UNFORGETTABLE LOVE ~ Chapter 2

ANNYEONG CHINGUDEUL….
Yaph, ini adalah chapter kedua dari FF tetralogy Unforgettable Love
|Unforgettable Love Chapter 1|

Title: Unforgettable Love

Summary : “aku tahu tak selamanya raganya ada disisi ku, tapi aku yakin jiwanya selalu menyertai ku. Kemanapun aku pergi aku akan selalu mengingatmu Lee Joong Da. Terima kasih untuk segalanya. Selamat tinggal.”

Cast :
Lee Joong Da (author)
Kim Jong Hyun (SHINee’s member)
Lee Tae Min (SHINee’s member)

Rating: PG13
Genre: ROMANCE
Author: Lee Joong Da
Length: 4 Chapter

CHAPTER 2

20 Agustus 2009

Aku tahu ini masih terlalu pagi untuk membuka mata, ayam saja belum berkokok dan jam diruangan ini masih menunjukkan pukul 03.00. Tapi mataku sudah tak bisa terpejam lagi, aku terlau sibuk untuk tidur, otakku terus berputar , memikirkan apa yang sebenarnya terjadi.
Aku pandangi kamar tempatku dirawat, aku bosan terbelenggu di sini. Disamping ku Jonghyun tertidur pulas, dia terlihat lelah sekali. Aku senang hari ini akhirnya Jonghyun bisa tertidur pulas, karena semenjak aku dirawat ia selalu tertidur dalam kegelisahan. Kenapa dia harus seperti itu??
Aku terus memandanginya, air mata ku tiba-tiba mengalir, dadaku sesak. Aku tak mau melihat wajah itu lagi, wajah kalutnya.
“oppa, saranghae..” ucap ku lirih. Kutahan tangisku, aku tak mau membangunkannya
Aku ingin menghirup udara segar, aku bosan di dalam sini. Kuputuskan untuk keluar kamar meski hari masih petang. Susah payah aku berusaha untuk turun dari ranjang tanpa membangunkan Jonghyun, dan aku berhasil. Masa bodoh dengan pesan dokter yang melarang ku untuk turun dari ranjang, aku tidak mau di atur.
Aku berjalan tertatih-tatih, sedikit menyeret kakiku karena perutku masih terasa sakit saat digerakkan. Hati-hati aku membuka pintu, hawa dingin meyeruak masuk membuatku merapatkan dekapan tanganku. Saat aku hendak menutup pintu tiba-tiba perutku terasa sakit lagi, rasa sakitnya mengingatkanku pada rasa sakit saat aku berada diatas gedung itu.
Harus kutahan, aku harus bisa menahannya. Rasanya ingin teriak, tapi kutahan, aku hanya bisa mengernyit menahan sakitnya. Perutku seperti dipilin-pilin. Sesegera mungkin aku kembali ke ranjang, tapi aku sudah tak kuat, kakiku lemas, tak mau lagi berdiri tegak. Beberapa saat kemudian perjuanganku menuju ranjang sia-sia, aku terjatuh, dan Jonghyun terbangun.
“Joongda…” teriaknya
Ia langsung menghampiri ku, mengangkatku keranjang dan langsung memanggil dokter. Dengan suksenya aku membuatnya khawatir lagi. HEBAT!!! Aku memang selalu merepotkan.
Seusai menyuntikkanku obat penahan rasa sakit, dokter membicarakan sesuatu dengan Jonghyun, nampaknya sangat serius.
“apa yang kau lakukan tadi??” ucapnya ketus
“maaf,” entah mengapa hanya kata itu yang bisa keluar dari mulutku.
“Aku mohon Joongda, jangan membuatku khawatir.”
“Kau ingin aku tak membuatmu khawatir .. Tapi kau sendiri membuatku khawatir . Sudahlah tak usah kau perdulikan aku, aku ini tidak apa-apa oppa. Aku baik-baik saja. Lebih baik kau urusi saja dirimu itu.” ucapku marah.
“Baik-baik saja??? Kau bilang dirimu itu baik-baik saja… Terus saja berkata seperti itu.”
“Memang benar begitu, aku hanya merasa sakit perut, itu pasti hanya maag saja.”
“Hahahahaha…. Maag.” Ucapnya sarkastis
“Memang benar oppa,aku itu hanya maag…”
“Asal kau tau Joongda,,,,,” ucapnya tapi terhenti.
“Asal kau tau apa oppa??”tanyaku penasaran.
“kau…kau…” lagi-lagi ia menghentikan kalimatnya. Ini semakin membuatku naik darah.
“apa? Ada apa denganku?” teriak ku. Aku sudah letih dengan semua ini, aku ingin segera mengakhirinya.
“kau itu sakit. Sakit parah. Bukan sekedar sakit maag,” dia juga berteriak. Ini bukan Jonghyun yang biasanya, dia akan membentakku bila dirinya sudah sangat kalap. “kau tahu Lee Joong Da, kau itu sakit kanker. KANKER HATI.” Ia berteriak, benar-benar berteriak, namun air mata mengalir dipipinya.
Mendengar itu aku hanya bisa terdiam . Aku mengulang kembali apa yang diucapkan Jonghyun tadi. Mencernanya satu per satu. Kanker hati, kenapa harus aku?? Parlahan air mata mengalir dari pelupuk mata membasahi pipiku. Melihatku menangis Jonghyun langsung memelukku.
“oppa, kau bohongkan??” tanyaku disela isak tangisku.
Jonghyun tidak menjawab, nafasnya berat, ia mendekapku kencang. Aku tak tahu ini nyata atau mimpi??? Seperti ada petir yang menyambarku saat itu, aku masih belum percaya hidupku ini sebentar lagi. Aku menangis tersenggal-senggal di pelukan Jonghyun, dan aku tak bisa menghentikannya. Sekarang aku tahu apa yang selama ini membuatnya sekalut itu. Semuanya karena aku.
Sebisa mungkin aku berusaha untuk menghentikan tangisanku, aku sudah tak kuat melihat Jonghyun tersiksa seperti itu. Tapi itu sia-sia, air mata ku terus-menerus mengalir. Aku menggigit bibirku agar aku tidak mengungkapkan semua yang ada di hati ku, aku tak mau membuat Jonghyun lebih sengsara dari ini.
“oppa, ini yang membuatmu uring-uringan selama ini?” tanyaku
Jonghyun melepaskan pelukannya, “ya,” jawabnya singkat. Kemudian ia menunduk, memandangi tangan ku, dia tidak mau memandang wajahku.
“kau takut aku akan tertekan jika aku mengetahuinya?”
Dia tidak menjawab, tapi aku tahu, dia sedang menangis. Ini semua semakin membuat ku sedih, air mata yang sudah susah payah ku bendung kini harus mengalir lagi.
“oppa,” cepat-cepat aku menghapus air mataku. “kau tahu apa yang selalu berhasil membuatku sedih hingga tertekan???”
Akhirnya dia mau memandangku. Menyakitkan sekali, matanya sembab, dia terlihat sangat lelah. “jangan menangis, aku mohon,” kataku lirih. Bibirku berat sekali mengucapkan kata-kata itu, “kau… aku tak mau melihatmu seperti ini. Karena aku, kau harus sengsara seperti ini. Maaf, maafkan aku,” akhirnya pertahananku hancur, aku menangis lagi, tangisan yang ku paksa untuk berhenti.
Jonghyun menyeka air mata ku, menenangkan ku. “tidak ada yang salah,” ucapnya. Dia memandangku, “aku baik-baik saja ,aku tidak sengsara,” lanjutnya
Bohong, kau bohong oppa. Kau tidak baik-baik saja. Aku tahu hati mu sangat sakit. Kau sangat mengkhawatirkan ku tapi kau tidak mengkhawatirkan dirimu sendiri.
“kau tidur saja, kau harus banyak istirahat,” kata Jonghyun. Dia tersenyum, tapi senyum itu hambar, dan itu makin menyayat hatiku.
Aku mematuhinya, kupejamkan mataku, berharap aku cepat terlelap. Aku mau terbangun dan kemudian ini semua hanyalah mimpi. Tapi itu semua tidak mungkin, aku tidak bisa tidur. Mata ku tertutup tapi otakku tak mau beristirahat. Satu hal yang terus menerus kupikirkan, penyakitku ini.
Aku sakit sekarang. Aku tidak seperti Lee Joong Da yang dulu lagi.

————————–

21 Agustus 2009

Hari ini aku takut membuka mata, aku tak mau kembali kekehidupan nyataku. Aku lebih senang berada di alam mimpi. Tapi pagi hariku sudah di usik oleh suara orang berbincang-bincang. Aku tahu siapa itu, Jonghyun dan dokter yang merawat ku, mereka sedang membicarakan mengenai penyakitku.
“begini, kanker yang ia derita sudah stadium 4, kalau tidak segera ditangani itu akan semakin memburuk,” ucap dokter
“tidak adakah kemungkinan sembuhnya dokter?” Tanya Jonghyun.
“sangat tipis, hanya 15%.”
Jonghyun menghela nafas, “tapi masih ada kemungkinan dia hidup kan dok?”
“saya tidak yakin, tapi kalau ini segera ditangani kemungkinan hidupnya makin banyak.”
Ya, aku tahu, kemungkinan ku untuk hidup amatlah sedikit. Ini sudah menjadi resiko penderita kanker seperti ku ini. Meski aku tahu, tapi aku belum bisa menerima kenyataan ini. Dadaku sesak, aku ingin menangis, aku ingin berteriak.
“tapi tenang saja, kemungkinan sembuhnya masih ada. Jika Joongda mau berusaha untuk kesembuhannya, mungkin Tuhan akan berkata lain,” ucap dokter menenangkan Jonghyun
Setelah itu yang kudengar adalah langkah kaki yang semakin menjauh dari kamarku, Jonghyun dan dokter sudah keluar. Aku menarik selimut menutupi wajahku, aku menangis. Semua percakapan tadi kembali berputar di otakku.
Kemungkinan hidup ku sedikit, tapi jika aku mau berusaha itu semua dapat berubah. Sebelum terlambat aku harus berusaha, tersadar dari keterpurukan ini. Hari itu aku meyakinkan diriku bahwa aku harus sembuh, meski sedikit sekali harapannya tapi aku harus mencobanya.

22 Agustus 2009

Hari ini hujan, langit begitu gelap, petir menyambar dan guntur menggelegar. Tapi aku menyukainya, ternyata penderitaanku ini tak ditertawakan oleh langit, mereka menangis, ikut merasakan kepedihanku.
Dua hari yang lalu aku mendengar sebuah kabar yang langsung membuat kehidupanku ini berubah drastis. Jonghyun memberitahu ku bahwa aku menderita kanker hati. Semenjak kejadian itu aku jadi lebih sering melamun, hari-hariku kuhabiskan dalam diam, dan Jonghyun juga. Ia mengerti aku sedang tidak ingin diganggu, yang ia lakukan hanya menjaga ku, bicara jika aku mengajaknya bicara. Benar-benar hari yang kacau saai itu.
Seperti biasa, pagi ini aku hanya duduk di ranjang, menghadap kejendela, memandang jauh keluar, menunggu kedatangan Jonghyun. Hingga saat ini aku masih sulit percaya bahwa kini aku sudah tidak seperti dulu lagi, tapi mau bagaimana lagi, kenyataannya aku memang sakit. Aku marah, tapi tak tahu harus marah dengan siapa. Tidak ada yang salah dan tidak ada yang bisa di jadikan pelampiasan. Percuma aku membuang-buang sisa hidupku untuk merutuki penyakit ini. Meski masih belum rela tapi aku harus merelakannya, merelakan diriku ini sedikit demi sedikit mati digerogoti penyakit.
“joongda-ah kau melamun?” tiba-tiba terdengar suara dari arah pintu masuk. Suara ini sedikit asing, maksudnya bukan suara Jonghyun. “Jonghyun tidak bisa datang sekarang, mungkin 2 jam lagi dia baru bisa datang,” lanjut suara itu
“taemin-ah,” jeritku girang. Aku senang sekali melihat anak ini.
Dia adik ku, sudah 3 tahun kami tidak bertemu. Dia ikut orang tua ku ke Australia. Senang sekali rasanya bisa bertemu dia lagi, aku pikir kita akan bertemu saat diriku sudah ada didalam peti mati.
“tebak aku bawa apa?” tanyanya sambil mengangkat parsel yang ia bawa
Senangnya, dia masih tau buah kesukaanku, “hwaaa, aku sudah lama tidak makan jeruk.”
Beginilah aku jika bersama Taemin, aku selalu manja dengannya, padahal aku kakaknya. Terlebih lagi kami sudah lama tidak bertemu, jadi tingkat kemanjaanku juga pasti makin menjadi-jadi.
“umma dan appa tidak bisa datang hari ini, mereka minta maaf. Mungkin 2 minggu lagi mereka baru bisa datang menjengukmu.” Ucapnya sambil mengupaskan ku jeruk yang ia bawa.
Aku hanya tersenyum menanggapinya. Aku tahu, bagi mereka bisnis itu lebih penting daripada anak-anaknya, aku sudah terbiasa dengan itu semua.
“dimana Jonghyun?” tanyaku penasaran, biasanya dia selalu datang tepat waktu
“dia ada latihan nyanyi, sebentar lagi dia ada pementasan,” jawab taemin
Ya, aku baru ingat. Sekarang anak itu akan sedikit disibukkan oleh jadwal latihan menyanyi, karena sebentar lagi akan diadakan pementasan universitas.
“kau tidak apa-apa?” Tanya Taemin sambil menyuapi ku.
Aku mengangguk sambil tersenyum simpul.
“sejak kapan kau merasakannya? Kenapa tidak langsung kedokter?”
Dia langsung menyerbuku dengan pertanyaan yang tidak bisa kujawab. Dia nampak santai, tapi terlihat jelas dia sangat mengkhawatirkanku. Aku tidak tahu, aku tidak bisa menjawabnya, jadi aku hanya menggeleng.
“dasar, kau itu ceroboh. Kau tahu aku menangis saat ku tahu kau sakit,” ucapnya sambil menyuapiku jeruk lagi. “aku takut. Penyakitmu itu berbahaya,” lanjutnya, suaranya terdengar lirih dan dalam. Ia menunduk berpura-pura sibuk mengupas jeruk, tapi aku tahu dia sedang kalut, sama seperti Jonghyun.
Aku tidak mau melihat ekspresi seperti itu lagi. Aku ingin menangis saat ini, tapi aku harus menahannya, aku tak mau anak ini juga merasakan kepedihanku, sama seperti Jonghyun.
“jangan begitu, kata dokter aku masih ada kemungkinan sembuh. Aku berjanji kepadamu, aku akan kembali menjadi Joongda yang dulu,” sebisa mungkin ku ucapkan kata-kata itu sambil tersenyum. Aku yakin tapi hatiku berkata sebaliknya.
“aku percaya kau pasti sembuh,” katanya sambil tersenyum.
Suapan kedua masuk ke perutku, tiba-tiba perutku terasa mual. Seketika itu juga aku turun dari ranjang dan menuju ke toilet. Kumuntahkan semua yang aku makan hari itu, perutku menolaknya, rasanya perih sekali. Karena terlalu cepat aku memuntahkannya, ada sedikit yang masuk kesaluran pernafasanku dan mambuatku terbatuk-batuk, semua itu membuat perut kanan ku makin terasa sakit.
Taemin mengikuti dibelakangku, dia sangat khawatir. “Joongda, kau baik-baik saja? Aku akan segera memanggilkanmu dokter,” katanya panik.
“jangan. Perutku hanya kram,” kataku
Taemin menurut, dia hanya memandangku di pintu. Aku sudah sedikit bisa mengendalikannya. Pelan-pelan aku berjalan keluar dari toilet. Taemin langsung menolongku kembali ketempat tidur. Badanku lemas sekali, kepalaku ngilu.
“jangan bilang Jonghyun, aku mohon jangan katakana apapun kepadanya,” ucapku
“aku tidak akan mengatakan apa-apa. Kau yakin kau baik-baik saja?” Tanya Taemin.
Aku tahu dia sangat khawatir melihat keadaanku saat ini. Hahaha….mengenaskan, keadaanku saat ini benar-benar mengenaskan. Untuk makan saja perutku menolak, sudah dapat dipastikan hidupku ini sudah tidak lama lagi.
Aku mengangguk sambil memegangi perutku. Aku pandangi Taemin, wajahnya muram, tidak seceria tadi. “taemin-ah, jangan pedulikan aku,” ucapku sambil tersenyum. “aku yakin aku pasti sembuh. Jika aku sembuh nanti kau harus membawaku ke kebun jeruk yang dulu pernah kau ceritakan. Janji?” lanjutku sambil mengarahkan jari telunjuk kearahnya.
“kau ini, ada-ada saja,” jawab Taemin sambil mengaitkan jari telunjuknya ke jari telunjukku.

30 Agustus 2009

Hari ini aku keluar dari rumah sakit. Dan apa yang ada dipikiranku? Aku menganggap semua itu hanya mimpi dan akan kembali ke duniaku saat aku sudah berada di rumah. Tidak mungkin, aku tahu tidak mungkin.
Aku, Lee Joong Da sudah positif kanker hati dan akan memulai kemoterapinya minggu depan. Seminggu sekali aku harus ke rumah sakit untuk menghambat perkembangan penyakitku ini.
“joongda-ah, mulai hari ini aku dan Joonghyun hyung akan tinggal bersamamu,” kata Taemin
“mwo? Jonghyun? Kau juga?”
Jonghyun mengangguk dan menghampiriku, “kenapa? Kau tidak mau tinggal bersamaku?” godanya
Aku langsung mencubitnya dan ia mengernyit, “kau itu menyusahkan jadi aku tidak mau tinggal denganmu,” jawabku sambil berlari meninggalkannya
Jonghyun mengejarku. Sepertia anak kecil, ya, itulah kami. Taemin hanya tersenyum melihat ulahku dengan Jonghyun. Aku senang sekali, karena hari ini semuanya kembali bisa tertawa. Jonghyun dan adik tercintaku Taemin, aku harap kalian akan seperti ini, selalu ceria meski malaikat telah menjemputku. Hari ini aku ingin waktu berhenti berjalan, hari ini saja.

    *TBC*
    THANKS TO READ MY FIRST FF

Tolong dibaca ya, dicomen.
Butuh banget kritikan, maklum author baru

    NO SILENT READER PLEASE

Cuplikan CHAPTER 3 :

“aku tidak akan pernah meninggalkanmu,” kataku sambil menggengam tangan Jonghyun
“tapi…”
“tolong jangan ada tapi…”
Malam itu angin semilir masuk melalu jendela kamarku. Aku belum mau menutup jendelanya, aku masih ingin merasakan hawa malam ini, bersama Jonghyun.

    ^^ JEONGMAL GOMAWO CHINGU ^^
Advertisements

2 responses to “UNFORGETTABLE LOVE ~ Chapter 2

  1. Pingback: UNFORGETTABLE LOVE ~ Chapter 4 [FINAL] « FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s