OUR BABY – CHAPTER 9 (FF/SERIES/PG13)

Image and video hosting by TinyPic

OUR BABY

Author : Noriko Kaoin

Previous Chapter : (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)

Cast :

-Choi Hae Rin

-Lee Jinki a.k.a Onew

-Kim Kibum a.k.a Key

-Another SHINee’s member

Length : Series (chaptered)

Rating : PG13

Genre : General, Romance, Family, Friendship

Disclaimer : The cast is not mine, but this fanfic is MINE!!!

Inspired by : from fanfic with title “Mommy, Baby, and Daddy” and the sequel, the othersfanfic with tittle “The Only Reason”

Summary : Bagaimana kalau seseorang dengan image cute, manly dan dikagumi oleh semua orang, Onew tertangkap basah menghamili seorang model yang ternyata kekasihnya selama ini diam-diam menjalin hubungan?

XxXxXxX

ENJOY

SEBELUMNYA

Minho menarik nafasnya, sangat kebetulan, pikirnya. Dan ia segera menyuruh Taemin membuka fan café grup mereka dan mencari apa benar yang dikatakan oleh gadis itu bahwa Onew terperangkap dalam skandal; berciuman dengan Park HyunSa?!

Onew Hyung, apa lagi yang kau lakukan kali ini? Kau benar-benar sedang menggali kuburanmu sendiri.

XxXxXxX

Chapter 9 – The Truth

“Setidaknya masalah ini harus kita selesaikan secepatnya”

“Tidak, kita hanya mempunyai waktu 1 minggu lagi, hyung.”

“Hah? 1 minggu?”

“Dalam waktu 1 minggu lagi, konser tour kita akan jalan kembali, dan bulan depan kita sudah harus mempersiapkan single jepang kita, selanjutnya kita seperti tidak punya waktu untuk mengurus semua masalah pribadi kita sendiri atau skandal semacam ini.”

Pembicaraan ketiga orang itu terhenti ketika seseorang memasuki ruangan itu, dengan tampang frustasi ia duduk di samping seseorang yang lebih muda dari mereka. Ia mendesah, ia sempat mengacak-acak rambutnya.
Semua member memang sengaja untuk tidak bertanya, karena mereka tidak ingin memberatkannya dengan pertanyaan-pertanyaan.

“Dimana dia?” ujarnya sambil memejamkan matanya.

“Onew hyung? Entahlah, kudengar dia dipanggil oleh direktur,” jawab yang paling tinggi, Minho.

Dan sepertinya, mulut Jonghyun sudah tidak bisa menahan untuk mengeluarkan pertanyaan. Seolah semuanya sudah berada diujung lidahnya. “Key, bagaimana dengan HaeRin? Dia mengetahuinya?”

Key membuka matanya dan menoleh sedikit kearah Jonghyun, “Bersyukurlah, saat ini ia tidak tahu apa-apa.”

“Saat ini?” alih Taemin.

Minho menggeser tubuhnya dan menyandarkannya ke tembok disamping Key. “Ya, memang saat ini HaeRin sama sekali tidak tahu apa-apa. Karena beritanya belum terlalu menyebar, mungkin hanya beberapa netizen yang mengetahuinya.”

“HaeRin masih ada di Seoul?” tanya Jonghyun lagi pada Key. Key mengangguk pelan.

“Ia akan mengetahui berita ini cepat atau lambat. Dan, aku rasa ia akan semakin stress menghadapi masalahnya sendiri. Berakibat buruk terhadap kandungannya.”

Suara pintu terbuka kembali mengalihkan pandangan keempat member itu kepada pintu. Mereka sudah bisa menebak siapa yang datang saat itu. Onew.
Onew menundukkan kepalanya tapi dari balik itu ia sedikit melirik kearah member-membernya itu. Ia seperti tidak berani memandang mereka, seolah para membernya itu member death glare kepadanya.
Onew menghela nafas pelan sambil berjalan mengambil tasnya di samping tempat Key duduk. Mereka berempat hanya bisa memandang setiap langkah yang Onew lakukan hingga Onew kembali menuju pintu depan. Namun langkahnya terhenti oleh teriakan Key. Key sudah kehabisan kesabarannya.

“YA! LEE JINKI!”
Tangan Onew membeku tepat diatas kenop pintu.
Ia belum siap berbalik. Sampai Key dari belakang menarik jaketnya dan melayangkan kepalannya tepat diatas pipi kanan Onew.

“KIBUM!” Ketiga member lainnya segera menghampiri mereka berdua. Taemin segera mendekati Onew yang jatuh ke lantai dan Jonghyun mencoba menarik lengan Key yang ingin mencoba memukul Onew lagi. Dan Minho ia menghalang-halangi Key agar melayangkan pukulannya lagi.

“Brengsek! Kau taruh dimana otakmu, hyung?! Kau tidak sadar, hah?! Sudah berapa kali kau menyakiti HaeRin?! Dan bahkan dua kali skandal yang hampir membuat image grup kita jatuh hanya karena kau, hyung. KAU! LEE JINKI!”

Teriakan Key menggema diruangan latihan mereka itu. Dan sepertinya orang-orang yang lewat didepan ruangan itu akan mendengar pembicaraan mereka.
Sementara Key mengomelinya dengan kata-kata kasar, Onew hanya menundukkan kepalanya dan mulai mengepalkan tangannya. Menahan tangannya agar tidak melayang begitu saja apalagi kepada laki-laki yang mengomelinya itu.

“Kau mendengarnya ‘kan, JINKI?!” teriakan Key semakin kencang. Belum pernah semua member disana melihat Key semarah itu. Biasanya dialah member yang paling sabar dan dengan tenang menyelesaikan masalah. Tapi sepertinya masalah ini sudah membuat batas puncak emosinya meledak.

Perlahan Onew bangkit dari jatuhnya tadi. Ia meringis sedikit sambil memegangi bagian pipinya yang terkena pukulan Key tadi. Sepertinya pukulan Key memang sangat keras dan pipinya akan bengkak dalam beberapa saat lagi. Onew mulai mengangkat kepalanya dan matanya langsung menatap kearah Key.

“Aku tidak mengenal perempuan yang bernama Park HyunSa itu. Aku berani sumpah kepada kalian. Aku tidak tahu mengapa ada fotoku yang terlihat sedang berciuman dengannya itu. Aku sama sekali tidak tahu—“

“Atau kau tidak mengingatnya, hyung,” sela Jonghyun.

Pandangan semua member terarah pada Jonghyun, ia mengambil notebook yang sedari tadi bernyala. Ia mengutak atik sebentar lalu menunjukkan kepada mereka semua foto Onew yang terlihat berciuman bersama model itu.

Key mengalihkan pandangannya kearah lain dan berdecak nyaring, ia sama sekali tidak ingin melihat foto itu. Atau ia akan sekali lagi menampar laki-laki itu. Sedangkan Taemin dan Minho dengan seksama mendengarkan kata-kata Jonghyung.

“Aku tidak tahu foto ini sengaja kau lakukan atau perempuan ini sengaja melakukannya. Yang jelas, saat ini aku tidak bisa memihak siapapun.”
“Foto ini berada saat kau sedang mabuk berat, aku yakin foto ini disaat aku terakhir kali menjemputmu di club itu. Ya, tepatnya 2 hari yang lalu. Saat aku sampai disana, aku sudah menemukanmu tak sadarkan diri. Dan mudahan saja aku tidak salah, aku melihat perempuan bernama Park HyunSa itu di dalam club yang sama denganmu. Aku tidak sengaja bertabrakan dengannya di depan pintu club.”

“Jjong, bisa langsung ke intinya?” potong Key yang sudah hampir muak.

“Tunggu! Aku bisa sedikit mengingatnya!” pekik Onew. “Saat itu, setelah aku menutup ponselku dan kembali ke meja bar, seorang perempuan mendekatiku dan menawarkan minuman. Tapi aku tidak memperdulikannya. Aku ingat saat wanita itu mendekat lalu flash kamera datang dari kejauhan. Setelah itu… Err—Aku sama sekali tidak ingat lagi. Gelap.”

Semuanya mulai mendesah, kehilangan harapan. Satu-satunya cara mencari saksi, tapi siapa? Tak ada, kecuali memaksa Onew mengingat kejadian malam itu. Hanya mengandalkan ingatan sekilas begitu mana mungkin. Belum lagi yang diingat Onew itu benar atau tidak berhubung ia hanya setengah sadar.

“Kita paksa perempuan itu mengaku,” usul Taemin.
“Useless, ia mungkin dengan sengaja menaruh wajah polos dan menuduh Onew sengaja melakukannya.”

“Jadi kau berada di pihak Onew dan menyatakan kalau perempuan itulah yang bersalah? Sengaja melakukannya? Untuk apa?” tanya Key beruntun.

“Simple, dia ingin ketenaran. Dia ingin diburu para wartawan, dan dengan alasan lelah diburu akhirnya ia melakukan konferensi pers dan menuduh Onew yang melakukannya. Pihak kita juga tidak bisa melakukan apa-apa, kita tidak punya bukti, kita tidak punya saksi. Dan itulah sebenarnya dunia entertainment. Lebih kasar dari yang kita bayangkan,” simpul Minho.

“Hyung, kita punya pemikiran yang sama!” pekik Taemin sambil memukul pelan lengan Minho. Minho tersenyum sedikit.

Semua mulai terdiam, memikirkan semua perkataan Minho. Kalau memang alasan perempuan itu memang sama dengan apa yang dikatakan Minho, berarti ini semua salah agensi? Atau kehendaknya sendiri?

“Dia satu agensi dengan kita, bukan?” tanya Key yang mulai masuk dalam pembicaraan itu.
Jonghyun mengangguk, “Kalau iya dari agensi kita, tapi kenapa Onew harus dipanggil tadi? Kau diberi peringatan bukan, hyung?” Kepala Jonghyun sedikit mengarah pada Onew.

“Iya, hanya peringatan. Aku tidak tahu apakah ini sandiwara yang dibuat oleh agensi kita agar perempuan itu melejit reputasinya, atau kehendaknya sendiri,” jawab Onew.

Lagi, mereka terdiam, memikirkan perkataan-perkataan mereka sebelumnya. Tapi suasana serius itu dipecahkan oleh suara ponsel Key yang berdering nyaring. Key berdesis sambil menggerutu kesal. Ia tidak suka ketika ia sedang berpikir atau stress seperti ini tiba-tiba dihancurkan begitu saja dan malah membuat mood-nya semakin jatuh.
Tapi screen di ponselnya itu justru membuat hatinya lebih tenang sekaligus was-was. Ia menjauh dan keluar dari ruang latihan mereka itu.

“HaeRin?”

“Key,” suara sedikit parau, seperti selesai menangis?

Astaga! Jangan-jangan…

“HaeRin, kau…”

“Key, kenapa aku masih mengharapkannya? Ia sudah beberapa kali menyakiti hatiku. Tapi aku masih memaafkannya, memberinya harapan sekalipun ia sudah bersama perempuan bernama Park HyunSa itu. Kenapa?”

Hanya dengan kata-katanya itu, Key sudah mengetahui bahwa HaeRin kembali menitikkan airmatanya bahkan ia menangis meraung-raung. Dan Key, ia hanya bisa meringis tak tahu apa yang harus ia lakukan.

XxXxXxX

HaeRin POV

“Ajumma!” Beberapa kali aku mengetuk pintu kamar hotel ini, wanita yang selama hampir 4 bulan menjagaku itu tidak keluar-keluar dan menemuiku. Ada apa ini?
Aku mulai panik dan mengeluarkan ponselku, menghubungi beliau. Nada yang menandakan sambungan terhubung membuat hatiku sedikit lega. Tapi tepat Hyun Ji Ajumma mengangkat ponselnya, aku bisa melihat beliau berjalan menuju kearahku; tidak beliau terlihat sedikit berlari-lari. Namun tetap saja aku tersenyum lega dan segera menghampirinya.

“Ajumma, dari mana saja?” Belum sempat aku bertanya yang lain, beliau sudah menarikku masuk ke dalam kamar hotel beliau. Dan saat kami sudah memasukinya, beliau menguncinya dari dalam dan berlari kecil menuju balkon kamar hotel dan mengintip dibalik gorden kamar ini.

Rasa penasaran menggelitikku, “Ada apa ajumma?”

“Kau, sarapan di dalam kamar saja, HaeRin,” ujar beliau tanpa menjawab pertanyaanku. Perasaanku jadi tidak enak.

“Ajumma! Ada apa?! Beritahu aku!” aku hampir berteriak; sudah tidak tahan dengan kelakuan beliau.

Beliau menghela nafas dan kemudian duduk dipinggir ranjang, sambil memejamkan mata, beliau mulai mengatur nafas yang sedaritadi tidak beraturan. Aku merasa iba dengan beliau, aku pun berjalan menuju meja dimana sebuah teko kecil yang berisi air mineral.

“HaeRin, maafkan aku. Tadi pagi aku saat berjalan-jalan sebentar, aku melihat beberapa orang sedang berkumpul dan setelah kudekati, mereka kumpulan para wartawan.” Beliau menarik nafas sebentar. “Aku tidak tahu apa yang sedang mereka lakukan, tapi aku mendengar salah satu dari mereka menyebut namamu dan salah satu dari mereka mengetahui kau berada di Seoul sekarang. Dan mereka berusaha melacak keberadaanmu.”

Mataku terbelalak tak percaya, tanganku seketika gemetar tak karuan. Hyun Ji Ajumma menggenggam tanganku erat, mencoba menenangkanku. “Maafkan aku, HaeRin. Seharusnya aku tidak memberitahu hal seperti ini.”

Kucoba diriku untuk tenang dan menatap mata HyunJi Ajumma yang menampakkan khawatir, aku merasa bersalah. Aku mendesah ketakutan, dengan tangan yang masih gemetar melepaskan genggaman HyunJi Ajumma.

“Aku tidak apa, Ajumma. Tidak perlu begitu,” ujarku seadanya. Beliau tersenyum lega.
Beliau bangkit dari duduknya, “Aku akan membelikan sarapanmu. Perasaanku masih tidak enak.”

Aku mengangguk patuh dan beliau pun keluar dari kamar. Sementara aku kembali menenangkan pikiran dan perasaanku, terus berpikir positif.
Tidak apa.

Tenang.

Pasti, baik-baik saja.

Tanganku meraih remote televisi yang ada dikamar ini dan mencari channel yang bisa menenangkan diriku. Sebentar aku melihat berita infotaiment dan senyumku sedikit mengembang dengan apa yang kulihat disana.
5 orang laki-laki dengan senyum khas mereka dan bisa membuat setiap gadis berteriak, sedang diwawancarai salah seorang wartawan. Mereka tampak baik-baik saja. Wawancara itu mengenai review konser mereka di Jepang yang sukses besar. Tapi mungkin dibalik itu senyum itu semua, takkan ada yang tahu bahwa ada sedikit permasalahan dan sedikit membuat keretakan hubungan persahabatan mereka.

Mataku mengarah pada seseorang yang terus menerus menjelaskan kepada wartawan itu, ia tampak yang lebih memimpin di dalam wawancara itu. Ia tampak lebih banyak menebarkan senyumnya daripada member yang lain, tapi aku tahu senyum itu palsu. Aku sangat mengenal Onew,senyumnya berbeda. Sangat palsu.

Miris, aku hendak mengganti channel tersebut, tetapi saat itu bertepatan wawancara tersebut berakhir dan berganti pada berita selanjutnya.

Deg!

Aku sontak terkejut ketika melihat berita selajutnya. Seorang wanita dengan wajah cantik dan glamour. Dengan white dress, sangat menampilkan musim semi. Dengan senyum manisnya, bibirnya yang dilapisi lipstick merah muda, rambutnya yang lurus tergerai itu belum lagi warna cat rambutnya yang sangat fresh. Para fans-nya juga mengatakan kalau ia adalah tipe wanita yang dicari oleh laki-laki, selain cantik, ramah, perempuan itu pintar, dan perfect, laki-laki manapun pasti menyebut wanita bernama Park HyunSa itu sempurna.
Tapi aku justru lebih mengetahui sifat dari Park HyunSa yang asli. Aku tidak bermaksud apa-apa atau merasa aku lebih profesional darinya, tapi memang benar ia sudah jatuh dimataku. Sifatnya yang angkuh, selalu memandang rendah pada saingannya, dan harus mendapatkan setiap yang ia mau. Aku sudah beberapa kali bertemu dengannya selagi aku masih bekerja di dunia entertainment, dan astaga, para staff dibuatnya repot. Ia selalu ingin ini-itu.

Sementara bayanganku mengarah pada wanita itu, pintu kamar hotel ini terbuka dan aku mengarahkan kepalaku kesana. Aku lihat HyunJi Ajumma membawa kantong plastik yang sepertinya isinya adalah makanan. Aku pun tersenyum menyambut kedatangannya.

“Aku hanya membawakan makanan sederhana. Tapi ini takkan berbahaya pada seseorang yang sedang hamil,” ujar beliau sambil mengambil membuka bungkusan, dan isinya adalah bento siap saji yang masih hangat. “Aku membelinya di supermarket samping.”

“Tak apa, aku menyukai makanan jepang,” sahutku. Beliau tersenyum dan menyiapkan air mineral untukku.

Aku mulai sibuk dengan makananku dan telingaku sesekali mendengar suara di televisi tentang berita infotaiment tadi. Namun kepalaku sontak mengarah kearah televisi dan sekali lagi aku melihat sesuatu yang hampir membuatku menangis sambil mengunyah sarapanku.

“AAAAA!!!” aku berteriak tidak karuan sambil menutup telingaku.

Tidak, tidak, tidak!

Aku tidak ingin melihat dan mendengarnya!

HENTIKAN!!!

“HaeRin, HaeRin, ada apa, nak?!” pekik HyunJi Ajumma yang panik. Beliau mulai memelukku dan menyuruhku untuk tenang.

Kenapa?

Kenapa dia melakukannya? Apakah ia berubah secepat itu? Apakah itu efek semenjak aku meninggalkannya?

Onew…
Park HyunSa…

Aku melihat berita itu, tidak sengaja. Reflex…

Aku melihat berita mereka…

Berciuman…

Rasanya saat ini aku ingin melompat dari atas hotel ini. Sekarang, aku merasa harus mati sekarang.

HaeRin POV End

XxXxXxXx

Key membuka pintu ruang latihan yang tadi sempat ia tinggalkan untuk mengangkat telepon dari HaeRin. Wajahnya mulai frustasi lagi. Matanya sedikit melirik kearah Onew, begitu juga dengan Onew. Matanya terus mengikuti langkah Key yang mengambil tasnya dan kembali mengarah ke pintu ruangan.

“Kibum…” panggil Jonghyun dengan hati-hati. Key menghela nafasnya sebelum menoleh kearah Jonghyun.

“Hm?”

“HaeRin, bukan? Tadi?”

Suara helaan yang berat sangat jelas terdengar dan Key mengangguk dan keluar sambil menggendong tas ranselnya.

Hening.

Tapi suara keheningan itu dipecahkan oleh tamparan Onew ke daun pintu. Tangannya bergetar hebat dan ia sempat menggertakkan giginya saking geramnya.

“Brengsek!” gerutunya dan kembali ia menampar daun pintu yang sama sekali tak punya rasa salah.

XxXxXxX

Onew POV

Disini aku, di tengah taman dengan gaya penyamaran artis seperti biasanya. Dengan jaket dan hoodie yang menutup kepalaku sepenuhnya. Kepalaku sengaja kutundukkan. Dan aku tahu, ada beberapa stalker yang mengikutiku tapi aku tetap duduk ditempatku masih sengaja menyembunyikan wajahku.

Tanganku menggenggam erat kaleng minuman yang isinya sudah ku tegak habis. Sesekali, bila aku merasa geram sambil memikirkan masalahku, aku meremasnya dan kaleng itu sudah tidak berbentuk seperti asal.

“Sial! Apa yang harus aku lakukan?!”

Aku mengomeli diriku sendiri yang tidak kuat ini. Belum lagi aku justru “kembali” menyakiti seseorang yang selama ini masih kuharapkan. Jujur, aku membenci HaeRin, tapi aku kembali sadar, wallpaper ponselku masih fotonya.
Aku merindukannya.

Aku merindukannya sejak ia melarikan diri dari dunia entertainment. Ya, sejak 4 bulan yang lalu aku sudah menginginkan sosoknya kembali hadir dipelukanku. Aku ingin mengakui bahwa aku siap menerima dia apa adanya, tapi aku belum siap untuk menjadi sosok seorang ayah. Aku hanya sadar, aku belum siap menjadi seorang sosok ayah yang baik. Sedangkan HaeRin sendiri? Aku yakin, dialah sosok ibu yang selalu diinginkan seorang anak. Dan mungkin istri yang ideal?

Kembali menghela nafas dan kembali mengingat momen terindah saat bersama HaeRin itu menyenangkan sekaligus menyakitkan. Aku masih ingat ketika aku mengancamnya agar tidak memberitahu pada pers, baru kali itu aku melihatnya menangis meraung-raung dan meminta maaf?

Bodoh! Seharusnya aku yang meminta maaf! Aku yang menyakitinya! Aku yang membuatnya menangis!

Astaga, HaeRin. Aku merindukanmu, aku memang belum siap sepenuhnya tapi aku sudah siap untuk memelukmu kembali.

Dan aku berjanji akan menyelesaikan masalah ini secepat mungkin sebelum kami berangkat 3 hari lagi ke Jepang. Aku akan memaksa perempuan bernama Park HyunSa itu mengaku. Aku sudah mengumpulkan semua ingatan dan bukti dari omongan orang. Memang terdengar payah, tapi satu-satunya jalan adalah memaksanya mengaku.

Perempuan bodoh itu hanya mencari ketenaran. Ia ingin mendapatkan kariernya kembali setelah direbut HaeRin. Tidak, aku rasa HaeRin tidak pernah merebutnya. Justru HaeRin terlebih dahulu debut daripada dia. Selain itu aku pernah mendengar, ia pernah menaruh hati padaku? Dan lagi-lagi HaeRin mendahului jejaknya.

Hhhh, alasan dia membuat foto rekayasa yang terlihat kami sedang berciuman itu sangat simple. Dan sepertinya cukup memanggilnya ke agensi dan menyuruhnya untuk mengaku. Dan selesai.

Aku bangkit dari tempat dudukku dan berjalan menuju dimana mobilku terparkir. Menyalakan mesin mobil dan mobilku segera kuarahkan menuju rumah perempuan itu. Park HyunSa.

Aku yakin, masalah ini akan selesai dalam 3 hari ini. Atau mungkin kurang.

Sebentar aku membuka ponselku dan disana terpampang wajah HaeRin dengan manisnya tersenyum sambil memegang bunga mataharinya. Senyumku mengembang dan semangatku bertambah hingga membuat mobilku semakin melaju kencang.

XxXxXxX

Mobilku terparkir begitu saja ketika aku berada di apartemennya. Bahkan ketika aku berada di depan pintu kamar apartemennya aku meneriakkan namanya begitu keras. Aku tidak peduli kalau tetangganya mengintip dan mengira aku adalah orang gila.

Aku yakin, ia saat ini sedang menikmati morning tea-nya sambil tersenyum puas karena gossip itu sudah terdengar dimana-mana. Ia mengira semuanya akan sempurna seperti skenario yang ia pikirkan sebelumnya. Bodoh, itu takkan mungkin terjadi.

“HYUNSA! BUKA PINTUNYA!”

Dan tak lama pintu itu terbuka dan muncullah wanita brengsek itu. Ia dengan puas menyeringai padaku. Dengan sambil melipat tangannya tepat diatas dadanya.

“Ada apa, Lee Jinki?” tanyanya santai dan dengan suara disengajakan menggoda.
Aku menggertakkan gigiku dan menampar pintu kamar apartemennya itu. Ia sempat terkejut dan membelalakkan matanya. Aku mendorongnya ke dalam dan menutup pintu. Sekarang aku bertindak seperti pencuri yang mengancam korbannya.

“Kau! Sengaja melakukannya bukan?!”

“Hah? Maksudmu?” Wajahnya berusaha tidak meras bersalah walau aku tahu ia ketakutan apalagi ketika aku menaruh tanganku tepat dilehernya. “Kumohon, lepaskan aku. Kita bisa bicara baik-baik.”

“BRENGSEK! Kau mau menghancurkan hidup orang hanya karena kau ingin tenar?! Naik daun?! TAPI DENGAN CARA KOTOR?! PENGECUT!” bentakku.

Ujung-ujung matanya mulai menampakkan kalau ia berusaha menampakkan airmata buaya. Tch, menangis saja! Masa bodoh aku!

“Kumohon, hentikan… Jinki…” ujarnya dengan suara parau dan ketakutan. Oh, sepertinya ia memang ingin menangis.
Dan aku sedikit melonggarkan tanganku tapi belum sampai melepaskannya.

“Ikut aku, kau harus menjelaskan semuanya pada agensi, direktur, dihadapan sahabat-sahabatku yang sekarang mengira aku adalah laki-laki bangsat, dan juga dihadapan semua orang! Penduduk Korea Selatan atau seluruh dunia! Dan kau juga harus minta maaf pada HAERIN! KEKASIHKU!”

Sekarang, perempuan itu menangis ketakutan. Aku masih tak peduli, aku menariknya keluar dari apartemen dan menuju kantor agensi kami. Disinilah, semuanya akan selesai.

XxXxXxX

Konferensi dadakan itu berjalan lancar meskipun ada beberapa dari wartawan yang menanyakan hubunganku dengan HaeRin. Dan aku hanya menjawab dengan senyuman. Aku belum siap menjawabnya, terserah apa kata mereka. Tapi suatu saat ini akan selesai, aku akan membawa HaeRin kembali ke Seoul dan memberitahu dunia bahwa kami sudah bersatu kembali.
HyunSa juga menjawab pertanyaan kasar dari wartawan dengan lancar dan sedikit ketakutan, meskipun saat ia pulang terpaksa harus basah kuyup karena salah satu anti-fans sekaligus fansku menyiramnya dengan air dingin. Aku yakin, setelah ini perempuan itu akan hiatus bertahun-tahun atau mungkin selamanya. Ia terlalu malu untuk muncul di depan publik lagi, semua orang sudah mencap-nya sebagai entertainer gagal.

Aku menghampiri member-memberku yang sedang duduk santai di ruang latihan, mereka terdiam tiba-tiba ketika aku mendadak masuk. Mencoba menyapa mereka dengan suara coklatku dan senyuman khasku.

“Hei?” sapaku pelan.

Diam.

Canggung.

“Oh, hyung!” sapa Taemin, si maknae. Akhirnya ada juga yang membalas sapaanku, meskipun ketiga member lain seperti acuh-tak acuh apalagi laki-laki fashionable yang asyik dengan kamera digitalnya.

“Guys, semuanya sudah kembali seperti semula—“

“Belum!” tangkis Key yang menurunkan kamera digitalnya yang tadi sempat menutupi wajahnya. Aku menelengkan kepalaku sedikit, alisku juga ikut terangkat.

“Belum selesai. Apa kabar hubunganmu dengan HaeRin? Kau bilang pada wartawan bahwa hubunganmu dengan HaeRin segera membaik. Kapan? Nanti? Sedangkan kita 2 hari lagi akan berangkat dan fokus di Jepang selama 2 bulan. Hah, bahkan saat itu HaeRin sudah melahirkan,” jelas Key.

Mataku sedikit terbuka mendengar penjelasan Key. Namun sebuah ide muncul diatas kepalaku, aku tersenyum pelan.

“Kalian tahu dimana HaeRin sekarang bukan?” tepat saat aku bertanya seperti itu. Badan mereka membeku, seolah ketakutan ketika menjawab pertanyaanku tadi.

Aku menggigit bibir bawahku. Dan kuposisikan badanku hingga seperti memohon sangat dalam pada mereka.

“Kumohon! Beritahu dimana HaeRin sekarang? Aku ingin menyelesaikan semuanya. Aku berjanji takkan menyakitinya saat aku bertemu dengannya.”

Onew POV End

XxXxXxXxX

TBC

Advertisements

34 responses to “OUR BABY – CHAPTER 9 (FF/SERIES/PG13)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s