We Got Married – Chapter 4

Author : Lee Chira

Genre : Romance

Cast :

SHINee – Kim Jonghyun

f(x) – Luna

Disclaimer : I don’t own the cast. Kim Jonghyun belongs to himself, his parents, SHINee and SMEnt. Luna belongs to herself, her parents, f(x) and SMEnt. But I do own the plot based on my imagination.

___________________

kmrn2 sempat lupa disclaimerx..mian..

oia, aq jg tw chptr ini bgs ato g, soalx aq ngetikx rada2 gila..

_________________________

Dorm f(x)…

“Eonni, ayo sini lihat!”

Aku meletakkan gelas yang kupegang di atas meja lalu berjalan menuju ruang TV.

“Ada apa?” tanyaku setelah duduk di sofa. Mereka menunjuk layar TV. Aku meneliti tayangan yang sedang disiarkan lalu tersadar beberapa detik kemudian. “Oh.”

“Kok cuma ‘oh’ sih?”

“Memangnya aku harus bagaimana lagi?”

“Seperti Sulli,” Krystal menatapku lalu Sulli. “Ia sangat tertarik dengan generasi We Got Married kali ini. Lihat saja, ia sudah mewanti-wanti kami untuk tidak menonton siaran lain.”

Aku mengernyitkan dahi.

“Waktu pemutaran yang edisi aku sama Nickhun oppa saja dia tidak se-excited itu. Kenapa sekarang jadi yang paling heboh?” sungut Victoria.

“Ya eonni, aku tidak bermaksud begitu,” Sulli memeluk Victoria. “Hanya saja, kalian kan tahu kalau aku ini sebenarnya Shawol, hehe.”

“Ya, kau suka sama SHINee atau hanya sama Jonghyun? Ngaku!”

Sulli hanya cengar-cengir.

“Jonghyun oppa kan yang paling keren, -“ Sulli terlihat mengatakannya dengan sepenuh hati. “..- menurutku,” ia menambahkan saat menyadari tatapan aneh dari yang lain. “Suaranya sangat bagus, jago bermain gitar, piano apalagi bass. Cakep, keren, apalagi dia romantis!” Sulli menepuk tangannya karena kesenangan membayangkan sosok Jonghyun sampai-sampai bantal yang dipeluknya jatuh ke lantai.

Aku memungut bantalnya lalu mengangkat kakiku ke sofa dan menyilangkannya. Kemudian mengambil camilan dari tangan Victoria sambil memeluk bantal Sulli tadi.

“Ahh, benar-benar pria idaman!” Sulli makin tenggelam dalam angan-angannya.

“Ehem! Sulli?” Victoria berdeham. Sulli menoleh.

“Ne?”

“Apa kau tahu tidak baik seorang perempuan memuji seorang laki-laki secara berlebihan di depan istri laki-laki itu?”

“Huh?” Sulli terheran. Yang lain mengedipkan matanya padaku. Akhirnya Sulli mengerti dan menyengir ke arahku. “Hehe, eonni..”

“Jangan sampai karena perkataanmu itu membuat istrinya naik pitam. Kalau itu sampai terjadi, habislah kau!”

Mereka membicarakan apa sih? Aku jadi tidak mengerti.

“Mwo?” tanyaku kebingungan saat mereka semua tersenyum jahil ke arahku.

“Tapi aku tidak melebih-lebihkan, kok. Jonghyun oppa memang seperti itu kan, eonni?” Sulli menatapku dengan tatapan pengharapan aku menyetujuinya.

“Hah?” Oh, aku mengerti sekarang. Aku hanya mengedikkan bahu. “Entahlah. Dia menyebalkan karena ia sering menjahiliku dan aku paling tidak senang melihat seringaiannya. Tapi kurasa ia cukup baik.” Aku teringat kejadian saat syuting di taman bermain.

Hening beberapa saat. Hanya suara TV yang terdengar. Sebuah suara imut yang menjelaskan kejadian di acara We Got Married episode pertama yang sedang ditayangkan. Aku melirik ke arah TV. Aku tak perlu menontonnya, toh aku tahu apa yang terjadi bahkan yang tak tertangkap kamera pun.

………………………………………………………………..

KBS TV

Keadaan di ruang ganti hening. Aku mengintip. Ryeowook oppa berdiri membelakangi pintu. Ia menghadap teman-teman segrupnya di Super Junior. Aku bisa melihat punggungnya terguncang. Pantulan dirinya di cermin memperlihatkan ia sedang menahan emosinya.

Dan dalam sekejap.

“Saengil chukahamnida..saengil chukahamnida..

Jigu eseo uju eseo.. jeil saranghamnida..”

Aku masuk ke dalam ruangan sambil membawa sebuah kue tar dengan gambar wajah Ryeowook.

Dan yah, ini adalah sebuah kejutan ulang tahun buat Wookie oppa. Setelah selebrasi selesai dengan keadaan beberapa orang berlumuran fla tar termasuk aku, Wookie berbicara kepada kamera. Ia berterima kasih kepada semuanya. Aku tersenyum saat ia berkata,

“Buat Luna, makasih karena telah menjaga kami selama ini.”

Haha, seperti aku adalah eommanya saja. Kemudian ia mencubit pipiku. Aku hanya bisa manyun lalu membersihkan kotoran fla yang menempel padaku.

Wookie oppa, saengil chukae..

***

Kantor SM..

Aku berjalan menyusuri koridor-koridor di lantai paling atas kantor SM ini. Aku sedang mencari toilet di sini. Sebenarnya di tiap lantai ada toiletnya, tetapi toilet yang di lantai yang datangi tadi semuanya full. Lantai di atasnya juga. Lantai di atasnya? Ya sekarang aku sedang mencarinya. Sepi sekali lantai ini. Aku tahu kalau di lantai ini hanya ada beberapa ruang kerja. Itu pun beberapa masih kosong. Mungkin disediakan sebagai ruang manajer untuk artis-artis yang akan diorbitkan nanti.

Aku mendengus pelan. Sudah berapa lama aku bergabung dengan SM? Beberapa tahun tapi toliet di lantai paling atas ini saja aku tidak tahu keberadaannya. Ayolah toliet, nampakkan dirimu. Aku sudah kebelet. Aish, di mana sih tuan toilet itu? Semakin aku menyusuri koridor lantai ini, aku semakin merasa asing. Ya, aku memang jarang sekali naik sampai lantai ini. Menurutku buat apa, toh urusanku ada di lantai-lantai bawah. Aku mulai meringis, semakin tidak tahan untuk buang air kecil.

Aku melewati cabang-cabang koridor. Sepi. Aku semakin mempercepat langkahku saat merasa keheningan yang luar biasa ini. Aku benci keadaan ini.

“Jeongmal?”

Aku langsung menghentikan langkahku. Aku mencari-cari sumber suara. Aku menemukannya dan merasa tertarik dengan hal itu. Aku bersembunyi di balik dinding koridor utama dan mengintip ke salah satu cabang koridor, asal sumber suara.  Suara yang kukenal, orang yang kukenal. Hasrat ingin buang air kecilku tiba-tiba hilang entah ke mana.

Mataku menangkap dua sosok yang sedang bercakap-cakap sambil sesekali tertawa lepas. Aku melihat pancaran kebahagiaan dari keduanya di mata masing-masing. Lalu mereka berpelukan dan aku hanya bisa melotot sambil menutup mulutku agar tidak bersuara. Omo! Jadi gosip itu benar adanya?

(End of POV)

***

(Jonghyun POV)

Lokasi syuting We Got Married..

Aku tersenyum. Kurasa hari ini adalah hari yang untukku. Syuting dan tantangan dalam episode kali ini aku yakini bisa kulakukan. Apalagi hari ini ibuku berulang tahun, saengil chukkae eomma!

Kami – aku dan Luna, tentu saja – diberi sebuah kotak. Kami membukanya. Kaos kaki? Ini untuk apa? Kami mendengarkan pengarahan dari ketua tim kreatif. Kami disuruh menjual seluruh kaos kaki itu agar bisa mendapatkan poin. Tiap dua pasang kaos kaki bernilai satu poin. Mau tahu poinnya untuk apa?

Seluruh poin yang berhasil kami dapatkan nanti akan dikalikan dengan 80000 won. Hasil dari perkalian itu akan menghasilkan uang yang disponsori oleh salah satu poduk minuman terkenal (tidak disebutin mereknya). Dan pada akhirnya, uang tersebut akan disumbangkan ke salah satu yayasan yang menangani anak-anak yang membutuhkan uang untuk operasi penyakit yang mereka alami (sejenis peduli kasih begitulah).

Kami benar-benar tak jauh-jauh dari anak-anak.

Setelah pengarahan itu, kami meghitug jumlah kaos kaki yang ada. Lima puluh pasang. Wow. Jadi poin tertinggi adalah 25. Dan 25 dikali 80000 won senilai dengan satu juta won. Kurasa cukup untuk membiaya dua sampai tiga anak. Aku jadi semangat berbuat amal seperti ini.

“Kalian bisa menjualnya di mana saja. Terserah kalian. Waktunya satu setengah jam dimulai saat kalian mengatakan ya. Tapi sekarang kami memberikan kalian waktu untuk mencari strategi penjualan dulu. Sekarang berkoordinasilah!”

Aku mengajak Luna ke tempat yang tidak terlalu ramai. Kami berbincang dengan serius dan akhirnya menyetujui hasil rapat. Kami kembali ke pusat kamera dan menyatakan siap.

Tepat saat waktu dimulai, aku dan Luna membagi seluruh kaos kaki itu. Aku mengambil 25 pasang dan sisanya 25 untuk Luna. Lalu kami berlari, berpencar dengan diikuti kamera yang ikut-ikutan lari dan menghambur ke tengah jalan.

Tahu apa yang kupikirkan?

Aku langsung menghampiri kerumunan gadis-gadis yang berada di tengah jalan dan dengan sigap langsung melancarkan aksiku. Aku mengeluarkan senyum manisku dan sapaan yang sangat ramah. Bisa kuduga reaksi mereka. Terkejut, kaget, loncat-loncat, menutupi wajahnya, intinya mereka heran dan malu tapi mau. Tapi aku tidak punya banyak waktu untuk menenangkan dan meladeni mereka karena aku punya setumpuk kaos kaki yang harus kujual. Dan kali ini merekalah sasarannya.

Aku menawarkan barang jualanku itu. Mereka berdecak kagum tapi juga menganga karena terheran-heran. Sejak kapan seorang Kim Jonghyun berubah profesi menjadi salesman? Jangan sampai mereka berpikir kalau sejak SHINee vakum untuk persiapan album barunya, para personilnya memiliki profesi lain sebagai penyanyi. Kurasa kalau pun mereka berpikir seperti itu, Minho yang paling enak. Mungkin dikira jadi pemain basket atau bola. Onew dikira membuka usaha restoran dengan dia sebagai pemiliknya sekaligus pemasok dagingnya dan Key yang menjadi cheffnya. Taemin? Mungkin orang-orang akan mengira ia akan menjadi pelayan di restoran itu atau menjadi kasirnya. Sebenarnya kalau itu sampai terjadi aku lebih rela bekerja bersama mereka di bagian periklanan atau promosi. Tapi apa yang mereka lihat sekarang berbeda. Aku memang sedang mempromosikan sesuatu tapi itu bukanlah sebuah restoran steak atau semacamnya melainkan kaos kaki. Di tengah jalan pula.

Kembali ke keadaanku sekarang. Mereka mengangguk-angguk mendengar penjelasanku. Dan dengan tatapan memelas yang kutujukan pada mereka, aku merayu mereka untuk membelinya.

Dari satu sasaran ke sasaran lain. Sedikit demi sedikit jualanku laku. Tapi aku tidak membutuhkan tenaga yang terlalu banyak. Dari sekian sasaranku, hanya beberapa yang menolak untuk membeli meski sudah kubujuk. Tapi sebagian besar malah langsung membelinya meski dengan imbalan berpelukan atau tanda tangan maupun foto bareng. Mengingat konsumerku kebanyakan gadis-gadis atau noona-noona. Dicubit-cubit dan dipegang-pegang dikit tak apalah asalkan daganganku terjual.

Seluruh kaos kaki sudah terjual habis, jadi 25 pasang kaos kaki yang menjadi bagianku sudah tidak ada. Aku melirik jam di tanganku. 57 menit. Aku menghabiskan waktu selama 57 menit itu. Jauh diluar perkiraanku. Aku berjalan kembali ke arah di mana aku dan Luna berpisah. Tak sampai lima menit aku menunggu, aku melihat sosok mungil Luna muncul. Aku tersenyum puas. Ia menghampiriku dan memasang tampang cemberut saat ia sudah berdiri di hadapanku.

“Kenapa kau?” tanyaku heran melihatnya.

Ia tak menjawab. Hanya mengangkat kotak yang tadi dan mengulurkannya padaku. Aku melihat cincin ‘pernikahan’-nya agak melorot di tangannya, apa sudah kelonggaran, tapi aku tidak mau memusingkannya. Aku menerima kotak itu dan membukanya. Masih ada beberapa pasang koas kaki.

“Aku hanya bisa menjual setengahnya. Konsumennya terlalu mengerikan buatku.”

“Memangnya kau menjual di mana dan kepada siapa sih?”

“Di sana, sekitar halte bus dan kepada netizen,” ia mendengus keras. “Beberapa sih baik tapi sisanya malah .. ya, pokoknya begitulah. Mungkin mereka Shawol,” ia mengembungkan pipi chubby-nya.

Aku hanya bisa tertawa mendengarnya. Ternyata netizen itu kalau tidak suka pada sebuah girlband atau personilnya akan menunjukannya dengan jelas seperti di dunia maya. Aku mendekatinya dan mencubit pipinya, ia sempat mengelak tapi terus kucubiti. Haha, lihat tampangnya itu. Seperti Taemin.

“Masih ada waktu,” Aku melirik jam tanganku. “Ayo, lakukan sama-sama!”

Aku menarik tangannya dan mengajaknya ke tempat lain untuk berjualan.

Mungkin dekat dengannya bukan ide yang buruk….

(End of POV)

_____________________

(Luna POV)

Aku membantunya menjual sisa kaos kaki itu sambil sesekali memerhatikannya yang sibuk merayu pelanggan kami. Hah! Ternyata begitu. Pantas saja dagangannya laku dengan cepat. Pelanggannya cewek semua!

“Kurasa gadis-gadis itu tidak akan berhenti histeris sampai 24 jam kedepan!” aku menunjuk seorang gadis yang sedang berjingkrak-jingkrak kesenangan karena tadi sudah berfoto bersama Jonghyun dan memeluknya sebagai syarat bahwa ia akan membeli kaos kaki itu.

“Biarkan saja!” Jonghyun tidak memedulikan dan terus menarikku ke lokasi semula.

Aku hanya mengikutinya dan menatap punggungnya. Sebenarnya ia baik, sangat baik malah dalam membuat jantungku berdegup kencang. Dan pemikiranku bahwa aku dan dia tak mungkin akrab mungkin salah. Awalnya memang iya, kami seperti terpisah jarak bermil-mil jauhnya. Tapi perlahan jarak itu mendekat.

______________

Lima puluh pasang kaos kaki habis terjual, kami mendapat poin penuh dan uang hasil dari penjualan itu beserta uang hadiah dari sponsor akan kami berikan langsung ke yayasannya. Akhrinya kami tiba di sebuah tempat yang ternyata adalah alamat yayasan tersebut. Ketua yayasan tak henti-hentinya berterima kasih. Dan syuting hari ini berakhir di yayasan itu.

Aku sedang menunggu mobil f(x) yang akan menjemputku di yayasan ini. Karena perpindahan tempat di mana harusnya aku dijemput – awalnya di lokasi pertama tadi tapi berpindah ke yayasan ini – aku harus menunggu. Beberapa kru sudah pulang, tadi mereka juga sudah menawarkan tumpangan tapi karena mobil yang akan menjemputku akan ke sini jadi aku menolaknya. Tiba-tiba ponselku bergetar. Ada pesan dari manajerku.

Luna, kau tunggu sebentar lagi ya. Jalanan agak macet, mana kami juga harus menjemput Krystal dulu di kantor SM.

Jangan marah.

“Hei!” Seseorang menepuk pundakku. Aku menoleh.

“Oppa?”

“Kau belum pulang?”

Aku menggeleng. “Masih menunggu jemputan. Akhir-akhir ini aku tidak berani pulang sendiri.”

Aku mengingat lagi bagaimana reaksi teman-temanku di sekolah dan gadis-gadis di jalan setelah pemutaran episode pertama itu. Tatapan sinis dan tidak suka. Kata-kata ‘Dia kelewat beruntung berpasangan dengan Jonghyun oppa,’ atau ‘Apa manajer f(x) sengaja membayar lebih untuk pasangan kali ini? Sangat timpang,’ atau pun ‘Kurasa ia tidak cocok dengan Jonghyun yang berbadan atletis. Lihat saja bagaimana badannya memuai dan pipinya yang kelewat besar,’ dan semacamnya yang kudengar membuat wajahku sedikit memanas. Di luar aku sudah terbiasa mungkin, tapi di sekolah? Dulunya mereka tidak apa-apa denganku sejak aku debut, tapi kemudian mereka berubah sedikit demi sedikit sejak acara ini. Anti-fans bertambah yang artinya orang-orang yang tidak suka padaku bertambah. Aku pernah mendengar kalau netizen itu ada yang sampai tingkat parah juga. Mereka mungkin tidak atau belum menyentuhku, tapi perkataan mereka membuatku panas. Aku seperti ini karena usaha dan kerja kerasku sendiri. Latihan setiap hari. Perjuangan dan pengorbanan yang tidak sedikit. Dan masalah kali ini, bukan mauku juga kan ikut acara ini. Jadi kenapa mereka masih saja berlaku seperti itu padaku?

“Kau masih lama dijemputmu atau mobilmu akan segera datang?”

“Entahlah, aku tanya dulu.” Dan aku pun mengetik balasan untuk manajerku. Menanyakan berapa lama aku menunggu. Tak lama kemudian sms balasannya datang.

Mungkin sekitar setengah jam lagi. Kau tidak apa-apa menunggu kan?

Rasa-rasanya aku ingin sekali melempar ponselku ini. Setengah jam? Yang benar saja. Memangnya jalan semacet apa?

“Setengah jam lagi, oppa.”

Jonghyun mengangguk. Kemudian ia bertanya lagi secara tiba-tiba. “Apa kau punya jadwal setelah ini?”

Aku menatapnya. “Sepertinya tidak. Ada apa, Oppa?”

Ia diam sebentar lalu menatapku dan tersenyum. “Apa kau mau menemaniku?”

“Ke mana?”

“Mencari kado. Hari ini Eommaku berulang  tahun,”

Aku menimbang-nimbang sebentar. Daripada aku membusuk karena menunggu jemputan, mungkin ada baiknya aku membantunya. Aku mengangguk pelan. Kulihat wajah Jonghyun berubah cerah.

“Baiklah, kajja!” Ia menarik tanganku dan menarikku menjauhi yayasan.

….

“Mau ke mana kita?” tanyaku setelah kami berada di dalam mobilnya. Ia memasang sitbelt-nya dan langsung menggas mobilnya.

“Entahlah, yang pasti mencari kado untuk ibuku. Karena itu aku memintamu menemaniku, sekalian membantuku memilih kado.”

Ia tak mengalihkan pandangannya, tetap menatap lurus ke jalan. Kami tak berbicara sepatah kata pun selama berada di dalam mobil. Mobil memasuki sebuah kawasan pertokoan dan melewati beberapa ruko yang lumayan ramai dengan etalase yang memajang produk mereka masing-masing. Jonghyun memarkir mobilnya di parkiran yang tidak terlalu ramai.

“Tunggu, seperti ini?” tanyaku saat kami bersiap untuk keluar tetapi menyadari keadaan kami.

“Tenang saja. Aku selalu membawa penyamaran,” Ia mencari-cari di jok belakang mobilnya. “D sekitar sini tidak terlalu banyak orang. Kurasa pakai ini cukup,” Ia memberikanku sebuah kacamata hitam yang besarnya bisa membuat sepertiga wajahku tertutup. Aku memakainya sedangkan Jonghyun hanya memakai hoodie jaketnya yang diturunkan cukup dalam hingga menutupi sebagian wajahnya. Kami pun turun dan berjalan memasuki sebuah toko yang agak jauh dari keramaian.

Aku hanya mengikutinya berjalan ke sana – kemari yang sedari tadi memerhatikan beberapa barang.

“Sebenarnya oppa mau memberikan apa kepada Ahjumma?” aku memberanikan diriku bertanya di sela-sela wajah seriusnya yang menimbang-nimbang sebuah jam tangan.

Ia menatapku, masih dengan wajah seriusnya. Aku hanya membalasnya dengan tatapan ‘ya?’. Ia seperti memikirkan sesuatu. Kemudian ia mengalihkan pandangannya dan berujar, “Aku juga tidak tahu,”

Gubrak!

Jadi sedari tadi aku mengikutinya yang sama sekali tak ada ide.

“Kenapa kau tidak membantuku saja?” tanyanya tanpa mengalihkan pandangannya dari jam itu.

Aku menatapnya bergantian dengan jam tangan itu. Lalu kemudian aku menyadari sesuatu. Aku melirik jam tanganku dan mendapati suatu keteledoran di sini.

“Oppa, ini sudah hampir setengah jam. Bawa aku kembali ke tempat tadi ya?” pintaku. Aku tidak mungkin ke sana sendirian naik bus. Aku tidak mau mendengar perkataan-perkataan mencela itu lagi. Apalagi kan memang Jonghyun yang mengajakku ke sini, jadi sudah seharusnya ia bertanggung jawab.

Sontak, ia menatapku lalu melirik jam tangannya. “Mianhae..” Dan ia menuntuk berjalan menuju pintu keluar tapi baru beberapa langkah ia berhenti. Aku yang berjalan di belakangnya refleks ikut berhenti.

“Ada apa, oppa?”

“Tunggu sebentar,” Kemudian ia mengambil ponselnya yang disimpan di saku celananya dan langsung memencet beberapa nomor. Aku tidak tahu ia menelepon siapa. Tapi aku mendengar suara perempuan. Aku hanya bisa mencuri dengar dan mencoba mengerti isi pembicaraan mereka. Meski pada akhirnya aku tetap tidak mengerti apa yang mereka bicarakan.

“Jadi apa yang harus kulakukan, Noona?” tanyanya ditelepon. “..oh begitu. Baiklah, aku sedang mencari kado buat eomma. Noona tunggu saja, aku akan datang. …iya, sampai nanti, Noona..”

Dan telepon ditutup.

“Ada apa, oppa? Ada masalah?”

Ia menatapku dengan mimik serius. Lagi-lagi ia seperti sedang memikirkan sesuatu.

“Kalau aku memintamu untuk menelepon manajermu da mengatakan bahwa kau akan pulang telat malam ini, apa kau mau?”

Hah? Maksudnya apa? Aku masih menatapnya bingung.

“Luna..”

“Aku tidak mengerti, oppa. Tapi aku harus segera pulang sekarang,”

Ia menatapku lurus-lurus. “Sepertinya hari ini aku tidak hanya memintamu untuk menemaniku mencari kado..karena seperti aku membutuhkanmu untuk menemaniku ke suatu tempat.”

“..a..aku..”

Ia menatapku tajam. Dan aku mulai merasa tidak sanggup melihat matanya lebih lama, entah mengapa. Air mukanya benar-benar penuh keseriusan. Tentu saja aku ingin menjawab tidak, aku harus segera pulang. Karena kalau tidak, manajerku akan mengomeliku. Tapi di lain sisi, tatapannya membuatku ingin mengatakan ya. Aduh, kepalaku jadi pusing. Dua keinginan berbeda jalan ini terus saja berdebat di kepalaku sementara matanya terus menatapku tajam. Oh tidak.

Dan akhirnya, tatapannya membuat satu kubu di kepalaku memenangkan perdebatan tadi. Aku mengalihkan pandanganku dan menarik nafas sebelum berkata, “Ya.”

Ada sedikit penyesalan yang timbul ketika aku mengatakannya. Tapi aku sudah mengatakan akan menemaninya dan membuat Jonghyun tersenyum sumringah. Langsung mengeluarkan ponselku dari saku mantelku dan berbalik untuk mengetik pesan kepada manajerku. Aku ragu apakah harus memberitahunya bahwa aku bersama Jonghyun atau tidak. Akhirnya aku memutuskan untuk tidak memberitahunya yang membuat otakku berputar mencari alasan lain.

(End of POV)

____________________

(Jonghyun POV)

Aku tersenyum. Ia mau juga akhirnya. Sebenarnya aku bisa saja langsung mengantarnya pulang tanpa harus menahannya di sini dan malah memintanya untuk menemaniku. Tapi entah mengapa pikiran dan kata-kata itu keluar begitu saja. Tak apalah, sekalian aku menjalin hubungan yang lebih baik dengannya.

Ia mengeluarkan ponselnya dan langsung berbalik, tanpa sadar ada sesuatu yang jatuh dari sakunya saat ia megeluarkan ponselnya. Aku memungutnya dan bermaksud untuk mengembalikannya saat kulihat ia sedang serius berpikir. Mungkin mencari cara dan kata-kata atau alasan pada manajernya. Maaf merepotkanmu..

Sambil menunggunya menyelesaikan urusannya dengan manajernya, aku memerhatikan benda mungil berkilau di tanganku. Lebih baik aku simpan saja, nanti baru kukembalikan.

Tak lama setelah itu ia kembali menghadapku dan mengatakan bahwa manajernya sudah mengiyakan. Aku bertanya apakah ia memberitahu manajernya kalau ia bersamaku atau tidak, ia menjawab tidak. Aku penasaran, ia memakai alasan apa ya.

Aku tidak mau berlarut-larut. Aku kembali melakukan pencarian kadoku dengan ia yang berjalan di sampingku memerhatikan barang-barang yang kuteliti dan menanyakan beberapa hal.

“Ahjumma orangnya bagaimana?”

Aku berpikir sebentar. “Eomma adalah orang paling baik hati dan bijaksana. Ia adalah seorang guru TK, aku sudah memberitahumu kan?” Ia menatapku. Aku mengangguk. Ia memang sudah pernah memberitahuku sewaktu kami syuting di playgroup beberapa waktu lalu.

“Apa dia tertarik pada sesuatu? Apalah.. emas putih misalnya?” oops..

Jonghyun langsung menjitak kepalaku pelan. “Kau pikir eommaku seperti eomma-eomma yang hobi pamer perhiasan kinclong ke mana-mana?”

Aku hanya diam. “Jadi ahjumma sukanya apa? Kartun, laut, army, langit, atau bulan?”

Ia tertawa mendengar perkataanku. “Kau narsis juga. Tapi nanti akan kutanyakan apakah ia senang memandang bintang dan bulan di malam hari,” Kemudian ia berpikir lagi. “Dia lembut. Dan oh iya, ia juga senang dengan warna ungu.”

“Yang lain?”

“Eomma bukan maniak pada sesuatu. Ia tidak terpaku pada satu hal. Asalkan menurutnya baik, ia akan memakainya.”

Aku mengangguk mengerti. “Kalau begitu yang penting lembut. Jadi sesuatu yang mungkin akan disukai oleh ahjumma adalah..” aku berjalan mencari-cari. Mataku menyusuri tiap barang yang dipajang. Aku berputar-putar di toko itu.

“Jadi apa?” tanya Jonghyun saat aku kembali ke hadapannya.

“Aku menemukan beberapa, tapi entahlah aku kurang sreg.”

Ia tersenyum. “Yah, itu kan bukan buatmu tapi buat eommaku!” Sekali lagi ia menjitak kepalaku pelan, membuatku sedikit gugup.

Aku hanya tersenyum masam. Oh iya, jadi lupa. Tapi kemudian ia menarikku keluar dari toko itu dan mengajakku ke toko lain. Kami melewati dan memasuki beberapa toko. Kami sempat berhenti di depan sebuah toko perhiasan. Aku sempat berpikir untuk mencari di dalam tapi kemudian kesimpulan yang kutarik tentang Eomma Jonghyun membuatku mengurungkannya. Sepertinya ahjumma adalah orang yang sederhana, bukan seseorang yang tergila-gila dengan kegemilauan, seperti anaknya yang berdiri di sebelahku ini. Namanya saja Bling-Bling Jonghyun!

“Ada apa?” tanyanya melihatku yang sibuk dengan pikiranku.

“Hah? Tidak apa-apa. Tadinya aku berpikiran untuk masuk tapi sepertinya ahjumma bukan orang yang dinilai dari perhiasan mahal, kan? Ia lembut tapi..” aku menggantungkan kata-kataku.

“Tapi apa?” ia terlihat penasaran.

“Tapi agak berbeda dengan anaknya yang senang kelap-kelip dan dipuja gadis-gadis!” seruku. Aku menahan tawa. Ia hampir menjitakku lagi tapi aku langsung berlari menjauh. Ia mengejarku.

“Yah! Park Luna! Apa yang kau katakan, hah?”

…..

Kami sampai di sebuah toko aksesoris. Tak perlu lama-lama melihat-lihat sebelum aku jatuh hati pada sebuah gelang yang dirangkai oleh batu-batu kecil yang berkilauan. Ada beberapa batu dengan rupa yang berbeda-beda, sepertinya rupanya asli. Terlihat dengan jelas kikisan di beberapa sisi batu-batu itu. Pada dasarnya berwarna biru turqouise, namun tiap batu berbeda dengan tingkat perbedaan yang dapat diabaikan. Gelang itu terlihat indah dan tidak mencolok, tersirat kealamian. Aku meminta gelang itu pada pelayan di sana. Aku menerimanya. Jariku menyapu permukaan gelang itu dengan lembut.

“Sangat indah,” seseorang berbisik di telingaku. Aku berniat menoleh tapi tak bisa karena Jonghyun sudah berdiri sangat dekat dan hampir menempel di belakangku. Aku diam di tempat. Kenapa jantungku berdegup 4x lebih cepat?

Aku tersenyum. “Benar kan?” tanyaku tanpa menoleh lagi. Bisa kurasakan ia mengangguk. Kuharap ia tak menyadari degupan jantungku yang kelewat semangat berpacu ini.

Akhirnya aku berhasil menenangkan diriku saat Jonghyun pergi menuju kasir untuk membayar gelang itu setelah kami memutuskan untuk membelinya sebagai kado. Tak ingin kembali seperti tadi, aku mengambil inisiatif untuk melihat-lihat lagi. Tiba-tiba mataku menangkap sesuatu yang menarik perhatianku. Tergantung di bagian agak ke dalam toko. Aku mengambilnya dari gantungan. Sepasang gantungan ponsel. Berbentuk lambang pria dan wanita yang terbuat dari kayu. Aku memerhatikannya, ada ukiran bertuliskan ‘I Love You’ di gantungan berbentuk lambang pria dan ‘I Need You’ di permukaan gantungan berbentuk lambang wanita. Terlihat kuno, tapi cukup simpel dan lucu bagiku. Apalagi adanya lonceng-lonceng mini di tiap gantungan.

“Kau lihat apa?”

Aku tersentak dan sontak menggantungkan kembali gantungan itu. Dasar. Orang ini senang sekali sih muncul tiba-tiba dan mengagetkanku. Untung kali ini ia tidak berdiri terlalu dekat denganku lagi. Aku tidak mau jantungku seperti tadi.

“Ahni..Oppa sudah selesai?” Ia mengangguk polos. “Ayo..”

Kali ini aku yang menuntunnya keluar. Kami berjalan menuju tempat mobilnya di parkir. Dan sekarang kami sudah berada di dalam mobilnya.

“Aku ingin mengembalikan sesuatu padamu,” katanya lalu menatapku. Aku balas menatapnya. Tapi kemudian ia berubah pikiran. “Tidak jadi. Salah, aku akan mengembalikannya. Tapi nanti..” Ia meraih topi yang telah dilepaskannya tadi dan memakainya lagi. “Kau tunggu di sini sebentar. Aku lupa sesuatu.”

Dan ia meninggalkanku sendirian di dalam mobilnya. Dan membuatku menunggu cukup lama. Awas saja kalau tiba-tiba ia menghilang. Aku mungkin bisa memakai mobilnya kembali ke asramaku kalau ia benar-benar tidak kembali. Tapi masalahnya adalah aku belum terlalu mahir menyetir.

Sambil menunggunya, iseng-iseng aku membuka laci dashboard-nya. Ada banyak barang dan foto-foto. Foto Jonghyun dengan seorang perempuan yang tidak kukenali, dengan anak SHINee, dan dengan dia. Aku tertegun.

____________

Cepat-cepat aku kembalikan foto-foto itu dan menutup laci dashboard-nya. Aku hanya tak ingin ketahuan sedang mengobrak-abrik barang-barang orang, meski itu memang kulakukan.

Beberapa menit kemudian Jonghyun kembali dengan membawa sebuah kantong kecil yang ditaruhnya di jok belakang. Ia tersenyum dan mulai menggas mobilnya. Aku jadi tidak enak padanya.

“Selanjutnya kita ke mana?” aku ingat bahwa aku masih akan menemaninya ke suatu tempat, katanya.

“Lihat saja,” jawabnya dan sekali lagi tanpa menoleh ke arahku. Tentu saja, ia sedang menyetir. Aku juga tidak mau mati kecelakaan dengan salah satu orang paling narsis ini.

Mobil melaju kencang di jalan raya, kemudian berbelok di sebuah (lagi-lagi) pertokoan. Hanya saja tempat ini tidak seramai tadi. Setelah Jonghyun memarkir mobilnya, kami turun dengan penyamaran yang sama. Ia mengajakku masuk ke sebuah salon dan berbincang sebentar dengan salah satu pelayan di sana. Lalu pelayan itu menghampiriku dan mendudukkanku di sebuah kursi rias.

“Bisa tolong buka kacamatamu, Nona?” suaranya lumayan centil. “Aku disuruh melakukan sesuatu padamu,”

Aku menurutinya dan ia menganga sedikit ketika melihatku.

“Ah, f(x) Luna. Annyeonghaseyo!”

Aku hanya mengangguk pelan. “Annyeonghaseyo!”

Ia mengambil beberapa kotak makeup dan mulai merias wajahku. “Supaya kau terlihat jauh lebih cantik!”

Jadi maksudmu aku…? Aku hanya cemberut mendengar perkataannya. Dari cermin, aku bisa melihat Jonghyun yang duduk di belakangku. Ia terlihat sedang menelepon. Dan apa juga maksud pria yang satu itu menyuruh manusia setengah laki-laki setengah perempuan di depanku ini untuk meriasku? Dia pikir aku tidak bisa berdandan sendiri? Oh iya, sebenarnya maksudnya ini apa? Aku tidak bisa bertanya pada manusia setengah-setengah ini karena ia terlalu sibuk mendandaniku sambil bersenandung ria. Tak lama setelah itu ia berhenti lalu menatapku.

“Bisakah tolong kau membantuku menyanyikan lagu Lee Jihoon yang Ibyeol?”

Aku menggeleng, aku juga tidak terlalu tahu lagunya. “Suruh saja dia,” kataku sambil menunjuk Jonghyun dengan kepalaku.

Si fifty-fifty itu, aku tak tahu lagi harus memanggilnya apa, menatap Jonghyun yang ternyata sudah selesai menelepon. “Jonghyun, bisa tolong nyanyikan lagu Ibyeol-nya Lee Jihoon tidak? Aku lupa liriknya.”

Jonghyun hanya menatap si 50:50 itu.

“Ayolah, kau kan main vocalist-nya SHINee! Suara enak di dengar,” bujuk si 50:50.

Jonghyun lagi-lagi hanya menatapnya. “Kau pikir orang yang sedang kau dandani itu bukan main vocalist ?”

Si 50:50 menatapku. “Oh iya. Kenapa aku bisa lupa ya? Jadi Luna-ssi..?” ia menaikkan sebelah alisnya.

“Sudah kubilang kan aku tidak tahu lagunya. Memangnya itu lagu tahun berapa?”

“Hm, kalau aku tidak salah antara 1998-1999,” jawabnya polos.

Dan aku hanya bisa menganga. Umurku baru enam tahun saat itu. Jelas saja aku tidak tahu.

Pada akhirnya si 50:50 itu hanya melanjutkan kerjaannya. Tak lama setelah itu ia selesai meriasku. Aku menatap diriku. Tak beda jauh dengan makeup saat aku akan tampil, hanya kali ini dibuat lebih lembut dan natural. Rambutku yang sudah kembali ke warna hitam dibuat berombak.

(author : bayangkan saja rambutnya Luna waktu masih di album pertama, soalx author memang lebih suka yang itu dari yang sekarang – Nu ABO, red)

Dari salon itu Jonghyun membawaku ke sebuah butik yang hanya berjarak beberapa blok dari salon itu. Ia menyuruhku mencoba beberapa pakaian. Jujur, aku merasa lelah mondar-mandir ke dan dari ruang pas. Saat aku keluar dengan sebuah gaun selutut berwarna putih lengkap dengan high heels yang juga berwarna putih, aku mendapati Jonghyun sudah berganti baju. Tak banyak perubahan dengan pakaiannya sebelumnya. Tetap dengan jeans hitamnya, hanya ia mengganti atasannya. Bila tadi ia memakai kaos dengan kemeja kotal-kotak di luarnya, sekarang ia memakai kaos putih dan sebuah blazer hitam yang sengaja tak dikancing. Ia tersenyum melihatku.

“Bisa kita pergi sekarang?”

Mobil memasuki sebuah kawasan perumahan yang cukup besar. Lalu Jonghyun membawa mobilnya masuk ke sebuah rumah yang cukup besar dan mewah.

“Ini di mana?” tanyaku sambil. Melepaskan sitbelt.

“Rumah orang tuaku,”

Saat ia melepaskan sitbelt-nya, aku mendengar ia berkata dengan suara rendah dan pelan. “Baiklah, Park Luna. Selamat datang di keluarga Kim. Dan malam ini kuharap kau bisa jadi ‘menantu’ yang baik.” Ia mengerling padaku yang terheran-heran mendengar perkataannya. Kami turun dari mobil. Sebelah tangannya membawa kado yang tadi dibeli dan satunya lagi menarik tanganku memasuki rumah yang lumayan ramai itu.

Aku mengikuti Jonghyun ke mana pun ia pergi. Ia memang sudah melepaskan tangannya, tapi karena aku tak tahu harus bagaimana, jadi kuikuti saja dia. Aku memerhatikan rumah ini. Sepertinya ruang tamu dan ruang keluarga disulap jadi tempat berlangsungnya acara. Acara ulang tahun eommanya Jonghyun. Tak terlalu ramai, sepertinya yang diundang hanya keluarga dan kerabat terdekat saja. Jonghyun berhenti di dekat beberapa orang yang mengerumuni seseorang. Jonghyun mendekat, aku bersembunyi di balik punggungnya.

“Saengil chukkae, Eomma!” seru Jonghyun.

Seseorang yang menjadi pusat berbalik dan langsung memeluk Jonghyun.

“Gomawo, Jonghyunie!” ia melepaskan pelukan Jonghyun. “Kau bisa datang. Hari ini tidak sibuk?”

Jonghyun menggeleng. “Ahni. Hari ini jadwalku khusus buat Eomma,” ia tersenyum lebar.

Bohong! Bukankah hari ini ia ada kuliah dan habis dari kuliah ia syuting dan baru setelah itu ia mencari kado untuk Eommanya yang ternyata malah menyeretku?!

Aku melihat wanita itu. Jadi itu orangnya. Dari pandanganku dia memang terlihat sama seperti deskripsi Jonghyun. Lembut, berwibawa, dan terlihat ramah. Senyumannya tak perlu luput dari wajahnya yang terlihat bahagia.

Aku hanya bisa memegang lengan Jonghyun sambil tetap bersembunyi.

Aku mengintip dan tepat saat itu juga mataku bertemu dengan Ahjumma. Ia memiringkan kepalanya lalu bertanya pada Jonghyun, “Kau tidak sendiri? Siapa gadis itu?”

Jonghyun tersadar kemudian ia melepaskan tanganku yang memegang lengannya dan menarikku ke sebelahnya. Ia tersenyum.

“Eomma, ini Park Luna,” ia memandang aku dan ahjumma bergantian. “Dan Luna, ini eommaku,”

Aku membungkukkan badanku, memberinya hormat. Ia melakukan hal yang sama dan tersenyum ramah. Ternyata orang-orang di sini tidak mengenalku. Syukurlah. Mereka juga sepertinya biasa-biasa saja dengan Jonghyun.

“Dan oh iya, ini untuk eomma kado dari kami,” lagi-lagi ia tersenyum lebar.

Aku menatapnya heran.

“Karena kau yang membantuku,” bisiknya di telingaku seolah tau apa yang kupikirkan.

Dan seseorang yang baru saja datang langsung menyapa Jonghyun. “Kau terlihat lebih dewasa sekarang,” katanya.

“Ah, hyung!” Jonghyun memukul bahu orang itu pelan.

“Siapa dia?” bisiknya pada Jonghyun.

“Hyungku,” jawab. Aku mengangguk.

Aku memandang ke arah lain, tapi aku merasa diperhatikan oleh seseorang. “Siapa dia, Jong-ah?” Aku menoleh.

Jonghyun menarikku mendekat ke arahnya dan merangkulku. Deg! Jantungku berpacu lagi. Ia tersenyum dan menjawab, “Bisa dibilang dia istriku.”

0_0

Aku hanya bisa melotot ke arah Jonghyun. Apa yang dia katakan?

(End of POV)

__________________________

arrrgh,,, apa ini..

aq jg g tw apa yg aq tulis… asli, mumet…

jauh dr tujuan.. jauh dri shrsx… slh naskah!!!byk yg g pntng yg msuk!!!

mian y, chptr in aneh..

plotx, kata2x aneh2 smw..

mna ad yg nyempil2 lg…

………

tp meski chptr in mngkn yg plg jlek,

KOMEN PLISS!!

arrg, stress dag aq..ff geje bgt..hiks..

_____________

Advertisements

28 responses to “We Got Married – Chapter 4

  1. Hahahha….
    Jadi kebayang we got married yang d MBC nih….
    Gimana kalo beneran kejadian?..

    Chapter selanjutnya please….
    Keren….

  2. @carino : trus mox sm sp, chingu??
    kn jln critax dah ad, jdx y aq ngikutin jln critax aj…
    mian..

    ia, klo jualan kaos kaki dgn tampang yg ‘biasa’ mksdx kek yg rmbtx msi item n ‘normal’ sih mngkn lucu, tp g dgn style di lucifer..

    gomawo dah mo bc n komen, chingu..n_n

  3. wah apa maksudnya tuch oppa jjong_apa ceritanya mau buat cemburu cewek itu . . .
    kalo oppa jual kaos kakinya di rumah ku pasti ku,bakal ku culik,ku tahan dirumah ku,wkwk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s