Autumn vs Summer

Title : Autumn vs Summer
Author : Lunarcherry
Casts : SHINee Key, KARA Nicole, MBLAQ Chondung (Thunder), f(x) Victoria.
Genre : Romance, A little fluff.
Rating : PG-15
Length : Chaptered
Disclaimer : The casts belong to each other themselves, but this fanfic belong to me.

Key membawa sebuah nampan berisi sepiring makanan dan segelas jus jeruk ke sebuah meja di kantin. Di situ, beberapa temannya sedang berkumpul.

“Hei, Jinki, kau tadi dihukum ya?”, tanya Eunhyuk to the point.

“Hmm. Menyebalkan sekali. Padahal aku cuma telat 30 menit”, keluh Jinki kesal. Ia teringat kejadian pagi tadi, ketika ia harus dihukum berdiri di depan kelas dengan sebelah kaki sambil menjewer telinga sendiri. Benar-benar memalukan. Beberapa gadis yang lewat bahkan tertawa geli melihatnya.

“30 menit itu lama tau! Pantas saja kau dihukum!”, celetuk Lee Joon.

“Setidaknya itu lebih awal dibandingkan yang kemarin”, Jinki membela diri.

“Memangnya kemarin kamu telat berapa menit?”, tanya Lee Joon lagi.

“2 jam”, jawab Jinki enteng. Semua hanya bisa menepuk dahi mendengar jawaban Jinki, kecuali Key yang dari tadi hanya diam memandangi makanannya.

“Key”, panggil Eunhyuk. Ia heran melihat Key hari ini. Key menjadi sangat pendiam. Padahal biasanya, Key pasti tertawa paling keras saat mendengar kisah penderitaan Jinki. “Kau kenapa, Key?”.

Key hanya mendesah kesal sambil memandang makanannya tanpa nafsu. “Tidak apa-apa”.

“Ada masalah? Cerita donk sama kita”, bujuk Jinki.

Key memandang wajah penasaran sahabat-sahabatnya itu satu persatu. Ia bimbang, antara menceritakan masalahnya atau tidak.

“Kalian bisa berjanji satu hal padaku?”.

“Berjanji apa?”.

“Jangan katakan ini pada siapa pun”.

Ketiga sahabatnya mengangguk bersamaan.

“Aku punya masalah yang sangat kompleks, menyangkut masa depanku, hidup dan matiku. Menyangkut kebahagiaan seorang anak manusia yang polos sepertiku ini. Seharusnya masalah ini dibawa ke Komisi Perlindungan Anak agar ditangani lebih lanjut”, ucap Key dengan sangat berlebihan, namun malah membuat sahabat-sahabatnya makin bingung.

“Masalah apa sich? Bicaramu itu singkat, padat dan nggak jelas. Kita nggak ngerti”, celetuk Jinki kebingungan.

“Masa kalian nggak ngerti sich maksudku?”, tanya Key setengah frustasi. Yang lainnya hanya bisa menggeleng berjamaah, tidak mengerti maksud Key.

“Hahhh, baiklah, akan kujelaskan lebih detail. Jadi ceritanya, appaku ingin anak tunggalnya ini segera menikah. Dan ia berniat menjodohkanku, agar aku bisa cepat menikah selesai SMA nanti”, Key menjelaskan dengan wajah kesal dan menggebu-gebu.

“Oh, jadi appamu tahu kalau kamu nggak pintar cari pacar ya?”, celetuk Eunhyuk dengan wajah tanpa dosa. Jinki segera menjitak ubun-ubun Eunhyuk yang baru saja mengeluarkan pernyataan tidak bermutu. “Bukan itu maksud Key, pabo”.

“Terus apa donk?”.

“Maksud Key, dia itu mau mencari pacar sendiri untuk dinikahi selesai SMA nanti. Gitu kan Key?”, tanya Jinki.

“Kalian berdua ini nggak nyambung. Maksudnya, Key itu nggak mau cepat-cepat nikah, apalagi dengan cara dijodohkan kayak gini. Gitu kan, Key?”, tanya Lee Joon. Key hanya menganggukkan kepalanya lemas.

“Lalu, siapa gadis pilihan ayahmu itu? Apa dia cantik? Seksi?”, tanya Lee Joon penuh minat.

“Nggak tau”.

“Loh? Kok nggak tau?”, Lee Joon bingung.

“Nggak tau dan nggak mau tau. Nggak peduli dia cantik atau nggak, pokoknya nggak mau. Titik”, ucap Key ketus. Amarahnya mulai sedikit meluap mengingat kejadian kemarin malam, ketika appa dan ommanya bersekongkol mau menjodohkannya.

“Kalau gadis itu cantik dan kau tidak mau, berikan saja padaku, Key. Aku siap menerimanya kok”, ujar Lee Joon dengan senyum mengembang lebar sambil merentangkan tangannya.

“Ambil saja”, jawab Key kesal. Ia sedikit menyesal telah menceritakan hal ini pada sahabat-sahabatnya. Bukannya solusi yang ia dapat, malah pernyataan-pernyataan nggak penting yang ia dengar.

“Tapi memangnya kenapa ayahmu menyuruhmu cepat-cepat menikah?”, tanya Jinki penasaran.

Key menghela nafas dalam-dalam. “Entahlah. Aku juga tidak tahu”.

“Tapi sepertinya tidak ada salahnya kau menikah muda. Kehidupanmu kan sudah terjamin. Perusahaanmu ada dimana-mana, kau tidak perlu susah-susah kuliah untuk mencari kerja”, kata Eunhyuk.

“Tapi aku ingin seperti kalian. Kuliah, mencari kerja, sama seperti anak-anak lainnya juga. Kalian bisa bayangin nggak sich kalau aku benar-benar menikah muda? Di saat kalian asyik menikmati masa muda, aku malah harus mengurus anak dan istri. Aaaaaaaaa!!!! Aku nggak bisa bayangkan hal ituuuu!!!!”, Key berteriak frustasi.

“Kalau begitu kabur saja dari rumah”, sahut Eunhyuk enteng. Senyum lebar langsung mengembang di bibir Key. Ia menepuk kepala Eunhyuk, “tumben otakmu bekerja dengan baik”.

Teng Teng~, bel sekolah berbunyi nyaring, menandakan waktu istirahat sudah berakhir. Kerumunan siswa di kantin pun mulai buyar, begitu juga Key dan kawan-kawan.

***

Udara dingin mengalir lembut di kota Seoul, menerpaku yang sedang berjalan sendirian di trotoar menuju halte bus. Kurapatkan jaketku agar tidak kedinginan.

“Nicole Jung!”, sebuah suara tiba-tiba mengagetkanku, disusul sebuah tepukan di bahuku. Aku terlonjak kaget, kemudian menoleh pada orang yang sedang kini berjalan di sampingku.

“Chondung-ah, kau hampir membuatku jantungan!!”, kesalku.

“Hehehehe, tapi belum jantungan kan?”, tanya Chondung cengengesan.

“Kalau aku jantungan di sini, kau yang harus tanggung jawab”.

“Tenang saja, pemakaman dekat kok”.

“Aaaaaaaaa!!! Kau pikir aku mau mati??”, teriakku geram setelah mendengar kata pemakaman. Memangnya aku ini mau mati apa?

“Iya iya, aku tahu. Ngomong-ngomong, jam segini baru pulang sekolah?”, Chondung melirik jam tangannya, “Pasti ada jam pelajaran tambahan ya?”.

Aku hanya mengangguk lemah, menerima nasib sebagai murid kelas 3-2 yang punya wali kelas paling kejam di dunia, Kangin sonsaengnim. Bayangkan saja, ia memberi jam pelajaran tambahan sampai pukul 7 malam seperti ini. Belum lagi PR yang bisa membuat anjingku saja muntah muntah melihatnya.

“Untung saja wali kelasku bukan Kangin sonsaengnim”, ucap Chondung penuh syukur. Tentu saja ia bersyukur. Wali kelasnya, Gyuri sonsaengnim, sudah cantik, baik, ramah, pintar, tidak pernah memberi PR lagi. Benar-benar wali kelas idaman.

“Mmmm, aku benar-benar menderita. Hei Chondung-ah, kau baru dari mana? Bukannya kau sudah pulang sekolah dari jam 3 tadi?”.

“Oh itu. Aku baru pulang dari rumah Victoria. Ini kan malam Minggu”, ucap Chondung senang. Huuuff, aku hanya bisa mendesah kesal mendengar Chondung menyebut nama Victoria.

“Apa yang kau lakukan di rumahnya?”.

“Melakukan sesuatu yang mengasyikkan”, jawab Chondung dengan senyum penuh teka-teki. Mendengar jawabannya, mataku langsung membulat kaget. Imajinasiku seketika berkelana jauh dari alamku.

“A…apa yang kalian lakukan?”, tanyaku terbata-bata, antara takut mendengar jawabannya dan dorongan rasa penasaran.

“Kami…main playstation”, Chondung berkata menjawab lugunya. Huuuufff, syukurlah~

“Dasar kau ini kekanak-kanakan sekali”.

“Hehehe. Eh Nicole-chan, mau makan malam dulu denganku?”, tawarnya.

“Aku mau pulang. Lihat ini, tasku berat sekali”, keluhku.

“Kau pulang naik apa?”.

“Bis donk”.

“Tapi haltenya sudah kelewat dari tadi”, Chondung menunjuk ke belakang. Aku langsung membalikkan tubuh dan melihat ke belakang. Kyaaaaaa!!! Haltenya sudah kelewat jauh sekali. Dengan terpaksa, akhirnya aku berjalan kembali ke halte itu, membawa tas sekolah yang lebih terlihat seperti berisi bom daripada buku-buku. Sial, berat sekali. Pantas saja pertumbuhanku terhambat.

***

“Nicole, bangun!”, omma menggoncang-goncang pundakku.

“Wae omma? Aku masih ngantuk”.

“Ayo bangun. Hari ini ada acara pertemuan dengan teman appamu. Kau harus ikut”.

Aku membuka kelopak mataku yang masih lengket, kemudian mengerjap-ngerjap sebentar. Jam berapa ini? Kamarku terang sekali.

“Ah Ommaaa,aku tidak usah ikut yaaa? Ngantuuuukk”, ucapku sambil menggeliat, kemudian memeluk guling kesayanganku lagi.

“Tidak boleh. Pokoknya kamu harus ikut!”. Kalau omma sudah bilang ‘pokoknya’, maka seberapa ngotot pun aku menolak, pasti akhirnya kalah juga. Dengan mata masih terpejam, aku berjalan ke kamar mandi sambil memeluk guling. Rencananya aku mau tidur lagi di kamar mandi, tapi tiba-tiba omma merebut gulingku.

“Kau mau tidur di kamar mandi lagi kan? Tidak boleh. Cepat mandi dan dandan yang cantik. Kau harus pakai gaun dan high heels untuk kali ini”, perintah omma.

“Apa? Pakai gaun dan high heels???”, teriakku kaget. Memangnya kenapa sich harus pakai gaun dan high heels? Aku kan nggak suka pakai kedua barang itu.

“Sudah cepat, nanti kau juga akan tau sendiri”, jawab omma sambil mengerlingkan mata, kemudian mendorongku masuk kamar mandi.

***

“Annyong haseyo”, appa dan omma membungkukkan badannya ketika berhadapan dengan si tuan rumah, yang kutahu namanya Kim Junsu. Saat ini kami sudah sampai di rumah teman appa. Rumahnya besar, sangat besar malahan.

“Ne annyong haseyo. Silahkan masuk”, ucap wanita yang sepertinya istri Mr. Junsu. Kami segera masuk dan duduk di sebuah sofa warna merah maroon.

“Bagaimana? Apa putrimu sudah setuju, Yunho?”, tanya Mr. Junsu. Aku mengerutkan alis. Setuju apa???

“Tentu saja. Key sendiri bagaimana?”.

“Agak sedikit susah. Maklumlah, anak muda jaman sekarang. Mama, tolong ambil Key di kamarnya”, ucap Mr. Junsu pada istrinya yang kemudian segera beranjak ke atas.

Beberapa menit menunggu, tiba-tiba terdengar teriakan panik Mrs. Junsu.
“Papaaaa!!! Key tidak adaaaa!! Key tidak adaaa!!”.

Mendengar teriakan histeris Mrs. Junsu, Appa, omma, dan tentu saja Mr. Junsu langsung terkejut.

“Tunggu sebentar ya, aku mau ke atas dulu”, ucap Mr. Junsu buru-buru, kemudian ikut naik ke atas, meninggalkan keluargaku sendiri di ruang tamunya.

“Appa…”, panggilku pelan. Sepertinya sekarang adalah saat yang tepat untuk aku bertanya

“Ada apa Nicole?”.

“Sebenarnya ini ada apa sich?”, tanyaku penasaran. Firasatku tidak enak.

“Kami…sebenarnya kami akan menjodohkanmu dengan anak Mr. Junsu”.

“APAAAAA????”, teriakku kaget bukan main. “Jadi ini acara perjodohan??? Kenapa appa tidak memberi tahuku? Aku kan tidak bilang setuju!!”, aku langsung berdiri dari sofa. Rasanya kakiku sudah siap membawaku kabur dari rumah ini kalau-kalau appa dan omma memberikan alasan yang tidak masuk akal.

“Kalau kami memberi tahumu dulu, kau pasti tidak akan mau di ajak ke sini. Nicole-ah, ini demi kebaikanmu juga”, ucap omma. Aku tidak mau mendengarnya. Aku terlanjur muak. Yang ada di pikiranku sekarang hanya kabur-kabur-kabur-dan-kabur.

“Aku tidak peduli. Aku mau pergi!”, kesalku, kemudian langsung berlari keluar, menyusuri halaman rumah yang luas, menyusuri jalan kompleks, hingga sampai di jaln raya, tanpa peduli dengan omma dan appa yang berusaha mengejarku dan terus memanggilku.

Aku terus melangkahkan kaki, tapi tidak tahu kemana harus pergi. Huh, memangnya siapa yang peduli pergi kemana. Yang penting jauh dari rumah itu, jauh dari rumahku sendiri, jauh ke tempat yang tidak bisa ditemukan orang tuaku.

—————————————To Be Continued——————————————

A/N : Mianh ya kalo geje T.T. Ni ff pengganti Baby Baby nya. hehe^^
Jangan lupa comment*DON’T BE SILENT READER, PLEASE*

Advertisements

34 responses to “Autumn vs Summer

  1. Hhi~ Pantes cast-nya sama kayak di baby baby ^^ Ada chundoong!!! xD Saya suka..Saya suka… *Kayak Mei Mei di Upin & Ipin* wkwkwkwk ^^ lanjut please eon^^

  2. Ahaha.. Kayae seruu nih.

    Itu orangtua key sama nicole kejem bgt. Baru lulus dah d suruh nikah. Kalo ak gak bakal mau xD

    Hhoho ditunggu lanjutane xD

  3. Waa, lucu banget gaya bahasa percakapannya. Hehehe. Di tunggu lanjutannya, chingu. Cepetan yaa *maksa* hahaha 😀

  4. asyikkkk, key kabur !!! kabur ke rumahku aja key, *ditabok author
    ada summer-summernya nih, *geje
    aku telat banget baru baca sekarang !!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s