OUR BABY – CHAPTER 11 (FF/SERIES/PG13)

Image and video hosting by TinyPic

OUR BABY

Author : Noriko Kaoin

Previous Chapter : (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10)

Cast :

-Choi Hae Rin

-Lee Jinki a.k.a Onew

-Kim Kibum a.k.a Key

-Another SHINee’s member

Length : Series (chaptered)

Rating : PG13

Genre : General, Romance, Family, Friendship

Disclaimer : The cast is not mine, but this fanfic is MINE!!!

Inspired by : from fanfic with title “Mommy, Baby, and Daddy” and the sequel, the others fanfic with tittle “The Only Reason”

Summary : Bagaimana kalau seseorang dengan image cute, manly dan dikagumi oleh semua orang, Onew tertangkap basah menghamili seorang model yang ternyata kekasihnya selama ini diam-diam menjalin hubungan?

XxXxXxX

ENJOY

SEBELUMNYA

HaeRin mengangguk patuh, namun tanpa sadar karena kecerobohan Onew; ia melepaskan genggamannya pada HaeRin, sontak HaeRin jatuh dan perutnya terlebih dahulu mendarat. HaeRin berteriak kesakitan. Onew segera menghampirinya, wajahnya pucat. Ia dilanda kebingungan.

“HaeRin, kau tak apa? Bertahanlah!”

HaeRin yang belum sempat menjawab pertanyaan Onew tersebut, ia sudah terlelbih dahulu jatuh dibawah alam sadar. Ia pingsan seketika.

XxXxXxX

Chapter 11 – Our Baby

Onew POV

“Yah! HaeRin?! Bertahanlah! Kumohon! Ya Tuhan!”

Aku terus mengguncang badan gadis itu, percuma. Ia sudah pingsan. Astaga, aku sama sekali tak bisa berpikir sekarang. Apa yang harus aku lakukan?!

“Hei, ada apa?” tanya seseorang asing sambil membawa kantong plastik.

“Ah, tolong aku bantu aku mengangkat wanita ini ke dalam mobil. Kumohon, aku tak mau kehilangannya lagi.”

“Astaga! Dia pingsan?!” Ia segera melepaskan bawaannya tadi dan membantuku membawa HaeRin ke dalam mobil.

HaeRin, HaeRin, HaeRin.

Dikepalaku hanya ada dirinya, konsentrasi mengemudiku teralihkan padanya. Melihat wajahnya yang pucat dan tak bergerak sama sekali, itu hanya membuatku dibagian dadaku sakit. Bahkan tanganku gemetar sambil mengemudi.

Tuhan, jangan apa-apakan dia. Aku baru saja bertemu dengannya. Melepas rasa rinduku. Melepas semua yang selama ini ingin kukatakan padanya. Tapi masih ada satu hal yang belum kukatakan padanya. Aku belum mengatakan kalau aku menerima bayi yang ada dikandungannya itu.

Tiba-tiba aku berpikir harus menerima semuanya, entah aku siap atau tidak, aku harus menerima bayi yang ada didalam kandungannya itu. Karena itu Tuhan, jangan apa-apakan salah satu dari mereka. Aku dulu masih bisa membayangkan hidupku tanpa mereka berdua, tapi dalam beberapa jam yang lalu aku sudah memikirkannya dengan matang. Aku takkan bisa hidup tanpa mereka.

Mencapai rumah sakit terdekat memerlukan waktu 1 jam, itupun aku melajukan mobilku dengan kecepatan yang sangat tinggi. Aku sedikit bersyukur, polisi tak melihat kelakuan liarku dijalan. Yang terpenting saat ini adalah kekasihku, ia sedang pingsan! Ia juga membawa janinnya. Janin itu dalam keadaan bahaya!

Aku segera memanggil suster dan menyuruh mereka untuk membantuku membawa HaeRin. HaeRin segera dipasangi alat nafas bantu dan segera dibawa ruang periksa. Dokter mengatakan HaeRin sedikit serius dibagian kakinya terlihat ada bekas lelehan darah yang berasal dari rahimnya, karena saat aku mengatakan ia jatuh dan perutnya terlebih dahulu mendarat. Namun, dokter mengatakan semuanya akan baik-baik saja. Dan disini, aku mondar-mandir didepan ruangannya. Bibirku terus komat-kamit mengucapkan doa.

Sempat terselip dipikiranku untuk memberitahu HyunJi Ajumma atau memanggil member untuk menemaniku di sini. Tapi tak usah. Aku bisa selesaikan ini semuanya, sendiri.

Ah, terdengar egois sekali.

Akhirnya aku memutuskan mengambil ponselku dan mencari nama di dalam kontak, nama yang bisa kupercaya saat ini. Jariku sempat hendak menekan nama manajer, namun kuurungkan saja. Ponsel itu kusimpan lagi, namun pikiranku masih memaksa untuk menghubungi salah satu dari mereka.

Key.

Tiba-tiba namanya terpikir didalam kepalaku. Laki-laki itu bisa dipercaya, ia member yang paling dekat denganku. Dan ia juga paling dekat dengan HaeRin.

Tunggu!

Bukannya ia menyukai HaeRin? Kalau aku mengatakan hal ini, ia pasti akan memukul lagi. Aku mengingat kejadian saat Key memukul itu sambil mengelus pipiku, pukulannya sangat kuat. Kalau pukulan itu mengenai bibirku, mungkin bibirku sudah robek karenanya.

Tapi, HaeRin? Aku merasa egois kalau hanya aku merasa khawatir pada HaeRin. Mereka, para sahabatku juga menyayangi HaeRin, mereka yang menjaga HaeRin disaat rasa egoisku tak terkontrol. Ya, aku memang harus menghubungi mereka.

Pertama, aku memang harus menghubungi Key. Semoga ia masih bangun.

Suara sambungan telepon pun terdengar. Dengan helaan nafas pelan aku aku mulai berbicara.

“Key?”

“Oh, hyung? Ada apa? Sukses tidak? Awas kalau kau membuat HaeRin menangis lagi.”

Aku tergelak sebentar, “Ya, aku membuatnya menangis. Menangis terharu. Menangis bahagia. Ia berkata seperti itu padaku.”

Key tertawa pelan namun terselip kepahitan disana, “Ya, selamat hyung. Oh, ngomong-ngomong, ada apa kau memanggilku? Hanya melaporkan itu? Membuatku cemburu? Tch, percuma—“

“Key,” panggilku sekaligus memotong ocehannya. “HaeRin masuk rumah sakit.”

Aku tahu, saat ini tangan Key terkepal keras. Kalau aku ada dihadapannya mungkin aku sudah ditatapnya dengan kutukan, kata-kata kasar akan mengalir dari mulutnya.

“Kau apakan dia?”

Okay, sekarang suaranya sangat dingin, aku tahu kalau aku membuat hal yang buruk pada HaeRin, ia takkan segan-segan membunuhku.

“Maaf, tapi bisakah kau datang ke rumah sakit sekarang? Kau bisa memukulku lagi kalau kau memang menganggap HaeRin selalu merasakan kejadian yang buruk denganku. Ia tadi pingsan, dan aku juga akan menjelaskannya padamu bagaimana kejadiannya.”

Key langsung memutus telepon. Aku hanya menghela nafas, terkadang laki-laki itu bodoh. Aku bahkan belum selesai berbicara, aku bahkan belum mengatakan rumah sakit mana sekarang HaeRin dirawat. Ia bahkan tidak mengangkat teleponku lagi, apa boleh buat aku hanya mengirimnya email dan memberitahu dimana rumah sakitnya.

Onew POV End

XxXxXxX

Key POV

Aku memutuskan sambungan telepon itu begitu saja. Aku tahu ia belum selesai berbicara. Tapi satu yang aku sesali, aku lupa menanyakan dimana rumah sakit HaeRin berada.

“Sial!” gerutuku.

“Key?” panggil seseorang di belakangku, Jonghyun sambil membawa cangkir yang diatasnya mengepul asap kecil. “Siapa tadi? Di telepon?”

“Onew hyung,” jawabku singkat.

“Oh—Eh?! Benarkah?! Bagaimana? Rencana dia dan HaeRin?”

“Sukses, mulus—Oh, tidak ia dan HaeRin sekarang ada di rumah sakit.”

“Hah? Kenapa?”

Tepat saat Jonghyun bertanya, suara pintu apartemen mereka terbuka. Suara sapaan yang lelah dan terpaksa berjalan itu menuju ruang tengah dimana aku dan Jonghyun berada.

“Oh, Taemin, Minho. Kalian berdua sudah makan?”

Mereka mengangguk pelan dan mendudukkan diri sebentar. Taemin duduk disebelahku sedangkan Minho langsung terlentang diatas lantai. Aku tahu, mereka sangat kelelahan. Seharian jadwal mereka berdualah yang paling padat, sedangkan aku, Jonghyun dan Onew sama sekali tak punya jadwal kecuali latihan rutin tadi pagi.

“Jadi, kenapa HaeRin bisa masuk rumah sakit?”

Wajah kelelahan Taemin dan Minho segera berubah menjadi terkejut, badan mereka sontak mengarah padaku apalagi Minho yang langsung bangkit dari posisi telentangnya. Di wajah mereka juga terpasang beberapa pertanyaan.

“Ia pingsan. Onew-hyung hanya mengatakan hal itu padaku. Setelah itu aku langsung memutuskan sambungan karena terbawa emosi. Dan aku lupa menanyakan rumah sakitnya berada.”

Ketiga member itu menggumamkan kata-katanya yang sama untukku. Bodoh.

Ponselku berdering, menandakan email masuk. Aku segera mencek-nya dan ternyata dari Onew. Ternyata ia menyadari kecerobohanku, ia mengirim alamat rumah sakit dimana HaeRin sedang dirawat sekarang.

“Dari Onew-hyung. Ia menuliskan alamat lengkap rumah sakitnya. Dan, siapa yang mau ikut?”

“Aku!” sahut mereka bertiga lagi. Aneh, terutama Minho dan Taemin, padahal mereka tampak kelelahan tapi tetap memaksakan diri untuk ikut.

“Tunggu, jam besuk bukannya sudah habis sejak beberapa jam yang lalu? Percuma kita kesana kalau kita tidak bisa masuk.” Semuanya mengangguk setuju, termasuk aku; walau anggukanku terlebih mengarah pada kekecewaan.

“Baiklah, besok. Pagi, setelah latihan kita akan pergi,” usulku dan mereka mengangguk setuju.

“Oh, Key. Aku lupa. Apakah kau akan memukul Onew lagi? Karena—Yah, karena dia telah membuat HaeRin menderita lagi,” ujar Jonghyun. Dan aku hanya mengendikkan bahu, mungkin aku hanya memukulnya sedikit, tidak sekasar beberapa waktu yang lalu.

Key POV End

XxXxXxX

Suara derap sepatu itu menggema di lorong rumah sakit. Mereka berlari dengan kepala sambil menoleh kanan-kiri; mencoba mencari nomor ruangan HaeRin berada. Garis kebingungan jelas tergambar di wajah mereka.

“Kau temukan dimana?” Minho nampak terhengal-hengal. Ia butuh oksigen, bagian leher kaosnya ia kibas-kibaskan seperti mencari angin yang sejuk.

“Rumah sakit ini terlalu rumit. Ini lorong rumah sakit atau lorong sesat?!” protes Jonghyun.

Aku mengacuhkan segala perkataan sahabatku itu, aku terus menoleh kanan-kiri hingga mataku menatap sesosok manusia yang sangat kukenal. Ia sedang membeli kopi di mesin otomatis, ditangannya terdapat satu bungkusan kantong plastik. Aku pun menghampirinya.

“Onew hyung!” Ketiga sahabatku itu mengikutiku dan mendekati Onew yang sambil menyesap kopinya.

“Oh, kalian? Bagai— Key! Jangan pukul aku!” ia memindahkan posisi berdirinya, aku menyeringai lalu mengambil kopi di genggamannya.

“Aku belum meminum kafein. Aku tidak bisa tidur tadi malam. Kalian tau-lah mengapa aku tidak bisa tidur.”

Mereka berlima tertawa. Sudah lama rasanya mereka tidak tertawa bersama-sama seperti ini, hanya karena masalah itu persahabatan mereka sudah diujung tanduk. Beberapa fans mulai merasakan keretakan persahabatan mereka, namun dengan kesabaran mereka akhirnya satu persatu masalah itu terselesaikan dan diakhiri dengan senyum dan tawa. Kebahagian bersama.

“HaeRin? Bagaimana keadaannya?” tanya Key sambil berjalan menuju ruang rawat inap HaeRin bersama dengan yang lainnya.

Onew mengangguk puas, “Ia tak apa. Keadaannya memang serius tadi malam, tapi syukurlah tak ada yang membahayakan janinnya. Lagipula ia siuman setelah 3 jam dirawat disini. Hari ini ia juga sudah bisa pulang.”

Mereka bereempat pun menghela nafas lega, rasanya tak ada satupun diantara mereka yang tak sabaran menemui gadis itu yang katanya ia kembali tersenyum dengan lebarnya.

Dan benar, ketika mereka mengetuk pintu, suara lembut dan sangat familiar di telinga mereka, menyapa kami. Ia tak hanya menyapa dengan suaranya itu tapi juga dengan senyum lelah namun masih tergambar jelas kebahagian disana.

Well, Onew-hyung. Sepertinya kau tidak selamanya membawa keburukan padanya, selama gadis itu masih tersenyum karenamu maka kau pembawa kebahagian untuk gadis itu, batin Key.

XxXxXxX

“Bagaimana keadaanmu noona?” tanya Taemin sambil merebut kursi di samping ranjang HaeRin itu. Sementara Key harus memasang wajah kesal karena dari awal memang ia hendak duduk di sana.

“Uhm. Aku baik-baik saja. Dokter mengatakan dalam beberapa jam lagi mungkin aku sudah bisa pulang.”

“Ya, baguslah,” gumam Key. HaeRin sepertinya mendengar gumaman Key sehingga ia menoleh kearah Key dan mengucapkan terima kasih.

“Aku membawakan bubur untukmu. Makanlah, selagi masih hangat. Atau kau ingin disuapi?” goda Onew, semburat merah langsung mewarnai pipi HaeRin. Namun pada akhirnya ia mengangguk. Dengan pelan ia menyuapi gadis itu hingga isi bubur dalam mangkuk itu habis.

Obrolan ringan sesekali keluar dari mulut mereka. Onew juga mengisahkan bagaimana kejadian ia bisa kembali berbaikan dengan HaeRin, lalu berlanjut bagaimana HaeRin bisa pingsan dan dibawa ke rumah sakit.

“Jadi, bagaimana dengan paparazzi itu, hyung?” tanya Minho sambil melipat kedua tangannya tepat diatas dadanya.

Onew menggeleng, “Tapi aku akan berkata jujur sekarang. Aku akan mengakui semuanya. Hari ini aku akan mengatakan pada manajer agar mengadakan konferensi pers dadakan, dan konferensi kali ini akan membahas segala masalah yang selama ini terjadi. Termasuk konferensi yang dulu dibatalkan oleh HaeRin, yang membuat para wartawan berpikir tidak-tidak pada HaeRin.”

“Benarkah?” seru HaeRin yang mendengar penjelasan Onew.

“Ya, mereka banyak mengira kau wanita yang—err, yah tidak baik. Sebagian ada juga yang mengatakan kalau kau hanya mencari popularitas dengan mengatas namakan Onew-hyung sebagai ayah di kandunganmu itu. Dan ada juga—“

“Cukup, Jonghyun,” Key memotong perkataan Jonghyun. “Jangan dianggap lagi, tidak usah dipikirkan. Sekarang, kau akan ikut kami ke Seoul bukan? Ikut menjelaskan semuanya?”

HaeRin tampak melamun, ia mendengarkan semua penjelasan teman-temannya dan kekasihnya. Mereka membujuk HaeRin agar kembali ke Seoul, namun HaeRin merasa masih ada yang mengganjal dihatinya.

“Bisakah kita lakukan konferensi pers setelah aku melahirkan? Err, sekitar 2 bulan lagi?”

Semua yang ada diruangan itu menggeleng.

“Maaf, HaeRin. Kita tak bisa melakukannya. Karena dalam 2 bulan lagi, jadwal kami sangat padat, bisa saja saat kau melahirkan kami berada di Jepang. Terutama aku, HaeRin. Aku sebagai ayah dari janinmu itu, aku sangat meminta maaf. Aku tak bisa menemanimu.”
Onew menatap HaeRin dengan lurus-lurus. HaeRin merasa kecewa, setelah mereka berbaikan, kenapa sekarang ia tak mau menemani kekasihnya melahirkan? Ia akan mempunyai anak. Ia akan mempertaruhkan nyawanya saat hari itu tiba.

Aku terdengar egois, batin HaeRin.

HaeRin menyentuh kedua pipi Onew dan tersenyum pahit, “Tidak apa. Aku akan baik-baik saja. HyunJi Ajumma akan dengan senang hati menemaniku. Dan, aku akan ikut ke Seoul. Menjelaskan semuanya, aku sudah siap.”

“Terima kasih, HaeRin. Aku mencintaimu.”

Sementara momen itu berada diujung puncak, Key yang melihat pasangan dihadapannya itu berdehem keras sambil memasang wajah ingin membunuh pada Onew. Onew tergelak sambil memukul bahu sahabatnya itu.

“Aigo, maaf. Tapi sekarang ia adalah milikku. Tak hanya sekarang, tapi esok dan seterusnya hingga kami terpisahkan untuk selamanya,” ujar Onew dengan suara memaksakan dirinya untuk menjadi romantis.

“Err, hyung. Tadi sangat menggelikan,” sahut Taemin.

Sontak Onew memukul pelan kepala Taemin dan melihat ekspresi sang maknae itu dikerjai adalah hal yang menyenangkan bagi hyung-hyung-nya. HaeRin pun kembali tertawa bersama mereka berlima. Tawa yang benar-benar dari dalam hatinya. Takkan ada lagi, senyum terpaksa dari wajahnya, ia berjanji.

XxXxXxX

2 bulan kemudian

Dibelakang panggung yang megah itu, dengan suara penonton yang bergemuruh, dengan pencahayaan yang sempurna. Ada 5 orang laki-laki dengan gaya style khas mereka, dengan wajah penuh seri namun terlihat lelah juga, mereka akan mencetak rekor konser tersukses selama mereka berkecimpung di dunia musik.

Sang Maknae tampak sibuk dengan dasi di lehernya, sang Rapper tampak panik karena ia lupa menaruh jas-nya, sang Almighty dengan senyum khasnya tersenyum puas sambil menatap bayangannya di cermin, sang Vokalis utama terduduk santai di depan cermin sambil membiarkan hairstylish-nya mengutak-atik rambutnya. Dan sang Leader, ia duduk di pojok sambil mengutak-atik ponselnya. Ia tampak pucat daripada yang lainnya.

Seseorang mengejutkan dirinya dari belakang.

“Oh, hyung!” serunya pada manajernya sendiri.

“Gugup?” tanyanya. Onew menggeleng, tapi ia kembali menatap layar ponselnya.

“Ada apa? Ibumu memanggilmu keluar sebentar?”

Onew lagi-lagi menggeleng, “HaeRin…” desisnya.

“Huh? Kenapa dengannya?” manajernya mendengar desisannya.

“Ia berada di rumah sakit, dan kritis. Gadis itu kekurangan darah, dan sekarang pingsan di ruang unit gawat darurat,” suara Onew tampak bergetar dan frustasi. “Bagaimana ini?”

Mata Onew penuh pengharapan pada manajernya, agar mengizinkannya untuk menemui HaeRin. Tapi manajer hanya bisa menggeleng putus asa.

“Konser akan dimulai 10 menit lagi. Penonton sudah memenuhi tribun. Dan kau tidak bisa kemana-mana,” ujar manajernya. “Jinki, berdoa saja. Aku yakin ia wanita yang kuat. Aku masih ingat ketika ada wartawan kasar mewawancarainya di konferensi pers itu, tapi ia malah membalas menatap wartawan itu; yang sepertinya fans kau juga. Dengan percaya diri, ia membalas segala perkataan wartawan itu dengan pikiran yang lebih logis. Kau beruntung mendapatkannya, Jinki.”

Perasaan Onew sekarang lebih merasa baikan, ia mencoba tersenyum ketika salah satu staff menyapanya. Ia berjalan mendekati Key hendak memberitahu apa yang sedang terjadi pada HaeRin. Tapi, lebih baik ia urungkan saja. Ia tak mau melihat membernya yang lain ikut frustasi.

“Tuhan, selamatkan gadisku dan malaikatku yang akan lahir ke dunia itu. Kumohon, jangan ambil salah satu dari mereka. Aku mencintai mereka berdua.”

Onew menutup erat matanya sambil doa terus mengalir di bibirnya.

“SHINee! Bersiap! 5 menit lagi!”

SHINee member dengan percaya diri berdiri dari tepat duduk mereka masing-masing. Mereka berlima membuat lingkaran sambil memeluk bahu member masing-masing.

“Kita bisa melakukannya, guys. Fighting! SHINee, fighting!” teriak Onew yang kalimat terakhir diikuti seluruh member.
Tepat kaki mereka menginjak panggung megah itu, suara teriakan keras menggema di stadion itu dan penonton yang hampir dipenuhi oleh kaum hawa itu, berteriak memanggil idola mereka masing-masing. Tepat musik dimainkan, badan kelima member itu bergerak mengikuti alunan musik dan mulai menebarkan pesona mereka masing-masing. Dan semuanya berjalan lancar hingga 5 jam kemudian.

XxXxXxX

Dengan suara langkah terburu-buru dan kepalanya menoleh ke sana kemari, ia akhirnya bisa menemukan ruangan dimana HaeRin sedang dirawat. Ia juga diikuti keempat orang lainnya. Badan HaeRin terpasang beberapa alat bantu, mulai dari alat bantu untuk bernafas dan infus yang berisi darah. Didalam dokter masih memeriksa HaeRin.
Seperti yang dikatakan oleh HyunJi Ajumma di ponselnya tadi, HaeRin kekurangan darah sehingga menyulitkannya untuk melahirkan.

HyunJi Ajumma berdiri di samping wanita yang terlihat seumuran dengan beliau. Ia tampak familiar dengan wanita itu hingga sahabatnya yang paling modis itu memanggilnya Ibu.

“Umma!” teriak Key di lorong rumah sakit itu. Wanita itu menoleh saat Key memanggilnya, dengan senyum terpaksa beliau menghampiri mereka semua.

“HaeRin? Bagaimana?” Key yang terlebih dahulu bertanya daripada dirinya sendiri.

“Ia masih pingsan. Masih sulit bagi HaeRin untuk melahirkan karena ia masih kekurangan darah,” sahut HyunJi Ajumma.

“Mungkin ini karena pengaruhnya pekerjaannya dulu sebagai model. Ia kekurangan nutrisi, belum lagi saat ia hamil, ia terlalu banyak masalah sehingga nafsu makannya hanya sekadar begitu-begitu saja,” sambung Nyonya Kim; ibunya Key.

Mereka semua mengangguk mengerti, tapi wajah Onew semakin pucat. Ia kembali dilingkupi rasa bersalah pada HaeRin. Semuanya karena dirinya. HaeRin jadi sampai kekurangan vitamin atau nutrisi itu karena dia yang pertama kali membuat masalah. Bodoh!

Onew terus merutuki dirinya, bahkan tak segan-segan ia bersumpah kalau terjadi hal yang buruk pada gadis itu maka ia tak akan memaafkan dirinya lagi.

“Hyung…” suara Key terdengar disamping Onew. Wajahnya prihatin, bukan karena ia ingin menampar atau memukulnya lebih keras.

“Key, pukul aku sekarang. Aku memang laki-laki brengsek, huh?”

“Kau baru menyadarinya atau kau lagi-lagi mengutuk dirimu?” sahut Key.

“Keduanya,” jawab Onew singkat.

Key pun menarik lengan Onew dengan paksa menuju taman rumah sakit. Disana, Onew bisa melihat tatapan dingin Key. Ia sudah siap kalau laki-laki didepannya itu kembali menyerangnya.

Key berjalan mendekat dan tangannya kanannya terkepal keras. Dengan gerakan cepat, sekali lagi; Key memukul Onew dengan keras hingga Onew jatuh ke tanah.

Onew meringis kesakitan terutama dibagian bibirnya. Ia mengusap bibirnya dengan ibu jari tangannya dan cairan pekat merah tertempel disana. Bibirnya robek, sepertinya pukulan tadi tak lebih sama seperti sebelumnya.

“Bagaimana? Kurang keras?” tantang Key. Onew tertawa pahit sambil mencoba berdiri, dan Key membantunya berdiri. “Aku harap, itu terakhir kalinya aku menamparmu, hyung.”

“Hm, terima kasih. Aku memang pantas seperti ini.”

“HYUNG!” teriak seseorang dari kejauhan, sang maknae; Taemin.
Ia berlari-lari mendekati Key dan Onew. Ia sempat terheran-heran ketika melihat bibir hyung paling tua-nya itu robek. Ia sudah bisa menduga, pasti ada sedikit pertengkaran diantara mereka. Namun pikiran itu segera ia lupakan, sekarang yang terpenting adalah HaeRin.

“Ada apa?” tanya Onew.

“HaeRin! Dia siuman dan dokter menyatakan, ia sudah siap untuk melahirkan.”

XxXxXxX

Onew POV

HaeRin melahirkan dengan cara normal, tapi cara tersebut menelan waktu yang sangat lama, hampir setengah hari kami bisa melihat malaikat kecil berkelamin laki-laki itu lahir ke dunia.
Awalnya, sang dokter menawarkan untuk operasi, tapi HaeRin menolak entah apa alasannya. Apa boleh buat, dokter membuat HaeRin melahirkan secara normal walau keadaan sangat tidak menentukan. Belum lagi saat kritis itu, dokter malah menanyakan pertanyaan bodoh padaku. Bahwa dokter sedikit kewalahan, terlalu banyak gangguan. Mereka malah memprediksikan salah satu dari mereka tidak akan selamat. Aku harus memilih antara sang Ibu atau sang anak?
Jawabanku? Dengan dinginnya aku menjawab, aku ingin keduanya hidup. Tak boleh salah satu dari mereka tidak selamat.

Dan, bingo! Perkiraan mereka benar-benar selamat, buktinya keduanya selamat. Kekasihku dan malaikat baruku lahir dengan selamat.

Dengan senyuman puas aku berjalan menuju ruang rawat inap HaeRin sambil membawa beberapa buah segar untuknya. Setelah kemarin gadis itu mempertaruhkan nyawanya, hingga sekarang ia belum siuman. Rasa khawatir memang terlintas dihatiku, tapi aku tetap berpikir positif. Ia pasti hanya kelelahan.

Tepat saat aku hendak masuk ke dalam ruangan HaeRin, HyunJi Ajumma memanggilku dan menyuruhku untuk mengikutinya sekarang.
Dan ternyata ia membawaku ke ruangan dimana malaikat kecilku itu tertidur pulas. Matanya erat tertutup, tangannya yang mungil masih terkepal, warna rambutnya hitam legam, sama seperti ibunya. Dan bibirnya, rasanya aku mengenali. Ah, bibirnya mirip denganku. Astaga, ia aku tak percaya sekarang, aku menjadi seorang ayah. AYAH!

“Dia, bayimu itu; aku rasa sangat mirip dengan kalian berdua,” kata HyunJi Ajumma.
Aku tersenyum lembut sambil kembali menatap malaikat itu. Ah, dia tampak damai sekali.

“Yeah, that’s because he is our baby.”

XxXxXxX

Pintu kamar dimana HaeRin dirawat kubuka perlahan, kepalaku sedikit mengintip dari pintu yang kubuka sedikit. Matanya yang kecoklatan itu terbuka lebar, wajah bahagia tergambar diwajahnya. Angin musim semi menyapu sedikit rambut bagian poninya. Ia perlahan mencoba duduk, tapi dengan sigap aku masuk dan menghentikan aksinya.

“Jangan paksakan dirimu. Kau istirahat saja,” kataku dengan suara coklatku. HaeRin pun mengangguk patuh.

“Berapa lama aku pingsan?” tanyanya padaku yang sedang sibuk mengupas buah untuknya.

“Hmmm, entahlah. Mungkin hampir 12 jam?”

“Daebak…” desisnya. Aku tertawa geli.

Suara gemerisik pelan pohon yang ditiup angin pagi itu, membuatku menoleh sebentar keluar dan kembali menghadap HaeRin.
“Malaikat kita lahir di musim semi,” kataku singkat.

“Ya, tapi aku sama sekali tidak tahu nama untuk anak laki-laki yang lahir pada musim semi.” Aku mendekatinya dan duduk di samping ranjangnya. Menatapnya lurus-lurus dan penuh cinta, begitupun sebaliknya dia.

“Gabungkan saja nama kau dan aku. Bukankah itu lebih baik?” usulku.

“Tapi dengan begitu namanya tak punya arti sama sekali.”

“Kata siapa? Ia mempunyai arti yang sangat dalam. Ia hasil dari buah cinta kita bukan? Kalau kita menggabungkan nama kita untuk malaikat itu, maka cinta kita yang utuh; sebenarnya hampir retak juga. Tapi anggap saja, dengan nama kita digabung untuknya maka ia adalah lampisan kasih sayang kita yang sebenarnya,” jelasku; yang hampir terbelit-belit dan seperti berusaha untuk puitis.

Dan ia tertawa, sama sekali tak ada paksaan. Tawanya ini sangat berbeda, baru kali ini aku melihatnya. Bahkan sebelum kami mempunyai masalah itu, tawanya ini; senyumnya ini, sungguh adalah yang terbaik dari yang terbaik.

“Lee KiHae? Bagaimana, menurutmu, Jinki?” usulnya tiba-tiba untuk menamakan makhluk yang semakin menambah kebahagian kami.
Aku menggangguk setuju, “Nice! Antara Choi HaeRin dan Lee Jinki. Maka lahirlah seorang malaikat yang semakin menambah dunia mereka berseri, semakin cerah, karena malaikat yang bernama Lee KiHae,” ujarku sambil mengaitkan jari-jariku diantara jari-jarinya yang kecil dan lentik itu. Aku mengecup punggung tangannya itu.

“HaeRin, kau tahu? Ternyata malaikat kita itu; bayi kita sangat mirip dengan kita berdua. Rambutnya hitam legam sepertimu, bibirnya mirip denganku, hidungnya mirip denganmu, dan pipinya menggembung seperti diriku? Hahaha,” candaku.

Ia tersenyum dan senyumnya sungguh menular padaku.

“Umh! Because he is our baby, right?” katanya dengan nada penuh kebahagian. Aku mengangguk dan mendekati jidatnya, mengecupnya dengan penuh kasih sayang dan cinta.

“Yes, he is our baby. Our love.”

XxXxXxX

THE END

A/N : YOSH!!! SELESAI!!! *ganyante*
hehehe, akhirnya perjuanganku selesai jg *nangis geje* Tapi, jgn anggap ini bnr2 selesai loh. Hehehe, soalnya msh ada 1 chapter lg– Upss! hehehe, kasih bocoran deh. Next chapter itu epilog. Makanya, sengaja judul d atas ga d tulis “end”. Ga keberatan kan klo author nulis epilog-nya aja lg? Hehehe

Advertisements

51 responses to “OUR BABY – CHAPTER 11 (FF/SERIES/PG13)

  1. Ga terasa baca teh
    ternyata udah selesai
    aigooo….
    hmmm
    semuanya selamat
    semuanya bahagia setelah berbagai masalah yg datang silih berganti…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s