Mianhae, but Saranghae Donghae Oppa ♥

Title: Mianhae, but Saranghae Donghae oppa ♥

Author: Vdlitanasuciara

Cast: Lee Chunghee, Lee Hyuk Jae (Eunhyuk Super Junior) and Lee Donghae (Donghae Super Junior)

FF ini, aku persembahkan untuk ‘mantan appa’ku, Arimbi aka Lee Chunghee ^^~

Miss youu ~~

NO SILENT READERs ~

***

“Ah, malam yang mencekam” kataku sambil melirik keluar jendela.

“Malam ini memang mencekam, apalagi kalau aku yang datang” kata seorang laki laki.

“Hyuk Jae oppa. Mengagetkan” kataku sambil memukulnya pelan.  Sedangkan dia, hanya tertawa.

“Kok sudah pulang jam segini ?” tanyaku sambil melihat jam dinding.

“Pekerjaanku selesai lebih awal” jawab Hyuk Jae oppa. Aku hanya mengangguk mengerti.

“Donghae tidak melakukan sesuatu padamu ?” tanya Hyuk Jae oppa tiba tiba.

“Hah? Ya nggak lah. Dia kan oppaku” jawabku.

“Kau tidak lupa dengan apa yang dikatakan appa kan ?” tanya Hyuk Jae oppa lagi.

“Aniyo. Apa dia tau ?” tanyaku balik.

“Sepertinya tidak. Karena, hanya kita berdua yang tau” jawab Hyuk Jae oppa sambil memandangku.

“Jangan memandangku seperti itu” kataku risih.

“Anggap saja aku dia. Aku mengeluarkan pandangan tajam yang bisa membuatmu jatuh hati” goda Hyuk Jae oppa.

“Ish, oppa ini” kataku sambil memeluk Hyuk Jae oppa.

“Chunghee, HP” teriak Donghae oppa tiba tiba.

“Tuh, pangeranmu sudah teriak teriak” sindir Hyuk Jae oppa.

“Dia oppaku” kataku ketus.

“Iya iya. Sana kembalikan HPnya” kata Hyuk Jae oppa sambil mendorongku keluar kamar.

“Eh , jangan maen dorong dong. Ambilin HPnya” kataku.

“Mana ?” tanya Hyuk Jae oppa.

“Tuh, disebelahmu” jawabku sambil menunjuk HP yang ada disampingnya.

“Tangkep” kata Hyuk Jae oppa sambil melempar HP Donghae oppa.

“Uwaah. Dapet” teriakku sambil menangkap HP Donghae oppa.

***

“Oppa, HPmu. Buka pintunya” kataku sambil mengetuk pintu kamar Donghae oppa.

Tak lama kemudian, Donghae oppa membuka pintu kamarnya.

“Nih” kataku ketus sambil mengembalikan HPnya.

“Kenapa selalu ketus sih ?” tanya Donghae oppa.

“Suka suka” kataku datar.

“Ya terserahmu. Sini aku mau bicara” kata Donghae oppa sambil menarikku kedalam kamarnya dan mengunci pintu kamarnya.

“Hei oppa babo, kenapa dikunci ? Nanti dikira macem macem sama Hyuk Jae oppa” protesku.

“Nggak. Mangkanya diem” kata Donghae oppa sambil terus menarikku dan menjatuhkanku di kasurnya.

“Apa ?” tanyaku ketus.

“Bantu aku” pinta Donghae oppa pendek.

“Bantu apa ?” tanyaku.

“Berpura puralah jadi pacarku” jawab Donghae oppa santai.

“MWO ?!” teriakku.

“Sstt. Aku sudah bilang, jangan berisik” protes Donghae oppa sambil membekap mulutku.

“Arra arra. Singkirkan tangan oppa dariku” kataku.

“Sudah aku singkirkan, jagiya” kata Donghae oppa mesra.

Deg .. Deg .. Deg ..

Donghae oppa, kenapa kau membuatku seperti ini ?

“Kenapa ?” tanya Donghae oppa bingung.

“Kenapa kau memanggilku, jagiya ?” tanyaku bingung.

“Kau harus terbiasa aku panggil jagiya” jawab Donghae oppa sambil duduk disebelahku.

Seandainya oppa tau …

“Kenapa melamun ?” suara Donghae oppa membuyarkan kata kataku.

“Siapa yang ngelamun ?” tanyaku balik.

“Ah, lupakan. Sekarang keluarlah. Aku mau …” usir Donghae oppa.

“Online Twitter !” sambungku.

“Nah, itu tau” kata Donghae oppa sambil merangkulku.

“Aku bilang singkirkan tanganmu” protesku lagi.

“Iya iya. Udah sana keluar” usir Donghae oppa lagi.

“Arra arra. Jangan salahkan aku kalau aku besok tidak membantumu” ancamku.

***

“Selamat pagi, jagiya” kata seseorang ketika aku membuka mataku.

“Tidak perlu memanggilku dengan sebutan seperti itu kalau dirumah” protesku.

“Wae ?” tanya Donghae oppa dengan wajah polosnya.

“Dasar babo” kataku seraya meninggalkan Donghae oppa yang masih kebingungan.

“Chunghee, oppa berangkat. Hati hati, ingat pesan appa” teriak Hyuk Jae oppa dari luar kamarku.

“Ne oppa. Hati hati di jalan ya” balasku.

“Hae, jaga dongsaengmu itu. Jangan berbuat aneh aneh” pesan Hyuk Jae oppa lagi.

“Ne, hyung. Pesanmu kenapa selalu sama ? Bisa kah kau mengganti pesanmu ?” tanya Donghae oppa.

“Ani. Sudahlah, jangan lama lama kau di kamar Chunghee. Nanti kau bisa berlebihan. Chunghee, oppa berangkat” jawab Hyuk Jae oppa.

“Ne” kataku dan Donghae oppa bebarengan.

“Apa maksut kata kata Hyuk Jae hyung ?” tanya Donghae oppa dengan wajah innocent nya.

“Maksut Hyuk Jae oppa adalah, kau harus keluar dari kamarku. S E K A R A N G !” jawabku sambil membuka pintu kamarku dan mempersilahkan oppaku yang babo *tapi cakep* ini keluar.

“Loh ? Kenapa ? Aku kan mau sama jagiyaku dulu” kata Donghae oppa sambil memelukku dari belakang.

“Kau ini. Harus aku katakan berapa puluh kali untuk singkirkan tanganmu itu dariku. Sekarang keluarlah” kataku sambil memukul tangannya.

“Arra arra. Oppa sendiri saja disiksa. Bagaimana pacarmu nanti ?” omelnya.

“Ngomel mulu. Keluar sanaaa” usirku.

“Baiklah. Aku menuruti apa yang dikatakan oleh dongsaengku yang cantik ini” katanya sambil melangkahkan kakinya keluar kamarku.

Belum sempat aku tutup pintu kamarku, ciuman Donghae oppa mendarat di pipi kananku.

“Cepat mandi dan ikut aku ke suatu tempat. Cepat ya jagiya” kata Donghae oppa lagi.

Pagi pagi sudah dibuat naik darah.

Setelah Donghae oppa membalikkan badannya, aku menutup pintu dengan keras.

***

“Chunghee, kenapa pakai baju seperti itu ?” tanya Donghae oppa ketika aku keluar kamar.

“Wae ?” tanyaku bingung.

“Aku kan sudah bilang, kita mau pergi. Kenapa memakai baju rumah seperti itu. Lebih tepatnya sih daster” jawab Donghae oppa.

“Emang mau pergi kemana sih ? Kalau cuma ke toko sebelah atau pasar, sah sah aja kalau aku pakai baju seperti ini” tanyaku lagi.

“Yang bilang kita mau ke toko sebelah atau ke pasar itu siapa ?” tanya Donghae oppa balik.

“Kau ?” jawabku bingung.

“Aku nggak pernah bilang. Sudahlah, cepat ganti baju yang bagus” kata Donghae oppa sambil mendorongku masuk ke kamarku.

“Baju apa ? Aku nggak ngerti” kataku tak mengerti.

“Kau menyusahkan. Ayo, kita lihat koleksi bajumu” kata Donghae oppa sambil menarikku masuk ke kamarku.

“Gila” kataku pelan.

***

“Duduk” kata Donghae oppa saat sudah berada dikamarku.

“Ne” jawabku datar.

“Mana kunci lemarimu ?” tanya Donghae oppa.

“Mau apa kau membuka lemariku ?” tanyaku balik.

“Memilihkan kamu baju yang paas” jawab Donghae oppa.

“Cari sendiri di kolong meja belajar” kataku sambil menunjuk celah kecil di meja belajarku.

“Kau ini benar benar menyusahkan” gerutu Donghae oppa kesal.

“Suruh siapa memintaku membantumu. Resiko tau” omelku.

“Sekali lagi kau protes aku …” kata kata Donghae oppa tidak diteruskan.

“Apa ? Kau apakan aku ? ” tanyaku dengan nada menantang.

Sedetik kemudian, Donghae oppa mencium bibirku.

PLAK …

“Oppa gila ya ?” teriakku setelah tamparanku sampai di pipi Donghae oppa.

Donghae oppa hanya meringis kesakitan.

“Sakit. Kau sih kebanyakan protes” omelnya.

“Terserah. Sekarang keluar dari kamarku dan aku tidak akan membantumu” ambekku.

“Chunghee-ah, jangan marah” kata Donghae oppa memelas.

“KELUAR” kataku ketus.

“Arra arra” katanya pasrah sambil melangkah keluar kamarku.

Aku memang sayang padamu …

Aku sayang padamu melebihi seorang dongsaeng yang sayang ke oppanya.

Tapi kalau seperti itu, aku tidak mau …

***

[Donghae POV]

“Donghae, aku pulang” kata Hyuk Jae hyung.

“Ne” jawabku malas.

“Tidak bersemangat sekali kau ?” tanya Hyuk Jae hyung.

“Belum makan ?” tanya Hyuk Jae hyung lagi.

Aku hanya menggelengkan kepalaku dengan mengkombinasikannya dengan wajah polos *author: lu kira masakan ape ?*

“Lo ? Chunghee tidak masak hari ini ?” tanya Hyuk Jae hyung untuk yang ketiga kalinya.

“Tidak” jawabku singkat.

“Sebentar, aku ke kamar Chunghee dulu” kata Hyuk Jae hyung.

“Ne, hyung” kataku datar.

[Donghae POV end]

***

[Author POV]

Chunghee tertidur di kamarnya setelah dia ngambek sama Donghae.

“Chunghee ?” panggil Hyuk Jae ketika masuk ke kamar Chunghee.

“Tidur ? Jam berapa sekarang ? Kenapa sudah tidur ?”  tanya Hyuk Jae pelan.

“Chunghee” Hyuk Jae membangunkan Chunghee yang tertidur pulas sambil memeluk guling kesayangannya.

“Chunghee, bangun” kata Hyuk Jae lagi sambil duduk didekat Chunghee yang masih asik *lah? sopir gua namanya nongol =.=* tidur.

“Oppa ? ” kata Chunghee setelah membuka matanya.

“Kau ketiduran ya ?” tanya Hyuk Jae ramah.

“Ne” jawab Chunghee yang masih setengah sadar.

“Kasian tuh si pangeranmu belum makan” kata Hyuk Jae.

“Biarin aja oppa. Dia juga bisa masak. Kenapa nggak masak sendiri” jawab Chunghee yang mulai sadar.

“Yasudah, ayo bangun. Ayo makan, pasti kamu belum makan” kata Hyuk Jae sambil berdiri dari duduknya.

“Ne oppa” kata Chunghee sambil menguncir rambutnya.

[Author POV end]

***

Jujur, aku masih kesal sama Donghae oppa …

Hari ini, aku nggak akan makan di sebelahnya.

Aku harus duduk disebelah Hyuk Jae oppa.

Harus !

“Chunghee” panggil Donghae oppa.

“Mwo ?” jawabku ketus.

“Kau masih marah padaku ?” tanya Donghae oppa.

“Ne” jawabku dengan nada ketus juga.

“Mianhae. Jangan marah lagi, Chunghee. Jebal” kata Donghae oppa sambil memelas.

Aku masih tetap terdiam seribu bahasa.

Aku duduk ditempat yang jauh dari tempat duduk Donghae oppa.

Tiba tiba, Hyuk Jae oppa datang dengan masakannya.

“Chunghee, kok duduk disitu ? Biasanya kan kamu duduk dideketnya Donghae” tanya Hyuk Jae oppa.

“Bosen” kataku datar.

Donghae oppa membelalakkan matanya.

“Wae ? Hah ?” tanyaku ketus kepada Donghae oppa.

“Anii~” kata Donghae oppa ketakutan.

“Kalian aneh hari ini” omel Hyuk Jae oppa.

Hyuk Jae oppa masih asik *lah? sopir gua kluar lagi* menata makanan.

“Oppa, duduk di sebelahku ya ?” tanyaku cepat.

“Wae ?” Hyuk Jae oppa keheranan.

“Aku ingin saja” jawabku asal.

“Arraseo. Apapun oppa lakuin buat dongsaeng oppa satu ini” kata Hyuk Jae oppa sambil duduk disebelahku.

“Ayo makan” lanjut Hyuk Jae oppa semangat.

Setelah selesai makan …

“Hyung, aku mau ngomong sama Chunghee sebentar” kata Donghae oppa tiba tiba sambil menarikku menjauh dari Hyuk Jae oppa.

Hyuk Jae oppa hanya mengiyakan dengan tampang bingungnya.

***

Kamar Donghae oppa …

“Lepas” kataku kasar.

“Chunghee, mianhae” kata Donghae oppa sambil memelukku erat.

“Aku minta maaf sekali. Jeongmal mianhae, Chunghee-ah. Jangan marah lagi, please” kata Donghae oppa sambil berlutut dihadapanku.

“Oppa ?” aku kaget dan bingung.

Kenapa menjadi seperti ini ?

Sejenak aku berpikir …

“Apa tidak bisa menghilangkan gayamu yang lebay itu ? Minta maafnya nggak usah pake berlutut gitu, oppa” kataku sambil berjongkok dihadapan Donghae oppa.

Aku mendongakkan kepalanya dengan lembut.

“Kau tidak memasang puppy eyesmu, huh” ambekku.

“Chunghee” teriak Donghae oppa sambil memelukku.

“Sekarang kau yang membuatku kesal” sambung Donghae oppa.

Aku hanya tertawa dan membalas pelukan Donghae oppa.

Walaupun masih ada rasa kesal,

Senyummu menghilangkan perasaan kesal itu, oppa.

Terus tersenyum, Donghae oppa.

Karena aku, menyukai senyummu …

***

(Masih di) Kamar Donghae oppa …

“Oppa, apa kau masih dengan perempuan ini ?” tanyaku sambil melihat foto Donghae oppa dengan seorang perempuan.

“Gara gara kamu ngambek tadi pagi, jadi detik ini aku masih jadi pacarnya” jawab Donghae oppa sambil mengutak atik lemarinya.

“Memang tidak bisa putus baik baik ?” tanyaku lagi.

“Aku sudah terlanjur bilang kalau aku punya pacar baru” jawab Donghae oppa santai.

“Trus ?” lanjutku.

“Dia minta aku bawa cewek baru itu ke hadapannya” kata Donghae oppa sambil menutup lagi lemarinya.

“Kau memang benar benar B A B O” ejekku.

“Mwo ?” kata Donghae oppa kesal.

“Babo. Donghae oppa babo. Babo babo babo” ejekku lagi.

“Awas kamu” kata Donghae oppa gemas sambil berjalan kearahku.

“Oppa, gamau” mohonku.

Aku sudah tau, pasti oppa mau menggendongku lagi.

Aku benci kalau digendong Donghae oppa.

“Oppaaaa” teriakku ketika Donghae oppa menggendongku.

“Turunin” pintaku.

“Gamau. Ayo bilang oppa apa ? ” tanya Donghae oppa ulang.

“Donghae oppa baik dan tampan” jawabku asal.

“Hoeekk” tambahku.

“Ih, kau ini” kata Donghae oppa sambil menurunkanku diranjangnya.

Setelah aku duduk benar, Donghae oppa mulai menggelitik pinggangku.

Aku tertawa geli sambil berusaha menyingkirkan tangan Donghae oppa dari pinggangku.

Tapi nggak bisa =.=

Sampai aku jatuh dari ranjang Donghae oppa.

Dan lucunya, Donghae oppa juga ikutan jatuh -.-

Wajahnya berada di atasku.

Kau tahu betapa tampannya dia kalau dari dekat ?

Hanya berjarak 5 cm, coba.

Pasti kau akan melihat jelas ketampanannya.

Kami berdua tersadar dari lamunan kami masing masing,

Donghae oppa membantuku berdiri dan kami terdiam cukup lama.

Sampai aku pamit, karena aku mau kembali kekamarku.

“Oppa, aku kekamar dulu ya” pamitku.

“Mau tidur ya ? ” tanya Donghae oppa canggung.

“Ne” jawabku singkat.

“Baiklah. Selamat malam. Mimpi indah” kata Donghae oppa sambil mengacak acak rambutku pelan.

“Ne, gomawo oppa. Selamat malam juga, oppa. Mimpi indah ya” balasku.

Kata kataku hanya dibalas dengan senyuman dan anggukan.

Kau terlihat manis, oppa.

***

[Donghae POV]

Sukses membuat Chunghee kegelian.

Tapi, kami sama sama terjatuh.

Wajahnya berada di hadapanku.

Dari jarak 5 cm, sangat terlihat keindahan wajahnya.

Cantik sekali.

Sayangnya,

dia adik perempuanku.

Tak lama kemudian,

kami berdua sama sama tersadar dari lamunan kami.

Aku membantunya berdiri dan kami terdiam cukup lama.

Sampai dia pamit, untuk kembali kekamarnya.

“Oppa, aku kekamar dulu ya” pamitnya.

“Mau tidur ya ? ” tanyaku dengan sedikit canggung.

“Ne” jawabnya singkat.

“Baiklah. Selamat malam. Mimpi indah” kataku sambil mengacak acak rambutnya pelan.

“Ne, gomawo oppa. Selamat malam juga, oppa. Mimpi indah ya” balas Chunghee.

Aku hanya membalasnya dengan senyuman dan anggukan.

[Donghae POV end]

***

Semenjak kejadian itu, terkadang kami saling terdiam.

Jarang ada yang berbicara terlebih dahulu.

Entah kenapa ?

Apa karena masih teringat akan kejadian itu,

Atau mungkin karena kami masih sama sama merasa canggung.

Tapi yang pasti itu membuatku tersiksa.

Bounce to You, Bounce to You

Nae gaseumeun nuhl hyanghae jabhil soodo uhbseulmankeum ddwigo inneunguhl

Break it Down to You,Break it Down to You

Nae gaseumi nuh, nuhl gatji mothandamyuhn muhmchul guhranda

From: HyukJae oppa

‘Chunghee, hari ini oppa harus keluar kota. Entah aku akan pulang berapa hari lagi. Maaf ini mendadak’

“Wae, Chunghee ?” tanya Donghae oppa tiba tiba.

“Hyuk Jae oppa keluar kota dan tidak tahu kapan pulang” jawabku.

“Oh” kata Donghae oppa.

Lagi lagi kami terdiam.

Donghae oppa masih serius menonton TV.

Sedangkan aku hanya duduk disebelahnya sambil berdiam diri.

Sampai akhirnya aku menyandarkan kepalaku di pundak Donghae oppa.

Ini pertama kalinya aku melakukan ini.

Yang aku rasakan hanyalah ketenangan.

Senyuman terpancar diwajahku.

Dan akhirnya aku tertidur pulas.

***

[Donghae POV]

Tiba tiba Chunghee menyandarkan kepalanya di pundakku.

Ini pertama kalinya.

Sifatnya akhir akhir ini berubah manja terhadapku.

Membuatku semakin sayang dan gemas dengannya.

Namun terselip perasaan aneh yang selalu saja datang ketika dia ada di sampingku.

Chunghee, aku beruntung memiliki dongsaeng sepertimu.

Aku rasa dia tertidur dan saat kutoleh,

Dia memang tidur dipundakku.

Wajahnya imut sekali.

Kuubah posisi tidurnya supaya lebih nyaman.

Kuletakkan kepalanya di pahaku.

Kakinya aku naikkan ke sofa.

Wajahnya terlihat lebih manis.

Coba kalau kau bukan dongsaengku,

Aku sudah nikahin kamu.

[Donghae POV end]

***

“Chunghee” Donghae oppa membangunkanku.

Saat aku membuka mataku, posisi tidurku sudah berubah.

Memang aku tidur sambil gerak gerak berubah posisi ya ?

“Kenapa kok kaget ?” tanya Donghae oppa.

Aku langsung duduk dan menggeleng gelengkan kepalaku cepat.

“Yaudah, makan yuk” ajak Donghae oppa sambil menarikku ke meja makan.

***

Siang siang gini enaknya nonton DVD.

Tapi belum sempat aku menonton DVD,

Donghae oppa sudah merebut TV nya duluan.

“Oppa, aku mau nonton” protesku.

“Sama” kata Donghae oppa santai.

“Mau nonton DVD” protesku lagi.

“Mau nonton bola” kata Donghae oppa sambil menarikku duduk.

“Pake TV di kamarmu lo” omelku.

“Kan sudah dibuang” jawab Donghae oppa polos.

“Wae ?” tanyaku heran.

“Dulu kamu lempar pake boneka barbie. Trus pecah, jadi di buang sama Hyuk Jae hyung” jelas Donghae oppa.

“Oh iya sih” kataku polos.

“Sudah kamu nonton bola sama aku aja” ajak Donghae oppa.

“Aku nggak suka bola” tolakku.

“Udah sana nonton, aku mau kekamar” kataku sambil berjalan kearah kamar.

***

[Donghae POV]

Selalu saja anak ini, kalau sedang badmood atau bosan pasti ketiduran -.-

Aku memasuki kamarnya dan mendapati dia sedang tidur sambil memegang buku diary nya.

Kuberesi peralatan tulisnya yang berserakan di kasurnya.

Kubenahi posisi tidurnya dan kuselimuti Chunghee.

Diary yang ada di tangannya aku ambil.

Niatnya mau langsung aku simpen,

tapi aku penasaran banget sama isi diary nya.

Jadi aku baca deh -.-

‘Hyuk Jae oppa punya pacar baru. Cantik. Pacar Donghae oppa kalah !!’

‘Dapet baju baru dari Donghae oppa. Cuma lagi lagi kegedean =.=’

‘Eomma dan appa datang. Aku kangen mereka. Hihihi’

Chunghee, kau mengisi buku diarymu hanya dengan 1-2 kalimat di setiap harinya ?

Irit kata kata sekali kamu .

‘Eomma dan appa datang lagi. Mereka membawa berita mengejutkan. Kata eomma dan appa, Donghae oppa bukan oppa kandungku. Tapi mereka tidak menceritakan lebih lanjut. Dan hal ini, hanya aku + Hyuk Jae oppa saja yang boleh tau. Kenapa ? Seharusnya Donghae oppa juga berhak tau’

MWO ?

Aku bukan anak kandung eomma dan appa ?

‘Setelah tau kalau Donghae oppa bukan saudara kandungku, perasaan kagum dan juga sayangku tumbuh bebas menjadi sebuah rasa sayang dan cinta seorang wanita kepada seorang pria. Tapi aku tidak bisa menunjukkannya. Perasaan itu harus aku sembunyikan supaya semua rahasia ini nggak bocor. Mianhae, oppa’

Jadi selama ini …

‘Tuhan, aku sudah lelah menyembunyikan perasaanku ini. Memang harus sampai kapan aku menyembunyikan perasaan ini. Aku kasihan pada diriku sendiri yang sudah lelah menyembunyikan ini semua dan juga Donghae oppa yang harus aku bohongi di setiap detiknya. Oppa, sekali lagi. Mianhae. But, SARANGHAE :*’

Chunghee, kamu merahasiakan ini semua ?

Dan kau mencintaiku ?

[Donghae POV end]

***

Sikap Donghae oppa akhir akhir ini aneh.

Suka menjauh dariku dan jarang berbicara padaku.

Tidak pernah mengerjaiku lagi.

Pokoknya berubah aneh lah.

Ada apa sebenarnya ?

Apa aku punya salah ?

“Oppa” panggilku.

Lagi lagi Donghae oppa langsung pergi menjauhi aku.

“Oppa ! Kamu kenapa sih ?! Aku punya salah ?! Kalau iya, kasih tau ! Jangan diemin aku kaya gini !” protesku sambil berteriak.

Donghae oppa langsung kaget dan memandangku.

Mata kami bertatapan. Kesedihan dan juga kekecewaan tersirat di pandangannya.

“Kau sudah menyembunyikan semua dariku” jawabnya dengan lirih.

“Menyembunyikan apa ?” tanyaku bingung.

“Menyembunyikan statusku di keluarga ini dan…” Donghae oppa tidak meneruskan kata katanya.

Tau dari mana dia ?

“Dan ?” tanyaku balik.

“Dan perasaanmu yang sesungguhnya terhadapku” jawab Donghae oppa sambil menangis.

Jawabannya membuatku terkejut.

Tau dari mana tentang status sesungguhnya dan perasaanku ?

“Kau tahu dari mana, oppa ?” tanyaku.

“Tidak penting dari mana aku tahu” jawabnya pelan.

“Maafkan aku oppa. Aku nggak berniat membohongi oppa. Sumpah” jelasku sambil menangis.

“Maafkan aku oppa. Maaf” kataku sambil belutut dihadapannya.

Dan …

***

[Donghae POV]

Chunghee menangis dan berlutut dihadapanku.

Aku tahu seharusnya aku tidak seperti ini.

“Aku bukan kesal karena kamu berbohong atas statusku dikeluarga ini, tapi aku kesal karena kau membohongi perasaanmu terhadapku” jelasku sambil membantunya berdiri.

Dia mendongakkan kepalannya dan menatapku.

“Gara gara perasaan itu kau selalu berkata ketus kan ?” tanyaku.

“Ne oppa. Aku berusaha menghilangkan perasaanku terhadapmu. Tapi, nggak bisa. Aku malah semakin mencintaimu” jelasnya sambil menghentikan tangisnya.

Aku mencium keningnya dan memeluknya erat.

Dia menangis dalam pelukanku dan membalas pelukanku.

“Saranghaeyo, nae dongsaeng” ucapku tepat ditelinganya.

“Naddo saranghaeyo, oppa” balasnya.

[Donghae POV end]

***

Seminggu kemudian …

“Donghae, Chunghee, Hyuk Jae yang tampan ini pulang” kata Hyuk Jae oppa.

“Oppa” teriakku sambil berlari kearah Hyuk Jae oppa dan langsung memeluknya erat.

“Kangen sama oppa” lanjutku.

“Oppa juga” kata Hyuk Jae oppa.

“Jagiya, makannya sudah siap” kata Donghae oppa dari ruang makan.

“Ne” jawabku.

“Hyuk Jae oppa, makan yuk” ajakku sambil menarik Hyuk Jae oppa kearah ruang makan.

Hyuk Jae oppa hanya kebingungan dan menuruti langkah kakiku.

“Makaroni lagi ?” protesku.

“Di lemari tinggal makaroni” jawab Donghae oppa.

“Aish, baiklah. Ayo, Hyuk Jae oppa makan. Ini yang masak namjachinguku yang jelek ini lo” kataku sambil memeluk Donghae oppa.

“Mwo ? Namjachingu ?” Hyuk Jae oppa terheran heran.

“Ne, hyung” kata Donghae oppa setuju.

“Kalian ?” Hyuk Jae oppa semakin bingung.

“Aku sudah tau semuanya, hyung” jelas Donghae oppa.

“Kok bisa ?” tanya Hyuk Jae oppa lagi.

“Panjang ceritanya” jawabku dan Donghae oppa bersama sama.

“Kompak sekali kalian ini” sindir (atau puji) Hyuk Jae oppa.

Aku dan Donghae oppa hanya tertawa.

“Tapi kalian nggak tidur bareng kan ?” tanya Hyuk Jae menyelidik.

“Kalau tidur bareng kan sering oppa” jawabku.

“Cuma kalau ngelakuinnya, ya belum” lanjut Donghae oppa.

“Baguslah” kata Hyuk Jae oppa lega.

***

Seperti semua FF dan kehidupan nyata,

Akhirnya aku bisa hidup bahagia.

Memang aku pernah berbohong pada Donghae oppa akan statusnya di keluarga ini.

Dan juga bohong akan perasaanku terhadapnya.

Namun,

Oppaku bukan bukan …

Maksudku, namjachinguku yang satu ini bisa memahami posisiku yang sulit.

Hasilnya, takdir menyatukan kami.

-END-

Advertisements

16 responses to “Mianhae, but Saranghae Donghae Oppa ♥

  1. di kira aku tuh donghae anak kandung ternyata bukan abis.a pas baca di pertama.a udh ketawan bngt klo donghae minta pacaran pura” hahah cerita.a romantis bngt kaka ade bisa pacaran ya walaupun bkn sekandung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s