OUR BABY – 12 (LAST CHAPTER) (FF/SERIES/PG13)

Image and video hosting by TinyPic

OUR BABY

Author : Noriko Kaoin

Previous Chapter : (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11)

Cast :

-Choi Hae Rin

-Lee Jinki a.k.a Onew

-Kim Kibum a.k.a Key

-Another SHINee’s member

Length : Series (chaptered)

Rating : PG13

Genre : General, Romance, Family, Friendship

Disclaimer : The cast is not mine, but this fanfic is MINE!!!

Inspired by : from fanfic with title “Mommy, Baby, and Daddy” and the sequel, the others fanfic with tittle “The Only Reason”

Summary : Bagaimana kalau seseorang dengan image cute, manly dan dikagumi oleh semua orang, Onew tertangkap basah menghamili seorang model yang ternyata kekasihnya selama ini diam-diam menjalin hubungan?

XxXxXxX

ENJOY

Chapter 12 – Happy Ending, Forever


“Jadi. HaeRin-ssi. Apakah benar janin yang Anda kandung sekarang adalah hasil hubunganmu dengan Onew?”

“Ya, benar sekali.”

“Onew-ssi, sudah berapa lama kau menutupi hubunganmu dengan kekasihmu dari publik?”

“Sekitar 2 tahun lebih.”

“HaeRin-ssi, kalau tidak salah dalam beberapa bulan yang lalu kau juga merencanakan konferensi pers. Tapi tiba-tiba dari pihak Anda sendiri membatalkannya dan setelah itu tidak ada berita mengenai Anda, seolah anda menghindar bahkan menghilang dari dunia hiburan. Dan sekarang Anda malah tiba-tiba muncul dihadapan kami dan mengumumkan sesuatu yang benar-benar mengejutkan. Kemanakah Anda sebenarnya?”

HaeRin hendak membuka mulut ketika manajernya menahannya, agar membiarkannya untuk berbicara.

“HaeRin masih berada jangkuan Korea Selatan saat itu. Ia hanya perlu menenangkan dirinya karena terlalu banyak pikiran.”

Wartawan itu mengangguk mengerti namun raut wajahnya masih kurang puas dengan penjelasan sangat singkat tadi. Lalu pertanyaan di konferensi pers itu kembali berlanjut.

“Onew-ssi, benarkah mengenai rumour yang mengatakan kalau Anda menolak janin yang ada di dalam kandungan HaeRin?”

Onew menghela nafasnya dengan berat, pertanyaan dari wartawan itu sangat mengena dengannya. HaeRin menatapnya dengan khawatir sambil menggenggam tangan laki-laki itu.

“Ya, aku sempat menolaknya bahkan hampir memutuskan hubungan kami. Tapi aku sadar, bahwa aku tidak main-main mencintai HaeRin. Aku tidak bisa meninggalkannya dengan alasan aku masih mencintainya dan sudah menerima janin yang ia kandung. Bagaimanapun juga ia adalah hasil buah cinta kami berdua,” Onew mengatakannya dengan jujur dan membalas genggaman HaeRin lalu menoleh sambil tersenyum lega pada HaeRin. HaeRin membalasnya.

“Baiklah, pertanyaan terakhir. Siapa lagi?”

Wartawan itu berebut mengangkat tangan mereka, sedangkan para photographer terus melayangkan cahaya kamera flash pada kedua orang yang baru saja berbaikan itu. HaeRin menunduk tapi saat ia mengangkatnya, wajah itu jelas menggambarkan kebahagiaan.

“Yak! Yang ada diujung sana. Silahkan. Yang memakai kemeja biru garis hitam,” ujar manajer Onew sambil menunjuk kearah ujung ruangan. Dan wartawan itu dengan wajah bersinar menerima mikrofon dari panitia dan berdehem sebentar.

“Ehem! Err, Onew-ssi dan HaeRin-ssi. Mungkin ini sedikit jauh dari topik konferensi pers kali ini. Tapi aku hanya penasaran dengan masa depan kalian. Apakah kalian berniat untuk menikah dalam waktu dekat ini? Atau menunggu sang buah hati lahir terlebih dahulu?”

Senyum lebar dan seperti sengaja menggoda pasangan itu terpasang di wajahnya. Dan secara tiba-tiba suasana di ruangan itu menjadi sunyi. Semua kepala dan tatapan mengarah pada wartawan yang memakai kemeja biru garis hitam itu.

Suara Onew tergelak sambil memegang mikrofon dan siap menjawab pertanyaan dari wartawan itu, kembali mengalihkan para wartawan yang ada disana terfokus pada Onew.

“Hmm…Kita lihat saja nanti.”

XxXxXxX

1 Tahun Kemudian

Lagi, aku terbangun dari mimpiku itu. Sudah berapa kali aku memimpikannya? Tidak, sebenarnya itu bukan mimpi. Kejadian dalam bunga tidurku tadi pernah kualami 1 tahun yang lalu. Saat aku keluar dari rumah sakit dan ikut dengan kelima laki-laki yang mengingkan aku kembali ke Seoul. Terutama kekasihku, Onew. Ia ingin menyelesaikan tahap masalahnya yang terakhir bersamaku, dan setelah itu kami bersama-sama berjanji akan hidup bahagia bersama selamanya.

Aku membalikkan badanku ke samping, dan aku tidak menemukan Onew di sebelahku. Tapi rasanya pemandangan setiap pagi seperti ini sudah biasa.
Aku pun bangkit dari tempat tidur menuju KiHae yang masih terjaga dalam tidurnya, aku pun menuju dapur dan memutuskan sarapan instan yang seperti biasa aku makan namun masih terselip banyak nutrisi berhubung aku masih menyusui KiHae.

Sebuah surat catatan kecil tertempel di depan pintu kulkasku yang berpintu dua itu. Aku menguap sedikit lalu mencabutnya perlahan dan membacanya.

HaeRin-ssi, maaf aku harus pergi pagi-pagi. Panggilan mendadak dari manajer.
Salam sayang untukmu dan KiHae, selalu

Lee Jinki ♥

Aku membaca surat itu sambil memoyongkan mulutku, dasar laki-lak itu. Ia sama sekali tidak memberitahu kapan ia akan pulang. Bodoh dia.

Tak kupercaya sudah satu tahun setelah masalah itu berlalu yang membuatku benar-benar frustasi bahkan hampir membunuhku atau KiHae; malaikat kecilku. Dan sekarang, aku dan Onew atau sekarang aku lebih senang memanggilnya Jinki-ssi (berhubung Onew sendiri yang ingin adanya suasana formal tapi santai di keluarga kami). Tapi aku rasa, kehidupan keluarga kami semakin sempurna; tak ada pertengkaran seperti dahulu , karena KiHae semakin besar dan ia memang mirip dengan kami berdua.
Sejak aku melahirkan KiHae, Jinki segera membeli sebuah apartemen khusus untuk kami bertiga. Alhasil, sekarang hampir 1 tahun kami tinggal bersama.

Sungguh, kehidupanku benar-benar bahagia sekarang. Aku bahkan sekarang mulai ditawari beberapa model majalah lagi, tawaran untuk bermain di depan kamera seperti drama atau film pun bertumpuk. Sebagian dari mereka; staff-staffku atau fansku yang masih setia mengatakan dengan kembalinya aku ke dunia hiburan, rasanya lebih lengkap. Aku sangat berterima kasih pada mereka.

Saat aku hendak membakar roti, suara tangis KiHae dari dalam kamarnya membuatku terkejut dan segera berlari menuju kamarnya. Di sana aku menemukannya masih terbaring dan menangis, mungkin ia haus atau lapar. Aku tersenyum melihatnya dan menggendongnya dengan penuh kasih sayang.

“Ssshh, tenang KiHae. Umma ada disini.”

Aku menggendongnya sambil membuatkannya susu untuk sarapannya. Cukup repot juga, tapi tak berapa lama kemudian tangisan malaikat kecilku ini sudah reda. Aku pun menaruhnya di bangku kecil di depan meja makan. Ia memainkan sendok-sendok makannya sendiri, sekali-sekali ia menggigitnya dan memandangku. Dan ia tertawa. Manisnya, matanya menyipit dan giginya yang baru muncul dua buah di depan itu, mirip seperti kelinci ketika ia tertawa, persis seperti ayahnya.

Aku memberinya susu di dalam botol dan dengan cepat ia mengambil dan meminumnya. Sementara ia meminum susunya, aku mengambil roti bakarku yang sudah matang tadi dan menumpah teh hangat ke dalam cangkir.

Sementara aku sedang sibuk dengan sarapanku dan begitu juga dengan KiHae yang masih meminum susunya. Suara telepon mengusik pagi kami. Aku pun berjalan menuju dimana telepon itu berdering dan mengangkatnya.

“Halo?” sapaku ramah.

“Halo. HaeRin-ah?”

Aku berpikir sebentar, suaranya sangat familiar. Ah, aku tahu siapa di sana!

“KEY!” pekikku di telepon, aku yakin saat ini wajahnya terkejut. “Sudah lama sekali. Kemana saja kau?”

“Bukannya sudah kubilang aku dan SHINee sibuk di Jepang. Aku mesti menetap sementara di sana, paksaan dari agensi. Tapi Onew-hyung dengan santainya melanggar itu, ia masih bolak-balik antara Jepang-Korea.”

“Hei, bagaimana lagi?! Masa ia harus menelantarkan keluarganya begitu saja? Oh, ngomong-ngomong. Kau sekarang ada dimana?”

“Oh, aku? Aku berada di Seoul—Oh, HaeRin! Kau harus melihat konser kami malam ini! Konser penutupan tour kami. Bagaimana? Ajak KiHae juga!” serunya disana.

“Errmm,” suara gumaman keluar di bibirku. Rasanya susah sekali untuk bisa melihat konser mereka, sedangkan malam ini aku mempunyai jadwal.
“Ayolah, HaeRin. Batalkan saja semua jadwalmu malam ini. Datanglah ke konser kami.”

Sial, Key masih tidak berubah. Ia masih bisa membaca pikiranku dengan mudahnya. Tapi dari segi nada suaranya Key, aku bisa mencium kecurigaan. Ada apa ini?

“Memang kenapa? Begitu pentingkah?”

Key menghela nafasnya, “Datang saja. Kau tidak ingin menonton konser kekasihmu?”
Yak! Key masih menganggap kami sepasang kekasih, tapi memang benar. Aku dan Jinki belum menikah sama sekali meskipun kami sudah dikarunia seorang anak. Bukannya kami tidak ingin, hanya saja jadwal antara aku dan Jinki masih belum bisa disamakan. Kami sama-sama mempunyai jadwal padat. Tapi, dari dalam hatiku aku memang mengingkan adanya sebuah proposal yang resmi dari Jinki dan ia akan menikahiku. Aku harap itu secepatnya.

“Ya, baiklah. Aku akan datang,” ujarku akhirnya.

“Bagus! Kutunggu kedatanganmu jam 7 nanti malam. Jangan lupa, bawa KiHae juga.”

“Ya, ya, Bai—“

Belum selesai aku mengatakannya, Key sudah memutuskan sambungan dan aku menatap teleponku dengan kesal dan meletakannya seperti semula.
Dan tanpa kusadari, KiHae merangkak mendekatiku dan mengucapkan sesuatu dengan bahasa bayi-nya. Aku tertawa senang.

“Umma…” ujarnya dengan fasih. Nah, setahuku, KiHae hanya pintar mengucapkan kata-kata seperti, ingin makan, atau memanggil diriku atau ayahnya.

XxXxXxX

Saat aku memasuki halaman tempat konser itu, aku sudah melihat banyak sekali; mungkin sekitar ribuan atau bahkan lebih berkumpul di depan pintu antrian. Mereka menunggu pintu masuk itu dibuka. Beberapa diantara mereka sangat kompak sekali, membawa balon dengan warna khas SHINee; pearlscent blue, benda wajib saat konser siapapun yaitu lightstick, dan beberapa diantara mereka memakai kaos yang sama.

Dan aku sengaja tetap duduk di dalam mobil, aku bukannya belum siap atau apa. Aku tidak ingin menjadi pusat perhatian disana, apalagi saat ini semua orang sudah mengetahui statusku kalau aku kekasih Lee Jinki a.k.a Onew sambil membawa anaknya. Disini, aku hanya sambil menemani KiHae bermain, sedangkan supirku keluar yang kusuruh untuk mencari Key. Kenapa Key? Aku hanya berusaha agar Onew tidak tahu, yah, semacam kejutan, mungkin?

Tak lama kemudian, suara ringtone ponselku berdering nyaring. Aku mencari-cari asal suara tersebut, tapi tak kutemui didalam tasku. Tapi tiba-tiba KiHae menarik-narik dress yang kupakai dan ia melambai-lambai tak jelas dengan sesuatu tergenggam ditangannya.

Astaga, itu ponselku.

“Ayo, kemarikan ponsel Umma, KiHae.” Dan KiHae dengan patuh memberikannya padaku. “Anak pintar…” pujiku padanya. Dan ia bertepuk tangan kegirangan, aku tersenyum sebentar lalu mengangkat ponselku yang terus berdering.

Sebelum mengangkatnya, aku melihat screen ponselku dan ternyata Key yang menghubungiku.

“Halo?”

“Key? Ada apa?”

“Aku sudah bertemu dengan supirmu. Aku rasa, kau ikut bergabung dengan penonton lainnya saja, bagaimana? Maaf, saat ini dibelakang panggung sedang sibuk sekali. Aku takut kau akan diacuhkan disini.”

“Iya, tak apa. Lagipula, sekali-sekali aku bisa duduk ditengah fans kalian dan bertukar pikiran dengan pikiran. Dan kuharap, aku tidak menemukan anti fans-ku di sana, justru aku akan terus dikerjai disana.”

Key tertawa disana, “Tak apa, kau akan aman. Bukannya semua fans kami terutama para MVP menerima hubunganmu dengan Onew? Dan mereka juga menyukai KiHae bukan? Jadi tak ada masalah bukan?”

Aku mengangguk pelan, aku rasa perkataan Key itu benar juga. “Baiklah, kali ini kalian juga harus menganggapku seperti fans kalian yang lainnya. Oke?! Oh, ya. Dimana Jinki?”

“Iya, HaeRin. Tenang saja. Oh, Onew-hyung? Tadi dia berbicara pada manajer sepertinya ia sangat sibuk. Mau aku kirimkan salam padanya?”

“Tidak usah. Aku bisa melakukannya sendiri.” Tanpa aku sadari, saat aku mengatakannya, aku tersenyum sendiri. Aku membanyangkan Onew yang terkejut melihat kami berdua yang sedang menonton konser akbarnya.

“Baiklah, kalau begitu aku tutup dulu. Aku harus bersiap-siap. Konser akan dimulai 15 menit lagi.”

Aku mengangguk sambil menggumam kata “iya” dan menutupnya. Lagi-lagi aku mengarahkan kepalaku keluar, melihat keadaan. Sepertinya beberapa fans itu sudah masuk ke dalam stadion. Sepertinya aku juga harus bersiap-siap.

Aku mengambil kacamata hitamku dan topiku, lalu menggendong KiHae dan keluar dari mobil dengan diiringin oleh supir prbadiku sendiri. Sengaja aku memintanya agar menemaniku hingga ke dalam, hanya untuk jaga-jaga saja.

Setelah kami masuk ke dalam stadion, hampir seluruh kursi di tribun sudah diisi oleh fans-fans SHINee. Paras wajah bahagia dan tak sabaran tergambar di wajah mereka, mereka sangat menantikan konser besar seperti ini. Belum lagi, aku dengar dari Jinki sendiri bahwa SHINee selama 1 tahun akan fokus di Jepang dan sementara tak akan ada kabar di Korea.
Menyedihkan, Jinki semakin jarang menemui kami berdua. Pekerjaannya itu telah menguasai hidupnya. Tapi aku harap ia tetap menomor satukan keluarganya. Aku dan KiHae.

Setelah aku mendapatkan kursi dan sepertinya masih ada beberapa orang yang mengenaliku walau keadaanku dalam penyamaran. Mereka masih berbisik-bisik heran melihatku dan aku hanya tersenyum ramah, sebagaimana aku selalu menyapa ramah pada fans-ku.

Aku duduk di samping salah satu fans yang membawa lightstick dengan nama Jinki. Aku tertawa geli di dalam hati sambil mengasuh KiHae di atas pahaku. KiHae terlihat sangat semangat apalagi ketika ia melihat ke arah samping dimana lightstick mulai dinyalakan. Ia berteriak nyaring sambil tertawa. Dan fans di sampingku itu menoleh dan mengacak pelan rambut KiHae. Dan tepat ia menatap kearahku.

“Omo, HaeRin-ssi?” tanyanya dengan suara nyaring tapi masih terendam dengan teriakan penuh di stadion itu.

Aku menaruh jari telunjukku di depan bibirku lalu tersenyum ramah.

“Halo.”
Wajahnya semakin menjadi berseri-seri, ia menarik tanganku dan mengajakku bersalaman.

“Astaga, sungguh tak dipercaya. Aku bertemu dengan kekasih Onew Oppa disini! Upps, seharusnya aku tidak boleh berbicara padamu seperti itu. Maaf,” ujarnya sambil menundukkan kepalanya beberapa kali. Dan aku tertawa maklum, sudah biasa.

“Iya, tak apa.”

“Oh, ya! Aku juga salah satu fans-mu. Wah, senang sekali rasanya aku bisa bertemu dengan idola dan duduk bersebelahan dengannya. Dan kau begitu ramah, HaeRin-ssi.”

Setelah itu pembicaraan kami selalu jalan, walau sesekali perhatiannya lebih pada panggung megah di depan. Dimana 5 orang laki-laki yang sedang bersinar-sinarnya. Mereka menampakkan senyum khas mereka masing-masing.

XxXxXxX

Di tengah-tengah konser, semua lampu dimatikan, seolah-olah membuat para fans semakin penasaran. Ya, termasuk diriku. Karena menurut mereka yang hadir di konser ini, setalah ini adalah solo performance. Wow, aku tak sabar melihat kelima laki-laki itu beraksi.

Pertama-tama, keluarlah Taemin dengan hoodie menutupi kepalanya. Badannya yang lentur mengikuti setiap dentuman lagu dance yang diputar. Suaranya yang khas saat bernyanyi, dan terutama senyumannya itu membuat para noona-noona yang ada disini berteriak nyaring meneriakkan namanya.

Setelah Taemin selesai dengan performance-nya, selanjutnya diikuti oleh Minho. Dengan suara berat dan khasnya itu, ia me-rapper disana dan mimiknya mengatakan ia sedang sedih. Wow, Minho. Kau sedang bernyanyi atau sedang akting?

Selanjutnya diikuti oleh Jonghyun yang duet dengan Key. Suara husky dan seksi Jonghyun membuat para Blingers hampir meleleh dibuatnya. Dan seringai khas itu membuat mereka meneriakkan nama Jonghyun dengan keras sekali. Belum lagi lagu beat itu yang diiringi oleh rap-nya Key, sungguh performance maksimal mereka malam itu.

Masih dengan Key, ia kembali ke balik panggung dan tak lama kemudian menunjukkan dirinya lagi ke depan panggung dengan kostum yang berbeda. Pertama-tama dengan almighty-nya ia menari ala hip hop diatas panggung dengan jas dan pakaian formalnya. Tiba-tiba musik dengan tempo beat itu berhenti dan berubah menjadi tempo yang sangat slow. Ia menyanyikan lagu In My Room bersama kedua member lainnya, Jonghyun dan Onew.

Masih dalam intro, mereka melempar senyum bahagia kepada fans-nya dan melambai-lambai. Aku pun ikut melambai, entah apa yang aku pikirkan aku berharap Onew bisa melihatku di tribun dan membalas lambaianku. Aish, apa yang kupikirkan? Bukannya setiap hari bertemu dan dikecup oleh laki-laki itu sudah cukup?

Masuk ke dalam lirik, mereka mulai mengubah raut wajah mereka menjadi sedih, seolah mereka benar-benar masuk ke dalam lagu tersebut. Dan di tengah-tengah lagu tersebut, Onew melangkah mundur dan kembali ke balik panggung. Mungkin setelah ini akan ada kejutan lainnya.

Sorot cahaya utama di panggung itu mengarah di tengah-tengah panggung. Semuanya sudah antusias, kejutan apa lagi yang akan diberikan SHINee pada malam itu.

Lightstick dari fans tiba-tiba dimatikan, lampu utama tadi juga dimatikan. Sekarang suasana konser itu menjadi sepi, gelap, hanya sedikit suara bisik-bisik yang terdengar. Aku beruntung saat ini KiHae sudah tertidur diatas pangkuanku kalau tidak ia akan memecahkan kesunyian ini dengan suara tangisannya.

Tiba-tiba sebuah titik kecil menyala dibagian panggung, tampak seperti cahaya lilin. Karena cahaya itu tampak bergoyang-goyang. Titik kedua menyala, yang ketiga, keempat, kelima dan seterusnya hingga tak terhitung lagi dan—

ASTAGA!

Titik-titik cahaya yang kuyakini cahaya lilin itu berbentuk amor, lampu kecil kini mulai menghiasi panggung megah itu, tapi lampu itu seolah menyamakan seperti para lilin yang berdiri tegak di atas lantai panggung.

Aku terperangah.

Siapa yang melakukan semua itu? Cantik sekali…

Suara dentingan piano mengalun dengan lembut di tengah-tengah kesunyian itu. Perlahan, lampu sorot dengan samar menampakkan Onew yang dengan jas putihnya dan senada dengan warna piano dihadapannya.
Tiba-tiba layar utama untuk konser itu menyala dan menampilkan wajah Onew secara jelas. Onew melirik kearah kamera yang terhubung pada layar utama itu. Senyuman manisnya tergambar di wajahnya sambil menyampingkan poninya.

“Halo, semuanya. Selamat malam. SHINee Leader Onew imnida.” ujarnya sambil menundukkan kepalanya sedikit lalu kembali mengangkatnya. Lagi, senyum malaikatnya ia tebarkan. Beberapa fans berteriak karena tak tahan melihat betapa menawannya laki-laki itu.

Aku tersenyum, sungguh, senyumnnya sangat menular kepada siapapun.

“Malam ini sangat spesial kami; SHINee, dan kalian semua. Dan aku mungkin lebih merasakan spesial lagi, karena—Ehem! Lihat saja nanti. Tapi, sebelum itu aku mau minta maaf pada fans-fans yang selama ini sudah mendukungku. Karena apa? Hmm… Lihat saja nanti.”

Aku mulai terbengong-bengong melihat wajah Onew yang tak biasa itu. Kenapa? Aku melihat sekilas rona merah dibagian pipinya, bahkan cara ia berbicara tadi agak berbeda. Ia seperti menahan malunya.

“HaeRin-ssi,aku tahu saat ini kau ada di tengah-tengah tempat konser ini. Kau jelas mendengarku dan melihatku duduk di depan piano ini, bukan?”

Aku membelalakkan mataku. Tak percaya. Mana mungkin ia tahu, aku sengaja merahasiakan kedatanganku ke konser ini. Lagipula Key tidak mungkin mengingkari janji, aku sangat mengenal Key. Walau ia terlihat bermulut besar, tapi ia sangat aman untuk menyimpan rahasia.
Sial, gagal sudah.

Perlahan aku mengangguk. Beberapa orang di dekatku mulai tersenyum penuh makna. Jadi, selama ini mereka menyadari keberadaanku yang sedang menonton konser ini. Aku mulai mengacuhkan itu semua, dan fokus pada Onew yang mulai memposisikan jari-jarinya diatas tuts-tuts hitam putih itu.

“HaeRin-ssi, dengarkan sebuah luapan emosiku di dalam lagu ini. Sebuah cover dariku, K.Will dengan judul Present.” Dan ia pun mulai membunyikan salah satu tuts hingga mengalun menjadi sebuah lagu yang indah.

Nae saengae gajang areumdaun sunganeuneol
Manna nunbusige saranghaetdeon sungandeuln
Ije na ara neoraneun saram
Nae saengae gajang keun seonmul

Sebentar, ia berhenti dan suara rap dari balik panggung beriringan dengan suara piano Onew. Menakjubkan, sang pemilik suara rap itu bisa menyelaraskan dengan suara piano yang dimainkan Onew.

“Key, lanjutkan.”

Astaga, jadi pemilik suara rap tadi Key?

Baby Girl neon namanui cheonsa
Areumdaun ne moseubeun nal banhage hanikka
Eoduwotdeon naui sarme hanjulgi biccheoreom
Dagawa nae soneul kkok jabajun geudaeyeo
Himdeureodo apado utge dwae neo ttaemune
Neomeojyeo sseureojyeodo himeul nae neo ttaemune
You the only one in my life byeonhaji anha
Neol hyanghan nae sarangeun yeongwonhagi ttaemune

Key mundur dari tengah panggung dan kembali ke balik panggung hingga gilirannya menyanyi kembali lagi. Onew melanjutkan liriknya.

Hago sipeun mari inna bwa
Neujeotjiman ajikkkaji haji motan mal
Nae saengae gajang areumdaun sunganeun
Neol manna nunbusige saranghaetdeon sungandeul
Ije na ara neoraneun saram
Nae saengae gajang keun seonmul

Onew, apa yang kau pikirkan sekarang? Kenapa lagu ini begitu indah saat aku menyanyikannya? Kau berikan kekuatan apa pada musik ini?
Onew, apa lagu ini untukku? Benarkah? Sesuai dengan apa yang kau katakan sebelumnya?

Ya Tuhan, airmataku mengalir deras. Aku menangis terharu, airmata kebahagiaan mengalir diatas pipiku yang sedikit merona karena semua fans yang ada didekatku tersenyum ikut bahagia denganku.

Uri duri yaegihago uri duri georeogago
Eonjena duriraseo haengbokhan i sigandeul
Seoro dareun saraminde urin seoro manhi darma
Nammaenyaneun yaegido gakkeum deutgon haesseotji

Key kembali ke atas panggung dan melanjutkan rap-nya. Sedangkan Onew berusaha menjadi backingvocal dan menyelaraskan tempo cepat rap Key dengan piano-nya.

Urin gateun gireul georeoga tto gateun goseul barabwa
Nuguboda sojunghan neol jikyeojulge mideobwa
Nae insaeng modeun uimi eonjena duri
Hamkkeramyeon haengbongmani gadeukhae yeongwonhi

Onew menyela rap Key dan melanjutkan bagian liriknya.

Aku sudah tidak tahan, aku berdiri dari tempat dudukku dan berjalan cepat menuju panggung itu berada. KiHae dengan tergesa segera ku serahkan pada staff yang kukenal.

Nae saengae gajang areumdaun sunganeun
Neol manna nunbusige saranghaetdeon sungandeul
Ije na ara neoraneun saram
Nae saengae gajang keun seonmul
Jigeum jabeun ne soneul nochi anheulge
Namjadapge yaksok jikilge

Key kembali menguasai panggung, ia terus mengiringi suara piano itu dan menyelaraskannya dengan suara rap-nya.

Aku yang masih jauh dibelakang tribun, terus berjalan menuju panggung. Meminta maaf setiap kali kaki salah satu penonton terinjak olehku, aku sangat tergesa-gesa sekali. Tapi saat aku lewat, mereka mengucapkan kata ‘selamat’.
Ada apa ini? Kenapa? Aku tahu, lagu itu untukku. Tapi itu hanya sekedar cover bukan? Tapi mengapa perasaanku mengatakan hal itu bukan? Sesuatu yang lebih spesial dan akan membuat kehidupanku semakin bersinar.

Aku tepat didepan panggung, dan Key sepertinya melihat sosokku yang sudah banjir dengan airmata. Aku tersenyum sambil melambai pada Key, tapi Onew sepertinya masih fokus dengan pianonya. Sesekali mereka saling bersahut-sahutan, Onew khusus pada vocalnya dan Key khusus pada lirik untuk rap.

Sewori jinado sesangi modu byeonhaedo
Hangsang nan ne gyeote nae mameneun ojik neobakke
Nugu boda saranghanikka
Geu eotteon mallodo neol pyohyeonhagin bujokhae
Isesang gajang areumdaun sarameun
Neorago sucheon beoneul mareul haedo bujokhae
Eolmana neoreul saranghaneunji yeongwonhi gareuchyeo julge
Neol hyanghan nae sarangeun yeongwonhagi ttaemune

Tepat saat itu, suara piano itu berhenti dan itu berarti lagu sudah berakhir. Tak ada suara tepuk tangan, masih sepi. Kerlap-kerlip cahaya lilin itu bergoyang karena pendingin udara di tempat ini. Aku menatap keseluruhan tempat ini, masih tak ada suara tepuk tangan. Mengapa? Kurang memuaskan? Tak mungkin.

Aku melihat Key yang mengedipkan matanya padaku, dan mengangkat mikrofonnya dan lagi-lagi kata-kata yang sama ketika orang melihat kearahku.

“HaeRin-ah, sahabatku. Selamat kau sebentar lagi akan menemukan kehidupan dan kebahagiaan yang sebenarnya.”
Setelah itu Key kembali ke balik panggung dan meninggalkanku yang masih kebingungan.

Aku memperhatikan Onew yang masih duduk tenang dan seperti mengumpulkan keberanian. Jari-jarinya kembali berada diatas tuts dan memainkan instrument tak kukenal. Layar utama konser itu memperlihatkan senyuman malaikatnya dan dengan satu helaan nafas ia berhenti bermain piano.
Ia mengambil seasuatu di dekat kaki penyangga piano itu. Dan menampakkannya kepada semua orang yang hadir di konser ini.

Bunga mawar putih.

Ia mendekat menuju dimana aku sedang berdiri sekarang, ia menyuruhku untuk naik ke atas panggung. Aku pun menurutinya, dan salah satu staff menyerahkan mikrofon, aku pun menerimanya dengan ragu.

Diatas panggung, Onew menyambutku dengan senyuman manis dan sebuket bunga mawar putih digenggamannya. Ia menarikku tak sabaran ke tengah panggung dan mengambil mikrofon yang tadi ia pakai saat bernyanyi.

“HaeRin-ssi, kau mendengar dengan jelas bukan? Lagu tadi? Bagaimana?” ujarnya dengan suara coklatnya.

Aku tersenyum sambil menyembunyikan airmataku yang mulai hendak turun.

“Ya, itu sangat menakjubkan, Jinki-ssi.”

Ia tersenyum tapi seperti kurang puas dengan jawabanku. “Tapi, kau menangkap semua apa yang kukatakan dari lagu tadi, bukan?”

“Err, mungkin?”

Onew menepuk jidatnya pelan, dan suara cekikikan geli terdengar di seluruh tempat konser ini. Aku bingung melihat ekspresi mereka itu. Mengapa? Aku hanya sedikit menangkap dari lagu tadi karena aku fokus pada tangisanku dan senyuman laki-laki didepanku ini.

“Baiklah, kalau kau masih tidak mengerti. Tapi, aku mengatakan kalimat ini tanpa basi-basi dan hanya satu kali dalam hidupku.”

Aku menelengkan kepalaku sedikit, tepat saat itu Onew menggenggam tanganku dan berlutut di hadapanku. Aku sempat mundur, merasa tak enak ketika laki-laki itu berlutut tiba-tiba dengan buket mawar putih yang sengaja dihadapkan tepat didepanku. Namun setiap ada adegan seperti ini, aku merasa ini seperti menyatakan cinta. Tapi, bukannya kami sudah menyatakan cinta satu sama lain. Atau adegan seperti ini tepat saat orang hendak menyatakan untuk hidup bersama selamanya—

ASTAGA!

Mataku terbelalak tak percaya, tapi ujung-ujung bagian mataku sudah tak kuat lagi menahan tangisan. Aku mulai membekap mulutku agar tak terdengar suara isak tangisanku sendiri.

“Omona, jangan menangis, HaeRin.”
Onew bangkit dari posisinya,ia langsung memeluk tubuhku dan menyuruhku untuk menenggelamkan kepalaku diatas dadanya. Tapi dalam tangisan itu aku berusaha tersenyum dan terus memanggil namanya.

Aku mendengar suara detakan jantung Onew yang seperti berlomba-lomba, begitupun denganku. Rasanya detakan jantung kami saling menyelaraskan satu sama lain. Onew semakin mengeratkan pelukannya dan mencium ujung kepalaku dengan lembut.

Dengan suara bisikan tapi masih terdengar nyaring karena mikrofon di depan mulutnya. Dengan manis dan penuh cinta ia mengatakan hal yang selama ini aku; tidak aku rasa ia juga sudah menunggu saat-saat seperti ini.

“HaeRin, would you marry me? Saranghae…”

Tangisanku mulai terdengar meraung-raung. Suara tepuk tangan terdengar samar-samar di telingaku, beberapa diantara mereka meneriakkan kata selamat dan teriakan itu bercampur dengan kata-kata yang tak menyenangkan. Yah, beberapa diantara mereka tidak menyetujui hubunganku dengan Onew.

Tapi, rasanya perjuangan hubunganku dan Onew selama 2 tahun lebih, terbayar. Semua bayangan buruk selama 1 tahun dimana aku mengandung KiHae, itu rasanya meluap dan digantikan dengan tangisan kebahagiaan.

Aku harus berterima kasih pada semuanya. Siapapun itu yang sudah mendorongku, terima kasih hingga bisa membuatku kembali ke pelukannya dan mengucapkan kata cinta kapanpun aku mau. Terima kasih.

“HaeRin?” panggil Onew yang masih menenangkan tangisanku.

Aku mengangkat kepalaku sedikit dan menaruh mikrofon tepat didepan mulutku. Aku mengehela nafas, menahan isakan dan menatap Onew dengan lurus dan penuh cinta. Semua kebahagiaan kami baru berawal di sini, dan akan takkan pernah berakhir selamanya. Ya, kuharap.

“Yes, I do. Saranghae…”

XxXxXxX

THE END

Translation for K.Will – Present:

The most beautiful moment of my life is…

When I loved you after meeting you
Now I know that you’re the biggest gift of my life

Baby girl, you’re my angel
Cuz I’ve fallen for you by your beauty
You, who grabbed my hand and pulled me out of the dark
Even when I’m struggling, I can smile because of you
Even when I fall down, I can get back up because of you
You are the only one in my life, that will never change,
Because my love for you is eternal
(You’re the one in my life)

I still have something to tell you
It might be a little late, but these are the words I never got around to say

The most beautiful moment of my life is…

When I loved you after meeting you
Now I know that you’re the biggest gift of my life

We would chat
We would stroll
These were the happy moments because it was just two of us
We are two different persons
But we’re alike
And sometimes people would ask if we are siblings

We walk the same path
And share the same view
I will protect you, so trust me
You’re the reason of my life
If it’s just two of us we can be forever happy

The most beautiful moment of my life is…

When I loved you after meeting you
Now I know that you’re the biggest gift of my life

I won’t let go of your hand
I will keep my promise like a man

Even time passes by
Even if the world changes
I will be by your side, because you’re the only one in my heart

Because I love you more than anyone else

You can’t be described with words

It wouldn’t suffice even if I shout that you’re the most beautiful person countless times

I will show you how much I love you
Because my love for you is eternal

A/N : Yatta! Yeay! Happy! SELESAI!!! Thanks untuk semua readers baik itu yg udh kasih komen atau para silent reader (hahaha, saya tau, byk yg jd silent readers utk ff ini kok *narsis). Makasih byk atas dorongannya bwt aku dan akhirnya aku yg malasnya minta ampun ini bisa selesain ff sepanjang ini ==

Btw, kayaknya ini bukan epilog, melainkan sebuah chapter juga ya? Hehehe, mian. Cukup panjang pula nih chapter, membosankan ga? Maaf, klo propose-nya Onew kurang romantis, sisi romantis aku lg menghilang entah kemana *curhat*. Maaf juga klo selama ini ff ini jelek dimata kalian *bowing*

Tapi, makasih jg lah. Makasih atas semuanya aja deh. Hehehe, tunggu ff aku yang lain lagi ya. Jaa~

Advertisements

54 responses to “OUR BABY – 12 (LAST CHAPTER) (FF/SERIES/PG13)

  1. Di lamar diatas panggung?omoo
    so sweat
    tp bayangan aku bukan onew tau tp teukie Oppa yg d WGM bareng sors-ssi…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s