UNFORGETTABLE LOVE ~ Chapter 1

Title: Unforgettable Love

Summary : “aku tahu tak selamanya raganya ada disisi ku, tapi aku yakin jiwanya selalu menyertai ku. Kemanapun aku pergi aku akan selalu mengingatmu Lee Joong Da. Terima kasih untuk segalanya. Selamat tinggal.”

Cast :
Lee Joong Da (author)
Kim Jong Hyun (SHINEe’s member)

Rating: PG13
Genre: ROMANCE
Author: Lee Joong Da
Length: 4 Chapter

CHAPTER 1

Hari ini langit begitu kelam, awan hitam menggulung-gulung menutupi sang mentari. Tapi kelamnya langit saat ini tidak bisa menandingi kelamnya hati Jonghyun. Hati yang tengah sakit, ditinggalkan seseorang yang paling ia sayangi, rasa sakit yang tidak akan pernah hilang.
Sudah genap 1 jam ia memandangi nisan bertuliskan Lee Joong Da itu, pacarnya, tepatnya mantan pacarnya, karena kini gadis yang sangat dicintai oleh Jonghyun itu telah tiada.

JONGHYUN POV

Lee Joong Da, hingga saat ini aku masih belum percaya nama itulah yang terukir di batu nisan yang ada di depanku ini. Dia berjanji tidak akan meninggalkanku, aku yakin ini pasti hanya gurauan. Tapi kenyatanya gadis itu sudah tiada, 7 jam yan lalu gadis itu meninggalkanku, meninggalkanku untuk selamanya.
Aku hanya bisa berdiri memandangi makam itu, sambil merutuki kesalahanku. Kesalahan besar yang benar-benar tak termaafkan. Diriku yang tidak ada disampingnya saat dia sedang keritis, apakah kesalahan itu masih bisa dimaafkan??
Dia adalah orang paling berharga bagiku, satu-satunya orang yang bisa menerima diriku apa adanya. Tapi kenapa dia harus pergi?? Andaikan aku bisa memutar waktu, saat itu, saat pertama kali aku tahu ada penyakit yang bersarang di tubuhnya.
Kini yang ia tinggalkan hanya sebuah buku harian. Sebenarnya aku tak ingin membuka buku harian itu, karena aku tahu membacanya akan semakin menyayat hatiku. Namun entah kenapa tangan ini tak berhenti membalik lembar demi lembar buku harian itu, hingga pada satu lembar aku terpaku, 18 Agustus 2009 saat paling istimewa untuknya, serta saat paling menyedihkan untuk kami berdua.
Seketika itu juga aku jatuh terduduk disamping makamnya, membaca buku harian itu sambil berlinang air mata bersama dengan langit yang juga ikut menangis. Di tengah dinginnya malam kini aku sendiri, dan hatiku talah remuk, rasanya sakit sekali.

END JONGHYUN POV

—————————

18 Agustus 2009

“Kim Jong Hyun dan Lee Joong Da, kita akan selalu bersama,” ucap dua anak itu bersamaan dibawah pohon yang telah mereka ukir dengan nama mereka.

Ah, aku masih suka tertawa mengingat hal itu. konyol sekali memang tingkahku saat itu. Tapi aku senang, janji 10 tahun itu tetap kami tepati. Iya hingga kini aku masih bersama Kim Jong Hyun, pacar sekaligus sahabatku. Dulu aku memang menganggap janji itu hanya sekedar janji anak kecil, tapi nyatanya kini aku dan Jonghyun tetap bersama.
Hem… tapi ada satu hal yang paling tidak kusukai dari Jonghyun, dia selalu senang membuatku menunggu. Tidak taukah dia aku sudah menunggunya selama setengah jam. Dengan kesal aku membuka ponsel ku, kutekan sebuah nomor yang sudah sangat kuhafal.
“Yoboseyo, oppa, kau mau membuatku menunggu disini berapa lama lagi???” kataku begitu aku mendengar suara Jonghyun
“Ne, mianhae noona, aku sekarang sedang ada di jalan, aku sebentar lagi sampai.”
“5 menit lagi kau tidak ada didepanku, maka rencana kita batal,” kuakhiri percakapan itu. Aku kesal sekali dengan Jonghyun, saat dia terlambat yang terlontar dari mulutnya hanya kata maaf, tidak bisakah dia mengucapkan kata-kata lain selain itu??
Lima menit, baik benar aku memberinya kelonggaran waktu lagi, harusnya aku meninggalkannya saja. Sudah bosan aku dengan kebiasaannya itu. Kalau saja dia bukan sahabatku, kalau saja dia hanya sekedar pacar, mungkin saat ini aku sudah ada dirumah, tidak perduli dengan dirinya. Tapi biarlah, nanti kalau dia datang aku pasti akan memarahinya habis-habisan.
Aku dan Jonghyun sudah bersahabat dari 13 tahun yang lalu. Kami berdua selalu bersama dan saling melindungi. Tapi baru tiga tahun kemudian janji itu terucap dari mulut kami. Jonghyun dan aku benar-benar dua orang yang bertolak belakang. Jonghyun adalah pribadi yang sabar, lucu, perhatian dan cuek. Sedangkan aku adalah orang yang mudah marah, paling susah melucu, tidak peka dan cuek. Hahaha… hanya cueknya saja yang sama. Tapi yang jelas aku bukan orang yang sering terlambat seperti Jonghyun.
“Lee Joong Da..” tiba-tiba ada seseorang yang berteriak di belakangku, aku tahu siapa yang memanggil ku itu, suara itu sudah sangat familiar ditelingaku. “Joongda…” teriak orang itu lagi.
Anak ini, kenapa juga harus teriak-teriak??
Dengan malas aku menoleh kebelakang, “ oppa, kenapa kau…” aku kaget sekali melihat Jonghyun, dia datang sambil membawa sebuket bunga mawar putih, bunga kesukaanku.
“Happy Birthday my jagiya,” ucap Jonghyun sambil memberikan bunga itu kepadaku dan kemudian memelukku.
Sungguh aku lupa kalau hari ini adalah hari ulang tahunku, beginilah nasibku, orang tuaku terlalu sibuk untuk sekedar mengingatkan anaknya bahwa ini adalah hari ulang tahunnya, atau mungkin orang tuaku sendiri juga lupa.
“tidak usah bingung seperti itu, aku sudah mengira kau pasti akan melupakan hari ulang tahunmu.”
Aku masih tetap diam, bingung. Aku masih heran kenapa teman-temanku tidak ada yang mengucapkan selamat satupun??? Nampaknya ini kerjaan Jonghyun, dia talah sukses membuatku seperti orang dungu.
“kau marah ya? Kau marah karena aku terlambat? Maaf tadi toko bunganya tutup, jadi aku harus menunggunya hingga buka dulu.” Ucap Jonghyun
“oppa itu tidak bisa di jadikan alasan. Aku sudah menunggumu lama sekali,” akhirnya aku ingat apa yang seharusnya kulakukan saat Jonghyun datang. “terimakasih atas bunganya, tapi aku tetap marah kepadamu. Kau ini keterlaluan, aku sudah menunggumu selama 30 menit, ini adalah rekor terlama keterlambatanmu.”
Jonghyun hanya tersenyum, “maafkan aku noona, aku berjanji tidak akan melakukannya lagi. Tolong jangan marah lagi, dan sebaiknya kita berangkat sekarang,” ucapnya sambil membukakan pintu mobil untukku.
Selalu wajahnya dan senyumnya itu yang membuat marahku serta merta hilang. Aku masuk kemobilnya masih dengan wajah yang kusut. Ia hanya tertawa melihat kelakuanku itu. Ah, kadang-kadang aku berpikir, kami berdua itu bukan pasangan yang serasi, selain karena sikap kami yang bertolak belakang sebenarnya masih banyak alasan lain yang membuatku berpikir seperti itu.
Didalam mobil Jonghyun aku hanya diam, sebenarnya aku sudah tidak marah dengannya, tapi aku mau Jonghyun meminta maaf terlabih dahulu. Permintaan maaf yang sesungguhnya, bukan permintaan maaf yang ia ucapkan sambil tertawa. Aku tahu sikapku ini kekanak-kanakan, tapi beginilah aku jika aku sudah marah, terlebih lagi karena Jonghyun. Paling tidak aku butuh waktu 1 hari untuk memulihkan moodku.
“joongda-ah, kau masih marah?” Tanya Jonghyun
Aku hanya diam dan memalingkan muka. Sungguh aku tak kuat menahan tawa, wajahnya saat itu lucu sekali.
“joongda…”
“sudahlah kau diam saja, fokuslah, aku masih mau hidup,” ucapku ketus. Kata-kata itu keluar dari mulutku begitu saja, dan seketika itu juga Jonghyun langsung diam. Kubiarkan saja dia seperti itu, sekali-kali aku ingin dia merasa bersalah.
Sisa perjalanan itu kami habiskan dalam diam, hingga sampai ditempat tujuan barulah Jonghyun angkat bicara.
“kita sudah sampai,” ucapnya sambil membukakanku pintu.
Aku benar-benar bingung dengan jalan pikiran anak ini. Aku sekarang berdiri di depan gedung yang tidak jelas bentuknya. Inikah yang ia bilang tempat istimewa???
“maaf aku hanya bisa memberikan ini. Kau masuk dulu saja,” ucapnya sambil mengantarkanku sampai kedepan pintu gedung itu. “kau cari saja panah putih, jangan lupa ambil bunga di panah itu, aku akan menemuimu didalam. Hati-hati ya,” lanjutnya. Dan dia masuk ke mobil meninggalkanku.
Kuturuti saja mau anak itu, aku juga penasaran apa yang sebenarnya ingin dia tunjukkan kepadaku. Kubuka pintu gedung itu, gelap, hanya seberkas cahaya yang menerangi ruangan itu yang langsung menuju ke panah yang Jonghyun maksud. Kudekati panah itu, disampingnya ada sekuntum mawar putih, sesuai perintahnya aku pun mengambil bunga itu. Tiba-tiba ada cahaya yang menerangi ruangan itu, menyorot kesatu arah yang ditunjuk panah itu.
Aku benar-benar kaget melihatnya, disana telah berdiri Jonghyun, jaketnya telah ia ganti dengan jas warna putih dan disampingnya terlihat sebuah piano.
“Joongda-ah, kenapa kau diam saja? Ayo kemari,” katanya sambil berjalan menghampiriku.
Saat itu aku hanya bisa terpaku, aku tak menyangka keinginanku yang pernah aku katakan kepadanya, kini telah ia wujudkan. Aku benar-benar terharu. Orang itu, orang yang paling aku sayangi kini ada didepanku,menggandeng tanganku, membawaku ke piano itu dan kemudian mendudukanku disampingnya, semua itu ia lakukan dengan penuh perhatian. Tanpa kusadari tiba-tiba air mata ku menetes.
“jangan menangis…” pinta Jonghyun sambil menyeka butiran air mata di pipiku. “aku mau kau dengarkan permintaan maaf ku ini,” lanjutnya. Kemudian jari-jari itu mulai bermain di tuts piano. Aku tahu lagu apa yang ia mainkan, ini lagu kesukaan ku.
Saat dia mulai bernyanyi air mataku kembali mengalir. Entah mengapa suaranya itu membuat hatiku bergetar.
“nothing better nothing better than you….” dia mengakhiri lagu itu. “ayolah jangan menangis,”
Aku pandangi Jonghyun, “ini yang membuatmu terlambat kan??”
Jonghyun mengangguk
“maaf aku sudah memarahi mu,”
“tidak ,itu memang salahku,” kata Jonghyun.
Jonghyun tiba-tiba mengajakku berdiri dan menggandengku kesuatu tempat.
“kau mau mengajakku kemana lagi?” tanyaku. Keinginanku yang ku ceritakan kepadanya hanya sebatas bermain piano disuatu ruangan yang hanya ada aku dan dia, dan itu sudah ia lakukan dengan sempurna.
“keatas,” jawabnya sambil membimbingku menaiki tangga.
Jonghyun membukakanku pintu dan aku langsung terperangah melihat semua itu. Diatas gedung itu, ada sebuah meja dan kursi yang dikelilingi oleh mawar putih. Dia menggandengku perlahan, sebisa mungkin ia tidak menginjak mawar putih yang berserakan, dan kemudian mendudukanku disalah satu kursi.
“maaf ya, ternyata masih terlalu sore untuk makan malam ,” ucapnya sambil tersenyum
Aku benar-benar tidak bisa berkata-kata, ini romantis sekali.
“aissh… ini kan hari ulang tahun mu tapi kenapa aku yang mentraktirmu? Kau curang,”
“jadi kau tidak ikhlas Jonghyun-ah??”
“hahaha… aku hanya bercanda. Makanlah yang banyak kau terlihat kurus. Maaf ya, hanya ini yang bisa aku berikan untukmu”
“Gomawo Jonghyun-ah…. Ini romantis sekali, benar-benar hadiah terindah yang pernah aku dapatkan.”
“Cheonmaneyo, aku ikut senang bila kau senang.”
Baru sesuap aku memakan hidangan itu, tiba-tiba perutku terasa sakit.
“Joongda kau kenapa??” Tanya Jonghyun khawatir
Aku hanya menggeleng sambil memegangi perutku. Sudah sering perutku ini terasa sakit, tapi kali ini rasanya sakit sekali. Makanan yang tadi masuk ke perutku kini aku muntahkan, perutku menolaknya.
“joongda,” teriak Jonghyun
Rasanya sakit sekali, aku tak kuat lagi menahan rasa sakit ini dan akhirnyapun aku tak sadarkan diri.

——————–

19 Agustus 2009

Saat aku terbangun aku sudah berada diruangan yang serba putih. Aku belum sepenuhnya sadar, saat itu yang bisa aku lihat hanya beberapa selang yang menempel di tubuhku. Ada apa denganku??? Aku belum bisa mengingat semuanya dengan baik, yang aku ingat hanya Jonghyun, ekspresi khawatirnya.
“dimana ini??” ucapku lirih
“kau sudah bangun??” Tanya Jonghyun. Suara itu, terdengar sekali dia sangat mengkhawatirkan ku
Aku hanya mengangguk lirih, aku tak tega melihatnya. Ia benar-benar berantakan. Senyum khasnya kini lenyap. Wajahnya kalut dan pucat. Aku miris sekali melihatnya seperti itu, ini semua salah ku. Ingin rasanya aku menangis saat dia menggenggam tanganku, tapi kutahan itu semua, aku tak mau menambah kekhawatirannya.
“kenapa kau tidak bilang kalau kau sedang sakit??”
“aku tidak apa-apa oppa.”
“kau bilang kau tidak apa-apa?” suaranya terdengar sedikit berat.
“ini hanya sakit perut, mungkin maag.”
“sakit perut? Maag?” ucapnya sedikit tercekat.
Ada apa ini? Tingkahnya terlalu berlebihan, aku hanya sakit perut biasa. Tiba-tiba dia melepaskan genggamannya dan berputar-putar tidak jelas disamping ranjangku, dia terlihat seperti orang bingung.
“oppa,” panggilku lirih
Dia memandang ku, wajahnya kalut sekali. Aku tak menyangka air mata telah menggenang di pelupuk matanya. Dalam hitungan detik air mata itu menetes ke pipinya.
“oppa kau kenapa?”
“maaf,” hanya itu yang terucap dari mulutnya, kemudian ia menenggelamkan kepalanya disampingku, dan ia menangis.
Aku tak tahu apa yang terjadi? Tapi firasatku mengatakan itu adalah sesuatu yang sangat menyakitkan. Tanpa kusadari aku juga ikut menangis. Rasanya sakit sekali melihatnya menangis, apa yang membuat Jonghyun ku ini menangis???
“kenapa harus kau?? Kenapa bukan aku ??” ucap Jonghyun disela isak tangisnya.
“oppa…” aku takut, aku takut sekali. Apa yang ia maksud?? “oppa jangan menangis, tolong,” pintaku sambil mengusap rambutnya.
Jonghyun berhenti menangis tapi dia tetap diam. Seharian itu ia menemani ku di Rumah Sakit, terus-menerus disampingku, menggenggam tanganku dan hanya berbicara seperlunya. Tiada senyum, sedikitpun tiada senyum darinya.

———————-

Jonghyun menutup buku harian itu, lembar terakhir yang ia baca penuh dengan tetesan air mata. Ia memandang lekat-lekat makam kekasihnya itu dan kemudian beranjak pergi.

JONGHYUN POV

Aku sudah tak kuat membacanya lagi. Rasanya benar-benar sakit mengingat hal itu. Saat dimana aku harus menerima kenyataan yang sangat pahit. Semua kejadian itu kini sedang bermain-main di kepalaku, membuatku tidak berkonsentrasi.

END JONGHYUN POV

Sisa malam itu di habiskan Jonghyun dalam lamunan. Ia tidak bisa memejamkan matanya. Jika ia tertidur, tidurnya selalu gelisah, dia selalu memanggil nama Joongda, dan kemudian dia terbangun dengan keringat dingin yang bercucuran.
Pagi buta ia mengguyurkan sebotol air dingin ke kepalanya, berharap itu dapat menyadarkannya bahwa ini semua hanya mimpi. Tapi ini semua kenyataan, usaha banting tulang sekalipun merupakan sesuatu yang mustahil untuk merubah semua kejadian ini menjadi mimpi.
Masa bodoh bajunya basah, dia sudah tidak perduli dengan dirinya. Yang ia lakukan setelah itu adalah membaca buku harian itu lagi. Ia menabahkan diri sejenak, karena ia tahu lembar yang akan ia baca adalah saat yang membuat semuannya berubah.

—————————

    *TBC*

    Thanks to read my first FF

Tolong dibaca ya, dikomen.
Butuh banget keritikan, maklum author baru

    NO SILENT READER
    Gomawo ^^~

Cuplikan CHAPTER 2 :

“Asal kau tau Joongda,,,,,” ucapnya tapi terhenti.
“Asal kau tau apa oppa??”tanyaku penasaran.
“kau…kau…” lagi-lagi ia menghentikan kalimatnya. Ini semakin membuatku naik darah.
“apa? Ada apa denganku?” teriak ku. Aku sudah letih dengan semua ini, aku ingin segera mengakhirinya.

Advertisements

13 responses to “UNFORGETTABLE LOVE ~ Chapter 1

  1. 1st..??
    hehehe…
    akhirnya chingu ngepost juga yah..
    mianhe chingu.. klo boleh ngasih saran, harusnya chingu pke tanda readmore, spy reader nnti gg pada pusing.. ke ke ke~
    caranya : pas mo bikin new post, didashboard atasnya ada ikon klik aja tepat dibawah foto/postingan kamu..
    klo masih gg ngerti, boleh cek di read me first.. ato tanya aja ama slh satu admin..
    oke chingu?
    ok, sekarang aku mo baca dulu yah.. *dibuang author ke sungai han*

    • @pixy : mian onn, lupa, hehehe, soalnya semalem posisi udah ngantuk banget. Waktu mau ngedit ternyata udah di edit. Hehehe… Mian ya admin >,<

  2. @jinyi : makasi ^^~ hahaha.. Iya, mian ya. Aku ga tebiasa pke WP soalnya, jdi sering lupa >,< makasi atas komennya.

  3. @qi : hahaha… Gomawo dongsaeng *hug qi*
    Iya, segera, soalnya ni ff sebenernya udah jdi, tinggal dipost doang.
    Hehehe XD

  4. Pingback: UNFORGETTABLE LOVE ~ Chapter 2 « FFindo·

  5. Pingback: UNFORGETTABLE LOVE ~ Chapter 4 [FINAL] « FFindo·

  6. bagus awalannya..
    Tapi kalo bisa pas percakapan, antara percakapannya jangan terlalu dempet..
    Setiap 6-7 percakapan kasih enter , biar yang baca gak bingung 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s