OUR BABY – CHAPTER 7 (FF/SERIES/PG13)

Image and video hosting by TinyPic

OUR BABY

Author : Noriko Kaoin

Previous Chapter : (1) (2) (3) (4) (5) (6)

Cast :

-Choi Hae Rin

-Lee Jinki a.k.a Onew

-Kim Kibum a.k.a Key

-Another SHINee’s member

Length : Series (chaptered)

Rating : PG13

Genre : General, Romance, Family, Friendship

Disclaimer : The cast is not mine, but this fanfic is MINE!!!

Inspired by : from fanfic with title “Mommy, Baby, and Daddy” and the sequel, the other fanfic with tittle “The Only Reason”

Summary : Bagaimana kalau seseorang dengan image cute, manly dan dikagumi oleh semua orang, Onew tertangkap basah menghamili seorang model yang ternyata kekasihnya selama ini diam-diam menjalin hubungan?

XxXxXxX

ENJOY

SEBELUMNYA

“Eh? Tapi setidaknya masih ada waktu istirahat, bukan?” Key pun dilanda kepanikan. Ia tidak mungkin menelantarkan Hae Rin begitu saja. Tidak mungkin Bibinya yang terus menjaga, Bibinya tidak terbiasa ke Seoul. Bagaimana cara Hae Rin memeriksakan kandungannya kalau tidak pergi ke rumah sakit Seoul bersama diriku? Satu-satunya orang yang bisa dikenal Hae Rin hanya aku dan keempat member. Kalau menyuruh seseorang, justru Key tidak percaya dengan orang itu. Terlebih, Hae Rin ingin menutup diri sementara.

Sial! umpat Key dalam hati.

“Tidak ada waktu istirahat, Key. Lupakan masalah pribadimu selama 4 bulan ini, fokuskan pikiranmu pada pekerjaan. Kalau tidak, kau tau apa yang akan terjadi,” ujar manajernya dalam nada datar namun semakin mengguncang perasaan gelisah Key.

Ya, ia harus memilih antara pekerjaannya atau Hae Rin?

XxXxXx

Chapter 7 – Confession

Mobil itu terus berjalan menyusuri jalan yang gelap tanpa ada penerangan. Walau ada penerangan, yang ada hanyalah dari mobil depan dan belakang itu sendiri, sesekali juga terlihat lampu teras dari rumah-rumah yang ada di desa itu.

Tak lama kemudian mobil itu memasuki sebuah pekarangan rumah yang sederhana. Saat pintu mobil itu terbuka, terlihatlah beberapa orang pemuda dengan tampilan stylish turun dari mobil itu. Masing-masing dari mereka merenggangkan badannya karena terlalu lama duduk di dalam mobil.

Seseorang yang tingginya melebihi dari ketiga lainnya itu, segera berjalan terlebih dahulu lalu diikuti oleh semuanya.

“Key hyung, mau apa kita di sini?” tanya yang si maknae.

Key yang dipanggil tidak menjawab, ia terlalu sibuk berkutik dengan pikirannya. Maknae itupun menoleh ke member lain, tapi mereka berdua hanya mengendikkan bahu.

“Sepertinya Key ada masalah yang harus ia selesaikan,” ujar Jonghyun yang mempercepat langkahnya karena Key sudah berada jauh di depan mereka.

Key pun mengetok rumah itu beberapa kali, tubuhnya seperti tidak ingin diam. Beberapa kali ia mengetok pintu rumah itu tapi tak ada yang membuka. Ia mulai berpikir, apa ketokannya kurang nyaring. Di saat ia hendak mengetok pintu lagi, terdengar suara terburu-buru dari dalam rumah yang sepertinya akan membukakan mereka.

“Ya! Sebentar!” teriak di dalam. Entah perasaan Key saja atau member lain juga merasakannya, ia merasakan suara yang menyahut mereka itu lain dari suara Hyun Ji Ajumma atau Hae Rin. Key memang tau itu bukan suaranya Bibinya atau Hae Rin, tapi ia merasa sangat kenal dengan suara itu.

Tak lama kemudian pintu depan rumah itu terbuka dan menampilkan seorang wanita yang umurnya tidak jauh dari Bibinya Key. Ia tersenyum lebar saat mengetahui siapa yang mengetok pintu depan rumah itu.

“Kibum!” pekik wanita itu. Semua member terheran-heran, termasuk Key yang menganga tidak percaya sekarang.

“Umma?”

XxXxXxX

“Umma, sedang apa umma di sini?” tanya Key sambil masuk ke dalam rumah. Semua member mengikutinya dari belakang sambil terheran-heran. Mungkin pikiran mereka sama dengan apa yang baru saja ditanyakan oleh Key tadi.

Ketika mereka sampai di ruang tengah, Key dan lainnya pun duduk di tengah meja kecil yang biasanya rumah itu untuk menerima tamu.

“Kibum?” suara seseorang lagi-lagi memanggil namanya.

“Oh, ajumma,” ujar Key dan member lainnya serentak. Ketika Bibinya memanggil namanya, keempat member itu bisa melihat seorang gadis dengan perut yang agak buncit, tapi badannya seperti masih profesional untuk menjadi seorang model. Gadis itu tersenyum lembut pada keempat member itu. Mereka pun membalasnya.

“Hae Rin noona!” ujar Taemin hampir memekik.

“Hei, semuanya. Apa kabar? Sepertinya sudah 1 bulan tidak bertemu? Oh, tidak mungkin kalian sudah sering datang ke sini, hanya saja aku selalu tidak bisa menyempatkan diri untuk menemui kalian.” ujar gadis itu sambil tertawa pelan. Key yang melihat kecerian dan keadaan gadis itu baik-baik saja, membalas tawa gadis itu dan diakhirnya ia menghela nafas lega.

Hae Rin mendekat pada mereka dan duduk tepat di sebelah Ibunya Key. Ia terus sopan pada wanita itu. Ibunya Key yang merasa gadis itu menularkan senyumannya, ia juga membalas senyuman gadis itu.

“Errr, maaf. Kalian sudah saling mengenal?” ujar Key tiba-tiba.

“Tentu saja, Kibum. Kami bahkan sudah mengenal 3 hari yang lalu, begitu bukan Hae Rin-ah?” jawab Nyonya Kim. Jonghyun, Taemin dan Minho hanya bisa mengangguk-angguk mengerti, sedangkan Key dengan terkejutnya sambil membelalakkan matanya.

Hae Rin yang melihat ekspresi Key segera menjelaskannya, “Key, sebenarnya Ibumu datang tepatnya 3 hari yang lalu. Ia hendak menemui Hyun Ji Ajumma. Tapi yang membukakan pintu adalah aku, saat itu Ibumu mengira kalau Hyun Ji Ajumma sudah pindah, tapi saat aku menjelaskan padanya kalau Hyun Ji Ajumma masih ada di rumah ini, tetapi beliau sedang ada kebun untuk mengambil beberapa sayuran. Yah, masih pertemuan simple saja.”

“Aku sempat terkejut ketika melihat seorang model terkenal berada di rumah ini dengan perut buncitnya. Jujur, aku sempat berpikiran negatif pada gadis ini, tetapi saat ia menjelaskan semua masalahnya, sepertinya aku memang harus berpihak pada gadis ini,” sambung Nyonya Kim.

Sesaat mereka semua yang ada di dalam ruangan itu terdiam, hingga Bibinya datang sambil membawa mapan disertai beberapa cangkir dan teko yang berisi teh hangat. Ia pun menaruh masing-masing gelas itu berada di depan orang-orang yang duduk di depan meja kecil itu. Mereka semua mengucapkan terima kasih pada Bibinya Key.

Semua sudah menyentuh teh mereka masing-masing, tapi hanya Key saja yang belum menyentuh teh-nya sama sekali. Ia seperti tenggelam pada pikirannya sama sekali hingga kepulan asap diatas minumannya itu berkurang. Tapi tiba-tiba ia tersadar dari pikirannya karena seseorang disampingnya menyenggol sikunya.

“Oh, ada apa Jonghyun-hyung?” tanya pelan pada Jonghyun yang duduk di sampingnya.

Jonghyun mendekatkan kepalanya hingga ia bisa berbisik pada Key, “Katakan sekarang. Kita tidak mungkin sampai menunggu Ibumu pulang. Sepertinya beliau akan menginap disini.”

Key membalas bisikan hyung-nya itu, “Bagaimana caranya? Ibuku perasaannya tajam, ia akan menganggap aku tidak peduli pada seorang gadis yang sedang hamil.”

Jonghyun berdecak pelan, “Lebih baik kau katakan daripada kita meninggalkannya begitu saja. Kita meninggalkannya tidak sebentar, Kim Kibum. Setelah promo 3 bulan, kita masih ada tour!”

Key pun menarik nafasnya, lalu mengeluarkannya dengan kasar. “Ya, ya, ya, baiklah…”

Semuanya seperti sedang asyik mengobrol satu sama lain, hanya Key yang terdiam lalu Jonghyun kembali menyikutnya untuk menyuruhnya segera mengatakannya. Apa boleh buat baginya, sepertinya memang harus seperti ini.

“Hae Rin-ah…” panggilnya pada gadis yang tertawa pelan itu. Hae Rin pun menoleh pada Key.

“Ya?”

“Maaf, selama 3 bulan nanti kami tidak akan bisa menjengukmu lagi.” Ada perasaan lega namun jantung Key masih berdegup, ia masih tidak tega meninggalkan gadis itu dan berkutik dalam pekerjaannya.

“Kalian segera comeback?” tanya Hae Rin.

Saat aku hendak menjawab pertanyaan Hae Rin,Minho malah terlebih dahulu bicara. “Kami juga tidak bisa memastikan setelah 3 bulan nanti bisa menjengukmu atau tidak, karena setelah itu kami harus mempersiapkan tour album kami.”

Semua terdiam, sepertinya semua yang ada di dalam ruangan itu berkutik dengan pikiran masing-masing. Yang hanya terdengar adalah suara jangkrik pada musim panas yang menyelimuti daerah desa kecil itu.

Hae Rin menghela nafas, “Tidak masalah, boys. Aku—“

“Noona, kita merasa tidak ingin terjadi apa-apa. Kami hanya—“ Taemin hendak melanjutkan perkataannya ketika Hae Rin tersenyum padanya.

“Tak apa, Taemin. Hei, aku belum menyelesaikan perkataanku.” Hae Rin menarik nafas sebentar lalu menghembuskan nafasnya perlahan, terdengar suara nafasnya yang lelah – Mungkin karena ia membawa beban pada perutnya itu — ia kembali memfokuskan perkataannya pada Taemin. “Aku masih bisa menjaga diriku, boys. Aku sudah terbiasa dengan keadaan sulit. Jangan khawatir.”

Keempat member itu menunjukkan wajah tak yakin dan khawatir. Hyun Ji Ajumma dan Nyonya Kim yang sedaritadi hanya mendengar perkataan mereka, mulai saling berpandangan.

“Aku tahu, kalian mengkhawatirkanku kalau para wartawan itu kembali mengejarku lagi atau masalah-masalah dahulu yang sempat mengejarku. Tapi, aku yakinkan pada diriku sendiri kalau aku akan baik-baik saja bersama Hyun Ji Ajumma dan bayiku ini. Hyun Ji Ajumma masih kuat menjagaku, benar bukan, Ajumma?” Hae Rin sambil menoleh pada Hyun Ji Ajumma, orang yang disebut pun hanya bisa tersenyum lebar.

“Ya. Hae Rin… Tapi—“

Belum sempat Key berkata, ibunya sudah menyela perkataannya. “Kibum, kau masih ingat pekerjaaanku? Kau tidak perlu khawatir, Kibum. Ia akan baik-baik saja. Statusku sebagai seorang perawat masih aku sandang. Aku menjamin bayi itu akan lahir dengan selamat.”

Key menepuk dahinya dengan tangannya. “Ugh, Umma. Maaf, aku tidak memikirkannya. Tapi, Umma, kau yakin? Kau tidak akan sibuk? Bukannya 3 bulan akan datang, rumah sakit akan sibuk?”

Nyonya Kim menggeleng, “Tenang saja. Akan kuusahakan akan merawat bayi yang dikandungnya itu.”

Semuanya kembali terdiam. Suara cangkir-cangkir yang mulai dibereskan Hyun Ji Ajumma, terdengar membisingkan ruangan itu. Tapi, entah kenapa bagi Key, suara itu sama sekali tak terdengar. Ia benar-benar tenggelam pada pikirannya. Hanya disuruh memilih fokus pada pekerjaan atau merawat Hae Rin? Seperti sebuah pilihan yang takkan mungkin ia pilih salah satu.

“Percayalah, Kibum. Umma akan menjaganya dengan baik-baik,” ujar Nyonya Kim yang membuat lamunan Key menguap dan menatap ibunya itu. Sekilas ia bisa melihat kilat mata ibunya seperti memberikan isyarat. Tidak, itu bukan isyarat biasa. Nyonya Kim seperti merasakan kekhawatiran Kibum itu berlebihan dan merasakan kalau kekhawatiran itu bukan hal yang biasa. Seolah, kekhawatiran seorang laki-laki pada gadis yang ia sukai.

Key yang merasa mengerti dengan kilatan mata ibunya itu, ia tertunduk malu. Menahan rona pipinya tidak keluar.

Key melirik sedikit ketika Jonghyun menyenggol sikunya. Mulut Jonghyun bergerak-gerak seperti berkata tanpa suara.

“Apa maksudmu?” tanya Key dalam berbisik. Jonghyun pun mengeluarkan ponselnya, sepertinya ia sama sekali tidak mau mengeluarkan satu suara pun dalam kesunyian itu. Jonghyun mengetik beberapa kata pada ponselnya lalu menyerahkannya pada Key untuk membacanya.

Key mengangguk-angguk ragu ketika ia membaca pesan dari Jonghyun. Ia pun menghela nafas lalu menyerahkan kembali ponsel itu pada Jonghyun.

“Hae Rin… Kau yakin tidak apa-apa?” tanya Key dengan nada khawatir yang masih belum hilang.

“Maksudmu? Hingga 3 bulan mendatang? Key, saat itu kandunganku masih 6 bulan. Jadi, kau tidak perlu khawatir,” jawab Hae Rin meyakinkan.

“Tidak, tidak. Hae Rin, dengar. Kami berada di Korea selama 3 bulan mendatang. Dan, kemungkinan besar pada 3 bulan selanjutnya kami akan fokus ke Jepang. Jadi –“

“Tak perlu khawatir. Aku baik-baik saja. Kalau aku sudah melahirkan, aku akan memberitahu kalian. Fokuskan pada pekerjaanmu saja, Key.”

“Jangan jadi keras kepala, Key,” bisik Jonghyun. Key meringis sambil melirik tajam pada Jonghyun. Tapi Jonghyun sama sekali tidak peduli.

“Baiklah, kau janji pada aku—tidak pada kami – kau akan baik-baik saja, bukan?” Key kembali memastikan. Hae Rin pun mengangguk yakin dan tersenyum lebar. “Baiklah, jaga dirimu baik-baik. Kalau ada apa-apa, panggil saja aku. Akan kuusahakan akan mengangkat panggilanmu nanti.”

Terdengar, semuanya menghela nafas lega. Akhirnya, Key memilih untuk fokus pada pekerjaan, meskipun setengah hati untuk menerima kenyataan itu.

XxXxXxXxX

Ketika semua orang sedang asyik bercengkrama di ruang tengah. Hae Rin mengundurkan diri, ia merasa butuh udara segar. Tidak, tidak hanya dirinya tapi bayinya-lah yang memaksanya untuk menghirup udara segar pada malam hari.

Hae Rin duduk sendiri di sebuah dipan yang menghadap pada kebun sayur milik Hyun Ji Ajumma. Ia menarik nafas dalam-dalam, lalu mengeluarkannya pelan. Sesekali ia mengelus perutnya itu lalu tersenyum lembut.

“Hei…” panggil seseorang dari belakang. Hae Rin pun menoleh dan membalas senyuman yang telah menyapanya tadi.

“Hei, Key. Duduklah,” ujar Hae Rin sambil menepuk-nepuk permukaan dipan tepat di sampingnya. Key pun duduk di sampingnya.

Perlahan angin malam musim panas itu menyapu rambut Key yang berwarna coklat-kemerahan itu. Hae Rin diam-diam memperhatikan sosok disampingnya itu, sosok yang selama ini selalu menjaganya, membantunya, menenangkannya, bahkan jauh dari sudut hati Hae Rin, ia merasa sosok Key sudah menjadi pengganti Onew yang justru melarikan diri. Ia sudah terlalu banyak mendengar cerita dari Hyun Ji Ajumma ketika Key diam-diam menjenguknya, berusaha datang ke sini, menempuh perjalanan selama 3 jam hanya menemuinya. Seolah Hae Rin bisa merasakan perasaan laki-laki itu.

“Ada apa?” tanya Key yang menangkap mata Hae Rin yang sedang memperhatikan detail wajahnya. “Ada sesuatu di wajahku?”

Dengan segera Hae Rin mengalihkan pandangan, berusaha agar menghindar dari tatapannya lagi. “Ugh, err… Tidak apa. Hanya… Err… Rambutmu sedikit berantakan,” ujar Hae Rin terbata-bata.

“Oh…” sahut Key sambil merapikan rambutnya.

Hening.

Mereka berdua tenggelam dalam pikiran masing-masing. Atau Hae Rin sendiri yang merasa aura diantara mereka menjadi canggung. Hae Rin menjadi salah tingkah, apa yang harus ia lakukan sekarang ini.

“Key…”

“Hae Rin…”

Mereka berdua mengucapkannya bersamaan. Tapi kembali hening, tak ada yang berani mengucapkan kata terlebih dahulu dari mulut masing-masing.

Hae Rin mendengar Key menarik nafas perlahan lalu menghembuskannya. “Bagaimana keadaanmu? Kandunganmu?” Akhirnya, pertanyaan yang paling simple dikeluarkan oleh mulut Key.

“Oh, seperti yang kau lihat. Aku dan kandunganku dalam keadaaan baik-baik saja. Bahkan setelah kedatangan ibumu, aku semakin membaik. Sampaikan rasa terima kasihku padanya.”

“Hei, katakana saja langsung pada Ibuku. Besok aku sudah harus kembali ke Seoul.”

“Hmm? Maksudmu? Kau akan menginap di sini malam ini?” tanya Hae Rin sambil menampakkan mata hitam bulatnya itu.

Oh, itu bagian favorite Key dari seluruh wajahnya. Key pun tersenyum lembut lalu menyentuh ujung kepala gadis itu lalu mengusap-usapnya perlahan.

“Ya, untuk malam ini. Aku dan ketiga member lain ingin menghabiskan mala mini bersama kau, Umma, dan Hyun Ji Aumma.”

Hae Rin pun kemudian memberikan senyum terbaiknya. Tepat saat itu Key melepaskan tangannya dari ujung kepala Hae Rin. Raut wajahnya berubah seketika. Raut wajahnya tak pasti. Ia seperti menyimpan kepedihan, kebahagiaan, kemarahan, kegelisahan, semua jadi satu saat itu.

“Hae Rin, bisakah… Aku memelukmu sebentar?” ujar Key tanpa nada rasa malu. Entah apa yang merasuki diri Key malam itu. Ia hanya ingin merasakan hangatnya pelukan gadis itu. Ia tahu, ia sangat tahu kalau gadis itu bukanlah miliknya. Ia sungguh tidak mempunyai rasa kesopanan.

Tapi, gadis itu justru merentangkan tangannya sedikit. Lalu dengan manis itu berkata, “Kemarilah, Kim Kibum…”

Dengan gerakan yang cepat, Key sudah menangkap rentangan tangan gadis itu. Ia seolah menenggelamkan seluruh wajah gadis itu di atas dadanya. Memeluknya dengan erat. Ia bahkan sudah tidak peduli jika gadis itu merasa sesak ketika Key memeluknya. Tapi sepertinya gadis itu tidak peduli dengan juga, ia justru berusaha agar bisa memeluk seluruh tubuh laki-laki itu.

Mata Hae Rin tertutup rapat, ia mengigit bibir bawahnya berusaha agar tidak mengeluarkan bulir-bulir air matanya yang sudah tertahan dan membuat dadanya sesak. Berusaha menahan tangisan itu rasanya tidak mudah, Hae Rin tidak ingin menampakkan deritanya di hadapan orang-orang lagi. Sudah cukup baginya. Ia membiarkan dirinya sendiri yang menampung seluruh deritanya tanpa ada campur tangan orang lain lagi.

Lupakan saat ia meminta kepada Key agar menurunkan namanya di dunia entertainment, lupakan saat ia meminta semua orang agar menyadarkan keras kepala Onew. Lupakan semuanya, lupakan. Hae Rin yang sekarang sudah berbeda. Ia sudah bisa menatap dunia walau hanya setengah, tapi setidaknya ia akan menghadapi semua masalahnya sendiri. Ia harus kembali pada Hae Rin dahulu yang selalu tegar, semangat, ceria, dan sifat positif yang selalu dilontarkan oleh orang-orang padanya.

“Hae Rin?” Key tiba-tiba memecah kesunyian diantara mereka tanpa melepaskan pelukan meskipun ia melonggarkannya sedikit.

“Ya?” sahut Hae Rin dengan suara gemetarnya masih berusaha menahan tangisannya.

“Kau… Masih mengharapkan Onew-hyung?” tanya Key dengan hati-hati.

Tanpa jeda sedikit pun, keluar dari mulut Hae Rin sendiri, “Ya, aku masih mengharapkannya.”

Sontak, pelukan Key semakin melonggar, tapi tangan dan badannya masih menempel pada tubuh gadis itu. Ia menaruh kepalanya diatas bahu gadis itu.

“Begitu? Sepertinya memang tidak ada harapan sama sekali. Kau masih mengharapkan dirinya, sekalipun ia begitu brengsek dimatamu atau dimata kami berempat. Kau masih berharap, suatu saat ia akan berubah dan kembali menatapmu dengan tatapan lembut seperti namanya. Onew…”

Hae Rin sama sekali tidak menanggapi semua perkataan Key. Ia hanya terdiam di dalam pelukan Key sambil memejamkan matanya. Menikmati ketenangan sementara, seolah suara sekecil apapun bisa ia dengar. Tapi ada satu suara yang sangat menarik perhatiannya hingga ia semakin tenggelam pada pelukan itu. Suara jantung Key yang berdetak dengan cepatnya, seolah sedang mengejar sesuatu hingga ia harus secepat itu berdetak. Entahlah, Hae Rin benar-benar menikmatinya hingga jantungnya juga melakukan hal yang sama seperti Key.

Sebuah derapan kaki yang sedang berlari terdengar samar-samar oleh telinga mereka berdua. Hingga derapan kaki itu berhenti tepat di dekat mereka, tapi tak ada salah satu dari mereka melepaskan diri.

“Kibu—Opps, maaf. EHEM!” Suara seseorang dari belakang mereka itu sontak membuat mereka berdua melepaskan diri. Hae Rin yang sepertinya tampak menyembunyikan rona merah di pipinya segera mengalihkan pandangan. Sedangkan Key, dengan pintarnya dan jabatannya sebagai The Almighty bisa menyembunyikan rasa malunya dan segera menghadap pada orang yang hendak memanggilnya tadi.

XxXxXxX

“Oh, Minho. Ada apa?”

Minho segera menarik tangan Key menjauh dari Hae Rin. Setelah ia merasa jarak antara mereka dan Hae Rin cukup jauh, ia segera mengambil ponsel dari saku celana jeans-nya.

“Kibum, lihat ini!” Sebuah pesan segera ia tunjukkan pada Key. Key dengan sikap tenangnya segera membaca pesan itu. Tapi rasanya ia sudah hampir kehabisan, terbukti saat ia mengepal tangannya ketika ia membaca pesan itu.

“Kau membalas pesan Onew-hyung? Kau memberitahu kita berada dimana?” tanya Key dengan nada panik.

Minho menggeleng, “Aku tidak mungkin melakukan sesuatu yang bodoh seperti itu, Kibum. Terlalu banyak resiko. Kalau aku membalas pesannya, kalau kau atau Jonghyun-hyung yang suatu saat akan memukulku nanti. Dan Hae Rin…”

“Aku sendiri tidak bisa membayangkannya. Astaga…” sahut Key.

Disaat mereka sedang sibuk memikirkan masalah itu, sebuah dering panggil terdengar dari salah satu ponsel mereka. Minho menunjuk ponsel Key yang ada di dalam saku jaketnya. Key pun dengan tangan gemetarnya ia mengambil dan berusaha agar menyembunyikan suara paniknya.

“Ya, halo?” ujar Key.

“Dimana kau dan lainnya?” sebuah suara dengan suara berat seperti habis minum hingga mabuk?

“Hyung—Apa kau…?” belum sempat Key bertanya, Onew sudah terlebih dahulu membentaknya.

“Dimana kalian?! Hae Rin bersama kalian bukan?!” teriaknya.

Disaat Onew mulai berbicara tidak beraturan akibat mabuknya, Jonghyun dan Taemin datang mendekati Key dan Minho. Mereka ikut mendengarkan kata-kata yang dikeluarkan oleh Onew. Tapi mereka juga sibuk memikirkan cara agar keesokan harinya bisa lepas dari laki-laki ini. Tapi sepertinya mereka agak beruntung, laki-laki itu sedang mabuk. Pasti sebagian kata-katanya takkan diingatnya lagi.

Jonghyun mulai kehabisan kesabarannya, ia mengambil ponsel Key tapi dengan sigap Key segera mematikan sambungan. Ia mengacak-acak rambutnya dengan kasar.

“Sial!” umpat Key.

“Kibum, kenapa kau tidak membiarkanku menghentikan omongannya tadi?!”

“Kim Jonghyun! Bukan saatnya kau berdebat dengannya. Percuma, ia sedang mabuk, ia setengah sadar. Percuma!” pekik Key perlahan. Ia mengarahkan kepalanya ke belakang agar Hae Rin tidak mendengar pembicaraan mereka.

Tapi terlambat…

Hae Rin berdiri di hadapan mereka berempat. Tak ada seorang pun menyadari sejak kapan gadis itu mendengarkan pembicaraan mereka.

“Noona, sejak kapan?” Taemin yang berusaha menyapa gadis itu justru menyapa dengan cara yang salah.

Minho menyikut Key, ia mengisyaratkan agara Key segera bertindak sebelum kata-kata keluar dari mulut gadis itu dan masalah akan semakin kacau.

Key yang mengerti dengan isyarat Minho, ia segera mengeluarkan kunci mobilnya dan memberikannya pada Jonghyun. “Hyung dan kalian berdua duluan masuk dalam mobil. Tapi sebelum itu, kalian pamit dulu dengan Umma atau Hyun Ji Ajumma. Aku akan menyusul setelah menjawab pertanyaan beruntun darinya. Yah, aku harap aku bisa menjawabnya,” kata Key sambil melirik kearah Hae Rin.

Dengan segera ketiga member minus Key itu segera meninggalkan Key bersama Hae Rin yang masih terpaku.

Key mendekati Hae Rin, dan sepertinya gadis itu membiarkan Key mendekatinya. Key pun menggenggam kedua tangan Hae Rin dengan lembut. “Kau pasti sudah tahu penelepon tadi. Dari raut wajah kami saja sudah terlihat kalau tadi dari Onew hyung…” Key menggigit bibir bawahnya, ia sama sekali tidak tahu dari mana harus memulainya.

Tangan Hae Rin bergerak seperti membalas genggaman Key. Ia tersenyum pahit pada Key. “Ia baik-baik saja?”

Key menghela nafas lalu menarik tangannya dari genggaman dan menaruhnya di puncak kepala Hae Rin. Ia mengacak pelan rambut Hae Rind an tertawa getir. “Dia, Lee Jinki. Dia pasti baik-baik saja, Hae Rin. Kau percaya itu bukan?”

“Tapi tadi dia—“

“Mabuk? Tenang, tidak parah.” Tidak sebenarnya Onew sudah mabuk parah. Apa yang menyebabkannya hingga minum dan mabuk separah itu? Stres hanya karena masalah ini? Tch! Sial, apabila publik mengetahui ini, gagal acara comeback mereka.

“Tenang saja, kau tidak perlu khawatir. Ia bersama manajer hyung,” bohong Key lagi.

Disaat percakapannya bersama Hae Rin, ponsel Key berbunyi. Ia sudah was-was. Ia takut kalau dering pesan tadi berasal dari leader-nya itu. Tapi rupanya Key masih bisa bernafas lega, pesan itu bukan dari sang leader melainkan dari manajer-nya yang mengatakan agar cepat pulang. Karena ia agak kewalahan mengurus Onew? Sial, ini memang pekerjaan dirinya sebagai Umma di asrama hingga manajer sendiri tidak sanggup mengurusnya.

XxXxXxX

Sekali lagi Key menggenggam tangan Hae Rin, “Kau tidak perlu khawatir, Hae Rin. Maaf ini terakhir kalinya aku menjengukmu. Mungkin ketika kau melahirkan, aku sedang tak ada di Korea. Tapi kita masih bisa saling menghubungi. Semampuku, aku akan menghubungimu. Jangan khawatir” kata Key yang semakin menggenggam tangan Hae Rin.

Hae Rin tertawa manis, “Aku percaya, Key. Aku percaya. Justru kau yang tidak perlu mengkhawatirkanku. Kau fokus saja dengan pekerjaanmu. Dan… Boleh aku minta satu permintaan?”

“Apa?”

“ Tolong, jagakan Onew. Dia memang seperti leader yang lainnya, tapi aku rasa, sifatnya yang keras kepala itu yang membuatnya seperti lebih muda daripada Taemin. Aku dengar, hanya kau yang bisa mengatasinya?”

Key tertawa pelan, ternyata ini permintaan dari Hae Rin? Justru di luar pemikirannya. Yang awalnya mengira kalau Hae Rin akan memberikan pertanyaan yang beruntun hingga ia sendiri tak mampu menjawabnya lagi.

“Ya, aku janji. Tapi Hae Rin?” panggil Key.

“Ya?”

“Bisakah aku mengatakan sesuatu?” Hae Rin mengangguk.

Key pun mendekatkan tubuhnya pada Hae Rin, ia sedikit merendahkan tubuhnya hingga tinggi tubuhnya sejajar dengan Hae Rin. Key mendekatkan wajahnya kearah wajah Hae Rin. Perlahan, bibir Key menyentuh bagian kulit mulus, lembut dan dingin tepat di kening Hae Rin.

Cukup lama ia mengecup kening Hae Rin hingga mata Hae Rin membulat dan membesar tak percaya dengan apa yang dilakukan Key. Meskipun ini ketiga kalinya laki-laki itu melakukan hal yang baru saja ia lakukan.

Key pun melepaskkan kecupannya dan menatap mata Hae Rin yang masih terbelalak itu. Ia tersenyum lembut.

“Saranghae…”

Ia pun mundur dan meninggalkan Hae Rin yang berdiri terpaku dengan keterkejutan yang luar biasa. Sungguh di luar pemikirannya selama ini. Hae Rin yang selalu menganggap Key adalah kakaknya sendiri, sahabatnya, yang selalu membantunya, menenangkannya, menggantikan sosok Onew yang justru tidak bertanggung jawab. Key justru menyatakan rasa cintanya di saat rasa cinta Hae Rin pada Onew semakin menguat.

Apa yang harus ia lakukan?

Benarkah kata ‘saranghae’ tadi dikatakan karena Key mencintainya sebagi seorang gadis bukan seorang adik atau teman dekat?

Benarkah itu?

Bagaimana ini?!

XxXxXxX

TBC

A/N: *menunduk sedalam-dalamnya pada readers* Maaf, telat banget publish nih ff, hampir 2 bulan kg d apdet ya? *ditimpuk readers* Hehehe, maaf. Itu soalnya aku lagi fokus sama sekolah dan terpaksa hiatus sementara, aku benar-benar ga punya waktu buat nulis, kalaupun ada pasti cuma bisa nulis satu paragraf *curhat* Jadi, mohon maklum *menunduk sekali lagi*

Advertisements

24 responses to “OUR BABY – CHAPTER 7 (FF/SERIES/PG13)

  1. Mending ma key aja…
    Onew jahat bgt, pk’ mukul2 sgala lg…
    Hilang harg diriq jd cewk,
    Kl’ aq jd hae rin ga bakl aq maafn.
    Heeeee… lebay y?

  2. Omo
    key udah ngingkapin perasaannya?
    bagaimana tanggapan hae rin?
    apakah dia akan berpaling dr onew?
    ataukah?

  3. key udah berani ungkapin perasaannya trus gimana tanggapan hae rin,,??
    apa iya dia masih mengharapkan onew setelah apa yg dia lakukan,,??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s