Even If I Die, I Can’t Let You Go [PG15/Part 2 of 4/FLUFF]

Title: Even If I Die, I Can’t Let You Go
Rating/Genre : PG15 / Fluff
Cast : Choi Kyungmin, Im Seulong, Shin Sungyoung, Shim Changmin

inspired by 2AM single: “Even if i die, i can’t let you go

Photobucket

PART [1]
==============================

Ini adalah kisahku dengan laki-laki yang mungkin akan selalu kucintai hingga akhir hayat nanti.

” Jongmal mianhae, kyungmin”

~ 1 Tahun Kemudian ~

Tidak terasa 1 tahun sudah kami bersama. Dan selama itu pula aku sudah mulai benar-benar menyukai kekasihku, seulong. Ia telah membuka mataku kalau tidak semua laki-laki seperti changmin, huh…menyebut dan mengingat namanya saja aku sudah merasa jijik.

Sikapnya padaku tidak pernah berubah, masih sama lembutnya seperti saat pertama aku mengenalnya. Dan untuk mengimbangi kebaikannya, aku berusaha memberikan perhatian yang lebih padanya. Tentu saja, dia kan kekasihku.

Tapi, ada satu masalah mendasar yang sering kali membuat kami bertengkar. Hingga satu tahun kami berhubungan, kami belum pernah sekalipun berciuman. Maksudku, ciuman yang benar-benar disebut ciuman, dengan kata lain, kami belum pernah melakukan ciuman di bibir.

Jika sekedar kecupan sayang di pipi atau kening itu sudah sering dilakukannya, tapi saat ia mencoba untuk mencium bibirku, aku menolak.

Kadangkala, terlihat sekali wajahnya yang kecewa karena penolakanku, tapi saat aku mulai meminta maaf padanya, ia langsung mengubah raut wajahnya menjadi seperti semula.

Hingga suatu saat….

”Jadi, sampai kapan aku harus menunggu?” tanyanya kala aku kembali menolak ciumannya.

”Mianhae, jongmal mianhae….” ujarku.
Dia menghela nafas cukup panjang. “Kupikir, waktu 1 tahun sudah cukup untuk membuatmu melupakan mantanmu itu. Tapi ternyata kau masih saja memikirkannya.”

”Aniya….aku tidak pernah memikirkannya. Kau tau kalau aku membencinya, tapi kenapa kau selalu menyangkut pautkan hal itu?”

”Entah sampai kapan aku bisa bertahan seperti ini, kyungmin. Bukankah aku adalah pacarmu? Tidak bolehkah aku sedikit menunjukkan rasa sayangku dengan menyentuh bibirmu?” ia menatap ku dengan pandangan yang sedikit memelas.

”Kalau kau ingin menunjukkan rasa sayangmu, bukankah bisa dengan cara lain, tidak hanya dengan ciuman. Jika kau selalu menuntut hal itu, kau sama saja seperti changmin yang bejat itu.” aku merasa agak kesal dengan tingkahnya itu.

Entah kenapa belakangan ini dia sering sekali marah saat aku terus-terusan menolaknya.

”Jadi, kau mulai menyamakan aku dengan mantanmu itu, hah?” hardik seulong.

Baru kali ini kudengar ia membentakku. Dan sepertinya hari ini adalah puncak kemarahannya padaku.

”Kyungmin-ah, jangan berisik. Ini sudah malam.“ Tegur ummaku dari dalam rumah.
“Nde, umma“

Memang saat ini kami berada di rumahku, setelah beberapa bulan kami resmi pacaran, ia mulai datang ke rumahku setiap minggu. Orang tuaku, sepertinya tau kalau dia adalah laki-laki yang sedang dekat denganku, tapi mereka hanya menganggap nya sebagai salah satu teman laki-lakiku saja. Kata mereka, aku masih belum pantas untuk menjalin hubungan khusus dengan seorang laki-laki.

”Aku pergi.” ujar seulong yang benar-benar pergi dari rumahku.

Namun, beberapa menit kemudian ia kembali.

“Aku akan memberimu waktu untuk berpikir. Jika kau menganggapku pacar, maka kau akan membiarkanku menciummu. Tapi jika kau tetap tak mau, berarti kau masih berada dalam bayang-bayang mantanmu itu, dan belum sepenuhnya membuka hatimu untukku.”

Setelah berkata seperti itu, ia mengecup keningku lembut dan pergi meninggalkanku yang masih terdiam di depan pintu rumahku.

***

Setelah kembali ke kamar, aku mulai mencerna setiap perkataan yang ia ucapkan padaku. Sebenarnya ia tidak salah, tapi kenapa aku masih saja menolaknya? Sudah berkali-kali kutanyakan pada diriku, apa yang membuat aku menolaknya.?

Aku sudah benar-benar belajar mencintainya sekarang. Dan tidak pernah memikirkan tentang changmin lagi. Tapi kenapa saat ia mencoba menciumku, aku menolak?

Dan seperti biasa, saat aku punya masalah dengan seulong, aku selalu minta nasehat dari sahabatku, sungyoung. Yah, bisa dibilang dia lebih berpengalaman tentang masalah percintaan dibandingkan aku. Entah sudah berapa kali ia berganti pacar sejak aku mulai berkenalan dengannya, dan juga sebelum aku bertemu dengannya.

Salah satunya, Seungho, ketua osis di SMA kami. Mereka baru saja putus beberapa minggu yang lalu, karena sungyoung ketahuan berselingkuh dengan taecyeon, ketua klub sepakbola. Dan kini sungyoung dan taecyeon sudah resmi berpacaran.

Sekilas mengenai sahabatku sungyoung. Malam itu juga, aku mencoba menghubungi ponsel sungyoung. Setelah beberapa menit, barulah ia mengangkat telepon dariku.

“Yoboseo…” sapaku memulai pembicaraan dengan sungyoung.
“Kyungmin-ah, waeyo? Bukankah malam ini kau sedang bersama seulong?” tanyanya dari ujung sana.

“Apa kau sedang bersama taec? Kalau tidak, aku ingin sekali mengobrol denganmu.”
“Bicara saja, ia tidak keberatan koq.”
“Benar, kalian mengobrol saja, tidak masalah bagiku” kali ini aku mendengar suara taecyeon di ujung sana.

“Maaf kalau aku menganggu, aku ingin bertanya, apa arti ciuman untukmu, sungyoung?” tanyaku

“Eh, kenapa tiba-tiba kau berkata seperti itu?”
”Aniya, hanya ingin tahu, apa laki-laki akan marah saat kita menolak ciumannya?”

”Hmmm…..” sungyoung terdiam sejenak. ”Kau tau? Baru saja aku berciuman dengan taec.”

”Sungyoung-ah, kau itu serius mendengarkanku tidak sih?”
”Mian….tapi itu bukan mauku, dia yang tiba-tiba menyerangku.” kata sungyoung sambil tertawa kecil. Dan terdengar pula suara taecyeon yang menyahut di ujung sana.

”Biar aku yang menjawabnya, sebagai laki-laki” ternyata taecyeon yang sedang berbicara denganku sekarang.

”Ciuman yang maksud pasti ciuman di bibir kan? Tidak mungkin kau menelepon untuk bertanya hal kecil seperti ciuman di pipi atau di kening? Tanyanya santai.

”Nde.” jawabku sedikit malu.

”Oppa, kalau kau berkata seperti itu, kyungmin bisa malu kan?” ujar sungyoung

”Biar saja. Kalau bagiku, ciuman itu adalah bentuk rasa sayangku pada seseorang. Baik ciuman di pipi, di kening, ataupun di bibir. Sebuah ciuman akan sangat bermakna jika kedua belah pihak yang melakukannya saling mencintai. Jadi, dengan ciuman itulah mereka bisa menunjukkan perasaannya masing-masing.” jelas taecyeon.

Aku terdiam mendengar penjelasannya. Ternyata laki-laki yang terkenal nakal dan brutal itu bisa juga berkata-kata seperti ini.

”Kalau seorang wanita menolak ciuman dari pacarnya, berarti si wanita belum benar-benar bisa menunjukkan perasaannya pada si laki-laki, atau si wanita itu tidak mempunyai perasaan apapun pada pacarnya itu. Jadi, ia enggan untuk melakukannya.” jelas taecyeon lagi.

”Tapi aku benar-benar menyukainya, dan kupikir tanpa berciumanpun kami bisa saling menunjukkan perasaan masing-masing kan?” tanyaku penasaran.

”Kau salah.” sungyoung kembali mengambil alih telepon itu. “Laki-laki terbiasa melakukan sesuatu sebagai pembuktian.cintanya. Dan jika kita menolak, mereka akan beranggapan kalau kita tidak suka pada nya. Mungkin kau merasa malu pada awalnya, tapi apa kau mau rasa malumu itu membuat kau ditinggalkan?” aku tersentak pada kalimat terakhir yang diucapkan sungyoung.

Ditinggalkan? Separah itukah?

***

Keesokan harinya, seperti hari-hari biasa, seulong tetap mengantarkan ku ke sekolah. Namun dengan wajah yang agak masam, mungkin karena peristiwa tadi malam. Dengan sedikit perasaan tegang dan malu, kuberanikan diriku untuk merangkul pinggangnya dari belakang. Hal yang tidak pernah kulakukan sebelumnya.

Dan sepertinya, ia sangat terkejut dengan perbuatanku ini. Tanpa berkata apapun, dia hanya membelai lembut tanganku yang sedang memeluk pinggangnya dan aku bisa melihat wajahnya yang tersenyum dari kaca spion motornya.

Aku mulai merapatkan tubuhku padanya, dengan maksud mempererat pelukanku padanya sambil berkata lirih, “Mian, aku telah membuatmu kecewa, oppa.”

Seulong menghentikan motornya sebentar dan memandangi wajahku.

“Apa aku tidak salah dengar? Kau memanggilku oppa?” tanyanya heran
”Nde, apa tidak boleh?”
”Tentu saja boleh, malah aku senang sekali, jagi.”

Saat itu juga, ia memelukku karena merasa senang sekali kupanggil dia dengan sebutan oppa.

”Maaf, aku selalu menolakmu. Tapi aku janji, akan berubah untukmu. Karena aku menyayangimu, oppa.”

Tidak terasa butiran airmata telah jatuh dari ujung mataku, dan dengan lembut dia mengusapnya.

”Semalaman aku telah berpikir, sepertinya aku memang agak terburu-buru meminta hal itu padamu. Jika kau belum siap, aku akan menunggu. Kau tau aku juga menyayangimu, kyungmin. Bahkan mungkin lebih besar daripada perasaanmu padaku.” katanya sambil tersenyum lembut ke arahku, dan aku akhirnya membalas juga senyumannya.

Kami kembali melanjutkan perjalanan menuju sekolahku. Dan kami berjanji sepulang sekolah, akan pergi ke taman itu lagi. Taman special kami.

***

Hampir setiap hari, kami pergi ke taman ini. Hanya untuk menghabiskan waktu bersama. Karena walaupun kami bertemu setiap hari, waktu untuk kami luangkan berdua hanya sebentar, hanya sebatas perjalanan dari rumah ke sekolahku saja. Dan saat ia datang ke rumahku pada malam hari, itupun tidak terlalu lama, karena orangtuaku tidak memperbolehkan kami berlama-lama. Paling lama jam 10 malam dia sudah harus pulang, walaupun keesokan harinya adalah hari libur. Tapi orangtuaku tetap tidak memperbolehkan kami. Dan sejak tahu kalau aku mempunyai hubungan khusus dengan seulong, orangtuaku menjadi melarangku untuk pergi keluar rumah. Entah apa alasan tepatnya.

Seperti biasa, taman itu sangat nyaman untuk dipakai mengobrol. Karena tempatnya sangat sepi dan tenang. Aku menjadi sangat senang saat di sini. Udaranya segar dan pemandangan di sini pun cukup bagus. Amat sangat berbeda dengan hiruk pikuk yang terjadi di sekitar rumah ataupun sekolahku.

Aku sangat suka mengobrol tanpa harus turun dari motornya. Sebenarnya, masih sangat janggal memanggilnya oppa, tapi aku harus melakukannya. Sesekali ia membelai rambut ku yang tergerai dan merangkulku dari samping. Ataupun membuatku bersandar di dadanya bidang. Tidak pernah sekalipun aku merasa bosan saat berada di dekatnya, ia selalu saja bisa mencairkan suasana di antara kami.

Namun, tiba-tiba ia memandangku cukup serius, sepertinya ini saatnya, pikirku.

Dan ia mulai mendekatkan wajahnya padaku. Biasanya aku akan langsung menghindar dari jangkauannya. Tapi kali ini, aku masih berada di tempatku dan menutup mataku sambil menunggu hal itu terjadi.

Tapi setelah beberapa detik aku menunggu, tidak terjadi apapun, malah aku merasa hidungku bergesekan dengan sesuatu. Karena ingin tahu, aku membuka mataku. Ternyata ia menggesek-gesekkan hidungnya dengan hidungku. Persis seperti orang eskimo saat mereka bersalaman. Melihat diriku yang terheran-heran, ia hanya tersenyum dan tertawa kemudian.

Padahal aku sudah benar-benar menyiapkan diriku saat itu, tapi ia malah mempermainkanku. Melihat dirinya yang masih tertawa, aku pun mengerucutkan bibirku.

”Kau jahat, oppa. Awas, aku akan membalasmu nanti.”
”Mianhae, tapi kalau saat itu kau lihat dirimu sendiri di cermin, pasti kau akan tertawa sekarang,” katanya.

”Memang ada yang aneh di wajahku?” tanyaku padanya, aku benar-benar tidak mengerti apa yang sedang dibicarakannya.

”Kau terlalu tegang, jagi. Santai saja. Ini bukan pertama kalinya buatmu kan?”

Aku terdiam mendengar pertanyaannya itu.

”Kau salah oppa. Inilah alasanku selalu menolakmu. Karena ini adalah pertama kalinya untukku. Saat bersama changmin pun, aku selalu berhasil mencari alasan agar ia tidak menciumku.” ujarku dalam hati.

Raut wajahnya berubah saat melihatku terdiam.
”Jadi, ini yang pertama?” tanyanya.
Akupun mengangguk.

”Mianhae, karena aku kau jadi memaksakan diri seperti ini. Mengapa kau tidak pernah bicara padaku sebelumnya?” ia yang kini duduk di sampingku kembali membuatku bersandar padanya dan juga membelai lembut pipiku.

Aku harus menjawab apa? Alasan utama aku menolaknya hingga sekarang adalah karena aku terlalu malu dan belum siap untuk melakukannya. Aku tidak mau ia berpikir aku terlalu naif dan polos.

Sambil tetap merangkulku, Ia mulai mengangkat daguku dengan ujung jari telunjuknya dan membelai bibirku dengan ibu jarinya. Dan ia kembali mendekatkan wajahnya, semakin lama semakin dekat. Kali ini aku tetap membuka mataku, takut kejadian sebelumnya terulang kembali.

Tapi ternyata hal itu benar-benar terjadi sekarang. Ia mulai menempelkan bibirnya pada bibirku, aku bisa melihat ia mulai memejamkan matanya, karena saat ini mataku terbuka lebar memandanginya. Aku merasa berhenti bernafas sejenak, saat bibirnya mulai menghisap bibir bagian bawahku dengan lembut.

Aku yang baru pertama kali merasakan apa itu ciuman hanya bisa diam, karena tak tahu apa yang seharusnya aku lakukan. Apa sebaiknya aku membalasnya? Tapi aku tak mengerti. Dan kali ini ia mengubah letak bibirnya, dan mulai melumat bibir bagian atasku. Namun, aku tetap diam, memperhatikan matanya yang kini mulai terbuka.

Tidak lama setelah itu, ia melepas ciumannya, dan tersenyum lembut ke arahku. Akupun mulai mengatur nafasku yang menjadi tidak beraturan karena perbuatannya tadi.

”Ternyata benar, ini adalah ciuman pertamamu.” katanya sambil tetap tersenyum
”Darimana kau tahu?”

”Karena kau tidak membalas ciumanku. Tapi, tidak apa-apa, mulai saat ini aku yang akan mengajarkanmu.” ujarnya sambil kembali mendekatkan wajahnya padaku.

”Yak…oppa….sudah cukup untuk hari ini.” aku menahan tubuhnya dan berusaha menjauhkan dirinya.

Tapi tenaganya yang lebih besar dariku dengan mudahnya menepis tanganku dan ia memelukku. Lho…bukankah ia ingin menciumku lagi, tapi kenapa ia memelukku sekarang?

”Saranghaeyo, kyungmin.” bisiknya lembut di telingaku.
”Na do saranghaeyo oppa.” jawabku sedikit malu.

”Kau tidak usah memaksakan dirimu lagi, kyungmin. Kalau kau masih belum siap, aku akan menunggu. Aku sudah sangat senang kau mau memanggilku oppa, dan kau juga telah memberikan ciuman pertamamu untukku.” katanya sambil kembali membelai lembut pipiku.

***

Saat hari mulai sore, ia mengajakku pulang, karena takut orangtuaku khawatir. Tapi aku sedikit menolak karena masih mau bersama dengan dia. Tapi ia tetap memaksa untuk pulang, karena ia tidak mau aku kena marah. Lalu akhirnya aku menurutinya dan pergi meninggalkan taman itu bersama.

Sesampainya di rumahku, ternyata umma sudah berada di depan pintu dengan wajah yang sedikit kesal, sepertinya. Karena merasa tidak enak, seulong yang biasanya langsung pergi setelah mengantarku, turun sebentar dari motornya dan menyapa ibuku.

”Mianhaeyo ahjumma, tadi aku mengajak kyungmin pergi sebentar. Karena ia bilang ingin pergi bersamaku. Kami hanya pergi makan dan mengobrol sebentar.” kata seulong dengan sopannya.

”Lain kali kau harus memberitahukan orang rumah, kyungmin. Jadi kami tidak akan khawatir seperti ini. Cepat masuk.” ujar umma ketus.

”Sampai jumpa, oppa.” kataku sambil melambaikan tangan ke arahnya.

Namun ia membalasnya dengan lambaian yang lemah, dan langsung meninggalkan rumahku.

”Umma…kau tidak perlu bicara seperti itu pada seulong kan?” kataku saat masuk ke dalam rumah. ”Aku yang mengajaknya pergi, lagipula ia pacarku.” baru kali ini aku menyebutnya sebagai pacarku di hadapan orangtuaku.

”Hah? Ternyata benar, kau punya hubungan khusus dengannya.”
”Aku sudah cukup besar untuk mempunyai seseorang yang kusayangi, umma.”

”Biar kita dengar apa yang akan appa-mu katakan tentang masalah ini. Pasti ia akan marah besar. Selama ini, ia membiarkan mu karena aku yang memintanya, dan bilang kalau kau hanya temannya.”

Saat itu aku hanya membanting pintu kamarku cukup keras karena merasa marah pada umma-ku. Apa aku salah punya pacar??? Kenapa??? Hal ini tidak akan mempengaruhi prestasiku di sekolah kan??? Tapi kenapa mereka melarangku?

Saat itu ponselku berdering dan ternyata itu adalah pesan singkat dari seulong.

”Kau tidak apa-apa?”

Karena takut ia merasa khawatir, akhirnya aku menjawab kalau umma marah karena aku pulang telat tanpa memberitahukannya. Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan tentang masalah yang sebenarnya.

***

Saat appa pulang, ternyata umma benar-benar menceritakan masalah tadi siang padanya.dan tidak ayal appa-pun marah besar. Ia dengan tegas menentang hubunganku dengannya. Malah bertanya apa yang telah dilakukan seulong padaku. Mungkin ia beranggapan seulong telah melakukan sesuatu padaku agar aku tetap mempertahankannya.

Karena kesal dengan kedua orangtuaku, aku segera mengurung diriku di kamar. Keesokan harinya, tidak seperti biasanya appa mau mengantarkanku ke sekolah. Dan saat kami melewati tempat di mana seulong biasa menunggu untuk mengantarkanku, aku menunundukkan kepalaku padanya. Aku juga tidak bisa menghubunginya karena ponselku telah disita oleh orangtuaku semalam.

Begitu juga dengan siang harinya, appa telah berada di depan gerbang sekolah untuk menungguku. Seulong yang berada tidak jauh dari tempat itu hanya bisa memandangi kami berlalu dari tempat itu.

Kejadian seperti ini terus berlanjut hingga sebulan penuh. Saat seulong datang ke rumah, selalu saja di usir secara halus oleh umma-ku dengan alasan aku sedang belajar untuk menghadapi ujian negara. Dan ponselku masih juga disita mereka, jadi aku tidak bisa memberitahukan semuanya pada seulong.

Hingga suatu hari, sungyoung meminta izin pada orangtuaku untuk mengajakku menginap di rumahnya, dengan alasan menemaninya karaena orangtuanya pergi keluar kota. Dengan segala bujuk rayunya akhirnya orangtuaku kalah dan mengizinkan aku untuk pergi. Dan ternyata seulong telah menunggu di rumah sungyoung bersama taecyeon.

”Kyungmin…..” katanya saat melihatku datang bersama sungyoung. Sepertinya ia juga tidak tahu kalau aku akan datang ke tempat itu.

”Oppa….aku rindu sekali padamu.” tanpa basa basi lagi, aku segera memeluknya.
”Aku juga…” balasnya

Sungyoung dan taecyeon meninggalkan kami berdua untuk meluapkan perasaan kami selama ini.

Akhirnya aku menceritakan kejadian yang sebenarnya pada seulong, bahwa orangtuaku tidak menyetujui hubungan kami. Dan memaksaku untuk tidak bertemu denganmu lagi. Tapi karena aku tetap bersikeras pada pendirianku, akhirnya mereka dengan ketat menjagaku seperti ini.

Karena tidak tahan, selama itu pula airmataku tidak berhenti mengalir. Mungkin airmata itu bisa mewakili setiap perasaan sedih yang kurasakan. Seulong yang terus mendengarkanku, hanya bisa membelai lembut rambut dan pipiku yang sedang bersandar di dadanya.

Dan saat itu juga aku mengerti perasaannya yang selalu ingin menciumku untuk menunjukkan perasaannya. Karena saat ini, aku juga merasakan hal yang sama. Aku ingin sekali menciumnya. Dan sepertinya ia mengerti, iapun mulai menempelkan bibirnya padaku. Tidak seperti saat pertama kali, kali ini aku berusaha membalas ciumannya, walau masih merasa tidak nyaman. Ciuman itu berlangsung cukup lama, dan sesekali disertai dengan isak tangisku yang belum juga reda.

Kami mengobrol cukup lama, hingga akhirnya waktu telah malam dan ia mengucapkan sesuatu yang membuatku sangat kaget.

”Kita berpisah saja.” ujarnya.

Mendengarnya berkata seperti itu, jantungku memompa darah lebih cepat dari biasanya, hingga membuat napasku sedikit sesak.

”Apa maksudmu, oppa.” tanyaku

”Aku tidak mau kau terus menderita seperti ini, memikirkan hubungan kita.”
”Bukankah kita bisa terus bertemu seperti ini?”
”Sampai kapan? Apa kau ingin kita terus-terus merahasiakan hubungan ini dari orangtuamu?”

Tanpa berpikir lebih jauh, akhirnya aku menjawab, ”Sampai aku lulus SMA. Setelah itu, jika mereka masih saja menentang hubungan ini, aku rela kita berpisah.”

”Tapi, apa bisa kita bertahan hingga satu tahun lagi?”
”Kita pasti bisa. Aku sedang mengusahakan agar ponselku dikembalikan. Walau kita jarang bertemu, kita bisa berhubungan kan?”

Dan akhirnya, kami memutuskan untuk tetap seperti ini. Tetap berhubungan secara diam-diam. Selalu mencari kesempatan untuk bertemu dengan meminta bantuan dari sahabatku, sungyoung.

Selama setengah tahun aku merasa masih bisa bertahan hingga akhir, namun tak sengaja aku melihat sesuatu yang membuatku berpikir hubungan ini tidak bisa diteruskan lebih lama lagi.

Saat aku melihat seulong sedang bercanda dengan senangnya dengan seorang wanita yang tidak kuketahui identitasnya di pusat perbelanjaan. Dan sejauh penglihatanku, mereka terlihat sangat mesra. Saat itu, ingin sekali aku menghampirinya, namun aku tidak bisa, karena saat itu aku sedang bersama umma yang tidak tahu kalau aku masih berhubungan dengannya.

Karena takut bertemu dengannya, aku beralasan pada umma untuk pergi ke suatu tempat membeli sesuatu. Dan dari jauh aku memperhatikan umma yang ternyata bertemu dengan seulong dan menyapanya sebentar. Akupun mengambil jalan memutar dan menunggu di tempat aku dan umma janjian. Saat ia datang, ia menceritakan padaku sesuatu hal yang sangat tidak ingin ku dengar.

”Kau tau, kyungmin? Tadi aku bertemu dengan seulong, ternyata orangnya sopan dan baik juga, aku baru sadar sekarang, kalau kau maih bersama dengannya, aku pasti akan menyetujui kalian, tapi sayang, kalian sudah tidak punya hubungan lagi. Ia baik sekali mau mengantarkan pacarnya berbelanja.” uajr ibuku

Hah? PACAR? Apa aku tidak salah dengar? Bukankah pacarnya seulong adalah aku? Tapi kenapa umma bilang kalau ia sednag bersama pacarnya sekarang? Mendadak dadaku menjadi sakit sekali. Sempat aku berpikir kalau ini semua adalah mimpi tapi saat aku mencubit pipiku sendiri, masih terasa sakit, jadi ini bukan mimpi.

Tapi jika ini kenyataan, berarti wanita yang sedang bersama seulong tadi adalah benar-benar pacarnya. Jadi siapa aku? Apa arti pengorbananku selama ini? Dan untuk apa aku masih tetap bertahan hingga saat ini.

Tapi aku tidak mau begitu saja percaya. Saat itu juga aku mengirim pesan pada seulong dan bertanya di mana ia sekarang. Dan ia menjawab sedang ada di rumah membantu ibunya. Padahal baru saja aku melihatnya dan ibuku menyapanya.

Berarti ia berbohong padaku. Apa ini arti perkataannya selama ini?

”Kita berpisah saja.”

Berkali-kali ia mengatakan padaku kalau ia tidak bisa melanjutkan ini semua. Apakah karena ia telah mempunyai wanita lain yang dicintainya dan itu bukan aku.

Otakku benar-benar tidak bisa berpikir sekarang. Hatiku sakit sekali, seperti ada lubang yang sangat besar berada di sana.

Saat kembali ke rumah, aku hanya bisa menangis dan mengurung diriku di kamar. Keesokan harinya, aku beralasan sakit dan tidak mau pergi ke sekolah. Aku tidak mau bertemu dengan seulong, karena hari ini adalah jadwalku bertemu dengannya. Aku masih belum bisa menghadapinya. Aku masih takut menghadapi kenyataan yang sebenarnya

Mengapa ia melakukan semua ini padaku? Karena dia aku berani belajar mencintai orang lain lagi. Dan saat aku sudah benar-benar mencintainya mengapa ia lakukan ini padaku? Apa semua ini hanya permainan yang dimainkan untuk membalasku yang telah menolaknya dulu?

don’t ask me if I love you or not
you might not believe me, but I want to break up

oh~ I, who held you through hard times, who comforted you in pain
yes, that same person is trying to forget you.

i’m sorry i can’t smile for you
i’m sorry but let’s break up

when i sent you away I too (I too)
was having a hard time (a hard time)
now i’m trying to live alone (alone) without you

4 responses to “Even If I Die, I Can’t Let You Go [PG15/Part 2 of 4/FLUFF]

  1. Pingback: Even If I Die, I Can’t Let You Go [PG15/Part 3 of 4/FLUFF] « FFindo·

  2. Pingback: Even If I Die, I Can’t Let You Go [PG15/Part 4 of 4/FLUFF] « FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s