What if I fall in love with him ?

choi siwon

Tittle : What if I fall in love with him ?

Author : ninanino

Rating : PG13

Lenght : Chaptered (tapi belum tahu juga)

Cast : Choi Siwon (Super Junior)

Song Hyunjo (OCs) *gak tau nama siapa ini :)*

Cerita ini sedikit terinspirasi dari gosip ibu-ibu di komplek tempat tinggal eyang saya. Jadi kalo agak sinetron banget saya minta maaf ya :). Okeoke, enjoy this fanfict 🙂

NO SILENT READER

satu komen anda sangat berguna bagi kemajuan saya menulis FF *hahaha*

kritik dan saran diterima dengan tangan terbuka 🙂

”ANDWEEEE!” aku cuma bisa menangis saat ini. Jujur aku shock. Umma tiba-tiba menyatakan ingin menikah lagi. Oke, mungkin aku sedikit egois *ya, ralat deh sangat egois.

********

Oh ya, perkenalkan namaku Song Hyunjo. Umurku sekarang 18 tahun. Aku tinggal di Seoul sejak 7 tahun lalu tepatnya saat appa meninggal dunia. Aku dan umma memutuskan pindah dari Andong, sebuah kota kecil di pingiran Korea. Ummaku, masih sangat muda. Dia menikah dengan appa saat usianya 14 tahun. Dan saat usia 26 tahun dia harus menyandang status sebagai janda. Jujur aku kasihan dengan umma.

Flashback 7 tahun lalu

”Umma, kenapa appa meninggalkan kita berdua saja? Apa appa marah padaku umma karna nilai-nilaiku selalu jelek?” tanyaku polos pada umma. Kulihat umma menghapus sisa air mata yang masih mengalir di pipinya. Ia tersenyum kecil terlihat seperti dipaksakan.

”Anniyo. Chagiya, appa tidak mungkin marah padamu Hyunnie. Appa meninggalkan kita justru karna appa sayang sama kita. Appa ingin menemui Tuhan agar Tuhan mau mengirimkan malaikatnya untukmu Hyunnie.” kata umma saat itu. Dan aku benar-benar percaya bahkan sampai sekarang.

Aku berjalan mendekati makam ayahku. Song Il Jung tertulis nama itu di nisan appaku. Aku membelai nisan itu dengan lembut lalu kata-kata konyol seorang anak kecil muncul dari mulut mungilku.

”Appa saranghaeyo. Hyunnie janji, mulai sekarang hyunnie akan jaga umma. Hyunnie akan belajar lebih giat biar bisa sukses seperti appa. Appa, bilang ya sama Tuhan, kalo ingin mengirimkan malaikat untukku yang seumuran denganku saja. Dan dia harus seorang yeoja. Appa, Hyunnie nanti pasti kangen appa. Appa jangan lupa makan yang banyak ya. Hyunnie pergi dulu. Annyeong.” aku berbalik berjalan perlahan ke arah umma. Kulihat umma semakin sedih. Beberapa kali beliau mengusapkan sapu tangan biru kesayangannya ke wajahnya. Air mata beliau sepertinya tak pernah berhenti mengotori wajahnya yang cantik itu.

Aku bergelayut manja pada lengan umma. Umma menunduk memelukku lembut. Tangisnya pecah. Sepertinya sudah tak bisa ditahan lagi oleh beliau. Kueratkan pelukankanku pada umma. Aku tak ingin umma menangis. Umma harus kuat. Sejak saat itu aku berjanji pada almarhum appa aku tak akan pernah membuat umma menangis.

Flashback End.

Aku berlari menaiki tangga. Ada penekanan emosi di setiap hentakan kakiku. Jujur saja, aku kecewa pada umma. Aku sudah berjanji di makam appa akan menjaganya sampai akhir hayatku. Tapi, kenapa umma masih mau menikah lagi. Apa umma tidak percaya aku bisa menjaganya? ”Aish, appa. Ottokhe?” teriakku emosi. Lalu kubanting pintu kamar untuk menenangkan diri.

******

’Aish, aku pasti terlambat ke sekolah hari ini.’ rutukku. Aku berjalan cepat menuruni tangga. Kurapikan isi tasku yang berantakan. Tepat di depan dapur kulihat umma selesai menghabiskan sarapannya dan bersiap untuk berangkat bekerja. Ia tersenyum kepadaku tapi aku melengos meninggalkannya sendiri tanpa membalas senyumnya itu.

’Mianhe umma. Hyunnie tidak bermaksud menyakiti hati umma. Hyunnie hanya ingin umma tidak melupakan appa. Appa sudah bersusah payah menemui Tuhan dan Hyunnie tidak mau semua jadi sia-sia. Miannhe umma. Saranghaeyo.’ batinku. Sebulir air mata jatuh membasahi pipiku. Dengan segera kuhapus dengan ujung jaketku dan segera berlari meninggalkan rumah.

*******

”Hyun Jo-ssi.” kudengar teriakan seorang namja memanggilku. Aku berbalik dan kulihat Kibum menghampiriku. Ia terlihat kelelahan karena mengejarku. Ia mengatur nafasnya perlahan dan memandangku dengan tatapan serius.

”Waeyo? Ada perlu apa Kibum-ssi?” tanyaku sopan. Sebuah senyum kusunggingkan paksa mengingat kejadian pagi tadi yang masih terbayang di pikiranku.

”Neo… dipanggil Hwang songsaenim. Katanya guru piano untuk tes ujian masuk perguruan tinggimu sudah datang.” katanya singkat. ”Jinjaeyo?” tanyaku masih tak percaya. Jadi guru yang sudah aku tunggu selama ini sudah datang. Ah, sepertinya impianku masuk Incheon’s Art Academy akan segera tercapai. Aku tersenyum lebar. Sejenak kulupakan masalahku pagi ini. Aku langsung berlari ke kantor guru tanpa menunggu jawaban Kibum. Sempat kupalingkan wajahku ke arahnya berdiri, dia hanya berdecak pelan sambil mengangkat tangannya. Kutangkap isyaratnya yang berarti ’semoga berhasil’. Aku anggukkan kepalaku. Lalu kembali berlari ke ruang guru.

********

”Annyeonghaseyo.” sapaku sopan setelah mengetuk ringan pintu ruang guruku ini. Kulihat Hwang songsaenim mengangguk tanda mempersilakan aku masuk. Aku berjalan ke arah beliau. Kulihat seorang namja duduk berhadapan dengan Hwang songsaenim. Punggungnya indah, sepertinya dia guru pianoku.

”Annyeonghaseyo.” sapaku lagi. Namja itu berbalik. Senyum tulus kini tergambar di wajahnya. ’Omona~ dia tampan sekali. Apa benar orang setampan dia akan jadi guruku?’ batinku. Hwang songsaenim menyuruhku duduk tepat disamping namja itu. Mataku masih terpaku akan wajahnya seolah tak mau melewatkan pemandangan indah ini barang sedetik.

”Ehem, Hyunjo-ssi.” kudengar deheman kecil Hwang songsaenim. Buru-buru kusadarkan diriku dari angan-angan namja itu.

”Ne songsaenim. Ada apa memanggil saya kemari?” tanyaku halus. Kulihat Hwang songsaenim tersenyum. Matanya kini beralih memandang namja di sebelahku. Kuikuti pandangannya dan kulihat namja itu kembali menyunggingkan sebuah senyum sembari memamerkan deretan gigi rapinya.

”Annyeonghaseyo, jeoneun Choi Siwon imnida. Mulai hari ini aku guru pianomu yang baru.” suara selembut beledu mengalir dari mulutnya yang seksi itu. ’Omo, apa yang aku pikirkan Tuhan? Dia guruku.’ Batinku menenangkan diriku sendiri dari segenap pikiran kotor.

”Annyeonghaseyo, jeoneun Song Hyunjo imnida.” kataku singkat. Tangan kami kini dipersatukan oleh sebuah jabat tangan. Tuhan, appa, inikah malaikat yang kalian kirimkan?’

****

”Berapa umurmu, Hyunjo-ssi?” tanya Siwon songsaenim padaku. Ini pelajaran pertama yang ia berikan padaku.

”18 songsaenim. Songsaenim sendiri, berapa umur songsaenim?” tanyaku mengintrogasinya. Kulihat Siwon songsaenim. Ia terlihat kaget dengan pertanyaanku. ’Apa aku salah bertanya? Aish, tanya umur kan tidak sopan.’ batinku. Aku menunduk sebentar kemudian kutatap lagi wajah Siwon Senim. Kini keterkejutan itu berubah jadi senyuman. Tak lama terdengar suara kikikan kecil dari mulutnya. ’Aigo, kenapa guruku setampan ini?’ pikirku.

”Aku sudah 27 tahun Hyunjo-ssi. Sudah tua kan?” candanya. Ia kembali tersenyum sembari memamerkan giginya yang rapi itu. Tubuhnya yang tinggi dan badannya yang atletis benar-benar sosok yang sempurna. Kenapa ia lebih memilih menjadi guru dengan kesempurnaannya itu. Kenapa ia tidak menjadi model, aktor, atau paling tidak menjadi atlet dengan bodi yang kelewat sempurna itu.

”Ya Tuhan, aku pikir songsaenim masih 24 tahun.” pekikku. Ia terkekeh lagi. Kali ini sedikit keras suaranya.

”Aish, babonya aku ini. Kenapa aku harus selugu itu mengatakannya.” gumamku pelan sembari memukul kepalaku pelan. Ia menundukkan wajahnya dan memandangi wajahku sesaat. ’Omo~, kenapa dengan jantungku sekarang ya Tuhan?’ batinku.

”Jangan mengutuk diri sendiri seperti itu. Kata-kata itu akan menjadi doa tau.” ucapnya. Lagi-lagi ia tersenyum membuatku semakin tak kuat untuk memandangnya terlalu lama. Tuhan, terima kasih kau telah memberi guru piano sesempurna Siwon songsaenim.

****

Sudah 4 bulan ini aku berlatih piano dengan Siwon songsaenim. Kami berlatih secara teratur setiap hari. Kata songsaenim, kalau aku bisa mempertahankan permainanku seperti saat latihan, mungkin aku akan lolos ujian masuk Incheon’s Art Academy. ’Padahal aku bersemangat latihan karena kau songsaenim. Songsaenim saranghaeyo.’ Batinku sambil menatap wajahnya. Tiba-tiba ia menoleh ke arahku, menyunggingkan senyum andalannya itu. ’Aish, kenapa dia harus tersenyum lagi sih? Bisakah kau berhenti membuatku semakin jatuh dalam rasa cinta ini’ batinku kesal. *author : bahasanya menjijikan*

”Kenapa memandangku seperti itu Hyunjo-ssi? Apa ada yang aneh denganku?” tanyanya ramah. Aku hanya tersenyum lalu menggelengkan kepala pelan. Ia tersenyum lagi. ’Aish

Tuhan kenapa Kau biarkan ia tersenyum lagi? Apa Kau ingin membunuhku disini karena terus-terusan diserang oleh senyuman mautnya itu?’ pertanyaan bodoh itu kembali berkecamuk dalam pikiranku. Kami melanjutkan latihan lagi hingga tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 6.00 sore.

“Omo, aku harus pulang sekarang songsaenim. Joesonghamnida songsaenim. Saya harus pulang sekarang. Umma akan marah kalo saya tidak segera pulang. Saya pulang dulu. Annyeong.” pamitku. Aku langsung saja menarik tasku dan menggendongnya di punggungku. Tanpa menunggu jawabannya, aku langsung berlari keluar studio ini. Aku segera berlari secepat yang aku bisa.  Aku sempat berbalik melihat wajah songsaenimku itu. Dia melambaikan tiga jarinya, sangat elegan. Benar-benar seorang pangeran. Kuanggukkan kepalaku perlahan untuk membalas lambaian tangannya, oh bukan jarinya. Lalu kembali fokus ke jalanku.

****

“Kenapa baru pulang?” hardik umma di depan rumah. ‘Aish, benarkan. Pasti umma sudah pulang dari kerjanya dan aku akan dimarahi olehnya.’ rutukku pelan. Dengan kutundukkan kepalaku, aku berjalan perlahan mendekati umma. Umma kini telah berdiri dengan kedua lengan dilipat di depan dadanya.

“Joesonghamnida umma. Hari ini latihannya agak berat. Lagipula ujian masuknya minggu depan. Jadi aku harus banyak berlatih umma.” balasku tetap dengan perlahan. Jujur saat ini aku tidak berani menatap wajah umma. Sedari tadi aku masih menundukkan kepalaku.

“Ya sudah, langsung mandi lalu makan. Setelah itu belajar. Kau jangan lupa, ujian sekolahmu juga tinggal dua minggu. Arasseo?” gertak umma lagi. Tapi kali ini dengan nada lebih lembut dari sebelumnya. Aku hanya menganggukkan kepalaku pelan. Jujur aku takut bersuara untuk sekedar menjawab ‘Nde.’. Bagiku, saat dimana umma marah itu adalah saat paling mengerikan karena umma sangat jarang marah padaku.

****

Hari ini sekolah terasa amat membosankan. Karena ujian semakin dekat, sekolah terus mengadakan latian untuk kami siswa kelas tiga. “Aish, lama-lama aku bisa gila. Ujian masuk universitas, ujian sekolah, ditambah masalah umma.” teriakku kesal. Tiba-tiba aku mendengar suara seseorang tertawa cukup kencang. ‘Lho, bukannya di lorong ini aku sendiri ya?’ pikirku. Kutengokkan wajahku ke sisi kiri tapi tidak ada siapa-siapa di koridor sisi kiriku ini. Sebelum aku sempat beralih ke sisi kanan, kurasakan seseorang menepuk bahuku pelan. Kuputar kepalaku dengan sedikit kekhawatiran.

“Ya ! Ternyata kau ?”

to be continued.

siapakah orang itu? hahaha… *sok penasaran*
saya juga belum punya ide. ada saran ?
*reader : author gila :|*
gamsahamnida udah mau baca *bow*
komen amat sangat ditunggu 🙂
Advertisements

9 responses to “What if I fall in love with him ?

  1. @leeyaaaa : tunggu part 2 🙂
    makasi udah mau baca terus komen 🙂

    @ridandelions : makasi *bow*
    belum tau siapa yang manggil 😀
    ada satu suara untuk kibum 🙂
    sekali lagi makasi udah mau baca dan komen 🙂

    @dongyun : oke 🙂
    gamsahamnida udah mau baca dan komen *bow*

    @desyeunhaewooki : oke 🙂
    tunggu part 2 nya ya 🙂
    makasi udah mau baca *bow* 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s