The Coldest Man Ever (part 1)

The Coldest Man Ever (part 1)

Cast       : Kang Eun Ri (widiavianni), Choi Min Ho (SHINee), Park Jin Yi (A.nina.jin_Yi), Kim Ki Bum (SHINee)
Genre   : Friendship, Romance (mungkin dikit)

^)^

|Kang Eun Ri POV|

Aish, sudahlah! Cukup! Aku hanya ingin serius belajar sekarang!

Batinku bergejolak. Antara memikirkan nasibku masuk Universitas Seoul, dan… Min Ho. Namja bertampang dingin itu. Entahlah, aku tak bisa mengenyahkannya dari pikiranku walaupun aku sekarang mempelajari biologi bab rangka tubuh manusia, bukan mempelajari langkah-langkah panjangnya.

Huaah! Aku menggaruk kepalaku yang tak gatal. Berusaha fokus pada jalan yang benar, bukan memikirkan namja yang baru aku temui tadi siang, yang membuatku ketinggalan bus dan pulang terlalu sore karena pertanyaan-pertanyaan bodohnya.

|FLASHBACK EUN RI ON|

|Author POV|

Siang ini, Kang Eun Ri, calon mahasiswi baru Universitas Nasional Seoul berjalan keluar dari gerbang universitas ternama di Korea Selatan itu, selepas menjalani tes masuk. Saking kalutnya memikirkan ia diterima di universitas itu atau tidak, ia tak melihat keadaan sekitarnya, termasuk namja yang berada di depannya, yang sekarang ditubruknya.

“Aduh! Ah, mianhae…” ucap Eun Ri tergugup. Namja yang bertubuh tinggi itu menoleh ke arahnya, dan  berkata dengan suara beratnya. “Kau kalau jalan tak lihat-lihat, ya?” katanya sambil berbalik ke arah Eun Ri dengan tampang dinginnya. Eun Ri yang sedari tadi sudah menunduk, kini mengangkat kepalanya. “Kalau tak mau memaafkanku, ya sudah… Aku hanya ingin pulang dan menunggu hasil test,” jawabnya tegas.

Eun Ri pun berjalan ke arah halte bus yang berada beberapa langkah dari namja itu, namun tiba-tiba tangannya ditarik. “Eh, kau baru mau masuk juga ke sini?” tanya namja yang tadi sambil menarik kembali Eun Ri ke sampingnya. “Kau ini apa-apaan sih?! Ne, aku mau masuk universitas itu! Baru pulang tes! Puas dengan jawabanku? Dan kau, lagipula kau siapa, hah?” bentak Eun Ri kesal. Orang ini, main tarik saja! Batin Eun Ri kesal. Tapi… kenapa ada perasaan yang lain di hatiku?

“Oh. Aku Choi Min Ho. Calon mahasiswa sini juga. Kau siapa? Jurusan apa?” tanyanya. “Kang Eun Ri, Jurusan Fakultas Kedokteran,” jawab Eun Ri cepat. Ayolaah, aku ingin pulang! Batinnya lagi. “Hoo, sama denganku. Ayo duduk di halte, berdiri disini hanya membuatmu semakin jelek,” kata Min Ho sambil menarik Eun Ri ke arah halte. Anehnya, Eun Ri yang selama ini dikenal tak mudah tertarik, sekarang seperti takluk oleh tarikan Min Ho walau sambil menunjukkan wajah terpaksa.

Min Ho bertanya berbagai macam pertanyaan pada Eun Ri , dari mulai alamat rumah sampai nomor ponsel. Eun Ri yang tak menjawab satu pun pertanyaan Min Ho akhirnya bertanya dengan kesal setelah berusaha mengabaikan Min Ho. “Hei, kau ini maunya apa?” kecam Eun Ri pada Min Ho. “He, aku cuma ingin bertanya, tak apa ‘kan? Lagipula, kita akan menjadi teman.” Mereka terus berargumen, sampai akhirnya Eun Ri melirik jam tangan berwarna baby blue dan kuning yang melingkar di tangannya. “He, jam 4 sore? Kau ini,aku jadi pulang terlalu malam, tau!” Eun Ri memukul tangan Min Ho.

“Ya! Mworago? Sudah menabrakku masih mau menyalahkanku juga?” Min Ho balik memojokkan Eun Ri. Eun Ri yang kesal bangkit dari duduknya dan memilih berdiri di tepi jalan. Sementara Min Ho hanya berjalan santai ke arah jembatan penyebrangan yang meliintang ke seberang Universitas Seoul.”Ya! Mau kemana kau?” tanya Eun Ri. “Rumahku ‘kan di seberang. Jadi aku hanya tinggal menyebrang dan tak takut kemalaman sepertimu. Meonjeo galgeyo,” jawabnya santai sembari berjalan dengan langkahnya yang lebar, meninggalkan Eun Ri yang kini terperangah di seberang jalan, dan sebelum mulutnya terbuka lebar, untungnya ia disadarkan oleh sebuah bis kota yang kini sudah berhenti di depannya.

|FLASHBACK EUN RI OFF|

|Author POV end|

|Choi Min Ho POV on|

Huaah, kira-kira aku diterima masuk di Universitas Seoul atau tidak, ya…? Ayolah Min Ho, kau harus bisa! Tapi, yang terpikir sekarang… kenapa anak itu? Kang Eun Ri? Hmm… jujur, dia yeoja yang manis, tapi juteknya ampun-ampunan. Sudahlah, besok juga bertemu. Dia juga ‘kan ingin melihat hasil test kemarin.

|Choi Min Ho POV end|

|Author POV|

Esok paginya, Eun Ri berjalan ke halte bus bersama adik perempuannya, Kang Eun Chae. “Ah, eonni… Keren sekali kalau kau diterima di Universitas Seoul !” seru Eun Chae pada eonninya, saat telah sampai di halte dekat rumah mereka. Eun Ri menepuk telapak tangan adiknya itu. “Aish, Eun Chae, jangan keras-keras! Nanti dilihat orang, bagaimana?” bisik Eun Ri. Eun Chae pun tertawa  kecil. “Mianhaeyo, eonni… hehehe,” balas Eun Chae sambil berbisik tersipu.

Saat bus yang ditunggu telah datang, Eun Ri bangkit dan pamit kepada adiknya. “Dongsaeng-ah, galgeyo…” Eun Ri pun mengelus kepala adiknya yang masih kelas 2 SMP itu dengan penuh sayang dan beranjak naik ke dalam bus. Eun Chae pun ikut bangkit dari duduknya dan berteriak pada Eun Ri yang telah masuk ke dalam bus. “Eonni, aku yakin kau masuk! Hwaiting !!” seru Eun Chae.” Eun Ri yang kaget mendengar seruan Eun Chae sesaat sebelum pintu bus menutup itu tersenyum dan melambaikan tangan ke arah Eun Chae yang mengepalkan tangannya ke udara. Gomawo, dongsaeng-ah… batinnya.

***

Saat tiba di Universitas Seoul, herannya si Choi Min Ho itu menunggu kedatangannya di depan mading. “Kau ini lama sekali!” keluh Min Ho saat Eun Ri mendekati mading tempat dimana pengumuman hasil tes terpampang. Eun Ri mendengus kesal. “Hoi, siapa suruh menungguku, hah? Aku ‘kan hanya ingin melihat hasil tes, bukannya melihatmu sedang menungguku.” Eun Ri pun menebarkan pandangan ke sekelilingku. Aneh, kenapa para yeoja sekarang memandangi aku dengan heran? Apa karena si Min Ho-yang-benar-benar-tak-biasa ini ganteng, dan aku dianggap aneh karena membencinya? Baiklah, aku akui dia memang tampan dan tinggi, tapi dinginnya bisa membuatku merasa di Kutub Utara! Batin Eun Ri kesal.

Min Ho menyandarkan badannya di mading. Namun, ia belum tahu jika mading itu dibuat bukan untuk sandaran, jadi mading itu pun goyah saat disandari olehnya. “Eh, mwo?” Eun Ri terkejut saat melihat mading itu bergoyang dari tempatnya bergantung dan bergegas membuatnya kembali stabil, tapi…

“GUBRAK!” Mading itu jatuh. Perhatian kerumunan orang sekarang tertuju pada mereka berdua, yang sekarang terlihat seperti sepasang kekasih. Eun Ri malah memegang tangan Min Ho yang kelewat kekar dan menutupi bingkai, bukan bingkai mading yang seharusnya ia pegang. Min Ho pun terbelalak melihat Eun Ri yang mukanya terlalu dekat dengan leher Min Ho. Suasana hening untuk sejenak, dan jantung mereka berdegup keras saat pandangan mata mereka bertemu.

Eun Ri yang kaget sejenak terdiam, lalu tersadar. “Lho, kenapa aku jadi memegang tanganmu, sih?!” “Ada apa juga denganmu, tiba-tiba mendekatiku dengan cara seperti ini?!” sahut Min Ho. Lalu, mereka berdua menengok ke sekeliling mereka. Ada yang berbisik-bisik, ada yang menatap sirik, ada juga yang mengatakan ‘wah, mereka cocok sekali’ sambil menutup mulut mereka.

Mereka berdua pun mengambil mading yang tadi terjatuh. Untunglah, karena dibuat dari bahan yang anti pecah,mading itu tidak rusak terlalu parah, hanya lecet di berbagai sudut. Mereka bergegas menggantungnya kembali, dan melihat pengumuman bersama. Eun Ri yang kesal mengapa Min Ho selalu mengikuti gerakannya pun bertanya. “Kenapa sih? Dari tadi, aku ambil mading, kau ikut. Aku berdiri, kau ikut berdiri. Aku melihat pengumuman, kau ikut juga. Ada niat apa, hah?” tanyanya setengah berbisik. Min Ho tersenyum kecil sambil mendengus. “Heh, tubuh mungilmu takkan kuat mengambil mading, tau. Lagipula, siapa yang ingin mengikutimu? Aku memang ingin berdiri, dan aku memang ingin melihat pengumuman. Ara?”

Eun Ri kesal. “Huh, baiklah!” Ia merasa berdebat dengan Min Ho hanya akan menghabiskan suaranya saja. Saat ia melihat pengumuman di mading yang mulai ramai, ia bersorak dan tersenyum lebar melihat namanya masuk  ke dalam daftar mahasiswi baru di Fakultas Kedokteran. “Yee, aku masuk! Aku masuk! Joha!” Namun, mendadak air mukanya berubah saat melihat siapa yang akan satu dosen dengannya saat kuliah nanti. No. 25, Kang Eun Ri. No. 26… CHOI MIN HO.

“Mwo?!” jeritnya. Min Ho yang berdiri di sebelahnya berkata penuh kemenangan. “Sudah kubilang ‘kan, kita akan jadi teman disini.” Lalu pergi begitu saja meninggalkan Eun Ri dengan langkah lebarnya. Di tengah keluhan Eun Ri yang tak putus-putus,  seorang mahasiswi baru lainnya menghampirinya dan mengulurkan tangannya. “Annyeong haseyo… jeoneun Park Jin Yi imnida. Kau siapa?”

Eun Ri yang melihat uluran tangan dari mahasiswi baru itu lalu menjabatnya sambil mengenalkan namanya. “Annyeong haseyo… jeoneun Kang Eun Ri imnida. Kau mahasiswi baru juga, ya?” “Ne. Mohon bantuannya,” jawabnya.

Calon mahasiswi baru bernama Park Jin Yi itu melihat mading, ke arah pengumuman siswa dan siswi baru. Namanya persis di atas Eun Ri. “Ah, aku masuk! Kau, Kang Eun Ri nomor 25, ‘kan?” kata Jin Yi sambil berbalik dan mengambil tangan Eun Ri. “Eh, iya! Kira-kira, nanti kita satu dosen tidak, ya?” sambung Jin Yi.

“Tentu! Karena nomor urut 21 sampai 40 memiliki dosen yang sama. Kita satu dosen, aku suka itu, dan aku suka semua yang ada di universitas ini. Kecuali anak lelaki tengil satu itu, yang sedang berdiri di depan taman sendiri sambil entah mendengar lagu apa,” tunjuk Eun Ri pada Min Ho yang kini asyik bergoyang sendiri –sambil bersandar di pilar yang lebih kokoh. Jin Yi mengerinyit. “Eh, itu ‘kan, Choi Min Ho? Anak yang tinggal di seberang universitas ini?”

Eun Ri terhenyak. “Kau tahu siapa dia?” Jin Yi mengangguk. “Sangat kenal. Dia ‘kan sepupuku.”

Diam sejenak. Saking terkejutnya Eun Ri pun sulit berkata-kata. “…sepupu? Sepupu? SEPUPUU?! BENARKAAH?!” tanya Eun Ri histeris sambil menggoyang-goyangkan bahu Jin Yi.

“Ahaha, aduuh, hei! Mworago?! Sakiit!” keluh Jin Yi. Eun Ri pun melepaskan pegangannya pada bahu Jin Yi dan membungkuk. “Aduh, joisonghamnida… Aku terlalu kaget. Kau… Kau baik sekali, tapi Min Ho, aish! Dia tak pernah tersenyum tulus!” ujar Eun Ri. Jin Yi menepuk bahu Eun Ri. “Sabarlah Eun Ri, dia memang seperti itu. Dingin seperti salju, sama seperti orang di sebelah sana itu. Tadi pagi aku baru saja menabraknya, saat aku meminta maaf dia mendengus. Huh, menyebalkan!” balas Jin Yi.

“Hmm… seperti si Mr. Cold Choi itu ya. Siapa dia?” tanya Eun Ri. Jin Yi menunjuk ke arah taman, dimana seseorang sedang duduk sambil membaca sebuah buku tebal. “Hahaha… Mr. Cold Choi… Orangnya? Itu dia. Dia hanya berlalu sambil mengatakan ‘aku Key, nanti kalau sudah lulus kuperbaiki matamu’ sambil tersenyum sinis. Menyebalkan sekali,” tukasnya.

“Huh, chingu, nasib kita sama, chingu. Apa memang kita ditakdirkan bersahabat, ya? Umm, aku lelah. Ke kantin, yuk?” ajak Eun Ri. Jin Yi pun mengangguk dan menggamit tangan Eun Ri yang terjulur padanya.

***

Sementara itu, Min Ho masih asyik mendengarkan lagu ‘Juliette’ dari iPod Touch-nya. Volumenya agak keras sehingga terdengar oleh orang yang ada di sebelahnya. Lelah bersandar di pilar, ia pun mencari tempat duduk yang agak kosong. Dilihatnya seorang namja duduk sendiri sambil membaca buku. Buku pertolongan pertama pada pasien keroncongan (lho?). Bukan, maksudku buku yang isinya menerangkan tentang alat-alat medis yang segudang.

Min Ho duduk di sebelah namja itu dengan diam. Namja itu agaknya mendengar lagu yang didengarkan Min Ho, sehingga ia tanpa ba-bi-bu langsung bertanya pada Min Ho. “Hoi, telingamu tidak sakit mendengar lagu ‘Juliette’ sebegitu kerasnya?” tanya namja itu sambil mencolek bahu Min Ho. Min Ho yang kaget bahunya dicolek pun terlonjak dan membuka headsetnya sedikit. “Mwo?”

Namja di sebelah Min Ho itu pun menggeleng-gelengkan kepalanya. “Kau memasang lagu dengan keras sehingga aku pun dapat mendengarnya di tengah keributan seperti ini. Bukalah!” sahutnya. Min Ho pun membuka headsetnya dengan enggan. “Apa lagi?” tukasnya kesal. “He, kau ini. Kuberitahu agar telingamu tak rusak tak mau. Mau dipasangi alat pembantu pendengaran sepeti nenek-nenek, ha?” jawab namja itu.

Min Ho pun mendengus kesal, tapi ia ingin tahu siapa namja ini. Kalau ini seonbaeku, bisa gawat, batinnya. Ia pun bertanya. “Maaf, tapi kau siapa?”

“Aku Key. Kim Ki Bum. Mahasiswa kedokteran baru disini.”

“Aku juga. Choi Min Ho.” Min Ho merasa lega. Mereka pun berjabat tangan –dengan muka datar.

Lalu Key meneruskan membaca buku tebalnya. Min Ho pun kembali memasang headsetnya, diiringi peringatan dari Key yang tak menoleh sama sekali dari bukunya, “Volumenya jangan terlalu keras. Lulus nanti aku perbaiki telingamu dengan memasang corong besar khusus kalau kau mengalami gangguan telinga serius.” Min Ho mendengus dan menyalakan kembali lagu kesukaannya itu.

Namun ia tersadar akan sesuatu. Eun Ri dimana ya?

^)^

Notes :
Mian kalo cerita tentang universitasnya rada-rada ngaco… Yang soal nomor urut sama dosen ^^ Ngasal, abis kalo aku liat di mana-mana orang yang mau masuk univ atau yg udh masuk pasti dapet nomor induk, bukan nomor urut kayak ujian ^^ Lagi ‘sotoy mode : on’ J

Jangan lupa komen n saran… Thanks for your attention *bow* Gamsahamnida!

Advertisements

37 responses to “The Coldest Man Ever (part 1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s