Love Letter for You (Oneshot)

Author : Lee Chira

Genre : Romance

Cast : Key

Lee Chira (author)

Disclaimer : I don’t own Key, he belongs to SHINee and SM Ent. Lee Chira belongs to me. But I do own the plot based om my imagination.

______________________________________________

bru ff pertama tp dah pke cast sendiri, hhehe

*narcism mode on*

oia, nih ff pertama yg diposting d ffindo, mian klo geje bgt..

_______________________________________

Tik.. Tok.. Tik.. Tok..

Aku melirik jam tanganku sekali lagi. Dua puluh menit. Aku sudah menunggunya selama dua puluh menit di sini. Di taman, seorang diri. Aku melanjutkan menunggunya.

Tiga puluh menit.

Empat puluh menit.

Lima puluh menit.

Lima puluh lima menit.

Lima puluh tujuh menit.

Aku bahkan menunggunya hampir sejam lamanya. Aku duduk di bangku taman dengan kedua tanganku di kedua sisiku dan menopang di atas bangku kayu panjang bercat putih. Aku menundukkan kepalaku, menghindari menatap pasangan-pasangan yang saling adu kemesraan di hadapanku. Aku hanya mengayunkan kakiku sambil terus menunggu.

Menunggu.

Dan dalam waktu yang kurasa sudah menunjukkan pukul 10 pagi sekarang, kudengar seseorang memanggilku dengan suara terengah-engah. Aku tidak menoleh, tetap menunduk dan melihat ke bawah ke arah tulisan abstrak yang kutulis dengan ujung sepatu yang tak meninggalkan goresan sedikit pun di atas tanah beraspal.

Aku merasakan seseorang berlari-lari menghampiriku. Saat ia telah berada semeter dariku, kurasakan ia membungkuk dan memegang lututnya seraya mengatur nafasnya yang ngos-ngosan. Kemudian ia duduk di sebelahku sambil kali ini memegang perutnya.

Beberapa detik. Ia menatapku dengan perasaan bersalah. “Mian, Chi-ah!” Aku tetap menunduk, tidak menggubrisnya bahkan saat ia mendekatiku dan mengangkat kedua tangannya yang terkatup dengan wajah memelas.

Aku sedang tidak dalam mood yang baik hari ini ditambah dengan kenyataan bahwa aku tetap harus menunggunya selama sejam. Aku berpikir tentang diriku, tentang dia.. Dan aku menjadi bingung dan tanda tanya besar memenuhi otakku.

***

(Key POV)

Aku sudah berkali-kali meminta maaf padanya. Tapi ia tetap tidak bergeming. Tidak berbicara sepatah kata pun, juga tak menatapku sama sekali. Ia tetap melihat ke bawah. Ia hanya diam saja.

Tapi ia tidak marah. Aku tahu itu. Karena ia tak pernah marah padaku. Bahkan saat aku sering terlambat dan membuatnya kesal saking lama dan seringnya ia menungguku. Aku tahu hari ini ia sedang bad mood. Aku mengerti, apalagi ia lama menungguku. Tidak, kurasa sebenarnya ia-lah yang mengerti diriku.

***

(Chira POV)

2 tahun yang lalu.

2 tahun yang lalu aku hanya bisa melihatmu sebagai seorang senior yang berada dua tingkatan di atasku. Aku tahu sosokmu yang hampir sempurna di mata teman-temanku dan seluruh isi sekolah.

Kau yang menjadi idola dan panutan bagi junior. Kau yang memiliki segalanya. Kau yang dibanggakan. Kau yang diidam-idamkan.

Dan aku tidak pernah berpikir seperti yang lain, karena aku tak mengenalmu lebih jauh. Hanya sekadar tahu namamu dan beberapa informasi tentangmu dari cerita teman-temanku yang mengatkan bahwa kau begini.. kau begitu..

***

Beberapa bulan kemudian kau datang padaku. Di saat aku sedang menangis karena memikirkan orang tuaku yang bertengkar. Kau datang dan memberiku selembar sapu tanganmu untuk menghapus air mataku.

Sejak saat itu aku mulai mengingatmu.

***

Minggu-minggu berlalu. Orang tuaku terus saja bertengkar. Aku dilanda kelelahan akan pertengkaran mereka. Aku berlari ke taman, menangis sejadi-jadinya di sana. Dan kau datang, lagi. Tanpa berucap sepatah kata pun. Kali ini kau tidak memberiku sapu tangan lagi karena sapu tanganmu masih ada padaku, belum kukembalikan saking tak beraninya aku menghampirimu yang selalu saja dikelilingi oleh orang-orang.

Tapi kali  ini kau meminjamkan sesuatu yang membuatku lebih tenang. Kau meminjamkan dadamu sebagai tempatku menumpahkan segala air mataku. Membasahi bajumu. Maaf untuk hal itu. Aku bertanya dalam hati, mengapa aku langsung menumpahkan segalanya padamu padahal kita begitu jauh dan mengapa juga kau mau menenangkanku?

***

Empat bulan setelah kejadian di mana kau memberiku sapu tangan itu. Aku tak tahan lagi sekarang. Aku muak mendengar suara teriakan, histeris, barang pecah. Oh tidak!

Aku memutuskan untuk lari dari rumah. Dan satu-satunya tempat yang kutuju di saat aku sedang sedih adalah taman. Kali ini aku tak hanya sedih, tapi benar-benar muak. Dan lagi-lagi kau datang. Aku tak percaya ini. Mengapa di setiap kali aku bersedih di sini kau selalu datang? Sekarang aku tidak membutuhkan sapu tangan untuk menghapus air mataku atau pun dada sebagai tempatku menumpahkan air mataku dan membanjiri bajumu. Karena sekarang aku membutuhkan sebuah pelarian akan masalah yang kuhadapi. Dan aku pikir tak akan kau berikan padaku seperti sebelum-sebelumnya.

Namun aku salah. Kau ada untukku. Bukan hanya sekali-dua kali. Kali ini kau tetap ada, memberikan apa yang kubutuhkan. Kau membawaku berkeliling kota. Membelikanku es krim coklat kesukaanku, mengeluarkan lelucon-lelucon yang membuatku tak hentinya tertawa. Dan membuatku melupakan masalahku.

Saat ini kau mengantarkanku kembali ke rumah, rumah sudah sepi. Tak ada lagi teriakan dan suara barang pecah. Pertengkaran sudah mereda, untuk sementara. Aku bersyukur, setidaknya aku tidak malu karena kau harus mendengar pertengkaran mereka. Kau mungkin mengerti karena aku sudah menumpahkannya padamu. Aku tahu bahwa kau mengetahui dengan sangat jelas semua perkaranya. Dan kau tak pernah menanyakan masalah pertengkaran mereka. Kau hanya bertanya bagaimana perasaanku?

Saat aku sampai di depan pintu, aku kembali teringat masalahku. Aku menitikkan air mata. Kau menghapusnya lembut dengan jemarimu. Dan beberapa detik kemudian, kau berkata..

‘Kalau kau sedih, datang padaku. Tapi bila kau tak bisa, panggil aku dan aku akan datang. Dan bila hal itu juga tak bisa, sebut namaku dan kau akan tenang.’

Kau memegang kepalaku yang membuatku menahan nafas. Hatiku bergetar. Bahkan di saat kau selesai mengucapkan selamat malam padaku dan menghilang dari pandanganku, aku terus saja membeku di tempatku.

‘Gomawoyo, Key sonbae..’

***

Dan aku yakin aku telah jatuh cinta. Hatiku bergetar tiap kali kau berada di dekatku. Aku tahu ini gila. Jurang antara kau dan aku terlalu besar. Aku yang biasa-biasa saja dan kau yang begitu ditinggikan. Tapi aku tetap mencintaimu seberapa besar pun kucoba untuk mengingkarinya.

***

Enam bulan sejak kejadian pertama itu. Aku tak percaya ini. Serasa duniaku sudah terbalik. Aku senang bukan main. Kau menyatakan cinta padaku. Aku tak mampu berkata-kata saking bahagianya.

Kau. Key. Seseorang yang diincar oleh perempuan-perempuan. Menyatakan cinta. Padaku. Seorang makhluk Tuhan yang amat biasa-biasa saja. Sulit untukku percaya. Tapi ini nyata. Kau berdiri di hadapanku. Dengan mimik yang amat serius. Menatapku tajam. Jauh ke dalam mataku. Meyakinkan diriku bahwa kau tidak main-main. Dan mencoba mencari jawaban dalam tatapanku yang balik menatapmu. Dan kau kemudian tersenyum. Senyum yang membuatku meleleh. Senyum maut itu, yang penuh dengan ketulusan. Ditujukan untukku. Kau tak pernah mendengar jawabanku. Karena kau langsung memelukku saat itu juga sebelum aku sempat berucap. Air mataku kembali jatuh dalam pelukanmu. Tapi ini bukan air mata karena kesedihan akan masalahku yang selalu kutunjukkan di hadapanmu. Ini adalah air mata bahagia.

Kau memelukku erat. Menghangatkan diriku di tengah-tengah udara dingin di musim dingin.

Gomawo, oppa.. Nado saranghae.. aku hanya bisa menyahut dalam hati.

***

Akhirnya aku mengangkat kepalaku. Kau masih tetap di sana. Duduk di sampingku dan memandang jauh ke depan, menerawang. Aku tidak tahu apa yang kau pikirkan sekarang. Kau selama meminta maaf tiap kali kau datang terlambat. Tapi kau tak pernah mendengar kata-kata yang menyatakan bahwa aku memaafkanmu. Karena kau tahu bahwa aku sudah memaafkanmu jauh sebelum kau meminta maaf.

Aku terus saja melihatmu. Dan tiap kali aku melihatmu dengan raut wajahmu yang serius itu, aku terus saja mengingatnya.

***

Aku sedang berkunjung ke rumahmu. Tapi kau belum juga bangun. Jadinya aku membangunkanmu. Saat sedang membereskan barang-barangmu, aku menemukan sebuah kotak. Aku penasaran. Kau sedang di kamar mandi. Aku membukanya. Rasa penasaranku mengalahkan sikap penghargaanku akan privasimu.

Diary. Ada banyak curhatan di sini. Aku tahu aku tak punya banyak waktu. Aku membuka halamannya secara acak dan membacanya.


… (aku belum tahu namamu)

Aku melihatmu. Sebelumnya aku tak pernah melihat siapa pun. Tapi aku terus melihatmu sejak pertama kali aku melihatmu di taman. Aku sedang berjalan-jalan mencari udara segar di malam hari ketika di taman aku melihatmu. Kau menangis. Waktu itu kau memakai sweter abu-abu. Aku ingat dengan jelas. Sejelas aku mengingat ekspresimu yang penuh dengan kesedihan. Aku tidak tega melihatmu seperti itu sendirian. Jadi aku menghampirimu. Dan karena aku tak tahu apa yang harus ku lakukan, aku hanya memberikan sapu tanganku dan duduk di sampingmu.

Saat aku menatap wajahmu yang memerah karena menangis, aku tak suka.

Aku tak suka melihatmu menangis.


Halaman lain.


My Dear Luna..

Aku melihatmu. Lagi. Terduduk di taman. Kali ini aku tidak melihatmu menangis. Tapi kau seolah menahan amarah. Aku mendekatimu. Dan bisa kurasakan bahwa pelupuk matamu sudah penuh dengan air mata yang bersiap untuk tumpah. Aku tak membawa sapu tangan atau tissue untuk kau menghapus air matamu.

Aku sadar. Kau membutuhkan sesuatu yang lebih dari sapu tangan. Bukan hanya untuk menghapus air matamu tetapi juga untuk menumpahkan air matamu terlebih dahulu karena kalau tidak, air matamu tidak akan tumpuh.

Aku meminjamkan dadaku. Kau langsung menghambur dalam pelukanku. Kau terisak. Kurasakan bajuku mulai basah karena air matamu. Tapi itu jauh lebih baik daripada aku harus melihatmu menangis.

Aku sangat tidak suka melihatmu menangis, Luna.


Lembaran lain.


My Dear  Luna

Apa kau tahu mengapa aku memanggilmu Luna?

Karena saat pertama kali aku melihatmu menangis, aku seolah-olah melihat dewi bulan dengan segala keanggunannya sedang sedih karena ia tak dapat memberikan cahaya. Karena bulan hanya memantulkan cahaya matahari. Aku memang belum pernah melihat dewi bulan, tetapi aku yakin ia tak akan jauh berbeda denganmu. Aku tahu namamu Chira. Lee Chira.

Bolehkaha aku memanggilmu Luna?


Halaman selanjutnya..


My Dear Luna..

Aku mencintaimu. Aku yakin itu. Aku mencintaimu sejak pertama kali melihatmu menangis. Itu sudah lama. Tapi aku baru menyadarinya sekarang.

Namun bahkan saat kau sedang tersenyum dan tertawa bersama teman-temanmu di kantin sekolah, menyembunyikan kesedihanmu yang tak kunjung hilang. Aku merasa beruntung setidaknya aku mengetahuimu lebih dari teman-temanmu. Kau menunjukkan sebuah sisimu dan tidak kau tunjukkan pada siapa pun. Hanya padaku. Aku tersenyum melihatmu tersenyum.

Dan aku ingin membuatmu bahagia.

Aku mencintaimu, My Dear Luna.


Selanjutnya. Aku tenggelam dengan bacaanku.


My Dear Luna..

Tiap malam aku ke taman ini. Berharap kau akan datang. Aku rindu padamu. Sehari saja aku tak melihatmu, aku serasa mayat hidup. Aku mungkin bisa melihatmu dari jauh, di sekolah. Hanya itu obat penenangku. Tapi kau tak pernah menyapaku saat kita berpapasan di sekolah. Di sekolah kita seolah tak saling mengenal. Padahal aku mengenalmu lebih dari yang lain tahu. Tak bisakah sekali saja aku mendengarmu memanggilku ‘Key oppa’ ? Kenapa Luna?

Dan malam itu, setelah sekian lama aku tak mengobrol denganmu. Kau datang. Tak ada air mata. Aku merasa lebih baik. Ternyata kau kabur dari masalahmu. Aku ingin membuatmu bahagia. Aku mengajakmu berjalan-jalan. Agar kau tak sedih lagi. Kita mengobrol banyak. Di tengah jalan, aku membelikanmu es krim. Aku tak tahu apa yang kau sukai. Aku hanya memikirkanmu dan membeli yang rasa coklat untukmu. Ternyata aku benar. Kau penggemar es krim rasa coklat. Aku senang bukan main.

Sampai di depan rumahmu. Kau menangis lagi. Segera kuhapus air matamu. Aku bukan lagi tak suka melihatmu menangis. Hal itu naik setingkat.

Aku. Benci.Melihatmu.Menangis.

Sekalipun bukan karena aku.

(End of POV)


***

(Key POV)

Ia tak pernah marah padaku. Kurasakan ia menatapku. Aku balas menatapnya. Aku tersenyum lalu menyingkirkan tangannya yang tergeletak di pangkuannya. Dalam sepersekian detik, aku langsung menaruh kepalaku di pangkuannya dan pura-pura ingin tidur. Kurasakan ia sempat kaget, tapi aku tak peduli. Toh dua detik kemudian ia akan membiarkanku.

Aku ingin memberikanmu sebuah surat cinta yang bisa membuatmu berjongkrak-jingkrak kesenangan. Tapi aku tak tahu harus menulis apa. Aku bukan pria romantic yang bisa memberimu bunga, coklat atau boneka. Aku tak bisa mengajakmu makan malam romantic karena jujur aku tak terbiasa dengan hal itu.

Aku meminta maaf karena aku hanya bisa membuatmu menunggu tiap kali aku terlambat saat janji bertemu denganmu.

Kurasakan jari-jarinya mengelus lembuat rambutku. Aku membuka mata. Aku menatapnya yang balas menatapku. Kami bertatapan sangat dalam dan dalam tatapan itu ada obrolan yang hanya kami berdua yang mengetahuinya.

Saranghae neoui miso gomawo

Mideojwoseo haengbokhae

Niga isseo, do isangi sarangeul pyohyeonhal su eobseo


I love your smile, thank you,

I’m joyful because you trust me,

I have you, from now on this love cannot be expressed

(End of POV)

***

(Eyes POV)

‘Lama menungguku, Luna?’

‘Seperti biasanya,’

‘Apa kau tidak bosan seperti ini terus denganku?’

‘Apa kau tidak bosan dengan aku yang jarang menjawab pertanyaanmu?’

‘Mengapa kau tetap bertahan bersamaku?’

‘Mengapa kau selalu ada untukku?’

‘Karena bila tidak, aku akan rindu melihatmu. Boleh aku bertanya satu hal, dan tolong kau jawab..’

‘Apa?’

‘Apakah kau mencintaku?’

‘Kau sendiri, mengapa kau mencintaiku?’

‘Karena mencintai seseorang adalah tanpa syarat. Sekarang jawab pertanyaanku. Aku sudah, jadi jawab sekarang juga.’

‘Jawabannya kau sudah tahu karena jawabannya ada padamu. Karena aku tak tahu apa yang kau nilai dariku. Dan kau tetap ada untukku, caramu itulah jawabannya.’

***

Oh baby you gotta know,

nothing in this world compares

the lovin’ you give is so true

I guess all the stars on my side

So many nights have I prayed you’d be mine

And when you kiss, light my way

Showing me how

It’s so beautiful to believe in love in you and me

Gomawo, you’re the joy of my life

My reason to smile

I catch myself thinking

Why you are here, by my side

Now knowing what you see in me

I guess love can clear out the clouds

Carry you in the wind to my heart

Cause when you touch

You take away all of my fears

And the happiness you give to me

The same I’ll do for you

Saranghae, sincerely from my heart

My reason to smile

FIN

skali lg mian klo geje, byk slh2 nulisx, hhehe

meski bru ff pertama, komen please..

bkln sgt m’bantu..

Advertisements

29 responses to “Love Letter for You (Oneshot)

  1. @evkissme :
    ia, mkx nnti kekx bkln sibuk..
    nnti y klo aq ada wktu..
    ide sih byk..tp kesempatanx itu lho..
    (sok kebykn ide)

    well, nm koreax sp?
    oia, mangx mo dipairing kn ma sp?
    dongho mw g?

    skali lg, g janji cm bkln usahain..
    itupun g tw kpn bs..hhehe..
    smangadd aj y dongsaeng!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s