In Your Smile (Oneshot)

Character:

-Park MinChi (Author)

-Lee Jinki SHINee

-Choi Minho SHINee

Rating: T

Length: Oneshot

Genre: Friendship + Romance

Author: Park MinChi 

Annyeong chingu ku…
Aq buat ff ya…
Mw bca??
Silahkan…
Yuk cin capcus…!
^^


Minho P.O.V
Lagi-lagi, aku mendatangi toko piano yg ada di seberang kota. Dan disana, aku melihat sesosok wanita yg sedang bermain piano dengan senyuman terindah yg pernah kulihat. Aku nggak tau dari mana wanita itu. Setiap aku melewati toko tersebut, pasti wanita itu sedang bermain piano. Mataku nggak lepas melihat senyumannya.
Nggak jarang aku ingin sekali mendekati wanita itu, tapi sayang, aku nggak punya keberanian untuk berhadapan dengannya. Aku cuma bisa melihatnya dari luar toko.
Pagi ini, seperti biasanya ia memainkan piano itu. Akupun cuma bisa menatapnya dan berharap agar dia bisa melihatku. Tapi tidak sama sekali ia mengalihkan pandangannya ke arahku. Aku melanjutkan perjalananku.

***

Kalian tau, semenjak aku melihat wanita itu, aku jadi sering terlambat ke sekolah. Seperti sekarang ini, aku sudah terlambat masuk ke sekolah. Biasanya, aku selalu menyempatkan diri untuk melihatnya. Dan sekarang aku sudah terlambat.
“CHOI MINHO!!!”panggil seseorang di belakangku. Ups! Ternyata itu Pak Park. Aigo! Ketauan lagi.
“Berapa kali kamu sudah terlambat?!”tanya Pak Park.
“Baru 1 kali pak,”jawabku.
“1 Kali apanya?! Yang kemarin-kemarin itu apa?! Kamu pikir sekolah ini sekolah nenek moyang kamu seenaknya aja main masuk!”ceramah Pak Park.
“Maaf pak, sayakan cuma punya 2 kaki. Jadi nggak bisa disalahin dong,”belaku.
“Teman-temanmu juga cuma punya 2 kaki, tapi kenapa mereka tidak terlambat?”ujar Pak Park. Aish! Pak Park nggak bisa di boongin nih. Gimana ya?
“Gini loh pak, pagi-pagi saya harus membantu orang tua saya dulu berjualan. Setelah itu baru saya sekolah,”aku mencari alasan yg tepat.
“Oh ya? Setau bapak, orang tua kamu itu pekerjaannya di kantoran,”ucap Pak Park. Aigo! Nyari alasan apa lagi nih?
“Sudahlah, kamu boleh masuk setelah jam pertama selesai. Araseo?”seru Pak Park.
“Ne..”jawabku. Fiuh! Untung nggak dihukum.
“Tapi, pulang sekolah kamu bersihin WC! Areseo?!”
“Mwo???”
“WAeyo? Kamu nggak suka?”
“Aniyo… Baiklah,”jawabku terpaksa.

***

Bel jam pertama selesai, aku langsung masuk ke kelas . Teman-Temanku menatapku aneh.
“Mwoyo?!”tanyaku. Mereka semua langsung memalingkan wajah mereka. Aku kembali ke tempat duduk.
“Kau kenapa terlambat terus sih? Melihat yeoja itu lagi?”tanya sahabatku yg bernama Lee Jinki.
“Sudah tau nanya lagi!”jawabku.
“Sampai kapan kau melihatnya terus? Dekati dia, ajak kenalan. Itu aja repot banget sih? Kau kan jadi tidak perlu terlambat tiap hari,”ceramah Jinki.
“Yaaa! Kau ini tidak ada bedanya dengan Pak Park. Ceramah mulu!”kesalku.
“Inikan yg terbaik buat kau. Apa perlu aku bantu?”tanya Jinki. aku menatapnya lekat-lekat.
“Apa kau serius?”
“Ne…”Jinki mengangguk.
“Pulang sekolah, kau bantu aku dulu sebelum itu. Oke?”seruku bersemangat.
“Bantu ngapain?”tanya Jinki.
“Bersihin toilet,”jawabku sambil mengeluarkan buku pelajaran.
“Mwo??? Tidak mau! Kerjain aja sendiri! Lebih baik aku pacaran ma Hye Lie dari pada bantuin kau!”tolak Jinki.
“Jinki, jebal…”pintaku.
“Sekali TIDAK tetap TIDAK! Titik!”Jinki menolak mentah-mentah. Aku memasang tampang memelas.
“Baiklah… Untuk kali ini saja! Besok-besok, aku tidak akan membantumu! Araseo?” Aku tersenyum menang.
“Gommawo jagya…”ucapku.
“Yaaa! Hanya Hye Lie yg boleh memanggilku seperti itu!”
“Jagy…”godaku.
“Aish!”Jinki bersiap-siap untuk menggeplak kepalaku. Untung aku bisa menyingkir, kalau tidak kepalaku bisa benjol.

***

Pulang sekolah, aku dan Jinki menuju toko piano tersebut. Aku yakin, pasti yeoja itu masih ada di sana. Sedangkan Jinki yg sedang asik telpon-telponan dengan Hye Lie.
“Jinki, sudah dulu dong telponannya. Aku ingin bertanya untuk nanti nih,”seruku.
“Aish! Kan sudah ku ajarkan di WC tadi!”
“Tapi aku gugup nih. Ayolah…”pintaku. Tapi Jinki seperti tidak menganggapku. Kuambil Hpnya dan aku berbicara pada Hye Lie.
“Hye Lie, mianhe, Jinki aku pinjem dulu. Gommawo,”kataku pada Hye Lie lalu ku matikan Hpnya.
“Aish! Kau ini apa-apaan sih! Memang kau mau tanya apa lagi?!”marah Jinki. Aku rasa Jinki mulai marah.
“Nanti kau masuk duluan ya?”ucapku.
“KEnapa harus aku? Yg mau berkenlan dengannya kan kau!”tolak Jinki.
“aku nggak berani. Nanti aku malah mengacaukannya.”
“Baiklah,”jawab Jinki.
“Gommawo jagya…”seruku.
“Yaaa! Kan sudah kubilang, hanya Hye Lie yg boleh memanggilku seperti itu!”marah Jinki.
Sesampainya di depan toko, Jinki langsung nyelonong masuk.
“Annyeong…”sapanya. Yeoja itu berhenti bermain piano.
“Si-siapa?”tanyanya. Omo! Suaranya merdu sekali.
“Aku Lee Jinki, apa boleh melihat-lihat tokonya?”tanya Jinki yg memberi rambu-rambu agar aku memperkenalkan diri.
“Annyeong… Cheoneun Choi Minho imnida,”sapaku. Yeoja itu mendengar suaraku. Tapi, kenapa dia nggak liat aku?
“Annyeong, Park Minchi imnida,”balasnya. Setelah berbulan-bulan aku cuma bisa melihatnya, kini aku tau namanya.
“Apa aku boleh bertanya?”tanyaku.
“Mwo?”
“Sudah berapa bulan ini aku melihat kamu bermain piano. Apa kamu pemilik toko ini?”tanyaku.
“Ini toko punya ummaku. Hanya saja ummaku jarang datang kesini. Oppa ini dari mana?”jawab Minchi.
“Kami masih sekolah. Oh ya, apa aku boleh berkenalan denganmu?”kuberanikan diri untuk berbicara seperti itu.
“Kamu tenang aja, aku nggak jahat kok. Aku hanya ingin berteman denganmu. Apa boleh?”ucapku.
“Mwo? Oppa beneran ingin menjadi temanku?”tanya Minchi.
“Ne, apa boleh?”balasku.
“Selama ini, temanku cuma piano ini. Dan sekarang aku mempunyai teman. Tapi…”
“WAeyo?”
“Apa oppa yakin ingin berteman denganku? Coba oppa lihat aku baik-baik. Aku mepunyai kekurangan,”ucapnya. Aku memperhatikannya dan aku baru sadar, kalau dia ….. *di sensor dulu ya chingu, biar penasaran gitu*
“WAeyo? Oppa nggak mau? Gwenchana…”ucapnya.
“Aniyo… Aku benar-benar ingin menjadi temanmu. Aku janji, setiap pulang sekolah aku akan mampir kesini menemanimu. Kalau begitu, kami permisi dulu ya?”pamitku.
“Ne oppa.. Hati-hati ya,”ucapnya. Aku menarik Jinki keluar.
“Bagaimana? Kau sudah kenalan dengannya?”tanya Jinki.
“Sudah, tapi…”
“Tapi apa?”
“Ternyata dia…”
“Dia kenapa?”
“Dia….”
“Ternyata dia…buta,”ujarku.
“Lalu? Apa kau masih menyukainya?”
“Ya iya lah! Masa aku langsung mundur begitu saja! Aku kan seorang namja yg konsisten! *gaya banget bahasanya! -.- *
“Baguslah, kalau begitu aku akan mendukungmu,”ucap Jinki menyemangatiku.
“Oh ya, kau masih mau membantukukan?”tanyaku.
“Ehmmmmm…..”Jinki berpikir.
“Jebal…” *dengan puppy eyesnya ^.^ *
“Asal kau tidak memanggilku dengan kata-kata yang menjijikan itu!”seru Jinki.
Gommawo Ja- ups! Maksudku Jinki. Hehehe…”
“Haiz!”Jinki siap-siap melempar sepatunya. Aku langsung lari meninggalkannya.

***

Sudah seminggu aku selalu datang menemani Minchi dan bermain-main dengannya. Dia sangat menyenangkan walaupun dalam keadaan seperti itu. Dengan sering bertemunya kami, perasaanku semakin nggak karuan. Kadang keringat dingin, kadang dag-dig-dug, dan rasanya jantungku ingin copot setiap melihat ia tersenyum.
Sore ini, langit tidak mendukungku untuk bertemu dengan Minchi. Di luar hujan sangat deras. Untung aku membawa payung di dalam tasku. Karna ummaku sering berkata bahwa akhir-akhir ini cuaca tidak tentu *kok kayak anak mami banget ya?* .
Aku membuka payung dan kulangkahkan kakiku kea rah toko piano milik Minchi. Disana aku melihat ia sedang berdiri di depan pintu menunggu hujan reda. Bajunya sebagian sudah basah. Aku berlari kearahnya dan memayunginya. Karna payungku kecil dan hanya muat satu orang, jadi badanku yg basah. Nggak pa-palah, hitung-hitung pengorbanan untuk orang yang dicintai. Hehehe…
“Si-siapa?”tanya Minchi.
“Ini aku, Minho. Kamu tidak lupakan?”jawabku.
“Oppa,kenapa hujan-hujan kesini?”
“Akukan sudah janji denganmu, setiap pulang sekolah, aku akan kesini untuk menemanimu,”ujarku.
“Kalau begitu, kita masuk aja oppa. Nanti oppa kena hujan, malah sakit. Ayo oppa,”ajak Minchi. Minchi aku memang sudah basah.
Setelah kami masuk ke dalam, aku mencoba mencairkan suasana. Walaupun sebenarnya badanku sudah kedinginan, aku mencoba bertahan.
“Minchi, apa aku boleh bertanya?”tanyaku.
“Mwoyo oppa?”
“Sebelumnya aku minta maaf ya. Tapi, kenapa kamu bisa jadi seperti ini?”
“Maksud oppa?”
“Mata kamu, kenapa?”ujarku.
“Oh, ini. Jadi, beberapa tahun yang lalu, umma dan appaku berantem hebat. Itu semua karena appaku. Appaku seorang pemain piano hebat dulu, banyak wanita yg menyukainya. Ummaku selalu percaya kata appaku bahwa ia tidak akan berpindah kelain hati . Tapi, saat aku berumur 12 tahun, ummaku melihat appaku berkencan dengan wanita lain. Sehingga, waktu appaku pulang, mereka bertengkar. Saking aku ketakutan, aku bersembunyi di bawah meja. Aku mendengar apa yg mereka bicarakan. Lalu, appaku memecahkan sebuah bingkai foto pernikahan mereka dan pecahan-pecahan belingnya masuk ke mataku. Aku menangis kesakitan saat itu. Ummaku dan Appaku langsung membawaku ke RS dan saat itulah aku seperti mendapatkan mimpi buruk di hidupku,”jelas Minchi dengan berlinang air mata. Aku menghapus air matanya.
“Maaf ya oppa, aku jadi curhat dengan oppa,”ucap Minchi.
“Aniyo.. Aku senang kamu mau cerita pengalaman kamu,”seruku.
“Oppa, apa aku boleh menyentuh wajah oppa?”tanya Minchi.
“Ne, silahkan,”jawabku. Tangan Minchi meraba wajahku. Mata, hidung, bibir, jantungku langsung berdegup kencang. Ku ambil tangannya dan…
“Minchi, apa aku boleh jujur?”ucapku.
“Waeyo oppa?”tanyanya.
“sudah lama aku memperhatikanmu. Setiap kali aku melihatmu bermain piano dengan senyumanmu, jantungku berdegup cepat. Aku seperti kenal denganmu sudah lama. Aku tau ini begitu cepat untukmu, tapi aku ingin menjadi pemilik hatimu. Aku ingin menjadi penerang buat kamu. Dan kamu menjadi melodi di setiap hariku. Apa kamu mau, menjadi yg terakhir buat aku?”tanyaku.
“Mwo? Oppa yakin? Kita baru aja kenal. Dan apa oppa nggak malu berpacaran dengan orang buta?”Minchi terdengar sangat kaget.
“aku nggak akan pernah malu Minchi. Karna aku benar-benar mencintai kamu,”jelasku.
“Tapi oppa, aku Cuma bisa jadi beban buat oppa. Aku nggak mau jadi beban untuk orang-orang. Bahkan ummaku saja nggak mau ngurusin aku. Dan oppa tiba-tiba aja ngomong gini?”
“Minchi, dengar aku, aku mencintai kamu apa adanya. Semua yg ada di diri kamu. Terserah orang mau bilang apa. Yang penting kita saling percaya dan saling melengkapi. Aku mohon Minchi, aku janji akan selalu ada buat kamu,”pintaku.
“apa oppa bisa janji nggak akan nyakitin aku?”
“Ya, aku janji dan aku bakal buktiin ke kamu, aku akan setia sama kamu. Selamanya aku hanya untuk kamu. Aku janji,”ucapku pasti.
“aku akan pegang omongan oppa. Kita jalanin aja apa adanya. Aku harap, oppa nggak cuma ngomong aja,”seru Minchi.
“Ne Minchi, gommawo…”aku memeluk Minchi. Akhirnya aku bisa memiliki dia sepenuhnya. Impianku selama ini terwujud. Mimpiku kini menjadi kenyataan. Aku janji aku akan menjaga Minchi dan menjadi penerang baginya. Gommawo jagya… ^^

***
Aku berlari kea rah Jinki. Jinki yg sedang belajar di perpustakaan, merasa kaget dan aneh.
“Jinki, kau tau kejadian apa yg aku alami kemarin?”seruku.
“Waeyo?”tanya Jinki.
“aku sudah menyatakan cinta pada Minchi!”seruku.
“Mwo?!”Jinki tersentak kaget.
“Sssttt!”suruh penjaga perpustakaan. Kami terdiam.
“Bagaimana bisa? Kalian baru aja kenalkan? Terus dia jawab apa?”tanya Jinki.
“Iya, kami emang baru kenal, tapi aku sudah lama menyukainya. Dan aku berjanji padanya bahwa aku akan menjaga dan setia kepadanya. Jadi sekarang kami pacaran!”ujarku.
“Selamat ya,”ucap Jinki.
“Gommawo Jinki,”balasku.
“Kau harus menjaganya. Jangan lepaskan dia. Araseo?”
“Ne jagya…”godaku.
“Yaaa!!!!!!”Jinki mengejarku keluar perpustakaan. Hahaha…. Aku benar-benar orang yang paling bahagia saat ini. Minchi, SARANGHAEYO!!! *meluk-meluk Jinki* ^^
—————————————————————————————
Gimana ceritanya? Baguskah? Jelekkah?
Di coment ya chingu…
Di tunggu ya…
Ghamsamnida…

Advertisements

18 responses to “In Your Smile (Oneshot)

  1. kirain tkoh utamanya jinki,soalnya lebih senang klo yg jadi tkohnya dia drpd si minho *ditaboks bini2 minho*.
    pi bagus bagus..
    cuma ada yg kurang.
    kurang panjang..hhehehehe.
    peace author..^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s