menyukai sesuatu dengan sebuah alasan, berarti itu sama saja dengan kebohongan. Dan aku tidak ingin seperti itu. Begitu pun jika aku menyukai seseorang. Tidak perlu suatu alasan, karena cinta datangnya dari hati,” jelasnya.

Benar, perkataanmu benar. Sampai saat ini pun aku tidak menemukan apa alasanku sehingga aku bisa mencintaimu Minkyung-ah. Aku sendiri sulit jika terus memendamnya terlalu lama.

“Oppa, kau tahu? Belakangan ini aku selalu mendapatkan hadiah dari orang yang sama sekali belum pernah ku temui. Entah dia siapa, dia hanya memberi hadiah-hadiah itu dan tidak meninggalkan nama, hanya sepucuk kertas yang berisi sepatah-dua patah kata.”

Aku hanya dapat tersenyum mendengarnya bicara. Jika boleh ku katakan akulah orang itu Minkyung-ah.

“Lalu, kau menyukainya? Ani, menyukai orang yang memberimu banyak hadiah itu?” tanyaku memancing.

“Aku tidak tahu. Sepertinya dia baik sekali oppa. Seperti apa dia? Tak jarang aku membayangkan orang itu adalah kau. Haha, lucu ya. Aneh sekali. Dan itu tidak mungkin. Hei oppa, kau belum mengatakan jawabanmu!” Dia memprotesku begitu saja.

“Shireo! Aku tidak mau dan jangan harap kau mendapat jawaban dariku.”

“Apa? Kau curang!”

(***)

Seperti biasa aku meneruskan rutinitasku. Kini aku membawa sebuah bunga untuknya beserta sebuah hadiah lainnya. Aku melirik kanan-kiri untuk memastikan koridor yang ku lewati begitu sepi sampai akhirnya aku bisa memasuki ruang locker. Aku melangkah tanpa ragu untuk menuju ruangan itu. Di tanganku selain ada pemberian, aku juga memegang sebuah kunci duplikat locker Minkyung. Jangan tanya bagaimana aku mendapatkan kunci ini. Karena ini merupakan kebetulan yang siapapun tidak akan menyangkanya.

Aku membuka pintu dengan leluasa. Segera saja aku menuju lemari ke lima diantara deretan lemari-lemari baja yang terkumpul di ruangan ini.

“Semoga kau menyukainya,” ucapku.

“Yoochun oppa.”

Aku terkesiap ketika mendengar seseorang bergumam di belakangku. Saat aku melihatnya, Minkyung sudah memasang tampang menyelidik kepadaku. Aku tersentak? Sudah pasti. Apa yang aku lakukan untuk menyembunyikan jati diriku kini telah hancur. Bagai mendulang air pada tempayan. Semua yang ku lakukan berbalik kepadaku sendiri.

Minkyung menatap tajam diriku. Menautkan kedua alisnya. Kemudian kedua bola matanya teralih pada benda yang masih berada di tanganku. Aku benar-benar mati kutu. Kakiku lemas. Apa yang harus ku katakan kepada gadis itu mengenai ini? Dia akan menganggapku apa?

“Apa maksudnya? Oppa, jangan katakan kau yang mengirim semua ini dan menulis kalimat-kalimat cinta di sepucuk kartu,” racaunya pelan yang semakin membuatku terjepit.

Aku terdiam. Aku tidak tahu harus berkata apa. Berbohong? Apa alasannya? Sedangkan aku memegang kunci duplikat locker miliknya. Terpaku. Akankah dia mengetahui perbuatanku yang melanggar batas ini?

“Kenapa tidak menjawab pertanyaanku?” ia kembali berbicara.

Aku meletakkan bungkusan di atas kursi kayu memanjang yang terletak di antara dua lemari di belakang dan di depanku. Aku kini mencoba menatapnya, kaku memang. Apalagi jika berbohong, aku tidak sanggup.

“Aku—“

“Kau yang melakukan ini semua?”

Aku mengangguk dengan terpaksa. Akhirnya apa yang telah menjadi prioritas untuk aku sembunyikan terbongkar sudah. Aku pasrah jika Minkyung membenciku kelak.

“Kenapa? Bagaimana bisa?”

Minkyung mengeluh dan menghindari tatapan mataku. Dosa yang ku lakukan sebesar apakah? Sungguh aku tidak tahu malu. Aku adalah seorang kakak yang seharusnya melindungi adikku sendiri, bukan untuk mencintainya seperti pria dan wanita pada umumnya.

“Mianhe. Aku— Minkyung-ah, aku tahu ini salah. Tapi sepertinya aku tidak akan menutupi ini semua. Saat mendengar ibu bercerita tentangmu, aku begitu senang. Seolah ibu menceritakan seorang bidadari cantik yang baik hati. Dan ketika ibu memberiku fotomu, aku mulai merasakan hal aneh di hatiku. Kau tahu? Aku, aku mencintaimu,” jelasku.

“Gila!” bentaknya.

Sudah kuduga. Ya, ini memang gila. Sungguh gila sampai-sampai aku kehilangan akal sehatku untuk mengatakan isi hatiku padamu Kang Minkyung. Aku tidak tahan lagi, aku tidak sanggup untuk memendamnya sendiri. Bagaimanapun aku adalah manusia.

“Mianhe, ini memang gila. Ini memang suatu kesalahan besar. Minkyung-ah. Saranghaeyo,” ucapku. Aku meraih kedua tangan Minkyung dan menggenggamnya erat.

“Tidak boleh!” Minkyung dengan cepat menepis tanganku. “Ini diluar dugaanku. Seharusnya tidak seperti ini.”

Minkyung mengibaskan rambutnya dan seketika itu duduk di kursi kayu seraya menunduk. Entah apa yang dirasakan gadis itu. Yang pasti aku telah membuatnya kecewa. Aku bukanlah sosok kakak yang baik bagi adikku. Aku segera berjongkok, mencoba menatap kedua mata Minkyung yang mulai berair. Refleks tanganku menyeka air yang mulai merambat di pipinya.

“Jeongmal mianhe, aku salah, tapi aku tidak bisa membohongi diriku sendiri. Aku menyesal karena telah menjadi kakakmu. Minkyung-ah aku—“

“Stop! Aku tidak ingin dengar, sekarang biarkan aku sendiri,” ucapnya lirih.

Aku tidak ingin membuatnya kecewa terhadapku. Aku tidak ingin membuatnya emosi, maka dari itu aku memutuskan pergi sampai Minkyung sedikit tenang.

Saat itu aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku membiarkannya menyendiri berhari-hari karena itu adalah permintaannya. Setiap kali bertemu denganku dia selalu membuang mukanya, menghindariku dan bersifat ketus terhadapku. Sampai kedua orangtua kami menangkap hal aneh yang terjadi diantara kami. Saat ayah dan ibu menanyakan apa yang tengah terjadi antara aku dan Minkyung, aku hanya dapat menjawab kami salah paham tentang pendapat. Ya, aku terpaksa berbohong untuk menutupi ini semua. Aku tidak ingin membuat mereka berdua murka kepada kami. Apa lagi Minkyung yang tidak mengetahui apa-apa.

“Kita harus bicara,” kataku saat ku temui Minkyung yang tengah menanam sebuah tanaman baru yang ku ketahui itu adalah sebuah tanaman Begonia. Minkyung tidak menjawab perkataanku. Dia asik dengan kegiatannya. “Minkyuung-ah, tolong jangan kau diamkan aku. Baiklah jika aku telah membuatmu kecewa. Tapi tolong tidak bisakah kita berdua ada baiknya tidak perlu seperti ini?” Lagi-lagi dia tidak mempedulikan aku.

Aku meraih bahunya paksa dan membuatnya menatapku dari dekat. Dia mengalihkan wajahnya dan berusaha untuk menepis kedua tanganku. Tapi aku tetap memaksanya sampai dia benar-benar melihatku dan tidak lagi menghindariku.

“Minkyung-ah, bicaralah,” kataku memohon.

“Untuk apa?”

“Kenapa kau menghindariku?” tanyaku memelankan nada bicarku. Lagi, dia tak bereaksi terhadap pertanyaanku. Seakan kata-kata yang keluar dari bibirku hanyalah sampah belaka. “KENAPA KAU MENGHINDARIKU?!” aku mulai meninggikan nada suraku yang terkesan membentak gadis manis di hadapanku.

“Kenapa? Kenapa, kau katakan? Kenapa? Kenapa aku mendiamimu? Kenapa aku menghindarimu? Kenapa aku tidak ingin melihatmu? Kenapa aku bersikap dingin dan ketus kepadamu? Itu semua gara-gara hatiku ini! Kau sadar tidak kalau aku pun memiliki perasaan yang sama terhadapmu? Aku sengaja melakukan itu semua agar aku bisa menerima diriku menjadi adikmu seutuhnya oppa.”

Hatiku berdetak hebat ketika mendengar penjelasannya tadi. Kata demi kata yang diucapkannya membuatku lemas. Seolah kata-katanya adalah bisa ular yang melemaskan seluruh tubuhku. Aku melepaskan tanganku dan terjatuh begitu saja menindih salju-salju putih. Aku menggeleng pelan. Aku semakin merasa bersalah dengan ini semua. Menyebalkan, sungguh menyebalkan!

“Aku mencintaimu oppa. Kau yang membuatku begini. Aku tidak bisa, aku tidak boleh mempunyai perasaan ini! Aku kecewa terhadap diriku sendiri! Aku pantas mati!” gertaknya yang berjongkok di depanku. Spontan aku memeluknya erat. Aku tidak ingin melepaskanmu Minkyung. Tapi apa daya diriku ini adalah kakakmu.

Semenjak itu kami berdua menjalani hubungan gelap yang tidak seorangpun mengetahuinya. Orang bilang hubungan yang aku dan Minkyung jalani adalah sebuah cinta terlarang. Namun sejauh apapun kita berdua mencoba untuk menghindarinya itu tidak akan bisa. Karena hatiku telah terpaut dengan hatinya. Maafkan aku Minkyung, aku membuat semuanya menjadi seperti ini.

Musim dingin telah beralih menjadi musim semi di bulan Mei yang sebentar lagi akan menginjak musim panas. Melewati beberapa bulan semenjak kami memutuskan untuk memulai kehidupan sebagai sepasang kekasih secara diam-diam. Berkencan pun diam-diam dengan alasan berjalan-jalan biasa. Mengenaskan bukan?

Aku dan Minkyung kini duduk berdua pada teras di belakang rumah mungil yang tidak terlalu jauh dari rumah kami. Di tempat ini biasa kami lakukan untuk bercerita satu sama lain, atau hanya sekedar mencari waktu berdua di tengah jadwal kerja kami yang terlalu padat sebagai karyawan stasiun televisi swasta. Minkyung menyandarkan kepalanya di bahuku dan itu membuatku cukup bahagia.

“Bagaimana dimasa yang akan datang oppa? Kita tidak mungkin seperti ini terus kan? Diam-diam seperti ini membuatku tidak nyaman. Apa kita pergi saja?”

“Itu tidak mungkin jagiya. Dengar, kita cari waktu dan alasan yang tepat agar bisa pergi. Kalau perlu pindah ke Korea.” Aku menyarankan.

“Tapi kapan?” Minkyung kini mengangkat kepalanya dan menatapku serius.

“Aku akan memikirkannya. Aku janji,” ucapku pelan sambil mengelus pipinya. Entah hasutan darimana tiba-tiba aku mencoba mendekatkan wajahku sampai akhirnya kusentuh bibir mungil Minkyung dengan bibirku. Oh Tuhan, jangan hukum kami untuk hal ini.

“Apa yang sedang kalian lakukan?!”

Aku bergegas melepaskan ciumanku ketika mendengar seseorang berteriak. Tidak, hancur sudah.

PLAK!

Sebuah tamparan mendarat mulus tepat di pipiku. Perih, ayah telah menamparku. Pria itu telah mengetahui semuanya. Api kemarahan telah berkobar. Tidak, aku dan Minkyung tidak boleh berakhir sampai di sini. Aku mencintainya, begitu pun dengan Minkyung yang juga mencintaiku.

“Kau sadar Minki itu siapa? Dia adikmu! Apa kau sudah gila?”

“Aku tidak gila ayah. Aku mencintainmya,” ucapku.

PLAK!
Satu tamparan kembali ku rasakan. Dan aku mendengar Minkyung berteriak meminta ayah agar menghentikan perlakuan ayah kepadaku. Tapi percuma, ayah terus menghujamku dengan perkataannya yang sadis dan tidak segan-segan menamparku ketika aku mengaku mengenai hubungan kami. Bahkan ayah sempat membentak Minkyung. Saat aku ingin mencoba melindungi Minkyung, ayah menarik tangannya dan dengan paksa membawanya pergi menjauh dariku. Aku mencoba mengejar mereka tapi tidak bisa, karena aku melihat ibu yang berdiri tak jauh dari kami. Wajah wanita itu menunjukkan ekspresi kecewa terhadapku dan juga gadisku.

Lama, ketika kejadian itu berlangsung kedua orangtuaku memisahkanku dengan orang yang ku cintai. Minkyung akhirnya dipaksa membuat surat pengunduran diri dari kantor dan memulai hidupnya dengan di kekang setiap harinya. Itu membuat hatiku sakit. Seharipun aku tidak bisa melihat gadis itu keluar dari kamarnya. Dia terkurung. Aku tidak tahu apa yang dia lakukan di dalam sana. Bahkan ketika aku mencoba menyusup ke kamarnya selalu gagal. Ada bodyguard yang menjaga kamar Minkyung. Sampai pengurungan itu berjalan satu bulan pun aku tidak bisa menemuinya.

BRUGH!
Aku mendengar suara gaduh di tengah malam dari arah jendela kamarku. Kemudian disusul dengan suara gedoran kecil di jendela. Karena penasaran apa yang telah terjadi aku beranjak dari tempat tidur dan menyibak gorden. Kedua mataku membulat saat menangkap sosok gadis yang begitu ku cintai berada di luar. Dengan cepat aku menggeser jendela yang begitu rendah karena rumah kami tergolong rumah klasik. Minkyung memelukku erat sebelum pada akhirnya dia mencium bibirku.

“Oppa ayo kita pergi,” bisiknya kepadaku.

“Kau gila. Banyak bodyguard di sini. Aku tidak ingin melihatmu tersiksa lagi jagiya.”

“Oppa aku mohon. Ikut aku. Cepat!”

Mau tidak mau aku harus mengikuti sarannya. Aku tidak sempat membawa barang-barangku, aku hanya membawa beberapa yang ku perlukan ke dalam sebuah tas. Aku melewati jendela dan berlari bersama Minkyung untuk meninggalkan rumah. Aku takut, aku takut jika rencana gila ini akan diketahui oleh pria-pria berbadan besar yang berjaga tidak hanya di depan kamar Minkyung, tetapi di depan rumah pun mereka berdiri tegap. Maka dari itu kami berusaha mengendap-endap untuk berusaha keluar dari neraka ini.

“Huft~” desah Minkyung ketika kami sampai di sebuah bukit dan terduduk di atas rumput-rumput basah akibat embun yang turun. Wajah gadis itu merona, dia tersenyum begitu manis. “Sudah lama aku ingin menghirup udara seperti ini.”

“Aku tidak menyangka kau akan berbuat nekat seperti itu.”

“Jangan panggil aku Minki jika aku tidak bisa melakukannya.”

Aku hanya dapat tersenyum dan saling terdiam satu sama lain. Apakah kami akan lolos dengan kaburnya aku dan dia? Entahlah, sulit untuk aku prediksikan ke depannya.

“Oppa,” suara Minkyung memecah sedikit lamunanku. “Selamat ulang tahun.”

“Kau ingat itu?”

“Tentu saja. Mana mungkin aku melupakan itu. Tunggu sebentar.” Minkyung membuka tasnya dan mengambil sebuah benda putih panjang dan sebuah benda berwarna hijau. Itu lilin, Minkyung menyalakan lilin itu dan kembali menghadapku. Aku mengerti maksudnya. “Sekarang, apa permohonanmu. Katakan.”

“Aku ingin selamanya hidup denganmu. Tidak ada seorangpun yang menggangu,” ucapku di tengah lilin yang menyala di tempat gelap ini.

“Aku juga. Aku berdoa dan berharap seperti apa yang kau katakan. Selamat ulang tahun.”

Aku meniup lilin itu bersamaan dengan Minkyung. Tidak terasa umurku sudah menginjak 24 tahun. Di usia yang cukup dewasa ini aku ingin menjadikannya sebagai bagian terbaru dari hidupku. Terus bersama orang yang ku cintai sampai akhir hayat memisahkan kami.

Tapi tidak semulus dugaanku, baru dua bulan saat kami melarikan diri. Orang-orang suruhan ayah berhasil menemukan kami yang telah tinggal di sebuah rumah kontrakan kecil. Saat itu kami terdesak dan mencoba melarikan diri untuk kedua kalinya. Kami berlari sejauh mungkin sampai menaiki sebuah bukit yang mempunyai jurang terjal. Kami berdua terdesak saat melihat jurang berada tepat di depan kami dan suruhan ayah tepat berada di belakang kami.

“Minkyung, ada baiknya kita menyerah. Kita sudah terpojok sekarang.”

“Tidak! Kau lupa dengan harapanmu dan janjimu? Aku tidak ingin berpisah denganmu kau tahu?”

“Tapi lihat apa yang ada di depan kita?”

“Loncat, kita loncat bersama. Mati bersama kalau perlu.”

“Tidak, kau jangan berbuat nekat. Aku tidak mau jika salah satu diantara kita selamat apa yang terjadi?”

Sementara sudah tidak ada waktu lagi dan aku pun tidak ingin berpisah dengan Minkyung, akhirnya kami melompat dengan kenekatan yang kami miliki. Minkyung menarik tanganku dan kami terjatuh.

~.~.~.~.~.~.~.~

Setelah tragedi itu berlangsung, aku tidak dapat mengingat apapun. Aku mengalami koma selama sebulan dan menetap di rumah sakit sampai kesehatanku benar-banar pulih. Tapi tidak demikian dengan Minkyung. Dia tetap mengalami koma yang berkepanjangan selama empat bulan. Aku miris ketika diijinkan melihatnya dari luar oleh ibu. Air mataku pun terus mengalir tanpa henti melihat Minkyung terbujur kaku dengan peralatan medis yang membelenggunya. Sampai saat itu tiba, saat salju pertama turun di bulan Desember. Minkyung menghembuskan nafas terakhirnya.

‘Dia, seseorang yang kuamati tengah terbujur, tertidur pulas di sebuah peti. Dan sekarang yang ku nanti telah pergi. Dia, Minki… Meninggalkanku, meninggalkan dunia ini untuk selamanya.’ Hanya kalimat-kalimat itu yang aku lontarkan dan aku tulis di blog pribadiku saat hari kematian gadis tercintaku.

Kini, setelah tiga tahun berlalu, setelah apa yang terjadi diantara kami terbuang sia-sia. Mungkin Tuhan murka, Tuhan marah kepada kami. Jadi Dia mengambil apa yang menjadi milik-Nya demi kami sendiri. Seiring berjalannya waktu aku pun menerima kepergian Minkyung, karena Tuhan sayang padanya. Tuhan ingin melindunginya dari bencana.

Aku hanya menganggap salju-salju yang turun saat ini adalah dirinya. Tersenyum padaku diantara raut wajahku yang kusam.

“Oppa, pakai mantelmu,” seseorang menyadarkanku. Dia membawakanku sebuah mantel, sepasang sepatu serta syal dan sarung tangan. “Sudah cukup untuk hari ini. Aku tidak ingin melihatmu sakit.”

“Gomawo jagiya,” ucapku pada seorang wanita cantik di depanku. Segera saja aku kenakan apa yang telah dia bawakan untukku. Ya, kini aku telah mendapatkan penggantinya. Seseorang yang benar-beanr aku cintai dan sangat mencintaiku. Seorang istri yang sabar dengan tingkahku. Aku ingin membuatnya bahagia dan tidak akan membuatnya kecewa.

Minkyung-ah, berbahagialah kau di sana layaknya aku yang berbahagia dengan istriku dan seorang anak kecil nan mungil yang juga adalah keponakanmu. Maaf, aku tidak bisa menepati janjiku. Aku ingin membuka lembaran baru. Selamat tinggal, oppa selalu menyayangimu.

-THE END-

7 responses to “Like A Snow (1S) [Special B’day]

  1. .ternyata itu minkyung onnie?? kirain cast na itu author ato org laen yg kbtulan punya namkor yg sama ma minkyung onnie!!hehe
    .huaaa so sad,,kasian minkyung onnie~huhuhu
    .tapi keren bgt critanya..
    .suka dh~.~
    .2 thumbs up for author!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s